Selasa, 09 November 2010

[daarut-tauhiid] Kisah Ibu Hajar & Ismail a.s.

NB:

ÅöÐú ÞóÇáó áóåõ ÑóÈøõåõ ÃóÓúáöãú ÞóÇáó ÃóÓúáóãúÊõ áöÑóÈøö ÇáúÚóÇáóãöíäó

* *

Ketika *Rabb*-nya berfirman kepadanya: "Tunduk patuhlah!" Ibrahim menjawab:
"Aku tunduk patuh kepada *Rabb* semesta alam". (QS. Al Baqarah (2) : 131 )

Bersegera dalam menjalankan perintah Allah *subhanahu wa ta'ala* adalah
salah satu ciri manusia yang beriman. Apalagi bila perintah itu nampaknya
berat dilaksanakan, terlebih-lebih bila secara duniawi nampaknya merugikan.
Semisal menyekolahkan anak zaman sekarang, kalau menggunakan timbangan
keduniawian nampaknya lebih menguntungkan menyekolahkan anak (amanah dari
Allah) ke sekolah-sekolah milik non muslim, dan di negara non muslim. Memang
menyeklahkan di negara non muslim tidak haram secara mutlak, namun dengan
pergaulan bebasnya, lingkungan tidak Islaminya, cara pikir penduduknya yang
sekuler, cara pandangnya terhadap agama (terutama Islam) sedikit banyak
pasti akan mempengaruhi anak kita.

Kembali ke kisah Ibrahim a.s. , kalau saja beliau menimbang dengan ukuran
dunia, mau jadi apa nanti anaknya…dibawa ke lingkungan yang jauh dari
peradaban. Padahal di kawasan tertentu saat itu peradaban manusia juga sudah
maju. Namun keimanan beliau yang berbeda daripada manusia kebanyakan, lebih
memilih menuruti tanpa syarat kepada perintah Allah *ta'ala.* Kesetiaan
beliau kepada perintah Tuhannya-lah yang menjadikannya berbeda, kesetiaan
yang menuntut pengorbanan yang tidak mudah.

Allah memerintahkan Ibrahim agar memindahkan Hajar dan putranya ke
Baitullah, tempat jauh yang tidak bisa dijangkau oleh kendaraan kecuali
dengan kelelahan jiwa.

Ini adalah perkara yang mungkin sulit dan berat bagi Ibrahim yang sudah tua,
yang diberi anak Ismail dalam usia lanjut. Perkaranya bertambah sulit
manakala Ibrahim meletakkan belahan jiwanya dan ibunya di tempat yang sepi
tanpa air, tanpa makanan dan tanpa penduduk.

Akan tetapi Allah memiliki hikmah yang mendalam. Walaupun secara lahir
perkara itu sulit dan berat, akan tetapi ia banyak memuat rahmat dan
kebaikan. Dan kita melihat rahmat dan kebaikan ini pada hari ini secara
jelas dan gamblang. Dengan didiami oleh Ismail, daerah itu tumbuh menjadi
sebuah kota tempat dibangunnya Baitullah yang banyak direalisasikan
ibadah-ibadah, syiar-syiar dan segala kebaikan

*Kisah Hajar & Ismail*

*Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.*

PENGANTAR

Ini adalah kisah yang panjang dan alurnya mengalir jelas. Peristiwanya
gamblang, yang menceritakan tentang bapak kita Ismail bin *Khalilullah*Ibrahim
*'Alayhi Salam* dan tentang ibu kita Hajar *Ummu* Ismail. Semua orang Arab
adalah keturunan Ismail. Ada yang menyatakan bahwa sebagian orang Arab
berasal dari asal-usul Arab kuno yang bukan anak keturunan Ismail. Ibu kita
Hajar adalah wanita Mesir yang dihadiahkan oleh penguasa dzalim Mesir kepada
Sarah dalam sebuah kisah yang akan disebutkan selanjutnya. Manakala Ibrahim
belum kunjung dikaruniai anak dari istrinya, Sarah, maka Sarah memberikan
hamba sahayanya kepada Ibrahim untuk dinikahi dengan harapan bahwa darinya
Allah akan memberi anak. Hajar pun hamil dan melahirkan Ismail di bumi yang
penuh berkah, Palestina.

Rasulullah *Shallallahu 'alaihi wa Salam* menceritakan kisah Hajar kepada
kita, apa yang terjadi antara dia dengan Sarah dan bagaimana Allah
memerintahkan Ibrahim agar pindah bersama Hajar dan Ismail ke belahan bumi
termulia (Makkah). Rasulullah *Shallallahu 'alaihi wa Salam* menjelaskan
kondisi tempat di mana Hajar dan putranya, Ismail, berdiam. Beliau
menjelaskan kepada kita tentang Ibrahim yang meninggalkan keduanya di tempat
yang sepi, tanpa makanan, minuman dan penduduk. Beliau juga menjelaskan apa
yang terjadi dengan Hajar dan Ismail sepeninggal Ibrahim sampai akhirnya
Ibrahim dan Ismail membangun Baitullah Al-Haram sebagai rumah pertama yang
diletakkan untuk manusia.

Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Said bin Jubair yang berkata
bahwa Ibnu Abbas berkata, "Wanita pertama yang membuat ikat pinggang adalah
ibu Ismail. Hal itu ia lakukan agar dapat menutupi jejak kakinya dari Sarah.
Kemudian Ibrahim membawa istri dan putranya, Ismail, yang masih disusuinya.
Hingga akhirnya Ibrahim menempatkan keduanya di dekat Baitullah di sisi
sebuah pohon besar di atas sumur Zamzam di bagian atas Masjidil Haram. Pada
saat itu Makkah tidak berpenghuni seorang pun, dan tidak ada air. Beliau
meninggalkan keduanya, juga meletakkan sebuah kantong berisi kurma dan
kantong kulit berisi air. Ketika Ibrahim melangkah pergi, Hajar menyusulnya
seraya bertanya, "Wahai Ibrahim, ke mana engkau akan pergi? Apakah engkau
akan meninggalkan kami di lembah yang tidak ada seorang manusia pun dan
tidak ada sesuatu pun?" Hajar terus-menerus menanyakan hal itu, dan Ibrahim
tidak menoleh kepadanya. Maka Hajar bertanya kembali, "Apakah Allah yang
menyuruhmu melakukan ini?" Ibrahim menjawab, "Ya." Hajar pun berucap, "Kalau
memang demikian, Dia tidak akan mengabaikan kami." Selanjutnya Hajar
kembali.

Ibrahim terus berjalan hingga ketika sampai di sebuah bukit di mana mereka
tidak melihatnya, beliau menghadapkan wajahnya ke Baitullah, lalu berdoa
dengan beberapa kalimat seraya mengangkat kedua tangannya dan mengucapkan, "Ya
Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di
lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang
dihormati. Ya Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat,
maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berikanlah
rizki kepada mereka dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur." (QS.
Ibrahim: 37)

Hajar menyusui Ismail dan meminum dari air yang berada di dalam kantong
kulit. Air sudah habis, ia merasa kehausan, demikian pula putranya yang
merengek-rengek kehausan. Ia pun pergi karena tidak tega melihatnya. Hingga
ia menemukan Shafa, gunung yang paling dekat dengannya. Maka ia berdiri di
atasnya, menghadap ke lembah sambil melihat-lihat adakah seseorang, tetapi
dia tidak melihat seorang pun. Setelah turun dari Shafa, ia sampai di
lembah, ia mengangkat ujung bajunya dan berusaha keras seperti orang yang
berjuang mati-matian, hingga berhasil melewati lembah.

Lalu dia mendatangi Marwah, berdiri di atasnya sembari melihat apakah ada
seseorang yang dapat dilihatnya, tetapi dia tetap tidak melihat seorang pun.
Dia melakukan hal itu sebanyak tujuh kali."

Ibnu Abbas mengatakan bahwa Nabi *Shallallahu 'alaihi wa Salam* berkata,
"Karena hal inilah orang-orang melakukan sa'i di antara keduanya (Shafa dan
Marwah)." Ketika mendekati Marwah, ia mendengar sebuah suara. Ia pun berkata
kepada dirinya, "Diam. Kemudian ia berusaha mendengar lagi hingga ia pun
mendengarnya. Lalu ia berkata, "Engkau telah memperdengarkan. Adakah Engkau
dapat menolong?" Tiba-tiba ia mendapatkan Malaikat di tempat sumber air
Zamzam. Kemudian Malaikat itu menggali tanah dengan tumitnya - dalam riwayat
lain, dengan sayapnya- hingga muncullah air. Ia membendung air dengan
tangannya. Ia menciduk dan memasukkan air itu ke kantongnya. Air itu terus
mengalir deras setelah ia menciduknya."

Ibnu Abbas mengatakan bahwa Nabi *Shallallahu 'alaihi wa Salam* bersabda,
"Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada ibu Ismail, jika saja ia membiarkan
Zamzam." Atau beliau bersabda, "Seandainya ia tidak menciduk airnya, niscaya
Zamzam menjadi mata air yang mengalir."

Lebih lanjut, Ibnu Abbas mengatakan bahwa kemudian ia meminum air itu dan
menyusui anaknya. Lalu Malaikat berkata kepadanya, "Janganlah engkau
khawatir akan disia-siakan, karena di sini terdapat sebuah rumah Allah yang
akan dibangun oleh anak ini dan bapaknya. Dan

sesungguhnya Allah tidak akan menelantarkan penduduknya." Posisi rumah Allah
itu terletak lebih tinggi dari permukaan bumi, seperti sebuah anak bukit
yang diterpa banjir sehingga mengikis bagian kiri dan kanannya.

Kondisi ibu Ismail terus seperti itu sampai sekelompok Bani Jurhum atau
sebuah keluarga dari kalangan Bani Jurhum melewati mereka. Mereka datang
melalui jalan Keda'. Kemudian mereka mendiami daerah Makkah yang paling
bawah. Mereka melihat seekor burung berputar di angkasa, mereka berkata,
"Burung itu pasti sedang mengitari air. Kita mengenal bahwa di lembah ini
tidak ada air." Mereka pun mengutus satu atau dua orang. Ternyata utusan itu
menemukan air. Lalu mereka kembali dan memberitahukan perihal air tersebut.
Maka mereka pun datang. Ibnu Abbas selanjutnya menceritakan, "Ibu Ismail
ketika itu masih berada di sumber air tersebut. Maka mereka pun bertanya
kepadanya, 'Apakah engkau mengizinkan kami untuk singgah di sini?' 'Ya,
tetapi kalian tidak berhak atas air ini,' jawab ibu Ismail. Mereka pun
menyahut, 'Baiklah.'

Kemudian, lanjut Ibnu Abbas, Nabi *Shallallahu 'alaihi wa Salam* pun
bersabda, "Maka ibu Ismail menerima hal itu, karena ia memerlukan teman."
Mereka pun singgah di sana dan mengirimkan utusan kepada keluarga mereka
agar ikut datang dan menetap di sana bersama mereka. Hingga berdirilah
beberapa rumah. Akhirnya sang bayi (Ismail) pun tumbuh besar dan belajar
bahasa Arab dari mereka, serta menjadi orang yang paling dihargai dan
dikagumi ketika menginjak usia remaja. Setelah dewasa mereka menikahkannya
dengan seorang wanita dari kalangan mereka.

Setelah itu ibu Ismail meninggal dunia. Setelah Ismail menikah, Ibrahim
datang untuk mencari yang dulu ditinggalkannya, tetapi ia tidak menemukan
Ismail di sana. Lalu Ibrahim menanyakan keberadaan Ismail kepada istrinya
(menantu Ibrahim). Istri Ismail menjawab, "Ia sedang pergi mencari nafkah
untuk kami." Kemudian Ibrahim menanyakan perihal kehidupan dan keadaan
mereka, maka istrinya menjawab, "Kami berada dalam kondisi yang buruk. Kami
hidup dalam kesusahan dan kesulitan." Ia mengeluh kepada Ibrahim. Ibrahim
pun berpesan, "Jika suamimu datang, sampaikan salamku kepadanya dan katakan
kepadanya agar mengubah palang pintunya." Ketika Ismail datang, seolah-olah
ia merasakan sesuatu, kemudian ia bertanya, "Apakah ada orang yang datang
mengunjungimu?" "Ya, kami didatangi seorang yang sudah tua, begini dan
begitu, lalu ia menanyakan kepada kami mengenai dirimu, dan aku
memberitahukannya. Selain itu, ia pun menanyakan ihwal kehidupan kita di
sini, maka aku pun menjawab bahwa kita hidup dalam kesulitan dan kesusahan,"
jawab istrinya. "Apakah ia berpesan sesuatu kepadamu?" tanya Ismail.
Istrinya menjawab, "Ia menitipkan salam kepadaku untuk aku sampaikan
kepadamu dan menyuruhmu agar mengubah palang pintu rumahmu." Ismail pun
berujar, "Ia adalah ayahku. Ia menyuruhku untuk menceraikanmu. Karenanya,
kembalilah engkau kepada keluargamu." Maka Ismail menceraikannya, lalu
mengawini wanita lain dari Bani Jurhum.

Ibrahim tidak mengunjungi mereka selama beberapa waktu. Setelah itu Ibrahim
mendatanginya, namun ia tidak juga mendapatinya. Kemudian ia menemui
istrinya dan menanyakan perihal keadaan Ismail. Maka istrinya menjawab, "Ia
sedang pergi mencari nafkah untuk kami." "Bagaimana keadaan dan kehidupan
kalian?" tanya Ibrahim. Istri Ismail menjawab, "Kami baik-baik saja dan
berkecukupan." Seraya memuji (bersyukur kepada) Allah *Subhanahu wa Ta'ala*.
Kemudian Ibrahim bertanya, "Apa yang kalian makan?" Istri Ismail menjawab,
"Kami memakan daging." "Apa yang kalian minum?" lanjut Ibrahim. Istri Ismail
menjawab, "Air." Kemudian Ibrahim berdoa, "Ya Allah, berkatilah mereka pada
daging dan air."

Selanjutnya Nabi *Shallallahu 'alaihi wa Salam* bersabda, "Pada saat itu
mereka belum mempunyai makanan berupa biji-bijian. Seandainya mereka
memilikinya, niscaya Ibrahim akan mendoakannya supaya mereka diberikan
berkah pada biji-bijian itu." Lebih lanjut Ibnu Abbas berkata, "di luar
Makkah, kedua jenis itu (daging dan air) bisa didapatkan dengan mudah, hanya
saja keduanya tidak cocok (sebagai makanan pokok)." Ibrahim berpesan, "Jika
suamimu datang, sampaikan salamku kepadanya dan suruh ia untuk memperkokoh
palang pintunya." Ketika datang, Ismail bertanya, "Apakah ada orang yang
datang mengunjungimu?" Istrinya menjawab,

"Ya, ada orang tua yang berpenampilan sangat bagus – seraya memuji Ibrahim-
dan ia menanyakan kepadaku perihal dirimu, lalu kuberitahukan. Setelah itu
ia menanyakan perihal kehidupan kita, maka aku menjawab bahwa kita baik-baik
saja." "Apakah ia berpesan sesuatu hal kepadamu?" tanya Ismail. Istrinya
menjawab, "Ya, ia menyampaikan salam kepadamu dan menyuruhmu agar
memperkokoh palang pintumu." Lalu Ismail berkata, "Ia adalah ayahku.
Engkaulah palang pintu yang dimaksud. Ia menyuruhku untuk tetap hidup rukun
bersamamu."

Kemudian Ibrahim meninggalkan mereka selama beberapa waktu. Setelah itu ia
datang kembali, ketika itu Ismail tengah meraut anak panah di bawah pohon
besar dekat sumur Zamzam. Ketika melihatnya, Ismail bangkit. Keduanya
melakukan apa yang biasa dilakukan oleh anak dengan ayahnya dan ayah dengan
anaknya jika bertemu. Ibrahim berkata, "Wahai Ismail, sesungguhnya

Allah memerintahkan sesuatu kepadaku." "Laksanakanlah apa yang telah
diperintahkan Tuhanmu itu," sahut Ismail. Ibrahim pun bertanya, "Apakah
engkau akan membantuku?" "Aku pasti akan membantumu," jawab Ismail. Ibrahim
bertutur, "Sesungguhnya Allah menyuruhku untuk membangun sebuah rumah di
sini." Seraya menunjuk ke anak bukit kecil yang letaknya lebih tinggi dari
sekelilingnya.

Ibnu Abbas pun melanjutkan ceritanya bahwa pada saat itulah keduanya
meninggikan pondasi Baitullah. Ismail mengangkat batu, sedang Ibrahim
memasangnya. Ketika bangunan itu sudah tinggi, dia meletakkan sebongkah batu
untuk dijadikan pijakannya. Ibrahim berdiri di atasnya sambil memasang batu,
sementara Ismail menyodorkan batu-batu kepadanya. Keduanya pun berdoa, "Ya
Tuhan kami, terimalah dari kami (amalan kami). Sesungguhnya Engkaulah yang
Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 127)

Ibnu Abbas meneruskan, bahwa keduanya terus membangun hingga menyelesaikan
seluruh bangunan Baitullah. Keduanya berdoa, "Ya Tuhan kami, terimalah dari
kami (amalan kami). Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 127)

Dalam riwayat lain dalam Shahih dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas
berkata, "Ketika terjadi apa yang terjadi antara Ibrahim dan keluarganya,
Ibrahim membawa pergi Ismail dan ibunya dan mereka membawa kantong air. Ibu
Ismail minum air dari kantong itu dan menyusui anaknya, sampai Ibrahim tiba
di Makkah. Lalu Ibrahim meletakkannya di bawah rindang pohon besar. Ibrahim
pun meninggalkannya untuk pulang kepada keluarganya.

Ibu Ismail menguntitnya. Sesampainya di Keda', ibu Ismail memanggilnya,
"Wahai Ibrahim, kepada siapa kamu meninggalkan kami?" Ibrahim menjawab,
"Kepada Allah." Ibu Ismail menjawab, "Aku rela dengan Allah."

Ibnu Abbas meneruskan, "Lalu ibu Ismail kembali, meminum air itu dan
menyusui anaknya. Manakala air telah habis, dia berkata, 'Sebaiknya aku
pergi memeriksa sekeliling, mungkin ada orang lain di sekitar sini." Lalu
ibu Ismail pergi. Dia naik ke bukit Shafa. Dia melihat-lihat apakah ada
seseorang. Tetapi tak seorang pun yang dilihatnya. (Lalu dia turun) ketika
sampai di lembah, dia berlari-lari kecil. Dia mendatangi Marwah. Dia
melakukan hal itu sebanyak tujuh kali putaran.

Kemudian ibu Ismail berkata, 'Sebaiknya aku kembali menengok anakku, apa
yang dilakukannya?' Ibu Ismail pulang menengok putranya, ternyata putranya
masih dalam keadaan seperti semula. Dia mengerang-erang hampir mati
kehausan, maka ibu Ismail tidak tenang karenanya. Ibu Ismail berkata,
'Sebaiknya aku pergi melihat-lihat mungkin ada seseorang.' Lalu dia pergi
dan naik ke bukit Shafa, dia melihat dan melihat, tetapi tidak seorang pun
yang dilihatnya sampai dia menggenapkan menjadi tujuh kali (putaran).
Kemudian ibu Ismail berkata, 'Sebaiknya aku kembali untuk melihat apa yang
terjadi dengan anakku.' Ternyata dia mendengar suara, dia berkata, 'Bantulah
aku jika kamu membawa kebaikan.' Ternyata dia adalah Jibril. Ibnu

Abbas berkata, "Lalu Jibril mengisyaratkan dengan tumitnya begini. Dia
menjejak bumi dengan tumitnya. Maka air memancar. Ibu Ismail terkagum-kagum,
lalu dia menciduki air itu."

Ibnu Abbas berkata bahwa Abul Qasim berkata, "Seandainya dia membiarkannya,
niscaya air itu akan mengalir."

Ibnu Abbas meneruskan, "Lalu ibu Ismail minum air itu dan menyusui anaknya."
Lanjut Ibnu Abbas, "Lalu sekelompok orang dari Jurhum melewati dasar lembah.
Mereka melihat burung. Mereka terheran-heran seraya berkata, 'Burung itu
pasti terbang di atas air.' Mereka pun mengutus seorang utusan. Utusan itu
melihat dan ternyata ada air. Lalu dia kembali dan menyampaikan hal itu
kepada mereka. Maka mereka mendatanginya. Mereka bertanya, "Wahai Ibu
Ismail, apakah engkau berkenan jika kami menyertaimu atau tinggal
bersamamu?" Ismail beranjak dewasa dan menikah dengan seorang wanita dari
mereka.

Ibnu Abbas meneruskan, "Ibrahim ingin berkunjung. Dia berkata kepada
keluarganya, 'Aku akan menengok anakku.' Ibrahim datang, dia memberi salam
dan berkata, 'Di mana Ismail?' Istrinya menjawab, 'Pergi berburu.' Ibrahim
berkata, 'Jika dia pulang katakan kepadanya agar mengubah palang pintunya.'
Ketika Ismail datang, istrinya menyampaikan perihal kejadian yang baru
dialaminya. Lalu Ismail berkata, "Kamulah orang yang dimaksud. Pulanglah
kamu kepada keluargamu."

Kemudian Ibrahim ingin berkunjung lagi. Dia berkata kepada keluarganya, 'Aku
akan menengok anakku.' Ibrahim pun datang dan bertanya, 'Di mana Ismail?'
Istrinya menjawab, 'Pergi berburu.' Istrinya melanjutkan, 'Singgahlah untuk
makan dan minum.' Ibrahim bertanya, 'Apakah makanan dan minuman kalian?'
Istri Ismail menjawab, 'Makanan kami adalah daging dan minuman kami adalah
air.' Ibrahim berkata, 'Ya Allah, berkahilah mereka pada makanan dan minuman
mereka.' Ibnu Abbas berkata bahwa Abul Qasim *Shallallahu 'alaihi wa
Salam*bersabda, "Keberkahan dengan doa Ibrahim
*'Alayhi Salam*."

Ibnu Abbas melanjutkan, "Kemudian Ibrahim ingin berkunjung lagi. Dia berkata
kepada keluarganya, 'Aku hendak menengok anakku.' Ibrahim datang pada saat
Ismail sedang meraut anak panah di belakang Zamzam. Ibrahim berkata, 'Wahai
Ismail, sesungguhnya Tuhanmu memerintahkan kepadaku agar aku membangun rumah
untuk-Nya.' Ismail menjawab, 'Taatilah perintah Tuhanmu.' Ibrahim berkata,
'Dia telah memerintahkanku agar kamu membantuku.' Ismail menjawab, 'Kalau
begitu akan aku lakukan.' Atau sebagaimana yang dia katakan.

Ibnu Abbas berkata, "Lalu keduanya berdiri. Ibrahim membangun sementara
Ismail menyodorkan batu kepadanya, dan keduanya berkata, 'Ya Tuhan kami,
terimalah dari kami (amalan kami). Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi
Maha Mengetahui." (QS. Al- Baqarah: 127)

*TAKHRIJ HADIS*

Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahih-nya di dalam Kitabul
Anbiya', bab 'Dan Allah mengangkat Ibrahim' (QS. An-Nisa: 125), 6/396, no.
3364. Hafizh Ibnu Hajar telah menjelaskan jalan-jalan periwayatannya dan
imam-imam yang meriwayatkannya dalam Fathul Bari, 6/399.

Ucapan Ibnu Abbas di dalam hadis ini menunjukkan bahwa dia mengangkatnya
(menisbatkannya) kepada Rasulullah *Shallallahu 'alaihi wa Salam*. Kalaupun
Ibnu Abbas tidak mendengar dari Rasulullah *Shallallahu 'alaihi wa
Salam*secara langsung, itu berarti dia mendengar dari sahabat lain.
Maka hadis ini
termasuk mursal sahabi (hadis yang diriwayatkan oleh sahabat yang tidak dia
saksikan atau dengar sendiri dari Rasulullah *Shallallahu 'alaihi wa Salam*).
Para ulama telah sepakat bahwa mursal sahabi tetap sah bila dijadikan
sebagai dalil.

*PENJELASAN HADIS*

Di dalam hadis ini Rasulullah *Shallallahu 'alaihi wa Salam* menyampaikan
kepada kita tentang kisah bapak kita, Ismail, dan ibunya, Hajar, yang
tinggal di tanah suci Makkah. Keduanya adalah orang pertama yang tinggal di
sana. Tempat keduanya tinggal adalah belahan bumi tersuci di muka bumi ini,
yang terdapat Baitul Haram. Di sanalah kaum muslimin berhaji. Di sanalah
mereka menghadap dalam shalat. Di sanalah wahyu turun kepada Ismail dan
orang setelahnya, yaitu Rasul termulia Muhammad *Shallallahu 'alaihi wa
Salam*.

Penyebab keluarnya Hajar dari Palestina ke Makkah adalah persoalan yang
terjadi antara Hajar dan Sarah setelah Hajar melahirkan Ismail. Hajar
terpaksa menjauh dari Sarah manakala dirinya tidak merasa aman di sisinya,
sebagaimana hal itu diisyaratkan oleh hadis.

Rasulullah *Shallallahu 'alaihi wa Salam* menyampaikan kepada kita bahwa
dalam kepergiannya Hajar menyeret bajunya di belakangnya untuk menghapus
jejak kakinya agar Sarah tidak mengetahui ke mana dia pergi.

Dan Allah memerintahkan Ibrahim agar memindahkan Hajar dan putranya ke
Baitullah, tempat jauh yang tidak bisa dijangkau oleh kendaraan kecuali
dengan kelelahan jiwa.

Ini adalah perkara yang mungkin sulit dan berat bagi Ibrahim yang sudah tua,
yang diberi anak Ismail dalam usia lanjut. Perkaranya bertambah sulit
manakala Ibrahim meletakkan belahan jiwanya dan ibunya di tempat yang sepi
tanpa air, tanpa makanan dan tanpa penduduk.

Akan tetapi Allah memiliki hikmah yang mendalam. Walaupun secara lahir
perkara itu sulit dan berat, akan tetapi ia banyak memuat rahmat dan
kebaikan. Dan kita melihat rahmat dan kebaikan ini pada hari ini secara
jelas dan gamblang. Dengan didiami oleh Ismail, daerah itu tumbuh menjadi
sebuah kota tempat dibangunnya Baitullah yang banyak direalisasikan
ibadah-ibadah, syiar-syiar dan segala kebaikan. Dengannya Ibrahim dan Ismail
memperoleh pahala dan balasan yang tidak diketahui kecuali oleh Allah. Itu
adalah karunia Allah yang Dia berikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan
Allah adalah Pemilik karunia yang besar.

Ibrahim membawa anak kecil, Ismail, dan ibunya dari tanah yang penuh berkah
dengan udaranya yang sejuk, kebunnya yang hijau, airnya yang mengalir ke
lembah itu, dan kemudian meletakkan keduanya di bawah pohon. Lalu dia
meninggalkannya tanpa berpikir untuk membangunkan rumah sebagai tempat
berlindung keduanya. Dia juga tidak mencarikan orang-orang yang bersedia
tinggal di sisinya untuk melindunginya dari ancaman para begal atau serangan
binatang buas.

Allah telah memerintahkan Ibrahim agar meninggalkan keduanya di lembah itu,
maka dia pun melakukan seperti yang Allah perintahkan kepadanya. Dia
menyerahkan keduanya kepada Allah, karena Dialah yang memerintahkannya untuk
melakukan itu. Tentunya, Dia mampu melindungi keduanya, memberi makan dan
minum kepada keduanya, serta menghibur keterasingan keduanya. Ibrahim tidak
mempedulikan protes Hajar yang membuntutinya. Hajar berkata, "Engkau
membiarkan kami dan pergi begitu saja?" Hajar mengulang itu berkali-kali,
sementara Ibrahim tidak meladeninya. Ini adalah perintah Allah, dan perintah
Allah tidak boleh dibantah. Inilah Islam di mana Ibrahim membawa dirinya
kepadanya. "Ketika Tuhannya berfirman kepadanya, 'Tunduk patuhlah!' Ibrahim
menjawab, 'Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam." (QS. Al-Baqarah:
131)

Manakala Hajar merasa gagal mengorek jawaban, dia berkata, "Apakah Allah
yang memerintahkanmu untuk melakukan ini?" Ibrahim menjawab, "Ya." Pada saat
itu tenanglah hati dan jiwa Hajar. Seorang mukmin mengetahui bahwa Allah
tidak akan menyia-nyiakan orang yang menjawab perintah-Nya dan mewujudkan
keinginan-Nya.

Ibrahim terus berjalan pulang. Ketika sampai di Tsaniyah dan tidak terlihat
oleh Hajar, dia berhenti menghadap ke arah Baitullah, mengangkat kedua
tangannya ke langit dan berbisik kepada Tuhannya, "Ya Tuhan kami,
sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak
mempunyai tanamtanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya
Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat. Maka
jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rizkilah
mereka dari bauh-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur." (QS. Ibrahim: 37).
Allah telah mengabulkan doanya dan merealisasikan harapannya.

Ibu Ismail tinggal selama berhari-hari. Dia minum dari kantong air yang
ditinggalkan oleh Ibrahim untuknya dan makan kurma serta menyusui putranya.
Akan tetapi kurma dan air itu cepat habis. Ibu Ismail haus dan lapar.
Anaknya pun ikut lapar dan haus bersamaan dengan lapar hausnya ibunya. Dia
berguling-guling karena kehausan. Ibu Ismail tidak tega melihatnya. Kondisi
itu mendorongnya untuk mencari sesuatu yang bisa menghapus rasa hausnya dan
menghidupi dirinya.

Ibu Ismail melihat Shafa, bukit paling dekat dengannya. Jika seseorang ingin
mengetahui apa yang ada di sekelilingnya, maka dia akan naik ke tempat yang
tinggi agar bisa leluasa memandang dan mencari apa yang dia inginkan.

Ibu Ismail naik ke Shafa. Dia memandang dengan cermat. Tak seorang pun
terlihat. Maka dia turun ke lembah untuk menuju bukit lain yang dekat, yaitu
Marwah. Dia naik ke Marwah. Dia melihat seperti yang dia lakukan di bukit
Shafa. Tak ada yang membantunya, tak ada yang menolongnya. Begitulah dia
mondar-mandir di antara Shafa dan Marwah sampai tujuh kali. Pada saat dia
mondar-mandir itu, dia menyempatkan diri menengok anaknya, untuk
menghilangkan rasa cemas dan mengetahui keadaannya. Kemudian dia meneruskan
mondar-mandir. Inilah sa'i pertama di antara bukit Shafa dan Marwah. Dan
sa'i yang pertama kali dilakukan oleh Hajar ini menjadi salah satu syiar
ibadah haji dan umrah.

"Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah. Maka
barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada
dosa baginya mengerjakan sa'i antara keduanya." (QS. Al-Baqarah: 158)

Setelah putaran ketujuh dia mendengar suara. Dia mencermatinya. Dia berkata
kepada dirinya, "Diamlah." Sepertinya dia ingin agar bisa mendengar sejauh
mungkin. Ternyata suara itu terdengar oleh telinganya untuk kedua kalinya.
Dia berkata kepada sumber suara itu, "Aku telah mendengar suaramu, jika kamu
berkenan untuk menolong." Dia meneliti sumber suara itu. Dia melihat,
ternyata suara itu berasal dari putranya. Ternyata Malaikat Allah, Jibril,
sedang memukulkan tumitnya atau sayapnya ke tanah di tempat Zamzam. Air pun
memancar.

Ibu Ismail telah mencari air dari atas bukit-bukit yang tinggi, lalu Allah
mengeluarkan air untuknya dari bawah kaki putranya yang masih bayi. Tentu
kebahagiaan ibu Ismail sangatlah besar sekali. Tidak ada air, itu berarti
kematian untuknya dan putranya. Memancarnya air adalah kehidupannya dan
kehidupan putranya beserta kehidupan lembah di mana dia tinggal.

Menurut pengamatanku, Jibril menjelma dalam bentuk seorang laki-laki,
sehingga Hajar melihatnya dan berbicara kepadanya dan dia pun berbicara
kepada Hajar. Sebagaimana Jibril juga pernah menjelma menjadi seorang
laki-laki pada masa Rasulullah *Shallallahu 'alaihi wa Salam* dan dilihat
oleh para sahabat, dan mereka pun mendengarkan ucapannya. Hal ini
berdasarkan kepada bukti bahwa Rasulullah *Shallallahu 'alaihi wa
Salam*tidak pernah melihat Jibril dalam bentuk aslinya seperti yang
diciptakan
oleh Allah kecuali dua kali. Pada kali pertama Rasulullah *Shallallahu
'alaihi wa Salam* sangat ketakutan.

Ibu Ismail, karena didorong oleh insting untuk mengumpulkan air dan menjaga
persediaannya sebanyak mungkin, maka dia membendung air itu hingga dia bisa
mengisi kantong airnya. Seandainya dia membiarkannya mengalir dan berjalan,
niscaya ia akan menjadi mata air yang mengalir. Tentang hal ini
Rasulullah *Shallallahu
'alaihi wa Salam* bersabda, "Semoga Allah memberi rahmat kepada ibu Ismail.
Seandainya dia membiarkan Zamzam" –atau beliau bersabda, "Tidak menciduk
air-" niscaya zamzam menjadi mata air yang mengalir."

Allah memberikan air kepada ibu Ismail untuk menghapus dahaganya, dan air
susunya kembali

menetes. Dia pun bisa menyusui putranya. Malaikat menenangkannya, "Jangan
takut terlantar." Malaikat menyampaikan berita gembira kepadanya, bahwa
bayinya akan membangun Baitullah bersama ayahnya dan bahwa Allah tidak akan
menyia-nyiakan keluarganya. Allah menyempurnakan nikmat kepada Ismail dan
ibunya. Maka datanglah orang-orang ke lembah itu untuk menetap. Ibu dan
Ismail pun mulai kerasan.

Keterasingan sedikit demi sedikit mulai lenyap. Sekelompok orang dari suku
Jurhum melewati daerah di dekat mereka. Mereka singgah di Makkah bagian
bawah. Mereka melihat seekor burung berputar-putar di udara. Mereka
mengetahui bahwa berputar-putarnya burung itu tidak lain karena di daerah
itu terdapat air. Karena jika tidak ada air, maka burung itu akan terus
berlalu dan tidak berhenti. Burung yang berputar-putar di udara seperti yang
mereka saksikan itu adalah burung yang mengitari air dan mendatanginya.
Hanya saja, mereka tetap meragukan perkiraan mereka sendiri, karena mereka
mengenal betul daerah tersebut, sebuah lembah tanpa air dan tanpa penghuni.
Untuk memastikannya, mereka mengutus seseorang dari kalangan mereka. Utusan
itu kembali dengan menyampaikan apa yang dilihatnya kepada mereka. Mereka
pergi kepada ibu Ismail. Dengan mata kepala mereka sendiri, mereka melihat
air yang memancar dari bebatuan. Mereka takjub dan meminta ibu Ismail agar
mengizinkan mereka untuk tinggal bersamanya. Ibu Ismail setuju, dengan
syarat bahwa mereka tidak berhak terhadap air. Mereka hanya boleh minum.
Mata air tetap menjadi hak ibu dan Ismail. Maka mereka mendatangkan keluarga
mereka dan tinggal bersama ibu Ismail.

Ismail tumbuh dengan baik menjadi seorang pemuda di lingkungan itu. Seorang
pemuda yang giat lagi rajin, diimbangi oleh akhlak mulia dan sifat-sifat
luhur. Orang-orang yang tinggal bersamanya menghormatinya dan mencintainya.
Mereka menikahkannya dengan gadis mereka.

Ibu Ismail meninggal setelah Ismail menjadi seorang pemuda, dan dia pun
tenang kepadanya. Kematian adalah akhir kehidupan yang hidup. Lalu Ibrahim
datang menengok anaknya. Dia tidak menemukan Ismail di rumahnya. Ismail
sedang keluar mencari rizki untuk keluarganya. Istri Ismail mengeluhkan
kehidupannya. Manakala Ibrahim bertanya tentangnya, dia memberitahukan bahwa
mereka hidup dalam keadaan sulit dan sengsara. Ibrahim meminta kepada istri
Ismail agar menyampaikan salamnya kepada Ismail dan berpesan kepadanya agar
dia merubah palang pintu rumahnya.

Istri Ismail tidak tahu bahwa bapak tua yang singgah padanya adalah
mertuanya. Dia juga tidak tahu jika pesannya yang disampaikan kepada
suaminya berisi perintah untuk menceraikannya. Ismail mentaati pesan
bapaknya, dan istrinya ditalaknya. Ibrahim melihat wanita tersebut tidak
layak menjadi istri seorang Nabi sekaligus Rasul yang disiapkan untuk
memimpin dan mengarahkan serta mendidik keluarga, anak-anaknya dan
orang-orang di sekitarnya. Istri yang

memperpanjang keluhan dan hobi ngedumel tidak mungkin menjadi penopang suami
yang memikul tugas-tugas besar.

Ketika Ibrahim kembali lagi, dia bertemu dengan seorang wanita yang lain
dari sebelumnya. Ibrahim rela putranya menikah dengannya dan meminta anaknya
agar mempertahankannya. Ibrahim bertanya tentang kehidupan mereka. Istri
Ismail menjawab, "Segala puji bagi Allah, kami dalam kebaikan dan
kemudahan." Ibrahim bertanya tentang makanan dan minuman mereka. Dia
menjawab, "Daging dan air." Maka Ibrahim mendoakan keberkahan kepada mereka
pada daging dan air. Seandainya mereka mempunyai biji-bijian yang mereka
makan, niscaya Ibrahim akan mendoakannya juga sebagaimana yang disampaikan
oleh Rasulullah *Shallallahu 'alaihi wa Salam*.

Rasulullah *Shallallahu 'alaihi wa Salam* menyampaikan bahwa di antara
keberkahan doa Ibrahim adalah, bahwa penduduk Makkah tetap hidup sehat walau
hanya makan daging dan minum air. Padahal, selain mereka bisa berakibat
celaka jika hanya makan daging dan air saja.

Untuk ketiga kalinya Ibrahim datang mengunjungi anaknya dan mencari tahu
tentang beritanya. Ibrahim mendapatkannya di rumah sedang duduk meraut anak
panah di bawah pohon itu, pohon di mana dulu Ibrahim meninggalkannya dengan
ibunya pada saat mereka datang pertama kali di tempat itu. Ismail bangkit
kepadanya. Keduanya melakukan apa yang biasa dilakukan oleh ayah kepada
anaknya dan anak kepada ayahnya yang lama tidak bertemu. Mereka saling
memberi salam, berangkulan, berjabat tangan, dan lain sebagainya. Ibrahim
menyampaikan perintah Allah kepadanya, agar membangun Baitul Haram dan bahwa
Dia memerintahkan Ismail untuk membantunya. Maka Ismail bersegera
melaksanakan perintah Allah. Ibrahim membangun Baitullah dengan bantuan
Ismail. Sambil membangun keduanya berdoa, "Ya Tuhan kami, terimalah dari
kami (amal kebaikan kami). Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha

mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 127)

*VERSI TAURAT [8]***

Kisah ini terdapat di dalam Taurat. Akan tetapi, kamu tidak akan mendapatkan
penjelasan dan perincian seperti yang ada di dalam hadis. Jika kamu membaca
kisah Taurat dengan kacamata hadis, maka kamu akan menemukan bagaimana hadis
membenarkan riwayat Taurat dan membongkar penyelewengan dan penggubahan yang
menimpa kisah ini sepanjang masa.

[8] Taurat adalah kitab yang diturunkan kepada Musa. Ia telah mengalami
banyak penyimpangan, dan sisa-sisanya terdapat di dalam kitab yang diberi
nama Taurat di kitab-kitab lima yang pertama, yang dinamakan dengan nama
syariat. Orang-orang Yahudi yang menulisnya telah banyak melakukan
penambahan dan semuanya mereka beri nama Taurat dengan perselisihan di
antara mereka, mana yang diterima dan mana yang ditolak.

Kisah ini tertulis dalam Ishah 16 dan Ishah 21 dalam Safar Takwin. Nashnya
adalah, "Saray istri Abram [9] belum kunjung melahirkan anak. Dia memiliki
hamba sahaya dari Mesir bernama Hajar. Saray berkata kepada Abram, "Tuhan
belum mengizinkanku untuk melahirkan. Menikahlah dengan hamba sahayaku.
Mudah-mudahan aku mempunyai anak darinya." Abram mendengar ucapan Saray.
Maka Saray, istri Abram, mengambil hamba sahayanya, Hajar Al-Misriyah,
setelah sepuluh tahun berlalu sejak Abram tinggal di bumi Kan'an. Saray
memberikan Hajar kepada Abram, suaminya, agar memperistrinya. Maka Abram
melakukannya dan Hajar hamil.

Manakala Saray melihat Hajar hamil, dia merasa rendah di depan matanya.
Saray berkata kepada Abram, "Kedzalimanku atasmu. Aku memberikan hamba
sahayaku kepadamu. Ketika aku melihatnya hamil, aku merasa rendah di
matanya. Semoga Allah memutuskan antara diriku dengan dirimu."

Abram berkata kepada Saray, "Itu dia hamba sahayamu di tanganmu. Lakukanlah
apa yang menurutmu baik di matamu." Maka Saray menghinakannya dan Hajar
minggat dari sisinya. Malaikat Tuhan mendapatkan Hajar di tanah lapang di
sebuah mata air di jalan Syur. Malaikat bertanya, "Wahai Hajar hamba sahaya
Saray, dari mana kamu datang dan kemana kamu pergi?" Hajar menjawab, "Aku
minggat dari sisi majikanku, Saray." Malaikat Tuhan berkata kepadanya,
"Pulanglah kamu kepada majikanmu dan tunduklah di bawah kekuasaannya."

[9] Saray adalah nama Sarah sebelumnya, dan Abram adalah nama Ibrahim
sebelumnya. Taurat menyatakan bahwa pergantian kedua nama itu dengan
perintah Allah.

Malaikat Tuhan berkata kepada Hajar, "Semoga keturunanmu banyak hingga tidak
terhitung." Malaikat Tuhan berkata kepadanya, "Inilah kamu yang sekarang
hamil. Kamu akan melahirkan anak laki-laki. Kamu memanggil namanya Ismail.
Sesungguhnya Tuhan telah mendengar kesengsaraanmu. Anakmu akan menjadi orang
kuat. Tangannya di atas setiap orang dan tangan setiap orang di atasnya, dan
di depan seluruh saudaranya, dia tenang."

Lalu Hajar memanggil nama Tuhan yang berbincang dengannya, "Engkau adalah il
Raay," karena dia berkata, "Apakah di sini juga saya melihat setelah
melihat, oleh karena itu sumurnya diberi nama sumur kaum Raay, inilah sumur
itu di antara Qadisy dan Barid." Lalu Hajar melahirkan anak laki-laki Abram.
Abram memanggil anaknya yang dilahirkan oleh Hajar dengan nama Ismail.

Pada saat Hajar melahirkan Ismail, umur Abram adalah 86 tahun. Dalam Ishah
21 dalam Safar Takwin tertulis: "Sarah melihat putra Hajar Al-Misriyah
sedang bergurau, Sarah berkata kepada Ibrahim, 'Usirlah wanita itu dan
anaknya, karena putra wanita hamba sahaya itu tidak berhak atas warisan di
depan anakku Ishaq." Ucapan yang sangat buruk dalam pandangan Ibrahim karena
anaknya. Lalu Allah berfirman kepada Ibrahim, "Jangan menjadi buruk di
matamu hanya karena anak laki-laki dan hamba sahayamu dalam segala ucapan
Sarah kepadamu. Dengarkanlah ucapannya, karena kamu dianggap memiliki
keturunan melalui Ishaq. Dan putra hamba sahayamu itu akan Aku jadikan
sebagai umat, karena dia adalah keturunanmu."

Pada pagi harinya Ibrahim bersiap-siap. Dia membawa roti dan kantong air
lalu memberikannya kepada Hajar dengan meletakkan keduanya di pundak Hajar
yang menggendong anak dan memerintahkannya pergi. Hajar pergi dan tersesat
di daratan sumur tujuh. Ketika air yang di kantong telah habis, Hajar
meninggalkan anaknya di bawah sebuah pohon. Hajar menjauh dan duduk
membelakanginya sejauh lemparan busur. Dia berkata, "Aku tidak mau melihat
kematian anak." Hajar duduk membelakanginya dan menangis dengan keras. Lalu
Allah mendengar suara anaknya dan Malaikat Allah memanggil Hajar dari
langit. Dia berkata kepadanya, "Ada apa denganmu, wahai Hajar? Jangan takut,
karena Allah telah mendengar suara anakmu seperti adanya. Bangkitlah,
bawalah anakmu, kuatkan tanganmu padanya, karena aku akan menjadikannya umat
yang besar." Dan Allah membuka kedua mata Hajar maka dia melihat sumur air.
Dia mendekatinya dan memenuhi kantongnya dengan air dan memberi minum
anaknya. Allah bersama anak itu, hingga dia menjadi besar dan tinggal di
daratan. Dia tumbuh menjadi seorang pemanah. Dia tinggal di daratan Faran
dan ibunya menikahkannya dengan seorang wanita dari Mesir."

*KOMENTAR MENYANGKUT KISAH DALAM TAURAT*

Ada beberapa poin dalam kisah ini yang benar karena sesuai dengan
pemberitaan Rasulullah *Shallallahu 'alaihi wa Salam* dalam hadis yang kami
sebutkan dan hadis-hadis lainnya. Di antaranya, bahwa Sarah memberikan hamba
sahayanya Hajar kepada Ibrahim dengan harapan agar Ibrahim bisa memperoleh
anak darinya dan Hajar hamil setelah Ibrahim menikahinya; bahwa Hajar
menjadi percaya diri ketika dia hamil, sementara majikannya menjadi turun
pamornya di matanya; bahwa Sarah marah terhadap Hajar yang kemudian minggat
dari hadapannya; bahwa Sarah meminta Ibrahim untuk mengusir Hajar dan
putranya, sehingga Ibrahim mengeluarkan Hajar ke daratan dengan dibekali
sedikit makanan dan kantong air; bahwa Hajar bersedih ketika airnya habis;
dan bahwa Malaikat Tuhan turun dan menenangkannya serta memberitahukan
tempat air kepadanya.

Tidaklah benar apa yang disebutkan dalam kisah Taurat bahwa Ibrahim memberi
Hajar sekantong air dan makanan dan memintanya membawanya, dan bahwa Hajar
pergi tak tentu arah di daratan tersebut. Yang benar adalah seperti yang
tercantum di dalam hadis, bahwa Ibrahim membawa sekantong air dan tempat
bekal berisi kurma dan dia meninggalkan Hajar beserta anaknya di sebuah
lembah tandus di Baitullah Al-Haram.

Apa yang disebutkan di dalam hadis tentang keadaan Hajar, habisnya air, sa'i
Hajar di antara Shafa dan Marwah, datangnya Jibril yang memancarkan air, dan
perincian-perincian lain tidaklah disinggung dalam Taurat. Apa yang
disebutkan dalam Taurat tidaklah secermat dan sejelas seperti dalam hadis.

Tidak benar kalau Sarah menyuruh Ibrahim mengusir Ismail ketika dia
melihatnya bergurau, dan bahwa Sarah menolak Ismail menjadi ahli waris
bersama Ishaq anaknya. Karena, pada saat Ismail dibawa oleh bapaknya ke
Makkah, ia masih seorang bayi yang menyusu dan belum sampai pada umur yang
memungkinkan untuk bergurau. Adapun Ishaq, dia pada saat itu belum
dilahirkan.

Apa yang disebutkan dalam Taurat bahwa Ibrahim menggauli Hajar setelah
sepuluh tahun dari tinggalnya di bumi Kan'an; bahwa minggatnya Hajar dari
Sarah adalah ke mata air di jalan Syur, dan Malaikat meminta agar Hajar
kembali kepada Sarah dan patuh kepadanya; dan bahwa Ibrahim pada waktu
Ismail lahir berumur 86 tahun; semua itu Allah lebih mengetahui
kebenarannya.

PELAJARAN-PELAJARAN DAN FAEDAH-FAEDAH HADIS

1. Kisah ini mengandung banyak informasi dan fakta yang tidak mungkin kita
ketahui seandainya Rasulullah *Shallallahu 'alaihi wa Salam* tidak
memberitahukannya kepada kita. Informasi-informasi berharga tentang nenek
moyang yang mulia, tentang tumbuhnya kota suci, tentang pembangunan Baitul
Atiq, dan lain sebagainya.

2. Ketaatan Ibrahim kepada perintah Allah agar membawa istri dan anaknya ke
tempat itu, walaupun perkaranya sedemikian sulit atas dirinya. Seorang hamba
bisa jadi membenci sesuatu, sementara kebaikan tersimpan di dalamnya; dan
dia bisa jadi menyukai sesuatu, padahal itu buruk baginya.

3. Allah menjaga dan melindungi para walinya sebagaimana Dia telah menjaga
Hajar dan Ismail

manakala Ibrahim meninggalkannya di tempat itu.

4. Berserah diri kepada perintah Allah tidak menafikan usaha seorang hamba
dalam perkara yang

mengandung kebaikannya. Hajar mencari sesuatu yang bisa menjaga kelangsungan
hidupnya dan hidup putranya, walaupun dia berserah diri kepada perintah
Allah.

5. Kemampuan Allah mengeluarkan air dari batu yang tuli, seperti Dia
mengeluarkan air Zamzam.

6. Perhatian dan nasihat bapak kepada anak tentang sesuatu yang menurutnya
baik bagi anaknya. Ibrahim selalu mengunjungi anaknya untuk mengetahui
kondisi dan keadaannya dan mengarahkan kepada sesuatu yang baik baginya.

7. Ngedumel karena minimnya rizki dan sulitnya hidup bukan termasuk akhlak
orang-orang shalih. Ibrahim membenci sifat ngedumel dari istri Ismail akan
beratnya kehidupannya bersama Ismail. Sebaliknya, sabar atas minimnya bekal
dan sikap syukur atas nikmat Allah termasuk akhlak orang-orang shalih. Oleh
karena itu, Ibrahim memuji istri Ismail yang ridha dan bersyukur.

8. Doa orang shalih agar makanan dan minuman menjadi berkah, sebagaimana
Ibrahim mendoakan daging dan air bagi penduduk Makkah agar menjadi berkah.

9. Menampakkan perasaan bahagia dan senang pada waktu bertemu orang yang
dicintai. Mengungkapkannya dengan sikap seperti yang dilakukan oleh Ibrahim
dan Ismail ketika keduanya bertemu.

10. Ismail adalah seorang pemanah yang mahir dan pemburu yang ahli.
Rasulullah *Shallallahu 'alaihi wa Salam* bersabda kepada
sahabat-sahabatnya, "Wahai Bani Ismail, panahlah karena bapak kalian adalah
seorang pemanah."

11. Saling tolong menolong di antara anggota keluarga dalam berbuat
kebaikan, sebagaimana Ismail membantu bapaknya membangun Ka'bah.

12. Bakti Ismail kepada bapaknya. Dia taat kepada ayahnya untuk menceraikan
istri pertamanya dan menahan istri keduanya. Jika ayah yang meminta mentalak
istri dengan pertimbangan-pertimbangan Islamiah seperti Ibrahim, maka anak
tidak boleh menolak.

13. Ismail adalah bapak orang Arab Musta'ribah, yaitu Arab Hejaz. Adapun
kabilah–kabilah Himyar, yaitu Yaman, maka mereka kembali kepada Qahthan.
Orang-orang Arab sebelum Ismail dikenal dengan sebutan orang Arab Aribah,
dan mereka terdiri dari banyak kabilah. Di antara mereka adalah Ad, Tsamud,
Jurhum, Thasm, Jadis dan Qahthan. Kebanyakan dari mereka telah binasa dan
punah.

Dalam hadis shahih disebutkan bahwa Ismail adalah orang pertama yang
mengucapkan bahasa Arab dengan lisan yang jelas ketika dia berumur empat
belas tahun.[12]

14. Koreksi Al-Qur'an dan hadis yang shahih terhadap kesalahan dan
penyimpangan Taurat.

[10] Diriwayatkan oleh Bukhari di beberapa tempat dalam Shahih-nya. Lihat
no. 97 dan 3371.

[11] Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir, 1/120, 2/165.

[12] Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menisbatkannya kepada Thabrani dan
Dailami, dihasankan oleh Ibnu Hajar, dan dishahihkan oleh Albani dalam
Shahihul Jami', no. 2581.

Sumber : Kisah-kisah Shahih Dalam Al-Qur'an Dan Sunnah oleh Syaikh 'Umar
Sulaiman al-Asyqor


[Non-text portions of this message have been removed]

------------------------------------

====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
daarut-tauhiid-digest@yahoogroups.com
daarut-tauhiid-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
daarut-tauhiid-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

Tidak ada komentar: