Senin, 11 Oktober 2010

[sekolah-kehidupan] Digest Number 3215

Messages In This Digest (5 Messages)

Messages

1.

[Artikel] Puasa di musim panas di Perancis

Posted by: "Luth" l_u_t_h@yahoo.fr   l_u_t_h

Sun Oct 10, 2010 4:44 am (PDT)



Assalamulaikum W W

Salam sejahtera

Karena barusan saja bulan Ramadhan, saya posting artikel saya tentang suasana
Ramadhan di salah satu mesjid di Rennes, France.

Bisa jadi bahan perbandingan dengan suasana Ramadhan di mesjid2 sekitar rumah
kita di Indonesia.

Selamat membaca dan semoga bisa mengambil nilai2 hidup dari suasana Ramadhan di
France.

Salam

Luth

= = = = = = = = = = = = = = = = = = =


BULAN PENUH RAHMAT DI SEBUAH MESJID DI RENNES, PERANCIS

WAKTU BERPUASA YANG AGAK PANJANG
Waktu di alroji saya sudah menunjukkan jam 21.00, tetapi saat itu
belumlah saatnya untuk berbuka puasa. Menurut kalender jadwal waktu shalat
shalat yang saya punyai, berbuka baru bisa dikukan pada pukul 21.30. Kalau
dihitung-hitung, ternyata puasa yang saya lakukan sekitar 16 jam karena waktu
sholat Subuh berada di sekitar jam 05.30 dan berbuka sekitar jam 21.30.
Untuk tahun 2010 Masehi atau bertepatan dengan tahun 1431 Hijriah,
di bagian belahan Utara bumi, bulan Ramadhan berada di pertengahan musim panas.
Musim panas di Perancis dimulai pada tanggal 21 Juni. Untuk kota Rennes yang
terletak di sebalah barat negara Perancis, di awal bulan Ramadhan, waktu
berpuasa dimulai pada sekitar jam 05.20 dan berakhir sekitar jam 21.30. Waktu
mulai berpuasa berangsur-angsur akan berubah dan di akhir Ramadhan akan menjadi
jam 06.08. Demikian juga dengan waktu berbuka (shalat Magrib) dimana pada awal
bulan Ramadhan ada di pukul 21.30 dan juga akan berangsur-angsur berubah menajdi
pukul 20.35 di akhir Ramadhan.
Walaupun waktu berpuasa yang lebih lama dibanding saat-saat sebelumnya dan cuaca
yang tidak mendukung karena suhu lebih panas dibanding musim-musim lainnya, umat
muslim taat seperti yang ada di kota Rennes tetaplah menunaikan ibadah puasa
sesuai dengan waktu dan aturan yang ditetapkan. Tetapi di minggu pertama
Ramadhan di Rennes, menurut prakiraan cuaca yang saya baca di beberapa tempat
termasuk internet, cuaca agak cerah berawan dengan suhu antara 13-25 °C.

Pusat Kebudayaan Islam
Rennes adalah sebuah kota di bagian barat Perancis. Kota ini
merupakan ibukota dari région Bretagne (region = setingkat propinsi di
Indonesia, red) sekaligus ibukota dari departemen Ile et Vilaine (departemen =
setingkat kabupaten di Indonesia, red). Untuk mencapai kota ini , hanya
diperlukan waktu 2,5 jam dengan kereta api cepat (TGV) dari Paris.
Di kota yang berpenduduk sekitar 450 ribu orang ini, ada beberapa gedung Pusat
Kebudayaan Islam yang berfungsi juga sebagai mesjid dan beberapa ruang shalat
yang tersebar di berbagai lokasi. Salah satu yang berdekatan asrama temat saya
tinggal bernama Pusat Kebudayaan Islam Ibnu Sina (Centre Culturel Avicenne).
Centre Culturel d'Avicenne terletak di rue (rue=jalan) Recteur Paul Hendry.
Lokasinya berdekatan dengan salah satu Universitas di kota Rennes yaitu
Université Rennes 2 atau Université de Haute Bretagne yang mepunyai kajian di
bidang sosial dan bahasa. Pusat kebudayaan ini mulai dipakai sejak September
2006.
Pusat kebudayaan Islam Ibnu Sina ini juga berfungsi juga sebagai mesjid. Ada
ruangan yang berukuran lebih kurang 220 m2 yang biasa digunakan untuk shalat
lima waktu maupun shalat jumat. Dan pada bulan Ramadhan, ruangan ini digunakan
untuk shalat tarawih. Sedangkan pada saat perayaan hari besar seperti Idul
Fitri, ada juga shalat Idul Fitri di ruangan ini.
Selain itu, Pusat Kebudayaan Islam Ibnu Sina ini mempunyai beberapa ruangan
seperti ruangan administrasi pengurus mesjid, perpustakaan dan beberapa rungan
multi fungsi yang bisa dipakai untuk kelas belajar dan keperluan lainnya. Kamar
mandi, WC dan tempat berwudhu juga ada di tempat ini.

BERBUKA PUASA
Di suatu sore menjelang magrib awal Ramadhan 1431 H / 2010 M, saya berkesempatan
untuk hadir melihat suasana berbuka puasa di Centre Culturel d'Avicenne. Pada
saat itu waktu menunjukkan pukul 21.15. Seperti yang saya diungkapkan di awal
tulisan ini, berbuka puasa baru dilakukan sekitar beberapa menit kemudian.

Begitu masuk ke dalam mesjid, di lorong menuju ruang sholat dan tempat berwudhu
pria sudah dipasang karpet tipis berwarna merah. Di hari biasa, lorong ini tidak
berkarpet. Sepertinya pengurus mesjid mengantasipasi bila jemaah yang datang
melebihi kapasitas ruang shalat utama.

Ketika saya memasuki ruang shalat utama, suasana dalam ruangan shalat tidaklah
terlalu ramai walau banyak orang di ruangan tersebut. Di beberapa tempat
beberapa orang sedang berdzikir, shalat sunat dan membaca Al. Qur'an sambil
menunggu saat berbuka.

Di beberapa tempat terdapat piring yang berisi buah kurma dan setiap jamaah bisa
mengambil buah kurma tersebut. Tetapi beberapa saat sebelum berbuka, ada petugas
yang membawa piring-piring tersebut dan menawarkan kurma kepada jemaah yang
belum mendapat kurma. Untuk minuman, di beberapa tempat di ruang shalat utama
ada beberapa botol mineral dan gelas plastik sehingga bisa digunakan untuk
minum.

Pada saat yang telah ditentukan untuk berbuka, muazin mengumandangkan azan.
Pusat kebudyaan Ibnu Sina mempunyai sistim pengaturan suara elektronik sehingga
suara azan bisa terdengar ke seluruh bagian dalam mesjid termasuk di
lorong-lorong serta ruangan lainnya. Sistim ini memungkinkan suara azan atau
ceramah didengar tidak hanya di ruang shalat utama tetapi juga ke orang-orang
yang ada di seluruh bagian dalam mesjid. Tetapi memang sistim penyaluran suara
elektronik ini tidak menyalurkan suara ke luar mesjid seperti yang ada di
mesjid-mesjid Indonesia karena penduduk di sekitar pusat kebudayaan Ibnu Sina
ini tidaklah beragama Islam.

Begitu selesai azan dikumandangkan, beberapa detik kemudian Iqamat
dikumandangkan dan semua jamaah menempatkan dirinya di shaf-shaf untuk
melaksanakan shalat magrib berjamaah. Ada yang hampir saya lupakan .... pada
saat azan dikumandangkan, ada putugas yang berkeliling dengan nampan untuk
mengumpulkan sampah berupa sapu tangan kertas serta biji kurma supaya ruang
shalat tetap bersih dan tidak ada sampah berserakan. Selain itu sampah juga bisa
dibuang di tempat sampah yang ada dekat rak sepatu dan tempat berwudhu yang
berada di bagian belakang ruang shalat utama karena pada prinsipnya kebersihan
selalu harus dijaga dimanapun sesuai kata-kata mutiara Islam "an-nazhaafatu
minal iimaan - Kebersihan adalah bahagian dari Iman".

Hidangan makan malam
Setelah shalat Maghrib dan shalat sunat, pengurus mesjid
mempersilahkan jamaah menuju sebuah ruangan yang masih ada di dalam pusat
kebudayaan Ibnu Sina untuk menikmati makan malam yang disedikan oleh panitia
Ramadhan. Makan malam ini tidaklah dikenai bayaran alias gratis.
Di dalam ruangan yang dipakai untuk makan malam, sudah ada deretan
meja yang tersusun rapi. Di hari biasa, rungan ini digunakan untuk tempat
belajar seperti belajar pengetahuan agama, Al Qur'an dan bahasa Arab. Terkadang
bila ada jamaah mesjid melaksanakan hajatnya seperti jamuan Aqiqah atau syukuran
lainnya, tempat ini sering digunakan juga untuk bersantap hidangan dari yang
punya hajat.

Di deretan meja tadi, di kedua sisi meja ada kursi-kursi yang saling berhadapan.
Untuk setiap kursi, di atasnya mejanya terdapat paket makanan berupa roti, telur
dan beberapa makanan lain. Dari pengalaman beberapa kali berbuka bersama di
ruangan ini di tahun-tahun sebeumnya tentunya komposisi makanannya selalu
berganti. Terkadang disediakan pizza (dengan bahan-bahan yang halal tentunya)
atau beberapa makanan dari daerah Afrika Utara yang sering saya tidak ketahui
namanya.
Ada juga makanan yang disediakan dalam satu piring besar seperti salad yang
dimakan oleh 4 orang. Terkadang makanan utama ada juga yang disajikan di piring
besar dan dimakan untuk beberapa orang.
Sedangkan untuk makanan penutup, biasanya diberikan Al Harirah, semacam sup yang
kental berisi bahan-bahan dan bumbu khas daerah Afrika Utara serta ada cacahn
daging di dalamnya. Buah juga dikasih untuk bagian penutup. Panitia terkadang
memberikan teh yang bercampur daun mint untuk minuman penutup.

Panitia menyediakan minuman di botol-botol dengan rasa yang berbeda seperti rasa
jeruk atau rasa cola. Satu botol disediakan untuk beberapa orang. Air mineral
juga tersedia. Bila ingin minum susu, minuman ini juga diberikan baik yang ada
di dalam botol maupun susu panas. Tetapi susu panas jumlahnya terbatas. Dan bagi
penggemar kopi, bisa mengambil kopi panas yang ada di termos-termos walau
jumlahnya terbatas. Untuk pemanisnya, tersedia gula padat berbentuk persegi di
mangkuk-mangkuk kecil.

Jika saya hitung-htung, satu sisi deretan meja ada sekitar 20 kursi atau 40
kursi di kedua sisinya. Karena ada 2 deretan meja berati ada sekitar 80 kursi.
Walaupun tidak semuanya terisi, berarti dalam sehari, panitia musti menyediakan
makanan untuk sekitar 80-an orang.

Untuk kaum wanita, mereka berbuka di ruangan sebelah. Panitia membawa makanan
yang sama ke ruangan sebelah. Tetapi jumlah wanita yang berbuka puasa di mesjid
tidaklah sebanyak jamaah laki-laki.

Yang pastinya, panitia memberi kesempatan para jamaah untuk berpartisipasi dan
beramal untuk acara buka puasa sampai makan malam. Jamaah dapat mendaftar
sebagai sukarelawan yang memasak makanan, menyajikan makanan kepada jamaah pada
saat makan malam, membersihkan ruangan setelah acara makan malam sampai mencuci
piring. Jemaah tinggal menuliskan nama di kolom-kolom di tabel yang ditempel di
pintu dapur. Judul kolom-kolomnya sederhana hanya tanggal dan beberapa
pekerjaan. Ketika seorang menuliskan namanya, dia akan mengetahui tanggal berapa
dia akan ikut membantu panitia dan pekerjaan apa yang akan dilakukan.

Shalat Tarawih berjamaah
Sekitar pukul 22.50, azan shalat Isya berkumandang. Sebelum shalat
Isya sebenarnya sudah banyak orang yang datang dan duduk di dalam ruangan shalat
utama pusat kebudayaan Islam Ibnu Sina. Sebagian besar membaca Al-Qur'an yang
sangat mudah diambil dari rak-rak yang ada di bagian depan mesjid. Beberapa hari
sebelum Ramadhan, karena waktu shalat Isya lebih dari jam 23.00, maka tidak ada
shalat sunat tetapi langsung dilakukan shalat Isya karena petugas mesjid
berusaha agar jamaah tidak pulang terlalu malam. Karena di awal musim panas
waktu shalat isya bisa berada pada pukul 23.55.

Begitu selesai azan Isya diperdengarkan, jemaah bisa melakukan
shalat sunat Rawatib. Beberapa saat setelah shalat sunat Rawatib langsung
dilakukan shalat Isya.

Di tahun-tahun sebelumnya waktu sela tersebut diisi dengan ceramah agama. Di
tahun ini karena waktu mulai shalat Isya sudah terlalu larut malam, ceramah
hanya dilakukan di malam sabtu dan malam minggu. Menurut pengurus mesjid hal ini
dilakukan supaya jamaah-jammah mesjid yang bekerja tidak pulang terlalu larut,
terganggu istirahat malamnya sehingga menganggu aktifitas kerjanya di siang
hari. Sebuah kebijaksanaan yang memihak ke semua pihak. Biasanya ceramah
dilakukan dalam bahasa Arab dan berlangsung sekitar 20 menit. Di akhir ceramah
biasanya penceramah akan mengatakan di hari apa ceramah akan diterjemahkan dalam
bahasa Perancis karena tidak semua jamaah shalat mengerti bahasa Arab. Jadi satu
judul ceramah bisa dibawakan selama dua kali kesempatan. Topik ceramah tidaklah
selalu yang berkaitan dengan Ramadhan. Bisa juga yang berkenaan kehidupan
sehari-hari. Yang pastinya, ceramah yang disampaikan bertujuan untuk memperkaya
wawasan keagamaan para jamaah.
Di tahun-tahun sebelumnya, shalat Isya dilakukan setelah ceramah
selesai. Tahun ini begitu selesai shalat sunat rawatib, shalat isya dilakukan.

Begitu selesai shalat Isya, imam dan jemaah langsung berdiri untuk melanjutkan
dengan shalat Tarawih. Di Pusat Kebudayaan Islam Ibnu Sina, shalat Tarawih
dilakukan sebanyak 8 rakaat dan setiap 2 rakaat ada salam.

Surat atau ayat-ayat yang dibaca setelah Al Fatihah pada shalat
Tarawih tentunya lebih panjang jika dibandingkan dengan yang dibacakan ketika
shalat wajib. Hal ini membuat suasana shalat Tarawih semakin khusuk dan khidmat.
Ayat-ayat panjang Al-Qur'an yang dibacakan tentunya menjadi obat untuk
membersihkan hati.

Jumlah Shalat Witir di Pusat Kebudayaan Islam ini adalah 3 rakaat
dengan 2 kali salam. Shalat Witir langsung dilaksanakan setelah shalat Tarawih.
Pada saat I'tidal di rakaat terakhir, doa Qunut dibacakan. Semua ini berlangsung
shalat khidmat.

Di gelap malam
Ketika waktu menunjukkan tengah malam, biasanya shalat Tarawih dan
Witir selesai dilaksanakan. Satu persatu jemaah bangkit untuk pulang ke tempat
tinggalnya masing-masing. Ada juga beberapa orang yang mengambil Al-Qur'an untuk
dibaca.

Di pelataran mesjid, saya masih melihat beberapa orang yang masih
saling bersilaturahmi. Saya kira mereka tidak terlalu lama bersilaturahmi harus
pulang ke tempat tinggalnya masing-masing untuk mempersiapkan puasa hari
selanjutnya.

Dalam kegelapan di tengah malam saya pulang melalui jalan dan
lapangan yang hanya diterangi lampu jalan dan taman menuju ke tempat tinggal
saya yang tidak jauh dengan Pusat Kebudayaan Islam ini. Saya dan jemaah lainnya
tentu sangat berharap Allah menerima semua ibadah yang baru saja dilaksanakan
pada hari itu baik puasa di siang harinya maupun shalat Tarawih di malam
harinya. Dan tentunya berharap bisa mendapat predikat orang yang bertaqwa di
akhir Ramadhan nantinya. (Luth)
Ditebitkan oleh majalah Aulia, September 2010

2.

[Artikel] Puasa Ramadhan pada saat musim gugur di Nancy, Perancis

Posted by: "Luth" l_u_t_h@yahoo.fr   l_u_t_h

Sun Oct 10, 2010 9:13 pm (PDT)



Assalamulaikum W W

Salam sejahtera untuk semua

Untuk melengkapi tulisan tentang Ramadhan sebelumnya, saya posting tulisan saya
tentang Ramadhan pada saat musim gugur di salah satu kota di France.

Semoga dapat mengambil nilai2 hidup di dalamnya.

Selamat membaca.

Salam

Luth

= = = = = = = = = = = = = = = = = = =


RAMADHAN DI NANCY

Daun-daun boleh berguguran tetapi semangat berpuasa tidak boleh gugur mengikuti
gugurnya daun-daun. Begitulah mungkin yang ada di hati kaum muslimin yang sedang
berpuasa di musim gugur (daerah beriklim 4 musim). Untuk negara di bagian utara
bumi, bulan Ramadhan 1423 H/2002 M bertepatan dengan dengan musim gugur.

Di salah satu kota di Prancis bernama Nancy yang terletak di region Lorraine,
bagian timur dari Prancis dan dekat dengan perbatasan Jerman dan Luxembourg,
umat muslimin juga turut menyambut datangnya bulan penuh rahmat ini dengan
melaksanakan ibadah puasa. Di musim gugur pada saat itu, suhu berkisar antara
5-12 °C dan bila hujan suhu berada dibawah 5 °C.

Pada saat itu, di Nancy puasa dimulai jam 06.00 dan berbuka pada jam 17 .00.
Bahkan pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan berbuka dilakukan pada jam
16.45.

Pada bulan yang suci ini pula, beberapa asosiasi mengadakan acara bertema
keislaman. Seperti Etudiant Musulmans de France (Pelajar Muslim Prancis)
mengadakan acara memahami Islam bagi para pelajar dan masyarakat. Asosiasi lain,
Union des Jeunes pour la Culture (Persatuan Pemuda untuk Kebudayaan) mengadakan
acara dua mingguan berisi ceramah bertema sejarah para nabi.

BUKA PUASA
Seperti kota-kota lain di Prancis, di kota Nancy juga ada beberapa mesjid,
antara lain yang berada di jalan Saint Nicolas (daerah pusat kota) atau mesjid
Bilal yang berlokasi di Boulevard des Aiguilettes, Laxou. Pada bulan Ramadhan
ini mesjid-mesjid tersebut mengadakan buka puasa dan shalat Tarawih bagi para
jamaahnya.
Di salah satu mesjid yang bernama mesjid Bilal mengambil nama salah seorang
sahabat rasullullah, yang ada di lantai dasar gedung Printemps–Automne, berbuka
puasa diselenggarakan pada jam 17.00. Menu yang disajikan berupa segelas susu
dan kurma. Setelah itu dilanjutkan dengan shalat Maghrib. Karena letaknya yang
tidak begitu jauh dari beberapa asrama mahasiswa maka sebagian besar jemaah yang
mesjid ini adalah mahasiswa yang berasal dari berbagai negara terutama negara
Afrika Utara seperti Maroko, Tunisia, Algeria, Mauritania, Djibouti dan negara
lainnya. Beberapa warga negara Prancis yang beragama muslim juga tampak di
antara para jamaah.
Ba'da shalat Magrib, pengurus mesjid dengan cekatan menggelar kertas panjang
untuk alas makan di atas karpet mesjid dan mengedarkan mangkok-mangkok yang
berisi sup yang dinamakan "Al Harirah" dan roti. Jamaah dapat menikmati
semangkuk sup yang berisi hames, kacang ijo dan cincangan daging. Dan bila ingin
menambah maka pengurus mesjid dengan senang hati mengisi kembali mangkuk dengan
sup Al-Harirah.
Shalat tarawih di mesjid yang menurut Mohamed El Fatihi (pengurus mesjid Bilal)
dipergunakan sejak tahun 2000 ini, dimulai pada jam 19.30. Ia menambahkan, hal
ini dilakukan supaya jamaah mesjid yang bekerja bisa ikut shalat tarawih karena
pada musim gugur jam kerja akan berakhir pada pukul 19.00.

Untuk jamaah yang berada di mesjid setelah shalat Magrib biasanya mengisi dengan
membaca Al-Qur'an, beberapa buku-buku lain atau berdiskusi tentang
masalah-masalah keagamaan dengan jamaah lain. Dan pada jam 19.00 ada ceramah
yang dilakukan oleh pengurus mesjid atau mahasiswa dalam bahasa arab, terkadang
juga hanya membaca buku-buku agama berbahasa arab lainnya.

Jumlah bilangan shalat tarawih yang dilaksanakan di mesjid Bilal adalah 8 rakaat
dan salam dilakukan setiap 2 rakaat. Imam-imam pada mesjid ini adalah
hafidz-hafidz Al-qur'an. Pada setiap malamnya, imam akan membaca satu juz selama
shalat tarawih sehingga di akhir bulan Ramadhan lengkaplah satu mushaf Al-Qur'an
(30 juz) dibaca. Sedangkan shalat Witir dilaksanakan sebanyak 3 rakaat dengan 2
kali salam. Ada semacam system kaderisasi di sini. Biasanya pada shalat witir,
imam shalat tarawih akan diganti dengan mahasiswa yang tentu usianya lebih muda.
Dari informasi beberapa jamaah mahasiswa mesjid ini, ternyata mahasiswa yang
memimpin shalat witir adalah seorang hafiz Al-qur'an juga.

Keunikan pelaksanaan shalat tarawih pada mesjid ini adalah setelah melaksanakan
4 rakaat shalat tarawih, di mesjid yang berukuran 85 m2 ini disampaikan ceramah
oleh pengurus mesjid atau jamaah yang bersedia lebih kurang 15-20 menit. Ceramah
disampaikan dalam bahasa arab. Terkadang di akhir ceramah pengurus mesjid
menyampaikan terjemahan ceramah tadi ke dalam bahasa Prancis bagi jamaah yang
tidak bisa berbahasa arab. Kadangkala, pengurus mesjid akan meminta
jamaah-jamaah yang tidak bisa berbahasa arab untuk duduk mengelompok di dekat
beliau pada saat ceramah berlangsung, sehingga beliau akan menerjemahkan ceramah
langsung ke dalam bahasa prancis apa yang dikatakan oleh penceramah. Walau agak
sedikit ribut, jamaah-jamah yang bisa berbahasa arab tidak merasa terganggu
dengan aktifitas ini.

Pada bagian belakang shaf laki-laki, mesjid Bilal ini disediakan beberapa kursi.
Fasilitas ini diberikan untuk jamaah yang shalat sambil duduk karena tidak
sanggup berdiri, jadi kekurangan fisik bukanlah halangan untuk terus mengikuti
rangkaian ritual di bulan yang penuh rahmat ini. Di luar shalat, tidak ada
satupun jamaah yang sehat yang mau mempergunakan kursi ini untuk duduk-duduk.

Setelah menyelesaikan shalat tarawih dan witir yang berjumlah 11 rakaat,
pengurus mesjid mempersilahkan jamaah untuk mengelompok 6 atau tujuh orang,
setelah itu pengurus mesjid memberikan kertas berukuran 2 x 2 m untuk alas
nampan makanan. Selanjutnya pengurus akan membagikan sebuah nampan besar berisi
hidangan Al Acha yang terbuat dari daging ayam atau sapi, kentang, buah zaytun
dan sayuran lainnya ditambah dengan roti. Terkadang ada juga jamaah yang
meyumbangkan Qus-qus (makanan dari daerah Maroko, Afrika Utara). Buah segar
seperti jeruk atau apel juga sesekali diberikan untuk para jamaah. Tak lupa
beberapa botol jus buah, minuman cola, air mineral dan gelas diberikan pada
setiap kelompok.

Pengurus mesjid menginformasikan kalau semua hidangan untuk berbuka puasa selama
sebulan penuh Al Harirah maupun Al Acha adalah sumbangan dari para jamaah.
Mesjid hanya meyediakan peralatan makan dan melakukan pembagiannyanya
Sekitar jam 21.30, semua acara berakhir. Jamaah dengan sukarela membereskan
sisa-sisa makanan dan mencucinya peralatan makan. Sebenarnya kegaitan
bersih-bersih setelah shalat tarawih sudah dijadwalkan oleh pengurus mesjid.
Mulai awal Ramadhan, di papan pengumuman mesjid sudah ditempel kertas karton
besar yang bertulis hari dan jam-jam tertentu. Jamaah tinggal menulis namanya
pada hari apa dan jam berapa ia bisa membantu mesjid untuk kegiatan
bersih-bersih. Jadi tidak ada hari yang terlalu banyak jamaah yang
berpartisipasi atau hari lain dimana tidak ada jamaah yang membantu.
Di malam yang semakin gelap dan terkadang di bawah rintiknya hujan dan suhu yang
semakin dingin para jamaah pulang ke rumahnya masing-masing untuk mempersiapkan
puasa esok harinya. Semua berharap terbangun sebelum subuh di esok harinya untuk
bersahur dan selalu berharap Allah menerima segala amalan di bulan penuh rahamat
itu. (Luth)

3.

[Mimbar] Racing Day

Posted by: "Syafaatus Syarifah" syarifah@gratika.co.id   sya4215

Mon Oct 11, 2010 1:16 am (PDT)



Racing Day

Dalam salah satu episodenya, film kartun anak "The Backyardigans" bercerita tentang sebuah perlombaan marathon yang diikuti oleh para tokohnya yaitu : Pablo, Uniqua, Thryone dan Austin. Perlombaan itu terdiri dari lari, sky es, mendayung dan lari lagi. Masing-masing tokoh, kecuali Austin pernah mendapat piala pada lomba marathon tersebut. Thyrone jago di lomba lari, Pablo jago di seluncur es dan Uniqua jago di lomba mendayung, sementara Austin si pendatang baru tidak menjagoi lomba apapun.

Austin bisa dibilang lambat dalam keempat jenis lomba tersebut, tapi dia punya kelebihan yang tidak dimiliki oleh ketiga temannya yang lain. Apakah itu? Austin adalah seorang yang well prepared. Di saat teman-temannya yang lain tidak membawa bekal atau peralatan pada saat lomba berlangsung, Austin membawa satu set tas yang berisi peralatan yang mungkin dapat menyelamatkannya dalam lomba. Dan inilah yang justru kelak dapat mengantarkannya sebagai pemenang dalam perlombaan tersebut.

Pada saat lomba ski, Pablo mengalami kecelakaan, tersangkut di bukit Es. Saat itu Austin datang menolongnya dengan menggunakan tali yang dia bawa dalam tasnya. Saat lomba dayung, Uniqua kebingungan karena dayungnya jatuh, saat itu Autin datang menolong mengambilkan dayung itu dengan menggunakan tongkat pengait yang dia bawa di dalam tas perbekalannya. Saat mereka semua sampai pada tahap lomba lari, ketiga teman yang lain merasa lemah dan tak bisa melanjutkan perjalanan karena kehausan, saat itu Austin datang menawarkan minuman yang dia bawa di dalam tasnya. Saat semua sudah hampir sampai di finish, tak ada yang mampu melewati pita finish karena ternyata pitanya tidak bisa robek, saat itu Austin tampil membawa gunting yang dia bawa dalam tasnya, dan hanya dialah satu-satunya yang bisa melewati pita finish tersebut karena dia berhasil mengguntingnya . Semua bersorak ketika Austin dinobatkan sebagai juara.

Kita pun bisa mengambil pelajaran dari episode "Racing Day" film tersebut. Bukankah dalam kehidupan ini kita juga berlomba? Terutama adalah berlomba-lomba dalam kebaikan, dalam menjalankan perintah Allah swt. Para Shalafushalih selalu bersemangat dalam berlomba-lomba dalam kebaikan ini. Mereka rela mengorbankan nyawanya dalam berjihad di jalan Allah, mengorbankan seluruh harta untuk kepentingan umat, menghabiskan malam-malamnya untuk bermunajat dan lain sebagainya.

Kita tak pernah tahu apa-apa saja yang akan terjadi di saat perlombaan itu terjadi, oleh karena itu tak ada salahnya kalau kita seperti Austin, menjalani perlombaan ini dengan persiapan yang matang. Tidak menjalani lomba ini "waton melu" (asal ikut) saja. Bisa jadi ini akan menjadi satu perbuatan yang sia-sia bila tak diikuti dengan persiapan yang memadahi dan lebih buruk lagi bila dalam lomba ini kita justru mengalami celaka.

Ada banyak bidang yang dilombakan dalam ibadah kita. Shalat, Puasa,Sedekah, Tahajud, Haji, Jihad dan lain sebagainya. Pilihlah paling tidak 1 jenis bidang yang menjadi andalan kita. Syukur-syukur bisa menguasainya semua.

Adapun perbekalan yang harus kita bawa untuk memenangkan perlombaan ini di antaranya adalah :

1.Akal.

Adalah fitrah insting dan cahaya yang dengannya manusia bisa mengetahui hakikat sesuatu.

2. Ma'rifah

Yaitu :

- Mengenal dirinya

- Mengenal tuhannya

- Mengetahui hakikat kehidupan dunia

- Mengetahui hakikat kehidupan akhirat

3. Ilmu

Yaitu pengetahuan cara menuju Allah, pengetahuan perkara-perkara yang dapat mendekatkan diri kepada Allah, pengetahuan tentang rintangan dan jebakan dalam perjalanan menuju Allah. Ilmu dan amal harus sejalan seirama. Ilmu tanpa amal akan menjadi sia-sia. Amal tanpa ilmu akan sesat.

Dan mungkin ada bekal-bekal lain yang belum terlintas di benak saya. Bila semua perbekalan ini dipenuhi maka seseorang akan bisa mengantisipasi segala hal yang terjadi di dalam perlombaan.

Kembali pada pelajaran film kartun "Racing Day" tadi. Bila kita cermati, di sana ada satu nilai kebajikan lain yang disampaikan oleh pembuat film yaitu kepedulian Austi untuk selalu menolong temannya yang notabene adalah lawan lombanya. Austin dengan sukarela menolong mereka yang sedang mengalami masalah, dia tidak egois, padahal kalau mau sebenarnya dia bisa saja terus berlari meneruskan lomba dan membiarkan temannya dalam masalahnya sendiri.

Kita pun semestinya demikian, tidak egois memikirkan diri sendiri. Ketika kita melihat teman kita jatuh, terpeleset dalam kemaksiatan. Ulurkan tangan kita sebisa mungkin untuk membantu agar mereka bisa kembali menjalani perlombaan itu dengan kita secara fair. Ini bisa menjadi nilai plus di mata-Nya, yang bisa jadi menambah poin kita untuk memenangan perlombaan.

Pada hakikatnya kita harus menyeimbangkan 2 faktor dalam kehidupan kita yaitu : hablum minnallah dan hablu minnannas. Bila kedua hal ini bisa berjalan dengan seimbang, insya Allah kita bisa sampai ke garis finish dengan selamat.

Di kehidupan kita yang nyata ini, everyday is racing day, setiap hari adalah hari untuk berlomba atu ber fastabikul khairat. Jadi, jangan lelah untuk mengikutinya. Jadilah peserta lomba yang cerdas yang penuh dengan persiapan. So, Mari kita berlomba !

11/10/10 15:15
4a.

Re: HEMAT, PENUH BERKAH

Posted by: "Mimin" minehaway@gmail.com   mine_haway

Mon Oct 11, 2010 1:40 am (PDT)



Thanks for sharing

Sepertinya saya harus bersyukur karena 2 pengajuan kartu kredit konvensional
saya ditolak semua.
Ada rencana apply CC Syari'ah.

Dua trik di bawah ini pernah diajarkan teman saya.
Jadi kalau kita tidak pernah telat bayar, ya tidak di denda
Beli 100.000 tagihan 100.000 bayar tetep 100.000

Kalau semua nasabah CC bisa melakukan trik di bawah, pastilah bank merugi.
Masalahnya sebagian besar nasabah membeli barang dengan CC karena tidak
mampu beli tunai.
Padahal sebenarnya hanya dapat penguluran waktu pembayaran.

2010/10/9 Suratno Abu Mafaza <ratno1905@yahoo.co.id>

>
>
> 1. Gunakan kartu kredit itu sebagai alat pembayaran, bukan *fasilitas
> hutang*. Artinya, belilah sesuatu dan bayarlah dengan kartu kredit
> hanya jika uang untuk membayarnya sebenarnya *sudah tersedia*. Ini
> berarti memfungsikan kartu kredit sama dengan kartu debit.
> 2. Bayarlah tagihan kartu kredit itu lunas 100% sebelum jatuh tempo
> atau Anda akan dikenakan BUNGA yang sering tak masuk akal.
>
>

--
Write what you think!
http://minesweet.blogspot.com
5.

(Ruang Baca) Kala Iris Krasnow Memilih untuk Berserah Menjadi Ibu

Posted by: "CaturCatriks" akil_catur@yahoo.co.id   akil_catur

Mon Oct 11, 2010 1:52 am (PDT)



Kala Iris Krasnow Memilih untuk Berserah Menjadi IbuOleh Retnadi Nur'aini

Judul: Surrendering to Motherhood, I Love to be a Mom Penulis: Iris Krasnow Penerjemah: Rahmani Astuti Penerbit: Serambi==================Tiga
puluh lima tahun yang lalu, saat Iris Krasnow muda tengah berjemur
dengan santai di pagar balkon yang menghadap Samudera Pasifik, dengan
mengenakan sepasang sandal jepit beludru dari sol bambu, tak terlintas
di pikirannya untuk menjadi seorang ibu. Ide menjadi
seorang ibu juga masih tak terpercik di pikiran gadis kosmopolitan ini,
saat ia menjadi eksekutif humas di Margie Korshak & Associates di
John Hancock Tower atau saat awal-awal bekerja sebagai jurnalis di
United International Press. Sampai pada suatu hari
sebelum Thanksgiving Day, ia bertemu dengan seorang arsitek bernama
Chuck Anthony. Bersama Chuck, Iris bermimpi punya empat anak sebelum
mereka berusia 40 tahun. Dan bersama Chuck pula, Iris kemudian
mewujudkan impian itu dengan memiliki empat orang anak lelaki saat ia
berusia 39 tahun. Dengan empat orang anak lelaki inilah,
Iris pun melakukan perjalanan panjang sarat perenungan. Yang membawanya
pada hakikat ketenteraman: berserah menjadi ibu. ***Lika-liku
perjalanan panjang Iris untuk berserah menjadi ibu dalam buku ini
terbagi atas delapan bab. Dimulai dengan bab Pendakian yang berkisah
tentang awal karier Iris yang gemilang. Dilanjutkan dengan bab
Kekacauan, saat karier Iris di bidang jurnalistik menanjak. Pada bab
ini pula, Iris bertutur tentang luka psikologis saat ayahnya, Theodore
Krasnow meninggal. Secara spesifik, bab-bab yang
menggambarkan perjalanannya menjadi ibu termuat dalam enam bab
berikutnya: Kesulitan saat Mendapat yang Diinginkan, Mama Militan,
Menyerah, Menyerah pada Perkawinan, Aku Tunduk, dan bab pamungkas:
Terperangkap dan Terbebaskan.  Dalam perjalanan panjang
ini, pembaca akan diajak untuk menyusuri cabang-cabang pemikiran Iris
yang bersifat global. Ia bicara tentang kehampaan spiritual, akar
feminisme, sampai pemikiran para tokoh terkenal yang diwawancarainya.
Beberapa diantaranya adalah Yoko Ono, Ratu Noor, Annie Leibovitz, Ted
Kennedy, dan masih banyak lagi. "Tetapi mata rantai yang
paling menginspirasi saya bahkan tidak muncul di majalah Life," tulis
Iris di halaman 146. Di halaman ini, Iris berkisah tentang kesulitannya
untuk menemui Ethel Kennedy. Ethel selalu sedang pergi atau sedang
sibuk, saat Iris berusaha menemuinya untuk wawancara. Tak dinyana, pada
suatu siang dua hari sebelum tenggat waktu, Ethel menelepon Iris. Kala
itu, Iris tengah memeluk anak pertamanya, Theo, yang baru saja bangun
dari tidur siang dan jeritan suaranya terdengar pada pesawat telepon.
"Dan sungguh menakjubkan, ibu dari sebelas anak itu berkata 'Kita bisa
berbicara lain kali. Lakukan dulu apa yang benar-benar penting',"
kenang Iris di halaman 146. ***Kalimat "Melakukan
apa yang benar-benar penting" selalu terpatri di kepala Iris saat ia
kemudian bicara tentang prioritas dan komitmen. "Saya telah berubah
dari tahun ke tahun. Dulu saya berpikir saya bisa melakukan segalanya
dan bahwa anak-anak saya akan baik-baik saja diselipkan di antara
daftar tugas saya. Sekarang saya tahu, anak-anak harus ditempatkan pada
daftar paling atas, dan daftar itu harus banyak dikurangi" (hal 344). Pun
telah mampu memetakan ulang skala prioritas dan komitmennya, dalam
buku ini Iris tidak serta merta mengelu-elukan peran seorang ibu yang
tinggal di rumah, ataupun mendiskreditkan peran seorang ibu yang bekerja
di luar rumah. Dalam pidato utama yang disampaikannya untuk acara
tahunan Penyerahan Penghargaan Kepada Mass Media Area Metropolitan di
Washington, Iris mengatakan:  "...Setiap wanita harus
bisa memilih apa yang tepat baginya berdasarkan kebutuhan emosional
dan finansialnya tanpa harus dicela masyarakat, dan tanpa memunculkan
rasa tidak suka dari teman-temannya yang berada di jalur yang berbeda.  
Kita harus menghargai pilihan masing-masing, dan menyadari bahwa
seorang ibu maupun seorang wanita profesional sama-sama kesulitan untuk
memutuskan apakah ia harus bekerja penuh waktu atau tinggal di rumah.
Keputusan itu sarat dengan pertimbangan untung-rugi. Mari kita berharap
bahwa di masa sekarang ini kita akan menyaksikan berkurangnya celaan;
semoga tidak ada lagi tuduhan bahwa wanita itu seorang anti-feminis,
atau bahwa wanita yang bekerja keras di rumahnya itu menyia-nyiakan jam
biologisnya.   Tidak ada lagi penghalang
antara kita dan mereka; kita semua satu sebagai wanita yang berusaha
tetap menjalani bersama kehidupan karier, keluarga dan perkembangan
pribadi.." (hal 204-205).  ***Sulit rasanya
untuk tidak bercermin dari buku ini. Menikah di usia 23, kemudian
memiliki anak di usia 25 dan memutuskan untuk meninggalkan dunia kantor
untuk selamanya, membawa saya sendiri pada tahap perenungan panjang. Meski
ada demikian banyak hari-hari cerah karena bayi kami mulai belajar
banyak hal, terselip hari-hari mendung saat saya lunglai kehabisan
tenaga. Dan betapa meski saya sadar sepenuhnya bahwa "I've never been
this happier", sesekali saya masih merindukan masa-masa muda saat saya
dan teman-teman berdiskusi tengah malam tentang framing, analisis
wacana, feminisme dan mimpi-mimpi, sambil menonton serial Friends dan
makan camilan keripik kentang  beroleskan mayonaise. Dalam
buku ini, Iris menggunakan kata "berserah" bukan "menyerah". Karena
menurutnya "menyesuaikan diri dengan naluri keibuan merupakan suatu
proses, bukan tindakan yang sudah selesai." (hal 18). Kalimat yang
menjelaskan kalimat berikut, yang juga menjadi mantra baru saya sejak
beberapa hari terakhir: "Saya tak ingin mengatakan bahwa saya seorang
ibu teladan yang sempurna; saya hanyalah seorang ibu yang berusaha
setiap hari untuk menjadi lebih baik daripada sebelumnya." (hal 18). 

***

Halaman Moeka Production:
Penerbit dan Jasa Penerbitan Buku I Toko Aneka KebutuhanI Toko Buku Online

http://halamanmoeka.blogspot.com
http://tokoanekakebutuhan.blogspot.com
www.halamanmoeka.com

 

Recent Activity
Visit Your Group
Drive Traffic

Sponsored Search

can help increase

your site traffic.

Y! Messenger

All together now

Host a free online

conference on IM.

Y! Groups blog

the best source

for the latest

scoop on Groups.

Need to Reply?

Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.

Create New Topic | Visit Your Group on the Web
MARKETPLACE

Get great advice about dogs and cats. Visit the Dog & Cat Answers Center.


Hobbies & Activities Zone: Find others who share your passions! Explore new interests.


Stay on top of your group activity without leaving the page you're on - Get the Yahoo! Toolbar now.

Tidak ada komentar: