Selasa, 30 Agustus 2011

[MailPlus] Digest Number 17734

Messages In This Digest (1 Message)

1.
Lebaran From: yusuf sulistianto

Message

1.

Lebaran

Posted by: "yusuf sulistianto" ysulistianto@rocketmail.com

Mon Aug 29, 2011 7:55 pm (PDT)



Suminten ndodok ing pinggir margi
Sadeyan kupat bumbune santen
Wekdal puniko dinten Riyadi Sadaya lepat nyuwun ngapunten

Taqoballallah mina waminkum Minal 'aidzin wal faidzin.

Yusuf S & keluarga

Send From BlackBerry®Powered by 806 HDI Turbo
Recent Activity
Visit Your Group
Check out the

Y! Groups blog

Stay up to speed

on all things Groups!

Drive Traffic

Sponsored Search

can help increase

your site traffic.

Need traffic?

Drive customers

With search ads

on Yahoo!

Need to Reply?

Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.

Create New Topic | Visit Your Group on the Web
MARKETPLACE
A bad score is 596. A good idea is checking yours at freecreditscore.com.

[daarut-tauhiid] BERHARI RAYA DENGAN PEMERINTAH

 

PERBEDAAN MATHLA' ANTAR WILAYAH

Yang dimaksud dengan mathla' yaitu "saat terbitnya hilal di suatu wilayah (negara)'. Seiring dengan perjalanan bulan dan matahari, pergantian siang dan malam, sehingga menyebabkan perbedaan terbitnya hilal di masing-masing wilayah. Tidak mustahil memunculkan perbedaan, manakala hendak menentukan pelaksanaan perkara-perkara ibadah, seperti shaum, hari 'Id ataupun haji, dan aktifitas ibadah lainnya.
Bagaimanakah kita menyikapinya ? Berikut uraian singkat berkaitan dengan perbedaan masalah mathla'.
BERLAKUKAH PERBEDAAN MATHLA' HILAL?
Ada dua pendapat yang kuat untuk menjawab pertanyaan di atas. Terlepas dari itu semua, permasalahan tersebut tidak lebih seperti persoalan khilafiah lainnya. Dalam hal ini, yang memegang suatu pendapat harus saling berlapang dada dan menghormati pendapat lainnya. Di kalangan ulama, permasalahan ini sebenarnya merupakan salah satu perselisihan yang sangat panjang. Karenanya, ditulis karangan-karangan. Dan setiap madzhab berusaha memenangkan madzhabnya. [1]
Fatwa Lajnah Da'imah Lil Buhuts Ilmiah Wal Ifta menyebutkan : "Masalah perbedaan memberlakukan mathla' atau tidaknya, termasuk ke dalam permasalahan perbedaan-perbedaan pandangan, dan dalam hal ini ijtihad mengambil porsinya. Perselisihan tidak bisa dihindari bagi orang-orang yang mempunyai peran dalam ilmu dan agama, dan itu termasuk perselisihan yang diperbolehkan. Yang benar, akan memperoleh dua pahala. Yaitu pahala ijtihad dan pahala karena benar. Dan yang salah, memperoleh satu pahala, yaitu pahala ijtihad"[2]
KHILAF DALAM PEMBERLAKUAN MATHLA', BEGITU PENTINGKAH?
Berbicara tentang keafdholan dan idealnya sebuah hari raya, memang menjadi harapan semua kaum muslimin dapat berhari raya secara bersamaan. Suara takbir bergemuruh di setiap pelosok dunia Islam, sehingga syiar Islam bersinar.
Tetapi kenyataan yang terjadi adalah sebaliknya. Jangankan berangan-angan untuk menyatukan semua kaum muslimin, menyatukan mereka di setiap negeri untuk berhari raya secara bersamaan pun terasa amat sulit. Jalannya berbelit-belit. Meskipun begitu, tidak akan membuat kita berputus asa, tetapi yang seharusnya selalu diupayakan adalah langkah secara nyata.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah bekata ; "Tidak diragukan lagi, sesungguhnya puasa kaum muslimin dengan melihat hilal, atau menyempurnakan bilangan di negeri mereka tinggal. Itulah yang lebih dekat kepada zhahir dalil-dalil syari'at. Tetapi jika tidak memungkinkan, maka yang lebih dekat kepada kebenaran, yaitu yang telah kami sebutkan di atas (yaitu berpuasa dengan pemerintah,-pent). Wallahu waliyyut taufiq" [3]
Ha'iah Kibar Ulama menyimpulkan : "Hendaknya dipahami, perselisihan dalam pemasalahan ini, tidak mempunyai akibat yang perlu ditakutkan. Semenjak empat belas abad agama ini muncul, kami tidak mengetahui pernah terjadi bersatunya umat Islam dalam satu ru'yah. Maka semua anggota Ha'iah Kibar Ulama berpendapat, agar permasalahan ini dibiarkan sebagaimana biasanya, dan tidak diperkenankan untuk mengungkitnya. Setiap negeri Islam mempunyai hak ikhtiar melalui 'alim ulama negeri tersebut, dari dua pendapat yang telah disebutkan di atas, karena setiap pendapat mempunyai dalil dan sandarannya" [4]
BERHARI RAYA DENGAN PEMERINTAH
Tatkala syari'at menyeru kaum muslimin untuk bersatu dan berpegang teguh dengan tali Allah, serta melarang dari perpecahan dan perselisihan setelah datang kebenaran[5], maka "mentaati dan mematuhi pemerintah muslim menjadi salah satu landasan aqidah Salaf (Ahlus Sunnah Wal Jama'ah)". Sangat jarang sebuah kitab tidak menerangkan, mensyarah dan tidak menjelaskannya. Itu semua karena sangat pentingnya masalah ini. Sebab dengan mentaati dan mematuhi pemerintah, akan memperlancar secara bersamaan kemaslahatan agama dan dunia. Sedangkan membangkang terhadap pemerintah –baik dengan ucapan atau perbuatan- akan mengakibatkan kerusakan pada dunia dan agama.
Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata tentang para penguasa : "Mereka memegang lima urusan kita, yaitu : Jum'at, Jama'ah, Hari Raya, Menjaga Perbatasan dan Menegakkan Hukum. Demi Allah, apa yang Allah perbaiki melalui mereka, itu lebih banyak dari apa yang mereka rusak. Bagaimanapun, demi Allah, mentaati mereka suatu keharusan. Dan menyelisihi mereka merupakan perbuatan kufur" [6]
Rasulullah memerintahkan kita untuk tetap menjaga syi'ar Islam di bawah pemerintahan, sekalipun telah terjadi penyelewengan dalam sebagian pelaksanaannya. Dalam hadits yang dikeluarkan oleh Muslim dan yang lainnya, dari riwayat Abu Dzar Radhiyallahu 'anhu berkata : Telah bersabda Rasulullah.
كَيْفَ أَنْتُمْ؟ أَ,ْ قَالَ : كَيْفَ أَنْتَ إِذَاَبَقِيْتَ فِي قَوْمٍ يُؤَخِّرُوْنَ الصَّلاَةَ عَنْ وَقْتِهَا؟ قَلْتُ : مَا تَا مُرُنِي؟ فَصَلِّ الصَّلاَةِ لِوَقْتِهَا ثُمَّ إِنَّ أُقِيْمَتِ الصَّلاَةُ فَصَلِّ مَعَهُمْ، فَإِنَّهَا زِيَادَةُ خَيْرِ
"Bagaimana kalian ?" Atau "Bagaimana jika engkau tinggal di tengah kaum (dalam riwayat lain, disebutkan mereka adalah para penguasa, -pen) yang mengakhirkan shalat dari waktunya?" Aku bertanya. "Dengan apa engkau perintahkan aku?" (Jawab Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam), "Shalatlah engkau pada waktunya. Kemudian, jika shalat ditegakkan, maka shalatlah bersama mereka. Sesungguhnya hal itu menambah kebaikan" [7]
Imam Nawawi rahimahullah berkata : "Hadits ini menunjukkan anjuran untuk mengikuti penguasa pada selain maksiat, agar persatuan tidak terpecah dan tidak terjadi fitnah" [8]
Demikian juga ketika melihat Amirul Mukminin Utsman bin Affan Radhiyallahu 'anhu menyempurnakan shalatnya di Mina, Abdullah bin Mas'ud mengingkarinya, akan tetapi dia tetap shalat bersamanya. Kemudian Abdullah bin Mas'ud berkata, "Berselisih itu semuanya buruk" [9]
Dalam shahihain, dari Abdullah bin Umar, dari Nabi, bahwasanya beliau bersabda.
َلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَ الطَّاعَةُ فِيْمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ، إِلاَّ أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةِ، فَإِنْ أُمِرَ بِمَعصِيَةِ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَا عَةَ
"Hendaklah seorang muslim mendengar dan mematuhi pada perkara yang dia sukai atau tidak, kecuali dia diperintahkan berbuat maksiat, maka tidak perlu didengarkan dan dipatuhi" [10]
Dalam Syarah At-Tirmidzi, Syaikh Mubarakfuri berkata : "Jika penguasa memerintahkan dengan sesuatu yang mustahab atau mubah, (hukumnya) menjadi wajib" [11]
Berdasarkan keterangan di atas, maka hendaknya kaum muslimin berhari raya bersama pemerintahnya. Untuk memperjelas masalah ini, pembaca dapat menyimak fatwa-fatwa seputar berhari raya dengan pemerintah.
Footnote
[1]. Perkataan Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Jibrin hafizhahullah, Fatwa Ramadhan 1/152
[2]. Fatawa Ramadhan (1/114), juga (1/123)
[3]. Fatawa Ramadhan (1/143)
[4]. Fatawa Ramadhan (1/124)
[5]. Lihat Majmu' Fatawa (25/127)
[6]. Mu'amalatul Hukkam, Abdus Salam bin Barjas rahimahullah, hal. 5
[7]. Hadits dengan lafadz di atas diriwayatkan oleh Muslim, Kitab Shalat, Bab Masajid (41 no. 1.468)
[8]. Syarah Shahih Muslim (3/150)
[9]. Atsar di atas diriwayatkan oleh Abu Dawud, Kitab Manasik, Bab Ash-Shalatu bi Mina (76 no. 1.960)
[10]. HR Bukhari, Kitab Al-Ahkam, Bab As-Sam'u Wath Tha'atu Lil Imam Ma Lam Takum Ma'shiah, Fathul Bari (13/121) dan Muslim, Kitabul Imarah (3 no. 1.469)
[11]. Tuhfatul Ahwazi 95/565), Cet. As-Salafiah, Madinah

Powered by Telkomsel BlackBerry®

__._,_.___
Recent Activity:
====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
       website:  http://dtjakarta.or.id/
====================================================
MARKETPLACE
A bad score is 598. A bad idea is not checking yours, at freecreditscore.com.
.

__,_._,___

[daarut-tauhiid] Selamat Berjuang Sahabatku

 

Selamat Berjuang Sahabatku

By: M. Agus Syafii

Malam di bulan suci Ramadhan masjid nampak bermandikan cahaya. Riuh anak-anak berlarian dijalanan terdengar petasan, pedagang juga meramaikan dengan jualannya. Kumandang adzan Isya' sudah lama berlalu. Pengurus masjid mengumumkan pemasukan yang diperoleh pada malam kemaren dan juga pengumuman yang menjadi Imam sholat tarawih serta penceramah. Parmin duduk terdiam membisu dibarisan belakang tak memperdulikan apapun yang terjadi disekitarnya. Bahkan ia menggeleng kepalanya keada seorang laki-laki yang memintanya untuk mengisi shaf didepannya yang kosong. Hampir seminggu pada bulan puasa lalu Parmin tidak lagi bergairah untuk bekerja. Setiap hari dia sengaja untuk berangkat lebih siang daripada temannya. Tangannya seolah segan memakai topeng badut yang menemani selama hampir setahun. Ada sesuatu yang menyesakkan didadanya. Parmin ingin berhenti dari pekerjaannya sebagai badut keliling dari kampung ke kampung.

Saya mengenal Parmin sewaktu sholat berjamaah dimasjid. Biasa sehabis maghrib Parmin suka membaca al-Qur'an, katanya sambil menunggu adzan Isya, 'tanggung mas..' Bila mengaji bacaannya cukup bagus, saya suka mendengarkan, menurut pengakuannya dia pernah dipesantren. 'biar jelek-jelek begini aku jebolan pesantren lo mas..' tuturnya. Setahun lalu Parmin terdampar di belantara Jakarta. Ketika tertipu calo TKI yang menjanjikan dirinya memberangkat ke Arab. Berbekal dengan sedikit bahasa arab yang dipelajari di pesantren Parmin memiliki kepercayaan diri untuk menjadi TKI di Arab yang terjadi malah tertipu. Mau pulang ke kampung malu sementara Parmin tetap harus makan maka dia memilih pekerjaan jadi badut keliling. 'Aku iki iso opo to mas? Ya cuman jadi badut keliling dari kampung ke kampung.'

'Jakarta itu kejam Mas Agus..hidup disini bila malu tidak bisa makan. Aku tidak merampok, tidak mencuri, kenapa malu? Koruptor aja yang merampok uang rakyat nggak malu, aku yang cuman menjadi badut yang berjuang untuk hidup kok malu?' Begitu ucapnya berdalih dengan penuh semangat untuk membenarkan apa yang dilakukannya. Tetapi belakangan ada perubahan dalam sikapnya sejak Parmin mampir di Rumah Amalia melihat anak-anak yang sedang belajar. Terkadang bila Parmin habis pulang kerja, saya minta Parmin untuk mampir selalu menjawabnya 'malu mas sama anak-anak Amalia.'

Parmin pernah bercerita, Dikampung dirinya memiliki adik laki-laki dan perempuan. Sejak bapak dan ibunya meninggal, mereka hidup bertiga. Keinginannya pergi ke Arab ditentang oleh kedua adiknya. 'Aku sudah bosan hidup begini terus.' tukas Parmin pada adik-adiknya. 'aku pengen koyok konco-konco kae..pulang bisa bawa motor, hanphone dan barang-barang mewah sehabis pulang dari Arab.' lanjutnya. Dia ingin merubah nasib. Tapi kini sudah setahun berlalu di Jakarta, dadanya mulai disesaki penyesalan. Ternyata dia tidak menemukan apa-apa yang ada malah berlumuran dosa, katanya. 'aku ngiri ama sampeyan lo mas. Bisa ngurus anak-anak Amalia.' katanya pada suatu malam.

Setelah lebaran Parmin mengabarkan bahwa tekadnya sudah bulat mau pulang kampung saja mengurus anak-anak ngajarin ngaji. 'Mosok mau jadi badut seumur hidup? ya ndak to mas. Saya ingin melakukan apa yang diajarkan Kanjeng Nabi, Khairunnas anfa'uhum linnas, sebaik-baiknya manusia adalah yang berguna bagi orang lain.' Parmin berkemas, topeng badut, rambut palsunya, baju gombrong warna-warni telah diberikan temannya. 'Banyak hal yang bisa saya lakukan dikampung, selain jadi guru ngaji, bisa ngurus sawah ama ngurus adik-adikku Mas,' kata Parmin.

Siang panas terik, motor melaju dengan kencang. Saya mengantarkan Parmin menuju terminal bus Lebak Bulus untuk pulang kampung. Tak terasa sudah sampai. Saya hendak membelikan tiket bus namun ditolaknya. Beberapa lembar lima puluh ribuan saya sodorkan untuk tambahan tetap ditolaknya, 'mbak rika lebih membutuhkan mas..'begitu ucapnya. Airmata tak terasa mengalir begitu saja seolah kehilangan saudara. Parmin memeluk saya, mengucapkan terima kasih telah menyadarkan dirinya untuk tidak menyerah pada kehidupan. "Matur nuwun mas..aku sudah banyak belajar dari mas agus, salam buat mbak Rika, Hana dan anak-anak Amalia.' Katanya. Bus tujuan ke Jawa tengah itu telah datang. Parmin berpamitan. Meninggalkan kota jakarta kembali ke kampung impiannya yang telah terwujud. 'Selamat jalan Parmin, selamat berjuang sahabatku.' ucap saya dalam hati melepas bepergiannya.

Wassalam,
M. Agus Syafii
--
Yuk, raih kebahagiaan di hari kemenangan dg hadir pada kegiatan "Hari Nan Fitri Bersama" (HANIF), Ahad, 23 Oktober 2011 Jam 9.sd 12 siang di Rumah Amalia. Bila berkenan berpartisipasi Paket sembako, baju baru untuk anak2, konsumsi, peralatan sekolah. Kirimkan ke Rumah Amalia Jl. Subagyo IV blok ii, No. 24 Komplek Peruri, Ciledug, Tangerang 15151. Dukungan & partisipasi anda sangat berarti bagi kami. Info: agussyafii@yahoo.com atau SMS 087 8777 12 431

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___
Recent Activity:
====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
       website:  http://dtjakarta.or.id/
====================================================
MARKETPLACE
A bad score is 598. A bad idea is not checking yours, at freecreditscore.com.
.

__,_._,___

[daarut-tauhiid] BerLebaran di Masjidil Haram, Mekkah.

 

 
BerLebaran di Masjidil Haram

Catatan harian terakhir di Mekkah:

Kamis malam atau 29 Ramadhan saatnya tiba untuk sholat Isya. Karena sudah telat untuk masuk kedalam masjid dan dijamin sudah penuh maka sholat dilakukan dipelataran Masjid. Dengan menggunakan kartoon bekas minuman kaleng kugelar dilantai, lalu diatasnya kugelar sajadah yang berwarna maroon.

Adzan mengumandang dilangit. Indah. Teramat melodius. Subhanallah. Ia bagai kekuatan magis yang tak ada taranya. Ia, seakan membawaku terbang ke langit sana. Seketika hening dan semua terdiam. Lamat dan pelan adzanpun usai..setiap kita mengangkat tangan, menengadah kelangit lalu diusapkan kedua tangan kewajah masing masing. Sholat Isya dimulai lalu ditutup dengan ucapan: Assalamulaikum.

Kami menanti. Di setiap jiwa bertanya-tanya, masihkah kita bertarawih malam itu? Lalu pertanyaa ini terlontar kejiran disebelah kita. Semua menjawab' Allahu 'alam, tak tahu' sambil menggerakan kedua tangan mereka. Tak satupun yang tahu. Tak lama suara mengumandang panggilan untuk sholat janazah. Kamipun berdiri takbir 3 kali, melepas sang jenazah yang pulang ke rumahNya. Usai. Kami duduk kembali…sambil selonjoran kami menanti panggilan atau azan selanjutnya untuk bertarawih (barangkali).

Dalam penantian, hati mulai mulai menaruh , syak, penuh curiga. Ah, jangan- jangan tak ada tarawih lagi, jangan-jangan besok Hari Raya. Menit berlalu..maklumat tidak kami dengar. Tak lama suara suara terdengar ' La tarawih ...La tarawih? ..Eid Mubarak! Ucap salah satu jama'ah, akhirnya kami bersorak. Jama'ah nampak bersuka ria dan tersenyum lebar. Aku sedikit agak kecewa karena ku masi mengharap bisa mendengar doa Qunutnya Shaykh Sudais.

Tak ayal merekapun buyar. Aku segera berlari kejalan mendahului mereka agar tidak terjepit oleh arus ratusan ribu jama'ah yang mencari jalan pulang. Mulailah suara klakson motor dan mobil bersahutan. Jalan yang bernama Jabal Al Ka'bah Street kugapai. Aku terus berjalan setengah berlari. Sampailah dihotel. Cuma 5 menit dari masjidil haram.

Pegawai hotel senyum menyambutku 'Eid mubarak sister..! akupun senyum balik. 'To you too Eid Mubarak, brothers! kataku. 'rememeber when you pray Fajr (subuh) stay in Masjid for Sholatul Eid, ok? otherwise you will never find space for Eid praying..' sarannya. Aku mengangguk dan berterima kasih atas sarannya.

Dengan segala rasa lega kulempar situbuh, kurebahkan diri untuk res sambil menyejukkan tubuh yang kepanasan oleh temperatur Mekkah yang alama panasnya. Dua rasa membaur antara bagia dan duka. 'Oh, Ramadhan engkau berlalu terlalu cepat' aku menarik napas dalam.

Hiruk pikuk suara klakson dan trafik serta teriakan pengatur lalu lintas diluar hotel sudah lagi tak kupedulikan. Suara-suara itu bahkan membuatku tidur. Kini aku harus berhitung waktu dan jam untuk kembali ke masjid untuk sholat subuh dan Eid.

Bayangkan jam 12 malam lewat kami harus mandi untuk persiapan sholat subuh sekaligus untuk sholat Eid. Maklum kami bertiga dan kamar mandi cuma satu. Kamipun sepakat untuk mengenakan pakaian special, yakni pakaian Lebaran berwarna krem, off white...simbol kesucian, kebersihan dan kesakralan, kira-kira begitu.

Ke Masjidil Haram, shoalt Eid.

Jam 4 pagi kutinggalkan sang hotel. Setengah berlari menuju masjid. Hmm betul saja halaman Masjid sudah mulai dipenuhi oleh kerumunan manusia. Mungkin mereka tidak pernah hengkang dari masjid karena jauh pulang atau karena memang mereka ingin dapat tempat lebih awal. Mereka minap atau mabit dimasjid. Luar biasa memang.

Begitu aku mendekat ke pintu 78, seperti biasa kukeluarkan sang sajadah dari tasku, lalu kusembunyikan sang digital kamera dilapisan sajadah. Tas yang berisikan botol berisi air zam-zam, beberapa tissue, buku notes, pulpen, strepsil dan lainya mudah dilihat sambil diraba oleh si penjaga. Aku lolos. Ah kadang mereka berpura pura saja memeriksa.. Inconsistent.

Aku masuk kedalam. Ternyata masih banyak tempat. Kutemui tempat yang cukup nyaman untuk melakukkan sholat subuh. Begitu kugelar sang sajadah aku bersegera sholat sunnah masjid 2 rakaat. Itulah sebabnya aku menyukai pintu 78 ini karena langsung ke bagian wanita. Tak apalah sholat subuh dibelakang, nanti kalau selesai, aku akan maju kedepan yang lebih dekat ke Ka'bah. Begitu rencanaku.

Sholat subuh selesai aku bergegas kedalam masjid untuk bisa sholat dimesjid lebih kedepan. Berharap bisa dekat dengan Ka'bah. Ah, bagai mimpi. Tak salah lagi mereka telah memblokir atau nge-blocked kiranya. Mungkin dari kemarin malam, rupanya.

Panitia yang bercadar hitam mencoba mengatur. Teriak dan bentakan itulah bahasa satu-satunya yang kami dengar. Bahasa yang sangat UNIVERSAL.. Hemm semua ingin dekat Ka'bah, semua ingin didepan, kalau mungkin dibelakang sang Imam. Dalam hal ini tak ada toleran, belas kasih apalagi untuk share. Semua teman saudara, ibu atau adik bahkan nenek moyang sudah booking tempat untuk sholat. Begitu gerutuku. Masing-masing ingin menyelamatkan dan menyenangkan diri. Disinilah aku melihat potret Muslim, potret kemanusiawian, bukan potret Islam. Hal ini selalu kukatakan pada sahabat muallaf agar mereka menyadari ini.

Diperkirakan hari itu terkumpul sekitar 5 juta manusia. Dan pada hari itupun penduduk Saudi atau yang selalu menyebut diri mereka sebagai 'Arabia' turun ke Makkah untuk sholat di Masjidil Haram, bahkan sejak malam 27 Ramadhan merekapun ikutan mencari malam Lailatul Qadr. Aku banyak temui mereka dan sempat berbincang dengan bahas Inggris yang terbata-bata.

Sambil terus menelusuri masjid dengan sabar, Ala kulllihal, however..kudapat tempat yang cukup nyaman. Betul-betul penuh perjuangan memang. Disebelahku seorang ibu berkulit hitam dan besar, ia mengucap salam. Kubalas. Ruangan itupun ber-Ac serta lapang. (Tidak semua ruangan ber-ac lho walau kipas angin selalu ada). Segera kulakukan sholat sunnah dua raka'at. Tak lama kudengar gaung Eid Takbir. 'Allahu Akbar..Allahu Akbar, Allahu Akbar La illah ha illahllah hu waAllahu Akbar Walillah ilhmmm..Allahu Akbar walillah hi ilham dan berulang ulang.

Subhanallah..gaung Takbir betul betul membahana keudara..bergemuruh, menggelagar membelah langit. Suara mereka yang berada di dasar lantai (basemen) pun menyahut dan menyambut hingga dilantai atas masjid. Suara-suara UmatMu ya Rabb yang haus dan dahaga mengharap akan seteguk RakhmatMu agar ia dibebaskan dari panasnya Naar.

Moga dihari yang fitri ini terbilaslah semua dosa dan kesalahan kami lewat derai air mata didepan Mu'tazamMu, terampuni lewat tawaf-tawaf diseputar kubus hitam Ka'bahMu yang megah dan agung, atau lafadz dzikir kami disudut-sudut Masjidil Haram. Moga pula siraman zam-zam yang sejuk mampu menyejukkan hati yang sering terbakar panas oleh ego-ego dan nafs yang sukar dibendung. Semoga Allah membeningkan serta menjernihkan kusamnya hati untuk tetap berTauhid kepadaMu ya Rabb. (Al Shahida)

Taqabalallahu minna wa minkum, mohon maaf lahir dan batin. Semoga semua kesalahan kita diampuni ya Allah, dan semua amal ibadah kami diterima oleh Allah SWT. Amin

Mekkah, Jumat 12 Oktober 2007

By Al Shahida

LikeUnlike · Share
 ·

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___
Recent Activity:
====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
       website:  http://dtjakarta.or.id/
====================================================
.

__,_._,___

Senin, 29 Agustus 2011

[sekolah-kehidupan] Digest Number 3474

Messages In This Digest (2 Messages)

1.
Charity Adventure From: Teha Sugiyo
2.
Inspirasi: Kembali kepada Fitrah From: Teha Sugiyo

Messages

1.

Charity Adventure

Posted by: "Teha Sugiyo" kembangpring049@yahoo.co.id   kembangpring049

Sun Aug 28, 2011 10:49 am (PDT)





Charity Adventure

MATA BERBINAR-BINAR,
MULUT KOMAT KAMIT…

Oleh Teha Sugiyo

 

Sungguh, tak terkatakan rasa hati
ini ketika melakukan "perjalanan berbagi", menyerahkan bingkisan kepedulian
warga SK kepada para sasaran yang telah ditentukan: terharu, bahagia, syukur
dan speechless, melihat mata yang
berbinar-binar, mulut komat-kamit mendaraskan syukur, setiap kami menyalami penerima
setelah menyerahkan paket kasih itu kepada  orang-orang yang kami sasar.

Pada awalnya memang ada keraguan,
karena tidak sesuai dengan rencana semula. Kang Hadian harus mudik lebih awal,
sementara  Budi yang dikontak tidak
pernah nyambung. Jadilah saya memberanikan diri, kalau pun toh tidak ada orang
lain, ya harus ditangani sendiri. Beruntung saat mengontak Neng Gya,  penyusun dua buku serial  A Cup
of Tea  : for Single Mom  & for 
Complicated Relationship itu, dengan semangat 45  dia menyanggupi. Ada banyak kemudahan  di balik niat tulus.

Sehari sebelumnya, saya mengontak
Kang Hadian yang baru nyambung setelah berkali-kali, karena yang bersangkutan
juga super sibuk dengan pekerjaan di kantornya. Informasi yang diperoleh,
barang-barang yang akan dibagikan itu baru sebagian yang sudah dibeli. Beras,
terigu, gula, kecap belum sempat dibeli. Setelah saya mencoba mengecek di Toko
Griya, ternyata  kriteria yang ditentukan
tidak ada dalam persediaan. Saya kontak Kang Hadian, mendapat jawaban, boleh
juga kriteria beda asal nilainya sama. Oke. Saya lalu janjian dengan Kang
Hadian, bahwa barang-barang yang sudah dibeli disimpan di kantornya. Maka saya
berinisiatif selepas Jumatan, saya minta seorang teman untuk mengantarkan saya  ke kantornya. Sebelum sampai di Surapati Core Blok K-7, saya mampir ke
Alfamart untuk memesan barang-barang yang belum dibeli. Tepung terigu  sudah habis persediaannya di toko itu. Saya
katakan, "Tolong carikan di cabang lain dong! Siapa tahu di cabang lain masih
ada pesediaan!" Saya tahu itu karena saya pernah bekerja di toko eceran semacam
Alfamart.  Setelah Devi, sang pramuniaga
merangkap kasir itu kontak ke cabang di dekatnya, ternyata persediaan masih
ada. Langsung saya pesan: beras, tepung terigu, kecap dan gula, semuanya 10
paket. Tidak lupa saya pesan agar barang-barang itu dimasukkan ke dalam dus,
sehingga semua ada 10 dus, lalu dikirimkan ke Kantor Kang Hadian di Sucore Blok K-7.  Devi menyanggupi. Saya membayar sejumlah
harga, dan setelah menerima kuitansi pembayaran, saya meluncur ke kantor Kang
Hadian.

Beruntung, penjaga kantor Kang
Hadian, mengabarkan bahwa Kang Hadian masih rapat. "Tunggu saja sebentar lagi
mungkin selesai!" Saya menunggu. Tak sampai setengah jam Kang Hadian keluar dan
kami pun bertemu. Saya katakan bahwa barang-barang yang belum terbeli, sudah
saya pesan di Alfamart  Padasuka, dekat
kantor, dan nanti akan dikirim ke sini.  Tolong
semua disatukan dalam dus, sehingga 
besok pagi saya tinggal ambil untuk dibagikan kepada yang berhak.  Kami janjian. Jam 8 pagi keesokan harinya,
Sabtu, 27 Agustus, barang-barang itu akan saya ambil. Kang Hadian
memperkenalkan Pak Suhandi , salah seorang petugas kantornya yang besok akan
menjaga kantor, karena semua karyawan di Saga
Visi itu mudik. Kami bertukar nomor hape.

Saya meninggalkan kantor Kang
Hadian dengan rasa lega, untuk kembali ke kantor lain karena ada pesan kalau
saya masih ditunggu untuk bertemu seseorang yang akan membicarakan tentang
bisnis investasi. Saya datang untuk bincang-bincang sekitar satu jam. Lalu  saya memikirkan bagaimana besok membawa
barang-barang yang berjumlah 10 dus itu dibagikan kepada sasaran. Saya
menghubungi  sebuah rental mobil di dekat
Ruko Dynasti, ternyata semua kendaraan sudah terpakai.  Saya coba kontak rental langganan, tak ada
kabar. Tanpa beban, saya berpikir, kalau tidak dapat pinjaman mobil ya sudah
sewa angkot saja! Lalu saya janjian untk memastikan Neng Gya, bahwa besok kami
ketemu di kantor Kang Hadian jam 8 pagi.

"Pakai apa Pak," Gya meng-sms.

"Mobil!" jawab saya mantap. Meski
belum jelas mobil siapa. Percaya saja, pasti ada jalan keluar! Saya membatin.

Sekitar jam 9 malam Pak Achmad,
rental langganan saya, yang juga langganan Kang Hadian, meng-sms saya,
menanyakan keperluan saya, karena beberapa kali saya menelpon tidak dijawab.
Saya balas, kalau saya perlu mobil besok pagi untuk mengantarkan bingkisan
lebaran. Cukup setengah hari saja. Tanpa saya duga, - karena di setiap rental,
pada musim lebaran ini semua mobil sudah dibooking,
- Pak Achmad mengatakan masih ada mobil! Syukur Alhamdulillah! Puji Tuhan. Saya
katakan, baik, besok jam 7.30 saya akan ambil di kantor rental.

Sabtu, 27 Agustus jam 08.02 Gya
menelpon. "Saya sudah di Surapati Core.
Dekat pintu masuk". Saya katakan kepada Gya untuk menunggu di kantor Kang
Hadian Blok K-7. Sementara saya masih di angkot untuk ambil mobil di daerah
Antapani. Saya berusaha menghubungi Pak Suhandi, penjaga kantor Kang Hadian, tapi
tidak ada jawaban.

Turun dari angkot di Terminal
Antapani, minta tukang ojek mengantarkan saya ke rental. Mobil sudah menunggu.
"Tuh Pak, APV yang abu-abu," kata petugas di rental Pak Achmad sambil menyerahkan
kunci.

Segera saya  membuka mobil, menaruh ransel hitam, pindah ke
kursi sopir, menghidupkan mesin APV, langsung 
membawa dokar Nippon itu ke
kantor Kang Hadian. Gya dan Jejen, teman Gya sudah menunggu di depan pintu. Pak
Suhandi  nampak baru saja tiba. Setengah
kaget, saya melihat pada setiap dus bingkisan itu ditempel kertas  A4, berlogo SK  dengan tulisan "Sekolah Kehidupan Mengucapkan
Selamat Idul Fitri 1432 H. Mohon maaf lahir batin". Ide Kang Hadian yang
brilian.

Kami segera memasukkan dus
bingkisan itu ke mobil, lalu setelah pamitan dan mengucap terima kasih kepada
Pak Suhandi, kami pun berangkat. Sasarannya jelas: tukang sapu jalan, pemulung
dan penjaga pintu kereta api.  Dalam hati
saya sudah ada gambaran, kira-kira rute yang akan kami lewati dan sasarannya
justru lebih banyak penjaga pintu kereta api yang berlokasi di pinggiran kota,
yang benar-benar menjaga, karena palang pintu kereta itu sering kali tidak kedengaran
bunyi alarmnya.

Keluar dari Kompleks ruko
Surapati Core, saya membawa APV abu-abu itu ke Jalan SuciAsgar (Asal Garut), yang bukan anggota
SK, tetapi rela menemani kami. (Surapati-Cicaheum) arah ke Gedung Sate, sambil minta pendapat
Gya, yang duduk di bangku kedua. Di samping saya ada Jejen, pemuda

Di  dekat Pusdai (Islamic Center) saya belok
kiri, menyusuri jalan Supratman, lalu berbalik arah, terus ke kiri lagi arah
Jalan Citarum. Di dekat tempat praktek Dr. Anak,  Oma Rosmayudi, Gya berteriak, "Itu tuh, tukang
sapu jalanan!"  Saya lihat di sebelah
kanan jalan, ada seorang penyapu jalan sedang menarik gerobak sampah. Tanpa pikir
panjang, saya meminggirkan mobil. Gya dan Jejen keluar dari mobil, sementara
saya menunggu.  Jejen mengambil bingkisan
pertama, lalu menemui bapak tukang sapu yang ternyata  bermata satu. Gya menjepretnya lewat
hape.  Karena tanpa skenario, Gya lupa menanyakan
siapa nama bapak itu, dia cukup menyerahkan bingkisan yang saya sendiri juga
tidak mendengar apakah dia mengucapkan kata-kata standar: "Ini bingkisan dari
Sekolah Kehidupan, untuk bapak dan keluarga. Semoga bermanfaat!  Selamat Idul Fitri. Mohon maaf lahir
batin!"  Saya lihat bapak itu begitu
gembira menerima bingkisan yang tak pernah diduga itu. Gya dan Jejen kembali ke
mobil dengan hati gembira. Tugas pertama telah berhasil dilakukan dengan
sukses.

Saya kembali membawa gerobak
Jepang itu menyusuri Jalan Citarum, melewati Mesjid Istiqomah, terus lurus
menyeberangi  Jalan  Riau, arah Jalan Lombok. Di pertigaan dekat
Gudeg Banda, saya ambil arah kanan masuk ke Jalan Ambon, terus lurus menerabas
Jalan Banda arah samping Gelora Saparua. Dekat Taman Ternate, di depan pool Bis
Kramat Jati, ada beberapa tukang sampah sedang mengangkut sampah dinaikkan ke
mobil sampah.  "Mereka dari Dinas
Kebersihan Kota. Pasti mereka sudah mendapat gaji. Jadi kita tidak berikan
kepada mereka," saya berkata kepada Gya dan Jejen yang mengamini saja. Belok
kanan, Jalan Seram, lalu belok kiri Jalan Riau.

Di depan Riau Junction, Jejen dan Gya melihat ada seorang pemulung membawa
anak kecil sekitar 5 tahunan. Setelah saya meminggirkan mobil di pertigaan
Jalan Sumatra-Riau, pojok Hotel Santika, saya keluar dari mobil. Saya minta
Jejen memanggil pemulung itu ke dekat mobil, lalu saya berbicara basa-basi
kepadanya. Menanyakan nama, umur, asal dan tinggal di mana.  Namanya Rahmat, usia 41 tahun, asal dari
Banjaran, telah sekitar 3 tahun menjadi pemulung. Dua gigi depannya sudah
ompong sehingga bicaranya kurang jelas. Dia membuka karung yang berisi gelas
dan botol-botol plastik bekas. Baru sepertiga karung yang terisi. Setelah
meyakinkan diri bahwa ini orang yang tepat, saya membuka bagasi dan mengambil
satu dus bingkisan. Saya katakan, "Pak Rahmat, ini ada bingkisan dari Sekolah
Kehidupan untuk bapak. Semoga dapat bermanfaat bagi keluarga. Selamat Idul
Fitri dan mohon maaf lahir batin". Mata itu berbinar-binar. Mulutnya
komat-kamit mengucap rasa syukur. Anak yang ada di sampingya juga
berbinar-binar matanya. Jejen mengabadikan peristiwa itu. Dalam hati saya
bersyukur dapat menjadi saluran berkah bagi orang yang membutuhkan.

Kami lalu melanjutkan petulangan.
Melewati BIP, Jalan Merdeka, Kotamadya, Polwiltabes Bandung, masuk ke Jalan
Jawa terus lurus arah Gudang Utara, mencari penjaga pintu kereta. "Penjaga
pintu kereta di dalam kota, pasti sudah menerima upah, karena mereka pegawai PT
KA. Kita cari yang di pinggiran saja, yang bukan pegawai PT KA," saya katakan
kepada Gya dan Jejen.  Gya mengusulkan
penjaga pintu kereta di Cisaranten. Saya mengarahkan kendaraan itu melewati Jalan
Laswi, Gatot Subroto, BSM/Studio Trans, Binong terus ke Bypass Soekarno Hatta.
Di depan Lotte Mart, dulu Makro, kami belok kiri, masuk daerah perkampungan.
Jalan sempit berliku, dan kami sampai di lintasan pintu kereta. Saya menepikan
kendaraan setelah melewati rel, kemudian memanggil salah satu petugas
jaga.  Semua ada 8 orang, tapi kami hanya
memerlukan 2 orang yang benar-benar bertugas hari itu.  Pak Syafei dan Andri. Beberapa orang langsung mengerubungi
kami setelah tahu kalau kami membawa bingkisan lebaran. Tapi niat sudah pasti, bingkisan
hanya untuk dua orang saja yang benar-benar bertugas.  

Menyusuri kompleks perumahan di
daerah Cisaranten, kemudian kami belok kanan, arah perumahan Griya Caraka, belok
kanan lagi Universitas Ghifari, lalu ketemu penjaga pintu kereta api di daerah
Guruminda, yang dulu terkenal dengan patung mobil ringsek. Pak Zakaria, yang bertubuh
gempal mirip preman/jeger tetapi begitu ramah menerima kami, bercerita kalau
dia sudah sejak tahun 1989 menjadi penjaga pintu kereta api. Hari itu yang
bertugas adalah Pak Zakaria dan Pak Ois (Solihin). Kami menyerahkan bingkisan
itu setelah ngobrol beberapa saat. Mereka begitu terharu menerima bingkisan
itu. Berkali-kali mereka mengucapkan terima kasih.

Petualangan dilanjutkan. Kami
kembali menuju Soekarno Hatta, melewati pasar Gede Bage, Polda Jabar, terus
berputar balik untuk menuju kompleks Perumahan Andalus  samping Polda masuk ke dalam. Sebelum
memasuki kompleks padat yang jalannya masih dalam perbaikan, kami menemukan Pak
Wawan, petugas penyapu jalan dari Cibiru sampai perempatan Gede Bage. Dia
katakan setiap hari ia sendirian menyapu jalanan panjang sekitar 2 km itu.  Kami sempat ngobrol beberapa saat, dan ketika
kami menyerahkan bingkisan, rasa tak percaya terpancar dari wajah yang
berbinar-binar itu.  Sempat dijepret oleh
Jejen.

Kami meneruskan perjalanan arah
ke perumahan Andalus. Jalanan masuk kompleks sebelah dibeton, sebelahnya belum.
Kendaraan yang lewat harus hati-hati. Mobil harus bergantian, karena hanya muat
satu mobil saja. Kami menelusuri jalanan jelek itu dan tiba di lintasan pintu
kereta yang terbuat dari bambu. Turun dari mobil, kami menanyakan penjaganya.
Pak Kurnia dan satu lagi temannya sedang ada keperluan ke rumah.  Sebenarnya kami ingin menyerahkan dua
bingkisan kepada mereka berdua. Karena yang ada hanya Pak Kurnia, maka kami
hanya serahkan satu bingkisan saja. Ketika saya katakan kepada Pak Kurnia,
dengan spontan dia katakan, ya sudah nanti saya bagi dua saja. Terharu saya
mendengarnya. Maunya saya berikan saja dua bingkisan itu, tetapi kan harus ada
orangnya yang langsung menerima. Jadinya, ya sudah, satu saja!

Masih dua dus bingkisan. "Ke mana
lagi?" Tanya saya kepada Gya dan Jejen. 
"Ya sudah, kita menyusuri  Jalan
Gede Bage, arah perumahan Adipura". Tengok kiri kanan, sampai pertigaan arah
Sapan – Majalaya, kami tidak menemukan sasaran. Di belokan Bodogol, Ciwastra,
dalam  kepadatan angkot yang merambat
kami melihat seseorang yang dengan susah payah menarik gerobak sampah yang nampak
berat. Dengan keringat deleweran, ditambah panas terik yang menyengat, dalam
kondisi puasa, lengkap sudah derita yang tertangkap oleh mata kami. Dengan
pertimbangan kemanusiaan saya tanyakan, bagaimana kalau dia? Gya dan Jejen
sependapat.  Di halaman rumah yang sepi,
saya memarkir mobil, lalu kami menunggu penarik gerobak sampah yang ngos-ngosan
itu dihimpit angkot 09 dan 02 yang bergerak pelan. Setelah nampak, saya memberi
isyarat untuk minggir dan berhenti dulu. Dia lalu memarkir gerobaknya di
pinggir jalan supaya tidak mengganggu lalu lintas, menyeka keringat yang
membasahi wajahnya. Menahan terik matahari dan rasa haus yang menggoda. Dia katakan
kalau dia memang bertugas sebagai tukang kebersihan di RT dan RW Bodogol. Saban
bulan ia hanya menerima upah dari warga yang tadinya dikoordinir oleh Pak RT,
tetapi lalu  diserahkan kepada warga.
Sejumlah 200 atau paling banyak 300 ribu perak. 
Untuk hidup sebulan dengan keluarganya. Pak Aloh (mungkin Saefulloh
namanya), setelah saya beritahu kalau kami dari Sekolah Kehidupan, akan berbagi
kepedulian. Saya serahkan bingkisan itu, yang langsung diterimanya dengan mata
berkaca-kaca. Hati saya pun luruh. Trenyuh. O, bahagianya! Indahnya
berbagi!  Pak Aloh berkali-kali
komat-kamit mengucapkan rasa syukur yang mendalam. Ia pun memundurkan
gerobaknya, member jalan kepada kami untuk duluan. Kami melambaikan tangan. Ada
sesuatu yang tertinggal di sana…

Masih ada satu bingkisan. Saya
pikir saya harus mengantarkan Gya dan Jejen pulang. Satu bingkisan biar saya
saja yang menyerahkan kepada sasaran sambil mengembalikan mobil.  Saya memutar ke arah Kompleks Perumahan
Margahayu Raya yang akan tembus Jalan Soekarno Hatta. Berhenti sebentar di
Griya Metro Margahayu, lalu saya ambil rute Soekarno Hatta, berbalik arah di
depan MTC menuju Cinunuk, Bandung Timur, rumah Gya. Dalam perjalanan Gya bilang
kalau mau perlu ke BIP, sementara Jejen meninggalkan motornya di rumah Gya.
"Ya, sudah. Saya turun di pinggir jalan masuk ke rumah Gya, di Ciguruwik, lalu
naik ojek untuk ambil motor", kata Jejen. Gya masih bersama saya. Kami pun
memacu mobil mencari belokan untuk balik arah. Gya mengusulkan mampir ke Griya
Grand Cinunuk, yang sudah direnovasi menjadi mal.

Saya mengarahkan kendaraan itu ke
sana dan setelah parkir di tempat yang aman, kami masuk toko yang padat
pegunjung itu. Saya ketemu teman-teman lama. Edwin, Store Manager. Adrianus,
Koordinator Personalia dan Krisnowo yang dulu pernah menjadi Kepala Toko di
Griya Arcamanik.  Gya belanja baju
lebaran, saya membeli kurna dan minuman yang akan saya hadiahkan kepada petugas
di rental mobil. Lalu kami keluar toko. Ketika mau meninggalkan toko, Kris
menanyakan, mana struk parkirnya? Saya cari lalu saya serahkan untuk
ditandatangani oleh Kris, supaya tak usah bayar parkir. Lalu kami pun memutar
arah menuju BIP  mengantarkan Gya. Di MTC
kami berhenti sejenak untuk istirahat. Ngobrol sebentar dengan Gya lalu kembali
menyusuri  Soekarno Hatta, Binong, Gatsu
dan menuju stasiun kereta apai Cikudapateuh. 
Saya turun dan menanyakan kepada petugas stasiun tentang penjaga pintu
kereta. Ada 8 orang.  Mereka ada di pos  dekat lintasan rel. Saya membawa kendaraan
itu  memutar arah lewat Kosambi, lalu
melihat pos jaga, lalu membelokkan mobil di Jalan Gudang Selatan. Ternyata tiak
ada pintu ke arah pos jaga, dan kami lihat ada dua orang yang berseragam
abu-abu. Mereka kan sudah terima upah bulanan. "Ya, sudah kita tunggu saja.
Barangkali ada pemulung yang lewat". Benar, ketika saya memarkir mobil di
pinggir jalan Gudang Selatan yang sepi, tiba-tiba ada sesosok lelaki tua lusuh,
kucel, menggendong karung. Saya memanggilnya. Ketika dekat kami ngobrol. Ia
langsung menyebutkan namanya, Suwarno asal dari Jawa. Tinggal di jongko depan
pasar Kosambi. Usianya 60 tahun tapi nampak renta. Setelah saya jelaskan maksud
kami dan menyerahkan bingkisan itu Pak Warno 
terkaget-kaget. Mata itu berbinar-binar. Wajahnya nampak sumringah oleh
kegembiraan yang tak disangka-sangka. Saya menyaksikan kegembiraan itu dalam
nada syukur.

Kahlil
Gibran mengatakan, ''Bila engkau memberi dari hartamu, tiada banyaklah
pemberian itu. Bila engkau memberi dari dirimu itulah pemberian yang penuh arti".
Ada banyak sekali kesempatan bagi kita untuk memberi. Kita dapat memberikan
perhatian, pengertian, waktu, energi, pemikiran, pujian, dan ucapan terima
kasih. Kita dapat memberikan jalan bagi pengendara mobil lain di jalan raya. Kita
juga dapat sekedar memberikan senyuman. Hal-hal yang sederhana ini dapat
berarti banyak bagi orang lain. Bingkisan kepedulian yang telah kita berikan
kepada orang-orang yang membutuhkannya, sungguh merupakan bukti bakti kita
kepada sesama yang berkesesakan. Mata berbinar-binar, mulut komat-kamit, doa
dan syukur yang dilantunkan merupakan kenangan yang sungguh bermakna bagi hidup
dan kehidupan kita. Sungguh, saya merasakan getaran yang mengharukan! "Apa yang
telah kamu lakukan  kepada saudaraku yang
paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku!" lamat-lamat kudengar
ayat-ayat kudus itu.  Dimuliakanlah
nama-Mu!

2.

Inspirasi: Kembali kepada Fitrah

Posted by: "Teha Sugiyo" kembangpring049@yahoo.co.id   kembangpring049

Sun Aug 28, 2011 10:57 am (PDT)





Kembali kepada Fitrah

Oleh Teha Sugiyo

 

 

Setelah menjalani laku
puasa selama satu bulan penuh layaknya manusia, kita berharap ada perubahan
dalam diri. Tidak berlebihan. Seharusnyalah, harapan itu menjadi nyata. Hati
yang ringan, penuh ampunan dan rasa syukur, 
semangat baru, hidup baru. Itulah hasil 
ibadah puasa. Mudik, kumpul 
bareng dengan keluarga. Berkat silaturahim dan saling memaafkan satu
sama lain, memberikan nuansa baru: semangat baru, tekad,baru, karya baru, dan
komitmen baru untuk menjalani hari-hari dalam hidup  selanjutnya.

Inilah hari kemenangan!
Layak untuk kita rayakan. Kemenangan yang diraih setelah berlatih dan berjuang
melawan hawa nafsu. Berlatih jujur meski tanpa pengawas. Berlatih mengasah
kepekaan jiwa yang jauh dari rasa gengsi dan tendensi. Berlatih dermawan dan
ringan tangan kepada yang memerlukan bantuan. 

 

Salah satu tanda
kemenangan cinta ini adalah: kebahagiaan memaafkan dan merelakan kekhilafan
saudara kita. Nuansa humanis yang kuat ini terbina secara otomatis manakala kita
mendapatkan tuangan cinta langit yang bersih dari hawa nafsu. Salah paham,
buruk sangka, ketersinggungan, kekhilafan, kekonyolan yang disengaja dan tak
disengaja, semua seolah sirna di hari kemenangan cinta ini.

Nuansa kebahagiaan kita rasakan karena kita benar-benar merasakan sentuhan
cinta dan kasih sayang Ar-Rahman. Bukan hanya nuansa kepuasan spiritual dalam
kekhusyukan dan ketenangan sujud dan tilawah. Ada kepuasan dalam berbuat baik. Kita
berbahagia karena harapan ampunan dan janji pembebasan-Nya seolah berada di
depan mata. Kita pun berbahagia karena orang-orang yang berada di sekeliling
kita juga merasakannya.

 

Kita semakin melengkapinya
dengan latihan jujur dan terbuka dengan diri sendiri. Latihan pengendalian
emosi. Latihan penguasaan diri. Latihan menghadapi situasi yang sebelumnya
tidak diperkirakan. Dari latihan-latihan ini tanpa kita sadari mempola hidup
kita secara rapi.

Momentum mahal ini sudah seharusnya kita gunakan untuk mengendalikan diri kita
agar senantiasa terkondisikan untuk tetap memelihara cinta Allah yang telah
kita raih di bulan ini. Jangan kita kotori dengan kemunafikan, kekerdilan jiwa,
kebodohan masa lalu yang diulang serta kelalaian.

Bulan Syawal adalah lembaran baru dalam hidup kita. Bulan pembenahan dan
peningkatan pencapaian yang kita raih di bulan Ramadan. Paling tidak, kita
perlu mempertahankan  kejujuran yang kita
latih sebulan penuh. Rasa lapang dada yang mulai bersemi dalam dada.
Persaudaraan yang erat dan rasa persatuan yang terlihat mengental. Peka sosial
dan ringan tangan menolong.

Karunia besar Allah
dalam  bulan Ramadan selayaknya kita
syukuri. Sudahkah kita berterimakasih kepada Allah setiap harinya? Allah
memberi kita hadiah 86.400 detik setiap harinya. Sudahkah kita menggunakan satu
detik saja untuk mengucapkan "terima kasih?"

Sudahkah pada hari yang berbahagia ini kita bersyukur kepada orang tua kita,
suami atau istri kita, anak-anak kita, kakak dan adik kita, teman seprofesi dan
sekantor kita, tetangga dan teman dekat kita, sanak famili dan orang-orang yang
kehadirannya kadang tak kita rasakan telah memberi kontribusi bagi kita.

Pakaian yang kita pakai, berapa banyak tangan terlibat memprosesnya. Makanan
yang kita makan, berapa banyak tangan yang berjasa. Gedung-gedung megah yang
kita tempati atau banggakan, berapa banyak keringat yang tercurah. Jalanan yang
bagus, kendaraan, sarana komunikasi, berapa banyak pihak yang terlibat dalam
kehidupan harian kita. Hingga kita menjadi seperti sekarang ini, berkat
sentuhan dan dedikasi banyak orang. Jika ini mampu kita renungi bersama, maka
kita akan sangat mudah berterima kasih pada orang lain. Setelah itu kita akan
dengan ringan mampu menyukuri karunia Allah.

 

Marilah melalui momentum
ini kita mampu memaknai Lebaran, Idul Fitri, hari kemenangan dan kebahagiaan
ini dengan kembali merenungi fitrah kita. Kembali pada fitrah kita, menyukai
kebenaran dan kebaikan, mewujudkan harapan baru: semangat baru komitmen baru
yang bermuara pada posisi kita masing-masing: berkeja jujur, keras, cerdas,
seksama, hemat dan taat pada peraturan. Dengan demikian, hidup ini akan menjadi
lebih indah karena terefleksi melalui kebaikan sosial, bermanfaat untuk sesama,
saling memaafkan, berlapang dada, berterimakasih, saling menolong demi
kebaikan  dan kesejahteraan bersama.

 

Selamat Idul Fitri 1432 H

Mohon maaf  lahir dan batin.

Selamat kembali kepada
fitrah yang baru: Menjadi manusia baru!

 

 

 

Recent Activity
Visit Your Group
Sell Online

Start selling with

our award-winning

e-commerce tools.

Yahoo! Groups

Mental Health Zone

Bi-polar disorder

Find support

Y! Messenger

Want a quick chat?

Chat over IM with

group members.

Need to Reply?

Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.

Create New Topic | Visit Your Group on the Web
MARKETPLACE
There's one number you should know, your Credit Score. freecreditscore.com.