Messages In This Digest (8 Messages)
- 1.
- Bekerja dengan Cinta --- Khalil Gibran From: Gani Anthony
- 2.
- 3 Hari dalam Hidup --- Sumber : Unknown From: Gani Anthony
- 3.
- Rizki saya ada di mana-mana --- Source : Unknown From: Gani Anthony
- 4.
- A Preventive Counseling Program in Classroom Setting From: Gani Anthony
- 5.
- Unhappy children turn to sex and alcohol From: Gani Anthony
- 6.
- Stanford researchers find : Perceived intentions of others lead us t From: Gani Anthony
- 7a.
- Re: [Ruang Kantor] PEKA From: fiyan arjun
- 8.
- Opini: Mengapa Pro-Kontra Saham KS Harus Dihentikan? From: Dadang Kadarusman
Messages
- 1.
-
Bekerja dengan Cinta --- Khalil Gibran
Posted by: "Gani Anthony" gani.karsalaksana@rocketmail.com gani.karsalaksana@rocketmail.com
Fri Nov 12, 2010 10:05 pm (PST)
Wanita paruh baya itu berperawakan pendek dan sedikit gemuk. Beberapa helai
uban turut menghiasi mahkota kepalanya yang diikat dengan penjepit rambut.
Namun raut wajah bulat telur itu seakan tak pernah sekalipun terlihat cemberut.
Ia selalu tampak riang, sehingga menyembunyikan parasnya yang jelas telah
digurati keriput.
Wanita itu memang tidak terlalu renta, tetapi kekuatan dan kegesitan di masa
mudanya niscaya telah direnggut usia. Karenanya, percayakah bahkan dari dirinya
pun akan ada sebuah pelajaran tentang makna cinta?
* * *
Selalu…
Sabtu adalah hari yang ditunggu. Hari di mana nafas bisa dihela dengan panjang,
dan sejenak mengistirahatkan raga dari rentetan kesibukan yang melelahkan.
Saatnya pula untuk menikmati kebersamaan dengan seisi anggota keluarga.
Sehingga, berbelanja di sebuah supermarket dekat rumah pun menjadi hiburan yang
tak kalah meluahkan kebahagiaan.
Namun sepertinya tidak bagi wanita itu. Bagaikan tak mengenal hari libur,
nyaris setiap waktu sosoknya selalu kutemui di sekitar kokusai kouryuu kaikan
serta kampus.
Layaknya hari kerja, dikemasnya sampah-sampah yang berserakan serta dipisahkan
antara yang terbakar dan tidak. Lantas ditaruhnya pada plastik yang berbeda
warna. Sebentar kemudian diambilnya kain untuk mengelap kursi dan meja. Tak
lupa, dengan vacuum cleaner dibersihkannya juga permukaan lantai. Setelah
selesai ia segera beranjak ke toilet, lalu dengan mengenakan sarung tangan
plastik dibersihkannya bekas kotoran manusia tersebut tanpa raut muka jijik.
Ia seperti tak peduli rasa lelah atau letih, walaupun terlihat pakaian seragam
cleaning service biru mudanya telah basah bersimbah keringat. Tak juga
kepenatan menyurutkan keramahannya untuk bertegur sapa dengan siapa saja saat
bertemu muka.
Wanita itu entah siapa namanya. Hanya dengan panggilan obachan ia biasa disapa.
Saat bersua denganku, juga selalu disempatkannya bertanya kabar. Bahkan ia
pernah bercerita panjang lebar tentang anak-anak serta cucunya karena sering
melihatku berjalan-jalan dengan keluarga. Beberapa kali pula saat usai kerja
kulihat ia sedang berbelanja, masih lengkap dengan seragam biru mudanya. Lantas
ditaruh barang-barang tersebut dikeranjang, dan perlahan dikayuhnya pedal
sepeda tua untuk beranjak pulang.
Entahlah, rasanya tak ada perasaan iri dihatinya saat di hari libur ia ternyata
harus bekerja, sementara aku justru berleha-leha. Ia bahkan tetap saja semangat
bekerja dengan penuh suka cita. Begitu pula dengan obachan dan ojichan lain
yang pernah kutemui, mereka selalu asyik menikmati pekerjaannya. Mencabut
rumput liar di pekarangan kampus ketika musim panas, menyapu jalanan dari daun
yang berserakan pada musim gugur, bahkan dengan bersusah payah turut menyerok
tumpukan bongkahan salju di musim dingin.
Terlihat betapa bergairahnya mereka ketika memang waktunya harus bekerja.
Gairah dalam bentuk kesungguhan dalam menekuni apapun jenis pekerjaan, yang
mungkin tak dipandang orang walau dengan sebelah mata. Karenanya, tak terdengar
ngalor-ngidul obrolan hingga jam istirahat tiba untuk sejenak melepaskan lapar
dan dahaga. Berselang satu jam kemudian, mereka akan kembali sibuk menekuni
pekerjaannya. Senantiasa egitu, dari waktu ke waktu.
Rutinitas mereka mungkin tidaklah istimewa. Bekerja demi memperoleh sedikit
nafkah atau sekedar menghabiskan waktu luang, tentu lebih baik dari
bermalas-malasan di rumah. Terlebih-lebih itu adalah pekerjaan kasar, bukan
kerja kantoran yang menyenangkan dengan penyejuk atau pemanas ruangan.
Lalu mengapa mereka selalu saja bekerja seolah tak pupus oleh lelah? Bahkan
bekerja bagaikan sebuah energi yang tak kunjung padam, mengalir dalam pembuluh
darah serta menggerakkan jiwa dan raganya.
Sekejap akupun tepekur, kemudian mahsyuk merenung…
Dan kulihat ada gairah membara yang berpendar dari balik kerut-merut kelopak
mata tua itu. Seolah sinar matanya menyiratkan pesan agar bekerjalah dengan
cinta. Karena bila engkau tiada sanggup, maka tinggalkanlah. Kemudian ambil
tempat di depan gapura candi untuk meminta sedekah dari mereka yang bekerja
dengan suka cita. (Kahlil Gibran)
-------
~AG
- 2.
-
3 Hari dalam Hidup --- Sumber : Unknown
Posted by: "Gani Anthony" gani.karsalaksana@rocketmail.com gani.karsalaksana@rocketmail.com
Fri Nov 12, 2010 10:05 pm (PST)
Hari pertama : Hari kemarin.
Kita tak bisa mengubah apa pun yang telah terjadi.
Kita tak bisa menarik perkataan yang telah terucapkan.
Kita tak mungkin lagi menghapus kesalahan dan mengulangi kegembiraan yang Kita
rasakan kemarin.
Biarkan hari kemarin lewat dan beristirahat dengan tenang;
lepaskan saja…
Hari ke dua : hari esok.
Hingga mentari esok hari terbit,
Kita tak tahu apa yang akan terjadi.
Kita tak bisa melakukan apa-apa esok hari.
Kita tak mungkin sedih atau ceria di esok hari.
Esok hari belum tiba; toh belum tentu esok hari Kita merengkuhnya
biarkan saja…
Hari ke tiga : yang tersisa kini hanyalah hari ini.
Pintu masa lalu telah tertutup,
Pintu masa depan pun belum tiba.
Pusatkan saja diri Kita untuk hari ini.
Kita dapat mengerjakan lebih banyak hal hari ini bila Kita mampu memaafkan hari
kemarin dan melepaskan ketakutan akan esok hari.
Hiduplah hari ini. Karena, masa lalu dan masa depan hanyalah permainan pikiran
yang rumit.
Hiduplah apa adanya. Karena yang ada hanyalah hari ini, hari ini yang abadi.
Perlakukan setiap orang dengan kebaikan hati dan rasa hormat, meski mereka
berlaku buruk pada Kita.
Cintailah seseorang sepenuh hati hari ini, karena mungkin besok cerita sudah
berganti.
Ingatlah bahwa Kita menunjukkan penghargaan pada orang lain bukan karena siapa
mereka, tetapi karena siapakah diri Kita sendiri
Jadi, jangan biarkan masa lalu mengekangmu atau masa depan membuatmu
bingung, lakukan yang terbaik HARI INI dan lakukan sekarang juga
-------
~AG
- 3.
-
Rizki saya ada di mana-mana --- Source : Unknown
Posted by: "Gani Anthony" gani.karsalaksana@rocketmail.com gani.karsalaksana@rocketmail.com
Fri Nov 12, 2010 10:06 pm (PST)
Malam telah larut saat saya meninggalkan kantor. Telah lewat pukul 11 malam.
Pekerjaan yang menumpuk, membuat saya harus pulang selarut ini.
Ah, hari yang menjemukan saat itu. Terlebih, setelah beberapa saat berjalan,
warna langit tampak memerah. Rintik hujan mulai turun. Lengkap sudah, badan yang
lelah ditambah dengan "acara" kehujanan.
Setengah berlari saya mencari tempat berlindung. Untunglah, penjual nasi goreng
yang mangkal di pojok jalan, mempunyai tenda sederhana. Lumayan, pikir saya.
Segera saya berteduh, menjumpai bapak penjual yang sendirian, ditemani rokok dan
lampu petromak yang masih menyala. Dia menyilahkan saya duduk. "Disini saja dik,
daripada kehujanan…," begitu katanya saat saya meminta ijin berteduh.
Benar saja, hujan mulai deras, dan kami makin terlihat dalam kesunyian yang
pekat. Karena merasa tak nyaman atas kebaikan bapak penjual dan tendanya, saya
berkata, "tolong bikin mie goreng pak, di makan disini saja. Sang Bapak
tersenyum, dan mulai menyiapkan tungku apinya. Dia tampak sibuk. Bumbu dan
penggorengan pun telah siap untuk di racik. Tampaklah pertunjukkan sebuah
pengalaman yang tak dapat diraih dalam waktu sebentar. Tangannya cekatan sekali
meraih botol kecap dan segenap bumbu.
Segera saja, mie goreng yang mengepul telah terhidang. Keadaan yang semula
canggung mulai hilang. Basa-basi saya bertanya, "Wah hujannya tambah deras nih,
orang-orang makin jarang yang keluar ya Pak?" Bapak itu menoleh ke arah saya,
dan berkata, "Iya dik, jadi sepi nih dagangan saya.." katanya sambil menghisap
rokok dalam-dalam.
"Kalau hujan begini, jadi sedikit yang beli ya Pak?" kata saya, "Wah, rezekinya
jadi berkurang dong ya?" Duh. Pertanyaan yang bodoh. Tentu saja, tak banyak yang
membeli kalau hujan begini. Tentu, pertanyaan itu hanya akan membuat Bapak itu
tambah sedih. Namun, agaknya saya keliru…
"Gusti Allah, ora sare dik, (Allah itu tidak pernah istirahat), begitu katanya.
"Rezeki saya ada dimana-mana. Saya malah senang kalau hujan begini. Istri sama
anak saya di kampung pasti dapat air buat sawah. Yah, walaupun nggak lebar, tapi
lumayan lah tanahnya." Bapak itu melanjutkan, "Anak saya yang disini pasti bisa
ngojek payung kalau besok masih hujan…"
Degh. Dduh, hati saya tergetar. Bapak itu benar, "Gusti Allah ora sare". Allah
Memang Maha Kuasa, yang tak pernah istirahat buat hamba-hamba-Nya. Saya rupanya
telah keliru memaknai hidup. Filsafat hidup yang saya punya, tampak tak ada
artinya di depan perkataan sederhana itu. Makna nya terlampau dalam, membuat
saya banyak berpikir dan menyadari kekerdilan saya di hadapan Tuhan.
Saya selalu berpikiran, bahwa hujan adalah bencana, adalah petaka bagi banyak
hal. Saya selalu berpendapat, bahwa rezeki itu selalu berupa materi, dan hal
nyata yang bisa digenggam dan dirasakan. Dan saya juga berpendapat, bahwa saat
ada ujian yang menimpa, maka itu artinya saya cuma harus bersabar.
Namun saya keliru. Hujan, memang bisa menjadi bencana, namun rintiknya bisa
menjadi anugerah bagi setiap petani. Derasnya juga adalah berkah bagi
sawah-sawah yang perlu diairi. Derai hujan mungkin bisa menjadi petaka, namun
derai itu pula yang menjadi harapan bagi sebagian orang yang mengojek payung,
atau mendorong mobil yang mogok.
Hmm…saya makin bergegas untuk menyelesaikan mie goreng itu. Beribu pikiran
tampak seperti lintasan-lintasan cahaya yang bergerak di benak saya. "Ya Allah,
Engkau Memang Maha yang Tak Pernah Beristirahat" Untunglah, hujan telah reda,
dan sayapun telah selesai makan. Dalam perjalanan pulang, hanya kata itu yang
teringat, Gusti Allah Ora Sare….Gusti Allah Ora Sare…
***
Begitulah, saya sering takjub pada hal-hal kecil yang ada di depan saya. Allah
memang selalu punya banyak rahasia, dan mengingatkan kita dengan cara yang
tak terduga. Selalu saja, Dia memberikan Cinta kepada saya lewat hal-hal yang
sederhana. Dan hal-hal itu, kerap membuat saya menjadi semakin banyak belajar.
Termasuk kali ini. Ya, ini adalah hari yang bersejarah buat saya. Saat ini, usia
saya telah bertambah, dan milis ini pun memasuki tahun yang ketiga. Tentu, ya
tentu, saya merasa bersyukur sekali dengan semua ini. Namun, kadang wujud syukur
itu tak tampak kentara dalam runutan hidup yang saya lakoni.
Dulu, saya berharap, bisa melewati tahun ini dengan hal-hal besar, dengan
sesuatu yang istimewa. Saya sering berharap, saat saya bertambah usia, harus ada
hal besar yang saya lampaui. Seperti tahun sebelumnya, saya ingin ada hal yang
menakjubkan saya lakukan.
Namun, rupanya tahun ini Allah punya rencana lain buat saya. Dalam setiap doa
saya, sering terucap agar saya selalu dapat belajar dan memaknai hikmah
kehidupan. Dan kali ini Allah pun tetap memberikan saya yang terbaik. Saya
tetapbelajar, dan terus belajar, walaupun bukan dengan hal-hal besar dan
istimewa.
Aku berdoa agar diberikan kekuatan…Namun, Allah memberikanku cobaan agar aku
kuat menghadapinya.
Aku berdoa agar diberikan kebijaksanaan…Namun, Allah memberikanku masalah agar
aku mampu memecahkannya.
Aku berdoa agar diberikan kecerdasan…Namun, Allah memberikanku otak dan pikiran
agar aku dapat belajar dari-Nya.
Aku berdoa agar diberikan keberanian…Namun, Allah memberikanku marabahaya agar
aku mampu menghadapinya
Aku berdoa agar diberikan cinta dan kasih sayang…Namun, Allah memberikanku
orang-orang yang luka hatinya agar aku dapat berbagi dengannya.
Aku berdoa agar diberikan kebahagiaan…Namun, Allah memberikanku pintu kesempatan
agar aku dapat memanfaatkannya.
-------
~AG
- 4.
-
A Preventive Counseling Program in Classroom Setting
Posted by: "Gani Anthony" gani.karsalaksana@rocketmail.com gani.karsalaksana@rocketmail.com
Fri Nov 12, 2010 10:07 pm (PST)
The development of a preventive group counseling program for students in a
middle school attached to a Japanese university was presented. The rationale for
such program, basic concepts, methods and procedures, and curriculum development
to enhance appropriate self-assertion and to facilitate getting clear future
self-image
among Japanese youth were discussed.
Comprehensive study at Todai Fuzoku is aimed at integrating and internalizing
each student's experience and studies with the goal to enable each student to
compose a unique but unified personality. Considering this aim, the authors and
our colleagues are investigating the possibility of its realization according to
the following objectives:
1) to help students learn new behaviors, through a program of active
participation of both mind and body that will enable them to spend an enriched
life voluntarily in communication with both nature and other people;
2) to stimulate student's independence and growth by providing opportunities to
re-examine themselves and by extending their activities beyond the school to
include the local community;
3) to provide a place for teachers and students to collaborate in addressing
significant cultural and social problems;
and,
4) to establish a foundation for lifelong learning that includes an awareness of
surrounding society and a recognition of the importance of continued study
(Kameguchi, Hayes, & Ichihashi,2000).
Student's positive evaluation of the class appears, in part, to be related to
the reduction of concentration obstruction. Students appear to have been able to
examine and reconcile their own psychological status, as well as that of others,
from various perspectives based on their experience in class though the
lectures, reading materials, and self-analytic experiences in class. Although a
simple principal effect was not observed, the remaining factors were affected by
the level of student's interests or of their expectation that psychology would
be useful. Students who originally had high interests were more anxious than
other students and had anticipated that they would become more stable as a
result of taking the course. Participation in the course did seem to have
decreased their anxiety to the same level as other students, however.
These results support an interpretation that the course contributed to the
mental stability of the students, and that this effect was more apparent for
those students who reported being more anxious when the class began. These
anxious students were possibly more highly motivated because they had expected
to utilize the class as an
occasion for self-searching. Thus, more anxious students attended the class with
an awareness of their own problems. To the extent that the class met their
expectations, they were able to reduce their anxiety dramatically.
Kenji Kameguchi, Ph.D.
Graduate School of Education, University of Tokyo
Richard L. Hayes, Ed.D.
College of Education, University of South Alabama
Makiko Tsunoda, M.A.
Graduate School of Education, University of Tokyo
-------
~AG
- 5.
-
Unhappy children turn to sex and alcohol
Posted by: "Gani Anthony" gani.karsalaksana@rocketmail.com gani.karsalaksana@rocketmail.com
Fri Nov 12, 2010 10:08 pm (PST)
Young children who don't like school are more likely to be involved in underage
drinking and sexual activity. A study reported in BioMed Central's open access
journal Substance Abuse, Treatment, Prevention and Policy, has found that
pupils' general wellbeing and specific satisfaction with school were both
associated with the incidence of risky behaviors.
Professor Mark Bellis worked with a team of researchers from the Centre for
Public Health, Liverpool John Moores University, to carry out the study in more
than 3500 11-14 year olds from 15 schools in the North West of England. He said,
"As young as 13 years old, children who drink alcohol are much more likely to
have had sex. The more they drink, the higher the risks of early sexual
behavior. However, here we have looked at the relationships, not just between
alcohol consumption and sexual behavior, but also at how these behaviors relate
to their feelings about school and home life".
The authors assessed general wellbeing by asking children about how happy they
were with the way they looked, how well they got on with their parents, whether
they felt they could be assertive and whether they often felt remorse.
School-related wellbeing was assessed by questions about liking school, how
their teachers treat them, and involvement with school rules.
According to the authors, the study found that children stating a dislike of
school had 2.5-fold higher odds of having any sexual relationship. Dislike of
school also strongly predicted alcohol use.
Speaking about the results, Professor Bellis said, "Our study identifies that
the children who drink and are sexually active are also more likely to be
unhappy with their school and home lives. Such children can become disengaged
from both family and educational support and risk progressing to sexually
transmitted infections, teenage pregnancies or becoming an alcohol related
casualty at an accident and emergency unit".
"This study paints a clear picture that the children we most need to support are
often the hardest to reach through conventional educational and parental
routes."
Provided by BioMed Central
-------
~AG
- 6.
-
Stanford researchers find : Perceived intentions of others lead us t
Posted by: "Gani Anthony" gani.karsalaksana@rocketmail.com gani.karsalaksana@rocketmail.com
Fri Nov 12, 2010 10:09 pm (PST)
"When we believe a person is doing something nice for someone else, we really
do take it personally. Our brains register the observation of a good deed as a
personal reward"
It might seem like a no-brainer: We're inclined to like generous people more
than stingy ones.
But what's driving our feelings about them? Is it what they're doing, or why we
think they're doing it?
That's where the brain comes in. After studying the gray matter of 38 people in
a Stanford experiment, psychologists concluded it is the perceived intentions –
not the actions – of others that lead us to cherish the charitable and spurn
the selfish.
The finding comes from the work of Jeff Cooper, who spent his time as a
Stanford doctoral candidate studying a part of the brain called the
ventromedial prefrontal cortex. Scientists already knew the region is
stimulated by personal rewards, but Cooper wanted to see if it also reacts to
the actions of others.
He found that it does. And his science boils down to this: When we believe a
person is doing something nice for someone else, we take it personally. Our
brains register the observation of a good deed as a personal reward.
That's important information, Cooper said, because "our questions about
someone's intentions determine how we react to outcomes."
"We realized that a pretty simple manipulation of context can really change
whether we feel an emotional engagement with people we don't know or have a
personal or tangible stake with," he said.
Cooper's findings will be published online Aug. 11 by the journal Neuron
Cooper – who is now a researcher in Trinity College, Dublin's Institute for
Neuroscience – had two groups of participants at Stanford watch people play a
financial game. The players were given a bit of money and told to pitch in as
much as they want to a common pot, which Cooper and his colleagues doubled. At
the end of the game, the money was evenly split among the players.
The only difference between the groups of observers involved how the actions of
the players were described. One set of subjects was told the players were
engaged in a "stock market game," where their decisions could result in
personal loss or gain. The other subjects were told they were watching a
"public goods game," where the players could help everyone make more money.
While the activities and strategies of the players were consistent when both
groups of observers watched them, the test subjects had quite different
feelings about them.
Tracking their brain reactions using specialized MRI scans, Cooper and his
fellow researchers could tell that watching people play the "stock market" game
didn't incite much activity in the ventromedial prefrontal cortex.
But when it came to watching the players in the so-called "public goods" game,
activity in that brain region fired up.
Those who gave generously to the common pot were met with brain signals showing
positive emotions, suggesting the observers really liked those players. And
players who withheld contributions were regarded with disdain.
"The test demonstrates that what people do doesn't really matter all the time,"
said Brian Knutson, an associate professor of psychology and neuroscience who
co-authored Cooper's paper. "What we think others are intending is what really
matters. Essentially, even though people saw the exact same game, framing the
game changed the test subjects' neural reactions to the players."
Understanding how and why people react to others' giving and taking can help
politicians persuade voters on tricky issues like welfare, taxes and education.
It can help jurors decide disputes. And it can explain why people get so upset
when Wall Street bankers get huge bonuses even as the stock market crumbles.
"If your perspective is: 'How could they make so much money when the policies
they've adopted are so questionable?' that means you're thinking about the
world of investment as a public goods game," Knutson said.
BY ADAM GORLICK - Stanford University
-------
~AG
- 7a.
-
Re: [Ruang Kantor] PEKA
Posted by: "fiyan arjun" fiyanarjun@gmail.com
Fri Nov 12, 2010 10:12 pm (PST)
terbitan apa Mbak Indah?
tahun terbit kapan?
trims
2010/11/11 indah ip <indahip@gmail.com >
>
>
>
> Selamat ya, Bang Fiyan!
> Banyak orang yang pandai, tapi belum tentu mampu menjadi guru. Banyak orang
> mampu menjadi guru bagi diri sendiri, tapi belum tentu mampu menjadi guru
> bagi orang lain.
>
> Aku baru baca buku Spiritual Teaching (Abdullah Munir, Pustaka Insan
> Madani, 2009)
> Baca deh, highly recomended menurutku :-)
>
> Tetap semangat!
>
> indah ip
>
>
>
>>
>>
>> --- In sekolah-kehidupan@yahoogroups. <sekolah-kehidupan%com 40yahoogroups. com>,
>> fiyan arjun <fiyanarjun@...> wrote:
>> >
>> > *Peka*
>> >
>> > * Oleh; Fiyan Arjun*
>> >
>> > * *
>> > * "Kebanyakan orang mengatakan bahwa kecerdasanlah yang melahirkan
>> seorang
>> > ilmuwan besar. Mereka salah, karakterlah yang melahirkannya� [Albert
>> > Einstein]*
>>
>
>
--
"Books inside you"
Fiyan 'Anju' Arjun
Anju Online Bookshop
Jl.Ulujami Rt.012/04 No.14 Jak- Sel
www.bukumurahku.multiply. com
fb:bujangkumbanf@yahoo.co. <fb%3Abujangkumbanf@id yahoo.co. >id
Tlp:(021) 7379858
Hp:0852-8758-0079
- 8.
-
Opini: Mengapa Pro-Kontra Saham KS Harus Dihentikan?
Posted by: "Dadang Kadarusman" dkadarusman@yahoo.com dkadarusman
Fri Nov 12, 2010 10:12 pm (PST)
Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
Sebagai orang yang awam tentang pasar modal, saya ingin latihan untuk berpikir tentang saham. Harap maklum jika masih dangkal ya. Mumpung ada case dengan saham KS yang disebut oleh banyak orang sebagai 'perampokan'. Kenaikan harga saham yang 'gila-gilaan' dihari pertama dan kedua semakin menyulut prasangka tentang perampokan itu. Tetapi, benarkah kenaikan harga saham KS itu merupakan upaya perampokan?
Dalam konteks harga saham yang dijual dibawah nilai buku, wajar disebut merampok. Harga IPO Rp 850 dinilai terlalu murah dibandingkan dengan patokan harga wajar yang (kabarnya) diminta Men BUMN yang Rp.950. Negara dirampok? Mungkin, jika konteks ini yang dimaksud. Tapi soal kenaikan harga setelah IPO itu, tidak bisa sembarangan disebut merampok negara.
Ketika harga saham melonjak terus sebenarnya negara tidak rugi apa-apa. Sebaliknya, itu otomatis menaikkan harga saham yang masih dikuasai negara (tidak dilempar ke pasar) sehingga nilai total perusahaan meningkat.
Soal saham KS ini, kita punya 2 'cases' sbb (angka disini bukan yang sebenarnya, hanya untuk contoh saja):
Pertama, Harga saham IPO yang dinilai terlalu rendah. Patokan yang paling objektif untuk menentukan benar tidaknya harga IPO rendah adalah 'nilai buku'nya. Misalnya, nilai buku saham Rp. 1,000 dijual cuma Rp.850, maka perusahaan rugi Rp.150/lembar saham. Jika total saham dijual 3,15 miliar lembar berarti kerugiannya bernilai Rp 150 x 3,15M. Anda bisa menghitungnya sendiri karena saya tidak punya kalkulator. Kalau ada yang menyebutnya perampokan, memang cukup beralasan.
Kedua, Harga yang melambung tinggi setelah IPO. Harga saham di pasar modal menentukan harga saham sejenis yang masih tetap dipegang oleh pemilik lama alias tidak dilepas. Misalnya, saham yang dilepas 20%, maka saham sejenis yang 80%-nya lagi masih dipegang pemilik lama (dalam case KS dipegang oleh pemerintah) juga ikut naik. Kalau di pasar harga saham KS jadi 2,000 misalnya, maka nilai saham yang dipegang pemerintah juga naik menjadi 2,000, artinya 'nilai total perusahaan' juga menjadi naik dua kali lipat dari nilai bukunya. Ini tidak patut disebut perampokan.
Yang paling mengerikan itu bukan harga saham yang terus melambung naik. Jadi, apa dong? Menurut hemat saya ancaman yang harus diwaspadai itu adalah; bahaya dari kecerdikan para spekulan kakap yang memainkan 'potensi perusahaan strategis sekelas KS' terhadap situasi psikologis investor kecil. Semakin dikritik penjualannya, semakin besar sentimen pasarnya. Saat 'range' sentimen pasar itu sangat besar adalah saat paling tepat bagi para spekulan untuk bermain 'goreng-gorengan'. Para 'market mover' ini bisa memainkannya dengan cara menarik harga saham kembali terbanting ke bawah, sehingga para pemodal kecil panik lalu rame-rame cut loss.
Indikasi ke arah itu sudah mulai kelihatan pada perdagangan sesi pertama di hari ketiga dimana harga saham kembali anjlok ke level 1270 setelah sempat menyentuh angka 1520 di hari kedua. Pada saat para teri (yang jumlahnya banyak itu) itu 'keluar', para kakap (yang hanya beberapa gelintir) kembali 'masuk' dengan memborong diharga rendah. Ketika mereka sudah mengakumulasi jumlah tertentu, lalu dibawa terbang lagi ke angkasa. Disaat seperti ini, para pemain saham kelas teri mengira kalau harga saham KS sudah 'pulih' lagi, jadi mereka beli lagi sampai di harga tinggi lagi.
Modal kapital para pemodal kelas teri bakal terkuras habis, sedangkan negara tidak mendapatkan apa-apa dari permainan itu karena meski harganya naik tidak bisa melakukan 'profit taking' seperti para spekulan kakap itu.
Bagaimana cara menghindarinya? Antara lain; hentikan pro-kontra soal penjualan KS. Semua itu sudah terjadi sehingga tidak bisa 'diapa-apakan' lagi. Kalau semakin diungkit-ungkit, para spekulan semakin senang karena semakin terbuka peluang 'menimba banyak uang'.
Para ahli pasar modal, tolong dikomentari apakah cara berpikir saya ini sudah benar atau ngawur bin ancwur, hehe...... silakan, silakan disharingkan pendapatnya masing-masing.
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman - Pengamat Saham Dadakan
www.dadangkadarusman.com
--------------------- --------- --
Buku-buku terbaru Dadang Kadarusman sudah tersedia di toko buku atau bisa dipesan di http://www.bukudadang.com/
Need to Reply?
Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.
MARKETPLACE
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Individual | Switch format to Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
Tidak ada komentar:
Posting Komentar