Takdir
Apa sih yang namanya takdir itu ? He.. he... ini sih omonganku sebagai orang
awam saja yang jauh dari kebenaran yang hakiki. Yang pasti iman kepada takdir
Allah merupakan salah satu rukun iman.
Pemahaman tentang takdir bagi setiap orang tentu saja berbeda-beda tergantung
sudut pandang yang dipakai dalam memahami takdir. Pemahaman tentang takdir,
bagiku mengalami perubahan antara pemahamanku yang dulu dan yang sekarang.
Dulu aku memahami takdir dengan cara yang sederhana, dengan contoh sederhana
untuk keyakinanku sendiri. Anggapanku waktu itu, Allah sudah menetapkan
masing-masing takdir untuk berbagai pilihan yang ada, tergantung kita sendiri
mau menjalani takdir yang mana. Jadi aku menganggap bahwa variabel takdirku dan
kombinasi antara variabel takdirku ada dalam jumlah yang tak terhingga, tinggal
akunya yang menentukan variabel takdir yang mana. Misalnya besok akan ada
ulangan/ujian/test yang terdiri dari 10 soal dan masing-masing soal nilainya 10,
sehingga kalau umpama benar semua takdirnya ya nilai 100, kalau benarnya cuma 6
soal ya takdirnya dapat nilai 60. Jadi tinggal bagaimana usaha belajarku
mempersiapkan diri menempuh ujian. Sehingga misalnya aku ogah-ogahan belajar
sehingga soal yang kukerjakan hanya benar 5 soal ya takdirnya aku dapat nilai 50
bukan karena sejak semula aku ditakdirkan dapat nilai 50. Begicu...
Setelah itu muncul lagi pemahaman akibat dari kebingungan dari dua hal yang
seakan-akan bertentangan yaitu :
[Q.S. 13:11] Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga
mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.
Wah berarti menurut ayat tersebut perubahan takdir manusia itu ya tergantung
manusianya sendiri, mau atau tidak untuk berubah. Lha sedangkan dalam salah satu
hadits kita diajarkan untuk mengucapkan :
Laa haula walaa quwwata illaa illaahil'aliyyil'adzhim. (Tiada daya dan tiada
kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung).
Yang satu faktor dominannya adalah manusia itu sendiri tetapi yang satu lagi
faktor dominannya adalah Allah, tiada kan berarti kebalikannya yaitu hanya
Allah. Lha bagaimana itu ?
Setelah mengalami fase perenungan, pencarian dan pengalaman akhirnya muncul
suatu pemahaman yang lebih baru lagi yaitu bahwa di antara keduanya sama sekali
tidak ada yang bertentangan. Misalnya saat ini takdir Allah yang sedang berlaku
untuk diriku adalah AKU SEDANG SAKIT (Titik A). Aku ingin sembuh, maka aku harus
mengubah keadaanku agar terjadi kesembuhan yaitu dengan jalan berobat baik ke
dokter atau minum obat yang sesuai atau dengan memperbaiki asupan gizi yang
masuk ke dalam tubuhku. Setelah berbagai upaya itu aku jalani maka terjadilah
kesembuhan atas penyakitku (Titik B). Secara nalar kesembuhan atas sakitku
adalah karena upayaku sendiri mendapatkan kesembuhan itu sendiri dengan jalan
berobat. Tetapi bila ditelusuri lagi dari mana sih timbulnya keinginan untuk
sembuh itu, dari mana juga timbulnya niat untuk berobat, lalu siapa yang
mengatur pertemuanku dengan dokter atau dengan obat yang pas ? Ternyata tidak
lepas dari Allah juga.
Jadi kesimpulannya dari posisi takdir pada Titik A menuju posisi takdir pada
Titik B memang harus ada ikhtiar, tetapi ternyata ikhtiar itu sendiri juga
merupakan takdir Allah. Sehingga Allah kalau berkehendak mengubah takdir seorang
hamba pada titik yang lain, maka Allah juga yang mempersiapkan ikhtiar perubahan
itu sehingga si hamba berada pada titik yang dikehendaki-Nya.
Seiring berjalannya waktu, ditambah pemahaman-pemahaman baru yang aku dapatkan
di sepanjang perjalananku terutama juga dari bimbingan Syekh Luqman, aku jadi
mengerti bahwa semula ada dua golongan pemikiran tentang takdir, yaitu serba
Tuhan (Jabariyah) dimana dalam paham golongan ini manusia sama sekali tidak bisa
berkehendak – mutlak kehendak Allah. Jadi bagi yang menyalahpahami sering hal
itu dijadikan alasan, misalnya mengatakan kalau saya berbuat maksiat itu ya
karena Allah mentakdirkan seperti itu. Ada juga golongan yang kedua dengan
pahamnya yang serba manusia, dalam pengertian manusia bebas tanpa campur tangan
tuhan, jadi setelah Allah menciptakan semesta ini ya sudah dibiarkan berjalan
dengan sendirinya. Masing-masing golongan ada benarnya dan juga ada salahnya
menurutku. Lha terus bagaimana dong ?
Dari dua golongan tersebut menurut Syekh Luqman, ada tempatnya masing-masing,
ada wilayahnya sendiri-sendiri, yaitu dimensi hakikat/wilayah hati dan dimensi
syariat/wilayah akal-pikiran.
Bahwa segala hal yang terjadi baik yang sudah, sedang maupun yang belum secara
hakiki adalah sepenuhnya takdir Allah dan hal tersebut adalah wilayah hati untuk
meyakininya. Tetapi dalam dimensi syariat atau menurut wilayah akal, segala hal
haruslah direncanakan, distrategikan, dihitung, ditata dan diusahakan untuk
hasil yang terbaik. Dua hal tersebut harus dapat berjalan seiring tanpa boleh
terbolak-balik atau pun campur aduk. Misalnya dalam suatu musibah kecelakaan
pesawat terbang, hati harus langsung menerima bahwa secara hakiki itulah takdir
Allah, tetapi secara syariat dalam wilayah akal ya harus tetap diusut
penyebabnya apa, kesalahannya terletak di mana dan apa tindak lanjutnya serta
bagaimana antisipasi ke depannya agar kasus serupa tidak terulang kembali.
Misalnya lagi dalam menjalankan suatu usaha, hati ya harus berserah diri bahwa
apa pun yang terjadi nantinya adalah takdir Allah sehingga sejak awal sudah
harus bertawakal, sedangkan akal ya harus tetap menghitung bagaimana proses
produksi yang efektif dan efisien, bagaimana strategi pemasarannya dan
sebagainya. Tidak boleh dibolak-balik, misalnya hati ikut mikir tidak mau
berserah diri sehingga mengalami kecemasan, ketegangan dan selalu bergemuruh.
Atau sebaliknya akalnya yang pasrah, ya tidak bisa jalan itu.
Mungkin ini rumus sederhananya seperti ini :
1. Wilayah tidak bebas -> hakikat -> qolbu : yakinlah bahwa setiap detik
kehidupan kita dalam segala aspek sudah ditakdirkan oleh Allah, sehingga
sangatlah rugi bagi kita bila tidak menyertai ketentuan Allah tersebut
dengan ingat kepada-Nya / dzikir, untuk itu detakkanlah jantung kita dengan
berdzikir kepada-Nya : ALLAH….. ALLAH….. terus.
2. Wilayah bebas -> syariat -> akal : harus berusaha mengoptimalkan segala
potensi kehidupan yang sudah dikaruniakan-Nya kepada kita untuk selalu
berusaha mencapai yang terbaik yang bisa kita capai dalam kehidupan ini.
Satu hal lagi yang terpenting adalah jangan sampai menyesali apa pun yang sudah
terjadi. Yang sudah terjadi ya sudah lha wong takdir, jangan sampai kemudian
berandai-andai seperti : "Wah... kalau saja dulu saya begini" atau "Umpamanya
dulu saya begitu pasti engga begini jadinya". Menurut Syekh Luqman misalnya di
masa lalu kita berbuat dosa ya sudah bertobat saja anggap saja dengan bahasa
kesadaran kita bahwa mungkin Allah memang mentakdirkan kita untuk berbuat dosa
dalam rangka lebih mendekatkan diri kita pada Allah. Begitu. Tetapi tidak boleh
untuk yang kedepannya dengan alasan takdir, misalnya :"Ah saya tak berbuat dosa
aha nanti saya akan begini begitu", nah itu tidak boleh.
Sekedar intermezo, saya dulu juga suka begitu waktu kuliah terutama kalau
sehabis Ujian Akhir Semester yang kebetulan engga bisa ngerjakan soal ujiannya
dan ada tanda-tanda kalau harus mengulang mata kuliah yang sama. Teman-teman
pasti berguraunya : "Wis, sing uwis yo wis, sing durung dibaleni semester
ngarep".
[Non-text portions of this message have been removed]
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================
Tidak ada komentar:
Posting Komentar