Kamis, 02 Mei 2013

[daarut-tauhiid] Allah Maha Baik Dan Tidak Menerima Kecuali Yang Baik

 

Allah Maha Baik Dan Tidak Menerima Kecuali Yang Baik

(Syarh Hadits ke-10 Arbain anNawawiyyah)

Dari Abu Hurairah –semoga Allah meridlainya- beliau berkata: Rasulullah shollallaahu 'alaihi wasallam bersabda: Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah adalah baik dan tidaklah menerima kecuali yang baik. Sesungguhnya Allah memerintahkan kepada kaum mukminin sebagaimana perintah kepada para Rasul :

Wahai sekalian para Rasul, makanlah yang baik-baik dan beramal sholihlah, sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan (Q.S al-Mukminun:51)

Dan Allah Ta'ala berfirman:

Wahai orang-orang yang beriman, makanlah makanan yang baik dari rezeki yang Kami berikan kepada kalian (Q.S Al Baqoroh:172).

Kemudian Nabi menceritakan keadaan seseorang yang melakukan safar panjang, rambutnya kusut, mukanya berdoa, menengadahkan tangan ke langit dan berkata: Wahai Rabbku, wahai Rabbku. Sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, diberi asupan gizi dari yang haram, maka bagaimana bisa diterima doanya?! (H.R Muslim)

PENJELASAN HADITS

Allah Maha Baik dan Tidak Menerima Kecuali yang Baik

Nabi dalam hadits ini menyatakan : "Sesungguhnya Allah baik, dan tidak menerima kecuali yang baik". 

Hadits ini juga menunjukkan bahwa salah satu Nama Allah adalah Thoyyib (Yang Maha Baik). Allah Maha Baik dalam segala hal : dalam Dzat-Nya, Sifat-Sifat, maupun perbuatanNya. Allah tersucikan dari segala macam bentuk aib, cela, dan kekurangan. Tidak serupa dengan makhluk. Tidak ada sesuatupun yang menyamainya.

Perbuatan Allah seluruhnya baik. Apa yang Allah takdirkan pasti baik dan mengandung hikmah, sesuai keadilan dan kelebihan kebaikan (fadhilah) yang Allah berikan.

Allah Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Karena itu, ibadah yang diterima Allah adalah hanya ibadah yang baik. Ibadah yang baik adalah ibadah yang terpenuhi 2 syarat yaitu ikhlas karena Allah dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah shollallaahu 'alaihi wasallam.

Dan tidaklah mereka diperintah kecuali untuk beribadah hanya kepada Allah dengan mengikhlaskan amal (Q.S alBayyinah : 5)

Barangsiapa yang melakukan suatu amalan tidak ada perintah dari kami (Nabi) maka tertolak (H.R Muslim)

-Jika amalan itu terkait dengan harta, seperti haji atau shodaqoh, maka harus berasal dari harta yang halal.

Tidaklah sholat diterima tanpa bersuci, dan shodaqoh tidak diterima jika dari (hasil ketidakjujuran)(H.R Muslim)

Barangsiapa yang bershodaqoh sebesar kurma dari usaha yang baik, dan Allah tidak menerima kecuali yang baik, Allah akan menerima shodaqoh itu dengan Tangan KananNya kemudian Allah akan memelihara untuk orang yang bershodaqoh itu sebagaimana salah seorang dari kalian memelihara anak unta, sampai tumbuh menjadi sebesar gunung (H.R alBukhari dan Muslim)

-Allah tidak cinta, ridha, dan memberi pahala kepada amalan yang tidak baik. Kadangkala suatu amalan sudah terpenuhi syarat dan rukunnya, tapi ia tercemari dengan perbuatan lain, akibatnya amalan tadi menjadi tidak berbuah pahala, meski telah gugur kewajibannya. Contoh: seorang yang mendatangi tukang ramal/ dukun (yang mengaku mengetahui perkara yang ghaib) sholatnya tidak diterima selama 40 malam, meski ia telah gugur kewajiban (sholat).

Barangsiapa yang mendatangi Arraaf (orang yang mengaku mengetahui hal ghaib: kasus kehilangan, dsb) kemudian dia bertanya tentang sesuatu, tidak diterima sholatnya selama 40 malam (H.R Muslim)

-Seseorang yang minum khamr, sholatnya tidak berpahala selama 40 hari :

Tidaklah seseorang dari umatku minum khamr, kemudian Allah terima sholatnya 40 hari (H.R anNasaai, dishahihkan oleh Syaikh al-Albany)

PERINTAH ALLAH KEPADA RASUL SAMA DENGAN PERINTAHNYA KEPADA ORANG BERIMAN LAINNYA

Dalam hadits ini Nabi menyatakan : Sesungguhnya Allah memerintahkan kepada kaum mukminin sebagaimana perintah kepada para Rasul. Ini menunjukkan bahwa secara asal, perintah untuk Rasul berlaku juga untuk para umatnya, kecuali ada dalil lain yang mengkhususkan.

PERINTAH UNTUK MEMAKAN MAKANAN YANG HALAL DAN BERAMAL SHOLEH

-Dalam ayat lain Allah perintahkan untuk memakan makanan yang baik dan halal serta bersyukur kepadaNya:

Wahai orang-orang yang beriman, makanlah yang baik-baik dari apa yang Kami rizkikan kepada kalian dan bersyukurlah kepada Allah jika kalian hanya kepadaNya beribadah (Q.S al-Baqoroh:172)

Dalam hadits ini Allah perintahkan untuk beramal sholeh. Amal sholeh adalah segala bentuk perbuatan baik yang dilakukan secara ikhlas dan sesuai tuntunan Rasulullah shollallaahu 'alaihi wasallam.

-Amal sholeh adalah yang menjadi bekal yang menemani seseorang di alam kubur:

Ada 3 hal yang mengikuti jenazah seseorang. Dua kembali, dan satu tetap tinggal. Yang mengikutinya adalah keluarga, harta, dan amal sholehnya. Keluarga dan hartanya kembali, yang tetap tinggal adalah amalannya (H.R alBukhari)

-Seseorang yang menjelang ajal, akan berangan-angan seandainya ia bisa kembali punya kesempatan memperbanyak amal sholeh :

Sampai ketika telah datang kepada mereka kematian, mereka berkata: Wahai Tuhanku, kembalikan aku agar aku bisa beramal sholeh dengan amalan yang sebelumnya aku tinggalkan…(Q.S al-Mu'minuun : 99-100)

-Orang-orang penduduk neraka juga meminta untuk dikeluarkan dari neraka, dikembalikan ke dunia dan melakukan amal shaleh :

Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: Wahai Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amalan sholeh berlainan dengan yang telah kami kerjakan… (Q.S Fathir : 37)

HAL-HAL YANG MEMUDAHKAN DOA TERKABUL SERTA PENGHALANGNYA

Dalam hadits ini Rasulullah shollallaahu 'alaihi wasallam mengisahkan contoh seseorang yang telah melakukan hal-hal yang memudahkan doanya terkabulkan, namun makanan, minuman, dan pakaiannya dari yang haram sehingga doanya sulit dikabulkan.

Hal-hal yang memudahkan doa terkabul dalam ayat ini adalah : 1) Safar, 2) Rambut kusut dan berdebu (berpenampilan yang menunjukkan perendahan diri di hadapan Allah), 3) Menengadahkan tangan ke langit, 4) Mendahului doa dengan ucapan pengakuan Rububiyyah Allah: Ya Robb, Ya Robb (Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku), sebagaimana hal itu banyak disebutkan dalam doa-doa dalam AlQur'an (ucapan Robbanaa, Robii).

Dalil-dalil lain yang menunjukkan bahwa hal-hal tersebut semakin memudahkan doa terkabul:

-Doa Musafir

Tiga doa yang mustajabah tidak diragukan lagi : Doa orangtua, doa musafir, dan doa orang terdzhalimi (H.R Abu Dawud dan atTirmidzi)

-Rambut yang kusut

Bisa saja orang yang rambutnya kusut terhalau dari pintu-pintu, kalau ia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah tunaikan (H.R Muslim)

-Menengadahkan tangan ke langit (menghadap ke arah Allah)

Sesungguhnya Tuhan kalian Tabaraka Wa Ta'ala Pemalu lagi Maha Mulya. Allah malu kepada hambanya jika mengangkat tangan ke arahNya (berdoa) kemudian Allah kembalikan kedua tangan itu dalam keadaan nihil (tidak dapat apa-apa)(H.R Abu Dawud, atTirmidzi, Ibnu Majah)

Sedangkan penghalang terkabulnya doa adalah makanan dan pakaian yang haram. jika seseorang ingin doanya dikabulkan, maka hendaknya memastikan makanan, minuman, dan pakaiannya adalah baik dan halal serta berasal dari harta yang halal.

Rujukan:
Jaami'ul Uluum wal Hikaam karya Ibnu Rojab
Fathul Qowiyyil Matiin karya Syaikh Abdul Muhsin alAbbad
atTuhfatur Robbaniyyah karya Syaikh Ismail bin Muhammad al-Anshary
Syarh al-Arbain anNawawiyyah karya Syaikh Muhammad bin Sholeh alUtsaimin
Syarh al-Arbain anNawawiyyah karya Syaikh Athiyyah bin Muhammad Salim
Syarh al-Arbain anNawawiyyah karya Syaikh Sholeh Aalu Syaikh
Syarh al-Arbain anNawawiyyah karya Sulaiman bin Muhammad al-Luhaimid

Sumber: http://www.salafy.or.id/allah-maha-baik-dan-tidak-menerima-kecuali-yang-baik/

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___
Reply via web post Reply to sender Reply to group Start a New Topic Messages in this topic (1)
Recent Activity:
====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
       website:  http://dtjakarta.or.id/
====================================================
MARKETPLACE


.

__,_._,___

[daarut-tauhiid] Sikap Terhadap Perintah dan Larangan Nabi

 

Sikap Terhadap Perintah dan Larangan Nabi 

(Hadist ke-9 Arbain Annawiyyah)

ASBAABUL WURUD (SEBAB PENYAMPAIAN HADITS)

Suatu hari Rasulullah shollallaahu 'alaihi wasallam bersabda : Wahai sekalian manusia sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada kalian berhaji, maka berhajilah. Kemudian seorang laki-laki berkata:

Apakah (kewajiban haji) itu setiap tahun wahai Rasulullah? Nabi diam, hingga orang itu bertanya tiga kali, kemudian Nabi bersabda:

Kalau aku jawab : Iya, niscaya akan diwajibkan (tiap tahun), dan kalian tidak akan mampu.

Kemudian Nabi bersabda:

Biarkanlah apa yang aku tinggalkan (perintah dan larangannya) untuk kalian. Sesungguhnya yang membinasakan ummat sebelum kalian adalah banyaknya pertanyaan mereka dan banyaknya penyelisihan yang mereka lakukan terhadap para Nabi mereka. Jika aku perintahkan kepada kalian dengan suatu hal, maka kerjakanlah sesuai dengan kemampuan, dan jika aku larang kalian dari sesuatu, tinggalkanlah (H.R Muslim).

SAHABAT YANG MERIWAYATKAN HADITS

Sahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Hurairah. Al-Imam anNawawy dalam al-Arbain anNawawiyyah ini memperjelas nama asli Abu Hurairah adalah Abdurrahman bin Shakhr. Abu Hurairah adalah Sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits. Orang-orang yang beriman akan mencintai Abu Hurairah dan ibunya, karena Nabi mendoakan mereka :

Ya Allah jadikanlah hamba-hambaMu yang beriman cinta kepada Abu Hurairah dan ibunya, dan jadikanlah mereka mencintai orang-orang beriman (H.R Muslim)

SIKAP ORANG BERIMAN TERHADAP PERINTAH DAN LARANGAN NABI

Dalam hadits ini Nabi menyatakan : Segala yang aku larang jauhilah… Para Ulama' menjelaskan bahwa secara asal hukum larangan Nabi adalah haram dilaksanakan. Ini adalah hukum asal. Hukum asal ini baru berubah jika terdapat hadits lain yang menunjukkan bahwa larangan itu bersifat makruh (dibenci). Secara asal, segala bentuk larangan Nabi yang terkait dengan suatu ibadah, menyebabkan ibadah itu batal atau tidak sah, sedangkan larangan Nabi yang terkait dengan bentuk muamalah menyebabkan suatu akad menjadi tidak sah atau batal.

Dalam hadits ini Nabi juga menyatakan : Apa yang aku perintahkan kepada kalian, maka lakukanlah sesuai dengan kemampuan… Para Ulama' menjelaskan bahwa secara asal, hukum perintah dari Nabi adalah wajib dilaksanakan, hingga ada dalil lain yang menunjukkan bahwa hal itu adalah mustahab/ sunnah (disukai). Perintah Nabi dikerjakan sesuai dengan kemampuan.

Sebagai contoh:

Sholatlah dengan berdiri. Jika tidak mampu, maka dengan duduk. Jika tidak mampu, maka dengan berbaring (H.R alBukhari)

Menghindari kemaksiatan lebih berat dibandingkan mengerjakan ketaatan. Bersabar untuk meninggalkan larangan lebih berat tantangannya (dan lebih besar pahalanya) dibandingkan melaksanakan perintah. Sahl bin Abdillah menyatakan  perbuatan-perbuatan kebajikan bisa dilakukan oleh orang-orang yang baik ataupun orang fajir. Namun, tidak ada yang bisa bersabar meninggalkan dosa kecuali orang yang Shiddiq (jujur keimanannya)(Syarhul Umdah karya Ibn Taimiyyah (1/46)).

BANYAK BERTANYA : ANTARA TERPUJI DAN TERCELA

Pertanyaan yang baik adalah bertanya dalam masalah ilmu agama kepada ahlinya untuk tujuan mengamalkan ilmu tersebut. Atau, pertanyaan yang tujuannya untuk menambah iman, semakin mendekatkan diri kepada Allah, semakin takut kepada-Nya, semakin cinta kepada Allah. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh para Sahabat kepada Nabi adalah mayoritas pertanyaan-pertanyaan semacam itu.

Maka bertanyalah kepada para Ulama jika kalian tidak mengetahuinya (Q.S an-Hal:43)

Nabi juga mencela orang yang bodoh tapi tidak mau bertanya, berbicara tanpa ilmu (menyebabkan kebinasaan bagi orang lain) :
Tidakkah mereka bertanya jika tidak mengetahuinya. Sesungguhnya obat dari kebodohan adalah bertanya (H.R Abu Dawud)

Ibunda kaum beriman, Aisyah radhiyallaahu 'anha berkata :
Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar. Mereka tidak terhalangi perasaan malu untuk (bertanya) berusaha memahami agama (H.R Muslim)

Sahabat Nabi Ibnu Abbas ditanya: dengan cara bagaimana engkau mendapatkan ilmu sampai (banyak) seperti ini?
Beliau berkata : dengan lisan yang banyak bertanya dan hati yang banyak berpikir (al-Bidayah wan Nihaayah (8/329)).

Ibnu Abbas juga berkata : Aku bertanya satu permasalahan kepada 30 Sahabat Nabi (al-Bidayah wan Nihaayah (8/329))

Ibnu Syihab az-Zuhri berkata : Ilmu adalah gudang-gudang (perbendaharaan), dan kunci (pembukanya) adalah bertanya (Jaami' Bayaanil Ilmi wa Fadhlih (1/179)

Di antara pertanyaan yang baik adalah pertanyaan yang diajukan oleh seseorang yang sebenarnya sudah tahu jawabannya, namun ia lontarkan pertanyaan di majelis agar diketahui jawabannya oleh orang-orang yang hadir di majelis itu. Sebagaimana yang dilakukan Jibril yang menanyakan tentang Islam, Iman, Ihsan, dan tanda-tanda hari kiamat (H.R Muslim)

Sedangkan sikap bertanya yang tercela, di antaranya adalah :

1. Banyak bertanya pada saat masih turunnya wahyu, sehingga dikhawatirkan memberatkan kaum muslimin (Q.S al-Maidah:101)

2. Bertanya-tanya tentang rahasia di balik takdir, yang hanya Allah saja yang tahu.

Contoh : bertanya mengapa si A ditakdirkan begini, sedangkan si B ditakdirkan demikian?

Jika disebutkan tentang takdir, maka tahanlah (diamlah) (Shahihul Jaami' no 546).

3. Bertanya tentang kaifiyat Sifat Allah.

Seperti pertanyaan : Seperti apa Wajah Allah? Bagaimana bentuk istiwa' Allah di atas 'Arsy? Semua itu tidak ada yang tahu kecuali Allah.

dan tidak ada yang tahu takwilnya (kaifiyat /makna secara menyeluruh) kecuali Allah… (Q.S Ali Imran:7)

4. Sekedar bertanya tidak untuk mengamalkannya, atau tidak untuk memahami makna ayat dan hadits (menambah iman), hanya sekedar menguji ustadz atau Syaikh.

5. Bertanya tentang permasalahan yang tidak akan pernah terjadi.

6. Banyak bertanya pada saat kondisi Ustadz atau Syaikh sudah capek, letih, dan semisalnya.

Para Sahabat Nabi menjaga adab untuk bertanya. Mereka tidak menambah pertanyaan karena merasa kasihan dengan Nabi.Simaklah adab dari perkataan Ibnu Mas'ud :

Demikianlah Nabi mengkhabarkan kepadaku, yang sebenarnya kalau aku minta tambah penjelasan, niscaya beliau akan menambahinya.. (H.R Muslim)

Nabi adalah manusia yang paling dermawan, termasuk dalam hal memberi jawaban. Sebenarnya, kalau Sahabat terus bertanya, akan terus dijawab oleh Nabi, namun hal itu tidak dilakukan Sahabat karena menjaga adab kepada Nabi.

Sumber Rujukan : Syarh alArbain anNawawiyyah dari Para Ulama' (Ibnu Daqiiqil 'Ied, Ismail bin Muhammad al-Anshary, Syaikh Muhammad Athiyyah Salim, Syaikh Sholih bin Abdil Aziz aalu Syaikh, Syaikh Sulaiman alLuhaimid)

Sumber: http://www.salafy.or.id/sikap-terhadap-pemerintah-dan-larangan-nabi-hadist-ke-9-arbain-annawiyyah/

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___
Reply via web post Reply to sender Reply to group Start a New Topic Messages in this topic (1)
Recent Activity:
====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
       website:  http://dtjakarta.or.id/
====================================================
MARKETPLACE


.

__,_._,___

[daarut-tauhiid] Kemuliaan Darah dan Harta Kaum Muslimin

 

Kemuliaan Darah dan Harta Kaum Muslimin

Hadits ke-8 Arbain anNawawiyyah

Dari Ibnu Umar –semoga Allah meridhai keduanya (Ibnu Umar dan ayahnya)- bahwa Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda: Aku diperintah untuk memerangi manusia (orang musyrik selain Ahlul Kitab) hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, dan menegakkan sholat, menunaikan zakat, jika mereka melakukan hal tersebut, terjagalah dariku darah dan hartanya kecuali dengan hak Islam. Sedangkan perhitungannya di sisi Allah (H.R alBukhari dan Muslim)

TEMA : Kehormatan Darah dan Harta Kaum Muslimin

PENJELASAN UMUM:

Dalam hadits ini Rasulullah shollallaahu 'alaihi wasallam diperintah oleh Allah untuk memerangi orang-orang musyrik hingga mereka melakukan 3 hal :

1. Bersaksi (syahadat) bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali hanya Allah dan Muhammad shollallaahu 'alaihi wasallam adalah utusan Allah.
2. Menegakkan sholat-sholat wajib.
3. Menunaikan zakat.

Kalau mereka sudah melaksanakan 3 hal tersebut, niscaya mereka telah masuk ke dalam Islam dan tidak boleh diperangi. Kaum muslimin wajib dijaga darahnya (tidak boleh dibunuh dan dilukai), hartanya (tidak boleh dirampas, ditipu, dan didzholimi).

Itu adalah hukum bagi mereka secara lahiriah (yang nampak dari ucapan dan perbuatan mereka). Hal-hal yang tersembunyi dalam hati (misalkan mereka terpaksa melakukan 3 hal itu dengan penuh kebencian dan memendam kemunafikan), diserahkan kepada Allah. Kaum muslimin yang lain hanyalah menerapkan hukum berdasarkan apa yang nampak secara lahiriah (dzhahir), perhitungan batiniah diserahkan kepada Allah. Kalau mereka secara lahir menampakkan Islam, sedangkan secara batin memendam kebencian/ kemunafikan, tetap diperlakukan sebagai kaum muslimin (terjaga darah, harta, dan kehormatannya) karena Allah tidak memerintahkan kaum muslimin untuk menggali isi hati manusia, tapi di dunia mereka diperlakukan sesuai ucapan dan perbuatan lahiriah mereka.

UCAPAN NABI : AKU DIPERINTAH…

Jika dalam lafadz-lafadz hadits, terdapat kalimat :

Ø£ُÙ…ِرْتُ

Aku diperintah…
Artinya adalah Nabi diperintah (diberi wahyu) oleh Allah.

Sedangkan jika dalam lafadz-lafadz hadits terdapat perkataan Sahabat Nabi yang menyatakan :Kami diperintah, itu artinya para Sahabat diperintah oleh Nabi. Dalam ilmu hadits, hukumnya adalah marfu' meski secara lafadz adalah mauquf (hukumnya adalah hukum dari Nabi bukan sekedar ijtihad seorang Sahabat).

MAKNA 'MANUSIA' DALAM HADITS

Dalam hadits tersebut dinyatakan : Aku diperintah untuk memerangi 'manusia'. 'Manusia' yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah orang-orang musyrik. Sebagaimana hadits riwayat anNasaai :

Aku diperintah untuk memerangi kaum musyirikin sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Jika mereka telah bersaksi tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya, sholat seperti sholat kita, menghadap ke arah kiblat kita, memakan daging sesembelihan kita, maka telah terjaga dari kita darah dan harta mereka kecuali dengan haknya (aturan syariat Islam)(H.R anNasaai dari Anas bin Malik).

Sikap terhadap orang musyrik (selain Ahlu Kitab) – jika kaum muslimin memiliki kekuatan dan kemampuan- adalah memerangi mereka hingga tersisa dua pilihan: masuk Islam dan menjalankan konsekuensinya, atau terus diperangi.

Terhadap orang-orang Ahlul Kitab ada 3 pilihan : masuk Islam, membayar jizyah, atau terus diperangi.

TERGANTUNG KEMAMPUAN KAUM MUSLIMIN

Sikap tegas kaum muslimin terhadap kaum musyrikin dan Ahlul Kitab tersebut di atas hanya bisa dilakukan jika kaum muslimin memiliki kekuatan dan kemampuan. Sebagaimana seluruh perintah dari Allah harus berlandaskan pada kemampuan.

Di tiap waktu dan tempat keadaan kaum muslimin akan berbeda-beda. Suatu masa kaum muslimin lemah, berjumlah sedikit, dan tidak berdaya. Pada saat itu mereka diperintah untuk bersikap sabar dan menahan diri untuk tidak berperang. Secara bertahap kemampuan bertambah, hingga mereka diperintah untuk memerangi pihak-pihak yang memerangi mereka saja: Jika tidak memerangi, jangan diperangi. Dalam kondisi belum kokoh dan kuat, kadang juga disyariatkan jalur diplomasi. Seperti perjanjian Hudaibiyah di masa Nabi. Bertahap, bertahap, dan bertahap… hingga saat kaum muslimin sudah kuat dan punya kemampuan, maka pada saat itulah mereka diperintahkan untuk memerangi orang-orang kafir : musyrikin dan Ahlul Kitab dengan pilihan-pilihan seperti yang dikemukakan di atas. Pada kondisi itulah berlaku firman Allah:

Dan perangilah mereka (orang-orang kafir) hingga tidak ada lagi fitnah (kekafiran dan kesyirikan) dan agama seluruhnya hanya milik Allah (Q.S al-Anfaal:39).

Kelemahan dan ketidakmampuan kaum muslimin bukanlah karena kekuatan musuh-musuhnya, namun karena kurangnya keimanan (tauhid) dan ketaatan mereka kepada Allah, sehingga Allah tidak menurunkan pertolonganNya.

KEADILAN ISLAM DALAM BERPERANG

Islam adalah agama yang adil dalam segala hal. Bahkan dalam memerangi musuh, terdapat syariat dan adab-adab dalam berperang, di antaranya:

- Penyerangan tidak langsung dilakukan, namun terlebih dahulu didahului dengan dakwah secara lisan atau tulisan.
- Tidak boleh membunuh atau menyerang orang yang sudah tua, wanita, dan anak-anak. Kecuali mereka adalah pihak yang terlibat dan mendukung langsung dalam memerangi kaum muslimin.
- Tidak mencincang tubuh musuh dan tidak menganiaya mereka sebelum membunuhnya.
- Tidak membakar bangunan, merobohkan, memotong pohon dan tumbuhan yang berbuah kecuali jika ada kemaslahatan.
- Tidak membunuh binatang ternak kecuali menyembelihnya secara syar'i untuk dimakan.
Rincian tentang hal itu bisa dijumpai dalam kitab-kitab fiqh para Ulama'

ORANG KAFIR YANG TIDAK BOLEH DIBUNUH

Terdapat 3 jenis orang kafir yang tidak boleh dibunuh :

1. Kafir adz-Dzimmi (orang-orang kafir Ahlul Kitab yang hidup di negeri kaum muslimin dengan aman dan membayar jizyah).
Dalilnya: Qur'an surat atTaubah ayat 29.

2. Kafir al-Mu'ahad (orang-orang yang memiliki perjanjian dengan kaum muslimin untuk tidak saling memerangi). Seperti orang-orang musyrikin yang terlibat perjanjian Hudaibiyyah dengan Nabi untuk tidak saling memerangi.

3. Kafir al-Musta'min (orang-orang kafir yang masuk ke dalam negeri kaum muslimin dengan jaminan keamanan dari pemerintah muslim atau jaminan keamanan dari satu orang saja dari kaum muslimin). Dalilnya : Qur'an surat atTaubah ayat 6.

Ketiga jenis orang kafir ini darahnya terjaga, tidak boleh ditumpahkan. Barangsiapa yang membunuh orang kafir jenis ini, maka ia harus :

a. Membayar diyat, jika ahli warisnya bukan orang kafir harbi (yang memerangi kaum muslimin).
Pembahasan tentang diyat secara panjang lebar terdapat dalam kitab fiqh. Sebagai contoh: diyat untuk orang kafir Ahlul Kitab adalah setengah dari diyat muslim. Diyat seorang muslim merdeka adalah 1000 mitsqal emas (sekitar 4200 kg emas), atau 100 unta, atau 200 sapi, atau 2000 kambing. (Sungguh besar sekali nominal diyat yang harus dibayar!!).

b. Membayar kaffarat : memerdekakan budak mukmin atau berpuasa 2 bulan berturut-turut. Pendapat keharusan membayar kaffarat ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) Ulama' dan dipilih juga oleh Syaikh al-Utsaimin.

PEMERINTAH MUSLIM MEMERANGI ORANG YANG TIDAK BERZAKAT

Pada masa kekhalifahan Abu Bakr terdapat orang-orang yang enggan menyerahkan zakat. Maka Abu Bakr bertekad untuk memerangi mereka. Namun sempat dicegah oleh Umar bin al-Khottob dengan menyatakan :

Apakah engkau akan memerangi orang yang mengucapkan syahadat Laa Ilaaha Illallaah? Padahal Nabi bersabda: Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah. Barangsiapa yang bersaksi demikian maka akan terjaga dariku harta dan jiwanya kecuali dengan haknya dan perhitungan (hisabnya) ada di sisi Allah. Abu Bakr menyatakan : Demi Allah, sungguh-sungguh aku akan perangi orang-orang yang memisahkan antara sholat dengan zakat (mau sholat tapi tidak mau zakat), karena sesungguhnya zakat adalah hak harta. Demi Allah, kalau seandainya mereka tidak memberikan kepadaku tali untuk menggiring binatang ternak zakat yang biasa mereka berikan pada Rasulullah shollallaahu 'alaihi wasallam, niscaya aku akan perangi mereka.

Hingga kemudian Umar bisa menerima hujjah yang disampaikan Abu Bakr dan mendukungnya (kisah tersebut terdapat dalam Shahih alBukhari dan Muslim).

CATATAN :

Abu Bakr dan Umar –semoga Allah meridhai mereka berdua- sama-sama mendengar hadits Nabi dengan lafadz:

Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah. Barangsiapa yang bersaksi demikian maka akan terjaga dariku harta dan jiwanya kecuali dengan haknya dan perhitungan (hisabnya) ada di sisi Allah.

Lafadz hadits yang didengar oleh mereka berdua tidak ada tambahan keterangan : menegakkan sholat dan menunaikan zakat. Karena itu Umar mencegah Abu Bakr dan menganggap kalau orang sudah bersyahadat maka ia tidak boleh diperangi. Namun Abu Bakr memiliki pemahaman yang lebih dibandingkan Umar dalam memahami hadits tersebut. Dalam lafadz hadits yang sama-sama mereka ketahui itu, Nabi memberikan perkecualian : …kecuali dengan haknya. Maka Abu Bakr memahami bahwa hak harta adalah zakat. Barangsiapa yang tidak menunaikannya, maka ia telah masuk dalam perkecualian itu dan bisa diperangi. Hujjah Abu Bakr ini kuat dan akhirnya Umar bisa menerima.

Sedangkan Sahabat Nabi yang lain mendengar hadits dari Nabi dengan lafadz yang lebih lengkap, bahwa orang yang diperangi tidak hanya karena bersyahadat, tapi juga menegakkan sholat dan menunaikan zakat. Seperti pada riwayat Ibnu Umar dalam hadits yang kita bahas ini dan juga riwayat Abu Hurairah.

FAIDAH :

Hal tersebut menunjukkan bahwa kadangkala beberapa lafadz suatu hadits tidak diketahui oleh beberapa Sahabat, namun diketahui oleh Sahabat yang lain. Meski Sahabat yang tidak mendengar itu termasuk Sahabat yang lebih dulu masuk Islam, lebih besar keutamaannya, dan lebih sering bersama-sama Nabi (faidah disarikan dari Fathul Qowiyy al-Matiin karya Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad).

Kemulyaan Darah, Harta, dan Kehormatan Kaum Muslimin

Dalam hadits ini disebutkan 2 hal kemulyaan kaum muslimin, yaitu : darah dan hartanya. Dalam ayat dan hadits-hadits lain menunjukkan 1 hal tambahan kemulyaan kaum muslimin adalah pada kehormatan.

Seperti hadits Nabi pada saat Haji Wada' :

Sesungguhnya harta, darah, dan kehormatan kalian adalah haram (dinodai kemulyaannya) di antara kalian, sebagaimana haram (kemulyaan) hari ini, di bulan ini, di negeri ini (H.R Muslim).

Darah saudara muslim adalah haram bagi kita. Mereka tidak boleh dilukai atau bahkan dibunuh. Harta saudara muslim adalah haram bagi kita. Tidak boleh dicuri, dirampas, ditipu, atau dipinjam uangnya dengan niat tidak dikembalikan. Kehormatan saudara muslim adalah haram bagi kita. Tidak boleh kita mencaci, mengejek, memfitnah, atau ghibah terhadap mereka.

Ini adalah hukum asal sikap terhadap sesama muslim. Hukum asal ini akan berubah sesuai dengan yang diatur dalam syariat Islam (hak Islam), misalnya : seorang muslim secara asal darahnya haram ditumpahkan, namun jika ia membunuh muslim lain secara sengaja, maka ia berhak untuk mendapat qishosh (dibunuh juga) kecuali dimaafkan oleh ahli waris pihak terbunuh. Demikian juga kasus-kasus lain, sebagaimana dijelaskan dalam kitab-kitab Fiqh para Ulama'.

Sumber Rujukan :
Syarh alArbain anNawawiyyah dari Para Ulama' (Syaikh Ismail bin Muhammad al-Anshary, Syaikh Muhammad Athiyyah Salim, Syaikh Sholih bin Abdil Aziz aalu Syaikh, Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad)

Sumber: http://www.salafy.or.id/kemuliaan-darah-dan-harta-kaum-muslimin/

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___
Reply via web post Reply to sender Reply to group Start a New Topic Messages in this topic (1)
Recent Activity:
====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
       website:  http://dtjakarta.or.id/
====================================================
MARKETPLACE


.

__,_._,___

Rabu, 01 Mei 2013

Re: [daarut-tauhiid] 3 Bekal Mengasuh Anak

Satu hal lagi yang penting. Hidupkan sunah Rasululah saw dalam kehidupan
sehari-hari, dari bangun tidur sampai tidur lagi alias 24 jam. Dari pintu
depan sampai pintu belakang. Adab masuk rumah, adab waktu makan, adab
sebelum dan bangun tidur, adab masuk kamar mandi dan saat mandi, tidak
tertinggal takbiratul ula, yang laki-laki wajib shalat di masjid,
insyaAllah jika kehidupan orang tua sudah mencontoh kehidupan Nabi, maka
perilaku kesehariannya ini akan mudah untuk diajarkan kepada anak-anak,
bahkan akan otomatis dicontoh anak-anak. Sehingga ketakwaan orang tua akan
menyebar/tertular ke anak. InsyaAllah akan jadi bekal anak yang kuat.


2013/4/20 wirawan <wirawan.smg@gmail.com>

> 3 Bekal Mengasuh Anak
>
> oleh Mohammad Fauzil Adhim
>
> Apakah do'a-do'a kita telah cukup untuk mengantar anak-anak menuju masa
> depan yang menenteramkan? Apakah nasehat-nasehat yang kita berikan telah
> cukup untuk membawa mereka pada kehidupan yang mulia? Ataukah kita justru
> merasa telah cukup memberi bekal kepada anak-anak kita dengan mengirim
> mereka ke sekolah-sekolah terbaik dan fasilitas yang lengkap? Kita telah
> merasa sempurna sebagai orangtua karena bekal ilmu telah melekat kuat dalam
> diri kita.
>
> Hari-hari ini, ada yang perlu kita renungkan. Betapa banyak ahli yang
> 'ibadah yang keturunannya jauh dari munajat kepada Allah 'Azza wa Jalla.
> Tak ada anak yang mendo'akannya sesudah kematian datang. Begitu pula,
> alangkah banyak orangtua yang nasehatnya diingat dan petuahnya
> dinanti-nanti ribuan manusia. Tetapi sedikit sekali yang berbekas dalam
> diri anak. Padahal tak ada niatannya untuk melalaikan anak sehingga lupa
> memberi nasehat. Ia bahkan memenuhi setiap pertemuannya dengan anak dengan
> nasehat-nasehat disebabkan sedikitnya waktu untuk bertemu. Tetapi justru
> karena itulah, tak ada lagi kerinduan dalam diri anak. Sebab pertemuan tak
> lagi indah. Nyaris tak ada bedanya bertemu orangtua dengan mendengar kaset
> ceramah.
>
> Lalu apakah yang sanggup menaklukkan hati anak sehingga kata-kata kita
> selalu bertuah? Apakah kedalaman ilmu kita yang bisa membuat mereka hanyut
> mendengar nasehat-nasehat kita? Ataukah besarnya wibawa kita yang akan
> membuat mereka senantiasa terarah jalan hidupnya? Atau kehebatan kita dalam
> ilmu komunikasi yang menyebabkan mereka selalu menerima ucapan-ucapan kita?
> Sebab tidaklah kita berbicara kecuali secara terukur, baik pilihan kata
> maupun ketepatan waktu dalam berbicara.
>
> Ah, rasanya kita masih banyak menemukan paradoks yang susah untuk dibantah.
> Ada orang-orang yang tampaknya kurang sekali kemampuannya dalam memilih
> kata, tetapi anak-anaknya mendengarkan nasehatnya dengan segenap rasa
> hormat. Ada orangtua yang tampak sekali betapa kurang ilmunya dalam
> pengasuhan, tetapi ia mampu mengantarkan anak-anaknya menuju masa depan
> yang terarah dan bahagia. Tak ada yang ia miliki selain pengharapan yang
> besar kepada Allah 'Azza wa Jalla seraya harap-harap cemas dikarenakan
> kurangnya ilmu yang ia miliki dalam mengasuh anak. Sebaliknya, ada orangtua
> yang begitu yakinnya bisa mendidik anak secara sempurna. Tapi tak ada yang
> bisa ia banggakan dari anak-anak itu di masa dewasa kecuali kenangan masa
> kecilnya yang lucu menggemaskan.
>
> Agaknya…, ada yang perlu kita tengok kembali dalam diri kita, sudahkah kita
> memiliki bekal untuk mengasuh anak-anak itu menuju masa dewasa? Tanpa
> menafikan bekal lain yang kita perlukan dalam mengasuh anak, terutama yang
> berkait dengan ilmu, kita perlu merenungi sejenak firman Allah Ta'ala dalam
> surat An-Nisa' ayat 9:
>
> "Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan
> di belakang mereka
> anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap mereka. Oleh sebab itu
> hendaklah mereka
> bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang
> benar." (QS. An-Nisaa',
> 4: 9).
>
> Mujahid menjelaskan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan permintaan
> Sa'ad bin Abi Waqash tatkala sedang sakit keras. Pada saat Rasulullah saw.
> datang menjenguk, Sa'ad berkata, "Ya Rasulallah, aku tidak memiliki ahli
> waris kecuali seorang anak perempuan. Apakah aku boleh menginfakkan dua
> pertiga dari hartaku?"
>
> Rasulullah saw. bersabda, "Tidak boleh."
>
> "Separo, ya Rasul?"
>
> "Tidak," jawab Rasul lagi.
>
> "Jika sepertiga, ya Rasul?"
>
> Rasul mengizinkan, "Ya, sepertiga juga sudah banyak." Rasulullah saw.
> bersabda, "Lebih baik kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan
> berkecukupan daripada dalam keadaan miskin yang meminta-minta kepada orang
> lain." (HR. Bukhari dan Muslim).
>
> Berpijak pada ayat ini, ada tiga pelajaran penting yang perlu kita catat.
> Betapa pun inginnya kita membelanjakan sebagian besar harta kita untuk
> kepentingan dakwah ilaLlah, ada yang harus kita perhatikan atas anak-anak
> kita. Betapa pun besar keinginan kita untuk menghabiskan umur di
> jalan dakwah, ada yang harus kita periksa terkait kesiapan anak-anak dan
> keluarga kita. Sangat berbeda keluarga Umar bin Khaththab dan Abu Bakar
> Ash-Shiddiq radhiyallahu anhuma dengan keluarga sebagian sahabat Nabi
> lainnya. Umar bin Khaththab menyedekahkan separo dari hartanya,
> sedangkan Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak meninggalkan untuk keluarganya
> kecuali Allah dan Rasul-Nya. Abu Bakar menginfakkan seluruh hartanya. Dan
> Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam mengizinkan sekaligus menyambut
> baik amal shalih keduanya.
>
> Lalu…, bagaimanakah dengan keluarga kita?
>
> Kembali kepada pada perbincangan awal kita. Ada tiga bekal yang perlu kita
> miliki dalam mengasuh anak-anak kita. Pertama, rasa takut terhadap masa
> depan mereka. Berbekal rasa takut, kita siapkan mereka agar tidak menjadi
> generasi yang lemah. Kita pantau perkembangan mereka kalau-kalau ada bagian
> dari hidup mereka saat ini yang menjadi penyebab datangnya kesulitan di
> masa mendatang. Berbekal rasa takut, kita berusaha dengan sungguh-sungguh
> agar mereka memiliki bekal yang cukup untuk mengarungi kehidupan dengan
> kepala tegak dan iman kokoh.
>
> Sesungguhnya di antara penyebab kelalaian kita menjaga mereka adalah rasa
> aman. Kita tidak mengkhawatiri mereka sedikit pun, sehingga mudah sekali
> kita mengizinkan mereka untuk asyikmasyuk dengan TV atau hiburan lainnya.
> Kita lupa bahwa hiburan sesungguhnya dibutuhkan oleh mereka yang telah
> penat bekerja keras. Kita lupa bahwa hiburan hanyalah untuk menjaga agar
> tidak mengalami kejenuhan.
>
> Hari ini, banyak orang berhibur bahkan ketika belum mengerjakan sesuatu
> yang produktif. Sama sekali!
>
> Kedua, taqwa kepada Allah 'Azza wa Jalla. Andaikata tak ada bekal
> pengetahuan yang kita miliki tentang bagaimana mengasuh anak-anak kita,
> maka sungguh cukuplah ketaqwaan itu mengendalikan diri kita. Berbekal
> taqwa, ucapan kita akan terkendali dan tindakan kita tidak melampaui
> batas. Seorang yang pemarah dan mudah meledak emosinya, akan mudah luluh
> kalau jika ia bertaqwa. Ia luluh bukan karena lemahnya hati, tetapi ia amat
> takut kepada Allah Ta'ala. Ia menundukkan dirinya terhadap perintah Allah
> dan rasul-Nya seraya menjaga dirinya agar tidak melanggar
> laranganlarangan-Nya.
>
> Ingin sekali saya berbincang tentang perkara taqwa, tetapi saya tidak
> sanggup memberanikan diri karena saya melihat masih amat jauh diri saya
> dari derajat taqwa. Karena itu, saya mencukupkan pembicaraan tentang taqwa
> sampai di sini. Semoga Allah Ta'ala menolong kita dan memasukkan
> kita beserta seluruh keturunan kita ke dalam golongan orang-orang yang
> bertaqwa.
>
> Allahumma amin.
>
> Ketiga, berbicara dengan perkataan yang benar (qaulan sadidan). Boleh jadi
> banyak kebiasaan yang masih mengenaskan dalam diri kita. Tetapi berbekal
> taqwa, berbicara dengan perkataan yang benar (qaulan sadidan) akan
> mendorong kita untuk terus berbenah. Sebaliknya, tanpa dilandasi
> taqwa, berbicara dengan perkataan yang benar dapat menjadikan diri kita
> terbiasa mendengar perkara yang buruk dan pada akhirnya membuat kita lebih
> permisif terhadapnya. Kita lebih terbiasa terhadap hal-hal yang kurang
> patut.
>
> Karenanya, dua hal ini harus kita perjuangkan agar melekat dalam diri kita.
> Dua perkara ini, taqwa dan berbicara dengan perkataan yang benar (qaulan
> sadidan) kita upayakan agar semakin meningkat dari waktu ke waktu.
> Sekiranya keduanya ada dalam diri kita, maka Allah akan baguskan diri kita
> dan amal-amal kita.
>
> Allah Ta'ala berfirman,
>
> "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah
> perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan
> mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan
> Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar." (QS.
> Al-Ahzab, 33: 70-71).
>
> Nah.
>
> Masih banyak yang ingin saya tulis, tetapi tak ada lagi ruang untuk
> berbincang di kesempatan ini. Semoga Allah 'Azza wa Jalla pertemukan kita
> dalam kesempatan yang lebih lapang.
> ::Semoga yang sederhana bisa sekaligus menjadi penjelas tentang batas
> maksimal sedekah yang diperkenankan, kecuali bagi mereka yang imannya dan
> iman keluarganya sudah setingkat imannya Abu Bakar Ash-Shiddiq ra dan
> keluarganya.
>
>
> http://salinantulisanfauziladhim.blogspot.com/2012/03/3-bekal-mengasuh-anak.html
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
> ------------------------------------
>
> ====================================================
> Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
> ====================================================
> Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
> ====================================================
> website: http://dtjakarta.or.id/
> ====================================================Yahoo! Groups Links
>
>
>
>


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
daarut-tauhiid-digest@yahoogroups.com
daarut-tauhiid-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
daarut-tauhiid-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

[MailPlus] Digest Number 18035

3 New Messages

Digest #18035
1b
Re: Cara Nge-Pop Yahoomail ke outlook by "Mat Gemboel" si_mat_gemboel
1c
Re: Cara Nge-Pop Yahoomail ke outlook by "Mat Gemboel" si_mat_gemboel

Messages

Wed May 1, 2013 4:23 am (PDT) . Posted by:

"yusuf"

Enggak enaknya Gmail, kalau kita posting ke milis, posting kita enggak muncul, apa settingan saya yang salah ya ?

------Original Message------
From: Mat Gemboel
Sender: Mailplus
To: Mailplus
ReplyTo: Mailplus
Subject: Re: [MailPlus] Cara Nge-Pop Yahoomail ke outlook
Sent: May 1, 2013 18:01

  Rekan Wahjoe Soetiono, Enak pake Gmail kalu saya sih... Walo saat ini account di sini masih pake Yahoo juga... :D Piye kabare Kang Rogan... :) _____________ Best regards, Mat Gemboel si_mat_gemboel@yahoo.com.sg Wednesday, May 1, 2013, 9:37:40 AM, Wahjoe Soetiono [masjoe354@yahoo.com.sg] wrote: > FYI, sekarang yahoo.com bisa pake POP, jadi bisa ditarik > menggunakan e-mail client. Dijajal PakDhe... :)

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Wed May 1, 2013 4:38 am (PDT) . Posted by:

"Mat Gemboel" si_mat_gemboel

Rekan yusuf,

Memang itu setting standar'nya...
Gak ada setting yg salah kok Kang...
_____________
Best regards,
Mat Gemboel
si_mat_gemboel@yahoo.com.sg

Wednesday, May 1, 2013, 6:22:58 PM, yusuf [ysulistianto@rocketmail.com] wrote:
> Enggak enaknya Gmail, kalau kita posting ke milis, posting kita
> enggak muncul, apa settingan saya yang salah ya ?

Wed May 1, 2013 4:38 am (PDT) . Posted by:

"Mat Gemboel" si_mat_gemboel

Rekan Wahjoe Soetiono,

Hehehehehehehe...
Iya nih, secara tugu sebagai dasar berdiri'nya milis ini sudah ditutup... :(
Kapan2 kudu bisa bikin kopdar nasional M+...

Mbak Nero sehat2 saja, sudah beberapa kali saya sowan ke padepokannya sembari "menyuil" ilmu2'nya...
Sempat saya abadikan kok, cek saja di album FB saya Kang...
_____________
Best regards,
Mat Gemboel
si_mat_gemboel@yahoo.com.sg

Wednesday, May 1, 2013, 6:09:52 PM, Wahjoe Soetiono [masjoe354@yahoo.com.sg] wrote:
> Alhamdulillah kabar apik Kang. Kangen konco-konco M+....
> Simbah Nero Tjotsoemargono piye yak??