Minggu, 08 Agustus 2010

[daarut-tauhiid] Bekerjalah, Engkau Akan Lebih Mulia!

Bekerjalah, Engkau Akan Lebih Mulia!


ZAMAN memang sedang susah. Harga kebutuhan pokok terus melambung
tinggi setiap hari. Sementara gaji tidak tentu bertambah setiap bulan.
Jutaan sarjana bertambah setiap tahunnya. Namun sebagian besar
perusahaan 'kurang ramah' dengan para sarjana baru lulus. "Dibutuhkan
karyawan yang berpengalaman, minimal pernah bekerja dua tahun," begitu
semboyannya.

Banyak warga terdhalimi oleh situasi. Rumah-rumah mereka tergusur atau
digusur. Akibat kelalaian, puluhan ribu orang korban Lapindo Brantas
kehilangan tempat tinggal dan pekerjaan. Di saat yang sama, ada orang
bermewah-mewah untuk hal-hal yang sedikit kemanfaatanya. Ada pengusaha
yang rela mengeluarkan biaya 10 Milyar untuk biaya pernikahan anaknya.
Seorang bakal calon Bupati atau Walikota menghabiskan dana serupa
untuk biaya kampanye.

Bahkan ada yang lebih menyedihkan dari semua itu. Menjelang perayaan
Tahun Baru 2010, sebuah pengelola hiburan di Jakarta rela
menghabiskan uang Rp 2 Miliar hanya untuk biaya kembang api.

Fenomena ini bisa melukai perasaan Anda, khususnya yang sedang
menderita, yang tak memiliki pendapatan apa-apa dan yang selalu
ditolak saat melamar kerja.

Ini memang zaman susah. Meski demikian, semua kesusahan hendaknya
tetap menjadikan kita terus bersemangat untuk berusaha dan tidak
gampang menyerah.

Kegigihan untuk mencari nafkah hendaknya tetap terjaga, jangan sampai
kendor. Ketidakadilan sosial atau politik, janganlah menyebakan kita
menjadi "buta" dan gelap mata.

Mengapa demikian pentingnya bekerja? Karena dalam agama kita, bekerja
bukan semata untuk kepentingan pemenuhan kebutuhan, lebih dari itu, ia
akan mengangkat derajat kita di mata manusia maupun di sisi-Nya. Dalam
agama Islam, orang yang bekerja adalah orang yang memiliki harga diri
dan kemuliaan.
Dalam salah satu haditsnya, baginda Rasulullah Saw menjelaskan,
"Seorang yang membawa tambang lalu pergi mencari dan mengumpulkan kayu
bakar lantas dibawanya ke pasar untuk dijual dan uangnya digunakan
untuk mencukupi kebutuhan dan nafkah dirinya maka itu lebih baik dari
seorang yang meminta-minta kepada orang-orang yang terkadang diberi
dan kadang ditolak." (HR.Mutafaq'alaih)

Orang yang dengan gigih bekerja keras, membanting tulang, mencari
rezki dari memeras keringat dan makan dari hasil itu, maka itu lebih
baik dari makan hasil yang diperoleh dari harta warisan, atau
memperoleh berdasarkan pemberian orang karena si pemberi merasa
terdorong untuk memberi, terlebih jika shadaqah itu memang
diminta-minta.

Dalam hadits yang lain, Rasulullah Saw bersabda, "Barangsiapa pada
malam hari merasakan kelelahan dari upaya ketrampilan kedua tangannya
pada siang hari, maka pada malam itu ia diampuni oleh Allah SWT." (HR.
Ahmad)

Semua bentuk usaha yang dilakukan dengan membanting tulang dan pantang
menyerah akan memompa semangat berkontraksi otot tubuh yang
menyebabkan kesehatannya tetap terjaga dan semakin menambah
kekuatannya. Secara fisik orang yang berlaku seperti ini akan tumbuh
menjadi pribadi yang kuat, sedang dalam jiwanya akan tumbuh rasa
percaya diri dan sifat mandiri. Ia tidak tergantung dengan orang
lain.

Sebaliknya orang yang hidup berdasar dari belas kasih orang lain,
selain bermental pasif, mereka juga memiliki jiwa lemah bahkan
mematikan jiwa. Dengan sangat tegas Nabi mengingatkan kepada kita
bahwa, "Pengangguran (dapat) menyebabkan hari keras (keji dan
membeku)."(HR. Asysyihaab).


Pengangguran aktif--yang didorong oleh kemalasan, dan pengangguran
pasif --karena bersandar dari tunjangan-tunjangan, warisan,sama-sama
berpotensi membuat hati menjadi keras dan membeku.

Islam memerintahkan kepada kita, selama hayat masih dikandung badan,
bergerak dan berkarya adalah sangat dianjurkan. Rasulullah
mengingatkan ummatnya agar manusia senatiasa berusaha dan berhati-hati
terhadap waktu luang, karena pada momentum tersebut merupakan ladang
subur bagi syetan untuk menanamkan kemunkaran. Ditinjau dari konteks
ini maka bekerja dan berakritivitas adalah jalan lain untuk membentung
kejahatan.

Bahkan apapun atau bagaimanapun bentuk pekerjaan itu, bila berangkat
dari mencari keridhaan-Nya adalah bernilai ibadah, yang berarti
mendapatkan ganjaran di sana.

Itulah sebabnya (hikmahnya)mengapa di pagi buta seusai shalat subuh
(fajar) kita dilarang tidur lagi sebagaimana disabdakan oleh beliau
Saw, "Seusai shalat fajar(subuh) janganlah kamu tidur sehingga
melalaikan kamu untuk mencari rezki." (HR.Ath-Thabrani).

Seiring dengan perputaran matahari, kita juga diperintahkan untuk
menjalankan amanah-amanah kehidupan dengan bekerja dan bekerja.

Dalam al-Qur'anul Karim kata 'aamanu' (beriman) senantiasa diikuti
dengan 'wa aamilushsholihat' (melakukan amal sholeh/kerja), seperti
yang termaktub dalam surat al-Ashr: 3; illalladzinaamanuu wa
'amimush-sholihati wa tawa shoubil haqqi fatawa shoubishshobri.
(kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh dan
nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati
supaya menetapi kesabaran).

Orang yang senantiasa bergerak/kerja menandakan keimanan yang
bersangkutan dalam kondisi aktif dan dinamis. Sebaliknya, mereka yang
'menikmati' bermalas-malasan alias gemar berpangku tangan, menandakan
dirinya sedang dilanda impotensi iman. Naudhubillahi mindhalik.

Asahlah iman, agar iman kita lebih dinamis dan produktif. Sempurnakan
kecintaan kita kepada Allah dengan semangat yang kuat untuk menjemput
fadhilahnya/rezkinya yang dihamparkannya begitu luas di penjuru bumi.
Singsingkan lengan baju, setelah kita bertakarrub kepadaNya. Begini
inilah yang dikatakan iman yang potensial. Iman yang aktif lagi
produktif.

Menurut Ibnu Atsir, bekerja termasuk bagian dari sunnah-sunnah nabi.
Nabi Zakaria as. adalah tukang kayu. Nabi Daud as. membuat baju besi
dan menjualnya sendiri. Bahkan sebagaimana disampaikan oleh
Rasulullah, Nabi Daud itu tidak akan makan, kecuali makan dari hasil
tangannya sendiri.

Siapa yang tidak mengenal Nabiullah Daud? Selain seorang Nabi, beliau
telah diberi oleh Allah SWT kekuasaan dan harta yang melimpah. Walau
begitu, beliau tidak merasa gengsi untuk bekerja dengan tangannya
sendiri guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Beliau tidak mengajarkan
berpangku tangan dan mengharap belas kasih dari orang lain, pada ummat
yang dipimpinnya.

Akhirul Kalam

Marilah kita tetap bekerja, bekerja dan bekerja. Apapun itu bentuk
pekerjaannya. Selagi dalam koridor syari'at alias tidak
diharamkan-Nya, lakukanlah itu dengan kesungguhan. Bila hal itu kita
lakukan, insya Allah hal itu akan membuat hidup kita menjadi lebih
mulia dan terhormat. Bukan begitu saudaraku? Wallahu 'alam bishshowab.

[Ali Atwa/hidayatullah.com]


------------------------------------

====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
daarut-tauhiid-digest@yahoogroups.com
daarut-tauhiid-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
daarut-tauhiid-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

Tidak ada komentar: