Senin, 04 April 2011

[sekolah-kehidupan] Digest Number 3362

Messages In This Digest (4 Messages)

Messages

1.1.

File - Moderator Sekolah Kehidupan

Posted by: "sekolah-kehidupan@yahoogroups.com" sekolah-kehidupan@yahoogroups.com

Sun Apr 3, 2011 6:48 am (PDT)




(Moderator) INFO: Cara Mudah Baca Email

Para anggota milis sekolah-kehidupan Yth.,

Dari pengamatan yang kami lakukan, jumlah postingan yang masuk ke milis kita rata-rata 20-30 email sehari baik berupa artikel maupun postingan lainnya. Sehubungan dengan itu maka kami menyarankan bagi semua anggota agar email-box tidak cepat penuh maka disarankan agar mengubah status posting-emailnya dari individual email menjadi digest atau web-only. Tetapi dari pengalaman yang kami lakukan, hal yang terbaik bila kita memilih option web-only. Dengan pilihan ini maka kita hanya bisa membaca seluruh postingan dengan cara membuka mail site, juga untuk membalas postingan, serta mengirim email langsung ke si penulis.

1. Cara mengubah sistem info email dari individual email ke digest atau web-only
Ketik http://groups.yahoo.com/group/sekolah-kehidupan,
Sign in dulu, kemudian klik Edit Membership
Kemudian di bawah ubah pilihan dari individual email ke pilihan digest atau web-only.
Kemudian akhiri dengan klik tanda SAVE

2. Cara mudah untuk membuka mail-group.
Bila kita sudah ingin memilih dengan web-only, berarti informasi semua postingan harus
dilihat di mail site. Untuk itu ketik http://groups.yahoo.com/group/sekolah-kehidupan.
Sign in dulu, kemudian klik view all, untuk melihat semua postingan dari dulu yang paling
lama sampai yang terbaru.
Untuk memudahkan membuka mail-site kita di waktu-waktu berikutnya maka alamat mail
tadi yang di awali dengan http://....., sebaiknya di book-mark atau di masukkan dalam
daftar favorite (ada di ujung atas sebelah kiri layar monitor). Klik Favorites, dan add.

Demikian yang dapat disampaikan. Terima kasih.

Salam Hormat,
Moderator Bersama


2.

(Catcil) Behind the Scene; Proses Kreatif Boneka Flanel

Posted by: "Indarwati Indarpati" patisayang@yahoo.com   patisayang

Sun Apr 3, 2011 4:44 pm (PDT)





Hatiku
girang. Seorang sahabat yang berduet denganku menulis buku tentang kehamilan
mengabarkan kalau royalty dari buku kami sudah ditransfer.

Bisa buat kulakan flannel nggak?, tanyaku iseng.

Bisa banget. Lumayan kok. Jumlahnya
kaya yang kemarin,
begitu jawaban Dewi Cendika yang akrab disapa Ichen ini.

Tersenyum,
aku kembali ke menekuni flannel dan jarum jahit di tanganku. Cinta keduaku ini
hari-hari terakhir memang merampas banyak porsi di waktuku. Sebabnya, seperti
halnya menulis, adalah deadline yang ketat.

Antara flannel dan menulis

Menulis,
adalah cinta, atau lebih tepatnya passionku
yang pertama. Awalnya dia hanya sebagai pelipur lara sekaligus penumpah suka di
buku harian. Beranjak usia, dia juga berfungsi sebagai pembagi ide di kepala.
Proses selanjutnya, menulis berjasa juga memberiku materi berupa royalty.  Sayang, seperti penulis lainnya, aku pun
mengalami yang dinamakan writer's block,  sebuah kondisi dimana jemari ini rasanya tak
mampu mengetikkan sepatah pun kata sebagaimana imajinasi di kepala kerontang
tak berdaya.

Disaat-saat
seperti itulah aku mengalihkan pada cinta kedua, craft. Sebuah panggilan dari masa lalu, tentang proyek-proyek
membuat patung dari tanah liat atau batang kayu, membuatkan bonekaku baju (yang
jelas tak diperlukan oleh bonekaku satu-satunya pemberian entah siapa yang
berupa perempuan mandi keramas :)), relief dari bubur kertas, juga
kerajinan lainnya. Semuanya tak selesai sebab keterbatasan pengetahuan
(buku-buku ketrampilan jaman dulu tak sesemarak sekarang, ditambah jumlah buku
di toko di kota kecil kami yang tak seberapa plus kalaupun ada tak bakal
terjangkau isi kantong orang tuaku yang pas-pasan), keterbatasan bahan dan
alat, serta sebab lainnya.

Sekarang, dianugerahi
kondisi yang jauh lebih baik aku mencoba beberapa ketrampilan. Pilihanku jatuh
ke flannel yang mudah, murah, meriah, dan jelas tak membuat tangan kotor—sebuah
pertimbangan memiliki anak bayi yang bisa sewaktu-waktu membutuhkan sang ibu.
Dari sekedar hobi, aku mulai berpikir mengembangkannya menjadi sebuah usaha.
Namun kenyataan tentu tak semudah rencana. Naik turun prosesnya, bahkan hingga
sekarang. Penyebab utamanya, SDM.

Sempat
matisuri membuat flannel, aku kembali melirik menulis. Dari segi waktu, dia
memiliki keuntungan dibanding membuat craft. Pada menulis, dengan jam kerja
yang sama, jika dia sudah berbentuk buku dan laku, kita tinggal ongkang-ongkang
kaki menerima hasilnya sembari mengeksekusi proyek selanjutnya. Jika buku
termasuk jajaran best seller, tambah
tak terkira lagi royalty yang bakal dikantungi.

Tapiii, ada
idealism lain yang tengah kuperjuangkan sehingga saran suami untuk tak menjadi
hulu dari sebuah produk kuabaikan.

Idealisme Itu

"Kalau
memotong, usahakan halus, jangan kelihatan batasnya seperti ini," kataku
memberi saran pada seorang ibu muda yang hasil potongannya masih kasar. Antara
awal dan akhir potongan gunting masih kelihatan, belum smooth seperti yang
kuharapkan.

"Menjahitnya,
memegangnya seperti ini," kataku pada ibu muda lainnya sembari memberi contoh
memegang flannel dan jarum dengan benar. "Kalau memgangnya seperti itu nanti
benangnya jatuhnya ke salah satu sisi, nggak pas di tengah. Jadinya kurang
rapi."

Mereka
mengangguk-angguk. Entah mengerti atau lantaran mengantuk. Sementara tiga orang
anak-anak usia prasekolahnya mengeksplorasi halamanku, mencabut beberapa
tanaman yang seketika membuat PRTku meradang.

Setelah
beberapa hari belajar, pada hari kelima mereka tak menampakkan batang
hidungnya. Tinggallah aku setengah putus asa. Sebegitu sulitkah membuat
kerajinan flannel bagi mereka? Atau ketidaksabaran dan ketidaktekunankah  yang menjadi menyebabnya? Atau, acara
televise dan rewelnya anak mereka meminta jajan di warung—yang jelas tak
tersedia di rumahku—yang membuat mereka enggan kembali datang? Entahlah. Banyak
hal bisa menjadi jawaban. Yang jelas, mereka bukan yang pertama.

Yang jelas
pula, keinginanku untuk membuka peluang kerja bagi orang sekitar terutama
ibu-ibu rumah tangga—daripada ngrumpi atau nonton tivi--terbentur soal kemauan
keras dari mereka sendiri.

Tetap Akan Kugeluti

Kalau begitu bonekanya tambah 9
pasang lagi Mbak. Ibunya pakai jilbab semua ya, begitu pinta seorang pemesan dari
Kalimantan.  Sebelumnya si Mbak sudah
memesan 9 pasang boneka Bhayangkari-Bhayangkara. Sebagian untuk glass patch, sebagian di dalam box
sebagai hiasan.

Esoknya,
kuinstruksikan pada si Mpok,--alhamdulillah akhirnya aku menemukan seorang
ibu yang tekun dan mau belajar serta pekerja keras—untuk memotong pola badan,
kepala, dan tangan.  Meski tak mengirimku
singa mati—seloroh dari deadline—tapi
transferan sejumlah uang di rekening Mandiriku 'memaksaku' harus menyelesaikan
pesanan secepatnya. Aku tak suka menunda pekerjaan sementara harga sudah
dibayarkan.

Si Mbak dari
Kalimantan ini, sebagaimana si Mbak dari Bengkulu, termasuk customer yang baik
hati, tidak sombong, serta suka menolong. J Maksudnya, soal pembayaran, mereka
termasuk yang amanah. Juga tak cerewet soal produk dan harga. Selama berjualan,
tak jarang juga kutemui pembeli yang 'tega' menawar. Ngeyel pisan. Salah, tentu
tidak. Tapi mbokyao, ingat, bahwa ada
produk yang memang tak bisa ditawar. Harga yang kuberikan rasanya sudah pantas
dan sesuai dengan kerja tangan yang butuh ketekunan—yang tak dimiliki oleh
semua orang. Ini juga produk kreatif yang mestinya mendapat penghargaan lebih dibanding
produk masal bikinan pabrik bukan? Segala sesuatu ada kelasnya  masing-masing.

Aku teringat
sesi tanya jawab di sebuah seminar kewirausahaan yang kuikuti. Seminar ini
diselenggarakan oleh sebuah majalah wanita papan atas Indonesia. Seorang ibu
peserta dengan bangga memamerkan pakaian yang dikenakannya yang berhiaskan
sulam tangan. Pakaian itu dibelinya di sebuah butik di luar negri. Meski di
mataku, sulaman itu bisa diusahakan lebih rapi lagi, tapi ekspresi si ibu
membuatku terharu. Si ibu itu mengeluhkan kurangnya penghargaan kita terhadap
hasil kerajinan tangan, tak seperti orang luar.

Bagi seorang
pekerja kerajinan, cinta adalah segala-galanya. Dia semacam motor penggerak
jemari merangkai tiap panelnya. Dia juga yang bagiku merupakan pengganjal mata
paling efektif—selain satu mug kopi tentu saja J--ketika malam hingga dini hari
menjelang kujalani proses pembuatan.

Boneka Bhayangkari-Bhayangkara dan Love Heart Save Earth

Pada kasus
boneka Bhayangkari, kerumitan yang membuat Mpok mengeluh adalah njlimetnya
membuat tangan. Potongannya kecil karena kuminta ada penampakan jempol dan 4
jari lainnya. Membuat hidung timbul juga tidak mudah. Ketidakpuasanku atas
hidung—yang biasanya hanya berupa jahitan benang di produk lainnya—juga
dikeluhkan oleh pekerjaku itu. Jika lubang yang dibuat terlalu lebar, niscaya
menjadi besarlah hidung si boneka. Begitupun saat menyatukannya dengan pola
kepala.

Bagiku, yang
paling membosankan adalah saat membuat topi pak polisi. Sedangkan yang paling
mengasyikkan adalah saat mendandani boneka Bhayangkari dengan blazernya.
Membuat kupnat, membentuk krah, dan memasang kancing dari mote. Di atas itu
semua, yang paling asyik adalah saat menjodohkan mereka semua. Total ada 23
pasang, sama dengan 46 boneka. Satu persatu, atas pertimbangan tinggi dan
hidungnya kujodohkan mereka. Lalu kujejer mereka, bergaya siap difoto saat  dini hari masih menyelimuti bumi. Wah, ruangan
serasa hangat oleh wajah-wajah imut itu, ciptaanku. Serasa jadi kakek Geppetto
yang menciptakan Pinokio nih. :)

Beda
Bhayangkari yang imut dengan tinggi sekitar 12 cm saja, si boneka Jantung ini
tinggi atau lebar—jika tangan dan kaki direntangkan—sekitar 50 cm. Awalnya,
saat si Mbak pemesan menelpon, kupikir boneka yang dimaksud adalah seperti
boneka manusia. Setelah membuka attachment
di email, baru kutahu bentuk yang dimaksudnya. Segera otakku bekerja,
menganalisa factor kesulitan. Bismillah, insyaAllah bisa. Ini adalah tantangan.

Di tengah
kecamuk lambungku yang error, kumulailah
mereka, membuat pola yang sekiranya pas dan semirip mungkin dengan gambar.
Kelebihan sekaligus kelemahan kain flannel adalah pinggirnya yang tak berserat.
Untuk dijahit tangan, dia sangat menguntungkan. Tapi untuk dijahit mesin, hasil
pinggir jahitannya akan kaku dan tidak selentur kain velboa, missal. Juga,
karena sifatnya yang mudah melar, dia akan gampang tertarik kesana sini saat
terkena tekanan mesin jahit.

Bagi pembuat
boneka flannel, factor yang kami hadapi biasanya adalah saat membuat pola pertama
kali agar semirip mungkin dengan gambar. Dan itu kadang tidak bisa sekali.
Seperti pengalamanku membuat Hello Kitty yang mendapat kritik kurang persis dari
pemesan, karena aku memang baru sekali membuat polanya. Tak ada waktu untuk
mengepaskannya.

Diburu
waktu, si mbak pemesan boneka jantung berkali-kali menghubungi. Paling lambat
jumat pagi boneka harus sudah jadi. Terpaksalah harus begadang lagi. Badan yang
lemas diare berat dan muntah-muntah kuabaikan. Untung suamiku termasuk siaga,
hampir tengah malam dia mau keluar membeli sop kambing—satu-satunya masakan
yang rasanya bisa diterima lidah dan perutku--meski harus menyeberang Margonda
ke Depok Timur. Padahal rumah kami di Depok Utara. Sempat terbesit untuk
membatalkan kesanggupan mengingat kondisiku yang tak karuan itu. Tapi kasihan
juga, mengingat si Mbak dan perusahaannya sepertinya terkena singa mati juga
untuk membawa boneka berbentuk jantung itu ke sebuah event di luar negri. Jauh
di lubuk hatiku, excite juga dengan
tantangan ini. Boneka jantung ini adalah boneka terbesar yang pernah kubuat.

Factor
kesulitan yang kuhadapi, adalah membuat pola sepatunya. Yang paling sulit
adalah membuat globe yang dipegang si
boneka. Menggambar lalu memotong benua kecil-kecil lalu menempelkannya semirip
mungkin peletakannya bukanlah langkah gampang. Untuk bentuk bumipun aku
mengalami kendala. Awalnya kubuat dengan pola jeruk yang kupunya. Ternyata
kekecilan. Kubesarkan polanya, bentuknya kurang smooth. Akhirnya kupakai pola segilima seperti untuk Bola Pelangi.

Diisi
dakron, ternyata dia sangat berat dan membuat tangan yang kumasuki kawat tetap
tak mampu menahannya. Bangun jam 11, sempat tertidur 1 jam sembari ngeloni bayi
dan batita, kuteruskan menjahit keduabelas panel  untuk membuat bola. Agar lebih ringan kuisi dengan
busa lembaran. Andai diberi lebih banyak waktu, aku akan mengisinya dengan
Styrofoam atau busa tebal yang sudah berbentuk bundar agar hasilnya lebih
memuaskan.

Usai adzan
subuh hari Jumat, baru kutinggalkan pekerjaan. Waktunya mencuri tidur sebelum mencari
cara mempackingnya. Sekitar jam sepuluh, pak kurir datang dan menjemputnya. Tak
lupa menyerahkan struk transfer pembayaran ke rekening BCAku. Alhamdulillah...

Menjelang
selesai pembuatan boneka jantung, seorang Mbak, mantan kakak kelasku di STM Perkapalan—ya,
aku produk sekolah 'laki-laki'—menghubungi. Beliau bertanya berapa duit yang
harus ditransfer untuk pesanannya, atau dengan kata lain, dua
novelmu—Warepacker dan Lintang Gumebyar—serta pesanan flanelku mana? Hehehe...
sabar ya Mbak... semua ada waktunya. Insyaallah Senin depan aku kirim beserta
tandatanganku di dua novel itu. Duh, serasa penulis top aja.

So, begitulah sahabat, suka duka ibu penulis yang juga
pecinta kerajinan tangan, yang masih memiliki batita dan bayi sembilan bulan.

Life is so beautiful. Dan seperti yang kutulis di profile
FBku, aku ingin hidup seribu tahun
lagi—meminjam istilah penyair favoritku Chairil Anwar—untuk melakukan banyak
hal. Mendampingi anak-anakku besar dan dewasa, menulis, juga membuat kerajinan
tangan. :)

 

Tanah Baru, 2 April '11 11.58

Indarwati
irt, penulis lepas, plus souvenir maker
curhatan http://lembarkertas.multiply.com
kreasi tangan http://craftcafe.multiply.com
FB: indar7510@yahoo.com
3.

(Catcil) Catatan Harian Dari Negeri Jiran - Bagian 1

Posted by: "Ramaditya Skywalker" ramavgm@gmail.com

Sun Apr 3, 2011 4:55 pm (PDT)



CATATAN HARIAN DARI NEGERI JIRAN - BAGIAN 1
"Kisah eks pengguna NARKOBA dan motivasi mereka untuk sembuh."

http://ramaditya.multiply.com/journal/item/211/Catatan_Harian_Dari_Negeri_Jiran_-_Bagian_1

"To be clean from drugs is a short beginning of a long journey." (Mr.
Hamid, Rumah Pengasih)

Ini adalah salah satu catatan hidupku yang penuh makna, sebuah
pengalaman saat aku berjumpa dengan mereka, orang-orang yang telah
menjadi salah satu inspirator utama dalam hidupku. Mereka bukan
motivator, pengusaha kaya, atau pejabat negara. Mereka pun, boleh
jadi, tak terlalu dihiraukan bahkan kerap diasingkan oleh masyarakat.
Mereka, mantan pecandu NARKOBA yang telah "bersih dan bijak," dan
menjadi cahaya bagi rekan-rekan senasib yang ingin kembali ke jalan
yang benar. Mereka yang kini menjadi teman baik dan bagian dari
hidupku.

Tak terasa sudah tiga tahun sejak pertama kali aku bergabung dengan
SRS (Sahabat Rekan Sebaya), komunitas yang mewadahi eks-pecandu
NARKOBA (selanjutnya disebut after care) yang diasuh oleh Dr. Aisah
Dahlan. Beliau adalah seorang dokter yang menangani segala hal yang
berhubungan dengan NARKOBA, dan dari beliaulah aku belajar banyak
mengenai benda terlarang itu.

Oh ya, SRS sendiri beranggotakan after care dengan berbagai
keterampilan dan keahlian, yang dikelola secara administrative,
sehingga terciptalah sebuah komunitas dengan seabrek kegiatan positif
dan konstruktif.

Singkat cerita, waktu pun membawaku ke tanggal 23 Maret 2011, hari di
mana rekan-rekan dari SRS berkunjung ke Rumah Pengasih, sebuah lembaga
rehabilitasi after care yang berada di Negeri Jiran, Malaysia.

Ada pun tujuan kunjungan tersebut adalah untuk saling berbagi
pengalaman dan sekaligus sebagai sarana silaturahim antar after care
Indonesia dan Malaysia

Setibanya di Rumah Pengasih, kami disambut oleh Kak Suhaemi Ahmad,
salah seorang trainer di sana. Kami pun saling berkenalan dengan
residen (sebutan bagi penghuni Rumah Pengasih) yang jumlahnya sekitar
70 orang, 5 di antaranya wanita.

Dalam perkenalan yang berlangsung hangat itu, sesama after care saling
melempar canda dan tawa. �Saya pernah pakai NARKOBA salama 5 tahun,
tapi sudah bersih 6 tahun,� ujar salah seorang after care. �Yaaa, 5
tahun itu yang ketahuan, kalau yang curi-curi atau ngumpet-ngumpet
bagaimana tuh,� timpal after care lain sambil berkelakar. �Mmmmm, saya
tidak pernah pakai NARKOBA, dan di SRS jadi relawan, jadi sudah bersih
dari lahir,� sambungku meneruskan candaan, yang dijawab dengan gelak
tawa dari semua yang hadir siang itu.

Selanjutnya, kami dijamu makan siang oleh "kitchen," yakni divisi yang
beranggotakan staff dan klien Rumah Pengasih yang tugasnya sama dengan
koki masak, mengurus isi perut seluruh warga yang tinggal di sana.
Selain makan reguler 3 kali sehari, kami juga dijamu snack pada saat
break, biasanya kami disuguhi kue-kue, didampingi kopi atau teh tarik
(yang satu ini bikin aku kangen dengan Malaysia).

Setelah itu, Kak Suhaemi membagi kami menjadi beberapa kelompok tidur
menurut kabin masing-masing, di mana tiap kabin berisi 3 sampai 5
orang. Kami pun didampingi oleh �buddy,� yaitu orang yang bertugas
mengingatkan setiap waktu shalat dan menjemput peserta dalam setiap
aktivitas.

Lalu kami pun diajak keliling lingkungan Rumah Pengasih. Kak Suhaemi
yang akrab disapa Bang Jack itu membawa kami ke kantor Rumah Pengasih,
di mana kami mendapat penjelasan mengenai apa-apa saja aktivitas,
kegiatan, tanggungjawab, serta program yang ada di sana. Kami juga
melihat-lihat barak-barak tempat tinggal residen di sana, serta kabin
(semacam bilik berisi beberapa tempat tidur dan kamar mandi) tempat
kami menginap. �Nah, ini namanya kolam Zarimah,� tunjuk Bang Jack ke
sebuah kolam kecil yang letaknya tak jauh dari kantor Rumah Pengasih.
�Wah di Indonesia juga ada wanita dengan nama yang sama, dan dia
dijuluki Ratu NARKOBA,� ujar salah seorang relawan SRS.

Mengikuti aktivitas di Rumah Pengasih benar-benar menyenangkan dan
sarat akan ketenangan. Kalau boleh kubandingkan, mungkin hamper sama
seperti kalau kita mondok di pesantren atau sekolah alam, hanya saja
peraturan tidak dijalankan dengan ketat, melainkan tertib.

Meski lokasinya berdekatan dengan jalan TOL dan suara hilir mudik
kendaraan roda empat tak putus-putusnya menjadi pengiring kegiatan di
sana, suasana kekeluargaan yang hangat dan nuansa keagamaan yang
kental telah berhasil menyita kebetahanku.

Satu jam sebelum Adzan Subuh berkumandang, biasanya aku dan
rekan-rekan sudah dibangunkan oleh buddy, lalu kami mandi dan
bersiap-siap shalat Subuh berjamaah

Shalat-shalat di waktu berikutnya tak jauh berbeda, hanya saat Maghrib
usai kami tidak meninggalkan Masjid, namun melanjutkan dengan membaca
Al-Qur�an hingga Isya.

Ketika waktunya tiba, Adzan pun membahana di lokasi Rumah Pengasih dan
kami berduyun-duyun menuju Masjid yang berada di dalam area Rumah
Pengasih. Yang menarik adalah kuliah tujuh menit yang diberikan di
akhir shalat benar-benar �mengambil masa� tujuh menit, tidak lebih!

Nah, kegiatan rehabilitasi di Rumah Pengasih pun mulai berjalan
setelah Subuh usai. Setelah makan pagi, acara dilanjutkan dengan
�Morning Meeting,� di mana rekan-rekan after care saling berbagi
�issue,� yaitu semacam curahan hati, di mana mereka melakukan evaluasi
terhadap diri sendiri, tentang apa-apa saja yang terjadi di hari
sebelumnya. Dengan jujur mereka bercerita tentang apa saja, dan minta
solusi dari rekan-rekan yang lain bila ada kesalahan atau kekurangan
dalam sikap mereka di hari sebelumnya.

Dalam Morning Meeting, para pengasuh Rumah Pengasih juga berbagi
materi seputar NARKOBA, tentang apa-apa saja yang harus dilakukan agar
after care dapat tetap �bersih dan bijak� dan tak lagi terjerumus
mengkonsumsi obat-obatan terlarang.

Siang harinya, tim SRS di bawah arahan Dokter Aisah pun berbagi
materi, yang akan kubahas lebih dalam di artikel selanjutnya. Yang
jelas, selama 5 hari kami berada di sana, tak ada waktu yang sia-sia
terbuang karena kami mengisinya dengan penuh antusiasme dan suka cita.

--
"Ramaditya Skywalker: The Indonesian Blind Blogger"

- Eko Ramaditya Adikara
http://www.ramaditya.com

4a.

Re: (Update Donasi Eye Clinic Goes To School Per 26 Feb 2011) Donasi

Posted by: "Nursalam AR" nursalam.ar@gmail.com

Sun Apr 3, 2011 7:12 pm (PDT)



Ok, terima kasih, Sisca:).Ditunggu ya lapantanya. Belum baca lagi
tulisan Shinta selain "masterpiece"-nya "Muridku Gay" beberapa tahun
lalu,hehe...

Sip!

Tabik,

Nursalam AR

On 4/1/11, Sisca Lahur <sapijinak2000@yahoo.com> wrote:
> Maap,
> nggak ikutan yang di Matraman.
> Jadi, nggak punya hasil panen.
>
> Tapi, yang di Tugu Proklamasi baru di upload.
> Lupa.
>
> http://groups.yahoo.com/group/sekolah-kehidupan/photos/album/2023268800/pic/list
>
>
>
> Sapijinak
>
>
>
> ________________________________
> From: Nursalam AR <nursalam.ar@gmail.com>
> To: sekolah-kehidupan@yahoogroups.com
> Sent: Friday, April 1, 2011 2:12 PM
> Subject: Re: [sekolah-kehidupan] Re: (Update Donasi Eye Clinic Goes To
> School Per 26 Feb 2011) Donasi Yuk
>
> Baru lihat lagi utas ini. Belum ada yang posting lapanta (laporan
> pandangan mata) kegiatan ini ya? Baru lihat tempo hari postingan
> foto-foto yang di Tugu Proklamasi.
>
> Kalau foto-fotonya diunggah (upload) jadi arsip milis, pasti keren deh
> *bujuk rayu mode:ON*
>
> Tabik,
>
> Nursalam AR
>
> On 3/8/11, c_al_iyan <yayan_unj@yahoo.com> wrote:
>> Maaf baru respon,
>>
>> untuk program ini memang diperuntukkan bagi
>> siswa Sekolah Dasar. Dengan target 1440 Siswa
>>
>> Namun bisa saja untuk siswa diatas tingkat SD
>> apabila ada lembaga/perusahaan/CSR yang
>> menginginkan program ini misal untuk daerah binaan
>> sekitar perusahaan tau sekolah binaannya.
>>
>> Semoga membantu,
>> Yayan
>>
>> --- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, Sugeanti Madyoningrum
>> <ugikmadyo@...> wrote:
>>>
>>> Mohon maaf kami telat merespon.
>>> Terima kasih pada Mas Nursalam yang sudah bersedia menjawab emain ini.
>>> Saya akan menjawab pertanyaan ini sebagai sesama anggota Departemen
>>> Sosial
>>> Sekolah Kehidupan.
>>>
>>> Betul sekalian jawaban dari Mas Nursalam.
>>> Kegiatan pembagian kacamata gratis ini masih untuk siswa SD. Semoga ke
>>> depan, bisa membantu semua usia.
>>>
>>> Dep. Sosial Sekolah Kehidupan
>>> yayan Suparjo-Wiwik Hafidzoh-Ugik Madyo
>>>
>>> 2011/3/6 Nursalam AR <nursalam.ar@...>
>>>
>>> > Kayaknya Mas Agus harus daftar jadi murid di sekolah yang dapat donasi
>>> > dulu deh,hehe...Sorry, just kidding:).
>>> >
>>> > *serius* Fokus program kali ini masih untuk siswa SD.Untuk yang
>>> > lain,mungkin menyusul. Barangkali Mas Yayan bisa kasih tanggapan?
>>> >
>>> > tabik,
>>> >
>>> > Nursalam AR
>>> >
>>> > On 3/4/11, agus_salims <agus_salims@...> wrote:
>>> > >
>>> > > ini kalau donasi ya? nah kalau cara ngedaftar jadi 'pasien' gimana?
>>> > > daku
>>> > > ga punya kaca mata euy. please dong, tengkyu...
>>> > >
>>> > >
>>> > > --- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, "c_al_iyan" <yayan_unj@>
>>> > > wrote:
>>> > >>
>>> > >>
>>> > >> Pemeriksaan mata gratis dan pemberian kaca mata minus gratis bagi
>>> > > siswa Sekolah
>>> > >> dasar
>>> > >>
>>> > >> Berikut update donatur program yang sudah masuk:
>>> > >>
>>> > >> 20 Feb 2011 Dyah Puji Rp. 12.500,-/rutin perbulan Via Mandiri
>>> > >> 23 Feb 2011 EVI ANDRIANI Rp. 100.000,- Via Mandiri
>>> > >> 23 Feb 2011 ParcelBuku Rp. 100.000,-/rutin perbulan Via Mandiri
>>> > >> 25 Feb 2011 Mas Nursalam Rp. 100.000 Via BCA
>>> > >> 26 Feb 2011 Hamba Allah Rp. 100.000 Via BCA
>>> > >>
>>> > >>
>>> > >> Donasi selanjutnya masih dinantikan.
>>> > >> Bagi yang sudah transfer donasi harap konfirmasi
>>> > >> melalui SMS agar dapat segera di update di milist
>>> > >> Semoga Amal Ibadahnya diterima dan harta yang
>>> > >> tertinggal bertambah berkah. AMin
>>> > >>
>>> > >> Assalamu'alaykum Wr WB, Salam Eska untuk semuanya
>>> > >>
>>> > >> Apa kabar teman-teman ESKA semua, semoga selalu dalam keadaan sehat
>>> > > wal afiat
>>> > >> tanpa kekurangan satu apapun.
>>> > >>
>>> > >> Di awal tahun 2011 ini, kami dari Departemen Sosial ESKA akan
>>> > > mengadakan sebuah
>>> > >> program kolaborasi dengan Yayasan Rumah Peradaban
>>> > > www.rumahperadaban.org (YRP).
>>> > >>
>>> > >> Latar Belakang Program:
>>> > >>
>>> > >> Saat ini, di Indonesia ada sekitar 6,6 juta anak-anak sekolah yang
>>> > > menderita
>>> > >> kelainan refraksi (kelainan mata, seperti minus dan cylindric) dan
>>> > > dari jumlah
>>> > >> itu hanya sedikit saja yang bisa menggunakan kaca mata. Lagi-lagi
>>> > > karena
>>> > >> ketidakmampuan dari orang tuanya untuk membelikan kaca mata yang
>>> > > relatif mahal.
>>> > >>
>>> > >> Jika hal ini didiamkan, maka akan berimbas pada menurunnya kualitas
>>> > > SDM generasi
>>> > >> muda Indonesia. Menurunnya kualitas SDM generasi muda akan
>>> > >> berpengaruh
>>> > > pada daya
>>> > >> saing bangsa ini, terutama di era globalisasi saat ini. Bisa
>>> > > dipastikan
>>> > >> Indonesia akan terus tertinggal oleh bangsa lain.
>>> > >>
>>> > >> Dari latar belakang diatas Dept. Sosial Sekolah Kehidupan dan
>>> > > Bekerjasama dengan
>>> > >> Yayasan Rumah Peradaban Menggelar Program, berikut:
>>> > >>
>>> > >> Programnya terdiri dari:
>>> > >>
>>> > >> 1. Pemeriksaan Mata Gratis dan Pemberian Kaca Minus Gratis bagi Anak
>>> > > Sekoah
>>> > >> Dasar atau sederajat. Acara ini akan roadshow setahun penuh dari
>>> > > februari 2011
>>> > >> hingga februari 2012. Launching Program akan dilaksanakan pada:
>>> > >>
>>> > >> Hari, Tanggal: Sabtu, 12 Maret 2011
>>> > >> Launching Utama (Acara Puncak): 26 Maret 2011
>>> > >> Tempat: SDI Tsaqofah & SDI Kharisma,
>>> > >> Alamat : Jl. Masjid Matraman no 1 Jakarta Pusat
>>> > >> Peserta: Pemeriksaan Mata : 200 siswa + Guru (untuk setiap sekolah)
>>> > >>
>>> > >> Bagaimana Caranya Eska'ers dapat support program ini?
>>> > >>
>>> > >> Sobat ESKA dapat membantu donasi uang sebesar Rp. 20.000,-/Pasien
>>> > >> dana yang terkumpul berapapn besarnya akan di manfaatkan untuk
>>> > >> pemeriksaan mata bagi satu anak SD dan pembelian 15 Pcs kaca mata
>>> > > minus gratis
>>> > >> yang akan dibagikan bagi anak-anak yang terdiagnosa menderita mata
>>> > > minus.
>>> > >>
>>> > >> Sobat ESKA dapat berdonasi berapapun, misal ingin donasi untuk 5
>>> > >> anak
>>> > > SD
>>> > >> berarti=
>>> > >>
>>> > >> 5 x Rp. 20.000,-/siswa = Rp 100.000 yang di sumbangkan.
>>> > >>
>>> > >> Kemana donasinya? Silahkan donasikan ke no rek KETUA PANITIA program
>>> > > ini Yayan
>>> > >> Supardjo, Mohon konfirmasi setelah melakukan dnasi untuk mempermudah
>>> > > pelacakan
>>> > >> dan update donatur di milist.
>>> > >>
>>> > >>
>>> > >> BCA KCU Buaran Raya Jakarta
>>> > >> Account Number:
>>> > >> 6330-494- 610
>>> > >> an.Yayan Supardjo
>>> > >>
>>> > >> Bank Muamalat KCU Fatmawati Jakarta
>>> > >> Account Number:
>>> > >> 915-607-1699
>>> > >> an.Yayan Supardjo
>>> > >>
>>> > >> Bank Mandiri KCU Pondok Kelapa Jakarta
>>> > >> Account Number:
>>> > >> 00600-06349330
>>> > >> an.Yayan Supardjo
>>> > >>
>>> > >> BNI KCU Rawamangun Jakarta
>>> > >> Account Number:
>>> > >> 0171-638924
>>> > >> an.Yayan Supardjo
>>> > >>
>>> > >>
>>> > >> Program Selanjutnya adalah:
>>> > >>
>>> > >> 2. Donasi Buku khusus buku-buku anak-anak Sekolah Dasar
>>> > >>
>>> > >> Donasi buku dapat dikumpulkan ke Mbak Novi, bisa dijemput (kalau
>>> > > banyak)atau
>>> > >> kirim via pos/kurir. Donasi buku akan di distribusikan ke
>>> > > sekolah-sekolah tempat
>>> > >> acara pemeriksaan mata gratis.
>>> > >>
>>> > >> Donasi baik buku atau dana dibuka sepanjang tahun, mengingat target
>>> > > pasien yang
>>> > >> diperiksa matanya adalah berjumlah 1440 Siswa dan 350 Kaca Mata
>>> > >> Minus
>>> > > Gratis.
>>> > >>
>>> > >> Akhir kata kami dari Departemen Sosial ESKA mengucapkan banyak
>>> > >> terimakasih.Support dan doa bagi program ini sangat dinantikan. Bagi
>>> > > Sahabat
>>> > >> Eska yang inginproposal cetak atau share kemilist2 sebelah
>>> > > dipersilahkan. untuk
>>> > >> tanya jawab,daftar menjadi relawan atau panitia, konfirmasi donasi
>>> > > atau info
>>> > >> mengenaiprogram ini dapat menghubungi:
>>> > >>
>>> > >>
>>> > >> Yayan Supardjo 08159518816
>>> > >> Ugik Madyo 08563434248
>>> > >> Novi Khansa 08121894517
>>> > >>
>>> > >> Terimakasih,
>>> > >> Dept Sos ESKA
>>> > >>
>>> > >
>>> > >
>>> > >
>>> > >
>>> >
>>> >
>>> > --
>>> > Blog : www.nursalam.wordpress.com
>>> > Twitter : http://twitter.com/salamrahman
>>> > LinkedIn : http://id.linkedin.com/in/nursalam
>>> >
>>> > *"We make a living by what we get, but we make a life by what we give."
>>> > �
>>> > Norman MacEwan*
>>> >
>>> >
>>> > ------------------------------------
>>> >
>>> > Yahoo! Groups Links
>>> >
>>> >
>>> >
>>> >
>>>
>>>
>>> --
>>> Ugik Madyo
>>> http://ugik.multiply.com
>>> http://ugiksaja.blogspot.com
>>>
>>
>>
>>
>
>
> --
> Blog : www.nursalam.wordpress.com
> Twitter : http://twitter.com/salamrahman
> LinkedIn : http://id.linkedin.com/in/nursalam
>
> *"We make a living by what we get, but we make a life by what we give." �
> Norman MacEwan*
>
>
> ------------------------------------
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
> http://docs.yahoo.com/info/terms/

--
Blog : www.nursalam.wordpress.com
Twitter : http://twitter.com/salamrahman
LinkedIn : http://id.linkedin.com/in/nursalam

*"We make a living by what we get, but we make a life by what we give." �
Norman MacEwan*

Recent Activity
Visit Your Group
Drive Traffic

Sponsored Search

can help increase

your site traffic.

Y! Messenger

Group get-together

Host a free online

conference on IM.

Yahoo! Groups

Small Business Group

Ask questions,

share experiences

Need to Reply?

Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.

Create New Topic | Visit Your Group on the Web
MARKETPLACE

Find useful articles and helpful tips on living with Fibromyalgia. Visit the Fibromyalgia Zone today!


Stay on top of your group activity without leaving the page you're on - Get the Yahoo! Toolbar now.

Tidak ada komentar: