Bagaimana Meraih Sifat Khusyuk?
Sumber dari : http://www.jkmhal.
<http://www.jkmhal.
1. Menghentikan maksiat. Setiap kali dosa makin berkurang, maka hati makin
bersinar. Dengan mengurangi maksiat, kita akan mendapatkan mujahadah dan
kesukaran sedikit demi sedikit. Sedikitkan maksiat sekemampuan kita.
2. Ingatlah hari kiamat, kematian, surga, dan neraka sekemampuan kita!
Ingatlah surga dan kenikmatan kita disurga,.. Ingatlah saat kita berdiri
dihadapan Allah di hari kiamat.
3. Sayangi manusia, agar hati kita menjadi khusyuk. Setiap kali kita
berinteraksi dengan manusia dengan kasih sayang, maka setiap kali itu pula
akan semakin khusyuk.
Tapi kita harus ingat! Sebelum kita menjadi hamba yang takut kepada Allah,
kita akan berjihad melawan hawa nafsu kita hingga kita takut kepada Allah.
Jika hati kita mulai terkait dengan Allah, maka kita akan menemukan hasil
takut kita, yakni jauh dari maksiat.
Iman bertambah dengan latihan. Ketika kita masuk kuliah, kita hanya
mengetahui satu hal. Dan ketika kita keluar, kita akan mengetahui banyak
hal. Hal itu terjadi, karena kita berlatih. Demikian juga iman dan Islam.
Maka latihlah diri kita! Coba tinggalkan maksiat, dan sekuat tenaga usahakan
agar hati selalu khusyuk. Cobalah mengingat hari kiamat; berinteraksi dengan
kasih sayang kepada manusia!
Jika kita melakukan hal itu, maka rasa takut kepada Allah akan timbul
Jika kita melakukan hal itu, maka rasa takut kepada Allah akan timbul di
hati kita setelah mujahadah. Jika rasa takut telah timbul, maka kita akan
menemukan diri kita melawan maksiat, bukan karena sulit, namun karena kita
menemukan kelezatan saat meninggalkannya.
Ketika rasa takut memasuki hati kita, maka ia akan membakar sarang-sarang
syahwat di hati kita. Kadang di suatu hari kita berkata, "Aku mungkin
meninggalkan segala sesuatu kecuali maksiat, Aku tidak akan mampu
meninggalkannya.
mengingat hari kiamat, dan hati kita akan menjadi takut. Di saat rasa takut
datang, saat itulah maksiat keluar dari hati.
Sangat menakjubkan, hasrat bermaksiat hilang begitu saja! Allah telah
mengeluarkannya dari hati kita, karena rasa takut telah membakar
sarang-sarang syahwat di hati kita.
Tingkatan pertama takut kepada Allah ialah membunuh maksiat. Nabi Yusuf
dihadapkan pada satu sikap -yang para pemuda banyak yang menjadi takluk di
hadapannya-, dan ia pemuda yang masih belia, tampan, terasing di negerinya,
dan tak dikenal orang. Sementara, tuan putrinya, isteri Aziz, menggoda
Yusuf, dan ia seorang wanita cantik jelita.
"Dan dia menutup pintu-pintu,
dia-istri Aziz- sendiri yang menawarkan diri, dan berkata, "Mariiah ke
sini"... (Yusuf : 23). Tapi hati Yusuf takut kepada Allah hingga ia berkata,
"Aku berlindung kepada Allah,..." (Yusuf : 23).
Siapakah yang mampu mengatakan ini dengan segala keteguhan hati di depan
bujukan syahwat yang sangat menggiurkan itu?!
"Dan wanita (Zulaikha) yang Yusu f tinggal di ncmahnya menggoda Yusuf untuk
menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya
berkata,'Marilah ke sini'. Yusu f berkaca, "Aku berlindung kepada Allah,
sungguh ti aanku telah memperlakukanku dengan baik". Sesungguhnya
orang-orang yang zulim tiadaakan beruntung." (Yusuf : 23)
Ketika kita mulai membunuh kemaksiatan di hati, Allah akan melihat takut
itu, sehingga kita akan naik ke tingkatan berikutnya, yaitu menangis karena
takut kepada Allah dan merasakan kelezatan tangisan tersebut. Nabi bersabda,
"Tidak akan masuk neraka, siapa yang menangis karena takut kepada Allah,
sehingga air susu itu kembali ke kantong kelenjar susu (tetek) binatan o, "
(HR. At-Turmudzi dan Imam Ahmad).
"Tidak ada yang paling Allah cintai dari dua tetesan dan dua bekas, yaitu:
tetesan dari air mata takut kepada AUah dan tetesan darah di jalan Allah.
Adapun dua bekas adalah bekas (berjihad) di jalan Allah dan bekas
(melakukan) kewajiban dari kewajiban-kewajiban Allah." (HR. At-Turmudzi)
Lalu Nabi * bersabda, "Barangsiapa yang mengingat Allah, dan kedua matanytt
banjir air mata, hingga air mata itu mengenai bumi, ia tidak akan di azab di
hari kiamat." (HR. Ath¬Thabrani dan Al, Hakim)
Setelah itu, kita akan naik ke tingkat selanjutnya: berinteraksi kepada
manusia dengan takut kepada Allah.
Umar bin Abdul Aziz berkata kepada pembantunya, "Jika kau melihatku
melakukan kezaliman pada manusia atau mengambil hak dari hak-hak manusia,
maka peganglah pakaianku, goyangkan diriku, lalu katakana, 'Wahai Umar,
tidakkah engkau takut kepada Allah?'."
[Non-text portions of this message have been removed]
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
===================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
===================================================
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
__,_._,___
Tidak ada komentar:
Posting Komentar