Messages In This Digest (2 Messages)
- 1.
- sepenggal kisah seorang ibu tunanetra From: thia_sly@yahoo.com
- 2a.
- Bls: [sekolah-kehidupan] Fwd: Kisah Tragis Eks Masinis Tragedi Binta From: zahra al humairah
Messages
- 1.
-
sepenggal kisah seorang ibu tunanetra
Posted by: "thia_sly@yahoo.com" thia_sly@yahoo.com
Fri Oct 8, 2010 7:56 pm (PDT)
aku sedikit kepingin berbagi ni....bukan maksudnya menggurui atau merasa lebih tahu, cuma sekedar berbagi pengalaman.
Aku dan suamiku sudah 9 tahun menikah, dan dikaruniai srorang putri yang diberi nama Jennyfer Glorya Elsyara. Tentu saja marganya Rotinsulu, mengikuti marga papanya. Suamiku juga tunanetra tapi dia masih mempunyai sisa penglihatan {low vision} biasa kami para tunanetra menyebutnya. Ketika mama tahu aku hamil setelah beberapa bulan pernikahan kami, mama pernah mengatakan bahwa nanti selahirnya anaku biar mama saja yang mengurusnya. Bliau tidak tega kalau kami harus mengurus anak kami sendiri. Aku tahu....itu karena rasa khawatir mama yang begitu besar mengingat kondisi kami. Tapi aku bersikeras menolak permintaan mama. "kan mama sibuk, nanti siapa yang urus?" tanyaku. "nanti mama cariin baby sitter." jawabnya. "ngapain kalau cuma baby sitter yang urus???? Lagian ma, nanti kalau dia besar dan diasuh bukan sama mama papanya bagaimana dia tahu dan bisa menyesuaikan diri dengan kondisi mama papanya? Bagaimana dia punya ikatan batin sama mama mama papanya? Apa mama mau nantinya cuma lebih sayang oma opanya dan malu punya orangtua tunanetra? Kenapa yang lain bisa merawat anak mereka sendiri? Tuhan adil ma..., Tuhan pasti gak pernah tingalin Tia untuk menjaga anak ini. Tia mau dia kenal orangtuanya. Kenal dan paham." rentetan jawabanku itu membuat mama terdiam. Aku tahu, ia memahami maksudku. singkatnya, ia mengajak salah seorang krabat dari papa untuk tinggal bersama kami sekaligus membantu merawat anakku.
anakku tumbuh menjadi anak yang manis. Dia disenangi siapa saja. Sejak dalam kandungan, aku selalu bercerita padanya tentang banyak hal walaupun akku tahu dia tak bisa menjawab atau mengomentari ceritaku, tapi pasti yang kuceritakan itu sudah tertanam dalam dirinya. Begitu pula saat dia lahir, selalu kuajak berkomunikasi. Aku tak setuju pendapat orang "anak bayi kok diajak ngomong???mana dia ngerti?" buatku komunikasi harus dibangun sedini munkin.
Benar saja... Anakku termasuk yang cepat pandai bicara. ketika dia mulai berusia kurang lebih 2 tahun, aku menangkap isyarat bahwa dia mulai tahu keadaan orangtuanya.
Suatu hari, aku dan papanya membawanya ke pesta ulangtahun. Di perjalanan papanya bilang: "jenny, nanti di acara jenny jangan lari2 ya? Nanti papa bingung ngejar2 jenny diantara anak2. Terus nanti mama sendiri dong kalo papa nyari2 jenny." benar saja...selama acara ulangtahun itu dia hanya duduk bersama kami.
Tapi suatu ketika, saat dia ke pesta ultah bersama saudaraku, dia berlarian kesana kemari.rupanya dia mulai mengerti apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
Aku juga mengenalkan dia pada temant tunanetraku dan anak2 mereka. Jenny tidak pernah merasa takut atau aneh melihat bentuk mata teman2ku yang berbeda dengan mata orang awas. Bila teman2ku kerumah, dia tak segan menuntun mereka, mengantar ke kamar mandi atau bahkan menyajikan makanan atau minuman langsung ke tangan mereka. Dan mendengar ceritaku, mama papaku sadar, ternyata jika kami yang mengasuhnya jenny sudah paham betul siapa orangtuanya. Belum tentu bisa begitu jika mereka yang membesarkannya.
oh ia....ada pristiwa yang sampai sekarang masih membuatku heran. Tahun 2004, waktu itu usia jennyfer kira2 1 setengah tahun. Saat itu aku sedang menjaganya dirumahsakit. Dan tanpa sengaja, mata kananku terbentur sudut rak tv dan langsung pecah. Ketika itu jenny ditempat tidur dan berteriak memanggilku. Aku segera dibawa ke ugd yg ada d lantai bawah.aku dalam kondisi setengah sadar dengan darah dan air mengucur deras dari bola mataku yang pecah. Akhirnya dokter memutuskan untuk mengangkat bola mata kananku itu. Aku dirawat di kamar dan lantai yang berbeda dengan tenpat jenny dirawat. Kondisiku begitu lemah. Keesokan harinya sebelum aku dioprasi, suamiku membawa jenny kekamarku dan ikut mendoakan persiapan oprasiku. Kemudian dia dibawa ke lantai bawah untuk diterapi karena penyakit asmanya. Saat dia naik ke lantai 2, tak ada yang memberitahu padanya dimana mamanya. Tapi heran...., ketika di melewati kamar oprasi dia menangis....mdan terus menunjuk2 ke kamar itu. "mama! Mama! Jenny mau k mama! Mama disitu! Jenny mau mama!"semua yang menunggu didepan kamar aku dioprasi saling bertanya"siapa yang kasih tahu dia tia disitu? Siapa yang bilang ke jenny disitulah tempat mamanya sedang dioprasi?" tapi tak satupun yang mendapat jawabanya. Mereka hanya menyimpulkan itulah hubungan batin seorang ibu dan anaknya yang tahu mamanya dalam kondisi sulit....
Masih banyak yang ingin kuceritakan. Tapi lain kali aja ya?
Yg jelas buatku, ada beberapa hal bisa jadi pelajaran buat qta:
1.tanamkanlah banyak hal kepada anak kita sedini mungkin. Karena saat2 dia baru dilahirkan, dia ibarat kertas putih.Dan jika pengertian serta pengajaran diberikan ketika dia sudah lebih besar mungkin akan lebih sulit.
2. Bangun seerat mungkin hubungan kita sebagai orangtua tunanetra dengan anak kita.
3. Perkenalkan anak kita kepada rekan2 tunanetra agar dia bisa lebih mengerti kehidupan mereka yang senasib dengan kita.
Sekali lagi aku tak bermaksud mengajari lho....
Peace regard by synthia montolalu
Link facebook.com/thia.montolalu
Link http://www.synthiasly.multiply. com
Sms: 081244444889
- 2a.
-
Bls: [sekolah-kehidupan] Fwd: Kisah Tragis Eks Masinis Tragedi Binta
Posted by: "zahra al humairah" zahra_alhumairah@yahoo.co.id zahra_alhumairah
Fri Oct 8, 2010 7:56 pm (PDT)
hiks hiks hiks...
makasih ceritanya pak..
membuat hati saya berembun...
jadi ingat dengan cerita "Jemputan Terakhir untuk Munir" di Intisari edisi September 2010
--- Pada Kam, 7/10/10, Nursalam AR <nursalam.ar@gmail.com > menulis:
Dari: Nursalam AR <nursalam.ar@gmail.com >
Judul: [sekolah-kehidupan] Fwd: Kisah Tragis Eks Masinis Tragedi Bintaro 1987
Kepada: "sekolah kehidupan" <sekolah-kehidupan@yahoogroups. >com
Tanggal: Kamis, 7 Oktober, 2010, 8:09 AM
Dear all,
Sekadar berbagi dari milis tetangga. Semoga bermanfaat bagi kita untuk mensyukuri apa yang ada:).
Tabik,
Nursalam AR
---------- Forwarded message ----------
From: Rofiq Nur Rifai <mrofiqnr@yahoo.co.id >
Date: 2010/10/6
Subject: [KRLMania.com] (OOT) Slamet Bintaro
To: KRL-Mania@yahoogroups.com
http://www.kaskus.us/showthread. php?t=5494750
Kisah Tragis ex.Masinis Tragedi Bintaro>>>Slamet Bintaro
MENCARI Slamet Suradio di Purworejo memang tidak mudah. Radar Jogja (Grup JPNN) tak punya alamat detail rumahnya. Bahkan, nama masinis yang pernah menggemparkan Indonesia itu tidak terdata di PT KA (Kereta Api) Kutoarjo.
Petugas di Stasiun Besar Kutoarjo malah terkejut saat diberita tahu bahwa masinis KA 225 (Rangkasbitung-Jakarta) yang terlibat tabrakan dengan KA 220 (Tanah Abang-Merak) dan menewaskan 156 orang itu tinggal di Purworejo.
Alamat Slamet akhirnya ditemukan di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Purworejo. Slamet Suradio tercatat sebagai warga RT 01, RW 02, Dusun Krajan Kidul, Desa Gintungan, Kecamatan Gebang, Purworejo.
Saat didatangi di rumahnya Senin (4/10), laki-laki yang oleh warga sekitar lebih akrab disapa Slamet Bintaro itu sedang tidak ada. Rumahnya sepi. Tetangganya memberi tahu
bahwa Slamet sedang berjualan rokok keliling di perempatan besar dekat BRI Cabang Kutoarjo (bukan berjualan rokok di rumah seperti diberitakan kemarin, Red).
Tapi, ketika pangkalan Slamet didatangi, bapak tiga anak itu ternyata sudah pergi. "Wong, barusan dia di sini. Mungkin masih di sekitar sini saja," kata seorang tukang becak.
"Lha itu" orang yang pakai baju biru berjalan ke timur. Ya, itu Slamet Bintaro," tambah si tukang becak sambil menunjuk ke arah pria gaek yang berjalan sambil membawa kotak rokok di dadanya.
Slamet yang mengenakan baju biru lusuh dan topi biru berjalan di trotoar dengan tertatih-tatih. Di pundaknya tergantung tas berisi beberapa bungkus rokok yang dijual keliling. Dia kaget ketika disapa dengan nama "Slamet Bintaro".
Namun, setelah diajak makan di sebuah warung, dengan antusias Slamet menceritakan tragedi kecelakaan kereta yang terjadi pada Senin Pon, 19 Oktober 1987, pukul 07.30 tersebut. Tabrakan
frontal dua KA itu dianggap sebagai kecelakaan terburuk dalam sejarah perkeretaapian Indonesia. Selain menewaskan 156 orang, tabrakan tersebut melukai sekitar 300 penumpang lainnya.
Dalam kasus itu, Slamet akhirnya dihukum lima tahun penjara. Begitu bebas dari Lapas Cipinang pada 1993, Slamet masih boleh ngantor, meski hanya disuruh apel pagi. Namun, pada 1994, dia diberhentikan dengan tidak hormat. Secara otomatis dia tidak mendapatkan uang pensiun. Padahal, Slamet mulai mengabdi di PJKA (kini PT KA, Red) sejak 1964 dan mulai 1971 menjadi masinis.
"Pengabdian saya selama puluhan tahun seperti tidak berarti," ujar suami Tuginem, 45, itu dengan nada kelu. Tuginem merupakan istri kedua Slamet. Istri pertamanya, Kasmi, kimpoi lagi dengan masinis kawan Slamet ketika laki-laki berkulit hitam legam itu menjalani hukuman di Lapas Cipinang.
Slamet kemudian membongkar isi tas cangklongnya. Selain rokok, ternyata Slamet ke mana-mana membawa
"surat-surat penting" yang menjadi saksi bisu pengabdian dirinya sebagai masinis. Di antaranya, surat tanda pengenal masinis dan surat pemberhentian dirinya oleh Kementerian Perhubungan.
Dia tampak terluka. Selain merasa menjadi kambing hitam dalam tragedi Bintaro, dia mendapatkan tekanan dari mana-mana. Dia menjalani pemeriksaan yang melelahkan dan membuatnya stres.
Dia juga tiga kali pindah rumah sakit saat menjalani pengobatan luka-luka akibat kecelakaan itu. Pertama, dia dirawat di RS Pelni Jakarta. Namun, lantaran mendapat teror dari massa "korban Bintaro", Slamet kemudian diamankan dan dipindahkan ke RS Cipto Mangunkusumo, sebelum dipindah lagi ke RS Kramat Jati.
Di ICU RS Kramat Jati, Slamet dirawat tiga bulan. Selama menjalani perawatan itu, dia masih sering dimintai keterangan oleh aparat kepolisian. "Bahkan, saya pernah diinterograsi dengan todongan pistol agar mengakui apa yang tidak saya lakukan. Namun, saya tetap kukuh
karena saya menjalankan kereta setelah mendapat sinyal aman ketika masuk Bintaro. Saya sempat bilang, tembak saja Pak. Saya rela mati karena saya merasa tidak melakukan kesalahan," paparnya mengenang.
Meski demikian, Slamet Bintaro tetap menjadi terdakwa. Jaksa penuntut umum di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan saat itu menuntut Slamet dengan hukuman 14 tahun penjara. Namun, hakim menjatuhi hukuman 5 tahun penjara.
Setelah bebas dari Lapas Cipinang, Slamet Bintaro pulang ke kampung halaman, menemani istrinya yang bekerja sebagai buruh dan perajin emping. Slamet memilih berprofesi menjadi pengasong rokok keliling untuk mengisi hari-harinya.
Di perempatan BRI Kutoarjo yang letaknya tidak jauh dari Stasiun Kutoarjo, saban hari dia dia menghabiskan waktu bersama para tukang becak dan tukang ojek yang mangkal di situ.
"Yang penting, pekerjaan saya halal. Saya tidak mencuri dan korupsi," tutur Slamet yang sehari rata-rata hanya
mendapatkan penghasilan sekitar Rp 5.000
--
"If you don't know where you are going, any road will get you there." (Mark Twain)
www.kintaka.wordpress. com
www.facebook.com/nursalam. ar
Need to Reply?
Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.
MARKETPLACE
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Individual | Switch format to Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
Tidak ada komentar:
Posting Komentar