16 Agustus 2010
Imam Pemberontak dari Malangbong
<http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/08/16/LU/mbm.20100816.LU134354.id.html#>
DI Teluk Jakarta, sang "Imam" mengembuskan napas terakhir setelah tubuhnya
diterjang peluru regu tembak. Toh, hampir lima puluh tahun setelah
kematiannya, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo masih terus mengilhami
berbagai kelompok di negeri ini yang ingin menegakkan sebuah "Negara
Islam"-baik dengan jalan damai maupun kekerasan.
Kendati dikenal sebagai pemimpin Islam, pria kelahiran Cepu, Jawa Tengah, 7
Januari 1907, itu sesungguhnya sosok yang tak terlalu "islami". Ayahnya,
Kartosoewirjo, adalah seorang mantri candu-pangkat yang cukup tinggi untuk
seorang "inlander" di masa kolonial. Candu dan Islam jelas bukan pasangan
yang padan.
Keluarga Kartosoewirjo memang tergolong priayi feodal, dan bukan pemeluk
Islam yang taat. "Keluarga kami cenderung abangan," kata salah seorang
anggota keluarga di Cepu. Masa kecil Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo pun
tak karib dengan pendidikan agama. Dia terus-menerus menempuh pendidikan di
sekolah Belanda.
Setelah menamatkan Inlandsche School der Tweede Klasse, yang dikenal sebagai
"Sekolah Ongko Loro", Karto kecil melanjutkan sekolah ke Hollands Inlandsche
School di Rembang, Jawa Tengah. Setelah itu, dia meneruskan pendidikan ke
Europeesche Lagere School, sekolah elite khusus untuk anak Belanda, di
Bojonegoro, Jawa Timur.
Hanya anak pribumi cerdas dan berasal dari keluarga amtenar yang boleh masuk
sekolah itu. Kemudian dia melanjutkan lagi pendidikan ke Nederlandsch
Indische Artsen School-biasa disebut Sekolah Dokter Jawa-di Surabaya.
Di masa remaja, Kartosoewirjo yang mulai tertarik pada dunia pergerakan
justru akrab dengan pemikiran kebangsaan-bahkan "kiri". Dia diketahui banyak
membaca buku sosialisme yang diperoleh dari pamannya, Mas Marco
Kartodikromo.
Marco dikenal sebagai wartawan dan aktivis Sarekat Islam beraliran merah.
Terpengaruh bacaan itu, Kartosoewirjo terjun ke politik dengan bergabung di
Jong Java dan kemudian Jong Islamieten Bond.
Pengetahuan agama Islam praktis digalinya secara otodidak, lewat literatur
berbahasa Belanda dan persentuhan dengan sejumlah kiai. Guru mengajinya yang
pertama adalah Notodihardjo, aktivis Partai Sarekat Islam Indonesia
sekaligus Muhammadiyah di Bojonegoro. Penampilan Notodihardjo tipikal
Islam-Jawa: tutur katanya halus dan dia selalu mengenakan blangkon, beskap,
dan selop.
Adapun gurunya di dunia pergerakan, sekaligus guru agamanya terbesar, tak
pelak lagi adalah Haji Oemar Said Tjokroaminoto-tokoh yang disebut Belanda
"Raja Jawa tanpa Mahkota". Terpesona oleh pidato "singa podium" itu, Karto
melamar menjadi murid dan mulai mondok di rumah Ketua Sarekat Islam itu di
Surabaya.
Untuk membayar uang pondokan, Karto bekerja di surat kabar Fadjar Asia milik
Tjokroaminoto. Ketekunan dan kecerdasan membawa Kartosoewirjo menjadi
sekretaris pribadi mertua pertama Soekarno itu.
Patut dicatat, Tjokroaminoto juga dikenal sebagai guru bagi Semaoen yang
beraliran komunis dan Soekarno yang beraliran nasionalis. Kesamaan tujuan
untuk memerdekakan Indonesia dari penjajahan Belanda membuat mereka bersatu
dan mengesampingkan perbedaan.
l l l
KETIKA tinggal di Malangbong, Garut, Kartosoewirjo kembali mempelajari Islam
dari sejumlah ajengan, alias kiai lokal, seperti Ardiwisastra dari
Malangbong, Kiai Mustafa Kamil dari Tasikmalaya, dan Kiai Yusuf Tauziri dari
Wanareja. Ardiwisastra belakangan menjadi mertua dan sekutu dekatnya dalam
perjuangan menegakkan Negara Islam.
Sebaliknya, Yusuf Tauziri menjadi lawan tangguh dalam arti sesungguhnya bagi
Kartosoewirjo. Beberapa kali anak buah Yusuf yang menolak proklamasi Darul
Islam terlibat baku tembak dengan pasukan Kartosoewirjo di medan tempur.
Dengan latar belakang Islam-Jawa seperti itu, bukan hal ajaib jika muncul
cerita Kartosoewirjo pernah melakukan tapa geni tidak makan dan tidak minum
selama 40 hari di Gua Walet, Gunung Kidul, Yogyakarta. Dia meyakinkan
pengikutnya bahwa bertapa juga dilakukan Rasulullah ketika memperoleh wahyu
pertama di Gua Hira.
Dalam buku Pedoman Dharma Bhakti Negara Islam Indonesia jilid ketiga,
Kartosoewirjo disebut dengan banyak julukan: Ratu Adil, Imam Mahdi, Sultan
Heru Tjokro, dan Satrija Sakti. Julukan itu sesuai dengan ramalan Joyoboyo,
raja sekaligus pujangga Jawa yang menubuatkan akan munculnya seorang
pemimpin umat manusia.
Konon ada pula kepercayaan mistis di kalangan masyarakat Jawa Barat bahwa
Kartosoewirjo akan bisa menjadi Ratu Adil dan selalu menang perang jika bisa
menyatukan dua senjata pusaka: keris Ki Dongkol dan pedang Ki Rompang. Kedua
pusaka itu memang selalu dibawanya ketika bergerilya di hutan.
Menyimak profil Kartosoewirjo itu, tak aneh bila ahli politik Islam, Bahtiar
Effendy, menilai dia sesungguhnya tak memiliki landasan ideologi yang kuat
untuk mendirikan Negara Islam. Bahtiar-dan beberapa ahli politik Islam
lain-lebih merujuk pada kekecewaan Kartosoewirjo terhadap Perjanjian
Renville, yang dianggapnya merugikan kepentingan umat Islam, untuk
memberontak dari �pemerintahan kafir" Soekarno.
Toh, pemberontakan Kartosoewirjo di Jawa Barat bersama Daud Beureueh di Aceh
dan Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan telah ikut mewarnai sejarah
pembentukan Republik yang masih berusia muda. Puluhan tahun setelah ketiga
tokoh itu wafat, semangat mendirikan Negara Islam terbukti tak kunjung padam
di kalangan sebagian umat Islam. Kaderisasi di antara mereka pun sepertinya
tak pernah terputus.
Pengusung cita-cita Negara Islam itu boleh saja terpecah-belah karena alasan
ideologi atau kepentingan pribadi pemimpinnya. Ada yang memilih
mengembangkan pendidikan, berjuang dengan program advokasi, ada pula yang
tetap menghalalkan jalan kekerasan. Kelompok lain diyakini menjadi cikal
bakal Jamaah Islamiah. Namun semuanya tetap mengaku penerus cita-cita
Kartosoewirjo.
l l l
UNTUK mengumpulkan bahan penulisan edisi khusus Kartosoewirjo ini, kami
mengundang beberapa ilmuwan, peneliti, dan saksi sejarah dalam beberapa sesi
diskusi di kantor redaksi Tempo. Ahli politik Islam, Bahtiar Effendy, dan
Solahudin, seorang peneliti Darul Islam, memberikan banyak perspektif
tentang tokoh karismatis ini. Mereka juga memberikan rujukan sejumlah
literatur mengenai Kartosoewirjo dan gerakan Darul Islam, dari karya klasik
sampai kontemporer.
Sardjono, putra bungsu Kartosoewirjo, menceritakan pergulatan keluarganya
yang dianggap sebagai gembong pemberontak. Memang, setelah ayahnya
dieksekusi, giliran dua kakak kandungnya, Dodo Muhammad Darda dan Tahmid
Rahmat Basuki, tampil menjadi tokoh baru Darul Islam.
Riwayat Sardjono sendiri cukup unik. Dia lahir di hutan, di medan gerilya
ayah dan ibunya. Usianya baru lima tahun ketika Kartosoewirjo tertangkap dan
seluruh keluarganya memutuskan menyerah dan keluar dari hutan. Dengan
ingatan kanak-kanak yang terbatas, dia membantu merekonstruksi apa yang
terjadi di hutan, di saat-saat terakhir perlawanan sang Imam dan
pengikutnya.
Kami juga mengundang Sofwan, bekas juru warta Ma'had Al-Zaytun, yang dikenal
sebagai pesantren milik bekas pengikut Negara Islam Indonesia. Mantan tangan
kanan Abdussalam Toto alias Panji Gumilang ini mengaku sudah keluar "secara
baik-baik" dari Al-Zaytun. Diskusi yang berlangsung seru dan kadang
diselingi gelak tawa itu selalu diawali makan siang atau makan malam ala
Tempo.
Melengkapi tulisan, kami melakukan napak tilas ke sejumlah tempat
bersejarah. Sardjono menemani dan menunjukkan lokasi-lokasi tempat
Kartosoewirjo dan anak buahnya pernah bergerilya selama 13 tahun di hutan
dan gunung sekitar Garut dan Tasikmalaya, Jawa Barat.
Bersama Sardjono pula kami pergi ke Pulau Onrust di Teluk Jakarta. Di sana
ada sebuah makam yang diyakininya sebagai kubur ayahnya. Selama ini sejumlah
literatur dan saksi sejarah hanya bercerita bahwa Kartosoewirjo dieksekusi
dengan ditembak mati di sekitar Teluk Jakarta. Namun tak diketahui di mana
jenazah sang Imam dikebumikan.
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/08/16/LU/mbm.20100816.LU134354.id.html
--
"One Touch In BOX"
"Lidah orang berakal dibelakang hatinya, sedangkan hati orang dungu di
belakang lidahnya" -Ali bin Abi Talib.
--
Sesungguhnya, hanya dengan mengingat Allah, hati akan tenang.
now surely by Allah's remembrance are the hearts set at rest.
N'est-ce point par l'évocation d'Allah que se tranquillisent les coeurs.
im Gedenken Allahs ist's, daß Herzen Trost finden können.
>> al-Ra'd [13]: 28
[Non-text portions of this message have been removed]
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================
Tidak ada komentar:
Posting Komentar