Messages In This Digest (3 Messages)
- 1a.
- Re: (catcil) H-A-D-I-A-H From: cak dayat
- 1b.
- Re: (catcil) H-A-D-I-A-H From: Nia Robie'
- 2.
- Artikel: Apakah Gelar Seseorang Menentukan Kualitas Dirinya? From: Dadang Kadarusman
Messages
- 1a.
-
Re: (catcil) H-A-D-I-A-H
Posted by: "cak dayat" cakdayat@gmail.com dayat_xxx
Sat Aug 7, 2010 5:12 am (PDT)
@kang hadian : amiiiiiiin kang, syukron atas doanya...
Kapan2 ajari aku yang nebak remote itu ya kang :D
@ pak agus: jika semua orang memberi dan meminta, mungkin setiap orang akan punya kebahagian ganda pak..indahnya memberi, dan bahagianya diberi...
Sent from my BlackBerry®
powered by Cendana Pulsa
-----Original Message-----
From: hadianf@gmail.com
Sender: sekolah-kehidupan@yahoogroups. com
Date: Sat, 7 Aug 2010 06:41:34
To: <sekolah-kehidupan@yahoogroups. >com
Reply-To: sekolah-kehidupan@yahoogroups. com
Subject: Re: [sekolah-kehidupan] (catcil) H-A-D-I-A-H
Wah... Yang ini kok ga terdetek dari bidang LONCENG ya?
Met milad cak... Hadiah dari saya: semoga diberikan yang terbaik (rizki, istri dan yang lainnya)... Jawazakallah bi sur'ah (semoga Allah menikahkanmu dengan segera)... Amin
Powered by Hadian_Kasep BlackBerry®
-----Original Message-----
From: "Dayat" <cakdayat@gmail.com >
Sender: sekolah-kehidupan@yahoogroups. com
Date: Sat, 07 Aug 2010 06:31:12
To: <sekolah-kehidupan@yahoogroups. >com
Reply-To: sekolah-kehidupan@yahoogroups. com
Subject: [sekolah-kehidupan] (catcil) H-A-D-I-A-H
Hadiah....
mungkin hampir tidak ada seorangpun yang tidak suka jika diberi hadiah.
Apalagi jika hadiah itu dari seorang tercinta, pasti hati ini akan
berubah
menjadi taman bunga.
Dengan hadiah, kita bisa mengubah yang sedih menjadi gembira.
mengubah tangis menjadi tawa, bahkan mengubah musuh menjadi saudara.
tapi apa semua hadiah itu indah?
Dalam dunia pemasaran, hadiah juga sering dijadikan umpan untuk menarik
pembeli agar mau menangkap barang yang kita tawarkan.
Baik dalam bentuk gosok-gosok berhadiah, atau hadiah langsung yang
diberikan "cuma-cuma".
Setahu saya, cara ini cukup efisien dan bisa diterima dengan baik di
masyarakat indonesia.
Atau mungkin kita termasuk didalamnya, yang menjadi lebih giat belanja
saat ada discount atau undian berhadiah.
lalu....
Bagaimana dengan anak-anak kita?
saya jadi teringat saat mengantar keponakan membeli tas sekolah, dimana
dia menolak pilihan tas yang disodorkan ayahnya.
bukan karena dia tidak suka, atau tas yang dipilihkan berkualitas
rendah.
bukan karena itu sodara-sodara.... [:D]
tapi karena dia sudah terpikat pilihan dia sendiri, atau tepatnya lebih
tertarik dengan hadiah yang
diberikan jika membeli tas pilihanya itu.
Dia sudah tidak lagi memilih berdasarkan tas mana yang dia suka, tapi
tas mana yang memberikan hadiah menarik untuk dia.
Bukan juga soal tas itu bermerk atau tidak, yang penting tas itu
behadiah, titik.
jadi, apa ada yang masih mau dapat hadiah?
nanti bisa bisnis pulsa dengan saya (*hehehe...iklan terselubung)
ini baru sal tas, bagaiman dengan jajanan yang setiap hari ada disekitar
dia?
karena kita tahu, hampir semua makanan kecil dengan pasar konsumen
anak-anak kecil memberikan hadiah-hadiah yang menurut kita kecil, tapi
tentu tidak bagi bidadari-bidadari kecil kita. apa kita akan membiarkan
tangan-tangan Hadian -eh salah hadiah- membimbing langkah-langkah
kecilnya menjauh dari kita?
karena apapun bentuknya, hadiah memang selalu indah.
karena hadiah, walaupun masih berupa janji, bisa memaksa orang terus
berlalri..
office 070810
Dayat
yang sempat berkhayal mendapatkan hadiah spesial saat mengenang hari
kelahiran kemarin
- 1b.
-
Re: (catcil) H-A-D-I-A-H
Posted by: "Nia Robie'" musimbunga@gmail.com
Sat Aug 7, 2010 4:51 pm (PDT)
semoga sisa sia bertambah berkah :D
sayang malang jauuuh :D
(minta traktiran maksudnye)
deh Babeh Hadiah eh Hadian segera kasih mas Dayat Hadian segera eh hadiah
segera :P
Pada 7 Agustus 2010 13.31, Dayat <cakdayat@gmail.com > menulis:
>
>
> Hadiah....
> mungkin hampir tidak ada seorangpun yang tidak suka jika diberi hadiah.
> Apalagi jika hadiah itu dari seorang tercinta, pasti hati ini akan berubah
> menjadi taman bunga.
> Dengan hadiah, kita bisa mengubah yang sedih menjadi gembira.
> mengubah tangis menjadi tawa, bahkan mengubah musuh menjadi saudara.
> tapi apa semua hadiah itu indah?
>
> Dalam dunia pemasaran, hadiah juga sering dijadikan umpan untuk menarik
> pembeli agar mau menangkap barang yang kita tawarkan.
> Baik dalam bentuk gosok-gosok berhadiah, atau hadiah langsung yang
> diberikan "cuma-cuma".
> Setahu saya, cara ini cukup efisien dan bisa diterima dengan baik di
> masyarakat indonesia.
> Atau mungkin kita termasuk didalamnya, yang menjadi lebih giat belanja saat
> ada discount atau undian berhadiah.
> lalu....
> Bagaimana dengan anak-anak kita?
>
> saya jadi teringat saat mengantar keponakan membeli tas sekolah, dimana dia
> menolak pilihan tas yang disodorkan ayahnya.
> bukan karena dia tidak suka, atau tas yang dipilihkan berkualitas rendah.
> bukan karena itu sodara-sodara....[image: :D]
> tapi karena dia sudah terpikat pilihan dia sendiri, atau tepatnya lebih
> tertarik dengan hadiah yang
> diberikan jika membeli tas pilihanya itu.
> Dia sudah tidak lagi memilih berdasarkan tas mana yang dia suka, tapi
> tas mana yang memberikan hadiah menarik untuk dia.
> Bukan juga soal tas itu bermerk atau tidak, yang penting tas itu behadiah,
> titik.
> jadi, apa ada yang masih mau dapat hadiah?
> nanti bisa bisnis pulsa dengan saya (*hehehe...iklan terselubung)
>
> ini baru sal tas, bagaiman dengan jajanan yang setiap hari ada disekitar
> dia?
> karena kita tahu, hampir semua makanan kecil dengan pasar konsumen
> anak-anak kecil memberikan hadiah-hadiah yang menurut kita kecil, tapi tentu
> tidak bagi bidadari-bidadari kecil kita. apa kita akan membiarkan
> tangan-tangan Hadian -eh salah hadiah- membimbing langkah-langkah kecilnya
> menjauh dari kita?
>
> karena apapun bentuknya, hadiah memang selalu indah.
> karena hadiah, walaupun masih berupa janji, bisa memaksa orang terus
> berlalri..
>
>
>
>
> office 070810
>
> Dayat
> yang sempat berkhayal mendapatkan hadiah spesial saat mengenang hari
> kelahiran kemarin
>
>
>
>
>
>
- 2.
-
Artikel: Apakah Gelar Seseorang Menentukan Kualitas Dirinya?
Posted by: "Dadang Kadarusman" dkadarusman@yahoo.com dkadarusman
Sun Aug 8, 2010 1:23 am (PDT)
Artikel: Â Apakah Gelar Seseorang Menentukan Kualitas Dirinya? Â
Â
Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
Â
Berapa banyak gelar yang Anda miliki? Insinyur, Dokter, Doktorandus, Master, PhD, Professor? Semua gelar yang sangat membanggakan, tentunya. Bukankah itu juga yang menjadi alasan utama mengapa kita bersekolah? Mungkin memang demikian. Namun, ada indikasi bahwa kita sudah semakin silau dengan gelar. Bahkan sekarang sering muncul gelar-gelar baru yang hebat-hebat, unik-unik, dan aneh-aneh. Menurut pendapat Anda sendiri, seberapa pentingnya sih sebuah gelar itu?
Â
Pada awal tahun 2000an saya menghabiskan waktu bersama beberapa teman di Ray Brook, sebuah kota kecil di pinggiran kemilau New York city. Salah satu diantara teman saya itu berkebangsaan Turki. Ketika hendak berpisah, kami saling bertukar cendera mata agar bisa menjadi kenangan kami. Karena dia suka mengoleksi mata uang negara lain, maka saya memberinya beberapa koin mata uang rupiah. Sebagai balasannya teman saya ini memberikan satu lembar uang lira Turki. Saya terkejut ketika dia menyerahkan uang senilai satu juta lira itu.âI couldnât take it!â, saya bilang. Teman mengatakan bahwa di Turki dia hanya bisa membeli dua potong roti dengan uang satu juta itu. Bukan berarti harga barang-barang di Turki sangat mahal, melainkan karena terlampau rendahnya nilai mata uang mereka. Diam-diam, saya memiliki tekad untuk benar-benar membeli roti di negeri Turki.
Â
Saya beruntung mempunyai momen langka seperti itu. Karena kemudian saya menyadari bahwa kita ternyata tidak jauh berbeda dengan mata uang. Jika kita biasa membanding-bandingkan nilai tukar rupiah dengan dollar, euro, poundsterling dan mata uang dunia lainnya; maka sebaiknya kita juga belajar membandingkan ânilai diri kitaâ dengan orang lain. Sekarang kita menyadari betul bahwa nilai tukar mata uang itu sama sekali tidak ditentukan oleh jumlah angkanya. Melainkan dengan ânilai bendaâ yang bisa dibeli olehnya. Dalam kasus lira Turki yang saya terima dari teman saya di awal tahun 2000an itu, besar nilai nominal yang tertera dalam lembarannya sama sekali tidak memberi arti bermakna. Manusia juga sama. Panjangnya gelar yang menempel didepan atau dibelakang nama kita sama sekali tidak menentukan ânilaiâ kita yang sebenarnya.
Â
Anehnya, kita sering terpukau oleh gelar yang mentereng dan berjajar panjang menghiasi nama kita. Apakah itu salah? Tidak. Silakan saja. Namun, hendaknya kita mendahulukan ânilaiâ sesungguhnya dari diri kita melebihi deretan gelar itu. Apa gunanya suatu mata uang yang memiliki jejeran angka nol yang sangat banyak, namun nilainya hanya setara dengan dua potong roti. Mending mata uang lain yang meskipun angka nolnya hanya satu, bahkan tidak memiliki angka nol sama sekali; namun dia bisa ditukarkan dengan roti dalam jumlah yang sama dengan satu juta yang saya terima dari teman Turki tadi.
Â
Hal ini memberi saya kesadaran bahwa ternyata memang âbukanâ angka nominal yang panjang yang menentukan nilai uang. Dan, bukan deretan gelar yang panjang yang menentukan nilai seseorang. Apa lagi jika gelar-gelar yang kita tempelkan itu bukan hasil pendidikan, melainkan hasil klaim pribadi atau sekelompok orang. Misalnya, dengan menjadi seorang sopir angkot, saya tentu tidak perlu memberi diri sendiri gelar sebagai âsopir angkot terbaikâ bukan? Selain hal itu sama sekali tidak mewakili kemampuan mengemudi dan perilaku âberlalulintasâ saya, juga tidak jelas apa ukurannya. Mengapa saya tidak merasa puas dengan gelar âsopir angkotâ saja? Apa lagi kenyataannya tidak ada lembaga apapun yang memberi legitimasi kepada saya untuk menyebut diri sebagai âsopir angkot terbaikâ itu. Memangnya kapan saya dibandingkan dengan para sopir angkot lainnya?
Â
Bulan Mei 2006, saya duduk di dermaga selat Bosporus, tepat disamping sebuah pelabuhan kapal Feri di Besiktas. Orang-orang Turki menggunakan Feri itu untuk menyeberang ke daratan Eropa di pagi hari, dan kembali ke sisi lain di daratan Asia. Beberapa meter dari tempat duduk saya ada seorang Bapak tua yang menjajakan roti. Saat perut terasa lapar, pedagang roti itupun saya hampiri. Lalu saya membeli sepotong roti. Harganya hanya dua setengah lira. Lho, kok harganya bukan 500 ribu lira? Tentu saja, karena Turki di tahun 2000 berbeda dengan Turki tahun 2006. Tuhan mengijinkan saya mewujudkan tekad untuk membeli roti di Turki, namun uang yang saya gunakan sudah tidak sama lagi. Ketika Turki berhasil melakukan redenominasi mata uangnya, ternyata mereka berhasil memotong deretan angka nol yang tidak memiliki arti.
Â
Jangan-jangan kita juga seperti itu. Ketika kita berhasil âmeredenominasiâ penghargaan yang berlebihan terhadap gelar seseorang, mungkin kita bisa berhasil memotong deretan gelar-gelar yang tidak memiliki arti. Dengan menggunakan nilai nominal baru yang lebih pendek itu, orang Turki sama sekali tidak kehilangan ânilaiâ mata uangnya. Dengan menggunakan paradigma gelar baru yang lebih pendek itu, kita harus yakin tidak akan pernah kehilangan ânilai diri kita yang sesungguhnyaâ. Kita sering melihat orang-orang yang bergelar sedemikian panjangnya sehingga namanya sendiri nyaris tenggelam oleh deretan gelar itu. Padahal, jika gelar-gelar yang berentet itu dikurangi, sama sekali tidak akan menurunkan kualitas atau ketinggian nilai dirinya. Â
Â
Bukankah setiap orang berhak menggunakan gelarnya? Oh, tentu. Salah seorang sahabat saya mendapatkan gelar âProfessorâ pada usia muda. Banyak sahabat saya yang berhasil meraih gelar PhD. Mereka adalah orang-orang yang kualitas dirinya âsudah terujiâ. Dari mereka saya belajar bahwa âmenempelkanâ gelar perlu didahului oleh ânilai diriâ yang sesunggunya. Dengan cara itu barulah sebuah gelar memiliki makna. Apa jadinya jika kesilauan kita terhadap gelar akhirnya mendorong kita untuk mendapat gelar âdengan cara apapunâ. Termasuk diantaranya memalsukan tesis atau bahkan membelinya dari sekelompok pedagang ijazah di toko kelontong berlabel kampus.
Â
Ketika menyerahkan uang 1 juta lira-nya, teman saya berkelakar;âSekarang kamu tahu Dang, kalau gaji saya di Turki bernilai Milyaran.......â Kami terbahak-bahak karena mulai sadar jika angka nominal yang panjang itu tidak lebih dari sekedar guyonan belaka. Ketika kita menempelkan begitu banyak gelar pada nama kita, boleh jadi banyak orang yang mentertawakan kita. Terutama mereka yang benar-benar memiliki ilmunya. Karena mereka tahu bahwa kedalaman ilmu seseorang tidak bisa dilukiskan dengan gelar yang panjang.
Â
Hanya saja, ada bedanya antara uang dengan gelar keilmuan. Saya mengenal beberapa orang yang berpendidikan tinggi. Mendapat gelar dari hasil perjuangannya bersekolah. Kecanggihan ilmunya diakui oleh kalangan industri maupun dunia pendidikan. Namun, orang-orang itu tidak sembarangan menggunakan gelar yang dimilikinya. Mereka hanya menggunakan gelar-gelar itu dalam forum-forum yang relevan. Sedangkan di luar forum itu, mereka memilih untuk menampilkan nama dirinya sendiri. Sungguh, orang-orang itu telah berhasil membangun penghormatan sejati. Gambaran manusia berilmu yang sesungguhnya. Mereka yang berjuang untuk ilmu, bukan semata-mata untuk meraih gelarnya.
Â
Sekarang, masyarakat di negara kita tengah ramai membicarakan wacana redenominasi nilai rupiah. Kita sudah sadar bahwa angka nol yang panjang itu sama sekali bukan jaminan tingginya nilai tukar mata uang kita. Semoga saja, kesadaran ini juga kita imbangi dengan kesadara lain bahwa; gelar kita sama sekali bukanlah faktor penentu kualitas diri kita. Jika kita sudah bosan dengan gelembung nilai rupiah yang kempos, maka mungkin sudah saatnya juga bagi kita untuk âmulai bosanâ dengan mengagung-agungkan gelar didepan dan belakang nama kita. Apakah gelar akademis yang dipakai tidak pada tempatnya, atau pun gelar-gelar lain yang kita dapat dari ranah antah berantah.
Â
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman
Writer, Trainer, and Speaker
www.bukudadang.com dan www.dadangkadarusma n.com
Â
Catatan Kaki:
Nilai seseorang sama sekali tidak ditentukan oleh embel-embel yang menempal pada namanya. Melainkan kepada kemampuan aktual yang bisa disumbangkannya kepada dunia.
Â
Melalui project Mari Berbagi Semangat! (MBS!) sekarang buku saya yang berjudul âBelajar Sukses Kepada Alamâ versi Bahasa Indonesia dapat diperoleh secara GRATIS. Jika Anda ingin mendapatkan ebook tersebut secara gratis silakan kunjungi petunjuknya di www.bukudadang.com Â
--------------------- --------- --
Buku-buku terbaru Dadang Kadarusman sudah tersedia di toko buku atau bisa dipesan di http://www.bukudadang.com/
Need to Reply?
Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.
MARKETPLACE
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Individual | Switch format to Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
Tidak ada komentar:
Posting Komentar