Jumat, 08 Oktober 2010

[sekolah-kehidupan] Digest Number 3212

Messages In This Digest (2 Messages)

1.
Part-2: Visi = DNA Kehidupan From: Udo Yamin Majdi
2a.
Re: [Catcil] Mak Yati From: zahra al humairah

Messages

1.

Part-2: Visi = DNA Kehidupan

Posted by: "Udo Yamin Majdi" ibnu_majdi@yahoo.com   ibnu_majdi

Thu Oct 7, 2010 8:15 am (PDT)



Part-2: Visi = DNA Kehidupan








Visi, kata Jonhn P.
Kotter, adalah gambaran realitas masa depan yang menarik dan logis.
Dengan demikian, visi seseorang sangat tergantung dengan pemahaman dan
keyakinannya terhadap realitas. Sebagai contoh, realitas, bagi ateis,
adalah apa yang bisa ditangkap panca indra. Menurut mereka masa lalu
seseorang hanya sampai dalam kandungan, sedangkan masa depan berakhir
ketika mati. Sebelum dan sesudah itu tidak ada lagi. Dan segala sesuatu
terjadi dengan sendirinya, tidak ada yang menciptakan.

Berbeda dengan orang beriman, di balik realitas dalam pemahaman ateis
tadi, masih ada realitas lain, yaitu Allah sebagai Khaliq dan
makluk-Nya beruapa alam semesta (al-kauniyah) —meliputi benda mati,
hewan dan tumbuhan, manusia (al-insaniyah) dan kehidupan (al-hayah).
Sebelum kita hidup di rahim, ada alam sebelumnya, begitu sebaliknya
setelah kita meninggal, ada alam lain. Allah firman-Nya:

"Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu
Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya
kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?" (QS. Al-Baqarah
[2]:28)

Perbedaan dalam memahami realitas itu, mengakibatkan beda dalam
memahami makna hidup dan tujuan hidup. Orang kafir mengatakan manusia
berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah. Tanah adalah materi. Oleh
sebab itu tujuan hidup mereka adalah mengumpulkan dan menikmati materi
sepuas mungkin, sebelum materi atau jasad mereka kembali ke materi atau
tanah. Lahirlah berbagai konsep kebendaan atau faham materialisme.

Sebaliknya, orang beriman memiliki visi "innaa lillaah wa innaa
ilaihi raji'uun". Kita ini dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Oleh
sebab itu, hidup adalah proses perjalanan dari Allah dan kembali
kepada-Nya. Materi bukan tujuan, melainkan alat untuk menuju-Nya.

Dengan demikian, berbeda pula tentang konsep "kekinian" dan
"kedisinian" serta "kenantian" atau "kedisanaan" dalam benak orang kafir
dengan orang beriman. "Kekinian", menurut orang kafir, hanya sebatas
hitungan detik, menit, jam, hari, minggu, bulan dan tahun. Dan
kedisinian, hanya perbedaan kampung, kota, negara, bangsa, pulau dan
benua. Sedangkan bagi orang beriman, kekinian dan kedisinian adalah
dunia (ad-dunya) ini, sedangkan kenantian dan kedisanaan adalah akhirat
(al-akhirah).

Gambaran kondisi kita saat bertemu dengan Allah Swt. nanti di
akhirat, inilah visi orang beriman. Sebab, visi menurut Stephen R. Covey
dalam buku Firs Things First: Dahulukan Yang Utama (Gramedia, 1999)
adalah adalah kemampuan untuk melihat di seberang realitas yang kita
alami saat ini, untuk menciptakan dan menemukan apa yang belum ada,
untuk menjadikan diri kita sebagai seseorang yang saat ini belum
berwujud. Dengan kata lain, siapa dan apa sebenarnya diri kita ini
sesungguhnya saat bertemu Allah Swt. nanti.
Apakah kita termasuk salah seorang yang mendapat nikmat sebagaimana
Allah sebutkan dalam Al-Quran surat An-Nisa 69: "Dan barangsiapa yang
mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan
orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para
shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan
mereka itulah teman yang sebaik-baiknya", atau malahan sebaliknya?

Dengan visi akhirat itu Nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya
menjalani kehidupan dunia. Visi itu menjadi visi kolektif umat Islam,
sehingga hanya dalam waktu 23 tahun bisa melahirkan sebuah peradaban.
Inilah satu rahasia keberhasilan Nabi Muhammad Saw dalam mengubah
masyarakat. Dan aku teringat dengan pernyataan seorang psikolog Belanda,
Fred Polak, faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan
peradaban-peradaban dunia adalah "visi kolektif" yang dimiliki oleh
orang-orangnya mengenai masa depan mereka.

Kita tidak meragukan Nabi Muhammad Saw memiliki visi akhirat, sebab
beliau pernah bertemu langsung kepada-Nya waktu peristiwa Mi'raj
—perjalanan rasulullah ke Sindratul Muntaha. Begitu para sahabatnya.
Kita ambil contoh dari 24.000 sahabatnya, adalah Harits bin Malik.

"Hai Harits," sapa Nabi Muhammad Saw kepada Harits bin Malik r.a.
dalam hadis yang diceritakan Imam Thabrani, "gimana keadaanmu pagi ini?"
Harits menjawab, "Pagi ini, saya dalam keadaan beriman, ya Rasulallah!"
Rasulullah ? kembali bertanya, "Setiap perkataan itu ada hakikatnya.
Nah, apa buktinya imanmu itu?" Dengan mantap Harits menanggapi, "Diriku
menjauhi dunia. Malamnya aku qiyamullail, sedangkan siangnya, aku shaum.
Dan aku seolah-olah telah melihat 'Arsy Tuhanku dengan begitu jelas.
Aku juga, seakan-akan telah melihat para ahli surga yang saling datang
berkunjung, sedangkan ahli neraka meliuk-liuk kelaparan!" Mendengar
curhat Harits bin Malik r.a, Rasulullah ? baru yakin seraya bersabda,
"Hai Harits, sekarang saya baru percaya. Maka, pertahankanlah!" Kemudian
Rasulullah memberitahukan bahwa Harits telah sampai kepada visi
hidupnya, lalu beliau bersabda, "Barangsiapa yang ingin melihat ahli
surga, maka coba perhatikan Harits!"

Nah, sudahkah kita memiliki visi seperti Harits bin Malik?

Bersambung ke tulisan Part-3: Mendeteksi Misi Hidup

*  *  *

Udo Yamin Majdi adalah konsultan media pada website
www.masisironline.com, founder sekaligus direktur Word Smart Center
(WSC) dan moderator milis wordsmartcenter@yahoogroups.com

---
wassalam & tabik

=======
Writing is My Right...
Writing is My Live's Precious Inheritance and Treasure
[Menulis adalah Hak Saya... Menulis adalah Warisan Hidup dan Bekal Mati]
======

Udo Yamin Majdi
Penulis buku "Quranic Quotient: Menggali & Melejitkan Potensi Melalui Al-Quran"

Founder & Moderator
milis wordsmartcenter@yahoogroups.com dan www.wordsmartcenter.com

HP: +20108158391
YM: ibnu_majdi/wordsmartcenter
FB: udoyaminmajdi
Blog: http://udoyamin.multiply.com/

2a.

Re: [Catcil] Mak Yati

Posted by: "zahra al humairah" zahra_alhumairah@yahoo.co.id   zahra_alhumairah

Thu Oct 7, 2010 9:16 am (PDT)




betul betull pak...

saya juga mempersiapkan diri misal doa saya belum terkabul...
bukankah Allah yang paling tahu diri kita... dan apa yang menurut baik, belum tentu baik menurut Allah. begitu pula sebaliknya...

hanya saja, salah satu keinginan saya..
saya tidak ingin membuat orang tua sedih dan merasa kehilangan...alias bisa membahagiakan beliau berdua...^_^

--- Pada Kam, 7/10/10, Nursalam AR <nursalam.ar@gmail.com> menulis:

Dari: Nursalam AR <nursalam.ar@gmail.com>
Judul: Re: [sekolah-kehidupan] [Catcil] Mak Yati
Kepada: sekolah-kehidupan@yahoogroups.com
Tanggal: Kamis, 7 Oktober, 2010, 11:37 AM

 

Paragraf terakhir menyentuh banget:). Sekaligus membuat saya merenung tentang jodoh, salah satu misteri Ilahi selain rejeki, kelahiran dan kematian. Dulu, saya pernah menginginkan istri yang berdarah Betawi, yah, sesuku dengan saya. Setidaknya melestarikan suku bangsa inilah, kira-kira demikian cita-cita mulianya:). Namun, ikhtiar untuk itu kerap kandas. Allah mempertemukan saya justru dengan istri yang sama sekali tak berdarah Betawi (berdarah Lampung dan Palembang) tapi malah logat Betawinya lebih kental daripada saya,hehe...

Saya doakan ya,Mbak Zahra, agar dapat jodoh terbaik pilihan Allah SWT. Allah memberikan apa yang kita butuhkan dan (kadang) bukan apa yang kita mau. Saya ingat betul kata-kata salah satu sahabat saya jelang pernikahan saya tiga tahun lalu.

Tabik,

Nursalam AR

2010/10/5 zahra <zahra_alhumairah@yahoo.co.id>

 

Mak Yati nama perempuan itu, salah satu perempuan yang ikut andil membesarkanku. Maklum, orang tuaku dua-duanya bekerja, jadi ketika kecil aku diasuh banyak orang, salah satunya beliau.

Saat aku berkunjung ke rumah beliau, beliau masih tetap seperti dulu, duduk di depan rumah sambil menyapa siapa saja yang lewat. Usianya sudah senja, tapi tak membuat ingatannya pudar, termasuk pada diriku.

"Piye kabare Nduk? Sekarang Kerja dimana? Keluarga sehatkan? Kok lama tidak ke sini?" masih dengan pertanyaaan yang sama.

Kami pun bercerita banyak hal, tentang masa kecilku yang terlalu aktif ^_^, tentang teman-teman sepermainan yang sekarang sudah banyak yang mempunyai anak, tentang kenangan kami tujuh tahun yang lalu.

Setahun lebih aku tidak berjumpa dengan beliau, tepatnya ketika aku pindah kerja di Kota Malang. Dan tidak tahu kenapa akhir-akhir ini diriku selalu teringat, jadi ketika ada kesempatan pulang, aku segera berkunjung ke rumah beliau.

Di rumah yang sederhana, beliau tinggal sendiri. Sebenarnya beliau dia mempunyai tiga orang anak. Ketiga-tiganya dulu juga teman mainku ketika SD. Anak yang pertama laki-laki, sekarang sudah menikah dan tinggal dengan keluarganya, anak kedua perempuan bekerja di Malaysia, anak ketiga juga perempuan, sekarang bekerja di luar negeri juga.

Beliau dengan tersenyum menceritakan keadaan anak-anaknya saat ini. Selalu berdoa agar mereka diberi kesehatan dan rezeki oleh Sang Pencipta. Namun di balik senyumnya aku tahu ada getir di sana. Mengingat anak-anaknya lama tidak pulang.

Segera kualihkan pembicaraan ketika ada mendung di wajah beliau. Aku bertanya tentang kesibukan. Ternyata masih seperti dulu, beliau senang sekali bercocok tanam. Warna-warni aneka buah dan sayuran terlihat halaman samping dan depan rumah

Aku teringat dengan kamar mandi yang letaknya terpisah dari rumah, bagaimana ya kalau malam beliau ingin buang air? Ternyata setiap sore, beliau menyiapkan satu kaleng air untuk di bawa masuk dan diletakan di rumah bagian belakang. Ini menjadi rutinitas beliau setiap hari. Tertohok hatiku ketika mendengarnya.

"Ya, bagaimana lagi nduk, lha wong sendirian, kadang-kadang sih juga ada yang menemani, tapi juga kadang sendiri,"

Sebenarnya mata ini sudah tak sanggup menahan gejolak yang ingin keluar, tapi... akhirnya kutahan. Setelah mengobrol, aku pamit pulang.

"Sering-sering main ke sini ya,"

"InsyaAllah iya Mak," kuanggukan kepalaku.

Satu hal yang kuingat saat itu, ibu dan bapakku. Bismillah, semoga aku bisa membahagiakan dan menemani beliau sampai di usia senja. Aku tak ingin membuat beliau kesepian dan nelangsa. Hiks...

Ya, mungkin inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa aku enggan meninggalkan Malang. Mengapa ketika ada yang menawari menikah selalu kutanya, ke depan rencananya tinggal dimana. Bukannya aku ingin selalu satu rumah, bukan. Melainkan jarak rumah dengan orang tua tidak sampai terlalu jauh, tidak sampai menyeberang pulau.

But, namanya manusia hanya bisa berusaha, tetap Allah yang memegang kunci kendali. Tetap Dia yang menentukan. Namun jika boleh meminta, aku sangat berharap jarak antara rumahku, rumah orang tuaku, dan rumah orang tua suamiku kelak tidak terlalu jauh, tidak sampai menyeberang pulau. ^_^.

--
"If you don't know where you are going, any road will get you there." (Mark Twain)

www.kintaka.wordpress.com

www.facebook.com/nursalam.ar

Recent Activity
Visit Your Group
Group Charity

i-SAFE

Keep your kids

safer online

Yahoo! Groups

Mental Health Zone

Learn about issues

Find support

Biz Resources

Y! Small Business

Articles, tools,

forms, and more.

Need to Reply?

Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.

Create New Topic | Visit Your Group on the Web
MARKETPLACE

Stay on top of your group activity without leaving the page you're on - Get the Yahoo! Toolbar now.


Get great advice about dogs and cats. Visit the Dog & Cat Answers Center.


Hobbies & Activities Zone: Find others who share your passions! Explore new interests.

Tidak ada komentar: