Rabu, 13 Oktober 2010

[daarut-tauhiid] Fw: Bakso Khalifatullah

---------- Forwarded message ----------
From: fathansyah <fathan_syah@yahoo.com>


Bakso Khalifatullah
oleh : Emha Ainun Nadjib

Setiap kali menerima uang dari orang yang membeli bakso darinya, Pak Patul
mendistribusikan uang itu ke tiga tempat: sebagian ke laci gerobagnya, sebagian
ke dompetnya, sisanya ke kaleng bekas tempat roti.


"Selalu begitu, Pak?", saya bertanya, sesudah beramai-ramai menikmati bakso
beliau bersama anak-anak yang bermain di halaman rumahku sejak siang.

"Maksud Bapak?", ia ganti bertanya.

"Uangnya selalu disimpan di tiga tempat itu?"

Ia tertawa. "Ia Pak. Sudah 17 tahun begini. Biar hanya sedikit duit saya, tapi
kan bukan semua hak saya"


"Maksud Pak Patul?", ganti saya yang bertanya.

"Dari pendapatan yang saya peroleh dari kerja saya terdapat uang yang merupakan
milik keluarga saya, milik orang lain dan milik Tuhan".


Aduh gawat juga Pak Patul ini. "Maksudnya?", saya mengejar lagi.

"Uang yang masuk dompet itu hak anak-anak dan istri saya, karena menurut Tuhan
itu kewajiban utama hidup saya. Uang yang di laci itu untuk zakat,
infaq, qurban
dan yang sejenisnya. Sedangkan yang di kaleng itu untuk nyicil biaya naik haji.
Insyaallah sekitar dua tahun lagi bisa mencukupi untuk membayar ONH.
Mudah-mudahan ongkos haji naiknya tidak terlalu, sehingga saya masih bisa
menjangkaunya".


Spontan saya menghampiri beliau. Hampir saya peluk, tapi dalam budaya
kami orang
kecil jenis ekspressinya tak sampai tingkat peluk memeluk, seterharu apapun,
kecuali yang ekstrem misalnya famili yang disangka meninggal ternyata masih
hidup, atau anak yang digondhol Gendruwo balik lagi.

Bahunya saja yang saya pegang dan agak saya remas, tapi karena emosi
saya bilang
belum cukup maka saya guncang-guncang tubuhnya.


Hati saya meneriakkan "Jazakumullah, masyaallah, wa yushlihu balakum!", tetapi
bibir saya pemalu untuk mengucapkannya.


Tuhan memberi 'ijazah' kepadanya dan selalu memelihara kebaikan
urusan-urusannya.


Saya juga menjaga diri untuk tidak mendramatisir hal itu. Tetapi pasti bahwa di
dalam diri saya tidak terdapat sesuatu yang saya kagumi sebagaimana kekaguman
yang saya temukan pada prinsip, managemen dan disiplin hidup Pak Patul.


Untung dia tidak menyadari keunggulannya atas saya: bahwa saya tidak mungkin
siap mental dan memiliki keberanian budaya maupun ekonomi untuk hidup sebagai
penjual bakso, sebagaimana ia menjalankannya dengan tenang dan ikhlas.

Saya lebih berpendidikan dibanding dia, lebih luas pengalaman, pernah mencapai
sesuatu yang ia tak pernah menyentuhnya, bahkan mungkin bisa disebut kelas
sosial saya lebih tinggi darinya.


Tetapi di sisi manapun dari realitas hidup saya, tidak terdapat sikap dan
kenyataan yang membuat saya tidak berbohong jika mengucapkan kalimat seperti
diucapkannya:


"Di antara pendapatan saya ini terdapat milik keluarga saya, milik orang lain
dan milik Tuhan".


Peradaban saya masih peradaban "milik saya".

Peradaban Pak Patul sudah lebih maju, lebih rasional, lebih dewasa, lebih
bertanggung jawab, lebih mulia dan tidak pengecut sebagaimana 'kapitalisme
subyektif posesif' saya.


30 th silam saya pernah menuliskan kekaguman saya kepada Penjual cendhol yang
marah-marah dan menolak cendholnya diborong oleh Pak Kiai Hamam Jakfar Pabelan
karena "kalau semua Bapak beli, bagaimana nanti orang lain yang
memerlukannya?"

Ilmunya penjual jagung asal Madura di Malang tahun 1976 saya pakai sampai tua.
Saya butuh 40 batang jagung bakar untuk teman-teman seusai pentas teater, tapi
uang saya kurang, hanya cukup untuk bayar 25, sehingga harga perbatang saya
tawar.


Dia bertahan dengan harganya, tapi tetap memberi saya 40 jagung.

"Lho, uang saya tidak cukup, Pak"

"Bawa saja jagungnya, asal harganya tetap"

"Berarti saya hutang?"

"Ndaaak. Kekurangannya itu tabungan amal jariyah saya".
Doooh adoooh…! Tompes ako tak'iye!

Di pasar Khan Khalili semacam Tenabang-nya Cairo saya masuk sebuah
toko kemudian
satu jam lebih pemiliknya hilang entah ke mana, jadi saya jaga tokonya.


Ketika datang saya protes: "Keeif Inta ya Akh…ke mane aje? Kalau saya ambilin
barang-barang Inta terus saya ngacir pigimane dong…."


Lelaki tua mancung itu senyum-senyum saja sambil nyeletuk:

"Kalau mau curi barang saya ya curi saja, bukan urusan saya, itu urusan Ente
sama Tuhan…."


Sungguh manusia adalah ahsanu taqwim, sebaik-baik ciptaan Allah, master-piece.

Orang-orang besar bertebaran di seluruh muka bumi.

Makhluk-makhluk agung menghampar di jalan-jalan, pasar, gang-gang kampung,
pelosok-pelosok dusun dan di mana-manapun.


Bakso Khalifatullah, bahasa Jawanya: bakso-nya Pak Patul, terasa lebih sedap
karena kandungan keagungan.


Itu baru tukang bakso, belum anggota DPR. Itu baru penjual cendhol, belum
Menteri dan Dirjen Irjen Sekjen. Itu baru pemilik toko kelontong,
belum Gubernur
Bupati Walikota tokoh-tokoh Parpol.


Itu baru penjual jagung bakar, belum Kiai dan Ulama.


--
Sent from my mobile device


------------------------------------

====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
daarut-tauhiid-digest@yahoogroups.com
daarut-tauhiid-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
daarut-tauhiid-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

Tidak ada komentar: