Assalamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakatuh
Setelah saya membaca kisah no 10 dan membaca arti dari ayat (QS. Luqman: 19) dan
potongan ayat yang menyatakan "Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara
keledai" saya awalnya menjadi penasaran seperti apasih suara keledai?
saya cari di youtube dan mendapatkannya. Dan saya masih penasaran lagi mengapa
suara keledai menjadi seburuk-buruk suara dan Alhamdulillah saya dapat
artikelnya, dan ingin membaginya disini agar lebih bermanfaat.
Seumur hidupku tidak pernah secara langsung mendengar suara keledai, lantas
kenapa suara keledai dinyatakan sebagai seburuk-buruknya suara? Dan
sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya
seburuk-buruk suara ialah suara keledai. (QS 31:19). Maka agar mengerti
bagaimana suara keledai tersebut, saya mencoba mengangkat sebuah refleksi
individual experience dari seorang Ibnoe Dzulhadi yang lumayan sering mendengar
"suara keledai" ini. Karena kebetulan orang-orang di negeri Firaun dan bumi
Kinanah ini penduduknya banyak yang memiliki keledai. Suaranya cukup "lucu" dan
"menggelikan". Biasanya mirip dengan orang yang sedang mengasah kikir: alat
pengasah gergaji. Sehingga ia sering membuat "terkejut" orang yang
mendengarnya. Ternyata, keledai tidak sering mengangkat suaranya, kecuali
ketika (hendak) mengekspresikan "rasa lapar" dan ingin "melampiaskan nafsu
birahinya". Ketika perutnya keroncongan, ia langsung angkat suara. Dan ketika
nafsunya bergejolak, ia berteriak sekuat-kuatnya. Sungguh pragmatik memang.
Dalam sebuah sumber dikatakan bahwa Firman yang menyatakan 'seburuk-buruknya
suara adalah suara keledai' adalah sebuah bentuk kalimat satir dari perilaku
dibalik sebuah peristiwa. Ketika seluruh makhluk Tuhan yang diciptakan
dikumpulkan di satu masa, kemudian ruh ditiupkan pada diri mereka dan
selanjutnya mereka hidup. Para makhluk itu serta merta langsung bertasbih
memuji Allah 'azzawajalla. Hanya keledai saja yang diam. Dalam satu kesempatan
saat seluruh makluk terdiam, tiba-tiba keledai berteriak. Makhluk yang lain
saling bertanya, kenapa keledai berteriak?. Mereka diberi tahu keledai
berteriak karena perutnya lapar.
Suara keledai adalah perumpamaan "ketidak-tawadhu-an". Ia adalah lambang
ke-takabbur-an dan pragmatisme. Karena ternyata, keledai tidak sering
mengangkat suaranya, kecuali ketika (hendak) mengekspresikan "rasa lapar" dan
ingin "melampiaskan nafsu birahinya". Ketika perutnya keroncongan, ia langsung
angkat suara. Dan ketika nafsunya bergejolak, ia berteriak sekuat-kuatnya.
Sungguh pragmatik memang.
Mari kita renungi diri ini, tidaklah Allah menurunkan ayat-ayatNya hanya
sebagai senda gurau belaka, apapun yang Dia sampaikan, selalu memiliki hikmah.
Ayat tersebut disampaikan Allah melalui perantaraan kisah Lukman saat
menasihati anaknya. Ya Allah, Wahai zat yang jiwaku ada ditanganMu, betapa aku
mirip seperti keledai, disaat orang lain "mengganggu" rejekiku, aku berteriak
kencang, mengabarkan kepada dunia betapa zalimnya mereka, tetapi disaat
kemaksiatan meraja lela, aku diam seribu bahasa, yang penting dapurku selamat.
Betapa jauhnya aku dari sebutan sebagai sebaik-baiknya makhluk.
Selain itu, suara keledai melambangkan perbuatan yang tidak memiliki manfaat
yang jelas: karena hanya terbatas pada urusan perut dan birahinya. Sehingga
Imam Ali karramallahu wajhah berkomentar: "Siapa yang hanya memikirkan masalah
perut, maka ia tidak lebih dari apa yang keluar dari perutnya". Bisa jadi para
penguasa yang pragmatik: yang pura-pura menyuarakan aspirasi rakyat, suaranya
adalah "suara keledai". Karena ia tahu benar bahwa suara rakyat itu adalah
"suara Tuhan": besar manfaatnya dalam mengeruk keuntungan. Namun ketika urusan
perutnya selesai, rakyat pun dilupakan. Ketika urusan birahinya terlampiaskan,
rakyat pun lepas dari memorinya.
Nabi saw juga menerangkan agar umatnya tidak berbicara dan beraksi, jika tidak
memiliki target dan manfaat yang riil. Beliau menginginkan umatnya agar
(benar-benar) dapat mengontrol "mulut" dan "lisannya". Bahkan beliau menyatakan
bahwa indikasi iman adalah berbicara yang baik. Atau kalau tidak baik, lebih
baik diam. Juga, refleksi iman itu adalah "memuliakan tetangga dan tamu". Hal
ini dijelaskan oleh beliau dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu
Hurairah ra: "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah
ia berkata yang baik atau diam. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan
Hari Akhir, hendaklah ia memuliakan (menghormati) tetangganya. Dan barangsiapa
yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya" (HR
Bukhari dan Muslim).
Intinya beliau menyatakan: "Ciri baiknya keislaman seseorang adalah
meninggalkan apa yang tidak ada manfaat yang diambil olehnya" (HR Turmudzi dan
yang lainnya. Ini adalah hadits Hasan.). Sehingga, menurut Imam Malik ibn Anas
dalam al-Muwatha'-nya menyatakan bahwa ia mendengar kisah tentang Luqman bahwa
ia (Luqman) ditanya: "Apa yang membuatmu seperti yang kami saksikan ini
–kemuliaan dan keutamaan?" Ia menjawab: "Shidq l-hadits wa ada' l-amanah wa
tarku mala ya'nini" (Berkata jujur, menunaikan amanah dan meninggalkan apa yang
tidak ada manfaatnya bagiku). Karena menurut Rasul saw bahwa "salah satu bentuk
"kefakihan" seseorang adalah sedikit bicaranya dalam hal yang tidak bermanfaat
baginya" (Dikeluarkan oleh Imam Ahmad ibn Hanbal).
Suara keledai benar-benar seburuk-buruk suara makhluk Allah. Maka jangan pernah
meniru suara keledai: suara yang "memekakkan" telinga orang yang mendengarnya:
suara yang mengusik ketentraman orang banyak. Suara pragmatisme. Hati-hatilah
dari "suara keledai".
Waalahu a'lam
sumber http://www.facebook.com/note.php?note_id=136782057266
________________________________
From: al-palagani <palagani@gmail.com>
To: daarut-tauhiid <daarut-tauhiid@yahoogroups.com>
Sent: Sun, April 3, 2011 11:28:48 PM
Subject: [daarut-tauhiid] NASEHAT LUQMAN AL-HAKIM KEPADA PUTRANYA
----- Original Message -----
From: "Mailinglist alsofwah" <ustadz@alsofwah.or.id>
Assalamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakatuh
----------------------------------------------------------
NASEHAT LUQMAN AL-HAKIM KEPADA PUTRANYA
Segala puji bagi Allah Subhanahu Wa Ta'ala, sholawat serta salam
semoga tetap terlimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, shahabat, keluarga serta orang-orang
yang mengikuti beliau sampai hari kiamat.
Al-Qur'an adalah sumber hukum dan ilmu pengetahuan yang tak pernah
kering untuk ditimba, penuh dengan pelajaran, di dalamnya terdapat
hikmah dan teladan. Salah satu isi pokok dari Al-Qur'an adalah kisah
perjalanan kehidupan para nabi dan rasul serta orang-orang saleh dari
umat-umat sebelum Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam. Hikmah
diceritakannya sirah manusia-manusia pilihan itu tidak lain karena
besarnya manfaat dari keteladanan iman, sifat dan akhlaq mereka. Maka
disini akan kami angkat sebuah kisah Luqman al-Hakim yang penuh dengan
hikmah bagi kita semua.
1. Tidak menyekutukan Allah.
Sebesar-besar kedzaliman dan kemungkaran adalah menyekutukan Allah
Subhanahu Wa Ta'ala , sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala,
artinya, "Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di
waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu
mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah
benar-benar kezaliman yang besar". (Q.S. Luqman:13)
Allah Subhanahu Wa Ta'ala tidak akan mengampuni dosa syirik, kecuali
ia bertobat dan meninggalkan perbuatannya. Sesungguhnya hanya Allah
Subhanahu Wa Ta'ala sajalah yang berhak untuk disembah (Allahu
mustahiqqul 'ibaadah). Dia lah yang berhak dimintai pertolongan. Hanya
kepadaNya lah segala urusan diserahkan, takut (khauf), berharap
(raja') hanya layak ditujukan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, bukan
kepada yang lainnya
2. Berbuat baik kepada kedua orang tua.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, artinya, "Dan Kami perintahkan
kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya
telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan
menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua
orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu." (QS.Luqman: 14)
Di dalam riwayat Bukhari, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam
pernah ditanya oleh seorang sahabat, "Amalan apakah yang dicintai oleh
Allah?" Beliau menjawab, "Shalat pada waktunya". Ia bertanya lagi,
"Kemudian Apa ?" Beliau menjawab, "Berbuat baik kepada orang tua". Ia
bertanya lagi, "Kemudian apa?". Belau menjawab, "Jihad di jalan
Allah." (shahih Bukhari, V/2227, hadits No.5625)
3. Ketaatan kepada kedua orang tua harus dilandasi oleh ketaatan
kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Ketaatan kepada kedua orang tua harus dilandasi oleh ketaatan kepada
Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Karena tidak boleh taat kepada keduanya
dalam rangka berbuat maksiat kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
lebih-lebih menyekutukan Allah Subhanahu Wa Ta'ala (berbuat syirik).
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, artinya, "Dan jika keduanya
memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada
pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan
pergaulilah keduanya di dunia dengan baik" (QS. Luqman: 14).
4. Mengikuti jalan orang-orang yang kembali kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, artinya, "Dan ikutilah jalan
orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu,
maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." (QS. Luqman:
15)
Disini Luqman memberikan sebuah nasehat kepada anaknya agar ia
mengikuti jejak orang-orang yang kembali kepada Allah Subhanahu Wa
Ta'ala, yaitu para nabi dan rasul serta orang-orang yang beriman dan
beramal shaleh, yang selalu bertaubat kepada Allah Subhanahu Wa
Ta'ala, yang telah diberi Allah Subhanahu Wa Ta'ala hidayah, yaitu
tetap dalam agama yang hanif yakni Islam.
5. Allah akan membalas semua perbuatan manusia.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, artinya, "(Luqman berkata): "Hai
anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi,
dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah
akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus
lagi Maha Mengetahui". (QS. Luqman: 16)
"Maka Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun,
niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa yang
mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat
(balasan) nya pula". (QS. al Zalzalah: 7-8).
6. Menegakkan shalat.
Shalat adalah tiang agama, sehingga ia tidak akan tegak tanpa shalat.
Maka sebagai seorang yang beriman kita diwajibkan menegakkannya.
Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam Surah Luqman ayat
17 yang berbunyi, "Hai anakku, dirikanlah shalat".
Shalat dapat mencegah manusia dari perbuatan keji dan mungkar,
sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala, artinya, "Dan dirikanlah
shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan)
keji dan mungkar." (QS. al 'Ankabuut: 45)
7. Amar Ma'ruf nahi Munkar.
Ada dua komponen penting dalam Islam yang memberikan sebuah dorongan
yang kuat kepada setiap muslim untuk mendakwahkan agama yang
dianutnya, yaitu Amar ma'ruf nahi mungkar (memerintahkan berbuat
kebajikan dan mencegah yang mungkar). Perintah untuk beramar ma'ruf
nahi mungkar sangat banyak di dalam Al-Qur'an di antaranya, Allah
Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, artinya, "Dan hendaklah ada di antara
kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada
yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang
beruntung". (QS. Ali Imran:104).
8. Bersabar terhadap apa yang menimpa kita.
Sesungguhnya segala cobaan yang menimpa seorang muslim itu adalah
merupakan sesuatu yang mesti terjadi karena itulah bentuk ujian dari
Allah Subhanahu Wa Ta'ala, apakah ia sabar atau tidak? Allah Subhanahu
Wa Ta'ala berfirman, artinya, "Dan bersabarlah terhadap apa yang
menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang
diwajibkan (oleh Allah)." (QS. Luqman:17)
9. Tidak Menyombongkan diri.
Sifat takabur atau merasa besar di hadapan manusia adalah sifat yang
dibenci oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala sebagaimana firmanNya, artinya,
"Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong)
dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri."
(QS. Luqman: 18)
10. Bersikap pertengahan dalam segala hal dan berakhlaq yang baik.
Islam tidak menghendaki sikap Ghuluw (berlebih-lebihan) juga tidak
menginginkan untuk bersikap tahawun (meremehkan) dalam segala hal
termasuk juga dalam perkara-perkara yang menurut penilaian sebagian
orang dianggap kecil seperti sikap berjalan, berbicara, dsb.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengatur itu semua sebagaimana dalam
firmanNya, artinya, "Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan
lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara
keledai."(QS. Luqman: 19)
Manusia akan mempunyai nilai jika menampakkan akhlaq yang baik, karena
tujuan diutusnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam selain untuk
menyeru kepada Allah adalah untuk menyempurnakan Akhlaq dan budi
pekerti. Wallahu a'lam. (Yusuf).
Sumber: Disarikan dari berbagai sumber.
Wassalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh
----------------------------------------------------------
dari: YAYASAN AL-SOFWA Jakarta
------------------------------------
====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================Yahoo! Groups Links
[Non-text portions of this message have been removed]
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================
Tidak ada komentar:
Posting Komentar