Senin, 10 Mei 2010

[daarut-tauhiid] Jujur Dengan Dakwah

http://www.dakwatuna.com

Jujur Dengan Dakwah

Oleh: Dr. Attabiq Luthfi, MA
________________________________


dakwatuna.com – Ash-shidq (kejujuran) merupakan "Faridhah Diniyyah"
satu kewajiban agama yang berlaku dalam semua bidang kehidupan dan
dalam semua keadaan. Baik dalam konteks kehidupan pribadi maupun
kehidupan berjamaah. Karena kejujuran menunjukkan keikhlasan seseorang
yang tertinggi dalam beramal. Bahkan kekuatan suatu ucapan atau
tindakan justru ditentukan oleh kejujurannya. Ketika orang-orang
munafik mengatakan tentang Rasulullah dan secara lahir ucapan itu
benar "Kami bersaksi bahwa engkau (Muhammad) adalah utusan Allah",
namun Allah tetap membantah dan mencap mereka sebagai para pendusta
karena kebenaran ucapan mereka hanya sebatas di lisan, tidak disertai
dengan kebenaran hati. "Apabila orang-orang munafik datang kepadamu,
mereka berkata: "Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar
Rasul Allah." Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar
Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik
itu benar-benar orang pendusta". (Al-Munafiqun: 1)

Demi keagungan sifat shidiq, Allah menyifati diri-Nya dengan sifat ini
di dalam beberapa ayat Al-Qur'an. Seperti dalam surah Ali Imran: 95,
"Katakanlah: "Benarlah (apa yang difirmankan) Allah." Juga dalam surah
An-Nisa: 122 "Dan siapakah yang lebih benar perkataannya dari pada
Allah?" Dan siapakah orang yang lebih benar perkataan(nya) dari pada
Allah?" (An-Nisa': 87) dan surah Al-Ahzab: 22, "Dan benarlah Allah dan
Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka
kecuali iman dan ketundukan".

Beberapa Rasul-Nya juga dimuliakan dan dihiasi dengan sifat ini dalam
dakwah mereka, seperti dalam surah Yasin: 53 Allah menjamin kebenaran
dan kejujuran para Rasul dalam menyampaikan risalah-Nya, "Inilah yang
dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul- rasul(-Nya)".
dan Maryam: 54. "Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah
Ismail (yang tersebut) di dalam Al-Qur'an. Sesungguhnya ia adalah
seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi."
Bahkan sifat ini merupakan sifat dasar para pengemban dakwah. Terutama
Rasulullah saw selaku uswah dalam semua sifat-sifat yang baik. Bahkan
sebelum diangkat menjadi Rasul, beliau sudah dikenal di tengah-tengah
masyarakatnya dengan gelar "Ash-shadiqul Amin". Sangat jelas
kepemimpinan dalam dakwah sangat menuntut keteladanan dalam kejujuran
dan kebenaran dalam aktivitas dakwahnya.

Begitu besar nilai shidiq dalam kehidupan seseorang. Tentunya bagi
seorang dai. Bahkan jika seseorang mampu komitmen dengan sifat ini
dalam apa jua keadaan dan tidak pernah meninggalkannya, maka ia akan
meraih gelar shiddiq. Dan kedudukan orang-orang shiddiqin adalah di
bawah kedudukan para nabi. "Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan
Rasul(-Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang
dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiqin,
orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah
teman yang sebaik-baiknya". (An-Nisa': 69)

Diriwayatkan bahwa ketika orang-orang musyrik sepakat untuk
melontarkan tuduhan keji kepada Rasulullah, tiba-tiba salah seorang
yang dikenal sangat memusuhi Rasulullah yaitu An-Nadhr bin Al-Harits
malah berbicara dengan lantang di hadapan mereka karena kebenaran dan
kejujuran Rasulullah yang tidak bisa disangsikan lagi dan sudah
menjadi buah bibir orang banyak. "Muhammad adalah seorang yang masih
beliau percaya di antara kalian. Ia seorang yang paling benar
ucapannya, paling besar sifat amanahnya. Jika ia dikenal demikian,
apakah kalian tetap akan menuduhnya sebagai tukang sihir? Tidak,
sungguh ia bukan tukang sihir". Ternyata kejujuran justru bisa menjadi
pelindung dari rekayasa dan upaya musuh menghasut kita, secara
internal maupun eksternal. Sebaliknya, jika kejujuran atas komitmen
dengan dakwah ini berkurang, maka akan mempermudah masuknya rekayasa
eksternal atau timbulnya ekses internal yang berdampak kepada
menghambat perkembangan dakwah, karena beberapa energi akan
dialokasikan untuk membenahi kejujuran secara internal.

Selanjutnya Al-Qur'an menetapkan bahwa sifat shidiq adalah cermin dan
sifat dasar orang-orang pilihan dari hamba-hamba-Nya yang shaleh, taat
dan lurus, padahal keshalehan, ketaatan dan kelurusan merupakan bagian
yang dituntut dalam menegakkan dakwah. Allah menggambarkan sifat
orang-orang pilihan-Nya dalam surah Az-Zumar: 33 "Dan orang yang
membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah
orang-orang yang bertaqwa". Juga dalam surah Al-Hasyr ayat 8 yang
menggambarkan kemuliaan orang-orang Muhajirin, "dan mereka menolong
Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar."

Allah sendiri memerintahkan orang-orang yang beriman agar senantiasa
bersikap shidiq setelah perintah-Nya agar mereka bertaqwa. Sehingga
kesempurnaan ketakwaan seseorang harus senantiasa diiringi dengan
kejujuran dan kebenaran. "Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah
kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar."
(At-Taubah: 119). Sesungguhnya dalam ayat ini terdapat dua perintah
sekaligus, yaitu agar orang-orang beriman senantiasa bersifat shidiq,
juga senantiasa berada dalam barisan bersama orang-orang yang shadiq.

Bahkan dalam rangka melakukan konsolidasi dan penguatan barisan
aktivis dakwah, Allah memerintahkan Rasul-Nya agar senantiasa mencari
dan mengawasi para pengikutnya, sampai benar-benar ia mengetahui
orang-orang yang shadiq di antara mereka demi memelihara kemuliaan
mereka dan mengetahui orang-orang yang dusta untuk mewaspadai
gerak-gerik mereka. Allah menegaskan dalam firman-Nya, "Semoga Allah
memaafkanmu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak
pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar (dalam
keuzurannya) dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta?"
(At-Taubah: 43)

Terkait dengan ayat ini, Ibnul Qayyim menjelaskan dengan rinci
keutamaan sifat shidiq di dalam kitabnya Madarijus Salikin, bahwa
dengan sifat ini akan dapat dibedakan antara orang-orang munafik
dengan orang-orang yang benar beriman. Sifat inilah yang menjadi ruh
amal perbuatan. Oleh karena itu kedudukannya di bawah kedudukan
kenabian yang merupakan kedudukan manusia tertinggi di atas muka bumi
ini".

Selanjutnya Ibnul Qayyim menjelaskan dengan lebih rinci bahwa sifat
ini sebagaimana dianjurkan dalam perkataan, juga dalam perbuatan dan
keadaan. Shidiq dalam perkataan artinya lurusnya lisan dengan ucapan
seperti lurusnya ranting di atas dahan. Shidiq dalam perbuatan adalah
tegaknya perbuatan sesuai dengan tuntunan perintah seperti tegaknya
kepala di atas tubuh seseorang. Dan shidiq dalam keadaan adalah
tegaknya amalan-amalan hati dan anggota badan atas dasar ikhlas,
kesungguhan dan pengerahan kemampuan yang maksimal.

Demikianlah beragam bentuk kejujuran yang harus dimiliki oleh setiap
aktivis dakwah. Dan kejujuran yang paling tinggi adalah kejujuran di
dalam memegang sumpah setia dan menunaikan janji dengan dakwah hingga
titik darah penghabisan. Seperti yang diisyaratkan oleh Allah dalam
firman-Nya yang menunjukkan hanya sebagian aktivis dakwah yang mampu
berbuat demikian. "Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang
yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di
antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang
menunggu- nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya)". (Al-Ahzab: 23)

Contoh dari kejujuran dalam Al-Wafa' bil Ahdi bisa ditemukan pada
pribadi Anas bin An-Nadhr. Ia telah merealisasikan kejujurannya dalam
berjanji dengan Allah untuk tetap teguh dalam dakwah hingga meraih
syahadah. Ternyata ia ditemukan syahid dengan kondisi tubuh yang penuh
dengan luka. Demikian juga kejujuran yang ditunjukkan oleh Mush'ab bin
Umair yang jujur dengan komitmen dakwahnya hingga ia syahid dalam
dakwah.

Dalam konteks ini, Imam At-Tirmidzi meriwayatkan dari Umar bin
Al-Khathab bahwa Rasulullah saw bersabda, "Para syuhada itu terbagi
empat golongan. Pertama di tingkat yang paling tinggi adalah seorang
mukmin yang baik imannya. Ia bertemu musuh lantas ia menunjukkan
kebenaran dengan janjinya hingga terbunuh. Kedua seseorang yang baik
imannya namun begitu takut bertemu musuh, namun kemudian ia terkena
anak panah yang nyasar dan meninggal. Ketiga seorang mukmin yang
bercampur amal baiknya dengan amal buruk, namun kemudian ia bertemu
musuh dan membenarkan janjinya hingga meninggal. Keempat seorang
mukmin yang banyak melakukan maksiat, namun kemudian ia bertemu musuh
dan terbunuh".

Dakwah ini akan bisa memberikan kebaikan dan keberkahan manakala dikemudikan dan

disertai oleh mereka yang berpegang teguh dengan sifat ini. Betapa
dalam urusan jual beli, Rasulullah menyatakan bahwa keberkahan hanya
akan diraih jika kedua belah pihak mengedepankan sifat ini. Namun
keberkahan itu akan dicabut manakala keduanya atau salah seorang dari
mereka tidak peduli lagi dengan kejujuran. "Kedua pihak (penjual dan
pembeli) berhak untuk menentukan pilihan selama mereka belum berpisah.
Jika keduanya jujur dan menjelaskan apa adanya maka jual beli mereka
akan mendapatkan keberkahan. Namun manakala keduanya berbohong dan
menyembunyikan kebenaran, maka keberkahan itu akan dicabut kembali".
(Al-Hadits)

Memang bukan hal yang mudah untuk bisa jujur dalam segala urusan dan
dalam semua keadaan. Untuk itu, Nabi Ibrahim, seorang nabi yang shaleh
masih tetap dengan penuh tawadhu' memohon kepada Allah agar senantiasa
tutur katanya dijaga oleh Allah sehingga menjadi contoh yang baik bagi
generasi kemudian. Ibrahim berdoa: "Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku
hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh,
dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang)
kemudian". (Asy-Syu'ara': 83-84)

Agar bisa dan terbiasa jujur dengan orang lain, perlu diawali dengan
jujur terhadap diri sendiri. Terutama jujur dengan kewajiban-kewajiban
terhadap Allah swt. Tentu bisa komitmen dengan sifat ini dalam dakwah
membutuhkan motivasi yang tinggi, tekad yang bulat serta keyakinan
yang teguh. Diibaratkan oleh Ibnul Qayyim bahwa membawa sifat ini
dalam kehidupan seperti mengangkat gunung yang tinggi. Tidak akan ada
yang mampu mengangkatnya melainkan orang-orang yang kuat kemauan dan
niatnya. Karena kejujuran yang sesungguhnya adalah kejujuran yang
ditampilkan saat tidak ada yang bisa menyelamatkan nyawa kita kecuali
dengan berbohong.

Sebagai motivasi, perlu untuk senantiasa diingat balasan yang tinggi
bagi orang-orang yang bisa jujur, "Allah berfirman: "Ini adalah suatu
hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka.
Bagi mereka surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai; mereka
kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadap-Nya[457].
Itulah keberuntungan yang paling besar." (Al-Ma'idah: 119). Dan
sebaliknya akibat dan hukuman yang akan dikenakan terhadap orang-orang
yang dusta dalam hidupnya. Dan pada hari kiamat kamu akan melihat
orang-orang yang berbuat dusta terhadap Allah, mukanya menjadi hitam.
Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang
menyombongkan diri?" (Az-Zumar: 60) betapa kita mendambakan tampilkan
aktivis dakwah yang bias berpegang komit dengan kejujuran dan
kebenaran dalam segala situasi dan kondisi apapun, sehingga dakwah ini
akan lebih memberikan kebaikan dan keberkahan bagi umat Islam. Sudah
saatnya memang kita merefleksi sejauhmana tingkat kejujuran kita
dengan dakwah ini.Wallahu A'lam.

http://www.dakwatuna.com/2007/jujur-dengan-dakwah/


------------------------------------

====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
daarut-tauhiid-digest@yahoogroups.com
daarut-tauhiid-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
daarut-tauhiid-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

Tidak ada komentar: