Messages In This Digest (12 Messages)
- 1a.
- Bls: [sekolah-kehidupan] (Laskar Pelangi) Ayo Berjuang!!! From: bujang kumbang
- 2.
- (Mimbar) Mengingat awal dan akhir manusia di Arafah From: Ain Nisa
- 3a.
- [Qurcil Eska] Antara Jalan-Jalan dan Makan-Makan ;) From: novi khansa'
- 3b.
- Re: [Qurcil Eska] Antara Jalan-Jalan dan Makan-Makan ;) From: Lia Octavia
- 4.
- [Kelana] Qurcil Eska: Antara Jalan-Jalan dan Makan-Makan ;) From: novi khansa'
- 5.
- Menjemput Rezeki From: rahmad nurdin
- 6a.
- Re: [Ruang Baca] TIKIL, Titipan Kilat: Kami Antar, Kami Nyasar From: april_reto
- 7.
- Undangan Diskusi "Perlawanan Perempuan Penulis atas KDRT" From: Lia Octavia
- 8.
- [Inspirasi] Tindakan Ikut Menentukan Hasil Yang Didapatkan From: dkadarusman
- 9.
- [Ruang Keluarga] Terima Kasih.....Mama....... From: Putri Agus Sofyan
- 10a.
- Re: BERKAH MENULIS From: WORD SMART CENTER
- 11.
- [catatan kaki] Please help me..., tentang buku nih. From: aisyah muchtar
Messages
- 1a.
-
Bls: [sekolah-kehidupan] (Laskar Pelangi) Ayo Berjuang!!!
Posted by: "bujang kumbang" bujangkumbang@yahoo.co.id bujangkumbang
Fri Dec 12, 2008 6:27 am (PST)
diakan kami ya....
(petik dari "slogan" benteng Takeshi di TPI ..hehehe
--- Pada Kam, 11/12/08, Agung Argopo <gopo_alhusna@yahoo.co. > menulis:id
Dari: Agung Argopo <gopo_alhusna@yahoo.co. >id
Topik: [sekolah-kehidupan] (Laskar Pelangi) Ayo Berjuang!!!
Kepada: sekolah-kehidupan@yahoogroups. com
Tanggal: Kamis, 11 Desember, 2008, 3:10 PM
Membuat novel sendiri tentu berbeda dengan membuat novel proyek LP seperti ini. Selama membuat novel sendiri, achi selalu enjoy aja menulis, masa bodo sama kualitas, kalau layak terbit ya syukur kalau ditolak ya nangis hueheuheue.. .
tetapi ketika mendapat tantangan untuk membuat novel proyek LP dari SK, achi ingin sekaliiii ikutan. Karena ingin mencoba membuat novel dengan kualitas yang bagus. Tentunya karena banyak juga teman2 yang merasa senasib sepenanggungan. Merasa ingin membuat novel yang bagus dan berkualitas. Because what? karena novel ini membawa bendera SK secara tidak langsung. Oleh karena itu, marilah teman-teman proyek Laskar Pelangi semuanya, agar kita sama-sama saling mendukung, saling menguatkan dan saling mengingatkan. Mari berjuang bersama-sama SK!
Halah!
hehehe...
salam
Achi TM
Coba Yahoo! Messenger 9.0 baru
Lengkap dengan segala yang Anda sukai tentang Messenger!
Ada Naruto, Sandra Dewi dan MU di Yahoo! Indonesia Top Searches 2008. http://id.promo.yahoo.com/ topsearches2008
- 2.
-
(Mimbar) Mengingat awal dan akhir manusia di Arafah
Posted by: "Ain Nisa" jurnalcahaya@yahoo.com jurnalcahaya
Fri Dec 12, 2008 7:54 am (PST)
Mengingat
Awal dan Akhir Manusia di Arafah
Manusia dilahirkan ke
dunia. Hidup di dalamnya. Berbuat dosa dan meraih pahala di atasnya. Suatu saat
nanti, manusia akan dikumpulkan di Padang Mahsyar. Disana, tidak akan ada
perbedaan warna kulit, suku, etnis, ataupun status sosial. Semua dikumpulkan
untuk menunggu perhitungan akan amal ibadah mereka. Yang akan selamat, adalah
mereka yang bertakwa.
Awal dan akhir manusia
ini adalah perenungan penting dalam melakukan rukun utama ibadah haji, yaitu
wukuf di Arafah. Begitu pentingnya ibadah yang berakhir pada Hari Raya Idul
Adha ini, sampai Rasululah SAW bersabda, �Al-Hajju
Arafat!� yang berarti, Haji adalah Arafah. Tidak sah ibadah haji tanpanya.
***
Awal
Ketika Nabi Adam
diciptakan sebagai khalifah di muka bumi, Malaikat berkeberatan, menilai
manusia hanya akan membuat kerusakan di dalamnya. Namun kemudian Allah SWT
mengajarkan nama-nama kepada Nabi Adam, dan beliau mampu menyebutkannya kembali
dengan lengkap. Maka malaikat pun bersujud kepadanya.
�Dan
(ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para �malaikat, �Sujudlah kamu kepada Adam!� Maka
mereka pun sujud kecuali iblis. Ia menolak dan ia menyombongkan diri, dan ia
termasuk golongan yang kafir.� (Al-Baqarah: 34)
Sayangnya, setelah
Allah SWT menciptakan Hawa sebagai teman Adam, mereka berdua terperdaya hasutan
syetan dengan memakan buah khuldi yang diharamkan. Allah SWT lantas menyuruh
mereka berdua turun dari surga.
�Kami
berfirman, �Turunlah kamu semua dari surga! Kemudian jika benar-benar datang
petunjuk-Ku kepadamu, maka barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa
takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.� (Al-Baqarah: 38)
Di bumi, Adam dan Hawa
terpisah begitu jauhnya sampai akhirnya bertemu di perbukitan kecil Jabal
al-Rahmah di Arafah, yang berada pada ketinggian 750 kaki di atas permukaan
laut. Selama berabad-abad, Arafah adalah padang pasir yang tandus tanpa
tumbuhan. Pemerintah Arab Saudi sekarang ini berusaha menghijaukannya dan
memasang semprotan air untuk meredam suhu panas sehingga tidak terlalu terik.
Di atas pasir-pasir
gurun ini, Bapak dan Ibu umat manusia ini bertaubat kepada Allah SWT. Memohon
ampun atas kekhilafan dan kesalahan. Allah SWT menerima taubatnya. Dengan rahmatNya,
kemudian Adam dan Hawa berkeluarga dan menciptakan kehidupan sosial pertama di
dunia.
Selama melakukan
wukuf,� jemaah haji yang berada
dianjurkan untuk merendahkan hati dan memohon ampun atas setiap kesalahan.
Dalam pertaubatan tersebut, para jemaah merenungi sejarah penciptaan. Untuk
tujuan apa manusia diciptakan. Sehingga dalam hati mereka tercipta pertanyaan,
�Apakah itu yang sudah saya laksanakan?�
***
Akhir
Wukuf di Arafah
merupakan simulasi untuk berkumpulnya manusia di Padang Mahsyar nanti. Para
jemaah tidak boleh mengenakan pakaian selain kain berwarna putih yang tak
terjahit. Menandakan kesederhanaan dan kebersihan di hadapan Allah SWT. Di
Padang Pasir yang panas dan gersang tersebut, para jemaah hadir sebagai bentuk
kepatuhan mutlak kepada Allah SWT.
Wukuf artinya berdiam
diri. Maka Wukuf di Arafah artinya adalah berdiam diri di Arafah selama
beberapa waktu. Waktu dimulainya wukuf adalah 9 Dzulhijjah dan berakhir pada
Hari Raya Idul Adha, tepatnya setelah matahari tergelincir sampai menjelang
pagi hari. Waktu-waktu tersebut digunakan untuk berdoa dan membaca Al-Qur�an
sebanyak-banyaknya.
Puncak ibadah ini
adalah Khutbah Wukuf. Isinya tidak pernah berganti, yaitu khutbah Rasulullah
SAW pada saat beliau menjalankan Haji Wada� (Haji Terakhir) pada Tahun 10
Hijriyah. Tidak kurang dari seratus ribu jemaah ikut dalam rombongan tersebut.
Rasulullah yang kala
itu berpidato dari atas untanya, mengawalinya dengan menyeru �Wahai Manusia!�
yang berarti, khutbah ini ditujukan untuk seluruh manusia, bukan umat Islam
semata. Lalu Nabi SAW menyampaikan sebuah pesan kemanusiaan yang universal:
"Wahai manusia, Tuhanmu hanyalah satu dan asalmu juga satu.
Kamu semua berasal dari Adam, dan Adam berasal dari tanah. Keturunan, warna
kulit, bangsa tidak menyebabkan seseorang lebih baik dari yang lain. Orang yang
paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling takwa. Orang Arab
tidak lebih mulia dari yang bukan Arab, sebaliknya orang bukan Arab tidak lebih
mulia dari orang Arab. Begitu pula orang kulit berwarna dengan orang kulit
hitam dan sebaliknya orang kulit hitam dengan orang �kulit berwarna, kecuali karena takwanya.�
Beliau juga menegaskan bahwa
sesungguhnya kaum mukmin itu bersaudara. Tidak boleh ditumpahkan darahnya,
dirampas hartanya, dan dicemarkan kehormatannya. Khusus untuk kaum wanita,
Rasulullah berpesan kepada para laki-laki, "Aku wasiatkan agar kalian
mempertahankan kaum wanita dengan sebaik-baiknya." Yang merupakan
suatu bukti, bahwa Islam �mendudukkan
wanita dalam posisi yang mulia.
***
- 3a.
-
[Qurcil Eska] Antara Jalan-Jalan dan Makan-Makan ;)
Posted by: "novi khansa'" novi_ningsih@yahoo.com novi_ningsih
Fri Dec 12, 2008 11:05 am (PST)
Bersamamu kuhabiskan waktu
Senang bisa mengenal dirimu
Rasanya semua begitu sempurna
Sayang untuk mengakhirinya
Ke Bandung, aku kan kembali...
��
�Tidak pernah mengira kalau lebaran Idul Adha kali ini kurayakan di
Bandung. Termasuk momen yang jarang karena biasanya ketika lebaran,
kami berkumpul bersama keluarga. Untuk hal ini, aku sudah diizinkan
terlebih dahulu oleh ibu. Thank u, mom ;)
��
�Bandung masih menjadi kota favoritku setelah berkali-kali menginjakkan
kaki di sini. Pemandangan selama perjalanan menuju lokasi selalu
membuatku terpana. Apalagi, sore itu, kabut sempat menyelimuti sisi
jalan yang kami lewati. Pemandangan sawah dan sawah mewarnai mata yang
terbiasa dengan layar monitor komputer. Segar, sejuk dan menyenangkan
walau dalam perjalanan kali ini aku masih membawa pekerjaan.� Hehehe,
teteup :D
***
Menjelang magrib, kami sampai di terminal Leuwipanjang. Es kelapa yang rasanya
yummy menjadi minuman segar pertama yang melewati kerongkonganku.
Nikmat, segar, sama sekali tak mengira, kalau akhirnya aku kembali
sanggup berpuasa. Pak Teha yang baik hati menyambut kami dengan mobil
metaliknya. Tak lama, Galih dan Hendru nongol dari kejauhan. Tampaknya,
mereka berdua sudah menjelajah banyak tempat, tapi lupa membawa oleh2
:D.
Perjalanan
dilanjutkan menuju Kedai Mangga untuk berbuka puasa dan makan malam.
Kami semua sepakat memesan mendoan, selain menu lainnya. Aaah, untung
saja, aku dan mbak Lia memesan satu ikan gurame. Tak terbayang kalau
harus menghabiskan satu gurame goreng yang besar itu... walau akhirnya,
berkat bantuan tangan-tangan terampil (lho) gurame itu tandas. Jus
alpukat favorit pun memasuki perut.... hmmm, ternyata, aku doyan makan
juga (serasa baru nyadar). Perjalanan kemudian dilanjutkan ke rumah
kang Hadian di ....... (maaf lupa) yang aku ingat, perjalanan berkelok
dan menanjak hingga menemukan sebuah rumah yang pemandangannya begitu
indah. Awan-awan yang berkumpul dan rumah-rumah yang seperti menumpuk.
Wuih, keren, deh.
Setelah beberes, mandi dan ngemil dikit-dikit, perjalanan malam itu pun berlanjut. Kali
ini kami menuju Lembang... Aah, jadi ingat kenangan raker tahun lalu,
bertemu dengan banyak sobat Eska yang lucu, baik hati dan mengejutkan.
Mbak Ugik sayang, dirimu tahu benar apa yang aku rasakan... :D apalagi
kalo bukan soal makan, hehe (emang bukan :p).
Melintasi
jalan menanjak, berkelok dengan sisi-sisi jalan yang gelap, menjadi
warna tersendiri perjalanan kami... indah, khusuk, hikmat dan tanpa
ngantuk. Sampailah kami di rumah makan. Yeah, tampaknya di Bandung
perut kami bertambah melar. Memilih lokasi di lantai dua, dan menuju
tempat nyaman mengarah pada pemandangan Lembang di waktu malam. Uni
Asma, andai dirimu ada di Lembang...
Ada
yang sempat kecewa ketika mendapati jagung bakarnya tinggal langsung
makan. Tanpa harus melakukan perjuangan menggigitinya, hehehe... So,
kali ini tak ada foto snap shoot yang memalukan. Dingin makin terasa
dan rasa capucino yang nikmat makin menyegarkan mataku.
Tak berapa lama, kami pun meninggalkan tempat itu dengan kesegaran setelah menikmati
jagung bakar, pisang coklat, bandreks, mi rebus, capucino di tengah
dinginnya Lembang. Setelah berpisah dengan Pak Teha di sekitar gedung
sate, kami pun melanjutkan perjalanan pulang. Sempat mampir untuk
membeli batre dan camilan (hehe, lagi-lagi makanan). Tampaknya,
lagi-lagi, kekonyolan itu hadir, aku
salah membuka pintu mobil.... Sinta, ternyata, kita emang 11-12 :D.
Teringat, gimana aku ngetawain kamu yang salah mobil, aku ternyata ga
jauh beda. Tapi, kalau boleh ngeles, bisa aja aku bilang, tadi kan naik
mobil Pak Teha. Pas naik mobil kang Hadian jadi bingung :D
Ketika
semua terlelap diselimuti dinginnya kota Bandung, nyamannya rumah kang
Hadian. Aku menikmati lantunan soundtrack Laskar Pelangi sambil
mengedit. Entah kenapa, aku merasakan konsentrasi dan kenikmatan membaca
tulisan itu hingga kemudian rasa mengantuk menyerang. Itu pun tidak
bisa tidur, hingga akhirnya azan Shubuh berkumandang. Merasakan
dinginnya air dan menikmati udara sejuk di Bandung, menjadi kenikmatan
sendiri.
Bakda
Shubuh, semuanya sibuk dengan masing-masing. Ada yang kembali tidur,
ada yang menyetrika (sumpah, deh, kali ini bukan cewek :D), ada yang
tidur sambil dengerin orang ngobrol, ada yang makan wafer (bukan
ngabisin :p) dan minum susu ultra karena khawatir maghnya kambuh.
Hingga segala aktivitas pagi dimulai. Lagi-lagi kesejukan udara Bandung
mendamaikan suasana hati kami. Hati bertanya-tanya, penasaran,
menyesal, mengantuk, dan lapar :D
***
�� �
Di
tengah riuh tawa, main cela-celaan, ngemil makanan yang tak
habis-habis, kami pun menuju Desa Sindanglaya. Kali ini perjalanan
lebih berkelok-kelok lagi, menanjak dan terus menanjak hingga kemudian
sampai ke sebuah tempat yang sudah ramai. Empat kambing menanti untuk
disembelih. Menjalankan proses pemotongan hingga akhirnya
kambing-kambing itu dikuliti, dipotong-potong hingga dimasak setengah
jadi. Berbagai ekspresi takut, sedih, rela, ikhlas terangkai dalam
foto-foto kenangan Qurcil. Mbak Lia mewakili Eska melakukan serah
terima dengan warga.
Tentunya, perjalanan ini tak akan lengkap kalau belum makan. Teteup :D. Hidangan
nasi, gulai (?), daun singkong, kerupuk hingga agar-agar kertas pun
hadir di hadapan kami. Tak ada yang tak menikmati makanan itu. Pun Pak
Teha, Sinta dan Ela yang kehadirannya menyusul. Berfoto-foto tetap
menjadi sesi yang selalu ada. Tapi, kali ini berhati-hatilah :D. Ada
orang iseng bin jail, yang kameranya stand by setiap saat untuk
menjepret momen-momen aneh ketika makan.
Tak berapa lama, dilanjutkan ke sebuah tempat indah di mana ya :D (maaf lupa).
Yang jelas di sini pemandangannya ga kalah indah. Kang Hadian
menyelesaikan urusannya sebentar, dan kami pun berfoto-foto hingga
puas. Hhhh, konon tempat ini memang biasa jadi tempat berfoto sampai
orang Bandung sendiri udah bosen ngeliat orang Jakarta moto-moto di
sini :D.
Mobil
pun melaju kembali menuju daerah Cikutra. Selain silaturahim, kami juga
bermaksud menengok Teh Teja yang sedang sakit. Syafakillah, Teh. Semoga
kesehatannya segera membaik. Tak lupa menemui Naibah yang lucu dan
cantik... Gimana suka ga dengan baju barunya Fahimah? :D Keluarga yang
benar-benar hangat dan baik hati. Hmm, dan lagi-lagi kami makan.
Masakan yang katanya seadanya, ternyata begitu nikmat. Asli lezat. Ada
ikan bilih kesukaan mbak Lia ;) Ada telur dadar, ada opor ya kalo ga
salah :D. Pokoknya semua yummy. Hehehe... benar-benar deh, perut tuh
masih muat aja, padahal perjalanan dari mesjid ke rumah itu, aku dan
mbak Lia sempat membeli cimol :D.
Setelah
kelelahan menikmati makanan, hehehe, akhirnya kami meluncur kembali ke
rumah kang Hadian dan lagi-lagi untuk makan :D. Sekotak es krim yang
nikmat akhirnya tandas. Rupanya, lagi-lagi ada kamera tersembunyi
merekam momen �si tukang makan�. Hhhhh... benar-benar mengenyangkan.
Ditambah lagi camilan-camilan masih menemani perbincangan kami. Tak
berapa lama, Pak Teha, Sinta dan Ela berpamitan pulang. Pak Teha ada
acara lagi dan Sinta balik ke kantor lagi. Ckckckck... bener-bener jadi
gila kerja :D
Tak berapa
lama, aku, Mbak Lia, Yana, Galih, Hendru dan Kang Hadian meluncur untuk
membeli oleh-oleh. Bandung diguyur hujan, tak menyurutkan langkah kami
untuk lagi-lagi makan... Aaah, untuk kali ini, aku tak sanggup menghabiskan
batagor yang rasanya asin itu... Hhhh, maaf ya, ga abis. Jarang-jarang
aku ga ngabisin makanan kalau lagi sehat gini, hehehe.
Petualangan
kami berakhir di terminal Leuwipanjang. Semua berpisah sesuai tujuan
busnya masing-masing, kecuali aku dan mbak Lia yang satu bus hingga Tol
Jatibening.
Mengingat momen yang rasanya cepat sekali berakhir. Ada canda, tawa, keramaian, dan banyak rasa yang tak terungkapkan.
Yah,
selalu begini, ketika melangkahkan kaki bersilaturahmi dengan sahabat
Eska. Mengingatkanku pada petualanganku dengan mbak Dyah. Partner
nyasar, selain Sinta :D, temen jalan-jalan ketika rapat, nginap bareng
sebelum milad Eska, men-sortir donasi buku, naik kuda bareng di sekitar
Salman ITB ketika kopdar Eska Bandung.
Bagaimana kabarnya ya sekarang? :D, hehehe.
Yang
jelas, kunikmati semua momen silaturahim Eska dengan perasaan bahagia,
lucu, senang. Dan rasanya menyesal ketika tak mampu hadir, ikut tertawa
riang bersama mereka.
tak pernah terlewatkan
dan tetap mengaguminya
kesempatan seperti ini
tak akan bisa dibeli
bersamamu
kuhabiskan waktu
senang bisa mengenal dirimu
rasanya semua begitu sempurna
sayang untuk mengakhirinya
Dedeicated to:
Kang Hadian, asli deh, rumahnya asyik dan nyaman banget
Pak Teha, selalu jadi panutan dan yang paling bae :D, maaf ya, pak, Nop suka nyasar :D
Mbak Lia, menemani hingga aku terlelap, hehehe... ngantuk berat, euy
Sinta, aku bener-bener kangeeeeeeeeen :D
Ela, selalu salut dengan pengetahuan jalan-jalanmu :D, Sinta aman bersamamu :P
Yana, welcome to the club
Galih, tetep, yang ngabisin wafer itu Galih :D
Hendru, postingannya lucu, tapi orangnya diem abis :D, hehe
Dan semua sahabat Eska..........
Ayo makan-makan eh jalan-jalan lagi :D
novi_khansa'kreatif
~Graphic Design 4 Publishing~
YM : novi_ningsih
http://akunovi.multiply. com
http://novikhansa.wordpress. com/
- 3b.
-
Re: [Qurcil Eska] Antara Jalan-Jalan dan Makan-Makan ;)
Posted by: "Lia Octavia" liaoctavia@gmail.com octavialia
Sat Dec 13, 2008 2:59 am (PST)
waaah... akhirnya kelana-nya mba novi keluar juga ^_^
jalan-jalan dan makan-makan yang menyenangkan dengan sahabat-sahabat yang
menyenangkan pula ^_^
btw, itu kayak lirik lagu apa ya, mbak? kayaknya aku pernah denger
somewhere...
On 12/13/08, novi khansa' <novi_ningsih@yahoo.com > wrote:
>
>
>
>
>
>
> Bersamamu kuhabiskan waktu
> Senang bisa mengenal dirimu
> Rasanya semua begitu sempurna
> Sayang untuk mengakhirinya
>
>
>
> Ke Bandung, aku kan kembali...
> Tidak pernah mengira kalau lebaran Idul Adha kali ini kurayakan di
> Bandung. Termasuk momen yang jarang karena biasanya ketika lebaran, kami
> berkumpul bersama keluarga. Untuk hal ini, aku sudah diizinkan terlebih
> dahulu oleh ibu. Thank u, mom ;)
> Bandung masih menjadi kota favoritku setelah berkali-kali menginjakkan
> kaki di sini. Pemandangan selama perjalanan menuju lokasi selalu membuatku
> terpana. Apalagi, sore itu, kabut sempat menyelimuti sisi jalan yang kami
> lewati. Pemandangan sawah dan sawah mewarnai mata yang terbiasa dengan layar
> monitor komputer. Segar, sejuk dan menyenangkan walau dalam perjalanan kali
> ini aku masih membawa pekerjaan. Hehehe, teteup :D
>
>
> ***
>
>
> Menjelang magrib, kami sampai di terminal Leuwipanjang. Es kelapa yang
> rasanya yummy menjadi minuman segar pertama yang melewati kerongkonganku.
> Nikmat, segar, sama sekali tak mengira, kalau akhirnya aku kembali sanggup
> berpuasa. Pak Teha yang baik hati menyambut kami dengan mobil metaliknya.
> Tak lama, Galih dan Hendru nongol dari kejauhan. Tampaknya, mereka berdua
> sudah menjelajah banyak tempat, tapi lupa membawa oleh2 :D.
>
> Perjalanan dilanjutkan menuju Kedai Mangga untuk berbuka puasa dan makan
> malam. Kami semua sepakat memesan mendoan, selain menu lainnya. Aaah, untung
> saja, aku dan mbak Lia memesan satu ikan gurame. Tak terbayang kalau harus
> menghabiskan satu gurame goreng yang besar itu... walau akhirnya, berkat
> bantuan tangan-tangan terampil (lho) gurame itu tandas. Jus alpukat favorit
> pun memasuki perut.... hmmm, ternyata, aku doyan makan juga (serasa baru
> nyadar). Perjalanan kemudian dilanjutkan ke rumah kang Hadian di .......
> (maaf lupa) yang aku ingat, perjalanan berkelok dan menanjak hingga
> menemukan sebuah rumah yang pemandangannya begitu indah. Awan-awan yang
> berkumpul dan rumah-rumah yang seperti menumpuk. Wuih, keren, deh.
>
> Setelah beberes, mandi dan ngemil dikit-dikit, perjalanan malam itu pun
> berlanjut. Kali ini kami menuju Lembang... Aah, jadi ingat kenangan raker
> tahun lalu, bertemu dengan banyak sobat Eska yang lucu, baik hati dan
> mengejutkan. Mbak Ugik sayang, dirimu tahu benar apa yang aku rasakan... :D
> apalagi kalo bukan soal makan, hehe (emang bukan :p).
>
> Melintasi jalan menanjak, berkelok dengan sisi-sisi jalan yang gelap,
> menjadi warna tersendiri perjalanan kami... indah, khusuk, hikmat dan tanpa
> ngantuk. Sampailah kami di rumah makan. Yeah, tampaknya di Bandung perut
> kami bertambah melar. Memilih lokasi di lantai dua, dan menuju tempat nyaman
> mengarah pada pemandangan Lembang di waktu malam. Uni Asma, andai dirimu ada
> di Lembang...
>
> Ada yang sempat kecewa ketika mendapati jagung bakarnya tinggal langsung
> makan. Tanpa harus melakukan perjuangan menggigitinya, hehehe... So, kali
> ini tak ada foto snap shoot yang memalukan. Dingin makin terasa dan rasa
> capucino yang nikmat makin menyegarkan mataku.
>
> Tak berapa lama, kami pun meninggalkan tempat itu dengan kesegaran setelah menikmati
> jagung bakar, pisang coklat, bandreks, mi rebus, capucino di tengah
> dinginnya Lembang. Setelah berpisah dengan Pak Teha di sekitar gedung sate,
> kami pun melanjutkan perjalanan pulang. Sempat mampir untuk membeli batre
> dan camilan (hehe, lagi-lagi makanan). Tampaknya, lagi-lagi, kekonyolan itu
> hadir, aku salah membuka pintu mobil.... Sinta, ternyata, kita emang 11-12
> :D. Teringat, gimana aku ngetawain kamu yang salah mobil, aku ternyata ga
> jauh beda. Tapi, kalau boleh ngeles, bisa aja aku bilang, tadi kan naik
> mobil Pak Teha. Pas naik mobil kang Hadian jadi bingung :D
>
> Ketika semua terlelap diselimuti dinginnya kota Bandung, nyamannya rumah
> kang Hadian. Aku menikmati lantunan soundtrack Laskar Pelangi sambil
> mengedit. Entah kenapa, aku merasakan konsentrasi dan kenikmatan membaca
> tulisan itu hingga kemudian rasa mengantuk menyerang. Itu pun tidak bisa
> tidur, hingga akhirnya azan Shubuh berkumandang. Merasakan dinginnya air dan
> menikmati udara sejuk di Bandung, menjadi kenikmatan sendiri.
>
> Bakda Shubuh, semuanya sibuk dengan masing-masing. Ada yang kembali tidur,
> ada yang menyetrika (sumpah, deh, kali ini bukan cewek :D), ada yang tidur
> sambil dengerin orang ngobrol, ada yang makan wafer (bukan ngabisin :p) dan
> minum susu ultra karena khawatir maghnya kambuh. Hingga segala aktivitas
> pagi dimulai. Lagi-lagi kesejukan udara Bandung mendamaikan suasana hati
> kami. Hati bertanya-tanya, penasaran, menyesal, mengantuk, dan lapar :D
>
> ***
>
> Di tengah riuh tawa, main cela-celaan, ngemil makanan yang tak habis-habis,
> kami pun menuju Desa Sindanglaya. Kali ini perjalanan lebih berkelok-kelok
> lagi, menanjak dan terus menanjak hingga kemudian sampai ke sebuah tempat
> yang sudah ramai. Empat kambing menanti untuk disembelih. Menjalankan proses
> pemotongan hingga akhirnya kambing-kambing itu dikuliti, dipotong-potong
> hingga dimasak setengah jadi. Berbagai ekspresi takut, sedih, rela, ikhlas
> terangkai dalam foto-foto kenangan Qurcil. Mbak Lia mewakili Eska melakukan
> serah terima dengan warga.
>
> Tentunya, perjalanan ini tak akan lengkap kalau belum makan. Teteup :D. Hidangan
> nasi, gulai (?), daun singkong, kerupuk hingga agar-agar kertas pun hadir di
> hadapan kami. Tak ada yang tak menikmati makanan itu. Pun Pak Teha, Sinta
> dan Ela yang kehadirannya menyusul. Berfoto-foto tetap menjadi sesi yang
> selalu ada. Tapi, kali ini berhati-hatilah :D. Ada orang iseng bin jail,
> yang kameranya stand by setiap saat untuk menjepret momen-momen aneh ketika
> makan.
>
> Tak berapa lama, dilanjutkan ke sebuah tempat indah di mana ya :D (maaf
> lupa). Yang jelas di sini pemandangannya ga kalah indah. Kang Hadian
> menyelesaikan urusannya sebentar, dan kami pun berfoto-foto hingga puas.
> Hhhh, konon tempat ini memang biasa jadi tempat berfoto sampai orang Bandung
> sendiri udah bosen ngeliat orang Jakarta moto-moto di sini :D.
>
> Mobil pun melaju kembali menuju daerah Cikutra. Selain silaturahim, kami
> juga bermaksud menengok Teh Teja yang sedang sakit. Syafakillah, Teh. Semoga
> kesehatannya segera membaik. Tak lupa menemui Naibah yang lucu dan cantik...
> Gimana suka ga dengan baju barunya Fahimah? :D Keluarga yang benar-benar
> hangat dan baik hati. Hmm, dan lagi-lagi kami makan. Masakan yang katanya
> seadanya, ternyata begitu nikmat. Asli lezat. Ada ikan bilih kesukaan mbak
> Lia ;) Ada telur dadar, ada opor ya kalo ga salah :D. Pokoknya semua yummy.
> Hehehe... benar-benar deh, perut tuh masih muat aja, padahal perjalanan dari
> mesjid ke rumah itu, aku dan mbak Lia sempat membeli cimol :D.
>
> Setelah kelelahan menikmati makanan, hehehe, akhirnya kami meluncur kembali
> ke rumah kang Hadian dan lagi-lagi untuk makan :D. Sekotak es krim yang
> nikmat akhirnya tandas. Rupanya, lagi-lagi ada kamera tersembunyi merekam
> momen "si tukang makan". Hhhhh... benar-benar mengenyangkan. Ditambah lagi
> camilan-camilan masih menemani perbincangan kami. Tak berapa lama, Pak Teha,
> Sinta dan Ela berpamitan pulang. Pak Teha ada acara lagi dan Sinta balik ke
> kantor lagi. Ckckckck... bener-bener jadi gila kerja :D
>
> Tak berapa lama, aku, Mbak Lia, Yana, Galih, Hendru dan Kang Hadian
> meluncur untuk membeli oleh-oleh. Bandung diguyur hujan, tak menyurutkan
> langkah kami untuk lagi-lagi makan... Aaah, untuk kali ini, aku tak sanggup
> menghabiskan batagor yang rasanya asin itu... Hhhh, maaf ya, ga abis.
> Jarang-jarang aku ga ngabisin makanan kalau lagi sehat gini, hehehe.
>
> Petualangan kami berakhir di terminal Leuwipanjang. Semua berpisah sesuai
> tujuan busnya masing-masing, kecuali aku dan mbak Lia yang satu bus hingga
> Tol Jatibening.
> Mengingat momen yang rasanya cepat sekali berakhir. Ada canda, tawa,
> keramaian, dan banyak rasa yang tak terungkapkan.
>
> Yah, selalu begini, ketika melangkahkan kaki bersilaturahmi dengan sahabat
> Eska. Mengingatkanku pada petualanganku dengan mbak Dyah. Partner nyasar,
> selain Sinta :D, temen jalan-jalan ketika rapat, nginap bareng sebelum milad
> Eska, men-sortir donasi buku, naik kuda bareng di sekitar Salman ITB ketika
> kopdar Eska Bandung.
>
> Bagaimana kabarnya ya sekarang? :D, hehehe.
>
> Yang jelas, kunikmati semua momen silaturahim Eska dengan perasaan bahagia,
> lucu, senang. Dan rasanya menyesal ketika tak mampu hadir, ikut tertawa
> riang bersama mereka.
>
>
> tak pernah terlewatkan
> dan tetap mengaguminya
> kesempatan seperti ini
> tak akan bisa dibeli
>
> bersamamu
> kuhabiskan waktu
> senang bisa mengenal dirimu
> rasanya semua begitu sempurna
> sayang untuk mengakhirinya
>
>
>
>
> Dedeicated to:
> Kang Hadian, asli deh, rumahnya asyik dan nyaman banget
> Pak Teha, selalu jadi panutan dan yang paling bae :D, maaf ya, pak, Nop
> suka nyasar :D
> Mbak Lia, menemani hingga aku terlelap, hehehe... ngantuk berat, euy
> Sinta, aku bener-bener kangeeeeeeeeen :D
> Ela, selalu salut dengan pengetahuan jalan-jalanmu :D, Sinta aman bersamamu
> :P
> Yana, welcome to the club
> Galih, tetep, yang ngabisin wafer itu Galih :D
> Hendru, postingannya lucu, tapi orangnya diem abis :D, hehe
> Dan semua sahabat Eska..........
> Ayo makan-makan eh jalan-jalan lagi :D
>
>
>
>
>
>
>
>
> novi_khansa'kreatif
> ~Graphic Design 4 Publishing~
> YM : novi_ningsih
> http://akunovi.multiply. com
> http://novikhansa.wordpress. com/
>
>
>
>
>
- 4.
-
[Kelana] Qurcil Eska: Antara Jalan-Jalan dan Makan-Makan ;)
Posted by: "novi khansa'" novi_ningsih@yahoo.com novi_ningsih
Fri Dec 12, 2008 11:13 am (PST)
Ups. lupa :D
kategorisasi postingan, hehe
Bersamamu kuhabiskan waktu
Senang bisa mengenal dirimu
Rasanya semua begitu sempurna
Sayang untuk mengakhirinya
Ke Bandung, aku kan kembali...
��
�Tidak pernah mengira kalau lebaran Idul Adha kali ini kurayakan di
Bandung. Termasuk momen yang jarang karena biasanya ketika lebaran,
kami berkumpul bersama keluarga. Untuk hal ini, aku sudah diizinkan
terlebih dahulu oleh ibu. Thank u, mom ;)
��
�Bandung masih menjadi kota favoritku setelah berkali-kali menginjakkan
kaki di sini. Pemandangan selama perjalanan menuju lokasi selalu
membuatku terpana. Apalagi, sore itu, kabut sempat menyelimuti sisi
jalan yang kami lewati. Pemandangan sawah dan sawah mewarnai mata yang
terbiasa dengan layar monitor komputer. Segar, sejuk dan menyenangkan
walau dalam perjalanan kali ini aku masih membawa pekerjaan.� Hehehe,
teteup :D
***
Menjelang magrib, kami sampai di terminal Leuwipanjang. Es kelapa yang rasanya
yummy menjadi minuman segar pertama yang melewati kerongkonganku.
Nikmat, segar, sama sekali tak mengira, kalau akhirnya aku kembali
sanggup berpuasa. Pak Teha yang baik hati menyambut kami dengan mobil
metaliknya. Tak lama, Galih dan Hendru nongol dari kejauhan. Tampaknya,
mereka berdua sudah menjelajah banyak tempat, tapi lupa membawa oleh2
:D.
Perjalanan
dilanjutkan menuju Kedai Mangga untuk berbuka puasa dan makan malam.
Kami semua sepakat memesan mendoan, selain menu lainnya. Aaah, untung
saja, aku dan mbak Lia memesan satu ikan gurame. Tak terbayang kalau
harus menghabiskan satu gurame goreng yang besar itu... walau akhirnya,
berkat bantuan tangan-tangan terampil (lho) gurame itu tandas. Jus
alpukat favorit pun memasuki perut.... hmmm, ternyata, aku doyan makan
juga (serasa baru nyadar). Perjalanan kemudian dilanjutkan ke rumah
kang Hadian di ....... (maaf lupa) yang aku ingat, perjalanan berkelok
dan menanjak hingga menemukan sebuah rumah yang pemandangannya begitu
indah. Awan-awan yang berkumpul dan rumah-rumah yang seperti menumpuk.
Wuih, keren, deh.
Setelah beberes, mandi dan ngemil dikit-dikit, perjalanan malam itu pun berlanjut. Kali
ini kami menuju Lembang... Aah, jadi ingat kenangan raker tahun lalu,
bertemu dengan banyak sobat Eska yang lucu, baik hati dan mengejutkan.
Mbak Ugik sayang, dirimu tahu benar apa yang aku rasakan... :D apalagi
kalo bukan soal makan, hehe (emang bukan :p).
Melintasi
jalan menanjak, berkelok dengan sisi-sisi jalan yang gelap, menjadi
warna tersendiri perjalanan kami... indah, khusuk, hikmat dan tanpa
ngantuk. Sampailah kami di rumah makan. Yeah, tampaknya di Bandung
perut kami bertambah melar. Memilih lokasi di lantai dua, dan menuju
tempat nyaman mengarah pada pemandangan Lembang di waktu malam. Uni
Asma, andai dirimu ada di Lembang...
Ada
yang sempat kecewa ketika mendapati jagung bakarnya tinggal langsung
makan. Tanpa harus melakukan perjuangan menggigitinya, hehehe... So,
kali ini tak ada foto snap shoot yang memalukan. Dingin makin terasa
dan rasa capucino yang nikmat makin menyegarkan mataku.
Tak berapa lama, kami pun meninggalkan tempat itu dengan kesegaran setelah menikmati
jagung bakar, pisang coklat, bandreks, mi rebus, capucino di tengah
dinginnya Lembang. Setelah berpisah dengan Pak Teha di sekitar gedung
sate, kami pun melanjutkan perjalanan pulang. Sempat mampir untuk
membeli batre dan camilan (hehe, lagi-lagi makanan). Tampaknya,
lagi-lagi, kekonyolan itu hadir, aku
salah membuka pintu mobil.... Sinta, ternyata, kita emang 11-12 :D.
Teringat, gimana aku ngetawain kamu yang salah mobil, aku ternyata ga
jauh beda. Tapi, kalau boleh ngeles, bisa aja aku bilang, tadi kan naik
mobil Pak Teha. Pas naik mobil kang Hadian jadi bingung :D
Ketika
semua terlelap diselimuti dinginnya kota Bandung, nyamannya rumah kang
Hadian. Aku menikmati lantunan soundtrack Laskar Pelangi sambil
mengedit. Entah kenapa, aku merasakan konsentrasi dan kenikmatan membaca
tulisan itu hingga kemudian rasa mengantuk menyerang. Itu pun tidak
bisa tidur, hingga akhirnya azan Shubuh berkumandang. Merasakan
dinginnya air dan menikmati udara sejuk di Bandung, menjadi kenikmatan
sendiri.
Bakda
Shubuh, semuanya sibuk dengan masing-masing. Ada yang kembali tidur,
ada yang menyetrika (sumpah, deh, kali ini bukan cewek :D), ada yang
tidur sambil dengerin orang ngobrol, ada yang makan wafer (bukan
ngabisin :p) dan minum susu ultra karena khawatir maghnya kambuh.
Hingga segala aktivitas pagi dimulai. Lagi-lagi kesejukan udara Bandung
mendamaikan suasana hati kami. Hati bertanya-tanya, penasaran,
menyesal, mengantuk, dan lapar :D
***
�� �
Di
tengah riuh tawa, main cela-celaan, ngemil makanan yang tak
habis-habis, kami pun menuju Desa Sindanglaya. Kali ini perjalanan
lebih berkelok-kelok lagi, menanjak dan terus menanjak hingga kemudian
sampai ke sebuah tempat yang sudah ramai. Empat kambing menanti untuk
disembelih. Menjalankan proses pemotongan hingga akhirnya
kambing-kambing itu dikuliti, dipotong-potong hingga dimasak setengah
jadi. Berbagai ekspresi takut, sedih, rela, ikhlas terangkai dalam
foto-foto kenangan Qurcil. Mbak Lia mewakili Eska melakukan serah
terima dengan warga.
Tentunya, perjalanan ini tak akan lengkap kalau belum makan. Teteup :D. Hidangan
nasi, gulai (?), daun singkong, kerupuk hingga agar-agar kertas pun
hadir di hadapan kami. Tak ada yang tak menikmati makanan itu. Pun Pak
Teha, Sinta dan Ela yang kehadirannya menyusul. Berfoto-foto tetap
menjadi sesi yang selalu ada. Tapi, kali ini berhati-hatilah :D. Ada
orang iseng bin jail, yang kameranya stand by setiap saat untuk
menjepret momen-momen aneh ketika makan.
Tak berapa lama, dilanjutkan ke sebuah tempat indah di mana ya :D (maaf lupa).
Yang jelas di sini pemandangannya ga kalah indah. Kang Hadian
menyelesaikan urusannya sebentar, dan kami pun berfoto-foto hingga
puas. Hhhh, konon tempat ini memang biasa jadi tempat berfoto sampai
orang Bandung sendiri udah bosen ngeliat orang Jakarta moto-moto di
sini :D.
Mobil
pun melaju kembali menuju daerah Cikutra. Selain silaturahim, kami juga
bermaksud menengok Teh Teja yang sedang sakit. Syafakillah, Teh. Semoga
kesehatannya segera membaik. Tak lupa menemui Naibah yang lucu dan
cantik... Gimana suka ga dengan baju barunya Fahimah? :D Keluarga yang
benar-benar hangat dan baik hati. Hmm, dan lagi-lagi kami makan.
Masakan yang katanya seadanya, ternyata begitu nikmat. Asli lezat. Ada
ikan bilih kesukaan mbak Lia ;) Ada telur dadar, ada opor ya kalo ga
salah :D. Pokoknya semua yummy. Hehehe... benar-benar deh, perut tuh
masih muat aja, padahal perjalanan dari mesjid ke rumah itu, aku dan
mbak Lia sempat membeli cimol :D.
Setelah
kelelahan menikmati makanan, hehehe, akhirnya kami meluncur kembali ke
rumah kang Hadian dan lagi-lagi untuk makan :D. Sekotak es krim yang
nikmat akhirnya tandas. Rupanya, lagi-lagi ada kamera tersembunyi
merekam momen �si tukang makan�. Hhhhh... benar-benar mengenyangkan.
Ditambah lagi camilan-camilan masih menemani perbincangan kami. Tak
berapa lama, Pak Teha, Sinta dan Ela berpamitan pulang. Pak Teha ada
acara lagi dan Sinta balik ke kantor lagi. Ckckckck... bener-bener jadi
gila kerja :D
Tak berapa
lama, aku, Mbak Lia, Yana, Galih, Hendru dan Kang Hadian meluncur untuk
membeli oleh-oleh. Bandung diguyur hujan, tak menyurutkan langkah kami
untuk lagi-lagi makan... Aaah, untuk kali ini, aku tak sanggup menghabiskan
batagor yang rasanya asin itu... Hhhh, maaf ya, ga abis. Jarang-jarang
aku ga ngabisin makanan kalau lagi sehat gini, hehehe.
Petualangan
kami berakhir di terminal Leuwipanjang. Semua berpisah sesuai tujuan
busnya masing-masing, kecuali aku dan mbak Lia yang satu bus hingga Tol
Jatibening.
Mengingat momen yang rasanya cepat sekali berakhir. Ada canda, tawa, keramaian, dan banyak rasa yang tak terungkapkan.
Yah,
selalu begini, ketika melangkahkan kaki bersilaturahmi dengan sahabat
Eska. Mengingatkanku pada petualanganku dengan mbak Dyah. Partner
nyasar, selain Sinta :D, temen jalan-jalan ketika rapat, nginap bareng
sebelum milad Eska, men-sortir donasi buku, naik kuda bareng di sekitar
Salman ITB ketika kopdar Eska Bandung.
Bagaimana kabarnya ya sekarang? :D, hehehe.
Yang
jelas, kunikmati semua momen silaturahim Eska dengan perasaan bahagia,
lucu, senang. Dan rasanya menyesal ketika tak mampu hadir, ikut tertawa
riang bersama mereka.
tak pernah terlewatkan
dan tetap mengaguminya
kesempatan seperti ini
tak akan bisa dibeli
bersamamu
kuhabiskan waktu
senang bisa mengenal dirimu
rasanya semua begitu sempurna
sayang untuk mengakhirinya
Dedeicated to:
Kang Hadian, asli deh, rumahnya asyik dan nyaman banget
Pak Teha, selalu jadi panutan dan yang paling bae :D, maaf ya, pak, Nop suka nyasar :D
Mbak Lia, menemani hingga
aku terlelap, hehehe... ngantuk berat, euy
Sinta, aku bener-bener kangeeeeeeeeen :D
Ela, selalu salut dengan pengetahuan jalan-jalanmu :D, Sinta aman bersamamu :P
Yana, welcome to the club
Galih, tetep, yang ngabisin wafer itu Galih :D
Hendru, postingannya lucu, tapi orangnya diem abis :D, hehe
Dan semua sahabat Eska..........
Ayo makan-makan eh jalan-jalan lagi :D
novi_khansa'kreatif
~Graphic Design 4 Publishing~
YM : novi_ningsih
http://akunovi.multiply. com
http://novikhansa.wordpress. com/
- 5.
-
Menjemput Rezeki
Posted by: "rahmad nurdin" rahmad.aceh@gmail.com rahmadsyah_tcc
Fri Dec 12, 2008 7:32 pm (PST)
Assalamu'laikum
Setengah jam menjelang adzan dzuhur. Dari kejauhan mata saya menangkap sosok
tua dengan pikulan yang membebani pundaknya. Dari bentuk yang dipikulnya,
saya hapal betul apa yang dijajakannya. Penganan langka yang menjadi
kegemaran saya di masa kecil. Segera saya hampiri dan benarlah, yang
dijajakannya adalah kue rangi, terbuat dari sagu dan kelapa yang setelah
dimasak dibumbui gula merah yang dikentalkan. Nikmat; pasti.
Satu yang paling khas dari penganan ini selain bentuknya yang kecil-kecil
dan murah, kebanyakan penjualnya adalah mereka yang sudah berusia lanjut "Tiga
puluh tahun lebih bapak jualan kue rangi" akunya kepada saya yang tidak bisa
menyembunyikan kegembiraan bisa menemukan jajanan masa kecil ini. Sebab
sudah sangat langka penjual kue rangi ini, kalau pun ada, sangat sedikit
yang masih menggunakan pikulan dan pemanggang yang menggunakan bara arang
sebagai pemanasnya.
Tiga jam setengah berkeliling, akunya. Baru saya lah yang menghentikannya
untuk membeli kuenya "Kenapa bapak tidak mangkal saja agar tidak terlalu
lelah berkeliling" iba saya sambil menaksir usianya yang sudah di atas angka
enam puluh "Saya nggak pernah tahu dimana Allah menurunkan rezeki, jadi saya
nggak bisa menunggu di satu tempat. Dan rezeki itu memang bukan ditunggu,
harus dijemput. Karena rezeki nggak ada yang nganterin" jawabnya panjang.
Ini yang saya maksud dengan keuntungan dari obrolan-obrolan ringan yang bagi
sebagian orang tidak menganggap penting berbicara dengan penjual kue murah
seperti Pak Murad ini. Kadang dari mereka lah pelajaran-pelajaran penting
bisa didapat. Beruntung saya bisa berbincang dengannya dan karenanya ia
mengeluarkan petuah yang saya tidak memintanya, tapi itu sungguh penuh
makna.
"Setiap langkah kita dalam mencari rezeki ada yang menghitungnya. Dan jika
kita ikhlas dengan semua langkah yang kadang tak menghasilkan apa pun itu,
cuma ada dua kemungkinan; Kalau tidak Allah mempertemukan kita dengan rezeki
di depan sana, biarkan ia menjadi tabungan amal kita nanti" lagi sebaris
kalimat meluncur deras meski parau terdengar suaranya.
"Tapi kan bapak kan sudah tua untuk terus menerus memikul dagangan
ini?" pancing
saya. Agar keluar terus untaian hikmahnya. Benarlah, ia memperlihatkan bekas
hitam di pundaknya yang mengeras. "Pundak ini, juga tapak kaki yang
pecah-pecah ini akan menjadi saksi di akhirat kelak bahwa saya tak pernah
menyerah menjemput rezeki"
Sudah semestinya isteri dan anak-anak yang dihidupinya dengan berjualan kue
rangi, berbangga memiliki lelaki penjemput rezeki seperti Pak Murad. Tidak
semua orang memiliki bekas dari sebuah pengorbanan menjalani kerasnya
tantangan dalam menjemput rezeki. Tidak semua orang harus melalui jalan
panjang, panas terik, deras hujan dan bahkan tajamnya kerikil untuk membuka
harapan esok pagi. Tidak semua orang harus teramat sering menggigit jari
menghitung hasil yang kadang tak sebanding dengan deras peluh yang
berkali-kali dibasuhnya sepanjang jalan. Dan Pak Murad termasuk bagian dari
yang tidak semua orang itu. Yang Allah takkan salah menjumlah semua
langkahnya. Tak mungkin terlupa menampung setiap tetes peluhnya dan kemudian
mengumpulkannya sebagai tabungan amal kebaikan.
***
Sewaktu kecil saya sering membeli kue rangi, tidak hanya karena nikmat
rasanya melainkan juga harganya pun murah. Sekarang ditambah lagi, kue rangi
tak sekadar nikmat dan murah, Tapi Pak Murad pedagangnya membuat kue rangi
itu semakin lezat dengan kata-kata hikmahnya. Lagi pula saya tak perlu
membayar untuk setiap petuahnya itu.
Sumber; Bayu Gawtama
--
RAHMADSYAH
Certified Master NLP Practitioner I 081511448147 I Motivator & Trauma
Therapist
www.rahmadsyah.co.cc
- 6a.
-
Re: [Ruang Baca] TIKIL, Titipan Kilat: Kami Antar, Kami Nyasar
Posted by: "april_reto" april_reto@yahoo.com april_reto
Fri Dec 12, 2008 11:01 pm (PST)
Hehehehe, kayaknya buku ini menghibur ya?
Udah punya ya bu? (ngecek mode on)
Btw ingat soal kiriman-kiriman kilat, mo nanya, tapi bingung mo nanya
sapa, apa kaus SK berlengan panjang berwarna putih dengan logo SK
pesanan saya sudah ada yang pernah ngirim ke rumah ya? Soalnya mpe
saat ini saya belum nerima. Jangan-jangan kaus itu korban TIKIL
wakakakakak
Just asking...
PS: mbak Sin, masalah dari yogya ke Bandung akan kupikirkan ya, sapa
sih yg nggak pengen ketemu dirimu, pak Teha dkk? :)Semoga di Yogya
nanti cepet acaranya :)
--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups. , ukhti hazimahcom
<ukhtihazimah@...> wrote:
>
> Judul: TIKIL, Titipan Kilat: Kami Antar, Kami Nyasar
> Penulis: Iwok Abqary
> Penerbit: Gagasmedia
> Cetakan: Pertama, 2008
>
- 7.
-
Undangan Diskusi "Perlawanan Perempuan Penulis atas KDRT"
Posted by: "Lia Octavia" liaoctavia@gmail.com octavialia
Sat Dec 13, 2008 2:44 am (PST)
PERLAWANAN PEREMPUAN PENULIS TERHADAP KDRT
Jika di era 60-an novelis laki-laki sering kali menggambarkan sosok
perempuan sebagai makhluk tak berdaya, lembut, dan cenderung pasif
penokohannya dalam karya-karya mereka, maka mulai era 90-an penulis
perempuan mulai menggeliat dan melahirkan karya sastra, namun sayangnya
karya yang dihasilkan belum mewakili perempuan seutuhnya. Tanpa disadari
mereka tetap melukiskan perempuan sebagimana pengarang laki-laki
menggambarkan sosok hawa; yang lemah, selalu tertindas, mengalami pelecehan
seksual dan seterusnya.
Bahkan Indonesia sempat kebanjiran karya yang sebenarnya adalah bagian dari
sastra sarat pornografi. Alih-alih memberdayakan perempuan dalam karyanya,
kecenderungan mereka justru mengidentifikasi perempuan sebagai makhluk
'penggoda laki-laki' dan punya kekuatan seksual untuk 'menundukkan'
laki-laki.
Sampai akhir tahun 90-an, kita belum menemukan karya penulis perempuan yang
lantang menyuarakan ketertindasan perempuan atas perlakuan lalim dan tak
adil yang menimpa mereka. Baik penulis laki-laki ataupun perempuan, masih
tetap memposisikan perempuan sekedar sebagai obyek penderita dalam karyanya.
Awal 2000-an, mulai banyak bermunculan penulis laki-laki dan perempuan yang
bergiat menulis dan membicarakan perempuan sebagai subjek sejarah dalam
segala lini kehidupan. Termasuk dalam tema Kekerasan dalam Rumah Tangga
(KDRT), semakin banyak penulis laki-laki dan perempuan yang menjadikannya
sebagai isu sentral dalam karya-karyanya, dengan tujuan pembelajaran,
penyadaran, dan pemberdayaan bagi pembaca karya tersebut.
Seperti buku "Luka di Champs Elysees" dan "Dari Balik Dinding Bernama Luka"
yang diterbitkan oleh Lingkar Pena Publishing House, tiga penulis perempuan
ini mengangkat isu kekerasan pada perempuan khususnya yang terjadi dalam
rumah tangga sebagai tema sentral yang dibahas dengan nada khas perempuan,
'lembut' tapi sekaligus 'tegas' di kedua buku tersebut.
Jika "Luka di Champs Elysees" adalah sebuah novel satir sekaligus
memberdayakan perempuan lewat ruang pop dan semisastra, maka "Dari Balik
Dinding Bernama Luka" adalah hasil observasi penulis atas ketabahan dan
kemampuan menjadi survivor para korban KDRT yang mayoritas adalah perempuan.
Ketiga penulis buku ini sesungguhnya bukanlah aktifis Anti Kekerasan
Terhadap Perempuan, akan tetapi, disadari atau tidak, telah tumbuh kesadaran
dalam karya mereka untuk menggunakan ruang budaya (baca: novel dan literatur
pop lainnya) sebagai media penyadaran yang diharapkan dapat menjangkau
seluruh komponen masyarakat untuk penyadaran atas hak-hak perempuan sebagai
bagian dari hak-hak manusia. Fenomena kesadaran penulis perempuan ini,
bersanding dengan pendekatan-pendekatan lainnya (aktifis prempuan, komnas
perempuan, pendamping perempuan dan lain-lain), merupakan arus perubahan
yang penting untuk digulirkan terus menerus! Pendekatan budaya menjadi
sangat penting karena seringkali tindakan kekerasan terhadap perempuan
sesungguhnya berakar pada praktek budaya yang telah berlangsung berabad abad
lamanya.
Meningkatnya angka kekerasan terhadap perempuan di tahun 2007 dibanding 2006
yang mencapai 25% menjadi sebuah fenomena yang mengkhawatirkan. Komnas
Perempuan mencatat sebanyak 25.522 kasus kekerasan terhadap perempuan muncul
sepanjang tahun lalu. Ini berarti sedikitnya 2 perempuan menjadi korban
setiap jam. Sebagian besar tindak kekerasan terjadi di sebuah tempat dimana
kedamaian dan perlindungan adalah dua hal yang seharusnya menaungi setiap
anggota keluarga.
Selain penulis yang akan hadir pada peluncuran kedua buku ini, aktifis
perempuan Evi Permata Sari yang telah lama melakukan pendampingan di Mitra
Perempuan, akan berbagi saran tentang bagaimana menyikapi korban kekerasan
yang sangat membutuhkan perhatian dan bantuan kita.
Kedua buku ini insya Allah akan diluncurkan pada:
Hari/Tanggal : Minggu, 14 Desember 2008
Tempat : MP Book Point, Jl. Puri Mutiara Raya No 72 Cipete
Jakarta Selatan. Telpon: 021-75915762
Waktu : 10.00 WIB � selesai
Pembicara
- Rosita Sihombing
(Penulis Buku Luka di Champs Elysees)
- Dian Ibung
(Penulis Buku Dari Balik Dinding bernama Luka)
- Evi Permata Sari
(Pendamping korban KDRT LSM Mitra Perempuan)
- 8.
-
[Inspirasi] Tindakan Ikut Menentukan Hasil Yang Didapatkan
Posted by: "dkadarusman" dkadarusman@yahoo.com dkadarusman
Sat Dec 13, 2008 4:23 am (PST)
Tindakan Ikut Menentukan Hasil Yang Didapatkan
Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
Pernahkah Anda memperhatikan bahwa ternyata, pada umumnya manusia
melakukan tindakan yang sama seperti yang dilakukannya dihari-hari
sebelumnya. Dengan kata lain kita melakukan aktivitas yang itu-itu
saja dari hari ke hari. Itulah sebabnya, kita selalu dapat
memperkirakan apa yang akan kita hasilkan dihari itu. Karena, kita
tahu bahwa sebuah tindakan ikut menentukan hasil yang kita dapatkan.
Setiap hari kita bertanya; mengapa hidupku tidak kunjung mengalami
perbaikan? Padahal, kita menjalani hidup dengan cara yang sama dengan
hari-hari sebelumnya.
Suatu ketika, saya memasuki sebuah bangunan dimana dinding di keempat
sisinya didominasi oleh kaca transaparan. Begitu bersihnya kaca-kaca
itu, sehingga kita bisa melihat keluar dengan jelas. Selain saya,
didalam ruangan itu terdapat seekor burung liar. Ketika saya masuk,
dia terlihat panik dan berusaha menjauh. Namun ketika hendak terbang
keluar, dia menabrak kaca hingga nyaris terhempas. Dia mencoba lagi,
dan menabrak kaca lagi. Sampai berkali-kali. Meski ingin menolongnya,
namun saya tidak bisa berbuat apa-apa.
"Hey, pintunya ada disamping kiri...." saya berkata, meski tahu bahwa
dia tidak akan mengerti. Suatu ketika, burung itu kelelahan. Dia
tidak terbang dan menabrak kaca lagi. Kali ini dia diam saja.
Kepalanya yang mungil mendengak-dengok ke kiri dan ke kanan. Seolah
dia mencari tahu; benda apa yang tadi ditabraknya? Saya tidak tahu,
apakah burung kecil itu sudah menyadari keberadaan kaca itu atau
tidak. Tetapi, sekarang dia tidak mau terbang lagi. Dia memilih untuk
menclak-menclok diantara kusen-kusen kayu dipinggir bangunan. Saya
mengira dia kapok terbang. Sehingga bertambahlah rasa kasihan saya.
Seandainya saja bisa menangkapnya, saya akan membawanya keluar dari
sana.
Tetapi, ternyata semua dugaan saya salah. Setelah beberapa kali
menclak menclok, burung itu kemudian masuk kedalam lubang angin yang
sempit. Lalu dia menelusuri lorong gelap itu. Dan akhirnya sampai
disisi lain dinding bangunan. Sekarang dia sudah sampai kealam luas
tanpa batas. Lalu terbang dengan teramat bebas!
Saya tertegun. Lantas berucap terimakasih kepada sang burung. Dia
telah mengingatkan saya tentang apa yang selama ini saya lakukan
setiap hari. Setelah selama bertahun-tahun saya melakukan tindakan
yang sama, mestinya saya tahu bahwa hasilnya pasti akan sama. Tetapi,
kadang pikiran ini tertimbun kepicikan sehingga menjadi begitu
dangkal. Sehingga, meskipun tahu bahwa tindakan yang saya ulang-ulang
itu hanya akan memberikan hasil yang sama, tetapi setiap akhir tahun
saya suka bertanya; mengapa tahun ini saya tidak mendapatkan
peningkatan yang bermakna? Mengapa pencapaian saya tahun ini hanya
begini-begini saja? Mengapa pendapatan saya tahun ini sama saja
dengan tahun lalu? Dan sejuta tanya lainnya.
Tiba-tiba saja burung itu menyadarkan saya, bahwa untuk mendapatkan
hasil yang berbeda; saya harus melakukan sesuatu yang berbeda. Bahkan
burung itu rela menunjukkan bahwa terbang dan menabrak kaca hanya
akan menjadikan jiwanya terancam. Dia mengulanginya lagi untuk
menegaskan pelajaran itu. Pelajaran bahwa; jika kita melakukannya
lagi, maka kita akan mendapatkan hasil seperti sebelumnya lagi.
Sekarang burung kecil itu menunjukkan kepada saya tindakan yang
berbeda sama sekali. Meski dia punya sayap, dia tidak tergoda untuk
kembali mengepak terbang. Kali ini dia menclak-menclok dengan kaki-
kaki mungilnya. Lalu menelusuri lubang angin itu. Dan. Seperti yang
saya saksikan; dia mendapatkan hasil yang berbeda. Dia berhasil
mendapatkan apa yang diharapkannya.
Sekarang, saya mengerti; mengapa hasil yang kita dapatkan dari tahun
ke tahun sama saja. Karena, kita tidak mengubah apapaun dari perilaku
kita. Karena, kita tidak mengubah apapaun dari cara pandang kita.
Karena kita tidak melakukan sesuatu yang berbeda dalam hidup kita.
Sang burung kecil berkata; "Kalau kamu ingin mendapatkan hasil yang
berbeda, maka kamu harus melakukannya dengan cara yang berbeda."
Ubahlah sesuatu, maka hasilnya akan berubah pula.
Bagaimana seandainya kita bersikukuh untuk tidak melakukan perubahan?
Silakan saja. Bukankah hidup ini merupakan sederetan pilihan? Kita
semua berhak untuk bersikukuh pada jalan mana yang kita tempuh. Kita
semua berhak untuk tetap berdiri pada cara kita sendiri. Pada sudut
pandang kita sendiri. Dan kepada kebenaran diri kita sendiri. Namun,
jangan lupa akan konsekuensinya. Sehingga, kita tidak akan pernah
mengeluhkan hasilnya. Jadi, jika kita tidak mau berubah; maka
sebaiknya kita tidak menuntut perbaikan hasil. Kenapa? Karena hasil
yang lebih baik hanya akan kita dapatkan jika kita bersedia melakukan
perubahan. Jika tidak? Maka kita hanya akan mendapatkan yang itu-itu
saja.
Hore,
Hari Baru!
Dadang Kadarusman
http://www.dadangkadarusman. com/
Catatan Kaki:
Mengubah cara hidup itu beresiko. Bisa saja kita mendapatkan hasil
yang lebih sedikit. Tetapi, itu juga membuka peluang untuk
mendapatkan makna hidup yang jauh lebih baik.
- 9.
-
[Ruang Keluarga] Terima Kasih.....Mama.......
Posted by: "Putri Agus Sofyan" iastrito126ps@yahoo.co.id iastrito126ps
Sat Dec 13, 2008 4:24 am (PST)
TERIMA KASIH, MAMA.....
Sore itu sekitar jam empat sore, aku mengirim pesan singkat kepada ketiga sahabat anakku-Ana.
Mereka bertiga adalah Weni, Gadis dan Tina. Dua tahun mereka bersahabat sejak di kelas satu es em a..
"Weni, Gadis, Tina," bisa tolong tante? tulis pesan di pesan singkat masing-masing ponsel mereka bertiga.
"Ada apa, tan,"jawab Weni tak lama kemudian dilanjut dengan jawaban yang sama dari kedua sahabat lainnya.
"Besok ada acara tidak,"lanjutku yang kukirim kepada ketiga orang tersebut.
"Gak ada, tan... kan besok Ana ulang tahun, tan...,"jawab Weni secara bersamaan pesan singkat kuterima
dari kedua sahabatnya itu.
"Tante, besok kami bertiga mau ngerjain Ana. Boleh yha Tante.
Besok kami akan ajak Ana keluar terus kita lempar pake telur dan tepung sama kopi,
boleh ya tan," Gadis menjelaskan rencana mereka bertiga dan dijawab oleh yang lain dengan menulis, boleh ya tan.
Gadis memforward pesan singkatnya kepada Weni dan Tina.
"Begini, tante punya rencana. Besok kalian bisa datang jam setengah enam?
Tante sudah siapkan kue dan lilin...Nah, kebiasaan Ana setelah sholat subuh, ia akan tidur lagi.
Saat itulah kalian masuk dengan membawa kue dan lilin.
Gimana, bisa bantu tante. Jadi kita kerjain Ana bersama-sama,"tulisku dalam pesan pendek hingga tiga kali
berturut-turut.
"Bisa tante, bisa....,"jawab mereka bertiga.
"Bisa tante bicara sama mama. Sebentar tante telpon ke nomor kalian yha,"lanjutku dan
sekaligus meminta izin kepada orangtua mereka masing-masing.
Setelah aku selesai berbicara kepada masing-masing Ibu dari sahabat anakku.
Segera kupersiapkan keperluan untuk acara besok pagi.
Ya....anakku besok tanggal 13 Desember akan memasuki usia enam belas tahun.
Usia yang sangat rawan bila kita sebagai orang tua mengacuhkan mereka.
Usia-usia segitulah, anak-anak yang merasa dirinya sudah besar,
akan berusaha mencari jati diri dan pengakuan atas kedewasaan mereka.
Kita patut dan wajib hukumnya mengikuti perkembangan pergaulan mereka dan ada kalanya kita
menganggap mereka adalah teman sehingga mereka bebas untuk mengungkapkan isi hatinya,
ada keterbukaan antara ibu dan anak.
Jam dua dini hari tanggal 13, aku sudah bangun.
Kupersiapkan keperluan untuk nanti pagi. Tak terasa, saking sibuknya aku menyiapkan bersama
dengan pembantu, azan subuh bergema.
"Alhamdulilah.....sudah subuh...aku harus buru-buru,"ujar bathinku sambil terus konsentrasi
menyelesaikan hiasan kue tart.
Nasi kuning komplet, kue tart, kue-kue kering sampai piring sendok garpu semua sudah siap tepat jam lima.
Ku bangunkan suami dan anak-anakku, termasuk Ana.
"Bangun.....ayo bangun....sudah subuh....,"ujar ku membangunkan anak-anakku di kamar masing-masing.
Demikian pula dengan suamiku.
Ku lihat satu-persatu sudah keluar dari kamar. Aku pura-pura acuh dengan keadaan dan
ketika aku ingin wudhu, aku bertemu dengan Ana."Kok mama cuek sih sama Ana,"kata Ana sambil mengikuti kekamar mandi.
"Ah biasa aja, mama mau wudhu,"jawabku sekenanya.
"Biasanya, mama mencium aku, membisikan aku...mama lupa yha ini hari apa,"lanjutnya dengan wajah agak cemberut.
"Hari Sabtu.... memang kenapa, udah ah...mama mau wudhu dulu," ujarku meninggalkan Ana.
Ku lihat.... Ana masuk ke kamarnya sambil membanting pintu...tanda kesal yang terlampiaskan.
"Ah.....Ana....Ana... ..kamu tidak tahu...kalau mama akan memberimu sesuatu lain daripada yang lain," bathinku
sambil memulai berwudhu.
Jam setengah enam, aku sengaja menunggu sahabat-sahabat Ana di luar pagar sambil menyapu halaman luar.
Tak lama mereka bertiga datang dengan diantar oleh ibu mereka masing-masing.
"Assalamualaikum....kok diluar tante,"kata Tina sambil turun dari mobilnya.
"Waalaikum salam,"jawabku...."tante sengaja nunggu, biar kalian tidak membunyikan bel....karena kalau bel
bunyi nanti semua pada keluar....jadi gak kejutan donk...,"lanjutku sambil bersalaman kepada
ibu-ibu ketiga sahabat anakku.
"Ayo masuk....sudah tante siapkan,"aku mempersilahkan mereka berenam masuk ke dalam rumah.
"Weni, Gadis, Tika.....ini kuenya dan lilinnya. Sengaja tante kasih lilin besar satu buah....yang menandakan anak
tante sudah menjelang dewasa. Jadi bukan lilin nomor dengan angka enam belas," ujarku sambil tersenyum.
"Bisa aja tante...,"jawab Tina dengan diikuti ketawa kecil dari mereka semua.
"Ada-ada aja.....mama nya Ana,"sambung mama Gadis sambil mengambil posisi duduk di ruang tamu disusul
dengan mama Weni dan mama Tina.
Weni, Gadis dan Tina...membuka pintu pelan-pelan. Kamar anakku masih gelap karena Ana selalu mematikan
lampu bila ia tidur.
"Happppyyyy Birthday.....Ana..... .,"jerit mereka bertiga.
Ku dengar Ana menjeri kaget dan terdengarlah suara gaduh dari dalam kamar Ana.
"Ada apa mah.....ada apa...,"suami dan anak sulungku keluar kamar dengan wajah terkejut yang amat sangat.
Aku tertawa geli....segeli gelinya....
"Lho...kok rame amat,"lanjut suami kemudian.
"sssttttt.....maaf Pah..... mama sengaja bikin heboh pada hari ini..... itu ada mama Gadis,
mama Weni dan mama Tina....,"sahutku sambil memohon maaf karena tidak memberi tahu lebih dulu.
"Ya ampun...mama..... papa sampai kaget,"suamiku kembali ke kamar untuk berganti pakaian dan
tak lama menemui ibu-ibu sahabat Ana di ruang tamu.
Aku kembali ke dapur untuk merapihkan semuanya dan ku persilahkan ibu-ibu yang baik itu menikmati
teh hangat yang telah kusiapkan sejak tadi.
"Maaaaammmmmaaaaa.....,"Ana memanggil namaku dan berteriak sangat kencang.
"Terima kasih,mama.....terima kasih......embak gak nyangka. Embak kira mama lupa bahwa
hari ini aku ulang tahun," lanjutnya sambil memelukku erat-erat.
Ah...hari bahagia.... aku berusaha memberikan yang berbaik untuk keluargaku...terutama untuk buah hatiku..
Selagi aku mampu...selagi aku bisa dan selagi aku ada.....
Aku ingin mereka merasakan keberadaanku bukan hanya sebagai ibu bagi mereka,
tapi aku ingin mereka merasakan bahwa keberadaanku adalah untuk memberikan kekuatan bagi perjalanan hidup mereka kelak.
"Terima kasih...Mama...."
Suasana ceria berubah menjadi suasana haru sesaat....kemudian kembali ceria lagi dengan
teriakan-teriakan empat orang anak
yang menginjak dewasa....ya...sekarang mereka sudah menjadi gadis belia...yang cantik-cantik. ...
"Ada-ada aja...yha...mama Ana ini...buat acara,"ujar mama-mama sahabat anakku dengan
diiyakan oleh suamiku berupa anggukan kepala...
Ah....terima kasih Allah....atas karunia yang kau berikan hari ini....
Tak terasa, hari sudah siang.....Matahari sudah mulai menerangi bumi.....
"Ayo....waktunya kita sarapan pagi......mari ibu-ibu....sudah saya siapkan nasi kuning beserta kawan-kawannya,"tanganku
menggandeng ketangan ibu-ibu yang telah baik hati mengantar putri-putrinya ke hari istimewa anakku - Ana....
Kami pun menikmati sarapan pagi dengan disertai saling curhat atas perilaku mereka sehari-hari...
Sesekali kulihat anak sulungku mengambil foto mereka berempat dengan gaya yang lucu-lucu dan mengajak anak bungsuku
ikut berpose.....
Hari yang indah.....
Nikmati chatting lebih sering di blog dan situs web. Gunakan Wizard Pembuat Pingbox Online. http://id.messenger.yahoo.com/ pingbox/
- 10a.
-
Re: BERKAH MENULIS
Posted by: "WORD SMART CENTER" wordsmartcenter@yahoo.com wordsmartcenter
Sat Dec 13, 2008 4:25 am (PST)
ah sismanto, apa enggak kebalik
justru saya iri, sebab antum sudah menjadi guru
sedangkan udo, sampai saat ini
belum berbuat banyak
--- On Thu, 12/11/08, sismanto <siril_wafa@yahoo.co.id > wrote:
From: sismanto <siril_wafa@yahoo.co.id >
Subject: [sekolah-kehidupan] Re: BERKAH MENULIS
To: sekolah-kehidupan@yahoogroups. com
Date: Thursday, December 11, 2008, 11:17 PM
Benar-benar berkah menulis Udo, kapan saya bisa seperti Udo yach...
benar-benar mendapatkan berkah dari menulis :)
--- In sekolah-kehidupan@ yahoogroups. com, WORD SMART CENTER
<wordsmartcenter@ ...> wrote:
>
>
>
>
>
- 11.
-
[catatan kaki] Please help me..., tentang buku nih.
Posted by: "aisyah muchtar" myaisyah_mymuchtar@yahoo.co.id myaisyah_mymuchtar
Sat Dec 13, 2008 4:26 am (PST)
Sudah tahu khan, kalo di rumah saya puya perpustakaan mini??.
Berhubung buku-bukunya kebanyakan 'gak membumi', masyarakat sekitar
gak ada yang mampir, anak-anak juga kalo mampir betah sebentar,
maklum....gak ada buku anak-anak di rumah :-((.
Nah tadi siang, permohonan saya untuk pinjam buku dalam jumlah besar
ke Perpustakaan Daerah jakarta Timur disetujui. Saya cuma mau minjam
10-30 buku seminggu setelah itu dikembalikan dan pinjam lagi. Tapi
ternyata kata si petugas perpustakaan: "Kalau segitu terlalu sedikit
mba...kita menyediakan paket minimal 400 buku untuk 2 bulan.".
Huaaaaaa, senaaaang banget..:-)
Tapi buku apa yang bagus? yang menginspirasi, yang menggerakkan, yang
mencerdaskan, yang membelajarkan.. Di utamakan untuk anak-anak dan
remaja, Please.....share donk...
Need to Reply?
Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Individual | Switch format to Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
Tidak ada komentar:
Posting Komentar