Selasa, 02 November 2010

[sekolah-kehidupan] Digest Number 3233

sekolah-kehidupan

Messages In This Digest (11 Messages)

Messages

1a.

Re: [Info Eska] Program Kerja Divisi Penerbitan

Posted by: "humairayusuf" humaira_ys@yahoo.com   humaira_ys

Mon Nov 1, 2010 6:27 pm (PDT)



Makin semangat menulis...lihat program kerjanya......thanks banget...semoga lancar ya...program kerjanya....

--- On Wed, 10/27/10, batikmania <batikmania@yahoo.com> wrote:

From: batikmania <batikmania@yahoo.com>
Subject: [sekolah-kehidupan] Re: [Info Eska] Program Kerja Divisi Penerbitan
To: sekolah-kehidupan@yahoogroups.com
Date: Wednesday, October 27, 2010, 5:42 PM

 

Good idea!

Siap-siap menyambut aspirasi Divisi Penerbitan. Semmangat lageee...!

Insya Allah akan menyempatkan waktu untuk menulis khusus untuk SK. Bismillah...

(tapi sekarang sih komentar pendek aja dulu ya. ;))

Diah Utami

--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, novi khansa' <novi_ningsih@...> wrote:

>

> Program Kerja Divisi Penerbitan

> 1.    Dani Ardiansyah

> 2.    Novi Khansa

>

> 1.    Merapikan postingan yang beredar di milis.

> a. Diary ditulis [catcil]

> b. Info dari luar ditulis [Info]

> c. Info dari Eska ditulis [Info Eska]

> d. Resensi ditulis [Ruang Baca]

> e. Kabar Gembira ditulis [Kabar Gembira] bisa berupa pernikahan, kelahiran anak, dan lain-lainnya

> f. Info Ketemuan Eska ditulis [KOPDAR]

> g. Kegiatan sosial atau Acara Baksos ditulis [Baksos]

> h. Fiksi berupa puisi atau cerpen ditulis [Fiksi]

> i. Untuk tema yang tidak ada hubungannya dengan milis ditulis [OOT]

>

>     Apabila tulisan hasil copas diharapkan diulis di awal sebelum judul. Sebutkan sumber tulisan tersebut.

>

> 2.    Mengajak Teman-teman Eska berbagi lewat tulisan. Menulis pengalaman pribadi dengan tema tertentu, bukan dengan lomba, tetapi ajang latihan menulis tiap 2 atau 3 bulanan. Diharapkan pengurus dan moderator menjadi perintis atau berperan serta.

>

> Tema-temanya adalah sebagai berikut

> Tema Oktober-November: pengalaman menghadapi bencana, misalnya kebanjiran, longsor, dll.

> Bagaimana sikap kita ketika menghadapi bencana. Apa hikmah yang kita dapatkan.

>

> Tema Desember-Januari: pengalaman belajar

> Memberi kesempatan untuk member Eska yang masih sekolah atau kuliah. Bisa juga buat teman-teman yang ingin berbagi ketika masih sekolah. Bisa juga buat pengalaman teman-teman yang ingin menyekolahkan anaknya. 

>

> Tema Februari: tentang kisah kasih (pengalaman mengejar jodoh atau menjemput jodoh, tentang nikah, dll). Pengalaman berbagi oleh teman-teman yang baru, sedang atau sudah lama menjalani pernikahan.

>

> Tema Maret-April: tentang Jalan-jalan. Segala hal berhubungan dengan jalan-jalan. Misalnya serunya di bus, wisata kuliner, tempat-tempat kongkow yang asyik

>

> Tema Mei-Juni-Juli: tentang ESKA. Segala hal tentang Eska ^_^ seperti dua tahun lalu.

>

> Labelnya [BERBAGI] misalnya [BERBAGI-Banjir, oy] , [BERBAGI-jadi raja-ratu sehari :D]

>

> 3.    Lomba Menulis

> Lomba ini waktunya tentatif. Dilaksanakan tahun depan.

> Lomba yang temanya “PERTAMA”

>

> Bisa berkisah tentang gaji pertama, anak pertama, cucu pertama, pekerjaan pertama, dan lain-lain. Hadiahnya dari sponsor. Terbuka bagi siapapun menjadi sponsor lomba ini.

>

> 4.    Menerbitkan buku (dilakukan pada tahun 2011) Waktu tentatif

> Untuk kepengurusan ini ada kenang-kenangan buku yang diterbitkan. Lewat seleksi naskah dan penulis berinvestasi sesuai estimasi biaya.

> - Bangkit

>   Bangkit dari keterpurukan apapun. Misalnya setelah di-PHK, bagaimana agar bisa survive. Atau bisa juga pengalaman setelah patah hati. Bangkit setelah menghadapi masalah-masalah sulit.

>

> - Tentang Anak

> Cerita tentang ibu, ayah, dan lain-lain. Sekarang, saatnya kita cerita tentang anak. Ceritanya bisa beraneka ragam, asal berkaitan dengan anak. Perjuangan mendapatkan anak bagi pasangan yang begitu sulit mendapatkan anak. Menceritakan tentang kita yang mendapat banyak pelajaran dari anak kita. Kisah kelucuan anak-anak kita.

>

> -  Merantau

> Banyak dari kita yang bukan orang asli kota tersebut. Entah karena dinas, kuliah, kerja, ikut dengan orangtua. Kita menceritakan bagaimana pengalaman kita pertama kali datang ke sebuah tempat, survive di tempat tersebut, adaptasi, dan lain-lain.

>

> Tidak semua tema di atas akan dipakai, tetapi dipilih salah satu saja.

>

>

> 5.    Menerbitkan buletin atau majalah atau tabloid. (untuk milad Eska, Juli 2011) dikerjakan 2 atau 3 bulan sebelumnya.

> Berisi cerita-cerita tentang Eska. Kisah-kisah yang pernah ditulis dan dilombakan 2 tahun lalu. Atau bisa juga dikumpulkan dari milis. Seleksi dilakukan oleh Departemen Penerbitan. Diharapkan ada sponsor yang mendanai penerbitan buletin ini. Buletin akan dibagikan secara cuma-cuma atau bayar, tergantung dari dana yang didapat. Akan dibentuk tim tersendiri.

>

>

> 6.    Berbagi karya (pengiriman bisa dimulai oktober)

> Penulis yang aktif di Eska mengirimkan buku hasil karyanya untuk diarsipkan kepada divisi Penerbitan, baik itu karya pribadi, duet, atau antologi. Nah, buku ini akan dipamerkan pas milad Eska. Diharapkan dengan hal ini, kita bisa mencontoh teman-teman yang berprestasi. Selain itu, bisa menjadi ajang promosi buat penulis.

>

>

> Ditunggu masukan dan saran dari teman-teman semua ^_^

> Ditunggu juga partisipasi dari semua sahabat Eska agar program ini bisa terlaksana dengan baik...

> dan jangan lupa doain juga, hehe ^_^

>

> salam

>

> Dani Ardiansyah

> Novi Khansa

>

>

>

>

>

> ***

>

> "Anda adalah cermin dari pikiran-pikiran Anda Sendiri"

> (Syekh Muhammad Al Ghazali)

>

> ***

>

>

>

> novi_khansa'kreatif

> ~Graphic Design 4 Publishing~

> YM : novi_ningsih

> http://akunovi.multiply.com

> http://novikhansa.wordpress.com/

>

2.

[ revival! ] Who's The Boss ?!

Posted by: "+ Made Teddy Artiana +" made.t.artiana@gmail.com

Mon Nov 1, 2010 6:28 pm (PDT)



*Who's The Boss ?
*oleh Made Teddy Artiana

Tidak banyak yang tahu tentang serial komedi lawas berikut : Who's The Boss.
Serial TV yang dibintangi Tony Danza, Judith Light dan Alyssa Milano ini
dapat dikatakan sangat sukses pada zamannya. Ia bercerita tentang 'hubungan
aneh' antara pembantu rumah tangga –yang kebetulan duda beranak satu- dengan
majikannya, seorang janda beranak satu pula. Dikatakan aneh, karena hubungan
keduanya sedemikian komplek sehingga tak jelas lagi siapa majikan dan siapa
pembantu. Lucu memang, tapi jika direnungkan lebih dalam sedikit-banyak
lelucon Who's The Boss ada benarnya. Kini tengoklah sejenak hidup kita.
Bukankah hiruk-pikuk pengejaran akan kesuksesan, kekayaan dan eksistensi
diri sering menimbulkan dampak lupanya kita pada 'siapa Boss yang
sebenarnya' dalam hidup ini. Seolah-olah seluruh uang yang mengelilingi
kita, pencapaian, orang-orang disekitar kita, bahkan diri kita ini adalah
milik kita sendiri. Seolah-olah semuanya ini berada digengaman kita, dan
semuanya itu akan tetap disitu sampai selama-lamanya. Siapa aku dan siapa
TUHAN !??

Hingga bencana serupa Wasior, Mentawai dan Merapi sekonyong-konyong datang
menyeruak, merampas hidup dan segala sesuatu didalamnya dari depan hidung
kita. Entah apa alasan dibalik semua itu, tak ada pendapatan seorangpun
dapat menghakiminya. Apakah ini hukuman ataukah ujian semata ?

Tapi satu hal yang begitu jelas : semua itu diijinkan oleh TUHAN untuk
terjadi. Dan ketika terjadi, serta merta semua mata membelalak. Dada-dada
busung menciut. Pandangan sombong tengadah pun jadi tertunduk. Kini, mulai
jelas sudah siapa Pemilik semuanya. Uang, harta, anak, orang tua, teman
bahkan nyawa kita, ternyata bukan milik kita. Who's The Boss ? Walaupun
sekilas terkesan kejam, pahit dan otoriter, namun adalah sah-sah saja jika
Sang Pemilik melakukan apa yang ia suka terhadap miliknya sendiri. Apapun
alasan dibalik itu semua, Beliau jauh lebih tahu. Sebuah peringatan bagi
semua manusia yang punya mata, telinga dan hati.

Ternyata kita semua hanya sekedar menumpang di dunia ini.
Penumpang-penumpang yang seringkali sombong dan melupakan status kita :
lahir telanjang, kembali pulangpun dengan telanjang.

Itu tentu saja berarti, kalau sampai sekarang kita masih bisa tidur dengan
aman, cukup makan, menonton televisi dengan nyaman, tak terlalu sulit untuk
tersenyum, sehat, bahagia, dikelilingi keluarga dan teman, itu semua
'semata-mata' karena belas kasihan-Nya. Kasih karunia Sang Khalik lah yang
membuat kita ada sebagaimana kita adanya hari ini. Jika demikian, ada
baiknya setiap pagi kita awali dengan sujud syukur akan segala nikmat dan
kebaikan-Nya dalam hidup kita. Segala hormat dan kemuliaan bagi Sang Raja, *The
One and Only Boss*, dari selama-lamanya, sampai selama-lamanya. Amin. (*)

*Dua hal aku mohon kepada-Mu, jangan itu Kautolak sebelum aku mati, yakni:
Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. *
*Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan.
Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku.
Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN
itu?
Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Tuhanku.*

*Teriring doa dan dukacita yang dalam *
*untuk saudara-saudaraku di Papua, Mentawai dan Merapi *
*Semoga TUHAN berkenan memulihkan kalian*
*dan mengasihani bangsa ini.*
**
Made Teddy Artiana
3.

Art-Living Sos 2010 (A-10  Tukang Setrika

Posted by: "IETJE SRI UMIYATI GUNTUR" ietje_guntur@bca.co.id

Mon Nov 1, 2010 6:29 pm (PDT)





Dear Allz...

Woooowww...sudah beberapa hari kita tidak bertegur sapa, ya..? Semoga teman, sahabat dan saudara-saudaraku semua dalam keadaan sehat wal’afiat. Cuaca mendung, hujan dan bahasa alam lain sangat mempengaruhi hidup kita akhir-akhir ini...

Adalah saatnya bersyukur dan berterimakasih kepada Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang , atas segala perlindungan yang telah diberikan kepada kita. Ketika kita diberi kesehatan, kemudahan, persahabatan, dan udara kehidupan...yang membuat kita tetap eksis hingga hari ini.

Mestinya ini saya kirimkan untuk hidangan hari Minggu. Tetapi tidak apa-apa...untuk hari Senin dan Selasa pun hidangan ini masih gurih untuk disantap...hehehe...Di hari yang sedikit berselimut mendung ini, barangkali teman dan sahabatku sudah memiliki agenda pribadi. Entah dengan teman, keluarga, atau hanya sendiri. Nikmatilah hari ini...di mana pun teman dan sahabatku berada. Nikmati saat-saat yang kita miliki, dan selalu bersyukur...bahwa kita masih memiliki kesempatan untuk itu semua.

Seperti biasaaaaa....tanpa berpanjang kata, saya ingin berbagi cerita sedikit. Tentang pengalaman saya bersama dengan Tukang Setrika...hehe...Barangkali nanti akan ada pengalaman yang mirip atau sama. Semoga berkenan, yaaaa...

Selamat liburan...dan selamat menikmati...

Salam hangat,

Jakarta, 1 November 2010

Ietje S. Guntur

♥♥♥

Art-Living Sos 2010 (A-10

Start : 24/10/2010 10:02:07

Finish : 26/10/2010 11:07:20

TUKANG SETRIKA

Hari Minggu. Saya sedang bersiap-siap untuk mengatur acara hari itu. Biasanya sih, kalau tidak ada undangan atau acara keluarga, saya akan mengambil waktu untuk istirahat. Biasalah...me time...waktu pribadi... hehehe...Eeeh, memangnya emak-emak nggak boleh punya waktu sendiri ? Perlu, lhoooo....me time itu bisa diisi dengan beragam kegiatan. Mulai dari urusan domestik, memasak dan berkebun, atau membereskan harta karun di lemari...baju-baju lama yang bertumpuk dan lupa disirkulasi....hiks...

Hari itu saya sudah berniat untuk membereskan pakaian yang belum sempat disetrika. Berhubung asisten di rumah sedang pulang kampung, jadi urusan setrika baju ini agak terbengkalai. Jujur saja, dari semua urusan domestik, saya paling...hmmh...tidak suka dengan urusan setrika-setrikaan ini. Mendingan mencuci baju, dengan cara manual maupun dengan mesin cuci. Sebentar beres, dan jelas hasilnya. Sementara menyetrika ? Wadooohh...

Biasanya saya hanya menyetrika baju yang akan dipakai pada saat itu saja. Paling banyak, baju untuk dua hari ke depan. Karena saya suka baju yang hangat, yang baru disetrika setiap pagi...uuuhh...repot, ya ? Tapi untuk pakaian-pakaian dalam dan kain-kain lain seperti selimut, handuk, saputangan kayaknya mesti disetrika langsung dan disimpan. Itulah yang saya paling malaaaaasss...hiiiks...Rasanya melihat kain yang terentang lebar, saya langsung senewen. Seakan-akan kain itu tidak bertepi...

Dulu bila asisten di rumah sedang pulang kampung, selama dua minggu saya akan meminta jasa penyetrika harian yang datang ke rumah. Mereka adalah ibu-ibu dari pemukiman di luar kompleks perumahan, yang bisa mengambil waktu sekitar dua tiga jam untuk menambah penghasilan. Mereka bisa dapat tambahan pendapatan, dan saya bebas dari keharusan melicinkan kain-kain...hhmmh...sinbiosis mutualistis.

Belakangan para ibu yang bisa membantu, sudah jarang ada. Kalau pun ada, biasanya juga mereka sudah diborong oleh tetangga lain. Jadi saya tidak kebagian waktu. Sementara untuk menunggu asisten kembali dari kampung, bisa-bisa tumpukan cucian yang belum disetrika setiap hari akan menggunung dan menjadi sarang nyamuk.

Untunglah...ooooh...untung...sekarang sudah jasa penyetrika profesional. Dari yang murah meriah hingga yang mahal dan berkelas hotel bintang. Jadi dengan riang gembira, saya pun mengumpulkan baju-baju dan kain yang akan disetrika. Lalu dikirim ke jasa setrika itu...horeeeee....

♥

Ngomong-ngomong soal setrika, yang rumahan maupun profesional.

Sebetulnya ini adalah urusan sehari-hari yang sangat amat menyita waktu. Berbeda dengan mencuci pakaian yang bisa dicemplungkan sekaligus ke dalam ember atau tabung cuci di mesin, menyetrika benar-benar pekerjaan one by one, alias kudu satu demi satu. Nggak bisa kita menyetrika dua atau tiga helai baju sekaligus...ditumpuk seperti kue lapis, lalu digosok sekali gilas....halaaah...kayaknya gak mungkiiiiinnn....

Jadi berdasarkan cara dan metoda kerjanya, maka menyetrika memang harus dilakukan dengan cara seksama dan sesabar-sabarnya !

Itulah sebabnya juga, berhubung saya kurang sabar untuk urusan seperti ini, maka pekerjaan menyetrika merupakan salah satu tugas domestik rumahtangga yang menempati prioritas paling bawah bagi saya...hiks hiks..

Saya jadi ingat nih. Semasa masih kecil dulu, ibu saya sudah melatih kami untuk menyetrika pakaian sendiri. Peraturannya begini : walaupun hanya satu lembar setiap hari, tetapi wajib dilakukan. Terutama untuk pakaian seragam sekolah. Itu merupakan tanggungjawab pribadi agar kita tetap tampil rapi.

Saya mulai boleh menyetrika ketika berumur kurang lebih enam tahun. Jaman itu, setrika ada dua macam, setrika listrik seperti yang ada sekarang, dan setrika besi yang menggunakan bahan bakar arang. Berhubung di Medan dulu kadang-kadang giliran mati listrik ( kalau sekarang kadang-kadang giliran nyala listrik...hehehe...), jadinya kami lebih sering menggunakan setrika arang ini.

Ukuran setrika arang juga tidak ada yang mini dan ergonomis untuk anak-anak. Jadi deh, saya harus belajar menggunakan setrika arang, yang diatasnya ada kunci kait berbentuk ayam-ayaman. Bobot setrikaan itu mungkin sekitar 500 gram atau setengah kilo. Kadang lebih. Lumayan berat untuk anak-anak. Tapi itu belum seberapa. Tinggi meja setrikaan juga diatur untuk orang dewasa, sehingga saya harus memasang beberapa buah batubata yang ditumpuk , agar bisa mencapai ketinggian yang pas untuk menyetrika. Masih ada lagi...setrika ayam-ayaman itu tidak bisa diatur temperaturnya. Sekali panas, ya tetap panaaassss...sampai akhirnya arangnya habis dan apinya mati.

Pada saat itu ada lagi peraturan dari ibu saya. Pakaian yang akan dipakai setiap sore harus diberikan kepada pembantu di rumah untuk disetrika sebelum jam empat sore. Oya, saya seling sedikit...Ibu saya masih mengikuti tradisi lama, yaitu ada baju khusus untuk sore hari, yang dipakai untuk jalan-jalan sore alias JJS bersama ayah saya. Biasanya saya akan memilih baju JJS itu ketika pakaian baru diangkat dari jemuran. Dan kalau terlambat menyerahkan pakaian, maka saya harus menyetrika sendiri. Sebetulnya tidak apa-apa, karena itu merupakan ajang latihan.

Belakangan, dari sekedar menyetrika baju pribadi, saya pun belajar menyetrika dengan benar. Kadang-kadang saya kebagian tugas menyetrika baju ibu atau ayah saya. Plus sarung bantal dan sarung guling yang berumbai ( ini yang paling menyebalkan). Dan tentunya, ketika sudah berkeluarga saya pun harus belajar menyetrika baju suami serta baju anak saya yang permukaannya kecil, tetapi banyak liku-likunya...uuuh...

Ternyata urusan melicinkan baju pun tidak gampang. Setiap jenis kain atau tekstil membutuhkan perlakuan yang berbeda. Ada kain yang harus dilembabkan terlebih dahulu. Lalu disetrika dengan setrikaan yang suhunya panas. Ada yang tidak perlu dilembabkan, cukup dengan setrika suhu rendah. Bahan katun , bahan rayon, bahan sutra, bahan linen, bahan wool dan sebagainya harus benar-benar berbeda. Salah-salah temperatur, bisa-bisa baju kita terbakar, atau malah tetap kusut karena tarikan benangnya tidak rata.

♥

Urusan persetrikaan belum selesai sampai di situ.

Dulu di rumah saya, khusus untuk pakaian dinas ayah saya yang tebal dan beratnya minta ampun, harus disetrika di jasa setrikaan. Di Medan, jasa setrika itu disebut Tukang Dobi atau ada juga yang menyebutnya Tukang Binatu. Setelah pakaian dicuci di rumah, dan biasanya direndam dengan larutan tepung kanji agar keras dan kaku, pakaian yang sudah kering akan dikirim ke Tukang Dobi.

Nah...ini dia nih...Berhubung saya dianggap paling rajin jalan-jalan (...ternyata orangtua saya tahu bakat saya yang doyan ngelayap...hihi..), maka tugas mengantar pakaian ayah saya ke Tukang Dobi adalah bagian dari job description saya. Kadang-kadang ayah saya mengantarkan saya dengan mobil, tetapi saya yang turun dan bertransaksi dengan si Bapak pemilik jasa dobi. Tapi bila ayah saya sedang ke luar kota, dan supir dinas ayah saya tidak ada, maka sayalah yang akan mengantarkan pakaian itu sendiri dan nanti mengambilnya kembali.

Pengalaman saya mengantar pakaian ke Tukang Dobi ini membuat saya jadi memahami teknik menyetrika dengan berbagai cara. Kadang, sambil menunggu pakaian diambil dari gantungan, saya ikutan nyelonong ke dalam ruang setrika. Di sana banyak pakaian bergantungan dengan berbagai aroma sabun dan kanji. Ada yang beraroma segar, tapi tidak jarang ada yang beraroma apek seperti pakaian lama di dalam peti. Agak bau horor gitu deehhh....yiiiii....!

Bukan hanya itu. Berkat kerajinan saya mengantar dan mengambil pakaian, saya jadi mengenal tetangga di kiri kanan Tukang Dobi itu. Saya bisa celingukan, tanya ini itu, kadang ngobrol dengan mereka , kadang juga ikutan jajan di toko sebelahnya. Salah satu keuntungannya wilayah rambah alias lokasi kelayapan saya jadi lebih luas...hehe...

Dampak lain, teman saya jadi lebih banyak. Yaitu anak-anak Tukang Dobi dan teman-temannya lagi. Gitu deeeeeh...berkat Tukang Setrika jadinya teman saya bertambah segambreng-gambreng...

♥

Ngomong-ngomong tentang Tukang Setrika alias Tukang Dobi ternyata seruuuuu banget.

Konon sejarah Amerika di awal masa kolonisasi diwarnai dengan adanya jasa cuci dan setrika yang dikuasai oleh imigran dari China. Ketika para pekerja kerah putih sibuk bekerja serta tidak sempat mencuci dan menyetrika, para imigran ini mengambil alih pekerjaan itu dan menjadikannya sebagai profesi yang menghasilkan uang. Para kerah putih menganggapnya pekerjaan domestik biasa yang bisa dikerjakan siapa saja . Tidak heran bila dulu tukang cuci dan setrika ini dianggap pekerjaan kelas dua atau kelas tiga. Tapi sekarang lihat. Jasa cuci dan setrika ini merupakan pekerjaan dan bisnis yang bergengsi.

Tukang Dobi tidak sekedar jasa rumahan, seperti yang diakukan oleh para imigran China dan ibu tetangga di pemukiman dekat rumah saya, atau di sekitar tempat kos-kosan mahasiswa. Sekarang Tukang Dobi dikelola oleh perusahaan bermerek internasional dengan teknologi yang canggih. Di hotel-hotel berbintang, urusan menyetrika ini menjadi bisnis tersendiri yang diperhitungkan . Biaya untuk jasa menyetrika ini lumayan mahal karena tidak bisa lagi dikerjakan dengan cara biasa dan oleh orang biasa. Kadang-kadang pihak pengelola bisnis tukang setrika ini mempersyaratkan pendidikan tertentu, karena mereka harus mengoperasikan jenis mesin setrika yang berteknologi tinggi.

Menyetrika sekarang telah menggunakan mesin setrika yang khusus dan spesifik untuk setiap jenis tekstil . Ukurannya tidak sekedar sebesar setrikaan ayam. Untuk jenis tekstil tertentu seperti seprai dan selimut, ada mesin yang besar mirip penggulung kertas. Selain itu ada juga setrika yang sekedar semburan uap-uap air panas dengan obat kimia tertentu yang dapat menjinakkan serat sehingga kain menjadi licin dan kinclong seperti semula.

Nah, sekarang coba pikirkan : Bagaimana kalau tidak ada setrikaan, dan tidak ada tukang setrika ?

Yang jelas , pakaian menjadi kusut dan tidak rapi. Penampilan menjadi acak-acakan, kumal dan kusut masai. Baju mahal akan kelihatan seperti baju gombal. Bayangkan seperti ini : Pengusaha yang ganteng berbaju kumal akan tampak seperti preman terminal (uupppss...maaf ). Wanita cantik berpakaian kusut akan menimbulkan citra seperti orang baru bangun tidur dan menimbulkan kesan yang kurang baik...

Atau ini . Bisa membayangkan para pejabat negara atau anggota dewan perwakilan rakyat yang terhormat datang bersidang dengan baju tidak disetrika ? Apa kata dunia ? Alamaaakkkk....

Hmmh...jadi nyatalah, bahwa pakaian licin bersetrika berhubungan erat dengan image atau citra pribadi seseorang. Pakaian bersetrika juga mempengaruhi gaya dan tingkat pergaulan seseorang...eheemmm...

♥

Melihat pakaian saya yang masih menumpuk dan setrika besi panas yang tergeletak di meja setrikaan, saya merenung.

Sebuah profesi yang kita anggap biasa dan sederhana, ternyata adalah pekerjaan yang luar biasa. Urusan setrikaan dan dampaknya memang bukan urusan sederhana. Dari sekedar melicinkan, setrika juga dapat memperluas pergaulan. Pekerjaan tukang setrika juga bukan pekerjaan biasa-biasa saja. Setrika, dalam kapasitasnya justru menguasai citra dunia.

Itulah...ketika kita dapat melihat dunia dari sebuah sisi yang berbeda, maka hal-hal sederhana ternyata dapat menjadi ajang belajar bagi kita. Sekarang kita paham, bahwa setrikaan dan tukang setrika sangat dibutuhkan oleh siapa saja. Dari anak kecil hingga orang dewasa, dari rakyat jelata hingga pejabat tinggi negara, dari bayi merangkak hingga nenek kakek yang telah cukup usia, dari petani gurem hingga pengusaha kelas dunia.

Sepotong besi kecil yang direkayasa telah mengubah wajah dan citra dunia. Pakaian dan tampilan yang kusut telah digosok sehingga tampil megah dan penuh pesona.

Hmmmh...mau belajar dari Tukang Setrika ? Kita bisa lho...menyetrika hati yang kusut agar menjadi licin dan kinclong. Menyetrika pikiran yang awut-awutan dan tidak fokus menjadi licin dan teratur. Menyetrika kelakuan agar seiring sejalan dengan tata krama dan nilai lingkungan...Indahnya dunia ketika hati menjadi riang, pikiran menjadi terang, wajah menjadi bersinar penuh kebahagiaan dan perilaku menjadi lugas selaras...

Mau belajar menyetrika dunia dan membuatnya menjadi lebih cemerlang ? Ayo kita cobaaaaa.....

Jakarta, 26 Oktober 2010

Salam hangat,

Ietje S. Guntur

Special note :

Terima kasih kepada Bapak Tukang Dobi di Jalan Sei Ular, Medan dan Tukang Dobi di Tanjung Balai. Juga semua tukang dobi, tukang binatu, jasa cuci dan setrika cepat seputar Bintaro...thanks atas bantuan dan inspirasinya...Juga buat my Lovely Mom yang mengajarkan cara kerja yang berempati dengan menyetrika...I love U forever..

:BCA:
4a.

IBU

Posted by: "agus_salims" agus_salims@yahoo.com   agus_salims

Mon Nov 1, 2010 6:29 pm (PDT)



IBU DI ALAM EKSPRESI PARA PENYAIR

Tidaklah dapat dipungkiri, bahwa sosok seorang ibu adalah sosok yang
paling dekat dengan anaknya. sebab, melalui ibulah seseorang dilahirkn.
seorang ibu senantiasa siap berkorban demi anaknya. ibu lh yang merawat,
melindungi ketika si anak masih kecil. ibu pula yang dengan setia
membimbing dan mendidik seorang anak, sehingga si anak mengerti tata
krama. ibulah yang mempersiapkan seorang anak untuk kelak siap
menghadapi kekerasan hidup.

ibu tidak pernah merasa letih dan tidak pernah merasa lelah di dalam
mengantarkan anaknya menuju ke gerbang cita-cita. Keletihan dan
kelelahan itu akan hilang sirna, manakala anak yang dicintainya telah
berhasil mencapai cita-citanya, Ibu, tidak pernah mengharapkan balas
jasa atas jerih payahnya.

sebaliknya dengan sang anak, seorang seringkali justru melupakan peran
dan jasa ibunya. ada yang beranggapan bahwa pengorbanan seorang ibu itu
merupakan salah satu dari tugas dan kewajibannya sebagai seorang Ibu.
Sehingga tidak jarang seorang anak yang bersikap durhaka kepada orang
tuannya, kepada ibunya. Dalam cerita rakyat kita mengenai kisah anak
durhaka bernama Malin Kkundang di daerah Sumatera Barat, dan
cerita-cerita sejenis di daerah lainnya. Tidaklah berlebihna jika ada
ungkapan yang menyebutkan bahwa "kasih ibu sepanjang jalan, kasih
anak sepanjang galah"

Ibu Dalam Puisi

Para penyair sebagai seorang anak yang dilahirkan oleh ibunya, juga
memiliki ikatan emosional dengan ibunya. Karena kedekatan emosional itu
melahirkan ekspresi yang menunjukkan bakti mereka kepada ibu yang telah
melahirkannya.

Sebagai penyair, mereka menunjukkan bakti dan kasih sayangnya tidak
hanya melalui perbuatan nyata, tetapi juga diekspresikan dalam bentuk
pusisi. Banyak sekalli puisi yang dittulis oleh para penyair yang
menunjukkan kedekatannya—baik secara lahir maupun secara emosional
– kepada ibu yang telah melahirkannya. Bermacam-macam ekspresi
mereka. Hal ini menujukkan penghayatan mereka terhadap keberadaan ibu
dalam kehidupan mereka. Ibu yang mmpengaruhi pertumbuhan jiwa mereka

Kuda Beban Yang Tak Pernah Letih

Ada yang mendeskripsikan babhwa seorang ibu adalah "kuda beban"
yang dengan setia mengantar anaknya menuju sorga(simbul dari
kebahagiaan) sekalipun dirinya sendiri menderita.

Secara simbolis, penyair mengungkapkan bahwa ibu senantiasa siap
berkorban demi untuk anak-anak yang dicintainya. Potret ibu sebagai
"Kuda beban" terungkap dalam puisi YudhiMs. Marilah kita simak
puisi karya Yudhi Ms, penyair asal Kudus berjudul Ibu dari antologi
Menara berikut ini

I B U

Kuda beban itulah ibu

menarik kereta

membawaku pergi

memetik cinta

kuda beban iulah ibu

terus berlari

mengajakku singgah

mengunyah sepi

kuda beban itulah ibu

kian-kemari

mengajarku ngerti

hakekat puisi

kian renta kuda tua

berbilang masa

dengan beban tak kunjung reda

ngantar anaknya

menuju sorga

Kudus, 1992

Telaga Yang Tak Pernah Kering

Ekspresi yang ditunjukkan Yudhi Ms, berbeda dengan ekspresi yang
ditunjukkan Soni Farid Maulana. Kalau Yudhi Ms mendeskripsikan ibu
sebagai orang yang senantiasa siap berkorban dengan simbol kuda beban,
maka Soni melihat ibu sebagai sosok yang senantiasa penuh dengan
kelembutan siap melindungi anaknya.

Dalam buku kumpulan puisinya yang berjudul Impian Depan Cermin, ada
sebuah puisi yang ditulis penyair asal Tasikmalaya itu untuk menunjukkan
ekspresi cintanya kepada ibunya.

I B U

Belantara nilai mengepungku

Melepas ribuan anak panah ke jantungku

Di belukar liar aku rubuh dan terluka. O,

ibu

Kepasrahanmu damai dan suci

memelukku

Membalut jiwaku dengan lembaran

kasih abadi

Kau siram jiwamu dengan air rohanimu

Kau cakrawala yang membuka jalanku

ke sungguh

Dunia. Di situ terhayati lagu yang kau

senandungkan

Membuat bintang menari, berkobar-

kobar, dan aku

Mengerti percikan api dengki kehidupan

Lalu hangat

Airmatamu yang mawar itu

Terasa mekar tepat pada ubun-ubunku

1987-1988

Tidak berbeda dengan Soni Farid Maulana, Sosian Leak juga menulis sebuah
puisi yang dipersembahkan bagi ibunya. Penyair muda asal Solo itu
mengekspresikan sikapnya kepada ibunya dengan menulis puisi sebagai
berikut :

IBUNDA

tanah air dimana-mana

di segala

tetapi ibunda cuma saturdaytempat gellisah dan keluh kesah

diredakan

kenaglah kenang

jagalah jaga

karena ia selalu membangun rumah

rumah yang murni

tempat kita menimbun kesah

dan menimba istirah

asihlah-ia, ibunda

sebab ia senantiasa siagakan rumah

rumah sejati

berlantai kasih

bertiang cinta

beralas sayang yang mesra

solo,nopember 1993

Dalam puisi Soni maupun Sosiawan, tercermin bahwa ibu adalah telaga
kasih yang tak pernah kering. Ibu senantiasa siap menampung segala
kesah. Ibu pula yang senantiasa siap meredam segala resah dan gelisah.
Ibu, dengan kelembutan dan kebijakannya senantiasa "siagakan rumah
sejati berlantai kasih, bertiang cinta, dan beralaskan sayang yang mesra

KH Mustofa Bisri dalam kumpulan puisinya Pahlawan dan Tikus pun menulis
ekspresinya terhadap ibunya. Kita simak puisinya sebagai berikut :

I B U

Ibu

Kaulah gua teduh

tempatku bertapa bersamamu

sekian lama

Kaula kawah

dari mana aku meluncur dengan perkasa

Kaulah bumi

yang tergelar lembut bagiku

melepas lelah dan nestapa

gunung yang menjaga mimpiku

siang dan malam

mata air yang tak brenti mengalir

membasahi dahagaku

telaga tempatku bermain

berenang dan menyelam

Kaulah, ibu, laut dan langit

yang menjaga lurus horisonku

Kaulah, ibu, mentari dan rembulan

yang mengawal perjalananku

mencari jejak sorga

di telapak kakimu

(Tuhan,

aku bersaksi

ibuku telah melaksanakan amanat-Mu

menyampaikan kasihsayang-Mu

maka kasihilah ibuku

seperti Kau mengasihi

kekasih-kekasih-Mu

Amin)

1414

WS Rendra dalam Empat Kumpulan Sajak juga menulis sebuah puisi tentang
Ibu. Namun Rendra agaknya mencoba mencari sisi lain dari yang selama ini
digarap sebagian besar seorang anak. Sebaliknya, Rendra mencoba memotret
gambaran seorang ibu terhadap anaknya. Marilah kita simak puisi Rendra
berjudul Nyanyian Bunda Yang Manis berikut ini :

NYANYIAN BUNDA YANG MANIS

Kalau putraku datang

ia datang bersama bulan

kerna warna jingga dan terang

adalah warna buah di badan

Wahai, telor madu dan bulan!

Perut langit dapat sarapan

!

Ia telah berjalan jauh sekali

dan kakinya tak henti-henti

menapak di bumi hatiku.

Ah, betapa jauh kembara burungku!

Sumber angin mana yang dicarinya?

Sainganku bunda yang mana?

Kuda jantan dengan kuku-kuku runcing

ia!

Angin tak putus dahaga ia!

Putra-putra langit yang putih pun pergi

kembara

Dan lelaki selalu pergi ninggalkan

tanya

Tanah yang dibajak dan diinjak adalah

hati punya bunda

makin hari makin parah tapi makin

subur ia.

Hati bunda adalah belantara yang rela

terbuka.

Bagai bapaknya ia!

Pergi dan tak terduga

Wahai, buah tubuh yang dulu

kulahirkan

adalah sekepal duri yang manis dan

jelita

(Miev Prabama)

__________________________________________________________\
________

MOP – 172 DESEMBER 1996

Memori majalah semasa SMP

MOP – Majalah pelajar terbitan depdikdasmen jawa tengah;

5.

"Diwongke"

Posted by: "agus_salims" agus_salims@yahoo.com   agus_salims

Mon Nov 1, 2010 6:29 pm (PDT)




Diwongke - Terapi Trauma Pengungsi Merapi Jogja

sumber :
http://portalnlp.com/2010/10/diwongke-terapi-trauma-pengungsi-merapi-jog\
ja/.


(Artikel ini saya tulis saat jadi relawan Gempa Jogja & Jateng sebagai
Panduan Praktis & Sederhana Terapi Psikis / Mental para korban,
Jogjakarta, 2 Juni 2006. Artikel ini saya posting karena banyak
pertanyaan tentang terapi-terapi yang kami lakukan. Satu hal yang perlu
dicatat adalah bahwa saya bukanlah seorang terapis. Kegiatan utama saya
tetaplah Mindset Motivator. Semoga ide-ide berikut ini masih bisa
berguna juga untuk kejadian "batuknya" Gunung Merapi)

Faktor Psikis dan Mental menjadi sangat penting, karena mana mungkin
makanan terasa enak kalau hati kita sedang galau. Penyakit akan makin
parah, kalau kita melihatnya sebagai bencana. Namun, penyakit akan cepat
sembuh kalau kita melihat bahwa rasa sakit adalah proses penyembuhan.

Dengan berbekal pengalaman menjadi Relawan Terapi di Aceh dengan
menggunakan pengetahuan New Code NLP yang saya pelajari dari DR. John
Grinder di Malaysia & Inggris, maka teknik terapi atau Trauma Healing
tsb menjadi sangat sederhana dan dapat dilakukan oleh siapa saja,
termasuk untuk penyembuhan diri sendiri. Berikut ini sharing singkatnya.

Kunci Melakukan Terapi NLP:

1. Memiliki NIAT TULUS (INTENT) dari dalam lubuk hati untuk membantu
saudara kita yg sedang tertimpa kemalangan tanpa memandang Agama, Suku,
Jenis Kelamin dan Umur. Misal: Bau badan atau mulut pasien adalah sinyal
untuk kita menganalisa apa yang sedang dia rasakan dan berguna untuk
kita melakukan terapi bagian mana yang perlu diterapi.

2. Memiliki "ROSO" kemanusiaan yang rendah hati untuk melayani
karena terapi yang akan kita lakukan, kuncinya sangat sederhana yakni
"DIWONGKE"

Tahapan Terapi:

1. Tahap awal yang paling penting adalah Pendekatan dengan penderita.
Terapi hanya bisa dilakukan jika penderita sudah Percaya pada Niat Tulus
kita.

Catatan: (Maaf sekali) Buanglah segera Niat Kotor (jika ada, lho) spt
misalnya Kristenisasi, Islamisasi, Budha-isasi atau apapun istilahnya.
Niat ini hanya membuat bangsa kita semakin BODOH. Hanyalah orang BODOH
yang mau pindah agama karena sebungkus mie kering. Saya sangat percaya
Allah-pun sedih jika umatnya beragama dengan cara BODOH seperti itu.

Sebelum melakukan pendekatan:

· Anda dalam posisi yg NO MIND atau KNOWING NOTHING STATE artinya
tidak menilai, tidak mereka-reka, Anda hanya perlu empati ikut merasakan
apa yg dirasakan pasien (sambung roso)

Beberapa ide menjalin pendekatan:

· Diam dan tenang dengan lembut, lakukan kontak mata sampai pasien
merasa nyaman dan tersenyum, lalu boleh lanjutkan dengan:

· Menyentuh (menunjukkan kepedulian Anda)

· menganggukkan kepala (yang berarti aku mengerti apa yang kamu
alami)

· mengacungkan jempol (sbg tanda saya hormat dengan semangat Anda)

· atau berkata dengan suara meyakinkan berupa kalimat positip
(lakukan dengan tulus), misal:

· "Wah, lukanya cepat sekali kering ya…" (tunggu respon
setuju)

· "Wajah Ibu sudah makin segar saja…" (lihat respon wajah
bersyukur)

· "Hebat nih kamu.." (tunggu respon setuju atau "Oh
ya" gembira)

· "Mau Minyak Tawon? Biar bengkaknya cepat sembuh"

· "Ini lho pak buat tenang…" sambil Anda mencontohkan
menggunakan Inhaler dan tunggu sampai dia juga melakukannya.

2. Tahap berikutnya adalah mencari alat bantu yg tepat untuk pasien tsb
guna menghasilkan rasa Tenang sebelum melakukan terapi, contoh:

· Tanyakan dulu ke pasien apa yang sedang dirasakan dan selalu
arahkan jawabannya ke sisi positip dari kejadian yg dialami.

· Setelah itu, tanya ke Unconsious Mind Anda: "Produk apa yang
dibutuhkan pasien tsb" dan dengan otomatis Unconcious Anda akan
membimbing Anda memilih produk yg pas untuk pasien tsb.

· Lalu, baiknya dengan tersenyum Anda ambil produk yg dibutuhkan dan
Anda sendiri melakukan demo langsung ke pasien tsb sbg kalibrasi
(menguji) apakah dia bersedia dibantu, misalnya lihat contoh berikut:

Produk & teknik yg sering digunakan oleh penduduk (efek plasebo)

1. Minyak Tawon: Obat gosok (sambil diurut perlahan satu arah) bagian
yang bengkak atau linu. Baik sekali saat mengurut, Anda tetap berdoa
dalam hati dengan tulus agar Allah berkenan memberikan penyembuhan.

2. Minyak Kayu Putih: Obat gosok hangat untuk anak-anak atau orang tua.
Teteskan minyak kayu putih ke dua belah tapak tangan Anda, gosok kedua
telapak tangan Anda dengan cepat, setelah itu tempelkan ke bagian yang
perlu untuk dihangatkan. Boleh juga untuk dihirup untuk menimbulkan rasa
tenang dan hangat. Boleh juga ditambahkan kata-kata sugesti seperti:
Ikhlas, ikhlas dan ikhlaaas…

3. Minyak Angin: Obat gosok bagian tubuh yg terasa pegal2 spt otot
leher, boleh gunakan teknik spt minyak kayu putih untuk dihirup. Guyonan
gaya plesetan Jogja sangat membantu suasana terapi menjadi segar dan
arti "Nrimo" dapat disampaikan sebagai bagian dari proses hidup
yang memang harus dilalui. Semuanya adalah kehendak Sang Pencipta.

4. Balsem: Sbg obat gosok & kerokan karena masuk angin yg menimbulkan
efek nyaman dan perasaan "enteng". Ingat, bukan balsemnya yang
hebat, namun niat tulus Andalah yang menyembuhkan saudara kita yang
sedang tertimpa bencana ini.

5. Inhaler: Untuk dihisap melalui hidung yg menimbulkan efek tenang.
Setelah tenang, tanyakan kalimat sugesti yang menguatkan. Dampak
bertanya lebih kuat dibanding sugesti.

6. Salonpas: Ditempel ke dua pelipis jika pasien merasa pusing atau di
otot leher jika merasa tegang atau punggung yg terasa pegal, bahkan
digunakan untuk obat sakit gigi.

7. Tasbeh / Rosario: Untuk menenangkan diri (break pattern) apapun
kalimat yg diucapkan, baik sekali jika dilakukan sambil bernafas
berikut:

· Tarik nafas pendek saja

· Buang nafas sepanjang mungkin, saat nafas keluar minta pasien
bayangkan penyakitnya menjauh (sirna)

8. Virgin Coconut Oil : Baik sekali untuk membantu meringankan
gatal-gatal atau luka yg terbuka atau sebagai obat gosok.

9. Rokok: Khusus untuk pasien yang "Blur" atau "Hang"
atau pandangannya kosong, tawarkan hanya 1-2 batang rokok, lihat
responnya, bantu nyalakan rokoknya, sama-sama hisap rokoknya. Saat
hembuskan rokok, berikan kalimat sugestinya: Biarlah semua rasa sedih,
kecewa, marah dsb menjauh, menjauh dan menjauh…

10. Boneka: Untuk membuat anak-anak kembali tersenyum, lalu ajak main
untuk hilangkan tarumanya dengan cara:

- "Ayo, letakkan semua ketakutanmu ke telapak tanganku" Lakukan
satu persatu & tunggu sampai semua selesai.

- Beberapa ide menjauhkan beban tsb, misal:

- Ajak dia tiup yg jauh semua beban tsb sampai hilang

- Anda lempar beban yg telah diletakkan ditangan Anda tersebut sejauh
mungkin…

- Setelah itu amati perubahan bahasa tubuhnya sampai menjadi senang,
lalu tanya lagi apa yg dia rasakan sekarang jika mengingat kembali
bencana yg dialami. Kalau dia bilang hilang, artinya terapi berhasil.

3. Tahap Akhir adalah memberikan Kalimat Sugesti Penyembuhan yang pas:

(Lakukan setelah pasien merasa nyaman dengan tahap 2 atau lakukan sambil
pasien tetap melakukan kegiatan tahap 2)

· Berikan Kalimat Sugesti Penyembuhan & amati sinyal SETUJU dari
pasien akan kalimat tersebut, misal:

· Sakit itu artinya proses penyembuhan sedang terjadi

· Obat buatan manusia terbatas, obat buatan Allah pasti menyembuhkan

· Rasakan proses penyembuhan sedang terjadi pd kaki kiri Anda

· Semakin aku tidur nyenyak, semakin aku cepat sembuh

· Aku semakin sehat, aku semakin sehat

· Aku semakin segar, aku semakin segar

· Syukuri (Nrimo) dan ambil hikmah positip dari kejadian ini

· Gunakan kalimat lain yg Anda rasa pas spt falsafah Jawa… paling
baik jika menggunakan bahasa Jawa & lebih baik lagi jika Anda menguasai
doa-doa bahasa Jawa yang sering digunakan penduduk setempat.

Demikian dan senang sekali kalau Anda bisa memberikan respon atau
masukan ke email saya: krishnamurti@indo.net.id dan terima kasih
sebelumnya. Semoga teknik terapi ini bisa menjadi terapi khas budaya
kita yakni Terapi ala Jawa.

Tabik,

Krishnamurti
6a.

Re: Mahluk bersejarah-----Jakarta Heritage Trails: WALKING TOUR SOEM

Posted by: "agus_salims" agus_salims@yahoo.com   agus_salims

Mon Nov 1, 2010 6:29 pm (PDT)



...jeli pisan euy ^_^. Iya, mungkin ada salah ketik. Btw, tks ralatnya.
Dan tulisan ini sebagai ralat ; dari ybs langsung.

Mb Sisca, salam ya. Rantainya gimana? ^_^

--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, Sisca Lahur
<sapijinak2000@...> wrote:
>
> Wah, ralat tuh.Tidak ada sekolah Vincentius, adanya panti asuhan
Vincentius Putra.
> Kebetulan sepanjang hari tadi ( 31 Okt ) saya ada di panti.Waktu makan
siang, kaget melihat dapur dipenuhi orang ( tamu ).
> Tumben.
> Soalnya, seumur-umur membantu di sana, belum pernah melihat tamu /
donatur sampai masuk dapur.
>
> Anak-anakpun heran.'Kak, ngapain klub sejarah datang ke sini ?'
> Saya : O...mereka melihat tempat bersejarah. Gedung panti inikan
umurnya lebih dari         Â
150 tahun.      Ya, termasuk orang yang
tinggal di sini dianggap mahluk bersejarah.
> Anak-anak : Ih, enak aja.
>
> Sapijinak
>
> --- On Tue, 10/26/10, agus_salims agus_salims@... wrote:
>
> From: agus_salims agus_salims@...
> Subject: [sekolah-kehidupan] Jakarta Heritage Trails: WALKING TOUR
SOEMPAH PEMOEDA
> To: sekolah-kehidupan@yahoogroups.com
> Date: Tuesday, October 26, 2010, 3:59 PM
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Â
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Dari milis kota-bogor, berikut informasi buat kitaÂ
> Komunitas Historia Indonesia (KHI) dan Jakarta Heritage Community,
>
> mempersembahakan:
>
>
>
> Jakarta Heritage Trails (GRATIS)
>
> WALKING TOUR SOEMPAH PEMOEDA
>
> Minggu, 31 Oktober 2010. Pkl. 07.30-12.00wib.
>
>
>
> PERBEDAAN: 1928 Ikrar Soempah Pemoeda, 2010 Ingkar Sumpah Pemuda.
>
> **IRONIS: Dari 750-an bahasa daerah, kita kehilangan 450an bahasa;
Kalo mau
>
> blajar S3 Bhs.Indonesia harus ke Belanda; Sbgian besar generasi muda
kita jeblok
>
> nilainya di Bhs Indonesia saat UN/UTS. Memprihatinkan!!! Saatnya kita
bersatu
>
> mmbangun Indonesia.Teguhkan tekad Satu Nusa, Satu Bangsa & Satu
Bahasa!
>
> #historylicious #SatuNegeri @indberprestasi
>
>
>
> RECOMMENDED AGES
>
> 16 â€" 18 (SMA Kelas 1-3)
>
> 19 â€" 60 (Umum)
>
>
>
> BACKGROUND
>
> Dengan meracik unsur rekreasi-empirik, edukasi dan hiburan, program
ini menjadi
>
> menarik, bermanfaat dan fun. Dengan berjalan kaki, kita akan
menelusuri
>
> gedung-gedung tua, museum, jalan/gang di kawasan Jalur Lama Batavia
â€"
>
> Jatinegara. Acara: Makan siang disekitar
>
>
>
> DIPANDU OLEH
>
> Asep Kambali
>
> (sejarawan, pendiri KHI & JHC, legal history tourist guide )
>
>
>
> ITINERY
>
> Half Day Trip (HDT) / Jarak tempuh 4 km.
>
> 07.00-07.30 Kumpul di Depan Perpustakaan Nasional RI
>
> Jl. Salembra Raya No.27
>
> ü Re-registration
>
> ü Opening, pembagian dan perkenalan kelompok
>
> ü Foto Bersama di Perpusnas RI (seluruh peserta)
>
> 07.30-12.30 Sightseeing:
>
> ü Matraman
>
> ü Salemba
>
> ü RS. St. Carolus
>
> ü FK UI / RSCM
>
> ü Pasar Kenari
>
> ü Museum MH Thamrin
>
> ü RS AD Ridwan Meuraksa
>
> ü Gd. Pertamina Lama
>
> ü Gd. PB NU
>
> ü Sekolah Vincentius
>
> ü Gd. Komisi Yudisial
>
> ü Gd. Balitbang Depdagri
>
> ü RS. Kramat
>
> ü Gd. PMI
>
> ü Ex. Bioscoop Rivoli
>
> 12.00-12.45 Museum Sumpah Pemuda
>
> ü Makan Siang bersama/ Boleh langsung pulang.
>
> ü Ngerujak Bareng
>
> ü Closing Program
>
>
>
> HTM
>
> Free of Charge / GRATIS
>
>
>
> DRESSCODE
>
> Perempuan: Putih
>
> Laki-laki: Merah
>
>
>
> SILAHKAN ATTENDING DI EVENT FB, KLIK DISINI
>
> TIDAK ADA REGISTRASI MELALUI TELPON/SMS. BOLEH LANGSUNG DATANG DI
TEMPAT.
>
>
>
> TIPS & CATATAN:
>
> - Mohon membawa makan siang & minuman masing-masing.
>
> - Jika ingin berbagi makanan/minuman dengan yang lain dipersilahkan
>
> - Ngerujak Bareng *disediakan rujakan khas Kenari. Full buah dan
sambel
>
> segar, hheemmmm :P (terbatas)
>
> - Ini adalah tour jalan kaki, maka disarankan memakai pakaian bebas/
>
> casual/ sepatu kets. Mengingat terik, pakailah sunblock dan sunglass,
>
> - Bawa juga handuk kecil, topi lebar, kamera/handycam/recorder, serta
>
> bawa payung/jas hujan (untuk antisipasi)
>
> - Karena kegiatan dilakukan keliling tempat umum dan tempat
bersejarah,
>
> jalan raya dan gang, maka perlu berhati-hati dalam beraktivitas, tidak
berpisah
>
> dengan rombongan, dan tidak berkata-kata yang sombong.
>
> - Semua peserta bertanggung jawab terhadap diri dan barangnya
>
> masing-masing.
>
> - Mohon kerjasama untuk saling mengawasi dan melindungi sesama
peserta.
>
> Peserta diharapkan membaur dengan peserta lain.
>
> - Tidak membuang sampah sembarangan.
>
> - Semua peserta dilarang mengambil, memindahkan, merusak,
>
> mencorat-coret barang-barang / benda-benda bersejarah / koleksi yang
ada di
>
> dalam kawasan / gedung bersejarah / museum (UU BCB No.5/1992).
>
>
>
> KOMUNITAS HISTORIA INDONESIA (KHI)
>
> Komunitas Peduli Sejarah dan Budaya Indonesia
>
> Phone : (021) 3700.2345, Mobile: 0818-0807-3636
>
> E-mail/FB : komunitashistoria@
>
> Mailing list : http://groups.yahoo.com/group/komunitashistoria
>
> Homepage : http://www.komunitashistoria.org
>
>
>
>
>
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>

7.

[Ruang Baca] Si Pitung, Superhero Betawi Asli

Posted by: "ukhti hazimah" ukhtihazimah@yahoo.com   ukhtihazimah

Mon Nov 1, 2010 7:21 pm (PDT)



Siapa yang tidak kenal Si Pitung??? Jika ada yang mengacungkan tangan,
kemungkinan besar adalah para remaja era sekarang yang tidak diperkenalkan sang
legenda betawi yang terkenal jago bela diri ini. Dahulu saya masih
berkesempatan mengenal sosok pitung lewat layar kaca dalam bentuk film silat,
kala itu bintang yang sering memerankannya adalah almarhum Dicky Zulkarnaen.
Saya pribadi tidak terlalu ingat jelas tentang detail cerita, hanya sekadar
mengingat kostum khas Si Pitung yaitu peci, baju plus celana longgar, sabuk
gede, dan tidak ketinggalan golok.

Sayangnya, sepanjang ingatan saya, belum pernah dijumpai, baik film ataupun
buku, yang menceritakan masa kecil dari si Pitung. Hingga kemudian, saya
mendapatkan novel anak terbitan DAR! Mizan yang berjudul "Si Pitung, Superhero
Betawi Asli". Rasa yang pertama kali terbangun ketika menemukan buku ini adalah
nostalgia.

Walaupun kisah pendekar asal Betawi ini sendiri masih belum jelas apakah
berdasar kenyataan atau hanya sekadar mitos, namun Pitung seperti telah melekat
pada masyarakat Betawi sebagai pembela rakyat kecil. Bisa dibilang Pitung
adalah Robin Hood-nya Betawi. Seperti halnya Robin Hood, di sini Pitung juga
sering mencuri harta pada orang-orang kaya yang kerap mengumpulkan kekayaannya
dengan menindas rakyat, kemudian hasil curian akan dibagi-bagikan kepada rakyat
miskin. Ditambah lagi dengan sosoknya yang sangat berani melawan penjajah
Belanda dan membela rakyat kecil, membuatnya menjadi idola anak-anak.

Bapak Soekanto mencoba mengisahkan keberanian, ketaqwaan dan jiwa kemanusiaan
si Pitung mulai dari ketika dia masih kecil, kurang lebih 10 tahun-an.

Kullu nafsin dzaa'iqatul maut
Semua yang bernafas akan kembali kepada Tuhannya

Ayat inilah yang berulang kali ditegaskan penulis dalam diri sosok Pitung.
Bagaimana pun hebatnya, atau saktinya seseorang tidak akan pernah lepas dengan
yang namanya kematian. Karena mati hanya sekali, maka hidup harus lah selalu
memberikan manfaat bagi sekitarnya. Makna ayat tersebutlah yang kemudian
digunakan sang penulis untuk membangun karakter Pitung hingga menjadi pria
pemberani sekaligus berakhlak.

Saya suka sekali dengan cara penulis menyelipkan pesan-pesan yang pastinya
akan sangat mudah diserap oleh kepala anak-anak. Seperti pesan Haji Naipin
(guru Pitung) ketika Pitung buru-buru beranjak setelah shalat jama’ah, "Tot,
jangan mau lari saja kalau selesai shalat ya! …. Coba kau pikir, kita shalat
berarti kita sedang menghadap Tuhan Yang Maha Esa. Kaupikir, pantaskah begitu
shalat selesai, kita lari membelakangi-Nya?" [h.28] Sungguh, sebuah pesan yang
tidak hanya mengena bagi anak-anak tetapi juga orang dewasa.

Alur cerita berjalan maju, hingga Pitung dewasa. Hanya saja agak terjadi
kebingungan dengan bertambahnya usia Pitung. Karena tidak ada penjelasan atau
siratan dalam cerita tentang pertambahan usia tokoh, saya kerap baru menyadari
ketika cerita sudah berjalan lumayan jauh atau saat melihat ilustrasi buku,
"Ooohh… si Pitungnya udah gede to."

Dari cara Pak Soekanto bercerita, dari pesan-pesan yang disampaikan, dari
penyampaian yang tidak menggurui, membuat buku ini layak untuk dijadikan bacaan
anak-anak.

Di Balik Buku Si Pitung, Superhero Betawi Asli

Sejujurnya saya tidak terlalu mengenal sosok Bapak Soekanto SA, sosok yang baru
saya ketahui sangat lekat dengan nama majalah si Kuncung. Era saya kecil,
Kuncung bukanlah majalah yang memenuhi bacaan saya, karena pada saat itu
Mentari dan Bobo-lah yang seringkali menemani keseharian. Saat tuntas membaca
buku si Pitung ini, mata saya tertuju pada foto profil penulis. Terlihat sosok
pria sepuh yang sangat sederhana. Subhanallah, dengan usia yang telah memasuki
76 tahun, ternyata produktivitas beliau tidak ikut rapuh.

Dari membaca novel si Pitung ini, saya tahu bahwa penulisnya memang sangat
mengenal dan mendalami dunia anak. Terlihat dari cara beliau menggambarkan si
Pitung kecil dengan sifat khas anak laki-laki yang sering merasa dirinya
pemberani dan ingin sekali menjadi jagoan. Setiap kali gurunya akan mengajarkan
sesuatu, Pitung dengan sombong akan berujar, "Saya pasti bisa."
Gambaran-gambaran kuat karakter tokoh lah yang membuat cerita menjadi lebih
bersemangat.

Bapak sembilan anak ini, mulai aktif menulis dan mengamati perkembangan bacaan
anak sejak tahun 1950-an. Bersama Sudjati SA, beliau bekerja sama membangun
majalah si Kuncung sebagai penulis sekaligus editor. Dedikasinya pada dunia
anak, membuatnya dianugerahi berbagai penghargaan baik di dalam maupun di luar
negeri.

Judul : Si Pitung, Superhero Betawi Asli
Penulis : Soekanto SA
Penerbit : DAR! Mizan
Terbit : Februari 2009
Tebal : 154 halaman
Harga: Rp. 24.000 [disc. 15%]

:sinta:

"Keindahan selalu hadir saat manusia berpikir positif"

|Toko Buku Online| http://parcelbuku.com
http://sinthionk.multiply.com |Blog Cerita|
|Blog Resensi| http://jendelakumenatapdunia.blogspot.com
YM : SINTHIONK

8a.

[Info Eska] Saatnya Berbagi --- [Tema: Bencana]

Posted by: "Novi Khansa" novi_ningsih@yahoo.com   novi_ningsih

Mon Nov 1, 2010 8:06 pm (PDT)



Assalamu'alaykum Wr. Wb

Dear all...

November rupanya sudah hadir tanpa terasa...
Sesuai Program Divisi Penerbitan Oktober-November ini, mari kita berbagi.
Tema kali ini adalah BENCANA

Teman-teman diharapkan menulis pengalaman tentang Bencana.
Bagaimana teman-teman berada di tengah bencana, menghadapi bencana, dll... Atau bisa juga cerita dari teman atau saudara ^_^

Bisa juga bagi teman-teman yang pernah menjadi relawan dan ditempatkan di posko-posko pengungsian... ataupun ketika dikirim untuk melakukan observasi, liputan dan lain-lain

Caranya
Tulis cerita dalam bentuk diary, dengan bahasa yang ringan dan mengalir.
Pada subjek tulisan cukup ditulis: [BERBAGI] misalnya [BERBAGI] Merapi

Apa pun itu...
Selamat berbagi
semoga bisa bermanfaat buat semua

Wassalamu'alaykum Wr Wb

salam

DAni ARdiansyah
Novi Khansa

(Divisi Penerbitan)

8b.

Re: [Info Eska] Saatnya Berbagi --- [Tema: Bencana]

Posted by: "loiy" loiyloi@yahoo.com   loiyloi

Mon Nov 1, 2010 10:07 pm (PDT)



Insaallah ikutan...
deadtime nya kapan nih ? hihihi

--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, "Novi Khansa" <novi_ningsih@...> wrote:
>
> Assalamu'alaykum Wr. Wb
>
> Dear all...
>
> November rupanya sudah hadir tanpa terasa...
> Sesuai Program Divisi Penerbitan Oktober-November ini, mari kita berbagi.
> Tema kali ini adalah BENCANA
>
> Teman-teman diharapkan menulis pengalaman tentang Bencana.
> Bagaimana teman-teman berada di tengah bencana, menghadapi bencana, dll... Atau bisa juga cerita dari teman atau saudara ^_^
>
> Bisa juga bagi teman-teman yang pernah menjadi relawan dan ditempatkan di posko-posko pengungsian... ataupun ketika dikirim untuk melakukan observasi, liputan dan lain-lain
>
> Caranya
> Tulis cerita dalam bentuk diary, dengan bahasa yang ringan dan mengalir.
> Pada subjek tulisan cukup ditulis: [BERBAGI] misalnya [BERBAGI] Merapi
>
> Apa pun itu...
> Selamat berbagi
> semoga bisa bermanfaat buat semua
>
> Wassalamu'alaykum Wr Wb
>
> salam
>
> DAni ARdiansyah
> Novi Khansa
>
> (Divisi Penerbitan)
>

9.

(Catcil) Si Pencuri Hatiku dari Buku

Posted by: "Indarwati Indarpati" patisayang@yahoo.com   patisayang

Mon Nov 1, 2010 11:32 pm (PDT)





Si Pencuri Hatiku dari Buku

Dia lembut. Terasa nyaman ketika disentuh. Dia juga
fleksibel, mau menjadi seperti apapun mau kita. Tak seprti buku yang suka
memaksakan kehendaknya padaku, merecoki otak dan imajinasi, dia penurut sekali.

Pertama mengenalnya akhir tahun 2007. Iseng saja awalnya. Buku
yang mengenalkannya padaku. Kucari dia hingga ke pelosok pasar,  dan kutemukan tengah tidur bergelung begitu manis.
Sejak membawanya pulang dari pasar itu, perlahan tapi pasti aku menemukan
selingkuhan baru dari buku.

Seperti halnya kedekatan dengan buku dan lainnya, hubungan
kami pun mengalami pasang surut. Pasang terjadi di pertengahan tahun 2008. Jika
buku mampu membantuku mendapat uang, mengapa dia tidak, begitu pikirku hingga
memicu pasang itu. Namun, pihak ketiga yang memutuskan hubungan dengan kami membuat
segala rencanaku dengannya sia-sia. Maka, tergeletaklah dia begitu saja. Kadang
kusentuh, kadang kuajak bercanda, kadang kulirik pun tidak. Aku kembali
bersetubuh dengan buku. Siang, malam, pagi, sore… hingga akhir tahun 2009, oleh
sebuah keterdesakan memaksaku kembali mengakrabi.

Adalah Ais yang semula mengulurkan pinta. “Mama, kenapa nggak
bikin boneka lagi?”

Buku memang bisa mengulurkan uang pada kita. Namun, dia juga
bisa memaksa kita mengulurkan banyak rupiah untuk menebusnya. Dan di akhir
tahun itu, dengan segenap sendu, kuputuskan sementara tak menambah koleksi
buku. Pengaruhnya baiknya, aku kembali bersahabat dengannya.

Satu persatu dia kubentuk sesuai imajinasi. Jika di buku
kata-katalah penyusunnya, pada dia, pola, benang, mote, pita, dakron, dan bahan
lain adalah partnernya. Alhamdulillah, pasang kembali datang. Dia yang telah
rela kujadikan apapun mendatangkan uang ketika kutawarkan.

Hari berlalu hingga masa paceklik itu berakhir sudah. Dan seperti
seseorang yang pernah kehausan saat mendaki gunung lalu turun dan menjumpai
sumber air minum, akupun kemaruk membeli buku lagi. Tapi, dia rupanya terlalu
dalam mencengkeramkan kuku-kuku jarinya ke hatiku. Maka hingga sekarang, semua
hal sering kukalahkan demi dia. Buku-buku yang telah kubeli kubiarkan berdebu
menunggu,. Bahkan detik-detik perkembangan bayi dan batitaku yang sakit, yang
minum obat pertama kali, yang bisa tengkurap pertama kali, dan tak terhitung
moment lainnya yang biasa kuabadikan lewat kata-kata lewat begitu saja. Semua karena
dia!

Sampai kumenulis ini, pesonanya membetotku selalu. “Ayo,
Mama. Bentuk aku, isi aku, jelujuri tubuhku!”

Aaaargh!!! Flannel! Tak perlu kau rayu aku! Aku sudah
bertekuk lutut oleh lembutanmu.

 Tanah Baru, 2/11/’10
13.21

Indarwati
irt, penulis lepas, plus souvenir maker
curhatan http://lembarkertas.multiply.com
kreasi tangan http://craftcafe.multiply.com
FB: indar7510@yahoo.com

10.

[BERBAGI] Banjir Jakarta 2007

Posted by: "Nursalam AR" nursalam.ar@gmail.com

Mon Nov 1, 2010 11:43 pm (PDT)



*Dalam Banjir Kutemukan Tuhan**

*Oleh Nursalam AR*

"Ya Allah, Mpok Minah belum mau turun juga. Padahal kan air udah sampai
lantai dua rumahnya!"

"Sialan. Gue lupa bawa buntelan baju tadi. Lupa tadi pas ngangkatin tipi!"

Seorang ibu bertampang keturunan Cina menangis tersengguk di ujung pagar.
Kacamatanya berembun. Ia sibuk memijit tombol ponselnya dengan tangan
gemetar.

Malam Minggu. 2 Februari 2007. Hujan deras. Dingin menusuk. Warga berkumpul
cemas di halaman kantor kecamatan Pancoran dan STBA LIA, Pengadegan, Jakarta
Selatan. Pakaian mereka seadanya. Sebagian ibu bahkan hanya mengenakan
daster tipis yang menonjolkan auratnya. Tapi rasanya saat itu tidak ada yang
peduli ada apa di baliknya. Semua pandangan tertuju ke arah tanjakan. Di
ujung bawah tanjakan, air banjir kecoklatan menderu. Tingginya setinggi atap
masjid Darul Mukhtar. Kurang lebih empat meteran. Mesjid tersebut merupakan
akses utama menuju ke tempat yang lebih tinggi yang biasaya menjadi titik
pengungsian sementara.

Namun mesjid yang terletak di pertigaan jalan Pengadegan Timur itu juga
merupakan tempat terendah jika terjadi banjir. Maka warga menjadikan patokan
tingginya air di sekitar Masjid sebagai indikator keganasan banjir. Terutama
sebagai ukuran kapan harus mulai mengangkuti barang keluar rumah atau
kembali ke rumah pasca banjir.

Pertigaan mesjid juga sekaligus tempat bertemunya dua arus air, dari Kali
Ciliwung dan anak sungai Ciliwung yang berpintu air di sebelah Barat. Jadi,
tak heran di sepanjang jalur mulai dari gerbang Masjid menuju ke arah
tanjakan sejauh 200 meter dipasangi tambang agar orang-orang yang lewat
terutama yang membawa barang dapat berpegangan dan tak terhempas dihajar
gelombang. Airnya sangat dingin dan arusnya kencang.

Kakiku sendiri sempat kram ketika bolak-balik melintasi jalur itu untuk
menengok rumah selama beberapa hari terendam. Perahu karet yang melintasi
jalur itu ketika puncak banjir—ketika Masjid hanya tinggal atap dan
kubah—juga harus bermanuver berkali-kali menghindari hempasan arus.

Pada 1996, aku menyaksikan sendiri seekor kerbau besar terbanting dan
terseret arus di pertigaan itu. Si kerbau malang menguik-nguik pilu
menjelang ajal. Hingga kini aku masih ingat suara kuikan pilu kerbau
tersebut. Dramatis dan horror. Karena saat itu ditingkahi gerimis air dan
suara deru air banjir yang dari kejauhan seperti deru badai tornado.

Sementara halaman kantor kecamatan Pancoran dan kampus STBA LIA sejak
1996—ketika banjir pertamakali menerjang pemukiman kami--merupakan titik
pengungsian darurat yang strategis. Selain karena letaknya yang lebih tinggi
karena berada di ujung atas tanjakan juga merupakan tempat yang
representatif untuk pengungsian karena daya tampung yang luas dan titik
terdekat dengan lokasi banjir. Sehingga memudahkan pengungsi mengevakuasi
barang-barang atau mengamati kondisi untuk kembali turun sewaktu-waktu.
Terlebih jika banjir kali ini lebih dahsyat dan di luar dugaan seperti
sebelumnya. Banjir terdahsyat yang pernah aku alami adalah pada tahun 1996
ketika mencapai setinggi bahuku. Tinggiku sendiri 175 cm. Tapi banjir 2007
ini tiga kalinya!

Ketika aku meninggalkan rumah dengan santai *ba'da Maghrib* untuk mengungsi,
air banjir masih selutut. Orang-orang di sekitarku juga masih
bercanda-canda. Namun semua berubah ketika menjelang Isya gelombang air
berubah seperti tsunami. Kencang dan keras menderu! Orang-orang pun
blingsatan berlarian. Suara takbir berkumandang. Terlebih ketika aku kembali
turun ke bawah pada pukul sebelas malam dan menerobos lewat tegalan berbatas
tembok STBA LIA di dekat rumahku.

Dari balik tembok, aku beserta beberapa orang tetangga menyaksikan air
berkecamuk melimpas. Beberapa orang sempat melihat sepotong tangan
menggapai-gapai minta tolong dalam derasnya arus. Tapi siapa yang berani?
Sementara karena arus pula dua perahu karet dari posko banjir terbalik dan
penumpangnya yang kebanyakan anak-anak dan ibu-ibu terbalik bak beras
berjatuhan ketika ditampi.

* *

*Ya Allah, aku rasakan kehadiran-Mu kini!*

"Lam, komputer lu kebawa?" tanya seorang tetanggaku. Ia tahu aku pekerja
rumahan.

Aku menggeleng lemah. Aku hanya sempat membawa dua tas penuh berisi arsip
tulisanku, dokumen berharga serta beberapa buku dan kamus.

"Yah, beli baru deh, Lam. Tadi Jaki udah ke bawah. Rume lo udah tinggal
atap." Ujarnya enteng. Tapi aku menginderai ada empati di dalamnya. Rumahnya
hanya di seberang jalan. Meski lebih tinggi beberapa undakan anak tangga
tapi jika rumahku terendam seatap pastilah nasib rumahnya tak kalah
mengenaskan.

Lemas sudah lututku. Bukan soal harus beli komputer baru. Tapi dokumen
tulisan dan orderan terjemahan dalam komputer itu, itulah soalnya. *Duh, Ya
Allah. Kok begini! *

Di malam naas itu tak banyak yang aku lakukan. Hanya menunggui air sepanjang
malam. Entah kapan ia surut sehingga aku dapat membangun kembali harapanku.
Hanya termenung dan sesekali ngobrol kosong. Ketika aku coba turuni air
kecoklatan menuju ke rumah, baru beberapa meter aku menyerobok air
kecoklatan yang dingin menyengat tulang, beberapa hansip meneriakiku agar
menepi. Kata mereka masih ada banjir susulan lagi. Berita dari posko banjir
pusat, katanya.

* *

*Ah, padahal aku masih berharap bisa masuk ke rumahku*. Mungkin ada
benda-benda yang bisa diselamatkan. Setidaknya *hard disk* komputerku tak
lama-lama terendam. Ada proyek buku pesanan dari sebuah penerbit yang harus
diserahkan pertengahan Februari. Akhirnya, atas izin Allah, proyek itu
selesai juga setelah mendapat perpanjangan waktu. Ya, karena aku harus
menulis ulang buku itu dari awal.

Jam dua malam dalam kelelahan, aku beristirahat di Masjid Baitul Khair di
dekat tempat pengungsian. Malam itu tak berselera rasanya untuk ngobrol
membunuh duka. Kendati sebagian pengungsi sibuk berebut jatah ransom dan
minuman gratis dari banyak pihak yang membuka posko bantuan darurat di
sekitar tempat pengungsian. Rasanya semua pihak turut tangan entah dengan
apapun motivasi mereka. Mulai dari tim kampanye para kandidat gubernur DKI,
partai politik, LSM, instansi pemerintah hingga yayasan asing dari luar
negeri. Riuh sekali.

Tapi aku ingin menyendiri. Dalam keheningan malam, setelah berwudhu aku
tunaikan sholat Isya yang tertunda. Dingin air menyejukkan. Terutama ketika
sujud dan mengadukan derita di karpet mesjid. Rasanya inilah sholatku yang
paling khusyuk seumur hidup. Terbayang sholat-sholatku sebelum banjir yang
sering bagai sekedar menuntaskan kewajiban. Terburu-buru dan tanpa hati.
Semata-mata karena tenggat pekerjaan yang tak kenal waktu. *Ya Allah,
Tuhanku, maafkan aku yang lalai mengingatmu dan datang hanya di saat perlu!*

* *

*Tuhan ada di mana-mana*, demikian judul lagu gubahan James F. Sundah,
seorang Kristiani yang taat. Tuhan itu lebih dekat dari urat leher
kita,demikian termaktub dalam salah satu hadis Nabi Muhammad SAW. Tuhan itu
bersinggasana di '*arsy*, demikian dalam salah satu ayat Qur'an. Di mana pun
Ia, Ia selalu tahu kenapa dan untuk apa bencana itu ditimpakan. Ia juga tak
pernah tidur. Tak juga pernah lelah apalagi rehat.

Sementara aku hanya manusia biasa yang punya tenaga terbatas. Juga kesabaran
yang minim. Selepas banjir bandang—tetanggaku menyebutnya 'tsunami
kecil'—yang menenggelamkan 70 persen wilayah Jakarta pada awal Februari
2007, aku jatuh sakit selama dua hari. Demam. Menggigil. Kelelahan berjibaku
membersihkan lumpur bekas banjir yang sematakaki tebalnya. Banjir itu telah
merendam rumahku setinggi wuwungan rumah. Sekitar tiga meteran. Jauh lebih
dahsyat daripada banjir 2002 yang hanya sebatas paha orang dewasa.

Saking frustrasinya karena dampak kerusakan yang luar biasa, di hari-hari
awal banjir, aku sempat bergumam protes kepada Allah*,"Ya Allah, apa
salahku?!"*. Rasanya aku sudah banyak berbuat baik. Berusaha berbuat baik
kepada setiap orang. Jadi orang tua asuh buat tiga orang anak usia SD dan
SMP dalam program yang diselenggarakan sebuah LSM zakat nasional; relawan
untuk tunanetra atau kegiatan sosial lainnya. *Tapi kok begini yang aku
dapat?*

* *

*Ah, sebuah pertanyaan yang bodoh*. Sebagai manusia jelas teramat banyak
salahku. Tuhan pun punya hak prerogatif dan rahasia tersendiri dalam
menimpakan bencana-Nya. Namun manusia gemar berspekulasi. Di lingkunganku
beredar spekulasi penyebab banjir adalah karena ada satu keluarga yang
bersumpah dengan menginjak Alquran.

Konon, sewaktu banjir gelombang pertama pada akhir Januari, Mpok Enap
kehilangan satu tas penuh berisi uang tabungan sebesar tiga juta rupiah dan
surat pensiun suaminya sebagai mantan sipir penjara Cipinang. Ia mencurigai
anak-anaknya yang sebagian besar sudah berkeluarga dan tinggal berdekatan.
Karena tidak ada yang mengaku, ia pun menantang mereka untuk bersumpah
dengan menginjak Alquran. Dan anak-anaknya bersedia. Konon inilah sebab
kenapa banjir tahun ini tiga kali lebih dahsyat daripada tahun-tahun
sebelumnya.

Entahlah mengenai kebenaran berita tersebut karena tidak ada saksi. Berita
itu pun lagi-lagi katanya ucapan salah seorang anak Mpok Enap. Aku juga
tidak yakin karena sudah mafhum dengan keluarga yang sering bertengkar
sesamanya itu. Tapi dari sisi logika, ketika rumah mereka yang hanya
berjarak sepuluh meter dari Kali Ciliwung terendam pertamakali pada Kamis,
31 Januari sampai Jumat, 1 Februari, sangat banyak orang yang bisa jadi
tersangka. Karena barang-barang mereka termasuk tas berharga itu—ini kata
orang lho!—diungsikan ke pinggir jalan raya. Rumah mereka sendiri terletak
lebih rendah dari jalan raya.

Namun ada juga yang memilih menyalahkan Gubernur Sutiyoso yang lambat
membuka pintu air Manggarai—karena harus meminta izin dulu kepada Presiden
SBY—karena lebih memprioritaskan wilayah sekitar Istana Merdeka dan Jl.
Thamrin yang notabene kawasan elit dan ring satu dalam skema pengamanan
negara. Alhasil, air kiriman dari Bogor yang melahap daerah tempat tinggalku
di Pengadegan atau di sekitar Kalibata, Jakarta Selatan, terus meninggi
bahkan menggenang hingga dua hari dua malam sejak puncaknya pada Sabtu
malam, 2 Februari 2007.

Aku sendiri sudah kehabisan kata-kata menyumpah-nyumpahi para pejabat itu
dalam hati sejak tahu gelombang air yang datang menerabas sukses membalikkan
semua lemari di rumahku. Sementara komputer, buku-buku, surat-surat
berharga, TV, VCD dan pakaian ditaruh di atas lemari-lemari itu. Belajar
dari pengalaman sebelumnya, kami hanya menaruh barang-barang tersebut di
atas lemari-lemari yang cukup tinggi hingga menyentuh wuwungan rumah.

*Lha*, jika air sudah setinggi itu tak perlulah ditanya bagaimana nasib
modal kerjaku itu.Seperti ungkapan dalam salah satu puisi Taufik Ismail, *kita
harus mulai dari nol kilometer*…

"Mas, butuh apa? Bilang aja. Jangan malu-malu." Demikian bunyi sms dari
seorang sahabat di belahan tengah pulau Jawa. Aku terharu. Ternyata manis
wajahnya manis juga budi dan empatinya. *Semoga Allah memberkahi hidupmu,
Sahabat…Terima kasih banyak, Mbak…*

Namun demi *'izzah *atau harga diri, aku ketikkan balasan,"Tidak usah.Bantu
doa saja ya."

Namun ia memang sahabat sejati. Ia terus mendesak beberapa banyak uang yang
aku butuh untuk *survive *dan syukur-syukur merehab rumah yang centang
perenang. Karena terus terang saat itu kartu ATM dari dua yang kupunya
tersisa satu. Yang satu lalai terangkut.

Demikianlah berbagai simpati berdatangan mulai dari sms keprihatinan hingga
bantuan keuangan. Seorang bapak budiman—semoga Allah memberkahinya!--yang
aku kenal dari sebuah milis di internet menyedekahkan Rp 2,5 juta untukku.
Tak ketinggalan beberapa orang sahabat yang awalnya hanya kukenal di dunia
maya.

Benar kata pepatah bahasa Inggris,"*A friend indeed is a friend in need*."
Karena ada beberapa orang yang tadinya aku anggap sahabat di sebuah
organisasi sama sekali tak punya perhatian hatta sekedar sms pun. Padahal
teramat sering mereka meminta bantuanku untuk hal apa saja. Meski mungkin
itu pertanda aku harus lebih banyak belajar ikhlas. Di saat bencana, orang
memang cenderung lebih peka. Peka akan luka dan juga peka akan sang
pencipta-Nya.

Selama kurang lebih lima hari pasca banjir tanpa listrik, membaca Qur'an di
bawah lilin jauh sangat nikmat dibandingkan benderang lampu neon yang
biasanya. Mandi seadanya dengan hanya dua ember air yang didapat dengan
berebut antri dengan puluhan orang lain rasanya sangat mewah karena dua hari
sebelum tak tersentuh air bersih. Memang benar bahwa nikmat adalah nikmat
tatkala tiada. Saat di genggaman ia hanyalah kewajaran yang lazim ada.
Saking lazimnya kita menganggapnya sudah semestinya. Bahkan kita sia-siakan.

Dalam banjir kutemukan Tuhan dengan segenap kekuasaan-Nya. Yang mampu
membuat seorang anak rela meninggalkan orang tuanya yang teronggok di tempat
tidur. Untunglah sang ayah renta diselamatkan orang lain. Yang mampu membuat
seorang ibu karena takutnya digulung air terlupa akan bayinya yang tercebur
ketika hendak melompat ke perahu karet. Untung saja sang bayi mungil
terselamatkan oleh kesigapan tim SAR.

* *

*Kun fayakun*. Jika Allah berkehendak jadi maka terjadilah. Manusia hanya
dapat memperkirakan penyebabnya ketika terjadi. Allah selalu punya alasan
untuk segala kejadian. Terlepas dari apapun logika manusia yang coba
menalarnya.*****

*Jakarta**, Februari 2007*

**) Kisah nyata korban banjir bandang Jakarta tahun 2007. Maaf, re-post dari
arsip tahun 2007.*

--
*- Nursalam AR -
****
www.kintaka.wordpress.com*
*
"If you don't know where you are going, any road will get you there." (Mark
Twain)
*
*
*
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Groups

Mental Health Zone

Schizophrenia groups

Find support

Share Photos

Put your favorite

photos and

more online.

Y! Messenger

Group get-together

Host a free online

conference on IM.

Need to Reply?

Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.

Create New Topic | Visit Your Group on the Web
MARKETPLACE

Get great advice about dogs and cats. Visit the Dog & Cat Answers Center.


Stay on top of your group activity without leaving the page you're on - Get the Yahoo! Toolbar now.


Hobbies & Activities Zone: Find others who share your passions! Explore new interests.

Tidak ada komentar: