Messages In This Digest (20 Messages)
- 1a.
- Bls: [sekolah-kehidupan] [Kelana] Forever Young; Qurcil Was here From: bujang kumbang
- 2a.
- Re: [Catcil] Orang Aneh From: novi_ningsih
- 3a.
- Re: [Kelana] Forever Young; Qurcil Was here From: listyarisanti
- 3b.
- Re: [Kelana] Forever Young; Qurcil Was here From: inga_fety
- 4a.
- [kelana] QurCiL eSKa di MaTa SinTa From: ukhti hazimah
- 4b.
- Re: [kelana] QurCiL eSKa di MaTa SinTa From: novi_ningsih
- 4c.
- Re: [kelana] QurCiL eSKa di MaTa SinTa From: Lia Octavia
- 4d.
- Re: [kelana] QurCiL eSKa di MaTa SinTa From: fil_ardy
- 4e.
- Re: [kelana] QurCiL eSKa di MaTa SinTa From: novi_ningsih
- 5a.
- Re: (Kelana) KOST BARU. KOST MASA DEPANKU From: listyarisanti
- 5b.
- Re: (Kelana) KOST BARU. KOST MASA DEPANKU From: novi_ningsih
- 5c.
- Re: (Kelana) KOST BARU. KOST MASA DEPANKU From: Lia Octavia
- 5d.
- Re: (Kelana) KOST BARU. KOST MASA DEPANKU From: novi_ningsih
- 5e.
- Re: (Kelana) KOST BARU. KOST MASA DEPANKU From: ukhti hazimah
- 6.
- Re: [kelana] QurCiL eSKa di MaTa SinTa >>> Mbak Lia From: ukhti hazimah
- 7.
- Re: [kelana] QurCiL eSKa di MaTa SinTa>>>Mbak nopi From: ukhti hazimah
- 8a.
- [catcil] Re: IBADAH DAN SAMPAHNYA From: listyarisanti
- 9a.
- Re: (catcil) Kasih Anak untuk Sebuah Cinta From: listyarisanti
- 10.
- (Sajak) Lima Tanda Mata From: Arrizki Abidin
- 11a.
- (Ruang Baca) Maryamah Karpov dari Tetralogi Laskar Pelangi From: magnifico_99
Messages
- 1a.
-
Bls: [sekolah-kehidupan] [Kelana] Forever Young; Qurcil Was here
Posted by: "bujang kumbang" bujangkumbang@yahoo.co.id bujangkumbang
Tue Dec 9, 2008 10:31 pm (PST)
ngebayangin ikan gurame jadi lapar neh...hehehe
sukses selalu ya mbak Lia
--- Pada Sel, 9/12/08, Lia Octavia <liaoctavia@gmail.com > menulis:
Dari: Lia Octavia <liaoctavia@gmail.com >
Topik: [sekolah-kehidupan] [Kelana] Forever Young; Qurcil Was here
Kepada: "sekolah-kehidupan@yahoogroups. " <sekolah-kehidupan@com yahoogroups. >, "SK Kabinet" <kabinet-eska@com yahoogroups. >com
Tanggal: Selasa, 9 Desember, 2008, 10:43 PM
Forever Young; Qurcil Was Here
(Sebuah Catatan Perjalanan)
Oleh Lia Octavia
Gunung-gunung yang berbaris di sepanjang tol Cipularang itu masih berselimut kabut diiringi rintik hujan yang menerpa jendela bis yang berjalan hati-hati membelah lalu lintas sore itu. Bandung. Kota berselimut cinta yang selalu kurindukan dengan senjanya yang hening memerah dan hujannya yang senantiasa merintiki hatiku. Kota yang selalu memanggil-manggilku untuk kembali memeluk sunyi. Kota dimana cinta telah melegenda di sudut ruang hatiku dan kesadaranku. Kota yang memerah-hitamkan cinta di dalam kehidupan masa mudaku. Masa muda yang bahagia. Masa muda yang ceria. Masa muda yang bersimbah cahaya.
Aku menoleh ke bangku belakang. Mbak Novi dan Mbak Yana duduk dengan manis menikmati pemandangan indah di luar jendela. Aku menatap layar ponselku yang berkedip-kedip. Sms dari Pak Teha. Beliau menanyakan sampai di mana posisi kami karena ia yang akan menjemput kami di Terminal Leuwipanjang. Pak Teha yang baik dan sangat kuhormati. Beliau adalah salah seorang sesepuh di Komunitas Sekolah Kehidupan dan termasuk salah satu anggota yang tertua usianya di antara kami. Namun semangat beliau, tak kalah mudanya dengan kami semua. Aku menjawab smsnya. Tak sampai satu jam kemudian, kami sudah memasuki kota Bandung. Bandung, kami datang…
Dugaanku tak salah. Pak Teha menyambut kami bertiga di depan Terminal bis Leuwipanjang. Bandung kuyup senja itu. Tak lama kemudian Kang Galih, yang sudah tiba di Bandung sejak pagi harinya, tiba bersama dengan Mas Hendru. Perjalanan di bagian masa muda kami pun dimulai dan Bandung kembali menjadi saksinya. Di sanalah kami akan merayakan hari raya Idul Adha dan menghadiri acara Qurcil, sebuah kegiatan yang diadakan Komunitas Sekolah Kehidupan, dengan membantu menyalurkan kurban tahun ini pada masyarakat di daerah minus di Bandung.
Hari sudah gelap dan kami segera menuju sebuah rumah makan untuk makan malam. Kang Hadian, ketua pelaksana Qurcil, tiba di rumah makan itu tak lama kemudian. Canda tawa mewarnai pertemuan kami itu dengan meriah. Sayur asem, ikan gurame goreng, tempe bacem serta jus alpukat dan lemon tea hangat langsung tandas diserbu oleh anak-anak muda yang bersemangat. Tiba-tiba sebuah sms dari Mbak Retno masuk ke ponsel kami masing-masing. Mas Margo tidak dapat mewakili SK untuk Qurcil di Tangerang. Tak urung kami semua terkejut. Kang Dani yang berhalangan hadir saat itu, membuat kami semua harus memeras otak dan menghubungi siapa saja yang bisa menggantikan Mas Margo. Kami semua langsung menekan tombol ponsel kami masing-masing. Menghubungi sahabat-sahabat SK yang dapat dihubungi. Mas Nursalam, Kang Dani, Mas Yayan, Mas Fiyan, Mbak Divin, Mas Widhiatma, Pak Yudhi, Mbak Retno, Mas Catur, nama-nama sahabat-sahabat SK yang terekam di ponsel kami
mendapat telepon atau sms dari kami.
"Wah gimana nih? Tidak ada yang bisa datang mewakili SK di Jakarta. Siapa lagi yang bisa dihubungi?" Kang Hadian yang biasanya gemar bercanda, saat itu mendadak menjadi serius.
"Coba aja hubungi Achi," tiba-tiba usulan Mbak Novi mengubah segalanya. Walau pada mulanya kami tidak begitu yakin Achi dapat datang ke Mauk, Tangerang, yang merupakan lokasi kurban Qurcil yang dipilih oleh Riska Masjid Sunda Kelapa, masjid dimana SK bekerjasama untuk menyalurkan kurban di Jakarta. Achi punya bayi. Mungkin suaminya tidak mengizinkan ia pergi…Mungkin Achi mau berlebaran dengan keluarganya… Mungkin ia sudah punya acara lain… Mungkin…
Aku memandang wajah-wajah yang mengelilingi meja makan. Ikan gurame goreng yang sudah habis dikeroyok oleh aku, Mbak Novi, Kang Galih, dan Pak Teha, sayur asem yang tandas di hadapan Kang Hadian, daging gepuk yang dilahap Mbak Yana, dan tempe mendoan yang dihabiskan Mas Hendru. Aku yakin pasti ada jalan keluar. Allah pasti berbaik hati pada jiwa-jiwa muda yang sedang makan sambil bercanda dan berfoto-foto ini, pikirku dalam hati.
Setelah makan malam yang nikmat selesai, kami semua menuju rumah Kang Hadian. Kediaman beliau yang terletak di atas bukit, membuat kami dapat melihat pemandangan kota Bandung yang menakjubkan dari halaman rumah. Keindahan Bandung dan canda tawa membuat kami sejenak melupakan masalah perwakilan untuk Qurcil Jakarta. Kami semua duduk di ruang tamu Kang Hadian sambil menikmati cemilan yang lezat. Aku melirik jam dinding. Pukul 9 malam. The night is still young…
"Ayo kalian mandi dulu! Setelah itu kita pergi makan jagung bakar. Ayo, siapa yang pengen makan jagung bakar?" tanya Pak Teha. Makan? Tentu saja tawaran itu disambut hangat oleh kami semua. Dan malam semakin kehilangan usianya ketika Achi menghubungi kami dan mengatakan suaminya, Mas Gopo, dapat datang ke Tangerang untuk mewakili SK. Doaku terjawab sudah.
Setelah kami mandi dan membereskan barang-barang kami, malam itu juga, kami semua berangkat ke Lembang. Mobil yang dikemudikan oleh Kang Hadian dan Pak Teha meluncur membelah udara dingin yang menyelimuti Bandung belahan utara. Sambil menikmati bajigur susu, pisang keju hangat, dan indomie keju, kami berbagi keceriaan dan semangat muda kami. Malam yang kemudian menjadi bagian dari hidup kami. Malam yang telah menorehkan sebuah prasasti yang tak kelihatan, bahwa kami pernah ada di sana. Sebuah graffiti bertuliskan "SK was here" di balik meja dan dinding kayu kedai makanan itu. Di sana. Di Lembang yang dinginnya seperti balok es yang dimasukkan ke dalam bak kamar mandi.
Kami menghabiskan penghujung malam yang menyenangkan itu dengan perut kenyang dan kamera digital yang telah merekam berpuluh keceriaan di dalam memory card-nya. Pukul 2 dini hari. Hari telah berganti dan takbir bergema memantulkan kebesaran Allah di langit-langit kota sepanjang malam. Kami semua kembali ke rumah Kang Hadian, tempat kami menginap, dan Pak Teha kembali ke rumahnya. Di kamar, Mbak Novi yang begitu rajin masih bekerja dengan lap topnya hingga pukul 3 dini hari sementara Mbak Yana dan aku telah berselimutkan mimpi di sebelahnya. Akankah kami kelelahan karena kurang tidur? It really doesn't matter if we don't sleep. Cause we are so young… Aku tersenyum dalam tidurku mengingat sebuah lagu lawas yang dinyanyikan The Corrs itu.
******
Hari yang dinanti pun tiba. Kami berenam; Kang Hadian, Mbak Novi, Mbak Yana, Kang Galih, Mas Hendru, dan aku berangkat menuju kawasan Sindanglaya, Cicaheum untuk menyaksikan acara pemotongan hewan kurban. Di sepanjang jalan, banyak orang tumpah ruah memeluk sajadah. Shalat Ied telah usai dan mentari telah tersenyum hangat pada Bandung. Sebuah episode di masa muda kami kembali dimulai.
Sindanglaya, sebuah desa yang asri yang berada di atas bukit, lengkap dengan kelokan-kelokan dan tanjakan-tanjakanny a. Kami tiba di sana dengan penuh semangat. Tawa dan canda membalut pagi itu. Kebersamaan yang mengikat kami semua sehingga apa yang kami alami pagi itu, takkan pernah dapat dirasakan oleh orang lain. Kami berenam, menyimpan semuanya baik-baik di balik spanduk-spanduk yang berderet sepanjang jalan, di balik riuhnya suara domba yang berkerumun di kandang, dan dibalik senyum pak Mukhlis yang menyambut kami dengan ramah di halaman rumahnya yang telah dipenuhi orang. Penyembelihan kurban pun dimulai. Satu persatu domba tersebut disembelih. Domba-domba atas nama mereka yang telah memercayakan kurbannya tahun ini pada SK. Di tengah kepulan asap dari tungku kayu bakar tempat para ibu memasak, takbir yang dikumandangkan oleh para penyembelih kurban, dan jepretan kamera yang tidak mau ketinggalan momen-momen itu, kami berdiri
menatap masa. Lembaran sejarah masa muda kami yang merayakan hari raya kurban di tengah saudara-saudara kami di pedalaman Bandung.
Pak Teha, Mbak Shinta, dan Mbak Ela tiba di lokasi tak lama kemudian. Setelah semua domba selesai disembelih, Pak Mukhlis mempersilakan kami semua makan hidangan yang telah tersedia. Nasi hangat beserta lalap daun singkong dan sayur kari, memeriahkan cinta yang berpendar di setiap bungkus daging kurban yang dibagikan pada warga setempat. Walau susu, roti, dan cemilan yang kami santap sebelum berangkat ke Sindanglaya masih memenuhi perut kami, makan bersama di pagi hari itu rasanya begitu nikmat.
Setelah makan, kami berpamitan dan menuju rumah mertua Kang Hadian di belahan Bandung yang lain. Matahari tepat di atas kepala saat kami tiba di sana. Seusai shalat dzuhur, kami kembali ditawari makan oleh empunya rumah.
"Ayo makan! Makanannya sudah disiapkan! Ayo, silakan!" ujar ipar Kang Hadian ramah. Kami semua terenyum malu-malu.
"Sudah, ayo makan! Nanti kan mau pulang ke Jakarta, jadi makan dulu ya!" timpal ibu mertua Kang Hadian. Kami semua saling bertatapan. Berusaha menolak secara halus dengan berbagai cara.
Aku menatap Kang Hadian. Ia juga meminta kami semua makan untuk ketiga kalinya. Ketika Kang Hadian melihatku tidak menjawab, ia mengeluarkan jurus pamungkasnya dan ternyata berhasil.
"Mbak Lia, ada ikan bilih lho!" kata Kang Hadian sambil menatapku. Ikan bilih? Aku pun luluh. Aku memang sangat menyukai ikan bilih. Ikan yang hanya hidup di Danau Maninjau dan Danau Singkarak. Tanpa berkata lagi, aku langsung bangkit dan mengajak semua teman-temanku untuk makan. Dan makan siang itu sungguh nikmat. Menu ikan bilih beserta telur dadar goreng, sayur tahu, cah sawi hijau dan kerupuk yang lezat membuat kami semua menghabiskan makanan di atas piring kami dengan tandas. Indahnya masa muda. Makan apapun terasa nikmat asalkan makan bersama-sama.
Setelah makan, kami kembali ke rumah Kang Hadian untuk berkemas-kemas. Tawa dan canda kembali memenuhi ruang tamu Kang Hadian siang itu. Di sela-sela keceriaan itu, Kang Hadian tiba-tiba teringat bahwa ia masih punya es krim!
Mendengar kata es krim, kami jadi bergairah. Mbak Novi, Mbak Shinta, Mbak Ela, Mbak Yana langsung beranjak ke dapur mengambil gelas dan sendok. Sendok demi sendok es krim Wall's rasa cokelat, vanilla, dan stroberi itu pindah ke perut kami masing-masing. Kecuali Mas Hendru yang tidak mau makan es krim, Kang Galih dan Mbak Novi menghabiskan sisa es krim yang ada. Aku juga sebenarnya sangat menyukai es krim. Tetapi aku tahu aku tidak boleh terlalu banyak makan es krim kalau tidak mau radang tenggorokan dan alergi pilek kumat. Aku berhasil menahan diri untuk tidak makan es krim banyak-banyak.
Tak terasa waktu sudah menujukkan pukul 3.30 siang. Mbak Shinta, Pak Teha, dan Mbak Ela berpamitan pulang. Lalu kami mengambil tas kami masing-masing dan Kang Hadian mengantar kami menuju terminal bis Leuwipanjang. Ah, lembar indah pada hari itu akan segera berakhir. Rasanya masih ingin melepas rindu dengan Bandung dan belum mau kembali ke Jakarta. Dan harapanku terwujud. Di tengah jalan, Kang Hadian mengajak kami makan es cendol Elizabeth dan batagor goreng. Mbak Novi dan Mbak Yana yang kekenyangan tidak mampu lagi menghabiskan segelas besar es cendol yang manis dan enak itu. Walau kami semua sangat mengantuk, kami bertekad untuk tidak tidur hingga kami naik bis nanti.
Setelah membeli buah tangan sebagai oleh-oleh, kami diantar Kang Hadian ke terminal bis Leuwipanjang. Kami menaiki bis jurusan yang berbeda sesuai dengan daerah rumah kami. Makanan di Bandung yang tak terlupakan. Hari yang tak terlupakan. Kisah yang tak terlupakan. Cinta yang tak terlupakan. Sambil menatap keluar jendela bis yang membawa Mbak Novi dan aku keluar dari terminal Leuwipanjang, sekilas aku melihat gunung yang berdiri di kejauhan. Dan aku bersumpah melihat gunung itu tersenyum melepas kepergian kami kembali ke Jakarta dengan penuh cinta.
Sehingga seluruh kebahagiaan ini membuat diri kami senantiasa muda. Semuda jiwa kami walau sisa umur kami tiap hari kian berkurang. Bahwa cinta ini selamanya muda. Forever young at heart and soul…Qurcil was here…
Jakarta, 9 Desember 2008 at 10.30 p.m.
Dipersembahkan untuk keluarga besar SK terutama yang menghadiri acara Qurcil di Bandung; Kang Hadian, Pak Teha, Mbak Novi, Mbak Yana, Kang Galih, Mas Hendru, Mbak Shinta, Mbak Ela.
We were there...
http://mutiaracinta .multiply. com
*****
Kenapa BBM mesti naik? Apakah tidak ada solusi selain itu? Temukan jawabannya di Yahoo! Answers! http://id.answers.yahoo.com
- 2a.
-
Re: [Catcil] Orang Aneh
Posted by: "novi_ningsih" novi_ningsih@yahoo.com novi_ningsih
Tue Dec 9, 2008 10:42 pm (PST)
Niaaa, cerita tentang itu masih di kepala, makasi ya atas pelajaran
yang bermakna :)
Soal keanehan, yah kita memang rada mirip :D
tapi kalo soal wibawa, hehehe... mungkin harus gondrong kayak veby
dulu baru bisa berwibawa, heheh
akhirnya, dirimu komen lagi
udah sini, ga usah menepi dulu, ayo kita lari bersama :D
salam
--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups. , "Nia Robie'"com
<musimbunga@...> wrote:
>
> assalamu'allaikum
> mba nop!!!!!!!!!!!!! heheu.. aku tau penderitaanmu kawan.. kan kita
11-12 eh
> 10-11.. btw tadinya gue mau ngenalin kamu ama temen gue.. haha.. lebih
> parah2 dah dibanding dirimuh..
> btw kalo mau wibawa belajarlah dari veby s. wibawa kikikikik.. nanti
akan
> berubah menjadi noviyanti utama wibawa.. halah.. apaan seeeh?
> *nahlosekaranggueyanganeh
>
> btw tiba2 keingetan cerita kita malam ituw.. kikikikik.. gue aneh
kan ya?
> nekad!!!*narsisakankenekatanmodeon
>
> -yangmauniatnyamenepitapiselalugakt ahandigubrisnopi -
>
>
>
> Pada 9 Desember 2008 13:45, novi khansa' <novi_ningsih@...> menulis:
>
> >
> >
> > Aku ada masalah dengan kewibawaan. Halah, emang ada apa sih sama
wibawa? :D
> >
> >
> > Aku juga dianggap orang yang ga bisa serius dan paling
mengenaskan, "orang
> > aneh".
> >
> >
> > Entah semenjak kapan, image konyol, gokil, aneh lebih sering
melekat pada
> > diri ini dibanding image serius, baik hati, dan rajin menabung :D
> >
> > hihihih...
> >
> > Jujur, aku tetap cukup kaget ketika seorang memperkenalkan diriku
sebagai
> > "orang aneh". Bukan karena aku beneran aneh, tapi di sekelilingku
saat itu
> > banyak juga orang aneh :D
> >
> > Sebenarnya sih, hal ini terjadi karena aku sendiri yang memang tak
punya
> > kesan serius, huhuhuhu... Senengnya becanda dan melakukan banyak
hal dengan
> > konyol dan seru :D
> >
> > Jujur, nih... biasanya, orang yang baru mengenalku menganggap aku
serius
> > atau mungkin galak :D, tapi ketika aku nyaman berada dalam satu
tempat, aku
> > bisa lebih bahagia :D dan tidak jadi serius.. (ini apa sih :D)
> >
> > Tapi, jujur, aku bisa serius... halah... :D
> >
> > Aku ingat ketika masih kuliah dulu. Aku dan teman-teman akhwat
melakukan
> > Jauhari Window. Di sana seorang adik kelas menulis kalau aku
kurang wibawa.
> > Yah gimana ga kurang, ketika rapat organisasi, aku lebih cenderung
melakukan
> > hal konyol dibanding hal bener. Walau tetep, sih aku melakukan
tanggung
> > jawab sebagai pengurus.
> >
> > Belakangan hal ini jadi sesuatu hal yang "bermasalah". Bagaimana
tidak?
> > image aku abis-abisan habis :D (bingung ga, sih) setelah bergaul
dengan
> > makhluk-makhluk yang seneng banget ngerjain orang. Foto-foto aneh
bin gokil
> > hasil snapshot hadir di hadapanku. Hhhh, apa emang aku aslinya
begitu???
> > Aaah, dasar pembunuhan karakter :P
> >
> > Ketika banyak orang yang mengenal aku dengan kekonyolan yang aku buat.
> > Mereka akan kaget ketika aku jadi moderator kajian, mengisi
kajian, mengajar
> > anak-anak dan memiliki binaan... dan hal serius lainnya.
> >
> > Walau saking akrabnya aku sama adik-adik menti, mereka pun suka
> > "menghancurkan" kewibawaanku :D, hihihi.. bahasanya berlebihan, ya?
> > Maksudnya, kami begitu akrab dan suka seru-seruan bareng :D
> >
> > Kami mengalami banyak hal menyenangkan selama kurang lebih 3 tahun
hingga
> > akhirnya mereka kuliah dan kami berpisah... :(
> >
> > Sejujurnya, aku hanya ingin meleburkan suasana menjadi lebih cair,
lebih
> > akrab, lebih santai di saat begitu banyak kondisi mengharuskan
kita untuk
> > serius. Bukan bermaksud bikin "rusuh", hanya saja terlalu banyak orang
> > serius yang aku temui dan terlalu banyak hal yang menuntut
keseriusan dalam
> > hidup ini. Seperti halnya ketika bekerja di bawah tekanan deadline
yang
> > sudah menjadi bagian dari hidupku. hiks... hiks :D
> >
> > Walau kemudian, aku sadari, aku tetap harus belajar lebih serius
:D dan
> > tentunya mampu menempatkan diri dengan baik pada segala situasi. yeee,
> > serius, nih :D
> >
> > Terakhir, bukan maksudku membela diri...
> > Menurutku semua manusia itu aneh dan tentunya berbeda satu sama
lain ;)
> >
> > hihihi, itu mah "unik" :D
> >
> >
> >
> > Tetap semangaaaaaaaaat ;)
> > walau aneh sekalipun :D
> >
> >
> > *akhirnya, satu kerjaan beres ... :D dan saatnya berperilaku "aneh",
> > sebelum melanjutkan pekerjaan lain ;)
> >
> >
> >
> >
> > novi_khansa'kreatif
> > ~Graphic Design 4 Publishing~
> > YM : novi_ningsih
> > http://akunovi.multiply. com
> > http://novikhansa.rezaervani. com/
> >
> >
> >
> >
>
- 3a.
-
Re: [Kelana] Forever Young; Qurcil Was here
Posted by: "listyarisanti" listyarisanti@yahoo.com listyarisanti
Tue Dec 9, 2008 10:46 pm (PST)
Mba Lia... indah sekali ceritamu..
jadi mupenk ihikk..ihikkk..
Percaya atau tidak, ketika kalian disana, aku terus-menerus melihat
jam sambil membayangkan sedang apakah kalian? sehatkah? lancarkah?
status YM tak lepas dari kata-kata "pengen ke bandung!", sambil terus
berharap andai saja saat itu aku di tengah-tengah kalian. Rindu sekali
dengan kebersamaan kalian..
semoga di kesempatan yang akan datang, aku dan teman2 SK yang lain
juga bisa ikut menikmati indahnya kebersamaan seperti cerita mba Lia.
Mba, padahal aku udah siap banget lho seminggu sebelumnya, tapi memang
ada keperluan keluarga yang tidak bisa ditinggal. Pertama, Gak tega
sama mamah yang diprediksi bakal kedatengan sodara-sodara baik dari
keluarga papah maupun keluarga mamah (dan ternyata prediksi itu
benar). Kedua, aku harus melepas kakak sepupu tersayang yang akan
berlayar selama setahun (itu artinya, setahun lagi kami baru bisa
berjumpa). Huwaaaa... dilema...
Akhirnya aku hanya bisa berharap. Ya ALLAH, semoga kami dapat
berhimpun bersama dalam menebarkan kebaikan di bumiMu. aminn..
- 3b.
-
Re: [Kelana] Forever Young; Qurcil Was here
Posted by: "inga_fety" inga_fety@yahoo.com inga_fety
Wed Dec 10, 2008 2:21 am (PST)
sukses menjadi iri dengan semua yang merayakan idul adha bersama
kurcil setelah membaca cerita mbak lia. hmm, apa kabar bandung yak?:)
salam,
fety
--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups. , "Lia Octavia"com
<liaoctavia@...> wrote:
>
> *Forever Young; Qurcil Was Here*
>
> * *
>
> *(Sebuah Catatan Perjalanan)*
>
>
>
> Oleh Lia Octavia
>
>
>
>
>
> Gunung-gunung yang berbaris di sepanjang tol Cipularang itu
> masih berselimut kabut diiringi rintik hujan yang menerpa jendela
bis yang
> berjalan hati-hati membelah lalu lintas sore itu. Bandung. Kota
berselimut
> cinta yang selalu kurindukan dengan senjanya yang hening memerah dan
> hujannya yang senantiasa merintiki hatiku. Kota yang selalu
> memanggil-manggilku untuk kembali memeluk sunyi. Kota dimana cinta telah
> melegenda di sudut ruang hatiku dan kesadaranku. Kota yang
memerah-hitamkan
> cinta di dalam kehidupan masa mudaku. Masa muda yang bahagia. Masa
muda yang
> ceria. Masa muda yang bersimbah cahaya.
>
>
>
> Aku menoleh ke bangku belakang. Mbak Novi dan Mbak Yana
duduk
> dengan manis menikmati pemandangan indah di luar jendela. Aku
menatap layar
> ponselku yang berkedip-kedip. Sms dari Pak Teha. Beliau menanyakan
sampai di
> mana posisi kami karena ia yang akan menjemput kami di Terminal
> Leuwipanjang. Pak Teha yang baik dan sangat kuhormati. Beliau adalah
salah
> seorang sesepuh di Komunitas Sekolah Kehidupan dan termasuk salah satu
> anggota yang tertua usianya di antara kami. Namun semangat beliau,
tak kalah
> mudanya dengan kami semua. Aku menjawab smsnya. Tak sampai satu jam
> kemudian, kami sudah memasuki kota Bandung. Bandung, kami datang
>
>
>
> Dugaanku tak salah. Pak Teha menyambut kami bertiga di depan
> Terminal bis Leuwipanjang. Bandung kuyup senja itu. Tak lama
kemudian Kang
> Galih, yang sudah tiba di Bandung sejak pagi harinya, tiba bersama
dengan
> Mas Hendru. Perjalanan di bagian masa muda kami pun dimulai dan Bandung
> kembali menjadi saksinya. Di sanalah kami akan merayakan hari raya
Idul Adha
> dan menghadiri acara Qurcil, sebuah kegiatan yang diadakan Komunitas
Sekolah
> Kehidupan, dengan membantu menyalurkan kurban tahun ini pada
masyarakat di
> daerah minus di Bandung.
>
>
>
> Hari sudah gelap dan kami segera menuju sebuah rumah
makan untuk
> makan malam. Kang Hadian, ketua pelaksana Qurcil, tiba di rumah
makan itu
> tak lama kemudian. Canda tawa mewarnai pertemuan kami itu dengan meriah.
> Sayur asem, ikan gurame goreng, tempe bacem serta jus alpukat dan
lemon tea
> hangat langsung tandas diserbu oleh anak-anak muda yang bersemangat.
> Tiba-tiba sebuah sms dari Mbak Retno masuk ke ponsel kami
masing-masing. Mas
> Margo tidak dapat mewakili SK untuk Qurcil di Tangerang. Tak urung kami
> semua terkejut. Kang Dani yang berhalangan hadir saat itu, membuat kami
> semua harus memeras otak dan menghubungi siapa saja yang bisa
menggantikan
> Mas Margo. Kami semua langsung menekan tombol ponsel kami masing-masing.
> Menghubungi sahabat-sahabat SK yang dapat dihubungi. Mas Nursalam, Kang
> Dani, Mas Yayan, Mas Fiyan, Mbak Divin, Mas Widhiatma, Pak Yudhi, Mbak
> Retno, Mas Catur, nama-nama sahabat-sahabat SK yang terekam di
ponsel kami
> mendapat telepon atau sms dari kami.
>
>
>
> "Wah gimana nih? Tidak ada yang bisa datang mewakili SK di
> Jakarta. Siapa lagi yang bisa dihubungi?" Kang Hadian yang biasanya
gemar
> bercanda, saat itu mendadak menjadi serius.
>
>
>
> "Coba aja hubungi Achi," tiba-tiba usulan Mbak Novi mengubah
> segalanya. Walau pada mulanya kami tidak begitu yakin Achi dapat
datang ke
> Mauk, Tangerang, yang merupakan lokasi kurban Qurcil yang dipilih
oleh Riska
> Masjid Sunda Kelapa, masjid dimana SK bekerjasama untuk menyalurkan
kurban
> di Jakarta. Achi punya bayi. Mungkin suaminya tidak mengizinkan ia
> pergi Mungkin Achi mau berlebaran dengan keluarganya Mungkin ia
sudah punya
> acara lain Mungkin
>
>
>
> Aku memandang wajah-wajah yang mengelilingi meja makan.
Ikan
> gurame goreng yang sudah habis dikeroyok oleh aku, Mbak Novi, Kang
Galih,
> dan Pak Teha, sayur asem yang tandas di hadapan Kang Hadian, daging
gepuk
> yang dilahap Mbak Yana, dan tempe mendoan yang dihabiskan Mas
Hendru. Aku
> yakin pasti ada jalan keluar. Allah pasti berbaik hati pada
jiwa-jiwa muda
> yang sedang makan sambil bercanda dan berfoto-foto ini, pikirku
dalam hati.
>
>
>
> Setelah makan malam yang nikmat selesai, kami semua
menuju rumah
> Kang Hadian. Kediaman beliau yang terletak di atas bukit, membuat
kami dapat
> melihat pemandangan kota Bandung yang menakjubkan dari halaman rumah.
> Keindahan Bandung dan canda tawa membuat kami sejenak melupakan masalah
> perwakilan untuk Qurcil Jakarta. Kami semua duduk di ruang tamu Kang
Hadian
> sambil menikmati cemilan yang lezat. Aku melirik jam dinding. Pukul
9 malam.
> *The night is still young *
>
>
>
> "Ayo kalian mandi dulu! Setelah itu kita pergi makan jagung
> bakar. Ayo, siapa yang pengen makan jagung bakar?" tanya Pak Teha.
Makan?
> Tentu saja tawaran itu disambut hangat oleh kami semua. Dan malam
semakin
> kehilangan usianya ketika Achi menghubungi kami dan mengatakan
suaminya, Mas
> Gopo, dapat datang ke Tangerang untuk mewakili SK. Doaku terjawab sudah.
>
>
>
> Setelah kami mandi dan membereskan barang-barang kami,
malam itu
> juga, kami semua berangkat ke Lembang. Mobil yang dikemudikan oleh Kang
> Hadian dan Pak Teha meluncur membelah udara dingin yang menyelimuti
Bandung
> belahan utara. Sambil menikmati bajigur susu, pisang keju hangat, dan
> indomie keju, kami berbagi keceriaan dan semangat muda kami. Malam yang
> kemudian menjadi bagian dari hidup kami. Malam yang telah menorehkan
sebuah
> prasasti yang tak kelihatan, bahwa kami pernah ada di sana. Sebuah
graffiti
> bertuliskan "SK was here" di balik meja dan dinding kayu kedai
makanan itu.
> Di sana. Di Lembang yang dinginnya seperti balok es yang dimasukkan
ke dalam
> bak kamar mandi.
>
>
>
> Kami menghabiskan penghujung malam yang menyenangkan
itu dengan
> perut kenyang dan kamera digital yang telah merekam berpuluh
keceriaan di
> dalam *memory card-*nya. Pukul 2 dini hari. Hari telah berganti dan
takbir
> bergema memantulkan kebesaran Allah di langit-langit kota sepanjang
malam.
> Kami semua kembali ke rumah Kang Hadian, tempat kami menginap, dan
Pak Teha
> kembali ke rumahnya. Di kamar, Mbak Novi yang begitu rajin masih bekerja
> dengan lap topnya hingga pukul 3 dini hari sementara Mbak Yana dan
aku telah
> berselimutkan mimpi di sebelahnya. Akankah kami kelelahan karena kurang
> tidur? *It really doesn't matter if we don't sleep*. *Cause we are
so young*
> Aku tersenyum dalam tidurku mengingat sebuah lagu lawas yang
dinyanyikan The
> Corrs itu.
>
>
>
> ******
>
> Hari yang dinanti pun tiba. Kami berenam; Kang Hadian, Mbak
> Novi, Mbak Yana, Kang Galih, Mas Hendru, dan aku berangkat menuju
kawasan
> Sindanglaya, Cicaheum untuk menyaksikan acara pemotongan hewan
kurban. Di
> sepanjang jalan, banyak orang tumpah ruah memeluk sajadah. Shalat
Ied telah
> usai dan mentari telah tersenyum hangat pada Bandung. Sebuah episode
di masa
> muda kami kembali dimulai.
>
>
>
> Sindanglaya, sebuah desa yang asri yang berada di atas
bukit,
> lengkap dengan kelokan-kelokan dan tanjakan-tanjakannya. Kami tiba
di sana
> dengan penuh semangat. Tawa dan canda membalut pagi itu. Kebersamaan
yang
> mengikat kami semua sehingga apa yang kami alami pagi itu, takkan pernah
> dapat dirasakan oleh orang lain. Kami berenam, menyimpan semuanya
baik-baik
> di balik spanduk-spanduk yang berderet sepanjang jalan, di balik riuhnya
> suara domba yang berkerumun di kandang, dan dibalik senyum pak
Mukhlis yang
> menyambut kami dengan ramah di halaman rumahnya yang telah dipenuhi
orang.
> Penyembelihan kurban pun dimulai. Satu persatu domba tersebut
disembelih.
> Domba-domba atas nama mereka yang telah memercayakan kurbannya tahun ini
> pada SK. Di tengah kepulan asap dari tungku kayu bakar tempat para ibu
> memasak, takbir yang dikumandangkan oleh para penyembelih kurban, dan
> jepretan kamera yang tidak mau ketinggalan momen-momen itu, kami berdiri
> menatap masa. Lembaran sejarah masa muda kami yang merayakan hari raya
> kurban di tengah saudara-saudara kami di pedalaman Bandung.
>
>
>
> Pak Teha, Mbak Shinta, dan Mbak Ela tiba di lokasi tak lama
> kemudian. Setelah semua domba selesai disembelih, Pak Mukhlis
mempersilakan
> kami semua makan hidangan yang telah tersedia. Nasi hangat beserta lalap
> daun singkong dan sayur kari, memeriahkan cinta yang berpendar di setiap
> bungkus daging kurban yang dibagikan pada warga setempat. Walau
susu, roti,
> dan cemilan yang kami santap sebelum berangkat ke Sindanglaya masih
memenuhi
> perut kami, makan bersama di pagi hari itu rasanya begitu nikmat.
>
>
>
> Setelah makan, kami berpamitan dan menuju rumah mertua Kang
> Hadian di belahan Bandung yang lain. Matahari tepat di atas kepala
saat kami
> tiba di sana. Seusai shalat dzuhur, kami kembali ditawari makan oleh
empunya
> rumah.
>
>
>
> "Ayo makan! Makanannya sudah disiapkan! Ayo, silakan!"
ujar ipar
> Kang Hadian ramah. Kami semua terenyum malu-malu.
>
>
>
> "Sudah, ayo makan! Nanti kan mau pulang ke Jakarta, jadi
makan
> dulu ya!" timpal ibu mertua Kang Hadian. Kami semua saling bertatapan.
> Berusaha menolak secara halus dengan berbagai cara.
>
>
>
> Aku menatap Kang Hadian. Ia juga meminta kami semua
makan untuk
> ketiga kalinya. Ketika Kang Hadian melihatku tidak menjawab, ia
mengeluarkan
> jurus pamungkasnya dan ternyata berhasil.
>
>
>
> "Mbak Lia, ada ikan bilih lho!" kata Kang Hadian sambil
> menatapku. Ikan bilih? Aku pun luluh. Aku memang sangat menyukai
ikan bilih.
> Ikan yang hanya hidup di Danau Maninjau dan Danau Singkarak. Tanpa
berkata
> lagi, aku langsung bangkit dan mengajak semua teman-temanku untuk
makan. Dan
> makan siang itu sungguh nikmat. Menu ikan bilih beserta telur dadar
goreng,
> sayur tahu, cah sawi hijau dan kerupuk yang lezat membuat kami semua
> menghabiskan makanan di atas piring kami dengan tandas. Indahnya
masa muda.
> Makan apapun terasa nikmat asalkan makan bersama-sama.
>
>
>
> Setelah makan, kami kembali ke rumah Kang Hadian untuk
berkemas-kemas. Tawa
> dan canda kembali memenuhi ruang tamu Kang Hadian siang itu. Di
sela-sela
> keceriaan itu, Kang Hadian tiba-tiba teringat bahwa ia masih punya
es krim!
>
>
>
> Mendengar kata es krim, kami jadi bergairah. Mbak Novi, Mbak
> Shinta, Mbak Ela, Mbak Yana langsung beranjak ke dapur mengambil
gelas dan
> sendok. Sendok demi sendok es krim Wall's rasa cokelat, vanilla, dan
> stroberi itu pindah ke perut kami masing-masing. Kecuali Mas Hendru
yang
> tidak mau makan es krim, Kang Galih dan Mbak Novi menghabiskan sisa
es krim
> yang ada. Aku juga sebenarnya sangat menyukai es krim. Tetapi aku
tahu aku
> tidak boleh terlalu banyak makan es krim kalau tidak mau radang
tenggorokan
> dan alergi pilek kumat. Aku berhasil menahan diri untuk tidak makan
es krim
> banyak-banyak.
>
>
>
> Tak terasa waktu sudah menujukkan pukul 3.30 siang. Mbak
Shinta,
> Pak Teha, dan Mbak Ela berpamitan pulang. Lalu kami mengambil tas kami
> masing-masing dan Kang Hadian mengantar kami menuju terminal bis
> Leuwipanjang. Ah, lembar indah pada hari itu akan segera berakhir.
Rasanya
> masih ingin melepas rindu dengan Bandung dan belum mau kembali ke
Jakarta.
> Dan harapanku terwujud. Di tengah jalan, Kang Hadian mengajak kami
makan es
> cendol Elizabeth dan batagor goreng. Mbak Novi dan Mbak Yana yang
> kekenyangan tidak mampu lagi menghabiskan segelas besar es cendol yang
> manis dan enak itu. Walau kami semua sangat mengantuk, kami bertekad
untuk
> tidak tidur hingga kami naik bis nanti.
>
>
>
> Setelah membeli buah tangan sebagai oleh-oleh, kami
diantar Kang
> Hadian ke terminal bis Leuwipanjang. Kami menaiki bis jurusan yang
berbeda
> sesuai dengan daerah rumah kami. Makanan di Bandung yang tak terlupakan.
> Hari yang tak terlupakan. Kisah yang tak terlupakan. Cinta yang tak
> terlupakan. Sambil menatap keluar jendela bis yang membawa Mbak Novi
dan aku
> keluar dari terminal Leuwipanjang, sekilas aku melihat gunung yang
berdiri
> di kejauhan. Dan aku bersumpah melihat gunung itu tersenyum melepas
> kepergian kami kembali ke Jakarta dengan penuh cinta.
>
>
>
> Sehingga seluruh kebahagiaan ini membuat diri kami senantiasa muda.
Semuda
> jiwa kami walau sisa umur kami tiap hari kian berkurang. Bahwa cinta ini
> selamanya muda. *Forever young at heart and soul Qurcil was here *
>
> * *
>
> * *
>
> Jakarta, 9 Desember 2008 at 10.30 p.m.
>
> Dipersembahkan untuk keluarga besar SK terutama yang menghadiri
acara Qurcil
> di Bandung; Kang Hadian, Pak Teha, Mbak Novi, Mbak Yana, Kang Galih, Mas
> Hendru, Mbak Shinta, Mbak Ela.
> We were there...
>
> http://mutiaracinta.multiply. com
>
>
>
>
> *****
>
- 4a.
-
[kelana] QurCiL eSKa di MaTa SinTa
Posted by: "ukhti hazimah" ukhtihazimah@yahoo.com ukhtihazimah
Tue Dec 9, 2008 11:18 pm (PST)
-QurCiL eSKa di MaTa SinTa-
PaGi IduL aDHa
Takbir masih berkumandang memenuhi udara pagi. Udara dingin yang begitu menggigit kulit. Aku bangun diiringi kernyitan dahi. Aduuuhh...sakit betul nih badan, mengingat weekend kemarin harus mendekam di kantor dalam jangka waktu yang cukup mengerikan [gak usah dibayangin!**Emang sapa yang bayangin?? :|] Fiyuuuh...
Rasanya ingin hati untuk terus meringkuk di tempat tidur, tapi satu kewajiban harus segera ditunaikan. Yup! Wake up!! Semangat memang harus ditarik-tarik dari balik tirai supaya gak ngumpet mulu.
Hari ini satu momen eSKa akan segera di�launching�, QURCIL. Momen yang mampu memancing si semangat supaya nongol. Segera aku laksanakan semua yang harus dilaksanakan, menyiapkan segala yang perlu disiapkan, mengambil segala yang pantas diambil dan makan segala yang bisa dimakan huehehehe... makan dulu euy daripada kelaparan.
Sholat ied, kami [ela dan sinta] tunaikan di lokasi dekat kos. Lokasi yang bisa dibilang seadanya, karena letaknya yang mengambil lapangan parkir swalayan terdekat. Sholat berjalan cukup hikmat, dan alhamdulillah berjalan lancar, walaupun sempat diisi tampang bengong aku ma ela begitu mendengar sang pengkhotbah melancarkan khotbahnya dengan bahasa sunda [jadi perlu belajar bahasa sunda gak yah? :-/]
Kurang lebih jam 9-an, Pak Teha datang menjemput dan segera melarikan mobilnya ke tempat eksekusi berdarah para kambing. Yeeee...!!
PotoNG KambiNk
Setelah melewati track yang cukup mengerikan�jalan kecil [+ 2 meter-an], nanjak 45 derajat, sebelah jalan terjunan-tinggi. Hiks�bisa nyungsep tuh klo bannya meleng dikit�mobil nyampe juga di puncak dilengkapi dengan hembus nafas lega dari personil yang ada di dalamnya. Mengerikan!
Begitu turun dari mobil, senyuman para SK Jakarta menyambut kedatangan kami, Mbak Nopi, Mbak Lia, Mas Galih dan Sang Ketua Qurcil, Pak Hadian. Disusul kemudian Mbak Yana dan Mas Henru [ato Hendru sih??] yang saat itu menikmati prosesi penyembelihan kambing.
Untunglah kita yang baru datang masih mendapat �jatah� nonton penyembelihan kambing yang terakhir. Lumayan bikin begidik saat liat pisau tajam merobek leher si kambing. Satu pelajaran berharga---di samping pelajaran kurban yang pastinya didapatkan---melihat sang kambing menyambut sakaratul maut---dengan badan yang masih bergetar dan darah terus meleleh dari lehernya---mampu membuat kepala berpikir tentang satu momen perenggutan nyawa yang pasti di alami semua makhluk hidup termasuk manusia *speechless* Manusia.. Mati. Pasti. Siap kah?
Proses penyembelihan pun akhirnya tuntas dan ditutup dengan jamuan gule nikmat dari sang Tuan rumah, Pak Mukhlis. Yummy!!
HaDiaN FamiLy
Tuntas dengan gule :D Perjalanan bersambung ke rumah adik ipar Pak Hadian---yang sebelumnya mampir ke tempat pembayaran sapi duluw, sambil dibarengi berfoto-foto ria di lokasi [teteup!]--- Sampai lokasi, pemandangan khas Idul Adha kembali tersaji. Kalau tadi kambing yang disembelih, mesjid di sebelah rumah tujuan akan melakukan prosesi penyembelihan sapi. Huaaaaa...Kereeeeen!! coz saat sapi mw disembelih terjadi tragedi perlawanan oleh si Sapi, berkali-kali dirobohkan, berkali-kali itu pula dia berontak. Wew! Beneran seru :D. Sedikit kesimpulan dari kepala si penulis: kayaknya nih sapi stress liat temen-temen di depan matanya dah nangkring tanpa kepala [Hiiiiiiiiiiiiiiiii iii....]
Udah...udah...momen nonton penyembelihan selesai. Segera kita digiring [?] masuk ke rumah sodara Pak Hadian. Benar-benar keluarga yang sangat bersahabat dan penuh senyum. Sedikit kesedihan tergambar di momen hari ini. Ternyata Teh Teja [Hadian wife] masih dalam kondisi terkapar di tempat tidur :( �Syafakillah ya Teh� ;) Semangat!! *mbak nopi mode ON*
"Ayoo...makan dulu," Sekali lagi tawaran makan diajukan pada kita. Glek...haduuuh, muat gak ya nih perut. Melihat sang tamu menunjukkan gelagat gak mau. Pak Hadian dengan sukses meng-iming-iming [bahasa indonesianya apa yak?] ikan bilih ke Mbak Lia. Wow...iming-iming yang otomatis menerbitkan senyum manis dan kesediaan Mbak Lia, sang FIBY [Fans Ikan Bilih Yey!**maksaaaa! !] untuk makan, dan sukses diikuti personil lainnya [bilang aja emang yang lain pengen juga!]
Melihat jam yang sudah mendekati waktu sore, kami sepakat untuk berpamitan dengan sang Tuan rumah. Sesi pamitan berjalan agak lama, saat Naiba tak rela berpisah dengan abinya. Hiks...Diiringi tangisan �perpisahan� Naiba dengan sang abi, kita melangkah meninggalkan Hadian Family.
�Maaf ya Naiba sayang...kita harus menculik Abimu, karena kita butuh sopir untuk pulang [nah lo ^_^v]�
SekoTaK esKriM
Kotak yang begitu menggoda sudah terpampang di tengah lingkaran manusia yang menampilkan wajah ngiler [hiperbolik mode ON] Hmmm...nikmat kali penampakan eskrim walls ini.
Di tengah-tengah kehebohan makan es krim, sebuah slogan muncul begitu Mas Hendru [ato Henru sih? :D] menolak tawaran eskrim, �malu mah gak kenyang� [wew...mantab!] ya kan? malu bikin kita gak dapet rezeki yang sudah tampil di depan mata *pembenaran :P* Tapi ingat!! Slogan yang satu ini juga memiliki efek samping buat yang kebablasan. Efek samping: Malu-Maluin. So...mari kita habiskan es krimnyaaaaaa [gak nyambuuuung! !!!]
Persaudaraan dalam sekotak es krim. Yup! Itu yang terpatri di dalam kepalaku setiap mengingat momen makan es krim rame-rame di rumah Pak Hadian. �Es krim bikin stress hilang� celetuk salah seorang diantara kita. Bisa jadi iya, tapi gak 100% benar. Suasana lah yang sangat berpengaruh dengan tingkat kestress-an. Coba bayangin, bisakah es krim menghilangkan stress saat kita memakannya di pinggir jurang?? Tambah stress kan? [plis deh Sin ^_^v]. Well, suasana kekeluargaan membuat segalanya menjadi menyenangkan, dan sekotak es krim adalah pelengkap kesenangan hari ini. I luv this day ^_^
NB: mbak nopi sayaaaaang...makasih ya bonekanyaaaaaaaaaa! ! Muach...muach. ..!!
NB [lagi]: maap tulisannya awut-awutan, coz dari kemarin dah ditagih buat nulis nih kelana :D
:sinta:
"Keindahan selalu hadir saat manusia berpikir positif"
BloG aKu & buKu
http://jendelakumenatapdunia. blogspot. com
BloG RaMe-RaMe
http://sinthionk.multiply. ; http://sinthionk.com rezaervani. com
YM : SINTHIONK
- 4b.
-
Re: [kelana] QurCiL eSKa di MaTa SinTa
Posted by: "novi_ningsih" novi_ningsih@yahoo.com novi_ningsih
Tue Dec 9, 2008 11:55 pm (PST)
:D
Es krim jadi momen yang menyenangkan dan memalukan, ah, tidaaak...
cukup kalian saja yang tahu, begitu nikmatnya es krim itu...
Tampaknya, jadi banyak rahasia, neh, hehe:D
makasi juga sinta...
dan lama ga ketemu "kembaran" upin dan ipin, hihihi
---
In sekolah-kehidupan@yahoogroups. , ukhti hazimahcom
<ukhtihazimah@...> wrote:
>
> -QurCiL eSKa di MaTa SinTa-
> PaGi IduL aDHa
>
> Takbir masih berkumandang memenuhi udara pagi. Udara dingin yang
begitu menggigit kulit. Aku bangun diiringi kernyitan dahi.
Aduuuhh...sakit betul nih badan, mengingat weekend kemarin harus
mendekam di kantor dalam jangka waktu yang cukup mengerikan [gak usah
dibayangin!**Emang sapa yang bayangin?? :|] Fiyuuuh...
>
> Rasanya ingin hati untuk terus meringkuk di tempat tidur, tapi satu
kewajiban harus segera ditunaikan. Yup! Wake up!! Semangat memang
harus ditarik-tarik dari balik tirai supaya gak ngumpet mulu.
>
> Hari ini satu momen eSKa akan segera di"launching", QURCIL. Momen
yang mampu memancing si semangat supaya nongol. Segera aku laksanakan
semua yang harus dilaksanakan, menyiapkan segala yang perlu disiapkan,
mengambil segala yang pantas diambil dan makan segala yang bisa
dimakan huehehehe... makan dulu euy daripada kelaparan.
>
> Sholat ied, kami [ela dan sinta] tunaikan di lokasi dekat kos.
Lokasi yang bisa dibilang seadanya, karena letaknya yang mengambil
lapangan parkir swalayan terdekat. Sholat berjalan cukup hikmat, dan
alhamdulillah berjalan lancar, walaupun sempat diisi tampang bengong
aku ma ela begitu mendengar sang pengkhotbah melancarkan khotbahnya
dengan bahasa sunda [jadi perlu belajar bahasa sunda gak yah? :-/]
>
> Kurang lebih jam 9-an, Pak Teha datang menjemput dan segera
melarikan mobilnya ke tempat eksekusi berdarah para kambing. Yeeee...!!
>
> PotoNG KambiNk
>
> Setelah melewati track yang cukup mengerikanjalan kecil [+ 2
meter-an], nanjak 45 derajat, sebelah jalan terjunan-tinggi. Hiks bisa
nyungsep tuh klo bannya meleng dikitmobil nyampe juga di puncak
dilengkapi dengan hembus nafas lega dari personil yang ada di
dalamnya. Mengerikan!
>
> Begitu turun dari mobil, senyuman para SK Jakarta menyambut
kedatangan kami, Mbak Nopi, Mbak Lia, Mas Galih dan Sang Ketua Qurcil,
Pak Hadian. Disusul kemudian Mbak Yana dan Mas Henru [ato Hendru
sih??] yang saat itu menikmati prosesi penyembelihan kambing.
>
> Untunglah kita yang baru datang masih mendapat "jatah" nonton
penyembelihan kambing yang terakhir. Lumayan bikin begidik saat liat
pisau tajam merobek leher si kambing. Satu pelajaran berharga---di
samping pelajaran kurban yang pastinya didapatkan---melihat sang
kambing menyambut sakaratul maut---dengan badan yang masih bergetar
dan darah terus meleleh dari lehernya---mampu membuat kepala berpikir
tentang satu momen perenggutan nyawa yang pasti di alami semua makhluk
hidup termasuk manusia *speechless* Manusia.. Mati. Pasti. Siap kah?
>
> Proses penyembelihan pun akhirnya tuntas dan ditutup dengan jamuan
gule nikmat dari sang Tuan rumah, Pak Mukhlis. Yummy!!
>
> HaDiaN FamiLy
>
> Tuntas dengan gule :D Perjalanan bersambung ke rumah adik ipar Pak
Hadian---yang sebelumnya mampir ke tempat pembayaran sapi duluw,
sambil dibarengi berfoto-foto ria di lokasi [teteup!]--- Sampai
lokasi, pemandangan khas Idul Adha kembali tersaji. Kalau tadi kambing
yang disembelih, mesjid di sebelah rumah tujuan akan melakukan prosesi
penyembelihan sapi. Huaaaaa...Kereeeeen!! coz saat sapi mw disembelih
terjadi tragedi perlawanan oleh si Sapi, berkali-kali dirobohkan,
berkali-kali itu pula dia berontak. Wew! Beneran seru :D. Sedikit
kesimpulan dari kepala si penulis: kayaknya nih sapi stress liat
temen-temen di depan matanya dah nangkring tanpa kepala
[Hiiiiiiiiiiiiiiiiiiii....]
>
> Udah...udah...momen nonton penyembelihan selesai. Segera kita
digiring [?] masuk ke rumah sodara Pak Hadian. Benar-benar keluarga
yang sangat bersahabat dan penuh senyum. Sedikit kesedihan tergambar
di momen hari ini. Ternyata Teh Teja [Hadian wife] masih dalam kondisi
terkapar di tempat tidur :( "Syafakillah ya Teh" ;) Semangat!! *mbak
nopi mode ON*
>
> "Ayoo...makan dulu," Sekali lagi tawaran makan diajukan pada kita.
Glek...haduuuh, muat gak ya nih perut. Melihat sang tamu menunjukkan
gelagat gak mau. Pak Hadian dengan sukses meng-iming-iming [bahasa
indonesianya apa yak?] ikan bilih ke Mbak Lia. Wow...iming-iming yang
otomatis menerbitkan senyum manis dan kesediaan Mbak Lia, sang FIBY
[Fans Ikan Bilih Yey!**maksaaaa!!] untuk makan, dan sukses diikuti
personil lainnya [bilang aja emang yang lain pengen juga!]
>
> Melihat jam yang sudah mendekati waktu sore, kami sepakat untuk
berpamitan dengan sang Tuan rumah. Sesi pamitan berjalan agak lama,
saat Naiba tak rela berpisah dengan abinya. Hiks...Diiringi tangisan
"perpisahan" Naiba dengan sang abi, kita melangkah meninggalkan Hadian
Family.
>
> "Maaf ya Naiba sayang...kita harus menculik Abimu, karena kita butuh
sopir untuk pulang [nah lo ^_^v]"
>
> SekoTaK esKriM
>
> Kotak yang begitu menggoda sudah terpampang di tengah lingkaran
manusia yang menampilkan wajah ngiler [hiperbolik mode ON]
Hmmm...nikmat kali penampakan eskrim walls ini.
>
> Di tengah-tengah kehebohan makan es krim, sebuah slogan muncul
begitu Mas Hendru [ato Henru sih? :D] menolak tawaran eskrim, "malu
mah gak kenyang" [wew...mantab!] ya kan? malu bikin kita gak dapet
rezeki yang sudah tampil di depan mata *pembenaran :P* Tapi ingat!!
Slogan yang satu ini juga memiliki efek samping buat yang kebablasan.
Efek samping: Malu-Maluin. So...mari kita habiskan es krimnyaaaaaa
[gak nyambuuuung!!!!]
>
> Persaudaraan dalam sekotak es krim. Yup! Itu yang terpatri di dalam
kepalaku setiap mengingat momen makan es krim rame-rame di rumah Pak
Hadian. "Es krim bikin stress hilang" celetuk salah seorang diantara
kita. Bisa jadi iya, tapi gak 100% benar. Suasana lah yang sangat
berpengaruh dengan tingkat kestress-an. Coba bayangin, bisakah es krim
menghilangkan stress saat kita memakannya di pinggir jurang?? Tambah
stress kan? [plis deh Sin ^_^v]. Well, suasana kekeluargaan membuat
segalanya menjadi menyenangkan, dan sekotak es krim adalah pelengkap
kesenangan hari ini. I luv this day ^_^
>
>
> NB: mbak nopi sayaaaaang...makasih ya bonekanyaaaaaaaaaa! !
Muach...muach...!!
> NB [lagi]: maap tulisannya awut-awutan, coz dari kemarin dah ditagih
buat nulis nih kelana :D
>
>
> :sinta:
>
> "Keindahan selalu hadir saat manusia berpikir positif"
> BloG aKu & buKu
> http://jendelakumenatapdunia. blogspot. com
> BloG RaMe-RaMe
> http://sinthionk.multiply. ; http://sinthionk.com rezaervani. com
> YM : SINTHIONK
>
- 4c.
-
Re: [kelana] QurCiL eSKa di MaTa SinTa
Posted by: "Lia Octavia" liaoctavia@gmail.com octavialia
Wed Dec 10, 2008 12:00 am (PST)
ehem... sepertinya banyak rahasia yang tidak terungkap saat qurcil kemarin
ya hehehe...
makan es krim memang menjadi salah satu momen yg tak terlupakan, bener ga,
mba novi? ^_^
makasih ya mba shinta utk segalanya. makanan di bandung memang enak-enak
semua ^_^
tulisan ini juga bisa dibaca di blog sk:
http://sekolahkehidupan.multiply. com
salam
Lia
On 12/10/08, novi_ningsih <novi_ningsih@yahoo.com > wrote:
>
> :D
>
> Es krim jadi momen yang menyenangkan dan memalukan, ah, tidaaak...
> cukup kalian saja yang tahu, begitu nikmatnya es krim itu...
>
> Tampaknya, jadi banyak rahasia, neh, hehe:D
>
> makasi juga sinta...
> dan lama ga ketemu "kembaran" upin dan ipin, hihihi
>
> ---
>
> In sekolah-kehidupan@yahoogroups. <sekolah-kehidupan%com 40yahoogroups. com>,
> ukhti hazimah
>
> <ukhtihazimah@...> wrote:
> >
> > -QurCiL eSKa di MaTa SinTa-
> > PaGi IduL aDHa
> >
> > Takbir masih berkumandang memenuhi udara pagi. Udara dingin yang
> begitu menggigit kulit. Aku bangun diiringi kernyitan dahi.
> Aduuuhh...sakit betul nih badan, mengingat weekend kemarin harus
> mendekam di kantor dalam jangka waktu yang cukup mengerikan [gak usah
> dibayangin!**Emang sapa yang bayangin?? :|] Fiyuuuh...
> >
> > Rasanya ingin hati untuk terus meringkuk di tempat tidur, tapi satu
> kewajiban harus segera ditunaikan. Yup! Wake up!! Semangat memang
> harus ditarik-tarik dari balik tirai supaya gak ngumpet mulu.
> >
> > Hari ini satu momen eSKa akan segera di"launching", QURCIL. Momen
> yang mampu memancing si semangat supaya nongol. Segera aku laksanakan
> semua yang harus dilaksanakan, menyiapkan segala yang perlu disiapkan,
> mengambil segala yang pantas diambil dan makan segala yang bisa
> dimakan huehehehe... makan dulu euy daripada kelaparan.
> >
> > Sholat ied, kami [ela dan sinta] tunaikan di lokasi dekat kos.
> Lokasi yang bisa dibilang seadanya, karena letaknya yang mengambil
> lapangan parkir swalayan terdekat. Sholat berjalan cukup hikmat, dan
> alhamdulillah berjalan lancar, walaupun sempat diisi tampang bengong
> aku ma ela begitu mendengar sang pengkhotbah melancarkan khotbahnya
> dengan bahasa sunda [jadi perlu belajar bahasa sunda gak yah? :-/]
> >
> > Kurang lebih jam 9-an, Pak Teha datang menjemput dan segera
> melarikan mobilnya ke tempat eksekusi berdarah para kambing. Yeeee...!!
> >
> > PotoNG KambiNk
> >
> > Setelah melewati track yang cukup mengerikan�jalan kecil [+ 2
> meter-an], nanjak 45 derajat, sebelah jalan terjunan-tinggi. Hiks�bisa
> nyungsep tuh klo bannya meleng dikit�mobil nyampe juga di puncak
> dilengkapi dengan hembus nafas lega dari personil yang ada di
> dalamnya. Mengerikan!
> >
> > Begitu turun dari mobil, senyuman para SK Jakarta menyambut
> kedatangan kami, Mbak Nopi, Mbak Lia, Mas Galih dan Sang Ketua Qurcil,
> Pak Hadian. Disusul kemudian Mbak Yana dan Mas Henru [ato Hendru
> sih??] yang saat itu menikmati prosesi penyembelihan kambing.
> >
> > Untunglah kita yang baru datang masih mendapat "jatah" nonton
> penyembelihan kambing yang terakhir. Lumayan bikin begidik saat liat
> pisau tajam merobek leher si kambing. Satu pelajaran berharga---di
> samping pelajaran kurban yang pastinya didapatkan---melihat sang
> kambing menyambut sakaratul maut---dengan badan yang masih bergetar
> dan darah terus meleleh dari lehernya---mampu membuat kepala berpikir
> tentang satu momen perenggutan nyawa yang pasti di alami semua makhluk
> hidup termasuk manusia *speechless* Manusia.. Mati. Pasti. Siap kah?
> >
> > Proses penyembelihan pun akhirnya tuntas dan ditutup dengan jamuan
> gule nikmat dari sang Tuan rumah, Pak Mukhlis. Yummy!!
> >
> > HaDiaN FamiLy
> >
> > Tuntas dengan gule :D Perjalanan bersambung ke rumah adik ipar Pak
> Hadian---yang sebelumnya mampir ke tempat pembayaran sapi duluw,
> sambil dibarengi berfoto-foto ria di lokasi [teteup!]--- Sampai
> lokasi, pemandangan khas Idul Adha kembali tersaji. Kalau tadi kambing
> yang disembelih, mesjid di sebelah rumah tujuan akan melakukan prosesi
> penyembelihan sapi. Huaaaaa...Kereeeeen!! coz saat sapi mw disembelih
> terjadi tragedi perlawanan oleh si Sapi, berkali-kali dirobohkan,
> berkali-kali itu pula dia berontak. Wew! Beneran seru :D. Sedikit
> kesimpulan dari kepala si penulis: kayaknya nih sapi stress liat
> temen-temen di depan matanya dah nangkring tanpa kepala
> [Hiiiiiiiiiiiiiiiiiiii....]
> >
> > Udah...udah...momen nonton penyembelihan selesai. Segera kita
> digiring [?] masuk ke rumah sodara Pak Hadian. Benar-benar keluarga
> yang sangat bersahabat dan penuh senyum. Sedikit kesedihan tergambar
> di momen hari ini. Ternyata Teh Teja [Hadian wife] masih dalam kondisi
> terkapar di tempat tidur :( "Syafakillah ya Teh" ;) Semangat!! *mbak
> nopi mode ON*
> >
> > "Ayoo...makan dulu," Sekali lagi tawaran makan diajukan pada kita.
> Glek...haduuuh, muat gak ya nih perut. Melihat sang tamu menunjukkan
> gelagat gak mau. Pak Hadian dengan sukses meng-iming-iming [bahasa
> indonesianya apa yak?] ikan bilih ke Mbak Lia. Wow...iming-iming yang
> otomatis menerbitkan senyum manis dan kesediaan Mbak Lia, sang FIBY
> [Fans Ikan Bilih Yey!**maksaaaa!!] untuk makan, dan sukses diikuti
> personil lainnya [bilang aja emang yang lain pengen juga!]
> >
> > Melihat jam yang sudah mendekati waktu sore, kami sepakat untuk
> berpamitan dengan sang Tuan rumah. Sesi pamitan berjalan agak lama,
> saat Naiba tak rela berpisah dengan abinya. Hiks...Diiringi tangisan
> "perpisahan" Naiba dengan sang abi, kita melangkah meninggalkan Hadian
> Family.
> >
> > "Maaf ya Naiba sayang...kita harus menculik Abimu, karena kita butuh
> sopir untuk pulang [nah lo ^_^v]"
> >
> > SekoTaK esKriM
> >
> > Kotak yang begitu menggoda sudah terpampang di tengah lingkaran
> manusia yang menampilkan wajah ngiler [hiperbolik mode ON]
> Hmmm...nikmat kali penampakan eskrim walls ini.
> >
> > Di tengah-tengah kehebohan makan es krim, sebuah slogan muncul
> begitu Mas Hendru [ato Henru sih? :D] menolak tawaran eskrim, "malu
> mah gak kenyang" [wew...mantab!] ya kan? malu bikin kita gak dapet
> rezeki yang sudah tampil di depan mata *pembenaran :P* Tapi ingat!!
> Slogan yang satu ini juga memiliki efek samping buat yang kebablasan.
> Efek samping: Malu-Maluin. So...mari kita habiskan es krimnyaaaaaa
> [gak nyambuuuung!!!!]
> >
> > Persaudaraan dalam sekotak es krim. Yup! Itu yang terpatri di dalam
> kepalaku setiap mengingat momen makan es krim rame-rame di rumah Pak
> Hadian. "Es krim bikin stress hilang" celetuk salah seorang diantara
> kita. Bisa jadi iya, tapi gak 100% benar. Suasana lah yang sangat
> berpengaruh dengan tingkat kestress-an. Coba bayangin, bisakah es krim
> menghilangkan stress saat kita memakannya di pinggir jurang?? Tambah
> stress kan? [plis deh Sin ^_^v]. Well, suasana kekeluargaan membuat
> segalanya menjadi menyenangkan, dan sekotak es krim adalah pelengkap
> kesenangan hari ini. I luv this day ^_^
> >
> >
> > NB: mbak nopi sayaaaaang...makasih ya bonekanyaaaaaaaaaa! !
> Muach...muach...!!
> > NB [lagi]: maap tulisannya awut-awutan, coz dari kemarin dah ditagih
> buat nulis nih kelana :D
> >
> >
> > :sinta:
> >
> > "Keindahan selalu hadir saat manusia berpikir positif"
> > BloG aKu & buKu
> > http://jendelakumenatapdunia. blogspot. com
> > BloG RaMe-RaMe
> > http://sinthionk.multiply. ; http://sinthionk.com rezaervani. com
> > YM : SINTHIONK
> >
>
>
>
- 4d.
-
Re: [kelana] QurCiL eSKa di MaTa SinTa
Posted by: "fil_ardy" fil_ardy@yahoo.com fil_ardy
Wed Dec 10, 2008 2:52 am (PST)
Huuh!
Sama aja, baca tulisan sinta, bikin saya laper
dan ngiler. Untuk depan laptop ada tissue passeo
sepak. Mayan, buat nyerep iler segambreng gara-gara
liputannya yang selalu kuliner minded.
Makin nyesel deh :(
DANI
--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups. , ukhti hazimahcom
<ukhtihazimah@...> wrote:
>
> -QurCiL eSKa di MaTa SinTa-
> PaGi IduL aDHa
>
> Takbir masih berkumandang memenuhi udara pagi. Udara dingin yang
begitu menggigit kulit. Aku bangun diiringi kernyitan dahi.
Aduuuhh...sakit betul nih badan, mengingat weekend kemarin harus
mendekam di kantor dalam jangka waktu yang cukup mengerikan [gak usah
dibayangin!**Emang sapa yang bayangin?? :|] Fiyuuuh...
- 4e.
-
Re: [kelana] QurCiL eSKa di MaTa SinTa
Posted by: "novi_ningsih" novi_ningsih@yahoo.com novi_ningsih
Wed Dec 10, 2008 2:53 am (PST)
KAng Dani, tunggu liputan dariku...
kayaknya bakal butuh tisu gulung 10 biji :D
hehehe...
--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups. , "fil_ardy" <fil_ardy@..com .> wrote:
>
> Huuh!
> Sama aja, baca tulisan sinta, bikin saya laper
> dan ngiler. Untuk depan laptop ada tissue passeo
> sepak. Mayan, buat nyerep iler segambreng gara-gara
> liputannya yang selalu kuliner minded.
>
> Makin nyesel deh :(
>
> DANI
>
> --- In sekolah-kehidupan@yahoogroups. , ukhti hazimahcom
> <ukhtihazimah@> wrote:
> >
> > -QurCiL eSKa di MaTa SinTa-
> > PaGi IduL aDHa
> >
> > Takbir masih berkumandang memenuhi udara pagi. Udara dingin yang
> begitu menggigit kulit. Aku bangun diiringi kernyitan dahi.
> Aduuuhh...sakit betul nih badan, mengingat weekend kemarin harus
> mendekam di kantor dalam jangka waktu yang cukup mengerikan [gak usah
> dibayangin!**Emang sapa yang bayangin?? :|] Fiyuuuh...
>
- 5a.
-
Re: (Kelana) KOST BARU. KOST MASA DEPANKU
Posted by: "listyarisanti" listyarisanti@yahoo.com listyarisanti
Tue Dec 9, 2008 11:34 pm (PST)
Sama seperti ka' Nope..
nyari kost-kostan emang gampang-gampang susah.
ada yang deket kampus, tapi jauh dari peradaban. Rental susah, warnet
jauh, warteg jarang (ketauan males masak! hehehe..)
ada yang lumayan bagus, tapi tempatnya membaur laki-laki dan perempuan
(hiyyyyy!!!!)
ada yang bagus, tapi mahalnya minta ampunnn...
Sampai akhirnya, saya mendapat kost yang sederhana namun nyaman (lahir
& batin). Tidak terlalu mahal dibandingkan dengan kost-kostan sekitar.
Pun ketika sudah 4 tahun lulus dari poltek, silaturahim aku dan ibu
kostnya tetap terjaga. Bukan hanya aku yg merasakan, tapi hampir
sebagian besar mantan penghuni kost yang lain (ya kan ka' Nop?)
*sambil ngedip-ngedipin sebelah mata.
ada satu curhat dari pemilik ibu kost tercinta, dia pun sebenarnya
harap-harap cemas ketika kedatangan calon penghuni baru.
"Duh Tya, buka kost itu ga gampang.. ibu sendiri suka deg-degan kalo
ada yang mo nyewa kamar, bukannya mo pilih-pilih orang dan sekedar
nyari uang, ibu harus menjaga keseluruhan anak-anak disini. Ibu harus
pikirin apakah anak ini bisa cocok dengan seluruh penghuni yang ada.
Apa anak ini bakal bertingkah aneh yang bisa mengganggu ketenangan
anak-anak yang lain"
*aneh tuh maksudnya bawa yang bukan muhrim masuk ke kamar,
petantang-petenteng blagu, ga bisa kompak ikut jaga kebersihan kostan,
dll.
Saya sendiri pernah temenin ibu "interview" calon penghuni baru
beberapa waktu yang lalu. "Sense" ibu kost ternyata sudah terasah jauh
lebih baik daripada saya, waktu saya bilang "no problem bu! diterima
ajah". Ibu tertunduk lesu, tidak setuju tapi akhirnya dengan berat
hati diterima juga. Selang seminggu setelah interview itu, anak itu
memang "bertingkah", tanpa banyak ba-bi-bu, ibu meminta dengan hormat
untuk segera hengkang dari kostan.
Bisa dibayangkan, setiap tahun ada penerimaan mahasiswa baru, setiap
tahun pula ada pergantian penghuni. Kalau dipikir-pikir, memang tak
mudah dalam mengelola kos-kostan. Tentunya mereka harus berjiwa besar
dalam menghadapi para calon penghuni kost baru (apalagi kalau orangtua
dari anak-anak kost tersebut banyak maunya).
Mungkin mudah saja bagi para pemilik kost yang "asal" memilih orang
yang akan menempati rumahnya. Asal bayaran ok, urusan selesai. Nah,
itu tuh yang sering kita saksikan di televisi, bagaimana
penggerebekkan pesta narkoba, seks bebas, termasuk mutilasi seringkali
terjadi pada tempat-tempat kost yang gak dikelola dengan baik.
Kalo menurut saya nyari kost itu kayak nyari rumah kedua atau orangtua
angkat. Rumah atau kostan cuman fisik, tapi lebih dari itu, bagaimana
penerimaan lingkungan di dalamnya yang bisa bikin nyaman, dan
terlindungi (mungkin karena cewek merasa butuh dilindungi kali ya?
idihhh apaan sih gue?). Nyari kost bagi saya itu kayak lebih seperti
nyari emak angkat, bukannya kayak nyari istri.. (Yaaa iyalahhh...
emang gue cewek apaan? huahahaa..)
Well, semoga mas Fiyan bisa comfort dengan ist.. ehhh kostan yang
baru.. huehehee...
- 5b.
-
Re: (Kelana) KOST BARU. KOST MASA DEPANKU
Posted by: "novi_ningsih" novi_ningsih@yahoo.com novi_ningsih
Wed Dec 10, 2008 12:00 am (PST)
Halo temen kosku tercinta ;)
walau kita cuma bareng bentaran... tapi aku masih suka numpang naro
dagangan di kosmu :D
hihihih...
Untung aja, ya ummi mau menerima kita di kosannya yang selalu
dirindukan... hehehe
Ga pake acara interview panjang-panjang, hmm, mungkin karena aku
(gatahu kamu :p) yang bertampang lugu :D tak perlu menjalani
interview, tapi langsung diterima di kos yang enak itu.
Setiap bulan puasa, dan waktu berbuka, selalu terhidang menu bukaan
yang yummy :D
Btw, ya... inget ga kalau ummi nitip bunga waktu kita raker :D
hihihi...
Selamat cari kos, buat yang mau ngekos...
ngekos itu seru lho, kayak cerita kos dodolnya mba Dedew, hehehe
(*mba dedew, aku promosiin, nih :P)
--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups. , "listyarisanti"com
<listyarisanti@...> wrote:
>
> Sama seperti ka' Nope..
> nyari kost-kostan emang gampang-gampang susah.
>
> ada yang deket kampus, tapi jauh dari peradaban. Rental susah, warnet
> jauh, warteg jarang (ketauan males masak! hehehe..)
> ada yang lumayan bagus, tapi tempatnya membaur laki-laki dan perempuan
> (hiyyyyy!!!!)
> ada yang bagus, tapi mahalnya minta ampunnn...
>
> Sampai akhirnya, saya mendapat kost yang sederhana namun nyaman (lahir
> & batin). Tidak terlalu mahal dibandingkan dengan kost-kostan sekitar.
> Pun ketika sudah 4 tahun lulus dari poltek, silaturahim aku dan ibu
> kostnya tetap terjaga. Bukan hanya aku yg merasakan, tapi hampir
> sebagian besar mantan penghuni kost yang lain (ya kan ka' Nop?)
> *sambil ngedip-ngedipin sebelah mata.
>
> ada satu curhat dari pemilik ibu kost tercinta, dia pun sebenarnya
> harap-harap cemas ketika kedatangan calon penghuni baru.
> "Duh Tya, buka kost itu ga gampang.. ibu sendiri suka deg-degan kalo
> ada yang mo nyewa kamar, bukannya mo pilih-pilih orang dan sekedar
> nyari uang, ibu harus menjaga keseluruhan anak-anak disini. Ibu harus
> pikirin apakah anak ini bisa cocok dengan seluruh penghuni yang ada.
> Apa anak ini bakal bertingkah aneh yang bisa mengganggu ketenangan
> anak-anak yang lain"
>
> *aneh tuh maksudnya bawa yang bukan muhrim masuk ke kamar,
> petantang-petenteng blagu, ga bisa kompak ikut jaga kebersihan kostan,
> dll.
> Saya sendiri pernah temenin ibu "interview" calon penghuni baru
> beberapa waktu yang lalu. "Sense" ibu kost ternyata sudah terasah jauh
> lebih baik daripada saya, waktu saya bilang "no problem bu! diterima
> ajah". Ibu tertunduk lesu, tidak setuju tapi akhirnya dengan berat
> hati diterima juga. Selang seminggu setelah interview itu, anak itu
> memang "bertingkah", tanpa banyak ba-bi-bu, ibu meminta dengan hormat
> untuk segera hengkang dari kostan.
>
> Bisa dibayangkan, setiap tahun ada penerimaan mahasiswa baru, setiap
> tahun pula ada pergantian penghuni. Kalau dipikir-pikir, memang tak
> mudah dalam mengelola kos-kostan. Tentunya mereka harus berjiwa besar
> dalam menghadapi para calon penghuni kost baru (apalagi kalau orangtua
> dari anak-anak kost tersebut banyak maunya).
>
> Mungkin mudah saja bagi para pemilik kost yang "asal" memilih orang
> yang akan menempati rumahnya. Asal bayaran ok, urusan selesai. Nah,
> itu tuh yang sering kita saksikan di televisi, bagaimana
> penggerebekkan pesta narkoba, seks bebas, termasuk mutilasi seringkali
> terjadi pada tempat-tempat kost yang gak dikelola dengan baik.
>
> Kalo menurut saya nyari kost itu kayak nyari rumah kedua atau orangtua
> angkat. Rumah atau kostan cuman fisik, tapi lebih dari itu, bagaimana
> penerimaan lingkungan di dalamnya yang bisa bikin nyaman, dan
> terlindungi (mungkin karena cewek merasa butuh dilindungi kali ya?
> idihhh apaan sih gue?). Nyari kost bagi saya itu kayak lebih seperti
> nyari emak angkat, bukannya kayak nyari istri.. (Yaaa iyalahhh...
> emang gue cewek apaan? huahahaa..)
>
>
> Well, semoga mas Fiyan bisa comfort dengan ist.. ehhh kostan yang
> baru.. huehehee...
>
- 5c.
-
Re: (Kelana) KOST BARU. KOST MASA DEPANKU
Posted by: "Lia Octavia" liaoctavia@gmail.com octavialia
Wed Dec 10, 2008 12:05 am (PST)
ehm.. ngomong-ngomong tentang kost, aku jadi inget kisah-kisah seputar ibu
kost ya.. ^_^
mungkin mas fiyan, mba novi, mba sinta, mba tya bersedia berbagi kisah-kisah
seputar ibu kost dengan kita semua? ^_^
salam
Lia
On 12/10/08, novi_ningsih <novi_ningsih@yahoo.com > wrote:
>
> Halo temen kosku tercinta ;)
> walau kita cuma bareng bentaran... tapi aku masih suka numpang naro
> dagangan di kosmu :D
>
> hihihih...
>
> Untung aja, ya ummi mau menerima kita di kosannya yang selalu
> dirindukan... hehehe
> Ga pake acara interview panjang-panjang, hmm, mungkin karena aku
> (gatahu kamu :p) yang bertampang lugu :D tak perlu menjalani
> interview, tapi langsung diterima di kos yang enak itu.
>
> Setiap bulan puasa, dan waktu berbuka, selalu terhidang menu bukaan
> yang yummy :D
>
> Btw, ya... inget ga kalau ummi nitip bunga waktu kita raker :D
>
> hihihi...
>
> Selamat cari kos, buat yang mau ngekos...
> ngekos itu seru lho, kayak cerita kos dodolnya mba Dedew, hehehe
> (*mba dedew, aku promosiin, nih :P)
>
> --- In sekolah-kehidupan@yahoogroups. <sekolah-kehidupan%com 40yahoogroups. com>,
> "listyarisanti"
>
> <listyarisanti@...> wrote:
> >
> > Sama seperti ka' Nope..
> > nyari kost-kostan emang gampang-gampang susah.
> >
> > ada yang deket kampus, tapi jauh dari peradaban. Rental susah, warnet
> > jauh, warteg jarang (ketauan males masak! hehehe..)
> > ada yang lumayan bagus, tapi tempatnya membaur laki-laki dan perempuan
> > (hiyyyyy!!!!)
> > ada yang bagus, tapi mahalnya minta ampunnn...
> >
> > Sampai akhirnya, saya mendapat kost yang sederhana namun nyaman (lahir
> > & batin). Tidak terlalu mahal dibandingkan dengan kost-kostan sekitar.
> > Pun ketika sudah 4 tahun lulus dari poltek, silaturahim aku dan ibu
> > kostnya tetap terjaga. Bukan hanya aku yg merasakan, tapi hampir
> > sebagian besar mantan penghuni kost yang lain (ya kan ka' Nop?)
> > *sambil ngedip-ngedipin sebelah mata.
> >
> > ada satu curhat dari pemilik ibu kost tercinta, dia pun sebenarnya
> > harap-harap cemas ketika kedatangan calon penghuni baru.
> > "Duh Tya, buka kost itu ga gampang.. ibu sendiri suka deg-degan kalo
> > ada yang mo nyewa kamar, bukannya mo pilih-pilih orang dan sekedar
> > nyari uang, ibu harus menjaga keseluruhan anak-anak disini. Ibu harus
> > pikirin apakah anak ini bisa cocok dengan seluruh penghuni yang ada.
> > Apa anak ini bakal bertingkah aneh yang bisa mengganggu ketenangan
> > anak-anak yang lain"
> >
> > *aneh tuh maksudnya bawa yang bukan muhrim masuk ke kamar,
> > petantang-petenteng blagu, ga bisa kompak ikut jaga kebersihan kostan,
> > dll.
> > Saya sendiri pernah temenin ibu "interview" calon penghuni baru
> > beberapa waktu yang lalu. "Sense" ibu kost ternyata sudah terasah jauh
> > lebih baik daripada saya, waktu saya bilang "no problem bu! diterima
> > ajah". Ibu tertunduk lesu, tidak setuju tapi akhirnya dengan berat
> > hati diterima juga. Selang seminggu setelah interview itu, anak itu
> > memang "bertingkah", tanpa banyak ba-bi-bu, ibu meminta dengan hormat
> > untuk segera hengkang dari kostan.
> >
> > Bisa dibayangkan, setiap tahun ada penerimaan mahasiswa baru, setiap
> > tahun pula ada pergantian penghuni. Kalau dipikir-pikir, memang tak
> > mudah dalam mengelola kos-kostan. Tentunya mereka harus berjiwa besar
> > dalam menghadapi para calon penghuni kost baru (apalagi kalau orangtua
> > dari anak-anak kost tersebut banyak maunya).
> >
> > Mungkin mudah saja bagi para pemilik kost yang "asal" memilih orang
> > yang akan menempati rumahnya. Asal bayaran ok, urusan selesai. Nah,
> > itu tuh yang sering kita saksikan di televisi, bagaimana
> > penggerebekkan pesta narkoba, seks bebas, termasuk mutilasi seringkali
> > terjadi pada tempat-tempat kost yang gak dikelola dengan baik.
> >
> > Kalo menurut saya nyari kost itu kayak nyari rumah kedua atau orangtua
> > angkat. Rumah atau kostan cuman fisik, tapi lebih dari itu, bagaimana
> > penerimaan lingkungan di dalamnya yang bisa bikin nyaman, dan
> > terlindungi (mungkin karena cewek merasa butuh dilindungi kali ya?
> > idihhh apaan sih gue?). Nyari kost bagi saya itu kayak lebih seperti
> > nyari emak angkat, bukannya kayak nyari istri.. (Yaaa iyalahhh...
> > emang gue cewek apaan? huahahaa..)
> >
> >
> > Well, semoga mas Fiyan bisa comfort dengan ist.. ehhh kostan yang
> > baru.. huehehee...
> >
>
>
>
- 5d.
-
Re: (Kelana) KOST BARU. KOST MASA DEPANKU
Posted by: "novi_ningsih" novi_ningsih@yahoo.com novi_ningsih
Wed Dec 10, 2008 12:08 am (PST)
Tenang-tenang mbak lia
tunggu saja akan segera launching ;)
harap bersabar
dan buat teman-teman Eska, tunggu kejutan dari kami, halah...
:D
Diharapkan juga partisipasinya, yo...
Semangaaaaaaaat
*aaaarg, setelah terlepas dari deadline....
--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups. , "Lia Octavia"com
<liaoctavia@...> wrote:
>
> ehm.. ngomong-ngomong tentang kost, aku jadi inget kisah-kisah
seputar ibu
> kost ya.. ^_^
> mungkin mas fiyan, mba novi, mba sinta, mba tya bersedia berbagi
kisah-kisah
> seputar ibu kost dengan kita semua? ^_^
>
> salam
> Lia
>
> On 12/10/08, novi_ningsih <novi_ningsih@...> wrote:
> >
> > Halo temen kosku tercinta ;)
> > walau kita cuma bareng bentaran... tapi aku masih suka numpang naro
> > dagangan di kosmu :D
> >
> > hihihih...
> >
> > Untung aja, ya ummi mau menerima kita di kosannya yang selalu
> > dirindukan... hehehe
> > Ga pake acara interview panjang-panjang, hmm, mungkin karena aku
> > (gatahu kamu :p) yang bertampang lugu :D tak perlu menjalani
> > interview, tapi langsung diterima di kos yang enak itu.
> >
> > Setiap bulan puasa, dan waktu berbuka, selalu terhidang menu bukaan
> > yang yummy :D
> >
> > Btw, ya... inget ga kalau ummi nitip bunga waktu kita raker :D
> >
> > hihihi...
> >
> > Selamat cari kos, buat yang mau ngekos...
> > ngekos itu seru lho, kayak cerita kos dodolnya mba Dedew, hehehe
> > (*mba dedew, aku promosiin, nih :P)
> >
> > --- In
sekolah-kehidupan@yahoogroups. <sekolah-kehidupan%com 40yahoogroups. com>,
> > "listyarisanti"
> >
> > <listyarisanti@> wrote:
> > >
> > > Sama seperti ka' Nope..
> > > nyari kost-kostan emang gampang-gampang susah.
> > >
> > > ada yang deket kampus, tapi jauh dari peradaban. Rental susah,
warnet
> > > jauh, warteg jarang (ketauan males masak! hehehe..)
> > > ada yang lumayan bagus, tapi tempatnya membaur laki-laki dan
perempuan
> > > (hiyyyyy!!!!)
> > > ada yang bagus, tapi mahalnya minta ampunnn...
> > >
> > > Sampai akhirnya, saya mendapat kost yang sederhana namun nyaman
(lahir
> > > & batin). Tidak terlalu mahal dibandingkan dengan kost-kostan
sekitar.
> > > Pun ketika sudah 4 tahun lulus dari poltek, silaturahim aku dan ibu
> > > kostnya tetap terjaga. Bukan hanya aku yg merasakan, tapi hampir
> > > sebagian besar mantan penghuni kost yang lain (ya kan ka' Nop?)
> > > *sambil ngedip-ngedipin sebelah mata.
> > >
> > > ada satu curhat dari pemilik ibu kost tercinta, dia pun sebenarnya
> > > harap-harap cemas ketika kedatangan calon penghuni baru.
> > > "Duh Tya, buka kost itu ga gampang.. ibu sendiri suka deg-degan kalo
> > > ada yang mo nyewa kamar, bukannya mo pilih-pilih orang dan sekedar
> > > nyari uang, ibu harus menjaga keseluruhan anak-anak disini. Ibu
harus
> > > pikirin apakah anak ini bisa cocok dengan seluruh penghuni yang ada.
> > > Apa anak ini bakal bertingkah aneh yang bisa mengganggu ketenangan
> > > anak-anak yang lain"
> > >
> > > *aneh tuh maksudnya bawa yang bukan muhrim masuk ke kamar,
> > > petantang-petenteng blagu, ga bisa kompak ikut jaga kebersihan
kostan,
> > > dll.
> > > Saya sendiri pernah temenin ibu "interview" calon penghuni baru
> > > beberapa waktu yang lalu. "Sense" ibu kost ternyata sudah
terasah jauh
> > > lebih baik daripada saya, waktu saya bilang "no problem bu! diterima
> > > ajah". Ibu tertunduk lesu, tidak setuju tapi akhirnya dengan berat
> > > hati diterima juga. Selang seminggu setelah interview itu, anak itu
> > > memang "bertingkah", tanpa banyak ba-bi-bu, ibu meminta dengan
hormat
> > > untuk segera hengkang dari kostan.
> > >
> > > Bisa dibayangkan, setiap tahun ada penerimaan mahasiswa baru, setiap
> > > tahun pula ada pergantian penghuni. Kalau dipikir-pikir, memang tak
> > > mudah dalam mengelola kos-kostan. Tentunya mereka harus berjiwa
besar
> > > dalam menghadapi para calon penghuni kost baru (apalagi kalau
orangtua
> > > dari anak-anak kost tersebut banyak maunya).
> > >
> > > Mungkin mudah saja bagi para pemilik kost yang "asal" memilih orang
> > > yang akan menempati rumahnya. Asal bayaran ok, urusan selesai. Nah,
> > > itu tuh yang sering kita saksikan di televisi, bagaimana
> > > penggerebekkan pesta narkoba, seks bebas, termasuk mutilasi
seringkali
> > > terjadi pada tempat-tempat kost yang gak dikelola dengan baik.
> > >
> > > Kalo menurut saya nyari kost itu kayak nyari rumah kedua atau
orangtua
> > > angkat. Rumah atau kostan cuman fisik, tapi lebih dari itu,
bagaimana
> > > penerimaan lingkungan di dalamnya yang bisa bikin nyaman, dan
> > > terlindungi (mungkin karena cewek merasa butuh dilindungi kali ya?
> > > idihhh apaan sih gue?). Nyari kost bagi saya itu kayak lebih seperti
> > > nyari emak angkat, bukannya kayak nyari istri.. (Yaaa iyalahhh...
> > > emang gue cewek apaan? huahahaa..)
> > >
> > >
> > > Well, semoga mas Fiyan bisa comfort dengan ist.. ehhh kostan yang
> > > baru.. huehehee...
> > >
> >
> >
> >
>
- 5e.
-
Re: (Kelana) KOST BARU. KOST MASA DEPANKU
Posted by: "ukhti hazimah" ukhtihazimah@yahoo.com ukhtihazimah
Wed Dec 10, 2008 1:19 am (PST)
hmmm...ide yang menarik mbak Lia. Moga aja bisa direalisasikan secepatnya :D
:sinta:
"Keindahan selalu hadir saat manusia berpikir positif"
BloG aKu & buKu
http://jendelakumenatapdunia. blogspot. com
BloG RaMe-RaMe
http://sinthionk.multiply. ; http://sinthionk.com rezaervani. com
YM : SINTHIONK
_____________________ _________ __
From: Lia Octavia <liaoctavia@gmail.com >
To: sekolah-kehidupan@yahoogroups. com
Sent: Wednesday, December 10, 2008 3:05:52 PM
Subject: [sekolah-kehidupan] Re: (Kelana) KOST BARU. KOST MASA DEPANKU
ehm.. ngomong-ngomong tentang kost, aku jadi inget kisah-kisah seputar ibu kost ya.. ^_^
mungkin mas fiyan, mba novi, mba sinta, mba tya bersedia berbagi kisah-kisah seputar ibu kost dengan kita semua? ^_^
salam
Lia
- 6.
-
Re: [kelana] QurCiL eSKa di MaTa SinTa >>> Mbak Lia
Posted by: "ukhti hazimah" ukhtihazimah@yahoo.com ukhtihazimah
Wed Dec 10, 2008 1:25 am (PST)
hehehe...klo gitu sering-sering dateng ke Bandung mbak, coz SK Bandung paling hobi kuliner...maklum ketuanya yang gak kurus [baca: gemuk :P] selalu membawa aura, "Ayo Makan...Makan!!" ^_^v
:sinta:
"Keindahan selalu hadir saat manusia berpikir positif"
BloG aKu & buKu
http://jendelakumenatapdunia. blogspot. com
BloG RaMe-RaMe
http://sinthionk.multiply. ; http://sinthionk.com rezaervani. com
YM : SINTHIONK
_____________________ _________ __
From: Lia Octavia <liaoctavia@gmail.com >
To: sekolah-kehidupan@yahoogroups. com
Sent: Wednesday, December 10, 2008 3:00:26 PM
Subject: [sekolah-kehidupan] Re: [kelana] QurCiL eSKa di MaTa SinTa
ehem... sepertinya banyak rahasia yang tidak terungkap saat qurcil kemarin ya hehehe...
makan es krim memang menjadi salah satu momen yg tak terlupakan, bener ga, mba novi? ^_^
makasih ya mba shinta utk segalanya. makanan di bandung memang enak-enak semua ^_^
tulisan ini juga bisa dibaca di blog sk: http://sekolahkehid upan.multiply. com
salam
Lia
- 7.
-
Re: [kelana] QurCiL eSKa di MaTa SinTa>>>Mbak nopi
Posted by: "ukhti hazimah" ukhtihazimah@yahoo.com ukhtihazimah
Wed Dec 10, 2008 1:38 am (PST)
hihihihi...dirahasiakan, klo ada yang bocorin aku bantuin gempur tuh orang :P
gimana klo kita bikin upin ipin versi cewek, umin imin*maksa abis!!*
:sinta:
"Keindahan selalu hadir saat manusia berpikir positif"
BloG aKu & buKu
http://jendelakumenatapdunia. blogspot. com
BloG RaMe-RaMe
http://sinthionk.multiply. ; http://sinthionk.com rezaervani. com
YM : SINTHIONK
_____________________ _________ __
From: novi_ningsih <novi_ningsih@yahoo.com >
To: sekolah-kehidupan@yahoogroups. com
Sent: Wednesday, December 10, 2008 2:55:40 PM
Subject: [sekolah-kehidupan] Re: [kelana] QurCiL eSKa di MaTa SinTa
:D
Es krim jadi momen yang menyenangkan dan memalukan, ah, tidaaak...
cukup kalian saja yang tahu, begitu nikmatnya es krim itu...
Tampaknya, jadi banyak rahasia, neh, hehe:D
makasi juga sinta...
dan lama ga ketemu "kembaran" upin dan ipin, hihihi
- 8a.
-
[catcil] Re: IBADAH DAN SAMPAHNYA
Posted by: "listyarisanti" listyarisanti@yahoo.com listyarisanti
Wed Dec 10, 2008 1:45 am (PST)
Iya dek, ironis sekali ya..
Disaat kita gembira ria bersalaman dan bermaaf-maafan, para pemulung
(entah dipaksa atau tidak), harus "cukup gembira" dengan memungut
banjir koran.. yahh, walaupun di media di sebutkan mereka juga meraup
untung lumayan besar dari sampah ini, cuman tetap aja rasanya miris...
Kalau tahun depan kita masih diberi kesempatan shalat bareng, kita
pungutin koran bekas yukk.. kita berdua aja yang keliling lapangan
atau yaaa.. setidaknya beberapa shaf dari tempat kita shalat lahh..
Semoga dengan aksi tersebut, akan semakin banyak yang mau ikutan
ngumpulin koran bekas. Jadi, selain membangun wacana penyadaran, kita
juga harus ada memberikan teladan dengan melakukan aksi kongkritnya
gethoo lhooo..
Ayo, take action! Sudah saatnya membuang "rasa malu" dalam membiasakan
kebiasan yang baik..
berani???
*btw, kalo posting tulisan dikasih label ya Nka.. misalnya [catcil],
[mimbar], [canda], dst. Udah aku save di kompi kok, ntar cek di folder
my document, tentang aturan penulisan di SK.. sayang kan kalo banyak
yang gak aware dengan tulisan bagus seperti ini hanya karena tidak
ber-label. Keep writing dek...
- 9a.
-
Re: (catcil) Kasih Anak untuk Sebuah Cinta
Posted by: "listyarisanti" listyarisanti@yahoo.com listyarisanti
Wed Dec 10, 2008 2:13 am (PST)
Subhanallah..
Semoga ALLAH melindungi mereka..
cerita ini menjadi catatan yang amat berharga, mengasah hati
ditengah-tengah gemerlapnya dunia dan "monster-monster kapitalis"
Huahhh, jadi inget pernah dalam satu minggu, saya sampe tiga kali
ngelewatin (bahkan ga sengaja ngelangkahin) anak-anak yang tidur pulas
di jalanan, entah kecapean membantu orangtua, entah memang tak punya
rumah..
Sedihnya..ga bisa berbuat apa-apa..
- 10.
-
(Sajak) Lima Tanda Mata
Posted by: "Arrizki Abidin" arrizki_abidin@yahoo.com arrizki_abidin
Wed Dec 10, 2008 2:21 am (PST)
�LIMA TANDA MATA�
�
Pernah sekali ku jumpa dalam taman
tak berbunga. Hiasannya tampak begitu luar biasa. Tidak hanya ketika dipandang,
tapi saat di jejaki seribu langkah tanpa alas yang berbagi bilang ditiap selang
hijau tua. Kerahnya bukan untuk pajangan. Hidangan yang disajikan juga bukan
sekedar cari muka. Itu juga yang hinggap dan kini menetap dihatinya. Sebuah
prosa bercerita lima langkah, lima
benua, lima rasa, hingga yang tak kalah
menariknya, lima
tanda mata.
�
Pernah lihat gudang tua? Banyak
debu. Dekat sangkar burung bisu. Setahun yang lalu aku melewatinya. Sang burung
bilang ia tak suka kesunyian dalam keramaian.
�
Filosofi itu falsafah berupa
gradien yang biasa melicinkan klise.
�
Dua pria dan dua wanita berbincang.
Kesan ungkap kata-kata hanya dua manusia dengan pengalaman. Hadir menutup dua
lagi yang berbunyi pelan, sebuah siulan iring-iringan. Lepas yang satu berujar,
yang satu berujar, yang dua kembali tergerak untuk berdiam.
�
�Sudah bosan jauh dari dulu. Tapi
dulu itu dulu. Sekarang hanya pelengkap yang tak cukup gunjing segala kurang
masa lalu. Bagaimana kalau burung diluar sangkar tak kembali? Maka takkan ada
lagi yang bisu.�
�
Didepan, aku hanya menatap tanya-tanya
kapan mereka berhenti bicara. Ulasan tawa mereka hujani air yang jatuh
rintik-rintik. Gerimis sekarang muncul tanpa mendung. Begitulah tawa mereka ada
tanpa senda gurau dan lelucon berarti. Kelucuan hanya angan-angan berdiri
sendiri diatas khayal bertinta bening. Gersang. Basahkan saja kekeringan!
�
Taman tak
berbunga dan sangkar burung bisu. Dan belum ku temukan yang satu. Belum. Lima langkah berikan
langkah keenam menuju yang gelap. Lima
benua cuma jadi peta. Mana mungkin lima
rasa timbul membumbung tinggi? Kalau pertanyaannya hanya mencari yang timbul,
yang tenggelamlah jadi tanda mata.
�
Lima.
- 11a.
-
(Ruang Baca) Maryamah Karpov dari Tetralogi Laskar Pelangi
Posted by: "magnifico_99" magnifico_99@yahoo.co.id magnifico_99
Wed Dec 10, 2008 4:22 am (PST)
Sebagian kita pasti tahu Andre Hirata, ya minimal pernah denger lah
nama itu. Ia terkenal dengan tetralogi Laskar Pelangi-nya yang semakin
booming setelah kemunculan filmnya "Laskar Pelangi" yang diangkat dari
kisah novel itu sendiri. Film Laskar Pelangi yang mengisahkan 12 anak
dalam perjuangannya menuntut ilmu kini telah ditonton oleh 4,2 Juta
orang. Sejak awal pemutarannya tanggal 25 September 2008, film ini
memang diramalkan akan menjadi salah satu film terlaris (sumber:
http://www.kompas.com/read/ ).xml/2008/ 11/22/11125562/ Laskar.Pelangi
Bahkan sampai hari ini, film ini juga masih diputar di bebepa bioskop
di Bandung.
Yang unik lagi, buku ke Empat yang berjudul : Maryamah Karpov.
Meskipun buku itu baru dilounching November lalu, ia telah cetak ulang
sebanyak dua kali dalam bulan yang sama. Bahkan saat terbit perdana
Novel ini terjual sebanyak 30 eksemplar tiap jamnya. Jutaan
penggemarnya jadi penasaran gara-gara penerbit telah mencantumkan
sampulnya pada buku-buku terdahulu. Sebuah manajemen pemasaran yang
cukup unik. Dan saya termasuk salah satu "korban"nya.
Saya cukup penasaran dengan novel itu, karena ingin tahu seperti apa
sebenarnya ending dari cerita yang diangkat oleh Andre. Semakin
penasaran lagi karena selama novel itu "semedi" menunggu terbit,
sangat sedikit sekali klub-klub sastra atau majalah sastra yang
membahas tentang buku tersebut. Ya maksud saya minimal bocoran
ceritanya lah. Bahkan milis yang saya ikuti pun ga pernah membahas
tentang novel tersebut.
Senang juga saat November lalu seorang temen di milis kontak saya dan
dia cerita kalo Novel Maryamah Karpov dah dilounching di Bali dan
lebih seneng lagi dia bilang saya dah di inden-kan satu oleh dia. Wah
senengnya, bakal dapet buku perdana, gratis lagi. Gumam saya waktu
itu. Tapi belakangan agak "kuciwa", indennya batal karena satu dan
lain hal. Orang Jawa bilang "gelo"(nyesel_red). Yah, ga jadi dapet
buku perdana. Tapi saat itu saya yakin bahwa kalo rejeki ya ga lari.
Alloh pasti akan menggantinya dengan jalan yang lain. Kan rejeki itu
Alloh yang kasih dan terkadang dari arah yang tak pernah kita sangka.
Ahad, sepulang buka puasa di Es teller 77 keponakan ngajak mampir ke
Salemba. Lihat-lihat buku Om. Tapi saya jawab lagi ga ada budget buat
beli buku, emang bulan ini lagi banyak pengeluaran lain. Meski agak
males saya ikuti permintaan dia untuk mampir ke Salemba. Sehabis
keponakan saya yang SD menyabet satu komik Avatar kesukaannya, kami
pun langsung keluar untuk pulang. Pas jalan di depan toko, keponakan
saya menunjuk sebuah Novel yang ter-display di etalase depan. Om itu
kan Maryamah Karpov. Huwa...mau banget. Bisik saya. Langsung saya
berbalik kembali menuju kedalam toko.
Wah sayang uang pas-pasan. Melihat gelagat saya celingukan
ngubek-ngubek saku dan dompet, keponakan saya yang SMA menyodorkan
uang 100 ribuan selembar. Ini uang sisa order kaos kemarin kata dia.
Oia saya lupa kalo dia masih megang uang saya waktu kirim kaos kemaren
dari Bandung. Subhanalloh pas banget. Pas lagi pengin punya novel, pas
lagi ga ada budget, eh pas juga ada yang ngasih duit pelunasan. Ah
kalo rejeki ga akan lari...
Kini novel setebal 504 halaman isi itu menjadi temen keseharian saya
mengisi waktu luang sejak dua hari lalu. Menemani perjalanan saya
Pekalongan-Bandung kemaren. Bahkan bakal jadi temen yang asyik saat
nyantai sore hari di teras Masjid Salman. Mungkin bisa 2 pekan saya
baru selesai baca. Maklum, kecepatan baca saya sekarang menurun,
banyak faktor lah. Jadi dari 73 Mozaik yang diceritakan saya baru baca
Mozaik pertama,...he...he...kasihan dah gue, kapan bisa selesai?
Padahal yang ngantri mo minjam dah ada.
" Jika dulu aku tak menegakkan sumpah untuk sekolah setinggi-tingginya
demi martabat ayahku, aku dapat melihat diriku dengan terang sore ini:
sedang berdiri dengan tubuh hitam kumal, yang kelihatan hanya mataku,
memegang sekop menghadapi gunungan timah, mengumpulkan napas, menghela
tenaga, mencedokinya dari pukul depalan pagi sampai magrib,
menggantikan tugas ayahku, yang dulu menggantikan tugas ayahnya. Aku
menolak semua itu! Aku menolak perlakuan buruk nasib kepada ayahku dan
kepada kaumku. Kini Tuhan telah memeluk mimpiku. Atas nama harkat
kaumku, martabat ayahku, kurasakan dalam aliran darahku saat nasib
membuktikan sifatnya yang hakiki bahwa ia akan memihak kepada para
pemberani."
keberanian dan keteguhan hati telah membawa ikal pada banyak tempat
dan peristiwa. Sudut-sudut dunia telah dikunjungi demi menemukan A
Ling. Apapun Ikal lakukan demi perempuan itu. Keberaniannya ditantang
ketika tanda-tanda keberadaan A Ling tampak. Dia tetap mencari, meski
tanda-tanda itu samar. Dapatkah keduanya bertemu kembali?
Kedua paragrah diatas saya kutip dari sampul belakang Novel Maryamah
Karpov. Novel ini menceritakan semua hal tentang Laskar Pelangi, A
Ling, Arai, Lintang, dan beberapa tokoh dalam cerita sebelumnya. Tetap
dengan sihir kata-katanya, Anda akan dibawa Andrea pada kisah yang
menakjubkan sekaligus mengharukan (kutipan sampul belakang). Oia,
sebagai tambahan Informasi, harga Novel ini 79.000 rupiah dan tersedia
di berbagai toko buku ternama seperti Gunung Agung, Toga Mas,
Gramed,dll. Ga tahu di Palasari Bandung dan Pasar Johar Semarang
mungkin juga ada. Selamat membeli dan Membaca n Say No To "Bajakan"!
Regard,
Budi Santoso
http://www.rumahzakat.org/
http://wwwmagnificocoid.blogspot. com/2008/ 12/maryamah- karpov-
Need to Reply?
Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Individual | Switch format to Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
Tidak ada komentar:
Posting Komentar