Kamis, 04 November 2010

[daarut-tauhiid] Di antara Sunnah: Menyegerakan Waktu Shubuh

 

http://abuhudzaifi.multiply.com/journal/item/158

Oleh: Farid Nu'man Hasan

Kita mengetahui bahwa Shalat adalah ibadah yang telah
ditentukan waktunya. Waktu-waktu itu, sudah diterangkan secara rinci
dalam As Sunah, dan diisyaratkan pula dalam Al Quran.

Tak terkecuali shalat subuh. Shalat subuh dimulai dari
terbitnya fajar shadiq (langit sudah mulai agak terang) hingga
terbitnya matahari. Hal ini berdasarkan hadits Jibril `Alaihissalam
berikut (haditsnya cukup panjang, saya kutip bagian waktu shalat subuh
saja):

ثُمÙ`ÙŽ جَاءَهُ لِلصÙ`ُبÙ'حِ
حِينَ أَسÙ'فَرَ جِدÙ`ًا
فصل فصلى العشاءفَصَلÙ`ÙŽÙ‰
الصÙ`ُبÙ'Ø­ÙŽ

"Kemudian dia (Jibril) mendatanginya untuk shalat
subuh ketika langit terang, lalu dia berkata: "Bangunlah dan
shalatlah!" maka Beliau (Rasulullah) melaksanakan shalat
subuh." (HR. An Nasa'i No. 526 , Ahmad No. 14011, dishahihkan
oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 526)

Dalam hadits ini disebutkan: "Hiina asfara
Jiddan" (ketika langit benar-benar menguning), maksudnya ketika
langit benar-benar terang. Inilah yang disebut dengan fajar shadiq dan
inilah dimulainya waktu subuh. Tetapi disukai untuk menyegerakannya.

Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

بتدئ الصبح من طلوع الفجر
الصادق ويستمر إلى طلوع
الشمس، كما تقدم في
الحديث.

استحباب المبادرة لها

"Shalat subuh dimulai dari terbitnya fajar shadiq
dan terus berlangsung hingga terbit matahari, sebagaimana yang telah
lalu dijelaskan dalam hadits. Dan disukai untuk menyegerakannya." .
(Fiqhus Sunnah, 1/104. Darul Kitab Al `Arabi)

Disunahkan untuk disegerakan, yakni ketika masih gelap
berdasarkan riwayat shahih berikut:

Dari Abu Mas'ud Al Anshari Radhiallahu `Anhu,
katanya:

وَصَلÙ`ÙŽÙ‰ الصÙ`ُبÙ'Ø­ÙŽ
مَرÙ`َةً بِغَلَسٍ ثُمÙ`ÙŽ
صَلÙ`ÙŽÙ‰ مَرÙ`َةً أُخÙ'رَى
فَأَسÙ'فَرَ بِهَا ثُمÙ`ÙŽ
كَانَتÙ' صَلَاتُهُ بَعÙ'دَ
ذَلِكَ التÙ`َغÙ'لِيسَ
حَتÙ`ÙŽÙ‰ مَاتَ ÙˆÙŽÙ„ÙŽÙ…Ù'
يَعُدÙ' إِلَى Ø£ÙŽÙ†Ù'
يُسÙ'فِرَ

"Dan Beliau (Rasulullah) shalat subuh di saat gelap
pada akhir malam, kemudian beliau shalat pada kesempatan lain ketika
mulai terang. Kemudian setelah itu shalat beliau dilakukan saat gelap
dan itu dilakukannya sampai wafat, dan Beliau tidak lagi melakukannya
di waktu hari telah terang." (HR. Abu Daud No. 394, dihasankan oleh
Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 394, s hadits
ini juga diriwayatkan oleh sahabat lainnya yakni Jabir dengan sanad
shahih, Abu hurairah dengan sanad hasan, dan Abdullah bin Amr bin Al
`Ash dengan sanad hasan)

Ada pihak yang menyalah-nyalahkan shalat subuh ketika
masih gelap, padahal itulah yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu
`Alaihi wa Sallam hingga wafatnya, dan itulah yang mayoritas
dilakukan di negeri-negeri muslim, dan itulah pendapat sebagian
sahabat, seperti Umar, Utsman, Anas, Abu Hurairah, Ibnu Zubeir, Abu
Musa, Ibnu Mas'ud, Abu Mas'ud, penduduk Hijaz, dan dikalangan
imam kaum muslimin seperti Malik, Asy Syafi'I, Ahmad, Ishaq, Abu
Tsaur, Al Auza'I, Daud, dan Abu Ja'far Ath Thabari. Sayangnya
dengan ringan kenyataan ini dikatakan oleh mereka sebagai pendapat yang
keliru! Namun, demikian kami tidak menyalahkan mereka, karena pendapat
yang mengatakan bahwa ketika terang adalah lebih utama adalah pendapat
sebagian salaf dan fuqaha, seperti Ali, Ibnu Mas'ud, Abu Hanifah
dan sahabatnya, Sufyan Ats Tsauri, dan mayoritas penduduk Iraq .
Tetapi, sikap mereka yang menyalah-nyalahkan yang lain –padahal
begitu kuat dalilnya- adalah sikap melampaui batas dan tidak mengetahui
etika khilaf fiqih di antara ulama. Dan, ini sungguh mengherankan!

Hadits di atas jelas-jelas menyebutkan Rasulullah Shalat
subuh saat ghalas. Apakah ghalas? ghalas adalah akhir kegelapan malam.
Imam Ibnul Atsir mengatakan ghalas adalah kegelapan malam bagian akhir
ketika akan bercampur dengan terangnya pagi. (`Aunul Ma'bud,
2/45. Darul Kutub Al `Ilmiyah)

Perhatikan ucapan Imam Abu Thayyib Syamsul `Azhim
Abadi Rahimahullah ketika mensyarah hadits di atas:

وَالÙ'حَدِيث يَدُلÙ` عَلَى
اِسÙ'تِحÙ'بَاب التÙ`َغÙ'لِيس
ÙˆÙŽØ£ÙŽÙ†Ù`َهُ أَفÙ'ضَل مِنÙ'
الÙ'إِسÙ'فَار ÙˆÙŽÙ„ÙŽÙˆÙ'لَا
ذَلِكَ لَمَا لَازَمَهُ
النÙ`َبِيÙ` صَلÙ`ÙŽÙ‰ اللÙ`ÙŽÙ‡
عَلَيÙ'هِ وَسَلÙ`ÙŽÙ…ÙŽ
حَتÙ`ÙŽÙ‰ مَاتَ ØŒ
وَبِذَلِكَ اِحÙ'تَجÙ`ÙŽ
Ù…ÙŽÙ†Ù' قَالَ بِاسÙ'تِحÙ'بَابِ
التÙ`َغÙ'لِيس . وَقَدÙ'
اِخÙ'تَلَفَ الÙ'عُلَمَاء
فِي ذَلِكَ فَذَهَبَ
مَالِك وَالشÙ`َافِعِيÙ`
ÙˆÙŽØ£ÙŽØ­Ù'مَد وَإِسÙ'حَاق
وَأَبُو ثَوÙ'ر
وَالÙ'Ø£ÙŽÙˆÙ'زَاعِيÙ`ُ
وَدَاوُدُ وَأَبُو جَعÙ'فَر
الطÙ`َبَرِيÙ`ُ وَهُوَ
الÙ'مَرÙ'وِيÙ` عَنÙ' عُمَر
وَعُثÙ'مَان وَابÙ'Ù†
الزÙ`ُبَيÙ'ر وَأَنَس
وَأَبِي مُوسَى وَأَبِي
هُرَيÙ'رَة إِلَى Ø£ÙŽÙ†Ù`ÙŽ
التÙ`َغÙ'لِيس أَفÙ'ضَل
ÙˆÙŽØ£ÙŽÙ†Ù`ÙŽ الÙ'إِسÙ'فَار
غَيÙ'ر Ù…ÙŽÙ†Ù'دُوب ØŒ
ÙˆÙŽØ­ÙŽÙƒÙŽÙ‰ هَذَا الÙ'Ù‚ÙŽÙˆÙ'Ù„
الÙ'حَازِمِيÙ`ُ عَنÙ'
بَقِيÙ`ÙŽØ© الÙ'خُلَفَاء
الÙ'أَرÙ'بَعَة وَابÙ'Ù†
مَسÙ'عُود وَأَبِي مَسÙ'عُود
الÙ'Ø£ÙŽÙ†Ù'صَارِيÙ` ÙˆÙŽØ£ÙŽÙ‡Ù'Ù„
الÙ'حِجَاز ØŒ وَاحÙ'تَجÙ`ُوا
بِالÙ'أَحَادِيثِ
الÙ'مَذÙ'كُورَة فِي هَذَا
الÙ'بَاب وَغَيÙ'رهَا ØŒ
وَلِتَصÙ'رِيحِ أَبِي
مَسÙ'عُود فِي هَذَا
الÙ'حَدِيث بِأَنÙ`َهَا
كَانَتÙ' صَلَاة النÙ`َبِيÙ`
صَلÙ`ÙŽÙ‰ اللÙ`ÙŽÙ‡ عَلَيÙ'هِ
وَسَلÙ`ÙŽÙ…ÙŽ التÙ`َغÙ'لِيس
حَتÙ`ÙŽÙ‰ مَاتَ ÙˆÙŽÙ„ÙŽÙ…Ù'
يَعُدÙ' إِلَى الÙ'إِسÙ'فَار .
وَقَدÙ' Ø­ÙŽÙ‚Ù`ÙŽÙ‚ÙŽ Ø´ÙŽÙŠÙ'خنَا
الÙ'عَلÙ`َامَة السÙ`ÙŽÙŠÙ`ِد
مُحَمÙ`َد نَذِير حُسَيÙ'Ù†
الÙ'مُحَدÙ`ِث هَذِهِ
الÙ'مَسÙ'Ø£ÙŽÙ„ÙŽØ© فِي كِتَابه
مِعÙ'يَار الÙ'Ø­ÙŽÙ‚Ù` :
وَرَجÙ`ÙŽØ­ÙŽ التÙ`َغÙ'لِيس
عَلَى الÙ'إِسÙ'فَار وَهُوَ
كَمَا قَالَ . وَذَهَبَ
الÙ'كُوفِيÙ`ُونَ أَبُو
حَنِيفَة رَضِيَ اللÙ`ÙŽÙ‡
عَنÙ'هُ وَأَصÙ'حَابه
وَالثÙ`ÙŽÙˆÙ'رِيÙ`ُ
وَالÙ'حَسَن بÙ'Ù† Ø­ÙŽÙŠÙ` ØŒ
ÙˆÙŽØ£ÙŽÙƒÙ'ثَر
الÙ'عِرَاقِيÙ`ِينَ وَهُوَ
مَرÙ'وِيÙ` عَنÙ' عَلِيÙ`
وَابÙ'Ù† مَسÙ'عُود إِلَى
Ø£ÙŽÙ†Ù`ÙŽ الÙ'إِسÙ'فَار أَفÙ'ضَل
.

"Hadits ini menunjukkan bahwa disunahkannya (shalat
subuh) pada saat gelap, dan ini lebih afdhal dibanding ketika terang.
Seandainya tidak demikian, mengapa Rasulullah Shallallahu `Alaihi
wa Sallam merutinkannya hingga beliau wafat, dan dengan inilah hujjah
orang-orang yang mengatakan disukainya waktu gelap (akhir malam). Para
ulama telah berbeda pendapat dalam hal ini. Pendapat Imam Malik,
Syafi'I, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur, Al Auza'i, Daud, Abu
Ja'far Ath Thabari, dan pendapat ini juga diriwayatkan dari Umar,
Utsman, Ibnu Zubeir, Anas, Abu Musa Al Asy'ari, dan Abu Hurairah,
bahwa ketika gelap adalah lebih utama, sedangkan ketika terang tidaklah
dianjurkan (ghairu mandub). Secara kuat disebutkan bahwa ini juga
pendapat khulafa'ur rasyidin lainnya, juga Ibnu Mas'ud, Abu
Mas'ud Al Anshari, dan penduduk Hijaz. Mereka berhujjah dengan
hadits-hadits yang telah disebutkan dalam masalah ini dan hadits
lainnya, dan juga penjelasan Abu Mas'ud dalam hadits ini bahwa
shalatnya Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam adalah dalam keadaan
gelap (At Taghlis) dilakukannya sampai beliau wafat, dan dia tidaklagi
melakukan dalam keadaan terang. Syaikh kami Al `Allamah As Sayyid
Muhammad Nadzir Husain telah meneliti masalah ini dalam kitabnya,
Mi'yar Al Haq: Bahwa beliau menguatkan shalat ketika gelap dibanding
terang, dan pendapat itu sebagaimana yang dikatakan. Ada pun kalangan
Kuffiyyin (penduduk kufah), seperti Abu Hanifah dan para sahabatnya,
Ats Tsauri, Al Hasan bin Hay, kebanyakan penduduk Iraq, dan itu juga
diriwayatkan dari Ali dan Ibnu Mas'ud, bahwa shalat ketika terang
adalah lebih utama." (`Aunul Ma'bud, 2/45. Darul Kutub Al
`Ilmiyah)

Syaikh Abdul Muhsin Al `Abbad Al Badr Hafizhahullah
mengatakan:

وإنما فعله في بعض
الأحيان لبيان الجواز
ولبيان أن ذلك سائغ، ولكن
الذي داوم عليه والمعروف
من فعله صلى الله عليه
وسلم أنه كان يصليها بغلس.

"Sesungguhnya perbuatan Nabi pada sebagian waktu
(melakukan saat terang) sebagai penjelas kebolehannya dan menjelaskan
bahwa hal itu mudah, tetapi yang menjadi rutinitasnya dan diketahui
sebagai perbuatannya Shallallahu `Alaihi wa Sallam adalah bahwa
Beliau shalat subuh pada saat masih gelap." (Syaikh Abdul Muhsin Al
`Abbad Al Badr, Syarh Sunan Abi Daud No. 60. Maktabah Misykah)

Selain hadits di atas, hal ini juga ditegaskan dalam
riwayat lain yang membuktikan bahwa memang shalat subuh dilakukan masih
gelap.

Dari `Aisyah Radhiallahu `Anha, katanya:

إِنÙ' كَانَ رَسُولُ
اللÙ`َهِ صَلÙ`ÙŽÙ‰ اللÙ`َهُ
عَلَيÙ'هِ وَسَلÙ`ÙŽÙ…ÙŽ
لَيُصَلÙ`ِي الصÙ`ُبÙ'Ø­ÙŽ
فَيَنÙ'صَرِفُ النÙ`ِسَاءُ
مُتَلَفÙ`ِعَاتٍ
بِمُرُوطِهِنÙ`ÙŽ مَا
يُعÙ'رَفÙ'Ù†ÙŽ مِنÙ'
الÙ'غَلَسِ

"Jika Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam
melaksanakan shalat subuh, maka kaum wanita ikut melaksanakannya dengan
menjulurkan kain ke tubuh mereka sehingga mereka tidak dapat dikenala
karena gelapnya hari." (HR.Bukhari No. 553, 365, 829, Muslim No.
645, Abu Daud No. 423, At Tirmidzi No. 153, Ad Darimi No. 1216, Ibnu
Hibban No. 1498)

Imam At Tirmidzi Rahimahullah mengatakan:

وهو الذي اختاره غير واحد
من أهل العلم من أصحاب
النبي صلى الله عليه
وسلم، منهم أبو بكر،
وعمر، ومن بعدهم من
التابعين. وبه يقول
الشافعي، وأحمد، وإسحق:
يستحبون التغليس بصلاة
الفجر.

"Inilah pendapat yang dipilih oleh lebih dari satu
ahli ilmu dari kalangan sahabat Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam,
di antara mereka adalah Abu Bakar, Umar, dan generasi setelah mereka
dari kalangan tabi'in. Ini juga pendapat Asy Syafi'I, Ahmad, dan
Ishaq: mereka menyunnahkan melaksanakan shalat subuh ketika gelap."
(Sunan At Tirmidzi No. 153)

Yang ingin melaksanakan shalat subuh ketika sudah
terang pun tidak disalahkan, karena yang demikian itu memiliki dalil
hadits Jibril `Alaihissalam sebelumnya, dan hadits lainnya seperti:

Dari Rafi' bin Khudaij Radhiallahu `Anhu, bahwa
Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam bersabda:

أسفروا بالفجر، فإنه أعظم
للأجر

"Shalatlah subuh ketika sudah terang, karena itu
pahalanya lebih besar." (HR. At Tirmidzi No. 154, katanya: hasan
shahih)

Inilah pendapat sebagian ahli ilmu dari kalangan sahabat
dan tabi'in, dan ini pendapat yang pegang oleh Sufyan Ats Tsauri.

Tetapi para imam lainnya mengatakan bahwa maksud hadits
ini adalah memanjangkan shalat subuh hingga langit terang, bukan
menta'khirkan shalat subuh saat terang.

Berkata Imam At Tirmidzi Rahimahullah:

وقال الشافعي وأحمد وإسحق:
معنى الإسفار: أن يضح الفجر
فلا يشك فيه، ولم يروا
أن معنى الإسفار تأخير
الصلاة.

"Asy Syafi'I, Ahmad, dan Ishaq mengatakan: makna
Al Isfar (menguning/terang) adalah terangnya fajar, dan tidak ada
keraguan di dalamnya, bukan maksudnya adalah mengakhirkan shalat."
(Ibid)

Begitu pula yang dikatakan oleh Syaikh Sayyid Sabiq
Rahimahullah:

وأما حديث رافع بن خديج: أن
النبي صلى الله عليه
وسلم قال: (أصبحوا

بالصبح فإنه أعظم
لاجوركم)، وفي رواية:
(أسفروا بالفجر فإنه أعظم
للاجر).

رواه الخمسة وصححه الترمذي
وابن حبان، فإنه أريد به
الاسفار بالخروج منها، لا
الدخول فيها: أي أطيلوا
القراءة فيها، حتى تخرجوا
منها مسفرين، كما كان
يفعله رسول الله صلى
الله عليه وسلم، فإنه
كان يقرأ فيها الستين آية
إلى المائة آية، أو أريد
به تحقق طلوع الفجر، فلا
يصلي مع غلبة الظن.

"Ada pun hadits Rafi' bin Khudaij bahwa Nabi
Shallallahu `Alaihi wa Sallam bersabda: "Lakukanlah shalat
subuh ketika pagi, karena pahalanya lebih besar bagi kalian." Atau
riwayat lain: "lakukanlah shalat subuh ketika terang, karena
pahalanya lebih besar." (HR. Khamsah, dishahihkan oleh At Tirmidzi
dan Ibnu Hibban). Sesungguhnya maksud Al Asfar (keadaan terang) ialah
ketika hendak pulang dari menyelesaikannya dan bukan ketika hendak
memulai shalat. Jadi artinya adalah panjangkanlah bacaan dalam shalat,
hingga kamu selesai dan pulang ketika hari mulai terang sebagaimana
perbuatan Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam, dia pernah
membaca dari 60-100 ayat, atau mungkin juga yang dimaksud adalah
menyelidiki kepastian fajar, hingga ia tidak melakukan shalat dengan
dasar dugaan kuat saja." (Fiqhus Sunnah, 1/104-105. Darul Kitab Al
`Arabi)

Demikianlah masalah ini. Maka, apa yang sudah terjadi
saat ini di umumnya Negara kaum muslimin, bahwa mereka menyegerakan
subuh ketika masih gelap (akhir malam menjelang fajar) adalah SUNAH,
dan itulah pandangan mayoritas ulama baik sahabat, tabi'in dan imam
madzhab. Maka, sikap gegabah menyalah-nyalahkan pendapat ini
–apalagi sampai mengatakan tersesat dan bid'ah- adalah sikap
keterlaluan dan cenderung ngawur. Apalagi jika diniatkan sekedar ingin
beda dan asal kritik.

Ada pun pihak yang lebih mengutamakan subuh dilakukan
pada awal waktu terang, juga tidak bias disalahkan sebab Rasulullah
Shallallahu `Alaihi wa Sallam pernah melaksanakannya. Ini pun
penjadi pendapat sebagian sahabat, tabi'in, dan imam kaum muslimin.

Wallahu A'lam

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___
Recent Activity:
====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
       website:  http://dtjakarta.or.id/
====================================================
.

__,_._,___

Tidak ada komentar: