Rabu, 30 Mei 2012
[daarut-tauhiid] Tanpa Doa bagai Tentara tanpa Senjata
Oleh Abu Umar Abdillah <http://www.arrisalah.net/author/abu-umar>
<http://www.arrisalah.net/kolom/2012/05/tanpa-doa-bagai-tentara-tanpa-senjata-2.html#comments>
[image: Tanpa Doa bagai Tentara tanpa
Senjata]<http://www.arrisalah.net/kolom/2012/05/tanpa-doa-bagai-tentara-tanpa-senjata-2.html>
*B*erbeda dengan makhluk-Nya, Allah mencintai orang-orang yang rajin
memohon kepada-Nya. Karena hal itu menunjukkan bahwa manusia merasa fakir
(butuh) kepada Allah. Dan Allah justru membenci orang-orang yang angkuh dan
enggan berdoa kepada-Nya. Nabi shalallahu 'alaihi wasalam bersabda,
ãóäú áóãú íóÓúÃóáö Çááåó íóÛúÖóÈú Úóáóíúåö
"Barangsiapa yang tidak memohon kepada Allah, maka Allah murka kepadanya"
(HR Tirmidzi dan Bukhari dalam Adabul Mufrad)
Realitanya, ada orang-orang yang merasa dirinya cukup, merasa bisa
mendapatkan keinginannya tanpa pertolongan Rabbnya, lalu meninggalkan doa.
Sudah barang tentu ia akan mengenyam kesulitan demi kesulitan dalam
menjalani hidup, di dunia apalagi di akhirat. Allah berfirman,
*"Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta
mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan)
yang sukar. " *(QS al-Lail 8 – 10)
Tanpa Doa, Seperti Tentara tanpa Senjata
Di antara kaum muslimin, ada lagi yang meninggalkan doa karena merasa tak
mampu memenuhi persyaratannya. Seperti orang yang berkata, "Saya biasa
makan dari rejeki yang tak jelas halal haramnya, sedangkan orang yang
mengkonsumsi barang yang haram tidak dikabulkan do'anya, maka percuma saja
kalau saya berdoa." Laa haula wa laa quwwata illa billah. Adakah sesuatu
yang bisa diandalkan seorang muslim melebihi 'senjata' doa? Hingga ada yang
rela mencampakkan doa agar bebas makan apa saja?
Seseorang yang mengerti urgensi doa, tentu lebih memilih untuk memenuhi
syarat terkabulnya doa, katimbang ia harus bertelanjang dari doa. Karena
meninggalkan hal yang haram itu lebih mudah dijalani daripada hidup tanpa
menyandang senjata doa. Tanpa doa, keadaan seseorang lebih berat dari
tentara yang tidak memiliki senjata, petani yang tidak memiliki cangkul,
orang sakit yang tak mendapatkan obat, atau seseorang yang ingin membeli
barang tanpa memiliki uang.
Hanya mengandalkan kecerdasan pikir, kekuatan fisik maupun alat canggih,
jelas tidak memadai bagi manusia untuk bisa meraih tujuan bahagia yang
sempurna, atau mencegah datangnya marabahaya. Alangkah kecil modal dan
kekuatan, sementara begitu besar cita-cita yang diharapkan, dahsyat pula
potensi bahaya yang mungkin datang di hadapan. Untuk itu, manusia
membutuhkan 'kekuatan lain' di luar dirinya untuk merealisasikan dua tujuan
itu. Dan barangsiapa yang menjadikan doa sebagai sarana, niscaya dia akan
menjadi orang yang paling kuat, paling sukses dan paling beruntung. Karena
doa mengundang datangnya pertolongan Allah Yang Maha Berkehendak,
Mahakuasa, Mahakuat dan mampu melakukan apapun yang dikehendaki-Nya, *Fa'aalul
limaa yuriid*. Karena itulah, Ibnul Qayyim dalam al-Jawaabul Kaafi berkata,
"Doa adalah sebab yang paling kuat untuk mencegah dari perkara yang dibenci
dan menghasilkan sesuatu yang dicari."
Khasiat Doa Sepanjang Masa
Allah telah banyak mengisahkan dahsyatnya doa, yang menjadi solusi
problem-problem besar dan menjadi sebab yang menyelamatkan dalam banyak
peristiwa genting dari zaman ke zaman. Dan meski dengan variasi dan kadar
yang berbeda, sebenarnya problem-problem yang di hadapi manusia dari zaman
ke zaman memiliki karakter yang nyaris sama.
Jika di zaman ini banyak orang yang galau, atau berduka lantaran kesulitan
yang menghimpitnya, maka dahulu Nabi Yunus 'alaihissalam pernah mengalami
hal yang sama dan bahkan lebih berat. Toh, kegalauan itu akhirnya sirna
dengan doa beliau, "laa ilaaha illa anta subhaanaka inni kuntu minazh
zhaalimin," Karena Allah menjawab doa beliau dengan firman-Nya, *"Maka Kami
telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan." **(QS
al-Anbiya' 88)*
Maka adakah orang yang sedang menyandang kesulitan hari ini mengingat dan
berdoa sebagaimana doa beliau?
Jika sekarang banyak orang menderita sakit yang tak kunjung sembuh, dan tak
jarang kesulitan untuk menemukan sebab dan obatnya, hal yang sama pernah
menimpa Nabi Ayyuub 'alaihissalam. Dan pada akhirnya penyakit beliau sembuh
dengan doa, "Rabbi inni massaniyadh dhurru wa Anta Arhamur Raahimiin",
Karena Allah menjawab doa beliau dengan firman-Nya, "*Maka Kamipun
memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada
padanya."* *(QS al-Anbiya' 84)*
Jika sekarang banyak orang mengalami rasa takut akan datangnya bencana,
atau khawatir dengan bahaya yang mengancam, solusi dari semua itu juga
telah ditempuh oleh Nabi yang mulia, Muhammad shalallahu 'alaihi wasalam,
yakni dengan doa, "hasbunallahu wa ni'mal Wakiil", maka Allah menghindarkan
mereka dari bahaya, sebagaimana firman-Nya,
*"Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah,
mereka tidak mendapat bencana apa-apa,"* (QS Ali Imran 174)
Begitulah doa, mampu menjadi solusi saat manusia angkat tangan untuk
memberi solusi. Doa juga efektif menjadi jalan keluar ketika segala cara
menemui jalan buntu. Doa juga mampu mencegah bahaya, yang dosisnya tidak
mampu dibendung oleh kekuatan manusia.
Semestinya doa bukan menjadi alternatif terakhir, atau ia baru diingat
setelah ikhtiyar tak menghasilkan jalan keluar. Mestinya doa tetap
mengiringi sebelum, di saat dan setelah ikhtiyar ragawi dilakukan.
Faktanya, masih jamak terjadi di kalangan kaum muslimin. Mereka begitu
getol dan rajin berdoa saat menghadapi situasi khusus. Saat anak mencari
sekolah, ketika sedang mencari lowongan kerja, tatkala ada keluarga yang
sakit, atau ketika ada tanda-tanda bencana akan terjadi. Selebihnya, tak
ada doa dipanjatkan, tak tersirat dalam pikirannya bahwa Allahlah yang
kuasa segalanya, untuk memberi atau menahan sesuatu yang diharapkan.
Manusia tidak lepas sedikitpun dari pertolongan Allah untuk meraih
kesuksesan. Sehingga ia perlu berdoa kepada Allah untuk kebaikan seluruh
urusannya, bukan hanya mengandalkan kehebatan dirinya yang hakikatnya
sangat lemah tanpa pertolongan Allah. Karenanya, di antara doa yang
diajarkan oleh Nabi shalallahu 'alaihi wasalam adalah,
Çááøóåõãøó ÑóÍúãóÊóßó ÃóÑúÌõæ ÝóáÇó Êóßöáúäöì Åöáóì äóÝúÓöì ØóÑúÝóÉó Úóíúäò
æóÃóÕúáöÍú áöì ÔóÃúäöì ßõáøóåõ áÇó Åöáóåó ÅöáÇøó ÃóäúÊó
"Ya Allah, rahmat-Mu aku harap, dan janganlah Engkau serahkan (nasib)
diriku kepada diriku sendiri meski hanya sekejap mata, perbaguslah untukku
segala urusanku, tidak ada ilah yang haq kecuali Engkau." (HR Abu Dawud)
Doa Harian, Menjawab Segala Kebutuhan
Adalah baik jika seseorang membiasakan doa-doa harian yang bersifat
ta'abbudiyah maupun adab. Seperti doa sebelum dan sesudah makan, hendak
tidur dan setelah bangun, masuk masjid atau keluar, maupun doa-doa lain
yang disyariatkan. Ketika ia menjalaninya dalam rangka menjalani sunnah, ia
mendapatkan pahala. Inilah fungsi doa yang disebut dengan du'a al-'ibaadah
(doa sebagai realisasi ibadah). Namun ada fungsi lain dari doa, yang
disebut dengan du'a al-mas'alah (doa sebagai permohonan). Ketika doa
dilantunkan tanpa adanya kesadaran bahwa dirinya sedang memohon kepada
Allah, maka maksud yang dikehendaki dari makna doa tidak akan terwujud.
Nabi shalallahu 'alaihi wasalam bersabda,
ÇÏúÚõæÇ Çááåó æóÃóäúÊõãú ãõæÞöäõæäó ÈöÇáÅöÌóÇÈóÉö æóÇÚúáóãõæÇ Ãóäøó Çááåó
áÇó íóÓúÊóÌöíÈõ ÏõÚóÇÁð ãöäú ÞóáúÈò ÛóÇÝöáò áÇóåò
"Berdoalah kepada Allah sedangkan kamu dalam keadaan yakin akan dikabulkan,
dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai dan
alpa." (HR Tirmidzi, al-Albani mengatakan, "hasan").
Andaikan seorang muslim membiasakan diri dengan doa-doa harian yang
disyariatkan, sekaligus diiringi dengan kesengajaan dan pengharapan
sebagaimana makna yang terkandung dalam doa, niscaya tercoverlah
kebutuhan-kebutuhannya, baik yang bersifat duniawi maupun ukhrawi. Karena
doa-doa yang Nabi ajarkan dari bangun tidur hingga bangun tidur kembali
sudah mencakup segala hal yang dibutuhkan manusia, baik kemaslahatan
diiniyyah maupun dunyawiyyah. Permohonan sehat dan dijaga dari penyakit,
kemudahan segala urusan, permohonan rezeki, perlindungan dari segala
gangguan setan dan keburukan, maupun permohonan jannah dan terhindar dari
neraka.
Generasi terbaik di kalangan sahabat, berusaha menghadirkan pengharapan
saat berdoa dengan suatu doa yang menjadi rutinitas harian. Ibnu Katsier
dalam tafsirnya menyebutkan riwayat dari Ibnu Abi Hatim, bahwa 'Irak bin
Malik, selepas shalat Jumat beliau berdiri di pintu masjid beliau berdoa
dengan doa keluar masjid lalu berkata, "Ya Allah, saya telah memenuhi
panggilan-Mu, lalu shalat dengan shalat yang Engkau fardhukan atasku,
akupun hendak bertebaran di muka sebagaimana yang Engkau perintahkan, maka
berilah rezki kepadaku dari karuia-Mu, karena Engkau adalah sebaik-baik
Pemberi rezki."
Perlu kiranya digarisbawahi, bahwa doa dengan segala kelebihan dan
faedahnya, tidak menafikan atau menghapus keharusan untuk ikhtiyar.
Masing-masing memiliki kadar tersendiri sebagai sebab terkabulnya doa, di
samping juga memiliki nilai ibadah tersendiri Wallahu a'lam.[]
http://www.arrisalah.net/kolom/2012/05/tanpa-doa-bagai-tentara-tanpa-senjata-2.html
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
daarut-tauhiid-digest@yahoogroups.com
daarut-tauhiid-fullfeatured@yahoogroups.com
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
daarut-tauhiid-unsubscribe@yahoogroups.com
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
[daarut-tauhiid] Kesaksian tentara Yaman yang dibebaskan mujahidin Anshar Al-Shari’ah: Mereka kini orang yang paling kami cintai
Mereka kini orang yang paling kami cintai
Muhib Al-Majdi
*Senin, 28 Mei 2012 09:33:25*
<http://static.arrahmah.net/images/stories/2012/05/tawanan-mujahidin.jpg>
*SAN'A (Arrahmah.com <http://arrahmah.com/>)* – Satu demi satu tentara
rezim Yaman yang ditawan dan kemudian dibebaskan oleh mujahidin Anshar
Al-Shariah menceritakan pengalamannya kepada media massa di San'a.
Muhammad Abdullah Ash-Shulaihi, salah seorang tentara Yaman yang ditawan
dan kemudian dibebaskan oleh Anshar Al-Shariah menceritakan pengalamannya
selama menjadi tawanan mujahidin kepada situs Al-Murasilun, Ahad
(27/5/2012).
Ash-Shulaihi mengatakan doktrin yang selama ini dicekokkan oleh para
komandan militer rezim Yaman, "Anshar Al-Shariah selama ini adalah
orang-orang yang paling saya benci, karena berita yang selama ini selalu
kami dengar, mereka adalah orang-orang yang membantai warga, merusak lahan
pertanian, membunuh orang-orang yang diharamkan oleh Allah, bahkan
menikmati pembantaian."
Persepsi itu berubah total ketika realita di lapangan sangat bertolak
belakang dengan doktrin yang ia terima. Ash-Shulaihi menuturkan, "Dengan
karunia Allah, segala puji bagi Allah, setelah saya mengenal betul mereka,
mereka adalah orang-orang yang kini paling saya cintai, karena kebaikan
interaksi mereka kepada kami. Saya tidak merasa menjadi tawanan mereka,
bahkan rasanya seperti bersama keluarga kami sendiri."
"Saya merasakan seperti berada di tengah keluarga saya sendiri, karena saya
menemukan pada diri mujahidin akhlak yang mulia, pergaulan yan baik,
kesopanan, dan memuliakan tamu, bukan seperti perlakuan terhadap tawanan.
Saya merasakan suasana keislaman yang sesungguhnya bersama mereka, dan saya
sangat berterima kasih kepada mereka atas semua hal itu."
Ash-Shulaihi tertawan bersama 72 tentara rezim Yaman lainnya saat terlibat
pertempuran dengan mujahidin Anshar al-Shari'ah di lembah Daufas, distrik
Ja'ar, Propinsi Abyan. Melalui perantaraan para ulama Yaman, mujahidin
Anshar al-Shariah di distrik Ja'ar membebaskan mereka semua karena mencari
ridha Allah semata.
Ash-Shulaihi mengisahkan saat-saat ia tertawan bersama rekan-rekannya,
"Ketika kami menyerahkan diri kepada mereka di lembah Daufas, seorang ulama
mereka mengangkat kantong kulit berisi air, melewati kami satu per satu,
dan member minum kami satu per satu. Saat itu kami memang setengah mati
kehausan setelah bertempur di lembah yang panas. Mereka lalu membagikan
kepada kami satu per satu minuman juice, padahal saat itu kami masih berada
di medan pertempuran."
Ash-Shulaihi menambahkan, "Satu peristiwa yang mengejutkan saya, saat
membagi-bagikan minuman juice kepada kami, salah seorang anggota mujahidin
melemparkan botol juice kepada kami. Maka seorang ulama mereka menegurnya:
'Jangan engkau lemparkan, bagikan ke tangan mereka satu per satu."
(muhib almajdi/arrahmah.com<http://arrahmah.com/read/2012/05/28/20511-kesaksian-tentara-yaman-yang-dibebaskan-mujahidin-anshar-al-shariah-mereka-kini-orang-yang-paling-kami-cintai.html>
)
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
daarut-tauhiid-digest@yahoogroups.com
daarut-tauhiid-fullfeatured@yahoogroups.com
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
daarut-tauhiid-unsubscribe@yahoogroups.com
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
Selasa, 29 Mei 2012
[sekolah-kehidupan] Digest Number 3598
Messages In This Digest (1 Message)
- 1.
- Mohon maaf numpang posting... From: siti nurasiah
Message
- 1.
-
Mohon maaf numpang posting...
Posted by: "siti nurasiah" asia_bidakara@yahoo.co.id asia_bidakara
Tue May 29, 2012 1:36 am (PDT)
Moderator dan rekan,
Mohon ijin menginfokan kursus. Semoga berkenan. Terimakasih.
Kursus Jurnalisme Sastrawi
Angkatan XX
Jakarta, 2 – 14 Juli 2012
Hari ini hampir tak ada warga yang mendapatkan breaking news
dari suratkabar. Mereka mendapatkannya dari televisi, radio, sms,
telepon atau internet. Tantangan baru muncul: bagaimana cara menulis
panjang? Bukankah relevansi suratkabar makin terletak pada kemampuannya
menyajikan analisis?
Inilah pentingnya The New Journalism.
Ia mengawinkan disiplin paling keras dalam jurnalisme dengan daya pikat
sastra. Ibarat novel tapi faktual. Gerakan ini dimunculkan Tom Wolfe
pada 1973 di New York.
Genre ini kemudian
dikenal dengan nama literary journalism atau narrative reporting.
Suratkabar-suratkabar Amerika banyak memakai elemennya ketika kecepatan
televisi dan dotcom memaksa mereka tampil dengan laporan-laporan yang
analitis dan mendalam. Suratkabar tak mungkin bersaing cepat dengan
televisi.
Pantau mulai menawarkan pengajaran genre ini pada media
tahun 2001. Peserta maksimal 16 orang. Jumlah ini dianggap optimal
untuk sebuah metode pelatihan. Setiap sesi 90-menit diformat serius
namun santai. Peserta bisa berdiskusi langsung. Total, Pantau sudah
mengadakan 18 kali kursus ini. Peserta datang dari berbagai kota, dari Banda Aceh hingga Jayapura, dari Pontianak hingga Kucing,
dari Ende hingga Kupang. Alumninya, terus bermunculan. Ada yang menulis
buku. Ada yang jadi pemimpin redaksi. Ada yang sekolah lanjut.
INSTRUKTUR
Janet Steele -- Profesor dari George Washington University, spesialisasi sejarah media, mengajar mata kuliah narrative journalism. Menulis buku The
Sun Shines for All: Journalism and Ideology in the Life of Charles A.
Dana dan Wars Within: The Story of Tempo, an Independent Magazine in Soeharto's Indonesia, yang ahlibahahaskan oleh Arif Zulkifli dan diterbitkan oleh PT Dian Rakyat tahun 2007. Juga menulis tentang jurnalisme di Timor Leste dan Malaysia.
Andreas
Harsono -- Wartawan
feature service Pantau,
anggota International Consortium of Investigative Journalists,
mendapatkan Nieman Fellowship di Universitas Harvard. Menyunting buku
Jurnalisme Sastrawi: Antologi Liputan Mendalam dan Memikat. Kini
menyelesaikan
buku From Sabang to Merauke: Debunking the Myth of Indonesian Nationalism, membahas hubungan media dengan kekerasan etnik, agama dan nasionalisme di Indonesia dan Timor Lorosae.
PESERTA
Peserta
adalah wartawan, atau orang yang biasa menulis untuk media maupun blog.
Calon peserta diharapkan mengirim biodata dan contoh tulisan agar
pengampu mengetahui tulisan peserta lebih
awal.
BIAYA
Biaya
Rp 3 juta. Biaya tersebut sudah termasuk buku dan materi kursus sekitar
200 halaman, sertifikat, coffe break dan makan siang.
Informasi hubungi:
P a n t a u
Jl. Raya Kebayoran Lama
No 18 CD Jakarta Selatan 12220
Telp/Fax. 021 722-1031/021-7221055
siti_pantau@yahoo.com
0813 82 460 455
www.pantau.or.id
Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Individual | Switch format to Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
[daarut-tauhiid] Beriman Tanpa Rasa Takut
"Yang merasakan manisnya iman ialah orang yang ridha kepada Allah sebagai Rabb, kepada Islam sebagai agama dan kepada Muhammad sebagai rasul."
Hadits ini merupakan inti kedudukan agama dan sekaligus merupakan puncaknya, yang di dalamnya terkandung ridha terhadap Rububiyah dan Uluhiyah Allah, ridha kepada Rasul-Nya, ketundukan, ridha kepada agama-Nya dan kepasrahan kepada-Nya. Siapa yang menghimpun empat perkara ini, maka dia adalah orang yang shiddiq. Memang hal ini mudah diucapkan, tapi termasuk sulit dan berat jika datang cobaan, apalagi jika ada sesuatu yang bertentangan dengan nafsu dan keinginannya, sehingga akan tampak apakah ridha itu hanya sekedar di lisan atau memang merupakan keadaan dirinya.
Ridha kepada Rububiyah Allah mengandung ridha terhadap pengaturan-Nya terhadap hamba, juga mengandung pengakuan terhadap kesendirian-Nya dalam tawakkal, keyakinan, penyandaran dan permintaan pertolongan. Sedangkan ridha kepada Rasul-Nya mengandung kesempurnaan kepatuhan dan kepasrahan kepadanya, sehingga keberadaan Rasul-Nya lebih penting daripada keberadaan dirinya, tidak mengambil petunjuk kecuali dari kalimat-kalimatnya, tidak ridha kepada selain hukumnya, dalam masalah apa pun, zhahir maupun batin. Sedangkan ridha kepada agama-Nya berarti patuh kepada hukum, perintah dan larangan agama, sekalipun mungkin bertentangan dengan kehendaknya atau pendapat guru dan golongannya.
Yang pasti dalam masalah ini, ridha adalah sesuatu yang bisa diupayakan ditilik dari sebabnya, dan merupakan pemberian jika ditilik dari hakikatnya. Jika memang sebab-sebabnya dimungkinkan dan pohonnya dapat ditanam, maka buah ridha juga bisa dipetik. Sebab ridha merupakan akhir dari tawakkal. Siapa yang pijakan kakinya mantap pada tawakkal, penyerahan diri dan kepasrahan, tentu akan mendapatkan ridha. Tapi karena sulitnya mendapatkan ridha ini, maka Allah tidak mewajibkannya kepada makhluk-Nya, sebagai rahmat dan keringanan bagi mereka. Namun begitu Allah menganjurkannya kepada mereka, memuji pelakunya dan mengabarkan bahwa pahala yang mereka terima adalah keridhaan Allah terhadap mereka, dan ini merupakan pahala yang lebih agung daripada surga dan seisinya.
Siapa yang ridha kepada Rabb-nya, maka Dia juga ridha kepadanya. Karena itu ridha ini merupakan pintu Allah yang paling besar, surga dunia, kehidupan orang-orang yang mencintai dan kenikmatan orang-orang yang banyak beribadah. Di antara faktor yang paling besar mendatangkan ridha ialah mengikuti apa yang Allah ridha kepadanya, karena inilah yang akan menghantarkan kepada ridha. Yahya bin Mu'adz pernah ditanya, "Kapankah seorang hamba mencapai kedudukan ridha?" Maka dia menjawab, "Jika dia menempatkan dirinya pada empat landasan tindakan Allah kepadanya, lalu dia berkata, "Jika Engkau memberiku, maka aku menerimanya. Jika Engkau menahan pemberian kepadaku, maka aku ridha. Jika Engkau membiarkanku, maka aku tetap beribadah. Jika Engkau menyeruku, maka aku memenuhinya."
Tawakkal merupakan tempat persinggahan yang paling luas dan menyeluruh, yang senantiasa ramai ditempati orang-orang yang singgah di sana, karena luasnya kaitan tawakkal, banyaknya kebutuhan penghuni alam, keumuman tawakkal, yang bisa disinggahi orang-orang Mukmin dan juga orang-orang kafir, orang baik dan orang jahat, termasuk pula burung, hewan liar dan binatang buas. Semua penduduk bumi dan langit berada dalam tawakkal, sekalipun kaitan tawakkal mereka berbeda-beda.
Para wali Allah dan hamba-hamba-Nya yang khusus bertawakkal kepada Allah karena iman, menolong agama-Nya, meninggikan kalimat-Nya, berjihad memerangi musuh-musuh-Nya, karena mencintai-Nya dan melaksanakan perintah-Nya. Sedangkan selain mereka bertawakkal kepada Allah karena kepentingan dirinya dan menjaga keadaannya dengan memohon kepada Allah. Ada pula di antara mereka yang bertawakkal kepada Allah karena sesuatu yang hendak didapatkannya, entah rezeki, kesehatan, pertolongan saat melawan musuh, mendapatkan istri, anak dan lain sebagainya. Ada pula yang bertawakkal kepada Allah justru untuk melakukan kekejian dan berbuat dosa. Apa pun yang mereka inginkan atau yang mereka dapatkan, biasanya tidak lepas dari tawakkal kepada Allah dan memohon pertolongan kepada-Nya. Bahkan boleh jadi tawakkal mereka ini lebih kuat daripada tawakkalnya orang-orang yang taat. Mereka menjerumuskan diri dalam kebinasaan dan kerusakan sambil memohon kepada Allah agar
menyelamatkan mereka dan mengabulkan keinginan mereka.
Tawakkal yang paling baik ialah tawakkal dalam kewajiban memenuhi hak kebenaran, hak makhluk dan hak diri sendiri. Yang paling luas dan yang paling bermanfaat ialah tawakkal dalam mementingkan faktor eksternal dalam kemaslahatan agama, atau menyingkirkan kerusakan agama. Jni merupakan tawakkalnya para nabi dalam menegakkan agama Allah dan menghentikan kerusakan orang-orang yang rusak di dunia. Ini juga tawakkalnya para pewaris nabi. Kemudian tawakkal manusia setelah itu tergantung dari hasrat dan tujuannya. Di antara mereka ada yang bertawakkal kepada Allah untuk mendapatkan kekuasaan dan ada yang bertawakkal kepada Allah untuk mendapatkan serpihan roti.
Siapa yang benar dalam tawakkalnya kepada Allah untuk mendapatkan sesuatu, tentu dia akan mendapatkannya. Jika sesuatu yang diinginkannya dicintai dan diridhai Allah, maka dia akan mendapatkan kesudahan yang terpuji. Jika sesuatu yang diinginkannya itu dibenci Allah, maka apa yang diperolehnya itu justru akan membahayakan dirinya. Jika sesuatu yang diinginkannya itu sesuatu yang mubah, maka dia mendapatkan kemaslahatan dirinya dan bukan kemaslahatan tawakkalnya, selagi hal itu tidak dimaksudkan untuk ketaatan kepada-Nya.
Ketahuilah bahwa ada beberapa hamba Allah yang ridha dengan pengaturan Allah Swt.. Mereka menerima baik maupun "buruk" yang datangnya dari Allah. Cahaya telah melenyapkan hasrat mereka untuk ikut mengatur. Makrifat dan rahasia telah menyirnakan kuasa mereka untuk ikut memilih. Mereka ridha dan merasakan nikmatnya ridha.
Ketahuilah, putra Nabi Nuh As. binasa karena ia mengikuti keinginannya sendiri dan tidak meridhai pengaturan Allah yang dipilihkan untuk Nuh As. dan para pengikutnya di kapal. Nabi Nuh As. berkata kepada anaknya, "Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir."
Anaknya menjawab: "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!" Nuh berkata: "Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang." (QS. Hud: 42-43).
Maknanya, putra Nuh As. itu mencari perlindungan kepada gunung akalnya. Gunung tempat berlindungnya itu menggambarkan keadaan dirinya yang sebagaimana dikatakan oleh Allah, "Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan."
Secara lahir, yang menenggelamkannya adalah banjir. Secara batin, ia karam karena terhalang dari Allah. Perhatikanlah kisah ini dan ambillah pelajaran darinya. Apabila gelombang takdir menujumu, jangan bersandar pada gunung akalmu agar kau tidak termasuk golongan yang tenggelam dalam lautan keterputusan. Tetapi, naiklah ke bahtera perlindungan dan kebergantungan kepada Allah. Allah Swt. berfirman, "Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus." (QS. Ali Imran: 101).
Apabila kau patuh, kapal keselamatan akan membawamu berlabuh di bukit keamanan. Kemudian kau, dan orang-orang yang bersamamu, akan mendarat dengan selamat di negeri pendekatan kepada Allah dan tiba di daratan keselamatan seraya diberkati. Itulah alam wujudmu. Pahamilah hal ini dengan baik dan jangan termasuk golongan yang lalai.
Kau telah mengetahui bahwa sikap tidak mengatur dan tidak memilih merupakan keutamaan yang dimiliki orang-orang yang yakin. Sikap itulah yang merupakan perhiasan utama para arif.
Seseorang pernah bertanya kepada seorang arif dalam perjalanan menuju Ka'bah, "Kemanakah Anda akan pulang?" Ia menjawab, "Aku telah terbiasa bersama Allah dan tidak membiarkan keinginanku mendahului langkah kakiku."
Itulah keadaan hamba yang tak punya pilihan dan keinginan. Keinginannya adalah apa yang Dia inginkan. Seorang ulama mengatakan hal yang serupa, "Pagi ini keinginanku berada dalam ketentuan Allah."
Abu Hafsh al-Haddad berkata, "Sejak empat puluh tahun yang lalu, tidak pernah Allah menempatkanku dalam satu keadaan lalu aku membencinya dan mengalihkan ke keadaan yang lain lalu aku tidak menyukainya."
Hati mereka telah dipelihara oleh Allah Swt. dan mereka layak mendapatkannya. Tidakkah kau mendengar firman Allah, "Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka." (QS. al-Hijr: 42).
Mengapa? Karena orang yang telah mencapai kedudukan penghambaan akan pasrah sepenuhnya kepada pilihan Allah, enggan berbuat dosa, serta tidak mau terjerumus ke dalam aib dan kesalahan.
Allah Swt. berfirman, "Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya." (QS. an-Nahl: 99).
Hati yang tidak bisa dikuasai setan tidak mungkin bisa direcoki dan diganggu oleh godaan untuk mengatur. Ayat di atas menjelaskan bahwa orang yang meluruskan keimanan dan tawakalnya kepada Allah niscaya tidak akan bisa dikuasai setan. Pasalnya, setan hanya bisa menggoda dengan dua cara, yaitu dengan membuat ragu seseorang akan keyakinannya atau dengan membuatnya bergantung kepada makhluk. Upaya untuk meragukan keyakinan bisa dibentengi dengan keimanan, sedangkan sikap cenderung dan bergantung kepada makhluk bisa dibentengi dengan tawakal kepada-Nya.
Komentar:
Tulisan di atas ditulis oleh Imam A'thaillah As-Sakandari salah seorang ulama sufi penulis kitab Al-Hikam yang tersohor itu. Beliau telah menjelaskan bahwa setiap mukmin haruslah tunduk dan patuh terhadap syariat Islam. Tidak terkecuali bagi mereka yang mengaku sebagai sufi atau bagi mereka yang saat ini mencari kebenaran. Karena dengan tunduk dan patuh itulah maka akan merasakan manisnya iman. Oleh karena itu, sungguh aneh apabila ada orang yang ingin meraih kebebasan sejati, ingin meraih kebahagiaan sejati, menjadi mukmin yang pemberani, yang ditakutkan hanya Allah Swt., ingin meraih cinta sejati, tanpa melaksanakan syariat Islam.
Mereka yang kabarnya telah menggapai hakikat tetapi nyatanya menjauhi syariat ibarat membangun istana pasir yang kemudian diterpa ombak besar. Mereka yang berkata ini dan itu tapi di bawah timbangan syariat, jauh sekali dari kebenaran. Para wali Allah, orang-orang saleh, dan mereka yang meniti jalan Allah telah membuktikannya. Tidak akan sampai kepada Allah kecuali mereka menghukumi diri mereka berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Imam Junaid Al-Baghdadi berkata: "Semua jalan tertutup bagi manusia selain orang yang mengikuti jejak Rasulullah Saw."
Imam Ahmad bin Hanbal pernah menjelaskan berbagai masalah. Lalu dia bertanya kepada Abu Hamzah Al-Baghdadi, seorang pemuka tasawuf, "Apa pendapatmu wahai orang sufi?" Maka Abu Hamzah menjawab, "Siapa yang mengetahui jalan yang benar, maka perjalanannya pun menjadi mudah. Tidak ada bukti petunjuk jalan kepada Allah selain dari mengikuti Rasulullah Saw., dalam perbuatan, perkataan dan keadaannya."
Abu Yazid al-Bistami pernah berkata, "Jika kalian melihat seseorang yang diberi karomah, sehingga dia dapat terbang di angkasa, maka janganlah kalian terpedaya, hingga kalian tahu bagaiamana orang itu menempatkan dirinya pada perintah dan larangan, menjaga hukum dan melaksanakan syariat."
Salah seorang dari orang-orang saleh itu mengatakan barangsiapa yang ingin mendapatkan hikmah, maka hendaklah lahir dan batinnya mengikuti sunnah Rasulullah. Bagaimana mereka bisa mendapatkan kebenaran sementara mereka sendiri menjauhi sunnah Rasulullah? Bagaimana mereka bisa meraih kedudukan yang mulia di sisi Allah sementara mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah? Bagaimana mereka bisa meredam hawa nafsu sementara mereka justru memperturutkan hawa nafsu?
Ketika jiwa sudah tunduk dan patuh kepada Allah Swt., maka tidak ada yang ditakuti kecuali Allah Swt. Dia senantiasa berpegang teguh pada tali agama Allah walaupun orang-orang disekitarnya membencinya. Baginya cukuplah Allah sebagai penolong dan pelindung.
http://abu-farras.blogspot.com/2012/05/beriman-tanpa-rasa-takut.html
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================
[daarut-tauhiid] Jodoh, Cinta Dan Kesetiaan
Jodoh, Cinta Dan Kesetiaan
By: Muhamad Agus Syafii
Jodoh bukan semata persoalan cinta namun juga kesetiaan, kesetiaan bisa dilihat dari nilai-nilai kebaikan, amal sholeh yang dikerjakan, dengan siapa ia berkumpul atau tempat berkumpulnya akan sangat menentukan nilai-nilai kesetiaan yang ada pada diri seseorang. Inilah pentingnya kesetiaan, sebab tabiat manusia dalam ikatan kekeluargaan bersifat angin-anginan. Pameo orang Jawa berbunyi, famili itu jika berada di tempat yang jauh baunya wangi, tetapi jika berdekatan, apalagi serumah mudah berubah menjadi bau busuk. Konflik antar keluarga sering lebih sulit didamaikan dibanding konflik antar bukan keluarga. Rumah tangga yang kesetiaannya hanya diikat oleh faktor harta benda, tunggulah kehancuran, karena tabiat harta memang curang. Ia hanya mau menemani dalam keadaan suka, sementara dalam keadaan duka harta justru sering menjadi pemicu permusuhan. Pameo orang Jakarta ada yang berbunyi, ada uang, abangku sayang, tak ada uang, abang kutendang. Ada uang berarti
abang saya, tidak ada uang abang payah.
Perekat kesetiaan yang kekal abadi adalah ikatan amal saleh, ikatan kebaikan. Suami isteri yang diikat oleh nilai-nilai kesucian, kebaikan biasanya tahan godaan, tahan banting, tahan ombak. Di kala suka mereka bersyukur, di kala duka mereka bersabar. Sepanjang zaman, zaman suka ataupun zaman duka, zaman apa lagi penuh derita mereka tetap kuat, tabah dan indah dan bahkan kebahagiaan dan keindahan masih tetap terasa meski yang satu sudah mendahului berada di alam lain. Pasangan yang demikianlah yang akan dapat menjadi pasangan bukan hanya seumur hidup, tetapi pasangan dunia akhirat.
Sahabatku yang "single" ingin segera menikah, bila memang ada niat & keinginan sungguh2 untuk menjemput jodohnya maka Allah akan kirimkan jodoh yg terbaik dari sisiNya. Sahabatku, Jangan putus asa, tetaplah berikhitiar menjemput jodoh anda & memohon kpd Allah agar diberikan jodoh yg terbaik.
--
Sahabatku, yuk..aminkan doa ini untuk mendapatkan jodoh yg terbaik dari sisi Allah.'Rabbana hablana milladunka zaujan thayyiban wayakuna shahiban lii fiddini waddunya wal akhirah' Artinya. 'Ya Tuhan kami, berikanlah kami pasangan yg terbaik dari sisiMu, pasangan yg juga menjadi sahabat kami dlm urusan agama, urusan dunia & akhirat.'
Wassalam,
Muhamad Agus Syafii
--
Sahabatku yang "single" ingin segera menikah. Bersabarlah! & memohon kpd Allah agar diberikan jodoh yg terbaik. Insya Allah, keluarga sakinah mawaddah warahmah segera terwujud. yuk..hadir pada kegiatan "Berkah Ramadhan Bersama Amalia" (BELIA) Ahad, 29 Juli 2012. jam 4 s.d 6 sore di Rumah Amalia. Bila berkenan berpartisipasi: pakaian baru, buku bacaan, paket sembako, peralatan sholat, konsumsi berbuka puasa. Silahkan kirimkan ke Rumah Amalia. Jl. Subagyo IV blok ii, no. 24 Komplek Peruri, Ciledug. Tangerang 15151. Partisipasi anda sangat berarti bagi kami. Info: agussyafii@yahoo.com atau SMS 087 8777 12 431, http://agussyafii.blogspot.com/
[Non-text portions of this message have been removed]
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================
[daarut-tauhiid] Bukan Harta Tapi Akhlak Mulia
Pertempuran besar akan terjadi. Rasulullah SAW dan pasukan Islam bergerak untuk mendahului kaum Musyrikin Quraisy sehingga mereka bisa menduduki tempat di dekat sumur Badar. Dengan begitu, mereka dapat menghalangi Quraisy dari sumur itu. Pada sore hari, mereka telah sampai di dekat sumur itu.
Saat itu berdirilah Hubbab bin Mundzir, "Wahai Rasulullah, apakah keputusan untuk menempati lokasi ini merupakan wahyu Allah, atau merupakan pendapatmu sebagai siasat dan taktik perang?"
Rasulullah SAW menjawab, "Ini merupakan pendapatku sebagai siasat dan taktik perang."
Hubbab berkata lagi, "Wahai Rasulullah, jika ini strategi yang lahir dari pendapatmu dan bukan merupakan wahyu, maka menurutku, kita harus berhenti di tepi sebelah sana sehingga kita lebih dekat dari mereka. Kita timbun sumur mereka, lalu kita penuhi sumur kita dengan air sehingga mereka tidak bisa menjangkaunya. Ketika berperang, kita bisa minum dengan leluasa, tetapi mereka kesulitan mendapatkan air sehingga tidak bisa minum."
Lalu, Rasulullah SAW berkata, "Pendapatmu sangat tepat."
Kemudian Rasulullah SAW bangkit membawa pasukannya sampai jarak mereka lebih dekat dengan sumur dari pihak musuh.
Demikianlah salah satu strategi jitu yang diterapkan oleh Rasulullah SAW dan pasukannya. Ternyata taktik perang yang disampaikan Hubbab sangat tepat. Pasukan Islam pun berhasil meraih kemenangan berkat taktik tersebut walaupun kenyataannya jumlah pasukan kafir jauh lebih banyak. Ketika pasukan kafir Quraisy kehausan, mereka lalu segera berhamburan meminum air dari sumur Badar. Dengan cepat pasukan Islam menyerang mereka hingga banyak di antara orang-orang kafir itu mati dan sebagian lagi lari terbirit-birit.
Inilah salah satu bukti keindahan akhlak Rasulullah SAW. Beliau mau menerima pendapat sahabatnya, padahal beliau seorang Nabi dan utusan Allah! Beliau adalah orang yang paling bertakwa. Apakah dengan cara yang dilakukan Rasulullah ini, para sahabat menjauhi dan menghina beliau? Ternyata tidak. Justru beliau semakin dicintai. Setiap titahnya semakin dihargai. Setiap kata-katanya diingat, dihafal, dan dijalani dengan sepenuh hati. Beliau tidak menang sendiri; pokoknya apa yang dikatakan harus dilakukan. Titik. Ternyata tidaklah demikian adanya. Bahkan beliau pernah meminta doa kepada salah seorang sahabatnya yang akan pergi haji ke Makkah. Hal ini menunjukkan kerendahhatian beliau.
Orang-orang yang tidak mengerti dan berpikiran pendek bisa saja mengatakan, "Lihat saja Nabimu. Dia minta pendapat kepada teman-temannya, bukankah dia seorang Nabi? Seharusnya seorang Nabi itu lebih mengetahui daripada orang lain. Dia juga minta doa kepada para sahabatnya, bukankah dia seorang Nabi? Jadi, mengapa dia harus meminta doa, bukankah doa yang dipanjatkannya selalu dikabulkan Allah?" Mereka tidak melihat sisi kemanusiaan Rasulullah. Mereka hanya memandang Rasulullah ada di atas sana, tidak terjangkau layaknya malaikat yang tidak pernah berbuat dosa atau bahkan menganggapnya sebagai Tuhan!
Rasulullah adalah orang yang sederhana. Tidak memiliki banyak harta. Andaikata para sahabatnya gila harta, tentu mereka meminta harta dari Rasulullah. Walaupun demikian, Rasulullah adalah orang yang dermawan. Beliau memberikan apa yang dimiliki dengan senang hati. Beliau pernah memberikan mantel bagus yang baru saja dipakainya. Oleh karena itu, bukanlah harta yang dikedepankan Rasulullah, tetapi akhlak mulia. Bukanlah pangkat dan jabatan yang bisa mengangkat derajat dan martabat seseorang, tetapi akhlak mulia!
Mungkin saja ada orang yang lebih banyak memberi daripada Rasulullah, tetapi tidak ada orang yang mampu menyamai akhlak beliau. Kadang orang memberi sedikit tapi yang diberi sangat senang bukan main. Si penerima sangat menghormati si pemberi. Padahal yang diberi hanya sedikit saja! Hal itu terjadi karena akhlak mulia si pemberi. Sebaliknya, ada orang yang banyak memberi, tapi di belakang si penerima tidak senang hati. Walaupun sangat membutuhkan terhadap apa yang diberi, tetapi dia tidak begitu peduli dengan si pemberi. Ya, hal itu terjadi karena akhlak buruk si pemberi. Saat memberi dia ingin di puji, sombong, dan ingin orang-orang yang diberi tunduk padanya. Bila tidak tunduk, dia sangat marah. Jadilah orang seperti ini dijauhi.
Rasulullah Saw. selalu mengedepankan akhlak. Meskipun yang dihadapinya seorang anak kecil. Keindahan akhlak memancarkan kemilau cahaya ke seluruh penjuru bumi. Ketiadaannya membuat orang-orang di sekitarnya sedih. Keberadaannya selalu dinanti-nanti."Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu." (QS. Ali Imran: 159)
http://abu-farras.blogspot.com/2012/05/bukan-harta-tapi-akhlak-mulia.html
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================
[daarut-tauhiid] Manusia dihadapan Syari’at Penciptanya
Manusia dihadapan Syari'at Penciptanya
Telah menjadi suratan ilahi bahwa manusia termasuk salah satu makhluk Allah yang menjalani roda kehidupan di dunia yang fana ini. Dengan segala hikmah dan keadilan-Nya, Allah menjadikan mereka sebagai makhluk yang dilingkupi oleh segala kelemahan dan keterbatasan. Allah menciptakan nenek moyang mereka (Adam) dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Hal ini sebagaimana firman Allah:
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk." (al-Hijr: 26)
Adapun keturunannya, Allah menciptakan mereka dari percampuran setetes air mani sepasang insan, suami dan istri. Kemudian Allah menjadikannya mendengar dan melihat untuk diuji oleh-Nya dengan berbagai perintah dan larangan. Allah berfirman:
"Tidakkah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedangkan dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat." (al-Insan: 1—2)
Tak ubahnya makhluk hidup lainnya, manusia pun mengalami sekian fase dalam kehidupannya. Tercipta sebagai hamba yang lemah, kemudian menjadi kuat (fisiknya) dan kembali mengakhiri kehidupannya dalam keadaan lemah. Allah berfirman:
"Allah, Dialah yang menciptakan kalian dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kalian) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kalian) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa." (ar-Rum: 54)
Manusia dengan segala kelemahan dan keterbatasannya sangat membutuhkan Allah, Pencipta alam semesta, petunjuk, bimbingan, pertolongan, dan syariat-Nya. Allah berfirman:
"Hai sekalian manusia, kalianlah yang amat butuh kepada Allah, dan Allah Dia-lah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji." (Fathir: 15)
Kebutuhan tersebut semakin besar manakala manusia ditetapkan oleh Allah Yang Mahahakim sebagai makhluk mukallaf (yang berkewajiban menjalankan segala yang diperintahkan dan menjauhi segala yang diharamkan-Nya) di dunia ini. Tanpa pertolongan Allah, taufiq dan hidayah-Nya tak mungkin keselamatan hidup bisa didapat. Tanpa mengikuti agama dan syariat yang diridhai-Nya tak mungkin kebahagiaan bisa diraih. Tanpa nikmat, karunia, dan kekuatan dari-Nya pula tak mungkin manusia bisa menjalani pahit getirnya kehidupan. Bagaimanapun kondisinya, ia adalah makhluk yang lemah. Meskipun segudang harta telah ditimbunnya dan setumpuk gelar duniawi telah disandangnya. Allah berfirman:
"Dan manusia diciptakan dalam keadaan (bersifat) lemah." (an-Nisa': 28)
Islam, Anugerah Utama yang Diberikan oleh Allah kepada Manusia
Di antara kasih sayang Allah terhadap manusia yang selalu dilingkupi oleh kelemahan dan keterbatasan tersebut adalah agama Islam dan syariatnya yang mulia. Dialah Yang Maha Berkehendak dan Memilih agama Islam sebagai pijakan dan pedoman hidup mereka dalam menjalani roda kehidupan. Allah berfirman:
"Dan Rabb-mu menciptakan segala apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka." (al-Qashash: 68)
Islam adalah satu-satunya agama yang dibawa para nabi dan rasul di muka bumi ini. Satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah dan tak diterima amalan ibadah selain dengannya. Allah berfirman:
"Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam." (Ali Imran: 19)
"Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi." (Ali Imran: 85)
Agama Islam yang dibawa para nabi dan rasul tersebut mempunyai prinsip keyakinan (aqidah) yang sama, tidak ada perbedaan satu dengan yang lainnya. Semuanya bersendikan iman kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya dan tunduk patuh kepada-Nya. Iman kepada malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan segala ketentuan-Nya (qadha dan qadar). Kemudian beristiqamah di atas agama yang mulia tersebut, dengan menegakkan syariatnya, bersatu di atasnya dan tidak berpecah belah tentangnya. Ini sebagaimana firman Allah:
Dan sungguh Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), "Beribadahlah hanya kepada Allah (saja), dan jauhilah segala sesembahan selain Allah itu." (an-Nahl: 36)
"Rasul telah beriman kepada Al-Qur'an yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat." (Mereka berdoa): "Ampunilah kami wahai Rabb kami dan kepada Engkaulah tempat kembali." (al-Baqarah: 285)
"Dia telah mensyariatkan bagi kalian tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu: tegakkanlah agama dan janganlah kalian berpecah belah tentangnya." (asy-Syura: 13)
Adapun syariat (rincian aturan hidup yang harus dijalani) yang dibawa oleh para nabi dan rasul tersebut kepada umatnya, ada perbedaan satu dengan yang lain sesuai dengan hikmah kehidupan yang Allah kehendaki. Allah berfirman:
"Untuk tiap-tiap umat di antara kalian, Kami berikan aturan dan jalan yang terang." (al-Maidah: 48)
Di antara perbedaan mendasar antara syariat Islam yang dibawa oleh Rasulullah selaku nabi akhir zaman yang tidak ada nabi setelahnya dan syariat para nabi serta rasul sebelum beliau adalah bahwa syariat beliau berlaku untuk seluruh umat manusia (universal) sepanjang masa, sedangkan syariat para nabi dan rasul sebelum beliau terbatas sasarannya (untuk kaum tertentu saja) dan masanya. Allah berfirman:
"Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan." (Saba': 28)
Rasulullah bersabda:
"Dahulu, seorang nabi diutus kepada kaumnya semata, sedangkan aku diutus kepada umat manusia secara keseluruhan." (HR. al-Bukhari dan Muslim, dari sahabat Jabir bin Abdillah)
Karena syariat Rasulullah bersifat universal dan berlaku sepanjang masa, dengan segala kasih sayang dan hikmah-Nya yang tinggi, Allah menyempurnakan syariat beliau sehingga memenuhi segala kebutuhan umat manusia dalam kehidupan mereka dan relevan (cocok) untuk setiap generasi di masanya. Firman Allah:
"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Ku-cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu sebagai agama bagi kalian." (al-Maidah: 3)
Dengan demikian, cukuplah bagi seluruh umat manusia untuk mengikuti syariat Rasulullah semata, tanpa syariat yang dibawa para nabi dan rasul sebelum beliau. Bahkan, setelah diutusnya beliau, semua syariat dari agama yang dibawa para nabi dan rasul sebelum beliau tidak bisa dijadikan sebagai agama, dan tidak bisa pula mendekatkan diri kepada Allah dengannya. Semua itu telah terwakili dengan syariat Islam yang dibawa Rasulullah. Ini sebagaimana sabda beliau:
"Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak ada seorang pun dari umatku ini (yang aku diutus kepadanya) dari kalangan Yahudi dan Nashrani kemudian meninggal dunia dalam keadaan belum beriman dengan apa (syariat) yang aku bawa, melainkan termasuk dari penghuni neraka (an-Nar)." (HR. Muslim, dari sahabat Abu Musa al-Asy'ari)
Di Bawah Naungan Syariat Islam
Syariat Islam yang dibawa oleh Rasulullah, selain sempurna dan memenuhi segala kebutuhan umat manusia dalam kehidupan mereka, ia pun sangat sesuai dengan fitrah yang suci, karena tidak mengandung kesempitan dan belenggu yang memberatkan. Ini sebagaimana firman Allah:
"Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kalian dalam agama suatu kesempitan." (al-Hajj: 78)
Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam ceramah agama yang bertajuk asy-Syari'ah al-Islamiyyah wa Mahasinuha wa Dharuratu al-Basyar Ilaiha mengatakan, "Syariat ini adalah syariat yang penuh kemudahan, toleransi, kasih sayang, dan kebaikan. Syariat yang penuh kemaslahatan yang tinggi dan senantiasa memerhatikan berbagai sisi yang dapat mengantarkan para hamba kepada kebahagiaan dan kehidupan mulia, di dunia dan di akhirat."
Betapa indah syariat Islam yang dibawa Rasulullah. Syariat yang memerhatikan hubungan antara hamba dengan Allah sang Pencipta, memosisikan-Nya sebagai tumpuan hidup, berserah diri kepada-Nya, tunduk dan patuh kepada-Nya, memurnikan ibadah hanya untuk-Nya, dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Syariat yang memerhatikan hubungan antara hamba dan sesamanya, yaitu dengan cara menyayangi yang lebih muda dan menghormati yang lebih tua, menyantuni yang lemah, membantu orang yang terlilit utang, menyambung tali silaturahmi, menjaga hubungan baik dengan tetangga, memuliakan tamu, jujur dalam segala bentuk transaksi, dan sebagainya. Syariat yang bersifat adil dan tepat, tidak berlebihan, serta tidak bermudah-mudahan dalam segala aspeknya.
Tak heran jika Allah memerintahkan Rasul-Nya yang mulia dan umatnya agar mengikuti syariat yang sempurna tersebut. Firman Allah:
"Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (rincian aturan hidup yang harus dijalani) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui." (al-Jatsiyah: 18)
Para pembaca yang mulia, kehidupan di bawah naungan syariat Islam sangat berbeda dengan kehidupan yang jauh darinya. Di bawah naungan syariat Islam, umat manusia—yang sebelumnya berada dalam jurang kejahiliahan—terbimbing meraih hidayah. Sekian banyak orang —yang sebelumnya tenggelam dalam bid'ah dan kesesatan—mendapatkan hidayah kepada as-Sunnah. Dua kekaisaran adikuasa dunia, Romawi dan Persia, dapat ditaklukkan. Tidak sedikit dari mereka yang mendapatkan hidayah Islam. Demikian pula negeri-negeri kafir yang sebelumnya dipenuhi oleh kesyirikan dan kemaksiatan berubah menjadi negeri tauhid dan takwa yang berlimpah rahmat.
Demikianlah syariat Islam. Tidaklah masuk pada sebuah individu melainkan membuatnya penuh rahmat. Tidaklah masuk ke dalam keluarga melainkan membuat mereka penuh rahmat. Tidaklah masuk ke suatu kaum melainkan membuat mereka penuh rahmat. Bahkan tidaklah masuk ke sebuah negeri melainkan membuatnya penuh rahmat. Sejarah telah mencatat bahwa syariat Islam yang dibawa oleh Rasulullah adalah rahmat bagi alam semesta (rahmatan lil 'alamin). Allah berfirman:
"Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam." (al-Anbiya': 107)
Sungguh berbeda kondisi orang-orang yang hidup di bawah naungan syariat Islam dengan orang-orang yang hidup berkesumat benci terhadapnya. Allah berfirman:
"Apakah orang-orang yang Allah lapangkan dadanya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabbnya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka Kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah, mereka itu dalam kesesatan yang nyata." (az-Zumar: 22)
Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa'di berkata, "Apakah orang yang dilapangkan dadanya oleh Allah untuk (menyambut) agama Islam, siap menerima dan menjalankan segala hukum (syariat) yang dikandungnya dengan penuh kelapangan, bertebar sahaja, dan di atas kejelasan ilmu (inilah makna firman Allah "ia mendapat cahaya dari Rabbnya"), sama dengan selainnya? Yaitu orang-orang yang membatu hatinya terhadap Kitabullah, enggan mengingat ayat-ayat Allah, dan berat hatinya untuk menyebut (nama) Allah. Bahkan, kondisinya selalu berpaling dari (ibadah kepada) Rabbnya dan justru mempersembahkan (ibadah tersebut) kepada selain Allah. Merekalah orang-orang yang ditimpa oleh kecelakaan dan kejelekan yang besar." (Taisir al-Karimirrahman, hlm. 668)
Kewajiban Menerapkan Syariat Islam
Para pembaca yang mulia, dari penjelasan yang telah lalu dapatlah disimpulkan bahwa siapa saja yang mendambakan hidup bahagia di dunia dan di akhirat hendaknya menerapkan syariat Islam dalam segala aspek kehidupannya. Apapun status sosialnya, apakah ia seorang pemimpin atau yang dipimpin, penguasa atau rakyat jelata, guru atau murid, kaya atau miskin, pengusaha atau pedagang, nelayan atau petani, lelaki atau wanita, sudah menikah atau gadis, dan sebagainya. Semuanya diseru oleh Allah untuk masuk ke dalam agama Islam secara total (kaffah) dan menerapkan syariatnya dengan sebaik-baiknya. Allah berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara total, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian." (al-Baqarah: 208)
"Hai orang-orang yang beriman, sambutlah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kalian kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kalian. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya, dan sesungguhnya kepada-Nyalah kalian akan dikumpulkan." (al-Anfal: 24)
Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam ceramah agama yang bertajuk asy-Syari'ah al-Islamiyyah wa Mahasinuha wa Dharuratu al-Basyar Ilaiha mengatakan, "Allah menjadikan sikap menyambut seruan Allah dan Rasul-Nya sebagai kehidupan, dan sikap enggan menyambut seruan tersebut sebagai kematian. Oleh karena itu, jelaslah bahwa syariat Islam adalah kehidupan bagi umat dan pangkal kebahagiaan mereka. Sungguh, tidak ada kehidupan dan kebahagiaan bagi mereka, tanpa itu semua."
Lebih dari itu, Allah berjanji kepada orang-orang yang menerapkan syariat-Nya dalam kehidupan ini dengan beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Hal ini sebagaimana dalam firman-Nya:
"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal yang saleh, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap beribadah hanya kepada-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku." (an-Nur: 55)
Mungkin di antara pembaca ada yang mengatakan, "Saya bertekad menerapkan syariat Islam yang mulia. Namun, syariat yang seperti apakah yang harus diterapkan dan bagaimana cara menerapkannya?"
Wahai saudaraku, sesungguhnya ilmu adalah pembimbing utama untuk mengetahui rincian syariat yang harus diterapkan tersebut, sekaligus cara penerapannya. Ilmu yang bersumber dari Al-Qur'an, Sunnah Rasulullah, dan bimbingan para sahabat yang mulia. Untuk mencapainya, tentu dibutuhkan proses menuntut ilmu dan senantiasa bertanya kepada ahlinya (ulama) tentang berbagai permasalahan yang rumit.
Perlu diketahui, syariat Islam yang harus diterapkan tersebut bersifat menyeluruh, mencakup segala aspek kehidupan. Mulai yang terkait dengan ibadah mahdhah (murni) hingga masalah muamalah (interaksi dengan sesama). Mulai amalan individu hingga amalan yang bersifat kebersamaan (jamaah). Ia tidak terbatas pada penerapan hukuman pidana (hudud) semata: qishash, potong tangan pencuri, rajam, dan yang semisalnya. Penerapan syariat Islam pun tidak dibatasi oleh ruang lingkup atau kondisi tertentu. Tidak seperti paham sesat sekuler yang memisahkan antara agama/syariat dan dunia. Agama/syariat tempatnya di masjid semata, sedangkan di luar masjid bebas berbuat apa saja. Tidak pula seperti doktrin sesat sebagian harakah, syariat Islam apapun bentuknya tidak bisa diterapkan selama belum berdiri Negara Islam.
Pembaca yang mulia, penerapan syariat Islam di masa Rasulullah dan para sahabatnya tidak menunggu berdirinya Negara Islam. Berbagai syariat yang bersifat amalan individu atau yang bersifat kebersamaan dan memungkinkan untuk diterapkan, segera mereka terapkan. Dimulai dari elemen terkecil yakni individu masing-masing, kemudian keluarga, dan kemudian elemen yang lebih besar lagi hingga masyarakat luas.[1]
Adapun syariat Islam yang penerapannya tidak mungkin dilaksanakan selain dengan keterlibatan pemerintah Islam, seperti hukuman qishash, potong tangan pencuri, rajam, dan yang semisalnya, tidak diterapkan melainkan setelah adanya pemerintahan Islam tersebut. Demikianlah yang terjadi di masa Rasulullah. Tidaklah hukuman qishash, potong tangan pencuri, rajam, dan yang semisalnya diterapkan melainkan setelah adanya pemerintah Islam yang dipimpin oleh Rasulullah di kota Madinah.
Berangkat dari sini, marilah kita semua mempelajari hakikat syariat Islam yang dibawa oleh Rasulullah secara utuh dan berupaya menerapkannya dalam kehidupan individu dan keluarga kita masing-masing. Dengan itu, insya Allah syariat Islam dapat diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat.
Jangan bermimpi syariat Islam dapat diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat sementara kita dan keluarga kita masih buta tentang hakikat syariat Islam tersebut. Jangan bermimpi syariat Islam dapat diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat sementara orang-orang yang getol memperjuangkannya belum menerapkannya dalam kehidupan individu dan keluarganya.
Wallahul Musta'an.
Catatan Kaki:
[1] Berkat kesungguhan dan ketulusan mereka dalam menerapkan syari'at Islam itulah akhirnya Allah mewujudkan janji-Nya untuk mereka. Allah menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa, sebagaimana yang terkandung dalam surat An-Nur ayat 55 di atas.
Sumber: www.asysyariah.com
[Non-text portions of this message have been removed]
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================