Minggu, 08 Agustus 2010

[daarut-tauhiid] Dapat Kucuran Nikmat Berkat Amal Saleh

Dapat Kucuran Nikmat Berkat Amal Saleh


KESULITAN finansial adalah masalah klasik yang hampir pernah dialami
setiap orang. Dalam kondisi ini, tidak sedikit orang yang bingung,
bahkan stres. Betapa tidak, hajat hidup tinggi tapi pemasukan rendah.
Bahkan seringkali minus. Siapapun pasti masygul menghadapi situasi
ini. Kondisi ini juga pernah saya alami.

Sebagai guru honor di sekolah swasta di kota Depok, Jabar, gaji saya
hanya Rp. 250 ribu perbulan. Uang sebesar itu otomatis bakal terkulai
lemas oleh kerasnya cekikan harga barang yang melambung tinggi.

Tahu sendirilah, bagaimana kejamnya kota Depok, yang tak jauh beda
dengan kota tetangganya, Jakarta.

Kendati begitu, saya tidak mau pusing, apalagi berputus asa. Meski
pendapatan kecil, tapi saya yakin, Allah SWT maha kaya dan pemberi
rezeki. Rezeki-Nya tidak akan pernah habis meski tiap detik dikeruk
oleh milyaran manusia. Dan terpenting, rezekiku, meski banyak orang di
dunia, tak akan ada yang mengambilnya. Saya yakin itu.

Karena itu, saya berniat melanjutkan kuliah S2 meski biaya belum ada.
Tapi, dengan kondisi keuangan tipis, saya jadi pesimis.

"Apa bisa gaji Rp. 250 buat biaya kuliah, sedang kebutuhan yang lain
numpuk?" batinku.

Rasioku belum bisa menerima. Hitungan matematis masih dominan
ketimbang hitungan iman. Jujur saja, hal itu membuatku berfikir keras
sekitar sebulan lamanya. Tidur pun jadi tak nyenyak. Gundah gaulana.
Yang ada di pikiran hanya satu; kuliah, kuliah, dan kuliah.

Saya pun sadar. Tidak semua bisa dirasionalkan. Ada hitungan Allah SWT
yang tak bisa dinalar logika. Sebab, pertolongan-Nya jarang bisa
diprediksi oleh logika. Entah besok, bulan depan atau jam ini juga.
Wallahu'alam. Untuk mematangkan niatku, saya pun shalat tahajud.

Sekitar sebulan lamanya, setiap di sepertiga malam, saya selalu berdoa
kepada Allah sang pengijabah doa.

"Ya Allah, jika niat saya ini baik dan bisa membantu agama-Mu, maka
mudahkanlah. Sebaliknya, jika tidak, maka jauhkanlah."

Itulah doa yang saya panjatkan. Pendek, tapi dalam. Sebuah permintaan
sekaligus pilihan; ya atau tidak. Doa itupun saya ulang-ulang. Tak
jarang diselingi dengan deraian air mata. Meminta kepada yang Maha
Menguasai Kehidupan, memang harus begini. Mengiba. Laksana pengemis
kepada majikannya.

Hatiku pun mulai tenang. Putusan untuk lanjut kuliah telah bulat.
Tiba-tiba, ada seorang teman yang mengajak silaturahim ke salah satu
ustadz. Saya pun ikut. Kebetulan, saya mengenal ustadz yang juga
pernah menjabat sebagai anggota DPD sebuah provinsi di Indonesia
bagian Timur. Tak disangka, sang ustadz ternyata menyuruhku kuliah
lagi. Tak hanya itu, ustadz itu juga memberiku uang Rp. 300 ribu.

"Secepat mungkin, kalau bisa langsung daftar. Jangan ditunda lagi,"
ujarnya mantap.

Hatiku pun bergemuruh. Laksana deburan ombak. Bunyinya sahut menyahut
dan berakhir di batu karang. Begitu juga hatiku. Kini, ucapan tahmid
dan tasbih mengisi penuh relung hatiku.

Ya, Allah inikah tanda doaku Engkau kabulkan? Saya pun langsung
mendaftarkan diri. Ketika itu, saya langsung mendaftar magister
manajemen pendidikan Islam di sebuah universitas Islam. Jurusan itu
saya impikan sejak lama.

Saya ingin jadi "ideolog" dalam bidang pendidikan. Miris rasanya lihat
output pendidikan sekarang yang kering spiritual. Hanya kognitif saja
yang dijejali. Dengan harapan, saya bisa lahirkan generasi Islam
handal. Setidaknya mengikuti jejak Imam Al-Gahzali yang melahirkan
generasi Shalahuddin Al-Ayyubi, panglima besar pembebas negeri
Palestina. Ya, itulah cita-citaku. Normatif memang!

Kendati sudah registrasi, bukan berarti masalah selesai. Saya harus
membayar uang gedung sebesar Rp. 5 juta rupiah. Tapi, lagi-lagi saya
yakin Allah SWT akan mempermudah langkah hamba-Nya yang menuntut ilmu.
Saya pun tetap optimis melangkah dengan mencari beasiswa
kesana-kemari.

Alhamdulillah, akhirnya dapat beasiswa dari sebuah lembaga amil zakat
sebesar Rp. 3 juta rupiah. Uang itu sangat membantu kekurangan
pembayaran.

Kuliah pun berjalan lancar. Depok-Bogor cukup jauh. Karena tidak
punya kendaraan, saya selalu nunut teman satu kuliah dan kebetulan
punya motor. Atau, jika tidak, saya naik angkot.

Tak terasa, tiga bulan sudah saya jalani kuliah. Tak ada masalah.
Paling keuangan dan itu bisa saya atasi. Namun, yang membuat tiba-tiba
menjadi bingung, ada seorang bapak menawarkan putrinya. Masa ada yang
mau dengan saya; anak perantauan dan tidak punya uang. Tampang juga
pas-pasan. Saya kira, tawaran itu hanya canda. Ternyata tidak. Bapak
yang tinggal di Sukabumi, Jabar itu terlihat sangat serius.

Dia menawarkan anaknya yang sedang kuliah di sebuah universitas di Bandung.

"Saya percaya sama adik. Karena itu, saya ingin jodohkan anak saya,"
ujarnya serius.

Saya pun langsung mengiyakan meski belum melihat siapa calon istri
saya. Ternyata, saya kaget bukan kepalang. Calon istri saya tidak
hanya sangat cantik, tapi juga berjilbab. Sosok muslimah yang luar
biasa, menurutku.

Karena tahu kondisi saya, seluruh biaya pernikahan diurus mertua. Saya
hanya ikut nyumbang Rp. 1 juta rupiah. Awalnya saya memang belum
sepenuhnya berani untuk menikah. Apalagi kalau bukan alasan ma'isyah.
Kuliah aja belum kelar, apalagi harus membiayai keluarga. Untung saja,
pihak mertua selalu men-support saya agar selalu yakin.

Menikahlah, maka engkau akan kaya, begitu dalil yang pernah saya baca.
Dan ternyata benar. Dengan pernikahanku, rezeki seolah tak pernah
putus. Baru beberapa bulan menikah, saya dapat beasiswa dari provinsi
tempat asalku sebesar Rp. 12 juta rupiah. Tak hanya itu, istriku
sangat pengertian. Dia tidak pernah meminta sesuatu aneh-aneh, hatta,
sehelai kain pun. Subhanallah!

Jadi, sejak menikah hingga sekarang, saya belum pernah membelikan
pakaian satu stelpun. Jika ada rezeki, dan hendak saya belikan, dia
selalu menolak.

"Jangan mas, pake aja buat biaya kuliah atau membeli buku," ujar
istriku. Saya pun bahagia dibuatnya. Anugerah paling indah dalam
hidupku. Betul, istriku adalah perhiasan terindah. Ya, istri yang
shalehah.

Kini, dari pernikahanku telah dikaruniai putri yang cantik dan imut.
Saya harap, kelak, dia jadi mujahidah shalihah dan pinter seperti
Aisyah, putri Nabi.

Tak hanya itu, kuliah S2-ku tinggal menyelesaikan tesis. Jika tidak
ada aral melintang, insya Allah, tahun depan sudah diwisuda. Dan, jika
diizinkan Allah, saya akan langsung lanjutkan ke jenjang S3. Lengkap
sudah nikmat dari Allah SWT yang diberikan kepadaku.

Bagiku, kemudahan dan nikmat Allah SWT tidak gratis diberikan.
Setidaknya, ada sebab-musababnya. Saya jadi ingat ketika mendiang
ibuku beberapa waktu hendak menghembuskan nafas terkhir berpesan
kepadaku.

"Nak, jangan sedih. Jika kita tak lagi hidup bersama di dunia ini,
insya Allah kita akan sama-sama di Surga. Jadilah anak yang shalih,
jalin silaturahim, dan rajin belajar. Tahu Imam Nawawi? Jadilah
seperti dia, ulama besar yang punya karya fenomenal."

Petuah almarhum ibu-lah yang jadi motivasi hidupku. Petuah itu yang
menyemangatiku ketika lemah. Petuah itulah yang membuka cakrawala
hidupku. Dan petuah itulah yang membuatku bercita-cita untuk belajar
dan kuliah hingga sekarang.

Meski saya tahu, ibu tidak meninggalkan kepingan rupiah, tapi dengan
petuah itu, melebih dari rupiah.

Karena petuah itulah, saya berusaha menjadi orang baik. Rajin ibadah,
jaga silaturahim, dan suka berbagi pada sesama. Dalam berbagi,
misalnya, saya selalu usahakan meski dalam segala keadaan; sempit dan
lapang. Termasuk ketika saya dapat beasiswa Rp 12 juta.

Tiba-tiba dua orang teman saya meminjam uang. Tak tanggung-tanggung,
masing-masing Rp 3 juta. Karena butuh, tanpa merasa berat, saya
pinjamkan uang tersebut.

Saya yakin, dengan itu, Allah SWT akan mengganti rezeki jauh lebih
banyak dari itu. Dari apa yang telah saya lakukan, bisa jadi,
pertolongan Allah SWT tak pernah terputus. Saya pun selalu beramal
saleh, jika ingin pertolongan Allah terus mengucur.

[ans,seperti diceritakan Imam kepada wartawan hidayatullah.com]

http://hidayatullah.com/cermin-a-features/cermin/12793-dapat-kucuran-nikmat-berkat-amal-saleh


------------------------------------

====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
daarut-tauhiid-digest@yahoogroups.com
daarut-tauhiid-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
daarut-tauhiid-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

Tidak ada komentar: