Messages In This Digest (8 Messages)
- 1.
- Awas Ada Spam di Dinding Facebook Anda ! From: mowsaku
- 2.
- Artikel – This is JaNEWary, My Man! From: Dadang Kadarusman
- 3.
- Re: [Lonceng - I SK] Minggu Depan Aku Kawin.. InsyaAllah :D (Yuk Sah From: Yuli Rachmawati
- 4a.
- Novel pertamaku "Balada 13 Pembantu Rumah Tangga" sdh display di Gra From: + Made Teddy Artiana +
- 4b.
- Re: Novel pertamaku "Balada 13 Pembantu Rumah Tangga" sdh display di From: Sismanto
- 5.
- Artikel – Atasan Yang Buruk, Harus Digimanain? From: Dadang Kadarusman
- 6.
- Artikel – Mana Hasil Jerih Payah Inih? From: Dadang Kadarusman
- 7.
- Art-Living Sos 2012 (A-1 Penjual Mainan From: Ietje Guntur
Messages
- 1.
-
Awas Ada Spam di Dinding Facebook Anda !
Posted by: "mowsaku" mowsaku@yahoo.com mowsaku
Wed Feb 1, 2012 7:52 pm (PST)
Spam bukan hanya bisa terjadi di pesan email kita, namun bisa juga
terjadi di dinding profil facebook (FB) kita.
Dalam wikipedia dijelaskan bahwa Spam adalah penggunaan perangkat
elektronik untuk mengirimkan pesan secara bertubi-tubi tanpa dikehendaki
oleh penerimanya.Orang yang melakukan spam disebut spammer. Tindakan
spam dikenal dengan nama spamming...Berita spam termasuk dalam kegiatan
melanggar hukum dan merupakan perbuatan pidana yang bisa ditindak
melalui undang undang Internet.
Biasanya spamming dilakukan vie email, namun ternyata hal yang tidak
dikehendaki oleh orang penerima pesan tersebut dapat juga terjadi di
dinding profil FB kita.
Seorang ibu marah marah karena dengan rutin selalu ditag foto suatu
produk yang tidak disukainya. Bahkan seorang bapak pemilk akun FB
tertawa cekikikan karena dirinya di tag foto produk pakaian dalam wanita
oleh sang spammer FB.
Mungkin sebagian orang akan berkata bahwa FB sangat potensial untuk
jualan. Benar sekali. Sebagian orang juga akan berkata bahwa yang di tag
produk tersebut juga adalah teman saya dan pasti setuju....Oh ya..?
Benarkah sepert itu ? Anda Yakin ?.
Kalau yang di tag foto setuju mungkin mereka beranggapan tidak apa apa,
namun kalau yang tidak setuju...?. Saat seseorang melakukan tag foto
produk untuk jualan dan orang yang ditag tidak setuju, orang tersebut
sudah dapat dikategorikan telah melakukan spamming alias menjadi seorang
spammer,sebuah kata yang sudah "hitam" di dunia maya.Saya sarankan untuk
meremove setiap tag foto tersebut atau kalau Anda cukup sadis.com bisa
memblock akun sang spammer tadi...he he he (becanda sob ).
Lha kalau yang di tag itu setuju atau memang teman kita bagaimana ?. Ok
dah, berarti kita sekarang membahas tentang jualan di facebook
menggunakan akun pribadi kita dengan cara jualan via update status atau
mentag foto produk ke teman teman potensial kita di FB. Ingat lho sob,
ketika kita membuat suatu akun FB, kita telah sepakat terhadap suatu
janji/ aturan dengan Facebook. Berikut ini adalah janji tersebut:
Statement of Rights and Responsibilities (Ketentuan Hak dan Kewajiban
(di facebook))
Facebook users provide their real names and information, and we need
your help to keep it that way. Here are some commitments you make to us
relating to registering and maintaining the security of your
account:(Pengguna facebook menampilkan nama asli dan informasi serta
kami membutuhkan bantuan Anda untuk selalu menjaga hal tersebut. Berikut
ini adalah komitmen yang Anda buat untuk kami (Facebook) mengenai hal
pendaftaran akun dan pemeliharaan kemanan akun Facebook Anda:)...... 4.
Registration and Account Security (Pendaftaran dan Keamanan Akun
Facebook)
..... 4. You will not use your personal profile for your own commercial
gain (such as selling your status update to an advertiser). (Anda TIDAK
AKAN menggunakan akun pribadi untuk TUJUAN KOMERSIL (seperti JUALAN DI
STATUS ANDA)
Untuk isi lengkap Statement of Rights and Responsibilities (Ketentuan
Hak dan Kewajiban (di facebook)) silahkan lihat di:
http://www.facebook.com/legal/ terms?ref= pf
<http://www.facebook.com/legal/ >terms?ref= pf
Apakah mereka yang hobi jualan di facebook via update status atau
memaksa melakukan spamming dengan mentagfoto ke dinding teman teman
facebook mereka, masih mau MELANGGAR JANJI dengan facebook dan
mengganggu pengguna facebook lainnya ?.
Jadi jualan di FB ga boleh nih...?
Kalo pake akun pribadi terus update statusnya selalu jualan & mentag
foto produk sana sini ya nggak boleh lah sob. Lagi pula sering2 jualan
di FB dengan cara tersebut bikin Bete teman teman facebook kita bahkan
secara tidak sadar tiap status FB kita akan diacuhkan oleh teman teman
kita. Emang enak di cuekin,,,he he he. Lagipula tujuan orang FB-an
adalah untuk cari teman dan bersosialisasi bukan buat jual beli.
Tapi tenang pada artikel selanjutnya kita akan tahu kalo kita masih bisa
jualan dengan cara legal dan aman di facebook dengan pasar penguna FB
yang sangat potensial, tanpa khawatir tergolong spammer atau mengganggu.
Mau.?..He he he
Sampai jumpa di artikel selanjutnya.
Salam Inspirasi Hebat
(Kang Aa Widi Safari-Januari 2012)
Sumber: www.widisafari.com
- 2.
-
Artikel – This is JaNEWary, My Man!
Posted by: "Dadang Kadarusman" dkadarusman@yahoo.com dkadarusman
Wed Feb 1, 2012 7:52 pm (PST)
Artikel – This is JaNEWary, My Man!
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
Catatan Kepala:"Sesuatu yang baru sering kita peroleh dari hal-hal lama yang selama ini kita tidak mendayagunakannya."
"Apanya yang baru di JaNEWary?" Dapatkah Anda menemukan jawaban atas pertanyaan itu? Anda benar. Yang baru di JaNEWary adalah NEW-nya. Yang lainnya, masih sama seperti sebelumnya. Adakah artinya? Tentu. Artinya; tahun baru hanya akan benar-benar memberi makna baru jika dan hanya jika kita bisa melakukan sesuatu yang baru selama menjalani 365 hari-harinya. Jika tidak? Hmmh, rasanya pesta pora kita kemarin tidak memiliki nilai apa-apa selain hura-hura belaka.
Hari ini saya ingin makan sandwich. Bukan karena bergaya bule. Melainkan karena sandwich sering digunakan sebagai model untuk menjelaskan suatu tenik atau konsep yang rumit. Tapi tenang saja, kali ini saya akan menggunakannya untuk menjelaskan hal sederhana. JaNEWary. Bisakah Anda melihat bahwa 'Ja' dan 'Ary' sebagai kulit sandwich. Cuma kulitnya doang. Ada apa diantara kedua kulit sandwich itu? Yes. There is something 'NEW'. Tidak ada yang baru pada kulit sandwich. Tapi didalamnya, benar-benar baru. Sama seperti tahun baru. 'Inti' tahun baru itu mesti kita bikin baru. Jika inti itu tidak berhasil kita bikin baru, maka tidak peduli kalau kulitnya dibuat baru – tetap saja tahun baru itu tidak memiliki makna apa-apa. Faktanya, ada begitu banyak hal yang harus kita perbaharui dalam hidup. Meski ada pula hal-hal yang harus kita pertahankan agar tidak berubah sedikitpun. Pertanyaannya adalah; apanya yang kita bikin baru di tahun baru? Bagi
Anda yang tertarik menemani saya belajar melakukan pembaruan bermakna ditahun baru, saya ajak memulainya dengan memahami 5 sudut pandang Natural Intelligence berikut ini:
1. Mengembalikan nilai-nilai lama kita. Menjadi baru tidak selalu berarti kita menggunakan nilai-nilai baru. Justru, ada banyak nilai lama yang sudah kita lupakan selama ini yang bisa menjadikan kita pribadi yang baru. Misalnya, salah satu nilai lama kita adalah; keingintahuan kita terhadap sesuatu. Atau kegigihan kita dalam meraih sesuatu. Kemauan kita untuk bangkit lagi setiap kali terjatuh. Semua itu adalah nilai-nilai lama yang sekarang kita tidak memilikinya lagi. Itu adalah nilai-nilai yang kita miliki ketika kita kecil dulu. Namun sekarang, kita tidak lagi mengenalnya sebagai bagian integral dalam diri kita. Kita telah menggantikan nilai-nilai lama itu dengan nilai baru yang selama ini sudah terlanjur melekat didalam diri kita. Misalnya, kita merasa terlalu tua untuk belajar hal-hal baru. Kita mudah menyerah kepada rintangan yang menyulitkan. Dan kita, tidak sanggup bangkit lagi setelah tersungkur dalam kegagalan. Kapok, kita. Ternyata
sulit ya? Sudahlah jika begitu. Jika Anda bertemu dengan motivator tebaik, mungkin Anda akan mendapat nasihat. Tapi percayalah, nasihat itu akan berisi nilai-nilai lama yang dahulu pernah Anda miliki. Asahlah diri Anda dengan terus mempelajari hal baru! Jangan menyerah! Kalau terjatuh, bangkitlah! Sungguh, Anda tidak membutuhkan orang lain untuk mengatakannya kepada Anda. Karena semua itu adalah nilai lama yang ketika masih kecil sudah Anda miliki. Percayalah, sesuatu yang baru sering kita peroleh dari hal-hal lama yang selama ini kita tidak mendayagunakannya. Maka mari, kita menjadi manusia baru dengan mengembalikan nilai-nilai lama; yang dahulu pernah kita miliki.
2. Merenung dalam sunyi ditengah keramaian. Diantara sorak sorai menjelang detik-detik pergantian tahun, ada beberapa orang yang memejamkan mata dengan tangan tengadah didepan dada. Seolah terisolasi dari bunyi terompet, dentum petasan, dan hingar bingar pesta kembang api; orang-orang ini menciptakan sunyi didalam batinnya. Dia bertanya; "Adakah gerangan kedamaian dalam keramaian ini?" Dia mencari makna bagi dirinya sendiri atas semua hal yang terjadi disekitarnya. Ketika kebanyakan orang melampiaskan kegembiraan, orang ini menerobos lorong-lorong kehebohan dengan perenungan yang dalam. Apakah arti kegembiraan ini? Banyak hal yang tidak bisa kita temukan ketika batin kita diisi dengan hiruk pikuk. Sebaliknya, ketika batin kita diliputi sunyi, ada banyak suara yang bisa kita dengar. Ada banyak nasihat yang bisa kita dapat. Dan ada banyak jalan keluar yang bisa kita temukan. Tidak bolehkah kita bergembira? Sangat boleh. Namun, kita perlu
belajar kepada orang-orang yang mampu menemukan hikmah dalam setiap kegembiraan yang dialami setiap hari. Yaitu orang-orang yang tidak terjebak oleh seremoni. Mereka yang setiap detik dalam hidupnya dibuat seperti perayaan. Karena orang-orang seperti itu, tidak hanya bergembira pada momen-momen yang dibuat oleh orang lain. Mereka melakukan perayaan pada setiap tarikan nafasnya. Mereka adalah orang yang memahami bahwa kegembiraan hidup tidak terletak pada kerlap kerlip cahaya atau dentum bunyi-bunyian. Melainkan dari kedamaian yang berhasil mereka ciptakan didalam hatinya. Dan mereka menemukan kedamaian itu, setiap kali merenung dalam sunyi, meski mereka berada di tengah keramaian hari-hari yang dilaluinya.
3. Memberi nilai tambah kepada apa yang sudah ada. Perhatikanlah. Betapa banyak orang yang hanya bisa meniru orang lain. Bagus? Tentu bagus hingga tarap tertentu. Tapi tidak bagus untuk selamanya. Dunia membutuhkan pembaharuan terus menerus. Dan itu tidak akan terwujud jika kita lebih suka mengcopy apa yang orang lain lakukan. Apapun profesi Anda. Desainer? Trainer? Operator? Driver? Anda perlu selalu mengingat sebuah fakta yang melekat didalam diri kita, yaitu; kita diciptakan dengan keunikan masing-masing. Buat apa keunikan itu Tuhan hadiahkan kepada setiap pribadi jika bukan untuk saling mengisi? Anda pasti bisa melakukan sesuatu yang saya atau orang lain tidak dapat melakukannya. Make it a reality. Maka Anda pasti bisa memberi nilai tambah kepada apa yang sudah ada disekeliling Anda. Ditengah begitu banyaknya orang yang bangga dengan apa yang dilakukannya sama persis seperti orang lain; carilah apa yang bisa Anda lakukan dari apa yang
belum orang lain lakukan. Dunia memerlukan lebih dari sekedar orang yang bisa melakukannya sama seperti orang lain. Dunia, membutuhkan nilai tambah dari setiap individu yang menghuninya. Sayangnya, kita sering tidak percaya kepada diri kita sendiri bahwa kita bisa memberikan nilai tambah itu. "Semua sudah ada," begitu kita berkilah. Maka kita mengira bahwa menciptakan sesuatu yang baru adalah sebuah kemustahilan. Kita juga sering terjebak dalam keinginan untuk serba mudah. Maka ketika meniru orang lain menjadi jalan termudah, kita enggan untuk mengeksplorasi keunikan diri kita sendiri. Ingatlah sahabat, bahwa keunikan ini kita dapat sebagai amanah dari Tuhan, agar kita bisa memberi nilai tambah kepada apa yang sudah ada.
4. Memiliki keberanian untuk menerima tantangan baru. Berani memasuki tahun baru? Oh, tentu. Makanya kita antusias sekali dengan perayaan tahun baru. Hujan rintik-rintik pun kita tembus agar bisa berpesta ditengah kemeriahan dan kemegahan. Nggak ada ngantuk. Tak ada rasa lelah. Kenapa? Karena kita memiliki antusiasme dan keberanian yang begitu tinggi untuk memasuki tahun baru. Berani menerima tantangan baru? Ehem. Entar dulu. Izinkan saya istirahat dulu. Masih ngantuk nih. Hey, wake up! Tahun baru itu bukan perayaan satu malam loh. Ada 365 hari di tahun baru yang kita rayakan itu. Dan selama hari-hari itu, hidup kita tidak pernah lepas dari tantangan yang baru. Oh, betapa rindunya dunia kepada orang-orang yang kemarin antusias. Dimanakah mereka kini? Betapa indahnya suasana dikantor jika hari-harinya ditahun ini disinggahi oleh wajah-wajah yang sumeringah itu. Mana wajahnya yang kemarin indah itu? Bisakah engkau membawanya kekantor pagi
ini? Bisakah engkau membagi keceriaan itu kepada teman-temanmu hari ini. Besok. Lusa dan sisa-sisa hari ditahun ini? Ini tantang baru untukmu ditahun baru loh. Sederhana saja, bukan? Anda ditantang untuk membawa segenap antusiasme, keceriaaan, dan kegembiraan yang telah Anda tunjukkan dimalam tahun baru itu ke kantor Anda selama tahun ini. Bisakah? Ayolah. Kemarin Anda bisa melakukannya. Maka Anda pasti bisa melakukannya juga dalam keseharian kerja dikantor Anda disepanjang tahun yang baru ini. Karena Anda, memiliki keberanian untuk menerima tantangan baru, bukan?
5. Perbaharuilah yang didalam, bukan luarnya saja. Tahun baru. Heboh kita selalu. This is JaNEWary, my man! Ada sesuatu yang baru didalamnya. Bukan sekedar tanggalan yang baru. Tetapi sesuatu yang benar-benar signifikan tingkat kebaruannya. Kalau hanya tanggalannya doang mah, nggak terlalu banyak maknanya dong. Mungkin hanya tampak luar saja yang baru. Tetapi, bagian terdalam pada diri kita sama sekali tidak beranjak dari tingkatan yang sama seperti dulu. This is JaNEWary, my man! Dibagian dalamnya ada something NEW. Maka didalam diri kita, itulah seharusnya yang diutamakan untuk menjadi baru. Bukan bagian luarnya saja. Didalam diri kita, itulah yang seharusnya dipenuhi oleh sesuatu yang benar-benar baru. Mungkin semangat baru. Mungkin tekad baru. Mungkin rencana-rencana tindakan yang baru. Perayaan tahun baru kemarin itu tidak lebih dari sekedar cangkang. Terompet. Petasan. Dan kembang api. Hanya cangkang. Nggak melakukan itupun nggak akan
menjadi kerugian besar bagi Anda. Percayalah, jika malam tahun baru kemarin Anda tidur pun; hidup Anda tidak akan terpengaruh banyak. Kenapa? Karena perayaan tahun baru itu memang hanya cangkang. Hanya 'Ja' dan 'ary'. Perhatikan: 'Ja' dan 'Ary'. Adakah kedua kata itu memiliki arti penting bagi Anda? Saya tidak. Tapi lihatlah jika didalamnya ada kata "NEW". Tanpa 'Ja' dan 'Ary' sekalipun dia tetap memiliki arti 'baru'. Kita bisa menjadi manusia baru tanpa tergantung kepada komponen lain, loh. Tapi tanpa 'NEW' itu? Hmmh. Tidak akan pernah ada hal baru dalam hidup kita. Seindah apapun lingkungan diluar diri kita – cangkang – kalau didalam diri kita tidak ada sesuatu yang 'NEW', kita tetap saja akan menjadi pribadi lama ditahun yang baru. Tetapi jika didalam diri kita sudah ada 'NEW' itu, maka kita bisa memberi makna kepada segala hal yang ada di sekita kita. So, perbaharuilah yang ada didalam diri kita. Bukan
luarnya saja.
Setiap kali memasuki tahun baru, kita merasakan semangat yang begitu menggebu-gebu. Namun, beberapa hari sesudah itu; suasana tahun baru seolah sedemikian cepatnya menjadi layu. Itu terjadi karena kita tidak memiliki sesuatu yang benar-benar baru selain tanggalan baru. Kita, bisa melestarikan semangat dan nuansa baru itu selama 365 hari penuh jika dan hanya jika kita memiliki HAL BARU yang benar-benar layak untuk diperjuankan dalam hidup. Tanpa itu, tahun baru tidak memiliki makna apa-apa. Oleh karena itu, saya sudah memutuskan untuk menjadikan JaNEWary ini moment yang istimewa bagi saya pribadi. Karena di JaNEWary ini Insya Allah saya akan rilis buku terbaru saya "Natural Intelligence Leadership". Dengannya saya siap untuk membuat 365 hari di 2012 ini terus menerus menjadi hari baru. Sekarang izinkan saya bertanya kepada Anda; hal baru apa yang sudah Anda rancang di JaNEWary ini?
Hore Hari Baru!
DEKA - Dadang Kadarusman – 2 JaNEWary 2012
Trainer of Natural Intelligence Leadership Training
Penulis buku"Natural Intelligence Leadership"(Tahap finishing di penerbit)
Catatan Kaki:
Tahun baru hanya akan menjadi milik mereka yang berhasil menjadikan dirinya sebagai pribadi yang baru.
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya.
Tentang Dadang Kadarusman
~ Spesialisasi training di bidang: NATURAL INTELLIGENCE dan penerapannya dalam LEADERSHIP, PERSONNEL DEVELOPMENT dan PERSONAL EXCELLENCE ~ (Phone: 0812 19899 737 – www.dadangkadarusman.com )
Follow DK on Twitter @dangkadarusman
- 3.
-
Re: [Lonceng - I SK] Minggu Depan Aku Kawin.. InsyaAllah :D (Yuk Sah
Posted by: "Yuli Rachmawati" rahma_lee2011@yahoo.com rahma_lee2011
Wed Feb 1, 2012 8:05 pm (PST)
Barakallahulaka wabaraka'alaika........
alhamdulillah selamat ya Mbak Nia, semoga berkah, pernikahannya langgeng sampai anak-cucu-cicit-cocot-cucut (istilah apalagi yak?) dan semoga aye segera menyusul (ntah dengan siapa, ada yang daftar? wkekekek... )
maaf mbak, rahma hanya bisa doa dari sini, blm mampu untuk datang langsung ke bogor.
sekali lagi selamat yak
Salam
Rahma Lee U
08573.2112.909
- 4a.
-
Novel pertamaku "Balada 13 Pembantu Rumah Tangga" sdh display di Gra
Posted by: "+ Made Teddy Artiana +" made.t.artiana@gmail.com
Wed Feb 1, 2012 8:05 pm (PST)
Guys..
First of all..selamat tahun baru 2012..
semoga tahun ini membawa berkah bagi kita semua :)
Untuk teman-teman yang menanyakan buku ku..hehehe,
ternyata buku pertamaku "Balada 13 Pembantu Rumah Tangga (yang pernah
bekerja di rumah kami) sudah display di Gramedia ;)
cover buku ada di attachment
Nah silakan bagi mereka yg penasaran..untuk langsung mengunjungi Gramedia
warm regards,
MTA
Nb. Mohon maaf bagi Sang Pemberi Endorsement,
buku baru bisa dikirim minggu-minggu ini..terimakasih :)
- 4b.
-
Re: Novel pertamaku "Balada 13 Pembantu Rumah Tangga" sdh display di
Posted by: "Sismanto" sirilwafa@gmail.com siril_wafa
Wed Feb 1, 2012 8:42 pm (PST)
Wowww....
Selamat ya . .
jadi pingin punya bukunya ..
Salam,
Sis
2012/1/2 + Made Teddy Artiana + <made.t.artiana@gmail.com >
> **
>
>
> Guys..
>
> First of all..selamat tahun baru 2012..
> semoga tahun ini membawa berkah bagi kita semua :)
>
> Untuk teman-teman yang menanyakan buku ku..hehehe,
> ternyata buku pertamaku "Balada 13 Pembantu Rumah Tangga (yang pernah
> bekerja di rumah kami) sudah display di Gramedia ;)
> cover buku ada di attachment
>
> Nah silakan bagi mereka yg penasaran..untuk langsung mengunjungi Gramedia
>
> warm regards,
> MTA
>
> Nb. Mohon maaf bagi Sang Pemberi Endorsement,
> buku baru bisa dikirim minggu-minggu ini..terimakasih :)
>
>
- 5.
-
Artikel – Atasan Yang Buruk, Harus Digimanain?
Posted by: "Dadang Kadarusman" dkadarusman@yahoo.com dkadarusman
Wed Feb 1, 2012 8:13 pm (PST)
Artikel – Atasan Yang Buruk, Harus Digimanain?
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
Catatan Kepala:"Jika memiliki atasan yang buruk, kita bisa memilih untuk mengeluhkannya atau menjadikannya pelajaran berharga bagi pengembangan kualitas pribadi kita."
Sejauh yang saya ketahui, banyak orang yang kesal kepada atasannya. Ada yang kesal tanpa alasan yang valid. Namun, ada juga orang yang kesal kepada atasannya dengan alasan yang tidak cukup berbobot. Banyak orang yang mengeluhkan tentang atasannya karena memang atasannya tidak cukup mampu menjadi panutan yang layak untuk diteladani. Tetapi, banyak juga orang yang justru mengeluhkan atasannya yang sebetulnya memiliki kualitas kepemimpinan bagus. Namun, sang atasan bertekad untuk melakukan perubahan sehingga banyak 'kenikmatan' yang selama ini dirasakan oleh bawahan mulai terusik. Walhasil, sebaik apapun atasan tersebut, bawahannya tetap saja menilainya buruk. Bagaimana Anda menilai atasan Anda sendiri?
Saya tidak hendak mempermasalahkan apakah alasan seseorang kecewa pada atasannya valid atau tidak. Namun, sebagai orang yang pernah menjadi atasan, sikap terbaik saya adalah melihat kemungkinan bahwa para bawahan saya memang benar ketika melihat saya sebagai atasan yang memiliki kelemahan mendasar. Dan, sebagai orang yang pernah menjadi bawahan; sikap terbaik saya adalah menyadari bahwa boleh jadi bukan atasan saya yang lemah, melainkan saya sendirilah sebagai bawahannya yang belum mampu menguatkan posisinya. Sebagai bawahan, saya memang berkewajiban untuk mengerahkan seluruh kemampuan profesional saya untuk memperkuat kualitas kepemimpinan atasan saya. Sebab, sehebat apapun kemampuan kepemimpinan seorang atasan, jika anak buahnya memble seperti saya, maka kepemimpinannya tidak akan efektif. Jika pun benar atasan kita tidak bagus, kita bisa memilih untuk mengeluhkannya atau menjadikannya pelajaran berharga untuk mengembangkan kualitas diri kita. Saya
memilih untuk menjadikannya ibroh atau pelajaran.Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar menarik pelajaran dari kualitas kepemimpinan atasan, saya ajak memulainya dengan memahami 5 sudut pandang Natural Intelligence (NatIn™) berikut ini:
1. Bagaimanapun juga atasan adalah guru bagi kita. "Puih, siapa yang mau berguru kepada orang seperti itu!" mungkin Anda bisa berkilah begitu. Memang, jika kita sudah antipati terhadap seseorang, sangat sulit untuk merendahkan hati kepadanya. Apalagi jika harus berguru. Menurut saya sebaliknya. Jika Anda merasa atau menilai bahwa atasan Anda itu tidak bagus – apapun bentuk tidak bagusnya – maka beliau bisa menjadi guru yang sangat baik bagi Anda. Bagaiman bisa? Bisa. Perhatikan seluruh aspek yang Anda nilai buruk dari beliau. Dan jadikanlah itu sebagai pelecut bagi diri Anda sendiri agar jangan sampai Anda miliki kelemahan serupa itu. Yang sering terjadi adalah; orang-orang yang doyan mengkritik orang lain, padahal ternyata dia sendiri begitu. Jika Anda bisa menemukan kelemahan atasan Anda, maka Anda harus belajar dari kelemahan atasan itu agar Anda tidak memiliki kelemahan yang sama. Jika Anda tidak bisa menarik pelajaran darinya,
maka Anda hanya akan menjadi pemimpin yang sama tidak bagusnya dikemudian hari. Jika Anda menyepelekan atasan Anda hari ini, maka sangat wajar jika kelak; Anda akan lebih dilecehkan lagi oleh bawahan Anda. Maka agar hal itu tidak terjadi, belajarlah kepada atasan Anda. Dan jadikanlah dia guru terbaik untuk membangun kualitas seorang pemimpin yang lebih baik, didalam diri Anda.
2. Berikan ruang untuk kelemahan manusiawi. Diantara kesalahan dan kelemahan yang dimiliki oleh atasan kita terdapat hal-hal yang sifatnya manusiawi. Misalnya, atasan kita itu ewuh pakewuh. Maka dalam mengambil keputusan terlampau banyak pertimbangan. Dan terkesan lamban. Atau sebaliknya, atasan kita adalah orang yang sangat lugas dan to the point. Dia berbicara tanpa deteng aling-aling. Terkesan mengesampingkan perasaan orang lain. Kasar. Dan menuntut terlampau banyak. Kedua situasi ini berkaitan dengan karakter pribadi yang berbeda. Sama halnya dengan kita yang mungkin terlalu banyak pertimbangan atau sebaliknya terlampau blak-blakan. Kita perlu memberi ruang kepada perbedaan karakter seperti itu melalui kesediaan untuk memaklumi orang lain. Dengan cara itu, kita bisa lebih mampu beradaptasi terhadap 'gaya memimpin dan kepribaidian' atasan kita. Apa gunanya buat kita? Oh, banyak sekali. Misalnya, kita akan selalu cocok dengan jenis
pemimpin macam manapun yang menjadi atasan kita. Selain itu, kita tidak akan pernah merasa tertekan atau kecewa selama bekerjasama dengan atasan kita. Bukankah nikmat sekali jika kita bisa bekerja tanpa ada ganjalan dihati? Sekarang Anda tahu bahwa kedamaian dalam hati itu sudah merupakan reward tersendiri. Atasan Anda tidak jahat. Hanya berbeda ciri kepribadiannya dengan Anda. Maka berilah ruang pada kelemahan manusiawi, jika atasan Anda memiliki kelemahan itu. Dan Anda, akan mendapatkan banyak manfaatnya.
3. Menjadi tandem nomor wahid. Atasan kita bukanlah pribadi yang bisa dituntut untuk serba sempurna dihadapan kita. Jika ada yang kurang padanya, kitalah yang berkewajiban untuk melengkapinya. Salah satu hal yang sering dikeluhkan bawahan adalah; kemampuan teknis atasan yang kalah dari anak buahnya. Kadang kita menyebutnya sebagai 'anak kemarin sore' atau 'anak bawang yang tidak tahu apa-apa'. Hey, fungsi atasan Anda itu bukanlah untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan teknis seperti Anda. Maka keterampilan kerja Anda yang lebih tinggi dari dirinya sama sekali bukanlah isyu besar. Tugas atasan Anda sebagai leader adalah untuk mengelola proses kerja dan membuat keseluruhan proses itu sinkron satu sama lain. Dan hal itu, tidak selalu berkaitan langsung dengan keterampilan teknis. Bahkan sekalipun atasan Anda memiliki pengalaman yang sama baiknya dengan Anda, mungkin usia mereka sudah tidak memungkinkan lagi untuk bergerak segesit Anda. Maka
menghakimi atasan karena kelemahan keterampilan teknisnya jelas merupakan sebuah kesewenang-wenangan yang mencampakkan fitrah kita sebagai manusia. Keberadaan kita sebagai bawahan adalah untuk menjadi tandem yang tangguh baginya. So do your part, and your superior does his own. Setiap orang memiliki fungsi dan perannya masing-masing dalam pekerjaan. Dan jika kita semua menjalankan fungsi dan tanggungjawab masing-masing dengan kualitas terbaik, maka kita akan saling menguatkan satu sama lain. Maka jadilah tandem nomor wahid bagi atasan Anda. Dan Anda akan merasakan hasilnya.
4. Belajar terbalik dari perilaku buruk. Tidak perlu menutup mata dengan kenyataan bahwa memang benar, ada atasan yang perilakunya buruk sekali. Melemparkan tanggungjawab kepada bawahan. Menjadikan orang lain sebagai kambing hitam. Mencari muka kepada atasannya yang lebih tinggi. Ada pula yang melanggar etika kerja, bahkan berani melakukan tindakan asusila. Hal pertama yang wajib Anda lakukan jika memiliki atasan buruk seperti ini adalah; pastikan bahwa Anda tidak melakukan keburukan yang sama. Setelah itu, fahamilah bahwa perilaku buruknya sama sekali tidak ada hubungannya dengan statusnya sebagai atasan. Jika orangnya memang senang dengan perbuatan nista, tidak peduli punya jabatan atau tidak; tentu dia akan melakukan perbuatan tercela itu. Berikutnya apa yang harus Anda lakukan? Ini tidak kalah pentingnya, yaitu; belajarlah secara terbalik dari perilaku buruknya. Maksudnya? Anda jadikan perilaku buruk orang itu sebagai ibroh atau pelajaran
untuk kita hindarkan. Ingatlah selalu betapa buruknya citra orang itu sebagai seorang atasan karena keburukan perilakunya. Sekarang bayangkan jika Anda mempunyai perilaku buruk seperti dirinya; bukankah justru Anda sendirilah yang dinilai buruk? Maka jika atasan Anda memang benar-benar berperilaku buruk; belajarlah secara terbalik kepadanya dengan cara terus berusaha untuk menjadikan diri Anda sebagai seorang pribadi yang baik.
5. Tuhan selalu mengirim orang yang tepat untuk kita. Di sebuah perusahaan multinasional, sekelompok orang menginginkan Presiden Direktur expatriate segera diganti. Banyak orang yang merasa gerah dengan gaya memimpin orang itu. Ndilalah. Kantor pusat menggantinya dengan orang lain. Lebih baikkah orang yang menggantikannya? Bergantung bagaimana cara orang-orang itu melihatnya. Awalnya dinilai baik. Lama kelamaan orang-orang menyebutnya sebagai 'Mr. Line By Line'. Mereka pun kembali berharap segera terjadi rolling kepemimpinan. Tak lama kemudian, diganti lagi oleh seseorang yang lain. Ketika pemimpin baru yang 'dikirim' oleh boss besar di kantor pusat itu datang, semua orang gembira dan memuji-mujinya. Namun lama kelamaan, orang-orang mengeluhkannya sebagai pribadi yang kasar. Tidak berperasaan. Dan sangat menuntut. Saya lama merenungkan hal itu. Ternyata hal itu terjadi hampir di semua organisasi dan perusahaan. Kemudian saya menemukan
bahwa satu-satunya pemimpin yang akan disukai oleh semua orang adalah; seseorang yang mau mengikuti apapun yang diinginkan oleh bawahannya. Dan jika hal itu terjadi, semua orang yang dipimpinnya akan senang. Namun sebagai seorang profesional, saya melihat bencana nyata bagi kelangsungan hidup perusahaan. Penelusuran dan rasa ingin tahu saya akhirnya bermuara kepada kenyataan bahwa; kita sering lupa jika Tuhan selalu mengirimkan orang yang tepat untuk berinteraksi dengan kita. Kita sering keliru memahami isyaratNya. Padahal, jika percaya bahwa semua orang yang berhubungan dengan kita adalah dengan 'seizin' Tuhan, maka kita akan memahami bahwa ada pelajaran berharga yang bisa kita dapatkan dari interaksi dengan siapapun yang menjadi atasan kita. Demi kebaikan diri kita sendiri.
Ada begitu banyak agenda yang harus diselesaikan oleh orang yang menduduki jabatan lebih tinggi dari kita. Orang itu mungkin memiliki kelemahan. Mungkin juga kitalah yang keliru memahaminya. Apapun itu, bisa menjadikan kita sebagai pribadi yang jauh lebih baik. Jika memang atasan kita itu tidak bagus, maka kita bisa menjadikan kehadirannya sebagai pelajaran terbaik untuk melatih diri kita agar bisa menjadi pribadi yang lebih baik dari dirinya. Namun, jika kita yang selama ini keliru menilainya; maka kita bisa segera memperbaiki cara pandang kita kepadanya. Dengan cara itu, siapapun atasan Anda. Dan bagaimanapun caranya memimpin Anda. Tentu akan selalu membawa hikmah tertinggi bagi Anda pribadi. Bisa? Bisa.
Mari Berbagi Semangat!
DEKA - Dadang Kadarusman – 5 JaNEWary 2012
Trainer of Natural Intelligence Leadership Training
Penulis buku"Natural Intelligence Leadership"(Baru selesai cetak di penerbit)
Catatan Kaki:
Kemampuan mengambil pelajaran dari baik atau buruknya perilaku atasan merupakan modal penting untuk menjadikan kita pemimpin masa depan yang lebih baik.
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya.
Tentang Dadang Kadarusman
~ Spesialisasi training di bidang: NATURAL INTELLIGENCE dan penerapannya dalam LEADERSHIP, PERSONNEL DEVELOPMENT dan PERSONAL EXCELLENCE ~ (Phone: 0812 19899 737 – www.dadangkadarusman.com )
Follow DK on Twitter @dangkadarusman
- 6.
-
Artikel – Mana Hasil Jerih Payah Inih?
Posted by: "Dadang Kadarusman" dkadarusman@yahoo.com dkadarusman
Wed Feb 1, 2012 8:15 pm (PST)
Artikel – Mana Hasil Jerih Payah Inih?
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
Catatan Kepala:"Orang yang menjadikan uang sebagai alat ukur utama keberhasilan sering terkecoh oleh tampak luar sehingga gampang menyerah atau lupa diri."
Kita sering menjadikan uang sebagai ukuran utama keberhasilan seseorang. Jika uangnya banyak, maka seseorang layak dinilai sukses. Jika uangnya sedikit, maka tak ada cukup alasan untuk menyebutnya sebagai pribadi yang berhasil. Demikian pula halnya dengan pertumbuhan pribadi kita yang sering diukur dengan takaran yang sama, yaitu; berapa banyak uang yang berhasil kita kumpulkan. Tidak heran jika kita sering merasa gagal kala melihat betapa sedikitnya uang yang kita miliki. Anda tidak perlu khawatir kalau-kalau saya menganjurkan hidup sederhana. Anda juga tidak usah takut saya akan mempengaruhi Anda untuk menjadi orang miskin. Tidak. Bahkan, saya pribadi pun ingin sekali menjadi orang kaya raya dengan kepemilikan melimpah, kok. Kita punya keinginan yang sama. Tetapi, ketika sedang berproses untuk mewujudkan cita-cita itu, kita sering disiksa oleh perasaan negatif, hanya karena melihat kenyataan bahwa setelah semua jerih payah ini – uang kita tidak
kunjung banyak. Percayalah, ada alat ukur lain yang dapat menentukan apakah usaha Anda sudah membuahkan hasil atau tidak. Dan Anda, tidak perlu menyiksa diri dengan pertanyaan; mana hasil jerih payah inih?
Setelah pensiun dari profesinya sebagai guru, Ayah saya menjadi petani sepenuhnya. Ketika pulang kampung bulan lalu, Ayah menunjukkan kebun mentimun yang baru saja ditanamnya. Dua helai daun mungil muncul dari biji benihnya. Pekan lalu, Ibu saya bertanya kapan saya pulang. Mentimunnya sudah dipanen, katanya. Bagi saya, pertani merupakan salah satu guru terbaik untuk belajar tentang kehidupan. Dari para petani, kita bisa belajar bagaimana proses menghasilkan sesuatu berlangsung. Orang-orang 'kota' seperti kita sering diburu oleh keinginan untuk menghasilkan segala sesuatu secara instan. Hari ini berusaha, hari ini harus ada hasilnya. Jika hari ini tidak mendapatkan apa yang kita inginkan maka kita buru-buru mengambil kesimpulan bahwa kita sudah gagal. Lalu kita tinggalkan semua yang sudah kita mulai itu dengan perasaan kesal. Para petani tidak begitu. Semua petani tahu, bahwa untuk menghasilkan sesuatu yang diinginkan tidak ada cara instan. Ada
serangkaian proses yang harus dilalui, yaitu; menanam, memelihara, dan barulah memanen. Para petani membantu saya menyadari betapa banyaknya prinsip hidup modern kita yang keliru sehingga hari-hari kita dipenuhi dengan tekanan batin yang bisa membuat depresi. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar memahami makna hidup dari para petani, saya ajak memulainya dengan memahami 5 sudut pandang Natural Intelligence (NatIn™) berikut ini:
1. Mengatur fokus perhatian. Diantara system nilai petani yang layak kita tiru adalah mereka percaya bahwa; buah adalah ekses dari kualitas tetumbuhan yang ditanamnya. Saya ulang; 'Buah adalah ekses dari kualitas tetumbuhan yang ditanamnya." Jika ingin mendapatkan buah yang banyak, maka para petani sadar bahwa yang harus mereka lakukan adalah menanam benih yang baik, dan merawatnya dengan cara yang baik. Dengan prinsip yang sama, kita bisa mengembangkan kepercayaan bahwa; "uang adalah ekses dari kinerja yang kita berikan". Saya ulang; "uang adalah ekses dari kinerja yang kita berikan". Hasil akhir yang diharapkan petani adalah buah. Tetapi mereka tidak mengejar buah, melainkan membaguskan tanaman yang dirawatnya. Begitu pula halnya dengan kita. Uang adalah hasil akhir yang kita ingin dapatkan. Maka berguru kepada petani itu; seyogyanya kita tidak mengejar uang. Melainkan membaguskan kinerja dan kontribusi yang bisa kita berikan.
Petani paham betul bahwa terlampau memfokuskan diri kepada buah bisa membuat mereka lupa untuk merawat tanamannya. Sebaliknya, memfokuskan diri kepada tanaman, justru bisa memberinya buah dengan kualitas terbaik, dan kuantitas yang melimpah. Maka, meskipun tujuan kita adalah untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya, mari kita arahkan fokus kita kepada yang seharusnya. Fokuslah pada upaya merawat pohonnya, maka buahnya akan kita dapatkan.
2. Pertumbuhan diri adalah ciri utama keberhasilan. Sejak pertama kali menanam bibit mentimun itu, Ayah membutuhkan waktu sekitar satu setengah bulan hingga buahnya bisa dipanen. Di hari ketiga atau kesepuluh Ayah tidak pernah mengeluh; mengapa tanaman ini belum juga menghasilkan buah? Karena seorang petani sadar bahwa keberhasilan usahanya tidak diukur dari buah semata. Melainkan dari pertumbuhan yang diperlihatkan oleh tanamannya. Kita mengeluh jika belum juga menghasilkan uang. Padalah wujud keberhasilan usaha kita tidak semata diukur oleh uang. Lihatlah apakah pengetahuan Anda meningkat? Periksalah apakah keterampilan Anda bertambah? Jika ya, maka Anda tidak boleh berkecil hati. Usaha Anda sudah berhasil. Tapi mengapa tidak juga datang uangnya? Hey, lihatlah para petani itu. Mereka tahu bahwa saatnya panen belum lagi tiba. Sekarang adalah saat untuk menumbuhkan. Membesarkan. Dan membaguskan. Kita juga harus faham bahwa saat 'memetik
hasil' dari segala jerih payah kita belum tiba. Bahkan ketika mentimun itu sudah mulai berbuah. Ayah tidak tergesa-gesa memetiknya. Ditunggunya beberapa hari lagi. Sampai buahnya matang sempurna. Kita sering terburu-buru ingin sesegera mungkin mendapatkan keuntungan dan uang melimpah. Para petani itu mengingatkan kita bahwa; ada saat yang tepat untuk memetik hasil terbaik. Lebih dari itu, mereka mengingatkan kita bahwa keberhasilan tidak semata-mata ditandai dengan bertambahnya jumlah uang yang kita miliki, melainkan pada kualitas diri kita yang bertambah tinggi. Itulah makna dari pertumbuhan diri. Dan pertumbuhan itulah yang menjadi indikasi utama, apakah kita berhasil atau tidak.
3. Memberi kontribusi kepada lingkungan. Fokus kepada penanaman dan perawatan untuk menghasilkan pertumbuhan yang baik; itulah yang dilakukan oleh para petani. Pertanyaan saya, pernahkan Anda memperhatikan bagaimana petani memberi pupuk kepada tanaman agar bisa tumbuh dengan subur? Unik sekali. Petani tidak pernah menyuapi tanamannya dengan pupuk itu. Pakai sendok. Lalu memasukkannya kedalam mulut. Tidak. Alih-alih memberikan pupuk itu kepada tanamannya, para petani justru menebarkan pupuk itu ke permukaan tanah disekeliling tanaman itu. Lho, siapa sesungguhnya yang diberi 'pakan' oleh sang petani? Anda benar. Petani itu memberikan 'pakan' kepada tanah hingga menjadikannya gembur dan subur. Tidakkah ini isyarat yang demikian jelas bahwa; jika Anda ingin 'tanaman' milik Anda itu tumbuh baik maka Anda harus berkontribusi kepada lingkungan tempat tumbuhnya tanaman itu? Jika Anda ingin mendapatkan buah yang banyak, berilah pupuk kepada
lingkungan sekitar pohon itu. Jika Anda ingin menghasilkan uang banyak, berilah kontribusi lebih banyak kepada lingkungan atau tempat kerja Anda. Kira-kira begitulah maknanya. Kita ingin sekali untuk menghasilkan uang yang banyak. Gaji yang besar. Bonus yang melimpah. Tapi, kita enggan untuk memberikan 'pupuk' terbaik agar perusahaan bisa 'subur dan gembur'. Itu ibarat petani yang ingin tanamannya berbuah banyak tetapi tidak mau menebarkan pupuk kepada tanah disekitarnya. Mana mungkin pohon itu akan berbuah banyak jika tanah disekitarnya dibiarkan merana? Mana mungkin menghasilkan uang banyak jika kontribusi kita kepada lingkungan sangat rendah? Mana mungkin mendapatkan imbalan banyak jika kinerja yang kita persembahkan kepada perusahaan hanya sekedar alakadarnya? Berilah pupuk kepada tanah. Maka tanaman Anda akan berbuah melimpah. Berilah kontribusi kepada lingkungan. Maka Anda akan mendapatkan keberlimpahan.
4. Terus menebarkan benih yang baru. Sebelum menanam ketimun itu, saya tahu persis jika kebun Ayah ditanami buah pare. Sebelumnya ada terong. Atau kacang panjang. Para petani sadar bahwa tidak ada tanaman penghasil buah yang akan abadi. Maka sebelum tanaman yang satu berhenti berbuah, mereka sudah bersiap-siap untuk menebar bibit benih tanaman yang lainnya. Kita sering mengira bahwa apa yang menghasilkan hari ini, akan menghasilkan selamanya. Makanya, kita terus saja berkutat dengan apa yang biasanya kita lakukan. Tidak begitu cara para petani bersikap. Tindakan, standard kerja, kualifikasi keahlian atau apapun yang hari ini bisa menempatkan Anda sebegai pribadi yang unggul – mungkin sudah tidak akan bisa lagi bersaing beberapa tahun kemudian. Oleh karena itulah makanya kita butuh terus menerus 'menanam' benih baru. Apakah benih pengetahuan yang baru. Keterampilan baru. Perilaku baru. Atau apapun yang bisa membantu kita untuk selalu
berada digaris terdepan. Karena hanya dengan cara terus menerus menanam bibit yang baru itulah, kita akan selalu menghasilkan sesuai dengan yang kita inginkan. Para petani, mengajarkan untuk tidak pernah berhenti berkarya dan berbuat. Tidak ada kata berakhir. Makanya, kita tidak pernah mendengar ada petani yang pensiun. Orang modern seperti kita sering dihantui oleh kata 'pensiun'. Di usia 55, kita mendapatkan uang banyak sekaligus. Setelah itu kita bingung mau ngapain. Petani, tidak pernah mengalami itu. Karena mereka tahu, bahwa roda kehidupan tidak pernah sedetik pun berhenti. Sehingga kita, wajib untuk terus bergerak. Berbuat. Dan berkarya. Kakek saya – ayahnya ayah saya – wafat di tengah sawah. Ketika beliau sedang bekerja merawat tanaman-tanamannya. Kakek saya telah memberi teladan kepada cucunya, bahwa selama hayat dikandung badan; tidak ada kata berhenti dari menghasilkan karya-karya terbaru. Sampai kapan? Sampai sang pemilik hidup
memanggil kita.
5. Cara terhormat untuk mendapatkan buah. Kebun Ayah hanya dipisahkan pematang sawah selebar 20 centimeter dari kebun milik petani lain. Tidak ada pagar pemisah. Apalagi tembok yang membatasi kebun-kebun itu. Ayah bisa melihat buah dari tanaman petani lain. Bisa menjangkaunya dengan mudah. Begitu pula sebaliknya. 'Mendapatkan buah sebanyak-banyaknya adalah GOAL para petani. Tetapi, mereka tidak memetiknya dari pohon di kebun tetangganya. Mendapatkan uang sebanyak-banyaknya adalah tujuan utama kita. Pertanyaannya adalah; jika Anda memiliki akses kepada uang orang lain. Yang bisa dijangkau dengan mudah. Tidak dilindungi dinding tebal. Tidak dikunci dalam brangkas. Sanggupkah Anda untuk hanya 'memetik' uang yang tumbuh dari 'pohon' yang ada di 'wilayah' Anda sendiri? Para petani mengajarkan lebih dari sekedar cara mencapai tujuan. Mereka menunjukkan makna integritas yang sesungguhnya. Mudah untuk 'tidak mencuri', jika buah
dipohon orang lain dikelilingi oleh pagar tinggi. Tetapi, 'membiarkan' buah milik orang lain yang tidak dilindungi tetap ditempatnya merupakan tantangan tersendiri. Gampang untuk 'tidak mengambil' uang yang bukan hak kita jika uang itu dijaga ketat. Tapi, jika uang itu ada didepan mata. Dan tujuan hidup kita adalah memperoleh sebanyak mungkin uang, bisakah kita menjaga kehormatan ini? Para petani mengajarkan bahwa ada banyak cara mendapatkan buah. Namun hanya ada satu cara yang terhormat, yaitu; memetiknya dari pohon dilahan mereka sendiri. Ada banyak cara untuk mendapatkan uang yang banyak. Namun hanya ada satu cara terhormat, yaitu; mengambilnya dari kepemilikan kita sendiri.
Kita percaya bahwa Tuhan akan mencukupkan rezeki setiap mahluknya. Itulah sebabnya kita jarang sekali menemukan ada yang kelaparan. Jika itu terjadi, maka bisa dipastikan adanya intervensi. Baik dari dalam dirinya sendiri, maupun dari luar. Intervensi dari dalam diri bisa berarti orang itu yang tidak mau berusaha melakukan tindakan yang memungkinkan rezeki yang sudah Tuhan siapkan itu sampai kepada dirinya. Intervensi dari luar bisa berarti orang-orang yang lebih kuat merebut dan menguasai jatahnya. Jika Anda bisa membaca artikel saya, maka itu menunjukkan fakta bahwa – seperti halnya saya – Anda jauh lebih beruntung dari kebanyakan orang yang lainnya. Kita memiliki kekuatan, kemampuan dan kesanggupan untuk melakukan lebih banyak hal daripada orang kebanyakan. Situasi aman disekitar kita juga menjamin minimalnya intervensi dari luar. Bukankah kita jarang sekali menemukan orang yang memeras kita? Mengambil hak kita secara paksa? Atau memotong gaji
kita secara semena-mena? Masalahnya adalah; apakah kita sudah bisa membebaskan diri dari intervensi yang datang salam diri kita sendiri? Yaitu intervensi yang memaksa kita untuk tidak melakukan tindakan yang perlu kita lakukan agar semua rezeki yang Tuhan berikan untuk kita itu benar-benar berhasil kita dapatkan. Para petani itu sudah menunjukkan pelajaran terpentingnya.
Mari Berbagi Semangat!
DEKA - Dadang Kadarusman – 9 JaNEWary 2012
Trainer of Natural Intelligence Leadership Training
Penulis buku"Natural Intelligence Leadership"(Baru selesai cetak di penerbit)
Catatan Kaki:
Keberhasilan kita diukur dari pertumbuhan yang berhasil kita raih setiap hari, bukan dari uang yang berhasil kita kumpulkan.
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya.
Tentang Buku Natural Intelligence Leadership
Buku ini membahas tentang konstruksi ilmiah Natural Intelligence. Cocok bagi siapapun yang ingin lebih memahami fundamental ilmu yang relatif belum banyak dikenal ini. Didalamnya tidak hanya dibahas tentang teori, melainkan juga aplikasinya dalam berbagai aspek kehidupan. Baik kehidupan pribadi. Berkeluarga. Maupun menjalankan fungsi kepemimpinan. Informasi lebih janjut bisa didapatkan di www.dadangkadarusman.com.
Tentang Dadang Kadarusman
~ Spesialisasi training di bidang: NATURAL INTELLIGENCE dan penerapannya dalam LEADERSHIP, PERSONNEL DEVELOPMENT dan PERSONAL EXCELLENCE ~ (Phone: 0812 19899 737 – www.dadangkadarusman.com )
Follow DK on Twitter @dangkadarusman
- 7.
-
Art-Living Sos 2012 (A-1 Penjual Mainan
Posted by: "Ietje Guntur" ietje_gun76@yahoo.com ietje_gun76
Wed Feb 1, 2012 8:27 pm (PST)
Dear
Allz.....
Hallloooooow.....teman dan sahabatku tersayang... Apakabaaarr. ...???
Lagi ngapain niiiihhh ??? hehehe...Sebelumnya saya mengucapkan Selamat Tahun
Baru 2012, ya....Eeeh, belum kelamaan khaaan ? Masih cukup segaar kok...hmmh...
Semoga
di tahun ini lebih banyak berkah yang kita terima...lebih banyak kesempatan
bagi kita untuk saling peduli, saling berbagi, saling menyayangi...sehingga
hidup kita yang tidak tahu berapa lama kontraknya ini dapat lebih bermakna...
Saya
yakin, beberapa di antara teman dan sahabat tersayang sudah memiliki resolusi
dan rencana untuk tahun ini. Ada yang resolusi mengenai bisnis, karier,
kehidupan keluarga, kehidupan pribadi, maupun kehidupan sosial dalam arti yang
lebih luas. Tidak sekedar gaul, tapi juga gaul yang bermakna...gaul yang
bermanfaat.
Betuuuull...kadang
kita karena begitu ingin disebut gaul, maka kita bergaul tanpa arah. Seperti
orang hanyut di sungai, tidak bisa berenang, jadi asal terbawa arus. Ini bisa
berbahaya. Itu sebabnya walau pun kita bergaul seperti orang tercebur di
sungai, tetapi seyogyanya kita mempersiapkan diri dulu...mau gaul yang seperti
apa ? Mau bermakna seperti apa ? Kata orang tua jaman dulu, jangan sampai salah
gaul. Bukan hanya kurang bermanfaat, tapi kadang kita pun tidak nyaman dengan
lingkungan pergaulan yang bukan menjadi bagian dari diri kita.
Lhaa...baru
awal tahun...sudah mulai deeeh...cerewet soal gaul-gaulan ini...hehehe...Saya
sendiri tidak membatasi dunia pergaulan saya, sepanjang tadi...ada manfaatnya
untuk saya. Dalam arti juga, pergaulan itu harus memberi nilai tambah bagi saya
terutama dalam pengembangan diri dan memotivasi hidup saya. Barangkali itu juga
sebabnya, tanpa saya sadar, saya punya sahabat-sahabat pergaulan yang membuat hidup saya lebih kaya makna.
Salah satu diantaranya adalah penjual mainan. Ini terbersit begitu saja dari
sebuah perjalanan saya di pagi hari...yang melontarkan saya ke masa silam dan
hari ini...
Ide
memang bisa datang di mana saja, dan dari mana saja. Jadi hari ini...di awal
tahun ini...saya ingin berbagi tentang sahabat saya...Kakek Penjual
Mainan...Semoga berkenan....
Jakarta,
9 Januari 2012
Salam persahabatan,
Ietje
S. Guntur
♥♥
Art-Living Sos 2012 (A-1
Senin, 09 Januari 2012
Start : 09/01/2012 10:32:20
Finish : 09/01/2012 12:02:23
PENJUAL MAINAN
Pagi-pagi. Dalam perjalanan ke tempat tugas.
Seperti biasa saya suka melihat keadaan di sepanjang perjalanan, di kiri kanan
jalan. Melihat ketergesaan pagi. Yang meriah. Yang macet. Yang srudak-sruduk
dengan kendaaraannya. Dengan berbagai tingkah polah yang menunjukkan dasar
berperilaku para pengguna jalan. Kadang ada yang lucu. Kadang ada yang
menjengkelkan. Kadang ada yang mengagetkan bila tiba-tiba memintas, memotong
jalan...aachh...
Tiba-tiba kendaraaan di depan saya berhenti.
Diikuti oleh beberapa kendaraan lain. Ada apa gerangan ? Bukankah belum
waktunya berhenti di lampu pengatur lalu lintas ?
Dari balik kendaraan yang berada di depan saya,
ternyata ada sebuah sepeda yang berusaha untuk menyeberang. Bukan sepeda biasa.
Seorang bapak tua membawa keranjang berisi bola-bola plastik, mainan anak-anak,
dan beberapa barang lagi yang bergantungan di keranjang di belakangnya . Ia
akan menuju ke sebuah sekolah yang berada di sisi lain jalan itu. Ohlala...Saya
tertegun. Memperhatikan si Bapak tua yang telah tiba di seberang jalan, dan
kemudian memarkir sepedanya di bawah pohon.
Sejenak ingatan saya melayang. Jauh ke masa kecil.
Jaman sekolah dasar.
♥
Di depan sekolah saya, di luar pagar, hampir
selalu ada penjual mainan yang mangkal dengan keranjang atau kotak kayu dan
pikulannya. Ada penjual mainan yang
masih agak muda, saya memanggilnya Abang Mainan. Dan ada seorang lagi yang agak
tua, dan saya memanggilnya Kakek Mainan.
Si Abang dan si Kakek Mainan ini biasanya datang
pada jam menjelang pulang sekolah kelas I dan II, atau jam istirahat kedua bagi
kelas III hingga kelas VI. Kadang-kadang mereka juga datang di pagi hari,
sebelum jam pelajaran dimulai. Pada jam-jam sebelum belajar, atau jeda di
antara jam pulang sekolah, kami memang boleh ke luar dari halaman. Tentu saja
tidak boleh lama-lama, karena sekolah kami cukup ketat peraturannya. Jaman itu
belum ada kantin sekolah, sehingga kami harus jajan di luar pagar. Jajan dan
keluar, termasuk melihat penjual mainan yang berjejal dengan penjual gula tarik
atau gulali , es potong, sate kerang, tiwul, gorengan, brondong jagung warna
merah jambu dan pecal sayuran pakai bihun goreng.
Bila si Abang menjual mainan yang agak mahal dan modern, maka si Kakek menjual
mainan yang murah meriah dan kadang ada juga permainan tradisional. Saya lebih suka duduk dan nongkrong di dekat
tempat si Kakek, karena dia bisa memainkan beberapa permainan tradisional dari mainan
yang dijajakannya. Ada mainan yang dibuat dari bambu, kayu, kertas, tanah liat
atau gerabah. Bahkan dia menjual ketapel dan benang layangan juga...hehehe...Selain
itu dia juga menjual mainan yang tidak basi sepanjang jaman, yaitu kelereng dan
bola karet serta bola plastik.
Walaupun saya hampir tidak pernah membeli mainan
dari si Kakek, karena keterbatasan uang jajan masa itu...hiiikss...tapi saya
tetap suka nongkrong memperhatikan si Kakek menjajakan mainan sambil
menceritakan cara menggunakan permainan itu. Saya paling suka kalau ia
memainkan boneka kertas yang mirip wayang. Dengan keahliannya ia bercerita
sambil menggerak-gerakkan tangan dan kaki boneka kertas itu. Kadang-kadang
cerita dan gerakan bonekanya sangat lucu, sehingga kami tertawa
tergelak-gelak. Anak-anak yang memiliki
uang akan tertarik, dan membeli boneka kertas lalu mencoba memainkannya
sendiri.
Hampir setiap hari saya dan beberapa teman akan
nongkrong di tempat penjual mainan itu. Karena sekolah kami dulu memisahkan
anak laki-laki dengan anak perempuan, maka hak monopoli untuk nongkrong di
depan Kakek penjual mainan itu jatuh pada orang yang pertama datang. Saya
termasuk yang rajin datang ke sekolah,
dan rajin nongkrong di depan Kakek penjual mainan...hehe...Jadi tidak heran,
kalau saya pun jadi sering ribut dengan anak laki-laki yang ingin juga menonton
pertunjukan boneka kertas dari si Kakek Mainan. Tidak jarang kami dimarahi oleh
guru, karena terlalu asyik nongkrong di pinggir jalan. Tapi dasar namanya
anak-anak, hari ini ingat dan patuh, besoknya sudah lupa . Dan nongkrong
lagi....hahahaha...
Bagi saya sendiri, dan barangkali juga bagi
anak-anak yang lain, kehadiran si Kakek Mainan ini tak sekedar menjual mainan.
Kadang, bila tidak ada anak yang membeli, atau sambil menunggu jemputan, kami
ngobrol dengan si Kakek. Semua pengalaman hari itu kami ceritakan kepada si Kakek.
Tidak jarang pula ia menasehati kami dengan kata-kata yang sederhana, kadang
diseling dengan cerita dan dongeng yang diselipkan diantara permainan boneka
kertasnya. Kalau sehari atau dua hari si Kakek tidak muncul, kami merasa
kehilangan. Selain kehilangan tempat nongkrong, kami juga kehilangan orang yang
dapat berbicara dalam bahasa anak-anak, seseorang dengan siapa kami bebas menjadi
diri sendiri. Sungguh, suatu rasa sayang yang tumbuh dari sebuah kepercayaan.
♥
Jaman berganti. Kini giliran anak saya yang masuk
sekolah dasar. Saya pikir, di jaman yang serba modern dan serba canggih seperti
sekarang, tidak ada lagi penjual mainan di sekolah-sekolah. Tapi ternyata saya
salah !
Penjual mainan dengan sepeda dan sebuah kotak di
bangku belakangnya tetap mewarnai dunia sekolah di tempat anak saya menuntut
ilmu. Saya perhatikan, mainan yang dibawa oleh penjual mainan itu, dan anehnya
juga seorang bapak tua – mirip Kakek Mainan di sekolah saya dulu , juga tidak berbeda
jauh dengan jaman saya dulu. Ada kelereng, bola karet dan plastik , kertas
gambar yang sedang populer, kertas gambar yang bisa dilempar-lempar mirip
kartu, gambar tempel, stiker, mainan berbentuk boneka dari plastik, boneka
kertas – yang gambarnya berbentuk tokoh kartun, hiasan meja, keramik, dan
pernak-pernik untuk boneka. Dan anehnya, kadang-kadang ada juga yang menjual anak ayam yang sudah
dicat warna-warni, atau burung pipit dan gelatik yang biasanya ada di sawah.
Dan...seperti jaman saya sekolah dulu, anak-anak
usia SD ini pun dengan gembira dan wajah yang penuh rasa ingin tahu selalu
merubung bapak tua penjual mainan ini. Barangkali, dari semua pedagang di
lingkungan sekolah ini penjual mainan adalah orang yang paling ditunggu dan
paling sering dikerubuti oleh anak-anak. Bila mereka punya uang, mereka akan
membeli satu mainan yang disukai. Namun bila sedang tak punya uang, mereka
tetap bisa bergembira menikmati pajangan mainan yang ada di kotak belakang
sepeda itu, sambil sesekali meraba dan merasakan keinginan untuk memiliki
kegembiraan yang dipancarkan oleh mainan-mainan itu.
Kadang, di antara kerumunan itu terdengar
suara-suara polos dan lugu seperti ini," Pak, ini mainan apa ? Harganya berapa
? "
" Eeeh...lucu, ya...Boleh pegang, Pak ?"
" Uang saya kurang, boleh besok sisanya, Pak ?"
" Iiiih...kamu jangan pegang yang ini, aku sudah
pesan dari kemaren !"
Lalu ada suara bisik-bisik ," Kalau kita patungan
beli mainannya , gimana ? Nanti kita gantian mainnya."
" Aaah...tapi nanti siapa yang duluan main ?
Uangku Cuma segini. Belum buat jajan."
" Ya, udah...kamu belakangan aja. Kan uang kamu
Cuma sedikit !"
" Iya, deeeh..."
" Paaaaakkkk...paaaakkkk. ..mau beli mainannya dong
!"
Uang berpindah tangan. Si Bapak Tua tersenyum
dengan gigi yang setengah ompong. Mainan yang tadi dibeli dengan patungan
dibawa pergi. Tiga anak keluar dari kerumunan, dengan wajah berseri-seri.
Diikuti dengan pandangan iri oleh teman-teman lain yang belum punya kesempatan
untuk membeli . Hanya sebentar mainan itu dipermainkan oleh tiga anak yang
asyik bersama-sama . Tidak lama, mainan patungan itu sudah berpindah tangan
lagi. Tawa-tawa silih berganti . Semua anak bisa menikmati, walaupun belum
memiliki.
♥
Sambil meneruskan perjalanan, saya merenung.
Bapak tua penjual mainan. Dari jaman ke jaman,
masih mewarnai dunia anak-anak. Mereka berjalan dari satu gang ke gang yang
lain. Dari satu sekolah ke sekolah yang lain. Membawa mainan yang murah meriah
dan kadang tidak ada di toko. Mainan sederhana, kadang buatan sendiri, seperti
terompet dan boneka kertas, tapi mampu menggugah rasa penasaran dan kegembiraan
anak-anak.
Saya ingat, anak saya pernah mengorbankan uang
jajannya yang sangat sedikit untuk membeli mainan gambar serial dan sebuah
pajangan dari kulit kerang untuk diberikan kepada saya. Sungguh membuat saya
terharu. Ia, dan penjual mainan di sekolah, telah mengantarkan kegembiraan dan
kebahagiaan ke dalam hati saya.
Ketika dunia sekitar kita sudah hiruk pikuk dengan
segala target dan materialisme, ternyata ada cara sederhana untuk menikmati
kegembiraan dan kebahagiaan. Walaupun hanya menjajakan mainan sederhana, tapi
penjual mainan telah berjasa mengantarkan kegembiraan ke banyak hati anak-anak
di berbagai tempat di dunia ini. Dan suatu saat, kegembiraan dan kebahagiaan
anak-anak ini akan membawa mereka ke dunia dewasa. Kenangan akan kebahagiaan
itu membuat mereka juga lebih bijaksana dan lebih memahami dunia.
Barangkali kita bisa belajar dari penjual mainan...Tidak
banyak yang mereka lakukan, tapi setiap hari ada satu atau dua orang anak yang
tersenyum, ada satu dua anak yang memiliki harapan, ada satu dua anak yang
memiliki cita-cita sederhana untuk menggembirakan orang lain... Dia memberi
kegembiraan dan mengisi ruang hati anak-anak dengan kebahagiaan dan kepedulian.
Konon...membuat orang lain bergembira dan berbahagia adalah ladang pahala bagi
kita...Semoga kita mampu melakukannya...walau dengan cara yang sangat
sederhana...
Jakarta, 9 Januari 2012
Salam sayang,
Ietje S. Guntur
Special
note :
Terima kasih kepada Kakek Mainan di SD Medan dulu....berkat
Kakek, saya jadi suka main boneka dan bersandiwara dengan boneka-boneka itu.
Saya pernah juga membeli mainan ikan-ikanan dari bahan mirip lilin, ketika saya
potong, ternyata dalamnya kosong...hahaha...Sungguh pengalaman yang inspiratif,
dan membuat saya bahagia hingga hari ini...:)...Terima kasih juga untuk
teman-teman SD-ku yang suka nongkrong beramai-ramai di penjual mainan...Terima
kasih sudah mengisi masa kanak-kanak kita dengan kegembiraan yang sederhana...I
love U allz...
♥
Need to Reply?
Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Individual | Switch format to Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
Tidak ada komentar:
Posting Komentar