Kamis, 04 Desember 2008

[sekolah-kehidupan] Digest Number 2400

sekolah-kehidupan

Messages In This Digest (25 Messages)

1a.
Di Seberang Jalan Itu.... From: rah_ma18
1b.
Info Sehat : Proses Penyembuhan Yang Lebih Sederhana & Lebih Cepat From: adebio_wellness
2a.
Re: Berita Gembira From: M.Arif As Salman
2b.
Re: Berita Gembira From: M.Arif As Salman
3a.
Andrea Hirata Berhenti Menulis From: WORD SMART CENTER
3b.
Re: Andrea Hirata Berhenti Menulis From: Siwi LH
4a.
Re: [Lonceng] Mbak Nia Ultah Sabtu lalu ^_^ From: Nia Robie'
5.
Pelajaran dari Sekolah dan Kehidupan From: Anwar Holid
6.
MENULIS MENJADI KAYA From: WORD SMART CENTER
7.
Maklumat : dicari fasilitator School of Universe From: septriana Murdiani
8a.
(ruang keluarga) kencan istimewa From: Bu CaturCatriks
8b.
Re: (ruang keluarga) kencan istimewa From: listyarisanti
8c.
Re: (ruang keluarga) kencan istimewa From: patisayang
8d.
Re: (ruang keluarga) kencan istimewa From: novi_ningsih
9.
(Sharing)Lucu Tapi Nyata :: Cinta Ku SEKUAT Pegangan Ku From: Wida Yunita
10.
(Catatan Kecil) Otak, Hati, dan Imajinasi From: INDARWATI HARSONO
11a.
Re: [Catcil] gelap... gelap... gelaaaaaaap From: listyarisanti
12a.
Re: (Ruang Keluarga) Out of The Box; Masih Tentang Peran From: patisayang
12b.
Re: (Ruang Keluarga) Out of The Box; Masih Tentang Peran From: Syafaatus Syarifah
12c.
Re: (Ruang Keluarga) Out of The Box; Masih Tentang Peran From: fil_ardy
13.
[CATCIL] Sejenak Rehat, Sekedar Menyimak (*mohon izin) From: Nia Robie'
14.
[Catcil] SEGALANYA TELAH BERUBAH From: caliyan
15.
[Rampai] Di Tepi Jendela Kota From: Epri Saqib
16.
Fwd:  [CATCIL] Sejenak Rehat, Sekedar Menyimak (*mohon izin) From: divin_nahb_dn
17.
(RAMPAI) DUNIA SEPI From: divin_nahb_dn

Messages

1a.

Di Seberang Jalan Itu....

Posted by: "rah_ma18" rah_ma18@yahoo.co.id   rah_ma18

Wed Dec 3, 2008 5:37 am (PST)

Di seberang jalan itu...
di trotoar sempit pertigaan jalan
masih banyak kulihat
deretan para pengemis dengan anak di pangkuan

Di seberang jalan itu...
masih kurasakan
macetnya lalu lintas kota
dan kepulan asap knalpot kendaraan

Di seberang jalan itu...
masih kulihat
tawa anak-anak jalanan
dengan alat pengamen di tangan

Di seberang jalan itu...
masih bisa kupandang
taman kota yang indah dan menawan

Di seberang jalan itu...
masih sering kunjungi
pasar minggu yang selalu ramai
dengan jajanan khas tradisionalnya

Di seberang jalan itu...
kuteringat sahabatku
yang selalu setia menanti
bila aku tak tepati janji

Di seberang jalan itu...
banyak hal yang terjadi
bahkan ada juga yang mau mati
karena ingin bunuh diri

Di seberang jalan itu...
terus kulalui
meniti hari-hari
untuk berjuang meraih mimpi

Masih di seberang jalan itu...
aku melihat batu nisan sobatku
sobat yang selalu menjadi teman suka duka ku

Di seberang jalan itu...
ya diseberang jalan itu...
masih diseberang jalan itu....
aku masih mengingat banyak kenangan
kenangan yang sering kita lewati
kenangan untuk selalu berusaha meraih mimpi
walaupun banyak orang yang bilang itu nisbi
tapi kau selalu memberi
keyakinan dihati

Tapi kini
kau telah pergi...
salamku untuk sahabat sejati...
semoga kau masih bisa meraih mimpi
yaaa.. mimpi...
mimpi tertinggi....
untuk bisa menempati syurgawi........

For My Best Frend's
rah_ma18@yahoo.co.id ( Lee_U ^_~ )

1b.

Info Sehat : Proses Penyembuhan Yang Lebih Sederhana & Lebih Cepat

Posted by: "adebio_wellness" adebio_wellness@yahoo.com   adebio_wellness

Wed Dec 3, 2008 6:23 am (PST)

PROSES PENYEMBUHAN YANG SEDERHANA DAN LEBIH CEPAT

Seperti yang kita ketahui bahwa tubuh kita 80% terdiri dari air,jd
sangat mudah bereaksi terhadap lingkungan sekitar kita
(berdasarkan buku terlaris( "the true power of water"),untuk itu kita
perlu menjaga nya untuk tetap mempunyai struktur
molekul yang balance (seimbang),salah satu penyebab tidak seimbang nya
adalah air yang kita konsumsi sehari – hari adalah air
yang mati (struktur molekulnya sangat tidak bagus). Salah satu untuk
bisa tetap seimbang adalah dengan mengkonsumsi air yang
ber energi

Manfaat Air yang Ber energi :

- Meningkatkan kadar Oksigen dalam darah
- Meningkatkan kualitas tidur
- Mengurangi tingkat stress
- Menghilangkan racun ( Detoksifikasi )
- Menambah cairan sel – sel tubuh
- Menyeimbangkan unsure Ying & Yang
- Menciptakan energi CHI
- Meningkatkan situasi mental diri
- Membantu proses penyembuhan
- Mempertahankan keremajaan kulit ( awet muda )
- Meningkatkan system kekebalan tubuh

Untuk membuat air yang ber energi proses nya bisa di bantu oleh alat
yang di sebut AMEZCUA BIO DISC (www.amezcua.com)lisensi
dari PROGNOS,di mana alat ini bisa merubah struktur molekul dan cairan
menjadi berkualitas (positif) karena alat ini terdapat
mineral-mineral yang memancarkan energi positif,untuk anda yang dalam
masa penyembuhan sangat membantu untuk bisa mempercepat
proses penyembuhan anda,ex : - anak autis, - penderita kanker, -
diabetes,- batu ginjal dll.

CARA PENGGUNAAN BIO DISC :

1.Untuk Air :
- Alirkan air yg akan kita minum ke permukaan Kaca Bio Disc
- Letakkan Gelas yg berisi air di atas permukaan Kaca Bio Disc lalu
diam kankira2 10 menit,lalu siap di konsumsi.

2.Untuk Therapy Badan :
- Letakkan Kaca Bio Disc Di daerah yg mengalami sakit lalu gosok2an
dgn memutar nya berlawanan arah jarum jam,setelah beberapa
menit rasakan berkurangnya rasa sakit.
- Dengan bantuan sinar senter LED arahkan Kaca Bio Disc ke arah daerah
yg mengalami sakit atau nyeri,lalu senter yg sdh di hidupkan
di putar berlawananarah jarum jam,setelah beberapa menit kita akan
merasakan sakit yg berkurangbahkan sampai benar2 hilang.

3.Untuk Tumbuhan :
- Alirkan air yg akan di gunakan utk menyiram tanaman anda ke
permukaan Kaca BioDisc,lalu Disiram kan ke tanaman anda,maka akan
membantu pertumbuhan tanaman anda jauh lebih cepat dan baik mutu nya.

TERSEDIA THERAPY GRATIS UNTUK ANDA YG MEMBUTUHKAN,Silahkan hubungi
no.contact-08179839980

Warm regards,

Ade

Email : adeklhayo@yahoo.com,adebio_wellness@yahoo.com

2a.

Re: Berita Gembira

Posted by: "M.Arif As Salman" marif_assalman@yahoo.com   marif_assalman

Wed Dec 3, 2008 6:41 am (PST)

Assalamu`alaikum Wr. Wb
Mbak Retno,
Makasih banyak atas do`a dan pesan berharganya, semoga Allah senantiasa menuntun kami dan kita semua untuk bisa menjaga amanah yang Allah berikan  dengan baik.
terus terang banyak pengalaman, kesan dan rasa yang muncul dalam hati, dan ingin diceritakan, hanya saja untuk saat ini saya belum memungkinkan untuk hal itu, insya Allah sekitar awal Januari nanti kita akan ujian, dan untuk saat ini saya lebih terfokus untuk persiapan ujian.
insya Allah mbak, selepas ujian nanti kita bisa berbagi cerita dan pengalaman.
 
salam,
Abu Fathma

--- On Mon, 12/1/08, Bu CaturCatriks <punya_retno@yahoo.com> wrote:

From: Bu CaturCatriks <punya_retno@yahoo.com>
Subject: [sekolah-kehidupan] Re: Berita Gembira
To: sekolah-kehidupan@yahoogroups.com
Date: Monday, December 1, 2008, 4:22 PM

gyaaaaaaaaa! !! ada bayiiii!!!
selamat yaaa, mas arif atas kelahiran bayi cantik yg bernama cantik
pula :)
saya percaya, menjadi orangtua adl satu proyek raksasa sepanjang
zaman.
selamat dgn amanah barunya, ya :)

ps: mas arif yg baik, kapan2 sharing dong ttg proses kelahirannya,
apakah mas arif "menangkap" si bayi, kemudian mendekapnya? trus, apa
bayinya sempat kuning? trus, gimana pengalaman menyusui pertama?
duh, banyak ya nanyanya, maaf ya, saya baru baca buku the baby book.
jadi gini deh, mereweli semua orang :).

oiya, salam kenal, saya retno. :)

-retno-

--- In sekolah-kehidupan@ yahoogroups. com, "M.Arif As Salman"
<marif_assalman@ ...> wrote:
>
> Assalamu`alaikum Wr. Wb.
> Alhamdulillah atas nikmat Allah  Swt. yang begitu tak
terhingga, "Ya Allah jadikanlah kami semua hamba-hambaMu yang selalu
bersyukur, amin."
> Alhamdulillah, anak pertama kami telah lahir, Sabtu pagi, 1
Zulhijjah 1429 H, sekitar jam 7-an WK [Waktu Kairo], anaknya
perempuan dengan berat 3 kg dan kami beri nama dengan Fathimah
Muhammad.
> Kami sekeluarga memohon do`a dari Ustadz-ustadzah, teman-teman,
sahabat-sahabat dan ikhwah semua, semoga anak kami selalu sehat
wal`afiyat, dan menjadi seorang anak yang solehah, berbakti, berguna
bagi Islam dan kaum muslimin dan umat manusia, amin.
>  
> Terima kasih atas do`anya.
> Cairo, 1 Desember 2008
> Salam,
> Abu Fathimah
>

2b.

Re: Berita Gembira

Posted by: "M.Arif As Salman" marif_assalman@yahoo.com   marif_assalman

Wed Dec 3, 2008 3:53 pm (PST)

Terima kasih banyak atas doa tulusnya, semoga Allah Swt, mengabulkannya, amin.
 
Salam,
Abu Fathma

--- On Mon, 12/1/08, Loiy Anni <loiyloi@yahoo.com> wrote:

From: Loiy Anni <loiyloi@yahoo.com>
Subject: Re: [sekolah-kehidupan] Berita Gembira
To: sekolah-kehidupan@yahoogroups.com
Date: Monday, December 1, 2008, 5:50 PM

Wa'alaikumussalam wr wb

Selamat menjadi orang tua baru. Semoga menjadi anak yang sholehah dan selalu dalam lindungan-NYA. Aminnn...

Salam kenal,
-loiy-

From: M.Arif As Salman <marif_assalman@ yahoo.com>
To: wordsmartcenter@ yahoogroups. com
Cc: sekolah-kehidupan@ yahoogroups. com; kmm_mesir@yahoogrou ps.com; KMM-Mesir@yahoogrou ps.com; el_mujaddid2006@ yahoogroups. com
Sent: Monday, December 1, 2008 15:06:57
Subject: [sekolah-kehidupan] Berita Gembira

Assalamu`alaikum Wr. Wb.
Alhamdulillah atas nikmat Allah  Swt. yang begitu tak terhingga, "Ya Allah jadikanlah kami semua hamba-hambaMu yang selalu bersyukur, amin."
Alhamdulillah, anak pertama kami telah lahir, Sabtu pagi, 1 Zulhijjah 1429 H, sekitar jam 7-an WK [Waktu Kairo], anaknya perempuan dengan berat 3 kg dan kami beri nama dengan Fathimah Muhammad.
Kami sekeluarga memohon do`a dari Ustadz-ustadzah, teman-teman, sahabat-sahabat dan ikhwah semua, semoga anak kami selalu sehat wal`afiyat, dan menjadi seorang anak yang solehah, berbakti, berguna bagi Islam dan kaum muslimin dan umat manusia, amin.
 
Terima kasih atas do`anya.
Cairo, 1 Desember 2008
Salam,
Abu Fathimah

Get your preferred Email name!
Now you can @ymail.com and @rocketmail. com.

3a.

Andrea Hirata Berhenti Menulis

Posted by: "WORD SMART CENTER" wordsmartcenter@yahoo.com   wordsmartcenter

Wed Dec 3, 2008 8:39 am (PST)

Andrea Hirata : Saya Akan Berhenti Menulis  
Selasa, 02 Desember 2008 | 23:37 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta :Kendati
tetralogi novel karyanya mendapatkan sambutan yang luar biasa dari
masyarakat, ternyata tak serta merta membuat Andrea Hirata berkeinginan
terus membuat karya serupa. Malah sebaliknya, pria bernama lengkap
Andrea Hirata Seman Said Harun berniat berhenti menulis setelah karya
keempatnya, Maryamah Karpov, diluncurkan.
Andrea
juga mengaku sangat bahagia ketika tahu, mantan gurunya Ibu Muslimah
Hafsari mendapatkan penghargaan Satya Lencana Pendidikan dari
pemerintah. Karena, kepada sang guru itulah, karya Andrea
dipersembahkan. Dan Muslimah adalah salah satu tokoh utama dalam
novelnya Laskar Pelangi.

Lantas mengapa ia berkeinginan
berhenti menulis? Lelaki kelahiran Pulau Belitong, Propinsi Bangka
Belitung 24 Oktober menuturkan alasannya kepada Arif Arianto melalui sambungan telepon, Selasa (2/12) malam. Berikut petikannya :

Ibu
Muslimah, yang juga menjadi salah satu tokoh dalam novel Laskar Pelangi
karya anda, mendapatkan Satya Lencana Pendidikan dari presiden.
Bagaimana perasaan anda?
Yang pasti, haru, bahagia, dan
penuh syukur bercampur menyesaki hati saya saat ini. Beliau memang
pantas mendapatkannya. Bagi saya, ibu (Muslimah), bukan sekadar seorang
guru. Beliau adalah pendidik sejati, seorang pejuang kemanusiaan yang
bertekad mengangkat harkat dan martabat orang lain melalui pendidikan.
Dan Satya Lencana itu, adalah pengakuan atas bukti dedikasi beliau
dalam pendidikan.

Lebih dari itu, bagi saya penghargaan itu
sekaligus menjadi hadiah bagi dunia pendidikan secara umum. Saya juga
yakin, cepat atau lambat, apa yang dilakukan oleh ibu Muslimah, juga
menyadarkan kita semua betapa masih banyak hal yang harus kita lakukan
terhadap dunia pendidikan kita.

Saya hanyalah seorang yang mengabarkan saja, tentang keberadaan pendidikan di kampung dimana kami tinggal. Tak lebih dari itu.

Anda masih tertarik untuk menulis tema dunia pendidikan dalam bentuk novel?
Dalam
empat karya saya, semua bertutur tentang pendidikan, edukasi. Tetapi
menurut saya, sebenarnya tak perlu ada tulisan yang memotret wajah
pendidikan kita, bila pemerintah benar-benar tahu kondisi yang
sebenarnya. Dan persoalan yang harus dihadapi dunia pendidikan
pedidikan juga tidak akan terjadi bilamana semua sensitif terhadap
masalah bersama yang dihadapi.

Selain masalah
pendidikan apakah anda juga tertarik menulis kisah-kisah herois lain di
masyarakat, dengan warna dan corak seperti tetralogi novel anda
sekarang?
Seperti yang anda sebut, sebenarnya masih
banyak persoalan sosial yang menarik untuk diangkat dalam sebuah
tulisan, karena selama ini persoalan itu tidak pernah terekam dan
terekspose publik, karena berada di wilayah periperal atau wilayah
pinggiran. Ini juga menjadi sumber ide yang menarik.

Tapi,
sebenarnya, sampai karya keempat dalam tetralogi novel saya ini, yaitu
Maryamah Karpov, ( keempat novel Andrea adalah Laskar Pelangi, Sang
Pemimpi, Endensor, serta Maryamah Karpov -red), saya sudah merasa
cukup. Saya berketetapan tidak akan menulis lagi.

Maksud anda?
Ya. Saya akan cooling down,
saya akan berhenti menulis, entah sampai kapan. Yang jelas, saya akan
berhenti menulis. Memang, masih banyak ide yang ada di kepala saya, dan
saya rasa semuanya sangat menarik.

Apakah karena karya anda menjadi best seller, sehingga anda merasa sudah cukup?
Bukan karena itu. Memang, alhamdulillah,
hingga saat ini Laskar Pelangi sudah terjual hampir satu juta
eksemplar. Tetapi bukan itu alasannya. Saya hanya ingin berhenti
menulis saja.

Mengapa anda membuat keputusan seperti itu?
Jujur
saya katakan, setelah berhasil merampungkan tulisan saya itu, ternyata
apa yang saya alami di luar dugaan saya. Saya mengalami kejadian yang
luar biasa, dalam waktu singkat yaitu tiga tahun. Malah, terlalu luas
menurut saya.

Secara pribadi, saya kaget dengan sambutan dari
masyarakat atas perkembangan karya ini. Tetapi, pada saat bersamaan
saya juga merasa tidak siap.

Tidak siap seperti apa?
Saya
tidak berbakat menjadi orang terkenal. Saya hanyalah orang kampung yang
biasa hidup adem ayem. Tetapi, sekarang orang memandang saya
seolah-olah seorang selebriti. Banyak kejadian aneh yang muncul
kembali, di saat orang mengenal saya. Bahkan kejadian-kejadian beberapa
tahun silam, yang saya pun sudah tidak ingat, muncul kembali.

Gosip
pun muncul mengiringi. Kehidupan saya yang sebelumnya adem ayem, kini
berantakan. Bahkan, kehidupan saya telah menjadi sebuah komoditas
pemberitaan. Ini yang benar-benar tidak saya duga sebelumnya. Kini,
saya sangat merindukan kehidupan saya masa lalu yang adem ayem.

Tapi
itu bukankah justeru menjadi sebuah tantangan. Seperti perumpamaan
semakin tinggi sebuah pohon juga semakin kencang angin menerpa?
Benar,
itu bagi orang yang memiliki jiwa selebriti. Tetapi saya bukanlah orang
tipe seperti itu. Saya hanyalah orang kampung biasa, yang tak terbiasa
dengan ingar bingar kehidupan yang disebut selebriti. Barangkali naif
bagi orang lain, tapi itulah saya.

Sebenarnya, saya semula berharap, saya melihat apa yang saya hasilkan orang hanya read my book don't read me.
Bacalah karya saya, dan jangan membaca tentang kehidupan pribadi saya.
Saya benar-benar merindukan kehidupan yang adem, karena saya memang
orang kampung. Saya ingin seperti Ahmad Tohari (seorang penulis novel
Ronggeng Dukuh Paruk – red), yang hidup tenang di desa.

Anda kan menyebut berhenti menulis ini kan dalam rangka cooling down, artinya anda akan menulis kembali, kira-kira kapan?
Ya, memang untuk cooling down,
tapi sampai kapan saya tidak tahu. Yang pasti, bagi saya empat karya,
tetralogi novel ini, saya kira sudah cukup. Saya akan berhenti. Sekali
lagi, kalau sampai kapan saya tidak tahu.

=====================

sumber: http://www.tempointeraktif.com/hg/Wawancara/2008/12/02/brk,20081202-149323,id.html

3b.

Re: Andrea Hirata Berhenti Menulis

Posted by: "Siwi LH" siuhik@yahoo.com   siuhik

Wed Dec 3, 2008 5:54 pm (PST)

sepakat dengan Andrea sebaiknya memang : read my book don't read me! saya kasihan aja sekarang kehidupan pribadi Andrea HIrata diobok-obok sedemikian rupa. Menurut saya apa yang baik ambil dan tak perlu menoleh ke hal-hal yang kurang baik, karena bisa merusak nilai kebaikan yang telah kita dapatkan

Salam Hebat Penuh Berkah
Siwi LH
cahayabintang. wordpress.com
siu-elha. blogspot.com
YM : siuhik

________________________________
From: WORD SMART CENTER <wordsmartcenter@yahoo.com>
To: wordsmartcenter@yahoogroups.com; infopmik@yahoogroups.com; sekolah-kehidupan@yahoogroups.com; penulislepas@yahoogroups.com; JSP_Mantan_PII@yahoogroups.com
Sent: Wednesday, December 3, 2008 11:38:00 PM
Subject: [sekolah-kehidupan] Andrea Hirata Berhenti Menulis

Andrea Hirata : Saya Akan Berhenti Menulis
Selasa, 02 Desember 2008 | 23:37 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta :Kendati
tetralogi novel karyanya mendapatkan sambutan yang luar biasa dari
masyarakat, ternyata tak serta merta membuat Andrea Hirata berkeinginan
terus membuat karya serupa. Malah sebaliknya, pria bernama lengkap
Andrea Hirata Seman Said Harun berniat berhenti menulis setelah karya
keempatnya, Maryamah Karpov, diluncurkan.
Andrea
juga mengaku sangat bahagia ketika tahu, mantan gurunya Ibu Muslimah
Hafsari mendapatkan penghargaan Satya Lencana Pendidikan dari
pemerintah. Karena, kepada sang guru itulah, karya Andrea
dipersembahkan. Dan Muslimah adalah salah satu tokoh utama dalam
novelnya Laskar Pelangi.

Lantas mengapa ia berkeinginan
berhenti menulis? Lelaki kelahiran Pulau Belitong, Propinsi Bangka
Belitung 24 Oktober menuturkan alasannya kepada Arif Arianto melalui sambungan telepon, Selasa (2/12) malam. Berikut petikannya :

Ibu
Muslimah, yang juga menjadi salah satu tokoh dalam novel Laskar Pelangi
karya anda, mendapatkan Satya Lencana Pendidikan dari presiden.
Bagaimana perasaan anda?
Yang pasti, haru, bahagia, dan
penuh syukur bercampur menyesaki hati saya saat ini. Beliau memang
pantas mendapatkannya. Bagi saya, ibu (Muslimah), bukan sekadar seorang
guru. Beliau adalah pendidik sejati, seorang pejuang kemanusiaan yang
bertekad mengangkat harkat dan martabat orang lain melalui pendidikan.
Dan Satya Lencana itu, adalah pengakuan atas bukti dedikasi beliau
dalam pendidikan.

Lebih dari itu, bagi saya penghargaan itu
sekaligus menjadi hadiah bagi dunia pendidikan secara umum. Saya juga
yakin, cepat atau lambat, apa yang dilakukan oleh ibu Muslimah, juga
menyadarkan kita semua betapa masih banyak hal yang harus kita lakukan
terhadap dunia pendidikan kita.

Saya hanyalah seorang yang mengabarkan saja, tentang keberadaan pendidikan di kampung dimana kami tinggal. Tak lebih dari itu.

Anda masih tertarik untuk menulis tema dunia pendidikan dalam bentuk novel?
Dalam
empat karya saya, semua bertutur tentang pendidikan, edukasi. Tetapi
menurut saya, sebenarnya tak perlu ada tulisan yang memotret wajah
pendidikan kita, bila pemerintah benar-benar tahu kondisi yang
sebenarnya. Dan persoalan yang harus dihadapi dunia pendidikan
pedidikan juga tidak akan terjadi bilamana semua sensitif terhadap
masalah bersama yang dihadapi.

Selain masalah
pendidikan apakah anda juga tertarik menulis kisah-kisah herois lain di
masyarakat, dengan warna dan corak seperti tetralogi novel anda
sekarang?
Seperti yang anda sebut, sebenarnya masih
banyak persoalan sosial yang menarik untuk diangkat dalam sebuah
tulisan, karena selama ini persoalan itu tidak pernah terekam dan
terekspose publik, karena berada di wilayah periperal atau wilayah
pinggiran. Ini juga menjadi sumber ide yang menarik.

Tapi,
sebenarnya, sampai karya keempat dalam tetralogi novel saya ini, yaitu
Maryamah Karpov, ( keempat novel Andrea adalah Laskar Pelangi, Sang
Pemimpi, Endensor, serta Maryamah Karpov -red), saya sudah merasa
cukup. Saya berketetapan tidak akan menulis lagi.

Maksud anda?
Ya. Saya akan cooling down, saya akan berhenti menulis, entah sampai kapan. Yang jelas, saya akan
berhenti menulis. Memang, masih banyak ide yang ada di kepala saya, dan
saya rasa semuanya sangat menarik.

Apakah karena karya anda menjadi best seller, sehingga anda merasa sudah cukup?
Bukan karena itu. Memang, alhamdulillah,
hingga saat ini Laskar Pelangi sudah terjual hampir satu juta
eksemplar. Tetapi bukan itu alasannya. Saya hanya ingin berhenti
menulis saja.

Mengapa anda membuat keputusan seperti itu?
Jujur
saya katakan, setelah berhasil merampungkan tulisan saya itu, ternyata
apa yang saya alami di luar dugaan saya. Saya mengalami kejadian yang
luar biasa, dalam waktu singkat yaitu tiga tahun. Malah, terlalu luas
menurut saya.

Secara pribadi, saya kaget dengan sambutan dari
masyarakat atas perkembangan karya ini. Tetapi, pada saat bersamaan
saya juga merasa tidak siap.

Tidak siap seperti apa?
Saya
tidak berbakat menjadi orang terkenal. Saya hanyalah orang kampung yang
biasa hidup adem ayem. Tetapi, sekarang orang memandang saya
seolah-olah seorang selebriti. Banyak kejadian aneh yang muncul
kembali, di saat orang mengenal saya. Bahkan kejadian-kejadian beberapa
tahun silam, yang saya pun sudah tidak ingat, muncul kembali.

Gosip
pun muncul mengiringi. Kehidupan saya yang sebelumnya adem ayem, kini
berantakan. Bahkan, kehidupan saya telah menjadi sebuah komoditas
pemberitaan. Ini yang benar-benar tidak saya duga sebelumnya. Kini,
saya sangat merindukan kehidupan saya masa lalu yang adem ayem.

Tapi
itu bukankah justeru menjadi sebuah tantangan. Seperti perumpamaan
semakin tinggi sebuah pohon juga semakin kencang angin menerpa?
Benar,
itu bagi orang yang memiliki jiwa selebriti. Tetapi saya bukanlah orang
tipe seperti itu. Saya hanyalah orang kampung biasa, yang tak terbiasa
dengan ingar bingar kehidupan yang disebut selebriti. Barangkali naif
bagi orang lain, tapi itulah saya.

Sebenarnya, saya semula berharap, saya melihat apa yang saya hasilkan orang hanya read my book don't read me.
Bacalah karya saya, dan jangan membaca tentang kehidupan pribadi saya.
Saya benar-benar merindukan kehidupan yang adem, karena saya memang
orang kampung. Saya ingin seperti Ahmad Tohari (seorang penulis novel
Ronggeng Dukuh Paruk – red), yang hidup tenang di desa.

Anda kan menyebut berhenti menulis ini kan dalam rangka cooling down, artinya anda akan menulis kembali, kira-kira kapan?
Ya, memang untuk cooling down,
tapi sampai kapan saya tidak tahu. Yang pasti, bagi saya empat karya,
tetralogi novel ini, saya kira sudah cukup. Saya akan berhenti. Sekali
lagi, kalau sampai kapan saya tidak tahu.

============ =========

sumber: http://www.tempoint eraktif.com/ hg/Wawancara/ 2008/12/02/ brk,20081202- 149323,id. html



4a.

Re: [Lonceng] Mbak Nia Ultah Sabtu lalu ^_^

Posted by: "Nia Robie'" musimbunga@gmail.com

Wed Dec 3, 2008 8:45 am (PST)

makasih mas aris dan mba indar dan juga semuanyah...

mohon maaf euy jadi agak jarang nongol di sk

2008/12/3 patisayang <patisayang@yahoo.com>

> Met ultah juga Non. Semoga sisa usianya semakin berkah. amin...
>
> salam,
> Indar
>
> --- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com<sekolah-kehidupan%40yahoogroups.com>,
> "Lia Octavia"
> <liaoctavia@...> wrote:
> >
> > Mbak Nia, selamat hari lahir ya pada tgl 29 November 2008 lalu...
> Semoga
> > sisa umurmu menjadi berkah dan bermanfaat bagi orang lain...amiin...
> >
> > Mohon maaf yah ucapannya telat... ^_^
> >
> > Salam
> > Lia
> >
>
>
>
5.

Pelajaran dari Sekolah dan Kehidupan

Posted by: "Anwar Holid" wartax@yahoo.com   wartax

Wed Dec 3, 2008 1:24 pm (PST)


Pelajaran dari Sekolah dan Kehidupan
------------------------------------
Oleh ANWAR HOLID

Adenita mengeluarkan novel pertama tentang mahasiswi berhati baja yang bertekad menyelesaikan kuliah, meski keluarganya gagal membiayai, dan karena itu dia bekerja keras membiayai hidup dan terpaksa utang ke sana-sini, sampai ketika lulus, mengantongi utang sebesar 70 juta rupiah.

BANDUNG - 9 Matahari karya Adenita (Grasindo, 352 hal.) merupakan debut novel yang sangat mengesankan dan berpotensi membuat hati pembacanya bergetar. Ini sebuah novel pembentukan jiwa (bildungsroman) yang sangat dewasa, berani, menebalkan rasa tabah dan sikap positif.

Novel ini melontarkan saya kembali ke masa-masa kuliah, bertemu dengan mahasiswa beserta aktivitas dan idealismenya, berusaha membentuk identitas, dan belajar dari kehidupan. Novel ini juga memaksa saya mengingat Akademos (Bagus Takwin), novel sejenis tentang kehidupan kampus, namun dengan aspek yang intelektualisme yang berbeda; juga menguatkan saya pada salah satu ucapan Arvan Pradiansyah: kalau kamu kalah, jangan sampai kamu kehilangan pelajaran.

Saya menamatkannya dengan mata berkali-kali rembes dan hidung meler. Tapi hati saya hangat sekali, dan dalam hati saya terus-menerus berkata: Ini novel yang bagus!

Temui Matari Anas, mahasiswi yang terlalu tua dengan teman-teman seangkatannya, namun punya tekad menakjubkan menjadi sarjana dan berguna bagi diri sendiri, keluarga, dan orang-orang sekitarnya. Meski keluarganya gagal membiayai kuliah karena terlalu miskin dan secara emosional sedang labil, dia berusaha mandiri, bertahan dengan energi positif yang luar biasa. Keadaan memaksa dia utang ke sana-kemari pada banyak orang, teman-teman, sampai ibu pemilik warung makan di dekat tempat kosnya. Dia belajar pada kehidupan, pada orang-orang yang bisa dijadikan teladan, pertemanan, kesetiaan, dan kasih sayang orang-orang yang mencintainya. Meski pada akhirnya kuliah hingga lulus itu penting, lebih penting lagi ialah integritas, yang ditempa oleh kehidupan dan kedewasaan dalam memandang masalah.

Adenita berhasil menulis novel dengan cukup rapi, dan terutama sekali menggetarkan. Dia menulis dengan alamiah, sederhana, tak neko-neko, dengan kandungan energi positif yang meluap-luap dan emosinya kena banget. Memang masih ada sejumlah salah eja; semoga bisa direvisi bila cetak ulang nanti.

NOVEL ini pantas direkomendasikan pada semua mahasiswa baru, kalangan perguruan tinggi, dan orangtua dengan ekonomi kelas bawah yang punya anak kuliah. Kesulitan dan kepanikan yang dihadapi Matari begitu terasa, termasuk perasaannya menanggung utang dan rasa malu, ketar-ketir menghadapi ujian kuliah dan hidup. Mungkin bagi mahasiswa dan orangtua dari golongan ekonomi kelas mapan, kesulitan itu sulit dibayangkan dan terlalu melankolis; tapi keberanian Matari mengambil risiko dan berhati-hati atas pilihan dan mencoba bersikap, masih mampu membuat orang terkesan oleh karakternya. Bagian yang memperlihatkan kesukaran hidup, misalnya saat Tari kesulitan dapat uang untuk bayaran dan penghidupan, menurut saya mengharukan dan emosinya kena sekali.

Sebagai kritik sosial, novel karya perempuan berusia 27 tahun yang juga aktif di dunia penyiaran dan public speaking ini memperlihatkan betapa pemerintah dan lembaga pendidikan tinggi kurang serius mengurus pentingnya pendidikan bagi kemajuan kualitas manusia. Banyak perguruan tinggi berdiri, tapi kondisi dan kualitasnya mengenaskan, fasilitas buruk, tapi biaya tetap mahal, sedangkan dosen-dosennya malas karena sibuk cari proyek, ternyata antara citra dan kenyataan perguruan tinggi tersebut berbeda jauh sekali. Atau yang paling parah: jurusan dipandang rendah karena dianggap sebagai lahan cari uang alih-alih laboratorium ilmu pengetahuan. Padahal ada banyak sekali kepentingan bermain di sana, dan persis kata penulisnya: bagi sebagian orang, menjadi mahasiswa merupakan pengalaman yang sangat mewah, tidak semua anak muda mengalaminya. Buku ini mengajarkan orang cara merencanakan pendidikan dengan baik.

Satu-satunya sedikit kelemahan, menurut saya ialah detail pembayaran utang yang kurang tergambar dengan baik. Penulis kurang menggarap cerita bagaimana perasaan orang yang memberi utangan kepada Tari ketika utangnya dilunasi atau dicicil, atau ditunda lebih lama lagi karena memang dia sendiri kehabisan uang. Detail bayar utang ini mestinya penting banget karena Tari memang dililit utang dan itulah sumber masalah terbesar dalam hidupnya.

Utang-piutang ini menimbulkan pertanyaan: masak selama pinjam ke banyak orang itu tidak ada yang terbayar atau bisa dicicil salah satunya. Saya mendapat kesan semua utang itu tak ada yang bisa terbayar. Ini merepotkan. Bagaimana perasaan Matari bila bertemu dengan kawan-kawan yang dia utangi? Malu, menghindar terus? Apalagi kalau ditagih? Saat kuliah, siapa sih di antara kita yang tidak punya utang? Hanya para mahasiswa yang berasal dari golongan keluarga sangat mampu, yang biasanya pasti jadi sumber utangan.

KULIAH merupakan masa-masa meneguhkan identitas. Sebagian orang sukses, sebagian orang lulus, lainnya menjadi demonstran atau berhenti di tengah jalan; sebagian orang lagi gagal, baik karena terpaksa ataupun sukarela karena ada pilihan lain. Di perguruan tinggi, mahasiswa juga menjalani sekolah kehidupan yang menakjubkan dan menggetarkan.

Pelajaran terbesar dari novel ini: pantang menyerah, sebab solusi tersedia bagi mereka yang berusaha. Novel ini mungkin bisa mencegah mahasiswa yang tengah dirundung masalah atau putus asa sampai mau memutuskan keluar akan mengurungkan niatnya. Sebuah Totto Chan versi dewasa, dengan guru Matari Anas sendiri.

Untuk kemampuan menggetarkan pembaca dan menyebarkan pikiran positif, saya berani kasih nilai 9 untuk 9 Matahari![] 04/12/08

Copyright © 2008 BUKU INCARAN oleh Anwar Holid

Informasi lebih banyak:
http://mataharikumataharimu.multiply.com
http://www.grasindo.com

Cari Adenita di Facebook!

Tag: Jangan biarkan selembar saham pikiran positifmu terjual kepada bandit pikiran negatif itu (hal. 182).

6.

MENULIS MENJADI KAYA

Posted by: "WORD SMART CENTER" wordsmartcenter@yahoo.com   wordsmartcenter

Wed Dec 3, 2008 2:01 pm (PST)



MENULIS
MENJADI KAYA

Oleh: Udo
Yamin Majdi*

Manfaat menulis, selain yang telah saya tulis sebelumnya —menjadi abadi,
menyelamatkan hidup, dan menyehatkan jiwa-raga— adalah menulis bisa menjadikan
kita sebagai orang kaya. Kaya bisa bermakna kaya secara batin, bisa juga kaya
secara lahir, alias memiliki harta atau uang yang banyak. Kaya dalam makna
kedua inilah yang akan kita diskusikan kali ini.

Tidak sedikit yang
menulis, awalnya, karena semata-mata untuk mendapatkan uang. Dan betapa banyak
penulis yang kaya raya, karena menulis. Kita tidak usah jauh-jauh menghitung
kekayaan JK. Rowling, Dan Brown, dan Stephen King yang buku mereka terjual
ratusan ribu dalam sehari. Cukup kita ambil contoh penulis dari Indonesia yang
best seller. Misalnya Kang Abik (Habiburrahman El-Shirazy) penulis Ayat-Ayat
Cinta (AAC) dan Andrea Hirata, penulis Tetralogi Laskar Pelangi.

Sewaktu Kang Abik ke
Mesir, beliau memberikan novel AAC untuk FLP Mesir. Saya lihat novel itu sudah
cetakan XXVIII. Kalau sekali naik cetak 5000 eksemplar, berarti sudah tercetak
140.000 eksemplar. Jika harga satu bukunya 40 ribu rupiah dan Kang Abik dapat
10% (ini kekecilan lho!) maka dari setiap buku Kang Abik dapat 4 ribu rupiah.
Nah, sekarang 140.000 eksemplar kali 4 ribu rupiah berarti royalti untuk Kang
Abik sebesar Rp 560.000.000 atau lima ratus enam puluh juta rupiah. Padahal
sewaktu film AAC mulai booming di Indonesia, beberapa koran melansir bahwa AAC
telah terjual sebanyak 300 ribu eksemplar. Nah, coba hitung sendiri!

Itu dari satu novel,
belum novel yang lainnya, misalnya Dwilogi Ketika Cinta Bertasbih (KCB),
Pudarnya Cinta Cleopatra, dan seterusnya. Terlebih lagi, jika kita hitung
royalti dari film AAC, konon untuk Kang Abik sebesar 1,5 milyar. Belum lagi,
saat ini sedang proses pembuatan film KCB. Jadi, seberapa besarkah kekayaan
Kang Abik dari menulis?

Sama halnya dengan
Andrea Hirata. Konon Laskar Pelangi telah terjual lebih dari satu juta
eksemplar —sepengetahuan saya, bulan Mei 2008, sudah cetakan ke-22— sedangkan
sedangkan jumlah penonton filmnya sebanyak 2,4 juta orang. Kalau terjual satu
juta eksemplar dengan harga 60.000 rupiah, berarti 60.000.000.000 rupiah.
Sebagai penulis, Andrea Hirata, minimal mendapatkan 10% dari harga buku yang
telah terjual, maka beliau memiliki uang sebesar 6.000.000.000 rupiah. Ini dari
novel, belum dari film. Nah, siapa bilang bahwa menjadi penulis tidak bakalan
kaya?

Ada dua hal yang
menarik yang saya perhatikan dari Kang Abik dan Andrea Hirata, pertama, beliau
berdua menulis bukan karena uang, melainkan berangkat dari sebuah keperihatinan
terhadap kondisi yang ada dan ingin mencerahkan manusia; kedua, meskipun beliau
berdua telah menjadi milyarder, namun mereka berdua tetap hidup sederhana;
zuhud, dan tidak membuat mereka lupa diri.

Dalam beberapa milis,
ada yang sempat mempertanyakan, seperti apakah Kang Abik sekarang? Dalam e-mail
mereka, ada kekhawatiran Kang Abik berubah setelah menjadi orang yang terkenal.
Selama satu bulan lebih beliau di Mesir, saya sempat bertemu dengan beliau,
baik di Wisma Nusantara —tempat beliau tinggal di Mesir, di tempat shooting,
atau di tempat pelatihan menulis buku —kebetulan saya menjadi moderatornya,
ternyata Kang Abik yang dulu saya kenal ketika bersama-sama mendirikan FLP
Mesir, tidak ada perubahan dari segi karakter dan penampilan beliau, paling
yang berubah adalah postur tubuh yang sedikit gemuk.

Beliau tetap santun,
murah senyum, rendah hati, akrab, dan siap berbagi kepada siapa saja. Dalam
berpakaian, masih seperti dulu, sangat sederhana. Bahkan, ketika shooting di
Wisma Duta, beliau memakai sepatu tanpa tutup bagian belakang yang terlihat
sudah lama. Awalnya, saya kira, beliau meminjam sepatu teman mahasiswa
Indonesia Mesir. Namun, sewaktu saya ikut melepas kepulangan beliau bersama kru
film KCB —tanggal 26 Oktober 2008, ternyata beliau memang memakai sepatu itu
dari Indonesia. Ini sebagai contoh, betapa sederhananya hidup beliau.

Atau, coba Anda
perhatikan, Andrea Hirata, penampilannya, bahkan lebih sederhana dari Kang
Abik. Dan sepengetahuan saya, sampai detik ini, beliau berdua, tidak membeli
mobil. Andrea Hirata, kemana-mana, naik mobil editornya. Sedangkan Kang Abik,
naik mobil panitia yang mengundangnya. Lantas, kemanakah uang mereka berdua?

Ternyata uang Kang
Abik, beliau pergunakan untuk membangun dan mengembangkan Pesantren Karya
BASMALA. Begitu juga halnya Andrea Hirata, duitnya bukan untuk diri sendiri,
tapi untuk proyek Laskar Pelangi in Action, yaitu membangun sekolah
gratis di Belitong.

Dua hal —menulis karena
idealis dan mempergunakan kekayaan untuk umat— tersebut, saya kemukakan, sebab
saya sering menemukan, para penulis pemula, sering lebih memikirkan best
seller dan nominal royalti Kang Abik dan Andrea Hirata dibandingkan
mempelajari karakter, persiapan untuk menjadi penulis, dan proses kreatif
mereka berdua. Sehingga, teman-teman kita itu, ingin cepat terkenal dan cepat kaya.
Lebih parahnya lagi, merasa lebih hebat dari Kang Abik dan Andrea Hirata,
sehingga naskah yang baru mereka tulis dan masih amburadul, mereka ajukan ke
penerbit dan memaksa penerbit untuk segera terbit. Justru malahan mendapatkan
kebalikannya. Jangankan best seller dan kaya, malahan naskahnya ditolak oleh
penerbit.

Saya sepakat dengan
pesan Kang Abik. "Luruskan niat; ikhlaslah semata-mata karena Allah",
pesan Kang Abik kepada peserta Pelatihan Menulis Buku SMART di Baruga KSS Nasr
City Cairo, "dan bekallah diri dengan taqwa. Insya Allah, nanti Allah akan
memberikan jalar keluar dan rizki yang tidak disangka-sangka!"

Nah, sudahkan niat kita
ikhlas dan membekali diri dengan taqwa?

==================================

* Penulis, Trainer, dan
Direktur Word Smart Center. Bagi yang ingin belajar menulis bersama Udo Yamin
Majdi, silahkan gabung di milis wordsmartcenter@yahoo.com

7.

Maklumat : dicari fasilitator School of Universe

Posted by: "septriana Murdiani" sou_publisher@yahoo.com   sou_publisher

Wed Dec 3, 2008 3:21 pm (PST)

Assalmualaikum wr wb,
Teman-teman yang baik, School of Universe ( sekolahalam) di Parung Bogor membutuhkan tenaga fasilitator ( TK - SMA )untuk mengisi post-post yang kosong. Syaratnya:
Berakidah lurus dan berakhlak baik/mulia
Pembaca Alquran yang rutin dan baik
Hafal Alquran setidaknya juz terakhir
Lulusan S1 sains/teknologi/senirupa/agama Islam (diutamakan fresh graduate)
Mencintai anak-anak
Kreatif
Mempunyai kemampuan memimpin atau berorganisasi
Mempunyai kemampuan komunikasi yang baik
Sangat peduli terhadap lingkungan
Mau berbisnis
Mampu berbahasa Inggris aktif
Bersedia mengikuti pelatihan dan magang
Bisa bekerja dalam team

Lamaran lengkap, boleh dikirim via emailku. Atau dikirim ke School of Universe, Jl Raya Parung Bogor KM 43 RT 3 RW 1. Pemagarsari. Parung. 16330. As soon as possible.

demikian...semoga berkenan
Can't wait to meet you there!
Wassalamaualikum wr wb

8a.

(ruang keluarga) kencan istimewa

Posted by: "Bu CaturCatriks" punya_retno@yahoo.com   punya_retno

Wed Dec 3, 2008 3:24 pm (PST)

Kencan Istimewa
Oleh Retnadi Nur'aini

Sore itu adalah suatu sore yang sangat istimewa.

Demi merayakan keistimewaannya, saya memilih untuk mengenakan gaun
terbaik saya, sepotong gaun vintage warna putih bercorak bunga-bunga
dengan detil kerut-kerut di bagian lengan dan dada. Tipis-tipis,
saya saput wajah saya dengan bedak warna beige. Usai berdandan,
untuk kesekian kalinya, saya berkaca. Lagi-lagi untuk kesekian
kalinya memastikan riasan wajah saya, juga licinnya gaun yang saya
kenakan. Saat segalanya sempurna, pantulan wajah saya di cermin
tampak tersenyum puas.

Di luar kamar, telah menunggu pasangan kencan saya. Seorang pasangan
kencan yang sangat istimewa. Demi merayakan keistimewaan sore ini,
ia juga mengenakan pakaian favoritnya. Selembar kemeja kotak-kotak
biru, dan celana bahan warna cokelat. Paduan warna yang tidak senada
sebenarnya. Namun, ah, peduli amat. Sore ini adalah kencan istimewa
saya bersamanya. Saya tak mau ambil pusing dengan hal sesepele warna
pakaian yang tak senada.

Demi merayakan keistimewaan sore ini, ia telah mencukur kumis dan
jenggotnya. Ia juga telah menggunting rapi kuku-kuku jari tangan dan
kakinya. Sandal kulitnya tampak mengkilap habis disemir. Dan samar-
samar, udara di antara kami meruapkan aroma parfum. Ah, ia bahkan
sampai menyemprotkan parfum untuk kencan ini, pikir saya haru.

Sapaannya seketika membuyarkan lamunan saya. "Anak Bapak cantik
amat," ujarnya sambil tersenyum.

Yang kemudian, saya jawab dengan "Iya dong, kan, mau pergi sama
Bapak!"

Dan satu senyuman lebar.
***

Sepanjang ingatan saya, pergi bersama Bapak tak pernah menyenangkan.
Kalau tak diisi dengan keheningan, sepanjang perjalanan pasti diisi
dengan setumpuk omelan. Mulai dari kami yang kelewat lambat bersiap-
siap, jalan yang macet, para pengemudi motor yang saling serobot,
terik matahari—apapun. Dan saat sedang kesal, Bapak tak akan segan
untuk membangunkan kami yang pulas terlelap di jok
belakang. "Bangun! Situ jangan pada tidur aja!," begitu ujarnya.

Namun sore itu, segalanya berbeda.

Sore istimewa pada sepuluh tahun yang lalu itu, berawal saat saya
melihat iklan pemutaran film Jepang gratis di Japan Foundation.
Tepatnya di Gedung Summitmas Jl Sudirman, yang berseberangan dengan
Ratu Plaza.

Sebagai penikmat film festival, tentu saja saya sangat berminat
untuk menontonnya. Hanya ada sedikit masalah. Film itu diputar pukul
20.00 dan selesai pukul 22.00. Padahal, sepuluh tahun lalu, saya
masih berstatus sebagai seorang pelajar SMP yang notabene punya jam
malam. Tak heran kala saya mengemukakan rencana untuk menonton film
ini sendirian, Ibu serta merta menolaknya.

"Anak perempuan, sendirian, nonton film malam-malam. Pokoknya nggak
boleh!," larang Ibu saya dengan nada yang tak bisa dibantah. Pun
saya mencoba menawar dengan mengajukan setumpuk argumen, dan janji
bahwa saya akan baik-baik saja, Ibu tetap bersikukuh dengan
pendapatnya. Merasa kesal, dengan kekanakannya saya pun merengut
sambil bergumam-gumam menggerutu.

Sampai tiba-tiba Bapak memecah keheningan dengan "Ya udah, Bapak
aja, deh, yang anter!"

Dan saya menatapnya tak percaya.
***

H-2, kencan istimewa itu nyaris saja gagal.

Saya yang punya setumpuk prasangka pada Bapak mencoba mengajukan
keberatan pada Ibu. "Kalo pergi sama Bapak, ntar Bapak marah-marah
mulu lagi," rajuk saya.

Tak pernah saya kira, bahwa kemudian Ibu menyampaikannya pada Bapak,
dan meminta Bapak untuk berjanji bahwa acara nonton berdua itu
haruslah jadi satu kencan istimewa yang menyenangkan hati saya.

Tak pernah saya kira juga, bahwa Bapak berusaha menepati janjinya
sekuat tenaga. Dengan pengetahuannya yang terbatas mengenai mode,
Bapak mencoba tampil rapi dengan kemeja dan parfum. Dengan pemahaman
terbatas sebagai orang yang sangat jarang nonton film (menurut
Bapak, menonton film di bioskop adalah pemborosan), Bapak membelikan
sekotak susu dan sebungkus biskuit untuk cemilan saat nonton.
Padahal kami berdua tahu persis, Bapak adalah orang yang sangat anti
jajan. Selain menurutnya jajan itu pemborosan, banyak jajanan juga
tak bergizi.

Saya ingat, malam itu Bapak juga tak banyak bicara. Tentu saja ini
bukan hal baru. Sebagai seorang yang pendiam, Bapak memang "pelit"
berkata-kata—bahkan kepada kami, anak-anaknya.

Bedanya, malam itu, sekalipun Bapak tidak marah-marah. Tidak
mengomel, tidak menasehati dengan intonasi tinggi, juga tidak
mengeluarkan komentar pedas satupun. Bahkan saat Bapak tak sengaja
menjatuhkan kunci motor kami ke selokan berjeruji di parkiran Gedung
Summitmas. Bapak tetap tidak mengomel, tetap tidak menasehati dengan
nada tinggi, juga tetap tidak mengeluarkan komentar pedas satupun
juga. Dengan tenang, Bapak minta tolong pada satpam Gedung Summitmas
untuk menyenteri dirinya dari atas selokan, sementara Bapak turun ke
selokan mencari kunci kami. Selang seperempat jam kemudian, kunci
berhasil ditemukan. Kemeja kotak-kotak biru favoritnya bernoda
lumpur dimana-mana, demikian juga celana coklatnya yang berwarna tak
senada. Tanpa berkomentar apa-apa, tangan Bapak yang mulai keriput
mengusap peluh yang bercucuran di dahinya. Tanpa berbahasa, kami
berduapun pulang berboncengan menembus warna-warni aneka lampu yang
menghiasi lengangnya Jalan Sudirman menjelang tengah malam.
***

Menuliskan kisah ini sepuluh tahun kemudian, saya baru tersadar
bahwa saya bahkan tak ingat judul film Jepang yang saya tonton. Saya
tak ingat sinopsisnya, sutaradaranya, pemainnya, atau bahkan apakah
film itu film berwarna atau film hitam putih.

Yang terekam jelas di kepala saya adalah momen saat saya
berboncengan pulang dengan Bapak. Detil saat kemeja kotak-kotak
birunya bernoda lumpur dimana-mana, demikian juga dengan celana
coklatnya yang berwarna tak senada. Aroma parfum yang tadi
disemprotkannya telah menguap entah kemana, digantikan aroma khas
keringat bercampur bau tembakau yang sangat familiar di hidung saya.

Dan yang paling saya ingat adalah, saat kedua tangan saya merangkul
pinggang Bapak yang telah melebar. Dengan bibir saya yang tak henti
menyunggingkan satu senyuman lebar, sambil bersyukur atas betapa
sempurnanya kencan istimewa pertama saya dengan ayah saya.
***

Sepuluh tahun kemudian, pikiran saya yang tak dewasa tetap masih
sering berprasangka. Demikian juga dengan sikap ngambek kekanakan
saya. Sementara itu, kami berdua juga masih terus belajar untuk
saling bicara, dengan daftar miskomunikasi dan trial and error
berlembar-lembar panjangnya.

Kabar baiknya adalah, daftar panjang itu tak sia-sia. Dalam
pelajaran berkomunikasi selama sepuluh tahun, kami mulai belajar
untuk saling menghargai pendapat. Sejak saya menikah, Bapak bahkan
belajar untuk memeluk dan mencium pipi saya lebih sering. Tak hanya
itu, Bapak juga belajar untuk menelpon ponsel saya lebih lama. Pun
pasangan kencan saya ini belum pernah sekalipun mengucap "I love
you", namun saya tahu bahwa kencan istimewa saya dengannya sepuluh
tahun lalu, adalah satu kencan istimewa yang sempurna.

Sungguh-sungguh sempurna.
***


8b.

Re: (ruang keluarga) kencan istimewa

Posted by: "listyarisanti" listyarisanti@yahoo.com   listyarisanti

Wed Dec 3, 2008 5:25 pm (PST)

Bapaknya romantis juga tho mba..
Hehehe..

8c.

Re: (ruang keluarga) kencan istimewa

Posted by: "patisayang" patisayang@yahoo.com   patisayang

Wed Dec 3, 2008 5:41 pm (PST)

Membaca tulisanmu selalu mengayakan jiwaku. Salam buat Bapak. Baju
kotak-kotaknya masih ada nggak? Sekarang kencannya sama Mas Catur aja
yah? Hehe... Biar Bapak honeymoon lagi sama mama.

salam,
Indar
yang kencan sama bapaknya di kebun belakang, bawa pacul, bau tanah.
^_^

--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, "Bu CaturCatriks"
<punya_retno@...> wrote:
>
> Kencan Istimewa
> Oleh Retnadi Nur'aini
>

8d.

Re: (ruang keluarga) kencan istimewa

Posted by: "novi_ningsih" novi_ningsih@yahoo.com   novi_ningsih

Wed Dec 3, 2008 6:24 pm (PST)

Retno, hiks hiks...
cerita yang indah dan seruuuu, hayah...

jadi ingat bapakku :(
betapa aku sering banget jalan bareng sama dia...
pokoknya, kalau mau pergi, aku ikutan boncengan motornya, sampe aku
pernah bertanya pada diri sendiri, kenapa sih, aku ikut mulu ke mana
bapak pergi, sampai merelakan tontonan menarik, tapi akhirnya sadar,
kalau hal itu sangat menyenangkan...sampe ada fotonya, aku masih kecil
duduk di atas motor, di depan bapak... wuih, kangen...

tfs, ya ceritanya
jadi menggali ingatan aku lagi tentang almarhum bapakku ;)

salam

Novi
*barusan sms, nih, kok ga dibales... udah ngantor ya ternyata :D

--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, "Bu CaturCatriks"
<punya_retno@...> wrote:
>
> Kencan Istimewa
> Oleh Retnadi Nur'aini
>
> Sore itu adalah suatu sore yang sangat istimewa.
>
> Demi merayakan keistimewaannya, saya memilih untuk mengenakan gaun
> terbaik saya, sepotong gaun vintage warna putih bercorak bunga-bunga
> dengan detil kerut-kerut di bagian lengan dan dada. Tipis-tipis,
> saya saput wajah saya dengan bedak warna beige. Usai berdandan,
> untuk kesekian kalinya, saya berkaca. Lagi-lagi untuk kesekian
> kalinya memastikan riasan wajah saya, juga licinnya gaun yang saya
> kenakan. Saat segalanya sempurna, pantulan wajah saya di cermin
> tampak tersenyum puas.
>
> Di luar kamar, telah menunggu pasangan kencan saya. Seorang pasangan
> kencan yang sangat istimewa. Demi merayakan keistimewaan sore ini,
> ia juga mengenakan pakaian favoritnya. Selembar kemeja kotak-kotak
> biru, dan celana bahan warna cokelat. Paduan warna yang tidak senada
> sebenarnya. Namun, ah, peduli amat. Sore ini adalah kencan istimewa
> saya bersamanya. Saya tak mau ambil pusing dengan hal sesepele warna
> pakaian yang tak senada.
>
> Demi merayakan keistimewaan sore ini, ia telah mencukur kumis dan
> jenggotnya. Ia juga telah menggunting rapi kuku-kuku jari tangan dan
> kakinya. Sandal kulitnya tampak mengkilap habis disemir. Dan samar-
> samar, udara di antara kami meruapkan aroma parfum. Ah, ia bahkan
> sampai menyemprotkan parfum untuk kencan ini, pikir saya haru.
>
> Sapaannya seketika membuyarkan lamunan saya. "Anak Bapak cantik
> amat," ujarnya sambil tersenyum.
>
> Yang kemudian, saya jawab dengan "Iya dong, kan, mau pergi sama
> Bapak!"
>
> Dan satu senyuman lebar.
> ***
>
> Sepanjang ingatan saya, pergi bersama Bapak tak pernah menyenangkan.
> Kalau tak diisi dengan keheningan, sepanjang perjalanan pasti diisi
> dengan setumpuk omelan. Mulai dari kami yang kelewat lambat bersiap-
> siap, jalan yang macet, para pengemudi motor yang saling serobot,
> terik matahari—apapun. Dan saat sedang kesal, Bapak tak akan segan
> untuk membangunkan kami yang pulas terlelap di jok
> belakang. "Bangun! Situ jangan pada tidur aja!," begitu ujarnya.
>
> Namun sore itu, segalanya berbeda.
>
> Sore istimewa pada sepuluh tahun yang lalu itu, berawal saat saya
> melihat iklan pemutaran film Jepang gratis di Japan Foundation.
> Tepatnya di Gedung Summitmas Jl Sudirman, yang berseberangan dengan
> Ratu Plaza.
>
> Sebagai penikmat film festival, tentu saja saya sangat berminat
> untuk menontonnya. Hanya ada sedikit masalah. Film itu diputar pukul
> 20.00 dan selesai pukul 22.00. Padahal, sepuluh tahun lalu, saya
> masih berstatus sebagai seorang pelajar SMP yang notabene punya jam
> malam. Tak heran kala saya mengemukakan rencana untuk menonton film
> ini sendirian, Ibu serta merta menolaknya.
>
> "Anak perempuan, sendirian, nonton film malam-malam. Pokoknya nggak
> boleh!," larang Ibu saya dengan nada yang tak bisa dibantah. Pun
> saya mencoba menawar dengan mengajukan setumpuk argumen, dan janji
> bahwa saya akan baik-baik saja, Ibu tetap bersikukuh dengan
> pendapatnya. Merasa kesal, dengan kekanakannya saya pun merengut
> sambil bergumam-gumam menggerutu.
>
> Sampai tiba-tiba Bapak memecah keheningan dengan "Ya udah, Bapak
> aja, deh, yang anter!"
>
> Dan saya menatapnya tak percaya.
> ***
>
> H-2, kencan istimewa itu nyaris saja gagal.
>
> Saya yang punya setumpuk prasangka pada Bapak mencoba mengajukan
> keberatan pada Ibu. "Kalo pergi sama Bapak, ntar Bapak marah-marah
> mulu lagi," rajuk saya.
>
> Tak pernah saya kira, bahwa kemudian Ibu menyampaikannya pada Bapak,
> dan meminta Bapak untuk berjanji bahwa acara nonton berdua itu
> haruslah jadi satu kencan istimewa yang menyenangkan hati saya.
>
> Tak pernah saya kira juga, bahwa Bapak berusaha menepati janjinya
> sekuat tenaga. Dengan pengetahuannya yang terbatas mengenai mode,
> Bapak mencoba tampil rapi dengan kemeja dan parfum. Dengan pemahaman
> terbatas sebagai orang yang sangat jarang nonton film (menurut
> Bapak, menonton film di bioskop adalah pemborosan), Bapak membelikan
> sekotak susu dan sebungkus biskuit untuk cemilan saat nonton.
> Padahal kami berdua tahu persis, Bapak adalah orang yang sangat anti
> jajan. Selain menurutnya jajan itu pemborosan, banyak jajanan juga
> tak bergizi.
>
> Saya ingat, malam itu Bapak juga tak banyak bicara. Tentu saja ini
> bukan hal baru. Sebagai seorang yang pendiam, Bapak memang "pelit"
> berkata-kata—bahkan kepada kami, anak-anaknya.
>
> Bedanya, malam itu, sekalipun Bapak tidak marah-marah. Tidak
> mengomel, tidak menasehati dengan intonasi tinggi, juga tidak
> mengeluarkan komentar pedas satupun. Bahkan saat Bapak tak sengaja
> menjatuhkan kunci motor kami ke selokan berjeruji di parkiran Gedung
> Summitmas. Bapak tetap tidak mengomel, tetap tidak menasehati dengan
> nada tinggi, juga tetap tidak mengeluarkan komentar pedas satupun
> juga. Dengan tenang, Bapak minta tolong pada satpam Gedung Summitmas
> untuk menyenteri dirinya dari atas selokan, sementara Bapak turun ke
> selokan mencari kunci kami. Selang seperempat jam kemudian, kunci
> berhasil ditemukan. Kemeja kotak-kotak biru favoritnya bernoda
> lumpur dimana-mana, demikian juga celana coklatnya yang berwarna tak
> senada. Tanpa berkomentar apa-apa, tangan Bapak yang mulai keriput
> mengusap peluh yang bercucuran di dahinya. Tanpa berbahasa, kami
> berduapun pulang berboncengan menembus warna-warni aneka lampu yang
> menghiasi lengangnya Jalan Sudirman menjelang tengah malam.
> ***
>
> Menuliskan kisah ini sepuluh tahun kemudian, saya baru tersadar
> bahwa saya bahkan tak ingat judul film Jepang yang saya tonton. Saya
> tak ingat sinopsisnya, sutaradaranya, pemainnya, atau bahkan apakah
> film itu film berwarna atau film hitam putih.
>
> Yang terekam jelas di kepala saya adalah momen saat saya
> berboncengan pulang dengan Bapak. Detil saat kemeja kotak-kotak
> birunya bernoda lumpur dimana-mana, demikian juga dengan celana
> coklatnya yang berwarna tak senada. Aroma parfum yang tadi
> disemprotkannya telah menguap entah kemana, digantikan aroma khas
> keringat bercampur bau tembakau yang sangat familiar di hidung saya.
>
> Dan yang paling saya ingat adalah, saat kedua tangan saya merangkul
> pinggang Bapak yang telah melebar. Dengan bibir saya yang tak henti
> menyunggingkan satu senyuman lebar, sambil bersyukur atas betapa
> sempurnanya kencan istimewa pertama saya dengan ayah saya.
> ***
>
> Sepuluh tahun kemudian, pikiran saya yang tak dewasa tetap masih
> sering berprasangka. Demikian juga dengan sikap ngambek kekanakan
> saya. Sementara itu, kami berdua juga masih terus belajar untuk
> saling bicara, dengan daftar miskomunikasi dan trial and error
> berlembar-lembar panjangnya.
>
> Kabar baiknya adalah, daftar panjang itu tak sia-sia. Dalam
> pelajaran berkomunikasi selama sepuluh tahun, kami mulai belajar
> untuk saling menghargai pendapat. Sejak saya menikah, Bapak bahkan
> belajar untuk memeluk dan mencium pipi saya lebih sering. Tak hanya
> itu, Bapak juga belajar untuk menelpon ponsel saya lebih lama. Pun
> pasangan kencan saya ini belum pernah sekalipun mengucap "I love
> you", namun saya tahu bahwa kencan istimewa saya dengannya sepuluh
> tahun lalu, adalah satu kencan istimewa yang sempurna.
>
> Sungguh-sungguh sempurna.
> ***
>

9.

(Sharing)Lucu Tapi Nyata :: Cinta Ku SEKUAT Pegangan Ku

Posted by: "Wida Yunita" wida.yunita@yahoo.com

Wed Dec 3, 2008 5:19 pm (PST)

Rabu, 2008 Desember 03

CINTAKU…SEKUAT PEGANGAN KU
by Made Teddy Artiana "THE CAMPUHAN"
photographer & writer

Ini adalah cerita ke-2 alias lanjutan cerita "Prewedding Nunjuk !!!". Bagi mereka yang belum baca dan pengen baca silakan baca di http://weddingmustoryku.blogspot.com/2008/12/prewedding-nunjuk.html.

Si Bang Binsar –sekali lagi bukan nama sebenarnya – semakin bersemangat.. Air laut yang membasahi baju di badannya yang berotot, mata yang berkilat-kilat bak Sisingamangaraja, deburan ombak, karang semuanya terasa bergabung menjadi obat "pemacu adrenalin" yang –kata orang Medan- Mantap Kaliii !!!

Terus terang kami geli setengah mati melihat tingkah dan ekspresi si Abang. Peran pengatur gaya diambil alih olehnya. Ide-ide gaya pun bermunculan bak jamur dimusin hujan. Gaya gendonglah..gaya kissing lah..gaya berpelukan.. ck..ck.ck. Mengenai penghayatan ? Jangan ditanya. Acting nari Kajool dan acting nangis Sahrukh Kan…putuuussss !! Emang India aja yang bisa..Batak juga jago…
Tetapi ada gaya yang tidak bisa aku kabulkan….B e r e n a n g….yang ini No Way !! To Dangerous…

"Bli", teriak Si Binsar untuk kesekian kali,"bagaimana kalau dikarang itu kita duduk berdua berdampingan". Dia menunjuk kearah karang disebelah kiri mereka. Posisinya jauh lebih rendah dari yang kurekomendasikan. Aku terdiam sejenak. Aman nggak yah..bathinku dalam hati. "Ahhhh tenang saja..." teriak Binsar seolah mengetahui kekawatiranku,"Aman itu..lagian khan kita berdua bisa berenang..Tak usah takut lah kau..". Aku hanya tersenyum. Bukan masalah berenang nih gumanku…aku juga perenang bahkan nyaris jadi Beach Boy di Kuta sana..he..he..he..
"Tapi Bang.."
"Alaaaaah sudahlah..sekali saja..ya tenang saja ombak juga nggak terlalu besar ini", teriaknya kembali.
Akhirnya aku terpaksa setuju.
Mereka duduk berdampingan diatas sebuah batu karang.
"Tunggu ombak yaaa…kalau bisa yang agak besar", teriak si Binsar kepadaku, sambil badan dan wajahnya tetap pada posisi ready to shoot.
Beberapa ombak kecil berdatangan silih berganti. Tiba-tiba sebuah ombak yang cukup besar terlihat bergulung dari kejauhan. Meskipun agak kuatir terhadap mereka. Aku harus bersiap.
"Bang ini agak besar…!!! Hati-hati yaaa..!!!" teriakku sekuat tenaga.
Ombak yang cukup besar itu tiba-tiba jadi.."agak kebesaran"..dan akhirnya menghantam mereka berdua.…..BYUUUUUUUUURRRRR !!!
Sejenak keduanya seolah tertelah deburan ombak…
Aku dan crew yang berdiri agak jauh berlari ketepian..sambil melindungi kamera dan alat-alat kami. Ombak itu berlalu…dan ya ampuuuuuuuuun…
Dibatu karang itu tinggal Bang Binzar 'bertengger' seorang diri…dia tampak agak shock…Tapi sepertinya ada yang aneh…..lho tadikhan ada dua orang disitu…kemana ceweknya ??? Wah gawat….!!!
Aku dan crew dengan panik segera berlari menuju arah mereka. Ternyata hempasan ombak itu membuat Si Cewek pasangan Bang Binzar –sebut saja Mona- itu terjerembab..jatuh. Rupanya persis didepan karang ada cekungan setinggi kurang lebih satu meteran. Nah..Mona..nyungsep kesitu. Tanpa ba..bi..bu..kami segera menolong Mona..sementara Bang Binzar yang terlihat putih karena pucat itu, masih terbengong-bengong ditempatnya. Rupanya nyawanya belum ngumpul bener.

Susah payah kami mengangkat Mona yang basah kuyub ke atas batu karang..
"Nggak apa-apa khan Mon.." kataku sambil mengamatinya cemas. Basah kuyub, rambut lepek, wajah memerah…

Tetapi Mona tidak menggubris pertanyaanku. Dia segera mendekati Bang Binzar...dan meninju berkali-kali dada, lengan dan menarik-narik baju si Abang..sambil setengah menangis…dan mata melotot Mona ngomel sejadi-jadinya..

"AKU NGGAK DIPEGANGIN SIH !!! UDAH TAU OMBAKNYA GEDE…DASAR EGOIS !! MAUNYA SELAMAT SENDIRI !!! KATANYA CINTA…GOMBAL !!! BARU OMBAK AJA AKU UDAH DIBIARIN…KESEEEEEEEEEELL !!! MALAH PEGANGAN SENDIRI…. ABANG JAHAAT !!!!! NTAR AKU BILANG DEH SAMA MAMA PAPAKU…!!!"

Kami semua pecah oleh tawa..menyaksikan ekresi kecut Bang Binzar yang cuma bisa cengar-cengir..sambil..berkata "Maaf ya Dik..Maaf..Abang itu……anu…jadi gini Dik..."

**

10.

(Catatan Kecil) Otak, Hati, dan Imajinasi

Posted by: "INDARWATI HARSONO" patisayang@yahoo.com   patisayang

Wed Dec 3, 2008 5:28 pm (PST)

Otak, Hati, dan Imajinasi

Ah, secangkir kopi susu mungkin bisa membantuku, batin perempuan itu. Beranjak meninggalkan laptopnya menganga, dia menghampiri lemari. Namun sachet yang dikiranya masih ada ternyata raib entah ke mana. Mungkin telah tertuang isinya di cangkirnya suatu senja, terhempas bungkusnya begitu saja, lalu terlupa.

Diraihnya tempat beling di sudut lemari makan, hatinya lega. Kopi tubruknya masih ada. Sesendok kecil saja. Dia tak ingin tetap terjaga hingga terang tanah meraja. Sesendok kecil gula juga. Dia tak mau tubuh tambunnya semakin melar kemana-mana.

Harum kopi menguar, saat dia berjalan sembari mengaduk cairan hitam di tangan. Disesapnya penuh cinta, penuh suka. Didamba kafeinnya menyengat sel-sel kelabu otak bebalnya yang beberapa minggu malas berlagu.

Tak sengaja, aku menemukan tulisan tiga paragraf itu di folder blogku. Sungguh aku terpaku, tak menyangka bahwa aku ternyata (menurutku) pernah lihai bermain kata-kata. Masa itu, aku masih tinggal di rumah kontrakan di sudut Pondok Kelapa. Jejalan atap adalah pemandangan biasa dari lantai 3 yang tak mungkin kulupa. Tidur selepas jam 2 dini hari masa itu adalah rutinitas wajib yang kunikmati. Dengan seorang sahabat sesama nokturnal aku sering berbagi cerita lewat SMS, melentingkan ide-ide yang tertahan batok kepala.

Keresahanku waktu itu berbuah banyak judul di folder imajinasi. Beberapa diantaranya berhasil lolos menjadi buku, dan menambah angka di rekening bankku. Gundahku kala itu membuatku berlari dalam lautan imajinasi, tak peduli esok hari musti menyiapkan anak ke sekolah pagi-pagi. 

Sekarang, hari ini, sahabat sama kembali mengirimkan SMSnya. Mengingatkan bahwa ada janji yang harus ditepati. Janji sebagai ganti harga 2 buku yang kami dapat cuma-cuma, yang pada hakekatnya janji pada diri sendiri akan dan tetap menulis lagi. Setengah mati kuperas otak, hanya ampas ketidakmampuan yang tersisa. Santan kepercayaan diri dan jalan keluar merembes entah kemana, tercecer di hari-hari kemarin tanpa sengaja.

Dua cerpenmu yang ada di buku itu bisa dikembangkan jadi 1 novel yang keren, katanya.

Olala! Dia, dengan caranya sendiri mengingatku pada 'kepribadianku'. Bukan tentang cerpen yang menang lomba itu. Tapi lebih kepada seleraku, gaya ceritaku, 'lahanku'. Kuakui, selama ini aku mencoba mencari format baru, sudut pandang baru, cerita baru, yang pada akhirnya.. kepribadian baru. 
Yup, thank you so much, Bro . Aku akan kembali menjadi diri sendiri.

Tanah Baru, Rabu, 03/12/08 21.33

11a.

Re: [Catcil] gelap... gelap... gelaaaaaaap

Posted by: "listyarisanti" listyarisanti@yahoo.com   listyarisanti

Wed Dec 3, 2008 5:36 pm (PST)

Hueheheee..
makanya, ayo hemat listrikk..

*mba'e, itu.. belek-nya di-lap dulu :P

12a.

Re: (Ruang Keluarga) Out of The Box; Masih Tentang Peran

Posted by: "patisayang" patisayang@yahoo.com   patisayang

Wed Dec 3, 2008 5:54 pm (PST)

Yee, si Dani buka kartunya. :) Tenang aja Bro, dirimu tak sendiri.
Hampir semua suami di dunia melakukan itu. Aku tahu beberapa
diantaranya ada yang lebih parah, sama sekali tak mau membantu.
Bahkan, malam-malam istrinya disuruh mencuci motornya. Padahal si
istri seharian sudah melakukan semuanya. Suami model gini, tak pernah
baca sirah nabi kali... Kalau yang dirimu lakukan sih udah lebih dari
lumayan. Mestinya aku nulis lebih disamarkan pelakunya ya? Hehe...

Btw, aku paling suka tulisan yang ini lho, Dik.
"> Semoga para istri memahami kami. "
Ya, kami para istri, meski ngomel setengah mati, pada akhirnya akan
menyerah, tapi bukan untuk kalah. Kami memahami kalian para suami.
Karena otak dan hati membedakan orientasi. :)

salam,
Indar

--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, "fil_ardy" <fil_ardy@...>
wrote:
>

>
>
> --- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, INDARWATI HARSONO
> <patisayang@> wrote:
> >
> > Out of The Box (Masih Tentang Peran)
> >
>

12b.

Re: (Ruang Keluarga) Out of The Box; Masih Tentang Peran

Posted by: "Syafaatus Syarifah" syarifah@gratika.co.id   sya4215

Wed Dec 3, 2008 6:45 pm (PST)

yup.. saling memahami adalah solusi terbaiknya.

membaca tulisan2 ini dan tulisan mbak Indar aku jadi berkaca sendiri,
aku pun merasa menjadi seorang istri yang masih jauuh dari sempurna untuk suamiku.
seringkali aku suka "bawel" kalo melihat suamiku tidur2an sepanjang hari di hari sabtu/minggu,
aku lupa bahwa selama 5 hari sebelumnya, otak n tenaganya telah terkuras habis . bahkan seringkali pulang larut malam or menjelang pagi dengan badan yang sudah "remuk redam" (lebay ya,,hehehe)

kadang aku melihat ke "tetangga sebelah" yang suaminya masih bisa mencari tambahan dengan berbisnis di luar kerjaannya,
dan melihat suamiku yang spt itu rasanya tak mungkin kalo dia bisa berbisnis pula.
Boro2 untuk mikirin bisnis tambahan ... :d , yg ada ntar malah badannya bobrok..hehehe
ah rumput tetangga memang kadnag terlihat lebih hijau...:D

masih beruntung ada khadimat yang membantu kerjaan RT kami, dan itupun setiap paginya aku masih suka
"gedubrak-gedubruk" saat harus mandiin 2 org anak, nyuapin dan siap2 berangakt kerja sendiri.
Untung suamiku tipe orang yg gak telalu minta diladeni, dia urus sendiri keperluannya
(kadang aku sering merasa bersalah di sini nih...)

duh ternyata aku pun masih perlu belajar banyak ttg pelajaran kerumah tanggaan ini

tks for the leason ya...

----- Original Message -----
From: fil_ardy
To: sekolah-kehidupan@yahoogroups.com
Sent: Wednesday, December 03, 2008 1:51 PM
Subject: [sekolah-kehidupan] Re: (Ruang Keluarga) Out of The Box; Masih Tentang Peran

Sepakat dengan Mbak Indar (nah loh main sepakat aja :D)
membaca postingan pertama tentang berbagi peran suami
karena pasangan yg di maksud dalam tulisan itu adalah
saya dan endah, sebetulnya saya sempat tersinggung waktu itu,
bukan tersinggung pada si penulis ataupun isi tulisannya
tapi saya tersinggung oleh diri sendiri yang tanpa saya sadari

.
12c.

Re: (Ruang Keluarga) Out of The Box; Masih Tentang Peran

Posted by: "fil_ardy" fil_ardy@yahoo.com   fil_ardy

Wed Dec 3, 2008 7:05 pm (PST)

Heuheuheu, ga papa, mbake. Berbagi pelajaran hingga ada orang lain
yang memetik hikmahnya kan sebuah amal kebaiakan. Mudah2an aja kita
dapat amalnya. Ameeen.

Heuheuheu, untung aja saya ga punya motor *loh kok untung?* Tapi
kalopun punya motor, mending di steam deh, takut ga bersih. Hihihi

Mbak Sya2 aja yg punya khadimat masih keteteran ya, apalagi aku:D
mudah2an, kami ke depan bisa lebih dinamis lagi. Mohon petunjuk senior
RT. Hehehe

DANI

In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, "patisayang" <patisayang@...> wrote:
>
> Yee, si Dani buka kartunya. :) Tenang aja Bro, dirimu tak sendiri.
> Hampir semua suami di dunia melakukan itu. Aku tahu beberapa
> diantaranya ada yang lebih parah, sama sekali tak mau membantu.
> Bahkan, malam-malam istrinya disuruh mencuci motornya. Padahal si
> istri seharian sudah melakukan semuanya. Suami model gini, tak pernah
> baca sirah nabi kali... Kalau yang dirimu lakukan sih udah lebih dari
> lumayan. Mestinya aku nulis lebih disamarkan pelakunya ya? Hehe...
>
> Btw, aku paling suka tulisan yang ini lho, Dik.
> "> Semoga para istri memahami kami. "
> Ya, kami para istri, meski ngomel setengah mati, pada akhirnya akan
> menyerah, tapi bukan untuk kalah. Kami memahami kalian para suami.
> Karena otak dan hati membedakan orientasi. :)
>
> salam,
> Indar
>
> --- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, "fil_ardy" <fil_ardy@>
> wrote:
> >
>
>
> >
> >
> > --- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, INDARWATI HARSONO
> > <patisayang@> wrote:
> > >
> > > Out of The Box (Masih Tentang Peran)
> > >
> >
>

13.

[CATCIL] Sejenak Rehat, Sekedar Menyimak (*mohon izin)

Posted by: "Nia Robie'" musimbunga@gmail.com

Wed Dec 3, 2008 6:39 pm (PST)

Sejenak Rehat, Sekedar Menyimak

Layaknya sebuah perusahaan yang menerapkan Sistem Manajemen Lingkungan
(SML), aku pun perlu melakukan pengauditan diri. Klausul-klausul yang
terdapat dalam diri layaknya kalusul-klausul SML, sebenarnya menjadi pe-er
besar yang harus aku kerjakan dan terus aku perbaiki.

Beberapa sahabat, baik itu di blog maupun via ym menanyakan keberadaanku
lewat sms bahkan sampai nelpon (**walhasil bikin aku ge-er.. kikikikik*).
Tulisan-tulisan ku yang ada di blog atau di milis, menjadi tulisan yang
terlihat basi. Atau lebih tepatnya *expired*.

Beberapa minggu aku tidak begitu sering bergentayangan di dunia maya, bahkan
memoderasi milis. Hal tersebut dikarenakan beberapa minggu yang lalu aku
disibukkan oleh pekerjaan yang menuntut konsentrasi lebih. Tapi beberapa
hari setelahnya, ada faktor kesengajaan yang membuatku sejenak rehat,
sekedar menyimak.

Belum terlalu lama aku dihadapkan pada pelajaran tentang BAHAYA LISAN dan
TULISAN. Ketika yang tertulis dan terucap tidak lagi sesuai kenyataan,
membuatku kembali banyak berfikir tentang bagaimana merehat sejenak apa yang
telah aku lakukan dan telah terjadi dalam hidupku. Manajemen diri harus
segera dirumuskan, walaupun aku tahu manusia hanya sekedar berencana tapi
Tuhanlah yang menentukan.

Hubungan dengan Tuhan dan juga manusia, kondisi kesehatan, keuangan, tentang
mimpi, belajar memaknai apa pun dalam hidup ini menjadi point utama yang
harus segera difikirkan. 23 tahun sudah berlalu, dan apa yang aku lakukan
dahulu, sekarang dan nanti menjadi pembelajaran tersendiri. Bahkan kadang
aku masih suka gelagapan ketika seseorang menanyakan apa visi hidupku atau
bahkan saat ditanya obsesi dalam hidup oleh pimpinan perusahaan yang
mewancaraiku.

Biarkan aku sejenak rehat, sekedar menyimak. Berharap menjadi seorang Nia
yang penuh rasa dan warna yang beda. Biarkan aku sejenak berada dalam
kepompong, dan ketika keluar menjadi kupu-kupu berwarna, yang harmoninya
begitu indah layaknya pelangi yang menghiasi senja...

* *

*bukankah hidup ada perhentian
tak harus kencang terus berlari
ku helakan nafas panjang
tuk siap berlari kembali…
berlari kembali..
melangkahkan kaki
menuju cahaya (Padi-Sang Pengibur)*

Nb: Owner, ketua dan rekan kabinet, bapak dan ibu guru di sekolah
kehidupan.. aku mohon izin kemungkinan akan jarang muncul di sk (bahkan
memoderasi). Do'akan ini tidak terlalu lama, dan memberi banyak energi baru
melanjutkan mimpi:) mohon maaf...
14.

[Catcil] SEGALANYA TELAH BERUBAH

Posted by: "caliyan" yayan_unj@yahoo.com   c_al_iyan

Wed Dec 3, 2008 6:49 pm (PST)

Satu buah SMS masuk kedalam HP milikku. Kukira SMS seperti biasanya.
Tadinya kuduga isi sms tersebut kalau tidak tentang pekerjaan atau
dari keluarga. Tetapi sms nya sangat berbeda. Dari seorang kawan di
kampus dulu. Isinya, "Syekh, bgmna kabarnya? Sudah jadi direktur nich.
Sibuk banget kayaknya". Aku pun membalas sms tersebut, "Ndak jugga,
Ustd. Masih terus berkembang dan mempaerbaiki diri. Ente dimana
sekarang?". Dibalas lagi olehnya, "Di kost. Main atuh hari ini, Ana
tunggu ya". "Oke, jam 4 sore ya", balasku.

Setelah mengunjungi beberapa perusahaan tugas dari kantor, sepeda
motor ku goes??!@eh salah kalau motor ku gas dong, he he he. Menuju
daerah timur jakarta dekat sebuah kampus pendidikan. Masih ingat betul
letak kostnya. Karena memang waktu kuliah beberapa kali berkunjung
kesana. Motor kuparkir, mesinnya segera berhenti seiring kunci kuputar
ke arah off. Pintu masih terkunci, ku genggam HP, mendial nomornya.
Tak lama kemudian pintu terbuka. Sambutan khas dari sahabatku, "Apa
kabar syekh?" sambutnya. Tak tahu kenapa ia selalu memanggilku "syekh"
setahuku dulu ketika kuliah kami berdiskusi tentang imam murottal
kesukaan kita. Spontan aku menjawab kesukaanku ya Syekh Al Mathrud,
dengan bacaannya yang garing sering membuai menuju kesadaran ilahiah.
Ya setahuku sejak itu ketika betemu selalu memanggil dengan panggilan
syekh. Dan tak mau kalah kupanggil juga sahabatku dengan panggilan Ustad.

Kost yang tak besar. Di ruang depan beberapa komputer bersandar di
atas meja. Kost ini juga berfunsi sebagai rental komputer. Yang
mendiami kost 5 mahasiawa jurusan bahasa inggris. Tapi ada yang
berbeda disana. Hari itu benar-benar sepi. Hanya ada si Ustd. Di kost.
Aku penasaran dan bertanya padanya, kemana yang lainnya. Biasanya kost
ini selalu ramai dengan canda tawa yang lainnya.

Di luar mulai gelap. Adzan maghrib menyambut. Bersahut lembut masuk ke
telinga dan meresap ke hati. "Kita ke masjid saja ya, sholat maghrib
nanti kita teruskan setelah maghrib", sahabatku mengajak menuju masjid
yang tak kauh dari kostnya.

"Syekh, Hakam, Taufiq, Eko, Widi dan ane, satu-satu sudah mengembara".
Katanya.

Hakam dan Taufiq sudah ke London mendapat scholarship. Setelah lulus
S1nya. Widi sudah kerja. Dan Eko memilih mencari tempat kost lainnya.
Sekarang tinggal ane dan Widi. Kost pun Desember habis. Trus ente
Ustd, mau kemana? Tanyaku.

"Ana mau ke Amerika, Syek awal Januari nanti", Katanya. "Benar nih
Ustd?"tanyaku penasaran. "Iya ane dapet scholarship juga disana"

Katanya, sahabat selintingan tinggal antum aja Syekh sekarang.
Percakapan masih terus berlanjut. Kami sepakat weekend ini silaturahim
ke rumahnya di pandeglang.

Dalam hatiku mengatakan segalanya memang telah berubah. Allah
memberikan semua mahluk hidup pada hak dan kewajibanyya. Meraih apa
yang manusia usahakan. Allah SWT tidak akan merubah nasib suatu kaum,
kecuali kamu itu sendiri yang merubahnya. Dan semuanya telah berjuang
pada kapasitasnya masing-masing. Sukses selalu sahabat.

http://ya2nya2n.multiply.com

15.

[Rampai] Di Tepi Jendela Kota

Posted by: "Epri Saqib" epri_tsi@yahoo.com   epri_tsi

Wed Dec 3, 2008 6:53 pm (PST)



Di Tepi Jendela Kota

:Anya, Ney, Nurman, Festi, Yoshi,   Herlanboer, Mikael, Dyas, Isky

Sore ini
adalah kota
katakata yang berhamburan
memenuhi mimpi dan lelah

Tunggu
aku punya kembang
api
Sulutlah ia
dengan senandung mama

          Hey,
          lupakan sejenak kabar
          koran yang riuh
itu

sore sedang menjelma gerimis
yang bertandang dan menari
di tepi jendela yang menjelmakan
langgam sunyi
gemericik ribuan mimpimimpi

Lihatlah!
  Tetestetes itu jadi
percik Kembang api
                      di matamu

Epri Tsaqib, 2008

http://epriabdurrahman.multiply.com/journal/item/196

*Pic taken from Soli Deo Gloria blog
di pesta kembang api kota Vancouver

__________________________________________________________
Yahoo! sekarang memiliki alamat Email baru.
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail.
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/
16.

Fwd:  [CATCIL] Sejenak Rehat, Sekedar Menyimak (*mohon izin)

Posted by: "divin_nahb_dn" divin_nahb_dn@yahoo.com   divin_nahb_dn

Wed Dec 3, 2008 6:56 pm (PST)

Boleh kok Sis
Agar apa yang kamu harapkan dapat terwujud
Belajar memahami hidup dengan menganalogikan diri kita keluar dari
circle kehidupan.
Malah itu seperti kita melihat gambaran hidup, yang silih berganti
orang masukdan keluar
Kita seperti menatap sekeliling kita tanpa mereka tau kita berada di
hadapan mereka

Dan itu menurutku baik
Untuk mengintropeksikan diri dan memahami hidup ini lebih dalam
Hingga ketika kita memutuskan merobek hologram yang menyatu dengan
tubuh kita, Insya Allah memberikan sebuah makna lain

Apa mau kita?
Bagaimana kita bersikap?
Tentu dalam rangka menggapai kepositifan
Yang Insya Allah aku doakan akan menjadi lebih baik dari kemarin

Lho, emang ke 23??
Ya iyalah Divin!!
Ow.... Nia!! Artinya aku udah semakin tuwir dong?!
Woah!!!!!!!!

Salam hangat, cinta, persahabatan

Divin Nahb
Yang menanti kepompong menjadi kupu-kupu cantik
Adalah dirimu!!

---- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, "Nia Robie'"
<musimbunga@...> wrote:

Sejenak Rehat, Sekedar Menyimak

Layaknya sebuah perusahaan yang menerapkan Sistem Manajemen Lingkungan
(SML), aku pun perlu melakukan pengauditan diri. Klausul-klausul yang
terdapat dalam diri layaknya kalusul-klausul SML, sebenarnya menjadi pe-er
besar yang harus aku kerjakan dan terus aku perbaiki.

Beberapa sahabat, baik itu di blog maupun via ym menanyakan keberadaanku
lewat sms bahkan sampai nelpon (**walhasil bikin aku ge-er.. kikikikik*).
Tulisan-tulisan ku yang ada di blog atau di milis, menjadi tulisan yang
terlihat basi. Atau lebih tepatnya *expired*.

Beberapa minggu aku tidak begitu sering bergentayangan di dunia maya,
bahkan
memoderasi milis. Hal tersebut dikarenakan beberapa minggu yang lalu aku
disibukkan oleh pekerjaan yang menuntut konsentrasi lebih. Tapi beberapa
hari setelahnya, ada faktor kesengajaan yang membuatku sejenak rehat,
sekedar menyimak.

Belum terlalu lama aku dihadapkan pada pelajaran tentang BAHAYA LISAN dan
TULISAN. Ketika yang tertulis dan terucap tidak lagi sesuai kenyataan,
membuatku kembali banyak berfikir tentang bagaimana merehat sejenak
apa yang
telah aku lakukan dan telah terjadi dalam hidupku. Manajemen diri harus
segera dirumuskan, walaupun aku tahu manusia hanya sekedar berencana tapi
Tuhanlah yang menentukan.

Hubungan dengan Tuhan dan juga manusia, kondisi kesehatan, keuangan,
tentang
mimpi, belajar memaknai apa pun dalam hidup ini menjadi point utama yang
harus segera difikirkan. 23 tahun sudah berlalu, dan apa yang aku lakukan
dahulu, sekarang dan nanti menjadi pembelajaran tersendiri. Bahkan kadang
aku masih suka gelagapan ketika seseorang menanyakan apa visi hidupku atau
bahkan saat ditanya obsesi dalam hidup oleh pimpinan perusahaan yang
mewancaraiku.

Biarkan aku sejenak rehat, sekedar menyimak. Berharap menjadi seorang Nia
yang penuh rasa dan warna yang beda. Biarkan aku sejenak berada dalam
kepompong, dan ketika keluar menjadi kupu-kupu berwarna, yang harmoninya
begitu indah layaknya pelangi yang menghiasi senja...

* *

*bukankah hidup ada perhentian
tak harus kencang terus berlari
ku helakan nafas panjang
tuk siap berlari kembali…
berlari kembali..
melangkahkan kaki
menuju cahaya (Padi-Sang Pengibur)*

Nb: Owner, ketua dan rekan kabinet, bapak dan ibu guru di sekolah
kehidupan.. aku mohon izin kemungkinan akan jarang muncul di sk (bahkan
memoderasi). Do'akan ini tidak terlalu lama, dan memberi banyak energi
baru
melanjutkan mimpi:) mohon maaf...

--- End forwarded message ---

17.

(RAMPAI) DUNIA SEPI

Posted by: "divin_nahb_dn" divin_nahb_dn@yahoo.com   divin_nahb_dn

Wed Dec 3, 2008 7:13 pm (PST)

DUNIA SEPI

~ Divin Nahb~

Ruang petak dengan desau
tanpa kata menjelma sunyi
Mengetup tanpa bunyi dengan urat
tertahan karna abjadnya pecah
dalam kerongkongan tamparan angin

Sementara,
Pasiku menahan galau derita kehidupan
yang tersembunyi...

Di mana aku?

Mungkin ada tilasku
tapi semua terhirup bisikan sepi
yang melayangkan aku dalam
dimensi bisu.

Mataku tak lagi memandang karna
kulepas untuk kusemayamkan
Telinga terasah,
mendengar jerit manusia tersiksa

Aku sayati udara hampa dengan
lolongan mencekam
Manula, wanita, balita, orang menderita

Aku menangkap,
meski buta dan tanpa kata
karna ini dunia sepi

Tangerang, 04 Desember 2008

Recent Activity
Visit Your Group
Y! Messenger

Instant hello

Chat over IM with

group members.

Yahoo! Groups

Going Green Zone

Learn to go green.

Save energy. Save the planet.

Yahoo! Groups

w/ John McEnroe

Join the All-Bran

Day 10 Club.

Need to Reply?

Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.

Create New Topic | Visit Your Group on the Web

Tidak ada komentar: