Kedalaman Makna Surat Al Ikhlash
Oleh Mahmud Yunus
Allah SWT berfirman: "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya
menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam
(menjalankan) agama dengan lurus." (QS Al- Bayyinah [98]: 5). Dalam
ayat lainnya: "Luruskanlah mukamu (dirimu) pada setiap shalat dan
sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya." (QS
Al-'Araf [7]: 29).
Ahli tafsir menjelaskan, yang dimaksud dengan lurus adalah menghindari
perbuatan syirik (menyekutukan Allah SWT dalam segala bentuknya dan
terhindar dari penyimpangan sekecil apa pun). Kewajiban menjaga
keikhlasan dalam beribadah kepada Allah SWT ditegaskan berulang-ulang
di dalam Alquran.
Bahkan, surah ke-112 dinamai dengan Al-Ikhlash (memurnikan keesaan
Allah). Secara fisik surah Al-Ikhlash itu terdiri atas empat ayat
pendek, namun kandungannya sangat panjang dan luar biasa.
Rasulullah SAW bersabda, "Membaca 'Qul huwa Allahu ahad' pahalanya
setara dengan membaca sepertiga Alquran." (HR Bukhari, Muslim, Abu
Dawud, Tirmidzi, An-Nasa'I, Ibn Majah, Malik, Ahmad, Thabrani,
Al-Bazzar, dan Abu 'Ubaid).
Oleh karena itu, Saja' Al-Ghanawi RA mengatakan, "Barang siapa membaca
'Qul huwa Allahu ahad' tiga kali, maka ia seakan-akan membaca Alquran
seluruhnya." Atau, sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad, bahwa Muadz
ibn Anas RA berkata, "Barangsiapa membaca 'qul huwa Allahu ahad'
sebelas kali, maka Allah (akan) membangunkan sebuah rumah untuknya di
Surga."
Atau, seperti yang diriwayatkan Thabrani, bahwa Fairuz RA berkata,
"Barangsiapa membaca 'Qul huwa Allahu ahad' seratus kali, di dalam
shalat atau lainnya, maka ia dicatat oleh Allah sebagai orang yang
terbebas dari siksa Neraka." Dan, masih ada beberapa riwayat yang
lainnya. Namun, perlukah kita menghitung-hitung "kebaikan" atau
"ketaatan" kita sendiri?
Menurut Ibn Sina sebagaimana dikutip Muhammad Quraish Shihab dalam
salah satu karyanya, niat atau motivasi beribadah itu
bertingkat-tingkat. Pertama, tipe pedagang (mengharap keuntungan).
Kedua, tipe budak atau pelayan (takut terhadap majikannya).
Ketiga, tipe 'arif (bersyukur atas segala yang diberikan Allah SWT
kepadanya). Dan tipe lainnya dinamakan sebagai tipe robot (otomatis,
tanpa pemikiran, tanpa pemahaman, dan tanpa penghayatan).
Tentu bijaksana, jika kita terbiasa melaksanakan ibadah menurut tipe
'arif. Sebab, sebagaimana dijelaskan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya
bahwa tidak sedikit amal (ibadat) yang dibatalkan atau dihapuskan
pahalanya akibat niatnya tidak murni karena Allah SWT. Wallahu 'alam.
Red: irf
http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/hikmah/10/07/13/124457-kedalaman-makna-surat-al-ikhlash
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================
Tidak ada komentar:
Posting Komentar