Rabu, 13 Oktober 2010

[daarut-tauhiid] APAKAH ANDA SEORANG KHALIFAH FIL ARDH?

 

Apakah Semua Manusia Adalah Khalifah Allah?
Banyak kaum muslim berpendapat bahwa setiap manusia adalah Khalifah yaitu
khalifatullah. Padahal Quran sendiri tidak berkata demikian, melainkan
memberikan kategori-kategori yg harus di miliki atau yang harus di lakukan untuk
sampai ke jenjang itu. Dan artikel ini akan mencoba menguraikan apa yang Quran
katakan tentang Khalifah Allah…semoga bermanfaat.
Ingatlah, ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, Sesungguhnya Aku akan
menciptakan di muka bumi seorang khalifah. Para malaikat serentak berkata,
Apakah Engkau hendak menciptakan di muka bumi (makhluk) yang akan melakukan
kerusakan dan akan menumpahkan darah di dalamnya, padahal kami senantiasa
bertasbih dengan menyanjung-Mu dan mensucikan-Mu? Seraya Allah menjawab, Sungguh
Aku lebih mengetahui apa-apa yang tidak kalian ketahui. (QS. Al-Baqarah ayat
30).
Ayat di atas termasuk dari sekian firman Allah Ta'ala yang senantiasa segar
dibahas dan dikaji. Hingga saat ini para ulama, khususnya Mufassirin (ahli
tafsir Al-Qur'an), belum puas-puas dan tidak henti-hentinya mengungkap dan
mengeksplorasi sedalam-dalamnya maksud dari ayat tersebut, untuk mendapat
kebenaran darinya. Alasan mereka jelas dan sederhana. Karena ayat ini menyangkut
eksistensi manusia yang sebenarnya.
Dengan memahami ayat tersebut secara baik dan benar, maka akan terpecahkan
sebuah problema yang maha besar, yaitu hakikat manusia. Memahami hakikat manusia
sangat menentukan pandangan dunia, ideologi, sikap, perjalanan dan nasib manusia
setelah mati.
Hakikat manusia bagi sebagian pemikir dan filosof, masih merupakan teka-teki
yang membingungkan. Umat Islam dengan pancaran cahaya Al-Qur'an, sedikit
banyaknya terbantu dalam mengetahui hakikat manusia dan itu pun tergantung
sejauh mana mereka memahami ayat tersebut.
Apa Arti Khalifah?
Islam memandang manusia sebagai khalifatullah, yakni khalifah Allah. Itulah
hakikat manusia. Namun apakah dalam kenyataannya setiap manusia itu
khalifatullah ? Bukankah di antara mereka ada yang kafir ?
Lalu apa yang dimaksud dengan manusia sebagai khalifatullah ? Atau bagaimana
manusia menjadi khalifatullah ?Sebelum pertanyaan-pertanyaan di atas dapat
dijawab, maka terlebih dahulu harus dipahami arti khalifah itu sendiri.
Khalifah atau khilafah, berasal dari akar kata khalaf yang berarti di belakang
punggung, meninggalkan sesuatu di belakang atau sesuatu yang menempati tempat
sesuatu yang lain. Al-Qur'an menyebut kata khalifah atau khilafah dengan
berbagai turunannya. Selain itu, Al-Qur'an menggunakan kata khalifah untuk
manusia dan untuk selain manusia.
Misalnya, ayat yang berbunyi,
uqèdur Ï%©!$# @yèy_ @ø©9$# u$yg¨Y9$#ur Zpxÿù=Åz ô`yJÏj9 y#ur& br&
t2¤t ÷rr& y#ur& #Yqà6ä© ÇÏËÈ

"Dialah yang menciptakan malam dan siang silih berganti (malam menempati siang
dan siang menempati malam), bagi mereka yang mau berpikir atau bersyukur." (QS.
Al-Furqan, 25: 62)
Ketika kata khalifah digunakan untuk manusia, kata ini mempunyai arti yang
netral. Maksudnya bisa untuk kebaikan dan bisa pula untuk keburukan.
* y#n=smú .`ÏB öNÏdÏ÷èt/ ì#ù=yz (#qãã$|Êr& no4qn=¢Á9$# (#qãèt7¨?$#ur
ÏNºuqpk¤¶9$# ( t$öq|¡sù tböqs)ù=t $xî ÇÎÒÈ

"Lalu datanglah setelah mereka generasi (pengganti), yang melalaikan shalat dan
mengikuti hawa napsu. Mereka kelak niscaya akan mendapatkan kesesatan."
(QS. Maryam, 19 : 59).

Atau firman-Nya yang berbunyi,
y#n=yÜsù .`ÏB öNÏdÏ÷èt/ ×#ù=yz (#qèOÍur |=»tGÅ3ø9$# tbräè{ù't uÚztä #x»yd
4oT÷F{$# tbqä9qà)tur ãxÿøóãy $uZs9 bÎ)ur öNÍkÌEù't ÖÚ{tã ¼ã&é#÷WÏiB
çnräè{ù't 4 óOs9r& õs{÷sã NÍkön=tã ß,»sVÏiB É=»tGÅ3ø9$# br& w (#qä9qà)t
n?tã «!$# wÎ) ¨,ysø9$# (#qßuyur $tB ÏmÏù 3 â#¤$!$#ur äotÅzFy$# ×öyz
úïÏ%©#Ïj9 tbqà)­Gt 3 xsùr& tbqè=É)÷ès? ÇÊÏÒÈ

"Maka datanglah setelah mereka generasi (pengganti), yang mewarisi kitab."(QS.
Al-Araf, 7 : 169).
Tetapi ketika kata khalifah disandarkan (di-idhafah-kan) kepada Allah atau
Rasulullah, maka kata itu mengandung arti yang positif. Maksudnya jika yang
diganti (al-mustakhlif) baik, maka yang menggantikannya (khalifah, mustakhlaf)
harus baik juga. Andaikata tidak, maka akan merusak reputasi mustakhlif.
Manusia adalah khalifah dari Allah dan Allah adalah puncak segala kebaikan dan
kesempurnaan. Dengan demikian manusia adalah titisan dari kebaikan dan
kesempurnaan-Nya.
Jadi manusia berkedudukan sebagai wakil atau pengganti Allah di muka bumi. Yaitu
manusia yang mempunyai kemampuan untuk mengatur dan mengubah alam. Manusia yang
sedikit banyak mengetahui rahasia alam. Semua itu tidak berlaku bagi
makhluk-makhluk lainnya. Akan tetapi bagaimana dengan kenyataan umat manusia
zaman kini ? Sungguh ironis sekali bukan.
Syekh Taqi Mishbah berpendapat, bahwa kedudukan khalifah tidak terbatas pada
Adam saja, melainkan manusia lain pun dapat menduduki jabatan khilafah dengan
satu syarat, yaitu mengetahui asma. (lihat kitab Ma'arif Al-Qur'an, juz 3 hal
73).
Allamah Thabathaba'i dalam kitab Tafsir al-Mizan, jilid I halaman 116 berkata,
"Khilafah tidak terbatas pada diri Adam as. saja, tetapi para keturunannya pun
sama menduduki khilafah tanpa kecuali."
Selanjutnya beliau menjelaskan, "Maksud mengajarkan asma, adalah menyimpan ilmu
pada manusia yang senantiasa akan tampak secara bertahap. Jika manusia
mendapatkan petunjuk, maka dia akan membuktikannya secara faktual (bil-fi'li)
setelah sebelumnya berupa potensial (bil-quwwah)."
Maksud dari penjelasan Allamah Thabathaba'i di atas, bahwa manusia secara
potensial adalah khalifah Allah. Namun yang mampu memfaktualkannya tidak semua
manusia. Hanya sebagian kecil saja di antara mereka yang mampu. Hal itu kembali
kepada ikhtiar dan pilihan manusia itu sendiri.
Kriteria-Kriteria Khalifatullah

Pada dasarnya manusia diciptakan Allah sebagai khalifah-Nya. Namun hal itu masih
berupa potensi, seperti yang telah dijelaskan terdahulu. Nah, agar potensi itu
berkembang dan mewujud secara nyata, maka terdapat seperangkat kriteria yang
harus dipenuhi sehingga manusia benar-benar menjadi khalifah Allah Ta'ala.
Kriteria-kriteria khalifah Allah itu ialah :
1. Ilmu

Kriteria pertama adalah ilmu. Pada ayat yang telah disebutkan terdahulu,
selanjutnya disambung dengan ayat yang berbunyi :
Dia mengajarkan kepada Adam asma (nama benda-benda) semuanya, kemudian dia
mempertunjukkannya kepada para malaikat. Lalu Allah berfirman (kepada para
malaikat), Sebutkanlah kepada-Ku asma-asma itu, jika kalian memang benar ?"(QS.
Al-Baqarah : 31).
Para mufasir berbeda pendapat tentang pengertian asma yang tercantum pada ayat
di atas. Walaupun mereka berbeda pendapat tentang makna asma, tetapi yang pasti
(al-qadru al-mutayaqqan) dan yang tidak diperselisihkan lagi adalah, bahwa Adam
as. dibekali pengetahuan dan ilmu yang tidak dimiliki oleh para malaikat.
Sebagaimana telah kami kutipkan komentar Allamah Thabathaba'i tentang pengertian
asma pada surat Al-Baqarah ayat 31 tersebut, beliau menjelaskan bahwa Allah
telah menyimpan dalam diri manusia sebuah potensi ilmu, yang akan nyata dengan
mengikuti petunjuk-Nya.
Jadi untuk menjadi khalifatullah, hendaknya manusia berilmu. Manusia yang tidak
berilmu, tidak bisa dikatakan sebagai khalifah Allah Ta'ala.
2. Iman dan Amal
Pada ayat yang lain, Allah Ta'ala berfirman tentang kriteria khalifah-Nya.
ytãur ª!$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä óOä3ZÏB (#qè=ÏJtãur ÏM»ysÎ=»¢Á9$#
óOßg¨ZxÿÎ=øÜtGó¡us9 Îû ÇÚöF{$# $yJ2 y#n=÷tGó$# úïÏ%©!$# `ÏB öNÎgÎ=ö6s%
£`uZÅj3uKãs9ur öNçlm; ãNåks]Ï Ï%©!$# 4Ó|Ós?ö$# öNçlm; Nåk¨]s9Ïdt7ãs9ur
.`ÏiB Ï÷èt/ öNÎgÏùöqyz $YZøBr& 4 ÓÍ_tRrßç6÷èt w cqä.Îô³ç Î1 $\«øx© 4
`tBur txÿ2 y÷èt/ y7Ï9ºs y7Í´¯»s9'ré'sù ãNèd tbqà)Å¡»xÿø9$# ÇÎÎÈ

"Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan
beramal shaleh (kebaikan), bahwa Dia akan menjadikan mereka sebagai khalifah di
bumi, Sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka sebagai
khalifah.
Sesungguhnya Dia akan meneguhkan bagi mereka agama mereka, yang telah
diridhai-Nya untuk mereka, serta Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka
menjadi aman setelah mereka ketakutan. Mereka akan menyembah-Ku dan tidak
menyekutukan apapun dengan-Ku. Dan barang siapa kafir setelah itu, maka mereka
adalah orang-orang yang fasik."(QS. An-Nur, 24 : 55).
Pada ayat tersebut, jelas sekali Allah berjanji akan menjadikan hamba-hamba-Nya
sebagai khalifah yang akan menguasai dan memimpin dunia. Tetapi janji itu akan
ditepati-Nya bagi manusia yang beriman dan beramal kebaikan.
Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa kriteria lain dari seorang
khalifatullah adalah iman dan amal shaleh.
3. Memberi keputusan dengan benar (haqq) dan tidak mengikuti hawa nafsu, Allah
Ta'ala berfirman:
ß¼ãr#y»t $¯RÎ) y7»oYù=yèy_ ZpxÿÎ=yz Îû ÇÚöF{$# Läl÷n$$sù tû÷üt/ Ĩ$¨Z9$#
Èd,ptø:$$Î/ wur ÆìÎ7®Ks? 3uqygø9$# y7¯=ÅÒãsù `tã È@Î6y «!$# 4 ¨bÎ)
tûïÏ%©!$# tbq=ÅÒt `tã È@Î6y «!$# öNßgs9 Ò>#xtã 7Ïx© $yJÎ/ (#qÝ¡nS tPöqt
É>$|¡Ïtø:$# ÇËÏÈ

"Wahai Dawud, Kami jadikan engkau sebagai khalifah di bumi, maka berilah
keputusan dengan benar dan janganlah mengikuti hawa nafsu, karena hawa nafsu
akan menyesatkanmu dari jalan Allah."(QS. Shad, 38 : 26).
Allamah Thabathaba'i berkata, "Maksud khalifah di sini secara lahiriah adalah
khalifatullah, sama dengan maksud dari firman Allah (pada surat Al-Baqarah ayat
30).
Dan seorang khalifah seharusnya menyerupai Yang mengangkat dirinya sebagai
khalifah dalam sifat-sifat-Nya dan perbuatan-perbuatan-Nya. Oleh karena itu
khalifatullah di bumi hendaknya berakhlak dengan akhlak-akhlak Allah,
berkehendak, bertindak sebagaimana yang Allah kehendaki dan memberi keputusan
dengan keputusan Allah serta berjalan di jalan Allah."
Selanjutnya ketika menafsirkan ayat :

"Dan janganlah mengikuti hawa nafsu, karena hawa nafsu akan menyesatkanmu dari
jalan Allah."
Beliau berkata, "Makna ayat tersebut adalah, bahwa engkau dalam memutuskan
(sesuatu) janganlah mengikuti hawa nafsu, maka engkau akan disesatkan olehnya
dari kebenaran, yaitu jalan Allah." (Tafsir al-Mizan, jilid 17 halaman 194-195).
4. Amar Ma'ruf dan Nahi Munkar

Rasulullah saw bersabda, "Barang siapa ber-amar ma'ruf dan nahi munkar, maka dia
adalah khalifatullah di bumi dan khalifah kitab-Nya serta khalifah rasul-Nya.''
(Kitab Mizan al-Hikmah, jilid 3 hal 80).
Kesimpulan:

Semua manusia secara potensial (bil-quwwah), diciptakan untuk menjadi
khalifatullah. Namun agar potensi tersebut menjadi nyata (bil-fi'li), terdapat
sejumlah kriteria yang harus dimilikinya, yaitu ilmu, iman, amal shaleh, memberi
keputusan dengan benar, tidak mengikuti hawa nafsu dan ber-amar ma'ruf dan nahi
munkar baru lah Khalifah Allah.
Dari milis tetangga
www.pengajianalif.blogspot.com

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___
Recent Activity:
====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
       website:  http://dtjakarta.or.id/
====================================================
.

__,_._,___

Tidak ada komentar: