Senin, 16 Agustus 2010

[daarut-tauhiid] Menjadi Pelopor Kebajikan

http://www.dakwatuna.com

Menjadi Pelopor Kebajikan

Oleh: Tim dakwatuna.com

dakwatuna.com – Rasulullah saw. bersabda, "Siapa yang menunjukkan
jalan kebajikan maka ia memperoleh pahala (seperti pahala) orang yang
melaksanakannya." (Muslim, At-Tirmidzi, Ibnu Hibban)

Menunjukkan jalan kebajikan adalah salah satu tugas dakwah. Tentu saja
tujuannya untuk mengajak orang-orang melakoni kebajikan itu. Tetapi
ingat, mengajak tidak cukup dengan bunga-bunga kata. Seseorang yang
mengkampanyekan kebajikan haruslah menjadi pelopor kebajikan itu
sendiri. Karena, tidak semua objek dakwah berprinsip "dengar
perkataannya, bukan lihat siapa yang mengatakan". Masih banyak yang
menilai sesuatu itu benar atau salah, menerima atau menolak dakwah
dengan merujuk pada apa yang ia lihat pada si juru dakwah. Jika rasa
simpati dan cinta manusia terhadap diri dai merupakan salah satu kunci
keberhasilan dakwah, maka mewujudkannya dalam diri dai adalah bagian
dari dakwah itu sendiri.

Rasulullah saw. sosok yang simpatik dan mempesona. Karena itu,
orang-orang yang didakwahinya tidak punya alasan untuk mencela. Mereka
yang menolak dakwah sekalipun mengakui bahwa Rasulullah saw. orang
yang layak dicintai karena amanah, kejujuran, dan pekertinya yang
baik. Paling-paling dalih mereka untuk menolak beliau –karena mereka
tidak punya alasan lain– adalah dengan menuduh apa yang dibawa oleh
Rasulullah adalah sihir. Suatu tuduhan yang tidak dapat dibuktikan.

Yang Utama: Cinta Allah.

Hal utama yang harus dikejar adalah kecintaan Allah. Mengapa? Pertama,
dakwah adalah tugas suci dari Allah. Restu Allah sangat menentukan
berhasil dan gagalnya proyek itu. Mengejar cinta manusia dengan
membuat murka Allah, pasti akan menggagalkan dan menghancurkan dakwah
itu sendiri.

Kedua, bila Allah telah mencintai seseorang, maka orang tersebut akan
mendapatkan tempat dan memperoleh penerimaan yang luas di kalangan
manusia. Rasulullah saw. Bersabda, "Sesungguhnya Allah jika mencintai
seorang hamba, Dia memanggil Jibril seraya mengatakan, 'Sesungguhnya
Aku mencintai si fulan maka cintailah dia.' Maka Jibril mencintainya.
Kemudian ia (Jibril) menyerukan di langit dengan mengatakan,
'Sesungguhnya Allah mencintai si fulan maka cintailah dia oleh
kalian.' Maka penduduk langit mencintainya. Kemudian jadilah orang itu
mendapatkan penerimaan di bumi. " (Shahih Al-Bukhari dan Muslim)

Tidak ada cara lain untuk meraih cinta Allah selain dengan cara taat
kepada-Nya dalam keadaan apa pun. Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar)
mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni
dosa-dosamu". Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali Imran:
31). Selebihnya, juru kampanye kebenaran, keadilan, dan kebajikan
wajib melakukan kiat-kiat islami untuk menumbuhkan keberpihakan
masyarakat kepada kebenaran. Beberapa di antaranya adalah:

a. Berlapang Dada.

Berlapang dada dalam merespon kesalahan-kesalahan terutama yang
"merugikan" diri penyeru merupakan pintu gerbang penting bagi hadirnya
kecintaan. Allah swt. berfirman: "Mereka harus memaafkan dan berlapang
dada. Tidakkah kamu ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang." (An-Nur: 22)

Sikap memaafkan ini tentu saja akan membuat hati menjadi lembut.
"Islam menjadikan sikap pemaaf dan berlapang dada sebagai salah satu
jalan tarbiyah. Sikap itu dapat membersihkan hati dari dengki dan
kecenderungan-kecenderungan buruk lainnya. Dengan demikian
meningkatlah keyakinan seorang muslim dan semakin sempurnalah
keimanannya," kata Musthafa Abdul-Wahid dalam Syakhshiyyatul Muslim
Kama Yushawwiruhal Quran.

b. Mencintai karena Allah.

Untuk meraih cinta yang tulus adalah dengan mewujudkan cinta yang
tulus. Cinta palsu hanya akan melahirkan cinta gombal. Oleh karena
itu, landasan interaksi seorang dai dengan mad'unya hanyalah landasan
cinta karena Allah swt. Anas bin Malik mengatakan, "Aku sedang
duduk-duduk di sisi Rasulullah saw. tiba-tiba seorang laki-laki lewat.
Seseorang dari yang sedang duduk bersama Rasulullah saw. mengatakan,
'Ya Rasulullah saw. aku mencintai orang itu.' Rasulullah saw.
mengatakan, 'Sudahkah kamu menyatakannya kepadanya?' Orang itu
menjawab, 'Belum.' Kata Rasulullah saw., 'Bangunlah dan nyatakanlah
kepadanya." Maka orang itu bangkit menuju ke arahnya seraya
mengatakan, 'Uhibbuka fillah (aku mencitaimu karena Allah).' Orang itu
menjawab, 'Ahabbakal-ladzi ahbatani lahu (semoga mencintaimu pula
(Allah) Yang karena-Nya kamu mencitaiku'." (Hadits riwayat Ahmad)

c. Silaturahim

Allah swt. berfirman: "Dan orang-orang yang menyambungkan apa-apa yang
Allah perintahkan untuk disambungkan, merasa takut kepada Rabb mereka
dan merasa takut akan buruknya penghitungan." (Ar-Ra'd: 21)

Rasulullah saw. memerintahkan kita untuk menjalin hubungan dengan
orang yang memutuskannya dengan kita. Rasulullah saw. juga bersabda,
"Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan hubungan, yakni
memutuskan hubungan rahim (kekeluargaan)." (Muttafaq 'alaih)

Selain besar pahalanya, silaturahim juga mendatangkan banyak manfaat
bagi seorang dai. Misalnya, memahami kondisi mad'u. Dengan demikian,
bisa mengenali problem yang dihadapinya. Paling tidak dai dapat
memberikan empati kepadanya dan hal itu akan meringankan beban
penderitaannya. Akan lebih baik lagi bila ia bisa melakukan sesuatu
yang konkret yang dapat dirasakan oleh si mad'u.

d. Menebar Senyum

Menampilkan wajah cerai dan senyum adalah amal shalih yang ringan
untuk dilaksanakan, tapi punya nilai mulia di sisi Allah dan pengaruh
besar pada manusia. Rasulullah saw bersabda, "Janganlah engkau
meremehkan kebaikan sekecil apa pun, walaupun hanya bisa menemui
saudaramu dengan wajah ceria." (Muslim). Sebab, "Senyummu di hadapan
wajah saudaramu adalah shadaqah." (Ibnu Hibban)

e. Jauhi kesombongan

Seorang yang sedang mengkampanyekan kebajikan boleh saja menampilkan
hal-hal baik yang pernah dilakukannya, sebagai upaya tahadduts
binni'mah (menceritakan kenikmatan). Akan tetapi, ia harus berupaya
untuk menjauhi riya dan kesombongan.

Qatadah mengatakan, "Siapa yang diberi harta, atau ketampanan
(kecantikan), atau pakaian, atau ilmu kemudian tidak bersikap tawadhu'
maka semua itu akan menjadi kebinasaan bagi dirinya pada hari kiamat."

f. Hati-hati dalam berjanji.

Membuat janji secara akurat dan tidak mengobralnya. Melanggar janji
akan membuat Allah marah dan menyebabkan manusia kecewa serta
kehilangan kepercayaan. Oleh karena itu agar kita termasuk orang yang
melanggar janji, membuat janji secara cermat dan akurat adalah pilihan
yang tepat. Daripada mengumbar janji, lebih produktif menampilkan
bukti-bukti. Jangan sampai kita terjebak untuk menyaingi atau
mengimbangi janji-janji para penyeru kebusukan dengan janji busuk
serupa.

Keseriusan dalam memperbaiki keadaan umat dapat dilihat dari sejauh
mana para dai dalam menerapkan nilai-nilai kebaikan di dalam
kehidupannya. Memang untuk konsisten dalam kebenaran memerlukan
stamina ekstra. Karena, penegak nilai-nilai kebenaran dan keadilan
akan selalu berhadapan dengan pemelihara kezhaliman. Orang yang
berusaha hidup bersih dari korupsi akan berhadapan langsung dengan
orang yang membangun kejayaan dengan korupsi. Allahu a'lam.

http://www.dakwatuna.com/2007/menjadi-pelopor-kebajikan/


------------------------------------

====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
daarut-tauhiid-digest@yahoogroups.com
daarut-tauhiid-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
daarut-tauhiid-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

Tidak ada komentar: