Rabu, 08 September 2010

[daarut-tauhiid] TAQABBAL YA KARIM!

 

TAQABBAL YA KARIM!
Oleh: Udo Yamin Majdi

Dalam kitab Al-Jawaab al-Kaafy liman sa-ala 'an ad-Dawaa' asy-Syaafy atau kita kenal dengan judul lain Ad-Daa' wa ad-Dawaa', Ibnu Qayyim al-Jawziyah membahas tentang ar-raja dan al-khauf. Beliau mengatakan bahwa sikap optimis dan pesimis itu sangat bermanfaat bagi orang beramal sholeh.

Berkaitan dengan hal itu, Allah berfirman, "Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka. Orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka. Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun). Serta orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka, mereka itu bersegera dan berlomba-lomba berbuat berbagai kebaikan " (Al-Mu'minûn [23]: 57-61).

"Wahai rasulullah, apakah orang yang takut dalam ayat itu," tanya Aisyah kepada Nabi Muhammad Saw, "karena mereka pernah minum arak, berzina dan mencuri?"

Nabi pun menjawab, "Bukan, wahai Binti Shiddiq! Mereka adalah orang yang suka shaum, rajin sholat dan gemar bershadaqah. Namun mereka sangat takut semua itu tidak diterima Allah. Lalu mereka bersegera berbuat baik!"

Berdasarkan Al-Quran dan hadis tersebut, setidaknya kita bisa memahami mengapa Islam mengajarkan kepada kita apabila bertemu --atau menyampaikan ucapan selamat hari raya-- kepada orang lain ketika Idul Fitri, kita ucapkan, "Taqaballâhu minnâ wa minkum" dan yang menerimanya menjawab, "Taqabbal yâ karîm".

Satu sisi, kita harus optimis, sekecil apapun perbuatan baik kita, pasti Allah akan membalasnya. Selama bulan suci Ramadlan, kita telah melakukan berbagai amal shaleh. Selain melaksanakan shalat wajib lima waktu dan shaum sehari penuh, setiap hari kita berbuat baik mulai dari niat ingin shaum, shalat tarawih/qiyamullail/tahajud, sahur, istighfar menjelang subuh, dzikir, tilawah al-Quran, shadaqah, i'tikaf, sampai melaksanakan zakat fitrah. Kita yakin, berdasarkan firman Allah dan sabda Nabi-Nya, semua itu tidak akan sia-sia dan akan mendapatkan balasan berlipat-ganda.

Namun di sisi lain, kita perlu pesimis, bisa jadi, apa yang kita lakukan semua itu, belum ikhlas --semata-mata ingin meraih ridla Allah, dan belum sesuai dengan sunnah --berdasarkan contoh dari Nabi Muhammad Saw.. Merasa diri kita sudah ikhlas, itu menunjukan diri kita belum ikhlas. Begitu juga, merasa diri paling ikut sunnah Nabi, itu tanda diri kita belum seperti rasulullah Saw.. Na'ûdzubillâh min dzâlik!

Agar dua perasaan --ar-raja (optimis) dan al-khauf (pesimis) bermanfaat sebagaimana dikatakan Ibnu Qayyim, maka kita harus memposisikan kedua perasaan ini pada tempatnya. Optimis kita letak sebelum kita beramal shaleh. Kita harus yakin, apa yang kita lakukan akan diterima oleh Allah Swt., sehingga kita termotivasi untuk melakukannya. Sebaliknya, kita simpan rasa pesimis setelah beramal shaleh. Kita merasa tidak yakin, apa yang kita telah lakukan oleh-Nya, sehingga kita tidak merasa sombong atas amal kita, riyaa (memperlihatkan) dan sum'ah (memperdengarkan) kebaikan kita. Karena kita merasa tidak yakin amal kita diterima Allah, akhirnya kita bersegera berbuat baik sebagai penggantinya.

Nah, ketika Ramadlan berakhir, orang-orang hatinya hidup, pasti merasakan penyesalan. Bagi yang telah berbuat kebaikan, mereka menyesal, mengapa tidak berbuat lebih maksimal dan optimal. sebaliknya, bagi yang telah berleha-leha atau berbuat maksiat, mereka menyesal sebab tidak memanfaatkan bulan suci Ramadlan. Penyesalan ini mendatangkan rasa takut, khawatir, cemas, ketika Allah di akhirat bertanya, "apa yang Anda lakukan selama Ramadlan?" Mengapa Anda tidak berbuat baik? Dan seterusnya.

Dengan demikian, ada perbedaan antara orang yang hatinya buta oleh dunia dengan orang yang hatinya ingat dengan akhirat dalam merayakan Idul Fitri. Orang yang hatinya lalai, ketika Ramadlan selesai seperti kuda yang terlepas dari kandang atau ikatan. Mereka merasa bebas dari segala larang shaum. Mereka  makan, minum, dan menyalurkan syahwat bagaikan orang yang dendam. Mereka terlena dalam kegembiraan yang semua dan mulai melupakan untuk berbuat kebaikan.

Sebaliknya, orang yang hatinya hidup, saat Ramadlan usai seorang kehilangan kekasihnya. Mereka merasa Ramadlan sebagai latihan untuk menjalani kehidupan yang nyata selama sebelas bulan berikutnya. Ketika makan, minum dan hubungan intim, mereka seolah-olah berat, karena sudah terkondisikan selama Ramadlan. Mereka bergembira sesuai dengan ajaran Islam dan memulai berbuat baik.

Dalam surat An-Nashr, Allah berfirman: "Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat." Surat ini berkaitan dengan Futuh Makah. Secara manusiawi, kemenangan umat Islam membebaskan kota Makkah dari genggaman musyrikin, akan membuat hati sangat bahagia dan patut untuk merayakannya seperti yang dilakukan oleh orang menang perang yaitu pesta pora. Namun Allah tidak memerintah hal itu, melainkan meminta Nabi dan sabahatnya untuk bertasbih, beristigfar dan bertaubat. 

Begitu halnya kita dalam merayakan kemenangan kita melawan hawa nafsu selama bulan suci Ramadlan, sesuai dengan spirit surat An-Nashr itu. Mari, kita isi hari raya Idul Fitri kali ini dengan tiga hal ini:

Pertama, bertasbih. Kita bertasbih, sebab pada hakikat, apapun yang kita lakukan adalah atas pengetahuan, kekuasaan dan kehendak Allah Swt.. Sebuah kebaikan kita selama bulan suci Ramadlan --begitu juga luar Ramadlan-- terjadi atas bantuan dan pertolongan Allah Swt.. Kalau memang semuanya itu penyebab utamanya adalah Allah, maka tidak ada ruang bagi diri kita merasa bahwa swmua itu hasil jerih payah kita sendiri.

Kedua, beristighfar. Kita meminta ampun, sebab bisa jadi semua amal yang kita lakukan sewaktu Ramadlan, belum ikhlas --semata-mata ingin meraih keredlaan Allah Swt-- dan belum sesuai dengan sunnah Nabi --berdasarkan tuntunan Nabi Muhammad Saw. Kesalahan kita kepada Allah, kita istighfar, maka kesalahan kepada manusia kita minta ma'af. Sebab, Allah belum mengampuni kesalahan kita dengan orang lain sebelum kita minta ma'af. Oleh sebab itu, inti kita mudik, silaturahmi dan berzirah kubur, dalam rangka saling meminta maaf atas semua kesalahan kita.

Ketiga, taubat. Dua hal sebelumnya --tasbih dan istighfar-- tak ada artinya tanpa taubat. Sebab, taubat merupakan ungkapan penyesalan atau rasa bersalah, meminta ampun kepada Allah dan minta maaf kepada manusia serta berjanji tidak pernah mau mengulangi semua kesalahan itu. Dengan kata lain, taubat adalah titik balik ke arah yang baik. Dan salah satu hikmah --bahkan menjadi ciri-- keberhasilan kita menjalani Ramadlan adalah adanya perubahan positif dalam diri kita.

Akhirul kalam, semoga rasa khauf dan tiga cara merayakan kemenangan jihadun nafsi itu, menjadi alasan bagi Allah untuk menerima semua amalan kita. Taqabbal ya karim! 

---
wassalam & tabik

=======
Writing is My Right...
Writing is My Live's Precious Inheritance and Treasure
[Menulis adalah Hak Saya... Menulis adalah Warisan Hidup dan Bekal Mati]
======

Udo Yamin Majdi
Penulis buku "Quranic Quotient: Menggali & Melejitkan Potensi Melalui Al-Quran"

Founder & Moderator
milis wordsmartcenter@yahoogroups.com dan www.wordsmartcenter.com

HP: +20108158391
YM: ibnu_majdi/wordsmartcenter
FB: udoyaminmajdi
Blog: http://udoyamin.multiply.com/

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___
Recent Activity:
====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
       website:  http://dtjakarta.or.id/
====================================================
MARKETPLACE

Get great advice about dogs and cats. Visit the Dog & Cat Answers Center.


Stay on top of your group activity without leaving the page you're on - Get the Yahoo! Toolbar now.


Hobbies & Activities Zone: Find others who share your passions! Explore new interests.

.

__,_._,___

Tidak ada komentar: