Messages In This Digest (1 Message)
- 1.
- Terapi Trauma Berumah Tangga From: rahmad nurdin
Message
- 1.
-
Terapi Trauma Berumah Tangga
Posted by: "rahmad nurdin" rahmad.aceh@gmail.com rahmadsyah_tcc
Wed Feb 8, 2012 9:13 pm (PST)
*Masa lalu yang telah terlewati merupakan kenangan. Masa depan adalah
misteri rahasia sang pencipta. Dan hari ini, hadiah terindah dari-Nya.*
Meski kita menyadari, hari yang telah kita lewati, tidak dapat kita ubah.
Dan waktu yang telah kita lalui, tidak bisa kita rencanakan kembali.
Bahkan, kita sangat-sangat menyadari, bahwa hari ini sangat berbeda dengan
kemarin. Apalagi hari esok yang belum pasti kejelasannya. Tetapi, otak kita
memiliki sistem berpikir. Tidak ada perbedaan antara masa lalu dan masa
depan. Semuanya adalah sekarang. Sehingga, bagi mereka yang mempunyai
peristiwa yang kurang menyenangkan di masa lalu. Seolah-olah kejadian itu
masih terus terjadi hingga saat ini. Demikian pula dengan shahabat kita
yang dihatui oleh ketakutan akan masa depan. Seakan-akan itu telah terjadi
sekarang.
*Trauma berumah tangga*
Seperti yang dialami seorang teman. Katakan saja namanya, Suci, 25 tahun.
Dia bekerja di sebuah perusahaan klinik gigi swasta yang melayani
pasien-pasiennya. Suci hijrah ke Jakarta semenjak dia lulus SMA. Dia anak
kedua dari tiga bersaudara. Suci baru satu tahun menikah (2010). Namun,
selama menjalani rumah tangga bersama dengan suami pilihannya sendiri. Suci
setiap hari dipenuhi dengan rasa takut yang amat mendalam. Dia khawatir dan
cemas. Rumah tanggannya akan bernasib seperti orang tua dan kakak nya.
Orang tuanya bercerai pada saat dia berusia 10 tahun. Menurutnya, sebelum
perceraian terjadi, dia mendapat perlakuan kasar dari Ayahnya. Demikian
pula dengan ibu nya. Sehingga, kasih sayang orang tua, terutama ayah. Tidak
dia dapatkan sebagaimana layaknya seperti orang lain. Kakak dan adiknya pun
juga demikian. Lalu, setelah bercerai, ibunya menikah lagi. Tapi itupun
tidak bertahan lama. Berakhir dengan perceraian lagi.
Suci takut, itu juga akan terjadi pada rumah tangganya. Lebih parahnya
lagi, Suci bukan hanya cemas keluarganya akan usai. Tetapi, bila dia
mempunyai anak, dia takut anaknya akan mengalami hal serupa seperti
dirinya. Yang menguatkan perasaan mencekan dirinya itu, apalagi setelah
mendengar ucapan dari atasan nya. Sosok yang mempunyai otoritas besar
(tinggi) bagi Suci. Sang atasan mengatakan, "*Biasanya, anak-anak dari
keluarga, ayah dan ibu nya bercerai (broken home). Maka, keluarga anak
tersebut akan demikian juga*".
Perkataan itu terbayang-bayang dalam ingatan Suci. Dia berpikir, kalimat
sang atasan benar. Karena kakaknya menikah hanya bertahan dua tahun. Lalu
berakhir dengan perceraian. Jiwanya bergejolak, takut, cemas, khawatir,
perasaan tidak bisa menerima kehidupan. Terkadang dia bertanya. Kenapa dia
harus menerima ujian seberat ini? Suci menceritakan pengalamannya tersebut,
sambil menangis saat konsultasi kepada saya.
*Proses terapi*
Setelah selesai dia mengungkapkan kegelisahannya. Sebagaimana biasa setiap
melakukan sesi *therapy*. Pertanyaan pertama yang sangat sering saya ajukan
dan tak pernah lupa. "*Jadi, apa yang kamu mau sekarang? Dari peristiwa
hidup yang telah kamu alami, kamu ingin menyikapinya seperti apa?*" Suci
diam sejenak. Kemudian dia menarik nafas "*Saya mau lepas dari perasaan
takut dan cemas ini. Juga, bisa menerima kenyataan. Kemudian, saya berharap
bisa menjalani rumah tangga saya dengan tenang bersama suami saya*".
Lalu saya mempersiapkan tiga buah kursi untuk proses terapi. Karena, saya
membantunya dengan menggunakan tehnik *Perceptual Position*. Alasan saya
menggunakan cara ini membantunya, sebab saya sedang menguji tehnik tersebut
cocok untuk apa saja? Selain itu, supaya tehnik ini melekat dan saya kuasai
sampai *unconscius competence*. Kalau saya mengistilahkannya, supaya "*klik*".
Ini kebiasaan saya dalam mempelajari dan mempraktekkan NLP. Sebelum satu
tehnik benar-benar saya dapatkan "*Klik*"nya, saya tidak menggunakan tehnik
lain.
*Langkah-langkah Terapi*
Sambil saya menceritakan pengalaman menterapi teman saya Suci. Anda boleh
juga melakukannya, dengan mengikuti langkah-lankah yang saya terapkan
kepada Suci.
*Pertama*
* *
Seperti yang saya katakan sebelumnya. Saya mempersiapkan tiga buah kursi.
Kemudian, saya menentukan urutan no pada setiap kursi. Sambil menjelaskan
kepada Suci, posisi 1, 2 dan tiga. Juga, supaya dia mengikuti intruksi dan
arahan yang saya berikan.
*Kedua*
* *
Saya mengajak Suci untuk duduk di posisi no 1. Dengan intruksi "*Suci, di
tempat yang kamu duduk sekarang ini. Mari Suci ingat dan merasakan
peristiwa yang pernah suci alami. Sampai Suci benar-benar bisa melihat
dengan jelas gambar, suara dan apapun yang Suci rasakan*". Saya diam
sejenak memberi kesempatan kepada nya untuk mengakses memorinya. "*Kalau
memang sudah, boleh menberitahu saya dengan cara apapun*". Saya melihat
signal anggukkan kepala.
*Ketiga*
* *
Saya mengajak Suci berpindah ke posisi ke no 2. Dengan intruksi "*Baik, di
posisi ke dua ini. Sekarang, kamu bisa melihat dengan jelas. Dengan
membayangkan sosok Suci duduk di posisi 1. Perhatikan saja, abaikan
penasaran, biarkan saja dirimu mengamati. Kamu lihat saja, kira-kira Suci
lagi ngapain. Lihat cara dia duduk. Perhatikan ekspresinya*". Saya melihat
dia memantau dari bawah sampai atas. Juga sesekali menganguk dengan sangat
pelan.
*Keempat*
* *
Saya mempersilahkan Suci berpindah ke posisi ke no 3. Dengan intruksi "*Oke,
di posisi ke tiga ini. Sekarang Anda bisa memperhatikan dua orang di posisi
1 dan 2. Menurut Anda mereka lagi ngapain? Apa yang sedang mereka lakukan?*"
Sesekali dia menatap posisi 1 kemudian menoleh ke 2. "*Menurut Anda,
setelah memperhatikan orang di posisi 1 dan mendengar cerita yang dia
sampaikan kepada orang di posisi ke 2. Apa saran yang cocok dan tepat Anda
berikan kepada nya?*"
Saya diam memberi jeda sejenak, supaya Suci mengakses intruksi saya. "*Atau
boleh juga, Menurut Anda, pemikiran seperti apa yang tepat dan bijak orang
pertama sikapi terhadap yang dia alami. Anda bisa membantunya dengan
menjelaskan, apa maksud Tuhan mengizinkan peristiwa itu kepadanya. Karena
pada dasarnya, tidak ada kejadian sekecil apapun, kecuali demi kebaikan
manusia. Dan supaya orang di posisi 1, bisa menerima kenyataan dan bisa
tenang dan nyaman, sekarang*".
*Kelima*
* *
Setelah Suci memberi isyarat dari posisi ke 3, bahwa dia sudah mendapatkan
insight nya. Lalu saya melanjutkan dengan arahan. "*Sekarang, Anda
sampaikan kepada orang di posisi ke 2, ide yang Anda miliki. Bisikan saja
kepadanya, persis di telinganya, supaya dia bisa memberitahukan kepada
orang posisi ke 1*." Suci menghadap ke posisi ke 2. Dan membisikan
kepadanya, sambil tangan dia letakkan samping pipinya seperti orang
berbisik.
*Keenam*
* *
Saya meminta Suci berpindah kembali ke posisi ke 2. Dengan arahan "*Bagus
sekali. Barusan, kamu sudah mendengar bisikan dari orang posisi ke 3. Bila
belum jelas boleh kamu minta dia mengulanginya sekali lagi. Lalu, kamu
sampaikan semua ide dan pemikiran yang kamu punya sekarang kepada orang di
posisi ke 1. Supaya dia bisa menerima kenyataan, tenang dan nyaman*". Saya
izinkan proses itu terjadi, sampai Suci memberi kode.
*Ketujuh*
* *
Saya mempersilahkan Suci kembali ke posisi ke 1. "*Bagus sekali. Suci duduk
dan resapi. Menurut Suci, apa hikmah dibalik peristiwa yang Suci alami semua
*?" Dia tersenyum. "*Oke* *Mas, I feel better now*". Saya mengulurkan
tangan untuk salaman "*Bagus, selamat. Jadi sekarang kamu bisa menerima
masa lalu dan merasa tenang dan nyaman untuk menjalani rumah tanggamu?*". "*
Ya*" jawabnya dengan tegas.
*Hasil terapi*
Expresi wajahnya telah berubah. Dan akhir sesi konseling itupun sesuai
dengan harapannya. Sehingga, hari ini menjadi hari penuh bahagia dan
hadiah. Hari esok merupakan misteri yang patut disambut sebagai
kejutan-kejutan indah. Sementara masa lalu, adalah pembelajaran.
Dan tahukah Anda, apa insight yang Suci dapatkan dari proses terapi di
atas. Dia menberitahu "*Saya bersyukur dengan peristiwa yang telah saya
alami mas. Karena berkat kejadian ini, saya menjadi sangat tahu apa yang
dibutuhkan oleh anak. Saya mengerti emosi seorang anak. Dan tatkala saya
menjadi orang tua nanti. Saya tidak akan mengizinkan, apa yang telah saya
alami terjadi kepada anak saya. Yang sangat pasti, saya menyayangi
anak-anak dan akan sangat bisa memahami nya nanti. Saya bersyukur dan
berterima kasih atas peristiwa masa lalu saya*".
*Pejelasan Tehnik*
Mungkin Anda menyadari, selama proses terapi dengan *Perceptual
Position*di atas. Saya hanya melakukan intruksi-intruksi kecil saja.
Bisa dikatakan,
penemuan insight solusi, klien sendiri yang melakukannya. Sementara saya
hanya membantu menjadi fasilitator. Dan memang benar, kalau saya hanya
menjadi fasilitator. Itulah asyiknya tehnik ini. Tetapi, bila Anda lebih
teliti lagi, Sebenarnya sayalah yang mengarahkan setiap langkah proses di
atas. Dan penemuan insight pun, therapist juga memiliki andilnya.
Sebelumnya, ingin saya jelaskan secara singkat. *Perceptual position*, inti
dan tujuan dari tehnik ini, supaya klien bisa keluar dari masalahnya. Atau
dia mampu melihat persoalannya dari sudut pandang yang berbeda. Dalam kelas
training, sering saya jelaskan seperti pertandingan sepak bola. Pasti
sangat berbeda emosi yang Anda alami, bila menjadi pemain, menjadi penonton
di lapangan, dan menjadi penonton di rumah lewat layar kaca TV Anda.
*Boleh lebih dari 3 kursi?*
Demikian pula dengan setiap posisi yang kita lakukan di atas. Mungkin Anda
bertanya lebih dari 3 apakah boleh? Jawabannya sangat-sangat boleh. Karena
posisi hanya cara supaya yang bersangkutan bisa mencapai tujuannya. Yaitu
keluar dari masalahnya. Selain dari perpindahan posisi, saya menguatkan
untuk membantu klien dengan perbedaan sebutan, *Suci* di posisi ke 1, *Kamu
*posisi ke 2. Dan *Anda* di posisi ke 3. Boleh Anda mengulang membaca
intruksi yang saya sampaikan di atas.
Akhirnya, selamat mempraktekkan, semoga berhasil.
Ciganjur, Sabtu 14 Januari 2012
*Mari bersilaturahim, follow @mind_therapist*
--
Rahmadsyah Mind-Therapist
*www.terapinlp.com* I* 081511448147* I *YM; rahmad_aceh* I *FB :
rahmadnlp@yahoo.co.id *
Need to Reply?
Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Individual | Switch format to Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
Tidak ada komentar:
Posting Komentar