Kamis, 07 Oktober 2010

[sekolah-kehidupan] Digest Number 3211

Messages In This Digest (6 Messages)

Messages

1a.

Re: Art-Living Sos 2009 (A-6   Coklat...tak selalu Coklat

Posted by: "prita hw" prita_hw@yahoo.com   prita_hw

Wed Oct 6, 2010 5:26 pm (PDT)



hmm..yummyyyy..
saya juga dulu membayangkan coklat ituya persis kayak yg kit amakan itu,
bergelayutan di pohon..
eh, ternyata bukan! saya tau pas ada camping diklat PMR jaman SMA dulu..sempet
ngerasa aneh..

btw, Indonesia punya ciri khas emang bu, untung gede, kualitas standar kita
lah:) alias prisnsip ekonomi jadul banget, modal sekecil2nya dan untung
sebesar2nya, tp kulaitas minus! ampunnnn dah^^
semoga ke depan, ada punggawa2 coklat..
bu itje kali yg coklat mania mau jd bos coklat sekali?
hehehhe..

thx 4 sharing..

-Jabat eratku-
Prita HW.
085236009575
www.pritahw.multiply.com

________________________________
From: IETJE SRI UMIYATI GUNTUR <ietje_guntur@bca.co.id>
To: sdm-global@yahoogroups.com; trainersclub@yahoogroups.com;
MotivasiIndonesia@yahoogroups.com; sekolah-kehidupan@yahoogroups.com
Sent: Friday, October 1, 2010 16:10:29
Subject: [sekolah-kehidupan] Art-Living Sos 2009 (A-6 Coklat...tak selalu
Coklat

Dear Allz…

Hallloooooowwwww…..yeelllloooowww….apakabaaarrr ??? Aaaaahhh…senangnya,
mendengar kabar teman dan sahabatku dalam keadaan sehat semua… Eheemmh…menjelang
akhir pekan...hari libur…pasti dong segar dan semangat…hehe…

Sudah ada rencana untuk berlibur atau menikmati hari akhir pekan ? Syukurlah,
bila sudah ada jadwal…Tetapi bila belum ada rencana apa-apa, juga tidak
mengapa…Kita bisa kok menikmati keseharian kita di rumah. Menikmati segala sudut
di rumah kita. Menikmati kicauan burung yang beterbangan di pohon-pohon di
sekitar rumah kita. Bahkan menikmati sarang laba-laba dengan laba-labanya
sekalian…karena pojok gelap itu sudah agak lama tidak tersentuh pasukan
pembersih…hhhggh…

Saat seperti ini memang saat yang ditunggu. Sendirian atau bersama dengan
keluarga. Atau bersama dengan sahabat-sahabat. Semua akan menyenangkan, kalau
hati kita sedang senang atau mood kita sedang baik. Rasanya dunia akan kinclong
dan bersinar cemerlang…seperti cawan perak yang digosok hingga mengkilap…

Suasana hati…keadaan emosi…memang sangat berpengaruh terhadap hidup kita
sehari-hari. Emosi yang tenang dan stabil, emosi yang bergairah penuh semangat
akan membuat kita lebih mudah menerima kondisi apa pun yang kita alami.
Sebaliknya, emosi yang goncang atau tidak stabil, emosi yang layu dan tak
bergairah….membuat kita malas melihat dunia…atau bawaannya jadi pengen
marah-marah melulu…

Konon katanya, untuk mengatasi emosi atau mood yang tidak menentu itu banyak
caranya. Selain berolahraga, meditasi, berjalan santai di tempat yang nyaman
dengan udara yang bersih, kita juga dapat mengatasinya dengan menyantap
makanan-makanan tertentu. Di antaranya adalah coklat…hehe..iya,…coklat atau yang
kita kenal sebagai chocolate…

Saya doyan makan coklat…dan saya harap teman dan sahabatku juga
menyukainya…hehe… Jadi boleh dong kali ini kita ngobrol tentang coklat dulu, ya
?

Mumpung hati lagi senang…mumpung semangat sedang elok dan penuh gairah…saya
hidangkan coklat ini untuk teman dan sahabatku semua…Semoga berkenan…

Jakarta, 1 Oktober 2010
Salam hangat,


Ietje S . Guntur
♥♥♥


Art-Living Sos 2009 (A-6
Selasa, 28 September 2010
Start : 28/09/2010 14:12:36
Finish : 28/09/2010 16:17:23


COKLAT...tak selalu COKLAT...


Jam makan siang. Saya baru selesai bersantap dengan sahabat-sahabat di kantor.
Siang itu kami menikmati makan siang di pusat jajan di sekitar kantor. Jam makan
siang yang pendek selain untuk mengisi energi fisik, juga untuk mengisi energi
batin. Ngobrol dan curhat termasuk untuk mengisi baterai emosi...hehehe...

Sambil berjalan kembali ke ruang kerja, saya celingak-celinguk ke toko-toko yang
berjajar di kompleks pertokoan seputar kantor. Inilah salah satu keuntungan
bekerja di lingkungan yang dekat dengan pusat perbelanjaan. Lebih mudah memenuhi
kebutuhan logistik. Tentu saja harganya lebih tinggi sedikit dibandingkan dengan
harga di warung dekat rumah. Tapi demi alasan kepraktisan, ya mau tidak mau
sesekali belanja di pusat perbelanjaan itu harus dilakoni juga. Sekalian cuci
mata ala ibu-ibu...hahahaha...bisa saja....

" Aku pengen makan coklat deh !" tiba-tiba saya nyeletuk.
" Haaah...baru saja makan nasi, kok sudah mau makan coklat ," sahut seorang
sahabat.
" Hmmh...pengen ada yang manis-manis sedikit, untuk mengimbangi rasa yang asin
pedas tadi ." Kilah saya. Sahabat saya Cuma mengangguk-angguk. Entah setuju,
atau tidak. Tapi akhirnya dia pun mengikuti saya mampir di toko yang menjual
berbagai keperluan rumahtangga, termasuk coklat batangan kegemaran saya.

Jadi deh...sebatang coklat dengan rasa pahit dan sedikit rasa kacang di dalamnya
menjadi penutup makan siang tadi. Dan sambil mengemut potongan coklat yang
meleleh di lidah, dengan hati senang saya melangkah kembali ke ruangan
kerja...hmmhh...



Tak hanya sekali itu saya mendadak kepengen coklat.

Walaupun bukan tergolong penggemar berat alias Chocolate-Mania, tetapi sesekali
saya suka juga mengemut si Coklat dengan aneka rasa. Coklat dengan butiran
kacang atau mete, coklat dengan isi kismis, coklat dengan isi
strawberry...bahkan coklat yang sekedar beraroma jeruk atau mint saya juga
doyan.

Sebetulnya kalau ditanya, kenapa saya suka coklat, ya saya sendiri kurang tahu.
Rasanya tradisi memamah...eeeh, memakan dan mengemut coklat ini sebenarnya
'warisan' dari ibu saya. Sejak kecil saya sudah diiming-imingi ibu saya dengan
aneka coklat. Bila ibu saya sedang punya uang belanja lebih...( ini sih rahasia
kaum ibu...), beliau sering membelikan kami coklat yang enak dan cukup mahal
harganya untuk jaman itu. Coklat batangan itu biasanya dibagi beberapa kepingan,
dan dibagi untuk saya dan adik-adik. Biasanya sih...saya mendapat potongan
paling besar...hihi... Jadi kebiasaan mengemut terbawa hingga saat ini. Kata ibu
saya, coklat tak hanya untuk cemilan selingan, tapi juga bisa membuat perasaan
jadi tenang dan santai...hehe...

Duluuuuuu....ketika saya masih kanak-kanak, saya pernah jadi coklat-mania yang
tergolong rakus...hahahaha...ngakuuuuuu.....ngakuuuu....!!! Di masa itu, saya
mendingan nggak makan nasi dari pada nggak makan coklat batangan...terutama yang
ada tulisannya 'voolmelk'...halaaaah...!! Tapi karena rada-rada malas sikat
gigi, akibatnya gigi saya menjadi geripis, dan sisa coklat menimbulkan caries
dan infeksi pada gusi saya. Jadi deh...saya sering menderita sakit gigi
gara-gara memamah coklat tidak berhenti...hiks hiks...

Ada satu pengalaman saya yang sangat menyedihkan dan tidak terlupakan dengan
coklat. Yaitu, ketika lebaran saya tidak bisa keluar rumah. Pipi saya tembam
seperti bapao, dan seluruh mulut berdenyut-denyut, nyeri tidak karuan. Saya
hanya bisa menangis, dan melihat teman-teman bergembira di hari raya yang meriah
itu. Sementara itu, demi alasan keamanan dan kenyamanan, ibu saya tidak
mengijinkan saya keluar dari rumah...huaaaa... huaaaaa....Pokoknya hari itu
jelek banget deh. Baju baru, sepatu baru, tapi pipi tembam kemerahan dan wajah
seperti kue bapao yang salah kukus...Suatu kombinasi yang tak enak dilihat di
depan kaca !

Sejak saat itu, saya – dengan kesadaran sendiri – mulai membatasi mengemut
coklat. Saya pun tidak berebutan lagi dengan adik-adik saya bila ibu atau ayah
saya membelikan coklat. Ini memang agak mengherankan bagi ibu saya, tapi beliau
bersyukur juga. Sejak saya mengalami kisah sedih di hari lebaran itu tidak ada
lagi tawuran massal di rumah gara-gara coklat...hihihi...



Ngomong-ngomong soal coklat, terutama coklat makanan. Dulu, kebanyakan coklat
makanan ini hanya berbentuk batangan yang dibungkus satu persatu. Ada juga
coklat berbentuk pensil yang berisi wafer di dalamnya, atau coklat
bundar-bundar tipis mirip uang logam. Belakangan, dengan aneka kreasi, maka
banyak coklat-coklat makan yang rasanya manis berbentuk aneka rupa.

Coklat, yang berasal dari biji buah cacao, kemudian diolah menjadi cocoa butter.
Kita biasa menyebut pohon cacao , atau nama latinnya Theobroma cacaoini sebagai
pohon coklat saja. Cocoa butter yang berasal dari pohon cacao inilah kemudian
yang diolah menjadi - sebagian besar - untuk bahan makanan dan farmasi. Iya,
lho...coklat yang cocoa butter itu tidak hanya enak diemut-emut, tapi juga
bermanfaat untuk bahan baku obat-obatan ataupun kosmetika. Ingat saja ada lulur
dan masker wajah dari coklat...hehe...

Berdasarkan beberapa penelitian, coklat ini tak hanya enak disantap. Tetapi
kandungan coklat juga berpengaruh terhadap mood atau kondisi emosi seseorang.
Itu sebabnya, orang yang sedang tidak stabil emosinya dianjurkan untuk menyantap
coklat atau meminum sajian coklat yang hangat. Sayangnya, banyak orang yang
kebablasan...Setiap kali mood-nya tidak enak, mereka tidak sekedar icip-icip
coklat. Mereka malah melampiaskan nafsu makannya kepada coklat
ini...hmmh...nyaaam...

Coklat untuk lulur dan masker juga memiliki khasiat yang kurang lebih sama.
Selain membersihkan kulit, kandungan coklat di dalam lulur atau bahan masker itu
diyakini akan menenangkan dan menyehatkan kulit. Luar biasa, ya...

Sekarang coklat yang kita kenal pun beragam merek dan rasanya. Dulu kita hanya
mengenal coklat-coklat buatan luar negeri yang notabene justru tidak memiliki
pohon dan kebun coklat di negaranya. Swiss , Jerman, Italia, Perancis, Belgia
termasuk negara-negara penghasil makanan coklat yang terkenal di seluruh dunia.
Sedangkan sekarang sudah mulai banyak coklat lokal yang beredar di pasaran,
antara lain coklat dengan isi kacang mete, coklat susu, coklat isi buah dan
kismis, dan lain-lain.

Tidak hanya itu. Coklat pun sekarang banyak ragam warnanya. Walaupun namanya
coklat, tetapi coklat tidak selalu berwarna coklat...Sekarang ada 'coklat' yang
warnanya putih, ada coklat yang warnanya pink dan orange, ada juga coklat yang
warnanya hijau dan agak ungu...wwooowww...

Itu tentu berbeda dengan coklat jaman saya SD dulu. Dulu itu ada coklat
kegemaran anak-anak dengan gambar ayam yang rasanya agak pahit. Coklat cap ayam
ini cukup populer, karena harganya murah meriah dan rasa coklatnya manis
menggigit. Buat sekedar kemut-kemutan rasa, si coklat cap ayam ini lumayan
banget untuk bekal ke sekolah dan jajan iseng di saat santai.



Cerita tentang coklat, sebetulnya kita boleh miris dan prihatin. Bagaimana
tidak ?

Coklat Indonesia, terkenal sangat baik mutunya. Kondisi alam dan iklim di
Indonesia sangat baik bagi pertumbuhan tanaman coklat. Semasa masih kecil dan
tinggal di Sumatra, saya sering diajak oleh ayah saya ke perkebunan coklat yang
ada di sekitar kota Medan. Dulu saya pernah berpikir, bahwa makanan coklat
batangan itu akan menjuntai dari ujung-ujung tangkai pohon coklat. Tapi ternyata
tidak . Ketika melihat buah coklat yang mirip buah belimbing dalam ukuran lebih
besar, saya sempat kecewa....ohh lala...betapa naifnya saya...hehe...

Berdasarkan sejarahnya, coklat atau cacao yang berasal dari Amerika Selatan
banyak ditanam dalam skala besar dan perkebunan di daerah-daerah Indonesia Timur
seperti Sulawesi dan beberapa daerah di pulau Jawa. Belakangan tidak hanya di
wilayah Timur Indonesia dan sekitar Medan saja banyak pohon coklat yang ditanam
untuk industri. Saya pernah melihat kebun-kebun coklat yang menghampar luas di
kiri kanan jalan, di daerah Nias, pulau yang pernah dilanda gempa besar dan
tsunami. Konon kualitas cocoa dari daerah Nias ini termasuk yang terbaik di
Indonesia. Dan sekarang menjadi salah satu komoditi ekspor yang diperhitungkan
dari daerah Sumatra Utara.

Melihat buah coklat yang bergelantungan di pohonnya, dan melihat bungkusan
coklat di dalam kotak-kotak kemasan bermerek luar negeri, hati saya seperti
diiris-iris.

Kita, Indonesia memiliki potensi alam yang luar biasa. Tetapi kenapa, kita tidak
tergerak untuk meningkatkan produksi coklat atau tepatnya cocoa butter untuk
keperluan industri dalam negeri. Kita merasa sudah cukup puas hanya dengan
menyantap coklat cap ayam, yang hanya berupa aroma coklat, bukan dari cocoa
butter yang berkualitas. Sementara negara pengimpor coklat dari Indonesia dapat
menikmati devisa dengan memproduksi dan menjajakan coklat papan atas dengan cita
rasa lezat yang harganya berpuluhkali lipat.

Bila di satu sisi coklat dapat menunjukkan kelas sosial dan tingkat ekonomi
seseorang, apakah kita cukup puas hanya dengan menjadi kelas sosial ekonomi cap
ayam saja. Tidak tergerakkah kita untuk meningkatkan diri setara dengan coklat
kualitas ekspor ? Tidak inginkah kita mewarnai dan memperkaya hidup kita seperti
coklat yang memperkaya kehidupan orang lain ?

Kita bisa belajar dari proses pengayaan dan peningkatan kualitas coklat...dari
cacao menjadi cocoa butter. Dan dari cocoa butter menjadi coklat hidangan
istimewa yang memperkaya hidup kita.

Semoga...apa pun warna coklatnya, suatu saat akan menjadikan kita lebih percaya
diri dan menjadi primadona di negara sendiri.

Mau menjadi penikmat coklat ? Mariiiiiiiii......

♥♥

Jakarta, 28 September 2010

Salam hangat,


Ietje S. Guntur

Special note:
Terima kasih buat Melia , si Coklat-Mania...yang sering mengiming-imingi
coklat...hhmh...thanks buat inspirasi coklatnya...Juga buat sahabat-sahabat
kecilku penggemar coklat cap ayam...hehe...serta adikku penggemar coklat satu
batang bagi enam...;)



♥♥


________________________________
:BCA:


1b.

Re: Art-Living Sos 2009 (A-6   Coklat...tak selalu Coklat

Posted by: "APRILLIA" april_reto@yahoo.com   april_reto

Wed Oct 6, 2010 7:57 pm (PDT)



Pas jaman kecil saya dulu, di Surabaya, sering banget ada pameran rumah coklat.

Suka sekali berkunjung ke pameran itu, bisa makan coklat-coklat.

Sekarang jarang, hiks :(

--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, prita hw <prita_hw@...> wrote:
>
> hmm..yummyyyy..
> saya juga dulu membayangkan coklat ituya persis kayak yg kit amakan itu,

2.

Fwd: Kisah Tragis Eks Masinis Tragedi Bintaro 1987

Posted by: "Nursalam AR" nursalam.ar@gmail.com

Wed Oct 6, 2010 6:09 pm (PDT)



Dear all,

Sekadar berbagi dari milis tetangga. Semoga bermanfaat bagi kita untuk
mensyukuri apa yang ada:).

Tabik,

Nursalam AR

---------- Forwarded message ----------
From: Rofiq Nur Rifai <mrofiqnr@yahoo.co.id>
Date: 2010/10/6
Subject: [KRLMania.com] (OOT) Slamet Bintaro
To: KRL-Mania@yahoogroups.com

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=5494750
*Kisah Tragis ex.Masinis Tragedi Bintaro>>>Slamet Bintaro*
------------------------------

MENCARI Slamet Suradio di Purworejo memang tidak mudah. Radar Jogja (Grup
JPNN) tak punya alamat detail rumahnya. Bahkan, nama masinis yang pernah
menggemparkan Indonesia itu tidak terdata di PT KA (Kereta Api) Kutoarjo.

Petugas di Stasiun Besar Kutoarjo malah terkejut saat diberita tahu bahwa
masinis KA 225 (Rangkasbitung-Jakarta) yang terlibat tabrakan dengan KA 220
(Tanah Abang-Merak) dan menewaskan 156 orang itu tinggal di Purworejo.

Alamat Slamet akhirnya ditemukan di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil
Kabupaten Purworejo. Slamet Suradio tercatat sebagai warga RT 01, RW 02,
Dusun Krajan Kidul, Desa Gintungan, Kecamatan Gebang, Purworejo.

Saat didatangi di rumahnya Senin (4/10), laki-laki yang oleh warga sekitar
lebih akrab disapa Slamet Bintaro itu sedang tidak ada. Rumahnya sepi.
Tetangganya memberi tahu bahwa Slamet sedang berjualan rokok keliling di
perempatan besar dekat BRI Cabang Kutoarjo (bukan berjualan rokok di rumah
seperti diberitakan kemarin, Red).

Tapi, ketika pangkalan Slamet didatangi, bapak tiga anak itu ternyata sudah
pergi. "Wong, barusan dia di sini. Mungkin masih di sekitar sini saja," kata
seorang tukang becak.

"Lha itu" orang yang pakai baju biru berjalan ke timur. Ya, itu Slamet
Bintaro," tambah si tukang becak sambil menunjuk ke arah pria gaek yang
berjalan sambil membawa kotak rokok di dadanya.

Slamet yang mengenakan baju biru lusuh dan topi biru berjalan di trotoar
dengan tertatih-tatih. Di pundaknya tergantung tas berisi beberapa bungkus
rokok yang dijual keliling. Dia kaget ketika disapa dengan nama "Slamet
Bintaro".

Namun, setelah diajak makan di sebuah warung, dengan antusias Slamet
menceritakan tragedi kecelakaan kereta yang terjadi pada Senin Pon, 19
Oktober 1987, pukul 07.30 tersebut. Tabrakan frontal dua KA itu dianggap
sebagai kecelakaan terburuk dalam sejarah perkeretaapian Indonesia. Selain
menewaskan 156 orang, tabrakan tersebut melukai sekitar 300 penumpang
lainnya.

Dalam kasus itu, Slamet akhirnya dihukum lima tahun penjara. Begitu bebas
dari Lapas Cipinang pada 1993, Slamet masih boleh ngantor, meski hanya
disuruh apel pagi. Namun, pada 1994, dia diberhentikan dengan tidak hormat.
Secara otomatis dia tidak mendapatkan uang pensiun. Padahal, Slamet mulai
mengabdi di PJKA (kini PT KA, Red) sejak 1964 dan mulai 1971 menjadi
masinis.

"Pengabdian saya selama puluhan tahun seperti tidak berarti," ujar suami
Tuginem, 45, itu dengan nada kelu. Tuginem merupakan istri kedua Slamet.
Istri pertamanya, Kasmi, kimpoi lagi dengan masinis kawan Slamet ketika
laki-laki berkulit hitam legam itu menjalani hukuman di Lapas Cipinang.

Slamet kemudian membongkar isi tas cangklongnya. Selain rokok, ternyata
Slamet ke mana-mana membawa "surat-surat penting" yang menjadi saksi bisu
pengabdian dirinya sebagai masinis. Di antaranya, surat tanda pengenal
masinis dan surat pemberhentian dirinya oleh Kementerian Perhubungan.

Dia tampak terluka. Selain merasa menjadi kambing hitam dalam tragedi
Bintaro, dia mendapatkan tekanan dari mana-mana. Dia menjalani pemeriksaan
yang melelahkan dan membuatnya stres.

Dia juga tiga kali pindah rumah sakit saat menjalani pengobatan luka-luka
akibat kecelakaan itu. Pertama, dia dirawat di RS Pelni Jakarta. Namun,
lantaran mendapat teror dari massa "korban Bintaro", Slamet kemudian
diamankan dan dipindahkan ke RS Cipto Mangunkusumo, sebelum dipindah lagi ke
RS Kramat Jati.

Di ICU RS Kramat Jati, Slamet dirawat tiga bulan. Selama menjalani perawatan
itu, dia masih sering dimintai keterangan oleh aparat kepolisian. "Bahkan,
saya pernah diinterograsi dengan todongan pistol agar mengakui apa yang
tidak saya lakukan. Namun, saya tetap kukuh karena saya menjalankan kereta
setelah mendapat sinyal aman ketika masuk Bintaro. Saya sempat bilang,
tembak saja Pak. Saya rela mati karena saya merasa tidak melakukan
kesalahan," paparnya mengenang.

Meski demikian, Slamet Bintaro tetap menjadi terdakwa. Jaksa penuntut umum
di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan saat itu menuntut Slamet dengan hukuman
14 tahun penjara. Namun, hakim menjatuhi hukuman 5 tahun penjara.

Setelah bebas dari Lapas Cipinang, Slamet Bintaro pulang ke kampung halaman,
menemani istrinya yang bekerja sebagai buruh dan perajin emping. Slamet
memilih berprofesi menjadi pengasong rokok keliling untuk mengisi
hari-harinya.

Di perempatan BRI Kutoarjo yang letaknya tidak jauh dari Stasiun Kutoarjo,
saban hari dia dia menghabiskan waktu bersama para tukang becak dan tukang
ojek yang mangkal di situ.

"Yang penting, pekerjaan saya halal. Saya tidak mencuri dan korupsi," tutur
Slamet yang sehari rata-rata hanya mendapatkan penghasilan sekitar Rp 5.000

--
*"If you don't know where you are going, any road will get you there." (Mark
Twain)*

www.kintaka.wordpress.com
www.facebook.com/nursalam.ar
3.

Fwd: Doa Anak Pengguna BB

Posted by: "Nursalam AR" nursalam.ar@gmail.com

Wed Oct 6, 2010 8:44 pm (PDT)



Dear all,

Sekadar berbagi renungan pagi. Moga bermanfaat.

FYI (kalo belum tahu), *BB = Blackberry; BBM = Blackberry Messenger (layanan
semacam Yahoo Messenger di BB).

Tabik,

Nursalam AR
- bukan pengguna *BB, yang ada BB (Bau Badan) - :D

---------- Forwarded message ----------
From: <mail4ageng@gmail.com>
Date: 2010/10/7
Subject: [KRLMania.com] OOT - renungan
To: KRL-mania@yahoogroups.com

Temen2..patut dipertimbangkan nih:

Aku dan adik sayang mama

Tapi maaf ma.

Mengapa saat adik menangis kehausan,

Mama masih asyik BerBBM

Mengapa saat aku tidak bisa mengerjakan PR

Mama selalu bilang coba dulu pikir sendiri, sambil mata melotot ke BB

Mengapa saat aku tidak bisa memasang tali sepatu. Mama selalu menyuruh mbak
untuk membantunya, sambil tangan mama lincah menyentuh BB

Aku dan adik sayang Papa

Tetapi, maaf Pa

Mengapa saat mama minta tolong ambilkan pampers untuk adik. Papa selalu
bilang ambil sendiri, sambil tertawa di depan layar BB

Mengapa saat aku mengajak main bola. Papa selalu bilang papa lagi
capek, tapi tanpa lelah balas BBM

Mengapa papa sekarang jarang sekali menyanyikan lagu saat membobokkan adik.
Tapi papa asyik terus pegang BB

Mengapa papa sekarang jarang sekali baca cerita saat sebelum tidur. Tapi
papa selalu pegang BB saat membobokkan aku

Aku dan adik sayang Papa Mama

Tapi, maaf pa ma

Aku dan adik jadi benci BB, padahal papa mama menyayanginya

Karena sejak ada BB, papa jarang cium aku

Karena bila pegang BB, mama kalau ditanya PR selalu marah-marah

Karena bila ada bunyi BB, papa selalu melepaskan gendongan adik

Karena sejak ada BB, mama hanya bisa tertawa dengan BB

Karena sejak kerajingan BB, papa jarang maen perang-perangan lagi denganku

Aku dan adik sayang Papa Mama

Tapi, maaf pa ma

Aku pernah ajak adik berdoa, semoga BB papa mama selalu low bat.

Aku pernah ajak adik berdoa, mudah-mudah wajahku berubah jadi BB. Biar papa
mama selalu pandangi aku terus

Aku pernah Ajak adik berdoa, supaya BB papa mama ketinggalan di kantor.
Biar Aku dan adik bisa bersenang-senang seperti dulu lagi

Aku pernah ajak adik berdoa, supaya semua orang di rumah ini tidak beli BB
kayak papa mama. Agar kalau papa mama mengacuhkan aku, aku bisa main dengan
mereka

Papa dan Mama
Maafin aku dan adik

Sent from my BlackBerry®smartphone

------------------------------------

______________ K R L - M a n i a ____________

Yg Manis Beli Karcis - Yg Keren Beli Abonemen

No. Rekening:
BCA Cabang BEJ, A/C No. 4580102617 a.n Anna Dwiyana
Mandiri Cab. BEJ, A/C No. 104-0097000520 a.n Anna Dwiyana.
___________________________________________
all spammer will be terminated without notice

Ingin berhenti? Kirim email kosong ke:
KRL-Mania-unsubscribe@yahoogroups.comYahoo! Groups Links

--
*"If you don't know where you are going, any road will get you there." (Mark
Twain)*

www.kintaka.wordpress.com
www.facebook.com/nursalam.ar
4a.

Re: [Catcil] Mak Yati

Posted by: "Nursalam AR" nursalam.ar@gmail.com

Wed Oct 6, 2010 9:38 pm (PDT)



Paragraf terakhir menyentuh banget:). Sekaligus membuat saya merenung
tentang jodoh, salah satu misteri Ilahi selain rejeki, kelahiran dan
kematian. Dulu, saya pernah menginginkan istri yang berdarah Betawi, yah,
sesuku dengan saya. Setidaknya melestarikan suku bangsa inilah, kira-kira
demikian cita-cita mulianya:). Namun, ikhtiar untuk itu kerap kandas. Allah
mempertemukan saya justru dengan istri yang sama sekali tak berdarah Betawi
(berdarah Lampung dan Palembang) tapi malah logat Betawinya lebih kental
daripada saya,hehe...

Saya doakan ya,Mbak Zahra, agar dapat jodoh terbaik pilihan Allah SWT. Allah
memberikan apa yang kita butuhkan dan (kadang) bukan apa yang kita mau. Saya
ingat betul kata-kata salah satu sahabat saya jelang pernikahan saya tiga
tahun lalu.

Tabik,

Nursalam AR

2010/10/5 zahra <zahra_alhumairah@yahoo.co.id>

>
>
> Mak Yati nama perempuan itu, salah satu perempuan yang ikut andil
> membesarkanku. Maklum, orang tuaku dua-duanya bekerja, jadi ketika kecil aku
> diasuh banyak orang, salah satunya beliau.
>
> Saat aku berkunjung ke rumah beliau, beliau masih tetap seperti dulu, duduk
> di depan rumah sambil menyapa siapa saja yang lewat. Usianya sudah senja,
> tapi tak membuat ingatannya pudar, termasuk pada diriku.
>
> "Piye kabare Nduk? Sekarang Kerja dimana? Keluarga sehatkan? Kok lama tidak
> ke sini?" masih dengan pertanyaaan yang sama.
>
> Kami pun bercerita banyak hal, tentang masa kecilku yang terlalu aktif ^_^,
> tentang teman-teman sepermainan yang sekarang sudah banyak yang mempunyai
> anak, tentang kenangan kami tujuh tahun yang lalu.
>
> Setahun lebih aku tidak berjumpa dengan beliau, tepatnya ketika aku pindah
> kerja di Kota Malang. Dan tidak tahu kenapa akhir-akhir ini diriku selalu
> teringat, jadi ketika ada kesempatan pulang, aku segera berkunjung ke rumah
> beliau.
>
> Di rumah yang sederhana, beliau tinggal sendiri. Sebenarnya beliau dia
> mempunyai tiga orang anak. Ketiga-tiganya dulu juga teman mainku ketika SD.
> Anak yang pertama laki-laki, sekarang sudah menikah dan tinggal dengan
> keluarganya, anak kedua perempuan bekerja di Malaysia, anak ketiga juga
> perempuan, sekarang bekerja di luar negeri juga.
> Beliau dengan tersenyum menceritakan keadaan anak-anaknya saat ini. Selalu
> berdoa agar mereka diberi kesehatan dan rezeki oleh Sang Pencipta. Namun di
> balik senyumnya aku tahu ada getir di sana. Mengingat anak-anaknya lama
> tidak pulang.
>
> Segera kualihkan pembicaraan ketika ada mendung di wajah beliau. Aku
> bertanya tentang kesibukan. Ternyata masih seperti dulu, beliau senang
> sekali bercocok tanam. Warna-warni aneka buah dan sayuran terlihat halaman
> samping dan depan rumah
>
> Aku teringat dengan kamar mandi yang letaknya terpisah dari rumah,
> bagaimana ya kalau malam beliau ingin buang air? Ternyata setiap sore,
> beliau menyiapkan satu kaleng air untuk di bawa masuk dan diletakan di rumah
> bagian belakang. Ini menjadi rutinitas beliau setiap hari. Tertohok hatiku
> ketika mendengarnya.
>
> "Ya, bagaimana lagi nduk, lha wong sendirian, kadang-kadang sih juga ada
> yang menemani, tapi juga kadang sendiri,"
>
> Sebenarnya mata ini sudah tak sanggup menahan gejolak yang ingin keluar,
> tapi... akhirnya kutahan. Setelah mengobrol, aku pamit pulang.
> "Sering-sering main ke sini ya,"
>
> "InsyaAllah iya Mak," kuanggukan kepalaku.
>
> Satu hal yang kuingat saat itu, ibu dan bapakku. Bismillah, semoga aku bisa
> membahagiakan dan menemani beliau sampai di usia senja. Aku tak ingin
> membuat beliau kesepian dan nelangsa. Hiks...
>
> Ya, mungkin inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa aku enggan
> meninggalkan Malang. Mengapa ketika ada yang menawari menikah selalu
> kutanya, ke depan rencananya tinggal dimana. Bukannya aku ingin selalu satu
> rumah, bukan. Melainkan jarak rumah dengan orang tua tidak sampai terlalu
> jauh, tidak sampai menyeberang pulau.
>
> But, namanya manusia hanya bisa berusaha, tetap Allah yang memegang kunci
> kendali. Tetap Dia yang menentukan. Namun jika boleh meminta, aku sangat
> berharap jarak antara rumahku, rumah orang tuaku, dan rumah orang tua
> suamiku kelak tidak terlalu jauh, tidak sampai menyeberang pulau. ^_^.
>
>
>

--
*"If you don't know where you are going, any road will get you there." (Mark
Twain)*

www.kintaka.wordpress.com
www.facebook.com/nursalam.ar
5.1.

Re: Salam kenal

Posted by: "Nursalam AR" nursalam.ar@gmail.com

Wed Oct 6, 2010 9:43 pm (PDT)



Wa'alaikum salam wr.wb.

Untuk Mbak Ajeng, Ira Andriana, Nada Solekhah dan Lisa Adhani, selamat
bergabung ya di Sekolah Kehidupan. Silakan ambil tempat duduk masing-masing.
Semoga banyak inspirasi didapat dan juga turut berbagi *sentilan kepada diri
sendiri*

Untuk yang baru-baru dan belum berkenalan, dipersilakan lho...:D

Tabik,

Nursalam AR

2010/9/27 ajeng <ajeng_saja@yahoo.com>

>
>
> Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..
>
> Salam kenal untuk semua teman-teman member sekolah kehidupan. Sekolah yang
> tiada kata tamat didalamnya.
> Sebenarnya saya bukan member baru, sudah 2 tahunan ini saya bergabung di
> mailing list ini. Tapi selama ini saya hanya jadi pembaca setia saja, belum
> pernah berinteraksi dengan teman-teman.
> Semoga interaksi perdana saya ini bisa menambah ilmu saya sekaligus membawa
> manfaat dan berkah untuk kita bersama.
>
> Salam untuk semua, semoga ujian yang diberikan oleh sekolah kehidupan ini
> tidak kita jadikan sebagai beban, karena sebagaimana sekolah pada umumnya,
> ujian adalah "cara" agar grade kita meningkat. Semoga tidak hanya dimata
> sesama namun juga dimata Tuhan.
>
> Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..
>
> Salam saya,
>
> Ajeng
>
>
>

--
*"If you don't know where you are going, any road will get you there." (Mark
Twain)*

www.kintaka.wordpress.com
www.facebook.com/nursalam.ar
Recent Activity
Visit Your Group
Share Photos

Put your favorite

photos and

more online.

Y! Messenger

Want a quick chat?

Chat over IM with

group members.

Yahoo! Groups

Mental Health Zone

Learn about issues

Find support

Need to Reply?

Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.

Create New Topic | Visit Your Group on the Web
MARKETPLACE

Get great advice about dogs and cats. Visit the Dog & Cat Answers Center.


Stay on top of your group activity without leaving the page you're on - Get the Yahoo! Toolbar now.


Hobbies & Activities Zone: Find others who share your passions! Explore new interests.

Tidak ada komentar: