Bagaimanakah kami memahami berikut,
Ali bin Hujr menceritakan kepada kami, Baqiyyah bin Al-Walid memberitahukan kepada kami, dari Bahir bin Said dari Kholid bin Ma'dan, dari Abdur Rahman bin Amr As Sulami, dari Al-Irbadh bin Sariyah berkata: "Rasulullah saw menasehati kami pada suatu hari setelah shalat Shubuh suatu nasehat yang penting yang mana mata menangis dan hati bergetar karenanya. Seseorang berkata: "Sesungguhnya ini adalah nasehat orang yang akan meninggalkan, maka dalam hal apa saja engkau mengamanatkan kepada kami wahai Rasulullah?" Beliau bersabda: "Aku pesan kepadamu sekalian agar bertaqwa kepada Allah, mendengar dan ta'at, biarpun seorang hamba sahaya dari Habsyah (yang memimpinmu) karena sesungguhnya orang yang hidup (panjang) di antara kamu tentu akan melihat terjadinya banyak perselisihan. Dan jauhilah perkara-perkara yang baru karena sesungguhnya perkara-perkara yang baru (bid'ah) itu sesat. Barang siapa di antara kamu menjumpai hal itu, maka ia harus berpegang kepada sunnahku dan sunnah para khalifah yang lurus yang diberi petunjuk, peganglah sunnah itu dengan kuat-kuat." (HR At Tirmidzi).
Beliau saw bersabda: "Aku pesan kepadamu sekalian agar bertaqwa kepada Allah, mendengar dan ta'at, biarpun seorang hamba sahaya dari Habsyah (yang memimpinmu)"
Bagi kami memahami hadits ini yang mencontohkan seorang hamba sahaya bukanlah kepada kemampuan atau kompetensi mereka dalam memimpin atau tidak mempermasalahkan siapapun yang menjadi pemimpin namun hadits itu mencontohkan walaupun hamba sahaya yang terpenting adalah ketaqwaan kepada Allah ta'ala.
Sungguh sebaik-baik pemimpin adalah yang paling taqwa kepada Allah ta'ala, begitu pula sebaik-baiknya imam sholat, sebaik-baiknya pemimpin keluarga (bagaimana memilih calon suami).
"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal".[QS. Al-Hujurat (49) : 13]
Hadits tersebut kami pahami agar kita mentaati pemimpin yang bertaqwa kepada Allah ta'ala walaupun dia hanya seorang hamba sahaya.
Mustahil kita mentaati pemimpin yang tidak cakap(berkompeten) atau pemimpin yang dzhalim.
Kita boleh mengingkari dan membenci pemimpin seperti itu namun kita dilarang memberontak atau makar apalagi sampai tertumpah darah sesama muslim (selama masih sholat).
"Seburuk-buruknya Pemimpin adalah mereka yang kalian benci dan mereka membenci kalian, yang kalian laknat dan mereka melaknat kalian." (HR. Muslim).
Dari Ummu Salamah radliyallahu `anha berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu `Alaihi Wa Sallam :
"Akan terjadi sesudahku para penguasa yang kalian mengenalinya dan kalian mengingkarinya. Barangsiapa yang mengingkarinya maka sungguh ia telah berlepas diri. Akan tetapi siapa saja yang ridha dan terus mengikutinya (dialah yang berdosa, pent.)." Maka para shahabat berkata : "Apakah tidak kita perangi saja mereka dengan pedang?" Beliau menjawab : "Jangan, selama mereka menegakkan shalat bersama kalian." (HR. Muslim dalam Shahih-nya).
Jelaslah bagi siapa yang ridha dan terus mengikuti pempimpin yang buruk maka mereka pun turut berdosa.
Kita wajib berupaya memilih pemimpin apalagi pemimpin sebuah negeri.
Rasulullah bersabda : "Tidak boleh bagi tiga orang berada dimanapun di bumi ini, tanpa mengambil salah seorang diantara mereka sebagai amir (pemimpin) "
Sungguh, dianggap (penisbatan) berkhianat kepada Allah , Rasul-Nya dan kaum mukminin, merupakan ancaman keras bagi siapapun yang tidak bertanggung jawab dalam memilih pemimpin, sebagaimana sabda Rasulullah yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas: "Barangsiapa memilih seseorang menjadi pemimpin untuk suatu kelompok, yang di kelompok itu ada orang yang lebih diridhai Allah dari pada orang tersebut, maka ia telah berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman." (HR. Hakim)
Sungguh sebuah ketidaktaatan terhadap fatwa ulama tentang memilih pemimpin negeri telah ditunjukkan oleh sebagian muslim di negeri kita. Malahan mereka taat kepada ulama dari negara lain yang mana sistem pemerintahan mereka berbeda dengan kita dan kadang itupun merupakan fatwa orang-perorangan. Padahal Allah swt telah berfirman yang artinya:
" Wahai orang-orang beriman taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rosul-Nya dan ulil amri di antara kamu " (QS An Nisa' : 59 )
Jelas sekali ditegas dalam firmanNya, "ulil amri di antara kamu"
Taatilah Ulama, InsyaAllah akan mencegah bencana alam dan musibah.
Kita ketahui bahwa bencana alam, musibah, musibah penyakit, musibah kemiskinan yang kita alami di nergeri kita ini, bisa merupakan cobaan dari Allah atau bisa juga merupakan peringatan / laknat Allah.
Bencana / Musibah bisa menjadi peringatan bahkan laknat Allah , jika:
1. Keadilan tidak ditegakkan dan kezaliman terjadi di segala bidang.
2. Pendapat ulama yang sesuai dengan Al-Quran dan Hadits tidak lagi ditaati.
Oleh karenanya kita harus mengetahui/memahami sistem kepemimpinan / pemerintahan dalam Islam.
Selengkapnya silahkan baca tulisan yang cukup panjang pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/10/17/pemimpin-dalam-islam/
Wassalam
Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================
Tidak ada komentar:
Posting Komentar