Messages In This Digest (6 Messages)
- 1.
- Giant Impact Hypothesis --> Re:Pendaratan di bulan, benarkah ? From: Ma'rufin Sudibyo
- 2a.
- Re: Benarkah tips ini? From: Franky Djutanta
- 2b.
- Re: Benarkah tips ini? From: JIPI Hari
- 3.
- [artikel chem-is-try.org] Jalur Cepat Pembuatan Bensin From: mr.soetrisno
- 4.
- [artikel chem-is-try.org] Cat Pemulih dan Pembungkus Pintar dari bah From: mr.soetrisno
- 5.
- You want to buy what? To do what?? From: Gea O.F. Parikesit
Messages
- 1.
-
Giant Impact Hypothesis --> Re:Pendaratan di bulan, benarkah ?
Posted by: "Ma'rufin Sudibyo" marufins@yahoo.com marufins
Tue Dec 16, 2008 5:55 pm (PST)
Hipotesis asal-usul Bulan sebagai bagian dari proto-Bumi yang terlempar ke angkasa akibat tumbukan dengan proto planet sebesar Mars, atau dikenal dengan Giant Impact Hypothesis, mulai mengemuka pada 1974 dengan dipelopori William K. Hartmann dan Donald R. Davis. Hipotesis ini kemudian berkompetisi dengan hipotesis asal-usul Bulan lainnya yang telah eksis sebelumnya seperti hipotesis biner (dimana Bulan dan Bumi terbentuk pada lokasi yang sama sebagai sistem biner, yang mirip dengan sistem biner antara planet Pluto dengan Charon satelitnya) ataupun hipotesis tangkapan (dimana Bulan disebut terbentuk di sekitar orbit Merkurius, untuk kemudian ditangkap oleh gravitasi Bumi ketika melintas mendekat).
Dibanding 2 hipotesis lainnya, Giant Impact Hypothesis segera menjadi mainstream karena memiliki bukti pendukung lebih kuat, terutama dari hasil eksplorasi misi Apollo, Clementine dan Lunar Prospector. Hipotesis ini bisa menjelaskan mengapa orbit Bulan terus menjauh dengan kian bertambahnya sumbu mayor ellipsnya sebesar 3,7 cm/tahun sekaligus sejalan dengan penemuan Consolmagno & Schaefer (1994) bahwa pada masa Devon (400 juta tahun silam), jarak Bumi - Bulan adalah separuh dari jaraknya sekarang.
Demikian pula dengan kesamaan komposisi isotop Oksigen (O-16, O-17 dan O-18) maupun kesamaan isotopik rasio Cr-53/Cr-52 antara Bumi dan Bulan. Hipotesis ini pun sanggup menjelaskan berlebihnya konsentrasi KREEP (kalium/potassium, rare earth elements, phosphorus) pada batuan Bulan, dimana keberadaan KREEP menunjukkan Bulan pernah berada dalam fase cair sebagai samudra magma. Kecilnya ukuran inti Bulan (yang kurang dari 25 % radius Bulan) dibanding benda-benda langit terestrial lainnya seperti Merkurius, Venus, Bumi dan Mars yang dimensi intinya bisa mencapai 50 % radius planet, juga menjadi bukti. Pun demikian dengan densitas Bulan yang rendah (hanya 3,36 gram/cc, bandingkan dengan densitas Merkurius, Venus, Bumi dan Mars yang masing-masing 5,43 gram/cc; 5,24 gram/cc; 5,52 gram/cc dan 3,94 gram/cc). Densitas Bulan lebih mendekati nilai densitas lapisan selubung (mantel) Bumi. Kandungan ilmenit (FeTiO3) dalam tanah Bulan cukup tinggi (10 kali lipat lebih
tinggi dibanding kerak Bumi), namun hampir sama dengan kandungan ilmenit dalam mantel.
Nah, kapan Giant Impact itu terjadi? Setting waktu rasional menempatkan tumbukan dahsyat itu terjadi pada 4,533 milyar tahun silam, ketika Bumi berusia sekitar 50 juta tahun dan masih berwujud proto-Bumi yang sangat panas.
Giant Impact Hypothesis menyebutkan, ketika awan gas dan debu tata surya mulai berkondensasi membentuk proto-Matahari dan beragam proto-planet, di region yang kini menjadi orbit Bumi sebenarnya terbentuk 2 protoplanet yakni proto-Bumi dan proto-Theia. Proto-Theia ini terpisah sejauh 1 AU dari proto-Bumi dan bila dilihat dari Matahari berjarak 60 derajat di depan proto-Bumi, atau di salah satu titik Lagrange proto-Bumi. Konfigurasi macam ini sebenarnya dikenal stabil dan banyak contohnya yang tersisa hingga sekarang di tata surya, asalkan benda langit yang menghuni titik Lagrange itu berukuran kecil. Planet Jupiter misalnya, memiliki ribuan benda langit kecil penghuni titik Lagrange-nya yang dikenal sebagai asteroid Trojan, demikian pula Saturnus. Proto-Theia pun semula berukuran kecil, namun lama kelamaan ia tumbuh membesar ketika partikel debu di cakram akresi yang ada disekelilingnya mulai menggabung, sehingga pada akhirnya ia sama besarnya dengan
Mars.
Membesarnya proto-Theia mendatangkan masalah tersendiri karena orbitnya mulai tidak stabil, yang membuatnya mulai berosilasi dengan simpangan yang terus membesar seiring pertamahan waktu hingga kian mendekati proto-Bumi. Sehingga pada 50 juta tahun setelah terbentuknya, osilasi proto-Theia sudah menyimpang sejauh 1 AU dan membentur Bumi dengan mekanisme tumbukan miring (oblique impact). Simulasi menunjukkan 48 % massa proto-Theia (berupa inti besi) tenggelam ke dalam inti proto-Bumi akibat tumbukan itu, sementara 2 % lainnya menyebar ke angkasa sebagai debris. Sedangkan 50 % massa terlempar ke sekitar Bumi bersama sebagian kecil massa mantel proto-Bumi, membentuk suatu kumpulan partikel debu dalam cakram akresi hangat, yang segera berkondensasi kembali membentuk gumpalan cair yang kian membesar dalam tempo sedikitnya 100 tahun pasca tumbukan. Inilah yang kemudian menjadi Bulan. Tumbukan dahsyat ini pula yang membuat sumbu rotasi Bumi bergeser hingga
miring 23,5 derajat terhadap ekliptika.
2 % massa proto-Theia yang terlempar menjadi debris, kemudian berkondensasi membentuk cincin Bumi, mirip dengan cincin Saturnus di masa sekarang. Cincin Bumi tidak berumur lama karena perubahan jarak Bumi-Bulan secara konsisten menghasilkan perturbasi gravitasi yang membuat keseimbangan cincin terus menerus terganggu, hingga akhirnya ia jatuh ke Bumi ditarik oleh gravitasi Bumi ataupun dilemparkan keluar dari lingkungan gravitasi Bumi. Beberapa asteroid dekat Bumi yang diklasifikasikan sebagai Earth companion asteroids seperti Cruithne maupun 2002 AA29, diduga merupakan sisa komponen penyusun cincin Bumi yang telah terlempar keluar. Sementara di titik Lagrange Bumi masih tersisa kumpulan debu yang diduga merupakan sisa cakram akresi proto-Theia. Kumpulan debu ini menempati ruangan berdiameter 2 derajat, dan pertama kali berhasil diobservasi oleh Kordylewski (1956) sehingga disebut awan Kordylewski.
Dan akhirnya, sebagai hipotesis, tentu saja Giant Impact Hypothesis pun belum sanggup menjelaskan beberapa aspek di Bulan. Misalnya saja, sebagai konsekuensi dari tumbukan besar tersebut maka seharusnya di proto-Bumi pun pernah terbentuk samudera magma di permukaan. Sejauh ini tidak ada material di Bumi yang mgnindikasikan terbentuk di samudera magma. Demikian pula, konsentrasi mineral FeO di kerak Bulan yang lebih tinggi ketimbang di Bumi (13 % vs 8 %) sulit untuk dijelaskan hipotesis ini.
Salam,
Ma'rufin
_____________________ _________ __
From: Asis Pattisahusiwa <asisphysic04@gmail.com >
To: fisika_indonesia@yahoogroups. com
Sent: Thursday, November 13, 2008 3:02:25 AM
Subject: Re: [FISIKA] Re:Pendaratan di bulan, benarkah ?
Pada tanggal 11/11/08, Ma'rufin Sudibyo <marufins@yahoo. com> menulis:
penjelasan bapak sangat baik, namun ada yang masih mengganjal di otak saya,
Jika diekstrapolasikan mundur ke belakang, mudah ditebak bahwa Bulan
pernah bergabung jadi satu dengan Bumi. Pemisahan (fission) Bumi -
Bulan diperkirakan terjadi pada masa awal tata surya ketika proto-Bumi
dihantam benda langit seukuran Mars, yang membuat sebagian selubung
Bumi terlepas ke angkasa dan terkondensasi sendiri hingga membentuk
Bulan.
apa hipotesa ini sudah valid dan diakui dibidang astrofisik?, saya
memang bukan ahli di bidang itu tapi dari naluri fisika saya sendiri
sepertinya teori ini tidak bisa dipertanggung jawabkan alias ini
hanyalah Hoax.
ada beberapa hal yang perlu diperhitungkan agar teori (hipotesa) ini
dapat dipertanggungjawabk an,
1. jika memang bumi dulunya bertumbukan dengan suatu benda langit,
maka kemana bergeraknya serpihan-serpihan bumi yang lain. menurut
saya ketika peristiwa itu terjadi, maka bukan saja sebagian selubung
bumi yang terlepas (yang kemudian disebut "Bulan") namun pastinya ada
juga serpihan-serpihan bumi lainnya yang ikut terlepas sebagai efek
dari tumbukan itu walaupun tidak sebesar "bulan" tersebut.
2. bagaimana bumi yang sudah terlepas sebagian selubungnya bisa
kembali bulat (walaupun tidak bulat seperti bola)? hal ini sangat
tidak rasional mengingat bentuk bumi dan bulan sama-sama bulat. teori
ini mungkin bisa diterima jika seandainya bumi dan bulan bukan
berbentuk bulat, namun berbentuk persegi atau persegi panjang,
sehingga jika dipotong baik horisontal, vertikal maupun diagonal
hasilnya masih akan simetri walaupun volumenya telah berkurang.
3. bagaimana teori ini bisa menjelaskan perbedaan permukaan bumi dan
bulan. mengingat, sewaktu di SD kita sudah diajarkan bahwa bumi
memiliki lapisan atmosfer yang tebal sehingga kita bisa terlindungi
dari paparan sinar kosmik dan benda-benda langit lainnya, sedangkan
bulan?. belum lagi permukaan bumi yang terlihat sungguh begitu indah
jika dibandingkan dengan permukaan bulan. seorang anak SD bertanya,
kenapa dibulan tidak terdapat makhluk hidup sedangkan dibumi ada
(padahal dulunya bersatu)?.
wassalam,
--
Asis Pattisahusiwa
Jurusan Fisika, F. MIPA, Universitas Pattimura - Ambon
- 2a.
-
Re: Benarkah tips ini?
Posted by: "Franky Djutanta" frank080shadow@yahoo.com frank080shadow
Tue Dec 16, 2008 5:58 pm (PST)
Menurut saya hal yang perlu dicermati dalam kasus ini adalah mengenai tingkat konsentrasi bensin (Molaritas)..
Pada saat siang hari di Durban (kota di Afrika Selatan, yang pada tahun 2010 akan menjadi salah satu dari sembilan tempat penyelenggaraan piala dunia), bensin akan mengembang, sehingga tingkat konsentrasi (Molaritas) akan mengecil, maka efektifitas pembakaran bensin akan menurun, sehingga bensin yang diisikan di siang atau petang jelas lebih sedikit dibandingkan bensin yang diisikan di pagi hari, mengingat bensin akan mengembang pada suhu yang lebih tinggi.
Selanjutnya hal yang perlu diketahui adalah bahwa tingkat konsentrasi (molaritas) berbanding lurus dengan moL(n) dan berbanding terbalik dengan volume. Oleh karena volume yang diisikan oleh SPBU sama besar (berdasarkan alat ukur volume), baik pada siang hari ataupun pagi hari, namun yang turun adalah tingkat konsentrasi, maka mol bensin akan menurun. Mol(n) merupakan perbandingan antara massa bensin(gram) dan Mr (massa relatif atom-atom besin, yang besarnya mutlak). Dari persamaan mol(n) dapat diambil kesimpulan bila Mr bernilai absolut/tetap maka massa bensin (gram) lah yang berkurang.
Menurut saya karena hal tersebut juga berpengaruh terhadap tingkat kepadatan (massa jenis) bensin yang akan berkurang, dikarenakan massa yang berkurang sedangkan volume tetap sehingga efektifitas pembakaran bensin juga lebih besar.
Mengenai perhitungan, saya mencoba memikirkannya dengan menghubungkan pada persamaan Q=massa X kalor jenis X perubahan suhu, tapi saya belum bisa menemukan cara yang tepat. Teman-teman yang lain tolong membantu memberi contoh perhitungan..
CMIIW, I just try to answer with my logic, I'm still senior high school student..hehe:P
Best Regards,
Franky Djutanta
_____________________ _________ __
From: Zaenal Arief <zaenal@pudak.com >
To: fisika_indonesia@yahoogroups. com
Sent: Tuesday, December 16, 2008 9:59:50 AM
Subject: Re: [FISIKA] Benarkah tips ini?
Sangat masuk akal sih ...... saya teringat ketika
saya memeriksa pengiriman 10.000 termometer, salah satu peti berbau
menyengat, bau minyak tanah/kerosin, ternyata setengah peti itu termometernya
pecah, jadi selama ini saya pikir yg merah itu alkohol (nama nya kan
termometer alkohol) ternyata kok minyak tanah
Jadi bensin dan solar yg sekeluarga dengan minyak
tanah memang keliatannya punya koefisien muai yg tinggi....
Saat siang maka bahan bakar sedang
mengembang volumenya ... jadi yg kita beli memang tetap tapi apakah
seliter bensin saat dia mengembang itu kalo di bakar menjadi kalor yg sama
dengan seliter bensin pada saat dia menyusut??
Saya sih udah nggak inget gimana ngitungnya? tapi
logikanya ngembangnya sedikit kali??? apalagi di Indonesia yg
perbedaan suhu pagi dan siang nggak gitu besar .....lain halnya di Durban(
Afsel???CMIIW) , kebetulan saya pernah di dekat situ, di Pietersburg ,
paginya itu 13 C siang 26 C (deltanya 13 C) mungkin ini yg jadi
penyebab
Gimana kalo rekan ada yg bantu hitung untuk 50
liter itu berapa cc sih bedanya kalo misalnya perbedaan nya sampe 13 C dan kalo
di Indonesia katakanlah cuman 5 C .....
Terus kalo ada yg paham apa bisa diitung kalo pada
suhu rendah dan pada suhu tinggi apa ada perbedaan kalo bensin
dibakar??
Mungkin hanya dengan fakta hitungan baru bisa kita
yakin apa berarti atau nggak
Zaenal
----- Original Message -----
From: nuzulul sjahrudin
To: Milis Fisika Indonesia ; Milis Iptek Diskusi
Sent: Saturday, December 13, 2008 5:36 AM
Subject: [FISIKA] Benarkah tips
ini?
Seorang temen mengirim tulisan dibwh ini, mohon tanggapannya, benarkah :
------------ --------- --
Seorang teman mengirimkan catatan seperti tertulis di bawah ini:
Saya tidak tahu berapa sebenarnya anda membayar saat mengisi
bensin………tetapi di sini, di Durban, harga bahan bakar juga mahal.
Saya telah bekerja di bidang bahan bakar/bensin selama 31 tahun,
sehingga saya bisa memberikan beberapa cara agar uang anda menjadi
lebih berharga untuk setiap liter bahan bakar yang anda beli.
Di Marian Hill Pipeline tempat saya bekerja di Durban, dalam waktu 24
jam kami memompakan/menyalur kan kurang lebih 4 juta liter. Satu hari
solar, hari berikutnya bahan bakar pesawat jet dan bensin, LRP dan
Unleaded. Kami di sini mempunyai tanki penyimpanan sebanyak 34 dengan
kapasitas seluruhnya 16.800.000 liter.
Belilah Bahan Bakar Atau Isilah Mobil Atau Motor Anda Dengan Bahan
Bakar Pada Waktu Hari Masih Pagi Ketika Temperatur Tanah Masih Dingin.
Ingat bahwa semua SPBU mempunyai tanki penyimpanan di bawah tanah.
Semakin dingin tanahnya maka semakin padat/kental bahan bakarnya.
Jika temperatur mulai panas/hangat, maka bahan bakarnya akan
mengembang. Jadi jika membeli bahan bakar pada siang hari atau petang
hari……..sebenarnya bahan bakar yang diisikan ke dalam tanki kendaraan
anda jelas lebih sedikit dibanding jumlah liter yang anda beli.
Dalam business perminyakan, gravity yang spesifik dan temperatur
bensin, diesel dan bahan bakar pesawat jet, ethanol dan produk minyak
lainnya punya peranan penting. Kenaikan 1 derajat merupakan hal yang
sangat berpengaruh dalam business ini. Tetapi SPBU tidak memberikan
ganti rugi/kompensasi karena temperatur.
Salah Satu Yang Paling Penting Adalah Isi Bahan Bakar Saat Tangki
Kendaraan Anda Masih Setengah Penuh.
Alasannya adalah semakin banyak bahan bakar yang ada di tanki
kendaraan, maka semakin sedikit udara yang ada di bagian tanki yang
kosong. Bensin menguap lebih cepat dari pada yang bisa kita
bayangkan. Tanki penyimpanan bensin mempunyai apa yang kita sebut atap
yang mengapung yang berfungsi sebagai clearance zero antara bensin dan
atmosfer sehingga penguapannya bisa dikurangi.. Tidak seperti SPBU,
tempat saya bekerja di sini setiap truck yang kami muati ada ganti
rugi/kompensasi karena temperatur, sehingga setiap liter yang dibeli
jumlahnya benar-benar sesuai/tepat.
Yang Perlu Diingat Lagi, Jangan Isi Bensin Jika Ada Truk Bahan Bakar
Sedang Mengisi Tangki Penyimpanan
Hampir pasti bensin/solar akan teraduk saat bahan bakar dipompakan
dari truck ke tanki penyimpanan, dan kemungkinannya akan ada kotoran
di dasar tanki penyimpanan yang teraduk naik dan terikut masuk ke
tanki kendaraan anda.
Saya berharap hal ini akan menolong anda untuk mendapatkan nilai yang
maksimal dari rupiah yang anda gunakan untuk membeli bensin.
Bagikan Tips Ini Kepada Yang Lain!
_____________________ _________ __
Selalu bisa chat di profil jaringan, blog, atau situs web pribadi!
Yahoo! memungkinkan Anda selalu bisa chat melalui Pingbox. Coba!
- 2b.
-
Re: Benarkah tips ini?
Posted by: "JIPI Hari" kajipi@gmail.com phys_tea
Tue Dec 16, 2008 6:00 pm (PST)
eeeiiit tunggu dulu!... jangan buru-buru dibersihkan donk !,
Problem ini dibahas di buku Fisika Giancoli terjemahan edisi ke 5 Jilid 1,
terbitan Erlangga, Bab 13 Temperatur dan Toeri Kinetik Halaman 457,
Contoh 13-7
Tangki Bensin di bawah sinar Matahari.
Tangki baja 70 L pada sebuah mobil diisi sampai penuh dengan bensin pada
20^0 . Mobil kemudian ditinggalkan tetap berada dibawah sinar matahari, dan
tanki mencapai temperatur 40^0 C (104^0 F). Berapa banyak bensin yang Anda
perkirakan akan meluap dari tangki ?
Penyelesaian
Bensin memuai sebesar
delta V=beta V_0 deltaT = (950 x 10^-6 /C) (70 L)(20 C)= 1,3 L
Tangki juga memuai. Kita dapat menganggapnya sebagai kulit baja uang
mengalami pemuaian volume (Beta=3 alpha=36 x 10^-6 /C) jika tanki tersebut
padat, lapisan permukaan luar (kulit) akan memuai juga.
Dengan demikian volume tangki bertambah besar
delta V = (36 x 10^-6 /C) (70 L)(20 C)= 0,050 L
sehingga pemuaian tangki memiliki efek yang kecil. Jika tangki yang penuh
ini ditinggalkan di bawah sinar matahari, lebih dari satu liter bensin akan
meluap ke jalan.
Ingin menghemat uang ? Isi tangki bensin Anda di pagi hari ketika tangki
sejuk dan massa jenis bensin lebih tinggi--, tapi jangan isi tanki sampai
penuh benar....
luber bo' kayak mobil2 angkot yang suka isi penuh tangkinya trus mobil
angkotnya digoyang2. mirip ngisi krupuk ke dalam kaleng krupuk :)
--
Salam
[H,J]=-ipi
On Sat, Dec 13, 2008 at 10:59 AM, Ahmad-Ridwan Tresna NUGRAHA <
art.nugraha@gmail.com > wrote:
> sudah biasa... bersihkan aja...
>
> tipe-tipe tulisan HOAX...
> baca kriteria tulisan HOAX di wiki:
>
> http://en.wikipedia.org/wiki/ Hoax
>
>
> 2008/12/13 nuzulul sjahrudin <mnuzuls@yahoo.co.id >
>
>> Seorang temen mengirim tulisan dibwh ini, mohon tanggapannya, benarkah
>> :
>> --------------------- --
>>
>> Seorang teman mengirimkan catatan seperti tertulis di bawah ini:
>>
>> Saya tidak tahu berapa sebenarnya anda membayar saat mengisi
>> bensin���tetapi di sini, di Durban, harga bahan bakar juga mahal.
>> Saya telah bekerja di bidang bahan bakar/bensin selama 31 tahun,
>> sehingga saya bisa memberikan beberapa cara agar uang anda menjadi
>> lebih berharga untuk setiap liter bahan bakar yang anda beli.
>>
>> Di Marian Hill Pipeline tempat saya bekerja di Durban, dalam waktu 24
>> jam kami memompakan/menyalur kan kurang lebih 4 juta liter. Satu hari
>> solar, hari berikutnya bahan bakar pesawat jet dan bensin, LRP dan
>> Unleaded. Kami di sini mempunyai tanki penyimpanan sebanyak 34 dengan
>> kapasitas seluruhnya 16.800.000 liter.
>> HOAX
>>
>> Belilah Bahan Bakar Atau Isilah Mobil Atau Motor Anda Dengan Bahan
>> Bakar Pada Waktu Hari Masih Pagi Ketika Temperatur Tanah Masih Dingin.
>>
>> Ingat bahwa semua SPBU mempunyai tanki penyimpanan di bawah tanah.
>> Semakin dingin tanahnya maka semakin padat/kental bahan bakarnya.
>> Jika temperatur mulai panas/hangat, maka bahan bakarnya akan
>> mengembang. Jadi jika membeli bahan bakar pada siang hari atau petang
>> hari��..sebenarnya bahan bakar yang diisikan ke dalam tanki kendaraan
>> anda jelas lebih sedikit dibanding jumlah liter yang anda beli.
>>
>> Dalam business perminyakan, gravity yang spesifik dan temperatur
>> bensin, diesel dan bahan bakar pesawat jet, ethanol dan produk minyak
>> lainnya punya peranan penting. Kenaikan 1 derajat merupakan hal yang
>> sangat berpengaruh dalam business ini. Tetapi SPBU tidak memberikan
>> ganti rugi/kompensasi karena temperatur.
>>
>> Salah Satu Yang Paling Penting Adalah Isi Bahan Bakar Saat Tangki
>> Kendaraan Anda Masih Setengah Penuh.
>>
>> Alasannya adalah semakin banyak bahan bakar yang ada di tanki
>> kendaraan, maka semakin sedikit udara yang ada di bagian tanki yang
>> kosong. Bensin menguap lebih cepat dari pada yang bisa kita
>> bayangkan. Tanki penyimpanan bensin mempunyai apa yang kita sebut atap
>> yang mengapung yang berfungsi sebagai clearance zero antara bensin dan
>> atmosfer sehingga penguapannya bisa dikurangi.. Tidak seperti SPBU,
>> tempat saya bekerja di sini setiap truck yang kami muati ada ganti
>> rugi/kompensasi karena temperatur, sehingga setiap liter yang dibeli
>> jumlahnya benar-benar sesuai/tepat.
>>
>>
>>
>> Yang Perlu Diingat Lagi, Jangan Isi Bensin Jika Ada Truk Bahan Bakar
>> Sedang Mengisi Tangki Penyimpanan
>>
>> Hampir pasti bensin/solar akan teraduk saat bahan bakar dipompakan
>> dari truck ke tanki penyimpanan, dan kemungkinannya akan ada kotoran
>> di dasar tanki penyimpanan yang teraduk naik dan terikut masuk ke
>> tanki kendaraan anda.
>>
>> Saya berharap hal ini akan menolong anda untuk mendapatkan nilai yang
>> maksimal dari rupiah yang anda gunakan untuk membeli bensin.
>>
>> Bagikan Tips Ini Kepada Yang Lain!
>>
>> --------------------- ---------
>> Selalu bisa chat di profil jaringan, blog, atau situs web pribadi!
>> <http://sg.rd.yahoo.com/ >id/messenger/ pingbox/mailtagl ine/*http: //id.messenger. yahoo.com/ pingbox/
>> Yahoo! memungkinkan Anda selalu bisa chat melalui Pingbox. Coba!
>>
>
>
- 3.
-
[artikel chem-is-try.org] Jalur Cepat Pembuatan Bensin
Posted by: "mr.soetrisno" chemcafe@yahoo.com mr.soetrisno
Tue Dec 16, 2008 6:00 pm (PST)
Kategori Kimia Karbon
Jalur Cepat Pembuatan Bensin
Oleh Chandra Wahyu Purnomo
Dosen Kimia FT Kimia UGM
Proses untuk mengubah serpihan kayu, limbah pertanian dan biomasa
lainnya menjadi bahan bakar transportasi telah meyita perhatian para
peneliti. Salah satu dari peneliti yang tertarik mengembangkan
teknologi ini adalah insinyur kimia George W. Huber, yang timnya di
University of Massachusetts, Amherst melaporkan suatu proses
pirolisis katalitik selektif yang untuk pertama kalinya mampu
mengubah secara langsung selulosa kedalam senyawa yang dapat dipakai
untuk membuat bensin (ChemSusChem, DOI: 10.1002/cssc.200800018)
Masalah yang terbesar dari konversi biomasa adalah yang
dinamakan "recalcitrance" dari tanaman, yaitu ketidakmampuan secara
cepat dan ekonomis untuk mengubah secara langsung karbohidrat
kompleks dari tanaman menjadi bahan kimia berguna dan bahan bakar.
Para peneliti mencari beberapa pendekatan baik fisis, kimia dan
biologis untuk mengatasi masalah recalcitrance ini, termasuk teknik
pirolisis baru yang dikembangkan oleh Huber dan mahasiswa
pascasarjananya Torren R. Carlson dan Tushar P. Vispute.
[selengkapnya] http://www.chem-is-try.org/ ?sect=artikel& ext=235
- 4.
-
[artikel chem-is-try.org] Cat Pemulih dan Pembungkus Pintar dari bah
Posted by: "mr.soetrisno" chemcafe@yahoo.com mr.soetrisno
Tue Dec 16, 2008 6:00 pm (PST)
Kategori Kimia Material
Cat Pemulih dan Pembungkus Pintar dari bahan Nano Partikel
Oleh Amsal Sihombing
Peneliti kimia di Universitas Warwick telah menciptakan proses elegan
yang sederhana dan murah yang dapat menutupi partikel polimer dengan
lapisan nano partikel berbahan silika. Hasil akhir berupa material
berdaya tahan tinggi yang dapat digunakan untuk menciptakan berbagai
material berdaya guna tinggi seperti cat pemulih, dan pembungkus
pintar yang dapat dibentuk untuk mengijinkan air dalam jumlah
tertentu, udara ataupun keduanya untuk lewat dengan arah tertentu.
Penelitian yang dipimpin oleh Dr Stefan Bon dari Fakultas Kimia
Universitas Warwick, telah menciptakan "proses emulsi polimerasi
bebas sabun" yang membuat parikel koloid polimer tersebar di air dan
dalam satu langkah sederhana mencampur silika ukuran nano ke dalam
campuran. Partikel nano berbahan silika ini (berukuran sekitar 25
nanometer) akan melapisi koloid polimer dengan lapisan
yang "menubruk" polimer tersebut seperti ikan yang dilapisi remah-
remah roti.
[selengkapnya] http://www.chem-is-try.org/ ?sect=artikel& ext=236
- 5.
-
You want to buy what? To do what??
Posted by: "Gea O.F. Parikesit" geaofp@yahoo.com geaofp
Tue Dec 16, 2008 6:44 pm (PST)
Salam,
Artikel populer-ilmiah di bawah ini saya copy-paste dari:http://blog.wired.com/ wiredscience/ 2008/12/harvard- chemist.html
Selain kreatifitas sang peneliti yang menarik untuk disimak, artikel ini juga mengisahkan pengalaman unik saat peneliti ybs perlu belanja ke toko untuk memulai penelitiannya. Dalam bayangan saya, dialog yang terjadi tidak jauh berbeda dengan saat para tokoh Mythbusters ( http://dsc.discovery.com/fansites/ ) berbelanja bahan2 untuk eksperimennya, lantas ditanyai oleh penjaga toko dengan kalimat, "You want to buy what? To do what??".mythbusters/ mythbusters. html
Salam,
Gea O.F. Parikesit
http://gea.ari.googlepages. com/home
===
Complex Medical Test Made From Paper and Tape for Three Cents
By Aaron Rowe December 08, 2008 | 7:31:12 PMCategories: Biotechnology, Chemistry, Microfluidics
A sophisticated medical test that checks for dozens of diseases at
the same time can be made from little more than paper and double-sided
tape, bringing the cost within reach for the developing world.
The devices, known as microfluidics chips, operate much like a home
pregnancy test, in which liquid creeps up a cellulose strip toward a
color-changing line. But unlike the pregnancy test, these new chips can
split a single stream of liquid into dozens of channels. Each of those
canals could be used to perform a different diagnosis for diseases such
as HIV, dengue fever or hepatitis.
With a bit more work, the Harvard University chemists who devised
the paper test could build a user-friendly, multi-layered microfluidics
device with raw materials that cost roughly three cents.
"Our work was intended to bring greater capability to paper-based
analytical systems, by making them three-dimensional," said Andres
Martinez, a co-author on the report, which appeared in the Proceedings of the National Academy of Sciences Monday.
In the developing world, cost, durability and ease-of-use are
stumbling blocks for many medical technologies. But a cheap, simple
device like a paper microfluidics chip could be used in health care
diagnostics, and for monitoring environmental factors, quality of water
and the health of plants and animals.
The material most commonly used for microfluidics, a rubber called
PDMS, is not suited for mass production, said Michelle Khine, a
microfluidics expert at the University California, Merced. Plastics
would be better, but it is hard to carve complicated patterns in them
without expensive equipment. Even if someone could make cheap chips,
hooking them up to pumps is a huge hassle.
"For microfluidic chips to become ubiquitous, I think we still need to solve a bunch of technical problems," she said.
By switching to tape and paper, the team was able to get around
several of those problems. Because paper wicks moisture, they don't
need any pumps to force fluid through the system. Even better, they can
slice patterns in the tape with an off-the-shelf laser cutter, instead
of using a multimillion-dollar semiconductor fabrication lab.
"It's so simple, it's brilliant," Khine said.
Harvard chemist and lead author George Whitesides and his team have
a reputation for doing amazing things with ordinary materials and
making tools suitable for health-care needs in the developing world.
Not long ago, several other students in the same group built a centrifuge from an egg beater.
Those experiments make them rather unusual customers at the hardware store.
"When I tried to describe what I was hoping to do with the
double-sided tape, the sales reps usually looked at me as though I had
completely lost it," said Martinez. "After that initial interaction,
and probably more out of pity than anything else, they were very
helpful in showing me the double-sided tapes that they had in stock."
That awkward shopping spree may have solved one of the biggest problems in microfluidics engineering.
Citation: "Three-dimensional
microfluidic devices fabricated in layered paper and tape," by
Andres W. Martinez, Scott T. Phillips, and
George M. Whitesides. PNAS: doi/10.1073/pnas.0810903105
See Also:
* Young Professor Makes Lab-on-a-Chip with Shrinky Dinks
Need to Reply?
Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.
===============================================================
** Arsip : http://members.tripod.com/~fisika/
** Ingin Berhenti : silahkan mengirim email kosong ke :
<fisika_indonesia-unsubscribe@yahoogroups.com>
===============================================================
** Arsip : http://members.tripod.com/~fisika/
** Ingin Berhenti : silahkan mengirim email kosong ke :
<fisika_indonesia-unsubscribe@yahoogroups.com>
===============================================================
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Individual | Switch format to Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
Tidak ada komentar:
Posting Komentar