Kamis, 11 November 2010

[daarut-tauhiid] Di Tempat Licin Itu

Di Tempat Licin Itu

Nov 11, '10 2:12 PM

Akmal Sjafril ST, MPdI

assalaamu'alaikum wr. wb.

Salah satu nasihat almarhum Papa yang saya ingat benar – yang kemudian
menjadi salah satu pondasi terkuat dalam pemikiran saya perihal kepemimpinan
– adalah bahwa jika kita tidak bisa melakukan dengan lebih baik, maka jangan
kritisi orang yang berbuat salah. Setelah saya tumbuh dewasa, saya menjadi
semakin yakin bahwa prinsip ini adalah salah satu titik pembeda utama antara
seorang yang berjiwa pemimpin (baik ia sudah menjadi pemimpin atau belum)
dengan seorang pecundang.

Di sini, saya tidak membedakan antara pemimpin dan yang dipimpin, melainkan
seorang yang berjiwa pemimpin dengan seorang pecundang. Tentu tak semua
orang bisa setiap saat menjadi pemimpin, namun Islam mewajibkan kita untuk
berjiwa pemimpin.

Di masa kecil dulu, karena sifat saya yang temperamental, tidak jarang saya
bertengkar dengan teman karena telinga ini merasa tidak nyaman mendengar
kritik darinya. Seringkali orang menghindar ketika ada tanggung jawab yang
harus diambil. Akan tetapi ketika tanggung jawab itu diambil oleh orang
lain, tiba-tiba saja mereka yang menghindar menjadi komentator handal.
Seharusnya
dia begini, seharusnya dia begitu, masak begini *nggak* bisa, masak begitu
saja *nggak* *ngerti*, dan seterusnya. Otak saya, yang sudah terprogram
oleh prinsip emas almarhum Papa, biasanya akan menyuruh lisan untuk
meledakkan kata-kata: "Kalau *lu* bisa kenapa tadi *diem* aja?"

Banyak bentuk kepecundangan yang sering menjadi bahan pemikiran saya. Pada
saat ujian, ada seorang teman yang mencoba-coba menyontek dari lembar
jawaban saya. Karena tidak mau repot, saya beritahukan saja jawabannya. Tapi
setelah diberitahu, dia malah protes, dan protesnya berlanjut hingga ujian
selesai, hingga akhirnya saya cukup kehilangan konsentrasi. Di luar kelas,
saya bentak dia, "Udah nanya, protes lagi! Kalo bego nggak usah sok tau!"

*Please notice that I wasn't – and am not – proud of my temper. And you
DEFINITELY shouldn't help your friend cheating*.

Semasa kuliah dulu, saya kagum sekali mendengar penuturan pengalaman ust.
Rahmat Abdullah *rahimahullaah* ketika menjabat sebagai anggota DPR. Pada
suatu saat, adzan berkumandang, tapi pimpinan rapat tidak peduli. Karena
melihat tak ada orang yang bereaksi, maka ust. Rahmat berinisiatif meminta
rapat diskors untuk shalat. Di jalan menuju tempat shalat, seseorang dari
parpol Islam lain menyalami ust. Rahmat. Katanya, selama ini di DPR tak
pernah ada yang berani meminta rapat diskors 'hanya' untuk shalat. Sebagaimana
semua anak muda yang mendengar kisah ini saat itu, saya pun terpukau dan
berjanji kalau suatu hari menghadapi kasus serupa insya Allah akan bersikap
sama pula.

Tapi itulah ust. Rahmat Abdullah. Keliru betul kalau saya atau Anda atau
siapa pun mengasosiasikan diri dengan beliau atau dengan orang lain.
Prestasinya
adalah miliknya sendiri, bukan milik orang lain. Maka keteguhan hati ust.
Rahmat tidak bisa otomatis kita *copy-paste* ke dalam hati kita hanya karena
kita sudah mendengarkan ceritanya dengan khidmat, bahkan dengan bercucuran
air mata sekalipun.

Di dunia kerja, saya lihat sendiri betapa sulitnya menempatkan diri di
posisi ust. Rahmat. Dalam suatu rapat penting, saya mendampingi atasan
untuk menghadapi *customer* yang sebagiannya adalah orang asing. Mereka
jelas tidak mengerti urgensi shalat bagi seorang Muslim. Mereka tidak tahu
kapan *adzan* berkumandang, meskipun bisa dipastikan semua orang yang
tinggal di DKI Jakarta pastilah pernah mendengar suara *adzan*, karena
Masjid ada di mana-mana. Syahdan, saking serunya, rapat yang dimulai pukul
1 siang belum menunjukkan tanda-tanda akan menemukan titik temu pada pukul 5
sore. Waktu Ashar sudah hampir habis, sedangkan para ekspat ini masih asyik
berdiskusi.

"*Sir, could we have a few-minutes break? We have to pray. It won't take
very long*."

Apa susahnya? Susah sekali!

Jika sesama anggota DPR saja banyak yang merasa sungkan untuk meminta rapat
diskors, maka tentu saja posisi kami saat itu lebih runyam, karena rapat
tersebut menentukan dilanjutkan atau tidaknya proyek yang sedang kami
tangani. Jika sampai kehilangan proyek ini, maka perusahaan akan terancam.
Maklum, perusahaan masih sangat kecil dan proyeknya hanya satu-dua. Kehilangan
satu proyek, beberapa pegawai mungkin harus diberhentikan. Saya bisa
membayangkan pikiran-pikiran semacam ini berkecamuk dalam benak atasan saya
saat itu. Dia pun sudah berulang kali melakukan kontak mata dengan saya,
dan saya bisa lihat sendiri betapa gugupnya ia memikirkan waktu Ashar yang
sebentar lagi akan lewat.

Sebagai bawahan yang diajak rapat hanya untuk menambah wawasan, saya
mendapat rejeki. Atasan memberi kode agar saya pergi saja agar bisa
mengejar shalat Ashar. Saya pun bergegas ke Mushola, menunaikan shalat
Ashar hanya dua puluh menit sebelum waktu Maghrib.

Setelah shalat, saya sempat istirahat sebentar. Dari kejauhan, saya lihat
atasan saya berlari tergopoh-gopoh dan buru-buru *wudhu*. Syukur *
alhamdulillaah*, akhirnya rapat selesai juga. Naas, setelah ia selesai *
wudhu*, *adzan* Maghrib berkumandang. Saya lihat ia hampir menangis dan
agak kebingungan mesti berbuat apa. Akhirnya ia shalat Ashar, kemudian
shalat Maghrib bersama *jama'ah* di Mushola. Saya, atasan saya, dan mungkin
sebagian besar dari Anda yang membaca tulisan ini, memang tidak sekaliber
ust. Rahmat Abdullah. Perbedaan antara saya dan atasan saya hanyalah saya
diuntungkan karena jabatannya lebih rendah, sedangkan ia disusahkan oleh
kedudukannya yang lebih penting.

Berinteraksi dengan para *ekspat*, tentu saja saya pun mengalami dilema yang
sama sebagaimana yang dihadapi oleh ust. Tifatul Sembiring tempo hari.
Kebanyakan
orang tidak berani menolak ketika ada perempuan (*bule* atau tidak *bule*)
menyodorkan tangannya untuk bersalaman. Kita orang Muslim sudah dilatih
untuk tidak membuat orang tersinggung, apalagi perempuan, yang umumnya lebih
menjaga sikap di depan umum. Jangankan yang mengajak bersalaman, perempuan
bule yang langsung melingkarkan tangannya ke bahu pun saya sudah pernah
bertemu (tapi korbannya bukan saya, *alhamdulillaah*).

Fenomena 'penyerangan' terhadap ust. Tifatul belakangan ini sangat menarik,
karena motifnya berbeda-beda. Ada yang mencela bukan karena setuju bahwa
salaman dengan perempuan non-*mahram* itu tidak boleh, melainkan karena
senang melihat ust. Tifatul akhirnya gagal menjaga prinsipnya. Ada juga
yang pemikirannya langsung melanglang buana sehingga menyebut ust. Tifatul
tidak konsisten dalam beragama, seolah-olah 'bersalaman atau tidak
bersalaman dengan Michelle Obama' hanyalah satu-satunya bab dalam beragama.
Padahal, yang bersangkutan telah mengakui bahwa insiden itu tidak disengaja
olehnya; artinya, ia sendiri mengakui bahwa bersalaman dengan perempuan
non-mahram itu tidak boleh (sebagai catatan, Syaikh al-Qaradhawi memiliki
pendapat yang agak berbeda dalam hal
ini[1]<https://mail.google.com/mail/html/compose/static_files/blank_quirks.html#_ftn1>
).

Bisa jadi, ust. Tifatul kelihatan begitu kontroversial hanya karena
kehidupannya 'ada di depan kamera'. Semua *tweet*-nya dianggap penting,
semua tulisan statusnya di *Facebook* begitu diperhatikan orang, bahkan
posisi tangannya pun bisa jadi bahan pembicaraan sampai ke surat kabar di
luar negeri. Bagaimana jika semua perhatian itu dipindahkan pada kita? Akan
terlihat imej yang lebih baikkah, atau malah lebih memalukan?

Ada juga kawan yang sempat nyeletuk, "*Masak ustadz menolak salaman aja
nggak mampu!*" Sambil tertawa, saya bertanya, "*Lu udah pernah meeting sama
bule belum?*" Seperti yang sudah diperkirakan, jawabannya adalah: "*Ya
belum, lah*!" Ya, begitulah!

Memang mudah mengomentari orang kalau kita selalu menghindar dari tanggung
jawab. Kita takkan dipermalukan selama kita tak berdiri di bawah lampu
sorot itu. Kita bisa bilang ini-itu gampang, yang ini sudah jelas
aturannya, yang itu sudah pasti keharamannya, tapi mungkin saja kita telah
mengalami delusi setelah mendengar kehebatan orang lain, seolah-olah
kehebatan itu adalah milik kita. Kemudian kita pun marah ketika orang lain
tak mampu memiliki kehebatan yang sama, seolah-olah semuanya itu adalah
perkara gampang. Mudah menghindari korupsi kalau bisnisnya cuma jualan sari
kurma di rumah sendiri. Gampang melewati jeram-jeram pemikiran sekuler
kalau pergaulannya hanya di pesantren. Tidak akan terkilir kalau tak pernah
bermain bola, takkan tertembak musuh kalau tak ikut berjuang. Jalan yang
licin memang membuat banyak orang tergelincir, kecuali mereka yang
memutuskan untuk mengurung diri di dalam rumah.

Keluar dari zona nyaman, pasti adakalanya kita berbuat salah. Keberanian
untuk keluar dari zona nyaman – atau keberanian untuk menguji kemampuan
sendiri di luar zona nyaman - itulah yang membedakan antara seorang yang
berjiwa pemimpin atau pecundang.

wassalaamu'alaikum wr. wb.

------------------------------

[1]<https://mail.google.com/mail/html/compose/static_files/blank_quirks.html#_ftnref1>
http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Kontemporer/Jabat1.html


--
Sesungguhnya, hanya dengan mengingat Allah, hati akan tenang.
now surely by Allah's remembrance are the hearts set at rest.
N'est-ce point par l'évocation d'Allah que se tranquillisent les coeurs.
im Gedenken Allahs ist's, daß Herzen Trost finden können.
>> al-Ra'd [13]: 28


[Non-text portions of this message have been removed]

------------------------------------

====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
daarut-tauhiid-digest@yahoogroups.com
daarut-tauhiid-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
daarut-tauhiid-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

Tidak ada komentar: