Senin, 08 November 2010

[daarut-tauhiid] Menjaga agar "Azan" Tetap Berkumandang di Lereng Merapi

 


Menjaga agar "Azan" Tetap Berkumandang di Lereng Merapi
Monday, 08 November 2010 12:50

Mereka meninggalkan pesantren dan memilih menjadi relawan. Ia ingin adzan terus berkumandang  agar sholat berjamaah tetap didirikan
 
Hidayatullah.com—Jundi (15) nampak sibuk mengurusi pengungsi Merapi. Beberapa hari ini, ia sejenak melupakan kegiatan sekolahnya dan ikut sibuk menjadi relawan.
 
"Kegiatan utama kami di Posko ini adalah menjaga agar azan tetap berkumandang dan sholat berjamaah tetap didirikan," ujar Jundi Iskandar di masjid Markazul Islam Pesantren Hidayatullah Yogyakarta.
 
"Berikutnya, barulah tugas menjadi anggota tim evakuasi dan mengamankan asset pesantren karena sudah ada info banyak terjadi penjarahan, saat beberapa tempat harus ditinggal mengungsi," tambahnya.
 
Jundi adalah  santri SMA Hidayatullah Yogyakarta yang memilih bergabung dengan relawan Hidayatullah Peduli untuk musibah gunung Merapi.
 
Masjid Markazul Islam menjadi posko relawan setelah warga pesantren diharuskan ikutan mengungsi.
 
Ketika Merapi meletus dahsyat pada Kamis (4/11) tengah malam sampai Jumat (5/11) dinihari, Jundi termasuk santri yang ikut membantu mengungsikan 150-an warga Pesantren yang berada pinggir sungai Boyong di dusun Balong, Donoharjo, Ngaglik, Sleman. Jarak udara pesantren ini dari titik puncak Merapi adalah 17 km. Sebelumnya, hari Jumat, Badan Geologi menetapkan kawasan rawan bencana diperluas menjadi 20 kilometer dari puncak Merapi.
 
"Prioritas pengungsian pertama adalah bayi dan ibu-ibu. Ada 10 balita, 6 ibu, dan 7 anak usia SD yang diungsikan dengan 2 mobil milik pengurus pesantren yang sudah standby sejak Merapi meningkat aktivitasnya dan statusnya dinyatakan dalam kondisi Awas Merapi," kata Jundi.
 
Berikutnya, sekitar 100 santri yang selama ini tinggal di asrama pesantren diangkut dengan menggunakan truk milik Basuki Jaya,  simpatisan Pesantren.
 
Menolong Agama Allah
 
Jundi dan para santri lainnya sesungguhnya adalah pengungsi dan korban Merapi. Meski harus meninggalkan kegiatan sekolah,  ia bersama rekan-rekannaya  merasa sangat istimewa menjadi relawan.
 
"Bismillah. Meskipun mengungsi tapi kami sungguh tak ingin menjadi pengungsi. Kami ingin menjadi subyek, bukan obyek. Kami ingin jadi penolong. Kami ingin menjadi solusi dan bukan problema. Ustadz berpesan,"Intansurullaha yansurkum…jika kamu menolong agama Allah, pasti Allah akan menolong kamu," tegas Jundi kepada hidayatullah.com.
 
"Apalagi beredar info, banyak penjahat akidah yang berseliweran mencari mangsa," tambah santri asal Cimais, Jawa Barat ini.
 
Lalu bagaimana dengan ancaman lahar dingin dan awan panas yang bisa datang sewaktu-waktu?
 
"Kami tetap berkomunikasi dengan pos info resmi Merapi dan instansi lain yang terkait. Setiap instruksi resmi dari mereka selalu kami perhatikan dan kami koordinasikan. Meski ikhtiar sudah dilakukan, kalau Allah punya takdir lain, kematian bagi kami bukanlah hal yang harus ditakuti, tapi harus diperjuangkan," tegas ustadz Syamsul Ma'arif, koordinator utama Hidayatullah Peduli yang diamini oleh anggota tim. 
 
Hingga kini, situasi saat pengungsian warga pesantren sangat mencekam. Suara aliran Kali Boyong di belakang pesantren yang mengalirkan lahar dingin dari puncak Merapi berpadu dengan suara gemuruh gerakan magma dari dalam bumi.
 
Apalagi sejak sore, hujan air (berikutnya berubah menjadi hujan lumpur campur kerikil) dan gelegar guntur tak henti-hentinya melingkupi daerah ini. 
 
Perjalanan menuju tempat pengungisan juga tidak mudah karena ruwetnya lalulintas pengungsi dari tempat lain dan jarak pandang yang sangat terbatas akibat hujan lumpur.
 
Tak terhitung berapa kecelakan lalulintas yang terjadi. "Penyeka kaca mobil menjadi tidak berfungsi. Kami harus berhenti setiap limapuluhan meter untuk mengelap kaca," ujar Abu Abdurrahman, pengurus pesantren yang kebagian jatah  mengangkut pengungsi balita dan ibu.
 
Akhirnya, balita dan ibu-ibu diungsikan ke gudang kertas milik percetakan Mucommindo Jaya Cemerlang, di desa Karangjati (radius 30 km) dari puncak Merapi dan santri usia SMP-SMA diungsikan ke kantor sekretariat Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Hidayatullah Yogyakarta di Tegalmodo, Sariharjo, Ngaglik, Sleman (radius (28 km).
 
Alhamdulillah, kedua tempat ini berdampingan dengan masjid dan mushola sehingga beberapa keperluan MCK termudahkan.
 
Belakangan, beberapa santri usia SMP diminta orang tuanya pulang ke rumah asal masing-masing. Santri usia SMA dan santri dewasa bergabung dengan tim relawan Hidayatullah Peduli.
 
SAR Hidayatullah
 
Tim Hidayatullah Peduli sudah berkiprah sejak heboh erupsi dan awan panas Merapi menewaskan "legenda Merapi" yaitu  Mbah Maridjan, beberapa waktu lalu.
 
Relawan Hidayatullah Peduli terdiri dari beberapa komponen, di antaranya Baitul Maal Hidayatullah (BMH), tim Search And Rescue (SAR) Hidayatullah dan Islamic Medical Service (IMS) Hidayatullah.
 
Sebelum erupsi Kamis tengah malam itu, mereka membantu mengelola sekitar 600 KK di posko Purwobinangun, Pakem, Sleman. Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono, sempat mampir ke posko dan menyambangi para korban erupsi Merapi. Ketika radius aman Merapi diperluas dan para pengungsi diharuskan bergeser menjauhi Merapi menuju stadion Maguwoharjo Sleman, posko Hidayatullah Peduli tetap menemani para pengungsi.
 
Saat ini, relawan Hidayatullah Peduli mengelola 7 posko yaitu Posko Induk di jalan Monjali – Palagan Tentara Pelajar, 2 posko pengungsi warga pesantren (Karangjati dan Tegalmodjo), posko pengungsi di Stadion Maguwoharjo, posko pengungsi di Langenastran, posko pengungsi di Sasono Hinggil Dwi Abad Alun-alun Selatan Keraton Yogya, dan posko SAR-BMH di titik terdekat puncak Merapi, masjid Markazul Islam Donoharjo. Beberapa relawan dari BMH dan SAR Hidayatullah daerah lain juga mulai berdatangan memberikan dukungannya. Diantaranya dari BMH-SAR Solo, BMH-SAR Jawa Timur, BMH-SAR Kudus, BMH-SAR Semarang dan BMH-SAR Jakarta. [Djanto/hmy/hidayatullah.com] 
 
Kontak Bantuan ke: Ustad Maarip +6281215707321
http://www.hidayatullah.com/cermin-a-features/f/14091-menjaga-agar-azan-tetap-berkumandang-di-lereng-merapi 
---

 "Daging (hewan qurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah,
tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu…… (Qs. Al-Hajj: 37).

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___
Recent Activity:
====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
       website:  http://dtjakarta.or.id/
====================================================
MARKETPLACE

Hobbies & Activities Zone: Find others who share your passions! Explore new interests.


Stay on top of your group activity without leaving the page you're on - Get the Yahoo! Toolbar now.


Get great advice about dogs and cats. Visit the Dog & Cat Answers Center.

.

__,_._,___

Tidak ada komentar: