Minggu, 11 Juli 2010

[daarut-tauhiid] Menyibak Makna Spiritual Isra' Mi'raj

 

Menyibak Makna Spiritual Isra' Mi'raj

Oleh Nasaruddin Umar

Peristiwa Isra Mi'raj adalah perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW
dari Masjid Haram ke Masjid Aqsha yang sangat dramatik dan fantastik.
Dalam tempo singkat-kurang dari semalam (minal lail)-tetapi Nabi
berhasil menembus lapisan-lapisan spiritual yang amat jauh bahkan
hingga ke puncak (Sidratil Muntaha).

Walaupun terjadi dalam sekejap, tetapi memori Rasulullah SAW berhasil
menyalin pengalaman spiritual yang amat padat di sana. Kalau
dikumpulkan seluruh hadis Isra Mi'raj (baik sahih maupun tidak), maka
tidak cukup sehari-semalam untuk menceritakannya. Mulai dari
perjalanan horizontalnya (ke Masjid Aqsha) sampai perjalanan
vertikalnya (ke Sidratil Muntaha). Pengalaman dan pemandangan dari
langit pertama hingga langit ketujuh dan sampai ke puncak Sidratil
Muntaha.

Ada pertanyaan yang mengusik. Mengapa Allah SWT memperjalankan
hambanya di malam hari (lailan), bukan di siang hari (naharan)? "Maha
Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari
Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, yang telah Kami berkahi
sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari
tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar
lagi Maha Melihat." (QS al-Isra [17]: 1).

Dalam bahasa Arab kata lailah mempunyai beberapa makna. Ada makna
literal berarti malam, lawan dari siang. Ada makna alegoris (majaz)
seperti gelap atau kegelapan, kesunyian, keheningan, dan kesyahduan;
serta ada makna anagogis (spiritual) seperti kekhusyukan (khusyu'),
kepasrahan (tawakkal), kedekatan (taqarrub) kepada Allah.

Dalam syair-syair klasik Arab, ungkapan lailah lebih banyak digunakan
makna alegoris ketimbang makna literalnya. Seperti ungkapan syair
seorang pengantin baru: "Ya lalila thul, ya shubhi qif" (wahai malam
bertambah panjanglah, wahai Subuh berhentilah). Kata lailah di dalam
bait itu berarti kesyahduan, keindahan, kenikmatan, dan kehangatan;
sebagaimana dirasakan oleh para pengantin baru yang menyesali
pendeknya malam.

Di dalam syair-syair sufistik orang bijak (hukama) juga lebih banyak
menekankan makna anagogis kata lailah. Para sufi lebih banyak
menghabiskan waktu malamnya untuk mendaki (taraqqi) menuju Tuhan.
Mereka berterima kasih kepada lailah (malam) yang selalu menemani
kesendirian mereka. Perhatikan ungkapan Imam Syafii: Man thalabal ula
syahiral layali (barangsiapa yang mendambakan martabat utama banyaklah
berjaga di waktu malam), bukan sekadar berjaga. Kata al-layali di sini
berarti keakraban dan kerinduan antara hamba dan Tuhannya.

Arti lailah dalam ayat pertama surah al-Isra di atas menunjukkan makna
anagogis, yang lebih menekankan aspek kekuatan spiritual malam (the
power of night). Kekuatan emosional-spiritual malam hari yang dialami
Rasulullah, dipicu oleh suasana sedih yang sangat mendalam, karena
sang istri, Khadijah, dan sekaligus pelindungnya telah pergi untuk
selama-lamanya. Rasulullah memanfaatkan suasana duka di malam hari
sebagai kekuatan untuk bermunajat kepada Allah SWT.

Kesedihan dan kepasrahan yang begitu memuncak membawa Rasulullah
menembus batas-batas spiritual tertentu, bahkan sampai pada jenjang
puncak yang bernama Sidratil Muntaha. Di sanalah Rasulullah di-install
(diisi) dengan spirit luar biasa sehingga malaikat Jibril sebagai
panglima para malaikat juga tidak sanggup menembus puncak batas
spiritual tersebut.

Kehebatan malam hari juga digambarkan Tuhan di dalam Alquran: "Dan
pada sebahagian malam hari shalat Tahajudlah kalian sebagai suatu
ibadah tambahan bagi kalian: mudah-mudahan Tuhan kalian mengangkat
kalian ke tempat yang terpuji. (QS al-Isra [17]: 79).

"Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; Dan di akhir-akhir malam
mereka memohon ampun (kepada Allah)." (QS al-Dzariyat [51]: 17).

Kata lailah dalam ketiga ayat di atas, mengisyaratkan malam sebagai
rahasia untuk mencapai ketinggian dan martabat utama di sisi Allah SWT
di malam hari.

Ayat pertama (QS al-'Alaq [96]: 1-5) di turunkan di malam hari,
ayat-ayat tersebut sekaligus menandai pelantikan Muhammad SAW sebagai
Nabi di malam hari. Tidak lama kemudian turun ayat dalam surah
Al-Muddatstsir yang menandai pelantikan Nabi Muhammad, sekaligus
sebagai Rasul menurut kalangan ulama 'Ulumul Qur'an.

Peristiwa Isra dan Mi'raj, ketika seorang hamba mencapai puncak
maksimum (sudrah al-muntaha) juga terjadi di malam hari. Yang tidak
kalah pentingnya ialah lailah al-qadr khair min alf syahr (malam
lailatul qadr lebih mulia dari seribu bulan), bukannya siang hari
Ramadlan (nahar al-qadr).

Kecerdasan

Surah al-Isra [17] diapit oleh dua surah yang serasi yaitu al-Nahl
[16] dan al-Kahfi [18]. Surah al-Nahl dianggap simbol kecerdasan
intelektual, karena berkaitan dengan dunia keilmuan (kisah lebah).
Surah al-Kahfi sebagai simbol surah kecerdasan spiritual, karena
berkaitan dengan cerita keyakinan dan spiritualitas (kisah Nabi Khidir
dan Nabi Musa, Ashabul Kahfi dan Dzulqarnain).

Sedangkan surah Al-Isra sering dijadikan sebagai simbol kecerdasan
emosional, karena di dalamnya diceritakan pengaruh kematangan
emosional dan prestasi puncak seorang hamba. Itulah sebabnya, ketiga
surah yang menempati pertengahan juz Alquran disebut dengan surah tiga
serangkai, yaitu surah IQ, EQ, SQ.

Keutamaan di malam hari, juga banyak membuat anak manusia menjadi
lebih sadar (insyaf) dari perbuatan masa lalu yang kelam dan hitam.
Malam hari banyak menumpahkan air mata tobat para hamba yang menyadari
akan kesalahannya. Malam hari paling tepat untuk dijadikan momentum
menentukan cita-cita luhur.

Mungkin inilah salah satu keistimewaan pondok pesantren yang
memanfaatkan malam hari untuk memperbaiki akhlak dan budi pekerti
santrinya. Sementara di sekolah-sekolah umum, jarang sekali
memanfaatkan malam hari untuk pembinaan budi pekerti. Padahal, Allah
sudah mengisyaratkan bahwa pada umumnya shalat itu ditempatkan di
malam hari. Hanya shalat Zhuhur dan Ashar di siang hari, selebihnya di
malam hari (shalat Maghrib, Isya, Tahajjud, Witir, Tarawih, Fajr,
Subuh). Ini isyarat bahwa pendekatan pribadi secara khusus kepada
Tuhan lebih utama di malam hari.

Sebenarnya peristiwa Isra-Mi'raj mempunyai dua macam peristiwa.
Pertama, perjalanan horizontal dari Masjid Haram ke Masjid Aqsha. Dan
kedua, perjalanan vertikal dari Masjid Aqsha ke Sidratil Muntaha.
Perjalanan Isra mungkin masih bisa dideteksi dengan sains dan
teknologi, tetapi perjalanan Mi'raj sama sekali di luar kemampuan otak
pikiran manusia.

Perjalanan Mi'raj ini, juga masih diperdebatkan banyak ulama, apakah
dengan fisik dan roh Rasulullah atau hanya rohaninya saja. Mayoritas
ulama Suni memahami bahwa yang diperjalankan Tuhan ke Sidratil Muntaha
ialah Nabi Muhammad SAW secara utuh, lahir dan batin. Sementara
pendapat lain memahami hanya rohaninya saja.

Yang pasti, perjalanan singkat itu berhasil merekam berbagai
pemandangan spiritual bagi Rasulullah SAW, dan hendaknya bisa
dijadikan pelajaran dan hikmah bagi umat Islam. Sebab, perjalanan
malam hari itu, telah membangkitkan semangat baru Rasulullah dalam
menyebarkan dakwah Islam.

Red: irf

http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/hikmah/10/07/09/123996-menyibak-makna-spiritual-isra-miraj

__._,_.___
Recent Activity:
====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
       website:  http://dtjakarta.or.id/
====================================================
MARKETPLACE

Stay on top of your group activity without leaving the page you're on - Get the Yahoo! Toolbar now.


Get great advice about dogs and cats. Visit the Dog & Cat Answers Center.


Get real-time World Cup coverage on the Yahoo! Toolbar. Download now to win a signed team jersey!

.

__,_._,___

Tidak ada komentar: