Messages In This Digest (21 Messages)
- 1a.
- [catcil] Dua Ayah yang Berpulang --> A tribute to Abah Nia From: Nursalam AR
- 1b.
- [rampai] Bapak --> A tribute to Abah Nia From: novi_ningsih
- 2a.
- Re: [Catcil] Sekuntum Kenangan 1 Agustus From: Bu CaturCatriks
- 3a.
- Lomba Esai The Japan Foundation From: Nursalam AR
- 3b.
- Re: Lomba Esai The Japan Foundation From: Hadian Febrianto
- 4a.
- Re: [Catcil] Internet: Kawasan Penuh Keajaiban From: Kang Dani
- 5a.
- Re: Berita duka From: Kang Dani
- 5b.
- Re: Berita duka From: interaktif
- 5c.
- Re: Berita duka From: Lia Octavia
- 5d.
- Re: Berita duka From: fla cheya
- 5e.
- Re: Berita duka From: sismanto
- 5f.
- Re: Berita duka From: suhadi hadi
- 5g.
- Re: Berita duka From: hariyanty thahir
- 5h.
- Re: Berita duka From: r widhiatma
- 6a.
- Fwd: [Lomba] Sayembara Cerpen-Cerber FEMINA From: Nursalam AR
- 6b.
- Re: Fwd: [Lomba] Sayembara Cerpen-Cerber FEMINA From: patisayang
- 7a.
- Re: [ruang tamu] perkenalan From: abang haris
- 7b.
- Re: [ruang tamu] perkenalan From: hariyanty thahir
- 7c.
- Re: [ruang tamu] perkenalan From: Nursalam AR
- 8a.
- Re: [catcil] Berawal dari Hinaan From: fil_ardy
- 9.
- [Catcil] Pejuangan Tuk Sebuah Kornea From: hariyanty thahir
Messages
- 1a.
-
[catcil] Dua Ayah yang Berpulang --> A tribute to Abah Nia
Posted by: "Nursalam AR" nursalam.ar@gmail.com
Mon Aug 3, 2009 8:29 pm (PDT)
* *
*Catatan: Tulisan di bawah pernah diposting pada 2006. Namun diposting ulang
sebagai tribute (penghormatan) untuk Abah Nia yang berpulang ke Rahmatullah
pada 3 Agustus 2009 ba'da Maghrib kemarin. Bahwa ia tidak sendiri, ada
banyak yang berduka, ada banyak yang kehilangan. Namun akan lebih banyak
lagi yang datang dan menemani meski memang figur sang Abah takkan pernah
tergantikan. *
**
*Untuk sang Abah, semoga arwahnya mendapat tempat yang layak di sisi-Nya dan
diterangi kuburnya dengan cahaya-Nya. Amin!*
**
*ps: untuk Sahabat Eska yang lain, ditunggu bentuk apresiasi yang lain
(puisi dll)!*
*=================*
**
**
*Dua Ayah yang Berpulang*
*Oleh: Nursalam AR*
* *
Di pojok rumah sakit darurat
*Seorang bapak renta di ambang ajal, tersengal*
*Ia berpesan pada putranya*
*Yang meratap, memegangi erat tangan kulit jeruk tuanya*
*"Anakku, nikmat adalah nikmat tatkala tiada*
*Saat di genggaman ia hanyalah kewajaran yang lazim ada."*
*Sang bapak pamit pergi, tidak untuk kembali*
*Ialah sang waktu*
*Kita adalah putranya*
*Yang acapkali mendurhakainya*
*Yang hanya sadar jika bencana menimpa*
*Dan kembali lupa setelahnya.*
* (puisi Pesan Ajal oleh Nursalam AR)***
Puisi ini merupakan puisi favoritku, sering aku gumamkan kala
sepi atau kirimkan via sms kepada teman-teman dekat. Pertengahan Agustus
lalu, alhamdulillah, puisi ini masuk dalam seleksi antologi puisi amal
'Anthology Empati Jogja' (Pustaka Jamil, 2006) kerjasama Komunitas Puisi FLP
dan Portal Infaq. Alhamdulillah, sebagai Muslim, aku punya tabungan amal di
akhirat nanti. Sebagai penulis, aku sudah punya eksistensi dengan sebuah
buku.
Tapi aku tidak ingin bicara soal antologi puisi itu kali ini. Ketika aku
tuliskan puisi ini rasanya aku seperti mengingatkan pada diri sendiri bahwa
kematian itu begitu dekat, bahkan bisa terjadi begitu cepat dan menimpa
sanak kerabat terdekat. Yah, suatu hikmah atau penyesalan memang sudah
tugasnya untuk datang belakangan.
Hari Jum'at, 8 September 2006 (15 Sya'ban 1427 H), ayahku,
Abdul Rahman Hasan (73) berpulang ke rahmatullah. Tepat *ba'da* maghrib,
18.30 WIB. Aku sendiri saat itu tak sempat menyaksikan saat-saat terakhirnya
karena bertugas menjemput dokter untuk memeriksa kondisi ayah yang tampak
kritis. Tapi siapa nyana Allah mencabut nyawanya demikian cepat.
Sehari sebelumnya, beliau memang mengeluh sesak nafas dan hernia
(*turun bero'*orang Betawi bilang), keluhan serupa sejak beberapa tahun
silam. Namun beliau anti dokter dan paling enggan dirawat di rumah sakit.
Beliau lebih memilih pengobatan alternatif atau obat-obatan yang dijual
bebas. Kami berlima, anak-anaknya, paham betul karakter beliau yang keras
dan kukuh pendirian. Meski sebetulnya kami sayang betul beliau. Karena
beliaulah satu-satunya orang tua kami selepas kematian ibu pada 1997 (akibat
kerusakan ginjal).
Bahkan pada Jum'at pagi, aku dan adikkuselepas menikahnya dua
saudaraku, praktis hanya kami berempat yang tinggal di rumahmasih sempat
bekerja ke luar rumah. Aku pribadi pikir *aba* (panggilan kami untuk ayah)
hanya sakit seperti biasa, yang biasanya hanya 1-2 hari kemudian sembuh.
Fisik beliau yang lumayan prima untuk lelaki sebayanyabanyak orang mengira
beliau masih berusia 50 atau 60an tahun--cukup meyakinkanku untuk
meninggalkan beliau bersama kakakku yang mengajar di sebuah TK Qur'an pada
sore hari.
*Ba'da* Jumatan di sebuah masjid di daerah Jakarta Selatan,
setelah urusan dengan klien selesai, sempat terbersit niatku untuk segera
pulang ke rumah. Pekerjaanku sebagai *freelancer*, penerjemah lepas
memungkinkan jam kerja yang fleksibel. Tapi aku tepis kekhawatiran dan aku
upayakan cari obat dulu untuk hernia. Hingga tepat maghrib, pukul 18.00 WIB,
aku tiba di rumah.
Ternyata kondisi *aba* sudah sangat mengkhawatirkan, dengan
mulut ternganga dan mata terpejam serta tak mampu lagi bicara. Lekas setelah
sholat maghrib *fardhiyah* 'kujemput dokter di klinik terdekat untuk
memastikan kondisi beliau. Namun, Allah berkehendak lain. Ketika aku dan Bu
Dokter tiba, 'kulihat *aba* sudah tertidur lelap. Ucapan Bu Dokter pun
singkat saja,"Bapak sudah tidak ada."
"Periksa lagi, Dok!" perintahku seakan tak percaya. Di mataku, *
aba* hanya sedang tidur dan masih terlihat dadanya naik turun bernafas.
"Benar, Pak, sudah tidak ada. Maaf."
Deg. Ya Allah, mengapa tak kuturuti firasatku untuk pulang cepat
*ba'da* Jum'atan tadi? Sekiranya demikian, mungkin nyawanya lekas tertolong?
Berbagai kilasan kenangan melintas cepat bagai siluet. Tangis pecah. Dadaku
sesak. Nyaris aku limbung, jika tak sadar bahwa ada tugas segera untuk
memberitahu sanak kerabat perihal berita duka ini.
"Kapan loe kawin, lam?" demikian tanya *aba* selalu beberapa bulan ini.
"Ah, gampang, Ba'. Tunggu aje tanggal maennye," jawabku selalu dengan nada
bercanda. Beliau memang senang bercanda, sama seperti almarhumah ibu. Tapi
barangkali itu keinginan terakhirnya. Sama seperti permintaanya untuk
dibelikan lontong sayur pada malam Jum'at menjelang kematiannya. Padahal
tukang lontong sayur hanya ada subuh dan pagi hari. *Kayak orang ngidam aje*,
ledekku saat itu. *Ah, nikmat adalah nikmat tatkala tiada, saat di genggaman
ia hanyalah kewajaran yang lazim ada.*
Sms dan telepon duka cita berdatangan. Sempat HP-ku
*hang*karena ada 50 pesan tak terbaca yang masuk bersamaan.
Tapi ada sebuah keunikan.
"Bang, abang baik-baik aja ya. Insya Allah, besok Yuny ke sana
bareng Amy. Abang tetap sabar ya," suara lembut di ujung sana menghiburku.
Aku tak sempat menjawab, hanya mengangguk dengan tersengguk haru. Aku jadi
lebih pendiam malam itu.
'Ujan Gerimis'-nya Benyamin Sueb terdengar kembali. Itu bunyi *
ringtone* Hpku. Kulihat layar HP. Nomornya tak kukenal. Saat itu pukul 20.00
WIB.
"Assalammu'alaikum. Salam, ini Mamanya Yuny. Ibu turut
berbelasungkawa. Tetap tabah. Salam juga dari bapak." Suara keibuan mengiang
di telingaku. Pernyataan turut berduka dari Lampung sana.
"Iya. Kirim salam ya," terdengar suara berat. Mungkin itu suara
Pak Sulaiman Usman, ayah Yuny. Seseorang yang kurencanakan akan kutemui pada
Lebaran nanti. Untuk sebuah acara penting dalam hidupku.
Mama Yuny menutup telepon dengan sebuah penghiburan.
Berturut-turut masuk telepon dari teman-teman yang lain. Sedikitnya bebanku
agak berkurang. Aku tak sendiri.
Pukul 23.00 WIB. Aku dan saudara-saudara sedang menerima
tetangga dan tamu yang bertakziah ke rumah. Tenda mulai terpasang di depan
rumah. Kursi-kursi sudah ramai diduduki para pelayat. Aku sedang melayani
tetangga yang sibuk bercerita dengan berderai airmata betapa baiknya
*aba*yang banyak membantu dia dan keluarganya. Ah, moga kesaksiannya
itu jadi
pertanda kematian *aba* yang *khusnul khotimah*. Amien
Masuk sebuah SMS. "Abang, Yuny disuruh pulang ke Lampung. Bapak
meninggal." Pesan singkat yang mengejutkan. Bukankan 3 jam yang lalu
suaranya masih terdengar sehat-sehat saja? Bukankah beliau tidak ada kabar
sakit beberapa minggu ini?
Beberapa hari kemudian baru kuketahui ada skenario Allah yang
berjalan demikian unik. Pukul 22.00, Pak Sulaiman izin ke toilet. Ternyata
beliau batuk darah. Diduga pembuluh darahnya pecah. Beliau pengidap
hipertensi dan diabetes. Belasan menit kemudian, di pangkuan istrinya,
dengan mengucapkan istighfar beliau menghembuskan nafas terakhir. Ah,
barangkali *aba* dan Pak Sulaiman sudah janjian di surga sana, gumamku
tersenyum nyeri. Ya, dua ayahku telah berpulang.Ya Allah, Engkaulah Sang
Sutradara semesta!
Kematian adalah sarana belajar mengingat Allah, pesan Imam
Ghazali. Kita memang hanya debu kecil di tangan Allah SWT. Tiada guna
sombong seakan hidup kita kekal selamanya. Karena ketika kematian kita hanya
tubuh telanjang tak berdaya. Hanya amal yang menjadi pembela kita, bukan
pengacara atau *bodyguard* kekar.
Di kala jatuh cinta, seseorang menjadi penyair. Di kala berduka,
seseorang menjadi penyair dan filsuf sekaligus.
--
"Open up your mind and fly!"
Nursalam AR
Penerjemah, Penulis & Editor
0813-10040723
021-92727391
www.nursalam.multiply. com
www.facebook.com/nursalam. ar
- 1b.
-
[rampai] Bapak --> A tribute to Abah Nia
Posted by: "novi_ningsih" novi_ningsih@yahoo.com novi_ningsih
Mon Aug 3, 2009 9:05 pm (PDT)
Siapapun ayah kita tak akan tergantikan posisinya oleh siapapun...
Duh, tumpah, deh...
*********************
Bapak...
dia yang ajarkanku
mengenali huruf...
lalu, dia juga yang mengajarkanku
membaca...
kata demi kata...
menyuguhkanku bacaan,
mengajariku banyak hal...
kami harus mandiri...
kami harus sekolah yang tinggi...
belajar terus sampai mati...
menulis, menulis untuk sebuah prestasi...
hari itu...
jasadnya tertutup kain...
tangis tak bisa tertahan lagi..
pecah...
dia pergi..
tak terduga...
tak dinyana...
tanpa pesan tersurat
tanpa kata-kata terakhir
AAAh,,, dia tidak pernah pergi...
di ada di sini
di hati...
dan berjuta pesan
dia tinggalkan untuk kami...
(21 januari 2004 untuk berjuta cinta pada bapak...)
*Nia sayang, ingat selalu abah Nia dalam kebaikan. Moga kita bisa terus berusaha menjadi anak yang solehah, hingga bisa terus menjadi amal tak terputus bagi orang tua kita.
--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups. , Nursalam AR <nursalam.ar@com ...> wrote:
>
> * *
> *Catatan: Tulisan di bawah pernah diposting pada 2006. Namun diposting ulang
> sebagai tribute (penghormatan) untuk Abah Nia yang berpulang ke Rahmatullah
> pada 3 Agustus 2009 ba'da Maghrib kemarin. Bahwa ia tidak sendiri, ada
> banyak yang berduka, ada banyak yang kehilangan. Namun akan lebih banyak
> lagi yang datang dan menemani meski memang figur sang Abah takkan pernah
> tergantikan. *
> **
> *Untuk sang Abah, semoga arwahnya mendapat tempat yang layak di sisi-Nya dan
> diterangi kuburnya dengan cahaya-Nya. Amin!*
> **
> *ps: untuk Sahabat Eska yang lain, ditunggu bentuk apresiasi yang lain
> (puisi dll)!*
> *=================*
> **
> **
> *Dua Ayah yang Berpulang*
>
> *Oleh: Nursalam AR*
>
> * *
>
> Di pojok rumah sakit darurat
>
> *Seorang bapak renta di ambang ajal, tersengal*
>
> *Ia berpesan pada putranya*
>
> *Yang meratap, memegangi erat tangan kulit jeruk tuanya*
>
> *"Anakku, nikmat adalah nikmat tatkala tiada*
>
> *Saat di genggaman ia hanyalah kewajaran yang lazim ada."*
>
> *Sang bapak pamit pergi, tidak untuk kembali*
>
> *Ialah sang waktu*
>
> *Kita adalah putranya*
>
> *Yang acapkali mendurhakainya*
>
> *Yang hanya sadar jika bencana menimpa*
>
> *Dan kembali lupa setelahnya.*
>
> * (puisi Pesan Ajal oleh Nursalam AR)***
>
> Puisi ini merupakan puisi favoritku, sering aku gumamkan kala
> sepi atau kirimkan via sms kepada teman-teman dekat. Pertengahan Agustus
> lalu, alhamdulillah, puisi ini masuk dalam seleksi antologi puisi amal
> `Anthology Empati Jogja' (Pustaka Jamil, 2006) kerjasama Komunitas Puisi FLP
> dan Portal Infaq. Alhamdulillah, sebagai Muslim, aku punya tabungan amal di
> akhirat nanti. Sebagai penulis, aku sudah punya eksistensi dengan sebuah
> buku.
>
> Tapi aku tidak ingin bicara soal antologi puisi itu kali ini. Ketika aku
> tuliskan puisi ini rasanya aku seperti mengingatkan pada diri sendiri bahwa
> kematian itu begitu dekat, bahkan bisa terjadi begitu cepat dan menimpa
> sanak kerabat terdekat. Yah, suatu hikmah atau penyesalan memang sudah
> tugasnya untuk datang belakangan.
>
> Hari Jum'at, 8 September 2006 (15 Sya'ban 1427 H), ayahku,
> Abdul Rahman Hasan (73) berpulang ke rahmatullah. Tepat *ba'da* maghrib,
> 18.30 WIB. Aku sendiri saat itu tak sempat menyaksikan saat-saat terakhirnya
> karena bertugas menjemput dokter untuk memeriksa kondisi ayah yang tampak
> kritis. Tapi siapa nyana Allah mencabut nyawanya demikian cepat.
>
> Sehari sebelumnya, beliau memang mengeluh sesak nafas dan hernia
> (*turun bero'*orang Betawi bilang), keluhan serupa sejak beberapa tahun
> silam. Namun beliau anti dokter dan paling enggan dirawat di rumah sakit.
> Beliau lebih memilih pengobatan alternatif atau obat-obatan yang dijual
> bebas. Kami berlima, anak-anaknya, paham betul karakter beliau yang keras
> dan kukuh pendirian. Meski sebetulnya kami sayang betul beliau. Karena
> beliaulah satu-satunya orang tua kami selepas kematian ibu pada 1997 (akibat
> kerusakan ginjal).
>
> Bahkan pada Jum'at pagi, aku dan adikkuselepas menikahnya dua
> saudaraku, praktis hanya kami berempat yang tinggal di rumahmasih sempat
> bekerja ke luar rumah. Aku pribadi pikir *aba* (panggilan kami untuk ayah)
> hanya sakit seperti biasa, yang biasanya hanya 1-2 hari kemudian sembuh.
> Fisik beliau yang lumayan prima untuk lelaki sebayanyabanyak orang mengira
> beliau masih berusia 50 atau 60an tahun--cukup meyakinkanku untuk
> meninggalkan beliau bersama kakakku yang mengajar di sebuah TK Qur'an pada
> sore hari.
>
> *Ba'da* Jumatan di sebuah masjid di daerah Jakarta Selatan,
> setelah urusan dengan klien selesai, sempat terbersit niatku untuk segera
> pulang ke rumah. Pekerjaanku sebagai *freelancer*, penerjemah lepas
> memungkinkan jam kerja yang fleksibel. Tapi aku tepis kekhawatiran dan aku
> upayakan cari obat dulu untuk hernia. Hingga tepat maghrib, pukul 18.00 WIB,
> aku tiba di rumah.
>
> Ternyata kondisi *aba* sudah sangat mengkhawatirkan, dengan
> mulut ternganga dan mata terpejam serta tak mampu lagi bicara. Lekas setelah
> sholat maghrib *fardhiyah* `kujemput dokter di klinik terdekat untuk
> memastikan kondisi beliau. Namun, Allah berkehendak lain. Ketika aku dan Bu
> Dokter tiba, `kulihat *aba* sudah tertidur lelap. Ucapan Bu Dokter pun
> singkat saja,"Bapak sudah tidak ada."
>
> "Periksa lagi, Dok!" perintahku seakan tak percaya. Di mataku, *
> aba* hanya sedang tidur dan masih terlihat dadanya naik turun bernafas.
>
> "Benar, Pak, sudah tidak ada. Maaf."
>
> Deg. Ya Allah, mengapa tak kuturuti firasatku untuk pulang cepat
> *ba'da* Jum'atan tadi? Sekiranya demikian, mungkin nyawanya lekas tertolong?
> Berbagai kilasan kenangan melintas cepat bagai siluet. Tangis pecah. Dadaku
> sesak. Nyaris aku limbung, jika tak sadar bahwa ada tugas segera untuk
> memberitahu sanak kerabat perihal berita duka ini.
>
> "Kapan loe kawin, lam?" demikian tanya *aba* selalu beberapa bulan ini.
>
> "Ah, gampang, Ba'. Tunggu aje tanggal maennye," jawabku selalu dengan nada
> bercanda. Beliau memang senang bercanda, sama seperti almarhumah ibu. Tapi
> barangkali itu keinginan terakhirnya. Sama seperti permintaanya untuk
> dibelikan lontong sayur pada malam Jum'at menjelang kematiannya. Padahal
> tukang lontong sayur hanya ada subuh dan pagi hari. *Kayak orang ngidam aje*,
> ledekku saat itu. *Ah, nikmat adalah nikmat tatkala tiada, saat di genggaman
> ia hanyalah kewajaran yang lazim ada.*
>
> Sms dan telepon duka cita berdatangan. Sempat HP-ku
> *hang*karena ada 50 pesan tak terbaca yang masuk bersamaan.
>
> Tapi ada sebuah keunikan.
>
> "Bang, abang baik-baik aja ya. Insya Allah, besok Yuny ke sana
> bareng Amy. Abang tetap sabar ya," suara lembut di ujung sana menghiburku.
> Aku tak sempat menjawab, hanya mengangguk dengan tersengguk haru. Aku jadi
> lebih pendiam malam itu.
>
> `Ujan Gerimis'-nya Benyamin Sueb terdengar kembali. Itu bunyi *
> ringtone* Hpku. Kulihat layar HP. Nomornya tak kukenal. Saat itu pukul 20.00
> WIB.
>
> "Assalammu'alaikum. Salam, ini Mamanya Yuny. Ibu turut
> berbelasungkawa. Tetap tabah. Salam juga dari bapak." Suara keibuan mengiang
> di telingaku. Pernyataan turut berduka dari Lampung sana.
>
> "Iya. Kirim salam ya," terdengar suara berat. Mungkin itu suara
> Pak Sulaiman Usman, ayah Yuny. Seseorang yang kurencanakan akan kutemui pada
> Lebaran nanti. Untuk sebuah acara penting dalam hidupku.
>
> Mama Yuny menutup telepon dengan sebuah penghiburan.
> Berturut-turut masuk telepon dari teman-teman yang lain. Sedikitnya bebanku
> agak berkurang. Aku tak sendiri.
>
> Pukul 23.00 WIB. Aku dan saudara-saudara sedang menerima
> tetangga dan tamu yang bertakziah ke rumah. Tenda mulai terpasang di depan
> rumah. Kursi-kursi sudah ramai diduduki para pelayat. Aku sedang melayani
> tetangga yang sibuk bercerita dengan berderai airmata betapa baiknya
> *aba*yang banyak membantu dia dan keluarganya. Ah, moga kesaksiannya
> itu jadi
> pertanda kematian *aba* yang *khusnul khotimah*. Amien
>
> Masuk sebuah SMS. "Abang, Yuny disuruh pulang ke Lampung. Bapak
> meninggal." Pesan singkat yang mengejutkan. Bukankan 3 jam yang lalu
> suaranya masih terdengar sehat-sehat saja? Bukankah beliau tidak ada kabar
> sakit beberapa minggu ini?
>
> Beberapa hari kemudian baru kuketahui ada skenario Allah yang
> berjalan demikian unik. Pukul 22.00, Pak Sulaiman izin ke toilet. Ternyata
> beliau batuk darah. Diduga pembuluh darahnya pecah. Beliau pengidap
> hipertensi dan diabetes. Belasan menit kemudian, di pangkuan istrinya,
> dengan mengucapkan istighfar beliau menghembuskan nafas terakhir. Ah,
> barangkali *aba* dan Pak Sulaiman sudah janjian di surga sana, gumamku
> tersenyum nyeri. Ya, dua ayahku telah berpulang.Ya Allah, Engkaulah Sang
> Sutradara semesta!
>
> Kematian adalah sarana belajar mengingat Allah, pesan Imam
> Ghazali. Kita memang hanya debu kecil di tangan Allah SWT. Tiada guna
> sombong seakan hidup kita kekal selamanya. Karena ketika kematian kita hanya
> tubuh telanjang tak berdaya. Hanya amal yang menjadi pembela kita, bukan
> pengacara atau *bodyguard* kekar.
>
> Di kala jatuh cinta, seseorang menjadi penyair. Di kala berduka,
> seseorang menjadi penyair dan filsuf sekaligus.
>
>
>
>
>
>
> --
> "Open up your mind and fly!"
>
> Nursalam AR
> Penerjemah, Penulis & Editor
> 0813-10040723
> 021-92727391
> www.nursalam.multiply. com
> www.facebook.com/nursalam. ar
>
- 2a.
-
Re: [Catcil] Sekuntum Kenangan 1 Agustus
Posted by: "Bu CaturCatriks" punya_retno@yahoo.com punya_retno
Mon Aug 3, 2009 8:29 pm (PDT)
waah, bapaknya mbak rini sungguh perhatian ya dgn bacaan anak2nya :), subhanallah.
kalo aku jadi beliau, aku pasti banggaaa sekali dgn mbak rini :), dan bahagiaaa sekali baca tulisan ini.
tks for writing, mbak.
semoga amal ibadah beliau diterima di sisiNya.
dan semoga doa utk beliau tidak terputus ya, amin
-retno-
--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups. , "Rini Agus Hadiyono" <rinurbad@..com .> wrote:
>
> Pak, ini hari Sabtu. Hari lahir kita. Karena Sabtu diperlambangkan tanah dalam adat Sunda, banyak yang bilang aku dan Bapak cocok sebab sama-sama keras. Walau sifat itu juga yang kerap membuat kita adu argumen.
>
> Pak, engkaulah karibku dalam keluarga kecil kita. Karena golongan darah kita sama-sama A, sama-sama repot jika ditusuk jarum untuk cek darah atau ditembus slang infus. Dulu kita sering tertawa memanjang-manjang huruf A..Aduhai, Amboi, Alus (Bagus).. Denganmu aku berbagi kesukaan lagu-lagu Evergreen, walau kemudian aku juga meminati lagu rock yang katamu brang breng brong teu paruguh.
>
> Pak, tiap akhir semester aku deg-degan. Seperti hendak presentasi di hadapan klien atau bos, mengumpulkan aneka alasan untuk menjelaskan mengapa raporku kebakaran, mengapa aku harus mengulang mata kuliah Dasar-dasar Filsafat, dan mengapa aku terpaksa mengecewakanmu dengan tak bisa lulus segera.
>
> Pak, ada senyum bila aku melihat coklat. Tak peduli gigiku seperti diterjang pasukan tikus (kata orang), kau tak pernah melarangku makan benda manis itu. Selalu ada setiap minggu, mulai dari coklat ayam dan coklat dua ratus perak yang sekarang langka. Lambung yang tak lagi berdaya membuatku menyerah menelan makanan itu banyak-banyak.
>
> Pak, salah satu komik yang kaubundel sepulang kantor tahun 80-an masih tersimpan. Satu yang selamat dari sapuan banjir hampir 20 tahun silam, meski sedikit cabik-cabik. Ingat kala kau membawaku ke Gunung Agung Palaguna, memberiku hadiah karena raporku bagus. Sesekali di hari Minggu kita ke Gramedia Merdeka dan kau tak percaya aku telah menuntaskan baca sebuah buku Enid Blyton lantaran halamannya nampak utuh.
>
> Pak, hatiku robek melihat rumah makan Padang tempat kita nongkrong bareng sekian tahun di Cikapundung berubah menjadi bandar togel. Di sana kita bercakap-cakap menikmati rendang, menyaksikan gerobak dorong berkembang menjadi warung besar dan dua belas bumbu masakan khas Bukittinggi, kemudian kaubelikan aku buku-buku Balai Pustaka. Di sana kita melihat pemilik warung menghardik tegas oknum aparat yang tak mau bayar setelah makan. Di sana juga potret jatuh-bangunnya hidup, secoklat air sungai yang mengalir di bawah jembatan.
>
> Pak, airmataku masih berlinang setiap kali membaca Tell Me Your Dreams-nya Sidney Sheldon. Novel itu mulai mencoklat halamannya karena berpuluh kali kubuka dan kusimak tuntas. Kau yang membelikannya kala aku terkapar dihajar typhus di rumah sakit. Engkau jugalah yang memperkenalkan karya sang master storyteller kepadaku sebelumnya, walau berhilangan di tangan orang tak bertanggungjawab dan membuatku kapok meminjamkan buku.
>
> Pak, ini hari Sabtu. Hari lahir kita. Terkuak ingatan akan restumu kala aku memutuskan mundur dari dunia perkantoran dan memilih kerja mandiri. Tertancap di benak, kalimat serupa wasiatmu, "Kalau menguasai bahasa asing, kamu bisa hidup, Nak. Dan Bapak tidak perlu khawatir lagi.."
>
> Pak, dua tahun sudah engkau berpulang. Kau telah mengajarkanku satu hal, terdapat banyak cara untuk mencintai seseorang.
>
- 3a.
-
Lomba Esai The Japan Foundation
Posted by: "Nursalam AR" nursalam.ar@gmail.com
Mon Aug 3, 2009 8:50 pm (PDT)
*Lomba Esai Bagi Mahasiswa
Tema: Jepang di Mata Orang Indonesia
*The Japan Foundation mengundang anda dengan kriteria di bawah ini untuk
mengikuti lomba esai tentang Jepang:
1. Warga negara Indonesia
2. Berusia di antara 18-23 tahun.
Kirimkan karya tulis anda berbentuk esai (berupa hasil print-out dan soft
copy dalam CD) ke alamat di bawah ini:
The Japan Foundation, Jakarta
Gedung Summitmas I, Lt. 3
Jl. Jenderal Sudirman Kav. 61-62
Jakarta 12190
u.p. Dipo Siahaan
Kami akan memilih 5 karya terbaik untuk mendapatkan hadiah sebagai berikut:
Juara 1: Rp 2 juta
Juara 2: Rp 1.5 juta
Juara 3: Rp 1 juta
2 Juara Harapan, masing-masing Rp 500.000
Karya tulis para pemenang ini juga akan dikumpulkan untuk diterbitkan dalam
sebuah buku. Buku terbitan the Japan Foundation tersebut kemudian akan
dibagikan ke berbagai Perpustakaan dan Taman Bacaan di seluruh Indonesia.
*Karya tulis diterima paling lambat hari Senin, 5 Oktober 2009.* Pengumuman
pemenang akan diadakan pada:
Hari/Tanggal : Jumat, 6 November 2009
Tempat : Aula The Japan Foundation, Jakarta
Mohon agar memperhatikan persyaratan di bawah sebelum mengirimkan karya
tulis anda:
1. Naskah harus orisinil, bukan saduran, terjemahan atau jiplakan.
2. Belum pernah dilombakan atau dipublikasi.
3. Ditulis dalam Bahasa Indonesia.
4. Diketik dalam program MS Word for Windows, huruf Times New Roman 12pt,
spasi ganda, kertas A4.
5. Panjang tulisan tidak lebih dari 10 halaman.
6. Naskah dikirim dalam bentuk hasil print-out dan soft copy yang disimpan
dalam CD.
7. Sertakan nama dan alamat lengkap, fotokopi kartu identitas, nomor
telepon/fax dan ponsel pada lembaran kertas terpisah dari esai.
8. Naskah harus merupakan hasil karya individu, tidak boleh karya
kolaborasi.
Info lebih lanjut silahkan hubungi Dipo via email ke
dipo@jpf.or.id <dipo%40jpf.or.id>;
telpon (021) 520 1266, atau fax (021) 525 5159.
*Sumber: Milis Pasarbuku*
--
"Open up your mind and fly!"
Nursalam AR
Penerjemah, Penulis & Editor
0813-10040723
021-92727391
www.nursalam.multiply. com
www.facebook.com/nursalam. ar
- 3b.
-
Re: Lomba Esai The Japan Foundation
Posted by: "Hadian Febrianto" hadianf@gmail.com hadian.kasep
Mon Aug 3, 2009 9:44 pm (PDT)
wah saya yang 17 tahun ga bisa ikutan ya?
2009/8/4 Nursalam AR <nursalam.ar@gmail.com >
>
>
> *Lomba Esai Bagi Mahasiswa
> Tema: Jepang di Mata Orang Indonesia
>
> *The Japan Foundation mengundang anda dengan kriteria di bawah ini untuk
> mengikuti lomba esai tentang Jepang:
>
> 1. Warga negara Indonesia
> 2. Berusia di antara 18-23 tahun.
>
> Kirimkan karya tulis anda berbentuk esai (berupa hasil print-out dan soft
> copy dalam CD) ke alamat di bawah ini:
>
> The Japan Foundation, Jakarta
> Gedung Summitmas I, Lt. 3
> Jl. Jenderal Sudirman Kav. 61-62
> Jakarta 12190
> u.p. Dipo Siahaan
>
> Kami akan memilih 5 karya terbaik untuk mendapatkan hadiah sebagai berikut:
> Juara 1: Rp 2 juta
> Juara 2: Rp 1.5 juta
> Juara 3: Rp 1 juta
> 2 Juara Harapan, masing-masing Rp 500.000
>
> Karya tulis para pemenang ini juga akan dikumpulkan untuk diterbitkan dalam
> sebuah buku. Buku terbitan the Japan Foundation tersebut kemudian akan
> dibagikan ke berbagai Perpustakaan dan Taman Bacaan di seluruh Indonesia.
>
> *Karya tulis diterima paling lambat hari Senin, 5 Oktober 2009.*Pengumuman pemenang akan diadakan pada:
>
> Hari/Tanggal : Jumat, 6 November 2009
> Tempat : Aula The Japan Foundation, Jakarta
>
> Mohon agar memperhatikan persyaratan di bawah sebelum mengirimkan karya
> tulis anda:
>
> 1. Naskah harus orisinil, bukan saduran, terjemahan atau jiplakan.
> 2. Belum pernah dilombakan atau dipublikasi.
> 3. Ditulis dalam Bahasa Indonesia.
> 4. Diketik dalam program MS Word for Windows, huruf Times New Roman 12pt,
> spasi ganda, kertas A4.
> 5. Panjang tulisan tidak lebih dari 10 halaman.
> 6. Naskah dikirim dalam bentuk hasil print-out dan soft copy yang disimpan
> dalam CD.
> 7. Sertakan nama dan alamat lengkap, fotokopi kartu identitas, nomor
> telepon/fax dan ponsel pada lembaran kertas terpisah dari esai.
> 8. Naskah harus merupakan hasil karya individu, tidak boleh karya
> kolaborasi.
>
> Info lebih lanjut silahkan hubungi Dipo via email ke dipo@jpf.or.id <dipo%40jpf.or.id>;
> telpon (021) 520 1266, atau fax (021) 525 5159.
>
> *Sumber: Milis Pasarbuku*
>
>
> --
> "Open up your mind and fly!"
>
> Nursalam AR
> Penerjemah, Penulis & Editor
> 0813-10040723
> 021-92727391
> www.nursalam.multiply. com
> www.facebook.com/nursalam. ar
>
>
--
Regards,
Hadian Febrianto, S.Si
PT SAGA VISI PARIPURNA
Jl. PHH Musthofa no.39
Surapati Core Blok K-7 Bandung
Ph: (+6222) 8724 1434
Fax: (+6222) 8724 1435
- 4a.
-
Re: [Catcil] Internet: Kawasan Penuh Keajaiban
Posted by: "Kang Dani" fil_ardy@yahoo.com fil_ardy
Mon Aug 3, 2009 9:03 pm (PDT)
@ Mas Azis: Makasih dah baca, Ustadz :) masa sih kita ketemu di rumahnya Divin? :D saya malah lupa. Bukannya kita ketemu pertama kali di Portal Infaq, ustadz? *lupa mode on*
@ Mbak Diah : Hehehe, kalo soal prestasimah, terusterang --mengamini bang salam-- saya sering jelous sama sahabat SK yang lain yang sudah malang melintang di dunia tulis menulis. Punya karya banyak dan lain sebagainyah. Hehehehe. Tapi insyaAlloh jelous yang ini untuk kebaikan. tul kan Bang Salam? :)
@ Bang Nursalam: heuheuheu, terimakasih, Brow :D. Jadi gini ceritanya, tulisan ini saya ikutkan lomba di blogdetik tentang pengalaman berinternet pertama kali. Dan alhamdulillah masuk 10besar :D Info lengkapnya di sini
: http://blogdetik.com/2009/ 07/31/inilah- pemenang- kontes-my- first-online- experience/
Kalo soal harrypotter, saya memang tertarik banget dengan kedalaman riset JKR dalam detail2 untuk harry, bahkan untuk mantera2nya sekalipun memang mengandung arti harfiah yang dimodifikasi sedemikian rupa. Jadi terinspirasi :D, dan memang belum nonton layar lebarnya euy. heuheuheu
@ Mbak Indar : Mbake, ah orasimu bikin aku GR :D, sama. Kok, sejak kenal pertamak kali sama mbak Indar saya sudah terkagum2 dengan beliau karena cerbung2nya yang sering saya baca waktu itu. terbukti kan waktu dirimu gabung pertama kali di FLP DKI saya mengenalkan dirimu ke temen2 yang lain lengkap dengan promosi bahwa mbak indar adalah penulis handal :)
@ Bu Catur: Hihihihi, bener kok bu, Kayaknya semua orang punya pengalama konyol pertama kali berinterksi dengan internet ya :D malah waktu itu pernah kepikiran mau kursus internet. Whoahahahaha, untung ga jadi :D
Btw, Bang Nursalam saya suka banget dengan paragraf ini:
"Yah, to be fair, memang ada beberapa kasus atau kejadian di Internet yang kerap menghempaskan saya atau sedikitnya membuat luka hati. Tapi, dengan segenap manfaat akan keberadaannya, jika Internet itu manusia maka akan saya jabat erat tangannya dengan senyum tulus khas saya (tsahh!) sambil berucap,"Thank you, you raised me up!"."
Inspiring banget nih. Heuheuheu. Sepertinya saya juga akan berlaku sama dengan internet. Sebuah kawasan ajaib yang sulit saya tinggalkan :D
Dani Ardiansyahwww.sekolah-kehidupa n.com
www.catatankecil.multiply. com
- 5a.
-
Re: Berita duka
Posted by: "Kang Dani" fil_ardy@yahoo.com fil_ardy
Mon Aug 3, 2009 9:07 pm (PDT)
Innalillahi wa inna ilayhi rooji'un. yang sabar ya haw. Semoga Abah senantiasa mendapatkan tempat yang layak di sisi khaliqnya. Diampuni segala dosa dan kesalahan. Amin
Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan yang seluas-luasnya. Amin ya Robb. Punten belum bisa datang takziyah.
Dani Ardiansyah
www.sekolah-kehidupan. com
www.catatankecil.multiply. com
- 5b.
-
Re: Berita duka
Posted by: "interaktif" diifaa_03@yahoo.com diifaa_03
Mon Aug 3, 2009 9:16 pm (PDT)
turut berduka cita atas meninggalnya ayah mbak Nia. moga Allah memberikan tempat yang terindah di sisiNya kepada almarhum. dan yang ditinggalkan moga selalu tabah dan sabar.
salam
Wiwik H.
--- On Mon, 3/8/09, novi_ningsih <novi_ningsih@yahoo.com > wrote:
From: novi_ningsih <novi_ningsih@yahoo.com >
Subject: [sekolah-kehidupan] Berita duka
To: sekolah-kehidupan@yahoogroups. com
Date: Monday, 3 August, 2009, 7:38 PM
Innalillahi wa inna ilayhi rooji'uun.Tlh bpulang ke rahmatu4JJ1, ayah dr saudari qt, Nia Robie' pd sore ini, 030809.Mohon doanya.,
nia:02199117841
New Email addresses available on Yahoo!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions. yahoo.com/ newdomains/ aa/ - 5c.
-
Re: Berita duka
Posted by: "Lia Octavia" liaoctavia@gmail.com octavialia
Mon Aug 3, 2009 9:19 pm (PDT)
Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Semoga Allah mengampuni dosa-dosanya dan
bagi keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran. Amin.
Turut berbela sungkawa ya, Mbak Nia....
2009/8/3 novi_ningsih <novi_ningsih@yahoo.com >
>
>
> Innalillahi wa inna ilayhi rooji'uun.Tlh bpulang ke rahmatu4JJ1,ayah dr
> saudari qt, Nia Robie' pd sore ini, 030809.Mohon doanya.,
> nia:02199117841
>
>
>
- 5d.
-
Re: Berita duka
Posted by: "fla cheya" fla_cheya@yahoo.com fla_cheya
Mon Aug 3, 2009 9:28 pm (PDT)
Turut berduka cita atas berpulangnya ayahanda Nia. Semoga Beliau diampuni dosa2nya dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran serta kelapangan hati amin...
Flacheya
--- On Mon, 8/3/09, Siwi LH <siuhik@yahoo.com > wrote:
From: Siwi LH <siuhik@yahoo.com >
Subject: Re: [sekolah-kehidupan] Re: Berita duka
To: sekolah-kehidupan@yahoogroups. com
Date: Monday, August 3, 2009, 7:01 PM
Turut berduka cita Nia, Semoga kemuliaan senantiasa memayungi almarhum disisiNya, dan semoga Nia sekeluarga tabah ya Ni, salam buat keluarga...
Salam Hebat Penuh Berkah
Siwi LH
cahayabintang. wordpress.com
siu-elha. blogspot.com
YM : siuhik
- 5e.
-
Re: Berita duka
Posted by: "sismanto" siril_wafa@yahoo.co.id siril_wafa
Mon Aug 3, 2009 9:39 pm (PDT)
Inna lillahi waa inna lillahi rojiuun, semoga amal ibadahnya diterima Allah SWT.
Sis
--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups. , Nursalam AR <nursalam.ar@com ...> wrote:
>
> *Inna lillahi wa inna ilahi roji'un*. Semoga almarhum Abah Nia d
- 5f.
-
Re: Berita duka
Posted by: "suhadi hadi" abinyajundi@yahoo.com abinyajundi
Mon Aug 3, 2009 9:57 pm (PDT)
Innalillahi wa inna Rajiun
semoga amal ibadah ayah nia diterima disisi Allah
dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan amiiin
suhadi & kel
_____________________ _________ __
From: Lia Octavia <liaoctavia@gmail.com >
To: sekolah-kehidupan@yahoogroups. com
Sent: Tuesday, August 4, 2009 11:17:37 AM
Subject: Re: [sekolah-kehidupan] Berita duka
Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Semoga Allah mengampuni dosa-dosanya dan bagi keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran. Amin.
Turut berbela sungkawa ya, Mbak Nia....
2009/8/3 novi_ningsih <novi_ningsih@ yahoo.com>
>
>Innalillahi wa inna ilayhi rooji'uun.Tlh bpulang ke rahmatu4JJ1, ayah dr saudari qt, Nia Robie' pd sore ini, 030809.Mohon doanya.,
>>nia:02199117841
>
>
- 5g.
-
Re: Berita duka
Posted by: "hariyanty thahir" anty_th@yahoo.com anty_th
Mon Aug 3, 2009 10:12 pm (PDT)
turut berduka cita ya neng Nia
Smoga Allah memberikan tempat terbaik di sisi NYA
Saatnya jadi "cahaya" neng, smoga doa dan kebaikan yang Nia lakukan melapangkan kubur ayahanda
Salam buat keluarga
sabar dan ikhlas
salam
ur sister
anty
- 5h.
-
Re: Berita duka
Posted by: "r widhiatma" r_widhiatma@yahoo.com r_widhiatma
Mon Aug 3, 2009 10:50 pm (PDT)
Innalillahi wa inna ilaihi raji'uun..
turut berduka atas wafatnya ayah Nia.
semoga beliau mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT
semoga Nia & keluarga senantiasa dalam ketabahan.
yakinlah, Allah menjanjikan pahala bagi hambanya yang bersabar,
pengugur dosa dalam setiap rasa sakit.
Allah mencintai ayah Nia
Allhummaghfirlahu warhamhu wa'aafiihi wa'fu'anhu...
salam
raul wied
--- On Tue, 8/4/09, Lia Octavia <liaoctavia@gmail.com > wrote:
From: Lia Octavia <liaoctavia@gmail.com >
Subject: Re: [sekolah-kehidupan] Berita duka
To: sekolah-kehidupan@yahoogroups. com
Date: Tuesday, August 4, 2009, 11:17 AM
Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Semoga Allah mengampuni dosa-dosanya dan bagi keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran. Amin.
Turut berbela sungkawa ya, Mbak Nia....
2009/8/3 novi_ningsih <novi_ningsih@ yahoo.com>
Innalillahi wa inna ilayhi rooji'uun.Tlh bpulang ke rahmatu4JJ1, ayah dr saudari qt, Nia Robie' pd sore ini, 030809.Mohon doanya.,
nia:02199117841
- 6a.
-
Fwd: [Lomba] Sayembara Cerpen-Cerber FEMINA
Posted by: "Nursalam AR" nursalam.ar@gmail.com
Mon Aug 3, 2009 9:37 pm (PDT)
Maaf, cross-posting dari milis jiran:))
---------- Forwarded message ----------
From: taufan e.prast <te_prast@yahoo.com >
Date: Aug 4, 2009 11:15 AM
Subject: [flpdki] [Lomba] Sayembara Cerpen-Cerber FEMINA
To: Milis FLP DKI <flpdki@yahoogroups.com >
Femina menantang Anda mengeksplorasi berbagai tema dan gaya bercerita.
SYARAT UMUM SAYEMBARA CERPEN & CERBER:
Peserta adalah Warga Negara Indonesia.
Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik & benar dan menggunakan
ejaan yang disempurnakan.
Naskah harus asli, bukan terjemahan.
Tema bebas, namun seusai untuk majalah femina.
Naskah belum pernah dipublikasikan di media massa cetak maupun elektronik
& online, dan tidak sedang diikutsertakan sayembara lain.
Peserta hanya boleh mengirimkan dua naskah terbaiknya.
Hak untuk menerbitkan dalam bentuk buku dan menyiarkannya di media online
ada pada PT Gaya Favorit Press.
Redaksi berhak mengganti judul dan menyunting tanpa mengubah isi.
Naskah yang tidak menang, namun memenuhi syarat, akan dimuat di femina.
Penulis akan mendapat honor sesuai standar femina.
Keputusan juri mengikat. Tidak dapat diganggu-gugat dan tidak diadakan
surat-menyurat.
Lomba ini tertutup untuk Karyawan Feminagroup.
SYARAT KHUSUS CERPEN:
Diketik dengan komputer di atas kertas HVS kuarto dengan jarak dua spasi.
Font Arial ukuran 12.
Panjang naskah 6 8 halaman, dan dikirim sebanyak dua rangkap disertai 1
(satu) disket atau CD berisi naskah.
Naskah dilampiri formulir asli dan fotokopi KTP.
Amplop kiri atas tulis: Sayembara Mengarang Cerpen femina 2009.
Naskah ditunggu selambat-lambatnya 30 September 2009.
Pemenang akan diumumkan di majalah femina terbit November 2009.
Karya pemenang utama akan dimuat di femina edisi tahunan 2009.
SYARAT KHUSUS CERBER:
Diketik dengan komputer di atas kertas HVS kuarto dengan jarak dua spasi.
Font Arial ukuran 12.
Panjang naskah antara 40 50 halaman.
Dijilid dan dikirim sebanyak dua rangkap, disertai 1 (satu) disket atau CD
berisi naskah.
Naskah dilampiri formulir asli, fotokopi KTP, dan sinopsis cerita.
Amplop kiri atas ditulis: Sayembara Mengarang Cerber femina 2009.
Naskah ditunggu selambat-lambatnya 30 November 2009.
Pemenang akan diumumkan di femina, terbit akhir April 2010.
HADIAH SAYEMBARA CERPEN *
Pemenang I : Rp4.000.000
Pemenang II : Rp2.500.000
Pemenang III : Rp2.000.000
HADIAH SAYEMBARA CERBER *
Pemenang I : Rp10.000.000
Pemenang II : Rp7.000.000
Pemenang III : Rp5.000.000
3 Pemenang Penghargaan @ Rp3.000.000
3 Pemenang Penghargaan @ Rp1.500.000
*) Hadiah dikenakan pajak 5% (dengan NPWP) atau 6% (tanpa NPWP).
--
"Open up your mind and fly!"
Nursalam AR
Penerjemah, Penulis & Editor
0813-10040723
021-92727391
www.nursalam.multiply. com
www.facebook.com/nursalam. ar
- 6b.
-
Re: Fwd: [Lomba] Sayembara Cerpen-Cerber FEMINA
Posted by: "patisayang" patisayang@yahoo.com patisayang
Mon Aug 3, 2009 10:59 pm (PDT)
Ini nìh salah satu yg kusuka dr Bang Salam, paling gesit woro2 lomba. ;)
Pernah suatu masa beliau mogok atau terhalang 'kerja sosial' spt ini, milist rasanya sunyi, hambar.
Makasih banyak ya Bro. Yuk berlomba lagi. ;)
Salam,
Indar
--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups. , Nursalam AR <nursalam.ar@com ...> wrote:
>
> Maaf, cross-posting dari milis jiran:))
>
> ---------- Forwarded message ----------
> From: taufan e.prast <te_prast@...>
> Date: Aug 4, 2009 11:15 AM
> Subject: [flpdki] [Lomba] Sayembara Cerpen-Cerber FEMINA
> To: Milis FLP DKI <flpdki@yahoogroups.com >
>
>
>
> Femina menantang Anda mengeksplorasi berbagai tema dan gaya bercerita.
>
> SYARAT UMUM SAYEMBARA CERPEN & CERBER:
> Peserta adalah Warga Negara Indonesia.
> Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik & benar dan menggunakan
> ejaan yang disempurnakan.
> Naskah harus asli, bukan terjemahan.
> Tema bebas, namun seusai untuk majalah femina.
> Naskah belum pernah dipublikasikan di media massa cetak maupun elektronik
> & online, dan tidak sedang diikutsertakan sayembara lain.
> Peserta hanya boleh mengirimkan dua naskah terbaiknya.
> Hak untuk menerbitkan dalam bentuk buku dan menyiarkannya di media online
> ada pada PT Gaya Favorit Press.
> Redaksi berhak mengganti judul dan menyunting tanpa mengubah isi.
> Naskah yang tidak menang, namun memenuhi syarat, akan dimuat di femina.
> Penulis akan mendapat honor sesuai standar femina.
> Keputusan juri mengikat. Tidak dapat diganggu-gugat dan tidak diadakan
> surat-menyurat.
> Lomba ini tertutup untuk Karyawan Feminagroup.
>
> SYARAT KHUSUS CERPEN:
> Diketik dengan komputer di atas kertas HVS kuarto dengan jarak dua spasi.
> Font Arial ukuran 12.
> Panjang naskah 6 8 halaman, dan dikirim sebanyak dua rangkap disertai 1
> (satu) disket atau CD berisi naskah.
> Naskah dilampiri formulir asli dan fotokopi KTP.
> Amplop kiri atas tulis: Sayembara Mengarang Cerpen femina 2009.
> Naskah ditunggu selambat-lambatnya 30 September 2009.
> Pemenang akan diumumkan di majalah femina terbit November 2009.
> Karya pemenang utama akan dimuat di femina edisi tahunan 2009.
>
> SYARAT KHUSUS CERBER:
> Diketik dengan komputer di atas kertas HVS kuarto dengan jarak dua spasi.
> Font Arial ukuran 12.
> Panjang naskah antara 40 50 halaman.
> Dijilid dan dikirim sebanyak dua rangkap, disertai 1 (satu) disket atau CD
> berisi naskah.
> Naskah dilampiri formulir asli, fotokopi KTP, dan sinopsis cerita.
> Amplop kiri atas ditulis: Sayembara Mengarang Cerber femina 2009.
> Naskah ditunggu selambat-lambatnya 30 November 2009.
> Pemenang akan diumumkan di femina, terbit akhir April 2010.
>
> HADIAH SAYEMBARA CERPEN *
> Pemenang I : Rp4.000.000
> Pemenang II : Rp2.500.000
> Pemenang III : Rp2.000.000
>
> HADIAH SAYEMBARA CERBER *
> Pemenang I : Rp10.000.000
> Pemenang II : Rp7.000.000
> Pemenang III : Rp5.000.000
> 3 Pemenang Penghargaan @ Rp3.000.000
> 3 Pemenang Penghargaan @ Rp1.500.000
>
> *) Hadiah dikenakan pajak 5% (dengan NPWP) atau 6% (tanpa NPWP).
>
>
>
>
>
>
> --
> "Open up your mind and fly!"
>
> Nursalam AR
> Penerjemah, Penulis & Editor
> 0813-10040723
> 021-92727391
> www.nursalam.multiply. com
> www.facebook.com/nursalam. ar
>
- 7a.
-
Re: [ruang tamu] perkenalan
Posted by: "abang haris" harisabang@yahoo.com harisabang
Mon Aug 3, 2009 10:00 pm (PDT)
halo mbak siscaiya salam kenal jugalucu juga namanya, domestic buffalo hehehehyupl, please mmet me in my fbharis abangtak wait yowassalam
- 7b.
-
Re: [ruang tamu] perkenalan
Posted by: "hariyanty thahir" anty_th@yahoo.com anty_th
Mon Aug 3, 2009 10:20 pm (PDT)
Selamat datang mas
semoga betah sekolah d sini ya
tu mbak sisca jago banget nge jepret
boleh deh klo mau jadi "adik asuh" beliau
hehehe
mau kan mbak sis?
salam kenal
anty
- 7c.
-
Re: [ruang tamu] perkenalan
Posted by: "Nursalam AR" nursalam.ar@gmail.com
Mon Aug 3, 2009 11:08 pm (PDT)
'Met datang, Bang Haris:). Btw, perasaan nickname Sisca adalah "sapi jinak"*
deh, bukan "kebo lokal"**:)). Memang "domestication" yang diindonesiakan
menjadi "domestikasi" adalah "upaya penjinakan hewan liar menjadi binatang
ternak/piaraan". Tapi "jinak" sebagai kata sifat (ajektiva) bukanlah
"domestic". "Domestic" merujuk ke "lokal" atau "dalam negeri". Lebih pas
pakai "tame" untuk "jinak".
Untuk "buffalo", saya jadi ingat lelucon teman-teman SMP. Mereka sering
bilang: Cow sapi, buffalo kebo -->maksudnya: "kau sapi, bapak loe kebo":))).
Segitu dulu ah pelajaran dasar-dasar penerjemahan,hehe...
Tabik,
Nursalam AR
** sapi jinak : tame cow*
*** kebo lokal : domestic buffalo
*
On 8/4/09, abang haris <harisabang@yahoo.com > wrote:
>
>
>
>
>
> halo mbak sisca
>
> iya salam kenal juga
>
> lucu juga namanya, domestic buffalo heheheh
>
> yupl, please mmet me in my fb
>
> haris abang
>
> tak wait yo
>
> wassalam
>
>
>
>
--
"Open up your mind and fly!"
Nursalam AR
Penerjemah, Penulis & Editor
0813-10040723
021-92727391
www.nursalam.multiply. com
www.facebook.com/nursalam. ar
- 8a.
-
Re: [catcil] Berawal dari Hinaan
Posted by: "fil_ardy" fil_ardy@yahoo.com fil_ardy
Mon Aug 3, 2009 10:56 pm (PDT)
Yup.. kecuali kita tetap mengingat2 hal itu. bagus sekali, brow.
Berbeda dengan bang salam yang kursus bahasa inggris berawal dari
hinaan, saya masuk kursus bahasa inggris karena tertarik dengan
cerita2 menyenangkan bisa keluar negeri. Alhasil saya masuk kursus
selama dua tahun. Tapi, layaknya mengemudi, meski pernah bisa, jika
jarang digunakan maka tingkat kemahirannya menurun. itulah yang terjadi pada saya dalam bahasa inggris. Meski sempat sekali dua kali
mengajar bahasa inggris di tinggkat TK, SD dan SMP. Makin lama, kesaktian itu melemah. Hiks.. sedih juga sih :(
DANI
--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups. , Nursalam AR <nursalam.ar@com ...> wrote:
>
> *Berawal dari Hinaan*
>
> *Oleh Nursalam AR*
>
> Siapa yang mau dihina? Tentu tidak ada, bukan? Karena dihina itu sungguh
> sakit, tidak enak. Harga diri turun seketika. Dunia runtuh rasanya. Dan kita
> adalah orang termalang di dunia saat itu.
- 9.
-
[Catcil] Pejuangan Tuk Sebuah Kornea
Posted by: "hariyanty thahir" anty_th@yahoo.com anty_th
Tue Aug 4, 2009 12:25 am (PDT)
"Harus ganti kornea. Di operasi juga ngga bisa", begitu vonis Professor ketika kami membawa pasien mata ke salah satu RS mata terkenal di Medan. Sang pemuda 24 tahun yang merupakan marbot mesjid itu tak menyerah. "Saya mau coba saja dok. Tapi uang saya cuma 1 juta," ujar Anto.
Jadilah mata yang sebelah dioperasi dengan pendampingan dari kami. Walau dia tau matanya tak akan bisa pulih seperti dulu, tapi dia tetap berusaha dan yakin akan pertolongan Allah.
Hampir 5 tahun Anto terus berupaya mencari tau tentang kornea gratis yang di janjikan sang Professor untuknya.
"Mbak, ingat Anto?," tanya salah seorang amil. Waktu itu aku sudah ditugaskan di Batam. Dan dia masih mencariku untuk mendapatkan informasi tentang kornea tersebut.
Yang bisa aku sarankan adalah memintanya untuk menghubungi Rumah Sakit dan berkonsultasi dengan sang Professor.
Beberapa bulan setelah aku kembali ke Medan, dia kembali menghubungi untuk mencari tau perkembangan kornea. Aku kembali menyarankan untuk ke Rumah Sakit. Aku tidak tau proses selanjutnya hingga tadi pagi masuk telepon "Bu, saya sudah di MBMC, saya harus gimana?". Dan resepsionis kemudian meneleponku dan minta aku membuatkan surat rekomendasi untuknya.
Tak sampai 30 menit kemudian dia sudah berada di kantorku. Aku memberikan surat rekomendasi dan dia tersenyum ceria saat surat itu aku berikan padanya.
Saat itu perasaan bersalah menyergapku. Betapa dia sangat berharap agar sinar bisa menerangi hari-harinya. Agar warna warni bisa tampak indah dalam pandangannya.
Namun aku tak bisa membantunya dengan maksimal. Bahkan terkadang ada rasa terganggu dengan teleponnya yang hampir tiada henti. Padahal dia meneleponku dengan harapan yang tinggi untuk sebuah kesembuhan.
Ya Allah ... betapa jahatnya aku.
Hari ini senyum tulusnya menyambut ucapan maaf dariku. Dan aku benar benar mohon maaf dari hatiku. Sahabat, mohon doa agar Allah mempermudah usahanya mencari sebuah kornea. Agar dia bisa menatap indahnya kerlip bintang yang selalu menjanjikan keindahan dan harapan.
Medan, 04 Agustus 2009
Anty thahir
Need to Reply?
Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.
MARKETPLACE
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Individual | Switch format to Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
Tidak ada komentar:
Posting Komentar