Jumat, 29 Maret 2013

[daarut-tauhiid] Tapping

 

Assalaamu'alaikum wr. wb.

Semoga Alloh senantiasa meridhoi apa yang kita kerjakan. Sebulan lebih
yang lalu saya berkesempatan mengikuti pelatihan SEFT Total Solution.
Salah satu manfaat dari materi training yang disampaikan adalah untuk
Healing, termasuk diantaranya untuk membantu orang yang berkeinginan
untuk berhenti merokok tetapi sering merasakan sulit. [:)]

Saya ingin berbagi dengan teman2 yang masih merokok dan ingin berlepas
diri dari rokok, insya Alloh saya bantu dengan tapping sampai Anda
betul2 tidak berhasrat lagi dengan asap rokok. Saya di Jakarta, tepatnya
di Tomang, silahkan hubungi saya ismansyah@ymail.com

Terima kasih.
Ismansyah

__._,_.___
Reply via web post Reply to sender Reply to group Start a New Topic Messages in this topic (1)
Recent Activity:
====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
       website:  http://dtjakarta.or.id/
====================================================
.

__,_._,___

[daarut-tauhiid] Mengembalikan Jati Diri Umat Islam

Mengembalikan Jati Diri Umat Islam*
*

*
*

*BETAPA *sedih rasanya jika menatap realitas kaum Muslimin dewasa ini.
Mereka diselimuti oleh kemiskinan ideologi, moral, dan material. Mereka
telah terjangkiti virus *hubbud dunya wa karahiyatul maut *(kecintaan
secara berlebih-lebihan terhadap dunia dan takut mati). Mereka berbuat *
zhalim *karena miskin iman. Dan mereka sering melakukan tindakan yang tidak
terkontrol kerena miskin ilmu. Pemimpin mereka mengajarkan bahwa ilmu
adalah cahaya, sedangkan kebodohan adalah kegelapan.. Mereka tidak peduli
dengan nasihat para Nabinya, sehingga mereka kurang wawasan, maka gelaplah
pikiran dan mata hati mereka dalam mengelola problem yang di hadapi.

Mereka bukanlah penguasa-penguasa di bumi seperti yang dijanjikan oleh
Allah Subhanahu Wata'ala. Umat Islam yang dijuluki *khairu ummah *(umat
yang paling baik), hanyalah sebagai mainan kecil/bola pimpong di tangan
kaum kafir dan musyrik. Keberadaan kaum Muslimin belum berhasil menjadikan
diri mereka gambaran Al-Quran yang berjalan secara kongkrit yang bisa
disaksikan orang lain. Bahkan, mereka adalah manusia-manusia yang memiliki
kelayakan untuk dijajah (*qabiliyyah littakhalluf*). Jadi, bukanlah musuh
yang terlalu kuat untuk dihadapi, tetapi kaum Musliminlah yang kehilangan
elan vital, spirit jihad.

Kaum Muslimin kontemporer bukanlah pahlawan ilmu pengetahuan, sekalipun
al-Quran memberikan perintah pertama kali, *iqra'* (bacalah). Mereka
bukanlah orang yang berkepala dingin dalam mengelola konflik, sekalipun
mereka telah membaca surat Asy Syura. Mereka bukanlah orang yang kuat dalam
aspek militer, sekalipun kitab mereka memerintahkan untuk mempersiapkan
kekuatan. Mereka bukanlah orang yang pandai berbisnis, sekalipun pasca
Jum'atan diintruksikan untuk bertebaran di muka bumi. Alangkah jauhnya
jarak kaum Muslimin dengan kitab sucinya?

Gerangan apakah yang menjadikan pendahulu mereka menguasai hampir separo
dunia? Gerangan apakah yang mengubah para penunggang onta di gurun sahara
yang sunyi dan gersang menjadi referensi/rujukan pahlawan ilmu dan
peradaban dunia? Gerangan apakah yang mengubah suku-suku yang hobi
minum-minuman, perang karena dipicu persoalan sepele, makan riba, main
perempuan, merampok, menjadi komunitas yang disegani oleh kawan dan lawan?
Gerangan apa pula yang membuat penggembala-penggembala yang bodoh menjadi
penakluk-penakluk Kekaisaran Persia dan Bizantium?

*Langkah Fundamental
*

Perhatikanlah, apakah yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi
Wassalam untuk melahirkan revolusi menakjubkan ini dalam jangka waktu
kurang dari ¼ abad. Yang paling utama dan pertama-tama yang dilakukan oleh
manusia pilihan itu adalah menanamkan di dalam hati
pengikut-pengikutnya *kalimatut
taqwa, kalimat thayyibah, kalimatun sawa, kalimatut tauhid, qaulun
tsabitun *: "laa Ilaaha illallah Muhammadur Rasulullah".

Beliau mengajarkan kepada kita bahwa tidak ada tuhan yang layak disembah
dan dipuja selain Allah Subhanahu Wata'ala. Selain Allah Subhanahu Wata'ala
adalah makhluk yang hina (dzalil), bodoh (jahil), faqir (membutuhkan orang
lain), *'ajiz *(lemah, tidak kuat menahan ngantuk jika sudah tiba).
Betapapun luasnya kekuasaan, keberlimpahan harta, ketinggian ilmu, dan
kuatnya pengaruh mereka.

Mereka adalah makhluk yang kecil, remeh, tidak berdaya, tidak ada
apa-apanya di hadapan Al-Khaliq, Al-'Alim, Al-Akram. Semua manusia memiliki
kedudukan yang sama. Ukuran seseorang tidak ditentukan oleh asesoris
lahiriyah. Misalnya, kekayaan yang dimiliki, kekuasaan yang digenggam,
luasnya wawasan dan ilmu serta pengaruh keturunan (darah biru). Yang paling
mulia disisi-Nya hanyalah orang yang bertakwa. [QS: Al Hujurat (49) : 13].

Kalimat tauhid tersebut di atas menanamkan sikap harga diri kaum Muslimin
awal. Dan pada saat yang bersamaan tercerabut rasa rendah diri. Hilang jiwa
kerdil, dan tertanamlah jiwa besar. Hilang sikap jumud, terbukalah wawasan
yang baru, luas tak bertepi. Para pengikut Rasulullah Shallallahu 'alaihi
Wassalam yakin secara bulat bahwa kemuliaan itu adalah milik Allah,
Nabi-Nya dan para mukmin.

Begitu rasa rendah diri lenyap, bersemayamlah di dalam hati mereka
identitas yang konstruktif. Mereka bangga bukan karena kelebihan yang
mereka miliki, potensi diri yang hebat, dan backing dari kekuatan tertentu,
tetapi karena keyakinan yang kuat kepada kebesaran dan keagungan Allah
Subhanahu Wata'ala

*"Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati,
padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu
orang-orang yang beriman."* (QS. Ali Imran (3) : 139).

Kita semua tahu dari sejarah Islam, bagaimana sahabat yang berasal dari
orang Arab dusun Rabi' bin Amir berdiri dengan gagah berani di hadapan
Kaisar Romawi, dengan meyakinkan menampakkan kebanggan berislam, tanpa rasa
minder sedikitpun, menolak keharusan bersujud di hadapan raja, sekalipun
hanya mengendarai keledai kecil dan pakaian sederhana.

Ketika Kaisar Romawi bertanya dengan penuh keheranan, beliau menjawab: "Aku
diutus untuk membebaskan manusia dari penyembahan kepada sesama manusia
menuju penyembahan kepada Allah Subhanahu Wata'ala dan membebaskan mereka
dari kesempitan agama menuju keluasan agama."

Kita tahu bagaimana Umar bin Khathab menolak pakaian-pakaian raja yang
diberikan kepadanya ketika ia memasuki Yerusalem sebagai penakluk yang
gagah berani. Ia mengatakan, sesungguhnya islam sudah cukup memberikan
kemuliaan kepada diri saya. Bukan bersumber dari atribut lahiriyah.

Dari dua kisah tadi, kita dapat mengambil pelajaran penting bahwa kaum
Muslimin pertama tidak terpesona dan silau oleh kegemerlapan duniawi,
syahwat politik, syahwat perut dan syahwat di bawah perut (*syahwatul farji*
).

*Kiat Mengembalikan Harga Diri
*

Jika kaum Muslimin sekarang ingin mewarisi kepemimpinan/penghulu dunia,
mareka harus meraih kembali harga diri/identitas yang hilang. Yaitu dengan
memperbaharui daya serap terhadap hakikat kalimat tauhid, laa ilaha
illallah. Banyak diantara kita yang terpesona dengan kebesaran lahiriyah.
Terkagum-kagum dengan akselerasi sain dan teknologi bangsa lain.

Sehingga kita lupa bahwa kita adalah Muslim/mukmin yang lebih unggul di
hadapan Allah Shallallahu 'alaihi Wassalam.

Yang lebih ironis, sebagian kaum Muslim menyembunyikan keimanannya.
Seakan-akan keyakinan itu urusan pribadi, dan mengganggu orang lain. Kadang
merendahkan kalimat salam, hanya karena takut dikenali sebagai Muslim.
Mereka ragu/skeptis bahwa ajaran Islam adalah sumber kemuliaan dan kejayaan
di dunia ini dan di akhirat.

Lihatlah *ghirah *keislaman Ibnu Masud, yang dikenal seorang *'alim
al-Muqri' *(penghafal al-Quran) dari kalangan sahabat. Dialah orang yang
pertama membacakan Al-Quran kepada kaum kafir setelah Rasulullah
Shallallahu 'alaihi Wassalam. Setelah kaum kafir bersepakat melarang orang
mendengarkan Al-Quran, para sahabat berkumpul di suatu tempat. Mereka
membahas situasi dan berkesimpulan bahwa salah seorang diantara mereka
harus membacakan Al-Quran di hadapan kerumunan dan hiruk pikuk para kuffar
dengan kesiapan menanggung resiko yang tidak mudah dan sederhana.

Ternyata, Ibnu Masud yang berkaki kecil itu bersedia melakukannya.
Sahabat-sahabat yang lain menolaknya dengan mengatakan : Kami merasa
khawatir tentang dirimu. Yang kami perlukan adalah seseorang yang didukung
oleh keluarga-keluarganya yang memiliki akses ekonomi dan kekuasaan kabilah
Quraisy sehingga meminimalisir penyiksaan kaum kafir.

Sekalipun beliau saat itu kurang dikenal, tetapi bersikeras untuk
melaksanakan tugas. Beliau pergi ke pasar dan membaca Al-Quran dengan suara
keras. Maka, orang-orang kafir menyiksanya. Dan beliau kembali kepada
keluarganya dengan wajah berlumuran darah.

Para sahabat bertanya, Inilah yang kami khawatirkan? Abdullah
menjawab;"Kaum kafir itu belum pernah sedemikian hina di mataku kecuali
untuk hari ini. Jika kalian sudi, saya akan mengatakan hal yang sama di
hadapan mereka besok atau lusa. Tidak, anda salah membacakan kepada mereka
apa yang mereka benci."

Pernyataan Abdullah itu menggambarkan pengaruh/efek dari tauhid/aqidah yang
sangat mendalam (atsarun fa'aal) dalam kehidupannya. Sekarang ini, ketika
semua filsafat gagal menuntun manusia menuju pintu kebahagiaan, kita
merindukan Ibnu Mas'ud, Ibnu Mas'ud pada abad 20. Yaitu, disamping bangga
sebagai Muslim, hamba Allah Subhanhu Wata'a, pula siap menanggung resika
yang paling pahit demi keimanan yang diyakininya.

Kita perlu meraih kembali identitas Muslim yang telah hilang. Agar tidak
mudah silau dengan kemegahan dunia lain. Dan kita tanamkan kembali bahwa
sumber kemuliaan yang tidak akan pernah kering oleh perputaran peradaban
adalah berasal dari Allah, Rasul-Nya dan kaum beriman sendiri. Bukan
atribut yang diimpor dari asing. Di bawah naungan-Nya, rahim Islam pernah
melahirkan para pahlawan yang patriotik.

Dengan meraih kembali harga diri itu, kaum Muslimin akan bersikap tegas
terhadap orang kafir dan kasih sayang kepada orang-orang beriman.

íóÇ ÃóíøõåóÇ ÇáøóÐöíäó ÂãóäõæÇú ãóä íóÑúÊóÏøó ãöäßõãú Úóä Ïöíäöåö ÝóÓóæúÝó
íóÃúÊöí Çááøåõ ÈöÞóæúãò íõÍöÈøõåõãú æóíõÍöÈøõæäóåõ ÃóÐöáøóÉò Úóáóì
ÇáúãõÄúãöäöíäó ÃóÚöÒøóÉò Úóáóì ÇáúßóÇÝöÑöíäó íõÌóÇåöÏõæäó Ýöí ÓóÈöíáö
Çááøåö æóáÇó íóÎóÇÝõæäó áóæúãóÉó áÂÆöãò Ðóáößó ÝóÖúáõ Çááøåö íõÄúÊöíåö ãóä
íóÔóÇÁõ æóÇááøåõ æóÇÓöÚñ Úóáöíãñ

*"Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari
agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah
mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut
terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir,
yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang
suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang
dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui."
* (QS: Al Maidah (5) : 54).

*Sumber Kemuliaan Hakiki*

Umat Islam diajarkan untuk tidak bangga dengan atribut yang semu,
kebanggaan etnis, kekayaan, warna kulit, asesoris lahiriyah. Karena hal
itu akan membawa kehancuran dan penyesalan tiada akhir. Tetapi, Islam
mengajarkan pemeluknya untuk bangga menjadi hamba Allah yang taat, patuh
terhadap hukum-Nya. Tidak meletakkan dahi kepada siapapun. Karena dahi ini
hanya layak diletakkan untuk ta'zhim dan hurmat kepada Zat Yang Maha Kuat
dan Maha Perkasa. Kebanggan terakhir ini akan mendatangkan kemuliaan dan
kemenangan.

Sesungguhnya pemilik kekuasaan tanpa pensiun dini, kekayaan yang tidak
pernah habis, ilmu yang tidak pernah kering, hanyalah Allah Subhanahu
Wata'ala. Dia berkuasa menurunkan orang yang tadinya memiliki kedudukan
tinggi menjadi hina dalam sekejap. Dan Dia berkuasa mengangkat seseorang
yang tidak diperhitungkan, orang kecil, menjadi mulia dalam waktu yang
singkat pula. Kekuasaan, harta, ilmu, yang dimiliki oleh manusia hanyalah
hak guna dan hak pakai. Bukan hak milik. Kita perlu muhasabah, bukan
sekedar mempertanyakan apakah kepemilikan kita itu sudah sah secara formal,
tetapi apakah yang menjadi milik kita menambah kebaikan diri kita dan
bermanfaat untuk banyak orang (barakah)?

Apakah jabatan kita memuliakan kita? Apakah harta kita menambah kebaikan
keluarga kita? Apakah ilmu kita dirasakan manfaatnya oleh banyak orang?
Apakah pengaruh kita semakin mendekatkan diri kita kepada Allah Subhanahu
Wata'ala? Apakah anak dan isteri kita sebagai sumber kebahagian dan
ketenteraman kita?

Ahli sastra Arab mengatakan: "*Jika engkau membawa keranda ke kuburan
ingatlah suatu ketika engkau akan digotong. Dan jika engkau diserahi urusan
kaum ingatlah suatu saat engkau akan dimakzulkan (dilengserkan)".*
*

**

*Penulis adalah kolumnis
hidayatullah.com<http://www.hidayatullah.com/read/27229/12/02/2013/undefined>,
tinggal di Kudus, Jawa Tengah
*

Red: Cholis Akbar

sumber:
http://www.hidayatullah.com/read/27229/12/02/2013/mengembalikan-jati-diri-umat-islam-.html


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
daarut-tauhiid-digest@yahoogroups.com
daarut-tauhiid-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
daarut-tauhiid-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

[daarut-tauhiid] Mendidik Keimanan Anak Ala Nabi Ya’qub

Oleh: *Ali Akbar bin Agil

DEWASA *ini, tantangan dan rintangan yang harus dihadapi oleh orangtua
dalam mendidik putra-putrinya terasa berat. Beban ujian dan godaan datang
bertubi-tubi dari segala penjuru. Jika tidak pandai mendidik anak, bisa
saja mereka masuk dalam generasi gagal. Anak kita tidak dilahirkan selaras
dengan zaman kita.

Belajar dari seorang Wali Allah, Luqman, kita bisa belajar tentang mendidik
anak. Beliau membekali anaknya dengan iman, tauhid dan akidah yang kokoh.
Luqman mengajarkan putranya agar menjadi insan beriman, memiliki kekokohan
akidah, tidak menyekutukan Allah Subhanahu Wata'aladengan apapun juga.

Luqman mengenalkan kepada putranya siapa yang telah menciptakannya,
menghidupkan, mematikan, dan memberi rezeki. Iman merupakan sumber
inspirasi, pembuka wawasan, dan ide-ide cemerlang. Sebagai inspirasi, iman
dapat membuat seseorang tergerak melakukan kebaikan dan menjauhi kejahatan.
Dengan inspirasi iman, seseorang akan memilki motivasi dalam memenuhi
seruan-seruan kebajikan.

Sejarah mengukir kisah orang-orang yang terdidik dengan pendekatan iman.

Dengan iman, Abu Bakar Ash-Shiddiq menyerahkan semua hartanya di jalan
Allah. Dengan iman pula, Umar bin Khattab sebagai Kepala Negara siap sedia
membawa gandum di pundaknya, ia serahkan kepada seorang wanita yang papa.
Dengan inspirasi iman, Ali bin Abi Thalib rela tidur di pembaringan Sang
Nabi di waktu rumahnya dikepung musuh.

Dengan inspirasi iman, seseorang akan mampu bangun di waktu malam,
bermunajah kepada Allah, di musim dingin sekalipun. Dengan kekuatan iman
juga, Sumayyah tetap berkomitmen menjaga tauhidnya meski harus merelakan
nyawa satu-satunya. Semuanya karena iman kepada Allah.

Dengan iman yang kuat, seseorang akan berusaha menghiasi diri dengan akhlak
yang mulia.

Akhlak sangat penting dihadirkan dalam segala situasi dan kondisi.
Kemuliaan akhlak ada pada dorongan iman yang kuat. Kekuatan iman membuat
seorang anak selalu beretika dalam tiap tindak tanduknya, menghindari
perilaku-perilaku tercela. Dengan iman yang mantap, seorang anak yang didik
dengan metode ini, akan memilki rasa malu. Malu dalam melakukan kejahatan.

Rasa malu nyaris lenyap dalam kehidupan kita. Ada seorang anak tidak
malu-malu membuat malu keluarga dengan perbuatan nistanya. Tanpa rasa malu
ia berbuat keji. Tanpa iman, seseorang akan ringan-ringan saja melangkahkan
kaki dalam perbuatan yang dimurkai Allah Subhanahu Wata'ala.

Rasulullah Muhammad Shallallahu 'alaihi Wassalam memprioritaskan
pendidikan iman dalam dakwahnya. Beliau mengajarkan cara beriman dan
bertauhid kepada para sahabatnya yang kemudian ditularkan kepada anak-anak
mereka. Sebagai salah satu contoh kesuksesan orang tua memberi asupan iman
dan akidah yang kokoh kepada anaknya adalah Ali bin Abi Thalib.

Akkisah, dalam suatu kesempatan, Zainab duduk bersama ayahnya di dalam
kamar.
Sambil membelai-belai putrinya, sang ayah, Imam Ali, bertanya, "Dapatkah
engkau mengucapkan kata 'satu' ?"
"Dapat…", jawab Zainab dengan gaya kekanak-kanakan.
"Cobalah," lanjut Imam Ali.
"Sa-tu."
"Coba ucapkan lagi dua…"
Zainab diam, tidak menjawab.
"Cobalah, ucapkan sayang…!", ayahnya mengulang pertanyaannya.
"Ayah," kata Zainab, "aku tidak sanggup mengucapkan 'dua' dengan lidah yang
sudah terbiasa mengucapkan "satu."

Dalam kesempatan yang lain, pada suatu hari Zainab bertanya kepada ayahnya,
"Ayah, benarkah ayah mencintai diriku?"

"Bagaimana tidak, bukankah engkau kesayanganku?"

Mendengar jawaban ayahnya seperti itu Zainab menyahut, "Seharusnya cinta
itu ditujukan kepada Allah, sedangkan diriku cukuplah kasih sayang."

Lihatlah bagaimana seorang anak di bawah umur sudah memahami iman kepada
Allah Subhanahu Wata'aladengan begitu dalam. Bandingkan dengan kenyataan
yang dialami anak-anak kita hari ini. Mungkin anak-anak kita memiliki
kecerdasan intelektual namun nihil kecerdasan spiritual. Pendidikan yang
bersendikan iman dan tauhid kepada Allah, akan menjadikan anak-anak tahu
mana yang baik dan buruk, mana yang diridhai oleh Allah Subhanahu Wata'ala
dan dimurkai-Nya, dan berusaha untuk melakukan tindakan-tindakan yang baik,
di mana pun ia berada, ke mana pun ia melangkahkan kakinya.

Pada detik-detik kemangkatannya Nabi Ya`qub A`laihis Salaam tidak bertanya
tentang materi yang akan diperoleh oleh anak-anaknya. Beliau menanyakan
iman.

Allah Subhanahu Wata'ala merekam dengan sangat indah momen dialog Nabi
Ya`qub dengan anak-anaknya.

Ãóãú ßõäÊõãú ÔõåóÏóÇÁ ÅöÐú ÍóÖóÑó íóÚúÞõæÈó ÇáúãóæúÊõ ÅöÐú ÞóÇáó áöÈóäöíåö
ãóÇ ÊóÚúÈõÏõæäó ãöä ÈóÚúÏöí ÞóÇáõæÇú äóÚúÈõÏõ ÅöáóÜåóßó æóÅöáóÜåó ÂÈóÇÆößó
ÅöÈúÑóÇåöíãó æóÅöÓúãóÇÚöíáó æóÅöÓúÍóÇÞó ÅöáóÜåÇð æóÇÍöÏÇð æóäóÍúäõ áóåõ
ãõÓúáöãõæäó

*"Adakah kamu hadir ketika Ya'qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia
berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" Mereka
menjawab, "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim,
Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh
kepada-Nya."* (QS: Al-Baqarah : 133).

Nabi Ya`qub tidak bertanya soal apa yang akan dimakan sepeninggalnya,
beliau bertanya tentang iman. Iman tidak bisa diwariskan kepada anak-anak
kita. Kita dapat mengajarkan iman kepada anak-anak itu sejak dini, sebagai
bekal dalam menjalani kehidupan di dunia yang belakangan begitu menyedihkan.

Pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan oleh Mohammad Fauzil Adhim
dalam bukunya *"Positive Parenting"* (Cara-cara Islami Mengembangkan
Karakter Positif Pada Anak Anda) berikut ini, patut menjadi renungan bagi
kita semua.

"Seberapa gelisah kita hari ini? Apakah kita sibuk memperbanyak tabungan
agar mereka kelak tidak kebingungan cari makan sesudah kita tiada? Ataukah
kita bekali jiwanya dengan tujuan hidup, visi besar, semangat yang
menyala-nyala, budaya belajar yang tinggi, iman yang kuat dan kesediaan
untuk berbagi karena Allah?"

*Penulis adalah pengajar di Pesantren Darut Tauhid, Malang
*

Red: Cholis Akbar

http://www.hidayatullah.com/read/27908/28/03/2013/mendidik-keimanan-anak-ala-nabi-ya%E2%80%99qub.html


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
daarut-tauhiid-digest@yahoogroups.com
daarut-tauhiid-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
daarut-tauhiid-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

[daarut-tauhiid] Al-Ghazali dan Pendidikan Anti-Korupsi

 

Al-Ghazali dan Pendidikan Anti-Korupsi

Oleh: *Dr. Syamsuddin Arif

HAMPIR *setiap hari sejak beberapa bulan terakhir, kita dibombardir berita
korupsi dari kelas kakap hingga kelas teri. Dari tingkat pusat sampai level
kelurahan. Dari pegawai biasa hingga pejabat tinggi. Dari pengusaha hingga
politisi. Tak terkecuali jaksa, hakim, dan polisi, bahkan menteri.
Sepanjang tahun 2004 hingga 2012 saja, data dari Kemendagri mencatat, ada
2.976 anggota DPRD Tingkat I dan DPRD Tingkat II terlibat tindakan
kriminal, dimana 33,2 persen atau 349 kasus adalah korupsi. Umumnya kasus
manipulasi anggaran atau mark-up biaya pengadaan barang, fasilitas dan
jasa. Juga pemungutan biaya ilegal atas layanan publik, pemberian suap
alias gratifikasi dan penyalahgunaan wewenang atau jabatan untuk
kepentingan dan keuntungan pribadi maupun relasi.

Di satu sisi, berita-berita tersebut justru menimbulkan frustasi ketimbang
harapan. Kepercayaan masyarakat jadi makin surut pada institusi-institusi
di negeri ini. Alih-alih prihatin atau malu, publik maupun pelaku kini
sama-sama menjadikan korupsi sebagai bahan guyonan, karena kritik dan
sindiran setajam apapun tak lagi mempan. Seperti seloroh*Mbah *Kartolo di
TIM Jakarta: "Paling enak numpak motor, paling aman numpak sepur. Paling
aman dadi koruptor, nek konangan ya ndek Singapur". Maksudnya: paling
nyaman naik motor, paling aman naik kereta. Paling aman jadi koruptor,
kalau ketahuan kabur ke Singapur(a). Maka muncul di sisi lain tanda tanya
besar dalam benak kita: Apakah sebab ini semua dan adakah obatnya?

*Tiga Teori*

Secara umum, penjelasan para ahli mengenai korupsi dapat dikelompokkan
menjadi tiga.

*Pertama, *teori kesempitan yang mengatakan bahwa orang korupsi karena
gajinya kecil, pendapatannya rendah, hidupnya susah, kebutuhan banyak. Maka
solusinya, menurut teori ini, kesejahteraan perlu ditingkatkan dan gaji
dinaikkan. Namun masalahnya, jika teori kesempitan ini benar, mengapa
banyak pelaku korupsi itu ternyata orang-orang yang kehidupannya makmur?
Maka disodorkanlah dua tipe korupsi: yaitu korupsi karena kesempitan hidup (
*corruption out of need*) dan korupsi karena rakus (*corruption out of greed
*). Seperti hasil penelitian Vito Tanzi (1998, hlm. 572), kenaikan gaji dan
kecukupan tidak menjamin orang berhenti atau enggan korupsi.

*Teori kedua *boleh kita namakan teori kesempatan. Menurut teori ini, orang
korupsi karena adanya kesempatan, kendati awalnya mungkin tidak punya
keinginan atau rencana sama sekali. Namun teori ini pun bermasalah juga.
Apakah semua orang yang punya kesempatan pasti korupsi? Bukankah pada
kenyataannya tidak sedikit orang berkesempatan korupsi tetapi tidak
melakukannya? Teori yang berpijak pada asumsi keliru ini menganggap manusia
itu cenderung berbuat jahat. Maka dari itu semua pintu korupsi hendaklah
dikunci rapat-rapat. Jangan sekali-sekali memberi ruang atau peluang walau
sedikit atau sekecil apapun.

Namun lagi-lagi masalahnya seperti kata Iwan Fals (1986), "Otak tikus
memang bukan otak udang." Otak koruptor tidak sama dengan otak komputer.
Jika sudah niat korupsi, ada atau tidak ada kesempatan itu bukanlah
persoalan. Kesempatan bisa dicari, bahkan diciptakan. Dimana ada kemauan,
disitu ada jalan.

Adapun *yang ketiga *adalah teori kelemahan. Pendukung teori ini percaya
bahwa tindak korupsi merebak akibat lemahnya tata kelola pemerintahan (*poor
governance*), lemahnya sarana penegakan hukum (*weak legal infrastructure*),
dan lemahnya mekanisme pengawasan (*weak monitoring system*). Namun, teori
ini pada gilirannya terjebak dalam logika 'muter-muter' alias circular *
reasoning. *Bahwasanya korupsi disebabkan oleh pemerintahan yang lemah, dan
pemerintahan yang lemah disebabkan oleh korupsi. Pemerintahan mesti kuat
agar korupsi lenyap, dan korupsi baru lenyap bila pemerintahan kuat.
Jadilah pertanyaannya sekarang bagaimana memutus lingkaran setan ini.

*Perspektif Agama*

Karena korupsi adalah tindakan curang untuk mendapatkan uang ataupun
keuntungan dengan cara menyalahi, melangkahi, dan mengakali aturan hukum
dan undang-undang negara, maka termasuk tindak korupsi itu memberi dan
menerima suap (*bribery*), mencuri (*theft*) atau menggelapkan (*
embezzlement*), melakukan pemalsuan (*fraud*), pemerasan (extortion), dan
menyalahgunakan wewenang atau jabatan (*graft*). Semua praktek ini hukumnya
jelas haram. Agama melarang keras perbuatan korupsi segala bentuk:
*ghisysy*(menipu),
mencuri (*sariqah*), menggelapkan (*ghulul*), menyuap (*rasywah*), dan
menerima atau meminta suap (*irtisya'*).

*"Siapa bertindak curang [yakni korupsi] niscaya datang dengan
kecurangannya itu pada hari kiamat kelak",*firman Allah dalam al-Qur'an
(3:161).

Menurut Imam ar-Razi, curang di sini maksudnya mengambil hak [milik negara]
secara diam-diam atau sembunyi-sembunyi (*at-Tafsir al-Kabir, *cetakan
Beirut 2005, jilid 3, juz. 9, hlm. 62).

Kanjeng Nabi Muhammad pun telah bersabda: *"Wahai manusia, siapapun yang
menjalankan tugas untuk kami, lalu dia menyembunyikan dari kami barang
sekecil jarum atau lebih, maka apa yang disembunyikannya itu adalah
kecurangan [yakni korupsi] yang kelak dibawanya pada hari kiamat"*,
sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Imam Ahmad.

Bahkan dalam hadits lain, *"Seutas tali sekalipun akan menjadi api neraka
atau dua utas talipun akan menjadi api neraka [seandainya tidak
dikembalikan]." (*HR: Imām al-Bukhārī).

Kalau secara normatif agama begitu gamblang hukumnya, lantas mengapa
faktanya kejahatan korupsi begitu sukar untuk dihentikan? Apabila kita
cermati secara mendalam, niscaya jelas bahwa korupsi itu nyaris tidak ada
hubungannya dengan status agama pelakunya.

Tindakan korupsi lebih erat kaitannya dengan soal mentalitas daripada
identitas agama. Sebagaimana halnya kebersihan, kedisiplinan dan
kerja-keras lebih banyak ditentukan oleh sikap dan watak individu ketimbang
afiliasi ideologinya.

Nabi mengatakan, "Manusia itu ibarat logam. Kalau aslinya emas, maka apapun
bentuknya –cincin, kalung, ataupun gelang– tetap emas." Jika seseorang itu
dasarnya baik, rajin dan jujur, maka dia akan menjadi Muslim, Kristen,
Yahudi, Hindu, Buddha yang baik, rajin dan jujur. Sebaliknya jika wataknya
buruk, licik, dan pemalas, maka apapun agamanya akan tetap jahat dan buruk
perangainya.

Memang betul, manusia bukanlah logam. Manusia lahir asalnya bersih, *kullu
mawlūdin yūladu 'alal fitrah,*kata Kanjeng Nabi. Tidak ada bayi baru lahir
langsung jadi koruptor. Kejahatan dan sifat-sifat tercela seperti halnya
akhlak terpuji diperoleh dari lingkungan sosial dan intelektualnya. Jadi
tak salah kalau disimpulkan bahwa korupsi itu hasil pembelajaran,
pergaulan, dan pendidikan.

Di sinilah langkah kongkrit pemerintah (Kemendiknas) bersama KPK
memperkenalkan mata pelajaran dan mata kuliah anti-korupsi di
sekolah-sekolah dan perguruan tinggi patut dipuji dan didukung sepenuh hati.

Betapa besar pengaruh pendidikan terhadap korupsi telah lama disinyalir
oleh Ibn Khaldun, pakar sosiologi dan sejarawan Muslim klasik. Masyarakat
yang sekian lama mengalami penindasan dan kekerasan biasanya akan menjadi
bangsa yang korup. Kezaliman dan penindasan menyempitkan jiwa, menguras
semangat, dan akhirnya membuat mereka jadi bangsa pemalas, pembohong dan
licik. Meski berlawanan dengan hati nurani, hal itu dilakukan jua demi
menghindari penindasan yang lebih berat dari penguasa. Lama-kelamaan,
berbuat jahat dan menipu melekat jadi kebiasaan dan karakter mereka (*Students,
slaves, and servants who are brought up with injustice and tyranny are
overcome by it. It makes them feel oppressed and causes them to lose their
energy. It makes them lazy and induces them to lie and behave viciously.
They contradict their conscience for fear of suffering further oppression.
Thus they learn deceit and trickery).*Demikian tulisnya dalam kitab '*
al-Muqaddimah' *yang diterjemahkan oleh Franz Rosenthal (1967).

Namun, disamping langkah-langkah legal, politis dan edukatif, pencegahan
korupsi juga perlu menggunakan pendekatan spiritual agama. Kalau Anda
puasa, jangankan yang haram, sedang yang halal pun tidak Anda makan.
Sementara yang tidak puasa punya pilihan memakan yang halal saja, yang *
syubhat*(belum tentu halal dan boleh jadi haram), atau bahkan yang haram.

Pada akhirnya semua ini kembali pada sikap. Menurut Imam al-Ghazālī, paling
utama sikap orang sholeh dan *wara' *yang menjauhi semua kategori karena *
zuhud. *Yang pertengahan itu sikap orang bertaqwa yang menghindari *syubhat
*dan menolak yang haram. Yang paling rendah adalah sikap tidak peduli halal
haram dan sebagainya. Inilah resep Imam al-Ghazali untuk pendidikan
anti-korupsi.*

*Peneliti INSISTS dan Dosen ISID Gontor
*
*
*
*sumber:*
*
http://www.hidayatullah.com/read/27868/26/03/2013/al-ghazali-dan-pendidikan-anti-korupsi.html
*

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___
Reply via web post Reply to sender Reply to group Start a New Topic Messages in this topic (1)
Recent Activity:
====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
       website:  http://dtjakarta.or.id/
====================================================
.

__,_._,___

[daarut-tauhiid] Sekjen PBNU Pertanyakan Tujuan Penolakan RUU Ormas

Sekjen PBNU Pertanyakan Tujuan Penolakan RUU Ormas

Publikasi: Kamis, 16 Jumadil Awwal 1434 H / 28 Maret 2013 14:07

[image: sultan fathoni]<http://www.an-najah.net/media/2013/03/sultan-fathoni.jpg>
[an-najah.net] — Saat ormas-ormas Islam seperti HTI, DDI, Persis dan
lainnya beramai-ramai menyatakan sikap penolakan terhadap RUU Ormas, sikap
berbeda ditunjukkan oleh PBNU. Wakil Sekjen PBNU, Sulton Fatoni justru
mempertayakan ormas-ormas yang menolak RUU ormas.

"Kalau tidak mau Pancasila sebagai asas berbangsa dan bernegara,
agenda/tujuan apa lagi yang sedang disusun untuk masa depan negara ini?"
ucapnya, mempertanyakan.

Ia berharap pada saat RUU Ormas disahkan nanti tidak ada yang menolak
rumusan asas Pancasila bagi ormas.

"Negeri ini butuh energi besar untuk kerja-kerja masa depan, jangan
dihabiskan untuk persoalan lama yang sebenarnya sudah dituntaskan para
`founding fathers` kita," ujar Sulton.

Sementara Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Gamawan Fauzi mengatakan
pencantuman asas Pancasila merupakan hal mutlak yang tidak bisa ditawar.
Namun, ormas pun dipersilakan untuk mencantumkan asas ciri organisasi itu
asal bukan ideologi komunis maupun atheis.

Pasal 2 RUU Ormas menyebutkan asas ormas adalah Pancasila dan UUD 1945
serta dapat mencantumkan asas ciri lainnya yang tidak bertentangan dengan
Pancasila dan UUD 1945. (Anshor/ant)


2012/6/2 wirawan <wirawan.smg@gmail.com>

> NB:
>
> Berikut ini adalah contoh surat perjanjian antara muslimin dengan kafir.
> Hubungan muslim & non muslim bukanlah hubungan yang setara. Orang kafir
> tidak boleh dijadikan pemimpin bagi kaum muslim, maka aneh sekali kalau ada
> aturan yang mengatakan bahwa semua warganya sama kedudukan dalam hukum &
> pemerintahan. Bahkan dalam hal kuburan pun muslim dan kafir pun harus
> dipisah.
>
>
>
> Satu hal lagi, pajak hari ini, sebagian dibayarkan ke LN sebagai
> pembayaran hutang ribawi. Maka sekarang boleh dibilang kaum muslimin
> membayar "*jizyah"* ke LN, meskipun bukan dengan nama *jizyah*, tapi atas
> nama hutang LN.
>
>
>
>
>
> *Surat** perdamaian atas jizyah *
>
>
>
> *Bismillahirrahmanirrahim*
>
>
>
> Surat ini ditulis oleh seorang hamba Allah, fulan sebagai amirul mukminin,
> pada dua malam yang lalu dari bulan Rabi'ul Awal tahun sekian dan sekian
> untuk fulan bin fulan yang beragama Nasrani dari suku fulan yang tinggal di
> negeri fulan, dan penduduk Nasrani dari penduduk negeri fulan.
>
>
>
> Engkau memintaku menjamin keamanan bagimu dan penduduk Nasrani dari
> penduduk negeri fulan. Aku adakan perjanjian bagimu dan bagi mereka
> sebagaimana perjanjian dengan penduduk kafir *dzimmi*, sesuai dengan apa
> yang engkau berikan kepadaku. Aku mensyaratkan bagimu dan bagi mereka, maka
> aku perkenankan mengikat perjanjian bagimu dan mereka atas diriku dan
> sekalian kaum muslimin berupa keamanan dan apa yang engkau dan mereka
> luruskan dengan semua (apapun) yang kami ambil darimu.
>
>
>
> Berlaku bagimu hukum Islam, bukan hukum yang menyalahinya dengan alasan
> apapun, engkau harus (taat) pada hukum itu.
>
>
>
> Kalian tidak diperbolehkan melarang sesuatu yang kami lihat melainkan
> kalian harus melaksanakannya. Jika salah seorang dari kalian menyebutkan
> Muhammad *shallallahu ailaihi wasallam*, Kitabullah atau dien-Nya dengan
> tidak sepatutnya, maka lepaslah tanggungan Allah darinya, tanggungan Amirul
> Mukininin dan semua kaum muslimin.
>
>
>
> Batallah keamanan yang diberikan kepadanya dan halallah harta dan darahnya
> bagi Amirul Mukminin, sebagaimana halal harta benda orang-orang yang
> berperang dan juga darah mereka.
>
>
>
> Jika seseorang dari kaum lelaki berbuat zina dengan scorang muslimah, atau
> dengan nama perkawinan, merampok seorang muslimah, berbuat fitnah kepada
> agama seorang muslim, memberi pertolongan kepada orang-orang yang memerangi
> kaum muslim, atau menunjuk kepada sesuatu yang memalukan bagi kaum muslimin
> dan memperlihatkannya di depan mata mereka, maka batallah perjanjian dan
> halallah darah dan hartanya.
>
>
>
> Apabila ia berbuat kurang baik terhadap harta dan kehormatan kaum
> muslimin, atau didapati berbuat sesuatu – di luar perjanjian – kepada
> seseorang yang seharusnya dijaga oleh Islam dari orang kafir yang ada
> perjanjian keamanan, maka harus diberlakukan hukum padanya. Kami mengikuti
> segala perbuatanmu, pada setiap yang terjadi di antaramu dan muslim itu.
>
>
>
> Apa saja yang ada, yang tidak halal bagi muslim dari apa saja yang engkau
> dapat perbuat padanya, maka kami kembalikan dan kami berlakukan hukum
> terhadapnya, yaitu engkau menjual apa yang ada pada kami kepada seorang
> muslim dengan penjualan mereka; dari *khamar*, babi, darah, bangkai atau
> yang lainnya. Kemudian kami mengambil harga darimu jika ia membayar
> kepadamu dengan harta itu, dan kami tidak mengembalikannya kepadamu jika
> itu masih ada. Akan kami tumpahkan khamar atau darah itu, dan kami bakar
> jika itu bangkai. Apabila barang itu sudah rusak, maka tidak kami tetapkan
> sesuatu padanya. Kami menghukummu atas yang demikian.
>
>
>
> Janganlah memberikan minuman atau makanan yang diharamkan kepada seorang
> muslim, atau mengawinkannya dengan saksi-saksi darimu atau dengan
> perkawinan yang batal menurut kami. Janganlah mengadakan *baiat* (sumpah
> setia) dengan seorang kafir dari kaummu, atau dari selain kaummu, kami
> tidak akan mengikutkanmu padanya. Kami tidak menanyakanmu atas apa yang
> kamu olok-olokkan. Apabila seorang penjual dan pembeli darimu mengurangi
> penjualan dan datang kepada kami untuk menuntutnya, dan menurut kami
> penjualan itu batal, maka kami batalkan penjualan itu. Jika penjualan itu
> diperbolehkan. maka kami akan membolehkan; kecuali apabila telah diterima
> barang penjualan itu dan hilang. Maka ia tidak (diperbolehkan untuk)
> mengembalikannya, karena itu adalah penjualan di antara dua orang musyrik
> yang telah berlalu. Orang-orang kafir dari kaummu atau bukan dari kaummu
> yang datang kepada kami guna meminta (diberlakukan) hukuman terhadapmu,
> maka kami berlakukan atasmu hukum Islam.
>
>
>
> Barangsiapa tidak datang kepada kami, maka kami memberitahukannya mengenai
> apa yang ada di antaramu dan orang itu.
>
>
>
> Apabila kamu membunuh muslim atau seseorang yang mengadakan perjanjian
> damai antara kamu dan orang lain, dengan pembunuhan tak sengaja, maka *
> diyat* itu berlaku pada 'aqilah-'aqilah-mu. Sebagaimana pada
> 'aqilah-'aqilah kaum muslimin. 'Aqilah-'aqilah-mu itu adalah kaum kerabatmu
> dari pihak bapak. Jika orang Islam itu dibunuh oleh seseorang dari kaummu
> yang tidak mempunyai kerabat, maka *diyat* itu ditetapkan pada harta
> orang tersebut. Apabila ia membunuhnya dengan sengaja (qatlu 'amdi), maka
> orang itu harus diqihshash, kecuali ahli waris yang terbunuh menghendaki *
> diyat*, maka mereka dapat mengambil diyat tersebut dengan tunai.
>
>
>
> Barangsiapa mencuri, kemudian pencuri itu dilaporkan kepada hakim. Maka
> hakim –harus memberlakukan hukuman – potong tangan. Hal itu jika ia mencuri
> sesuatu yang diwajibkan potong tangan dan ia juga harus membayar *diyat*.
> Barangsiapa menuduh orang berzina, maka bagi orang yang tertuduh dapat
> meminta hukuman badan (hukum had) atas penuduh. Jika belum sampai pada
> hukuman *had*, maka penuduh dapat di-*ta'zir* (hukuman dera dengan pukul
> atau yang lainnya) sehingga hukum Islam berlaku atasmu dengan makna-makna
> ini, baik yang kami sebutkan dan yang tidak kami sebutkan.
>
>
>
> Engkau tidak boleh memperlihatkan tiang salib di kota-kota kaum muslimin,
> tidak terang-terangan melakukan kemusyrikan, tidak membangun gereja dan
> tempat berkumpul bagi ibadahmu, tidak memukul lonceng, tidak mengeluarkan
> kata-kata syirik mengenai Isa Putra Maryam dan tidak pula yang lainnya.
> Engkau harus memakai tali pinggang di atas semua pakaian jubah dan yang
> lainnya, sehingga tidak tersembunyi tali pinggang itu.
>
>
>
> Tali pelana harus berbeda dengan kendaraan kalian. Peci harus berlainan
> dengan peci kaum muslimin, dengan memakai tanda yang dibuat di peci. Tidak
> mengambil jalan-jalan dan tempat-tempat duduk di pasar dari kaum muslimin.
>
>
>
> Setiap laki-laki dewasa dari kaummu yang merdeka, yang tidak terganggu
> akalnya dikenakan *jizyah* sebesar 1 Dinar yang bagus pada setiap tahun.
> Ia tidak boleh pergi jauh dari negerinya hingga melunasi pembayaran itu,
> atau ia menentukan orang untuk membayarkannya. Tidak boleh membayar *
> jizyah* hingga permulaan tahun depan. Bagi kaummu yang miskin, *jizyah*itu tetap ada pada tanggungannya, sehingga ia melunasinya. Kemiskinan itu
> tidak dapat menolak sesuatu darimu, dan tidak membatalkan kedzimian engkau
> darinya. Apabila kami menemukan sesuatu padamu, maka itu harus diambil
> darimu tidak ada lagi beban harta darimu selain *jizyah*, selama engkau
> menetap di negerimu dan berjalan di negeri kaum muslimin, bukan sebagai
> saudagar.
>
>
>
> Engkau tidak boleh memasuki Makkah dengan alasan apapun. Apabila engkau
> pergi untuk berniaga, engkau harus membayar dari semua perniagaan itu
> sepersepuluh bagian kepada kaum muslimin. Engkau boleh memasuki semua
> negeri kaum muslimin selain Makkah, dan boleh menetap di semua negeri kaum
> muslimin kecuali tanah Hijaz. Tidak boleh bagimu menetap di suatu negeri
> dari tanah Hijaz, kecuali tiga malam hingga berangkat pergi darinya.
>
>
>
> Barangsiapa tumbuh bulu di bawah kainnya atau ia ber-*ihtilam* (bermimpi
> tanda dewasa) atau telah berumur 15 tahun, maka syarat-syarat di atas
> adalah wajib baginya jika disetujui. Jika tidak, maka tidak ada kontrak
> perjanjian baginya. *Jizyah* tidak dikenakan pada anak-anakmu yang masih
> kecil, anak yang belum dewasa, orang yang terganggu akalnya atau budak.
>
>
>
> Apabila orang yang terganggu akalnya sembuh, anak kecil itu telah dewasa
> atau budak itu telah merdeka namun tetap bcragama dengan agamamu, maka
> berlaku padanya *jizyah* sesuai dengan syarat-syarat padamu dan
> orang-orang yang menyetujuinya. Barangsiapa tidak menyetujuinya, maka kami
> serahkan kepadanya.
>
>
>
> Kami dapat melarangmu memiliki apa yang ada pada kami, yang boleh dimiliki
> dari orang muslim atau orang lain dengan cara yang zhalim, yang kami dapat
> mempertahankan diri dan harta benda kami. Kami akan menghukummu dengan
> hukum yang berlaku pada kami, yang kami tetapkan pada harta-harta kami.
>
>
>
> Apa yang seharusnya ada pada diri kalian bagi orang yang terhukum. maka
> kami tidak melarang sesuatu yang telah kalian miliki dari sesuatu yang
> diharamkan; dari darah, bangkai, khamr dan babi, sebagaimana kami melarang
> apa-apa yang halal untuk dimiliki. Kami tidak menuntutmu selain bahwa kami
> tidak membiarkanmu memperlihatkannya di dalam kota-kota kaum muslimin.
>
>
>
> Kami tidak akan mengganti (rugi) harga atas apa yang dilakukan oleh orang
> Islam atau orang lain padanya (barang haram), karena itu diharamkan dan
> tidak ada harga bagi sesuatu yang diharamkan. Kami hanya menegurnya atau
> memberi peringatan dari apa yang engkau perlihatkan. Jika orang itu
> mengulangi lagi, maka ia diberi pelajaran dengan tidak membayar (mengganti)
> sesuatu untuknya dan engkau harus mematuhi semua keputusan yang kami ambil.
>
>
>
> Engkau tidak boleh menipu seorang muslinn, tidak melahirkan permusuhan
> atas kaum muslimin dengan perkataan dan perbuatan. Janji Allah dan
> perjanjian-Nya serta besarnya siksaan Allah yang diberikan kepada seseorang
> dari mahluk-Nya, adalah bagi mereka yang tidak memenuhi janji.
>
>
>
> Bagi engkau janji Allah dan perjanjian-Nya, serta *dzimmah*(tanggungannya) fulan – Amirul Mukminin – dan kaum muslimin untuk memenuhi
> (perjanjian ini) dan siapa yang telah dewasa dari anak-anak kalian atas apa
> yang wajib bagi kalian dengan apa yang telah kami berikan kepada kalian dan
> apa yang telah kalian penuhi terhadap semua yang telah kami syaratkan atas
> kalian.
>
>
>
> Jika kalian mengubah atau menggantikannya, maka tanggungan Allah dan
> tanggungan fulan – Amirul Mukininin— serta kaum muslimin terlepas dari
> kalian. Bagi siapa yang tidak hadir (tidak disebutkan) dalam surat kami
> dari orang yang kami berikan kewajiban kepadanya, maka inilah syarat-syarat
> yang lazim baginya dan bagi kami. Siapa yang tidak rela, maka kami serahkan
> kepadanya.
>
>
>
>
> Bisa dilihat di buku-buku ulama salaf, antara lain adalah buku-buku ini :
>
>
>
> Al-Umm karya Imam Syafi'i (tahun 150 H - 204 H) lalu baca pada bab
> "Pembahasan Tentang Jizyah"
>
>
>
> Fathul Bari karya Ibnu Hajar Al-Asqalani (tahun 773 H - 852 H) pada
> "Kitab Iman", kemudian pada Bab "Jika mereka bertaubat dan mendirikan
> shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk
> berjalan." (QS. At-Taubah :5)
>
>
>
> An-Nasih wal Mansukh karya Ibnu Hazm (tahun 384 H - 402 H) pada bab
> "Berpaling dari Orang-Orang Musyrik"
>
>
>
> Syariat yang terakhir bagi Islam adalah dakwah & jihad. Menyeru Islam,
> membayar jizyah (bagi ahli Kitab) atau diperangi.
>
>
>
> Maka ukuran berikutnya adalah pelaksanaannya seperti apa. Bagaimana para
> shahabat memahaminya. Berikut saya ambilkan dari Musnad Ahmad (H.R. Ahmad)
>
>
>
> Telah bercerita kepada kami 'Ali bin 'Ashim dari 'Atho` bin As Sa`ib dari
> Abu Al Bakhturi berkata:
>
>
>
> Salman Al Farisi mengepung salah satu istana Persia lalu para sahabatnya
> berkata padanya: Apa kau tidak menyerang mereka? Ia Salman Al Farisi
> berkata: Tidak hingga aku menyeru mereka terlebih dahulu seperti seruan
> yang pernah dilakukan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Berkata Abu
> Al Bakhturi: Salman Al Farisi mendatangi mereka dan berbicara pada
> mereka: Aku adalah orang Persia, aku berasal dari golongan kalian dan
> bangsa arab menaatiku, pilihlah salah satu dari tiga hal; kalian masuk
> Islam, kalian membayar jizyah secara langsung dan kalian adalah kaum yang
> lemah atau kami akan menyerang dan memerangi kalian. Mereka berkata: Kami
> tidak akan masuk Islam dan tidak akan membayar jizyah, tapi kami akan
> menyerang kalian. Salman Al Farisi kembali menemui para sahabatnya,
> mereka berkata: Apa kau tidak menyerang mereka? Salman Al Farisi berkata:
> Tidak. Salman Al Farisi menyeru mereka selama tiga hari namun mereka
> tidak juga menerimanya lalu Salman Al Farisi memerangi mereka dan
> berhasil menaklukan istana itu. (H.R. AHMAD - 22622)
>
>
>
> Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah bercerita kepadaku Ajlah
> Al Kindi dari 'Abdullah bin Buraidah dari ayahnya, Buraidah, berkata:
> Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengirim dua utusan ke Yaman, salah
> satunya dipimpin 'Ali bin Abi Thalib dan yang lain dipimpin Khalid bin AlWalid, beliau bersabda: Bila kalian bertemu maka yang menjadi pemimpin
> adalah 'Ali dan bila kalian berpisah maka masing-masing dari kalian
> memimpin pasukannya. Buraidah melanjutkan: Kami bertemu dengan Bani Zaid
> dari penduduk Yaman, kami berperang lalu kaum muslimin memenangkan kaum
> musyrikin, kami membunuh banyak orang dan menawan banyak orang kemudian
> 'Ali memilih seorang wanita diantara para tawanan untuk dirinya sendiri.
> Khalid bin Al Walid mengirim surat kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi
> wasallam memberitahukan hal itu. Saat aku mendatangi Nabi shallallahu
> 'alaihi wasallam, aku menyerahkan surat, surat pun dibacakan dihadapan
> beliau lalu aku melihat muka marah diwajah Rasulullah shallallahu 'alaihi
> wasallam kemudian aku berkata: Wahai Rasulullah! Inilah aku meminta
> perlindungan kepadamu, sebab engkau sendiri yang mengutusku bersama seorang
> lelaki dan baginda memerintahkanku untuk menaatinya, dan aku hanya
> melakukan tugasku karena diutus. dan seterusnya....." (H.R. AHMAD - 21934)
>
>
>
>


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
daarut-tauhiid-digest@yahoogroups.com
daarut-tauhiid-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
daarut-tauhiid-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

[daarut-tauhiid] Muhammadiyah: Tolak RUU Ormas dan Hentikan Proses Pembuatannya di DPR

Muhammadiyah: Tolak RUU Ormas dan Hentikan Proses Pembuatannya di DPR

*JAKARTA (voa-islam.com) – *Konferensi pers yang digelar Pengurus Pusat
Muhammadiyah, menyampaikan pernyataan sikap mendesak DPR untuk menghentikan
seluruh proses pembuatan Undang-undang Ormas.

Selain banyaknya kerancuan nalar yang merugikan Ormas, Ketua Umum PP
Muhammadiyah, Prof. Dr. H.M. Din Syamsuddin, MA, menilai RUU Ormas justru
semakin represif.

"RUU Ormas yang baru ini, walaupun maksudnya ingin mengubah Undang Undang
No. 8 Tahun 1985 tapi justru semakin represif, semakin membawa negara
kepada orientasi otoritarianisme dan ini kami katakan sangat bertentangan
dengan substansi Undang Undang Dasar 1945," kata Din Syamsudin, kepada
wartawan di Kantor PP Muhammadiyah, Kamis (28/3/2013).

Untuk itu, dengan tegas PP Muhammadiyah menolak pengesahan RUU Ormas
sebagaimana tertuang dalam tiga poin penting pernyataan sikap Muhammdiyah.


1. Draft RUU Ormas yang dibahas DPR, potensial membatasi kebebasan
berserikat, memperlemah kreativitas dan perilaku represif dari aparatur
pemerintahyang bertentangan dengan UUD 1945 dan Deklarasi Universal Hak
Asasi Manusia (DUHAM).
2. Muhammadiyah mendesak kepada DPR untuk menghentikan seluruh proses
pembuatan Undang-undang Ormas. Pembahasan UU Ormas potensial menimbulkan
kegaduhan dan instabilitas politi, terutama menjelang pemilu 2014 yang
memerlukan suasana yang kondusif, stabil dan dinamis.
3. Dalam rangka menjaga ketertiban dan kerukunan masyarakat, pemerintah
hendaknya berusaha melaksanakan Undang-undang Yayasan,sebagaimana
mestinyadan memprioritaskan penyelesaian RUU Perkumpulan. Pembahasan RUU
Ormas tidak urgent dan tidak diperlukan oleh masyarakat.

Apabila, DPR dan pemerintah memaksakan diri, Din Syamsudin menyatakan PP
Muhammadiyah bersama Ormas-ormas lain akan memprakarsai judicial revew
terhadap UU Ormas ke Mahkamah Konstitusi.

"Jadi kalau DPR, pemerintah memaksakan diri tanpa mendengar suara
masyarakat untuk mengesahkan Undang Undang ini, Muhammadiyah akan
memprakarsai bersama semua Ormas yang lain untuk melakukan judicial revew
kepada Mahkamah Konstitusi," tegasnya. [Ahmed Widad]

http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2013/03/28/23778/muhammadiyah-tolak-ruu-ormas-dan-hentikan-proses-pembuatannya-di-dpr/


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
daarut-tauhiid-digest@yahoogroups.com
daarut-tauhiid-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
daarut-tauhiid-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

[daarut-tauhiid] Mengapa Polri Enggan Sebut Penyerangan Lapas Cebongan Terorisme?

Mengapa Polri Enggan Sebut Penyerangan Lapas Cebongan Terorisme?

*JAKARTA (voa-islam.com) -* Pihak aparat kepolisian enggan menyatakan bahwa
aksi penyerangan Lapas Cebongan, Sleman, Yogyakarta yang menewaskan 4 orang
tahanan dikatakan sebagai aksi terorisme.

Hal itu disampaikan Karopenmas Mabes Polri Brigjen Pol Boy Rafli Amar saat
ditemui di Hotel Maharaja, Mampang, Jaksel.

"Belum bisa, itu kan baru kemungkinan-kemungkinan. Nanti kita lihat dari
fakta-fakta yang ada. Tentu kita belum sampai pada kapasitas bilang bahwa
itu jaringan teroris atau siapa itu merupakan bagian analisis yang dibangun
berdasarkan fakta yang kita peroleh," kata Brigjen Pol. Boy Rafli Amar
seperti dikutip *detik.com*, Rabu (27/3/2013).

Menanggapi pernyataan Polri tersebut, Direktur Kontra Terorisme dan Kontra
Sparatisme Pusat HAM Islam Indonesia (PUSHAMI), Muhammad Yusuf Sembiring,
SH mengungkapkan tudingan terorisme seperti yang selama ini disampaikan
BNPT hanya mengarah kepada kelompok Islam.

"Kalau pakai paradigma BNPT atau Densus 88, yang dikatakan terorisme itu
ketika bicara agama tertentu yang dikatakan akan merusak kedaulatan NKRI.
Arahnya kepada organisasi keagamaan ormas-ormas Islam. Jadi kalau mereka,
umat Islam yang bergerak langsung dikatakan sebagai terorisme. Padahal
Islam adalah agama *rahmatan lil 'alamin*," kata Yusuf Sembiring, Rabu
(27/3/2013).

Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa selama ini pada kenyataannya OPM yang
melakukan gerakan bersenjata tak pernah dikatakan sebagai teroris.

Demikian pula penyerangan bersenjata yang membunuh 4 orang tahanan di
Lapas Cebongan, Sleman, Yogyakarta juga tak akan dikatakan sebagai tindakan
terorisme karena tidak ada embel-embel agama atau ormas Islam di dalamnya.

"OPM di Papua, meski sudah jelas-jelas dalam pemberitaan malakukan gerakan
bersenjata itu tidak dikatakan terorisme. Padahal itu sudah membuat tidak
nyaman kedaulatan NKRI. Nah, penyerangan ke Lapas juga sama, ini sudah
membuat tidak nyaman NKRI. Ini pun aparat kepolisian di negeri kita tidak
berani menyatakan ini tindakan terorisme. Karena tidak mengikutkan agama
atau ormas Islam yang sering difitnah, itulah kebiasaan Densus 88 dan
BNPT," jelasnya.

Padahal, menurut Yusuf, aksi bersenjata tersebut telah menyerang
kedaulatan negara, sebab Lembaga Pemasyarakatan berada di bawah Kementerian
Hukum dan HAM dan para tahanan di dalamnya dilindungi oleh negara.

"Penyerangan Lapas ini jelas-jelas teror yang menyerang kedaulatan negara.
Sebab orang-orang di Lapas itu meski ada orang-orang yang bersalah atau
atau korban fitnah, mereka dilindungi negara. ini jelas terorisme siapa pun
itu yang melakukannya!" tegasnya.

Oleh sebab itu, Yusuf menilai sudah seharusnya BNPT dan Densus 88 sebab di
sinilah peran kedua institusi itu sebenarnya.

"Kalau menurut saya, apakah ini yang melakukan Kopassus atau siapa pun
itu, seharusnya BNPT dan Densus 88 untuk turun langsung, ada apa ini?
Karena kan ini peran mereka yang dibutuhkan di negeri ini," tandasnya.
[Ahmed Widad]

Baca: FUI: Penembakan di LP Cebongan itu Terorisme, Mengapa Densus 88
Diam?<http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2013/03/26/23741/fui-penembakan-di-lp-cebongan-ituterorisme-mengapa-densus-88-diam/>

http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2013/03/27/23763/mengapa-polri-enggan-sebut-penyerangan-lapas-cebongan-terorisme/


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
daarut-tauhiid-digest@yahoogroups.com
daarut-tauhiid-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
daarut-tauhiid-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/