Messages In This Digest (6 Messages)
- 1.
- [Ruang Baca] Pukulan Telak dari Kepolosan Bocah From: sinthionk
- 2.
- (Ruang Baca) Berlatih Bersukacita dari si Riang Pollyanna From: punya_retno
- 3.
- (Ruang Baca) Suka Dukanya Married with Brondong From: punya_retno
- 4.
- [LONCENG] Met MILAD Kang Mas Budi (SK Bandung makan-makan euy) From: hadianf@gmail.com
- 5.
- Promo my 1st book: Indahnya Cahaya Bintang From: Ruli Amirullah
- 6.
- Artikel: Cara Terbaik Untuk Menutupi Aib Diri Sendiri From: Dadang Kadarusman
Messages
- 1.
-
[Ruang Baca] Pukulan Telak dari Kepolosan Bocah
Posted by: "sinthionk" sinthionk@yahoo.com sinthionk
Sat Jun 12, 2010 4:50 am (PDT)
Anak-anak selalu identik dengan kepolosannya dalam berucap atau menanyakan sesuatu, yang tak diragukan adalah bentuk awal dari kecerdasan otaknya yang sedang berkembang. "Senjata" kepolosan inilah yang digunakan Quino, komikus asal Argentina, untuk mengapresiasikan luapan kritik pada kondisi negaranya.
Walaupun komik ini dibuat 1964-73, tetapi kesatirannya masih fresh dan relevan dengan kondisi bangsa Indonesia saat ini. "Pada masa tokoh Mafalda lahir, kebijakan ekonomi Argentina dinilai hanya menguntungkan segelintir orang dan modal asing. Kelas menengah memang meningkatkan hingga 40 persen, namun pengangguran meroket dan kesenjangan ekonomi menajam…." [Pengantar Redaksi]
Seperti membaca kondisi bangsa sendiri bukan?
Melihat sosoknya yang imut, endut, tembem dengan pita yang sangat manis di puncak rambutnya yang lebat pasti akan membuat saya gemas melihatnya, apalagi saat melihat wajahnya yang berubah datar dan tanpa berdosa setelah menyampaikan pendapatnya yang nylekit. Cara berpikir yang masih netral, positif, dan spontan, khas anak-anak, membuat sindiran Mafalda lebih mengena, dan bisa jadi bakal menciptakan ekspresi tertegun, berkerut, atau mungkin defensif pada wajah pembaca kala membaca celetukannya yang 'terdengar' menyerang eksistensi.
'Serangan' kepolosan Mafalda tidak hanya ditujukan kepada keseharian atau kehidupan terdekatnya, tetapi juga merambah ke dunia pendidikan, peperangan, carut marut bangsa, maupun dunia. Dan bagaimana Mafalda menyindir masalah peperangan, PBB, dan Amerika, harusnya membuat 'mereka-mereka' yang andil atau menduduki kursi kekuasaan merasa malu. Sayang, sepertinya mereka terlalu angkuh untuk menanggalkan ego?
Salah satu poin yang sangat berpengaruh dalam meraih generasi yang unggul adalah sistem pendidikan. Kemudian, bagaimana pendidikan menurut kacamata anak-anak? Mafalda sukses menyentil berlimpahnya aktivitas sekolah yang kerap 'menekan' otak anak-anak. Sedangkan di sisi lain, banyaknya materi pelajaran terkadang tidak didukung dengan mutu yang baik.
Seperti yang tergambar di salah satu strip Mafalda terlihat mengukur lingkar kepalanya dengan menggunakan meteran, kemudian berujar sambil melihat hasil di meteran, "Emmm… Muat nggak ya buat nampung semua yang diajarin di sekolah?" [Sekolah Yuk!: 3]
Ibu guru (mengajar di depan kelas): Mama sayang aku. Mama cinta aku.
Mafalda (maju menyalami Bu Guru): Selamat ya, Bu, sepertinya mama Ibu baik sekali.
Kemudian kembali ke bangku dan berteriak: Nah sekarang tolong ajari kami sesuatu yang lebih berguna. [Sekolah Yuk!: 14]
Pria yang bernama asli Joaquin Salvador Lavador ini, tidak hanya bertumpu pada sosok Mafalda dalam menyampaikan kritik-kritiknya. Masih ada empat bocah cilik yang masing-masing memiliki karakter kuat. Tokoh Felipe dengan imajinasinya sangat tinggi akibat kontaminasi televisi; Sosok Manolito yang mewakili para kapitalis; Susanita yang merupakan gambaran kaum borjuis yang terkadang feminis, atau Miguelito yang lugu.
Sedikit petikan dari banyaknya celoteh bocah-bocah ini yang cukup menyentil,
Susanita: Dasar Mafalda! Menyebalkan! Dia bilang pertanyaanku adalah pertanyaan bodoh!
Manolito: Memangnya kamu tanya apa?
Susanita: Kenapa di Negara ini para pekerjanya sangat miskin, nggak pirang, nggak ganteng dan nggak punya mobil kayak Amerika? Menurutmu pertanyaanku itu bodoh?
Manolito [termenung]: Nggak. Kalau dipikir-pikir, itu bukan pertanyaan bodoh.
Susanita: …………
Manolito: Beneran, deh. Kalau dipikir-pikir lebih dalam. Itu pertanyaan berbahaya!
[Hidup Negeriku! : 19]
Felipe: Halo!
Mafalda: Sssstttt!! Jangan kencang-kencang! Ada yang lagi sakit di rumah.
Felipe: Papamu sakit?
Mafalda: Nggak
Felipe: Kalau gitu Mamamu, ya?
Mafalda: Bukan juga
Selanjutnya digambarkan mafalda duduk di depan globe yang sedang dibaringkan dalam kondisi 'sakit'
[Astaga Dunia Kok Tambah Parah, Sih: 3]
Berdasar wawancara Quino dengan Lucia Iglesias, wartawan Unesco Courrier, pada tahun 2000, ia mengatakan, "Dunia sekarang masih tetap sama dengan dunia yang dikritik Mafalda pada 1973, saat saya tidak lagi melanjutkan komik strip tersebut, atau bahkan lebih buruk. Di satu sisi saya senang komik ini masih terus dibaca, tapi di sisi lain sedih rasanya memikirkan ketidakadilan sosial yang dia adukan masih tetap ada sampai sekarang." [dikutip dari Pengantar Redaksi]
Salah satu bukti bahwa dunia tidak pernah belajar dari sejarah.
Judul : Mafalda 1
Penulis : Quino
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun : 2010
Tebal : xii + 129 halaman
Genre : Komik Strip
ISBN : 978-979-91-0213-3
"Keindahan selalu muncul saat manusia berpikir positif"
^_^
http://jendelakumenatapdunia. blogspot. com
http://sinthionk.multiply. comhttp:/ /wisata-buku. com
YM: sinthionk
- 2.
-
(Ruang Baca) Berlatih Bersukacita dari si Riang Pollyanna
Posted by: "punya_retno" punya_retno@yahoo.com punya_retno
Sat Jun 12, 2010 4:57 am (PDT)
Judul buku: Pollyanna
Penulis: Eleanor H. Porter
Penerjemah: Rini Nurul Badariah
Penyunting: Rinurbad & Dee
Ilustrasi sampul: Ella Elviana
Pemeriksa aksara: Azzura Dayana
Penata letak: Lian Kagura
Penerbit: Orange Books
Cetakan pertama: Mei 2010
"If you don't consciously prepare yourself each day to practice wonder and joy, you get really good at practicing stress and pain and anger and fear." Itulah kalimat yang pernah saya baca dari salah satu artikel di majalah Oprah. Kalimat yang juga sekaligus membuat saya mencamkan: bahwa kebahagiaan bukanlah hadiah yang serta merta jatuh dari langit. Ia harus dipelajari, dilatih dan diupayakan setiap hari.
Seperti yang dilakukan oleh seorang Pollyanna Whittier.
***
Pollyanna adalah seorang gadis cilik berusia sebelas tahun yang yatim piatu. Almarhum ayahnya, John Whittier adalah seorang pendeta. Sepeninggal ayahnya, Pollyanna sempat dirawat oleh Ladies' Aidsuatu organisasi relawan, untuk kemudian diserahkan pada satu-satunya anggota keluarga Pollyanna yang tersisa, bibinya. Wanita yang belum menikah ini bernama Miss Polly Harrington dan tinggal di Beldingsville, Vermont.
Miss Polly yang kaku pada awalnya merasa terbebani oleh kehadiran Pollyanna. Alih-alih menyediakan satu kamar yang nyaman untuk Pollyanna, Miss Polly malah memberikan sebuah kamar di loteng. Tanpa cermin, panas, dan dengan beberapa ekor lalat yang beterbangan masuk saat jendela dibuka. Sungguh suatu kamar yang jauh dari bayangan Pollyanna yang mengidamkan sebuah kamar dengan karpet, lukisan dan tirai draperi.
Namun ketimbang mengeluh, Pollyanna memilih untuk melakukan permainan sukacita yang pernah diajarkan almarhum ayahnya. Dalam permainan ini, Pollyanna akan mencoba menemukan sisi menyenangkan dari setiap peristiwaseburuk dan semengesalkan apapun itu. Tentang kamar itu misalnya. Pollyanna berkata "Aku senang di sini tidak ada cermin, sebab TIDAK ada kaca yang memperlihatkan bintik-bintik mukaku." (hal 34) dan "Lihat..jauh di sana, pohon-pohon, rumah dan menara gereja yang indah itu, dan sungai berkilatan seperti perak pemandangan seperti itu membuat kita tidak butuh lukisan. Oh, kini aku senang dia memberikan kamar ini." (hal 35)
***
Lambat laun, permainan sukacita ala Pollyanna ini mulai populer di kota tersebut. Pada awalnya, hanya Nancy, pembantu Miss Polly, yang bersedia memainkan permainan ini. Diikuti oleh si pengurus kebun, Tom Tua, Dr Chilton, Mrs. Snow yang lumpuh, Mr John Pendleton yang asosial, Jimmy Bean yang sering berkata kasar, Pendeta Paul Ford yang mulai kehilangan antusiasme jemaatnya, Mrs. Tarbell yang berduka karena putranya meninggal, Mrs. Benton yang selalu mengenakan pakaian hitam karena berkabung atas kepergian suaminya, Mrs. Payson yang berniat bercerai dari suaminya, sampai orang yang paling diharapkan Pollyanna untuk turut dalam permainan ini: bibinya sendiri.
Karena Pollyanna menjadi demikian populernya, seluruh kota pun turut berduka saat Pollyanna mengalami kecelakaan mobil. Kecelakaan yang membuat kaki Pollyanna terancam lumpuh seumur hidup.
***
Napas buku ini mengingatkan saya pada salah satu buku klasik lain berjudul What Katy Did karya Susan Coolidge. Buku yang telah diterjemahkan dengan judul Katy ini juga menampilkan tokoh sentral gadis berusia sepantaran Pollyanna. Mereka sama-sama gadis ceria yang kemudian mengalami kecelakaan dan berusaha melewati masa-masa sulit. Kalau Katy mengistilahkannya dengan "belajar di Sekolah Penderitaan (School of Pain)" maka Pollyanna menyebutnya dengan "permainan sukacita (Glad Game)."
Betapapun, permainan sukacita bukanlah sekadar optimisme buta belaka. Seperti yang dijelaskan oleh sang penulis, Eleanor B. Porter di website Pollyanna of Littleton (http://www.golittleton.com/eleanor_ ), yang juga merupakan kampung halaman Porter. "Pollyanna did not pretend that everything was sugar-coated goodness," ujar Porter.porter.php
Ini tampak misalnya saat Pollyanna menegur Nancy yang gembira karena Miss Polly berangkat ke Boston untuk menghadiri pemakaman. "Pasti ada beberapa hal yang tidak cocok untuk memainkan inidan kurasa pemakaman adalah salah satunya. Tidak ada yang bisa membuat kita gembira dari situ." (hal 139)
Atau saat Pollyanna memprotes Nancy yang berujar betapa gembira dirinya karena Miss Polly akhirnya mencemaskan Pollyanna. "SENANG karena Bibi Polly takut memikirkan diriku! Oh, Nancy, BUKAN begitu aturan mainnyasenang karena hal seperti itu!" ia keberatan (hal 205)
Atau bahkan saat Pollyanna merindukan ayahnya. "Aku tahu, Ayah yang berada di antara malaikat, aku tidak sedang bermain sekarang tak sedikit pun; tapi aku tak percaya bahwa kau tak bisa menemukan hal yang menyenangkan tentang tidur di atas sini sendirian dalam gelap, seperti ini. Kalau saja aku dekat kamar Nancy atau Bibi Polly, atau bahkan anggota Ladies' Aid, pasti tidak begini!" (hal 47).
***
Sebagai karya sastra anak berbahasa Inggris klasik, menerjemahkan buku ini tentu memiliki tingkat kesulitan tersendiri. Namun penerjemah mampu mengalihgagasankan sejumlah idiom dalam buku ini dengan luwes. Upaya ini tampak dari beberapa kata seperti "dong", "deh", "duh", "judes", "welas asih" , "ngambek". Favorit saya adalah kata yang diterjemahkan menjadi "amit-amit!", "daripada ribet", "cup cup", "Hai, hai Guguk!" (saat Pollyanna menyapa seekor anjing), dan "Hei, ikutan dong!"
Sama luwesnya dengan sampul dan ilustrasi dari buku ini. Dengan sekian banyak versi desain sampul buku ini dari para penerbit lainnya, pose Pollyanna yang tengah mengelus kucing sebagai sampul buku ini, sungguh cantik, berwarna-warni dan eye-catching, namun juga tetap berkesan klasik. Salut untuk desainer sampul buku ini.
***
Popularitas buku yang termasuk dalam jajaran buku best seller di Amerika Serikat pada abad 20 ini melahirkan sejumlah papan permainan Glad Game juga Glad Club. Littleton bahkan merayakan "The Official Pollyanna Glad Day" pada setiap musim panas. Beberapa istilah juga muncul kemudian seperti "pollyannaish" dan "Pollyannaism" untuk mendeskripsikan seseorang yang selalu berusaha menemukan sisi menyenangkan dari setiap peristiwa, sesulit apapun itu.
Tak heran. Usai membaca buku ini, saya juga jadi ingin mencoba memainkan permainan sukacita ala Pollyanna. Keinginan saya terkabul. Kemarin pagi, Raihana, bayi saya yang berusia 8,5 bulan rewel. Ia melempar setiap mainan yang saya berikan dan menangis untuk hal-hal sepele, sesepele saya pergi mengambil air minum di kulkas.
Padahal, saya berencana untuk pergi ke bank. Sementara ibu saya sedang tidur dan tidak ada orang lain lagi yang bisa dititipi Raihana. Setelah menimbang-nimbang sejenak, saya memutuskan untuk mengajak Raihana bersama saya, dengan menggunakan stroller.
Sepanjang perjalanan Raihana tampak sumringah dan tertawa-tawa ceria. Di bankkarena masih sepiRaihana juga bebas mengeksplor ruangan dengan merangkak kesana kemari, diikuti tatapan geli para karyawan bank yang baik hati. Sesekali saya juga menjelaskan pada Raihana mengenai aneka slip isian di bank atau benda-benda lain yang menarik matanya, seperti papan kurs valas yang berlampu.
Glad game ala Pollyanna: "Saya senang tadi ibu saya tidur dan Raihana bosan di rumah. Kami jadi bisa berjalan-jalan ke bank dengan kereta bayi dan Raihana belajar hal-hal baru lagi! Alhamdulillah."
Yay, I did it! Bagaimana dengan Anda? Mau mencoba permainan ini? :)
***
http://halamanmoekabooks.com
"Where bookaholics have fun"
- 3.
-
(Ruang Baca) Suka Dukanya Married with Brondong
Posted by: "punya_retno" punya_retno@yahoo.com punya_retno
Sat Jun 12, 2010 5:03 am (PDT)
Cerita & gambar: Mira Rahman & Vbi Djenggotten
Editor: Bikumiku
Desain sampul: Mira Rahman & Vbi Djenggotten
Penerbit: Bikumiku Publishing
"Lovers don't finally meet somewhere. They're in each other all along," ujar Jalaluddin Rumi. Mengacu pada ujaran Rumi tersebut, maka cinta bisa hadir dengan aneka perbedaannya. Mulai dari status sosial, lokasi geografis, ras, budaya, karakter, hobi dan kegemaran.
Dan tentu saja, selisih umur.
***
Hadir sebagai sebuah novel grafis karya kolaborasi pasangan suami istri Mira Rahman dan Vbi Djenggotten, Married with Brondong bertutur tentang suka dukanya menjalani pernikahan dengan selisih umur terpaut tujuh tahun.
Jo (karakter wanita) dalam novel grafis ini berusia 32 tahun saat bertemu dengan Bo (karakter pria) yang berusia 25 tahun. Bermula dari kegemaran sama-sama senang membaca komik, dan gerah dengan tata ruang kota, mereka kemudian berbagi prinsip: bahwa menikah hendaknya disegerakan, tanpa perlu melalui proses pacaran. Prinsip yang kemudian disepakati bersama oleh Bo dan Jo untuk menyatukan diri dalam ikatan pernikahan.
Keputusan ini tentu tak serta-merta mulus. Banyak tudingan tak sedap mampir ke telinga Jo terkait selisih umur mereka. Di sisi lain, Bo sendirimeski yakin dengan niatnyasempat merasa ketar-ketir dengan kemampuannya menafkahi keluarga, dengan gaji yang pas-pasan.
Dan betapa dengan semua perbedaan yang ada, mereka berusaha untuk tetap menyatukan visi dan misi: mencintai karena-Nya.
***
Terinspirasi dari kisah nyata, Married with Brondong berbagi dengan cara yang pas, tanpa harus terjebak menjadi narsis ataupun kebablasan curhat.
Bagi saya, ini paling terasa di halaman 65-69. Dikisahkan, pada suatu malam setelah mereka menikah, Bo dan Jo bermaksud makan di luar. Berkendara motor, mereka bertemu suatu keluarga pemulung, di mana sang ayah tengah menarik gerobaknya sambil mengobrol dengan anak-anaknya yang ingin makan ayam Kentaki.
Apa yang dilakukan Bo dan Jo berikutnya mungkin sudah bisa diduga. Namun yang membuat saya berlinang air mata, betapa bagian ini dituturkan dengan demikian tulus dan rendah hati. Tanpa terasa sedikitpun niatan untuk ujub ataupun menepuk dada. Salut.
Diselingi humor, romantisme yang hadir pun terasa manis dengan segala kesederhanaannya. Seperti misalnya, penggalan kata Bo dan Jo yang merupakan gabungan dari kata `Bojo'. Dalam bahasa Jawa, `bojo' berarti suami ataupun istri. Pemenggalan kata ini sebagai nama kedua karakter seolah menjadi simbol belahan jiwa atau `garwa' (sigaraning nyawa) dalam pernikahan.
Romantisme cemburu yang mengulum senyum juga hadir saat Bo cemburu pada Jo yang mengidolakan seorang penulis ternama (hal 101-102). Atau saat Jo bercerita pada teman-teman wanitanya tentang pengalaman romantisnya sebagai pengantin baru. "Mmm, apa ya? Paling nonton film sambil ngobrol. Kadang, dia sambil ngerjain kerjaan sampingannya. Ama minum susu anget.." ujar Jo sambil tersenyum (hal 93).
Ah, sungguh kebahagiaan kecil yang hadir dengan begitu sederhana.
***
"Kata orang, tidak ada yang namanya perkawinan sempurna. Yang sebenarnya tidak ada, adalah perkawinan yang mudah." (Recipes of Perfect Marriage, Kate Kerrigan)
Dan membaca Married with Brondong mengingatkan saya pada masa-masa awal pernikahan. Memiliki pasangan yang juga dikenal dari dunia maya dan tidak melalui masa pacaran, membuat kami banyak beradaptasi, bertoleransi dan berkomunikasi.
Namun seperti kutipan dalam novel grafis ini: "Kami memetik banyak hal. Dalam pernikahan ini, kami belajar..terus belajar..Berusaha membarengi siklus hidup yang terus berputar." (hal 112).
Insya Allah :).
Selamat untuk karya indie yang gemilang ini.
***
http://halamanmoekabooks.com
"Where bookaholics have fun"
- 4.
-
[LONCENG] Met MILAD Kang Mas Budi (SK Bandung makan-makan euy)
Posted by: "hadianf@gmail.com" hadianf@gmail.com hadian.kasep
Sat Jun 12, 2010 4:36 pm (PDT)
Assalaamu'alaikum wr.wb.
Sahabat, hari ini adalah hari yang istimewa bagi Kang Mas Budi Santoso. Beliau memperingati hari lahir perdana pasca pernikahannya.
Met MILAD ya kang mas... Semoga usiamu barokah dan diberikan yang terbaik di sisa usiamu. Dijadikan nahkoda rumah tangga yang bisa jadi panutan anggotanya. Diberikan banyak anak (cukup dari satu istri loh ya).
Maksud hati menjadi yang pertama mengucapkan, ternyata istrinya ga mau kalah. HP pun disilent. Jadi aja yang kedua. Saya mengambil hikmahnya aja, kalo yang kedua berarti ditraktirnya dua kali hihihi...
Untuk SK Bandung, kumpul besok ba'da maghrib. Waktu dan tempat ditentukan kemudian... Tunggu saja ya...
Hatur tengkiyu,
salam dari negeri kuliner... Sluurp
wassalaamu'alaikum wr.wb
Powered by Telkomsel BlackBerry�
- 5.
-
Promo my 1st book: Indahnya Cahaya Bintang
Posted by: "Ruli Amirullah" ruli_amirullah@yahoo.com ruli_amirullah
Sat Jun 12, 2010 8:09 pm (PDT)
[Attachment(s) from Ruli Amirullah included below]
Assalamualaikum
Wr Wb!
Dear all,
Alhamdulillah,
akhirnya akan
terbit juga buku pertama saya!
Rencananya bulan Juli
2010 akan
launching. Isinya kumpulan artikel-artikel yang selama ini saya tulis,
ada 36
artikel dalam lembaran-lembaran yang berjumlah 170 halaman. Harganya
berapa? Cuma
Rp 45.000,-/buku (diluar ongkos kirim)
Berhubung ini edisi
perdana, maka
ada penawaran menarik bagi teman-teman yang berminat beli. Cukup pesan
dulu via
email atau sms, maka teman-teman akan mendapat discount 25%! Jadi
teman-teman
cukup merogoh uang sebanyak Rp.33.000,- saja!
Menarik ya? Menarik
dunk…
huehehehe
Jadi sekarang, kirim
email atau
sms 'pesan' aja dulu. Bayarnya nanti kok kalau bukunya sudah siap kirim
ke
alamat teman-teman. Caranya:
Kirim SMS ke 0858-1371-0007, atau Kirim email ke ruli_amirullah@yahoo.com
Jangan lupa cantumkan
nama,
alamat kirim serta jumlah buku yang dibeli. Nanti setelah bukunya siap
kirim
akan saya hubungi untuk lagi. So nunggu apalagi? Pesen duuuunk… huehehe…
ditunggu yaaa…. (jangan lama-lama, soalnya penawaran edisi perdana ini
cuma berlaku
selama bulan Juni 2010)
Btw, ini cuplikannya
(plus cover bukunya di attach file)...
Indahnya Cahaya Bintang
Kumpulan
Kisah Nyata
Tentang bagaimana seorang manusia ditengah gelapnya Langit
Malam
Kehidupan
tetap mencoba melihat seberkas cahaya Bintang yang indah dan
penuh
hikmah,
sehingga kemudian merasakan detik-detik penuh Cinta…
***
Beberapa penggalan
kalimat dari
kisah yang ada di dalam buku ini:
Bersyukurlah
atas kejadian tersebut. Saat itu, bisa jadi Allah sedang
membersihkan hati kita dari segala 'berhala' yang selama ini kita
letakkan di
sudut-sudut ruang hati. Sesuatu yang menyita waktu kita, sesuatu yang
malah
menjadi dasar kita dalam melakukan beragam aktivitas…
(dari tulisan
"Sayap-sayap
Hilang" )
Ruwet ya?
Sebenarnya kalau dipikir-pikir, malah memang hidup kita tidak
pernah jelas, tidak pernah pasti...
Apa kita
bisa memastikan dengan kuliah pasti dapet kerja?
Kalau
begitu mengapa ada banyak sarjana S1 bahkan S2 yang sampai
sekarang masih belum dapat kerja yang layak?
(dari tulisan "Hidup
Tidak
Jelas")
***
Buku
ini berisi beragam kisah nyata yang sederhana namun sesungguhnya
memiliki hikmah yang mendalam. Hikmah yang
menunjukkan betapa besar kasih sayangNya pada setiap detik hidup
kita.
Kasih sayangNya ada dalam setiap kejadian, dalam setiap waktu, dalam
setiap
tarikan nafas kita, dalam setiap kedipan mata kita. Bahkan saat kita
merasa
sedang berada dalam kegelapan hidup, sesungguhnya ada bintang yang DIA
sediakan
untuk kita memandu kita kembali pada jalanNya.
Ketika kita bisa
melihat bintang
tersebut, ketika kita bisa mengerti hikmah yang ada, maka kita akan
membaca
kisah cintaNya pada kita! Ya! Sesungguhnya Cinta Allah tidak hanya kita
temukan
pada kisah-kisah menakjubkan para penyair besar. Kasih sayang Allah
tidak hanya
kita dengar dari para kekasih-kekasih Allah terdahulu. Karena ternyata
kehidupan kitapun penuh dengan cerita Cinta Allah, penuh dengan kasih
sayang
Allah…
Kasih
Sayang dan CintaNya, ternyata ada dalam setiap detik hidup kita…
Wassalam,
www.ruliamirullah.com
Doa'in
ya ntar acara launchingnya lancar…
Syukur-syukur gak cuma doain
tapi juga dateng ngeramein.. hehehe…
Attachment(s) from Ruli Amirullah
2 of 2 Photo(s)
- 6.
-
Artikel: Cara Terbaik Untuk Menutupi Aib Diri Sendiri
Posted by: "Dadang Kadarusman" dkadarusman@yahoo.com dkadarusman
Sat Jun 12, 2010 8:10 pm (PDT)
Artikel: Cara Terbaik Untuk Menutupi Aib Diri Sendiri
Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
Apakah Anda mempunyai sebuah rahasia yang tidak ingin diketahui oleh orang lain? Saya yakin sekali bahwa setiap orang memiliki hal serupa itu. Yang termasuk kedalam rahasia itu bisa bermacam-macam. Namun, kita boleh memfokuskan konteksnya kepada suatu kekurangan atau kelemahan yang jika sampai ketahuan oleh orang lain, maka kita akan merasa malu sekali. Bahkan, bisa jadi rusak pula kita punya reputasi. Saya memiliki hal seperti itu lebih dari satu. Soalnya, begitu banyak hal yang kalau mengingat semua itu; kepada diri sendiri pun saya malu. Apalagi kalau harus sampai ketahuan oleh orang lain. Apakah Anda juga demikian?
Ketika saya masih kecil, suasana di kampung kami begitu sederhananya sehingga Ibu-Ibu sering berkumpul di depan rumah panggung yang terbuat dari kayu. Dalam situasi seperti itu tidak jarang pembicaraan mereka melenceng. Lalu tanpa disadari berubah tema untuk menggunjingkan orang lain. Biasanya, keburukan seseorang akan segera beredar ke seluruh penjuru kampung. Di zaman ketika teknologi informasi sudah sedemikian canggihnya seperti saat ini, setiap kebocoran rahasia tentang aib orang lain bisa menyeruak keseluruh penjuru bumi hanya dalam hitungan detik saja. Sedemikian mudahnya informasi menyebar. Dan sedemikian mudahnya aib seseorang menjelajah dari teritori yang satu ke wilayah lainnya. Apa lagi di zaman ini keburukan seseorang bisa menjadi komoditas baru yang bisa dieksploitasi untuk menghasilkan keuntungan material. Kita bisa mengupas tuntas aib seseorang sambil cekikikan didepan jutaan pasang mata yang ikut terhanyut dalam sensasi yang dihasilkan.
Padahal, siapa sih yang bisa luput dari kelemahan? Tidak ada. Kita semua mempunyai dosa. Memiliki aib. Diliputi oleh aurat yang kita ingin semua itu tertutup rapat-rapat. Anehnya, ketika kita melihat cacat orang lain; kita tiba-tiba saja menjadi kaki tangan sang penyebar kabar buruk. Lalu ikut-ikutan menyebarkannya kesana kemari. Tidak lupa ditambah dengan bumbu disana sini. Sehingga segala sesuatunya menjadi semakin bias, dan semakin tidak karuan saja. Hey, hati-hati. Bagaimana seandainya yang tengah ditelanjangi dihadapan publik itu adalah diri kita sendiri? Apakah kira-kira kita akan merasa senang? Teman saya bilang; "Biasa saja lagi, ini kan nggak serius-serius amat." Mungkin kita baru menganggap serius jika diri kitalah yang menjadi objeknya.
Guru mengaji saya menceritakan kisah Rasulullah yang menasihatkan bahwa "Tuhan akan menutup aib seorang hamba yang berkenan menutupi aib sesamanya". Jadi, agak aneh juga kita ini. Di satu sisi kita ingin agar aib-aib kita tidak terbuka. Kita ingin itu tetap menjadi rahasia kita. Tetapi, di sisi yang lain kita doyan sekali memperbincangkan serta menyebar-nyebarkan aib-aib orang lain. Ketika dulu mendengarnya, saya mengira apa yang dinasihatkan Nabi itu hanya berkatian dengan urusan akhirat saja. Maksudnya, seseorang yang selama hidupnya didunia bersedia menjaga aib orang lain, maka di akhirat kelak akan ditutupi aibnya. Ternyata nasihat itu bukan semata-mata soal akhirat, melainkan berlaku sejak kini di dunia juga. Ada banyak bukti jika orang-orang yang gemar membuka aib orang lain itu tidak ditutupi Tuhan aib-aib mereka sendiri. Bahkan sepintar apapun kita menyembunyikan aib itu. Ketika kita sibuk mengaduk-aduk keburukan pribadi orang lain,
tiba-tiba saja Tuhan meruntuhkan seluruh dinding yang melindungi semua aib kita.
Di sisi lain, nasihat Nabi itu juga merupakan sebuah penghiburan kepada siapa saja yang mau menahan diri dari keterlibatan dalam lingkaran peredaran aib-aib yang dieksploitasi dan diperdagangkan. Seolah beliau tengah bertanya; "Apakah engkau tidak malu jika keburukan-keburukanmu diketahui oleh orang lain?" Jika kita merasa malu, maka begitu pula halnya dengan orang lain yang kita permalukan. Maka sungguh tidak adil jika kita malu dengan aib-aib pribadi kita, namun begitu getolnya membongkar-bongkar aib orang lain. Tapi, bagaimana seandainya aib kita dibongkar dan diedar-edar oleh orang lain? Bukankah kita berhak untuk melakukan pembalasan?
Melakukan pembalasan? Hmmh, kedengarannya masuk akal. Tapi sebentar dulu. Siapa sih yang lebih tahu aib-aib pribadi kita selain Tuhan dan kita sendiri? Kalaupun ada orang yang tahu, pasti hanya sebagian kecilnya saja. Jadi, jika ada orang yang mengklaim diri mengetahui aib kita; pasti itu hanya sedikit saja. Sebab, masih banyak aib lain yang kita miliki namun tidak mereka ketahui. Kalaupun orang itu harus menerima pembalasan berupa terbongkarnya aib mereka sendiri, mengapa kita harus melakukannya dengan mengotori diri kita lagi? Biarkan saja. Sebab cepat atau lambat orang itu akan merasakan bagaimana seandainya aib dia sendiri yang dipertontonkan dihadapan publik. Lagi pula, saat ada seseorang yang membongkar aib kita adalah saat terbaik untuk mengatakan kepada diri sendiri;"Gue kapok! Tidak akan melakukannya lagi." Dengan begitu, kita bisa bertobat dengan sungguh-sungguh. Lalu berubah menjadi manusia yang lebih baik.
Pertanyaannya kemudian adalah, apakah kita harus mengganggap sesuatu yang terjadi di sekitar kita sebagai angin lalu? Mestikah kita menjadi manusia apatis yang tidak memperdulikan apapun yang dilakukan oleh orang lain? Tidak juga. Tidak termasuk menyebarkan aib jika kita melaporkan tindakan kriminal seseorang kepada aparat penegak hukum. Justru sudah menjadi kewajiban kita untuk mencegah orang-orang disekitar kita melakukan atau mengulangi tindakan-tindakan yang merugikan orang lain. Juga tidak termasuk menyebarkan aib jika kita menjadi saksi di pengadilan. Kalau begitu, bagaimana membedakan mana menggunjing dan mana yang bukan?
Sekurang-kurangnya, ada tiga hal yang perlu diperhatikan. Pertama, niat kita. Niat adalah segala-galanya. Berniat menjatuhkan atau mempermalukan orang lain sudah pasti mengundang kemarahan Tuhan. Sebab, seperti pesan Nabi; Tuhan tidak menyukai orang-orang yang gemar menyebar-nyebarkan aib orang lain. Maka pantaslah jika suatu saat kelak Tuhan membalasnya juga. Kedua, manfaat yang dihasilkan dari mengungkapkan hal itu. Apakah jika kita melakukannya akan menghasilkan kemanfaatan dan kemaslahatan? Jika tidak, mengapa kita mesti ikut-ikutan melakukannya juga? Ketiga, identitas orang lain. Banyak orang yang mengorek-ngorek aib dan kesalahan orang lain lalu mempertontonkan mereka dihadapan publik sambil bersembunyi dibalik kedok 'belajar dari kesalahan orang lain'. Padahal jika kita ingin mengambil pelajaran dari kesalahan orang lain, maka kita bisa melakukannya tanpa harus menjadikannya sebagai tontonan dan tertawaan. Jika ada aib orang lain yang sampai
ke tangan kita, tidak berarti kita diberi hak dan kewenangan untuk menyebarkannya juga.
Adalah benar bahwa kita bisa saling belajar satu sama lain. Tapi tidak berarti kita harus saling membuka kebusukan masing-masing. Jika kita perlu menggunakan kesalahan orang lain untuk belajar memperbaiki diri demi kemaslahatan banyak orang, maka kita tidak harus menguliti sekujur tubuh orang itu dengan membuka identitasnya sedemikian gamblang. Dengan menutup aib orang lain, maka kita menjaga nama baik orang lain. Ehm, maksud saya; maka kita menjaga nama baik kita sendiri. Sebab seperti pesan Nabi, Tuhan akan menutupi aib siapa saja yang menutupi aib orang lain. Sehingga cara terbaik untuk menutupi aib diri sendiri adalah dengan menjaga aib orang lain yang terlanjur kita ketahui.
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman
WTS – Writer, Trainer, and Speaker
Quality Books for All : www.bukudadang.com dan www.dadangkadarusma n.com
Catatan Kaki:
Tidak ada manusia yang terbebas dari aib. Sehingga ketika kita membeberkan aib orang lain, bersiap-siaplah untuk menerima perlakuan yang sama dari orang lain.
Melalui project Mari Berbagi Semangat! (MBS!) sekarang buku saya yang berjudul "Belajar Sukses Kepada Alam" versi Bahasa Indonesia dapat diperoleh secara GRATIS. Jika Anda ingin mendapatkan ebook tersebut secara gratis silakan perkenalkan diri disertai dengan alamat email kantor dan email pribadi (yahoo atau gmail) lalu kirim ke bukudadang@yahoo.com
--------------------- --------- --
Buku-buku terbaru Dadang Kadarusman sudah tersedia di toko buku atau bisa dipesan di http://www.bukudadang.com/
Need to Reply?
Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.
MARKETPLACE
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Individual | Switch format to Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

Tidak ada komentar:
Posting Komentar