Minggu, 07 November 2010

[sekolah-kehidupan] Digest Number 3237

Messages In This Digest (6 Messages)

Messages

1.

[Tulis] ip N triks Memilih Lomba Penulisan Baik Di Media Massa [Kora

Posted by: "bujang kumbang" bujangkumbang@yahoo.co.id   bujangkumbang

Sat Nov 6, 2010 10:41 am (PDT)



Liat banyak perlombaan penulisan disana-sini. Tag sana tag sini begitu membuat
dilema dan menjadi pikiran. Bukan begitu? Sama dengan saya! Tapi biar kita lomba
nggak percuma! Tidak asal ikut-ikutan dan hanya ingin namanya bisa nampang
dideretan para pemenang. Tapi kita juga perlu jeli dan cermat! Bagaimanakah
caranya itu. Ini dia Tip N triks Memilih Lomba Penulisan Baik Di Media Massa
[Koran, Majalah dan Tabloid, Blogg, Media Online Maupun Yang Mandiri [Lomba yang
diadakan perorangan, institusi maupun komunitas] versi penulis dari Tanah
Betawi, Bintaro-Ulujami:Fiyan Arjun.
Bagaimana cara memilihnya:

1. Pilih hadiahnya uang....!
Kalau bicara dengan saya harus realitis ya jangan selalu dihubung-hubungi sama
Tuhan saya paling tidak suka! Kok ikut perlombaan penulisan pake bawa-bawa nama
Tuhan! Dikira khotbah Jumat. Toh, saya juga paham kok dengan kehadiran Tuhan.
Alah SWT! Tapi kan nggak segethonya kaleee. Jadi janganlah munaif [munafik dan
naif] jadi penulis. Jika ada penulis yang sekedar hanya ingin popular namanya
aja itu bo'ong besar. Iris telinga yang baca tip n' trik ini.HahaJJika ada
penulis seperti itu! Kalo pun ada bisa tatap muka dengan saya. Berarti penulis
itu kehidupannya sudah makmur.HeheJ
2. Pilih bahan referensinya mudah di dapatkan!
Ini saya alami ketika ikut perlombaan ketika bahan referensinya sedikit dan
hanya beberapa nara sumber saja sehingga membuat naskah saya itu terlunta-lunta.
Dan nggak jadi ikut deh! Kan mubazir. Iyakan! Jadi pilih perlombaan yang mudah
referensinya!
3. Cari deadlinenya yang nggak mepet.Alias, nggak seperti dikejar tramtib!
Ini jugalah yang menjadi kebiasaan penulis. Termasuk sayaJJika mau ikut lomba
kalau tepat deadline-nya sudah diujung ubun-ubun. Langsung ketik kirim deh!
Nggak diliat-liat apa itu bagus ato nggak. Ya, penting kirim. Menang-kalah itu
biasa. Tapi yang nggak ikut dan takut itu baru pecundang. Belum tau medan udah
nyerah duluan. Ya, tapi nggak begitu juga sih—yang kita perlu juga mensiasati.
Seperti yang saya lakukan jika saya ikut lomba penulisan saya print-out dulu itu
persayaratan perlombaan lalu saya temple di tempat mading di kamar saya.Lalu
saya lingkarin mana nih deadline yang sebentar lagi habis atau dekat. Kira-kira
minimal 3 harilah kita ricek kembali. Jadi kita bisa jaga-jaga. Kalau nggak
begitu ya seperti tadi. Seperti dikejar tramtib.
4. Pilih perlombaan yang bergengsi jangan yang ecek-ecek.
Kenapa? Ya, ini untuk tantangan kita sebagai penulis pemula seperti saya ini
kuhususnya Anda semua. Jangan asal pilih. Hadiahnya hanya cuman bisa dibukuin
dan dapat satu buku langsung loncat-loncat. Kayak dapat apa gethoo…Padahal jika
mengetes uji nyali kita pilih perlombaan bergengsi. Misalnya semacam: Lomba
Penulisan Novel DKJ (Dewan Kesenian Jakarta) dst.
5. Jangan terpaku dengan perlombaan yang sering kita ikuti
Ini dia yang membuat penulis nggak pede. Atau, nggak berani mengeksplor bakat
dan keterampilannya ketika mengikuti perlombaan hanya itu-itu saja yang diikuti.
Tidak berani melebarkan sayapnya lebih lebar dan meluas. Ya, kalau begitu sih
sama aja lari di tempat. Nggak sampai-sampai! Ay0, guys tunjukan bakat engkau!
6. Lihat dulu siapa jurinya
Nah, dia jika memang naskah perlombaan kita juga harus tahu siapa juri dibalik
perlombaan itu. Cari tahu siapa!Kalau bisa yang beken sekaligus sekalian adu
nyali. Siapa tahu jadi milik kita! Jangan takut keberuntungan itu beda-beda. Dan
satu lagi jangan takut sama penulis yang sudah ngetop (senior) bagi yang pemula
seperti saya ini. Karena sudut pandang juri beda-beda, Jadi takut sama penulis
ngetop. Toh, dia juga manusia kok makannya aja nasi kecuali beling kayak penari
kuda lumping baru deh ngacir…JIngat, keberuntungan berpihak tidak pandang bulu,
ingat itu!
7. Siapkan/luangkan waktu
Sekarang kita balik menjadi luangkan waktu bukan waktu luang. Banyak para
penulis yang sudah mulai ngetop (anggaplah sudah senior) seringkali mereka
bilang; "Saya sibuk banget kok!" Lha, wong cuman menulis berapa jam saja kok
sibuk banget Kayak begitu! Apalagi presiden yang ngurusin jutaan orang! Makanya
jika saya berhadapan dengan orang ini seringkali saya katakan dan saya pasti
bilang," Sesibuk-sibuknya lo emangnya lo nggak mau buang mau air kecil sama
pup!" Kalau sudah begitu saya ngacir deh! Malas berdebat dengan orang seperti
lebih cari aman daripada main hati nanti banyakin dosa lebaik ngacir.HeheJ.
Begitulah macam-macam penulis termasuk yang menulis tip n trik ini begitu dan
yang membacanya tip n trik ini. Apa termasuk seperti itu? Jawan aja sendiri ya?
Karena saya bukan paramnormal apalagi cenang. Urusin diri aja sudah repot
apalagi ngurusi orang lain!.Benarkan….
Oke deh semoga tip n trik ini bermanfaat khususnya saya dan padaumunya para
penulis pemula dan junior yang ingin mengembangkan sayap di dunia tulis menulis.
Untuk lebih tahu apa yang dilakukan penulis tip n trik cekidot link ini:
http://www.facebook.com/home.php?#!/note.php?note_id=457890617907

NB;
Jika ada yang mengcopy paste tip n trik ini harap memberi nama sumbernya. Jika
tidak ada Anda saya anggap sebagai seorang plagiator yang handal.
Naudzubillahimindzalik!Ampuni orang ini Ya Allah Ya Rabb bukankan pintu
hartinya….Amin!

2.

Tenang,Tuhan Selalu di Sekitar Kita (Resensi 'You Are Not Alone')

Posted by: "Anwar Holid" wartax@yahoo.com   wartax

Sat Nov 6, 2010 10:43 am (PDT)



[RESENSI]
Tenang,Tuhan Selalu di Sekitar Kita
---Anif Punto Utomo
____________________________________
DETAIL BUKU
You Are Not Alone: 30 Renungan tentang Tuhan dan Kebahagiaan
Penulis: Arvan Pradiansyah
Penerbit: Elex Media, 2010
Halaman: 252 hal., soft cover
ISBN: 978-979-27-7918-9
Kategori: Spiritualitas; Inspirasional; Pengembangan Diri
Harga: Rp.52.800,-
_____________________________________

Buku ini bukan bercerita tentang pencarian Tuhan, namun mengingatkan keberadaan
Tuhan. Suatu ketika, Stalin bersama seluruh anggota politbiro terbang menuju
salah satu negara bagian Uni Soviet. Ketika pesawat melintasi daerah pegunungan
yang terkenal dengan jurang-jurang menganganya, mendadak pesawat mengalami
gangguan. Pilot segera mengumumkan kerusakan tersebut dan meminta penumpang
memasang sabuk pengaman. Kemungkinan selamat fifty-fifty.

Pesawat terguncang dengan keras. Seluruh penumpang panik. Tiba-tiba, di antara
kepanikan penumpang itu terdengar teriakan spontan, "Tuhan, tolonglah aku."
Semua kaget dan menoleh ke suara itu. Ternyata, teriakan minta tolong kepada
Tuhan itu ke luar dari mulut Stalin, sang ateis dedengkot komunis Uni Soviet.
Peristiwa itu membuktikan kesadaran bahwa Tuhan itu ada---sekalipun pada diri
orang ateis.

Lantas, di manakah Tuhan? Seperti ditulis Arvan Pradiansyah dalam buku
terbarunya, Tuhan ada di mana-mana. Tuhan bukanlah sosok yang jauh. Tuhan sangat
dekat dengan kita, bahkan selalu memperhatikan kita. Tuhan selalu berada di
sekitar kita. Tuhan juga tak pernah sekali pun mengabaikan dan meninggalkan
kita. Dalam khazanah mengingatkan akan adanya Tuhan, dari budaya Jawa muncul
istilah Gusti Allah ora sare. Artinya, Tuhan tidak pernah tidur. Karena itu
Tuhan memang selalu ada, bukan hanya mengawasi, tapi juga mencatat apa yang kita
perbuat.

Biasanya, manusia baru ingat Tuhan jika sedang terjadi musibah. Semakin besar
musibah yang menimpa diri manusia, semakin kental ingatan akan Tuhan. Setiap
saat nama Tuhan disebut. Sebaliknya, ketika sedang diuji dengan kegembiraan,
nama Tuhan nyaris tidak pernah disebut. Ingatan akan Tuhan seolah masuk ke dalam
laci dan terkunci rapat. Laci itu kelak akan dibuka ketika kegembiraan berganti
dengan musibah.

Kehadiran Tuhan dirasakan Arvan ketika bersekolah di London, Inggris. Pada
awal-awal kedatangannya, dia merasa kesepian. Sepi karena meninggalkan keluarga
di tanah air, kawan dan sahabat, dan karena belum menemukan sahabat di kota itu.
Di dalam suasana kesepian itulah kemudian dia merasakan lebih dekat dengan
Tuhan. Baru tersadar bahwa di tengah kesepian di dunia ini Tuhan selalu hadir di
dekat kita. Hati pun menjadi tenang. Pada dasarnya, menurut Arvan, kita tidak
pernah sendirian. Karena itulah buku kelimanya ini diberi judul You Are Not
Alone.

Dalam buku ini Arvan juga berani menyentuh masalah sensitif, yakni tentang orang
beragama dan orang baik. Orang beragama belum tentu baik, begitu salah satu
judul tulisannya. Bahasan ini sempat jadi perbincangan panas ketika dia
mengangkatnya dalam siaran radio secara live. Topik ini memang sangat relevan,
setidaknya kalau kita lihat fenomena yang terjadi di negeri kita sekarang ini.
Ketika kehidupan beragama tampak begitu menonjol, perilaku melupakan Tuhan pun
tak kalah meriah. Masjid dan gereja banyak didatangi umat, tetapi pub dan
diskotek juga tak pernah sepi. Doa selalu dipanjatkan setelah shalat, tetapi
korupsi jalan terus.

Situasi itu mencerminkan bahwa kesalehan spiritual tidak seiring dengan
kesalehan sosial. Maksudnya, seseorang telah menjalankan ajaran agama sesuai
perintah Tuhan, tetapi perilaku sosialnya bertentangan dengan perintah Tuhan.

Mengapa bisa terjadi kontradiktif semacam itu? Menurut Arvan, ada tiga kesalahan
pokok dalam memaknai agama. Pertama, agama dimaknai hanya sebagai bentuk ritual,
kita tidak diajarkan untuk memahami kenapa ibadah itu harus dilakukan. Kedua,
agama sering diartikan sebagai kewajiban yang bila dilakukan akan memperoleh
pahala dan masuk surga, sedangkan jika tidak, akan diganjar dosa dan masuk
neraka. Ketiga, agama sering ditafsirkan sebagai urusan kita dengan Tuhan.
Padahal, esensi beragama adalah kasih. Bukankah Tuhan itu Maha Pengasih lagi
Maha Penyayang? Karena itu, orang beragama mestinya dikenal karena rasa cintanya
terhadap sesama manusia.

Buku ini tetap menarik untuk menjadi bahan renungan---meski tidak sedalam
buku-buku Arvan sebelumnya terutama The 7 Laws of Happiness. You Are Not Alone
juga bisa menjadi bekal untuk mematangkan hubungan kita dengan Tuhan dan dengan
sesama manusia. Ini juga bisa menjadi cermin apa selama ini kesalehan spiritual
kita sudah sejalan dengan kesalehan sosial atau belum.[]

Resensi ini awalnya dimuat Republika, Minggu, 17 Oktober 2010.

3.

[Ruang Kantor] PEKA

Posted by: "fiyan arjun" fiyanarjun@gmail.com

Sat Nov 6, 2010 10:44 am (PDT)



*Peka*

* Oleh; Fiyan Arjun*

* *
* "Kebanyakan orang mengatakan bahwa kecerdasanlah yang melahirkan seorang
ilmuwan besar. Mereka salah, karakterlah yang melahirkannya" [Albert
Einstein]*

* *

Menjadi seorang pengajar (guru) sebenarnya bukanlah cita-cita apalagi impian
saya. Cita-cita dan impian saya sejak kanak-kanak adalah ingin menjadi orang
kantoran. Itu saja! Tak lebih. Tak kurang. Maupun tak mengada-ada. Apalagi
memalsukan. Maklum saat itu lagi-lagi saya masih kanak-kanak.

Kenapa saya memilihnya? Karena sejak ada salah satu tetangga saya yang
berprofesi sebagai orang kantoran. Setiap pulang-pergi selalu saja membawa
tas hitam (koper) di tangannya sehingga menjadi pusat perhatian saya saat
itu. Entah, ketika setiap ia pergi berangkat kantor maupun pulang petang
dari tempat ia bekerja ekor mata saya ini tak lepas darinya. Apalagi
diatambah memakai pakaian selalu rapi dan berdasi. Hingga akhirnya
*mindset*pun tertanam: bahwa di dalam tas hitam itu berisi uang
banyak! Menjadi orang
kantoran banyak uang! *Begitulah….*

* *

Namun entah kenapa belakangan ini cita-cita dan impian itu pudar dan
bergeser dengan seiring waktu. Terlebih ketika suatu hari saya, di tahun
ajaran baru tahun 2010-2011. Saya mendapakan tawar itu lagi.

Saat itu ada seorang kawan—seorang pengajar (guru) pula—menawarkan saya
untuk menjadi seorang pengajar (guru) ekskul di Sekolah Dasar Islam Terpadu
(SDIT). Dimana tempat kawan saya mengajar pula. Walau pun saat itu ketika
kawan saya menawarkan saya sempat menolak.

Kenapa saya sempat menolaknya?

Ya, karena* basic* saya bukanlah dari akedemisi dari pendidikan formal
keguruan. Saya hanya seorang professional. Seorang penulis *freelance* dan
seorang mahasiswa.bukan seorang pengajar (guru) seperti pada umumnya. Dan
itu saya akui karena saya masih jauh dianggap dikatakan pahlawan tanpa
tanda jasa itu. Digugu dan ditiru.Guru.

"Sudahlah terima saja tawaran saya ini. Di tempat saya mengajar membutuhkan
seorang seperti kamu. Di tempat saya itu lagi membutuhkan tenaga pengajar
(guru) ekskul. Guru ekskul Jurnalis (Jurnalis, Mengarang dan Menulis)."

Begitu kata kawan saya ketika bertandang ke rumah saya memberitahukan kabar
gembira itu sekaligus tawaran.

Saya berpikir sejenak. Tetapi bukan berpikir keras. Tak langsung menjawab.

"Sudahlah tidak perlu dipikir lagi. Toh, soal pengalaman kamu sudah
punyakan? Kamu pernah magang mejadi reporter di sebuah majalah, penulis dan
juga pernah jadi pengajar (guru) ekskul di SMP. Iyakan!"

Lagi-lagi kawan saya meyakinkan saya.

Memang saya akui sebelum ada tawaran itu jatuh ke tangan saya. Saya pernah
mengajar dengan—tawaran yang sama. Saya menjadi pengajar (ekskul) di bidang
yang sama. Tapi saat itu saya mengajar (guru) di tingkat SMP. Walaupun hanya
seorang pengajar (guru) ekskul tingkat SMP! Tapi saya bangga. Bangga
ternyata profesi ini sungguh mulia di mata minus saya!

Akhirnya tawaran dari kawan saya itu pun saya terima! Dan….sampai sekarang
saya masih berstatuskan seorang (guru) ekskul Jurnalis di salah satu SDIT.

Dan sejak tawaran itu saya terima—dan menjadi seorang pengajar (guru) ekskul
munculah satu-persatu suatu keharuan yang meraja di hati saya hingga sampai
sekarang…

Seperti hari ini Rabu (10/11) saat tulisan ini saya tulis saya lagi-lagi
mendapatkan keharuan serta kebanggaan tiada tara khususnya kepada diri
saya. Apalagi ketika saya sudah menjadi seorang pengajar (guru) ekskul di
tempat saya mengajar.

Hari itu saya berkesempatan untuk memberikan Pelatihan Menulis untuk Tingkat
SD. Itu pun atas kepercayaan dan rekomendasi dari saudara saya Salim
Yahnya—yang sudah bekerja keras untuk saya agar bersedia berikan ilmu yang
saya miliki di tempat ia mengajar.

Ya, memberikan Pelatihan Menulis. Pelatihan Menulis untuk Tingkat SD sehari.
Dimana saya ingin mengenalkan mereka ilmu tulis menulis. Dunia kata-kata.
Dunia seribu bahasa. Hingga saya pun dihadapkan dengan sebuah kenyataan….

Lagi-lagi saya terharu dan bangga ketika saat saya berdiri di depan puluhan
anak-anak berusia dari 10 sampai dengan 12 tahun. Mereka begitu antusias
menyimak dan memperhatikan saya memberikan ilmu tulis menulis. Bagaimana
menulis yang baik dan benar. Membedakan antara menulis dan mengarang—yang *
notabene* sebagian—maaf—mungkin sebagi seorang penulis juga belum tentu
menyadarinya. Mungkin mereka menganggap menulis dan mengarang adalah suatu
pekerjaan yang sama. Mungkin? Entahlah,. Tapi saya disini tidak mengajarkan
apalagi menggurui. Karena saya memberikan hal ini berdasarkan pengalaman
saya selama ini memberikan materi dan mengajarkan anak didik saya.

Dan inilah salah satu keharuan itu…

"Kak Fiyan apa sih suka-dukanya menjadi seorang penulis?"

Itulah ucapan salah satu peserta Pelatihan Menulis Sehari Tingkat SD di
sebuah sekolah yang terletak di alam yang asri. Masih lumayan bersih
udaranya. Sekolah itu terletak di kawasan BSD, Tangerang. Begitu unik. Apik.
Dan minimalis dan indah ketika saya baru pertama kali tiba di sekolah itu.

*Hmm*…saya tertegun ketika salah satu peserta menanyakan hal itu. Saya
terharu ketika mendengranya. Akhirnya dengan cara pengajaran saya—dengan
memberi motivasi saya menjawab.

"Menjadi penulis itu harus tahan banting. Harus kuat. Dan harus terima
kritikan dan cemoohan dari orang lain (baca: penulis senior). Halnya Kak
Fiyan pernah mengalaminya. Tapi kakak tetapi sabar dan tabah hingga akhirnya
kakak bisa dihadapan kalian…." Jawab saya walau dalam hati saya sebenar
menangis ketika mengingat yang—saya alami ketika ada penulis senior yang
melihat saya dengan sebelah mata. Tapi saya sudah membuktikan itu! Inilah
saya. Saya sudah seperti kalian…(baca:penulis senior) dengan ketekunan dan
kerja keras saya sendiri tanpa paksaan orang lain.

*Alhamdulillah*, akhirnya mereka paham sekaligus mengerti! Bukan itu saja
tapi mereka malah menyukai profesi ini. Mereka begitu antusias ketika saya
memberikan dan mengarahkan bagaimana menjadi seorang penulis yang baik
ketika terkenal nanti—dengan metode saya.

Memang saya memberikan pelatihan menulis di tempat itu (baca: sekolah)
sedang mengadakan rangka pengenalan dan pengetahuan tentang berbagai macam
profesi di tanah air ini. Salah satunya: Penulis!

Tapi apakah menjadi seorang pengajar (saat itu) cukup? Hanya mengandalkan
intelektual semata saja? *Hmm*…jika itu ada di benak Anda —maaf—lagi-lagi
maaf itu salah besar!

Kenapa saya mengatakan seperti itu?

Karena menjadi seorang pengajar bukanlah hanya intelektual saja yang
diperlukan!Tetapi harus bisa menarik perhatian anak didik kita dan juga bisa
merima diri kita kepada mereka. Apakah mereka nyaman dan sudi menerima atas
kehadiran dan kedatangan kita? Itu yang penting! Bukanlah intelektual
semata. Selalu mengagung-agungkan kepintaran, kelihaian dan kemahiran
semata. Tapi jika Anda tidak diterima oleh mereka atas kehadiran dan
kedatangan Anda. Itu bukan salah mereka. Tapi sudahkah Anda berkaca diri.
Itu yang perlu dilihat di cermin Anda di rumah.

"Kak apakah penulis itu harus rajin "membaca" dan "menulis?"

*Tanah Betawi—Ulujami, 03 November 2010*

* *

*Tulisan ini saya dedikasi untuk para pengajar(guru) di tanahair ini
khususnya untuk saudara saya Salim Yahya seorang guru. Profesi yang amat
saya muliakan dan saya hormati….Oh, guru jasamau tiada tara!*


4.

[BERBAGI] Energi Penyembuhan di kala bencana melanda

Posted by: "Muhammad Nahar Rasjidi" muh_nahar@yahoo.com   muh_nahar

Sat Nov 6, 2010 10:51 am (PDT)



Saya mulai mengikuti kegiatan2 sosial berasama komunitas berbasis dunia maya sekitar pertnegahan tahun 2007.  Di sana saya berkenala dan berteman d engan banyak orang dari berbagai latar belakang.  Tentu saja ada yang lelaki dan perempuan.  Pada akhir tahun 2008 saya mengenal seorang teman yang sangat berkenan di hati saya, bahkan saat saya pertama kali bertemu dengannya.  Namun, yang terjadi pada saya adalah penolakan.  Saya pun merasa terpukul oleh hal tersebut.

Siapapun pasti akan merasakan kesedihan dan kehampaan yang luar biasa saat merasa bahwa sang kekasih tidak akan pernah bersanding dan hidup bersamanya.  Hari-hari saya diisi kemurungan hanya dengan persis seperti syair lagu "but like a fool I keep losing my place and I keep thinking something gonna change" dari lagu Sometimes Love ain't enough-nya Patty Smith dan Don Henly.  Hanya harapan kosong akan perubahan yang tak kunjung datang. Saya pun saat itu berada di persimpangan jalan antara yang benar dan yang salah, antara menerima kenyataan dan memberontak sampai berbuat nekad.  

Dalam upaya saya mencari kesembuhan dan ketenangan, saya pun mencoba mempelajari terapi - terapi psikologi salah satunya SEFT - Spiritual Emotional Freedom Technique.  Suatu teknik penyembuhan fisik, emosi dan spiritual melalui pendekatan energi psikologi. Pada umumnya kita hanya melihat sebab dan akibat semata. Pada paradigma energy psychology, diantara sebab dan akibat ada proses antara yang disebut gangguan pada sistem energi tubuh. Setiap penyebab, baik fisik dan emosi, akan menyebabkan gangguan energi tubuh sebelum akhirnya muncul sebagai rasa sakit. Terapi dilakukan dengan cara mengetuk titik-titik akupuntur tertentu di bagian tubuh sambil diiringi doa, keikhlasan dan kepasrahan menerima. Pengetukan dimaksudkan agar energi tubuh yang mengalir melalui meridien akupuntur menjadi lancar kembali dan tubuh berangsur pulih dari gangguan fisik dan emosi yang diderita.  Walaupun masih belajar, saya mencoba menerapkan terapi tersebut pada diri sendiri dan
orang lain. Cukup banyak orang yang  terbantu oleh saya sehingga saya, termasuk saat mengikuti kegiatan-kegiatan sosial yang dilaksankana oleh Logos, seperti baksos terapi gratis di Penjara Narkotika Cipinang dan di daerah Bongkaran, Tanah Abang.  

Saat saya membaca notes Bayu Gawtama, seorang relawan senior dari ACT tentang teknik Spiritual Quantum Touch, timbul keinginan untuk mempelajari teknik tersebut. Namun, berhubung belum ada kesempatan, saya sepertinya harus menahan diri terlebih dahulu.  Tiba-tiba seorang sahabat sesama SEFTer yang juga karyawan Logos Institute, melalui status FB-nya, menginformasikan bahwa ada perekrutan SEFTer untuk menjadi relawan tim trauma healing ke Padang. Saya pun langsung mendaftarkan diri dan akhirnya bisa berangkat ke sana bersama beberapa teman SEFTer yang lain.  Pada waktu itu, gempa berkekuatan besar sedang melanda kota Padang.

Hal-hal menakjubkan yang saya dan tim alami adalah seorang bapak yang tadinya sulit berjalan karena kakinya sakit, setelah diterapi satu putaran bisa lompat-lompat lagi. Ada juga seorang ibu yang kakinya tadinya sakit, setelah ditapping satu putaran dan di-test dengan diminta memutar2 kaki sambil di-tapping titik Karate Chop-nya, akhirnya bisa menggerakkan kakinya kembali dan lain-lain.  Teman saya bahkan ada yang bisa membantu orang yang sudah hampir buta sehingga bisa melihat kembali walaupun masih belum jelas benar.  

kesulitan yang dialami tim, termasuk yang saya rasakan, adalah masalah komunikasi dan bahasa.  Kami banyak bertemu orang-orang tua dan mereka yang sepertinya kurang berpendidikan, apalagi saya adalah orang yang tidak mampu berkomunikasi dalam bahasa daerah.  Namun, terkadang mereka saat diterapi juga cukup kooeperatif, seperti seorang bapak yang pernah menderita penyakit Chikungunya. Bapak itu menderita nyeri-nyeri di beberapa bagian persendiannya, sehingga menghambat tugasnya sebagai tukang bangunan.  Alhamdulillah, berkat pertolongan Allah dan tingkat kooperasi yang baik dari bapak tersebut, nyeri-nyeri di jari-jari tangan dan lututnya berangsur membaik setelah diterapi oleh saya.  Seorang juru rawat yang selalu merasa bergoyang saat memasuki ruangan pun sesudah saya terapi berangsur mampu kembali keluar masuk ruangan dengan normal.

Selain membantu para pengungsi untuk pulih dari trauma, saya pun akhirnya bisa belajar teknik SQT dari sesama relawan.  SElain menterapi orang lain, saya sendiri juga merasakan terapi dari sesama relawan Tim Trauma Healing.  Saat beristirahat di posko unit Kanagarian Sicincin, yang merupakan sebuah masjid yang kondisinya masih lumayan baik walaupun agak retak-retak, saya merasakan sakit pada leher, sakit itu menjalar ke sebelah kepala.  Teman saya, Mas Ima Lesmana, menempelkan kedua tangannya di leher saya dan mengalirkan energi dengan teknik Spiritual Quantum Touch.  Alhamdulillah, sakit di leher dan kepala berangsur pulih dan tidak kambuh lagi sampai pulang ke Jakarta.  

SQT sendiri terinspirasi dari teknik temuan Richard Gordon yang sudah sangat terkenal di kalangan penyembuh alternatif yaitu Quantum Touch.  Teknik Quantum Touch bekerja dengan meningkatkan vibrasi energi tubuh si praktisi agar kliennya bisa menyembuhkan dirinya sendiri.  Peran praktisi SQT/QT hanya membantu meningkatkan vibrasi energi tubuh si klien.   Sang praktisi menggunakan teknik-teknik pernafasan tertentu dan menempelkan kedua tangannya pada bagian tubuh klien yang sakit. Pada SQT, sebelum melakukan terapi ditambah doa yang diambil dari sebuah Hadits dari Utsman bin Abil Ash dia berkata, "Rasulullah menjengukku saat aku sakit dan berkata, 'Usaplah dengan tangan kananmu tujuh kali dan ucapkan: "Audzu bi'izzatillahi waqudrotihi, wa sulthonihi min syarri maa ajidu." Kemudian aku lakukan dan Allah menghilangkan penyakit itu dariku, dan aku selalu sampaikan tentang ini kepada keluargaku dan yang lain." (HR.lmam Ahmad, Muslim dalam
Shahihnya.).

Saat-saat paling mengharukan justru datang pada hari terakhir saya bertugas bersama tim ACT.  di belakang puskesmas yang jadi posko tim ACT, ada sepasang suami istri yang sudah sangat tua.  sang suami terserang stroke karena terlalu lelah mengurusi istrinya yang sakit-sakitan.  Mas Fabri, sesama SEFTer, menterapi sang istri sementara saya dan mas Ima menterapi sang suami.  Saya bersama mas Ima sempat mencoba mengaplikasikan Spiritual Quantum Touch, yang sudah mendapat sentuhan Islami, kepada sang kakek.  Alhamdulillah, hasilnya cukup menggembirakan, apalagi si kakek ternyata sudah tahu doa yang kami baca saat hendak menterapi dengan SQT.  Suatu doa yang dianjurkan oleh Rasul SAW untuk dibaca saat kita sakit, sambil menyentuh bagian tubuh yang sakit.  Saat itulah, karena adanya pertukaran dan interaksi energi yang intens, kami semua tidak bisa menahan derasnya air mata dan keharuan yang datang.   

Sepulang dari padang, selain mempraktekkan SEFT saya pun terkadang menggunakan SQT hasil belajar dengan sesama relawan tersebut.  SQT cukup efektif untuk meredakan pegal-pegal dan keluhan fisik lainnya.  Dalam tingkatan yang tinggi, terapi ini bahkan bisa untuk meluruskan tulang yang bengkok karena skeliosis. Semenjak itu, saya sering dipercaya menjadi panitia bagian kesehatan ole teman-teman sesama relawan apabila ada event-event kerelawanan yang melibatkan banyak peserta.  Dalam event-event seperti Pesantren kilat atau pelatihan yang berdurasi lebih dari satu hari, ada saja peserta yang sakit ini dan itu.  Selain menggunakan obat medis, mereka pun bisa memperoleh manfaat dari terapi yang saya lakukan. Saya pernah menterapi seorang peserta salah satu event tersebut yang pernah waktu kecil dipukul pakai batu oleh kawannya. Dia jadi sering pusing dan sering pegal-pegal di lehernya dengan teknik SQT. Saya berharap perjalanan hidup menjadi penyembuh
amatir seperti ini adalah perjalanan penuh keberkahan yang sudah ditakdirkan oleh Allah SWT, Insya Allah.

Richard Gordon, pendiri Quantum Touch, menegaskan bahwa sesungguhnya semua penyembuhan adalah penyembuhan yang terjadi pada diri sendiri.  Tidak ada seorangpun yang mampu menyembuhkan orang lain.  Definisi seorang penyembuh, menurut Richard Gordon, adalah seseorang yang sakit lalu bisa menyembuhkan dirinya sendiri.  Sedangkan definisi seorang penyembuh yang hebat adalah seseorang yang sakit berat lalu bisa menyembuhkan dirinya sendiri dengan cepat (a healer is someone who was sick and got well; a great healer is someone who was very sick and got well quickly).  Orang lain hanya bisa membantu menyelaraskan dan meningkatkan vibrasi energi tubuh, bukan menyembuhkan.

Seringkali, keinginan kita untuk segera sembuh malah menghambat proses penyembuhan yang terjadi pada tubuh itu sendiri.  Tubuh kita seakan-akan tidak dipercaya bahwa dia memiliki kemampuan untuk menyembuhkan dirinya sendiri, sehingga dia pun "ngambek" dan tidak kunjung sembuh. Apalagi sebagian besar menusia tingkat energinya relatif rendah maka tubuh perlu waktu lama untuk memulihkan diri.  Untuk mempercepat kesembuhan, banyak orang memerlukan tambahan energi untuk memancing vibrasi energinya agar meningkat hingga menghasilkan efek kesembuhan.  Tambahan energi ini bisa diperoleh dengan diterapi oleh orang-orang yang tingkat vibrasi energinya lebih tinggi. Melakukan pengetukan ringan dengan jari pada titik-titik akupuntur tubuh juga bisa membantu.

Hadiah yang paling membahagiakan bagi seorang healing facilitator, baik yang menggunakan Energy Psychology Tapping atau Quantum Touch adalah kebahagiaan yang terpancar orang yang dia bantu untuk sembuh.  Sungguh sebuah pengalaman yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata seindah apapun.

Semoga semakin banyak orang yang bersedia belajar terapi berbasis energi psikologi ini agar makin banyak orang yang terbantu mengatasi penyakit dan masalah-masalah emosionalnya sehingga tidak selalu tergantung pada bantuan dari luar, seperti obat-obatan dan sebagainya. Sehingga tidak ada lagi alasan bagi kita untuk tidak berbagi pada sesama, walaupun hanya sentuhan atau ketukan ringan yang menyembuhkan.

Semoga bermanfaat

Muhammad Nahar

www.kopiradix.multiply.com

5a.

Re: [Info Eska] Saatnya Berbagi --- [Tema: Bencana]

Posted by: "Muhammad Nahar Rasjidi" muh_nahar@yahoo.com   muh_nahar

Sat Nov 6, 2010 10:51 am (PDT)



Belajar sekaligus berbagi, Insya Allah tetap akan bermanfaat

barusan saya upload tulisan BERBAGI-nya mbak

untuk semuanya, salam kenal dan mohon maaf baru sekarang berpartisipasi di milis Eska, biasanya hanya jadi pembaca yang baik ..

M. Nahar

www.kopiradix.multiply.com

--- On Tue, 11/2/10, Novi Khansa <novi_ningsih@yahoo.com> wrote:

From: Novi Khansa <novi_ningsih@yahoo.com>
Subject: [sekolah-kehidupan] Re: [Info Eska] Saatnya Berbagi --- [Tema: Bencana]
To: sekolah-kehidupan@yahoogroups.com
Date: Tuesday, November 2, 2010, 1:03 PM

 

untuk sementara, kita menulis untuk berbagi dan belajar...

sesuai program yang sudah kami buat

cek di sini ya

http://groups.yahoo.com/group/sekolah-kehidupan/message/36850

divisi penerbitan

salam

Novi

--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, fiyan arjun <fiyanarjun@...> wrote:

>

> gmn kalo dibukukan...

> dan bagi setiap penulis yang masuk harus harus menyubang rp.100 rb

> dan uangnya serta biaya royaltinya buat sumbangan bencana

> gimana ayo?

> ane jd PJnya...

> hehe

> trims kalo usul aye diiyakan

> 'hehe

>

> 2010/11/2 loiy <loiyloi@...>

>

> >

> >

> > Insaallah ikutan...

> > deadtime nya kapan nih ? hihihi

> >

> >

> > --- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com<sekolah-kehidupan%40yahoogroups.com>,

> > "Novi Khansa" <novi_ningsih@> wrote:

> > >

> > > Assalamu'alaykum Wr. Wb

> > >

> > > Dear all...

> > >

> > > November rupanya sudah hadir tanpa terasa...

> > > Sesuai Program Divisi Penerbitan Oktober-November ini, mari kita berbagi.

> > > Tema kali ini adalah BENCANA

> > >

> > > Teman-teman diharapkan menulis pengalaman tentang Bencana.

> > > Bagaimana teman-teman berada di tengah bencana, menghadapi bencana,

> > dll... Atau bisa juga cerita dari teman atau saudara ^_^

> > >

> > > Bisa juga bagi teman-teman yang pernah menjadi relawan dan ditempatkan di

> > posko-posko pengungsian... ataupun ketika dikirim untuk melakukan observasi,

> > liputan dan lain-lain

> > >

> > > Caranya

> > > Tulis cerita dalam bentuk diary, dengan bahasa yang ringan dan mengalir.

> > > Pada subjek tulisan cukup ditulis: [BERBAGI] misalnya [BERBAGI] Merapi

> > >

> > > Apa pun itu...

> > > Selamat berbagi

> > > semoga bisa bermanfaat buat semua

> > >

> > > Wassalamu'alaykum Wr Wb

> > >

> > > salam

> > >

> > > DAni ARdiansyah

> > > Novi Khansa

> > >

> > > (Divisi Penerbitan)

> > >

> >

> >

> >

>

>

>

> --

> "Books inside you"

> Fiyan 'Anju' Arjun

> Anju Online Bookshop

> Jl.Ulujami Rt.012/04 No.14 Jak- Sel

> www.bukumurahku.multiply.com

> fb:bujangkumbanf@... <fb%3Abujangkumbanf@...>

> Tlp:(021) 7379858

> Hp:0852-8758-0079

>

6.

FB-Note 2010 (A-11  Pemulung Cinta

Posted by: "IETJE SRI UMIYATI GUNTUR" ietje_guntur@bca.co.id

Sat Nov 6, 2010 10:52 am (PDT)





Dear Allz....

Menjelang akhir pekan, di siang hari yang dingin-dingin empuk ini, saya punya sebuah hidangan yang segar. Masih fresh gresssh...dari kompor saya...hehehe...

Hidangan sederhana ini, mungkin agak berbeda dari hidangan biasa. Tapi rasanya tetap gurih dan renyah. Ini boleh disantap di siang hari ini, atau boleh untuk hidangan makan malam.

Selamat menikmati...semoga berkenan...

Jakarta, 4 November 2010

Salam hangat,

Ietje S. Guntur

( Menjelang jam makan siang, di kantor)

♥♥

FB-Note 2010 (A-11

Kamis, 04 Nopember 2010

Start : 04/11/2010 10:56:27

Finish : 04/11/2010 11:26:32

PEMULUNG CINTA...

Pagi ini saya tiba-tiba teringat pada suatu 'profesi' atau perilaku yang menyulut ide di kepala. Menggelitik pikiran dan hati. Yang kemudian saya lontarkan di Facebook. Mana lebih mendingan : pengemis atau pemulung ?

Beberapa teman memberikan idenya. Di antaranya, mendingan menjadi pemulung, karena pemulung masih ada usaha. Mengumpulkan dari remah-remah. Sementara pengemis tidak ada usaha, selain wajah memelas dan menuntut belas kasihan orang lain.

Berangkat dari diskusi yang cukup hangat di pagi hari, saya jadi berpikir. Benar, juga....pemulung adalah wirausaha, pekerja tanpa modal, selain kemauan dan ketangguhan hati yang kuat. Kemudian, berdasarkan kemauan itu mereka bergerak. Bersama sebuah kantong plastik besar, yang barangkali juga hasil memulung. Besi pengait untuk mencari barang buangan. Yang barangkali juga hasil memulung, sama seperti kantong sampah. Dan sepasang sandal, yang sering tidak sama ukuran serta warnanya di kiri kanan.

Bermodal perlengkapan 'perang, mereka melangkah. Melirik ke kiri kanan. Menuju sasaran. Menyusuri jalan demi jalan. Menyusuri tempat sampah di pasar dan pemukiman. Kejelian seorang pemulung, mencari dan memilah barang yang dibuang. Kemudian mengumpulkannya. Dan belakangan menyortirnya untuk kemudian diolah kembali.

Benar kata teman saya, bahwa pemulung membuat sebuah siklus kehidupan menjadi berjalan dengan lebih baik. Tidak ada barang yang dibuang dengan sia-sia. Di tangan pemulung, semua barang menjadi bermanfaat lagi. Sesuai dengan peruntukannya. Pemulung pun mendorong kehidupan menjadi bergulir. Mendaur ulang sesuatu, yang barangkali bisa lebih tinggi nilai manfaat dan nilai jualnya.



Bila urusan pemulung dikaitkan dengan kehidupan emosi dan kehidupan cinta seseorang. Pemulung adalah orang yang sabar mengumpulkan cinta yang berserpih dari banyak orang, untuk dijadikan satu. Didaur ulang menjadi lebih bermanfaat.

Kita ambil salah satu pemulung cinta. Yaitu para relawan yang bekerja di berbagai pusat penanggulangan bencana. Mereka mengumpulkan hati-hati atau heart, bukan lever ( seperti kata Dukun Liyer di film Eat Pray Love) yang terluka akibat bencana, dan menyatukannya di dalam sebuah kekuatan untuk bangkit kembali. Hati yang sudah berkeping, karena kehilangan orang-orang yang dikasihi, harta benda, rumah, rasa aman, dan sebagainya dikumpulkan. Mereka secara bersama-sama menyatukan hati, menyatukan cinta, dan menjadikannya cinta baru untuk saling berbagi.

Pemulung cinta yang lain. Tidak hanya di lokasi penanggulangan bencana. Para pemulung cinta yang dengan penuh kasih mengumpulkan anak-anak terlantar, yang sudah menjadi yatim atau piatu. Mereka, dengan kesungguhan dan dedikasi yang tinggi mengulurkan tangan, mengasuh anak-anak ini sehingga hati yang terbelah itu pun dapat menyatu dalam sebuah keluarga besar. Sepanjang hari, sepanjang minggu dan sepanjang tahun, mereka menyirami hati yang tadinya rompal, luka, cacat, sehingga dapat menyatu kembali menjadi hati yang lebih peduli dan mulia.



Pemulung.

Di satu sisi memang seperti sampah masyarakat, yang bergerilya dari satu tempat pembuangan sampah, ke tempat pembuangan sampah lainnya. Mereka seperti mahluk yang boleh ada dan boleh tidak di dalam struktur masyarakat yang semakin memandang perlunya status sosial yang jelas.

Tetapi coba bayangkan : sebuah kota tanpa pemulung !

Kota itu memang tetap bisa berjalan. Aman dan damai. Sampah-sampah pun bisa dibuang di TPA, atau Tempat Pembuangan Akhir. Tetapi hanya sampai di situlah perjalanan para sampah. Menjadi sesuatu yang dibuang dan dilupakan selamanya.

Bandingkan ketika ada pemulung, yang mengorek sampah - kadang sembarangan dan serabutan. Lalu memilahnya berdasarkan klasifikasi tertentu, yang hanya mereka yang tahu. Dan menjualnya kepada para pengolah barang sisa atau barang sampah.

Hasilnya : para sampah bisa naik derajat, menjadi sesuatu yang lebih berguna. Bahkan boleh jadi, menjadi sesuatu yang tidak terpikir sebelumnya. Contohnya, bekas bungkus sabun deterjen yang telah dibuang ke tempat sampah. Ketika bungkus bekas ini dikumpulkan dan dijahit menjadi satu, maka hasilnya adalah sebuah tas keren yang kuat dan unik. Dan harganya di pusat perbelanjaan papan atas di Jakarta mencapai hampir seratus ribu rupiah !

Masih ada lagi. Pemulung kantong plastik, bekas pembungkus di supermarket ataupun toko-toko ternama. Ketika didaur ulang, maka kantong plastik, ember plastik, dan sebagainya bisa menjadi kantong plastik lagi atau ember dan pot tanaman. Bahkan mungkin juga menjadi sepasang sandal yang modis dan berwarna-warni.



Itulah...sebuah profesi, yang kadang dilakukan oleh seseorang karena tidak ada pilihan lain. Atau seperti pemulung cinta, yang melakukannya karena panggilan hati.

Dalam renungan pagi ini, saya mendapat pembelajaran dari pemulung. Yaitu apa pun pekerjaan yang kita lakukan, bila dilakukan dengan sepenuh hati dan penuh integritas, dia akan menjadi manfaat bagi kehidupan ini.

Apakah kita...mau merendahkan hati...untuk menjadi pemulung dunia, dan menjadikannya lebih mulia....

Jakarta, 4 November 2010

Salam hangat,

Ietje S. Guntur

Special note :

Thanks untuk Vie, yang menghangatkan diskusi pagi ini...

:BCA:
Recent Activity
Visit Your Group
Check out the

Y! Groups blog

Stay up to speed

on all things Groups!

Y! Messenger

Group get-together

Host a free online

conference on IM.

Drive Traffic

Sponsored Search

can help increase

your site traffic.

Need to Reply?

Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.

Create New Topic | Visit Your Group on the Web
MARKETPLACE

Get great advice about dogs and cats. Visit the Dog & Cat Answers Center.


Stay on top of your group activity without leaving the page you're on - Get the Yahoo! Toolbar now.


Hobbies & Activities Zone: Find others who share your passions! Explore new interests.

Tidak ada komentar: