Jumat, 15 Mei 2009

[FISIKA] Digest Number 2741

Messages In This Digest (4 Messages)

Messages

1.

Artikel: The importance of stupidity in scientific research

Posted by: "Suharyo Sumowidagdo" sumowidagdo@gmail.com   haryo_hep

Wed May 13, 2009 5:08 pm (PDT)




Eddy Yusuf, salah satu rekan sesama alumni Fisika menunjukkan artikel ini ke saya. Saya kira bagus dibaca untuk memberikan sudut pandang 'betapa berbedanya dunia riset dengan dunia sekolah/kuliah'.

http://jcs.biologists.org/cgi/reprint/121/11/1771

Akses gratis, dan bisa download PDF.

2a.

sekali lagi tentang mata pelajaran berbahasa inggris

Posted by: "Rasahgelo" rasahgelo@yahoo.com   rasahgelo

Thu May 14, 2009 12:49 am (PDT)



saya termasuk orang yang kurang setuju dengan euforia pengajaran berbahasa inggris di sekolah menengah. pertama, jangankan diajarkan dalam bahasa inggris, diajarkan dalam bahasa ibu sendiri saja belum tentu dimengerti oleh semua anak didik. kedua, euforia berbahasa inggris bisa jadi memunculkan siswa-siswa yang bahasa inggrisnya tidak sangat bagus dan bahasa indonesianya parah.

terkait dengan yang terakhir, saya prihatin dengan adik-adik kita yang kelihatannya semakin kehilangan cara dan aturan menulis (surat) yang baik, bahkan dalam bahasa ibunya sendiri. menulis email permintaan tolong, sebagai contoh, sering kali disamakan dengan menulis sms untuk teman karibnya. selain terkesan tidak pada tempatnya, kadang saya juga masih harus main tebak-tebakan tentang apa yang dimaksud oleh si pengirim.

di bawah ini, ada berita kompas hari ini yang menurut saya kurang-lebih mewakili pendapat saya tersebut.

==================================
http://edukasi.kompas.com/read/xml/2009/05/14/1230245/

"Dual Language", Inikah Solusi Terbaik Pengajaran Dwibahasa?

Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia harus sama pentingnya diajarkan, agar nasionalisme siswa terhadap bahasa nasional (Indonesia) tidak terkikis akibat kesehariannya di sekolah dan di rumah memakai bahasa Inggris

JAKARTA, KOMPAS.com — Pengajaran dwibahasa antara bahasa Indonesia dan bahasa Inggris di sebuah institusi pendidikan harus seiring sejalan karena keduanya sama-sama penting dan dibutuhkan. Untuk itulah, High/Scope Indonesia mengenalkan metode Dual Language-Additive Programs bagi para guru, siswa, dan orangtua muridnya.

Hal tersebut diungkapkan oleh Antarina SF Amir, Ketua High/Scope Indonesia, Rabu (13/5) kemarin dalam jumpa pers sosialisasi konsep dual language bertema "Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris Sama Pentingnya: Mencari Solusi Terbaik Pengajaran Dwibahasa di Sekolah" di Jakarta.

Antarina mengatakan, metode pengajaran bahasa Inggris pada siswa yang bahasa pertamanya bukan bahasa Inggris bisa diklasifikasikan dalam dua kelompok besar, yaitu Subtractive Programs dan Additive Programs. Pada Subtractive Programs, instruksi pengajaran disampaikan dalam bahasa Inggris.

Mengadopsi program tersebut, bahasa pertama atau bahasa Indonesia tentu digantikan sepenuhnya oleh bahasa Inggris sebagai bahasa kedua. Dengan konsep semacam itu, kata Antarina, beberapa sekolah mengajarkan bahasa Indonesia hanya di saat pelajaran bahasa Indonesia, karena semua mata pelajaran diberikan dalam bahasa Inggris.

Buruknya, Antarina menjelaskan, cara tersebut memang membuat siswa akan lebih pandai, baik dalam bahasa Inggris akademis maupun sosial. "Sebaliknya, ketika harus berbahasa Indonesia mereka hanya sebatas bahasa sosial saja, karena hanya sering menggunakannya sebagai bahasa percakapan," ujarnya.

Sementara itu, proses pembelajaran pada Additive Programs dilakukan sekaligus dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kurikulumnya didesain sedemikian rupa dalam satu konsep atau ide materi pelajaran yang terintegrasi dengan mata pelajaran lain secara sekaligus.

"Satu tema kami sinergikan dengan mata pelajaran lain mulai dari sains, matematika, sosial, bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, hal ini agar siswa bukan hanya baik dalam berbahasa melainkan juga keterampilan bidang lain," tukas Antarina.

Antarina mencontohkan penggunaan materi pelajaran sains tentang iklim, misalnya. Di awal pemberian materi, siswa akan dijelaskan dalam bahasa Indonesia. Selanjutnya, materi tersebut diolah lagi oleh siswa lewat berbagai sudut pandang keilmuan lain.

Bidang matematika, misalnya. Siswa diminta membuat grafik tentang temperatur, kecepatan angin, atau curah hujan. Sementara dari sudut pandang sosial, siswa akan mengaitkan antara iklim dan kebutuhan manusia atas rumah, pakaian, makan, dan kebutuhan hidup lainnya.

Selain itu, siswa akan mengulas materi tersebut dalam bahasa Inggris. Menggunakan kemampuan bahasa Inggrisnya, siswa akan diarahkan untuk kreatif, baik untuk membaca atau menulis, semisal puisi terkait materi pelajaran tersebut, berbahasa Inggris.

Sinergi

Konsep pengajaran dual language-Additive Progams tersebut telah diujicobakan oleh pakar linguistik dari Universitas Arizona, yaitu Dr David Freeman dan istrinya, Dr Yvone Freeman dalam serangkaian penelitian di AS, Meksiko, Argentina, Bahrain, Hongkong, serta Kamboja. Kesuksesan program tersebut, menurut kedua pasangan ahli linguistik, terletak dari kuatnya dukungan sekolah, guru, dan orangtua dengan berbagai pelatihan-pelatihan terkait.

Antarina mengatakan, melalui konsep dual language-Additive Programs, siswa bukan hanya didorong menguasai bahasa Inggris, melainkan juga menguatkan kemampuan bahasa ibu mereka sendiri. Dengan metode ini, sekolah bisa mengembangkan keterampilan berbahasa akademik siswa sekaligus pada kedua bahasa itu.

"Dan dengan cara itu otomatis bukan bahasa saja yang bisa diajarkan, karena mata pelajaran lain sebagai keterampilan mereka pun bisa sekaligus didapatkan secara integral," tambahnya.

Pendapat itu diamini oleh peserta seminar dari kalangan pendidik. Staf pendidik High/Scope Medan, Aniza Saragih, misalnya. "Mereka harus bisa berkembang dalam dua bahasa dan keduanya harus sama-sama berkualitas, hal ini untuk memudahkan pemahaman mereka akan materi pelajaran yang diberikan," tandas Aniza, yang menerapkan dual language of the day di sekolah tersebut.

Pendapat Cicilia Pratiwi, seorang guru di High/Scope Cilandak, lain lagi. "Cara ini mengakomodasi kebutuhan anak untuk memahami sebuah materi pelajaran, sebaliknya sebagai pendidik kami juga terbantu dalam memberikan pemahaman kepada mereka," ujar Cicilia.

Hanya, tambah Cicilia, dukungan antarsesama guru, buku pelajaran, pengelola sekolah, bahkan orangtua, harus kuat. "Kemampuan siswa berbeda-beda sehingga kasus atau permasalahannya juga tidak sama, untuk itu perlu sinergi yang baik untuk mengatasinya," kata Cicilia.

Menurutnya, di sekolah guru harus saling mendukung dalam perumusan tema. Buku-buku di sekolah juga harus yang berkualitas. "Sementara di rumah, orang tua tidak cukup hanya berpangku tangan menerima apa yang sudah diberikan oleh guru kepada putra-putrinya," ujar Cicilia.

Senada pendapat Cicilia, Antarina menandaskan komentarnya. "Dengan metode ini, bahasa Inggris dan bahasa Indonesia menjadi sama pentingnya, kualitas siswa menggunakan dua bahasa bisa diandalkan baik pada bahasa akademis maupun sosial," ujarnya. "Lebih penting lagi adalah nilai-nilai nasionalisme mereka terhadap bahasa nasionalnya tidak terkikis akibat kesehariannya di sekolah dan di rumah memakai bahasa Inggris," tambahnya.

2b.

Re: sekali lagi tentang mata pelajaran berbahasa inggris

Posted by: "Irwansyah Irwansyah" irwansyah@gmail.com   irwansyahadins

Thu May 14, 2009 3:59 am (PDT)



Menurut saya memang sebaiknya Bahasa Inggris digunakan dalam pendidikan
supaya lulusannya bisa kerja di negara-negara yang membolehkan penggunaan
Bahasa Inggris untuk komunikasi. Contohnya di dunia IT, India bisa menjadi
terkenal karena banyak lulusannya yang bisa berbahasa Inggris. Dan banyak
lulusan mereka yang kerja di negara-negara yang banyak membutuhkan tenaga
IT, contohnya seperti di Eropa. Jadi, dari sudut pandang ekonomi, saya
sangat setuju sekali Bahasa Inggris menjadi bahasa utama dalam pengajaran di
sekolah-sekolah.

Untuk nasionalisme, saya belum melihat ada hubungan antara nasionalisme dan
penggunaan Bahasa Inggris sebagai bahasa utama dalam pengajaran atau
penggunaan Bahasa Indonesia sebagai bahasa utama dalam pengajaran.CMIIW!

2009/5/14 Rasahgelo <rasahgelo@yahoo.com>

>
>
> saya termasuk orang yang kurang setuju dengan euforia pengajaran berbahasa
> inggris di sekolah menengah. pertama, jangankan diajarkan dalam bahasa
> inggris, diajarkan dalam bahasa ibu sendiri saja belum tentu dimengerti oleh
> semua anak didik. kedua, euforia berbahasa inggris bisa jadi memunculkan
> siswa-siswa yang bahasa inggrisnya tidak sangat bagus dan bahasa
> indonesianya parah.
>
> terkait dengan yang terakhir, saya prihatin dengan adik-adik kita yang
> kelihatannya semakin kehilangan cara dan aturan menulis (surat) yang baik,
> bahkan dalam bahasa ibunya sendiri. menulis email permintaan tolong, sebagai
> contoh, sering kali disamakan dengan menulis sms untuk teman karibnya.
> selain terkesan tidak pada tempatnya, kadang saya juga masih harus main
> tebak-tebakan tentang apa yang dimaksud oleh si pengirim.
>
> di bawah ini, ada berita kompas hari ini yang menurut saya kurang-lebih
> mewakili pendapat saya tersebut.
>
> ==================================
> http://edukasi.kompas.com/read/xml/2009/05/14/1230245/
>
> "Dual Language", Inikah Solusi Terbaik Pengajaran Dwibahasa?
>
> Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia harus sama pentingnya diajarkan, agar
> nasionalisme siswa terhadap bahasa nasional (Indonesia) tidak terkikis
> akibat kesehariannya di sekolah dan di rumah memakai bahasa Inggris
>
> JAKARTA, KOMPAS.com — Pengajaran dwibahasa antara bahasa Indonesia dan
> bahasa Inggris di sebuah institusi pendidikan harus seiring sejalan karena
> keduanya sama-sama penting dan dibutuhkan. Untuk itulah, High/Scope
> Indonesia mengenalkan metode Dual Language-Additive Programs bagi para guru,
> siswa, dan orangtua muridnya.
>
> Hal tersebut diungkapkan oleh Antarina SF Amir, Ketua High/Scope Indonesia,
> Rabu (13/5) kemarin dalam jumpa pers sosialisasi konsep dual language
> bertema "Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris Sama Pentingnya: Mencari Solusi
> Terbaik Pengajaran Dwibahasa di Sekolah" di Jakarta.
>
> Antarina mengatakan, metode pengajaran bahasa Inggris pada siswa yang
> bahasa pertamanya bukan bahasa Inggris bisa diklasifikasikan dalam dua
> kelompok besar, yaitu Subtractive Programs dan Additive Programs. Pada
> Subtractive Programs, instruksi pengajaran disampaikan dalam bahasa Inggris.
>
> Mengadopsi program tersebut, bahasa pertama atau bahasa Indonesia tentu
> digantikan sepenuhnya oleh bahasa Inggris sebagai bahasa kedua. Dengan
> konsep semacam itu, kata Antarina, beberapa sekolah mengajarkan bahasa
> Indonesia hanya di saat pelajaran bahasa Indonesia, karena semua mata
> pelajaran diberikan dalam bahasa Inggris.
>
> Buruknya, Antarina menjelaskan, cara tersebut memang membuat siswa akan
> lebih pandai, baik dalam bahasa Inggris akademis maupun sosial. "Sebaliknya,
> ketika harus berbahasa Indonesia mereka hanya sebatas bahasa sosial saja,
> karena hanya sering menggunakannya sebagai bahasa percakapan," ujarnya.
>
> Sementara itu, proses pembelajaran pada Additive Programs dilakukan
> sekaligus dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kurikulumnya
> didesain sedemikian rupa dalam satu konsep atau ide materi pelajaran yang
> terintegrasi dengan mata pelajaran lain secara sekaligus.
>
> "Satu tema kami sinergikan dengan mata pelajaran lain mulai dari sains,
> matematika, sosial, bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, hal ini agar siswa
> bukan hanya baik dalam berbahasa melainkan juga keterampilan bidang lain,"
> tukas Antarina.
>
> Antarina mencontohkan penggunaan materi pelajaran sains tentang iklim,
> misalnya. Di awal pemberian materi, siswa akan dijelaskan dalam bahasa
> Indonesia. Selanjutnya, materi tersebut diolah lagi oleh siswa lewat
> berbagai sudut pandang keilmuan lain.
>
> Bidang matematika, misalnya. Siswa diminta membuat grafik tentang
> temperatur, kecepatan angin, atau curah hujan. Sementara dari sudut pandang
> sosial, siswa akan mengaitkan antara iklim dan kebutuhan manusia atas rumah,
> pakaian, makan, dan kebutuhan hidup lainnya.
>
> Selain itu, siswa akan mengulas materi tersebut dalam bahasa Inggris.
> Menggunakan kemampuan bahasa Inggrisnya, siswa akan diarahkan untuk kreatif,
> baik untuk membaca atau menulis, semisal puisi terkait materi pelajaran
> tersebut, berbahasa Inggris.
>
> Sinergi
>
> Konsep pengajaran dual language-Additive Progams tersebut telah
> diujicobakan oleh pakar linguistik dari Universitas Arizona, yaitu Dr David
> Freeman dan istrinya, Dr Yvone Freeman dalam serangkaian penelitian di AS,
> Meksiko, Argentina, Bahrain, Hongkong, serta Kamboja. Kesuksesan program
> tersebut, menurut kedua pasangan ahli linguistik, terletak dari kuatnya
> dukungan sekolah, guru, dan orangtua dengan berbagai pelatihan-pelatihan
> terkait.
>
> Antarina mengatakan, melalui konsep dual language-Additive Programs, siswa
> bukan hanya didorong menguasai bahasa Inggris, melainkan juga menguatkan
> kemampuan bahasa ibu mereka sendiri. Dengan metode ini, sekolah bisa
> mengembangkan keterampilan berbahasa akademik siswa sekaligus pada kedua
> bahasa itu.
>
> "Dan dengan cara itu otomatis bukan bahasa saja yang bisa diajarkan, karena
> mata pelajaran lain sebagai keterampilan mereka pun bisa sekaligus
> didapatkan secara integral," tambahnya.
>
> Pendapat itu diamini oleh peserta seminar dari kalangan pendidik. Staf
> pendidik High/Scope Medan, Aniza Saragih, misalnya. "Mereka harus bisa
> berkembang dalam dua bahasa dan keduanya harus sama-sama berkualitas, hal
> ini untuk memudahkan pemahaman mereka akan materi pelajaran yang diberikan,"
> tandas Aniza, yang menerapkan dual language of the day di sekolah tersebut.
>
> Pendapat Cicilia Pratiwi, seorang guru di High/Scope Cilandak, lain lagi.
> "Cara ini mengakomodasi kebutuhan anak untuk memahami sebuah materi
> pelajaran, sebaliknya sebagai pendidik kami juga terbantu dalam memberikan
> pemahaman kepada mereka," ujar Cicilia.
>
> Hanya, tambah Cicilia, dukungan antarsesama guru, buku pelajaran, pengelola
> sekolah, bahkan orangtua, harus kuat. "Kemampuan siswa berbeda-beda sehingga
> kasus atau permasalahannya juga tidak sama, untuk itu perlu sinergi yang
> baik untuk mengatasinya," kata Cicilia.
>
> Menurutnya, di sekolah guru harus saling mendukung dalam perumusan tema.
> Buku-buku di sekolah juga harus yang berkualitas. "Sementara di rumah, orang
> tua tidak cukup hanya berpangku tangan menerima apa yang sudah diberikan
> oleh guru kepada putra-putrinya," ujar Cicilia.
>
> Senada pendapat Cicilia, Antarina menandaskan komentarnya. "Dengan metode
> ini, bahasa Inggris dan bahasa Indonesia menjadi sama pentingnya, kualitas
> siswa menggunakan dua bahasa bisa diandalkan baik pada bahasa akademis
> maupun sosial," ujarnya. "Lebih penting lagi adalah nilai-nilai nasionalisme
> mereka terhadap bahasa nasionalnya tidak terkikis akibat kesehariannya di
> sekolah dan di rumah memakai bahasa Inggris," tambahnya.
>
>
>

--
It is not the strongest of the species that survives, nor the most
intelligent that survives. It is the one that is the most adaptable to
change. (Charles Darwin)

Even the great Knuth once said: "Beware of bugs in the above code; I have
only proved it correct, not tried it."
2c.

Re: sekali lagi tentang mata pelajaran berbahasa inggris

Posted by: "Rasahgelo" rasahgelo@yahoo.com   rasahgelo

Thu May 14, 2009 6:35 am (PDT)



mungkin tulisan saya kurang jelas menyampaikan maksudnya.

saya tidak antibahasa inggris dan tidak antisekolah yang menggunakan bahasa inggris untuk pengajarannya. tapi saya tidak setuju dengan *euforia*, rame-rame, menggunakan bahasa inggris untuk semua mata pelajarannya. ini terkait dengan posting dari rekan kita di milis ini beberapa waktu yang lalu bahwa saat ini ada kesan (dan kelihatannya tidak sekadar kesan, tapi sudah kenyataan) bahwa tiap kabupaten berlomba-lomba untuk membuat SBI. untuk sementara ini, saya masih berpendapat bahwa bila ingin menginggriskan semua mata pelajaran, sebaiknya dilakukan di tingkat universitas, bukan di tingkat sekolah menengah.

tentang IT, india terkenal karena banyak lulusannya bisa berbahasa inggris atau karena india mempunyai sdm yang mampu untuk menguasai IT dan memimpin di bidangnya?

nasionalisme tidak ada hubungan *langsung* dengan pengajaran bahasa inggris. hubungannya dalam contoh yang saya sampaikan sebelumnya, bahwa karena sibuk berbahasa inggris bahasa indonesia jadi terbengkalai. masih mending kalo terbengkalainya bahasa indonesia mereka, diimbangi dengan kemampuan bahasa inggris yang bagus. kalo ternyata dua-duanya terbengkalai?

yah, ini cuma sesen dua pemikiran saya .... :)

--- In fisika_indonesia@yahoogroups.com, Irwansyah Irwansyah <irwansyah@...> wrote:
>
> Menurut saya memang sebaiknya Bahasa Inggris digunakan dalam pendidikan
> supaya lulusannya bisa kerja di negara-negara yang membolehkan penggunaan
> Bahasa Inggris untuk komunikasi. Contohnya di dunia IT, India bisa menjadi
> terkenal karena banyak lulusannya yang bisa berbahasa Inggris. Dan banyak
> lulusan mereka yang kerja di negara-negara yang banyak membutuhkan tenaga
> IT, contohnya seperti di Eropa. Jadi, dari sudut pandang ekonomi, saya
> sangat setuju sekali Bahasa Inggris menjadi bahasa utama dalam pengajaran di
> sekolah-sekolah.
>
> Untuk nasionalisme, saya belum melihat ada hubungan antara nasionalisme dan
> penggunaan Bahasa Inggris sebagai bahasa utama dalam pengajaran atau
> penggunaan Bahasa Indonesia sebagai bahasa utama dalam pengajaran.CMIIW!
>
> 2009/5/14 Rasahgelo <rasahgelo@...>
>
> >
> >
> > saya termasuk orang yang kurang setuju dengan euforia pengajaran berbahasa
> > inggris di sekolah menengah. pertama, jangankan diajarkan dalam bahasa
> > inggris, diajarkan dalam bahasa ibu sendiri saja belum tentu dimengerti oleh
> > semua anak didik. kedua, euforia berbahasa inggris bisa jadi memunculkan
> > siswa-siswa yang bahasa inggrisnya tidak sangat bagus dan bahasa
> > indonesianya parah.
> >
> > terkait dengan yang terakhir, saya prihatin dengan adik-adik kita yang
> > kelihatannya semakin kehilangan cara dan aturan menulis (surat) yang baik,
> > bahkan dalam bahasa ibunya sendiri. menulis email permintaan tolong, sebagai
> > contoh, sering kali disamakan dengan menulis sms untuk teman karibnya.
> > selain terkesan tidak pada tempatnya, kadang saya juga masih harus main
> > tebak-tebakan tentang apa yang dimaksud oleh si pengirim.
> >
> > di bawah ini, ada berita kompas hari ini yang menurut saya kurang-lebih
> > mewakili pendapat saya tersebut.
> >

Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Finance

It's Now Personal

Guides, news,

advice & more.

Cat Zone

on Yahoo! Groups

Join a Group

all about cats.

Group Charity

Hands On Network

Volunteering has

never been so easy

Need to Reply?

Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.

Create New Topic | Visit Your Group on the Web
===============================================================
**  Arsip          : http://members.tripod.com/~fisika/
**  Ingin Berhenti : silahkan mengirim email kosong ke :
                     <fisika_indonesia-unsubscribe@yahoogroups.com>
===============================================================

Tidak ada komentar: