Tulisan ini dikutip dari:
http://ahmadifham.wordpress.com/2011/03/14/tiada-hari-tanpa-berjudi/
Tiada Hari Tanpa Berjudi
Oleh Ahmad Ifham Sholihin
Weekend Sabtu Minggu adalah hari bola. Dari Sabtu siang hari sampai Senin dini
hari, kita bisa tonton pertandingan bola (siaran langsung atau tunda) yang bisa
dinikmati di berbagai channel Televisi.
Di sela-sela acara bola, biasanya ada kuis. Syarat ikut kuisnya tentu mudah,
tinggal ketig Reg Spasi Bola atau sejenisnya yang bertarif premium (Rp.2.000,-).
Setelah SMS, Anda akan terdaftar sebagai peserta yang nantinya berhak diundi
untuk ditelpon oleh panitia (TV), kemudian Anda diberi pertanyaan pilihan (yang
biasanya mudah dijawab, bahkan seringkali diberi klu jawaban oleh sang
presenter). Kalau berhasil kasih jawaban benar, Anda dapat hadiah
Rp.1.500.000,-.
Setelah teregister, Anda pun punya lagi sebuah kesempatan untuk memenangkan
undian berhadiah nonton bola langsung di Inggris (misalnya) dengan biaya,
akomodasi, transportasi, konsumsi, dll yang semuanya ditanggung oleh panitia.
Wah, menggiurkan sekali ya, apalagi bagi anda pecinta bola.
Ada jugagame berbeda yaitu Anda bisa memberikan dukungan atau komentar atas
pertandingan yang sedang berlangsung dengan kirim SMS ke bla bla bla. Selain
komentar Anda ditayangkan sebagai running text di televisi yang bisa dibaca oleh
jutaan pemirsa, Anda juga berhak menjadi peserta yang akan diundi untuk
memenangkan hadiah Rp.500.000,- misalnya.
Ternyata jenis kuis atau game seperti ini tak hanya ditemukan di bola. Ada juga
game model lain seperti lelang BB dan sejenisnya (yang harga normalnya lebih
dari Rp.5.000.000,-), namun di game ini dijual dengan harga bukaan di
Rp.12.000,- dan biasanya terjual tidak melampaui harga lebih dari Rp.50.000,-.
Untuk mengikuti kuis ini, Anda tinggal Ketig Reg Spasi Lelang kirim ke bla bla
bla. Setelah Anda teregister, Anda berhak menjadi peserta yang diundi untuk
ditelpon oleh panitia sehingga menjadi pemenang lelang BB tersebut. Game jenis
ini kayaknya ditayangkan setiap hari loh.
Ada lagi nih, game jenis Reg Spasi Hudgson atau Reg Spasi IGT atau Reg Spasi
Idol dan sejenisnya, kemudian kirim ke bla bla bla. SMS Anda bisa menambah
jumlah polling yang diperoleh orang yang Anda dukung di acara tersebut, dan
peserta polling akan diundi memperebutkan hadiah. Tarif SMSnya premium atau
bukan, saya gak tahu. Belum pernah nyoba dan ngecek.
Ada lagi misalnya pada acara penentuan award winner untuk pemenang kategori
aktor terbaik, aktris terbaik, band favorit, dan/atau di sini juga kita bisa
mendukung sebuah acara TV untuk jadi pemenangnya. Kalau ini saya gak tahu pasti
apakah SMS yang dikirim menggunakan tarif biasa, tarif premium atau digratiskan,
dan apalagi diiming-imingi dengan hadiah.
Nah, apakah ada yang salah dengan game semacam ini? Mari kita cermati. Pertama,
game tersebut mensyaratkan peserta memberikan iuran berupa SMS premium sebesar
Rp.2.000,- ke panitia. Woww, saya jadi membayangkan kalau ada 2 juta orang saja
yang kirim SMS, maka income panitia adalah 2.000 x 2.000.000 =
Rp.4.000.000.000,- Apalagi jika pengirim SMSnya lebih dari itu. Padahal hadiah
yang dikasih paling tak seberapa dengan income ataupun laba yang diperoleh.
Maklum lah "bisnis". Hehe.
Kedua, jika semua peserta memberikan iuran (berupa SMS dengan tarif Premium
tersebut), kemudian ada peserta yang jadi pemenang, dan ada peserta yang tidak
memperoleh sesuatu sama sekali atas game tersebut, jelas ini Zero Sum Game yang
dalam ranah syariah hal ini merupakan kategori saudara kandung dari judi
(maysir).
Ketiga, Akhirnya tidak perlu mencermati lebih jauh lagi karena indikasinya sudah
jelas. Nah, di Alquran, biasanya pelarangan atas maysir (judi dan zero sum game)
ini disejajarkan dengan pelarangan terhadap "candu" jenis khamr atau minuman
memabukkan. Khamr itu candu, maysir juga candu.
Agar terhindar dari game jenis judi ini, ada beberapa pilihan yang bisa
dilakukan: a. Kalau ingin bikin acara seperti itu, buatlah agar biaya SMS sesuai
tarif standar SMS, bukan tarif premium, atau b. Bikin agar biaya SMS untuk game
tersebut digratiskan. Ayo, berani gak!? Hehe kalau gratisan gak bisa berbuah
limpahan duit ya?; atau c. Bisa saja tarif premium diberlakukan untuk SMS
komentar yang ditayangkan di running text televisi, namun jangan sampai di acara
tersebut diiming-imingi hadiah; d. Jika dirasa alternatif solusi tersebut tidak
menarik, ya pilihannya tidak usah diadakan game demikian; e. Namun, ada lagi
alternatif berikutnya: biarkan acara tersebut berjalan apa adanya, jika memang
negeri ini sudah sangat sangat mafhum dengan praktek judi dan dampaknya. Korupsi
saja bisa menjamur kan, apalagi judi.
Kenapa sih judi itu dilarang? Dan apakah Anda harus jauhi larangan itu? Ada yang
bilang larangan itu muncul karena memang hal itu merupakan ketentuan larangan
firman Tuhan (ini bagi yang percaya sama Tuhan ya). Dalam hal ini bisa jadi
urusannya adalah "kalau itu larangan Tuhan, ya harus ditinggalkan. Kalau gak
ditinggalkan, maka dosa." Alasan ini pun tepat, meskipun memang aturan Tuhan itu
sejatinya kan ya untuk kita-kita juga manusia dan makhluk lainnya. Tidak percaya
dengan aturan Tuhan ya gak apa-apa. Namun ya ironis jika sampai mengeluh atas
dampaknya.
Ada lagi yang bilang, judi itu dilarang karena merugikan atau menzalimi hak
orang lain. Loh, kan pelakunya suka sama suka dan rela sama rela dalam
melakukannya? Ya, tentu bisa jadi secara kasat mata pelakunya suka dan rela.
Namun coba saja cek misalnya ambil 2 peserta: yang satu pemenang, yang satu yang
kalah, cek saja suasana hati mereka saat itu. Juga ada yang menganggap dua ribu
perak gak ada artinya bagi peserta? Hehehe saya gak yakin jika 2 ribu perak gak
ada artinya. Kalau gak ada artinya, mending disedekahkan saja kan. Dan juga cek
saja aktivitas transaksi 2 ribu perak itu bagi panitia dan pemenangnya, pasti
sangat menyenangkan baginya.
Namun, jangan samakan model menang kalah di sini dengan sejenis perlombaan yang
tidak melibatkan iuran lho. Kalau perlombaan di mana pesertanya tidak memberikan
iuran untuk pembelian hadiah, maka hal ini gak masalah.
Nah, bagaimana dengan perlombaan acara Agustusan? Ya pada prinsipnya sama saja.
Jika ada game yang peserta iurannya adalah peserta lomba juga dan hadiahnya
dibelikan dari uang iuran, hal ini merupakan zero sum game juga.
Dalam hal perlombaan acara Agustusan, agar terhindar dari zero sum game, ya
bikinlah acara bersama seperti pesta, makan-makan atau acara yang semua peserta
iuran bisa merasakan/memperoleh manfaat yang sama atas iuran masing-masing. Atau
kalau mau mengadakan lomba ya dana hadiah jangan diambilkan dari pos iuran
peserta, misalnya ambil saja dari sponsor. Hati-hati loh, hal ini "sangat
kaprah" (bukan "salah kaprah") telah lazim dilakukan oleh segenap masyarakat.
Bagaimana pula dengan hadiah yang diperoleh dengan syarat harus terlebih dulu
mengirimkan bungkus makanan instan? Atau bagaimana dengan status hadiah undian
tabungan di bank? Dalam hal ini, perusahaan penyelenggara pemberian hadiah bisa
berkilah karena biaya hadiah diambil dari laba perusahaan di tahun sebelumnya,
dan tidak mengambil hak konsumen/nasabah.
Kalau game model pengiriman bungkus makanan, ini memang tidak begitu dekat
dengan ranah zero sum game, namun lebih dekat dengan pembinaan perilaku
konsumtif dan mubadzir (yang dikatakan oleh Alquran sebagai perilaku syetan),
karena sebelum memperoleh kesempatan ikut undian berhadiah, konsumen harus
membeli makanan tersebut terlebih dahulu bahkan kalau bisa beli
sebanyak-banyaknya entah dia butuh atau tidak. Makanan itu tidak bisa diuangkan
lagi karena otomatis makanan tersebut harus dikonsumsi terlebih dahulu.
Lain halnya dengan undian berhadiah dari bank. Ini lebih aman dari kategori zero
sum game. Selain pembelian hadiah diambilkan dari laba perusahaan. Kesempatan
yang akan lebih banyak dimiliki oleh orang yang mempunyai tabungan lebih banyak,
cenderung dianggap lebih fair karena selain tidak mengurangi hak nasabah,
tabungan tersebut juga sewaktu-waktu bisa diambil/diuangkan/dimanfaatkan lagi
untuk berbagai hal, tidak seperti makanan yang mau gak mau harus dikonsumsi
terlebih dahulu.
Tentu, alangkah sedih dan malangnya orang yang gak punya tabungan dan gak punya
kesempatan diikutkan dalam undian. Ups, bukannya pengen bikin statement
berlebihan, namun kalau saya lihat undian berhadiah mobil Alphard, saya pun
pengen. Rasanya kok gak adil ya yang dapet hadiah mewah malah orang yang kaya
(punya tabungan banyak).
Nah, mungkin masih banyak lagi case-case serupa dalam kehidupan sehari-hari.
Jika Anda sependapat dengan saya, hati-hatilah ketika pengen ikut berpartisipasi
dalam game tersebut. Kalau masuk kategori zero sum game kan repot, karena akan
menyebabkan dampak yang tidak baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Untuk
kategori judi model taruhan, saya tidak bahas di sini karena terlalu jelas bahwa
hal ini dilarang dan akan menzhalimi orang lain.
So, apa yang harus kita lakukan? Ya mulailah dari diri sendiri untuk bisa
menghindari zero sum game tersebut, mengingatkannya kepada keluarga, teman, dan
publik. Adalah langkah lebih signifikan lagi jika kita bisa menguasai media
sehingga acara-acara zero sum game tidak lagi bertebaran dengan bebas di
televisi dan meracuni/menginstall otak publik.Bogor, 15 Maret 2011
Ahmad Ifham Sholihin
http://sharianomics.wordpress.com/
[Non-text portions of this message have been removed]
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================
Tidak ada komentar:
Posting Komentar