Selasa, 17 Agustus 2010

[sekolah-kehidupan] Digest Number 3162

sekolah-kehidupan

Messages In This Digest (3 Messages)

Messages

1.

[Resensi] Membangkitkan Spiritualitas Demi Kebaikan Manusia

Posted by: "Anwar Holid" wartax@yahoo.com   wartax

Mon Aug 16, 2010 7:37 am (PDT)



[BUKU INCARAN]

Membangkitkan Spiritualitas Demi Kebaikan Manusia

Masyarakat kita dikenal sebagai masyarakat religius tapi sayangnya bukan masyarakat yang spiritual. Kita rajin pergi ke tempat ibadah tapi begitu ke luar dari sana kita menjadi orang yang berbeda 180 derajat. Kita percaya pada Tuhan tapi tidak beriman kepada Tuhan. Ketika beribadah kita menyembah Tuhan, tapi ketika berbisnis kita memasabodohkan Tuhan. Kita melakukan hal-hal tercela tanpa beban, seolah-olah Tuhan tidak melihat kita, bahkan menganggap Tuhan tidak pernah ada.

Tuhan bukanlah sosok yang jauh. Dia sangat dekat dengan diri kita dan senantiasa memperhatikan kita. Dosa, kesalahan, dan perbuatan tercela sesungguhnya disebabkan manusia tidak percaya bahwa Tuhan itu senantiasa melihat dan bersamanya. Pemikiran inilah yang semakin meyakinkan saya betapa pernyataan "You Are Not Alone" sangat powerful.

Demikian tulis Arvan Pradiansyah di kata pengantar buku terbarunya You Are Not Alone: 30 Renungan tentang Tuhan dan Kebahagiaan (Elex Media, 252 hal.) yang terbit awal Agustus 2010. Buku tersebut merupakan renungan dirinya mengenai Tuhan dan kebahagiaan. Tuhan yang dimaksud dalam buku tersebut lebih bersifat sebagai Tuhan universal, tidak mengacu pada ajaran agama tertentu. Tujuannya agar renungan tersebut dapat dinikmati oleh pembaca dengan beragam latar belakang, bahkan yang mengaku ateis sekalipun. Jadi buku ini berbicara mengenai spiritualitas, bukannya religiositas. Maka dalam buku itu bertebaranlah pernyataan penyejuk jiwa dari berbagai khazanah manusia, mulai dari agama-agama di dunia ini, kisah dan perlambang, juga berbagai kajian spiritualitas yang berkembang di masa kontemporer. Bagi peminat karya-karya Arvan, buku ini mungkin akan segera mengingatkan pada Life is Beautiful karena juga disajikan melalui kisah singkat yang mampu membangkitkan
kedalaman spiritual.

"Saya ingin menulis buku yang dapat mengirimkan pesan kuat untuk memprovokasi pikiran orang agar dapat berubah menjadi lebih baik," tegas Arvan. Dia berharap buku ini memiliki dampak cukup signifikan bagi pengembangan karakter masyarakat Indonesia. Tentu sungguh memprihatinkan bila kita membaca fakta betapa mayoritas penduduk di negeri religius ini justru memiliki kebiasaan korupsi yang mengerikan. Tidak ada satu pun lembaga penegakan hukum yang bersih dari korupsi.

_____________________________________
DETAIL BUKU

You Are Not Alone: 30 Renungan tentang Tuhan dan Kebahagiaan
Penulis: Arvan Pradiansyah
Penerbit: Elex Media, 2010
Halaman: 252 hal., soft cover
Kategori: Spiritualitas; Inspirasional; Pengembangan Diri
ISBN: 978-979-27-7918-9
Harga:
_____________________________________

Arvan menggunakan judul You Are Not Alone dari lagu Michael Jackson untuk menyatakan bahwa manusia tidak sendiri. Di manapun kita berada, ke manapun kita pergi, kita selalu menjumpai Tuhan. Lagu itu pertama kali dia dengar ketika bersekolah di The London School of Economics (LSE) jurusan Industrial Relations & Human Resources tahun 1995 berkat beasiswa British Chevening Awards dari The British Council. Dia dikenal sebagai ahli di bidang sumber daya manusia, konsultan, kolumnis, dan pembicara publik. Arvan juga menulis buku yang best seller, di antaranya Life is Beautiful dan The 7 Laws of Happiness. Selain itu dia juga menjadi narasumber tetap untuk talkshow "Smart Happiness" di Smart FM Network setiap hari Jumat pukul 07.00 - 08.00 WIB yang disiarkan langsung ke-22 kota di Indonesia. Semua itu melengkapi aktivitasnya sebagai Managing Director di Institute for Leadership & Life Management (ILM), sebuah lembaga pelatihan dan konsultasi sumber daya
manusia, kepemimpinan, dan life management berbasis di Jakarta.

Rencananya buku You Are Not Alone akan dilaunching di toko buku Gramedia Matraman, Jakarta, pada Sabtu, 28 Agustus 2010.[]

Copyright © 2009 Anwar Holid

Situs terkait:
http://www.elexmedia.co.id
http://www.ilm.co.id

Arvan Pradiansyah juga berinteraksi di http://www.facebook.com

2.

17- Agustus: Memerdekakan Diri dari Lomba Makan Kerupuk

Posted by: "Jonru" jonrusaja@gmail.com   j0nru

Mon Aug 16, 2010 7:37 am (PDT)



17 Agustus: Memerdekakan Diri dari Lomba Makan Kerupuk

Oleh: Jonru

http://www.jonru.net/17-agustus-memerdekakan-diri-dari-lomba-makan-kerupuk

NB: Tulisan ini merupakan revisi dari tulisan yang pernah dimuat di
http://jonru.blogdetik.com/2008/08/15/memerdekakan-diri-dari-lomba-makan-kerupuk/

Pernahkah Anda berpikir, dari mana asal muasal lomba makan kerupuk,
lomba balap karung, lomba panjat pinang, dan lomba-lomba lain yang
bernuansa 17 Agustusan? Kalaupun pernah, saya yakin Anda akan sulit
menemukan jawabannya.

Lagipula Anda mungkin berkata:

"Apa pentingnya membahas hal-hal seperti ini? Bukankah lebih baik kita
bergembira ria setahun sekali, menikmati kebersamaan dengan para
tetangga yang jarang terjadi di luar bulan Agustus? Tidak penting dari
mana asal muasal lomba makan kerupuk, dan apa relevansinya dengan
kemerdekaan. Yang penting, kegiatan seperti ini bisa mempererat tali
persaudaraan dan keakraban, yang sudah sangat langka di zaman serba
modern sekarang ini."

Ya, alasan yang masuk akal. Namun ketidakpedulian kita terhadap
hal-hal tertentu justru seringkali membuat kita terjebak pada hal-hal
yang tidak efektif.

Saya berikan sebuah contoh: Prewedding.

Ini adalah sesi potret memotret bagi sepasang calon pengantin
menjelang Hari H pernikahan. Tradisi seperti ini sebenarnya baru
berlangsung sejak beberapa tahun lalu. Artinya, ini bukan bagian dari
syarat atau aturan yang harus diberlakukan bagi setiap calon
pengantin.

Tapi coba perhatikan: Hampir semua calon pengantin masa kini dengan
penuh kesadaran menjadikan "upacara prewedding" ke dalam jadwal
persiapan pernikahan mereka. Seolah-olah tanpa kegiatan seperti ini,
pernikahan mereka belum afdol.

Saya pernah masuk ke sebuah warnet di daerah Cipayung, Jakarta Timur.
Di situ saya melihat sebuah kertas yang ditempel di dinding dan
bertuliskan:

Dari pikiran lahirlah perbuatan. Dari perbuatan lahirlah kebiasaan.
Dari kebiasaan lahirlah gaya hidup. Dari gaya hidup lahirlah
kepercayaan.

Sebuah tulisan yang sangat bagus, membuat saya terkagum-kagum hingga hari ini!

Kini saya pun sadar, bahwa lomba-lomba dalam rangka 17 Agustusan, juga
tradisi-tradisi lain seperti prewedding dan sebagainya, ternyata lahir
dari sebuah kebiasaan yang terus diulang-ulang, hingga akhirnya
menjadi gaya hidup. Dan yang lebih tragis lagi, gaya hidup ini
akhirnya berubah menjadi kepercayaan!

Ketika sudah sampai pada tahap kepercayaan, maka inilah yang dalam
istilah agama disebut bid'ah

Jika sudah menjadi bid'ah, tentu saja kesalahkaprahan pola pikir pun terjadi.

Bayangkan bila suatu saat nanti, masyarakat kita punya keyakinan bahwa
upacara pernikahan belum sah bila tak ada acara prewedding. Perayaan
17 Agustusan belum sah bila tak ada lomba makan kerupuk! Hehehe….

"Ah, mana mungkin ini terjadi?"

Kenapa tidak? Semuanya sangat mungkin!

Dulu di zaman Rasulullah dan Para Sahabat, sama sekali tidak ada
perayaan Maulid. Bahkan peringatan ulang tahun (termasuk ulang tahun
Rasulullah sendiri) tidak ada ajarannya di dalam Islam. Tapi kini?
Banyak orang yang berkata bahwa merayakan Maulid itu wajib. Bahkan
ketika ada orang yang mengatakan Maulid itu bid'ah, maka jutaan orang
akan segera protes. Bahkan permusuhan antara pembela dan penentang
Maulid pun tak terhindarkan.

Kenapa sampai ada fenomena seperti ini? Tak lain dan tak bukan karena
sebuah kebiasaan (dalam hal ini perayaan Maulid, sudah berubah menjadi
gaya hidup, dan kini berubah lagi menjadi kepercayaan).

Mohon maaf

Konteks atau poin utama dari tulisan saya ini sebenarnya BUKAN
mengajak teman-teman semua untuk MENENTANG lomba makan kerupuk, lomba
balap karung, prewedding, Maulid, dan seterusnya. Kalau Anda setuju
pada pendapat saya, lalu menentang kegiatan-kegiatan tersebut, ya… itu
hak Anda. Kalau Anda tetap berpendapat bahwa kegiatan-kegiatan seperti
ini masih perlu dilestarikan, itu juga hak Anda.

Tulisan ini saya buat dalam rangka menyambut HUT Proklamasi Ri tanggal
17 Agustus (Ini juga bid'ah sebenarnya, hehehe…). Dan tema utama
setiap perayaan 17 Agustus di Indonesia adalah KEMERDEKAAN.

Maka, lewat tulisan ini saya hanya ingin mengajak kita semua –
termasuk saya – untuk memerdekakan pikiran kita:

Saat kita mengikuti sebuah kegiatan yang berbau tradisi atau
kebiasaan, alangkah baiknya bila kita sudah punya bekal ilmu yang
memadai mengenai kegiatan tersebut. Janganlah kita sekadar ikut-ikutan
dengan alasan, "Sudah tradisi."

Bila bersikap seperti itu, artinya kita selama ini hanya mengikuti
tradisi tanpa pernah memikirkan dan mengkritisi dari mana asal
muasalnya, apa tujuannya, dan sebagainya.
Tanpa sadar, kita telah telah membiarkan tradisi-tradisi seperti itu
menjajah kita. Dan tragisnya, kita tidak pernah berusaha memerdekakan
diri darinya!

Padahal kalau kita mau MEMERDEKAKAN DIRI dari tradisi-tradisi seperti
itu, yang perlu kita lakukan hanya tiga hal berikut:

1. MENGUBAH MINDSET

2. OPEN MIND terhadap masukan apapun dari luar

3. MAU MEMPELAJARI HAL-HAL BARU, yang selama ini mungkin belum pernah
kita pelajari

Nah, bila Anda marah atau kecewa pada saya setelah membaca tulisan
ini, lalu menentang pendapat saya dengan alasan:

"Apa salahnya lomba makan kerupuk? Apa salahnya prewedding? Apa
salahnya Maulid? Ini kan kegiatan yang baik, bla… bla… bla…"

Artinya, Anda mungkin perlu berlatih lagi untuk menerapkan ketiga hal
di atas. Sebab saya khawatir penentangan Anda hanya karena dipicu oleh
emosi semata

Tapi bila Anda menentang pendapat saya dengan alasan yang kuat, logis,
dan tidak emosi, bahkan disertai data atau referensi penguat yang
meyakinkan, maka saya percaya bahwa Anda telah berhasil memerdekakan
diri sendiri dari tradisi dan pola pikir yang selama ini membelenggu.

Selamat HUT Proklamasi RI ke-65. MERDEKA!!!

* * *
--
Terima Kasih dan Salam Sukses!

Jonru
(*) Founder & Moderator Milis Penulis Lepas
(*) Founder & Mentor Sekolah-Menulis Online: http://www.SekolahMenulisOnline.com
(*) Penulis Buku "Menerbitkan Buku Itu Gampang!" dan "Cara Dahsyat
Menjadi Penulis Hebat"
(*) Telp: 0852-1701-4194 / 021-9705-6247
(*) Personal blog: http://www.jonru.net

3.

Art-Living Sos 2010 (A-8  Keran

Posted by: "IETJE SRI UMIYATI GUNTUR" ietje_guntur@bca.co.id

Mon Aug 16, 2010 7:45 am (PDT)





Dear Allz...

Apakabaaaaaaarrrrr....hehe...lama ya, gak ketemu ? Lama juga ya kita nggak saling berkabar. Iya niiih...saya lagi berhibernasi...hehe...seperti beruang kutub di dalam goa es...Moga-moga, walaupun kita lama tidak saling bersapa, semua teman dan sahabatku dalam keadaan sehat dan gembira yaaa...

Betuuulll...hidup ini walaupun Cuma sebentar, seyogyanya kita nikmati dengan gembira. Alangkah sayangnya hidup bila hanya diisi dengan kemuraman. Padahal kata orang pintar, kemuraman dan kesedihan itu adalah persepsi kita sendiri. Orang yang mengalami hal sama, tapi karena pengalaman dan persepsi yang berbeda, akan menilai peristiwa itu dengan hasil berbeda....hehehe...

Sama juga dengan kehidupan kita ini secara keseluruhan...kadang gembira, kadang sedih...ya nikmati saja...Kitalah yang harus mengganti posisi dan memutar keran persepsi itu agar kita dapat menikmati saat terbaik yang kita miliki....

Haaaaa...keran ? Kenapa keran, ya ? Ngomong-ngomong soal keran, saya jadi ingin ngobrol soal keran...hihiiiii...sederhana banget ya ?

Nggak apa-apa sederhana. Mumpung lagi bulan puasa nih, jadi kita ngobrol yang sederhana dan ringan-ringan saja.

Okeee...sambil menunggu waktu berbuka dan waktu sahur....mari kita mulai...satu...dua...tigaaaa...siaaaaappp......

Selamat menikmati....semoga berkenan....

Jakarta, 16 Agustus 2010

Salam hangat full kangen,

Ietje S. Guntur

- Sambil menunggu saat perayaan hari Kemerdekaan RI ke 55..

♥♥♥

Art-Living Sos 2010 (A-8

Start : 04/08/2010 15:29:04

Finish : 16/08/2010 17:13:31

KERAN....

Di kantor. Sehabis jam makan siang. Seperti biasa saya akan membersihkan diri, mencuci tangan, dan dilanjutkan dengan menyikat gigi serta membasuh wajah dengan air. Masih dilanjutkan lagi dengan berwudhu, agar dapat langsung menunaikan ibadah sholat.

Ritual menyikat gigi baru dimulai, ketika air yang mengalir dari keran tiba-tiba berhenti. Walaaah...kenapa nih ? Padahal ini keran otomatis, yang menggunakan sensor untuk mengalirkan dan menghentikan air.

“ Kenapa kerannya, ya ?” tanya saya kepada petugas cleaning service yang sedang berdiri di dekat saya. Ia sedang asyik dengan tugasnya. Sejenak ia menoleh sambil tersenyum.

“ Mungkin baterainya habis lagi, bu. Padahal kemaren sudah dilaporkan kepada petugas, “ sahutnya. Menjelaskan. Ohoooo...ternyata ada masalah dengan baterai.

“ Oh...jadi ini kerannya pakai baterai, ya ?”

“ Iya, bu...biar aliran airnya terkontrol.”

“ Hmmh...kalau baterainya habis, dan mati begini, airnya nggak bisa mengalir dong ?” tanya saya setengah protes. Odol yang sudah berbusa terpaksa ditunda penggunaannya. Halaaah...Saya pun berpindah ke wastafel yang di sebelahnya. Setelah menempelkan ujung jari di bawah keran, air pun mengalir...tersendat-sendat...seperlunya.

Selesai urusan sikat menyikat gigi, dengan rasa penasaran ( dan sedikit sok tahu...hehe), saya mengintip ke bawah keran. Memang, keran ini beda modelnya dengan keran di rumah saya. Model keran di rumah saya sih biasa saja, model diputar dengan tombol logam berlapis plastik. Dan itu sudah cukup untuk mengatur pengaliran air.

♥

Ngomong-ngomong soal keran air. Semasa saya masih kecil dulu, keran di rumah saya ukurannya cukup besar. Diameter mulutnya hampir 1 inci. Tekanan airnya juga besar, karena air mengalir dari sumber di pegunungan yang tidak terlalu jauh dari kompleks perumahan tempat tinggal saya . Perusahaan air minum jaman dulu memang mengutamakan kualitas air, termasuk kecepatan air mengalir. Jadi sebagai konsumen, saya suka banget main air dari keran.

Repotnya keran air model lama ini kadang kalah kuat dari tekanan airnya. Jadi sebentar-sebentar jebol dan harus diganti penahan drat di dalamnya. Ayah saya dulu sering mengganti dalamnya dengan kulit sapi yang diambil dari sisa sandal...hehehe...konon katanya sih cukup kuat menahan tekanan air.

Selain keran-keran di rumah yang modelnya Cuma diputar kiri kanan, dulu di Medan ada juga keran air umum yang ditempatkan di pinggir jalan. Model kerannya ada yang mirip dengan setir mobil yang harus diputar searah jarum jam. Keran ini ditempatkan di lokasi umum, terutama di perumahan rakyat yang belum memiliki sumber air bersih yang memadai.

Saya dan teman-teman sepulang sekolah sering juga mampir di keran umum seperti ini. Mencuci muka, kaki, tangan, dan kadang kami juga minum air mentah langsung di bawah keran...hhmmm...segaaarrr...!!! Herannya saya dan teman-teman belum pernah sakit perut. Mungkin karena kualitas airnya memang bersih dan layak minum. Tapi kalau di rumah, saya tidak berani menyorongkan mulut ke bawah keran....karena pasti akan diomeli oleh ibu saya...hiks hiks...

Yang paling saya sukai di rumah adalah keran untuk penyiram tanaman. Selain ukurannya lebih besar, ujungnya juga disambung dengan selang yang ada keran dengan pengatur kekuatan air. Bentuk kerannya juga macam-macam. Ada yang mirip pistol dengan pelatuk, ada juga yang diberi lobang-lobang kecil untuk pengatur air agar tidak terlalu deras menyemprot ke atas daun dan bunga-bunga. Soalnya kalau air terlalu keras, tidak jarang tanamannya justru kebanjiran dan bunganya rontok.

Bagi saya, tugas menyiram tanaman menjadi sangat menyenangkan. Selain bisa berbasah-basahan, saya pun bisa main perang-perangan air dengan anak tetangga....Dan jadilah semua basah kuyup. Tanaman, baju, bahkan jalanan di depan rumah...huehehehe...

♥

Ingat keran di masa kecil, jadi ingat juga keran di desa-desa yang memiliki sumber air dari mata air yang mengalir deras. Karena tidak ada keran logam yang cukup besar untuk mengalirkan air, biasanya penduduk jadi kreatif. Mereka membuat keran-keran kecil dari bambu atau kayu yang dilobangi di tengahnya. Untuk mengatur airnya, cukup disumbat dengan potongan kayu atau bambu, kadang-kadang dengan ijuk enau yang digulung rapat.

Saya suka memperhatikan model keran-keran di desa-desa ini. Walaupun tidak ada fasilitas yang memadai, tapi mereka dapat memanfaatkan bahan-bahan yang ada untuk mengatur penggunaan air. Jadi kadang ada aliran air yang besar, yang sedang, dan yang kecil sesuai dengan keperluannya.

Kalau pergi ke desa-desa, kadang saya suka iseng . Saya memainkan lobang-lobang pengaturan air ini, dan mencipratkan air kemana-mana. Bukan hanya tangan dan kaki yang basah, tapi sering juga seluruh baju menjadi basah kuyup...Kayaknya sih saya kalau melihat air, langsung bersemangat...ciprat sana ciprat sini...yuhuuiii...

♥

Belakangan, seiring dengan kemajuan jaman dan keterbatasan sumber air bersih, model keran pun semakin beragam. Fungsinya pun bermacam-macam. Keran kamar mandi untuk mengisi bak mandi, keran mandi untuk mengguyur tubuh, keran untuk mencuci tangan, keran untuk membasuh bila buang air...berbeda-beda bentuk dan ukurannya. Itu belum termasuk keran dapur untuk mencuci piring. Modelnya sering sangat unik dan sesuai ukuran bak cuci yang ada di dapur masing-masing rumah tangga.

Sekarang pun banyak botol penyimpan air atau yang biasa kita sebut dispenser mempergunakan keran untuk pengaturan pengambilan airnya.

Oya...cerita tentang keran pun tidak hanya ada di rumah tangga atau di kantor. Di dalam industri, di dalam bidang irigasi dan pertanian, di dalam pengendalian air sungai dan danau, fungsi dan peran si Keran tidak bisa dipandang sebelah mata. Coba perhatikan, apakah ada bendungan yang tidak mempergunakan keran untuk mengatur pengaliran airnya ?

♥

Mencuci tangan di bawah keran, membuat saya merenung.

Keran di satu sisi hanyalah sebuah alat untuk mengatur pengeluaran air. Tapi coba perhatikan, apa yang terjadi bila tidak ada keran ?

Sumber air di gunung yang telah dialirkan melalui pipa dan tabung-tabung penampung akan mengucur begitu saja tanpa kendali. Bahkan bila kita sudah memiliki keran, dan kerannya jebol, maka bisa-bisa rumah kita kebanjiran karena air mengalir tidak tertahan lagi.

Bahkan di dalam industri minyak dan gas, kita juga tahu bahwa fungsi keran tidak sekedar mengatur pengeluaran bahan atau material cair, tapi juga gas. Keran berfungsi untuk mengatur volume dan tekanan. Bayangkan kalau keran itu tidak kuat dan jebol. Bukan sekedar kebanjiran air, tapi juga kebanjiran uap dan gas yang sangat berbahaya bagi keselamatan manusia...wuuuiiiihhhh.....

Barangkali salah satu teknologi kemajuan manusia, setelah penemuan api dan roda adalah penemuan keran ini...hmmm...

♥

Melihat keran...saya melihat kehidupan yang mengalir di sekitar saya.

Sama seperti keran yang mengalirkan air, kita pun bisa belajar mengenai fungsi keran kehidupan. Seperti kata bijak jaman dulu, keran itu adalah rejeki manusia. Artinya, kalau kerannya besar, maka rejekinya lancar. Kalau kerannya kecil, barangkali rejeki yang mengalir juga menjadi kecil.

Kitalah yang harus bijaksana, walau sumbernya besar, tetapi kalau kita tidak bisa mengatur kelancaran rejeki dengan keran nafsu, maka sumber itu pun akan mudah mengering. Sebaliknya, keterbatasan rejeki tetapi dapat kita siasati dengan pengaturan keran nafsu yang sebaik-baiknya, maka kita dapat memanfaatkan rejeki itu dengan optimal...

Hmmmh...mau mulai belajar mengatur keran kehidupan kita masing-masing ? Ahaaaa.....semoga lancar dan sukses yaaaa....

Jakarta, 16 Agustus 2010

Salam hangat di sore hari yang mendung....

Ietje S. Guntur

Special note :

Terima kasih untuk Ibeth dan Lucy yang menjadi inspirasi tulisan ini...ketika saya sibuk dengan keran dan digelitik untuk menulis....hehehe...Terima kasih juga untuk keran-keran kehidupanku yang membuat hidupku semakin kaya makna...

♥

:BCA:
Recent Activity
Visit Your Group
Y! Messenger

PC-to-PC calls

Call your friends

worldwide - free!

Sitebuilder

Build a web site

quickly & easily

with Sitebuilder.

Stay on top

of your group

activity with

Yahoo! Toolbar

Need to Reply?

Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.

Create New Topic | Visit Your Group on the Web
MARKETPLACE

Get great advice about dogs and cats. Visit the Dog & Cat Answers Center.


Stay on top of your group activity without leaving the page you're on - Get the Yahoo! Toolbar now.


Hobbies & Activities Zone: Find others who share your passions! Explore new interests.

Tidak ada komentar: