Kamis, 03 Februari 2011

[sekolah-kehidupan] Digest Number 3314

sekolah-kehidupan

Messages In This Digest (5 Messages)

Messages

1a.

Sayang, Mesir tak seaman seperti kata Nabi Yusuf

Posted by: "Udo Yamin Majdi" ibnu_majdi@yahoo.com   ibnu_majdi

Wed Feb 2, 2011 8:51 am (PST)



Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Apa kabar semuanya?

Alhamdulillah, saya sekeluarga sehat wal 'afiyah, meskipun tidak merasa aman dengan kondisi Mesir saat ini.

Mohon maaf, apabila ada yang mengirim SMS, menelpon, atau mengirim email dan pesan di FB, tidak saya jawab, sebab koneksi internet dan jaringan Hp diputus, sejak hari Kamis (27 Januari 2011) yang lalu.

Setelah terjebak seminggu di Cairo (Jum'at, 28 Januari 2011) tidak bisa pulang ke Tafahna, alhamdulillah hari ini saya bisa kembali ke rumah dan menemui ketiga anak saya.
 
Kemaren (Selasa, 1 Februari 2011) isteri dan tiga anak saya, mau ikut evakuasi ke Indonesia, namun sayang, mereka kembali ke rumah, sebab mobil yang mereka sewa tidak bisa menembus blokade militer.

Minta do'anya, agar kami sekeluarga --begitu juga seluruh WNI di Mesir-- tetap sehat, selamat, dan bisa pulang ke Indonesia.

Saya tidak tahu, kapan Mesir seperti dikatakan Nabi Yusuf?

"Maka tatkala mereka masuk ke tempat Yusuf: Yusuf merangkul ibu bapanya dan dia berkata: "Masuklah kamu ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman." (QS.Yusuf [12]:99)

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

1b.

Re: Sayang, Mesir tak seaman seperti kata Nabi Yusuf

Posted by: "Hadian Febrianto" hadianf@gmail.com   hadian.kasep

Wed Feb 2, 2011 9:05 am (PST)



Wa'alaikum salam wr.wb.

Alhamdulillah senang rasanya menerima kembali email dari ust Udo Yamin.

Insya Allah kami terus mendoakan Udo sekeluarga bersama WNI yang ada di sana mendapatkan tempat aman yang terbaik, tatkala bisa kembali dan itu yang terbaik menurutNya insya Allah akan dipermudah.

Sepertinya doa para pejuang di sana bisa lebih makbul deh, tatkala sedang berjuang (berjihad) di hadapan pemimpin yang zhalim.

Saya pribadi pun terus ingin mengetahui kondisi terakhir di sana tapi terbatas oleh liputan media. Alhamdulillah, baru saja dapat "taujih" dari salah seorang yang memantau perkembangan di sana.

Mengenai arahan Nabi Yusuf, saya melihat kondisi ini menuju ke arah kondisi aman bila dibandingkan dengan sekarang yang dipimpin oleh orang yang tidak terlihat berpihak kepada mayoritas rakyat mesir.

Wassalaamu'alaikum wr.wb.


Powered by Hadian_Kasep BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Udo Yamin Majdi <ibnu_majdi@yahoo.com>
Sender: sekolah-kehidupan@yahoogroups.com
Date: Wed, 2 Feb 2011 08:51:27
To: <wordsmartcenter@yahoogroups.com>; <jejaring-persis@yahoogroups.com>; <pelajar_islam_indonesia@yahoogroups.com>; <pembacaasmanadia@yahoogroups.com>; sekolah kehidupan<sekolah-kehidupan@yahoogroups.com>
Reply-To: sekolah-kehidupan@yahoogroups.com
Subject: [sekolah-kehidupan] Sayang, Mesir tak seaman seperti kata Nabi Yusuf

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Apa kabar semuanya?

Alhamdulillah, saya sekeluarga sehat wal 'afiyah, meskipun tidak merasa aman dengan kondisi Mesir saat ini.

Mohon maaf, apabila ada yang mengirim SMS, menelpon, atau mengirim email dan pesan di FB, tidak saya jawab, sebab koneksi internet dan jaringan Hp diputus, sejak hari Kamis (27 Januari 2011) yang lalu.

Setelah terjebak seminggu di Cairo (Jum'at, 28 Januari 2011) tidak bisa pulang ke Tafahna, alhamdulillah hari ini saya bisa kembali ke rumah dan menemui ketiga anak saya.
 
Kemaren (Selasa, 1 Februari 2011) isteri dan tiga anak saya, mau ikut evakuasi ke Indonesia, namun sayang, mereka kembali ke rumah, sebab mobil yang mereka sewa tidak bisa menembus blokade militer.

Minta do'anya, agar kami sekeluarga --begitu juga seluruh WNI di Mesir-- tetap sehat, selamat, dan bisa pulang ke Indonesia.

Saya tidak tahu, kapan Mesir seperti dikatakan Nabi Yusuf?

"Maka tatkala mereka masuk ke tempat Yusuf: Yusuf merangkul ibu bapanya dan dia berkata: "Masuklah kamu ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman." (QS.Yusuf [12]:99)

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.





2.

(Dunia Malam Bag. 1) Hampir Menjadi Saksi Korban Pembunuhan, Nona-no

Posted by: "Nia Robie'" musimbunga@gmail.com

Thu Feb 3, 2011 1:49 am (PST)



*Sampaikanlah pada ibuku*

*Aku pulang terlambat waktu*

*Ku akan menemukan malam*

*Dengan jalan fikiranku*

* *

Lagu di atas yang biasanya menjadi teman saya melewati jalan-jalan yang
sudah biasa saya lewati ataupun yang baru pertama kali saya lewati di malam
hari. Sendiri. Dengan artian, tidak ada seorang pun yang saya kenal
sebelumnya.

Saya masih ingat sewaktu saya masih berseragam putih biru. Itulah awal
keberanian saya pulang malam sendiri dengan jarak tempat les ke rumah bisa
ditempuh perjalanan 1,5 jam-an apabila tidak macet. Saat itu rumah dan
sekolah saya memang hanya berjarak kurang lebih 300m saja. Karena waktu itu
susah sekali mendapat bimbingan belajar di dekat rumah, akhirnya saya
memutuskan untuk pergi ke kota (Bogor) yang jaraknya cukup jauh dari rumah.

"mieh, ko loe gak kurus-kurus ya punya rumah sejauh ini?", "Mieh hidup loe
mah abis di jalan!", atau "mieh jalan ke rumah loe itu bagus buat orang
patah hati… luruuuuus terus.. sambil ngelamun". Begitulah obrolan-obrolan
kecil teman-teman SMA saya yang bisa membuat saya tertawa. Memang SMA saya
memutuskan untuk hijrah sekolah ke Kota agar akses lebih gampang didapat.

"Nia.. gua ngebayangin loe, diturunin di tengah jalan sama abang-abang
angkot di tempat sepi begini", itulah kira-kira perkataan yang dilontarkan
seorang Abang, rekan kerja saya sewaktu bekerja di salah satu perusahaan di
daerah Cimanggis (Jl. Raya Bogor). "pokoknya loe kalo diturunin di tengah
jalan, omelin aja tukang angkotnya!" haha, si abang satu ini emang nyalinya
cukup gede kalo urusan marah-memarahi, tapi nasehat2nya sewaktu ia dan
driver mengantar saya pulang selepas acara di hotel horizon bekasi menjadi
pelajaran sendiri. Saya punya sikap untuk mempertahankan hak saya sebagai
seorang penumpang. Bahasa kerennya, saya menjadi lebih galak. Hehe

Yup, kenyataannnya, jika malam sudah larut dan saya menjadi penumpang
terakhir, kadang seenak perutnya saja beberapa supir angkot menurunkan saya
ditengah jalan. Tak peduli itu tempat sepi atau bukan, tak peduli itu tempat
ada lampu penerangan atau bukan, tak peduli itu tempat bekas jin buang anak
atau bukan (kalo yang ini lebay Hehe). Nasib.

*Pengalaman Unik.*

Saya lebih suka menyebut pengalaman-pengalaman saya berteman dengan "laila"
(baca = malam) adalah pengalaman-pengalaman unik. Walaupun bagi beberapa
orang yang saya ceritakan kadang pada akhirnya membuat mereka memarahi saya
atau geleng-geleng kepala karena masih saja pulang larut malam sendirian.
Tapi sungguh, saya benar-benar belajar.

Sewaktu SMP sampai kini (setidaknya sebelum saya pergi ke Halmahera) ada
beberapa kejadian yang tidak bisa dihitung dengan jari, pengalaman unik yang
saya alami. Mulai dari pulang bersama orang yang bawa-bawa samurai,
orang-orang iseng yang menanyakan nama dan rumah, berantem sama supir angkot
(padahal saya sendirian waktu itu), hamper kecelakaan gara-gara naik angkot
yang dibawa supir ugal-ugalan bau alcohol, ngomelin bapak-bapak yang nanya
aja pake colek-colekan (*loe kira tangan gue sambel dicolek2?*), sampe
kadang teriak sinis *"bang.. bawa mobilnya jangan ngebut2.. kalo saya sih
punya nyawa Cuma satu, kalo abang mungkin 13"* dsb. Juga pernah benar-benar
di dalam angkot hampir saja menjadi saksi korban pembunuhan sang supir yang
lehernya dikalungkan botol minuman yang sepertinya karena masalah perebutan
perempuan. Fyuuuh.. hidup.

Namun dari beberapa kejadian itu ada beberapa hal yang masih sering saya
jadikan bahan lelucuan.

*Paranormal*

Malam itu saya pulang dari tempat kerja di daerah Jl, Raya Pajajaran.
Sekitar 1,5 jam dari rumah. Tidak begitu larut malam namun penumpang di bus
itu lama kelamaan mulai berkurang. Mata saya menangkap sesosok laki-laki
yang terus memperhatikan saya, mulai dari saya berdiri sampai saya
mendapatkan tempat duduk di sebelah seorang bapak.

Beberapa menit kemudian bapak yang disebelah saya turun dari bus tersebut.
Walhasil, bangku di sebelah saya kosong. Laki-laki yang sedari tadi
memperhatikan saya akhirnya menghampiri saya.

"abis pulang kuliah atau pulang kerja mba?"

"kerja"

"kerja nya di mana"

"bp".

Ya saya berusaha untuk tidak mengajukan pertanyaan balik ke orang itu. Orang
yang saya perkirakan usianya 30an. Agak gondrong, dan berjaket denim. Tapi,
tanpa saya tanyapun orang itu langsung berkata.

"kalo saya paranormal". Dia berkata dengan agak jumawa.

*'Sumpah gua kagak nanya'*, saya membatin sambil menahan ketawa waktu itu.
Saya perhatikan di jarinya memang ada beberapa cincin batu-batuan besar dan
accessories lainnya, walaupun saya bisa bilang dari gayanya itu paranormal
lumayan gaul, oke, dan bersih. Jauh dari pencitraan di film-film misteri.

"ooo" saya menjawab singkat.

Dari banyak kejadian ketemu orang-orang iseng yang ujung-ujungnya nanya nama
(bhakn no hp) saya akhirnya cukup jeli menangkap maksudnya. (eh ini bukan
gua gr, tapi pengalaman yg mengajarkan). Jadi segera saya pencet no hp Divin
Nahb, konco oke yang waktu itu ada rencana bikin buku bareng. Saya sambil
berbicara ngaco tentang rencana pernikahan saya. (Padahal suwer
tekewer-kewer waktu itu saya Cuma 'berandai-andai')

"gak bisa.. gua kudu ngumpulin duit tahun ini rencananya gua mo nikah tahun
ini" ya itu kan bukan bohong, tapi rencana yang bisa dikategorikan do'a.
hehe

Mungkin di seberang sana. Divin berkata "ni anak ngomong apa seeeh? Gak
nyambung sama proyek penrbitan buku" haha.

Setelah itu Sang Paranormal itu bertanya, "tadi nelp calonnya ya mba?".

"bukan temen perempuan"

"ah, saya gak percaya.. kayaknya sih nelpon laki-laki", begitu yang kira2 ia
ucapkan

Dalam hati saya berkata. *'ya elah, nih orang katanya paranormal, ko gak
bisa nebak yang nelpon siapa' *hehe. Sampai di rumah pun saya masih
senyum-senyum sendiri.

*'Nona-nona' Malam Aduhai*

Dari semnjak SMA, Kuliah, atau kerja saya suka agak malas ketika orang mulai
mengait2kan Parung, tempat tinggal saya, dengan para WTS yang biasa mangkal
di sepanjang jalan raya Bogor – Parung. Padahal umunya mereka bukan orang
Parung, saya kadang menyayangkan pemerintah yang kurang tegas untuk soal
semacam ini. Bahkan sedikit geregetan ketika dibangun 'rumah persinggahan'
yang seakan-akan melegalkan lokalisasi di daerah itu.

ABG-ABG itu (bahkan sampai ada yang bisa dikategorikan emak2) biasanya
berpakaian mini mini sexy walaupun udara malam di daerah itu memaksa saya
menggunakan pakaian berlapis-lapis.

Saya sering pulang berbarengan dengan jam kerja mereka. Kadang saya melihat
di sepanjang jalan itu seperti sedang diadakannya pameran busana sexy. Tak
jarang juga angkot yang saya tumpangi membawa saya dan penumpang lain 'ke
tempat rahasia' sekedar mengantarkan nona-nona itu. Maklum biasanya melewati
tempat-tempat yang minim penerangan dan juga kuburan. Pemilik angkot itu
biasanya mau-mau saja asal bayaran disesuaikan.

Akhirnya saya sampai tahu tempat dinas yang disesuaikan dengan range usia
nona-nona itu. Di mana bisa ditemukan yang abg, di mana yang usianya cukup
dewasa, bisa disebut emak-emak. Sebenarnya bisa saja saya turun, namun
kadang yang semacam ini membuat saya mensyukuri apa yang saya dapatkan
sekarang. Setidaknya saya masih bias mengingat, saya punya keluarga yang
melindungi saya dan mencukupi saya sehingga saya tidak kecemplung dalam
dunia model begituan.

Walupun begitu, para nona-nona itu manusia. Kadang saya sengaja memberikan
senyum atau sekedar bertanya dan mengobrol kecil "rumahnya di mana mba?"
"ooh.. jauh juga ya.. jauh-jauh dr Bogor kerjanya di parung" sambil berusaha
terus membuat mereka nyaman dengan pertanyaan saya.

Saya hanya ingat ketika suatu waktu seorang ustad (yang sering nongol di
TV) pernah bercerita melewati Parung dan disapa oleh para nona-nona itu
dengan "assalamu'alaykum" lalu ia malah berlalu tanpa menjawab, tiba2 ia
segera beristighfar, karena ingat WTS juga manusia, makhluk Allah yang
memiliki kesempatan untuk bertaubat. Dan memiliki hak dijawab salamnya yang
merupakan do'a keselamatan. saat itu ustad itu kembali ke tempat nona yang
memberikan salam sekedar menjawab 'wa'alaykumussalam wr.wb' setelah itu
berlalu pergi. Bahkan dari siapapun kita bisa belajar.

Bukankah di zaman nabi ada seorang pelacur yang bisa masuk syurga karena
memberikan minuman seorang anjing dengan rasa ikhlas dan kepedulian kepada
makhluk ciptaanNya?

Saya, untuk kesekian kalinya mendapat pelajaran.
3.

(Dunia Malam Bag. 2) Ekstase Perjalanan Malam

Posted by: "Nia Robie'" musimbunga@gmail.com

Thu Feb 3, 2011 1:50 am (PST)



"Nia lagi ada di Bali.."

"ke sana sama siapa? Naik pesawat?"

"sendiri. Jalur darat.. kemaren sempet ke Surabaya dan Mojokerto juga."
Sambil takut-takut diomelin Ceceu (kakak perempuan saya) di seberang telpon
sana. Kakak perempuan satu-satunya yang kadang peraturannya melebihi ibu
saya. Tapi saya menyayangi dan mencintainya. Sangat. :)

Makanya biasanya saya mengabari beliau setelah saya berada di tempat tujuan.
Berbeda dengan ibu saya, saya kasih tahu jauh-jauh hari agar punya
kesempatan untuk meyakinkan dan meluluhkan hatinya.. ce ileeeh :D

Ya, semanjak itu, perhatiannya malah bertambah kepada saya.

"pokoknya ke kuningan jangan jajan sembarangan, sedia uang receh, kalo ada
pengamen jangan sampai gak di kasih." Biasanya kalo dapet sms yang model
begituan saya tertawa. Saat itu saya pergi ke rumahnya di Kuningan Cirebon,
dan tiba di sana hamper jam 2 malam. Tentu sendirian.

Senang juga diperhatikan walaupun banyak aturan tapi saya tahu itu ekspresi
rasa kasih sayang ke adiknya, maklum kami dulu sering sekali bertengkar dan
perhatiannya semakin meningkat ketika ia sudah menikah. Mungkin, sisi
keibuannya muncul dengan meluap. (Halah bahasanya).

Bahkan ia tak segan-segan menjemput saya. Padahal saya hanya main di rumah
teman saya yang jaraknya mungkin hanya 1 km dari rumahnya. Juga membekali
saya makanan jika pulang ke Parung. I love u pull dah ceu..

"jangan jalan sendirian di Halmahera". Suaranya di seberang telpon sewaktu
transit di Ternate.

Tapi kenyataannya saya banyak melanggar.

Saya punya beribu alasan kenapa saya pada akhirnya sering pergi sendirian.
Jalan sendirian tak perduli malam dan siang. Di kereta malam duduk
'sendirian' tanpa orang yang saya kenal sebelumnya. Ya karena saya tak ingin
merepotkan. Karena saya tidak ingin orang-orang hanya duduk menemani saya,
karena saya berfikir orang lain pun punya banyak kepentingan. Walaupun
mungkin bagi sebagian orang yang dekat dengan saya akhirnya marah-marah
karena yang saya fikirkan itu salah.

Saya lebih memilih pulang jam 12 malam dari bogor sendirian dibanding saya
harus membangunkan teman saya sekedar menemani saya sampai rumah. Saya lebih
memilih saya pulang ke Parung dari stasiun Gambir (sehabis dari Banyumas –
Purwokerto) jam 2 pagi dan menatap Jakarta dengan keheningan luar biasa
hanya ditemani kerlap-kerlip lampu-lampu jalan dan memilih untuk tidak
menyuruh orang rumah dan teman-teman dekat saya, agar menjemput saya di
malam yang begitu dingin. Do'a, yakin dan kuasaNya saya merasa tenang.
Sambil berkata singkat "I'll be OK".

Atau saya lebih memilih menaiki kereta malam Surabaya Jakarta, atau Jakarta
Jogja malam hari demi menghemat pengeluaran saya, walupun konsekuensinya
saya harus akrab dengan 'solitude' atau kesendirian.

Tapi ada banyak hal yang saya dapatkan, ketika tegur sapa di kereta-kereta
kelas ekonomi khas rakyat yang 'membumi'. Atau bahkan ketika malam
benar-benar hening dan ada saat di mana saya berdialog dengan
pikiran-pikiran saya, sekedar bertanya tentang hidup sambil menghadirkan Dia
di hadapan saya. Dalam malam yang sepi, dalam kesendirian, dalam do'a yang
saya panjatkan, bahkan solitude membuat saya banyak berfikir tentang hidup
dan juga makna kematian. Di samping itu, saya menghadirkan Dia, agar saya
lebih berkaca pada makna penjagaan. Ya, itu Ekstase malam yang saya
dapatkan.

Bahkan ketika gerakan-gerakan sederhana menunaikan yang 5 di dalam kendaraan
melewati satu tempat ke tempat lain atau bahkan dari pulau satu ke pulau
yang lain. Di dalam bus, pesawat, bahkan di dalam perahu kecil di
tengah-tengah lautan. Ada suatu yang berdesir, di sini. Di hati. Ini sebuah
ekstase, sambil berfikir, yang paling dekat dengan manusia adalah kematian.
Sambil menyisipkan do'a. Ya Allah jauhkan hamba dari Marabahaya. Berilah
segala perlindungan.

*"tak pernah berhenti berjuang..*

*Pecahkan teka-teki malam.."*

Nb. Terima kasih kepada sahabat2 yang sering ngomelin saya dalam urusan yang
satu ini. Yakinlah saya bergaya macam ini bukan karena akibat buku2
petualangan para pria yang sering saya baca, yang menghadirkan sisi
kefeminisan saya secara berlebih.. bukan itu. Juga untuk seseorang yang
selalu bilang "kudanya ditambat dulu baru berdo'a". makasih buat kalian
semua. Semoga tulisan ini membuat kalian lebih mengerti. Atau malah semakin
ngomelin saya jalan sendiri? Hihi.

Kangen kalian :)

sebelumnya di :

http://www.facebook.com/note.php?saved&&note_id=495744198919
4.

[Catcil] Ekspedisi Papua, Akankah?

Posted by: "Nia Robie'" musimbunga@gmail.com

Thu Feb 3, 2011 1:53 am (PST)



Beberapa belas tahun yang lalu, ketika saya masih duduk di bangku SD,
keluarga saya kedatangan tamu. Mungkin waktu itu saya masih bingung, siapa
gerangan kedua orang itu. Yang satu perempuan dan yang satu laki-laki.

Dari orang tua saya, akhirnya saya tahu bahwa perempuan itu adalah Uwa
(kakaknya Abah saya) dan laki-laki yang bersamanya adalah suami uwa saya
itu. Laki-laki itu berpererawakan nampak seperti orang Papua asli, atau yang
dulu disebut dengan Irian Jaya. Sedangkan Uwa saya keturunan Bogor
pinggiran. Gn. Sindur lebih tepatnya. Eit, jangan mencari Gn. Sindur di PETA
Dunia, atau membayangkan layaknya Gn. Semeru yang kabarnya puncak terrtinggi
di Pulau Jawa dan sebagai tempat arcapodo atau arca kembar berada, yang oleh
orang Hindu dipercayai sebagai symbol bersemedinya para dewa-dewa. Tentu
jauh berbeda. Bahkan sampai sekarang pun saya tak tahu di mana letak
persisnya 'gunung' yang berada di Gn. Sindur.

Uwa saya membawa dua pajangan yang berupa burung Cendrawasih dan satu burung
yang saya tak tahu jenisnya apa. Yang pasti, awetan burung-burung tersebut
memang benar cantik adanya, warna-warni bulu-bulunya berkilauan memukau. Pun
pada akhirnya saya menyayangkan, saat itu penjualan awetan burung
Cendrawasih begitu gampangnya, padahal sekarang menjadi kebanggaan bangsa,
khusunya Papua, yang sayangnya jumlah hanya tinggal segelintir saja. Waktu
itu pun saya masih belum tau Cendrawasih akan benar-benar dilindungi di
kemudian hari.

Papua. Yang baru-baru ini saya tahu mempunyai arti 'keriting', dahulu
bernama Irian Jaya. Memang bukan sesuatu yang asing di telinga kami. Uwa
saya itu pergi meninggalkan pulau Jawa untuk bekerja namun tidak sendiri ia
melanglang buana di Timur Indonesia sana, bersama saudara jauh ia pergi
untuk bekerja, sampai akhirnya menemukan Paitua (Suami) di sana.
Bertahun-tahun sebelum saya terlahir di dunia.

Dari pernikahan itu Uwa saya memiliki satu anak, Fanny namanya. Fanny lebih
tua usianya dari pada saya. Sejak kecil Fanny dititipkan oleh orang tuanya
kepada Nenek saya di Gn. Sindur. Ketika saya 'pulang kampung' saya biasanya
menarik-narik rambut Fanny, keriting halus dan rambutnya benar-benar lembut
sekali. Sambil cekikikan biasanya saya memainkan rambutnya layaknya menarik
per. (jangan ditiru ketidaksopanan ini kepada yang lebih tua, hihi).

Setelah Fanny cukup dewasa, Fanny diambil kembali. Ia harus meninggalkan
pulau Jawa dan kabarnya kuliah di Jaya Pura sana. Mamahnya Fanny, atau uwa
saya pun kabarnya bekerja di salah satu rumah sakit di kota Jaya Pura.

Fanny dan Mamahnya sempat pulang ke Pulau Jawa kira-kira tahun 2003, saya
agak lupa kapan tepatnya. Tapi yang pasti Fanny sudah banyak mengalami
perubahan, walaupun suara khasnya masih sama seperti dulu, dan masih saya
ingat sampai sekarang. Alasan Uwa mengapa jarang pulang, kendala klasik,
masalah biaya pesawat yang gila-gilaan. Kalaupun naik kapal butuh waktu
seminggu, sekali perjalanan. Ditambah kondisi tubuh Fanny yang pernah
terkena malaria, dan tidak bisa terlalu lelah. Terlebih Fanny dan mamahnya
hanya berdua saja, suami Uwa sudah lama tiada.

Sudah bertahun-tahun lamanya semenjak kepulangan Fanny dan Uwa. Itu kali
terakhir juga uwa menjumpai adiknya, yaitu abah saya. Setelah 2009 abah
pulang menghadapNya. Uwa mungkin telah tahu, tapi entah kenapa, ingin sekali
saya menemuinya. Abah dulu sering berpesan, "datangi orang yang lebih tua".
Begitu kira-kira inti dari nasehat-nasehat untuk menghormati orang-orang
yang jauh lebih tua dari pada saya. Sayangnya, no kontak Fanny pun hilang
bersama HP saya yang raib, no baru nya pun tak bisa dihubungi.

Ya, saya merindukan Fanny, saya merindukan Uwa, bahkan tangan ini ingin
sekali memainkan rambut keriting Fanny yang begitu lembut. Dari Halmahera
Timur dilihat dari peta memang tidak terlalu jauh (tidak sejauh Jakarta –
Papua tentunya), namun karena masalah transportasi juga jalur Halmahera –
Papua (Jaya Pura) jika naik kapal laut harus mutar balik ke ternate bahkan
kabarnya harus ke ambon manise, jadi total perjalanan 4 hari 4 malam. Begitu
pula jalur pesawat terbang, jika saya ingin ke Jaya Pura, maka jalur yang
harus ditempuh pun Buli – Ternate – Makasar – Jayapura. Nampaknya memang
sungguh sebuah perjuangan.

Ekspedisi saya mencari Uwa yang 'hilang' akankah terkabulkan? Papua, jika
berjodoh engkau akan aku temui suatu hari nanti. Melihat Uwa dan Fanny
bagaimana sekarang. :) Jayapura oh Jayapura…:D

Nb: Cuma satu hal, butuh perizinan :D
Recent Activity
Visit Your Group
Y! Messenger

PC-to-PC calls

Call your friends

worldwide - free!

Biz Resources

Y! Small Business

Articles, tools,

forms, and more.

Find helpful tips

for Moderators

on the Yahoo!

Groups team blog.

Need to Reply?

Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.

Create New Topic | Visit Your Group on the Web
MARKETPLACE

Find useful articles and helpful tips on living with Fibromyalgia. Visit the Fibromyalgia Zone today!


Stay on top of your group activity without leaving the page you're on - Get the Yahoo! Toolbar now.

Tidak ada komentar: