Messages In This Digest (3 Messages)
- 1a.
- Re: Sayang, Mesir tak seaman seperti kata Nabi Yusuf From: novi_ningsih
- 1b.
- Re: Sayang, Mesir tak seaman seperti kata Nabi Yusuf From: Siwi LH
- 2.
- [Catcil] Haruskah Bayi Itu Lahir di Angkot? From: budi
Messages
- 1a.
-
Re: Sayang, Mesir tak seaman seperti kata Nabi Yusuf
Posted by: "novi_ningsih" novi_ningsih@yahoo.com novi_ningsih
Thu Feb 3, 2011 5:31 pm (PST)
Wa'alaykumussalam Wr. Wb
Alhamdulillah, moga keadaan makin jelas.
Moga udo dan keluarga segera bisa dievakuasi, aamiin.
--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups. , Udo Yamin Majdi <ibnu_majdi@com ...> wrote:
>
> Assalamu'alaikum Wr. Wb.
>
> Apa kabar semuanya?
>
> Alhamdulillah, saya sekeluarga sehat wal 'afiyah, meskipun tidak merasa aman dengan kondisi Mesir saat ini.
>
> Mohon maaf, apabila ada yang mengirim SMS, menelpon, atau mengirim email dan pesan di FB, tidak saya jawab, sebab koneksi internet dan jaringan Hp diputus, sejak hari Kamis (27 Januari 2011) yang lalu.
>
> Setelah terjebak seminggu di Cairo (Jum'at, 28 Januari 2011) tidak bisa pulang ke Tafahna, alhamdulillah hari ini saya bisa kembali ke rumah dan menemui ketiga anak saya.
>
> Kemaren (Selasa, 1 Februari 2011) isteri dan tiga anak saya, mau ikut evakuasi ke Indonesia, namun sayang, mereka kembali ke rumah, sebab mobil yang mereka sewa tidak bisa menembus blokade militer.
>
> Minta do'anya, agar kami sekeluarga --begitu juga seluruh WNI di Mesir-- tetap sehat, selamat, dan bisa pulang ke Indonesia.
>
> Saya tidak tahu, kapan Mesir seperti dikatakan Nabi Yusuf?
>
> "Maka tatkala mereka masuk ke tempat Yusuf: Yusuf merangkul ibu bapanya dan dia berkata: "Masuklah kamu ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman." (QS.Yusuf [12]:99)
>
> Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
>
- 1b.
-
Re: Sayang, Mesir tak seaman seperti kata Nabi Yusuf
Posted by: "Siwi LH" siuhik@yahoo.com siuhik
Thu Feb 3, 2011 8:47 pm (PST)
Waalaaikum salam wr wb
Rasanya ikut lega menerima email ini Udo, kami selalu mendo'akan semoga saudara2
kita di mesir diberi ketabahan dan kemudahan untuk keluar dari krisis ini, salam
buat keluarga dan teman2 disana.
wassalam wr wb
Salam Hebat Penuh Berkah
Siwi LH
cahayabintang. wordpress.com
siu-elha. blogspot.com
YM : siuhik
_____________________ _________ __
From: Udo Yamin Majdi <ibnu_majdi@yahoo.com >
To: wordsmartcenter@yahoogroups. ; jejaring-persis@com yahoogroups. ;com
pelajar_islam_indonesia@ ; pembacaasmanadia@yahoogroups. com yahoogroups. ;com
sekolah kehidupan <sekolah-kehidupan@yahoogroups. >com
Sent: Wed, February 2, 2011 11:51:27 PM
Subject: [sekolah-kehidupan] Sayang, Mesir tak seaman seperti kata Nabi Yusuf
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Apa kabar semuanya?
- 2.
-
[Catcil] Haruskah Bayi Itu Lahir di Angkot?
Posted by: "budi" magnifico_99@yahoo.co.id magnifico_99
Thu Feb 3, 2011 11:39 pm (PST)
Sekedar berbagi hikmah...
*************
Siang itu, (Kamis 03-02-11) saya dengan istri pulang dari menghadiri walimah seorang temen kantor saya. Mumpung hari libur, kami berdua berniat langsung menuju ke salah satu supermarket di Kiaracondong, kebetulan satu arah jalan pulang ke rumah. Sudah berhari-hari yang lalu kami niatkan untuk berbelanja kebutuhan bulanan tapi beberapa kali itu juga batal karena aktivitas kami.
Untuk menghindari macet, dari tempat walimah yang ada di Jl. Sekolah Internasional, Antapani, saya lebih memilih lewat fly over ketimbang jalan bawah yang pastinya macet karena ada pasar Kircon (kiaracondong_red). Sesampai di ujung fly over, seorang bapak-bapak menggunakan sepeda motor menyalip saya. Di belakang si bapak itu saya lihat seorang Ibu-Ibu (yang sepertinya usianya masih muda mungkin kisaran 30an) diboncengnya. Si Ibu tersebut dari awal saya perhatikan terus mengelus-elus perutnya yang nampak besar. "sedang hamil kayaknya" gumam saya dalam hati. Saya hanya tersenyum melihat adegan seperti itu dan langsung menoleh ke istri. Bagaimana tidak, istri saya juga sedang hamil dan sangat sering melakukan hal yang sama. Saat hendak berangkat ke klinik, saat kami sama-sama berada diruang makan, bahkan saat sedang memasak pun selalu menyempatkan diri mengelus-elus perutnya yang semakin terlihat besar, pertanda bayi kami mengalami pertumbuhan.
Setelah beberapa lama berselang, si bapak yang membonceng Ibu hamil tadi tidak lagi terlihat di depan kami, saya dan istri pun sudah berdiskusi ke tema lain. Namun tiba-tiba, saat kami melewati daerah dekat jalan masuk sisi barat RS. Pindad, kami mendapati si Ibu tadi tergeletak di tepi jalan ditopang oleh si bapak yang memboncengnya, persis di sebelah Angkot yang sedang berhenti. Hanya satu yang kami berdua pikirkan, si bapak dan si Ibu hamil tadi berserempetan dengan Angkot. Kami lihat si Ibu hamil itu merintih-rintih kesakitan. Namun setelah kami menepikan sepeda motor dan mendekat untuk menolong ternyata mereka berhenti bukan karena terserempet oleh Angkot yang kebetulan berhenti di sebelahnya. MasyaAlloh, ternyata Ibu itu merintih-rintih karena akan melahirkan.
Deggg...saya terkejut bukan main, hampir saya tidak bisa berpikir lagi, mendapati kenyataan bahwa di depan saya, ditepi jalan yang ramai, di tengah hiruk pikuknya metropolitan Bandung, ada seorang Ibu yang dengan terpaksa akan melahirkan.
Wajah saya sedikit memucat, pikiran saya tidak karuan, semuanya bercampur antara sedih dan marah. Meskipun saya tidak tahu harus marah kepada siapa. Stressor saya semakin menekan, denyut pun perlahan makin cepat, gugup dan panik menghinggapi. Namun saya bersyukur, Alloh masih memberi saya kesempatan untuk berkata "Tolong Yang!...tolongin Yang". Begitu seru saya pada istri.
Kami tidak ada pilihan, pertolongan persalinan harus segera dilakukan. Si Ibu itu terus merintih kesakitan, sambil terus berkata "bayi-nya sudah mau keluar, bayinya sudah mau keluar, saya sudah tidak tahan". Kami hanya punya satu pilihan bahwa memasukan si Ibu itu kedalam Angkot jauh lebih baik dari pada menolong persalinan ditempat terbuka yang pastinya akan mengundang orang berkerumun menyaksikan. Tak usah heran, ini sudah sering terjadi dimana-mana. Orang berbondong-bondong menonton saat orang lain sedang tertimpa musibah, bukan berduyun-duyun untuk saling meringankan.
Kami bersyukur, supir Angkot itu mau ikut menolong. Bersama si bapak yang memboncengkan Ibu itu, mereka berdua membopong si Ibu itu masuk kedalam Angkot dalam kondisi yang makin tidak terkendali. Si Ibu itu masih terus berkata "bayi-nya sudah mau keluar, bayinya sudah mau keluar". Istri mencoba meyakinkan pada si Ibu itu bahwa dia akan menolongnya setelah dia dimasukkan ke dalam Angkot.
Keajaiban itu muncul, setelah si Ibu itu dimasukan kedalam Angkot dan istri telah turut masuk pula kedalamnya, tak lama kemudian terdengar suara bayi menangis. Tangis tandanya ia telah lahir, telah dikeluarkan dari kandungan Ibu tadi. Allohu akbar, betapa pemurahNya Alloh dengan sifat maha kasihNya, yang maha menghendaki segala hal yang akan terjadi pada mahlukNya. Takdir telah diputuskan bahwa bayi itu akan lahir dalam Angkot. Semuanya Alloh mudahkan, dalam kondisi yang sangat tidak ideal, Ibu itu melahirkan. Bagi istri, ini juga pengalaman luar biasa kali pertama dia menolong persalinan sejak sumpah dokter ia ucapkan 2009 silam. Subhanalloh, saya terus berucap lirih menyebut namaNya, saya lihat bayi itu diangkat oleh istri, bayi itu selamat tidak terluka sedikit pun.
Sampai disini kami menyadari bahwa ini belum berakhir. Tali pusar bayi itu harus dipotong, perdarahan si Ibunya juga harus segera dihentikan, dan yang belakangan saya ketahui bahwa plasenta (ari-ari) belum keluar. Saya masih sempat berpikir untuk mencari gunting, silet atau benda apapun yang bisa digunakan untuk memotong tali pusarnya agar bayi itu bisa diangkat tidak menempel terus pada Ibu-nya. Dalam lintasan pikiran itu hanya toolkit yang ada di motor yang terlintas. Namun kesimpulanya tidak memungkinkan, akhirnya dengan segera saya suruh supir Angkot itu mengantarkan kami ke rumah sakit terdekat.
Karena panik, kami pun sempat bingung harus dibawa kemana, bahkan harusnnya kami bisa membawa Ibu tadi ke RS. Pindad yang letaknya ada di belakang kami dan jaraknya pun tidak lebih dari 500 m namun kami justru pergi ke tempat lain mencari rumah sakit terdekat. Ini lah takdir, inilah kehendakNya, supir Angkot itu justru memacu Angkotnya ke arah jalan Soekarno-Hatta, dan ingatan saya langsug tertuju pada RS. Al Islam Bandung.
Kepanikan makin menghinggapi saya dan entahlah apakah istri, supir Angkot dan bapak yang membonceng si Ibu tadi merasakannya atau tidak. Satu hal yang membuat saya semakin panik, RS. Al Islam berada di seberang kanan kami, untuk masuk kesana kami harus memutar cukup jauh di depan. Dan satu hal yang pasti terjadi: macet! Macet bukan disebabkan hari ini libur nasional memperingati tahun baru imlek, bukan pula macet karena daerah tersebut kawasan industri yang padat. Tapi macet karena perbaikan jalan yang tak kunjung selesai.
Kami tidak mau menyerah. Saya minta supir Angkot tersebut menyalakan lampu depan agar cukup diperhatikan mobil-mobil yang merapat di depan. Saya hanya berharap mereka mau memberi prioritas, entah apakah hal ini tindakan yang benar dan memang ada aturannya atau ini hanya logika saya saja. Selain itu, saya memposisikan motor yang saya kendarai berada di depan Angkot tadi. Mencoba menepikan mobil-mobil yang ada di depan Angkot satu persatu. Jadi lengkaplah, kami seperti iring-iringan pejabat yang dikawal oleh motor Patwal. Hahaha...tapi sayangnya motor yang saya pakai Mio "ceper" yang berlagak dimodif tapi hasilnya malah tidak karuan, udah gitu tubuh saya kan kecil pasti yang terhilat gagah hanya helmnya saja, tak lebih. Bahkan bukan dikira Patwal malah orang-orang mungkin mengira saya sisa anggota "geng motor" yang sudah dIbubarkan sebulan lalu, karena polahnya di jalan ga karuan. Hehehe...Satu hal lagi yang membuat saya semakin tegang, saya masuk di jalur mobil yang jelas-jelas dilarang. Makin wa-was jika tiba-tiba dihampiri Polisi dari belakang.
Sungguh, ini lebih menegangkan dari kejadian-kejadian yang pernah saya alami. Sepanjang jalan menuju rumah sakit itu yang terlintas dalam pikiran saya adalah bagaimana kondisi Ibu dan bayi-nya. Bayi itu harus segera diselimuti, padahal tak ada kain apapun yang kami dapati saat memasukan Ibu itu kedalam Angkot. Perdarahan Ibunya? Itu juga harus dihentikan. Karena kalau sampai terlambat bisa merenggut nyawa si Ibu itu. Lintasan-lintasan pikiran yang tidak karuan terus membayangi saya. Ya karena saya juga memiliki istri yang sedang hamil, saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan saya, kalau ini menimpa istri saya. Naudzubillahi mindzalik...tsuma naudzu billah...
Ketegangan ini lebih dari saat evakuasi korban gempa Jogja 2006 silam. Lebih menegangkan dari kejadian saat saya harus bernegosiasi dengan pihak cargo karena 8 ton bantuan obat-obatan dan logistik yang akan saya bawa ke Padang tertahan di Bandara Soekarno Hatta 2009 lalu. Dan juga lebih meneganggkan dari saat tiba-tiba Batavia membatalkan secara sepihak penerbangan saya ke Manokwari sehingga saya harus terlantar 5 jam di Bandara
Hasanudin Makkasar, padahal saat itu obat-obatan yang saya bawa sudah ditunggu dan dIbutuhkan untuk para pengungsi longsor Wasior.
Akhirnya kami sampai juga di RS. Al Islam Bandung. Sesampai di depan pintu UGD saya memanggil petugas yang sedang berjaga. Saya ceritakan bahwa Ibu yang ada di Angkot itu telah melahirkan, tetapi beberapa petugas yang datang mengira bahwa itu masih dalam proses dan bayinya belum keluar. Setelah istri memperlihatkan bayi yang dipeganginya akhirnya mereka "ngeh", beberapa petugas mengambil alat untuk memotong tali pusar dan menyuntikkan obat ke si Ibu tadi agar plasentanya (ari-ari) keluar. Dan yang masih terus saya ingat, itu semua dilakukan di dalam Angkot karena memang tidak memungkinkan mengeluarkan bayi dan Ibunya dalam kondisi tali pusar masih menempel.
************
Sesampai di rumah kami berdiskusi, mencoba memahami kenapa kejadian siang itu bisa terjadi terlepas bahwa ini sudah kehendakNya. Seburuk inikah pelayanan pemerintah terhadap kesehatan warga negaranya sehingga akses sarana kesehatan sulit dijangkau oleh mereka yang berekonomi pas-pasan? Atau secuek inikah masyarakat kita terhadap kesehatan dan keselamatan dirinya sendiri sehingga tanda-tanda akan melahirkan pun masih dikesampingkan?. Wa'allohu `alam bishowab...semoga kejadian seperti ini tidak pernah terjadi lagi karena kelalaian kita kecuali ini kehendakNya.
Catatan:
* Si Ibu ini rumahnya di Cimahi, kota yang terletak berada di barat kota Bandung. Saat kejadian berada di daerah Kiaracondong yang jarak tempuhnya lebih kurang 45-60 menit dari tempat tinggal ybs. Dan menurut penuturan, memang beliau akan menuju ke salah satu klinik yang berada di daerah jl. Soekarno hatta Bandung. Pertanyaannya: kenapa si Ibu ini sampai jauh-jauh ke Bandung untuk melahirkan?
* Kala I pada persalinan kedua dan seterusnya membutuhkan waktu 6-10 jam http://bidanku.com/index. . pertanyaanya: apakah si Ibu ini tidak merasakan tanda-tanda melahirkan? Padahal ini anak yang ketiga? Atau karena tanda-tanda itu disepelekan alias dicuekin?php?%2FTahapan- Proses-Persalina n
Tulisan ini saya dedikasikan untuk "pahlawan" bagi bayi mungil dan ibunya, belahan jiwaku: Cussanti Santoso
Need to Reply?
Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.
MARKETPLACE
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Individual | Switch format to Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
Tidak ada komentar:
Posting Komentar