Messages In This Digest (6 Messages)
- 2.
- [Catcil] Perjalanan Debu (Renungan Hampir Tengah Malam) From: Nia Robie'
- 3.
- Art-Living Sos 2010 (A-10 Liuk-liuk Sang Bambu From: IETJE SRI UMIYATI GUNTUR
- 4a.
- Re: (Ruang Baca) Kala Iris Krasnow Memilih untuk Berserah Menjadi Ib From: siril_wafa
- 4b.
- Re: (Ruang Baca) Kala Iris Krasnow Memilih untuk Berserah Menjadi Ib From: Ramaditya Skywalker
- 5a.
- Re: [Mimbar] Racing Day From: Jojo_Wahyudi@manulife.com
Messages
- 1.
-
[Artikel] Makna keluarga yang universal pada waktu mudik di France
Posted by: "Luth" l_u_t_h@yahoo.fr l_u_t_h
Mon Oct 11, 2010 6:23 pm (PDT)
Assalamualaikum W W
Salam sejahtera semua!
Karena masih juga dekat dengan lebaran, untuk itu saya posting artikel saya
tentang acara pulang kampungnya orang France pada saat hari besarnya...
ngelengkapi tulisan tentang Ramadhan.... Cuma kalau di Indonesia acara pas Idul
Fitri, di France ya pas Nöel alias Natal. Sepertinya ngak sama banget
ya..he..he... Tapi ya, fenomenanya hampir sama dan makna keluarga benar2 ada di
dua peristiwa yang cuma beda negara dan waktu.
Selamat membaca. Semoga dapat mengambil nilai2 di dalamnya.
Salam
Luth
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
PULANG KE KAMPUNG HALAMAN UNTUK KESEHATAN JIWA
(Pulang kampung bersama teman Perancis pada hari besar keagamaannya)
Hari besar keagamaan selain identik dengan perayaan spesial juga sering
berkaitan dengan pulang ke kampung halaman. Tujuan utama adalah untuk bertemu
dengan keluarga. Kalau di Indonesia, di salah satu hari besar agama Islam, Idul
Fitri, banyak orang pulang ke kampung halamannya. Dan ternyata, pulang kampung
di hari besar untuk merayakan hari besar keagamaan atau mudik bukanlah hanya
fenomena orang Indonesia. Di Perancis ternyata fenomena seperti itu juga ada.
Tetapi bedanya, kalau Indonesia berbondong-bondong pulang ke kampung halaman
pada saat Idul Fitri, di Perancis yang mayoritas beragama Katolik tentunya
orang-orang akan pulang kampung di hari Natal.
LIHAT PEDESAAN YUK!
Dalam sebuah grup diskusi para pelajar Indonesia di Paris, Perancis melalui
internet, ada sebuah email yang diposting oleh seorang pelajar Perancis bernama
Vivien (ini nama laki-laki) yang menawarkan untuk ikut bersamanya berliburan
rumahnya pada saat liburan Natal. Menurutnya, rumahnya terletak di daerah
pedesaan dengan penduduk berjumlah 1800 orang. Vivien sendiri pada waktu ia
masih menjadi pelajar di Sekolah Menengah Atas, ia pernah mengikuti program
pertukaran pelajar di Indonesia sehingga masih bisa berbahasa Indonesia.
Sebelum memutuskan untuk ikut bersamanya, dalam pikiran saya timbul
beberapa pertanyaan, apakah keadaan desa-desa di Perancis seperti desa-desa di
Indonesia yang sepi dan tentram. Kalau di hari besar, apakah benar-benar ramai
dengan orang yang pulang kampung untuk mengunjungi anggota keluarga yang
biasanya masih tinggal di rumah keluarga besar.
Setelah berdiskusi dengannya melalui email dan telepon, akhirnya
saya putuskan untuk ikut dengannya. Kami akan berangkat "Mudik" dari daerah
pinggiran Paris, tempat tinggal Vivien selama kuliah yang termasuk dalam
région(1) Ile de France danberada ditengah dan sedikit ke utara Perancis. Dan
tempat yang kami tuju adalah rumah tuanya yang ada di sebuah desa bernama La
Mothe Saint Héray yang berada di departement(2) Deux-Sevres dan
régionPoitou-Charentes dan berada di daerah barat dan sedikit ke Selatan
Perancis. Dalam perjalanan kami akan melewati sebuah région bernama Centre dan
beberapa departement.
PERLENGKAPAN BERANGKAT
Akhirnya tibalah hari keberangkatan. Untuk pulang kampung saat itu
kami menggunakan mobil pribadi. Kami berangkat pada tanggal 23 Desember atau 2
hari sebelum Natal.
Mungkin sudah standart umum untuk orang-orang Perancis, untuk
berpergian selain persiapan kendaraan juga melihat prakiraan keadaan cuaca
melalui media baik dari televisi, radio, internet dan media lainnya. Karena
cuaca bisa berubah cepat dari waktu ke waktu. Bisa saja keadaan cuaca berbeda
antara pagi, siang dan malam seperti cerah di pagi hari, berkabut di siang dan
kembali cerah di malam hari. Apalagi tanggal 23 Desember berada di awal-awal
musim dingin, cuaca tidak cerah seperti berkabut merupakan hal biasa. Dari
prakiraan cuaca yang ada di beberapa media, saya lihat di daerah yang kami
lewati ada yang cerah dan ada yang berkabut.
Selain itu kami juga melihat informasi tentang keadaan padat atau
tidaknya kendaraan di jalan-jalan yang akan kami lewati. Kalau jalan yang akan
kami lewati keadaannya padat bahkan cenderung macet, mungkin kami bisa cari
jalan yang lain.
Karena yang berangkat hanya dua orang mahasiswa yang sudah dewasa,
perlengkapan yang kami bawa hanya perlengkapan sederhana atau mungkin tidaklah
selengkap bila yang mudik seluruh anggota keluarga. Tetapi di beberapa acara
televisi sudah diinformasikan perlengkapan-perlengkapan yang harus dibawa saat
perjalanan mudik. Apalagi bila mempunyai keluarga yang masih bayi, perlengkapan
yang dibawa musti lebih lengkap lagi.
SISTIM BUKA-TUTUP
Jika berbicara sistim buka-tutup mungkin sebagian besar orang akan teringat
dengan sistim pengaturan lalu lintas di Indonesia pada saat menjelang hari
besar. Dimana pada saat itu kendaraan banyak di jalanan, dalam waktu bersamaan
dan semua punya tujuan sama, pulang kampung halaman untuk merayakan hari besar
bersama keluarga. Akibatnya, terkadang jalan-jalan utama yang arus kendaraanya
padat yang biasanya kita lewati harus ditutup dan dialihkan ke jalan lain yang
arus kendaraannya tidak terlalu padat. Dan karena arus kendaraan pada jalan tadi
sudah tidak ramai maka jalan tersebut dibuka kembali.
Untungnya dalam perjalanan pulang kampung kami pada saat itu ngak
ada sistim buka-tutup. Dalam arti, terlalu penuhnya kendaraan di jalan sehingga
memaksa pihak pengatur lalu lintas mengalihkan arus kendaraan ke jalur lain.
Tetapi, begitu memulai perjalanan, kendaraan kami juga harus ikutan merayap
ketika akan keluar dari daerah pinggiran Paris karena memang pada saat itu
banyak kendaraan ada yang di jalan itu tetapi tidak sampai macet.
Sebelum berangkat melalui televisi juga saya menonton ternyata
begitu banyaknya orang yang ada di stasiun kereta api maupun bandar udara.
Ternyata keadaannya mirip dengan Indonesia pada saat merayakan hari besar, semua
orang tidak mau ketinggalan untuk berkumpul dengan keluarga di momen yang
spesial ini. Walau mungkin harus mengeluarkan tenaga dan pikiran ekstra baik
untuk merencanakan keberangkatan maupun menghadapi antrian ketika akan
berangkat.
PERJALANAN
Dalam perjalanan kami pada saat itu, selain kami harus menghadapi
arus kendaraan yang padat di beberapa tempat, kami juga harus menghadapi
perubahan cuaca yang berbeda. Untuk mengantisipasi keadaan, kami selalu
mendengarkan info melalui radio yang ada di mobil. Dan kenyataannya, di beberapa
tempat kami memang harus berjalan dalam cuaca yang berkabut.
Sebelum berangkat Vivien mengatakan kalau kami tidak akan selalu
melalui jalan tol tetapi juga akan melalui jalan negara. Dia menginginkan saya
dapat melihat sisi lain daerah-daerah di Perancis yang kami lewati. Saya setuju
dengan pendapatnya karena tentu saja akan banyak perbedaan antara Indonesia dan
Perancis tetapi tentu saja hal-hal yang sangat menarik yang musti diambil dalam
perjalanan ini.
Karena pada saat itu merupakan musim dingin, pohon-pohon di jalan
yang kami lewati sudah tidak mempunyai daun lagi. Di beberapa tepat ada juga
air-air di saluran air yang membeku dan tidak mengalir. Tetapi ladang-ladang
yang berwarna hijau juga ada walau warna kuning dan coklat tetaplah merupakan
warna dominan di musim dingin.
Ketika melewati beberapa pinggiran kota yang cukup besar seperti
Orléans, Blois dan Tours, Vivien memberi tahu saya sedikit tentang hal-hal
spesial di kota itu. Di beberapa tempat kami melewati beberapa chateau (istana)
yang letaknya memang di pinggir jalan. Sambil bercanda Vivien mengatakan padaku
bahwa kami ngak mungkin berhenti di tempat-tempat yang wisata yang spesial
tersebut dalam perjalanan saat itu karena kalau kami selalu berhenti di
tempat-tempat tersebut maka bisa dipastikan baru keesokan harinya kami akan
sampai di rumah orang tuanya. Padahal ia mengatakan kalau orangtuanya menunggu
kami untuk makan siang.
DI DESA
Akhirnya kami sampai juga di desa tempat tinggal orang tua Vivien.
Kedatangan kami disambut dengan kabut yang membuat suasana sedikit kelam ketika
memasuki desa. Jalan-jalan desa juga terlihat sedikit basah.
Tetapi suasana berubah menjadi lain ketika kami memasuki halaman
rumah orang tua Vivien. Ibu Vivien menyambut saya dengan ramah sehingga seakan
suasana kelam di luar rumah berubah menjadi cerah. Dan tentunya ibu Vivien
sangat senang dengan kepulangan anaknya untuk merayakan hari spesial bersamanya.
Tentunya ini juga sama seperti di Indonesia dimana orang tua pasti sangat senang
ketika anggota keluarganya pulang ke rumahnya untuk merayakan hari besar
bersama.
Di pintu rumah juga sudah terpasang hiasan Natal. Dan di dalam rumah
juga sudah dipasang hiasan-hiasan bernuansa Natal. Ingatan saya kembali ke tanah
air. Di saat menjelang hari besar keagamaan, rumah juga ditata baik pada bagian
luar maupun dalamnya.
Kalau di luar rumah Vivien suasananya kelam berkabut dan dingin, di
dalam rumah suasana berubah seratus delapan puluh derajat. Ibunya menyambut saya
dengan ramah dan hangat. Juga mengajak saya berbicara tentang berbagai hal
sehingga suasana benar-benar terasa akrab di pertemuan pertama kami.
MENJELANG HARI BESAR
Tanggal 24 Desember atau sehari sebelum Natal, Vivien mengajak saya
melihat desanya. Ternyata suasananya hampir sama seperti di Indonesia.
Rumah-rumah yang saling berjauhan dan hamparan kebun dan ladang yang terbentang
luas. Sejauh-jauh mata memandang, sebagian besar hanya ada tanaman-tanaman.
Tak jauh dari rumahnya juga terdapat peternakan sapi dan kambing.
Menurut Vivien, pada waktu kecil, sambil bermain-main, ia sering ikut membantu
tetangganya memberi makan dan memerah susu kambing. Sambil bercanda saya
mengatakan mungkin sebenarnya bukan membantu tetapi malah cenderung mengganggu
kerja para pekerja di peternakan ini. Tetapi memang kenangan bermain masa kecil
di sekitar lingkungan tempat tinggal orang tua kita merupakan kenangan yang
tidak akan pernah kita lupakan seumur hidup kita.
Dalam perjalanan melihat desa, Vivien mengatakan kalau saya bisa
berjalan di tengah-tengah jalan desa yang beraspal yang sepi dan memang sangat
jarang dilewati mobil. Tapi ia mengatakan jangan mencoba-coba melakukan hal ini
di kota besar. Karena sudah bisa dipastikan kalau saya akan ditabrak oleh mobil
yang lalu lalang.
Untuk keadaan udara, tentunya lebih bersih dan lebih segar dari
udara di kota karena sedikitnya kendaraan yang lalu lalang. Jadi mungkin salah
satu keuntungan pulang kampung pada waktu perayaan hari besar adalah mendapat
udara yang lebih bersih dan segar untuk pernafasan.
Ketika sampai di sungai yang melalui desa bernama La Serve
Niortaise, saya melihat air sungai yang jernih, mirip seperti keadaan air sungai
di pedesaan Indonesia. Di beberapa tempat juga ada bangunan-banguan kecil di
pinggir sungai yang dulunya dipakai untuk mencuci pakaian.
GOTONG-ROYONG WARGA
Pada saat kami melewati rumah tetangga Vivien, kami dipersilahkan untuk masuk.
Di pintunya juga sudah terpasang hiasan-hiasan Natal. Dan di dalamnya juga
beberapa anggota keluarga itu sedang mempersiapkan berbagai hal yang berkaitan
dengan perayaan hari besar. Benar-benar mirip dengan keadaan di Indonesia dimana
ketika menjelang hari besar seluruh anggota bergotong-royang mempersiapkan
hal-hal yang berkaitan dengan perayaan hari besar.
Sebelum kembali ke rumah Vivien, kami sempat melewati gereja desa
yang akan dipakai untuk misa Natal. Di bagian depan dalam gereja sudah ada
tambahan hiasan-hiasan Natal hasil gotong-royong warga setempat. Karena saya
seorang muslim, Vivien menjelaskan maksud hiasan-hiasan tersebut. Secara umum,
hiasan-hiasan yang berupa miniatur tersebut menggambarkan proses kelahiran
Yesus. Hiasan-hiasan itu juga dilengkapi oleh lampu-lampu berwarna-warni.
Di Indonesia, bila menjelang hari besar keagamaan, warga biasanya
juga bergotong-royong membersihkan tempat-tempat ibadah yang akan dipakai untuk
perayaan hari besar. Tentunya semua warga sangat senang merayakan hari besar di
tempat dengan suasana yang bersih dan teratur.
Dan di bagian belakang gereja, kami juga bertemu dengan tetangga Vivien yang
sedang berlatih memainkan lagu-lagu Natal dengan orgue. Tak berapa lama kemudian
juga datang tetangga yang lain yang membawakan minuman hangat. Mirip dengan
keadaan di Indonesia, ketika ada warga yang bergotong royong biasanya ada warga
lain yang menyediakan minuman atau hidangan kecil. Tapi bila suasana menjelang
lebaran atau masih dalam suasana Ramadhan, minuman hanya disediakan di malam
hari karena di siang hari sebagian besar warga berpuasa.
SORE DAN MALAM MENJELANG HARI BESAR
Ibu Vivien mengatakan pada saya kalau di keluarganya akan mengikuti
misa Natal di gereja pada tanggal 24 Desember malam bukan pada tanggal 25
Desember pagi. Kata beliau, saya bisa datang bersama mereka ke gereja desa untuk
mengetahui suasana di sana. Dan dia menginformasikan juga bahwa ia sudah
memberitahu kepada pendeta di gereja tersebut tentang kemungkinan kehadiran saya
di acara tersebut.
Saya mengiyakan untuk ikut bersama keluarga ini ke gereja desa.
Tentu bagi saya yang beragama muslim, ini adalah hal menarik. Karena biasanya
misa Natal di Indonesia sebagian besar dilakukan pada tanggal 25 Desember pagi.
Sedangkan kali ini saya akan datang ke misa Natal pada tanggal 24 Desember
malam.
Tetapi saya sudah memberitahu ke ibu Vivien kalau saya hanya akan berada di
bagian belakang gereja dan tidak akan duduk di deretan bangku gereja peserta
misa. Saya takut harus mengganggu acara misa karena harus mondar mandir untuk
mengambil foto untuk tulisan saya.
Pada malam 24 Desember, saya ikut bersama Vivien dan keluarganya ke gereja untuk
mengetahui seperti apa acara perayaan hari besar di Perancis ini. Ketika
memasuki gereja sempat juga bertemu dengan pendeta yang akan memimpin acara misa
dan dia dengan senang hati memberi ijin untuk mengambil foto-foto untuk tulisan
saya ini. Ternyata banyak juga yang mengikuti misa di gereja pada malam itu.
Jika melihat secara detil jalannya acara perayaan hari besar keagamaan antara
Indonesia dengan Perancis, ada sebuah kesamaan sedikit yaitu pada pada saat
berkumpul di awal dan dan akhir acara biasanya akan ada kemungkinan bertemu
dengan teman-teman masa kecil dulu atau bertemu dengan keluarga teman masa kecil
dulu. Beberapa kali Vivien mengenalkan saya ke teman-teman masa kecilnya dulu
atau keluarga temannya yang baru ketemu pada saat itu setelah sekian lama tidak
bertemu karena masing-masing mempunyai kesibukan masing-masing seperti kuliah
atau kerja, atau mungkin pindah keluar kota untuk kegiatan profesional mereka.
BERKUMPUL DI HARI BESAR
Pada tanggal 25 Desember pagi, saya ikut bersama Vivien untuk
menjemput neneknya yang tinggal di tempat lain. Sebelum berangkat ibunya Vivien
juga memberitahu kepada saya anggota keluargnya yang akan datang ke rumah mereka
untuk acara silaturahmi keluarga. Mereka tinggal di luar daerah tempat keluarga
Vivien tinggal.
Fenomena seperti ini benar-benar mirip dengan Indonesia pada saat
hari besar. Pada saat bahagia tersebut, antara keluarga akan saling berkunjung.
Prinsip "mendekatkan pihak-pihak yang berjauhan dan merapatkan pihak-pihak yang
sudah dekat" akan berlaku dalam moment ini.
Ketika saya sampai kembali ke rumah Vivien dari menjemput neneknya,
satu-persatu anggota keluarga bapak dan ibu Vivien juga datang. Ada yang datang
sendirian, ada juga yang datang bersama anak-anak mereka.
Pada moment perayaan hari besar keagamaan tahun itu, hanya Vivien yang pulang
kampung untuk merayakan hari besar. Sedangkan 2 saudaranya yang lain tidak bisa
berkumbul karena ada tugas profesional yang tidak bisa ditinggalkan.
KERJA GOTONG-ROYONG DALAM KELUARGA
Sama seperti di Indonesia, ketika keluarga saling mengunjungi di
hari besar biasanya akan saling membawa penganan. Kemudian penganan makan
dimakan bersama-sama. Selain itu mempersiapkan penyajian dan beres-beres juga
dilakukan secara gotong-royong atau kolektif.
Pada saat perayaan hari besar pada waktu itu ada anggota keluarga
Vivien yang membawa Huitre segar (jenis kerang-kerangan). Jadi selain ada
anggota keluarga yang menata meja, beberapa anggota keluarga bergotong-royong
membuka huitre. Ternyata tidak mudah melakukan hal ini. Tidak semua anggota
kaluarga bisa melakukan ini. Ketika saya ikut mencoba membantu melakukan
pekerjaan membuka huite, saya termasuk ke dalam orang-orang yang bisa membuka
huitre. Padahal pada saat itu adalah pengalaman saya pertama melakukan hal itu.
Setelah semua persiapan selesai dilakukan kerja gotong-royong
selanjutnya ialah makan bersama. Tentunya suasananya sama seperti makan bersama
di Indonesia. Tidak formal dan penuh suasana kekeluargaan.
KELUARGA HARTA YANG SANGAT BERHARGA DALAM KEHIDUPAN
Setelah makan bersama di hari yang berbahagia tersebut, ada acara
bagi-bagi kado Natal dari anggota keluarga yang lebih tua ke anggota keluarga
yang lebih muda. Ini mungkin acara y ang ditunggu oleh anak-anak. Mereka
tentu senang mendapat kado di hari spesial tersebut. Hal yang yang sama juga
saya lihat di anggota keluarga Vivien yang masih anak-anak. Mereka juga sangat
senang mendapat kado dari nenek maupun paman dan bibi mereka.
Kembali ke tanah air, pada acara silaturahmi keluarga di hari besar,
anak-anak biasanya diberi uang oleh anggota keluarganya yang lebih tua atau yang
sudah bekerja yang sering disebut mendapat uang THR (Tunjangan Hari Raya), walau
sebenarnya istilah ini adalah untuk uang yang diberikan kepada para pekerja oleh
perusahaan. Cuma anak-anak yang mendapat uang ini juga akan mempunyai kondisi
yang sama yaitu sangat senang dan bahagia.
Di sisi lain beberapa anggota keluaga Vivien yang telah dewasa
saling berbicara tentang berbagai hal. Mungkin topik yang paling utama adalah
saling menginformasikan kabar anggota keluarga yang tidak datang pada saat hari
besar itu.
Hal ini sepertinya sama dengan yang terjadi di Indonesia. Untuk
orang dewasa, setelah acara makan bersama pada saat hari besar biasanya antara
anggota keluarga akan saling berbicara. Menanyakan kabar masing-masing lebih
detil. Berdiskusi tentang keadaan anggota keluarganya atau anggota keluarga
lain. Walau terkadang topiknya mungkin agak berat, tetapi pembicaraan tetap
bernuansa kekeluargaan.
Di Indonesia biasanya pada saat acara silaturahmi keluarga, antar
anggota keluarga juga akan saling berdiskusi tentang keadaan masing-masing
anggota keluarganya. Dari sini biasanya anggota keluarga akan memberi saran
untuk solusi atas permasalahan yang terjadi pada anggota keluarga lainnya.
Dalam beberapa tulisan, saya sering membaca pentingnya keluarga bagi
kehidupan pribadi seseorang. Sebagian besar orang sukses didukung oleh keluarga
yang baik. Bisa dikatakan keluarga adalah harta yang sangat berharga dalam
kehidupan manusia. Keluarga bisa menjadi tempat berkeluh kesah ketika ada
problema datang. Keluarga selalu memberi semangat untuk kemajuan kita. Biasanya
keluarga adalah pihak yang menjadi benteng terakhir dikala orang-orang lain
menghujat diri kita dan meninggalkan kita sendirian. Dan keluarga juga yang
biasanya selalu mendampingi kita ketika kita jatuh dan selalu menyemangati kita
untuk bangkit kembali.
Pulang kampung di hari besar secara tidak langsung akan menyehatkan jiwa. Kita
bisa berbagi segala keadaan kita kepada anggota keluarga lain yang bisa kita
percayai. Kita mungkin mendapat solusi dari anggota keluarga lain sehingga
segala beban berat yang ada di dalam hati bisa terlepas dan mengurangi stress.
Di lain pihak, kita tentu bisa menolong anggota lain dengan saran-saran yang
mungkin kita punyai mungkin beban di hati saudara kita.
Faktor keluarga juga merupakan salah kunci utama untuk kesehatan jiwa kita.
Keluarga bisa menjadi tempat berkeluh kesah ketika ada problema datang. Keluarga
selalu memberi semangat untuk kemajuan kehidupan kita. Biasanya keluarga adalah
pihak yang menjadi benteng terakhir dikala orang-orang lain menghujat diri kita
dan meninggalkan kita sendirian. Dan keluarga juga yang biasanya selalu
mendampingi kita ketika kita jatuh dan selalu menyemangati kita untuk bangkit
kembali. Dan yang pastinya suasana di keluarga yang baik akan membuat jiwa kita
terawat dengan baik.
PULANG
Hari beranjak sore, anggota-anggota keluarga Vivien mulai pamit dan
meninggalkan kediaman orang tua Vivien satu persatu. Dan akhirnya di rumah itu
hanya tinggal Vivien dan orang tuanya.
Dalam hati, saya sangat beruntung bisa ikut pulang kampung bersama
teman saya pada saat itu di sebuah perayaan hari besar keagamaannya. Selain
menambah wawasan juga membuat makna keluarga sebagai harta yang sangat berharga
sangat meresap ke dalam hati. Dan yang pastinya, pulang kampung memang saat yang
tepat bersilaturahmi dan bisa menjadi obat untuk penyeimbang kesehatan jiwa.
(Luth)
Terima kasih untuk Vivien Hodde dan keluarga atas seluruh bantuannya
Ditebitkan oleh Intisari, September 2010
- 2.
-
[Catcil] Perjalanan Debu (Renungan Hampir Tengah Malam)
Posted by: "Nia Robie'" musimbunga@gmail.com
Mon Oct 11, 2010 9:15 pm (PDT)
Layaknya pilihan hati yang mudah dibolakbalikkan, pun dengan suasana hati.
Persoalan yang menumpuk, ketidaklurusan jalan hidup yang telah saya lalui
dan kejutan-kejutan dariNya kadang membuat langkah saya berhenti. Berhenti
untuk menarik nafas, berhenti untuk berfikir sejenak, berhenti untuk
merancang strategi, berhenti untuk mengumpulkan tenaga, atau bahkan lirik
kanan kiri, sekedar untuk mencari celah di bagian mana yang harus saya
tertawai, lalu setelah itu berusaha kembali melangkah atau berlari.
Rasa-rasanya masih terasa air mata berjatuhan di pipi saya ketika para
malaikat subuh tadi ikut menyaksikan lalu berusaha untuk membawa pesan
kepadaNya bahwa saya meminta diberi sedikit kekuatan oleh Dia Yang Maha
Kuat.
Tiba-tiba saya teringat dengan perjalanan hidup dari Si Mata Kucing, Cat
Stevens yang memilih nama Yusuf Islam setelah beliau berhijrah. Dengan klik
sana sini beberapa lirik saya coba renungi maknanya. Lalu sedikit demi
sedikit saya mulai bernyanyi, seakan lupa ada air mata subuh tadi.
<http://www.facebook.com/photo. >php?fbid= 1633449844436& set=o.4383496339 19
si Mata Kucing, Cat Stevens
<http://www.facebook.com/photo. >php?fbid= 1633450244446& set=o.4383496339 19
setelah hijrah menjadi Yusuf Islam
Setidaknya ada berpuluh-puluh lagu yang saya putar berulang-ulang menemani
aktivitas pagi dan siang hari walaupun aktivitas tersebut lebih banyak saya
lakukan di dalam rumah.
Setelah senja mulai menjemput hari, waktunya saya keluar untuk menunaikan
sebuah janji menuju sebuah rumah di kawasan Bumi Serpong Damai.
Perjalanan senja itu, saya awali dengan membaca sebuah buku Leo Tolstoy
'Rumah Tangga Yang Bahagia'. Setelah membaca beberapa lembar, saya kembali
merenungi lagu-lagu yang saya dengar melalui mobile mp3. Lagu-lagu Cats
Stevens kembali yang saya dengar, sambil sesekali saya mengingat apa makna
dari pencarian dalam kesuksesan Cats Stevens yang pernah saya baca pada
karya Hermawan Aksan, *"From Cat Stevens to Yusuf Islam"*, yang bagi saya
cukup menginspirasi. (semoga di lain waktu saya tidak males untuk meresensi
:D )
* *
*Well, if you want to sing out, sing out*
*And if you want to be free, be free*
*'Cause there's a million things to be*
*You know that there are*
* *
*And if you want to live high, live high*
*And if you want to live low, live low*
*'Cause there's a million ways to go*
*You know that there are*
Dalam perjalanan tersebut, saya merasa bersyukur suasana hati saya lebih
baik dari sebelum subuh tadi. Setidaknya saya punya alasan yang jelas kenapa
pada akhirnya saya tersenyum, merenungi tentang kebersyukuran pagi yang
indah walaupun berarti berkurangnya satu pagi di bilangan umur saya yang
entah sampai kapan akan diberhentikan olehNya.
Sore yang cerah, seakan matahari menjadi teman yang hangat, setidaknya
tidak terlalu menyengat. Pepohonan di sepanjang jalan pun, seakan mengajak
saya untuk bernyanyi. Sore yang indah dalam perjalanan yang indah. Tentulah
benar sahabat SMA pernah berkata bahwa perasaan adalah kita sendiri yang
menentukannya..
*You can do what you want*
*The opportunity's on*
*And if you find a new way*
*You can do it today*
*You can make it all true*
*And you can make it undo*
*you see ah ah ah*
*its easy ah ah ah*
*You only need to know*
Senja telah berganti malam Waktunya saya pamit untuk pulang. Tak biasanya,
saya merasakan bahwa langit malam di jalan yang biasa saya lewati, nampak
begitu indah. Cahaya lampu mengintip dari balik pepohonan, hembusan angin
yang sejuk, pepohonan yang berayun-ayun mengikuti arah gerak angin, lalu
bintang bertebaran seakan begitu riang menemani senyuman bulan sabit yang
terang. Hati meyakinkan tentang kebersyukuran.
*Same old song, *
just a drop of water in an endless sea
All we do, crumbles to the ground,
though we refuse to see* *
*Dust in the wind,*
*all we are is dust in the wind *
*
**
** *
*Dust in the wind*. Debu dalam Angin, suara khas Cat Stevens mengisi lagu
tersebut dengan indahnya, terlebih suara gesekan biola membuat syahdu
suasana.
Mungkin terdengar naïf, tapi bagi saya, hari ini hari yang indah. Setidaknya
saya bersyukur telah melewatinya dengan perasaan syukur dan senang, walau
satu hari telah terambil dari bilangan umur saya yang entah kapan akan
diberhentikaNya.
*Don't hang on, *
*nothing lasts forever but the earth and sky *
*It slips away, *
*and all your money won't another minute buy. *
*Dust in the wind, *
*all we are is dust in the wind *
*Dust in the wind, *
*everything is dust in the wind.*
* *
*Manusia hanyalah debu pada angin, begitu kecil, begitu mudah
terombang-ambing, lalu kemana tangan kita merengkuh kekuatan kalau bukan
kepada KesejatianNya?*
-renungan kecil hampir tengah malam-
Senin, 111010, 23:20
- 3.
-
Art-Living Sos 2010 (A-10 Liuk-liuk Sang Bambu
Posted by: "IETJE SRI UMIYATI GUNTUR" ietje_guntur@bca.co.id
Mon Oct 11, 2010 9:16 pm (PDT)
Dear Allz...
Hehehe...sudah awal minggu lagi niiih....Apakabar semua teman dan sahabat-sahabatku tersayang ? Semoga minggu lalu dan akhir pekan sudah dilalui dengan gembira...Ada manfaat dan kenangan indah selama menikmati waktu yang telah berlalu...
Betuuuulll...kadang waktu begitu cepat beranjak dari sisi kita, tanpa kita sempat menahannya. Namun bila kita dapat mengelola waktu dengan baik, dapat merencanakan kegiatan dengan seksama, maka tidak ada waktu yang tersisa sia-sia. Bahkan tidak ada remah waktu yang terbuang.
Waktu memang sangat penting bagi kita. Ada saat yang bisa kita tahan, tetapi ada yang bergulir tanpa bisa kita tahan lagi. Pertumbuhan dan perkembangan diri kita, semua tergantung dari waktu dan kesempatan yang kita miliki. Dan semua itu, tergantung dari bagaimana kita dapat mengenal diri kita dan memanfaatkan semua potensi kita agar berguna bagi kehidupan ini...
Kita sebagai manusia yang mandiri, seyogyanya dapat mengembangkan diri secara optimal. Merancang mimpi-mimpi dan mewujudkannya dalam satu waktu tertentu. Tapi kita secara bersama-sama, dengan lingkungan dan orang-orang yang seiring sejalan dengan kita pun dapat bersinergi untuk membangun kekuatan yang lebih bermanfaat.
Globalisasi memang telah melahirkan genre baru di dalam interaksi dan jaringan pertemanan. Namun kita hanya bisa menjadi bagian dari globalisasi bila kita turut memberikan kontribusi yang sesuai dengan kompetensi dan kapasitas kita...Untuk ini barangkali kita belajar dari sebatang bambu...hiehehe...Iya, bambu...atau bamboo...
Mau mengobrol tentang bambu ? Ohoooyyyy....mari kemari...kita berbincang sejenak. Selamat menikmati... semoga berkenan..
Jakarta, 12 Oktober 2010
Salam kompak,
Ietje S. Guntur
♥♥♥
Art-Living Sos 2010 (A-10
Start : 07/10/2010 16:51:38
Edit : 11/10/2010 12:38:41
Finish : 11/10/2010 15:26:58
Liuk-liuk Sang BAMBU
Hari libur. Bersama beberapa teman , saya mengisi waktu dengan jalan-jalan ke luar kota. Biasalah...mengisi baterai jiwa...hehehe...Walau sekedar melakukan perjalanan, nongkrong di warung pinggir jalan, ngobrol ngalor-ngidul yang di luar rutininas sehari-hari , tapi untuk jiwa dan raga efeknya terasa menyegarkan . Apalagi bila perjalanan itu dilakukan dengan teman dan sahabat yang sehati dan sepikiran... . wow...asyik deh....
Perjalanan sudah cukup jauh dari Jakarta, ketika seorang sahabat mengajak mampir untuk istirahat.
" Makan dulu, yuk...Cari tempat yang terbuka. Yang ada saungnya ." Kata sahabat saya.
" Boleh juga...sambil makan bisa melihat ke sawah-sawah...asyik juga." Sambut yang lain dengan antusias.
" Makan apa, ya ?"
" Apa sajalah...yang penting istirahat dulu. Tadi belum sempat sarapan."
" Eeeh, masa sih ? Nih aku masih ada bekal, bacang ketan isi ayam. Mau ?"
" Boleh...lumayan jugalah buat ganjel perut."
Akhirnya, setelah mendapat lokasi restoran yang bersih dan lapang tempat parkirnya, kami pun mampir. Tempatnya enak. Ada saung, pondok kecil terbuat dari bambu dan kayu, dengan atap dari anyaman daun enau dan ijuk. Saung itu tidak menyediakan kursi, hanya meja rendah dari bambu dan lantai bambu yang beralas tikar.
Kami segera mencari tempat yang lapang dan leluasa untuk selonjoran . Lalu setelah punggung terasa nyaman, kami pun mulai mengedarkan pandangan berkeliling. Ini dia niih...sawah ladang terbentang...di kejauhan tampak kebun dan rumpun bambu meliuk ditiup angin... hmh...kereeen. ..
Buku menu diedarkan, dan masing-masing mulai memilih makanan yang disukai. Saya seperti biasa, memesan nasi dan tahu serta tempe goreng. Pepes oncom dan jeroan ayam yang khas daerah Pasundan juga saya pesan beberapa buah. Tidak lupa sayur asem yang segar, lalaban dan sambal yang pedas.
" Eeeh...ini ada tumis rebung. Kok tumben ada, ya ?" Seru seorang teman, sambil menunjuk ke buku menu.
" Boleh juga tuh. Kan enak. Tumis pedas. Pesan satu deh." Sahut yang lain.
" Waah, rebung itu kan bambu muda, ya ? Kita jadi seperti panda nih, makan bambu..." celetuk seorang teman sambil menguap menahan kantuk.
" Iya...Aku tambah ikan mas ya ?"
" Walaaah...ini sih bukan makan siang biasa...ini pesta pora namanya ," komentar saya , melirik catatan pesanan yang sudah berjejer lumayan banyak.
Jadi deh...makan siang di saung di halaman restoran itu berlangsung hikmat. Semua menikmati hidangan yang lezat sambil sesekali diseling obrolan ringan dan komentar tentang cita rasa masakan. Angin sepoi-sepoi yang bertiup melalui dinding anyaman bambu di salah satu sisinya membuat suasana makan siang itu bertambah sedap.
♥
Di saat yang lain.
Seorang sahabat saya baru pulang dari Semarang. Oleh-olehnya banyak. Ada wingko dan ada lunpia khas Semarang. Woooww...asyiiikkk...Begini nih enaknya punya sahabat yang yang rajin melakukan perjalanan dan tidak lupa membawa buah tangan...eheem. ..
Wingko adalah makanan khas terbuat dari kelapa dan ketan, yang dipanggang. Wingko awalnya berasal dari kota Babat, tetapi belakangan lebih banyak dijual di kota Semarang. Sedangkan lunpia adalah makanan yang terbuat dari dadar tepung, dengan isi sayuran dan ayam. Khusus dari Semarang, lunpia yang terkenal berisi sayur rebung yang wangi dan lezat rasanya. Apalagi disantap dengan sambel cocol yang manis pedas, lunpia itu jadi terasa lebih nikmat.
Tak hanya dibuat sebagai isian lunpia. Rebung, yang asalnya adalah bambu muda, atau anak bambu juga enak dibuat gulai dan tumis. Saya punya langganan ketupat sayur Padang di dekat rumah, yang selalu menambahkan rebung di dalam gulai sayurnya. Kuah gulai yang kental dan wangi menambah lezatnya ketupat sayur yang biasa menjadi hidangan sarapan pagi...woow...
♥
Urusan saya dengan bambu ternyata tidak selesai di situ.
Sebagai mana teman-teman ketahui, saya memiliki beberapa ekor kelinci. Semula kelinci-kelinci itu saya masukkan ke dalam kandang besi yang diberi alas kardus di dasarnya. Tetapi karena setiap hari dibersihkan, lama-lama alas kandang itu menjadi basah dan hancur. Jadi deh...kelinci saya sering terjepit kakinya di celah-celah besi yang menjadi dasar kandang.
Atas usulan seorang teman, akhirnya kami memperbaiki kandang kelinci. Sebagian kadang kami buat dari bilah-bilah bambu yang dipotong panjang-panjang. Bagian bawah kandang juga dibuat dari bilah bambu yang dipotong lebih kecil dan disusun rapat, agar kelinci bisa berlarian dan berselonjor santai di atasnya...hehe...Sekarang kelinci saya sudah bahagia di dalam kandangnya. Dan belakangan salah seekor sudah beranak lagi memenuhi kadang baru yang terbuat dari bambu...Eeeh, saya mau cerita tentang kelinci atau kandangnya, ya...??? Hiikks...
Tidak hanya kandang kelinci saya dan saung tempat santap siang yang terbuat dari bambu. Dulu semasa saya masih tinggal di Medan, banyak juga rumah-rumah penduduk yang terbuat dari bambu anyaman atau disebut juga dinding bilik, tepas atau gedhek. Bilik-bilik ini dianyam berdasarkan ketebalan dan fungsinya.
Umumnya untuk dinding sebelah luar dibuat dari kulit bambu yang tebal dan kuat. Selain untuk kekuatan, juga untuk keindahan. Kadang kulit bambu ini diberi warna terang dan gelap. Dan ketika dianyam berselang-seling, maka lembar-lembar bambu itu akan terlihat indah dengan bentuk-bentuk ornamen yang dibuat pola tertentu. Sementara itu untuk dinding dalam atau pun langit-langit, dibuat dari anyaman bambu yang lebih tipis. Dari bagian dalam batang bambu yang cukup umurnya dan panjang-panjang ruas batangnya.
Selain itu, bambu yang telah tua dengan bentuk yang lurus banyak dibuat sebagai tiang rumah ataupun tiang pendukung. Kadang-kadang juga dibuat tangga dan kerangka pintu. Baik dalam bentuk yang utuh maupun yang sudah dipotong-potong tipis, bambu dapat bermanfaat karena kekuatan dan kelenturan bilah-bilahnya.
♥
Bambu yang dalam berbagai bahasa daerah disebut sebagai pring, awi, aur, buluh dan sebagainya adalah tanaman yang dapat tumbuh di dataran rendah hingga di pegunungan. Bambu berakar serabut, namun karena tumbuh bersama dalam satu rumpun, jadinya bambu sangat kuat dan kukuh. Di dalam setiap rumpun, bambu dapat tumbuh hingga sepuluh dua puluh batang. Bambu-bambu ini akan tumbuh menyentuh langit, dan bila tertiup angin akan terdengar bunyi yang berderit-derit seperti suara rintihan angin.
Tidak heran, beberapa jenis bambu kemudian dibuat menjadi alat musik. Kita mengenal musik calung dan angklung dari Jawa Barat, yang sebentar lagi akan didaftarkan sebagai Warisan Budaya Dunia dari Indonesia dan diakui oleh Unesco. Selain angklung juga arumba , saluang, karinding, kentongan dan lain-lain. Musik bambu ini cukup fleksibel, dapat mengiringi lagu yang mendayu-dayu maupun lagu yang riang gembira. Bahkan kalau kita mau menari atau ngibing juga oke-oke saja dengan iringan musik bambu ini...eheemm...
Oya...masih ada lagi...Suling ! Hampir setiap anak gembala pasti mengenal suling bambu yang memiliki banyak lobang untuk mengatur nada. Dan umumnya mereka mampu memainkannya dengan baik. Saya sendiri pernah belajar meniup suling bambu semasa masih anak-anak dulu, tapi lagu yang saya bunyikan tidak pernah tuntas. Semua terputus di tengah jalan, karena nafas saya tidak kuat...hiks hiks...Jadi deh, sekarang saya memilih sebagai penikmat alunan suara suling saja. Yang kadang mendayu, kadang nadanya meliuk...memilukan hati...
Kolaborasi angklung, calung, arumba dan suling sungguh menjadi sebuah harmoni nada yang luar biasa. Musik angklung yang semula lebih banyak mengiringi lagu-lagu dari Tanah Pasundan, belakangan telah dapat menyesuaikan diri dengan lagu-lagu yang sedang populer di masyarakat. Semasa masih kuliah di Bandung, saya pernah ikut kelompok musik angklung dari kampus. Senang juga bisa bermain musik bambu ini bersama dengan teman-teman yang mencintai budaya musik daerah.
♥
Bambu memang tanaman luar biasa.
Dari mulai akarnya, bambu yang muda, batang, hingga daunnya semua bermanfaat. Jenis bambu yang kuning kurus, sering dibuat pagar dan cukup ampuh untuk menahan serangan hewan liar. Di dalam budaya China, tanaman bambu pun sangat dihargai dan dibudidayakan. Budaya China begitu dekat dengan bambu, sehingga negeri ini sering disebut sebagai Negeri Tirai Bambu.
Konon makanan bacang, yaitu nasi atau ketan yang dibungkus daun bambu juga berasal dari negeri China. Mereka membuat bacang, baik dengan isian daging maupun rebung, kacang atau sayuran lainnya sebagai santapan di pagi hari maupun sebagai bekal perjalanan. Daun bambu yang lebar dan memiliki permukaan kasar diyakini dapat mengawetkan nasi atau ketan yang direbus bersama-sama.
Tak hanya itu, lunpia Semarang yang ngetop dan menjadi salah satu ikon kuliner kota pantai utara Jawa itu pun berasal dari seni olah makanan negeri China. Kita tahu, pelabuhan Semarang telah terkenal sejak jaman Laksamana Cheng Ho mendarat di pulau Jawa. Bukan tidak mungkin, asimilasi dan silaturahmi antara rombongan Sang Laksamana dengan penduduk setempat memberi inspirasi lahirnya makanan baru bernama lunpia Semarang .
Fungsi bambu pun tidak sekedar menjadi tirai, yang dibuat indah dengan berbagai hiasan dan lukisan. Bambu bisa dibuat kipas, baik kipas hiasan maupun kipas sate. Bagi penggemar layang-layang, tentu tahu bahwa kerangka layangan juga dibuat dari bambu yang diraut hingga halus dan tetap lentur menahan angin. Bambu juga bisa dibuat seni kriya sebagai barang kerajinan dan fungsional. Celengan , gelas dari bambu, bahkan gayung dan pompa air dengan bahan dasar batangan bambu juga banyak digunakan di dalam masyarakat hingga saat ini.
Bagi Indonesia, nama bambu runcing memiliki nilai historis yang melekat kuat. Perjuangan bangsa Indonesia melepaskan diri dari cengkeraman penjajah tidak lepas dari peran bambu runcing ini. Dia dikenal sebagai salah satu senjata yang berjasa dalam berbagai perang gerilya yang digelar di banyak wilayah Nusantara.
♥
Melihat tanaman bambu yang meliuk-liuk ditiup angin di pinggir sawah, saya merenung.
Sebatang bambu sungguh luar biasa. Sekujur badannya adalah bahan-bahan yang sangat berguna bagi kehidupan manusia dan alam sekitarnya. Kelenturan bambu sekaligus menjadi kekuatannya.
Bambu pun bukan tanaman egois. Walaupun sebagai sebatang bambu dia memiliki kekuatan yang diakui ketegarannya , tetapi secara bersama-sama ia pun dapat membentuk kekuatan yang luar biasa. Jarang kita mendengar serumpun bambu runtuh atau goyah ditiup angin. Sebagai organisasi, bambu adalah contoh kerukunan dan kekuatan kebersamaan yang memiliki dasar kerendahan hati untuk saling bersinergi.
Seandainya saja kita bisa belajar dari kekuatan yang tersembunyi di dalam kelembutan dan fleksibilitasnya.
Mari berguru kepada bambu... Mari bergembira-ria bersama bambu....
♥
Jakarta, 11 Oktober 2010
Salam hangat,
Ietje S. Guntur
Special note :
Terima kasih kepada sahabat-sahabatku...Sura, Junex, Ninuk, Wiwie, Nia, Lia...thanks atas oleh-oleh dan kebersamaannya, serta Medi yang mengajarkan musik angklung...thanks sudah menjadi inspirasi tulisan ini...Terima kasih juga kepada seluruh kehidupan yang telah mengajarkan fungsi bambu kepadaku...
:BCA:
- 4a.
-
Re: (Ruang Baca) Kala Iris Krasnow Memilih untuk Berserah Menjadi Ib
Posted by: "siril_wafa" siril_wafa@yahoo.co.id siril_wafa
Mon Oct 11, 2010 9:59 pm (PDT)
Wow...pilihan yang sulit dalam menentukan pilihan. smeua memang ada untung ruginya Bu. Seemoga saya, iBu, dan yang lainya bisa mengambil inspirasi dari ruang baca ini.
Salam,
Sis
--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups. , CaturCatriks <akil_catur@com ...> wrote:
>
> Kala Iris Krasnow Memilih untuk Berserah Menjadi IbuOleh Retnadi Nur'aini
>
> Judul: Surrendering to Motherhood, I Love to be a Mom Penulis: Iris Krasnow Penerjemah: Rahmani Astuti Penerbit: Serambi============== ====Tiga
>
- 4b.
-
Re: (Ruang Baca) Kala Iris Krasnow Memilih untuk Berserah Menjadi Ib
Posted by: "Ramaditya Skywalker" ramavgm@gmail.com
Mon Oct 11, 2010 10:13 pm (PDT)
Buku yang bagus sekali, dan saya ingin menghadiahkannya untuk manager
saya. Apakah dapat dipesan via online? Terima kasih.
On 10/12/10, siril_wafa <siril_wafa@yahoo.co.id > wrote:
> Wow...pilihan yang sulit dalam menentukan pilihan. smeua memang ada untung
> ruginya Bu. Seemoga saya, iBu, dan yang lainya bisa mengambil inspirasi dari
> ruang baca ini.
>
>
> Salam,
> Sis
>
>
> --- In sekolah-kehidupan@yahoogroups. , CaturCatriks <akil_catur@com ...>
> wrote:
>>
>> Kala Iris Krasnow Memilih untuk Berserah Menjadi IbuOleh Retnadi Nur'aini
>>
>> Judul: Surrendering to Motherhood, I Love to be a Mom Penulis: Iris
>> Krasnow Penerjemah: Rahmani Astuti Penerbit: Serambi============== ====Tiga
>>
>
>
--
"Ramaditya Skywalker: The Indonesian Blind Blogger"
- Eko Ramaditya Adikara
http://www.ramaditya.com
- 5a.
-
Re: [Mimbar] Racing Day
Posted by: "Jojo_Wahyudi@manulife.com" Jojo_Wahyudi@manulife.com
Tue Oct 12, 2010 12:02 am (PDT)
Nice ......... PAK
Jazakallah........... ......... .........
salam semangat
Need to Reply?
Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.
MARKETPLACE
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Individual | Switch format to Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
Tidak ada komentar:
Posting Komentar