Rabu, 18 Agustus 2010

[daarut-tauhiid] Farmasi Islam

 

Farmasi di Masa Kejayaan Islam
sumber:http://www.ilmufarmasi.com/artikel/farmasi-di-masa-kejayaan-islam/

"Setiap penyakit pasti ada obatnya." Sabda Rasulullah SAW yang begitu populer di
kalangan umat Islam itu tampaknya telah memicu para ilmuwan dan sarjana di era
kekhalifahan untuk berlomba meracik dan menciptakan beragam obat-obatan.
Pencapaian umat Islam yang begitu gemilang dalam bidang kedokteran dan kesehatan
di masa keemasan tak lepas dari keberhasilan di bidang farmasi.
Di masa itu para dokter dan ahli kimia Muslim sudah berhasil melakukan
penelitian ilmiah mengenai komposisi, dosis, penggunaan, dan efek dari obat-obat
sederhana serta campuran. Menurut Howard R Turner dalam bukunya Science in
Medievel Islam, umat Islam mulai menguasai farmasi setelah melakukan gerakan
penerjemahan secara besar-besaran di era Kekhalifahan Abbasiyah.
Salah satu karya penting yang diterjemahkan adalah "De Materia Medica" karya
Dioscorides. Selain itu para ilmuwan Muslim juga melakukan transfer pengetahuan
tentang obat-obatan dari berbagai naskah yang berasal dari Suriah, Persia,
India, serta Timur Jauh.
Karya-karya terdahulu itu telah membuat para ilmuwan Islam terinspirasi untuk
melahirkan berbagai inovasi dalam bidang farmasi. "Kaum Muslimin telah
menyumbang banyak hal dalam bidang farmasi dan pengaruhnya sangat luar biasa
terhadap Barat," papar Turner.
Betapa tidak, para sarjana Muslim di zaman kejayaan telah memperkenalkan adas
manis, kayu manis, cengkeh, kamper, sulfur, serta merkuri sebagai unsur atau
bahan racikan obat-obatan. Menurut Turner umat Islam-lah yang mendirikan warung
pengobatan pertama. Para ahli farmasi Islam juga termasuk yang pertama dalam
mengembangkan dan menyempurnakan pembuatan sediaan sirup dan salep.
Pada mulanya, ilmu farmasi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari ilmu
kedokteran. Dunia farmasi profesional secara resmi terpisah dari ilmu kedokteran
di era kekuasaan Kekhalifahan Abbasiyah. Terpisahnya farmasi dari kedokteran
pada abad ke-8 M, membuat profesi farmasis menjadi profesi yang independen dan
farmasi sebagai ilmu yang berdiri sendiri.
Dalam praktiknya, farmasi melibatkan banyak praktisi seperti herbalis, kolektor,
penjual tumbuhan & rempah-rempah untuk obat-obatan, penjual dan pembuat sirup,
kosmetik, air aromatik, serta apoteker yang berpengalaman. Merekalah yang
kemudian turut mengembangkan farmasi di era kejayaan Islam.
Setelah dinyatakan terpisah dari ilmu kedokteran, beragam penelitian dan
pengembangan dalam bidang farmasi atau saydanah(bahasa Arab) kian gencar
dilakukan. Pada abad itu, para ilmuwan Muslim secara khusus memberi perhatian
untuk melakukan investigasi atau pencarian terhadap beragam produk alam yang
bisa digunakan sebagai obat-obatan di seluruh pelosok dunia Islam.
Di zaman itu, toko-toko obat bermunculan bak jamur di musim hujan. Toko obat
yang banyak jumlahnya tak cuma hadir di kota Baghdad – kota metropolis dunia di
era kejayaan Abbasiyah – namun juga di kota-kota Islam lainnya. Para ahli
farmasi ketika itu sudah mulai mendirikan apotek sendiri. Mereka menggunakan
keahlian yang dimilikinya untuk meracik, menyimpan, serta menjaga aneka
obat-obatan.
Pemerintah Muslim pun turun mendukung pembangunan di bidang farmasi. Rumah sakit
milik pemerintah yang ketika itu memberikan perawatan kesehatan secara cuma-cuma
bagi rakyatnya juga mendirikan laboratorium untuk meracik dan memproduksi aneka
obat-obatan dalam skala besar.
Keamanan obat-obatan yang dijual di apotek swasta dan pemerintah diawasi secara
ketat. Secara periodik, pemerintah melalui pejabat dari Al-Muhtasib – semacam
badan pengawas obat-obatan – mengawasi dan memeriksa seluruh toko obat dan
apotek. Para pengawas dari Al-Muhtasib secara teliti mengukur akurasi berat dan
ukuran kemurnian dari obat yang digunakan.
Pengawasan yang amat ketat itu dilakukan untuk mencegah penggunaan bahan-bahan
yang berbahaya dalam obat. Semua itu dilakukan semata-mata untuk melindungi
masyarakat dari bahaya obat-obatan yang tak sesuai dengan aturan. Pengawasan
obat-obatan yang dilakukan secara ketat dan teliti yang telah diterapkan di era
kekhalifahan Islam mestinya menjadi contoh bagi negara-negara Muslim, khususnya
Indonesia.
Seperti halnya di bidang kedokteran, dunia farmasi profesional Islam telah lebih
unggul lebih dulu dibandingkan Barat. Ilmu farmasi baru berkembang di Eropa
mulai abad ke-12 M atau empat abad setelah Islam menguasainya. Karena itulah,
Barat banyak meniru dan mengadopsi ilmu farmasi yang berkembang terlebih dahulu
di dunia Islam.
Umat Islam mendominasi bidang farmasi hingga abad ke-17 M. Setelah era keemasan
perlahan memudar, ilmu meracik dan membuat obat-obatan kemudian dikuasai oleh
Barat. Negara-negara Eropa menguasai farmasi dari aneka Risalah Arab dan Persia
tentang obat dan senyawa obat yang ditulis para sarjana Islam. Tak heran, bila
kini industri farmasi dunia berada dalam genggaman Barat.
Pengaruh kaum Muslimin dalam bidang farmasi di dunia Barat begitu besar. "Hal
itu tecermin dalam kembalinya minat terhadap pengobatan natural yang begitu
populer dalam pendidikan kesehatan saat ini," papar Turner. Mungkinkah umat
Islam kembali menguasai dan mendominasi bidang farmasi seperti di era keemasan?

semoga bermanfaat
Dede
http://pharmasiislam.blogspot.com/p/home.html
Membangkitkan kejayaan Kedokteran Islam

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___
Recent Activity:
====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
       website:  http://dtjakarta.or.id/
====================================================
MARKETPLACE

Get great advice about dogs and cats. Visit the Dog & Cat Answers Center.


Stay on top of your group activity without leaving the page you're on - Get the Yahoo! Toolbar now.


Hobbies & Activities Zone: Find others who share your passions! Explore new interests.

.

__,_._,___

Tidak ada komentar: