Messages In This Digest (25 Messages)
- 1.
- Inspirasi&Motivasi ; Karet Gelang From: rahmad nurdin
- 2a.
- (Kelana) KOST BARU. KOST MASA DEPANKU From: bujang kumbang
- 2b.
- (Kelana) KOST BARU. KOST MASA DEPANKU From: bujang kumbang
- 2c.
- Re: (Kelana) KOST BARU. KOST MASA DEPANKU From: novi_ningsih
- 3a.
- [Kelana] Forever Young; Qurcil Was here From: Lia Octavia
- 3b.
- Re: [Kelana] Forever Young; Qurcil Was here From: novi_ningsih
- 3c.
- Re: [Kelana] Forever Young; Qurcil Was here From: Nia Robie'
- 3d.
- Cerita "pulang" From: satya aditya
- 3e.
- Re: [Kelana] Forever Young; Qurcil Was here From: fil_ardy
- 3f.
- Re: [Kelana] Forever Young; Qurcil Was here From: Lia Octavia
- 3g.
- Re: [Kelana] Forever Young; Qurcil Was here From: Lia Octavia
- 3h.
- Re: [Kelana] Forever Young; Qurcil Was here From: Lia Octavia
- 4a.
- [Galeri] Acara Qurcil Eska From: novi_ningsih
- 4b.
- Re: [Galeri] Acara Qurcil Eska From: Lia Octavia
- 5.
- Timetable Proyek Laskar Pelangi From: Ummu Alif
- 6.
- IBADAH DAN SAMPAHNYA From: FITRI ARLinkaSARI
- 7a.
- Re: [Catcil] Orang Aneh From: Nia Robie'
- 8.
- [cerpen] Ketegaran dibalik Segala Kekurangan From: Putri Agus Sofyan
- 9a.
- (catcil) Kasih Anak untuk Sebuah Cinta From: febty febriani
- 9b.
- Re: (catcil) Kasih Anak untuk Sebuah Cinta From: sismanto
- 9c.
- Re: (catcil) Kasih Anak untuk Sebuah Cinta From: inga_fety
- 10.
- TIGA KATA LAGI (CATATAN KAKI) From: arya noor amarsyah arya
- 11.
- [Maklumat] Foto-foto Qurcil SK Bandung From: Lia Octavia
- 12a.
- [ruang keluarga] Keluguan Seorang Anak From: Putri Agus Sofyan
- 12b.
- Re: [ruang keluarga] Keluguan Seorang Anak From: inga_fety
Messages
- 1.
-
Inspirasi&Motivasi ; Karet Gelang
Posted by: "rahmad nurdin" rahmad.aceh@gmail.com rahmadsyah_tcc
Tue Dec 9, 2008 6:13 am (PST)
Assalamu'alaikum
Suatu kali saya membutuhkan karet gelang, Satu saja. Shampoo yang akan saya
bawa tutupnya sudah rusak. Harus dibungkus lagi dengan plastik lalu diikat
dengan karet gelang. Kalau tidak bisa berabe. Isinya bisa tumpah ruah
mengotori seisi tas. Tapi saya tidak menemukan satu pun karet gelang. Di
lemari tidak ada. Di gantungan-gantungan baju tidak ada. Di kolong-kolong
meja juga tidak ada.
Saya jadi kelabakan. Apa tidak usah bawa shampoo, nanti saja beli di
jalan.Tapi mana sempat, waktunya sudah mepet. Sudah ditunggu yang jemput
lagi. Akhirnya saya coba dengan tali kasur, tidak bisa. Dipuntal-puntal
pakai kantong plastik, juga tidak bisa. Waduh, karet gelang yang biasanya
saya buang-buang, sekarang malah bikin saya bingung. Benda kecil yang
sekilas tidak ada artinya, tiba-tiba menjadi begitu penting.
Saya jadi teringat pada seorang teman waktu di Yogyakarta dulu. Dia tidak
menonjol, apalagi berpengaruh. Sungguh, Sangat biasa-bisa saja. Dia hanya
bisa mendengarkan saat orang-orang lain ramai berdiskusi. Dia hanya bisa
melakukan apa yang diperintahkan kepadanya. Itu pun kadang-kadang salah,
Kemampuan dia memang sangat terbatas.
Tetapi dia sangat senang membantu orang lain; entah menemani pergi,
membelikan sesuatu, atau mengeposkan surat. Pokoknya apa saja asal membantu
orang lain, ia akan kerjakan dengan senang hati. Itulah sebabnya kalau dia
tidak ada, kami semua, teman-temannya, suka kelabakan juga. Pernah suatu
kali acara yang sudah kami persiapkan gagal, karena dia tiba-tiba harus
pulang kampung untuk suatu urusan.
Di dunia ini memang tidak ada sesuatu yang begitu kecilnya, sehingga sama
sekali tidak berarti. Benda yang sesehari dibuang-buang pun, seperti karet
gelang, pada saatnya bisa menjadi begitu penting dan merepotkan.
Mau bukti lain? Tanyakanlah pada setiap pendaki gunung, apa yang paling
merepotkan mereka saat mendaki tebing curam? Bukan teriknya matahari. Bukan
beratnya perbekalan. Tetapi kerikil-kerikil kecil yang masuk ke sepatu.
Karena itu, jangan pernah meremehkan apa pun. Lebih-lebih meremehkan diri
sendiri. Bangga dengan diri sendiri itu tidak salah. Yang salah kalau kita
menjadi sombong, lalu meremehkan orang lain
Sumber ; Unknown
--
RAHMADSYAH
Certified Master NLP Practitioner I 081511448147 I Motivator & Trauma
Therapist
www.rahmadsyah.co.cc
- 2a.
-
(Kelana) KOST BARU. KOST MASA DEPANKU
Posted by: "bujang kumbang" bujangkumbang@yahoo.co.id bujangkumbang
Tue Dec 9, 2008 7:27 am (PST)
KOST BARU, KOST MASA DEPANKU
Fiyan
Arjun
"Penderitaan
apapun yang tak sanggup membunuhmu, akan menjadikamu semakin kuat." (Dereck
Walcot, Penyair Karibi)
Ternyata mencari tempat kos bagi ukuran
saya sangatlah tidaklah mudah. Karena apa? Sejak saya bekerja di tempat baru
dan beralokasi baru pula—sebulan lebih saya sudah mencari tempat untuk saya
beristirahat seusai bekerja tetapi baru saat ini saya mendapatkanya. Itu pun
dibantu oleh rekan kerja saya. Mungkin kalau tanpa pertolongannya saya pasti belum
tentu dapat hingga sampai saat ini.
Benar juga apa yang dikatakan pula oleh
seorang kawan lama saya —yang sampai saat ini saya belum sempat bertemu kembali
dengannya. Entah apakah ia masih ingat dengan saya atau sebaliknya, saya tidak
mengenalinya. Mungkin nanti Allah akan mempertemukan saya kepadannya saya pun
optimis dengan hal itu. Saya pasti akn bertemu dengannya kelak. Terlebih apa yang
ia katakan kepada saya itu sangat berbekas di hati saya sampai saat ini.
"Cari kost itu kayak milih calon istri ya,
Mas Fiyan? Kadang mudah kadang pula susah sekali," ujarnya sewaktu hari—dikala
saya masih bertemu dengannya saat itu. Hal itu terjadi pada tahun 2001.
Ya, memang kalau saya ingat kembali hal
itu memang cukuplah lama. Hampir 6 tahun disaat saya masih dalam suasana traning di suatu tempat. Dimana saya
mempelajari pekerjaan saya sebelum saya terjun langsung, ke lapangan. Di
tempatkan di posisi mana yang cocok untuk tempat kerja saya bekerja saat itu. Dan kalau
kawan lama saya masih mengingat saya mungkin itu mukjizat dari Allah yang
kemungkinan yang tak mungkin tahu. Kapan dan dimana nanti saya akn bertemu
dengannya.
Saya yang mendengar lontaran seperti itu hanya
tersenyum saja. Terlebih saya yang masih status jomblo—sampai saat ini juga. Dan
itu bagi saya hal yang amat menggelitik diri saya saat itu.
"Kok, gitu sih, Ma. Masa kost disamai sama
perempuan," jawab saya sekenanya.
Dia hanya cengir kuda.
Saya pun begitu. Sama main
cengir-cengiran.
Ya, ternyata kalau saya piker apa yang
diutarakan kawan saya itu ada benarnya. Kost dan mencari calon istri sama saja
dalam upaya dan daya untuk meraihnya. Sama-sama membutuhkan kesabaran dan
kesanggupan hati dan tekad untuk melampui itu semua. Walau dalam hal ini saya
tak menyamakan bahwa kost dan perempuan (calon istri) itu sama saja. Melainkan
dalam porsinya masing-masing sangatlah berbeda-beda. Satu butuh daya dan energi
dan satu lagi perlu pikiran matang dan dewasa dalam memilih. Begitu juga dengan
masa depan perlu daya, energi dan berpikir matang serta dewasa. Bagimana dengan
Anda? Apakah sependapat dengan saya?"
Tapi bagi saya kedua-duanya adalah masa
depan buat saya secara individu. Dan bukan itu saja itu semua kerperluan
bathiniah seorang manusia yang normal yang wajib dilaksanakan. Mencari kost dan
mencari calon istri. (fy)
Coba Yahoo! Messenger 9.0 baru. Akhirnya datang juga! http://id.messenger.yahoo.com - 2b.
-
(Kelana) KOST BARU. KOST MASA DEPANKU
Posted by: "bujang kumbang" bujangkumbang@yahoo.co.id bujangkumbang
Tue Dec 9, 2008 7:37 am (PST)
KOST BARU, KOST MASA DEPANKU
Fiyan Arjun
"Penderitaan apapun yang tak sanggup membunuhmu, akan menjadikamu semakin kuat." (Dereck Walcot, Penyair Karibi)
Ternyata
mencari tempat kos bagi ukuran saya sangatlah tidaklah mudah. Karena
apa? Sejak saya bekerja di tempat baru dan beralokasi baru pula—sebulan
lebih saya sudah mencari tempat untuk saya beristirahat seusai bekerja
tetapi baru saat ini saya mendapatkanya. Itu pun dibantu oleh rekan
kerja saya. Mungkin kalau tanpa pertolongannya saya pasti belum tentu
dapat hingga sampai saat ini.
Benar
juga apa yang dikatakan pula oleh seorang kawan lama saya —yang sampai
saat ini saya belum sempat bertemu kembali dengannya. Entah apakah ia
masih ingat dengan saya atau sebaliknya, saya tidak mengenalinya.
Mungkin nanti Allah akan mempertemukan saya kepadannya. Dan saya pun
optimis dengan hal itu. Saya pasti akan bertemu dengannya kelak.
Terlebih apa yang ia katakan kepada saya itu sangat berbekas di hati
saya sampai saat ini.
"Cari
kost itu kayak milih calon istri ya, Mas Fiyan? Kadang mudah kadang
pula susah sekali," ujarnya sewaktu hari—dikala saya masih bertemu
dengannya saat itu. Hal itu terjadi pada tahun 2001.
Ya, memang kalau saya ingat kembali hal itu memang cukuplah lama. Hampir 6 tahun disaat saya masih dalam suasana traning
di suatu tempat. Dimana saya mempelajari pekerjaan saya sebelum saya
terjun langsung, ke lapangan. Di tempatkan di posisi mana yang cocok
untuk tempat kerja saya bekerja saat itu. Dan
kalau kawan lama saya masih mengingat saya mungkin itu mukjizat dari
Allah yang kemungkinan saya tak mungkin tahu. Kapan dan dimana nanti
saya akan bertemu dengannya.
Saya
yang mendengar lontaran seperti itu hanya tersenyum saja. Terlebih saya
yang masih status jomblo—sampai saat ini juga. Dan itu bagi saya hal
yang amat menggelitik diri saya saat itu.
"Kok, gitu sih, Mas. Masa kost disamai sama perempuan," jawab saya sekenanya.
Dia hanya cengir kuda.
Saya pun begitu. Sama. Bermain cengir-cengiran.
Ya,
ternyata kalau saya pikir apa yang diutarakan kawan saya itu ada
benarnya. Kost dan mencari calon istri sama saja dalam upaya dan daya
untuk meraihnya. Sama-sama membutuhkan kesabaran dan kesanggupan hati
dan tekad untuk melampui itu semua. Walau dalam hal ini saya tak
menyamakan bahwa kost dan perempuan (calon istri) itu sama saja.
Melainkan dalam porsinya masing-masing sangatlah berbeda-beda. Satu
butuh daya dan energi dan satu lagi perlu pikiran matang dan dewasa
dalam memilih. Begitu juga dengan masa depan perlu daya, energi dan
berpikir matang serta dewasa. Bagimana dengan Anda? Apakah sependapat
dengan saya?"
Tapi
bagi saya kedua-duanya adalah masa depan bbagi kelangsungan kehidupan
saya secara individu selanjutnya. Dan bukan itu saja itu suga merupakan
kerperluan bathiniah seorang manusia yang normal. Wajib dilaksanakan.
dan diupayakan. Halnya mencari kost dan mencari calon istri. (fy)
Nikmati chatting lebih sering di blog dan situs web. Gunakan Wizard Pembuat Pingbox Online. http://id.messenger.yahoo.com/ pingbox/ - 2c.
-
Re: (Kelana) KOST BARU. KOST MASA DEPANKU
Posted by: "novi_ningsih" novi_ningsih@yahoo.com novi_ningsih
Tue Dec 9, 2008 8:14 am (PST)
Kalo ga salah, baru kemaren denger kalo mas Fiyan ngekos. Waah,
selamat menikmati hidup ngekos yang penuh warna.
yah, mencari kos emang gampang2 susah. Aku termasuk yang susah betah,
hehe. Dalam kurun waktu kuliah 3 tahun di Depok, tiga kali aku pindah
kos dan dua di antaranya tak lama aku diami. Hanya satu yang bikin aku
benar-benar betah dan nyaman. Bahkan hingga lulus kuliah dan beberapa
waktu lalu aku masih suka bertandang ke tempat kosku yang dulu, untuk
hanya sekadar silaturahim dan menginap karena kemalaman di Depok...
Ayo, semangat...
dan selamat menikmati hidup di kos-kosan
--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups. , bujang kumbangcom
<bujangkumbang@...> wrote:
>
>
>
>
>
> KOST BARU, KOST MASA DEPANKU
>
>
>
> Fiyan
> Arjun
>
> Â
>
>
>
> âPenderitaan
> apapun yang tak sanggup membunuhmu, akan menjadikamu semakin
kuat.â (Dereck
> Walcot, Penyair Karibi)
>
>
>
> Â
>
> Ternyata mencari tempat kos bagi ukuran
> saya sangatlah tidaklah mudah. Karena apa? Sejak saya bekerja di
tempat baru
> dan beralokasi baru pulaâ"sebulan lebih saya sudah mencari tempat
untuk saya
> beristirahat seusai bekerja tetapi baru saat ini saya mendapatkanya.
Itu pun
> dibantu oleh rekan kerja saya. Mungkin kalau tanpa pertolongannya
saya pasti belum
> tentu dapat hingga sampai saat ini.
>
> Â
>
>
>
>
> Benar juga apa yang dikatakan pula oleh
> seorang kawan lama saya â"yang sampai saat ini saya belum sempat
bertemu kembali
> dengannya. Entah apakah ia masih ingat dengan saya atau sebaliknya,
saya tidak
> mengenalinya. Mungkin nanti Allah akan mempertemukan saya kepadannya
saya pun
> optimis dengan hal itu. Saya pasti akn bertemu dengannya kelak.
Terlebih apa yang
> ia katakan kepada saya itu sangat berbekas di hati saya sampai saat
ini.
>
>
>
>
>
> Â
>
> âCari kost itu kayak milih calon istri ya,
> Mas Fiyan? Kadang mudah kadang pula susah sekali,â ujarnya sewaktu
hariâ"dikala
> saya masih bertemu dengannya saat itu. Hal itu terjadi pada tahun 2001.
>
>
>
>
>
> Â
>
> Ya, memang kalau saya ingat kembali hal
> itu memang cukuplah lama. Hampir 6 tahun disaat saya masih dalam
suasana traning di suatu tempat. Dimana saya
> mempelajari pekerjaan saya sebelum saya terjun langsung, ke lapangan. Di
> tempatkan di posisi mana yang cocok untuk  tempat kerja saya
bekerja saat itu. Dan kalau
> kawan lama saya masih mengingat saya mungkin itu mukjizat dari Allah
yang
> kemungkinan yang tak mungkin tahu. Kapan dan dimana nanti saya akn
bertemu
> dengannya.
>
>
>
> Â
>
> Saya yang mendengar lontaran seperti itu hanya
> tersenyum saja. Terlebih saya yang masih status jombloâ"sampai saat
ini juga. Dan
> itu bagi saya hal yang amat menggelitik diri saya saat itu.
>
>
>
> Â
>
> âKok, gitu sih, Ma. Masa kost disamai sama
> perempuan,â jawab saya sekenanya.
>
> Â
>
>
>
> Dia hanya cengir kuda.
>
>
>
>
> Â
>
> Saya pun begitu. Sama main
> cengir-cengiran.
>
> Â
>
> Â
>
>
>
> Ya, ternyata kalau saya piker apa yang
> diutarakan kawan saya itu ada benarnya. Kost dan mencari calon istri
sama saja
> dalam upaya dan daya untuk meraihnya. Sama-sama membutuhkan
kesabaran dan
> kesanggupan hati dan tekad untuk melampui itu semua. Walau dalam hal
ini saya
> tak menyamakan bahwa kost dan perempuan (calon istri) itu sama saja.
Melainkan
> dalam porsinya masing-masing sangatlah berbeda-beda. Satu butuh daya
dan energi
> dan satu lagi perlu pikiran matang dan dewasa dalam memilih. Begitu
juga dengan
> masa depan perlu daya, energi dan berpikir matang serta dewasa.
Bagimana dengan
> Anda? Apakah sependapat dengan saya?â
>
>
>
>
> Â
>
> Â
>
> Tapi bagi saya kedua-duanya adalah masa
> depan buat saya secara individu. Dan bukan itu saja itu semua kerperluan
> bathiniah seorang manusia yang normal yang wajib dilaksanakan.
Mencari kost dan
> mencari calon istri. (fy)
>
> Â
>
> Â
>
> Â
>
> Â
>
> Â
>
> Â
>
>
>
>
> Coba Yahoo! Messenger 9.0 baru. Akhirnya datang juga!
http://id.messenger.yahoo.com
>
- 3a.
-
[Kelana] Forever Young; Qurcil Was here
Posted by: "Lia Octavia" liaoctavia@gmail.com octavialia
Tue Dec 9, 2008 7:43 am (PST)
*Forever Young; Qurcil Was Here*
* *
*(Sebuah Catatan Perjalanan)*
Oleh Lia Octavia
Gunung-gunung yang berbaris di sepanjang tol Cipularang itu
masih berselimut kabut diiringi rintik hujan yang menerpa jendela bis yang
berjalan hati-hati membelah lalu lintas sore itu. Bandung. Kota berselimut
cinta yang selalu kurindukan dengan senjanya yang hening memerah dan
hujannya yang senantiasa merintiki hatiku. Kota yang selalu
memanggil-manggilku untuk kembali memeluk sunyi. Kota dimana cinta telah
melegenda di sudut ruang hatiku dan kesadaranku. Kota yang memerah-hitamkan
cinta di dalam kehidupan masa mudaku. Masa muda yang bahagia. Masa muda yang
ceria. Masa muda yang bersimbah cahaya.
Aku menoleh ke bangku belakang. Mbak Novi dan Mbak Yana duduk
dengan manis menikmati pemandangan indah di luar jendela. Aku menatap layar
ponselku yang berkedip-kedip. Sms dari Pak Teha. Beliau menanyakan sampai di
mana posisi kami karena ia yang akan menjemput kami di Terminal
Leuwipanjang. Pak Teha yang baik dan sangat kuhormati. Beliau adalah salah
seorang sesepuh di Komunitas Sekolah Kehidupan dan termasuk salah satu
anggota yang tertua usianya di antara kami. Namun semangat beliau, tak kalah
mudanya dengan kami semua. Aku menjawab smsnya. Tak sampai satu jam
kemudian, kami sudah memasuki kota Bandung. Bandung, kami datang�
Dugaanku tak salah. Pak Teha menyambut kami bertiga di depan
Terminal bis Leuwipanjang. Bandung kuyup senja itu. Tak lama kemudian Kang
Galih, yang sudah tiba di Bandung sejak pagi harinya, tiba bersama dengan
Mas Hendru. Perjalanan di bagian masa muda kami pun dimulai dan Bandung
kembali menjadi saksinya. Di sanalah kami akan merayakan hari raya Idul Adha
dan menghadiri acara Qurcil, sebuah kegiatan yang diadakan Komunitas Sekolah
Kehidupan, dengan membantu menyalurkan kurban tahun ini pada masyarakat di
daerah minus di Bandung.
Hari sudah gelap dan kami segera menuju sebuah rumah makan untuk
makan malam. Kang Hadian, ketua pelaksana Qurcil, tiba di rumah makan itu
tak lama kemudian. Canda tawa mewarnai pertemuan kami itu dengan meriah.
Sayur asem, ikan gurame goreng, tempe bacem serta jus alpukat dan lemon tea
hangat langsung tandas diserbu oleh anak-anak muda yang bersemangat.
Tiba-tiba sebuah sms dari Mbak Retno masuk ke ponsel kami masing-masing. Mas
Margo tidak dapat mewakili SK untuk Qurcil di Tangerang. Tak urung kami
semua terkejut. Kang Dani yang berhalangan hadir saat itu, membuat kami
semua harus memeras otak dan menghubungi siapa saja yang bisa menggantikan
Mas Margo. Kami semua langsung menekan tombol ponsel kami masing-masing.
Menghubungi sahabat-sahabat SK yang dapat dihubungi. Mas Nursalam, Kang
Dani, Mas Yayan, Mas Fiyan, Mbak Divin, Mas Widhiatma, Pak Yudhi, Mbak
Retno, Mas Catur, nama-nama sahabat-sahabat SK yang terekam di ponsel kami
mendapat telepon atau sms dari kami.
"Wah gimana nih? Tidak ada yang bisa datang mewakili SK di
Jakarta. Siapa lagi yang bisa dihubungi?" Kang Hadian yang biasanya gemar
bercanda, saat itu mendadak menjadi serius.
"Coba aja hubungi Achi," tiba-tiba usulan Mbak Novi mengubah
segalanya. Walau pada mulanya kami tidak begitu yakin Achi dapat datang ke
Mauk, Tangerang, yang merupakan lokasi kurban Qurcil yang dipilih oleh Riska
Masjid Sunda Kelapa, masjid dimana SK bekerjasama untuk menyalurkan kurban
di Jakarta. Achi punya bayi. Mungkin suaminya tidak mengizinkan ia
pergi�Mungkin Achi mau berlebaran dengan keluarganya� Mungkin ia sudah punya
acara lain� Mungkin�
Aku memandang wajah-wajah yang mengelilingi meja makan. Ikan
gurame goreng yang sudah habis dikeroyok oleh aku, Mbak Novi, Kang Galih,
dan Pak Teha, sayur asem yang tandas di hadapan Kang Hadian, daging gepuk
yang dilahap Mbak Yana, dan tempe mendoan yang dihabiskan Mas Hendru. Aku
yakin pasti ada jalan keluar. Allah pasti berbaik hati pada jiwa-jiwa muda
yang sedang makan sambil bercanda dan berfoto-foto ini, pikirku dalam hati.
Setelah makan malam yang nikmat selesai, kami semua menuju rumah
Kang Hadian. Kediaman beliau yang terletak di atas bukit, membuat kami dapat
melihat pemandangan kota Bandung yang menakjubkan dari halaman rumah.
Keindahan Bandung dan canda tawa membuat kami sejenak melupakan masalah
perwakilan untuk Qurcil Jakarta. Kami semua duduk di ruang tamu Kang Hadian
sambil menikmati cemilan yang lezat. Aku melirik jam dinding. Pukul 9 malam.
*The night is still young�*
"Ayo kalian mandi dulu! Setelah itu kita pergi makan jagung
bakar. Ayo, siapa yang pengen makan jagung bakar?" tanya Pak Teha. Makan?
Tentu saja tawaran itu disambut hangat oleh kami semua. Dan malam semakin
kehilangan usianya ketika Achi menghubungi kami dan mengatakan suaminya, Mas
Gopo, dapat datang ke Tangerang untuk mewakili SK. Doaku terjawab sudah.
Setelah kami mandi dan membereskan barang-barang kami, malam itu
juga, kami semua berangkat ke Lembang. Mobil yang dikemudikan oleh Kang
Hadian dan Pak Teha meluncur membelah udara dingin yang menyelimuti Bandung
belahan utara. Sambil menikmati bajigur susu, pisang keju hangat, dan
indomie keju, kami berbagi keceriaan dan semangat muda kami. Malam yang
kemudian menjadi bagian dari hidup kami. Malam yang telah menorehkan sebuah
prasasti yang tak kelihatan, bahwa kami pernah ada di sana. Sebuah graffiti
bertuliskan "SK was here" di balik meja dan dinding kayu kedai makanan itu.
Di sana. Di Lembang yang dinginnya seperti balok es yang dimasukkan ke dalam
bak kamar mandi.
Kami menghabiskan penghujung malam yang menyenangkan itu dengan
perut kenyang dan kamera digital yang telah merekam berpuluh keceriaan di
dalam *memory card-*nya. Pukul 2 dini hari. Hari telah berganti dan takbir
bergema memantulkan kebesaran Allah di langit-langit kota sepanjang malam.
Kami semua kembali ke rumah Kang Hadian, tempat kami menginap, dan Pak Teha
kembali ke rumahnya. Di kamar, Mbak Novi yang begitu rajin masih bekerja
dengan lap topnya hingga pukul 3 dini hari sementara Mbak Yana dan aku telah
berselimutkan mimpi di sebelahnya. Akankah kami kelelahan karena kurang
tidur? *It really doesn't matter if we don't sleep*. *Cause we are so young*�
Aku tersenyum dalam tidurku mengingat sebuah lagu lawas yang dinyanyikan The
Corrs itu.
******
Hari yang dinanti pun tiba. Kami berenam; Kang Hadian, Mbak
Novi, Mbak Yana, Kang Galih, Mas Hendru, dan aku berangkat menuju kawasan
Sindanglaya, Cicaheum untuk menyaksikan acara pemotongan hewan kurban. Di
sepanjang jalan, banyak orang tumpah ruah memeluk sajadah. Shalat Ied telah
usai dan mentari telah tersenyum hangat pada Bandung. Sebuah episode di masa
muda kami kembali dimulai.
Sindanglaya, sebuah desa yang asri yang berada di atas bukit,
lengkap dengan kelokan-kelokan dan tanjakan-tanjakannya. Kami tiba di sana
dengan penuh semangat. Tawa dan canda membalut pagi itu. Kebersamaan yang
mengikat kami semua sehingga apa yang kami alami pagi itu, takkan pernah
dapat dirasakan oleh orang lain. Kami berenam, menyimpan semuanya baik-baik
di balik spanduk-spanduk yang berderet sepanjang jalan, di balik riuhnya
suara domba yang berkerumun di kandang, dan dibalik senyum pak Mukhlis yang
menyambut kami dengan ramah di halaman rumahnya yang telah dipenuhi orang.
Penyembelihan kurban pun dimulai. Satu persatu domba tersebut disembelih.
Domba-domba atas nama mereka yang telah memercayakan kurbannya tahun ini
pada SK. Di tengah kepulan asap dari tungku kayu bakar tempat para ibu
memasak, takbir yang dikumandangkan oleh para penyembelih kurban, dan
jepretan kamera yang tidak mau ketinggalan momen-momen itu, kami berdiri
menatap masa. Lembaran sejarah masa muda kami yang merayakan hari raya
kurban di tengah saudara-saudara kami di pedalaman Bandung.
Pak Teha, Mbak Shinta, dan Mbak Ela tiba di lokasi tak lama
kemudian. Setelah semua domba selesai disembelih, Pak Mukhlis mempersilakan
kami semua makan hidangan yang telah tersedia. Nasi hangat beserta lalap
daun singkong dan sayur kari, memeriahkan cinta yang berpendar di setiap
bungkus daging kurban yang dibagikan pada warga setempat. Walau susu, roti,
dan cemilan yang kami santap sebelum berangkat ke Sindanglaya masih memenuhi
perut kami, makan bersama di pagi hari itu rasanya begitu nikmat.
Setelah makan, kami berpamitan dan menuju rumah mertua Kang
Hadian di belahan Bandung yang lain. Matahari tepat di atas kepala saat kami
tiba di sana. Seusai shalat dzuhur, kami kembali ditawari makan oleh empunya
rumah.
"Ayo makan! Makanannya sudah disiapkan! Ayo, silakan!" ujar ipar
Kang Hadian ramah. Kami semua terenyum malu-malu.
"Sudah, ayo makan! Nanti kan mau pulang ke Jakarta, jadi makan
dulu ya!" timpal ibu mertua Kang Hadian. Kami semua saling bertatapan.
Berusaha menolak secara halus dengan berbagai cara.
Aku menatap Kang Hadian. Ia juga meminta kami semua makan untuk
ketiga kalinya. Ketika Kang Hadian melihatku tidak menjawab, ia mengeluarkan
jurus pamungkasnya dan ternyata berhasil.
"Mbak Lia, ada ikan bilih lho!" kata Kang Hadian sambil
menatapku. Ikan bilih? Aku pun luluh. Aku memang sangat menyukai ikan bilih.
Ikan yang hanya hidup di Danau Maninjau dan Danau Singkarak. Tanpa berkata
lagi, aku langsung bangkit dan mengajak semua teman-temanku untuk makan. Dan
makan siang itu sungguh nikmat. Menu ikan bilih beserta telur dadar goreng,
sayur tahu, cah sawi hijau dan kerupuk yang lezat membuat kami semua
menghabiskan makanan di atas piring kami dengan tandas. Indahnya masa muda.
Makan apapun terasa nikmat asalkan makan bersama-sama.
Setelah makan, kami kembali ke rumah Kang Hadian untuk berkemas-kemas. Tawa
dan canda kembali memenuhi ruang tamu Kang Hadian siang itu. Di sela-sela
keceriaan itu, Kang Hadian tiba-tiba teringat bahwa ia masih punya es krim!
Mendengar kata es krim, kami jadi bergairah. Mbak Novi, Mbak
Shinta, Mbak Ela, Mbak Yana langsung beranjak ke dapur mengambil gelas dan
sendok. Sendok demi sendok es krim Wall's rasa cokelat, vanilla, dan
stroberi itu pindah ke perut kami masing-masing. Kecuali Mas Hendru yang
tidak mau makan es krim, Kang Galih dan Mbak Novi menghabiskan sisa es krim
yang ada. Aku juga sebenarnya sangat menyukai es krim. Tetapi aku tahu aku
tidak boleh terlalu banyak makan es krim kalau tidak mau radang tenggorokan
dan alergi pilek kumat. Aku berhasil menahan diri untuk tidak makan es krim
banyak-banyak.
Tak terasa waktu sudah menujukkan pukul 3.30 siang. Mbak Shinta,
Pak Teha, dan Mbak Ela berpamitan pulang. Lalu kami mengambil tas kami
masing-masing dan Kang Hadian mengantar kami menuju terminal bis
Leuwipanjang. Ah, lembar indah pada hari itu akan segera berakhir. Rasanya
masih ingin melepas rindu dengan Bandung dan belum mau kembali ke Jakarta.
Dan harapanku terwujud. Di tengah jalan, Kang Hadian mengajak kami makan es
cendol Elizabeth dan batagor goreng. Mbak Novi dan Mbak Yana yang
kekenyangan tidak mampu lagi menghabiskan segelas besar es cendol yang
manis dan enak itu. Walau kami semua sangat mengantuk, kami bertekad untuk
tidak tidur hingga kami naik bis nanti.
Setelah membeli buah tangan sebagai oleh-oleh, kami diantar Kang
Hadian ke terminal bis Leuwipanjang. Kami menaiki bis jurusan yang berbeda
sesuai dengan daerah rumah kami. Makanan di Bandung yang tak terlupakan.
Hari yang tak terlupakan. Kisah yang tak terlupakan. Cinta yang tak
terlupakan. Sambil menatap keluar jendela bis yang membawa Mbak Novi dan aku
keluar dari terminal Leuwipanjang, sekilas aku melihat gunung yang berdiri
di kejauhan. Dan aku bersumpah melihat gunung itu tersenyum melepas
kepergian kami kembali ke Jakarta dengan penuh cinta.
Sehingga seluruh kebahagiaan ini membuat diri kami senantiasa muda. Semuda
jiwa kami walau sisa umur kami tiap hari kian berkurang. Bahwa cinta ini
selamanya muda. *Forever young at heart and soul�Qurcil was here�*
* *
* *
Jakarta, 9 Desember 2008 at 10.30 p.m.
Dipersembahkan untuk keluarga besar SK terutama yang menghadiri acara Qurcil
di Bandung; Kang Hadian, Pak Teha, Mbak Novi, Mbak Yana, Kang Galih, Mas
Hendru, Mbak Shinta, Mbak Ela.
We were there...
http://mutiaracinta.multiply. com
*****
- 3b.
-
Re: [Kelana] Forever Young; Qurcil Was here
Posted by: "novi_ningsih" novi_ningsih@yahoo.com novi_ningsih
Tue Dec 9, 2008 8:10 am (PST)
Selalu indah kalau yang menyampaikannya mbak lia :)
Seolah kekonyolan kami di hari itu tak begitu jelas terlihat, hehe...
:) Jadi pengen bikin tulisan yang sama versi aku, hehe
Btw, aku lagi proses upload foto, nih untuk di milis...
Baca tulisan ini bikin terkenang lagi, ya mbak
apalagi, pas pulang dan kita menikmati lelap di bus menuju Jakarta
bersama sms-sms sahabat eska, hehe
- In sekolah-kehidupan@yahoogroups. , "Lia Octavia" <liaoctavia@com ...>
wrote:
>
> *Forever Young; Qurcil Was Here*
>
> * *
>
> *(Sebuah Catatan Perjalanan)*
>
>
>
> Oleh Lia Octavia
>
>
>
>
>
> Gunung-gunung yang berbaris di sepanjang tol Cipularang itu
> masih berselimut kabut diiringi rintik hujan yang menerpa jendela
bis yang
> berjalan hati-hati membelah lalu lintas sore itu. Bandung. Kota
berselimut
> cinta yang selalu kurindukan dengan senjanya yang hening memerah dan
> hujannya yang senantiasa merintiki hatiku. Kota yang selalu
> memanggil-manggilku untuk kembali memeluk sunyi. Kota dimana cinta telah
> melegenda di sudut ruang hatiku dan kesadaranku. Kota yang
memerah-hitamkan
> cinta di dalam kehidupan masa mudaku. Masa muda yang bahagia. Masa
muda yang
> ceria. Masa muda yang bersimbah cahaya.
>
>
>
> Aku menoleh ke bangku belakang. Mbak Novi dan Mbak Yana
duduk
> dengan manis menikmati pemandangan indah di luar jendela. Aku
menatap layar
> ponselku yang berkedip-kedip. Sms dari Pak Teha. Beliau menanyakan
sampai di
> mana posisi kami karena ia yang akan menjemput kami di Terminal
> Leuwipanjang. Pak Teha yang baik dan sangat kuhormati. Beliau adalah
salah
> seorang sesepuh di Komunitas Sekolah Kehidupan dan termasuk salah satu
> anggota yang tertua usianya di antara kami. Namun semangat beliau,
tak kalah
> mudanya dengan kami semua. Aku menjawab smsnya. Tak sampai satu jam
> kemudian, kami sudah memasuki kota Bandung. Bandung, kami datang
>
>
>
> Dugaanku tak salah. Pak Teha menyambut kami bertiga di depan
> Terminal bis Leuwipanjang. Bandung kuyup senja itu. Tak lama
kemudian Kang
> Galih, yang sudah tiba di Bandung sejak pagi harinya, tiba bersama
dengan
> Mas Hendru. Perjalanan di bagian masa muda kami pun dimulai dan Bandung
> kembali menjadi saksinya. Di sanalah kami akan merayakan hari raya
Idul Adha
> dan menghadiri acara Qurcil, sebuah kegiatan yang diadakan Komunitas
Sekolah
> Kehidupan, dengan membantu menyalurkan kurban tahun ini pada
masyarakat di
> daerah minus di Bandung.
>
>
>
> Hari sudah gelap dan kami segera menuju sebuah rumah
makan untuk
> makan malam. Kang Hadian, ketua pelaksana Qurcil, tiba di rumah
makan itu
> tak lama kemudian. Canda tawa mewarnai pertemuan kami itu dengan meriah.
> Sayur asem, ikan gurame goreng, tempe bacem serta jus alpukat dan
lemon tea
> hangat langsung tandas diserbu oleh anak-anak muda yang bersemangat.
> Tiba-tiba sebuah sms dari Mbak Retno masuk ke ponsel kami
masing-masing. Mas
> Margo tidak dapat mewakili SK untuk Qurcil di Tangerang. Tak urung kami
> semua terkejut. Kang Dani yang berhalangan hadir saat itu, membuat kami
> semua harus memeras otak dan menghubungi siapa saja yang bisa
menggantikan
> Mas Margo. Kami semua langsung menekan tombol ponsel kami masing-masing.
> Menghubungi sahabat-sahabat SK yang dapat dihubungi. Mas Nursalam, Kang
> Dani, Mas Yayan, Mas Fiyan, Mbak Divin, Mas Widhiatma, Pak Yudhi, Mbak
> Retno, Mas Catur, nama-nama sahabat-sahabat SK yang terekam di
ponsel kami
> mendapat telepon atau sms dari kami.
>
>
>
> "Wah gimana nih? Tidak ada yang bisa datang mewakili SK di
> Jakarta. Siapa lagi yang bisa dihubungi?" Kang Hadian yang biasanya
gemar
> bercanda, saat itu mendadak menjadi serius.
>
>
>
> "Coba aja hubungi Achi," tiba-tiba usulan Mbak Novi mengubah
> segalanya. Walau pada mulanya kami tidak begitu yakin Achi dapat
datang ke
> Mauk, Tangerang, yang merupakan lokasi kurban Qurcil yang dipilih
oleh Riska
> Masjid Sunda Kelapa, masjid dimana SK bekerjasama untuk menyalurkan
kurban
> di Jakarta. Achi punya bayi. Mungkin suaminya tidak mengizinkan ia
> pergi Mungkin Achi mau berlebaran dengan keluarganya Mungkin ia
sudah punya
> acara lain Mungkin
>
>
>
> Aku memandang wajah-wajah yang mengelilingi meja makan.
Ikan
> gurame goreng yang sudah habis dikeroyok oleh aku, Mbak Novi, Kang
Galih,
> dan Pak Teha, sayur asem yang tandas di hadapan Kang Hadian, daging
gepuk
> yang dilahap Mbak Yana, dan tempe mendoan yang dihabiskan Mas
Hendru. Aku
> yakin pasti ada jalan keluar. Allah pasti berbaik hati pada
jiwa-jiwa muda
> yang sedang makan sambil bercanda dan berfoto-foto ini, pikirku
dalam hati.
>
>
>
> Setelah makan malam yang nikmat selesai, kami semua
menuju rumah
> Kang Hadian. Kediaman beliau yang terletak di atas bukit, membuat
kami dapat
> melihat pemandangan kota Bandung yang menakjubkan dari halaman rumah.
> Keindahan Bandung dan canda tawa membuat kami sejenak melupakan masalah
> perwakilan untuk Qurcil Jakarta. Kami semua duduk di ruang tamu Kang
Hadian
> sambil menikmati cemilan yang lezat. Aku melirik jam dinding. Pukul
9 malam.
> *The night is still young *
>
>
>
> "Ayo kalian mandi dulu! Setelah itu kita pergi makan jagung
> bakar. Ayo, siapa yang pengen makan jagung bakar?" tanya Pak Teha.
Makan?
> Tentu saja tawaran itu disambut hangat oleh kami semua. Dan malam
semakin
> kehilangan usianya ketika Achi menghubungi kami dan mengatakan
suaminya, Mas
> Gopo, dapat datang ke Tangerang untuk mewakili SK. Doaku terjawab sudah.
>
>
>
> Setelah kami mandi dan membereskan barang-barang kami,
malam itu
> juga, kami semua berangkat ke Lembang. Mobil yang dikemudikan oleh Kang
> Hadian dan Pak Teha meluncur membelah udara dingin yang menyelimuti
Bandung
> belahan utara. Sambil menikmati bajigur susu, pisang keju hangat, dan
> indomie keju, kami berbagi keceriaan dan semangat muda kami. Malam yang
> kemudian menjadi bagian dari hidup kami. Malam yang telah menorehkan
sebuah
> prasasti yang tak kelihatan, bahwa kami pernah ada di sana. Sebuah
graffiti
> bertuliskan "SK was here" di balik meja dan dinding kayu kedai
makanan itu.
> Di sana. Di Lembang yang dinginnya seperti balok es yang dimasukkan
ke dalam
> bak kamar mandi.
>
>
>
> Kami menghabiskan penghujung malam yang menyenangkan
itu dengan
> perut kenyang dan kamera digital yang telah merekam berpuluh
keceriaan di
> dalam *memory card-*nya. Pukul 2 dini hari. Hari telah berganti dan
takbir
> bergema memantulkan kebesaran Allah di langit-langit kota sepanjang
malam.
> Kami semua kembali ke rumah Kang Hadian, tempat kami menginap, dan
Pak Teha
> kembali ke rumahnya. Di kamar, Mbak Novi yang begitu rajin masih bekerja
> dengan lap topnya hingga pukul 3 dini hari sementara Mbak Yana dan
aku telah
> berselimutkan mimpi di sebelahnya. Akankah kami kelelahan karena kurang
> tidur? *It really doesn't matter if we don't sleep*. *Cause we are
so young*
> Aku tersenyum dalam tidurku mengingat sebuah lagu lawas yang
dinyanyikan The
> Corrs itu.
>
>
>
> ******
>
> Hari yang dinanti pun tiba. Kami berenam; Kang Hadian, Mbak
> Novi, Mbak Yana, Kang Galih, Mas Hendru, dan aku berangkat menuju
kawasan
> Sindanglaya, Cicaheum untuk menyaksikan acara pemotongan hewan
kurban. Di
> sepanjang jalan, banyak orang tumpah ruah memeluk sajadah. Shalat
Ied telah
> usai dan mentari telah tersenyum hangat pada Bandung. Sebuah episode
di masa
> muda kami kembali dimulai.
>
>
>
> Sindanglaya, sebuah desa yang asri yang berada di atas
bukit,
> lengkap dengan kelokan-kelokan dan tanjakan-tanjakannya. Kami tiba
di sana
> dengan penuh semangat. Tawa dan canda membalut pagi itu. Kebersamaan
yang
> mengikat kami semua sehingga apa yang kami alami pagi itu, takkan pernah
> dapat dirasakan oleh orang lain. Kami berenam, menyimpan semuanya
baik-baik
> di balik spanduk-spanduk yang berderet sepanjang jalan, di balik riuhnya
> suara domba yang berkerumun di kandang, dan dibalik senyum pak
Mukhlis yang
> menyambut kami dengan ramah di halaman rumahnya yang telah dipenuhi
orang.
> Penyembelihan kurban pun dimulai. Satu persatu domba tersebut
disembelih.
> Domba-domba atas nama mereka yang telah memercayakan kurbannya tahun ini
> pada SK. Di tengah kepulan asap dari tungku kayu bakar tempat para ibu
> memasak, takbir yang dikumandangkan oleh para penyembelih kurban, dan
> jepretan kamera yang tidak mau ketinggalan momen-momen itu, kami berdiri
> menatap masa. Lembaran sejarah masa muda kami yang merayakan hari raya
> kurban di tengah saudara-saudara kami di pedalaman Bandung.
>
>
>
> Pak Teha, Mbak Shinta, dan Mbak Ela tiba di lokasi tak lama
> kemudian. Setelah semua domba selesai disembelih, Pak Mukhlis
mempersilakan
> kami semua makan hidangan yang telah tersedia. Nasi hangat beserta lalap
> daun singkong dan sayur kari, memeriahkan cinta yang berpendar di setiap
> bungkus daging kurban yang dibagikan pada warga setempat. Walau
susu, roti,
> dan cemilan yang kami santap sebelum berangkat ke Sindanglaya masih
memenuhi
> perut kami, makan bersama di pagi hari itu rasanya begitu nikmat.
>
>
>
> Setelah makan, kami berpamitan dan menuju rumah mertua Kang
> Hadian di belahan Bandung yang lain. Matahari tepat di atas kepala
saat kami
> tiba di sana. Seusai shalat dzuhur, kami kembali ditawari makan oleh
empunya
> rumah.
>
>
>
> "Ayo makan! Makanannya sudah disiapkan! Ayo, silakan!"
ujar ipar
> Kang Hadian ramah. Kami semua terenyum malu-malu.
>
>
>
> "Sudah, ayo makan! Nanti kan mau pulang ke Jakarta, jadi
makan
> dulu ya!" timpal ibu mertua Kang Hadian. Kami semua saling bertatapan.
> Berusaha menolak secara halus dengan berbagai cara.
>
>
>
> Aku menatap Kang Hadian. Ia juga meminta kami semua
makan untuk
> ketiga kalinya. Ketika Kang Hadian melihatku tidak menjawab, ia
mengeluarkan
> jurus pamungkasnya dan ternyata berhasil.
>
>
>
> "Mbak Lia, ada ikan bilih lho!" kata Kang Hadian sambil
> menatapku. Ikan bilih? Aku pun luluh. Aku memang sangat menyukai
ikan bilih.
> Ikan yang hanya hidup di Danau Maninjau dan Danau Singkarak. Tanpa
berkata
> lagi, aku langsung bangkit dan mengajak semua teman-temanku untuk
makan. Dan
> makan siang itu sungguh nikmat. Menu ikan bilih beserta telur dadar
goreng,
> sayur tahu, cah sawi hijau dan kerupuk yang lezat membuat kami semua
> menghabiskan makanan di atas piring kami dengan tandas. Indahnya
masa muda.
> Makan apapun terasa nikmat asalkan makan bersama-sama.
>
>
>
> Setelah makan, kami kembali ke rumah Kang Hadian untuk
berkemas-kemas. Tawa
> dan canda kembali memenuhi ruang tamu Kang Hadian siang itu. Di
sela-sela
> keceriaan itu, Kang Hadian tiba-tiba teringat bahwa ia masih punya
es krim!
>
>
>
> Mendengar kata es krim, kami jadi bergairah. Mbak Novi, Mbak
> Shinta, Mbak Ela, Mbak Yana langsung beranjak ke dapur mengambil
gelas dan
> sendok. Sendok demi sendok es krim Wall's rasa cokelat, vanilla, dan
> stroberi itu pindah ke perut kami masing-masing. Kecuali Mas Hendru
yang
> tidak mau makan es krim, Kang Galih dan Mbak Novi menghabiskan sisa
es krim
> yang ada. Aku juga sebenarnya sangat menyukai es krim. Tetapi aku
tahu aku
> tidak boleh terlalu banyak makan es krim kalau tidak mau radang
tenggorokan
> dan alergi pilek kumat. Aku berhasil menahan diri untuk tidak makan
es krim
> banyak-banyak.
>
>
>
> Tak terasa waktu sudah menujukkan pukul 3.30 siang. Mbak
Shinta,
> Pak Teha, dan Mbak Ela berpamitan pulang. Lalu kami mengambil tas kami
> masing-masing dan Kang Hadian mengantar kami menuju terminal bis
> Leuwipanjang. Ah, lembar indah pada hari itu akan segera berakhir.
Rasanya
> masih ingin melepas rindu dengan Bandung dan belum mau kembali ke
Jakarta.
> Dan harapanku terwujud. Di tengah jalan, Kang Hadian mengajak kami
makan es
> cendol Elizabeth dan batagor goreng. Mbak Novi dan Mbak Yana yang
> kekenyangan tidak mampu lagi menghabiskan segelas besar es cendol yang
> manis dan enak itu. Walau kami semua sangat mengantuk, kami bertekad
untuk
> tidak tidur hingga kami naik bis nanti.
>
>
>
> Setelah membeli buah tangan sebagai oleh-oleh, kami
diantar Kang
> Hadian ke terminal bis Leuwipanjang. Kami menaiki bis jurusan yang
berbeda
> sesuai dengan daerah rumah kami. Makanan di Bandung yang tak terlupakan.
> Hari yang tak terlupakan. Kisah yang tak terlupakan. Cinta yang tak
> terlupakan. Sambil menatap keluar jendela bis yang membawa Mbak Novi
dan aku
> keluar dari terminal Leuwipanjang, sekilas aku melihat gunung yang
berdiri
> di kejauhan. Dan aku bersumpah melihat gunung itu tersenyum melepas
> kepergian kami kembali ke Jakarta dengan penuh cinta.
>
>
>
> Sehingga seluruh kebahagiaan ini membuat diri kami senantiasa muda.
Semuda
> jiwa kami walau sisa umur kami tiap hari kian berkurang. Bahwa cinta ini
> selamanya muda. *Forever young at heart and soul Qurcil was here *
>
> * *
>
> * *
>
> Jakarta, 9 Desember 2008 at 10.30 p.m.
>
> Dipersembahkan untuk keluarga besar SK terutama yang menghadiri
acara Qurcil
> di Bandung; Kang Hadian, Pak Teha, Mbak Novi, Mbak Yana, Kang Galih, Mas
> Hendru, Mbak Shinta, Mbak Ela.
> We were there...
>
> http://mutiaracinta.multiply. com
>
>
>
>
> *****
>
- 3c.
-
Re: [Kelana] Forever Young; Qurcil Was here
Posted by: "Nia Robie'" musimbunga@gmail.com
Tue Dec 9, 2008 3:05 pm (PST)
ngirimodeon...
*yanglagimenepi
2008/12/9 novi_ningsih <novi_ningsih@yahoo.com >
> Selalu indah kalau yang menyampaikannya mbak lia :)
> Seolah kekonyolan kami di hari itu tak begitu jelas terlihat, hehe...
> :) Jadi pengen bikin tulisan yang sama versi aku, hehe
>
> Btw, aku lagi proses upload foto, nih untuk di milis...
> Baca tulisan ini bikin terkenang lagi, ya mbak
> apalagi, pas pulang dan kita menikmati lelap di bus menuju Jakarta
> bersama sms-sms sahabat eska, hehe
>
> - In sekolah-kehidupan@yahoogroups. <sekolah-kehidupan%com 40yahoogroups. com>,
> "Lia Octavia" <liaoctavia@...>
> wrote:
> >
> > *Forever Young; Qurcil Was Here*
>
> >
> > * *
> >
> > *(Sebuah Catatan Perjalanan)*
> >
> >
> >
> > Oleh Lia Octavia
> >
> >
> >
> >
> >
> > Gunung-gunung yang berbaris di sepanjang tol Cipularang itu
> > masih berselimut kabut diiringi rintik hujan yang menerpa jendela
> bis yang
> > berjalan hati-hati membelah lalu lintas sore itu. Bandung. Kota
> berselimut
> > cinta yang selalu kurindukan dengan senjanya yang hening memerah dan
> > hujannya yang senantiasa merintiki hatiku. Kota yang selalu
> > memanggil-manggilku untuk kembali memeluk sunyi. Kota dimana cinta telah
> > melegenda di sudut ruang hatiku dan kesadaranku. Kota yang
> memerah-hitamkan
> > cinta di dalam kehidupan masa mudaku. Masa muda yang bahagia. Masa
> muda yang
> > ceria. Masa muda yang bersimbah cahaya.
> >
> >
> >
> > Aku menoleh ke bangku belakang. Mbak Novi dan Mbak Yana
> duduk
> > dengan manis menikmati pemandangan indah di luar jendela. Aku
> menatap layar
> > ponselku yang berkedip-kedip. Sms dari Pak Teha. Beliau menanyakan
> sampai di
> > mana posisi kami karena ia yang akan menjemput kami di Terminal
> > Leuwipanjang. Pak Teha yang baik dan sangat kuhormati. Beliau adalah
> salah
> > seorang sesepuh di Komunitas Sekolah Kehidupan dan termasuk salah satu
> > anggota yang tertua usianya di antara kami. Namun semangat beliau,
> tak kalah
> > mudanya dengan kami semua. Aku menjawab smsnya. Tak sampai satu jam
> > kemudian, kami sudah memasuki kota Bandung. Bandung, kami datang�
> >
> >
> >
> > Dugaanku tak salah. Pak Teha menyambut kami bertiga di depan
> > Terminal bis Leuwipanjang. Bandung kuyup senja itu. Tak lama
> kemudian Kang
> > Galih, yang sudah tiba di Bandung sejak pagi harinya, tiba bersama
> dengan
> > Mas Hendru. Perjalanan di bagian masa muda kami pun dimulai dan Bandung
> > kembali menjadi saksinya. Di sanalah kami akan merayakan hari raya
> Idul Adha
> > dan menghadiri acara Qurcil, sebuah kegiatan yang diadakan Komunitas
> Sekolah
> > Kehidupan, dengan membantu menyalurkan kurban tahun ini pada
> masyarakat di
> > daerah minus di Bandung.
> >
> >
> >
> > Hari sudah gelap dan kami segera menuju sebuah rumah
> makan untuk
> > makan malam. Kang Hadian, ketua pelaksana Qurcil, tiba di rumah
> makan itu
> > tak lama kemudian. Canda tawa mewarnai pertemuan kami itu dengan meriah.
> > Sayur asem, ikan gurame goreng, tempe bacem serta jus alpukat dan
> lemon tea
> > hangat langsung tandas diserbu oleh anak-anak muda yang bersemangat.
> > Tiba-tiba sebuah sms dari Mbak Retno masuk ke ponsel kami
> masing-masing. Mas
> > Margo tidak dapat mewakili SK untuk Qurcil di Tangerang. Tak urung kami
> > semua terkejut. Kang Dani yang berhalangan hadir saat itu, membuat kami
> > semua harus memeras otak dan menghubungi siapa saja yang bisa
> menggantikan
> > Mas Margo. Kami semua langsung menekan tombol ponsel kami masing-masing.
> > Menghubungi sahabat-sahabat SK yang dapat dihubungi. Mas Nursalam, Kang
> > Dani, Mas Yayan, Mas Fiyan, Mbak Divin, Mas Widhiatma, Pak Yudhi, Mbak
> > Retno, Mas Catur, nama-nama sahabat-sahabat SK yang terekam di
> ponsel kami
> > mendapat telepon atau sms dari kami.
> >
> >
> >
> > "Wah gimana nih? Tidak ada yang bisa datang mewakili SK di
> > Jakarta. Siapa lagi yang bisa dihubungi?" Kang Hadian yang biasanya
> gemar
> > bercanda, saat itu mendadak menjadi serius.
> >
> >
> >
> > "Coba aja hubungi Achi," tiba-tiba usulan Mbak Novi mengubah
> > segalanya. Walau pada mulanya kami tidak begitu yakin Achi dapat
> datang ke
> > Mauk, Tangerang, yang merupakan lokasi kurban Qurcil yang dipilih
> oleh Riska
> > Masjid Sunda Kelapa, masjid dimana SK bekerjasama untuk menyalurkan
> kurban
> > di Jakarta. Achi punya bayi. Mungkin suaminya tidak mengizinkan ia
> > pergi�Mungkin Achi mau berlebaran dengan keluarganya� Mungkin ia
> sudah punya
> > acara lain� Mungkin�
> >
> >
> >
> > Aku memandang wajah-wajah yang mengelilingi meja makan.
> Ikan
> > gurame goreng yang sudah habis dikeroyok oleh aku, Mbak Novi, Kang
> Galih,
> > dan Pak Teha, sayur asem yang tandas di hadapan Kang Hadian, daging
> gepuk
> > yang dilahap Mbak Yana, dan tempe mendoan yang dihabiskan Mas
> Hendru. Aku
> > yakin pasti ada jalan keluar. Allah pasti berbaik hati pada
> jiwa-jiwa muda
> > yang sedang makan sambil bercanda dan berfoto-foto ini, pikirku
> dalam hati.
> >
> >
> >
> > Setelah makan malam yang nikmat selesai, kami semua
> menuju rumah
> > Kang Hadian. Kediaman beliau yang terletak di atas bukit, membuat
> kami dapat
> > melihat pemandangan kota Bandung yang menakjubkan dari halaman rumah.
> > Keindahan Bandung dan canda tawa membuat kami sejenak melupakan masalah
> > perwakilan untuk Qurcil Jakarta. Kami semua duduk di ruang tamu Kang
> Hadian
> > sambil menikmati cemilan yang lezat. Aku melirik jam dinding. Pukul
> 9 malam.
> > *The night is still young�*
> >
> >
> >
> > "Ayo kalian mandi dulu! Setelah itu kita pergi makan jagung
> > bakar. Ayo, siapa yang pengen makan jagung bakar?" tanya Pak Teha.
> Makan?
> > Tentu saja tawaran itu disambut hangat oleh kami semua. Dan malam
> semakin
> > kehilangan usianya ketika Achi menghubungi kami dan mengatakan
> suaminya, Mas
> > Gopo, dapat datang ke Tangerang untuk mewakili SK. Doaku terjawab sudah.
> >
> >
> >
> > Setelah kami mandi dan membereskan barang-barang kami,
> malam itu
> > juga, kami semua berangkat ke Lembang. Mobil yang dikemudikan oleh Kang
> > Hadian dan Pak Teha meluncur membelah udara dingin yang menyelimuti
> Bandung
> > belahan utara. Sambil menikmati bajigur susu, pisang keju hangat, dan
> > indomie keju, kami berbagi keceriaan dan semangat muda kami. Malam yang
> > kemudian menjadi bagian dari hidup kami. Malam yang telah menorehkan
> sebuah
> > prasasti yang tak kelihatan, bahwa kami pernah ada di sana. Sebuah
> graffiti
> > bertuliskan "SK was here" di balik meja dan dinding kayu kedai
> makanan itu.
> > Di sana. Di Lembang yang dinginnya seperti balok es yang dimasukkan
> ke dalam
> > bak kamar mandi.
> >
> >
> >
> > Kami menghabiskan penghujung malam yang menyenangkan
> itu dengan
> > perut kenyang dan kamera digital yang telah merekam berpuluh
> keceriaan di
> > dalam *memory card-*nya. Pukul 2 dini hari. Hari telah berganti dan
> takbir
> > bergema memantulkan kebesaran Allah di langit-langit kota sepanjang
> malam.
> > Kami semua kembali ke rumah Kang Hadian, tempat kami menginap, dan
> Pak Teha
> > kembali ke rumahnya. Di kamar, Mbak Novi yang begitu rajin masih bekerja
> > dengan lap topnya hingga pukul 3 dini hari sementara Mbak Yana dan
> aku telah
> > berselimutkan mimpi di sebelahnya. Akankah kami kelelahan karena kurang
> > tidur? *It really doesn't matter if we don't sleep*. *Cause we are
> so young*�
> > Aku tersenyum dalam tidurku mengingat sebuah lagu lawas yang
> dinyanyikan The
> > Corrs itu.
> >
> >
> >
> > ******
> >
> > Hari yang dinanti pun tiba. Kami berenam; Kang Hadian, Mbak
> > Novi, Mbak Yana, Kang Galih, Mas Hendru, dan aku berangkat menuju
> kawasan
> > Sindanglaya, Cicaheum untuk menyaksikan acara pemotongan hewan
> kurban. Di
> > sepanjang jalan, banyak orang tumpah ruah memeluk sajadah. Shalat
> Ied telah
> > usai dan mentari telah tersenyum hangat pada Bandung. Sebuah episode
> di masa
> > muda kami kembali dimulai.
> >
> >
> >
> > Sindanglaya, sebuah desa yang asri yang berada di atas
> bukit,
> > lengkap dengan kelokan-kelokan dan tanjakan-tanjakannya. Kami tiba
> di sana
> > dengan penuh semangat. Tawa dan canda membalut pagi itu. Kebersamaan
> yang
> > mengikat kami semua sehingga apa yang kami alami pagi itu, takkan pernah
> > dapat dirasakan oleh orang lain. Kami berenam, menyimpan semuanya
> baik-baik
> > di balik spanduk-spanduk yang berderet sepanjang jalan, di balik riuhnya
> > suara domba yang berkerumun di kandang, dan dibalik senyum pak
> Mukhlis yang
> > menyambut kami dengan ramah di halaman rumahnya yang telah dipenuhi
> orang.
> > Penyembelihan kurban pun dimulai. Satu persatu domba tersebut
> disembelih.
> > Domba-domba atas nama mereka yang telah memercayakan kurbannya tahun ini
> > pada SK. Di tengah kepulan asap dari tungku kayu bakar tempat para ibu
> > memasak, takbir yang dikumandangkan oleh para penyembelih kurban, dan
> > jepretan kamera yang tidak mau ketinggalan momen-momen itu, kami berdiri
> > menatap masa. Lembaran sejarah masa muda kami yang merayakan hari raya
> > kurban di tengah saudara-saudara kami di pedalaman Bandung.
> >
> >
> >
> > Pak Teha, Mbak Shinta, dan Mbak Ela tiba di lokasi tak lama
> > kemudian. Setelah semua domba selesai disembelih, Pak Mukhlis
> mempersilakan
> > kami semua makan hidangan yang telah tersedia. Nasi hangat beserta lalap
> > daun singkong dan sayur kari, memeriahkan cinta yang berpendar di setiap
> > bungkus daging kurban yang dibagikan pada warga setempat. Walau
> susu, roti,
> > dan cemilan yang kami santap sebelum berangkat ke Sindanglaya masih
> memenuhi
> > perut kami, makan bersama di pagi hari itu rasanya begitu nikmat.
> >
> >
> >
> > Setelah makan, kami berpamitan dan menuju rumah mertua Kang
> > Hadian di belahan Bandung yang lain. Matahari tepat di atas kepala
> saat kami
> > tiba di sana. Seusai shalat dzuhur, kami kembali ditawari makan oleh
> empunya
> > rumah.
> >
> >
> >
> > "Ayo makan! Makanannya sudah disiapkan! Ayo, silakan!"
> ujar ipar
> > Kang Hadian ramah. Kami semua terenyum malu-malu.
> >
> >
> >
> > "Sudah, ayo makan! Nanti kan mau pulang ke Jakarta, jadi
> makan
> > dulu ya!" timpal ibu mertua Kang Hadian. Kami semua saling bertatapan.
> > Berusaha menolak secara halus dengan berbagai cara.
> >
> >
> >
> > Aku menatap Kang Hadian. Ia juga meminta kami semua
> makan untuk
> > ketiga kalinya. Ketika Kang Hadian melihatku tidak menjawab, ia
> mengeluarkan
> > jurus pamungkasnya dan ternyata berhasil.
> >
> >
> >
> > "Mbak Lia, ada ikan bilih lho!" kata Kang Hadian sambil
> > menatapku. Ikan bilih? Aku pun luluh. Aku memang sangat menyukai
> ikan bilih.
> > Ikan yang hanya hidup di Danau Maninjau dan Danau Singkarak. Tanpa
> berkata
> > lagi, aku langsung bangkit dan mengajak semua teman-temanku untuk
> makan. Dan
> > makan siang itu sungguh nikmat. Menu ikan bilih beserta telur dadar
> goreng,
> > sayur tahu, cah sawi hijau dan kerupuk yang lezat membuat kami semua
> > menghabiskan makanan di atas piring kami dengan tandas. Indahnya
> masa muda.
> > Makan apapun terasa nikmat asalkan makan bersama-sama.
> >
> >
> >
> > Setelah makan, kami kembali ke rumah Kang Hadian untuk
> berkemas-kemas. Tawa
> > dan canda kembali memenuhi ruang tamu Kang Hadian siang itu. Di
> sela-sela
> > keceriaan itu, Kang Hadian tiba-tiba teringat bahwa ia masih punya
> es krim!
> >
> >
> >
> > Mendengar kata es krim, kami jadi bergairah. Mbak Novi, Mbak
> > Shinta, Mbak Ela, Mbak Yana langsung beranjak ke dapur mengambil
> gelas dan
> > sendok. Sendok demi sendok es krim Wall's rasa cokelat, vanilla, dan
> > stroberi itu pindah ke perut kami masing-masing. Kecuali Mas Hendru
> yang
> > tidak mau makan es krim, Kang Galih dan Mbak Novi menghabiskan sisa
> es krim
> > yang ada. Aku juga sebenarnya sangat menyukai es krim. Tetapi aku
> tahu aku
> > tidak boleh terlalu banyak makan es krim kalau tidak mau radang
> tenggorokan
> > dan alergi pilek kumat. Aku berhasil menahan diri untuk tidak makan
> es krim
> > banyak-banyak.
> >
> >
> >
> > Tak terasa waktu sudah menujukkan pukul 3.30 siang. Mbak
> Shinta,
> > Pak Teha, dan Mbak Ela berpamitan pulang. Lalu kami mengambil tas kami
> > masing-masing dan Kang Hadian mengantar kami menuju terminal bis
> > Leuwipanjang. Ah, lembar indah pada hari itu akan segera berakhir.
> Rasanya
> > masih ingin melepas rindu dengan Bandung dan belum mau kembali ke
> Jakarta.
> > Dan harapanku terwujud. Di tengah jalan, Kang Hadian mengajak kami
> makan es
> > cendol Elizabeth dan batagor goreng. Mbak Novi dan Mbak Yana yang
> > kekenyangan tidak mampu lagi menghabiskan segelas besar es cendol yang
> > manis dan enak itu. Walau kami semua sangat mengantuk, kami bertekad
> untuk
> > tidak tidur hingga kami naik bis nanti.
> >
> >
> >
> > Setelah membeli buah tangan sebagai oleh-oleh, kami
> diantar Kang
> > Hadian ke terminal bis Leuwipanjang. Kami menaiki bis jurusan yang
> berbeda
> > sesuai dengan daerah rumah kami. Makanan di Bandung yang tak terlupakan.
> > Hari yang tak terlupakan. Kisah yang tak terlupakan. Cinta yang tak
> > terlupakan. Sambil menatap keluar jendela bis yang membawa Mbak Novi
> dan aku
> > keluar dari terminal Leuwipanjang, sekilas aku melihat gunung yang
> berdiri
> > di kejauhan. Dan aku bersumpah melihat gunung itu tersenyum melepas
> > kepergian kami kembali ke Jakarta dengan penuh cinta.
> >
> >
> >
> > Sehingga seluruh kebahagiaan ini membuat diri kami senantiasa muda.
> Semuda
> > jiwa kami walau sisa umur kami tiap hari kian berkurang. Bahwa cinta ini
> > selamanya muda. *Forever young at heart and soul�Qurcil was here�*
> >
> > * *
> >
> > * *
> >
> > Jakarta, 9 Desember 2008 at 10.30 p.m.
> >
> > Dipersembahkan untuk keluarga besar SK terutama yang menghadiri
> acara Qurcil
> > di Bandung; Kang Hadian, Pak Teha, Mbak Novi, Mbak Yana, Kang Galih, Mas
> > Hendru, Mbak Shinta, Mbak Ela.
> > We were there...
> >
> > http://mutiaracinta.multiply. com
> >
> >
> >
> >
> > *****
> >
>
>
>
- 3d.
-
Cerita "pulang"
Posted by: "satya aditya" ukasah_aditya@yahoo.com ukasah_aditya
Tue Dec 9, 2008 5:05 pm (PST)
Sepertinya cerita ini harus terus berjalan...
meninggalkan semua cerita lalu dan melupakannya seperti butiraan-butiran padang pasir
Sepertinya cerita ini harus berlalu...
Meninggalkannya dan kembali �pulang�....
�
Belajar kembali pada cerita-cerita kecil
dan keheningan dan sisa penutup malam...
karena aku harus kembali "pulang"
�
�
Ukasah aditya
http://cerminhati.multiply. com
�
- 3e.
-
Re: [Kelana] Forever Young; Qurcil Was here
Posted by: "fil_ardy" fil_ardy@yahoo.com fil_ardy
Tue Dec 9, 2008 7:49 pm (PST)
Hiks.. Alhamdulillah..
acara berjalan lancar. Ini semua berkat
kontribusi dari semua sahabat SK.
rimakasih untuk semuanya. Sebenernya sedikit ngiri, sedih
karena kali ini saya ga bisa turut bersama sahabat
SK dalam acara tersebut. Detik2 terakhir menjelang
keberangkatan ke bandung, Bapak saya sakit, saya
harus pulang ke Bogor, sampe di Bogor ternyata ibu
saya juga sakit. Dan, di sana, Nibras juga ikutan
sakit.
Rupanya, kali ini saya memeng diharuskan berada
bersama keluarga saya:) tapi saya percaya, qurcil SK
kali ini begitu berarti bagi kita semua.
Terimakasih mbak Lia, untuk postingannya yang sukses
membuat saya laper :D
DANI
--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups. , "Lia Octavia"com
<liaoctavia@...> wrote:
>
> *Forever Young; Qurcil Was Here*
>
> * *
>
> *(Sebuah Catatan Perjalanan)*
>
>
>
> Oleh Lia Octavia
>
>
>
>
>
> Gunung-gunung yang berbaris di sepanjang tol Cipularang itu
> masih berselimut kabut diiringi rintik hujan yang menerpa jendela
bis yang
> berjalan hati-hati membelah lalu lintas sore itu. Bandung. Kota
berselimut
> cinta yang selalu kurindukan dengan senjanya yang hening memerah dan
> hujannya yang senantiasa merintiki hatiku. Kota yang selalu
> memanggil-manggilku untuk kembali memeluk sunyi. Kota dimana cinta telah
> melegenda di sudut ruang hatiku dan kesadaranku. Kota yang
memerah-hitamkan
> cinta di dalam kehidupan masa mudaku. Masa muda yang bahagia. Masa
muda yang
> ceria. Masa muda yang bersimbah cahaya.
>
- 3f.
-
Re: [Kelana] Forever Young; Qurcil Was here
Posted by: "Lia Octavia" liaoctavia@gmail.com octavialia
Tue Dec 9, 2008 9:05 pm (PST)
Ah Mbak Novi, dirimu mengenal baik diriku yang selalu memuisikan
segalanya... ^_^
Semua canda, tawa, dan kekonyolan itu merupakan ekspresi cinta yang membuat
setiap bibir menyunggingkan senyum saat mengingatnya... Takkan terlupakan
^_^
Ayo atuh Mbak Novi, ditunggu kelana-nya! aku juga jadi terkenang saat-saat
itu saat melihat foto-foto yang sudah mbak novi up load; tertidur pulas di
bis sepanjang perjalanan menuju jakarta ^_^
... makasih ya sist!
On 12/9/08, novi_ningsih <novi_ningsih@yahoo.com > wrote:
>
> Selalu indah kalau yang menyampaikannya mbak lia :)
> Seolah kekonyolan kami di hari itu tak begitu jelas terlihat, hehe...
> :) Jadi pengen bikin tulisan yang sama versi aku, hehe
>
> Btw, aku lagi proses upload foto, nih untuk di milis...
> Baca tulisan ini bikin terkenang lagi, ya mbak
> apalagi, pas pulang dan kita menikmati lelap di bus menuju Jakarta
> bersama sms-sms sahabat eska, hehe
>
> - In sekolah-kehidupan@yahoogroups. <sekolah-kehidupan%com 40yahoogroups. com>,
> "Lia Octavia" <liaoctavia@...>
> wrote:
> >
> > *Forever Young; Qurcil Was Here*
>
> >
> > * *
> >
> > *(Sebuah Catatan Perjalanan)*
> >
> >
> >
> > Oleh Lia Octavia
> >
> >
> >
> >
> >
> > Gunung-gunung yang berbaris di sepanjang tol Cipularang itu
> > masih berselimut kabut diiringi rintik hujan yang menerpa jendela
> bis yang
> > berjalan hati-hati membelah lalu lintas sore itu. Bandung. Kota
> berselimut
> > cinta yang selalu kurindukan dengan senjanya yang hening memerah dan
> > hujannya yang senantiasa merintiki hatiku. Kota yang selalu
> > memanggil-manggilku untuk kembali memeluk sunyi. Kota dimana cinta telah
> > melegenda di sudut ruang hatiku dan kesadaranku. Kota yang
> memerah-hitamkan
> > cinta di dalam kehidupan masa mudaku. Masa muda yang bahagia. Masa
> muda yang
> > ceria. Masa muda yang bersimbah cahaya.
> >
> >
> >
> > Aku menoleh ke bangku belakang. Mbak Novi dan Mbak Yana
> duduk
> > dengan manis menikmati pemandangan indah di luar jendela. Aku
> menatap layar
> > ponselku yang berkedip-kedip. Sms dari Pak Teha. Beliau menanyakan
> sampai di
> > mana posisi kami karena ia yang akan menjemput kami di Terminal
> > Leuwipanjang. Pak Teha yang baik dan sangat kuhormati. Beliau adalah
> salah
> > seorang sesepuh di Komunitas Sekolah Kehidupan dan termasuk salah satu
> > anggota yang tertua usianya di antara kami. Namun semangat beliau,
> tak kalah
> > mudanya dengan kami semua. Aku menjawab smsnya. Tak sampai satu jam
> > kemudian, kami sudah memasuki kota Bandung. Bandung, kami datang�
> >
> >
> >
> > Dugaanku tak salah. Pak Teha menyambut kami bertiga di depan
> > Terminal bis Leuwipanjang. Bandung kuyup senja itu. Tak lama
> kemudian Kang
> > Galih, yang sudah tiba di Bandung sejak pagi harinya, tiba bersama
> dengan
> > Mas Hendru. Perjalanan di bagian masa muda kami pun dimulai dan Bandung
> > kembali menjadi saksinya. Di sanalah kami akan merayakan hari raya
> Idul Adha
> > dan menghadiri acara Qurcil, sebuah kegiatan yang diadakan Komunitas
> Sekolah
> > Kehidupan, dengan membantu menyalurkan kurban tahun ini pada
> masyarakat di
> > daerah minus di Bandung.
> >
> >
> >
> > Hari sudah gelap dan kami segera menuju sebuah rumah
> makan untuk
> > makan malam. Kang Hadian, ketua pelaksana Qurcil, tiba di rumah
> makan itu
> > tak lama kemudian. Canda tawa mewarnai pertemuan kami itu dengan meriah.
> > Sayur asem, ikan gurame goreng, tempe bacem serta jus alpukat dan
> lemon tea
> > hangat langsung tandas diserbu oleh anak-anak muda yang bersemangat.
> > Tiba-tiba sebuah sms dari Mbak Retno masuk ke ponsel kami
> masing-masing. Mas
> > Margo tidak dapat mewakili SK untuk Qurcil di Tangerang. Tak urung kami
> > semua terkejut. Kang Dani yang berhalangan hadir saat itu, membuat kami
> > semua harus memeras otak dan menghubungi siapa saja yang bisa
> menggantikan
> > Mas Margo. Kami semua langsung menekan tombol ponsel kami masing-masing.
> > Menghubungi sahabat-sahabat SK yang dapat dihubungi. Mas Nursalam, Kang
> > Dani, Mas Yayan, Mas Fiyan, Mbak Divin, Mas Widhiatma, Pak Yudhi, Mbak
> > Retno, Mas Catur, nama-nama sahabat-sahabat SK yang terekam di
> ponsel kami
> > mendapat telepon atau sms dari kami.
> >
> >
> >
> > "Wah gimana nih? Tidak ada yang bisa datang mewakili SK di
> > Jakarta. Siapa lagi yang bisa dihubungi?" Kang Hadian yang biasanya
> gemar
> > bercanda, saat itu mendadak menjadi serius.
> >
> >
> >
> > "Coba aja hubungi Achi," tiba-tiba usulan Mbak Novi mengubah
> > segalanya. Walau pada mulanya kami tidak begitu yakin Achi dapat
> datang ke
> > Mauk, Tangerang, yang merupakan lokasi kurban Qurcil yang dipilih
> oleh Riska
> > Masjid Sunda Kelapa, masjid dimana SK bekerjasama untuk menyalurkan
> kurban
> > di Jakarta. Achi punya bayi. Mungkin suaminya tidak mengizinkan ia
> > pergi�Mungkin Achi mau berlebaran dengan keluarganya� Mungkin ia
> sudah punya
> > acara lain� Mungkin�
> >
> >
> >
> > Aku memandang wajah-wajah yang mengelilingi meja makan.
> Ikan
> > gurame goreng yang sudah habis dikeroyok oleh aku, Mbak Novi, Kang
> Galih,
> > dan Pak Teha, sayur asem yang tandas di hadapan Kang Hadian, daging
> gepuk
> > yang dilahap Mbak Yana, dan tempe mendoan yang dihabiskan Mas
> Hendru. Aku
> > yakin pasti ada jalan keluar. Allah pasti berbaik hati pada
> jiwa-jiwa muda
> > yang sedang makan sambil bercanda dan berfoto-foto ini, pikirku
> dalam hati.
> >
> >
> >
> > Setelah makan malam yang nikmat selesai, kami semua
> menuju rumah
> > Kang Hadian. Kediaman beliau yang terletak di atas bukit, membuat
> kami dapat
> > melihat pemandangan kota Bandung yang menakjubkan dari halaman rumah.
> > Keindahan Bandung dan canda tawa membuat kami sejenak melupakan masalah
> > perwakilan untuk Qurcil Jakarta. Kami semua duduk di ruang tamu Kang
> Hadian
> > sambil menikmati cemilan yang lezat. Aku melirik jam dinding. Pukul
> 9 malam.
> > *The night is still young�*
> >
> >
> >
> > "Ayo kalian mandi dulu! Setelah itu kita pergi makan jagung
> > bakar. Ayo, siapa yang pengen makan jagung bakar?" tanya Pak Teha.
> Makan?
> > Tentu saja tawaran itu disambut hangat oleh kami semua. Dan malam
> semakin
> > kehilangan usianya ketika Achi menghubungi kami dan mengatakan
> suaminya, Mas
> > Gopo, dapat datang ke Tangerang untuk mewakili SK. Doaku terjawab sudah.
> >
> >
> >
> > Setelah kami mandi dan membereskan barang-barang kami,
> malam itu
> > juga, kami semua berangkat ke Lembang. Mobil yang dikemudikan oleh Kang
> > Hadian dan Pak Teha meluncur membelah udara dingin yang menyelimuti
> Bandung
> > belahan utara. Sambil menikmati bajigur susu, pisang keju hangat, dan
> > indomie keju, kami berbagi keceriaan dan semangat muda kami. Malam yang
> > kemudian menjadi bagian dari hidup kami. Malam yang telah menorehkan
> sebuah
> > prasasti yang tak kelihatan, bahwa kami pernah ada di sana. Sebuah
> graffiti
> > bertuliskan "SK was here" di balik meja dan dinding kayu kedai
> makanan itu.
> > Di sana. Di Lembang yang dinginnya seperti balok es yang dimasukkan
> ke dalam
> > bak kamar mandi.
> >
> >
> >
> > Kami menghabiskan penghujung malam yang menyenangkan
> itu dengan
> > perut kenyang dan kamera digital yang telah merekam berpuluh
> keceriaan di
> > dalam *memory card-*nya. Pukul 2 dini hari. Hari telah berganti dan
> takbir
> > bergema memantulkan kebesaran Allah di langit-langit kota sepanjang
> malam.
> > Kami semua kembali ke rumah Kang Hadian, tempat kami menginap, dan
> Pak Teha
> > kembali ke rumahnya. Di kamar, Mbak Novi yang begitu rajin masih bekerja
> > dengan lap topnya hingga pukul 3 dini hari sementara Mbak Yana dan
> aku telah
> > berselimutkan mimpi di sebelahnya. Akankah kami kelelahan karena kurang
> > tidur? *It really doesn't matter if we don't sleep*. *Cause we are
> so young*�
> > Aku tersenyum dalam tidurku mengingat sebuah lagu lawas yang
> dinyanyikan The
> > Corrs itu.
> >
> >
> >
> > ******
> >
> > Hari yang dinanti pun tiba. Kami berenam; Kang Hadian, Mbak
> > Novi, Mbak Yana, Kang Galih, Mas Hendru, dan aku berangkat menuju
> kawasan
> > Sindanglaya, Cicaheum untuk menyaksikan acara pemotongan hewan
> kurban. Di
> > sepanjang jalan, banyak orang tumpah ruah memeluk sajadah. Shalat
> Ied telah
> > usai dan mentari telah tersenyum hangat pada Bandung. Sebuah episode
> di masa
> > muda kami kembali dimulai.
> >
> >
> >
> > Sindanglaya, sebuah desa yang asri yang berada di atas
> bukit,
> > lengkap dengan kelokan-kelokan dan tanjakan-tanjakannya. Kami tiba
> di sana
> > dengan penuh semangat. Tawa dan canda membalut pagi itu. Kebersamaan
> yang
> > mengikat kami semua sehingga apa yang kami alami pagi itu, takkan pernah
> > dapat dirasakan oleh orang lain. Kami berenam, menyimpan semuanya
> baik-baik
> > di balik spanduk-spanduk yang berderet sepanjang jalan, di balik riuhnya
> > suara domba yang berkerumun di kandang, dan dibalik senyum pak
> Mukhlis yang
> > menyambut kami dengan ramah di halaman rumahnya yang telah dipenuhi
> orang.
> > Penyembelihan kurban pun dimulai. Satu persatu domba tersebut
> disembelih.
> > Domba-domba atas nama mereka yang telah memercayakan kurbannya tahun ini
> > pada SK. Di tengah kepulan asap dari tungku kayu bakar tempat para ibu
> > memasak, takbir yang dikumandangkan oleh para penyembelih kurban, dan
> > jepretan kamera yang tidak mau ketinggalan momen-momen itu, kami berdiri
> > menatap masa. Lembaran sejarah masa muda kami yang merayakan hari raya
> > kurban di tengah saudara-saudara kami di pedalaman Bandung.
> >
> >
> >
> > Pak Teha, Mbak Shinta, dan Mbak Ela tiba di lokasi tak lama
> > kemudian. Setelah semua domba selesai disembelih, Pak Mukhlis
> mempersilakan
> > kami semua makan hidangan yang telah tersedia. Nasi hangat beserta lalap
> > daun singkong dan sayur kari, memeriahkan cinta yang berpendar di setiap
> > bungkus daging kurban yang dibagikan pada warga setempat. Walau
> susu, roti,
> > dan cemilan yang kami santap sebelum berangkat ke Sindanglaya masih
> memenuhi
> > perut kami, makan bersama di pagi hari itu rasanya begitu nikmat.
> >
> >
> >
> > Setelah makan, kami berpamitan dan menuju rumah mertua Kang
> > Hadian di belahan Bandung yang lain. Matahari tepat di atas kepala
> saat kami
> > tiba di sana. Seusai shalat dzuhur, kami kembali ditawari makan oleh
> empunya
> > rumah.
> >
> >
> >
> > "Ayo makan! Makanannya sudah disiapkan! Ayo, silakan!"
> ujar ipar
> > Kang Hadian ramah. Kami semua terenyum malu-malu.
> >
> >
> >
> > "Sudah, ayo makan! Nanti kan mau pulang ke Jakarta, jadi
> makan
> > dulu ya!" timpal ibu mertua Kang Hadian. Kami semua saling bertatapan.
> > Berusaha menolak secara halus dengan berbagai cara.
> >
> >
> >
> > Aku menatap Kang Hadian. Ia juga meminta kami semua
> makan untuk
> > ketiga kalinya. Ketika Kang Hadian melihatku tidak menjawab, ia
> mengeluarkan
> > jurus pamungkasnya dan ternyata berhasil.
> >
> >
> >
> > "Mbak Lia, ada ikan bilih lho!" kata Kang Hadian sambil
> > menatapku. Ikan bilih? Aku pun luluh. Aku memang sangat menyukai
> ikan bilih.
> > Ikan yang hanya hidup di Danau Maninjau dan Danau Singkarak. Tanpa
> berkata
> > lagi, aku langsung bangkit dan mengajak semua teman-temanku untuk
> makan. Dan
> > makan siang itu sungguh nikmat. Menu ikan bilih beserta telur dadar
> goreng,
> > sayur tahu, cah sawi hijau dan kerupuk yang lezat membuat kami semua
> > menghabiskan makanan di atas piring kami dengan tandas. Indahnya
> masa muda.
> > Makan apapun terasa nikmat asalkan makan bersama-sama.
> >
> >
> >
> > Setelah makan, kami kembali ke rumah Kang Hadian untuk
> berkemas-kemas. Tawa
> > dan canda kembali memenuhi ruang tamu Kang Hadian siang itu. Di
> sela-sela
> > keceriaan itu, Kang Hadian tiba-tiba teringat bahwa ia masih punya
> es krim!
> >
> >
> >
> > Mendengar kata es krim, kami jadi bergairah. Mbak Novi, Mbak
> > Shinta, Mbak Ela, Mbak Yana langsung beranjak ke dapur mengambil
> gelas dan
> > sendok. Sendok demi sendok es krim Wall's rasa cokelat, vanilla, dan
> > stroberi itu pindah ke perut kami masing-masing. Kecuali Mas Hendru
> yang
> > tidak mau makan es krim, Kang Galih dan Mbak Novi menghabiskan sisa
> es krim
> > yang ada. Aku juga sebenarnya sangat menyukai es krim. Tetapi aku
> tahu aku
> > tidak boleh terlalu banyak makan es krim kalau tidak mau radang
> tenggorokan
> > dan alergi pilek kumat. Aku berhasil menahan diri untuk tidak makan
> es krim
> > banyak-banyak.
> >
> >
> >
> > Tak terasa waktu sudah menujukkan pukul 3.30 siang. Mbak
> Shinta,
> > Pak Teha, dan Mbak Ela berpamitan pulang. Lalu kami mengambil tas kami
> > masing-masing dan Kang Hadian mengantar kami menuju terminal bis
> > Leuwipanjang. Ah, lembar indah pada hari itu akan segera berakhir.
> Rasanya
> > masih ingin melepas rindu dengan Bandung dan belum mau kembali ke
> Jakarta.
> > Dan harapanku terwujud. Di tengah jalan, Kang Hadian mengajak kami
> makan es
> > cendol Elizabeth dan batagor goreng. Mbak Novi dan Mbak Yana yang
> > kekenyangan tidak mampu lagi menghabiskan segelas besar es cendol yang
> > manis dan enak itu. Walau kami semua sangat mengantuk, kami bertekad
> untuk
> > tidak tidur hingga kami naik bis nanti.
> >
> >
> >
> > Setelah membeli buah tangan sebagai oleh-oleh, kami
> diantar Kang
> > Hadian ke terminal bis Leuwipanjang. Kami menaiki bis jurusan yang
> berbeda
> > sesuai dengan daerah rumah kami. Makanan di Bandung yang tak terlupakan.
> > Hari yang tak terlupakan. Kisah yang tak terlupakan. Cinta yang tak
> > terlupakan. Sambil menatap keluar jendela bis yang membawa Mbak Novi
> dan aku
> > keluar dari terminal Leuwipanjang, sekilas aku melihat gunung yang
> berdiri
> > di kejauhan. Dan aku bersumpah melihat gunung itu tersenyum melepas
> > kepergian kami kembali ke Jakarta dengan penuh cinta.
> >
> >
> >
> > Sehingga seluruh kebahagiaan ini membuat diri kami senantiasa muda.
> Semuda
> > jiwa kami walau sisa umur kami tiap hari kian berkurang. Bahwa cinta ini
> > selamanya muda. *Forever young at heart and soul�Qurcil was here�*
> >
> > * *
> >
> > * *
> >
> > Jakarta, 9 Desember 2008 at 10.30 p.m.
> >
> > Dipersembahkan untuk keluarga besar SK terutama yang menghadiri
> acara Qurcil
> > di Bandung; Kang Hadian, Pak Teha, Mbak Novi, Mbak Yana, Kang Galih, Mas
> > Hendru, Mbak Shinta, Mbak Ela.
> > We were there...
> >
> > http://mutiaracinta.multiply. com
> >
> >
> >
> >
> > *****
> >
>
>
>
- 3g.
-
Re: [Kelana] Forever Young; Qurcil Was here
Posted by: "Lia Octavia" liaoctavia@gmail.com octavialia
Tue Dec 9, 2008 9:06 pm (PST)
iyaaa... sayang banget mba nia ga ikutan ke bandung...
seruu loh, mba ^_^
On 12/10/08, Nia Robie' <musimbunga@gmail.com > wrote:
>
> ngirimodeon...
>
> *yanglagimenepi
>
> 2008/12/9 novi_ningsih <novi_ningsih@yahoo.com >
>
>> Selalu indah kalau yang menyampaikannya mbak lia :)
>> Seolah kekonyolan kami di hari itu tak begitu jelas terlihat, hehe...
>> :) Jadi pengen bikin tulisan yang sama versi aku, hehe
>>
>> Btw, aku lagi proses upload foto, nih untuk di milis...
>> Baca tulisan ini bikin terkenang lagi, ya mbak
>> apalagi, pas pulang dan kita menikmati lelap di bus menuju Jakarta
>> bersama sms-sms sahabat eska, hehe
>>
>> - In sekolah-kehidupan@yahoogroups. <sekolah-kehidupan%com 40yahoogroups. com>,
>> "Lia Octavia" <liaoctavia@...>
>> wrote:
>> >
>> > *Forever Young; Qurcil Was Here*
>>
>> >
>> > * *
>> >
>> > *(Sebuah Catatan Perjalanan)*
>> >
>> >
>> >
>> > Oleh Lia Octavia
>> >
>> >
>> >
>> >
>> >
>> > Gunung-gunung yang berbaris di sepanjang tol Cipularang itu
>> > masih berselimut kabut diiringi rintik hujan yang menerpa jendela
>> bis yang
>> > berjalan hati-hati membelah lalu lintas sore itu. Bandung. Kota
>> berselimut
>> > cinta yang selalu kurindukan dengan senjanya yang hening memerah dan
>> > hujannya yang senantiasa merintiki hatiku. Kota yang selalu
>> > memanggil-manggilku untuk kembali memeluk sunyi. Kota dimana cinta telah
>> > melegenda di sudut ruang hatiku dan kesadaranku. Kota yang
>> memerah-hitamkan
>> > cinta di dalam kehidupan masa mudaku. Masa muda yang bahagia. Masa
>> muda yang
>> > ceria. Masa muda yang bersimbah cahaya.
>> >
>> >
>> >
>> > Aku menoleh ke bangku belakang. Mbak Novi dan Mbak Yana
>> duduk
>> > dengan manis menikmati pemandangan indah di luar jendela. Aku
>> menatap layar
>> > ponselku yang berkedip-kedip. Sms dari Pak Teha. Beliau menanyakan
>> sampai di
>> > mana posisi kami karena ia yang akan menjemput kami di Terminal
>> > Leuwipanjang. Pak Teha yang baik dan sangat kuhormati. Beliau adalah
>> salah
>> > seorang sesepuh di Komunitas Sekolah Kehidupan dan termasuk salah satu
>> > anggota yang tertua usianya di antara kami. Namun semangat beliau,
>> tak kalah
>> > mudanya dengan kami semua. Aku menjawab smsnya. Tak sampai satu jam
>> > kemudian, kami sudah memasuki kota Bandung. Bandung, kami datang�
>> >
>> >
>> >
>> > Dugaanku tak salah. Pak Teha menyambut kami bertiga di depan
>> > Terminal bis Leuwipanjang. Bandung kuyup senja itu. Tak lama
>> kemudian Kang
>> > Galih, yang sudah tiba di Bandung sejak pagi harinya, tiba bersama
>> dengan
>> > Mas Hendru. Perjalanan di bagian masa muda kami pun dimulai dan Bandung
>> > kembali menjadi saksinya. Di sanalah kami akan merayakan hari raya
>> Idul Adha
>> > dan menghadiri acara Qurcil, sebuah kegiatan yang diadakan Komunitas
>> Sekolah
>> > Kehidupan, dengan membantu menyalurkan kurban tahun ini pada
>> masyarakat di
>> > daerah minus di Bandung.
>> >
>> >
>> >
>> > Hari sudah gelap dan kami segera menuju sebuah rumah
>> makan untuk
>> > makan malam. Kang Hadian, ketua pelaksana Qurcil, tiba di rumah
>> makan itu
>> > tak lama kemudian. Canda tawa mewarnai pertemuan kami itu dengan meriah.
>> > Sayur asem, ikan gurame goreng, tempe bacem serta jus alpukat dan
>> lemon tea
>> > hangat langsung tandas diserbu oleh anak-anak muda yang bersemangat.
>> > Tiba-tiba sebuah sms dari Mbak Retno masuk ke ponsel kami
>> masing-masing. Mas
>> > Margo tidak dapat mewakili SK untuk Qurcil di Tangerang. Tak urung kami
>> > semua terkejut. Kang Dani yang berhalangan hadir saat itu, membuat kami
>> > semua harus memeras otak dan menghubungi siapa saja yang bisa
>> menggantikan
>> > Mas Margo. Kami semua langsung menekan tombol ponsel kami masing-masing.
>> > Menghubungi sahabat-sahabat SK yang dapat dihubungi. Mas Nursalam, Kang
>> > Dani, Mas Yayan, Mas Fiyan, Mbak Divin, Mas Widhiatma, Pak Yudhi, Mbak
>> > Retno, Mas Catur, nama-nama sahabat-sahabat SK yang terekam di
>> ponsel kami
>> > mendapat telepon atau sms dari kami.
>> >
>> >
>> >
>> > "Wah gimana nih? Tidak ada yang bisa datang mewakili SK di
>> > Jakarta. Siapa lagi yang bisa dihubungi?" Kang Hadian yang biasanya
>> gemar
>> > bercanda, saat itu mendadak menjadi serius.
>> >
>> >
>> >
>> > "Coba aja hubungi Achi," tiba-tiba usulan Mbak Novi mengubah
>> > segalanya. Walau pada mulanya kami tidak begitu yakin Achi dapat
>> datang ke
>> > Mauk, Tangerang, yang merupakan lokasi kurban Qurcil yang dipilih
>> oleh Riska
>> > Masjid Sunda Kelapa, masjid dimana SK bekerjasama untuk menyalurkan
>> kurban
>> > di Jakarta. Achi punya bayi. Mungkin suaminya tidak mengizinkan ia
>> > pergi�Mungkin Achi mau berlebaran dengan keluarganya� Mungkin ia
>> sudah punya
>> > acara lain� Mungkin�
>> >
>> >
>> >
>> > Aku memandang wajah-wajah yang mengelilingi meja makan.
>> Ikan
>> > gurame goreng yang sudah habis dikeroyok oleh aku, Mbak Novi, Kang
>> Galih,
>> > dan Pak Teha, sayur asem yang tandas di hadapan Kang Hadian, daging
>> gepuk
>> > yang dilahap Mbak Yana, dan tempe mendoan yang dihabiskan Mas
>> Hendru. Aku
>> > yakin pasti ada jalan keluar. Allah pasti berbaik hati pada
>> jiwa-jiwa muda
>> > yang sedang makan sambil bercanda dan berfoto-foto ini, pikirku
>> dalam hati.
>> >
>> >
>> >
>> > Setelah makan malam yang nikmat selesai, kami semua
>> menuju rumah
>> > Kang Hadian. Kediaman beliau yang terletak di atas bukit, membuat
>> kami dapat
>> > melihat pemandangan kota Bandung yang menakjubkan dari halaman rumah.
>> > Keindahan Bandung dan canda tawa membuat kami sejenak melupakan masalah
>> > perwakilan untuk Qurcil Jakarta. Kami semua duduk di ruang tamu Kang
>> Hadian
>> > sambil menikmati cemilan yang lezat. Aku melirik jam dinding. Pukul
>> 9 malam.
>> > *The night is still young�*
>> >
>> >
>> >
>> > "Ayo kalian mandi dulu! Setelah itu kita pergi makan jagung
>> > bakar. Ayo, siapa yang pengen makan jagung bakar?" tanya Pak Teha.
>> Makan?
>> > Tentu saja tawaran itu disambut hangat oleh kami semua. Dan malam
>> semakin
>> > kehilangan usianya ketika Achi menghubungi kami dan mengatakan
>> suaminya, Mas
>> > Gopo, dapat datang ke Tangerang untuk mewakili SK. Doaku terjawab sudah.
>> >
>> >
>> >
>> > Setelah kami mandi dan membereskan barang-barang kami,
>> malam itu
>> > juga, kami semua berangkat ke Lembang. Mobil yang dikemudikan oleh Kang
>> > Hadian dan Pak Teha meluncur membelah udara dingin yang menyelimuti
>> Bandung
>> > belahan utara. Sambil menikmati bajigur susu, pisang keju hangat, dan
>> > indomie keju, kami berbagi keceriaan dan semangat muda kami. Malam yang
>> > kemudian menjadi bagian dari hidup kami. Malam yang telah menorehkan
>> sebuah
>> > prasasti yang tak kelihatan, bahwa kami pernah ada di sana. Sebuah
>> graffiti
>> > bertuliskan "SK was here" di balik meja dan dinding kayu kedai
>> makanan itu.
>> > Di sana. Di Lembang yang dinginnya seperti balok es yang dimasukkan
>> ke dalam
>> > bak kamar mandi.
>> >
>> >
>> >
>> > Kami menghabiskan penghujung malam yang menyenangkan
>> itu dengan
>> > perut kenyang dan kamera digital yang telah merekam berpuluh
>> keceriaan di
>> > dalam *memory card-*nya. Pukul 2 dini hari. Hari telah berganti dan
>> takbir
>> > bergema memantulkan kebesaran Allah di langit-langit kota sepanjang
>> malam.
>> > Kami semua kembali ke rumah Kang Hadian, tempat kami menginap, dan
>> Pak Teha
>> > kembali ke rumahnya. Di kamar, Mbak Novi yang begitu rajin masih bekerja
>> > dengan lap topnya hingga pukul 3 dini hari sementara Mbak Yana dan
>> aku telah
>> > berselimutkan mimpi di sebelahnya. Akankah kami kelelahan karena kurang
>> > tidur? *It really doesn't matter if we don't sleep*. *Cause we are
>> so young*�
>> > Aku tersenyum dalam tidurku mengingat sebuah lagu lawas yang
>> dinyanyikan The
>> > Corrs itu.
>> >
>> >
>> >
>> > ******
>> >
>> > Hari yang dinanti pun tiba. Kami berenam; Kang Hadian, Mbak
>> > Novi, Mbak Yana, Kang Galih, Mas Hendru, dan aku berangkat menuju
>> kawasan
>> > Sindanglaya, Cicaheum untuk menyaksikan acara pemotongan hewan
>> kurban. Di
>> > sepanjang jalan, banyak orang tumpah ruah memeluk sajadah. Shalat
>> Ied telah
>> > usai dan mentari telah tersenyum hangat pada Bandung. Sebuah episode
>> di masa
>> > muda kami kembali dimulai.
>> >
>> >
>> >
>> > Sindanglaya, sebuah desa yang asri yang berada di atas
>> bukit,
>> > lengkap dengan kelokan-kelokan dan tanjakan-tanjakannya. Kami tiba
>> di sana
>> > dengan penuh semangat. Tawa dan canda membalut pagi itu. Kebersamaan
>> yang
>> > mengikat kami semua sehingga apa yang kami alami pagi itu, takkan pernah
>> > dapat dirasakan oleh orang lain. Kami berenam, menyimpan semuanya
>> baik-baik
>> > di balik spanduk-spanduk yang berderet sepanjang jalan, di balik riuhnya
>> > suara domba yang berkerumun di kandang, dan dibalik senyum pak
>> Mukhlis yang
>> > menyambut kami dengan ramah di halaman rumahnya yang telah dipenuhi
>> orang.
>> > Penyembelihan kurban pun dimulai. Satu persatu domba tersebut
>> disembelih.
>> > Domba-domba atas nama mereka yang telah memercayakan kurbannya tahun ini
>> > pada SK. Di tengah kepulan asap dari tungku kayu bakar tempat para ibu
>> > memasak, takbir yang dikumandangkan oleh para penyembelih kurban, dan
>> > jepretan kamera yang tidak mau ketinggalan momen-momen itu, kami berdiri
>> > menatap masa. Lembaran sejarah masa muda kami yang merayakan hari raya
>> > kurban di tengah saudara-saudara kami di pedalaman Bandung.
>> >
>> >
>> >
>> > Pak Teha, Mbak Shinta, dan Mbak Ela tiba di lokasi tak lama
>> > kemudian. Setelah semua domba selesai disembelih, Pak Mukhlis
>> mempersilakan
>> > kami semua makan hidangan yang telah tersedia. Nasi hangat beserta lalap
>> > daun singkong dan sayur kari, memeriahkan cinta yang berpendar di setiap
>> > bungkus daging kurban yang dibagikan pada warga setempat. Walau
>> susu, roti,
>> > dan cemilan yang kami santap sebelum berangkat ke Sindanglaya masih
>> memenuhi
>> > perut kami, makan bersama di pagi hari itu rasanya begitu nikmat.
>> >
>> >
>> >
>> > Setelah makan, kami berpamitan dan menuju rumah mertua Kang
>> > Hadian di belahan Bandung yang lain. Matahari tepat di atas kepala
>> saat kami
>> > tiba di sana. Seusai shalat dzuhur, kami kembali ditawari makan oleh
>> empunya
>> > rumah.
>> >
>> >
>> >
>> > "Ayo makan! Makanannya sudah disiapkan! Ayo, silakan!"
>> ujar ipar
>> > Kang Hadian ramah. Kami semua terenyum malu-malu.
>> >
>> >
>> >
>> > "Sudah, ayo makan! Nanti kan mau pulang ke Jakarta, jadi
>> makan
>> > dulu ya!" timpal ibu mertua Kang Hadian. Kami semua saling bertatapan.
>> > Berusaha menolak secara halus dengan berbagai cara.
>> >
>> >
>> >
>> > Aku menatap Kang Hadian. Ia juga meminta kami semua
>> makan untuk
>> > ketiga kalinya. Ketika Kang Hadian melihatku tidak menjawab, ia
>> mengeluarkan
>> > jurus pamungkasnya dan ternyata berhasil.
>> >
>> >
>> >
>> > "Mbak Lia, ada ikan bilih lho!" kata Kang Hadian sambil
>> > menatapku. Ikan bilih? Aku pun luluh. Aku memang sangat menyukai
>> ikan bilih.
>> > Ikan yang hanya hidup di Danau Maninjau dan Danau Singkarak. Tanpa
>> berkata
>> > lagi, aku langsung bangkit dan mengajak semua teman-temanku untuk
>> makan. Dan
>> > makan siang itu sungguh nikmat. Menu ikan bilih beserta telur dadar
>> goreng,
>> > sayur tahu, cah sawi hijau dan kerupuk yang lezat membuat kami semua
>> > menghabiskan makanan di atas piring kami dengan tandas. Indahnya
>> masa muda.
>> > Makan apapun terasa nikmat asalkan makan bersama-sama.
>> >
>> >
>> >
>> > Setelah makan, kami kembali ke rumah Kang Hadian untuk
>> berkemas-kemas. Tawa
>> > dan canda kembali memenuhi ruang tamu Kang Hadian siang itu. Di
>> sela-sela
>> > keceriaan itu, Kang Hadian tiba-tiba teringat bahwa ia masih punya
>> es krim!
>> >
>> >
>> >
>> > Mendengar kata es krim, kami jadi bergairah. Mbak Novi, Mbak
>> > Shinta, Mbak Ela, Mbak Yana langsung beranjak ke dapur mengambil
>> gelas dan
>> > sendok. Sendok demi sendok es krim Wall's rasa cokelat, vanilla, dan
>> > stroberi itu pindah ke perut kami masing-masing. Kecuali Mas Hendru
>> yang
>> > tidak mau makan es krim, Kang Galih dan Mbak Novi menghabiskan sisa
>> es krim
>> > yang ada. Aku juga sebenarnya sangat menyukai es krim. Tetapi aku
>> tahu aku
>> > tidak boleh terlalu banyak makan es krim kalau tidak mau radang
>> tenggorokan
>> > dan alergi pilek kumat. Aku berhasil menahan diri untuk tidak makan
>> es krim
>> > banyak-banyak.
>> >
>> >
>> >
>> > Tak terasa waktu sudah menujukkan pukul 3.30 siang. Mbak
>> Shinta,
>> > Pak Teha, dan Mbak Ela berpamitan pulang. Lalu kami mengambil tas kami
>> > masing-masing dan Kang Hadian mengantar kami menuju terminal bis
>> > Leuwipanjang. Ah, lembar indah pada hari itu akan segera berakhir.
>> Rasanya
>> > masih ingin melepas rindu dengan Bandung dan belum mau kembali ke
>> Jakarta.
>> > Dan harapanku terwujud. Di tengah jalan, Kang Hadian mengajak kami
>> makan es
>> > cendol Elizabeth dan batagor goreng. Mbak Novi dan Mbak Yana yang
>> > kekenyangan tidak mampu lagi menghabiskan segelas besar es cendol yang
>> > manis dan enak itu. Walau kami semua sangat mengantuk, kami bertekad
>> untuk
>> > tidak tidur hingga kami naik bis nanti.
>> >
>> >
>> >
>> > Setelah membeli buah tangan sebagai oleh-oleh, kami
>> diantar Kang
>> > Hadian ke terminal bis Leuwipanjang. Kami menaiki bis jurusan yang
>> berbeda
>> > sesuai dengan daerah rumah kami. Makanan di Bandung yang tak terlupakan.
>> > Hari yang tak terlupakan. Kisah yang tak terlupakan. Cinta yang tak
>> > terlupakan. Sambil menatap keluar jendela bis yang membawa Mbak Novi
>> dan aku
>> > keluar dari terminal Leuwipanjang, sekilas aku melihat gunung yang
>> berdiri
>> > di kejauhan. Dan aku bersumpah melihat gunung itu tersenyum melepas
>> > kepergian kami kembali ke Jakarta dengan penuh cinta.
>> >
>> >
>> >
>> > Sehingga seluruh kebahagiaan ini membuat diri kami senantiasa muda.
>> Semuda
>> > jiwa kami walau sisa umur kami tiap hari kian berkurang. Bahwa cinta ini
>> > selamanya muda. *Forever young at heart and soul�Qurcil was here�*
>> >
>> > * *
>> >
>> > * *
>> >
>> > Jakarta, 9 Desember 2008 at 10.30 p.m.
>> >
>> > Dipersembahkan untuk keluarga besar SK terutama yang menghadiri
>> acara Qurcil
>> > di Bandung; Kang Hadian, Pak Teha, Mbak Novi, Mbak Yana, Kang Galih, Mas
>> > Hendru, Mbak Shinta, Mbak Ela.
>> > We were there...
>> >
>> > http://mutiaracinta.multiply. com
>> >
>> >
>> >
>> >
>> > *****
>> >
>>
>>
>
>
- 3h.
-
Re: [Kelana] Forever Young; Qurcil Was here
Posted by: "Lia Octavia" liaoctavia@gmail.com octavialia
Tue Dec 9, 2008 9:09 pm (PST)
Aku jadi inget isi sms dari Kang Dani pada Ahad malam yang dikirim ke
ponselnya Kang Hadian.
Isi smsnya singkat tapi dalem banget artinya dan mengungkapkan isi hati yang
terdalam ^_^.
Aku inget bunyi smsnya begini: "sedang apa sedang apa sedang apa sekarang?"
hehehehe
Iyah aku tahu, Kang Dani kepengen banget ikutan ke Bandung, tetapi ternyata
dirimu lebih dibutuhkan di Bogor. semoga Ibu & Bapaknya Kang Dani segera
sembuh & Nibras juga segera sehat kembali... ^_^
Salam
Lia
On 12/10/08, fil_ardy <fil_ardy@yahoo.com > wrote:
>
> Hiks.. Alhamdulillah..
> acara berjalan lancar. Ini semua berkat
> kontribusi dari semua sahabat SK.
> rimakasih untuk semuanya. Sebenernya sedikit ngiri, sedih
> karena kali ini saya ga bisa turut bersama sahabat
> SK dalam acara tersebut. Detik2 terakhir menjelang
> keberangkatan ke bandung, Bapak saya sakit, saya
> harus pulang ke Bogor, sampe di Bogor ternyata ibu
> saya juga sakit. Dan, di sana, Nibras juga ikutan
> sakit.
>
> Rupanya, kali ini saya memeng diharuskan berada
> bersama keluarga saya:) tapi saya percaya, qurcil SK
> kali ini begitu berarti bagi kita semua.
>
> Terimakasih mbak Lia, untuk postingannya yang sukses
> membuat saya laper :D
>
> DANI
>
> --- In sekolah-kehidupan@yahoogroups. <sekolah-kehidupan%com 40yahoogroups. com>,
> "Lia Octavia"
> <liaoctavia@...> wrote:
> >
> > *Forever Young; Qurcil Was Here*
> >
> > * *
> >
> > *(Sebuah Catatan Perjalanan)*
> >
> >
> >
> > Oleh Lia Octavia
> >
> >
> >
> >
> >
> > Gunung-gunung yang berbaris di sepanjang tol Cipularang itu
> > masih berselimut kabut diiringi rintik hujan yang menerpa jendela
> bis yang
> > berjalan hati-hati membelah lalu lintas sore itu. Bandung. Kota
> berselimut
> > cinta yang selalu kurindukan dengan senjanya yang hening memerah dan
> > hujannya yang senantiasa merintiki hatiku. Kota yang selalu
> > memanggil-manggilku untuk kembali memeluk sunyi. Kota dimana cinta telah
> > melegenda di sudut ruang hatiku dan kesadaranku. Kota yang
> memerah-hitamkan
> > cinta di dalam kehidupan masa mudaku. Masa muda yang bahagia. Masa
> muda yang
> > ceria. Masa muda yang bersimbah cahaya.
>
> >
>
>
>
- 4a.
-
[Galeri] Acara Qurcil Eska
Posted by: "novi_ningsih" novi_ningsih@yahoo.com novi_ningsih
Tue Dec 9, 2008 10:08 am (PST)
Assalamu'alaykum Wr. Wb
Alhamdulillah, acara Qurcil Eska berjalan lancar di Bandung dan
Jakarta (Tangerang), bekerja sama dengan RISKA dan Medan, bekerja sama
dengan RZI.
Berikut ini dokumentasi acara Qurcil Eska di Bandung yang dihadiri
Pak Teha, kang Hadian, Galih, Hendru, Sinta, Yana, Ela, mbak Lia dan
Novi di desa Sindanglaya, Bandung.
http://groups.yahoo.com/ group/sekolah- kehidupan/ photos/album/ 1498215997/ pic/list
Dokumentasi acara Qurcil Eska di Jakarta yang di hadiri oleh Achie dan
Agung Argopo.
http://groups.yahoo.com/ group/sekolah- kehidupan/ photos/album/ 43156065/ pic/list
Kami, dari panitia Qurcil Eska mengucapkan terima kasih kepada
teman-teman yang telah berpartisipasi dan memohon maaf apabila pada
penyelenggaraan acara ada yang tidak berkenan.
Wassalamu'alaykum Wr. wb
Novi
Sekretaris Qurcil
- 4b.
-
Re: [Galeri] Acara Qurcil Eska
Posted by: "Lia Octavia" liaoctavia@gmail.com octavialia
Tue Dec 9, 2008 8:15 pm (PST)
Waalaikumsalam wrwb
Wow.. foto-fotonya keren-keren, mbak novi.. ^_^
Makasih banyak yah udah meng-up load foto-fotonya buat kami semua... ^_^
I really had a great time.
Thanks to Kang Hadian, Pak Teha, Mba Shinta, Mba Ela, Mba Novi, Mba Yana,
Kang Galih, Mas Hendru...
Qurcil was there! ^_^
Salam
Lia
On 12/10/08, novi_ningsih <novi_ningsih@yahoo.com > wrote:
>
> Assalamu'alaykum Wr. Wb
>
> Alhamdulillah, acara Qurcil Eska berjalan lancar di Bandung dan
> Jakarta (Tangerang), bekerja sama dengan RISKA dan Medan, bekerja sama
> dengan RZI.
>
> Berikut ini dokumentasi acara Qurcil Eska di Bandung yang dihadiri
> Pak Teha, kang Hadian, Galih, Hendru, Sinta, Yana, Ela, mbak Lia dan
> Novi di desa Sindanglaya, Bandung.
>
>
> http://groups.yahoo.com/ group/sekolah- kehidupan/ photos/album/ 1498215997/ pic/list
>
> Dokumentasi acara Qurcil Eska di Jakarta yang di hadiri oleh Achie dan
> Agung Argopo.
>
>
> http://groups.yahoo.com/ group/sekolah- kehidupan/ photos/album/ 43156065/ pic/list
>
> Kami, dari panitia Qurcil Eska mengucapkan terima kasih kepada
> teman-teman yang telah berpartisipasi dan memohon maaf apabila pada
> penyelenggaraan acara ada yang tidak berkenan.
>
> Wassalamu'alaykum Wr. wb
>
> Novi
>
> Sekretaris Qurcil
>
>
>
- 5.
-
Timetable Proyek Laskar Pelangi
Posted by: "Ummu Alif" ummu_alif@yahoo.com ummu_alif
Tue Dec 9, 2008 2:57 pm (PST)
Timetable Novel Proyek "Laskar Pelangi"
Penulis: Ummu Alif
Tanggal
Kegiatan
Keterangan
04/12/08 –
14/12/08
Timetable dan
Sinopsis
10 Hari
15/12/08 –
31/12/08
Penelitian
untuk bahan tulisan
2 Pekan
01/01/09 –
14/01/09
Bab 1
2 Pekan
15/01/09 –
31/01/09
Bab 2
2 Pekan
01/02/09 –
14/02/09
Bab 3
2 Pekan
15/02/09 – 28/02/09
Bab 4
2 Pekan
01/03/09 –
14/03/09
Bab 5
2 Pekan
15/03/09 –
31/03/09
Bab 6
2 Pekan
01/04/09 –
14/04/09
Bab 7
2 Pekan
15/04/09 – 30/04/09
Bab 8
2 Pekan
01/05/09 –
14/05/09
Bab 9
2 Pekan
15/05/09 –
31/05/09
Bab 10
2 Pekan
01/06/09 –
31/07/09
Editing
2 Bulan
01/08/09 –
31/08/09
Hunting
Penerbit
1 Bulan
01/09/09 - 30/11/09
Pengajuan ke
Penerbit
3 Bulan
01/12/09 –
31/12/09
Cadangan Waktu
1 Bulan
Depok,
4 Desember 2008
Ummu
Alif
Sikap Peduli Lingkungan? Temukan jawabannya di Yahoo! Answers. http://id.answers.yahoo.com
- 6.
-
IBADAH DAN SAMPAHNYA
Posted by: "FITRI ARLinkaSARI" fitri_arlinkasari@yahoo.com fitri_arlinkasari
Tue Dec 9, 2008 3:08 pm (PST)
IBADAH DAN SAMPAHNYA... 11:19pm
Apa hubungannya antara ibadah dengan sampah?
Tentu di antara kita semua yang setiap tahunnya (at least 2x) melaksanakan solat hari raya di lapangan atau mesjid seringkali menemukan koran bekas yang bertebaran dimana-mana.
Koran-koran tersebut biasanya dibawa sendiri oleh jamaah solat untuk dijadikan alas sajadah mereka, khususnya yang memilih solat di lapangan (atau kedapetan solat di luar mesjid). Dan jumlah jamaah untuk satu kali solat di hari raya (idul fitri dan idul adha) tentulah banyak, sekurang-kurangnya 200 orang.
Dan jika setiap orang rata-rata menggunakan 2 lembar kertas koran, maka dalam satu kali solat, suatu jamaah (minimal 200 orang) yang melaksanakan solat ied setidaknya telah menghabiskan 400 lembar koran. Sementara itu jumlah halaman koran (misalnya Kompas) dalam satu kali edisi terbit adalah 40 halaman, artinya jamaah jamaah yang solat ied sudah menggunakan setidaknya 10 bundel koran.
Oya, itu baru untuk kapasitas minimal sebuah lapangan lho dengan muatan minimal 200 orang. Jika jumlah jamaah sebanyak 1000 orang, maka jumlah koran yang terbuang adalah 1000 x 2 = 2000, sekitar 50 bundel koran satu edisi. Belum lagi jika ada jamaah yang membawa satu bundel koran namun yang terpakai hanya beberapa lembar saja, maka sisa bundelan koran tersebut biasanya hanya mereka tinggalkan begitu saja.
Lalu bagaimana jika solat Ied diselenggarakan di lapangan-lapangan besar yang mau tidak mau, jumlah jamaahnya jauh lebih besar dan praktis jumlah koran bekas yang terbuang menjadi berlipat ganda? Karena berdasarkan pengamatan saya selama belasan tahun, memang tak banyak dari para jamaah solat Ied di Indonesia (khususnya Jakarta) yang berkesadaran membawa pulang kembali koran bekasnya (mungkin karena sudah terlanjur kotor) atau setidaknya melipat kembali koran-koran tersebut dengan rapi dan menempatkannya di satu tempat pembuangan.
Akhirnya? setelah kita menunaikan ibadah solat Ied, yang kita temui hanyalah lautan sampah koran bekas.Dan sekali lagi yang saya dan mungkin juga Anda kembali menemukan perilaku apatis para jamaah yang tidak berkesadaran memungut atau setidaknya merapikan koran-koran bekas yang mereka pakai untuk solat.
Rasanya? tentu saja, kita seperti sedang terjebak dalam lautan sampah. Mau bersalaman tentu menjadi kurang afdol jika sejauh mata memandang yang nampak hanyalah sampah, sampah dan sampah...
Memang seringkali kita menemukan para pemulung memunguti sampah koran bekas kita itu. Tetapi haruskah mereka juga terlihat "memulung" dengan raut penuh beban karena dililit kemiskinan sementara kita tetap saja asyik bercengkrama saling bertegur sapa tanpa mengacuhkan keberadaan mereka.
Andaikan saja para jamaah solat ied berkenan merapikan setidaknya menjadikan satu semua koran bekas tersebut di satu tempat, tentu juga akan memeprmudah pekerjaan para pemulung, lebih bagus lagi kalau misalnya kita sebagai sesama muslim mendatangi mereka dan turut menyalami mereka yang selama ini sudah memunguti semua sampah solat kita. Isn't wonderful?
Setelah ini, apakah di tahun depan kita masih mau membuang koran-koran kita begitu saja? Ingat... koran adalah satu sampah terbesar dengan jumlah terbesar di muka bumi yang jika ingin dijejerkan jumlahnya telah berhasil mengelilingi diameter bumi kita dan tidak bisa dibusukkan oleh tanah, sehingga daur ulang atau meminimalisir jumlah sampahnya menjadi salah satu jalan keluarnya. Apalagi sebagai seorang muslim, mari kita bertanya ke dalam diri layakkah ibadah solat kita disandingkan dengan sampah? mari berbuat dari sekarang!
Fitri Arlinkasari, S.Psi komunitas_aset_bangsa@yahoogrou +628561075410 / +622194363216 www.arlinka.ps.com co.cc
- 7a.
-
Re: [Catcil] Orang Aneh
Posted by: "Nia Robie'" musimbunga@gmail.com
Tue Dec 9, 2008 3:18 pm (PST)
assalamu'allaikum
mba nop!!!!!!!!!!!!! heheu.. aku tau penderitaanmu kawan.. kan kita 11-12 eh
10-11.. btw tadinya gue mau ngenalin kamu ama temen gue.. haha.. lebih
parah2 dah dibanding dirimuh..
btw kalo mau wibawa belajarlah dari veby s. wibawa kikikikik.. nanti akan
berubah menjadi noviyanti utama wibawa.. halah.. apaan seeeh?
*nahlosekaranggueyanganeh
btw tiba2 keingetan cerita kita malam ituw.. kikikikik.. gue aneh kan ya?
nekad!!!*narsisakankenekatanmodeon
-yangmauniatnyamenepitapiselalugakt ahandigubrisnopi -
Pada 9 Desember 2008 13:45, novi khansa' <novi_ningsih@yahoo.com > menulis:
>
>
> Aku ada masalah dengan kewibawaan. Halah, emang ada apa sih sama wibawa? :D
>
>
> Aku juga dianggap orang yang ga bisa serius dan paling mengenaskan, "orang
> aneh".
>
>
> Entah semenjak kapan, image konyol, gokil, aneh lebih sering melekat pada
> diri ini dibanding image serius, baik hati, dan rajin menabung :D
>
> hihihih...
>
> Jujur, aku tetap cukup kaget ketika seorang memperkenalkan diriku sebagai
> "orang aneh". Bukan karena aku beneran aneh, tapi di sekelilingku saat itu
> banyak juga orang aneh :D
>
> Sebenarnya sih, hal ini terjadi karena aku sendiri yang memang tak punya
> kesan serius, huhuhuhu... Senengnya becanda dan melakukan banyak hal dengan
> konyol dan seru :D
>
> Jujur, nih... biasanya, orang yang baru mengenalku menganggap aku serius
> atau mungkin galak :D, tapi ketika aku nyaman berada dalam satu tempat, aku
> bisa lebih bahagia :D dan tidak jadi serius.. (ini apa sih :D)
>
> Tapi, jujur, aku bisa serius... halah... :D
>
> Aku ingat ketika masih kuliah dulu. Aku dan teman-teman akhwat melakukan
> Jauhari Window. Di sana seorang adik kelas menulis kalau aku kurang wibawa.
> Yah gimana ga kurang, ketika rapat organisasi, aku lebih cenderung melakukan
> hal konyol dibanding hal bener. Walau tetep, sih aku melakukan tanggung
> jawab sebagai pengurus.
>
> Belakangan hal ini jadi sesuatu hal yang "bermasalah". Bagaimana tidak?
> image aku abis-abisan habis :D (bingung ga, sih) setelah bergaul dengan
> makhluk-makhluk yang seneng banget ngerjain orang. Foto-foto aneh bin gokil
> hasil snapshot hadir di hadapanku. Hhhh, apa emang aku aslinya begitu???
> Aaah, dasar pembunuhan karakter :P
>
> Ketika banyak orang yang mengenal aku dengan kekonyolan yang aku buat.
> Mereka akan kaget ketika aku jadi moderator kajian, mengisi kajian, mengajar
> anak-anak dan memiliki binaan... dan hal serius lainnya.
>
> Walau saking akrabnya aku sama adik-adik menti, mereka pun suka
> "menghancurkan" kewibawaanku :D, hihihi.. bahasanya berlebihan, ya?
> Maksudnya, kami begitu akrab dan suka seru-seruan bareng :D
>
> Kami mengalami banyak hal menyenangkan selama kurang lebih 3 tahun hingga
> akhirnya mereka kuliah dan kami berpisah... :(
>
> Sejujurnya, aku hanya ingin meleburkan suasana menjadi lebih cair, lebih
> akrab, lebih santai di saat begitu banyak kondisi mengharuskan kita untuk
> serius. Bukan bermaksud bikin "rusuh", hanya saja terlalu banyak orang
> serius yang aku temui dan terlalu banyak hal yang menuntut keseriusan dalam
> hidup ini. Seperti halnya ketika bekerja di bawah tekanan deadline yang
> sudah menjadi bagian dari hidupku. hiks... hiks :D
>
> Walau kemudian, aku sadari, aku tetap harus belajar lebih serius :D dan
> tentunya mampu menempatkan diri dengan baik pada segala situasi. yeee,
> serius, nih :D
>
> Terakhir, bukan maksudku membela diri...
> Menurutku semua manusia itu aneh dan tentunya berbeda satu sama lain ;)
>
> hihihi, itu mah "unik" :D
>
>
>
> Tetap semangaaaaaaaaat ;)
> walau aneh sekalipun :D
>
>
> *akhirnya, satu kerjaan beres ... :D dan saatnya berperilaku "aneh",
> sebelum melanjutkan pekerjaan lain ;)
>
>
>
>
> novi_khansa'kreatif
> ~Graphic Design 4 Publishing~
> YM : novi_ningsih
> http://akunovi.multiply. com
> http://novikhansa.rezaervani. com/
>
>
>
>
- 8.
-
[cerpen] Ketegaran dibalik Segala Kekurangan
Posted by: "Putri Agus Sofyan" iastrito126ps@yahoo.co.id
Tue Dec 9, 2008 3:20 pm (PST)
Hari yang cerah....Tetap Semangat..
Ketegaran dibalik Segala Kekurangan
(cerpen:iastrito)
Siang itu, cuaca kurang bersahabat. Angin bertiup kencang. Mendung mulai menyelimuti awan putih yang bergerak perlahan berubah menjadi kelabu… Ku percepat langkahku menuju sebuah warung kecil di dekat pusat perbelanjaan. "Mudah-mudahan jangan hujan dulu sebelum aku sampai di warung itu", ujar bathinku sambil terus melangkah.
Dalam kondisi cuaca seperti ini, aku merasakan udara dingin masuk ke dalam rongga hidungku melalui tarikan nafas saat aku menarik dan membuang nafas. "Jangan kambuh….please…jangan kambuh, ya Allah…bantu aku", kata bathinku terus menerus. Aku berusaha untuk tetap tenang dan stabil dalam langkah kakiku walau gerak langkah kaki ini ku percepat,
Kondisi tubuhku sangat rentan bila aku kecapaian. Aku akan kehabisan tenaga dan nafasku akan tersengal-sengal. Ya, aku memiliki penyakit sesak nafas, orang biasa menyebutnya ashma.
Kututup separuh wajah ini dengan jilbab yang kukenakan agar udara dingin tidak terlalu banyak yang kuhirup. Tiba-tiba…..byurrrr……..hujan turun dengan deras tanpa didahului dengan gerimis. Hanya tinggal beberapa langkah lagi, aku sampai di warung kecil itu, tetapi hujan turun dengan cepatnya sehingga pakaian, sepatu basah kuyup oleh air hujan.
"ngiiiiikkkk……ngiiiikkkkk…..ngiiikkkk…," bunyi nafasku…
Tubuhku gemetar karena dingin sementara bunyi nafasku semakin kencang…. nggggiiiikkkk…. ngggiiiikkkkk…. ngiiiikkkkk…
Aku mulai merasakan sesak yang mendalam, aku mulai kesulitan bernafas sementara tubuhkupun semakin gemetar menahan dinginnya udara.
"Sabar….sabar…sebentar lagi sampai di warung itu…"ujar bathinku….
Tak lama… aku pun tiba di sebuah warung kecil yang sejak semula akan ku tuju…
"Pak…pak….boleh saya numpang sebentar disini,"pintaku kepada pemilik warung kecil itu.
"Silahkan Nak…masuk aja," sapa ramah Bapak tua pemilik warung.
"Terima kasih, Pak,"jawabku sambil kulangkahkan kaki ini masuk ke dalam.
Aku berusaha tegar dengan kondisi yang kurasakan. Berkali-kali ku atur nafasku agar tidak bunyi…
Aku tidak mau menarik perhatian orang-orang di sekitar warung tersebut.
"uhuk…uhuk…ngiikkk….ngikkk…, tiba-tiba aku terbatuk-batuk disambung dengan bunyi nafasku. Aku semakin sesak. Batukku semakin keras dilanjut dengan bunyi nafasku.
Aku berjalan agak kepinggir menjauhi orang-orang yang sedang berteduh dalam warung itu. Kubungkukkan badanku untuk mendapatkan posisi yang nyaman untuk membantu jalannya pernafasanku.
"uhuk….uhuk…ngiiikkk…uhukk…uhukk…ngiikk….,"aku terus-terusan batuk dan menderik…ashmaku kambuh…
Aku sudah tidak kuat lagi…uhukkk…uhhuukkk..nggiikkk…, "Pak, bisa minta air panas…mendidih ya…,"pintaku kepada pemilik warung.
"Sebentar ya, Nak…,"
Tak lama kemudian…..ini, Nak….,"seraya memberikan segelas air panas mendidih dan meletakkan dimeja kecil dekat posisiku berdiri.
Dengan tangan gemetar, kucoba mengangkat gelas berisi air panas tersebut dan kuseruput airnya secara perlahan.
Terasa hangat dadaku…kuminum lagi pelan-pelan…sampai gelas itu kosong.
Aku meminta kembali air panas mendidih kepada Bapak tua sambil sesekali meminta maaf telah merepotkannya.
Hujan semakin deras. Aku harus bisa menolong diriku sendiri dan aku tidak mau menyusahkan orang lain dan membuat orang lain iba kepadaku.
"Ya…Allah….tolong angkat…sakitku, tolong sembuhkan…ya Allah..",doaku sambil menyeruput kembali air panas yang diberikan oleh Bapak tua kepada ku.
Aku masih terbungkuk-bungkuk untuk mendapatkan posisi yang enak untuk bernafas…
Aku berjuang untuk diriku sendiri, semua orang memandangku dengan wajah iba.
Aku kesal kepada mereka yang melihatku. Aku merasa seperti tontonan yang patut ditonton dan dikasihani.
Lama aku terbungkuk-bungkuk hingga pada akhirnya akupun dapat mengendalikan emosiku pada situasi yang tidak menentu karena hujan angin.
Baju yang basah karena hujan telah kering dibadan, hujan deras yang disertai dengan angin pun sudah mulai mereda.
Perlahan aku menekukkan kakiku sambil masih terus membungkuk untuk mengambil posisi duduk.
Ku atur nafasku dan kurasakan batuk yang mendera diriku sudah mulai berkurang, dadaku sudah terasa lega..dan kulihat orang-orang yang ada disekelilingku satu persatu pergi meninggalkan warung kecil tempat kami berteduh sementara.
Sampai tinggal aku sendiri dan pemilik warung itu. Ah…akhirnya..aku bisa melewati permasalahanku… permasalahan dengan sakit yang kualami selama bertahun-tahun yaitu ashma.
Setelah hujan benar-benar reda, dan kurasakan tubuhku sudah agak ringan. Ku langkahkan kaki ini ke ruang lebih dalam lagi utuk mengembalikan gelas-gelas kosong bekas air panas yang ku minta tadi.
Saat ku buka horden, sebagai penutup dan pembatas ruang antara tempat menjual barang-barang dengan ruang tidur pemilik warung. Ku lihat Bapak tua yang telah memberiku minum berupa air panas, sedang membantu seseorang yang sedang berusaha bangkit dari posisi tidur untuk berubah menjadi posisi membungkuk.
"Pak…pak…, maaf ini gelasnya…taruh dimana ya,"ujarku kepadanya.
Bapak tua itu menoleh kepadaku dan aku semakin jelas melihat sosok yang dibantu oleh bapak itu. Seorang wanita tua, dengan raut wajah yang sangat lelah sekali… dan sesekali ku dengan nggiiikkkk… nggggiiiikkkk…. nggggiiikkkkk….
Ibu tua itu menderit seperti aku…., ini istri saya, kata Bapak tua pemilik warung memecahkan lamunanku sesaat.
"Istri saya…lumpuh separuh badan…sudah sepuluh tahun. Ia juga menderita sesak nafas…. Saya tidak tega dengan kondisi istri saya, lebih-lebih bila hujan tiba seperti tadi,"lanjutnya sambil membantu istrinya kembali.
Ku lihat wajah Ibu tua itu tersenyum…memandang ku.
"Bapak tidak bisa berbuat apa-apa, Bapak hanya bisa berserah diri pada Allah. Ini semua adalah pemberian dari Allah dan kita wajib untuk menjalani dengan penuh keikhlasan walau kadang Bapak juga merasa lelah dan capai.. Jangankan Bapak, Ibu lebih capai dibandingkan Bapak..",lanjut Bapak tua itu kembali.
"Hanya ini yang bisa Bapak lakukan dalam menjalani hidup ini,"sambil menerima gelas-gelas kosong bekas minumku setelah mendudukan istrinya di sebuah dipan tua tempat Ibu itu tidur.
"Ya…Allah…. Tidak seberapa ujian yang kau berikan kepadaku dibandingkan dengan kondisi Ibu tua itu. Kadang mulut dan hati ini mengeluh, tidak ikhlas menghadapi dan menjalani ujian Mu, Ya Allah… maafkan aku…astagfirullah.., tak terasa ada butiran-butiran hangat yang jatuh dari pelupuh mataku dan mengalir dipipiku..
Ku rogoh dompet dalam tas dan ku ambil beberapa lembar uang yang ada dalam dompet itu. Walau tidak banyak, aku ingin meringankan beban orang tua itu.
"Pak….maaf, ini ada sedikit rejeki…. Tolong diterima…dan terima kasih, tadi Bapak telah menolong saya dengan memberikan air minum panas, hingga saya sekarang sudah mulai lega kembali….,"ku ulurkan tanganku menggenggam tangan Bapak tua pemilik warung..
Ku dengan ucapan terima kasih dari Bapak tua itu dan ku lihat wajah Ibu yang sedang menahan rasa sakit…tersenyum padaku sambil mengangguk… dan sesekali kudengar…ngiiiikkk……ngggiiikkkkk….ngggiiikkkk….
Senyuman yang tegar dari seorang ibu dibalik segala kekurangannya.
Kulangkahkan kaki ini keluar dari warung kecil, walau masih terasa sesak di dada… kulangkahkan kaki menuju halte bis tak jauh dari warung kecil tempat ku berteduh tadi. Ku lihat jam di tanganku sudah menunjukan angka lima… hari telah senja bahkan hampir menjelang malam…
Tak lama ku menunggu di halte bis, Mikrolet 02 jurusan Pondok Gede tiba dan siap mengantarkan ku pulang. Hari ini aku telah mendapatkan suatu pelajaran yang paling berharga dari kehidupan sepasang suami istri yang saling mengasihi dan saling menyayangi satu dengan lainnya…serta kata yang disampaikan oleh Bapak tua, menjadikan hati dan pikiranku terbuka yaitu ….BERSERAH DIRI….
Allah berfirman dalam Al Qur'an surah ke 31, ayat 22:
"Dan barangsiapa menyerahkan dirinya kepada Allah dan dia berbuat kebaikan, maka sesungguhnya dia berpegang kepada tali yang kukuh. Dan hanya kepada Allah kesudahan segala urusan".
Medio, Selasa 9 Desember 2008.
Lebih bergaul dan terhubung dengan lebih baik. Tambah lebih banyak teman ke Yahoo! Messenger sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/ invite/
- 9a.
-
(catcil) Kasih Anak untuk Sebuah Cinta
Posted by: "febty febriani" inga_fety@yahoo.com inga_fety
Tue Dec 9, 2008 5:06 pm (PST)
Kasih
Anak untuk Sebuah Cinta
Inga
Fety
Jam masih menunjukkan sekitar pukul setengah lima. Tapi, langit bumi
sakura sudah gelap. Waktu sholat magribpun sudah berlalu beberapa
menit yang lalu. Aku masih di kereta. Terdengar dalam indera
pendengaranku. Sebentar lagi, kereta yang kutumpangi akan menuju
stasiun terdekat dengan asramaku. Aku sudah terjaga dari tidurku
sejak naik kereta sekitar empatpuluh lima menit yang lalu. Rasa capek
itu sudah terbayar dengan nyenyaknya tidur panjang itu.
Tepat
di stasiun terdekat dengan asramaku. Kereta berhenti. Pintupun
terbuka otomotas. Kulangkahkan kaki menuju platform stasiun.
Dinginpun menyergap. Memang menjelang musim dingin. Bahkan
hari-hari-hariku sepanjang bulan ini sudah berteman dengan suhu
sekitar sepuluh derajat. Alhamdulillah, saat ini, tubuhku yang memang
rentan udara dingin sudah mampu sedikit demi sedikit beradaptasi.
Kulangkahkan
kaki menuju eskalator ke arah pintu keluar stasiun. Dan
dinginpun kembali lebih menerpa wajahku setelah benar-benar bertemu
dengan udara malam yang sesungguhnya. Tinggallah hanya sebuah jaket
tebal yang berjuang menahan dingin masuk menusuk ke kulit. Stasiun
terdekat dengan asramaku itu tidak terlalu ramai malam itu. Mungkin,
juga karena hari itu adalah hari minggu, saat pilihan berkumpul
bersama keluarga berada pada prioritas utama. Apalagi, di saat udara
dingin menyergap seperti saat ini. Hmm, lebih enak bercengkerama
dengan keluarga ditemani pemanas ruangan, secangkir coklat atau kopi
susu panas dan stoples makanan hangatkan?
Kulangkahkan
kaki menuju convenient store terdekat. Malam ini, aku
bermaksud menelepon bapak ibuku tercinta. Sudah hampir dua minggu
tidak bersua dengan mereka dalam percakapan melalui telepon. Apalagi,
besok adalah hari raya Idul Adha. Bertalu-talu takbir dalam kesedihan
di hatiku. Hmm, entah ini Idul Adhaku yang keberapa berada jauh dari
orang-orang yang tercinta. Aku tidak ingin menghitungnya. Hanya
mengingatkan pada sebuah lara, juga kesendirian.
Tepat
di hadapanku, seorang anak kecil, mungkin berusia sekitar empat
tahun, mengenggam erat sebelah tangan seorang ibu. Pada sebelah
tangan yang lain, sang ibu menggamit erat tangan seorang gadis kecil
yang berjalan beriringan di belakangnya. Si gadis kecil itu mungkin
berusia sekitar dua tahun. Dalam pikiranku gadis kecil berusia dua
tahun itu adalah adik kecil dari gadis kecl berusia sekitar empat
tahun yang menjadi pemandu dalam iringan-iringan kecil itu. Jalanku
yang terburu-buru tidak terlalu memperhatikan. Tapi, sekelebat aku
melihat, si ibu tidak bisa melihat. Aku tercekat. Ah mungkin aku
salah lihat, pikirku. Mungkin si ibu sedang mengajari gadis kecil
berusia sekitar empat tahun itu menjadi pemandu iringan-iringan
mereka. Dan akupun berlalu.
Saat
menuju ke tempat sepedaku terparkir, setelah membeli kartu telepon
untuk menelepon bapakibu nanti malam, kembali aku berpapasan dengan
iringan-iringan kecil itu. Kali ini aku mempunyai waktu untuk
memperhatikan dengan seksama. Ternyata, penglihatanku tidak salah.
Sang ibu memang tidak bisa melihat. Dan gadis kecil yang berusia
sekitar empat tahun itu yang pemandu perjalanan mereka malam itu.
Sedangkan si kecil yang berusia sekitar dua tahun itu menjadi
pengikut setia bagi sang ibu dan kakaknya.
Aku
tertegun sesaat saat memperhatikan pemandangan itu. Refleks, kalimat
penganggungan pada Sang Khalik terucap dari lisanku. Sungguh
terbayang di benakku, sebuah tanggung jawab berat di pundak si gadis
kecil empat tahun itu. Entah perjalanan sejauh mana yang telah
ditempuh mereka, sehingga bertemu denganku di halaman stasiun itu.
Entah di mana pula rumah mereka. Tapi, dalam gelap malam dan sergapan
udara dingin, pastilah ada sebuah kepentingan yaang mendesak yang
membuat ibu dan dua anaknya harus melangkahkan kaki melawan dingin
dengan balutan langit malam.
Kuperhatikan
sesaat. Timbul sebuah hasrat untuk menolong. Tapi, segera kuurungkan
niat itu. Negeri ini tidak terlalu bersahabat dengan orang asing.
Pilihan menjadi orang yang cuek dengan sekitar adalah sebuah pilihan
yang dipilih dengan kesadaran, Dan akhirnya, aku hanya benar-benar
menjadi penonton iringan-iringan kecil itu. Kuperhatikan, mereka
menuju toko roti terdekat dengan halaman stasiun. Mungkin untuk menu
makan malam mereka, pikirku.
Ah,
sudahlah. Kuputuskan untuk segera meninggalkan halaman stasiun.
Kuambil sepedaku. Kukayuh pedalnya menuju asrama. Sempat kulihat
mereka di dalam toko roti itu. Sedang memilih aneka ragam roti yang
terpajang rapi di etalase. Seorang pelayan menemani mereka memilih.
Ah, semoga nanti di perjalanan pulang mereka juga dipertemukan dengan
orang yang mengenal mereka dan menjadi teman perjalanan pulang
mereka. Tetap tidak terbayang di benakku, jika seandainya tetap hanya
gadis kecil berusia empat tahun itu yang menjadi penunjuk jalan.
Bisakah?
Bukan,
aku bukan bermaksud meremehkan kemampuan si kecil. Di negeri ini,
nilai kemandirian memang sudah ditanamkan sejak masih usia balita.
Mungkin, karena alam yang keras menuntut para orang tua menanamkan
nilai kemandirian itu sejak dini. Adalah wajar saat melihat anak usia
2 atau 3 tahunan hanya dipapah sang ibu ketika menyeberang jalan.
Juga tidak perlu kaget saat melihat anak-anak usia dibawah batita
sudah duduk rapi menyantap menu makanannya, tidak digendong atau
berlari kesana-kemari.
Sepanjang
perjalanan pulang menuju asrama, peristiwa kecil itu semakin
menari-nari di pelupuk mataku. Sungguh aku kagum ada si gadis kecil.
Hari itu aku belajar sebuah makna tanggung jawab. Bukan pada negara.
Bukan pada masyarakat. Tapi, pada orang tua yang mendidikku sejak aku
masih berupa gumpalan daging di rahim ibuku. Karena aku yakin,
tertunaikannya tanggung jawab pada orang tua, maka tanggung jawab
yang lain juga akan tertunaikan dengan sempurna. Ah, terima kasih
gadis kecil. Hari ini aku belajar darimu. Malam itu aku semakin
kangen kampung halamanku. Kangen pada orangtuaku.
Inage,
Desember 2008~ http://ingafety.wordpress. ~com
- 9b.
-
Re: (catcil) Kasih Anak untuk Sebuah Cinta
Posted by: "sismanto" siril_wafa@yahoo.co.id siril_wafa
Tue Dec 9, 2008 6:57 pm (PST)
kasihan sekali ya mbak, anak sekecil itu memangku tanjunggjawab
mengantarkan ibunya ke sana- kemari.
benar-benar cinta seorang anak kepada ibunya :)
-sis-
--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups. , febty febrianicom
<inga_fety@...> wrote:
>
>
>
> Kasih
> Anak untuk Sebuah Cinta
> Inga
> Fety
- 9c.
-
Re: (catcil) Kasih Anak untuk Sebuah Cinta
Posted by: "inga_fety" inga_fety@yahoo.com inga_fety
Tue Dec 9, 2008 8:39 pm (PST)
begitulah mas sis, yang bikin kagum dengan usianya yang masih balita.
itu aja:)
salam,
fety
--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups. , "sismanto" <siril_wafa@com ...>
wrote:
>
> kasihan sekali ya mbak, anak sekecil itu memangku tanjunggjawab
> mengantarkan ibunya ke sana- kemari.
> benar-benar cinta seorang anak kepada ibunya :)
>
> -sis-
>
> --- In sekolah-kehidupan@yahoogroups. , febty febrianicom
> <inga_fety@> wrote:
> >
> >
> >
> > Kasih
> > Anak untuk Sebuah Cinta
> > Inga
> > Fety
>
- 10.
-
TIGA KATA LAGI (CATATAN KAKI)
Posted by: "arya noor amarsyah arya" arnabgaizir@yahoo.co.id arnabgaizir
Tue Dec 9, 2008 6:21 pm (PST)
Pilihan
kata kali ini adalah;
Kalkulator,
modem dan album foto
1. "Keluarkan kertas kosong, siapkan pena! Kita ulangan
matematika hari ini!" ujar pak Gono tiba-tiba.
"Ulangan pak??" seru anak-anak murid SD petang III Bekasi
hampir bersamaan.
"Ya. Kita ulangan. Saya ingin tahu sejauh mana kemampuan
kalian dalam menjawab soal-soal matematika. Apakah kalian memang benar-benar
mengerti atau tidak. Di sinilah terlihat. Karena yang namanya matematika itu
bukan dihapal, yang namanya matematika itu dipahami dan dimengerti. Jika memang
ada hal yang harus dihapal, paling hanya sekitar masalah rumus. Bagaimana?
Siap?
Macam-macam jawaban yang keluar dari mulut anak-anak. Ada
yang sedikit menggerutu, ada yang menjawab menandakan kata setuju dan ada pula
yang bertanya.
"Pak boleh menggunakan kalkulator?"
"Boleh…..boleh….." jawab pak Gono singkat
Bagi murid yang benar-benar mengerti dan paham dapat menjawab
pertanyaan pak Gono dengan mudah. Sebaliknya, bagi mereka yang tidak mengerti
akan kebingungan. Dia berulang kali menggunakan kalkulatornya, namun tetap saja
jawaban tidak ditemukan. (Ayo ……apa lagi? Bagaimana kaitannya dengan kata album
foto dan modem?)
Salah satunya Amir, dia termasuk murid yang kebingungan
menjawab. Dia membuka tasnya. Bukan buku catatan matematika yang ditemukan,
tapi sebuah album foto kecil yang ada di sana. Dia bertambah terkejut,
ternyata album foto itu berisikan foto-foto modem dengan berbagai
merek. Amir teringat kakak tertuanya,
Faisal. Kak Faisal memang seorang programmer dan kali ini dia sedang berupaya
mengumpulkan uang untuk modal membuka rental warnet.
Tapi tetap saja Amir masih bingung. Mengapa berbagai barang
milik kakaknya ada di tas dirinya. Ingin tahu kelanjutannya? Berimajinasi lah
dan teruskan. Silahkan digunakan untuk ide penulisan, gratis!
2. Engkoh Liong penjual komputer di
daerah kota sedang sibuk melayani pembelinya.
Ada yang membeli printer, modem dan bahkan satu set komputer.
Walau keturunan Cina, dia tidak lagi menggunakan Sempoa dalam mengkalkulasi
biaya yang harus dibayar oleh pembelinya. Dia sudah menggunakan kalkulator.
(ayo bingung……bagaimana mengkaitkannya dengan kata album foto).
Di saat menjelang makan siang,
seorang wartawan ibu kota mendatangi toko Engkoh Liong ini. Sang wartawan
mendatangi toko Engkoh Liong untuk memesan 5 set komputer dan juga ingin
mewancarainya.
"Sudah berapa lama Engkoh Liong buka
toko komputer di sini?"
"Kalau toko komputer di sini muncul
setahun setelah komputer sedang booming di dunia," jawab Engkoh
"Sebelum toko komputer, nenek moyang
saya membuka toko obat-obatan di sini. Nama tokonya sama dengan toko komputer,
yaitu Chian Lam."
"Oh ya, nak wartawan mau melihat album
foto nenek moyang saya ketika masih membuka toko obat di sini?"
(Kelanjutannya silahkan diteruskan, mungkin dapat dijadikan ide cerita para
pembaca)
arnabgaizir.blogspot. com
arnab20.multiply.com
Pemerintahan yang jujur & bersih? Mungkin nggak ya? Temukan jawabannya di Yahoo! Answers! http://id.answers.yahoo.com
- 11.
-
[Maklumat] Foto-foto Qurcil SK Bandung
Posted by: "Lia Octavia" liaoctavia@gmail.com octavialia
Tue Dec 9, 2008 7:23 pm (PST)
Assalamu'alaikum wrwb
Sahabat-sahabat SK, foto-foto kegiatan QURCIL SK di Bandung dapat dilihat
di:
http://sekolahkehidupan.multiply. com/photos/ album/10/ QURCIL_SK_ -_Sindanglaya_ Cicaheum_ Bandung_Senin_ 8_Desember_ 2008
dan
http://groups.yahoo.com/ group/sekolah- kehidupan/ photos/album/ 1498215997/ pic/list
Salam
Lia
- 12a.
-
[ruang keluarga] Keluguan Seorang Anak
Posted by: "Putri Agus Sofyan" iastrito126ps@yahoo.co.id
Tue Dec 9, 2008 7:53 pm (PST)
Hari yang cerah....Tetap Semangat...
Keluguan Seorang Anak
Iastrito
Pernahkah terbayang dalam pikiran kita, bila mendapatkan pertanyaan seputar seks bebas yang dilontarkan oleh seorang anak dan kita tergagap untuk memberikan jawabannya. Sementara pertanyaan tersebut ia dapatkan dari mendengar melalui tayangan televisi.
Mungkin pertanyaan dari mana adik keluar; Kenapa diperut mama yang besar ini ada adik,bukannya nasi; pertanyaan seputar perbedaan organ tubuh antara laki-laki dan perempuan, sering dipertanyaan seorang anak kepada ibunya dan ibu akan berusaha menjawab serta memberikan perumpamaan atau penggambaran yang dapat diterima sesuai dengan alam pikiran usia anak agar apa yang telah disampaikan kepadanya tidak salah atau menyesatkan, karena daya ingat anak sangat kuat.
Aku hanya ingin berbagi saja atas peristiwa yang terjadi tadi malam.
Sekitar jam tujuh malam, selesai mengerjakan pekerjaan rumah (PR), Ana, anak kedua menyalakan televisi untuk menonton salah satu sinetron kesukaannya. Sementara Raga, anak sulung sedang mengerjakan tugas kuliah dan Ito, anak bungsu sedang mengerjakan pekerjaan rumah. Sedangkan aku menyiapkan makan malam sebelum ayahnya anak-anak pulang.
Selesai mengerjakan pr, Ito bergabung bersama Ana untuk menonton televisi sambil mewarnai buku gambarnya. Ito memang suka sekali dengan menggambar dan mewarnai. Setiap kemana saja, ia selalu membawa buku gambar dan krayon. Alhamdulilah, kegiatan yang positif daripada ia harus ikut menonton televisi dengan serius.
Setelah selesai menata makanan di meja makan, akupun bergabung dengan mereka di ruang keluarga disusul dengan Raga. Akhirnya kami berempat berkumpul bersama sambil menanti ayahnya pulang.
Cerita sinetron cukup seru, sampai-sampai Ana larut dalam alur yang ada dalam cerita itu. Tak lama kemudian, cerita sinetron diselingi dengan propaganda-propaganda…mulai dari berbagai partai, produk-produk rumah tangga sampai pada hal-hal yang dilarang seperti anti korupsi, anti narkoba dan anti-anti lainnya yang dapat merusak moral bangsa. Tiba-tiba muncul salah satu propaganda anti AIDS….inti yang disampaikan adalah menjauhi free sex atau menggunakan kondom.
Setelah tayangan propaganda lewat dan berlanjut cerita sinetron, tiba-tiba Ito yang semula sedang asik mewarnai, memanggil dan bertanya sesuatu dengan wajah yang benar-benar lugu,"Ma….ma….. memang fi sek (baca:free sex) itu apa sih".
"Ma….apa fi sek itu."lanjutnya.
"Free sex, De,bukan fi sek,"Ana memperjelas kalimat adiknya.
"Iya, itu….. fi sek,"kembali Ito menjawab.
"Free sex itu pergaulan bebas,"jawab Raga memberikan penjelasan.
"Kok pergaulan bebas bisa kena aids. Aids emang apa, Mas,"lanjut Ito bertanya kembali.
Aku hanya mendengar dan melihat percakapan kakak adik yang berada diruang keluarga.
Mungkin karena kakaknya lama menjawab pertanyaan Ito…. Kemudian Ito menghampiriku yang tak jauh duduknya dari mereka bertiga. "Ma…ma…apa sih…Dede gak tau,"lanjutnya sambil memanggil dan menggoyangkan tanganku.
Bismilah…Ya Allah…mudah-mudahan aku tidak salah menjawab, doaku sebelum menjawab pertanyaan Ito. Walau kedua anakku yang lain telah remaja dan tahu akan arti Free Sex, tapi aku harus menjelaskan agar mereka juga paham dan bisa menjaga diri sendiri.
Gini…lanjutku sambil memangku Ito duduk dipangkuanku… free sex itu biasa dilakukan oleh orang-orang yang sudah gede. Free sex itu, hubungan antara lelaki dan perempuan….
"kalau Dede sama Hani, namanya fi sek juga ya Ma. Kan Dede setiap hari hubungan terus sama Hani….Hani duduknya disebelah Dede….Dede suka nanya Hani…Hani juga suka nanya ke Dede malah Dede sering dicubit pipinya sama Hani…,"Ito memutus kalimatku dengan pertanyaan yang lain…
"Begini…Dede jangan mutus omongan mama dulu, biar Dede ngerti," kataku sambil melihat Raga dan Ana yang sedang senyum-senyum kecil..
"hmmm…. Free sex itu kalau dilakukan bisa jadi penyakit. Penyakitnya gak sembuh-sembuh…obatnya susah…dan Allah sangat….sangat…marah sama orang-orang yang melakukan free sex…makanya kita harus bisa menjauhi free sex agar Allah sayang sama kita…"lanjutku (uuuuffffg…apa lagi yha…sementara aku sudah tidak ada kata-kata lagi untuk disampaikan….panas dingin…seperti sedang ujian.. :->)
"Terus kok fi sek bisa kena aids,kok Allah marah…"tanyanya lebih lanjut…
"Aids itu penyakitnya…. Allah marah karena……." din….din…. terdengar klakson mobil ayah dan Alhamdulilah…ayah telah pulang....uuuffff...aku terbebas dari masalah yang satu ini….masalah untuk menjelaskan yang sebenar-benarnya…
"Hore….ayah pulang…."teriak Ito sambil turun dari pangkuanku dan berlari menuju ruang tamu untuk mengintip dari balik horden seperti biasa yang dilakukannyabila ayahnya pulang malam.
"Bingung ya Ma….Mas aja bingung ngejelasinnya,"ledek Raga kepadaku sambil tertawa dan berlari tuk membukakan pintu gerbang….
Uuuffffff….pertanyaan yang sulit untuk dijawab khususnya buatku….. pertanyaan dari keluguan seorang anak…..
Itulah…yang terjadi pada diriku tadi malam. Hal yang sulit menjelaskan kepada anak berusia enam tahun tentang Free Sex dan Aids……
Medio, Rabu 10 Desember 2008
Selalu bisa chat di profil jaringan, blog, atau situs web pribadi! Yahoo! memungkinkan Anda selalu bisa chat melalui Pingbox. Coba! http://id.messenger.yahoo.com/ pingbox/ - 12b.
-
Re: [ruang keluarga] Keluguan Seorang Anak
Posted by: "inga_fety" inga_fety@yahoo.com inga_fety
Tue Dec 9, 2008 8:54 pm (PST)
hmm, bingung juga yah bu?:)
salam,
fety
--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups. , Putri Agus Sofyancom
<iastrito126ps@...> wrote:
>
> Hari yang cerah....Tetap Semangat...
>
>
> Keluguan Seorang Anak
> Iastrito
> Â
> Â
> Â
> Pernahkah terbayang dalam pikiran kita, bila mendapatkan pertanyaan
seputar seks bebas yang dilontarkan oleh seorang anak dan kita
tergagap untuk memberikan jawabannya. Sementara pertanyaan tersebut ia
dapatkan dari mendengar melalui tayangan televisi.
> Â
> Mungkin pertanyaan dari mana adik keluar; Kenapa diperut mama yang
besar ini ada adik,bukannya nasi; pertanyaan seputar perbedaan organ
tubuh antara laki-laki dan perempuan, sering dipertanyaan seorang anak
kepada ibunya dan ibu akan berusaha menjawab serta memberikan
perumpamaan atau penggambaran yang dapat diterima sesuai dengan alam
pikiran usia anak agar apa yang telah disampaikan kepadanya tidak
salah atau menyesatkan, karena daya ingat anak sangat kuat.
> Â
> Aku hanya ingin berbagi saja atas peristiwa yang terjadi tadi malam.
> Â
> Sekitar jam tujuh malam, selesai mengerjakan pekerjaan rumah (PR),
Ana, anak kedua menyalakan televisi untuk menonton salah satu sinetron
kesukaannya. Sementara Raga, anak sulung sedang mengerjakan tugas
kuliah dan Ito, anak bungsu sedang mengerjakan pekerjaan rumah.
Sedangkan aku menyiapkan makan malam sebelum ayahnya anak-anak pulang.
> Â
> Selesai mengerjakan pr, Ito bergabung bersama Ana untuk menonton
televisi sambil mewarnai buku gambarnya. Ito memang suka sekali dengan
menggambar dan mewarnai. Setiap kemana saja, ia selalu membawa buku
gambar dan krayon. Alhamdulilah, kegiatan yang positif daripada ia
harus ikut menonton televisi dengan serius.
> Â
> Setelah selesai menata makanan di meja makan, akupun bergabung
dengan mereka di ruang keluarga disusul dengan Raga. Akhirnya kami
berempat berkumpul bersama sambil menanti ayahnya pulang.
> Â
> Cerita sinetron cukup seru, sampai-sampai Ana larut dalam alur yang
ada dalam cerita itu. Tak lama kemudian, cerita sinetron diselingi
dengan propaganda-propagandaâ¦mulai dari berbagai partai,
produk-produk rumah tangga sampai pada hal-hal yang dilarang seperti
anti korupsi, anti narkoba dan anti-anti lainnya yang dapat merusak
moral bangsa. Tiba-tiba muncul salah satu propaganda anti AIDSâ¦.inti
yang disampaikan adalah menjauhi free sex atau menggunakan kondom.
> Â
> Setelah tayangan propaganda lewat dan berlanjut cerita sinetron,
tiba-tiba Ito yang semula sedang asik mewarnai, memanggil dan bertanya
sesuatu dengan wajah yang benar-benar lugu,âMaâ¦.maâ¦.. memang fi
sek (baca:free sex) itu apa sihâ.
> Â
> âMaâ¦.apa fi sek itu.âlanjutnya.
> Â
> âFree sex, De,bukan fi sek,âAna memperjelas kalimat adiknya.
> Â
> âIya, ituâ¦.. fi sek,âkembali Ito menjawab.
> Â
> âFree sex itu pergaulan bebas,âjawab Raga memberikan penjelasan.
> Â
> âKok pergaulan bebas bisa kena aids. Aids emang apa, Mas,âlanjut
Ito bertanya kembali.
> Â
> Aku hanya mendengar dan melihat percakapan kakak adik yang berada
diruang keluarga.
> Â
> Mungkin karena kakaknya lama menjawab pertanyaan Itoâ¦. Kemudian
Ito menghampiriku yang tak jauh duduknya dari mereka bertiga.
âMaâ¦maâ¦apa sihâ¦Dede gak tau,âlanjutnya sambil memanggil dan
menggoyangkan tanganku.
> Â
> Bismilahâ¦Ya Allahâ¦mudah-mudahan aku tidak salah menjawab, doaku
sebelum menjawab pertanyaan Ito. Walau kedua anakku yang lain telah
remaja dan tahu akan arti Free Sex, tapi aku harus menjelaskan agar
mereka juga paham dan bisa menjaga diri sendiri.
> Â
> Giniâ¦lanjutku sambil memangku Ito duduk dipangkuanku⦠free sex
itu biasa dilakukan oleh orang-orang yang sudah gede. Free sex itu,
hubungan antara lelaki dan perempuanâ¦.
> âkalau Dede sama Hani, namanya fi sek juga ya Ma. Kan Dede setiap
hari hubungan terus sama Haniâ¦.Hani duduknya disebelah Dedeâ¦.Dede
suka nanya Haniâ¦Hani juga suka nanya ke Dede malah Dede sering
dicubit pipinya sama Haniâ¦,âIto memutus kalimatku dengan
pertanyaan yang lainâ¦
> Â
> âBeginiâ¦Dede jangan mutus omongan mama dulu, biar Dede
ngerti,â kataku sambil melihat Raga dan Ana yang sedang
senyum-senyum kecil..
> Â
> âhmmmâ¦. Free sex itu kalau dilakukan bisa jadi penyakit.
Penyakitnya gak sembuh-sembuhâ¦obatnya susahâ¦dan Allah
sangatâ¦.sangatâ¦marah sama orang-orang yang melakukan free
sexâ¦makanya kita harus bisa menjauhi free sex agar Allah sayang
sama kitaâ¦âlanjutku (uuuuffffgâ¦apa lagi yhaâ¦sementara aku
sudah tidak ada kata-kata lagi untuk disampaikanâ¦.panas
dinginâ¦seperti sedang ujian.. :->)
> Â
> âTerus kok fi sek bisa kena aids,kok Allah marahâ¦âtanyanya
lebih lanjutâ¦
> Â
> âAids itu penyakitnyaâ¦. Allah marah karenaâ¦â¦.â
dinâ¦.dinâ¦. terdengar klakson mobil ayah dan Alhamdulilahâ¦ayah
telah pulang....uuuffff...aku terbebas dari masalah yang satu
iniâ¦.masalah untuk menjelaskan yang sebenar-benarnyaâ¦
> Â
> "Horeâ¦.ayah pulangâ¦."teriak Ito sambil turun dari pangkuanku dan
berlari menuju ruang tamu untuk mengintip dari balik horden seperti
biasa yang dilakukannyaÂbila ayahnya pulang malam.
> Â
> âBingung ya Maâ¦.Mas aja bingung ngejelasinnya,âledek Raga
kepadaku sambil tertawa dan berlari tuk membukakan pintu gerbangâ¦.
> Â
> Uuuffffffâ¦.pertanyaan yang sulit untuk dijawab khususnya
buatkuâ¦.. pertanyaan dari keluguan seorang anakâ¦..
> Â
> Itulahâ¦yang terjadi pada diriku tadi malam. Hal yang sulit
menjelaskan kepada anak berusia enam tahun tentang Free Sex dan Aidsâ¦â¦
> Â
> Medio, Rabu 10 Desember 2008
>
>
> Selalu bisa chat di profil jaringan, blog, atau situs web
pribadi! Yahoo! memungkinkan Anda selalu bisa chat melalui Pingbox.
Coba! http://id.messenger.yahoo.com/ pingbox/
>
Need to Reply?
Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Individual | Switch format to Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
Tidak ada komentar:
Posting Komentar