Rabu, 13 Oktober 2010

[sekolah-kehidupan] Digest Number 3217

sekolah-kehidupan

Messages In This Digest (11 Messages)

1.
(Catcil)Terapi Insomnia : Bisa Tidur Lebih Nyenyak, Mau ? From: rahmad nurdin
2a.
(catcil) 35 From: Indarwati Indarpati
2b.
Re: [penulislepas] (catcil) 35 From: Epri Saqib
2c.
Re: (catcil) 35 From: Syafaatus Syarifah
2d.
Re: (catcil) 35 From: Nursalam AR
3a.
[LOLA - LOnceng teLAt] met milad bu guru From: hadianf@gmail.com
3b.
Re: [LOLA - LOnceng teLAt] met milad bu guru From: cak dayat
3c.
Re: [LOLA - LOnceng teLAt] met milad bu guru From: Sismanto
4a.
Bab Penutup Buku Saya From: Ikhwan Sopa
4b.
Re: Bab Penutup Buku Saya From: Sismanto
5.
Habibie dari Selokan Mataram From: febty febriani

Messages

1.

(Catcil)Terapi Insomnia : Bisa Tidur Lebih Nyenyak, Mau ?

Posted by: "rahmad nurdin" rahmad.aceh@gmail.com   rahmadsyah_tcc

Tue Oct 12, 2010 6:38 am (PDT)



Assalamu'aliakum wr.wb

Shahabat yang baik. Beberapa bulan yang lalu, saya menghadiri pelatihan
mengelola Fikiran di Bogor. Dalam sebuah sesi, Sang trainer menceritakan
bahwa tidur itu ternyata mahal lho harganya. Karena, pernah suatu hari, saat
praktek langsung materi dengan Real klient yang dihadirkan oleh pihak
penyelenggara. Sang trainer mendapatkan pengalaman itu langsung dari sang
real klient.

Diwaktu itu, beliau menangani seorang bapak yang mengalami susah tidur.
Bapak itu menyampaikan, beliau sudah kedokter untuk menyelesaikan
masalahnya, tetapi sudah tidak sanggup lagi, karena harus mengeluarkan biaya
lumayan besar. Mungkin bijak kita ketahui bersama. Tahukah Anda berapa biaya
yang beliau habiskan agar bisa tidur? Karena selama ini solusi yang bisa
membuat beliau tidur hanya dengan menelan obat yang diberikan oleh dokter.
Dan harga pil tersebut perbutir 250.000,-. Semalam beliau menghabiskan 2 pil
baru bisa tidur. Kalau satu malam Rp.500.000,- bearti selama sebulan? Anda
tau sendirilah, ternyata Mahalkan harga tidur???

Sementara itu, kemarin salah satu peserta program trauma healing yang kami
adakan kamis lalu, Juga memiliki kasus yang sama. Kendala yang beliau
hadapi, sulit tidur dimalam hari. Beliau baru bisa tidur sekitar jam 05.00
pagi setelah shalat Shubuh. Sementara dimalam hari nya, ya tidak bisa tidur.
Entah apa penyebabnya, saya tidak tau persis, karena proses therapy bukan
menggali kenapa terkadang, tetapi yang lebih penting adalah Apa yang
diinginkan atau TUJUAN nya?.

Setelah peserta menyampaikan keinginan dan maksudnya. Yaitu agar bisa tidur
seperti dulu. Kalimat yang beliau sampaikan *"seperti dulu"*, adalah celah
solusi. Masih ingatkan artikel sebelumnya "Masalah bagian dari
Solusi"<http://rahmadsyahnlp.blogspot.com/2010/06/memahami-pola-masalah-sebagai-kunci.html>?
kemudian langsung saya tanyakan,

Saya :"Kapan Anda mulai belum bisa tidur cepat dan nyenyak?"

Peserta :"Beberapa bulan yang lalu..."

Saya : "Oke, Apakah saat umur 20 tahun bapak bisa tidur lebih cepat dan
nyenyak?"

Peserta :"Ya"

Saya :"Saat umur 25 masih bisa tidur nyenyak?"

Peserta :"Ya"

Saya :"Dan Apakah yang bapak inginkan agar bisa tidur cepat dan nyenyak
itu, seperti pada waktu umur 25 tahun"

Peserta :"Ya"...

Saya :"Baik. sekarang boleh bapak mengingat kembali pengalaman sesaat
sebelum tidur pulas. Boleh mengakses kembali memori itu, sehingga Anda
menjadi T A U, Apa persis nya hal atau apapun itu yang menjadi pemicu
membuat Anda merasa mengantuk terasa sangat mengantuk, sekarang".

3 menit kemudian, saya melihat mata beliau mulai berkedip-kedip dan terjadi
eye movement yang cepat. Tangan yang tadinya diatas paha jatuh kesamping.
Kepala beliau berputar-putar. Beberapa saat kemudian punggung langsung
menyesuaikan posisi yang nyaman untuk tidur. Dan ini merupakan momen atau
kondisi yang sugestif, maka saya menutilisasi untuk menginstal program
*"Kapanpun
dan dimanapun Anda Mau, berhasrat, Ingin, Punya maksud untuk T I D U R, Pada
Jam yang Anda inginkan. Maka mata Anda merespon terasa berat, kelopak mata
terasa perih karena mengantuk. Kepala terasa berat, leher terasa lemas, dan
punggung ingin segera rebahan, serta kaki dan lenganpun ingin tidur. Seperti
yang Anda alami SEKARANG"*(Seperti posisi tidur diatas kursi seminar).

45 menit saya biarkan beliau menikmati tidurnya, sampai beliau bangun
sendiri. Setelah bangun, saya bertanya *"Sudah tau hal apa yang perlu bapak
ingat agar bisa tidur?"* iya jawab beliau. Saya berpesan, kalau nanti malam
bisa tidur nyaman, mohon mengabari saya. Dan keesokan harinya, saya dapat
pesan di Inbox Facebook, beliau bisa tidur dengan Nyenyak.

*"Assalamualaikum, *

*Pak Rahmad ... *

*Alhamdulillah berkat terapi dan ilmu yg bapak berikan, saya semalam bisa
tidur cukup nyenyak walau masih agak telat mulai tdurnya. Terima kasih pak.
Wassalam"*

Shahabat yang baik...

Inti dari yang saya lakukan kepada peserta trauma healing tadi adalah bisa
Anda ikuti dan lakukan seperti langkah-langkah berikut ini.

1. Saat Anda mau tidur, pastikan Anda berdoa terlebih dahulu.
2. Pejamkan mata Anda, kemudian ingat kembali moment atau pengalaman yang
pernah Anda alami, dimana Anda sangat mudah tidur (Begitu niat tidur,
langsung shadaqallah, istilah orang Aceh/ *tertidur lelap*).
3. Asosiasikan diri Anda dengan memori itu, sehingga Anda seolah-olah
mengalaminya kembali sekarang.
4. Bila saat itu Anda meihat sesuatu sehingga membuat Anda mengantuk,
maka rasakanlah perasaan yang serupa setelah terlihat apa yang Anda lihat.
5. Mungkin Anda mendengarkan sesuatu sehingga membuat Anda ingin tidur,
maka munculkan perasaan yang serupa. Bila tidak ada suara apapun, sugesti
kan dalam diri. (*Seperti pada langkah ke *7)
6. Responkan seluruh anggota tubuh Anda, dari kepala mungkin terasa
berat, mata terasa perih, punggung ingin rebahan, tangan anda ingin memeluk
guling, sehingga mata terpejam dan Anda pun melayang tertidur sangat pulas.
7. Sambil Anda melakukan langkah diatas semua, sugestikan kepada diri
Anda sendiri *"Saya mengantuk, saya mau tidur, saya lelah, mata saya
terasa berat dan mengantuk. Kepala saya terasa ingin mencari rebahan
sehingga membuat saya mulai tertidur. Saya mulai merasakan MENGUAP...saya
MENGUAP...saya semkian M E N G U A P...semakin saya katakan semakin
bertambah rasa MENGUAP, sehingga sayapun lebih Mengauntuk..Setiap Nafas yang
saya tarik masuk lewat hidung, menjadikan saya mulai tertidur, dan Nafas
yang saya hembuskan keluar semakin membuat saya tertidur lebih nyenyak dan
lelap...Dan nafas yang saya hembuskan terus semakin membuat saya tertidur
pulas... ZZzzz" *(Untuk segesti ini boleh Anda rubah kata-katanya sesuai
dengan pilihan kata yang pas dan sesuai untuk Anda sendiri, dengan mengikuti
pola yang ada atau sesuka Anda).

Oh ya, pastikan Anda melakukan latihan ini bukan sedang berada dimeja kerja
atau tempat Anda beraktivitas ya! Kecuali memang aktivitas Anda dibayar
adalah untuk tidur ...^_^. Selamat melakukan bagi Anda yang membutuhkan dan
semoga bermanfaat...

Sumber; www.terapinlp.com

Wassalam

Rahmadsyah Mind-Therapist

Bandung, 9 Oktober 2010

RM Grafika Cikole Lembang

--
RAHMADSYAH
Practitioner NLP I 081511448147 I Motivator & Mind-Therapist
www.facebook.com/rahmadsyahI YM ; rahmad_aceh
2a.

(catcil) 35

Posted by: "Indarwati Indarpati" patisayang@yahoo.com   patisayang

Tue Oct 12, 2010 9:35 am (PDT)





35
Dunia ini
panggung sandiwara

Ceritanya mudah
berubah

Bisa Mahabrata
atau tragedi  dari Yunani

Setiap kita
dapat satu peranan yang harus kita mainkan

Ada peran
wajar dan ada peran berpura-pura…

Refleksi dan
intropeksi 35 tahun malam ini kumulai dengan menyesap dalam syair yang ditulis
oleh Taufik Ismail untuk lagu Godbless. Malam ini, seperti malam-malam
sebelumnya, suara merdu Nicky Astria yang mendendangkannya, mengalun dari
speaker laptop, menembus kesadaran yang tengah coba kurangkaikan.

Telah begitu
lama aku tak menuangkan resah dalam tulisan. Sebagian mengendap, sebagian
melayang hilang. Malam ini, aku ingin kembali menulis prasasti. Mungkin untuk
kubaca setahun kemudian jika masih diberi usia, atau menjadi sekedar nama file
tak tersentuh di folder blog di laptopku. Atau, aku memiliki kembali nyali
untuk ‘menyampah’ di milist ini.

Menjadi seorang
perempuan dengan usia 35, ada banyak hal melintas di kepala.

Seberapa dewasa,
sebanyak apa bijaksana, seluas apa cakrawala di kepala…

Ataukah, 35
hanya berarti bertambahnya uban di kepala?

Satu yang
pasti, membayang di mata renta dan tak berdaya yang ingin kuhindari.
(mungkinkah?)

Menjadi 35, seolah
baru kemarin aku 25. Masih bekerja, masih panjang asa dan gemerlap cita-cita. Masih
berbagi tawa dengan teman sesama mahasiswa malam di sebuah institute bahasa,
sekedar menyandarkan luka karna lelah bekerja.

Menjadi 35,
seolah baru kemarin aku 25. Baru setahun berumah tangga, merekontruksi hubungan
dengan suami. Seorang sahabat sejak 9 tahun sebelumnya yang bertambah wajah
menjadi penyandar lelah. Kini, tak terasa 11 tahun pernikahan itu kami jalani. Tak
banyak berubah, meski tak sedikit pula penyesuaian langkah.

Menjadi 35,
seolah baru kemarin aku 25. Ketika belum ada dia, lalu mereka yang mendamba kasih
sayang dan perhatian mama. Kini, Ais, Yasmin, dan Ranu Akbar Himadi mewarnai
hari-hari kami. Menorehkan rasa bersalah ketika tak mampu kuulurkan tanganku dalam
satu waktu.

Menjadi 35, hanya
beda satu angka dengan 45,… menjadi tua.

Ada banyak
hal membuatku takut menghadapi masa tua, yang mendorongku merasa tua. Ini berbeda
dengan setahun lalu dimana aku masih merasa muda dan banyak asa.

Adalah seorang
perempuan. Di masa mudanya, beliau lincah tangguh tak terkalahkan. Bekerja 20
jam sehari adalah hal wajar. Menggendong bakul besar berisi belanjaan adalah
satu hal remeh yang biasa dilakukan. Mengandung, melahirkan, dan membesarkan 6
anak adalah prestasi terbesar. Hingga, renta tak sekedar menyapa. Urat dan
syaraf tak lagi mau kompromi. Bahkan sekedar diajak mengambil air wudhu. Perempuan
itu, kini merasa menjadi beban. Dan mungkin bagi sebagian orang, dia memang
beban.

Membacanya,
aku takut menjadi tua, renta, tak berdaya.

Menjadi 35,
aku juga dipaksa berkaca. Prestasi (duniawi) apa yang ada pada diri? Seberapa banyak
nilai ibadah yang tercatat oleh malaikat?

Mempertanyakan
tentang satu hal itu, aku semakin merasa tak mampu.

Hujan di luar… tangis anakku tak
bakal terdengar dari ruangan ini. Haruskah kusudahi melontarkan isi hati?

Tanah Baru, di hari ulang tahun
ke-35ku, 10.49

 

PS:
terimakasih untuk semua sahabat yang telah mendoakan dan menyemangatiku lewat inbox, coretan di wall FB, ataupun SMS. Semoga doa-doa yang kalian lontarkan kembali dengan kebaikan yang lebih besar. Amin...

Indarwati
irt, penulis lepas, plus souvenir maker
curhatan http://lembarkertas.multiply.com
kreasi tangan http://craftcafe.multiply.com
FB: indar7510@yahoo.com

2b.

Re: [penulislepas] (catcil) 35

Posted by: "Epri Saqib" epri_ts@yahoo.com   epri_ts

Tue Oct 12, 2010 5:36 pm (PDT)



Selamat Ulang Tahun mbak,

semoga sehat dan sukses selalu. amiin

Epri Tsaqib & Keluarga

________________________________
From: Indarwati Indarpati <patisayang@yahoo.com>
To: sekolah-kehidupan@yahoogroups.com; penulislepas@yahoogroups.com
Sent: Tue, October 12, 2010 11:35:16 PM
Subject: [penulislepas] (catcil) 35

35
Dunia ini
panggung sandiwara

Ceritanya mudah
berubah

Bisa Mahabrata
atau tragedi dari Yunani

Setiap kita
dapat satu peranan yang harus kita mainkan

Ada peran
wajar dan ada peran berpura-pura…

Refleksi dan
intropeksi 35 tahun malam ini kumulai dengan menyesap dalam syair yang ditulis
oleh Taufik Ismail untuk lagu Godbless. Malam ini, seperti malam-malam
sebelumnya, suara merdu Nicky Astria yang mendendangkannya, mengalun dari
speaker laptop, menembus kesadaran yang tengah coba kurangkaikan.

Telah begitu
lama aku tak menuangkan resah dalam tulisan. Sebagian mengendap, sebagian
melayang hilang. Malam ini, aku ingin kembali menulis prasasti. Mungkin untuk
kubaca setahun kemudian jika masih diberi usia, atau menjadi sekedar nama file
tak tersentuh di folder blog di laptopku. Atau, aku memiliki kembali nyali
untuk ‘menyampah’ di milist ini.

Menjadi seorang
perempuan dengan usia 35, ada banyak hal melintas di kepala.

Seberapa dewasa,
sebanyak apa bijaksana, seluas apa cakrawala di kepala…

Ataukah, 35
hanya berarti bertambahnya uban di kepala?

Satu yang
pasti, membayang di mata renta dan tak berdaya yang ingin kuhindari.
(mungkinkah?)

Menjadi 35, seolah
baru kemarin aku 25. Masih bekerja, masih panjang asa dan gemerlap cita-cita.
Masih
berbagi tawa dengan teman sesama mahasiswa malam di sebuah institute bahasa,
sekedar menyandarkan luka karna lelah bekerja.

Menjadi 35,
seolah baru kemarin aku 25. Baru setahun berumah tangga, merekontruksi hubungan
dengan suami. Seorang sahabat sejak 9 tahun sebelumnya yang bertambah wajah
menjadi penyandar lelah. Kini, tak terasa 11 tahun pernikahan itu kami jalani.
Tak
banyak berubah, meski tak sedikit pula penyesuaian langkah.

Menjadi 35,
seolah baru kemarin aku 25. Ketika belum ada dia, lalu mereka yang mendamba
kasih
sayang dan perhatian mama. Kini, Ais, Yasmin, dan Ranu Akbar Himadi mewarnai
hari-hari kami. Menorehkan rasa bersalah ketika tak mampu kuulurkan tanganku
dalam
satu waktu.

Menjadi 35, hanya
beda satu angka dengan 45,… menjadi tua.

Ada banyak
hal membuatku takut menghadapi masa tua, yang mendorongku merasa tua. Ini
berbeda
dengan setahun lalu dimana aku masih merasa muda dan banyak asa.

Adalah seorang
perempuan. Di masa mudanya, beliau lincah tangguh tak terkalahkan. Bekerja 20
jam sehari adalah hal wajar. Menggendong bakul besar berisi belanjaan adalah
satu hal remeh yang biasa dilakukan. Mengandung, melahirkan, dan membesarkan 6
anak adalah prestasi terbesar. Hingga, renta tak sekedar menyapa. Urat dan
syaraf tak lagi mau kompromi. Bahkan sekedar diajak mengambil air wudhu.
Perempuan
itu, kini merasa menjadi beban. Dan mungkin bagi sebagian orang, dia memang
beban.

Membacanya,
aku takut menjadi tua, renta, tak berdaya.

Menjadi 35,
aku juga dipaksa berkaca. Prestasi (duniawi) apa yang ada pada diri? Seberapa
banyak
nilai ibadah yang tercatat oleh malaikat?

Mempertanyakan
tentang satu hal itu, aku semakin merasa tak mampu.

Hujan di luar… tangis anakku tak
bakal terdengar dari ruangan ini. Haruskah kusudahi melontarkan isi hati?

Tanah Baru, di hari ulang tahun
ke-35ku, 10.49

PS:
terimakasih untuk semua sahabat yang telah mendoakan dan menyemangatiku lewat
inbox, coretan di wall FB, ataupun SMS. Semoga doa-doa yang kalian lontarkan
kembali dengan kebaikan yang lebih besar. Amin...

Indarwati
irt, penulis lepas, plus souvenir maker
curhatan http://lembarkertas.multiply.com
kreasi tangan http://craftcafe.multiply.com
FB: indar7510@yahoo.com

[Non-text portions of this message have been removed]

2c.

Re: (catcil) 35

Posted by: "Syafaatus Syarifah" syarifah@gratika.co.id   sya4215

Tue Oct 12, 2010 7:27 pm (PDT)



Mbak Indar met milad yaa.. maaf telat..
semoga apa yg diinginkan terkabul

----- Original Message -----
From: Indarwati Indarpati
To: sekolah-kehidupan@yahoogroups.com ; penulislepas@yahoogroups.com
Sent: Tuesday, October 12, 2010 11:35 PM
Subject: [sekolah-kehidupan] (catcil) 35

35

Dunia ini panggung sandiwara

Ceritanya mudah berubah

Bisa Mahabrata atau tragedi dari Yunani

Setiap kita dapat satu peranan yang harus kita mainkan

Ada peran wajar dan ada peran berpura-pura…

Refleksi dan intropeksi 35 tahun malam ini kumulai dengan menyesap dalam syair yang ditulis oleh Taufik Ismail untuk lagu Godbless. Malam ini, seperti malam-malam sebelumnya, suara merdu Nicky Astria yang mendendangkannya, mengalun dari speaker laptop, menembus kesadaran yang tengah coba kurangkaikan.

Telah begitu lama aku tak menuangkan resah dalam tulisan. Sebagian mengendap, sebagian melayang hilang. Malam ini, aku ingin kembali menulis prasasti. Mungkin untuk kubaca setahun kemudian jika masih diberi usia, atau menjadi sekedar nama file tak tersentuh di folder blog di laptopku. Atau, aku memiliki kembali nyali untuk ‘menyampah’ di milist ini.

Menjadi seorang perempuan dengan usia 35, ada banyak hal melintas di kepala.

Seberapa dewasa, sebanyak apa bijaksana, seluas apa cakrawala di kepala…

Ataukah, 35 hanya berarti bertambahnya uban di kepala?

Satu yang pasti, membayang di mata renta dan tak berdaya yang ingin kuhindari. (mungkinkah?)

Menjadi 35, seolah baru kemarin aku 25. Masih bekerja, masih panjang asa dan gemerlap cita-cita. Masih berbagi tawa dengan teman sesama mahasiswa malam di sebuah institute bahasa, sekedar menyandarkan luka karna lelah bekerja.

Menjadi 35, seolah baru kemarin aku 25. Baru setahun berumah tangga, merekontruksi hubungan dengan suami. Seorang sahabat sejak 9 tahun sebelumnya yang bertambah wajah menjadi penyandar lelah. Kini, tak terasa 11 tahun pernikahan itu kami jalani. Tak banyak berubah, meski tak sedikit pula penyesuaian langkah.

Menjadi 35, seolah baru kemarin aku 25. Ketika belum ada dia, lalu mereka yang mendamba kasih sayang dan perhatian mama. Kini, Ais, Yasmin, dan Ranu Akbar Himadi mewarnai hari-hari kami. Menorehkan rasa bersalah ketika tak mampu kuulurkan tanganku dalam satu waktu.

Menjadi 35, hanya beda satu angka dengan 45,… menjadi tua.

Ada banyak hal membuatku takut menghadapi masa tua, yang mendorongku merasa tua. Ini berbeda dengan setahun lalu dimana aku masih merasa muda dan banyak asa.

Adalah seorang perempuan. Di masa mudanya, beliau lincah tangguh tak terkalahkan. Bekerja 20 jam sehari adalah hal wajar. Menggendong bakul besar berisi belanjaan adalah satu hal remeh yang biasa dilakukan. Mengandung, melahirkan, dan membesarkan 6 anak adalah prestasi terbesar. Hingga, renta tak sekedar menyapa. Urat dan syaraf tak lagi mau kompromi. Bahkan sekedar diajak mengambil air wudhu. Perempuan itu, kini merasa menjadi beban. Dan mungkin bagi sebagian orang, dia memang beban.

Membacanya, aku takut menjadi tua, renta, tak berdaya.

Menjadi 35, aku juga dipaksa berkaca. Prestasi (duniawi) apa yang ada pada diri? Seberapa banyak nilai ibadah yang tercatat oleh malaikat?

Mempertanyakan tentang satu hal itu, aku semakin merasa tak mampu.

Hujan di luar… tangis anakku tak bakal terdengar dari ruangan ini. Haruskah kusudahi melontarkan isi hati?

Tanah Baru, di hari ulang tahun ke-35ku, 10.49

PS:
terimakasih untuk semua sahabat yang telah mendoakan dan menyemangatiku lewat inbox, coretan di wall FB, ataupun SMS. Semoga doa-doa yang kalian lontarkan kembali dengan kebaikan yang lebih besar. Amin...

Indarwati

irt, penulis lepas, plus souvenir maker
curhatan http://lembarkertas.multiply.com
kreasi tangan http://craftcafe.multiply.com
FB: indar7510@yahoo.com


2d.

Re: (catcil) 35

Posted by: "Nursalam AR" nursalam.ar@gmail.com

Tue Oct 12, 2010 9:16 pm (PDT)



Catatan yang reflektif, inspiratif dan indah, khas seorang Indarpati.
Mengulang coretan saya di FB, moga prasasti Mbak Indar ini menjadi penanda
tonggak doa dan harapan ke depan.

Btw, jadi ingat orang bijak bilang,"Life begins at 40." Hidup dimulai pada
usia empat puluh. Jadi, janganlah merasa tua sebelum itu,hehe...

Happy milad ya!

Tabik,

Nursalam AR
- yang juga berkepala tiga -

2010/10/12 Indarwati Indarpati <patisayang@yahoo.com>

>
>
> 35
>
>
> Dunia ini panggung sandiwara
>
> Ceritanya mudah berubah
>
> Bisa Mahabrata atau tragedi dari Yunani
>
> Setiap kita dapat satu peranan yang harus kita mainkan
>
> Ada peran wajar dan ada peran berpura-pura…
>
>
> Refleksi dan intropeksi 35 tahun malam ini kumulai dengan menyesap dalam
> syair yang ditulis oleh Taufik Ismail untuk lagu Godbless. Malam ini,
> seperti malam-malam sebelumnya, suara merdu Nicky Astria yang
> mendendangkannya, mengalun dari speaker laptop, menembus kesadaran yang
> tengah coba kurangkaikan.
>
>
> Telah begitu lama aku tak menuangkan resah dalam tulisan. Sebagian
> mengendap, sebagian melayang hilang. Malam ini, aku ingin kembali menulis
> prasasti. Mungkin untuk kubaca setahun kemudian jika masih diberi usia, atau
> menjadi sekedar nama file tak tersentuh di folder blog di laptopku. Atau,
> aku memiliki kembali nyali untuk 'menyampah' di milist ini.
>
>
> Menjadi seorang perempuan dengan usia 35, ada banyak hal melintas di
> kepala.
>
> Seberapa dewasa, sebanyak apa bijaksana, seluas apa cakrawala di kepala…
>
> Ataukah, 35 hanya berarti bertambahnya uban di kepala?
>
> Satu yang pasti, membayang di mata renta dan tak berdaya yang ingin
> kuhindari. (mungkinkah?)
>
>
> Menjadi 35, seolah baru kemarin aku 25. Masih bekerja, masih panjang asa
> dan gemerlap cita-cita. Masih berbagi tawa dengan teman sesama mahasiswa
> malam di sebuah institute bahasa, sekedar menyandarkan luka karna lelah
> bekerja.
>
>
> Menjadi 35, seolah baru kemarin aku 25. Baru setahun berumah tangga,
> merekontruksi hubungan dengan suami. Seorang sahabat sejak 9 tahun
> sebelumnya yang bertambah wajah menjadi penyandar lelah. Kini, tak terasa 11
> tahun pernikahan itu kami jalani. Tak banyak berubah, meski tak sedikit pula
> penyesuaian langkah.
>
>
> Menjadi 35, seolah baru kemarin aku 25. Ketika belum ada dia, lalu mereka
> yang mendamba kasih sayang dan perhatian mama. Kini, Ais, Yasmin, dan Ranu
> Akbar Himadi mewarnai hari-hari kami. Menorehkan rasa bersalah ketika tak
> mampu kuulurkan tanganku dalam satu waktu.
>
>
> Menjadi 35, hanya beda satu angka dengan 45,… menjadi tua.
>
>
> Ada banyak hal membuatku takut menghadapi masa tua, yang mendorongku merasa
> tua. Ini berbeda dengan setahun lalu dimana aku masih merasa muda dan banyak
> asa.
>
>
> Adalah seorang perempuan. Di masa mudanya, beliau lincah tangguh tak
> terkalahkan. Bekerja 20 jam sehari adalah hal wajar. Menggendong bakul besar
> berisi belanjaan adalah satu hal remeh yang biasa dilakukan. Mengandung,
> melahirkan, dan membesarkan 6 anak adalah prestasi terbesar. Hingga, renta
> tak sekedar menyapa. Urat dan syaraf tak lagi mau kompromi. Bahkan sekedar
> diajak mengambil air wudhu. Perempuan itu, kini merasa menjadi beban. Dan
> mungkin bagi sebagian orang, dia memang beban.
>
>
> Membacanya, aku takut menjadi tua, renta, tak berdaya.
>
>
> Menjadi 35, aku juga dipaksa berkaca. Prestasi (duniawi) apa yang ada pada
> diri? Seberapa banyak nilai ibadah yang tercatat oleh malaikat?
>
>
> Mempertanyakan tentang satu hal itu, aku semakin merasa tak mampu.
>
>
> *Hujan di luar… tangis anakku tak bakal terdengar dari ruangan ini.
> Haruskah kusudahi melontarkan isi hati?*
>
>
> **
>
> *Tanah Baru, di hari ulang tahun ke-35ku, 10.49*
>
>
> PS:
> terimakasih untuk semua sahabat yang telah mendoakan dan menyemangatiku
> lewat inbox, coretan di wall FB, ataupun SMS. Semoga doa-doa yang kalian
> lontarkan kembali dengan kebaikan yang lebih besar. Amin...
>
> Indarwati
>
>
> <http://craftcafe.multiply.com/photos/album/20/Boneka_Pengantin_dan_Pakaian_Adat_Flanel>
>
> irt, penulis lepas, plus souvenir maker<http://craftcafe.multiply.com/photos/album/20/Boneka_Pengantin_dan_Pakaian_Adat_Flanel>
> curhatan
> <http://craftcafe.multiply.com/photos/album/20/Boneka_Pengantin_dan_Pakaian_Adat_Flanel>
> http://lembarkertas.multiply.com
> kreasi tangan http://craftcafe.multiply.com <http://www.kedaicraft.com>
> FB: indar7510@yahoo.com
>
>
>

--
*"If you don't know where you are going, any road will get you there." (Mark
Twain)
*
*www.kintaka.wordpress.com
YM ID: nursalam_ar
0813-10040723*
3a.

[LOLA - LOnceng teLAt] met milad bu guru

Posted by: "hadianf@gmail.com" hadianf@gmail.com   hadian.kasep

Tue Oct 12, 2010 10:44 am (PDT)



Whuaaaaaa... Dah lama ga menyapa fesbuk jadi aja terlewat momen indah ini (maksudnya momen meminta traktiran...) Maafkan ya mbaaaak Indar...

Ehm... Selamat hari lahir ya mba Indar, semoga :
1. Usia mba barokah dan diberikan yang terbaik di sisa usiamu.
2. Dijadikan istri yang selalu meneduhkan mata sang suami,
3. Menjadi penuntun bagi ketiga putri/putra yang sudah ada.
4. Sukses pula melahirkan kembali karya2 dahsyat...
Apalagi ya? Lengkapi ya sob...


Powered by Hadian_Kasep BlackBerry®
3b.

Re: [LOLA - LOnceng teLAt] met milad bu guru

Posted by: "cak dayat" cakdayat@gmail.com   dayat_xxx

Tue Oct 12, 2010 3:12 pm (PDT)



Met milad mbak indar...semoga mbak selalu mendapatkan yang terbaik..dan bisa selalu .menjadi yang terbaik disetiap peran yang mbak jalani...
Sent from my BlackBerry®
powered by Cendana Pulsa

-----Original Message-----
From: hadianf@gmail.com
Sender: sekolah-kehidupan@yahoogroups.com
Date: Tue, 12 Oct 2010 17:30:28
To: <sekolah-kehidupan@yahoogroups.com>
Reply-To: sekolah-kehidupan@yahoogroups.com
Subject: [sekolah-kehidupan] [LOLA - LOnceng teLAt] met milad bu guru

Whuaaaaaa... Dah lama ga menyapa fesbuk jadi aja terlewat momen indah ini (maksudnya momen meminta traktiran...) Maafkan ya mbaaaak Indar...

Ehm... Selamat hari lahir ya mba Indar, semoga :
1. Usia mba barokah dan diberikan yang terbaik di sisa usiamu.
2. Dijadikan istri yang selalu meneduhkan mata sang suami,
3. Menjadi penuntun bagi ketiga putri/putra yang sudah ada.
4. Sukses pula melahirkan kembali karya2 dahsyat...
Apalagi ya? Lengkapi ya sob...


Powered by Hadian_Kasep BlackBerry®

------------------------------------

Yahoo! Groups Links

3c.

Re: [LOLA - LOnceng teLAt] met milad bu guru

Posted by: "Sismanto" sirilwafa@gmail.com   siril_wafa

Tue Oct 12, 2010 5:36 pm (PDT)



Saya ikutan kang Hadian,

Met milad buat mbak Indar njih. semoga tambah mbois aja...

Salam,
Sis

2010/10/13 <hadianf@gmail.com>

> Whuaaaaaa... Dah lama ga menyapa fesbuk jadi aja terlewat momen indah ini
> (maksudnya momen meminta traktiran...) Maafkan ya mbaaaak Indar...
>
> Ehm... Selamat hari lahir ya mba Indar, semoga :
> 1. Usia mba barokah dan diberikan yang terbaik di sisa usiamu.
> 2. Dijadikan istri yang selalu meneduhkan mata sang suami,
> 3. Menjadi penuntun bagi ketiga putri/putra yang sudah ada.
> 4. Sukses pula melahirkan kembali karya2 dahsyat...
> Apalagi ya? Lengkapi ya sob...
>
>
> Powered by Hadian_Kasep BlackBerry®
>
4a.

Bab Penutup Buku Saya

Posted by: "Ikhwan Sopa" ikhwan.sopa@gmail.com   ikhwansopa

Tue Oct 12, 2010 12:14 pm (PDT)



Sahabat, berikut ini adalah Bab Penutup dari buku saya.

Alhamdulillah, draftnya sudah selesai tinggal menunggu perbaikan kecil di
sana-sini. Semoga bisa segera terbit menemani kehidupan sahabat semua.

*Setiap paragraf* dari bagian penutup ini adalah *cerminan *dan *kesimpulan
*dari *setiap bab* yang ada di dalam buku. Setiap paragraf ini sengaja
ditulis panjang rata-rata dengan hanya satu kalimat. Tidak demikian dengan
isi masing-masing bab di mana saya berusaha sedapat mungkin menggunakan
kalimat-kalimat pendek yang enak dan mudah dicerna.

Saya sangat berharap akan *komentar*, *kritik*, dan *saran** *dari sahabat
semua. Semua itu akan berpengaruh pada editing terakhir yang sedang saya
lakukan. Semua itu bisa berpengaruh pada perubahan gaya tulisan, pada
pilihan-pilihan kata dan kalimat, dan bahkan pada perombakan total buku ini.

Tentang judul kita tunggu saja, keywordnya adalah "*mindset*".

Terimakasih sebelumnya, semoga Allah SWT membalas pahala yang setimpal untuk
sahabat semua.

Saya menunggu seminggu ini.

Ikhwan Sopa
ikhwan.sopa@gmail.com

=================

*PENUTUP*

*"Hidup adalah tentang mengorganisasi pola pikir dan mengukur kemajuan pola
pikir menuju impian dan cita-cita."*
- Ikhwan Sopa -

Hidup kita *berbahagia *dan mengalami *kemajuan* yang terus bergerak ke arah
tercapainya impian dan cita-cita, ketika kita menyadari bahwa berbagai *pola
pikir* kehidupan telah kita *organisasikan *sedemikian rupa di mana secara
keseluruhan mencerminkan sinyal kemajuan.

Ukuran kemajuan untuk *pola pikir* adalah *pola rasa* yang diciptakannya.
Ukuran kemajuan untuk pola rasa adalah *rasa kesesuaiannya* dengan segala *
keyakinan* yang *indah*, *baik*, dan *benar*. Keyakinan yang indah, baik,
dan benar adalah keyakinan sebagaimana yang telah *dipedomankan* oleh Tuhan
tentang ketiganya, di mana Tuhan menggariskan bahwa ketiganya harus ada
secara bersama-sama.

Ukuran akhir dari segala kemajuan peradaban manusia adalah makin dekatnya
peradaban itu kepada Tuhan. Semua kemajuan ini ada *tandanya*. Tanda-tanda
dari kemajuan pola pikir dan pola rasa adalah *kesadaran*.

Ketika kita menyadari bahwa kita diciptakan di dunia ini dengan mengemban
tugas besar menggapai *kemuliaan *dan *kehormatan*. Di antara kemuliaan dan
kehormatan itu adalah keberhasilan mencapai *impian* dan* cita-cita* yang
memajukan peradaban dan bukan sebaliknya.

Ketika kita menyadari bahwa kita adalah pribadi-pribadi *unik *dengan *keunikan
*impian dan cita-cita, yang dengan keunikan itu kita bisa bermimpi dan
bercita-cita *sendirian *tapi untuk mencapainya kita harus melibatkan *
kebersamaan*.

Ketika kita menyadari bahwa *keseimbangan *antara *kehidupan pribadi*
dan *kehidupan
sosial* sebagai syarat tercapainya impian dan cita-cita hanya bisa kita
ciptakan dengan memelihara *pola-pola pikir tertentu*.

Ketika kita menyadari bahwa keterbatasan *fisik *hanya bisa dilengkapi
dengan *pikiran yang lebih kuat*, di mana pikiran-pikiran kita perlu
*diorganisir
*sehingga memiliki *pola-pola* dan *kebiasaan *berpikir yang akan memudahkan
upaya kita mengejar impian dan cita-cita, di mana tanda kemudahan itu ada
pada segala *perasaan*.

Ketika kita menyadari bahwa isi kepala kita hanya terdiri dari *dua kelompok
besar* pikiran yang harus kita *pilih*, yaitu pikiran-pikiran yang *mendekatkan
*kita kepada impian dan cita-cita atau sebaliknya *menjauhkan *kita darinya.

Ketika kita menyadari bahwa *kebahagiaan *yang sesungguhnya yang bisa kita
gapai di dunia yang fana ini adalah tentang *pergeseran* dan
*transformasi *kehidupan
untuk menjadi *lebih baik dan lebih baik lagi*.

Ketika kita menyadari bahwa kita telah dianugerahkan Tuhan sebuah *kekuatan
besar* terkait dengan kebesaran kita sebagai makhluk yang letaknya ada pada
*hati nurani* dan *akal *yang membedakan kita dari makhluk lain ciptaan-Nya,
di mana kekuatan itu adalah kekuatan untuk secara *sadar memilih* jalan yang
*mendekatkan *atau *menjauhkan *kita dari tujuan.

Ketika kita menyadari bahwa *perubahan *keadaan adalah akibat dari *
pengaruh-pengaruh* yang kita ciptakan di mana setiap diri kita sendirilah
yang menjadi makhluk *paling berpengaruh* di muka bumi.

Ketika kita menyadari bahwa segala *pilihan *jalan berpikir yang kita ambil
akan dihadapkan dengan berbagai *ujian *dan *cobaan *- bukan *azab *dan *
hukuman*, di mana azab dan hukuman hanya diberikan kepada pribadi yang
memilih jalan yang jauh dari *kebaikan *dan *kebenaran*.

Ketika kita menyadari bahwa segala *masalah*, *konflik*,
*keterbatasan*, *kelemahan
*dan *ancaman *justru merupakan bagian-bagian penting dari *kebutuhan *kita
untuk membangun diri menjadi pribadi-pribadi yang *besar *dan *memenangkan *
kehidupan.

Ketika kita menyadari bahwa diri kita yang *ideal *sesuai impian dan
cita-cita adalah *bukan* diri kita yang ada dan hidup pada *hari ini*, yang
dengan demikian kita perlu melakukan *perubahan *terhadap *diri *dan *
lingkungan*.

Ketika kita menyadari bahwa sebagai manusia kita dilengkapi dengan *perasaan
*yang dengan perasaan itulah segala perubahan dimulai sesuai tuntutan
kemanusiaan yang sebagai *makhluk pikiran* adalah juga *makhluk perasaan*.

Ketika kita menyadari bahwa *kenyamanan *dan merasa *terlalu cepat
puas*terhadap apa yang telah
*menjadikan *diri kita kini dan apa yang telah kita *miliki *sekarang adalah
*ilusi zona nyaman* yang sangat rentan terhadap perubahan, di mana
satu-satunya cara bagi kita untuk tetap hidup di dalam *kenyamanan *dan
peningkatan *kepastian *adalah dengan menyesuaikan diri terhadap segala
perubahan di dalam batas-batas kebaikan dan kebenaran.

Ketika kita menyadari bahwa *risiko *ada di mana-mana sebagai bagian *alamiah
*dari keseimbangan kehidupan, di mana setiap risiko bisa di atasi dengan
menjalani risiko lain yang berpeluang lebih membesarkan diri kita.

Ketika kita menyadari bahwa *kesempurnaan *adalah bukan milik kita dan
kesempurnaan kita ada pada ketidaksempurnaannya, di mana seluruh segi
kehidupan adalah tentang menari dan berlari di dalam *ketidaksempurnaan *demi
kehidupan itu sendiri yang esensinya adalah *pergeseran *dan *transformasi*.

Ketika kita menyadari bahwa di dalam *kekhawatiran *dan *ketakutan*, kita
harus tetap *adil *dan *bijaksana *kepada diri sendiri dengan mengutamakan
harapan dan cita-cita *di atas* segala kekhawatiran dan ketakutan itu.

Ketika kita menyadari bahwa *tindakan yang nyata* adalah cara terbaik bagi
kita untuk mencapai tingkat *keyakinan *yang makin tinggi dan makin tinggi
lagi tentang tercapainya impian dan cita-cita.

Ketika kita menyadari bahwa *segala sesuatu diciptakan dua kali* sebelum ia
menjadi kenyataan di dalam kehidupan, di mana *tahap pertama* adanya di
dalam *pikiran *dan di dalam *hati *kita dalam bentuk keinginan, impian,
cita-cita dan idealisme, dan *tahap kedua* adanya di dalam *tindakan-tindakan
yang nyata*.

Ketika kita menyadari *ke-Maha-Besar-an Tuhan* yang telah menciptakan segala
sesuatu ada di sini di dalam kehidupan, termasuk apapun yang kita anggap
belum ada, di mana tugas kita menjadi *lebih mudah* dengan memposisikan diri
sebagai *pemelihara*, *pengejar*, dan *pekerja *yang semata-mata hanya untuk
menemukan dan menyatukan berbagai komponen impian dan cita-cita, yang jauh
dari orientasi pengrusakan dan penghancuran.

Ketika kita menyadari bahwa makna kehidupan adalah tentang *perubahan*, *
pergeseran*, dan *transformasi*, di mana kita sebenarnya selalu berada di
puncak-puncak kehidupan berdasarkan apa yang kita *pikirkan *dan kita *lakukan
*di masa lalu, yang dengan demikian demi masa depan di puncak-puncak yang
lebih tinggi kita diharuskan menciptakan *pikiran dan tindakan yang makin
meninggikan*.

Ketika kita menyadari bahwa *kesuksesan *dan *keberhasilan *adalah
tentang *kerjasama
*dan *organisasi *yang baik antara diri kita dan segala sesuatu yang bukan
kita, di mana untuk mengembalikan semua kesuksesan dan keberhasilan itu
kepada diri kita sendiri, kita harus menitipkannya *terlebih dahulu* kepada
apapun yang bukan diri kita.

Ketika kita menyadari bahwa kita semua dalam kenyataannya terlahir
sebagai *pribadi-pribadi
yang juara* yang akan tetap menjadi juara selama kita tetap menginginkan
diri kita sebagai juara.

Ketika kita menyadari bahwa sebagai pribadi-pribadi juara setiap saat kita
selalu berada di dalam keadaan *siap tempur* sekalipun berjalan dalam
terpaan berbagai cobaan dan ujian kehidupan.

Ketika kita menyadari bahwa segala sesuatu bisa tercipta di dalam kehidupan
nyata dengan dimulai dari *kemauan *dan *keinginan *yang diubah
menjadi *kebutuhan
*di mana jika kita memang *butuh *sebenarnya kita memang *mampu*.

Ketika kita menyadari bahwa *semangat *adalah sesuatu yang *sangat
menular*kepada diri kita sendiri dan kepada lingkungan di sekitar
kita, di mana
semangat itu bisa menjadi semangat yang *membangkitkan *atau sebaliknya
semangat yang *mematahkan*.

Ketika kita menyadari bahwa *sabar*, *syukur*, dan *sikap menerima* bukanlah
semata-mata ajaran yang dogmatis, melainkan *hukum alam* sebagaimana
panasnya api dan dinginnya es, di mana satu-satunya yang bisa kita lakukan
adalah *memuliakan *dan *menghormatinya *dengan hidup di dalamnya sehingga
menjadikan kita sebagai pribadi yang *mulia *lagi *terhormat*.

Ketika kita menyadari bahwa hidup yang maknanya yang perubahan, pergeseran,
dan transformasi adalah identik dengan *pembelajaran*.

Ketika kita menyadari bahwa segala *kesalahan *yang tidak melukai *kebaikan
*dan *kebenaran *adalah fenomena-fenomena pembelajaran yang *indah *yang
dengannya kita menarik berbagai *hikmah *untuk *perbaikan*.

Ketika kita menyadari bahwa *kegagalan *sebenarnya hanyalah *umpan
balik*yang dipadati oleh pelajaran, di mana kita akan benar-benar
menjadi pribadi
yang gagal hanya jika kita berhenti di tengah perjalanan.

Ketika kita menyadari bahwa *waktu *bukan hanya perlu *dihargai*, melainkan
lebih dari itu harus *dihormati *karena kebesaran, ketinggian, dan
kecepatannya yang tak tertandingi oleh apapun dan siapapun di alam semesta.

Ketika kita menyadari bahwa *kredibilitas *diri kita sebagai pribadi-pribadi
lebih didominasi oleh berbagai karakter yang dinilai secara *subyektif *yang
justru dengan demikian kita memiliki *kendali *untuk mengarahkan dan
membangunnya menjadi *lebih kuat dan lebih baik*.

Ketika kita menyadari bahwa *pentingnya *impian dan cita-cita tidak secara
langsung menjadikan kita sebagai pribadi yang *bergerak *untuk menggapainya,
di mana *keterlibatan penuh* secara fisik dan mental adalah jalan terbaik
untuk sampai ke sana.

Ketika kita menyadari bahwa *mempercayai *orang lain secara adil adalah
ajaran yang mulia, di mana ia perlu didahulukan sebelum apapun yang menjadi
sebab *ketidakpercayaan *muncul dan terbukti sebagai sesuatu yang nyata.

Ketika kita menyadari bahwa setiap diri kita adalah *pribadi-pribadi
pemimpin* yang harus *bertanggungjawab*, di mana tanggungjawab itu adalah
keharusan mempertahankan hakikat kepemimpinan di dalam segala posisi
struktural yang kita ciptakan sendiri di dalam kehidupan pribadi dan
organisasi, dengan menjaga dan memelihara *pola pikir* yang tetap menjadi *
pemimpin* dan memegang *kendali* kehidupan.

=====
4b.

Re: Bab Penutup Buku Saya

Posted by: "Sismanto" sirilwafa@gmail.com   siril_wafa

Tue Oct 12, 2010 5:36 pm (PDT)



Assalamu'alaikum wr. wb.
Waw...Luar biasa penutup bukunya.. setiap paragrafnya mengandung banyak
motivasi.
Jadi pengen bisa nulis seperti njennegan

Salam,
Sis

2010/10/13 Ikhwan Sopa <ikhwan.sopa@gmail.com>

>
>
> Sahabat, berikut ini adalah Bab Penutup dari buku saya.
>
> Alhamdulillah, draftnya sudah selesai tinggal menunggu perbaikan kecil di
> sana-sini. Semoga bisa segera terbit menemani kehidupan sahabat semua.
>
> *Setiap paragraf* dari bagian penutup ini adalah *cerminan *dan *kesimpulan
> *dari *setiap bab* yang ada di dalam buku. Setiap paragraf ini sengaja
> ditulis panjang rata-rata dengan hanya satu kalimat. Tidak demikian dengan
> isi masing-masing bab di mana saya berusaha sedapat mungkin menggunakan
> kalimat-kalimat pendek yang enak dan mudah dicerna.
>
> Saya sangat berharap akan *komentar*, *kritik*, dan *saran** *dari sahabat
> semua. Semua itu akan berpengaruh pada editing terakhir yang sedang saya
> lakukan. Semua itu bisa berpengaruh pada perubahan gaya tulisan, pada
> pilihan-pilihan kata dan kalimat, dan bahkan pada perombakan total buku ini.
>
> Tentang judul kita tunggu saja, keywordnya adalah "*mindset*".
>
> Terimakasih sebelumnya, semoga Allah SWT membalas pahala yang setimpal
> untuk sahabat semua.
>
> Saya menunggu seminggu ini.
>
> Ikhwan Sopa
> ikhwan.sopa@gmail.com
>
> =================
> **
>
5.

Habibie dari Selokan Mataram

Posted by: "febty febriani" inga_fety@yahoo.com   inga_fety

Tue Oct 12, 2010 1:50 pm (PDT)




Semoga tautan di bawah ini bisa menjadi penyemangat untuk kita yang saat ini
sedang menempuh pendidikan tinggi. Kepapaan tidak akan pernah mengalahkan
semangat.

http://www.metrotvnews.com/index.php/metromain/newsprograms/2010/10/11/7170/294/Habibie-dari-Selokan-Mataram

salam,
febty @chiba

Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Groups

Mental Health Zone

Bi-polar disorder

Find support

Y! Messenger

Want a quick chat?

Chat over IM with

group members.

Drive Traffic

Sponsored Search

can help increase

your site traffic.

Need to Reply?

Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.

Create New Topic | Visit Your Group on the Web
MARKETPLACE

Get great advice about dogs and cats. Visit the Dog & Cat Answers Center.


Stay on top of your group activity without leaving the page you're on - Get the Yahoo! Toolbar now.


Hobbies & Activities Zone: Find others who share your passions! Explore new interests.

Tidak ada komentar: