<
http://2.bp.blogspot.com/--BvmJ9Sxt1Y/TeMxqojPISI/AAAAAAAACAQ/aSYacJNXdNM/s1600/transformasi.jpg>
*"(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap
apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap
apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang
sombong lagi membanggakan diri, (yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh
manusia berbuat kikir. Dan barangsiapa yang berpaling (dari
perintah-perintah Allah) maka sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Kaya lagi
Maha Terpuji."*
(QS-57:23-24)
*"Ketika kita lahir, kita menangis kencang dan bukan langsung bermain catur
."*
-Ikhwan Sopa-
*"Pikiran mengkreasi rasa, dan rasa mempengaruhi pikiran."*
-Ikhwan Sopa-
*"Feeling bad is a good thing. Negative feelings mean you're going the wrong
way."*
-Steve Pavlina-
Dear all, note ini adalah bagian ketiga dari dua tulisan sebelumnya. Setelah
note ini, kita akan bersama-sama masuk ke wilayah seni alias art alias
skill, yaitu dengan melakukan "putting it together" dalam kehidupan nyata.
Ini bisa kita lakukan dalam bentuk diskusi, studi kasus, atau tanya jawab,
sehingga kita dapat sama-sama belajar tentang "*Manajemen Pikiran Dan
Perasaan*".
Kali ini, kita akan memasuki "*Manajemen Perasaan*". Sebelum itu, saya akan
ringkaskan terlebih dahulu note dan sharing saya sebelumnya, tentang
"*Manajemen
Pikiran*".
1. Pentingnya *Me-Reset Polarisasi Pikiran*
http://blog.qacomm.com/2011/05/praktisi-non-sertifikasi-manajemen.html 2. Bagaimana *Mengkreasi Polarisasi Pikiran*
http://blog.qacomm.com/2011/05/praktisi-non-sertifikasi-manajemen_26.html 3. Bagaimana Melakukan *Life Edit* alias *Mengoreksi Sejarah Kehidupan*
Anak buku (pdf) yang bisa didownload di:
http://pikiranperasaan.org 4. Bagaimana *Mengkreasi Makna-Makna Kehidupan*
Audio Talkshow (mp3) yang bisa didengar di:
http://pikiranperasaan.org 5. Bagaimana *Pikiran Mempengaruhi Perasaan*
http://blog.qacomm.com/2011/05/bagaimana-pikiran-mempengaruhi-perasaan.html Dan sekarang,
6. Bagaimana Melakukan "*Manajemen Perasaan*"
Secara sederhana, kita dapat mengatakan bahwa perasaan adalah *bahasa
pikiran* yang sudah sampai ke *dunia fisik*. Dari sinilah, kita dapat
mengatakan bahwa "*pikiran mengkreasi perasaan*". Maka, apa yang berikutnya
berlangsung adalah "*perasaan yang mengarahkan pikiran*".
"*Pikiran*" adalah proses kreatif, yang dengan demikian kita dapat
mengatakan bahwa "*pikiran dapat dikreasi*". Maka jika "*perasaan adalah
hasil kreasi dari pikiran*", kita juga dapat mengatakan, bahwa dalam konteks
*manusia dewasa*, yang memahami segala proses dalam poin 1 sampai dengan 5
di atas, "*perasaan juga dapat dikreasi*" alias kita dapat mengatakan
tentang adanya "*Manajemen Perasaan*".
Dalam pemahaman tentang keberadaan *siklus* "*pikiran mengkreasi perasaan
dan perasaan mengarahkan pikiran*", kita menemukan dua hal yang sangat
mendasar, yaitu:
*Pikiran Mengkreasi Rasa Adalah Proses Aktif*
Bahwasanya pikiran diposisikan sebagai *sebab* bagi adanya perasaan.
Artinya, proses kreasi ini adalah sebentuk proses kreasi yang aktif
sifatnya. Dengan kata lain, proses kreasi ini perlu ditempatkan sebagai
proses yang berjalan di *tingkat kesadaran*. Dalam kenyataannya, kita sering
lupa sehingga proses berpikir menjadi kebiasaan-kebiasaan berpikir yang
membangun *pola-pola pikir*. Apa yang perlu kita lakukan, adalah secara
konsisten menyadari segala proses pikiran ini.
*Perasaan Mengarahkan Pikiran Adalah Proses Reaktif*
Awalnya, perasaan muncul seolah "tanpa dipikirkan terlebih dahulu". Ini
dapat terjadi karena kebiasaan berpikir dan kebiasaan merasakan yang kita
kembangkan dan berjalan di bawah tingkat kesadaran alias otomatis. Kita
tidak dapat menyalahkan sejarah alamiah kehidupan kita yang dimulai dengan
"menangis". Itu sebabnya, segala agama, ideologi, dan budaya, memberikan
permakluman dalam banyak bentuk tentang masa-masa awal dari kehidupan kita:
- Di bawah umur
- Belum akil baligh
- Masih belum berdosa
- Polos
- dan seterusnya
Pada suatu titik (mukallaf, sadar hukum, dewasa, dan sebagainya),
sesungguhnyalah semua ajaran kebaikan meminta kita untuk mulai memasuki *alam
kesadaran* tentang segala proses termasuk tentang proses "merasakan".
Itu sebabnya, kita menyebut proses "*Manajemen Perasaan*" sebagai sebuah
proses yang *reaktif* di mana *perasaan mengarahkan pikiran*. Oleh sebab
itu, apa yang penting bagi kehidupan seorang *manusia dewasa* yang telah
menetapkan *tujuan dan cita-cita* dan sekaligus berkeinginan mencapainya di
dalam waktu hidupnya yang terbatas, perlu mengembalikan proses itu ke *wilayah
kesadaran*. Alias, mengembalikan *kendali* kepada pikiran.
Ketika perasaan muncul, pertanyaan penting yang perlu dilontarkan adalah:
*- Mau dibawa kemana saya dengan perasaan ini?*
*- Hendak kemana pikiran saya diarahkan oleh perasaan ini?*
*- Adakah arah itu, akan tetap membuat saya menuju kepada tujuan dan
cita-cita saya, yang dicapai dengan sikap, keputusan, dan tindakan, yang
erat hubungannya dengan pilihan-pilihan, di mana "pilihan" adalah fenomena
pikiran?*
Tidak mudah untuk melakukan dan menjawab semua pertanyaan di atas, terlebih
lagi jika selama ini, kita terlanjur menjadikan perasaan sebagai "*sopir*"
bagi kehidupan kita. Kita tahu, "perasaan" hobinya jumpalitan. Itu sebabnya,
pada saat yang sama, kita memerlukan "*Manajemen Pikiran*" dan sekaligus
juga "*Manajemen Perasaan*", alias "*Manajemen Pikiran Dan Perasaan*".
*Sikap Awal*
Perasaan adalah *respon* terhadap pikiran, alias hasil kreasi pikiran.
Kemudian, perasaan adalah *umpan balik* bagi pikiran. Dengan demikian,
kelanjutan *idealnya* adalah pikiran yang mengkreasi perasaan, sehingga
pikiran dan perasaan bergandeng tangan melenggang menuju cita-cita dan
tujuan di dalam *siklus harmonis yang saling mempengaruhi* dan saling
menguatkan, dan bukan sebaliknya saling melemahkan.
*Perasaan tidak nyaman* adalah *sinyal*, yang mengatakan tentang adanya
kemungkinan bahwa kita tidak sedang berada di jalan dan arah menuju
cita-cita dan tujuan. Dalam bahasa sehari-hari, perasaan adalah sinyal bahwa
kita sedang *tidak mendapatkan* apa-apa yang kita inginkan.
Sebaliknya, *perasaan
nyaman atau enak*, adalah sinyal bahwa kita sedang berada di jalan dan arah
yang benar, atau kita sedang mendapatkan yang kita inginkan. Itu sebabnya,
perasaan perlu disikapi sebagai *mekanisme umpan balik* bagi pikiran.
*Note: Validitas* dari sinyal tidak nyaman atau nyaman itu, ditentukan oleh
polarisasi pikiran yang telah memilih cita-cita dan tujuan atau yang telah
menentukan apa yang kita inginkan.
Dengan kata lain, perasaan adalah sinyal bagi kita untuk menentukan tindak
lanjut berupa sikap, keputusan, dan tindakan. Sebelum ditindak lanjuti,
perasaan itu perlu *divalidasi *kesesuaiannya dengan cita-cita dan tujuan,
atau dengan keinginan.
Kita berfokus pada *perasaan tidak nyaman*, karena perasaan semacam inilah
yang sering menjadi persoalan di dalam kehidupan. Kita berlatih
memvalidasinya. Hal ini dilakukan dengan mengajukan pertanyaan-pertanya
an.
*"Saya merasa seperti ini karena saya berpikir bahwa..."*
*"Saya berpikir demikian karena sebelumnya saya merasa..."*
*"Saya merasakan itu karena saya berpikir bahwa..."*
Demikian seterusnya, hingga kita menemukan "*pikiran awal*" yang menjadi
sebab bagi perasaan kita.
Langkah berikutnya adalah memvalidasi *pikiran awal* itu tentang
kesesuaiannya dengan "*polarisasi pikiran*" yang menjadi skenario besar
tentang *tujuan* dan *cita-cita* atau *keinginan*. Validasi ini dilakukan
dengan bertanya,
*"Apakah pikiran yang demikian adalah pikiran yang sesuai dengan tujuan,
cita-cita, dan keinginan saya?"*
Sangat mungkin, *pikiran itu perlu dipikirkan ulang*, alias dikreasi ulang
menjadi bentuk-bentuk pikiran yang kita anggap menyampaikan kita ke tujuan,
cita-cita, dan keinginan. Atau bahkan, pikiran itu perlu *disingkirkan
jauh-jauh* dan *digantikan *dengan *pikiran lain* yang lebih selaras dengan
skenario besar "*polarisasi pikiran*".
Di titik ini, diri kita mulai ter-*disasosiasi *dari perasaan yang
membelenggu. Langkah selanjutnya adalah menggeser perasaan alias mengkreasi
perasaan yang baru. Ini bisa dilakukan dengan menantang diri sendiri,
*"Jika saya menindaklanjuti pikiran yang baru ini dengan bersikap...
memutuskan... dan bertindak..., maka perasaan saya akan menjadi..."*
Di titik ini, kita mengupayakan secara maksimal untuk menjadi ter-*asosiasi
*penuh ke dalam perasaan yang baru, yaitu perasaan yang selaras dengan
skenario besar "*polarisasi pikiran*". Maka setelah itu, sikap, keputusan,
dan tindakan akan menjadi lebih *mudah*, *efisien*, dan
*efektif*diimplementasikan.
Titik kritis kita ada pada konteks "*asosiasi dan disasosiasi*" ini.
Tantangan terbesar kita ada di sini. Tanpa kita menjadi ter-disasosiasi dari
perasaan yang tidak nyaman, akan sulit bagi kita untuk mengimplementasikan
sikap, keputusan, dan tindakan yang sesuai dengan skenario besar "*polarisasi
pikiran*". Dalam konteks inilah, para pakar mengungkapkan tentang "tegas",
"ekstrem", "total", "tega", "keras", "ketat", "massive", dan sebagainya.
Di akhir note ini, saya sharing kesimpulan terpentingnya, yaitu "*posisikan
dan afirmasikan perasaan sebagai umpan balik bagi pikiran*." Latihlah teknik
*W.A.I.T* alias "*What Am I Thinking*", biasakan untuk menunda sebentar
sikap, keputusan, dan tindakan yang diinspirasikan oleh perasaan.
Bagaimana hubungan semua ini dengan 35 poin keyakinan dalam buku "*Manajemen
Pikiran Dan Perasaan*"?
Kita lanjutkan lagi nanti. Insya Allah.
Semoga bermanfaat.
*Note: Note ini tidak ada dalam buku saya.*
Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
Founder, Penulis "*Manajemen Pikiran Dan
Perasaan*"<http://www.penerbitzaman.com/code.php?index=Katalog&op=tampilbuku&bid=118>