Kamis, 07 Mei 2009

[sekolah-kehidupan] Digest Number 2629[1 Attachment]

sekolah-kehidupan

Messages In This Digest (12 Messages)

1a.
(Bahasa/Cerpen) MENCARI AKU From: fiyan arjun
1b.
(Bahasa/Cerpen) MENCARI AKU From: bujang kumbang
2a.
Re: [rampai] Jalan Bernama Haru (untuk Mba Retno & Mas Catur) From: patisayang
3a.
(Catcil) Tabir Kebahagiaan From: rahmad nurdin
3b.
(Catcil) Testimoni From: Masduki_Masduki@manulife.com
4.
Re: (Catcil) Testimoni From: Jojo_Wahyudi@manulife.com
5.
Vaksin penyebab AUTIS From: ateu alif
6a.
(rampai) i've learned by omer washington From: Bu Catur
6b.
Re: (rampai) i've learned by omer washington From: Nia Robie'
7.
(catcil) Cerita Cinta From: agussyafii
8.
(PUISI/RAMPAI) POTRET NISAN POLOS From: Arrizki Abidin
9.
(catcil) Taubatku Di Rumah sakit From: agussyafii

Messages

1a.

(Bahasa/Cerpen) MENCARI AKU

Posted by: "fiyan arjun" paman_sam2@yahoo.com   paman_sam2

Wed May 6, 2009 4:09 am (PDT)





MENCARI AKU

Fiyan Arjun

Apakah aku  tak boleh mengenggam duniaku?

Di sudut pojok coffe
shop dengan membawa sebuah  kantong bernama Hati aku mengamati dengan
seksama dua sosok manusia yang berlainan hidup. Dengan sedikit berkelakar dan
bergurau tak karuan mereka akhirnya membuka suara dengan masing-masing hatinya
yang sudah menggumpal di tubuh mereka.

Luka, begitu nama salah
satu dari dua sosok manusia yang hendak memulai membuka diri kepada lawan
bicaranya. Tak lain orang yang baru dikenalnya belum lama itu.

Dengan sedikit mengatur
nafas Luka berujar," Tadi aku baru saja ditanya tentang diri kau dari orang
yang tak aku kenal!" ucap Luka memberitahukan.

"Apa saja yang ditanya
sama orang itu?" tanya Rasa—sapaan akrab yang dipanggil Luka itu.

"Apa benar kau itu
orangnya selalu murung! Tak percaya diri.. Terlebih bila kau berhadapan dengan
orang-orang seakan-akan kau selalu menghindari mereka!"

Kulihat raut wajah Luka
tampak luruh.

"Lalu kau bilang apa
dengan orang itu," jawab Rasa kepada Luka.

"Ya, aku bilang saja kau
orangnya seperti itu…Tak percaya diri. Terkadang kau memang selalu menghindari
orang-orang jika kau selalu berhadapan mereka lalu…Kau itu orangnya cuek.
Mungkin karena kau sudah merasa makan asam garam lalu kau tak peduli lagi bila
cibiran itu dihadiahkan kepada kau."

Lagi-lagi aku yang
melihat ke arahnya tak kuasa untuk lebih lanjut berlama-lama mengamati Rasa,
diriku itu. Perlahan-lahan kucoba melihat lebih dekat diri Rasa. Aku ingin tahu
apa yang sedang dipikirkan dalam benaknya itu.

Apakah aku harus
menemuinya dengan keadaanku seperti ini? Ups, apa jadinya jika orang-orang yang
ada di coffe shop itu melihat wujud asliku. Ah, aku tak mau dianggap konyol
dihadapan mereka. Apa nantinya bila mereka mengumpati aku dengan kata-kata yang
tak enak didengar! Ada makhluk aneh  yang
kesasar…Ada makhluk asing mau minum kopi…Kuharap hal itu jangan sampai terjadi
di tempat ini.

Akhirnya aku pun menyembunyikan 
sayap-sayapku dari balik punggung. Ya, agar mereka itu tak mencurigai aku.
Bahwa aku bukan dari golongan mereka.

Suasana saat itu
hening.

Senyap.

Lagi-lagi Rasa merasa
tak mampu untuk berbicara kembali.

Lalu tiba-tiba
kesunyian pun akhirnya pecah oleh suara seorang pelayan coffe ketika
memberitahukan bahwa pesanan mereka telah usai disajikan..

"Ma'af mau ditaruh
mana?" Tanya ramah pelayan itu kepada Luka.

"Oya, disini saja!
Terima kasih, ya," lanjut Luka mempersilakan pelayan itu untuk menaruh di meja
yang sudah dipesannya.

"Oya, sepertinya kau
tadi mau berkata kepadaku, Rasa. Sorry, tadi ada pelayan coffe.
Bisa kau lanjutkan…?!"

"Biarlah orang berkata
apa kepadaku, Luka. Bagiku hanya aku yang tahu diriku sendiri. Bukan orang lain
begitu juga kau, Luka. Sudahlah kau jangan bicara itu lagi. Aku lelah. Aku tak
kuasa. Apalagi yang aku hadapi ini membuatku semakin sesak menampaki dunia ini.
Duniaku yang aku puja-puja. Atau, mungkin lebih aku mundur dari dunia ini. Menggantung
segala asa yang sudah aku tancapkan di dinding angkasa.

Luka yang ada di
hadapannya tak bisa lagi untuk berkata-kata. Seakan-akan air liurnya sudah
kering tertelan kerongkongannya yang sejak tadi menunggu pesanan—yang lama
diantar oleh pelayan coffe itu. Habis sudah ucapan yang ada di mulut Luka itu.
Aku semakin lega melihatnya. Dan…, akhirnya aku bisa memberanikan diri untuk
menampakan diriku kehadapan Rasa.

***

Di luar coffé shop
kulihat sepotong senja tiba-tiba saja menampakan diri. Entah apakah dua sosok
manusia itu mengetahuinya aku juga tak tak tahu. Dan ternyata dua sosok manusia
itu masih saja setia di tempat duduknya. Tak bergeser sedikit pun dari tempat
itu. Sambil di temani dua cangkir mungil kopi panas yang baru dipesannya itu mereka
pun tambah semakin menikmati rasa kopi panas itu. Itu terlihat ketika Luka
begitu menikmati kopi yang baru saja diantar oleh seorang pelayan. Rasa?
Dirinya masih terpaku oleh ucapan-ucapan yang dilontarkan Luka.

Aku masih
mengedap-ngedap. Berupaya agar aku bisa menemui Rasa. Ya, agar dirinya mengetahui
siapa aku sesungguhnya. Bahwa aku ini adalah dirinya. Rasa adalah aku. Aku
adalah Rasa. Rasa juga aku!

Sudah lama aku mencari
Rasa. Kini akhirnya aku bisa pula menemuinya.. Walau aku harus merelakan
keselamatan diriku terlebih peraturan—yang ada di negeriku. Tapi…apakah Rasa
merasakan hal sama dengan aku?

"Oya, aku ke kamar kecil
dulu, Rasa. Aku hanya sebentar nanti aku kembali lagi!"

Akhirnya aku
benar-benar bisa menemui Rasa tanpa ada seseorang pun. Yang ada hanya aku dan
Rasa. Ini adalah kesempatanku untuk menemui dirinya.

"Hei…, kenapa
raut wajah kau begitu kuyu. Adakah yang salah dengan perkataan Luka terhadap
diri kau?" Aku pun langsung menyapa diri Rasa saat kopi panas di cangkir mungilnya
dicoba didinginkan dengan cara meniupkan beberapa kali.

"Siapa kau!
Berani-berani kau menanyakan hal itu padaku. Siapa kau sesungguhnya. Aku lagi
menunggu Luka. Sudahlah kau pergi saja!" tandas Rasa dengan sedikit guncang
sehingga kopi di cangkir mungilnya itu tertumpah di lantai hingga mengenai
t-shir putihnya.

"Luka sedang di kamar
kecil. Dia sudah aku kunci dari dalam.. Mungkin setelah aku usai bicara dengan
kau baru pintu kamar kecil itu akan terbuka."

Aku yang melihat raut
wajah Rasa semakin merasa iba. Dia seperti melihat aku sebagai Izrail! Makhluk
Tuhan yang paling setia dan patuh untuk mencabut raga semua manusia di negeri
ini.

Suasana coffe shop
akhirnya sunyi. Hanya ada aku dan Rasa—yang sejak tadi masih tak percaya bahwa
aku adalah dirinya. Rasa adalah aku. Aku adalah Rasa. Rasa juga aku!

 "Cepat kau ingin bicara apa! Aku akan menunggu
kau bicara. Tapi setelah itu kau menjauh dari aku," ujar Rasa mempersilakan aku
untuk membuka indentitasku yang sesungguhnya. "Cepatlah aku tak butuh
basa-basi. Kalau kau ingin minta kopi panas biar nanti aku traktir." Lanjut
Rasa merasa tak senang atas kehadiranku.

"Baiklah aku akan
memberitahukan kau. Siapa sesungguhnya aku yang ada dihadapan kau ini! Kalau ingin
tahu coba saja kau bercermin di jendela kaca itu. Coba kau lihat secara detail
siapa aku sesungguhnya!"

Dengan keinginantahuan
yang sangat berat Rasa akhirnya mengikuti perintahku. Rasa mencoba mematut diri
di depan kaca jendela itu.

Kaca berukuran sedang
itu terus memantulkan bayanganku dan Rasa. Mata Rasa setengah terbelalak.
Mulutnya sedikit menganga. Tak percaya. Bahwa bayangan yang ada di pantulan
kaca itu adalah dirinya. Aku. Ya, Rasa adalah aku. Aku adalah Rasa. Rasa juga
aku! Tapi kenapa Rasa begitu terkejut ketika dirinya menyadari bahwa aku adalah
dirinya. Entahlah, mungkin aku tak boleh egois. Gegabah. Memvonis dirinya
secara langsung. Aku harus tahu celah dan mengambil perasaan Rasa. Mungkin hal
itulah jalan yang terbaik buat aku. Daripada aku tak bisa memberitahukan Rasa. Mungkin…

"Siapa sesungguhnya
kau! Aku bukan kau. Kau itu hanya bayangan masa laluku. Aku tak pantas
mempunyai kembaran seperti diri kau. Yang tak mempunyai rasa terhadap aku.
Kalau kau memang benar aku kenapa kau tak membela aku saat orang itu berkata
demikian kepada Luka."

Kaca jendela di tempat
itu masih basah, berembun. Mungkin karena AC yang ada di tempat itu terlalu
besar? Entahlah. Namun pantulan bayanganku dan Rasa masih ada di sana.

"Baiklah jika kau ingin
minta pertolongan aku. Lihat esok hari saat Sang Surya terbit dari ufuk timur.
Kau akan tahu siapa kau sesungguhnya…."

Blepp!!

Aku terpaksa mengilang
dari hadapan Rasa saat Luka sudah keluar dari kamar kecil itu. Tapi aku sudah
untuk memberitahukan Rasa. Bahwa aku adalah dirinya. Aku adalah dia. Rasa adalah
aku. Aku adalah Rasa. Rasa juga aku! Aku yang sama-sama semakin lelah akan
dunianya. Yang tak habis-habisnya menghadapi berbagai onak dan duri saat dalam
perjalanannya.

"Kau sedang apa!
Seperti orang tak waras saja kau ini, Rasa.. Ingat ini di coffe shop bukan di
warung tradisional." Luka memperingatkanku. Memperingatkan Rasa!

"Sudahlah apa yang aku
katakan tadi kepada kau anggap saja sebagai tonggak untuk menompang dunia kau
yang sebentar kau raih. Entah kapan aku tak tahu. Yang pasti itu aku ketahui
saat orang yang menemui kau tadi berbicara kepadaku di kamar kecil."

Rasa yang mendengar
ucapan Luka kini semakin percaya bahwa orang yang sejak tadi berbicara dihadapannya
adalah dirinya. Itu yang aku ketahui saat Luka menyakinkan yang bernama Hati
itu di dalam tubuh Rasa. Hati yang dicari-cari ke pelosok negeri. Hati yang
selama ini ingin sematkan pada dunianya. Kini akhirnya bertemu pula. Ya, walau aku
tahu Rasa beda dunia dengan aku. Dunia Rasa yang tak pernah habis dilaluinya.
Yang juga sama dengan aku, yang sama-sama semakin lelah akan dunianya.(fy)

Ulujami, 03
Mei 2009

Usai
pulang Workshop Menulis Bersama tEH Asma Nadia, Helvy Tiana Rosa, dan Golagang!
Saat hati merasa pilu dan sedih menghadapi duniaku ini!

1b.

(Bahasa/Cerpen) MENCARI AKU

Posted by: "bujang kumbang" bujangkumbang@yahoo.co.id   bujangkumbang

Wed May 6, 2009 4:16 am (PDT)





MENCARI AKU

Fiyan Arjun

Apakah aku  tak boleh mengenggam duniaku?

Di sudut pojok coffe
shop dengan membawa sebuah  kantong bernama Hati aku mengamati dengan
seksama dua sosok manusia yang berlainan hidup. Dengan sedikit berkelakar dan
bergurau tak karuan mereka akhirnya membuka suara dengan masing-masing hatinya
yang sudah menggumpal di tubuh mereka.

Luka, begitu nama salah
satu dari dua sosok manusia yang hendak memulai membuka diri kepada lawan
bicaranya. Tak lain orang yang baru dikenalnya belum lama itu.

Dengan sedikit mengatur
nafas Luka berujar," Tadi aku baru saja ditanya tentang diri kau dari orang
yang tak aku kenal!" ucap Luka memberitahukan.

"Apa saja yang ditanya
sama orang itu?" tanya Rasa—sapaan akrab yang dipanggil Luka itu.

"Apa benar kau itu
orangnya selalu murung! Tak percaya diri. Terlebih bila kau berhadapan dengan
orang-orang seakan-akan kau selalu menghindari mereka!"

Kulihat raut wajah Luka
tampak luruh.

"Lalu kau bilang apa
dengan orang itu," jawab Rasa kepada Luka.

"Ya, aku bilang saja kau
orangnya seperti itu…Tak percaya diri. Terkadang kau memang selalu menghindari
orang-orang jika kau selalu berhadapan mereka lalu…Kau itu orangnya cuek.
Mungkin karena kau sudah merasa makan asam garam lalu kau tak peduli lagi bila
cibiran itu dihadiahkan kepada kau."

Lagi-lagi aku yang
melihat ke arahnya tak kuasa untuk lebih lanjut berlama-lama mengamati Rasa,
diriku itu. Perlahan-lahan kucoba melihat lebih dekat diri Rasa. Aku ingin tahu
apa yang sedang dipikirkan dalam benaknya itu.

Apakah aku harus
menemuinya dengan keadaanku seperti ini? Ups, apa jadinya jika orang-orang yang
ada di coffe shop itu melihat wujud asliku. Ah, aku tak mau dianggap konyol
dihadapan mereka. Apa nantinya bila mereka mengumpati aku dengan kata-kata yang
tak enak didengar! Ada makhluk aneh  yang
kesasar…Ada makhluk asing mau minum kopi…Kuharap hal itu jangan sampai terjadi
di tempat ini.

Akhirnya aku pun menyembunyikan 
sayap-sayapku dari balik punggung. Ya, agar mereka itu tak mencurigai aku.
Bahwa aku bukan dari golongan mereka.

Suasana saat itu
hening.

Senyap.

Lagi-lagi Rasa merasa
tak mampu untuk berbicara kembali.

Lalu tiba-tiba
kesunyian pun akhirnya pecah oleh suara seorang pelayan coffe ketika
memberitahukan bahwa pesanan mereka telah usai disajikan.

"Ma'af mau ditaruh
mana?" Tanya ramah pelayan itu kepada Luka.

"Oya, disini saja!
Terima kasih, ya," lanjut Luka mempersilakan pelayan itu untuk menaruh di meja
yang sudah dipesannya.

"Oya, sepertinya kau
tadi mau berkata kepadaku, Rasa. Sorry, tadi ada pelayan coffe.
Bisa kau lanjutkan…?!"

"Biarlah orang berkata
apa kepadaku, Luka. Bagiku hanya aku yang tahu diriku sendiri. Bukan orang lain
begitu juga kau, Luka. Sudahlah kau jangan bicara itu lagi. Aku lelah. Aku tak
kuasa. Apalagi yang aku hadapi ini membuatku semakin sesak menampaki dunia ini.
Duniaku yang aku puja-puja. Atau, mungkin lebih aku mundur dari dunia ini. Menggantung
segala asa yang sudah aku tancapkan di dinding angkasa.

Luka yang ada di
hadapannya tak bisa lagi untuk berkata-kata. Seakan-akan air liurnya sudah
kering tertelan kerongkongannya yang sejak tadi menunggu pesanan—yang lama
diantar oleh pelayan coffe itu. Habis sudah ucapan yang ada di mulut Luka itu.
Aku semakin lega melihatnya. Dan…, akhirnya aku bisa memberanikan diri untuk
menampakan diriku kehadapan Rasa.

***

Di luar coffé shop
kulihat sepotong senja tiba-tiba saja menampakan diri. Entah apakah dua sosok
manusia itu mengetahuinya aku juga tak tak tahu. Dan ternyata dua sosok manusia
itu masih saja setia di tempat duduknya.. Tak bergeser sedikit pun dari tempat
itu. Sambil di temani dua cangkir mungil kopi panas yang baru dipesannya itu mereka
pun tambah semakin menikmati rasa kopi panas itu. Itu terlihat ketika Luka
begitu menikmati kopi yang baru saja diantar oleh seorang pelayan. Rasa?
Dirinya masih terpaku oleh ucapan-ucapan yang dilontarkan Luka.

Aku masih
mengedap-ngedap. Berupaya agar aku bisa menemui Rasa. Ya, agar dirinya mengetahui
siapa aku sesungguhnya. Bahwa aku ini adalah dirinya. Rasa adalah aku. Aku
adalah Rasa. Rasa juga aku!

Sudah lama aku mencari
Rasa. Kini akhirnya aku bisa pula menemuinya. Walau aku harus merelakan
keselamatan diriku terlebih peraturan—yang ada di negeriku. Tapi…apakah Rasa
merasakan hal sama dengan aku?

"Oya, aku ke kamar kecil
dulu, Rasa. Aku hanya sebentar nanti aku kembali lagi!"

Akhirnya aku
benar-benar bisa menemui Rasa tanpa ada seseorang pun. Yang ada hanya aku dan
Rasa. Ini adalah kesempatanku untuk menemui dirinya.

"Hei…, kenapa
raut wajah kau begitu kuyu. Adakah yang salah dengan perkataan Luka terhadap
diri kau?" Aku pun langsung menyapa diri Rasa saat kopi panas di cangkir mungilnya
dicoba didinginkan dengan cara meniupkan beberapa kali.

"Siapa kau!
Berani-berani kau menanyakan hal itu padaku. Siapa kau sesungguhnya. Aku lagi
menunggu Luka.. Sudahlah kau pergi saja!" tandas Rasa dengan sedikit guncang
sehingga kopi di cangkir mungilnya itu tertumpah di lantai hingga mengenai
t-shir putihnya.

"Luka sedang di kamar
kecil. Dia sudah aku kunci dari dalam. Mungkin setelah aku usai bicara dengan
kau baru pintu kamar kecil itu akan terbuka."

Aku yang melihat raut
wajah Rasa semakin merasa iba. Dia seperti melihat aku sebagai Izrail! Makhluk
Tuhan yang paling setia dan patuh untuk mencabut raga semua manusia di negeri
ini.

Suasana coffe shop
akhirnya sunyi.. Hanya ada aku dan Rasa—yang sejak tadi masih tak percaya bahwa
aku adalah dirinya. Rasa adalah aku. Aku adalah Rasa. Rasa juga aku!

 "Cepat kau ingin bicara apa! Aku akan menunggu
kau bicara. Tapi setelah itu kau menjauh dari aku," ujar Rasa mempersilakan aku
untuk membuka indentitasku yang sesungguhnya. "Cepatlah aku tak butuh
basa-basi. Kalau kau ingin minta kopi panas biar nanti aku traktir." Lanjut
Rasa merasa tak senang atas kehadiranku.

"Baiklah aku akan
memberitahukan kau. Siapa sesungguhnya aku yang ada dihadapan kau ini! Kalau ingin
tahu coba saja kau bercermin di jendela kaca itu. Coba kau lihat secara detail
siapa aku sesungguhnya!"

Dengan keinginantahuan
yang sangat berat Rasa akhirnya mengikuti perintahku. Rasa mencoba mematut diri
di depan kaca jendela itu.

Kaca berukuran sedang
itu terus memantulkan bayanganku dan Rasa. Mata Rasa setengah terbelalak.
Mulutnya sedikit menganga. Tak percaya. Bahwa bayangan yang ada di pantulan
kaca itu adalah dirinya. Aku. Ya, Rasa adalah aku. Aku adalah Rasa. Rasa juga
aku! Tapi kenapa Rasa begitu terkejut ketika dirinya menyadari bahwa aku adalah
dirinya. Entahlah, mungkin aku tak boleh egois. Gegabah. Memvonis dirinya
secara langsung. Aku harus tahu celah dan mengambil perasaan Rasa. Mungkin hal
itulah jalan yang terbaik buat aku. Daripada aku tak bisa memberitahukan Rasa. Mungkin…

"Siapa sesungguhnya
kau! Aku bukan kau. Kau itu hanya bayangan masa laluku. Aku tak pantas
mempunyai kembaran seperti diri kau. Yang tak mempunyai rasa terhadap aku.
Kalau kau memang benar aku kenapa kau tak membela aku saat orang itu berkata
demikian kepada Luka."

Kaca jendela di tempat
itu masih basah, berembun. Mungkin karena AC yang ada di tempat itu terlalu
besar? Entahlah. Namun pantulan bayanganku dan Rasa masih ada di sana.

"Baiklah jika kau ingin
minta pertolongan aku. Lihat esok hari saat Sang Surya terbit dari ufuk timur.
Kau akan tahu siapa kau sesungguhnya….."

Blepp!!

Aku terpaksa mengilang
dari hadapan Rasa saat Luka sudah keluar dari kamar kecil itu.. Tapi aku sudah
untuk memberitahukan Rasa. Bahwa aku adalah dirinya. Aku adalah dia. Rasa adalah
aku. Aku adalah Rasa. Rasa juga aku! Aku yang sama-sama semakin lelah akan
dunianya. Yang tak habis-habisnya menghadapi berbagai onak dan duri saat dalam
perjalanannya.

"Kau sedang apa!
Seperti orang tak waras saja kau ini, Rasa. Ingat ini di coffe shop bukan di
warung tradisional." Luka memperingatkanku. Memperingatkan Rasa!

"Sudahlah apa yang aku
katakan tadi kepada kau anggap saja sebagai tonggak untuk menompang dunia kau
yang sebentar kau raih. Entah kapan aku tak tahu. Yang pasti itu aku ketahui
saat orang yang menemui kau tadi berbicara kepadaku di kamar kecil."

Rasa yang mendengar
ucapan Luka kini semakin percaya bahwa orang yang sejak tadi berbicara dihadapannya
adalah dirinya. Itu yang aku ketahui saat Luka menyakinkan yang bernama Hati
itu di dalam tubuh Rasa. Hati yang dicari-cari ke pelosok negeri. Hati yang
selama ini ingin sematkan pada dunianya. Kini akhirnya bertemu pula. Ya, walau aku
tahu Rasa beda dunia dengan aku. Dunia Rasa yang tak pernah habis dilaluinya.
Yang juga sama dengan aku, yang sama-sama semakin lelah akan dunianya.(fy)

Ulujami, 03
Mei 2009

Usai
pulang Workshop Menulis Bersama Teh Asma Nadia, Helvy Tiana Rosa, dan Golagang!
Saat hati merasa pilu dan sedih menghadapi duniaku ini!











Lebih aman saat online. Upgrade ke Internet Explorer 8 baru dan lebih cepat yang dioptimalkan untuk Yahoo! agar Anda merasa lebih aman. Gratis. Dapatkan IE8 di sini!
http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer/
2a.

Re: [rampai] Jalan Bernama Haru (untuk Mba Retno & Mas Catur)

Posted by: "patisayang" patisayang@yahoo.com   patisayang

Wed May 6, 2009 9:30 am (PDT)



Jeng...ampuni mbakmu yang suka lali ini ya. Mosok moment istimewa terlewatkan. maklum, rada jarang online. lagi penasaran bikin patchwork n quilting bag. :)
met ultah n met met ultah pernikahan. jalan masih panjang Non, masih tak terhingga lagi keharuan yang kan kalian temui. nikmati, sesapi,pahami, syukuri.

salam,
Indar
yang bentar lagi ulang tahun pernikahan ke 10. udah tuwir bo' :)

--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, Lia Octavia <liaoctavia@...> wrote:
>
> makasih banyak, mbak novi ^_^
> senang sekali dirimu menyukainya ^_^
>
> salam
> lia
>
> 2009/5/1 novi_ningsih <novi_ningsih@...>
>
> >
> >
> > indahnya :)
> >
> > Selamat ya.. Retno n Mas Catur :)
> >
> > --- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com<sekolah-kehidupan%40yahoogroups.com>,
> > Lia Octavia <liaoctavia@> wrote:
> > >
> > > *Jalan Bernama Haru*
> >
> > >
> > >
> > > :Retno dan Catur
> > > **
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > > menelusuri jalan itu adalah niskala
> > >
> > > yang berdesakan ingin menuntaskan gundah
> > >
> > > dan seribu tanya tak lagi menemukan katakata
> > >
> > > tuk goreskan gemerlap sejuta bahasa
> > >
> > >
> > >
> > > menjejak jalan itu adalah romansa
> > >
> > > bertetesan meninggalkan jejakjejak angsa
> > >
> > > yang masih ingin hinggap di jendela kaca
> > >
> > > dan bernyanyi pada mentari dan bulan
> > >
> > >
> > >
> > > meniti jalan itu adalah kunangkunang
> > >
> > > beterbangan merajut kepingkeping asa
> > >
> > > yang meleleh pada tepi tatap dan pandang
> > >
> > > dan mengkristal menjadi nuansa swarga
> > >
> > >
> > >
> > > menapak jalan itu adalah cinta
> > >
> > > yang ujungnya tak lagi hitam, putih atau kelabu
> > >
> > > karena merah dan jingga telah mengendap di sana
> > >
> > > dan biru tak lagi bosan menyapa rindu
> > >
> > > saat jalan itu kini bernama haru
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > > Jakarta, 1 Mei 2009 at 11.00 a.m.
> > >
> > > Dipersembahkan untuk Mas Catur Sukono dan Mbak Retno untuk memperingati
> > > setahun pernikahannya…
> > >
> > >
> > > http://mutiaracinta.multiply.com
> > >
> >
> >
> >
>

3a.

(Catcil) Tabir Kebahagiaan

Posted by: "rahmad nurdin" rahmad.aceh@gmail.com   rahmadsyah_tcc

Wed May 6, 2009 5:07 pm (PDT)



Assalamu'alaikum wr.wb

Salam kebahagian untukmu shahabat. Semoga dihari yang indah penuh dengan
semangat baru. Harapan besar kita kepada Allah, agar kita selalu mendapatkan
Cinta dan Kasih Sayang Nya. Mudah-mudahan kecemerlangan, kesuksesan dan
keberhasilan menjadi pencapaian bagi kita.

Kebahagiaan adalah sebuah rasa yang amat dalam. Ia terkadang sulit untuk
dilukiskan dan dijelaskan. Selain ia berbentuk relatif, terkadang
menjelaskan dengan nada-nada indahpun, bukan begitu bunyinya. Karena ia
terpatri dalam sanubari...dan hanya dirasakan bagi mereka menginginkan.

Suatu siang, digubuk sawah yang kecil. istirahatlah sepasang suami - istri
disana. Istrinya yang setia, sedang menyiapkan makanan untuk suami tercinta.
Satu persatu dikeluarkan makanan telah disiapkan. Begitu selesai, diajaklah
suaminya untuk makan bersama. Sungguh mesra...sembari makan, lewatlah mobil
sedan BMW ditengah jalan, yang ditemani oleh sawah dan gubuk kecil Sang
suami bertutur kepada istrinya; " Istriku, alangkah bahagianya bila kita
dapat berada dalam mobil itu. Setiap hari engkau bisa aku ajak jalan-jalan,
tanpa kuizinkan matahari menyengat tubuhmu"...

Dimobil BMW mewahpun, didalamnya ada suami dan istri, Sedang jalan-jalan
kesudut desa. Untuk menghilangkan penat dikepala akibat kerja dan hiruk
pikuk kesibukan kota. Tatkala mereka melewati gubuk kecil. Ia melihat dua
insan penuh mesra, makan siang bersama. Tiba-tiba terucap olehnya "Istriku...
perhatikanlah mereka yang disana...betapa indah dan bahagia bila kita dapat
duduk dan makan bersama, ditemani oleh padi yang terus menari-menari bersama
angin. Kita dapat merasakan hembusan nafas alam"...

Shahabatku yang baik...
Barangkali engkau pernah mengeluh, "Mengapa ini terjadi kepadaku"...mungkin
juga engkau berucap, "mengapa aku terus sengsara seperti ini, sampai kapan
?" atau bisa jadi kau mendengar kata-kata mu sendiri "Mengapa hidupku tak
Bahagia ?"...

Shahabat...aku merasakan yang kau alami. Bisa jadi karena sedikitnya alat
tukar belanja ditanganmu, atau mungkin tempat peristirahatanmu belum
senyaman kau harapkan. Atasan dan bawahan dikantor, tidak semua mendukung
pendapatmu. Langkah-langkah besar kau jalani,belum membuahkan hasil
sebagaimana inginmu. Kendaraan yang kau gunakan masih beroda dua. Mungkin
juga engkau ingin melihat tubuhmu, lebih ideal. Dan masih ada hal lain .
Mungkin kalimat-kalimat ini belumlah cukup mewakili apa yang kau rasakan...

Mari kita sadari bersama. Kekeliruan yang kita lakukan dalam hidup.
Seringkali Karena memFOKUSkan kepada hal-hal yang tak kita miliki. Sehingga
kenikmatan yang kita punya, tak pernah meRASAkanya.

Bukankah uang Rp.100.000 masih cukup buat kita makan bersama istri, suami
dan anak dirumah? Rumah yang kita tinggali masih bisa melindungi dari
sengatan matahari dan terpaan angin malam? Apakah tatkala pendapatmu belum
diterima dan disetujui, menghalangimu untuk bekerja? Bukankah hasil yang
belum sempurna itu, telah menghasilkan sesuatu bagimu? Bukankah kendaraan
roda dua, masih bisa mengantarkan istrimu belanja, membawamu kekantor dan
mengantar anak-anakmu kesekolah? Sisi yang manakah lagi ingin kau
sempurnakan? Bukankah teman, suami dan anak-anak mu masih sangat sayang dan
bangga akan dirimu?

"Dan ingatlah tatkala tuhanmu memaklumatkan,"Sesungguhnya jika kamu
bersyukur, Pasti akan menambahkan (nikmat) kepadamu ; dan jika kamu
mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azabKu sangat pedih". (Ibrahim ; 7)

Shahabatku yang baik...
Kita diberikan kekuatan oleh Yang Maha Bijaksana untuk memilih. Dari
pilihan-pilihan inilah kita memutuskan. Apakah menjadi Bahagia ataukah Sedih
? Dan Tuhan tak pernah melarang kita untuk berkeinginan lebih. Karena salah
satu pencapaian dan keberhasil Berkeinginan Besar. Semua kembali kepada diri
kita masing-masing. Doaku untukmu semoga engkau selalu bahagia ...

Kekeliruan yang kita lakukan dalam hidup (Tidak bahagia). Seringkali
Karena memFOKUSkan
kepada hal-hal yang tak kita miliki. Sehingga kenikmatan yang kita punya,
tak pernah meRASAkanya.

--
RAHMADSYAH
Practitioner NLP I 081511448147 I Motivator & Trauma Therapist
www.rahmadsyah.co.cc I YM ; rahmad_aceh
3b.

(Catcil) Testimoni

Posted by: "Masduki_Masduki@manulife.com" Masduki_Masduki@manulife.com

Wed May 6, 2009 7:27 pm (PDT)

[Attachment(s) from Masduki_Masduki@manulife.com included below]

Enam ribu Rupiah & Buah Pepaya


Pagi itu tidak seperti biasanya, --Adheega-- jagoan kecilku yg baru hadir
genap satu bulan yg lalu terus menangis dengan semangatnya. Aku dan istri
curiga ada yg salahkah dengan kondisi tubuhnya…. Hasil checking dengan
seksama memang ada yang aneh dalam tiga hari terakhir ini. "dia belum buang
air besar" – Panik – tentu saja, apalagi istriku, walau kepanikanku pun tak
jauh beda dengannya. Apa yang harus kami lakukan...? apa ini penyebab
tangis nya yang berbeda beberapa hari ini.

Ke dokter... ahhh rasanya tidak tega kalau bayi sekecil itu harus meminum
obat. Untuk mendapatkan sedikit gambaran akhirnya by phone kami lakukan
dengan dokter, menurutnya, " kita tunggu sampai dengan hari kelima, kalau
belum juga buang air besar harus ada penanganan medis".

...!!!??? buatku kesimpulan itu mengerikan, malam menjelang --- dan
malampun diisi dengan tangisnya yg tidak biasa itu.

Hari keempat ketika sampai pagi menjelang tak tega rasanya kalau harus
meninggalkan istriku seorang diri mengurusnya, hari ini aku harus tetap
berangkat kekantor..

Sebelum berangkat tak lupa aku cium mesra keduanya, sambil berkata dengan
pelan ke istriku, "mah ketika belum sedekah hari ini,, biar ayah yg sedekah
yah... mamah jangan lupa beli pepaya dan makan yang banyak, semoga
berpengaruh buatnya"

Waktu yg mepet karena harus mengejar kereta, kukebut siroda dua teman
setiaku. Sesampainya distasiun kugenapi niat untuk bersedakah buat
kesembuhan jagoan kecilku.
Ada seorang anak kecil (peminta) yg sedang duduk bersandar di tembok
stasiun – kuberikan padanya Rp. 5.000, aku pikir sudah tidak ada lagi
ternyata disebelah anak kecil tsb agak agak terhalang orang berlalu lalang
ada seorang nenek tua yang menengadahkan tangannya. Rp 1.000 kuberikan
padanya – gumamku -- Apa iya ... sedekah dengan harga segitu bisa
mengabulkan permintaanku..???

Jam sebelas siang dari kantor, by phone aku cek keadaanya dirumah... kata
ini yang pertama kali kudengar dari istriku, " Yah...! --adheega – sudah
buang air besar ..... !!!.


(Embedded image moved to file: pic28289.gif)





Attachment(s) from Masduki_Masduki@manulife.com

1 of 1 Photo(s)

4.

Re: (Catcil) Testimoni

Posted by: "Jojo_Wahyudi@manulife.com" Jojo_Wahyudi@manulife.com

Wed May 6, 2009 7:26 pm (PDT)



Alhamdulillah.............

Bukan seberapa besar sedekah yg kita berikan Mas.............
tetapi seberapa ikhlas kita memberi

Semoga Adheega sehat selalu
dan ayah-nya semakin getol ber-sedekah
Amien

salam,

Jojo Wahyudi

5.

Vaksin penyebab AUTIS

Posted by: "ateu alif" ateu_alif@yahoo.com

Wed May 6, 2009 7:29 pm (PDT)





REGARDS

E-INVEST INSTITUTE

NUNUNG KARTIKASARI

081318932656

021 36384435

ateu_alif@yahoo.com

--- Pada Sel, 5/5/09, Dara Borneo <daraborneo@gmail.com> menulis:

Dari: Dara Borneo <daraborneo@gmail.com>
Topik: [mitra-bisnis] Vaksin penyebab AUTIS
Kepada:
Tanggal: Selasa, 5 Mei, 2009, 11:41 AM

*Vaksin penyebab AUTIS*

Buat para Pasangan MUDA. om dan tante yg punya keponakan... atau bahkan

calon ibu ... perlu nih dibaca ttg autisme.. Bisa di share kepada yang masih

punya anak kecil supaya ber-hati2... .....

Setelah kesibukan Lebaran yang menyita waktu, baru sekarang saya bisa dapat

waktu luang membaca buku *"Children with Starving Brains" karangan Jaquelyn

McCandless , MD* yang diterjemahkan dan diterbitkan oleh Grasindo.

Ternyata buku yang saya beli di toko buku Gramedia seharga Rp. 50,000,-itu

benar-benar membuka mata saya, dan sayang, sayang sekali baru terbit setelah

anak saya Joey (27 bln) didiagnosa mengidap *Autisme Spectrum

Disorder.*Bagian satu, bab 3, dari buku itu benar-benar membuat saya

menangis.

Selama 6 bulan pertama hidupnya (Agustus 2001 -Februari 2002), Joey

memperoleh 3 kali suntikan vaksin Hepatitis B, dan 3 kali suntikan vaksin

HiB. Menurut buku tersebut (halaman 54 - 55) ternyata dua macam vaksin yang

diterima anak saya dalam 6 bulan pertama hidupnya itu positif mengandung *zat

pengawet

Thimerosal, yang terdiri dari Etilmerkuri yang menjadi penyebab utama

sindrom Autisme Spectrum Disorder yang meledak pada sejak awal tahun 1990

an.*

*Vaksin yang mengandung Thimerosal itu sendiri sudah dilarang di Amerika

sejak akhir tahun 2001.*

Alangkah sedihnya saya, anak yang saya tunggu kehadirannya selama 6 tahun,

dilahirkan dan divaksinasi di sebuah rumah sakit besar yang bagus, terkenal,

dan mahal di Karawaci Tangerang, dengan harapan memperoleh treatment yang

terbaik, ternyata malah "diracuni" oleh Mercuri dengan selubung vaksinasi.

Beruntung saya masih bisa memberi ASI sampai sekarang, sehingga Joey tidak

menderita Autisme yang parah. Tetapi tetap saja, sampai sekarang dia belum

bicara, harus diet pantang gluten dan casein, harus terapi ABA , Okupasi,dan

nampaknya harus dibarengi dengan diet supplemen yang keseluruhannya sangat

besar biayanya.

Melalui e-mail ini saya hanya ingin menghimbau para dokter anak di

Indonesia, para pejabat di Departemen Kesehatan, tolonglah baca buku

tersebut diatas itu, dan tolong musnahkan semua vaksin yang masih mengandung

Thimerosal.

Jangan sampai (dan bukan tidak mungkin sudah terjadi) sisa stok yang tidak

habis di Amerika Serikat tersebut di ekspor dengan harga murah ke Indonesia

dan dikampanyekan sampai ke puskesmas-puskesmas seperti contohnya vaksin

Hepatitis B, yang sekarang sedang giat-giatnya dikampanyekan sampai ke

pedesaan.

Kepada para orang tua dan calon orang tua, marilah kita bersikap proaktif,

dan assertif dengan menolak vaksin yang mengandung Thimerosal tersebut,

cobalah bernegosiasi dengan dokter anak kita, minta vaksin Hepatitis B dan

HiB yang tidak mengandung Thimerosal.

*Juga tolong e-mail ini diteruskan kepada mereka yang akan menjadi orang

tua, agar tidak mengalami nasib yang sama seperti saya. *

Sekali lagi, jangan sampai kita kehilangan satu generasi anak-anak penerus

bangsa, apalagi jika mereka datang dari keluarga yang berpenghasilan rendah

yang untuk makan saja sulit apalagi untuk membiayai biaya terapi supplemen,

terapi ABA, Okupasi, dokter ahli Autisme (yang daftar tunggunya sampai

berbulan-bulan) , yang besarnya sampai jutaaan Rupiah perbulannya. Terakhir,

mohon doanya untuk Joey dan ratusan, bahkan ribuan teman-teman senasibnya di

Indonesia yang sekarang sedang berjuang membebaskan diri dari belenggu

Autisme.

*"Let's share with others... Show them that WE care!" *

best regard,

http://tinyurl. com

[Non-text portions of this message have been removed]











Akses email lebih cepat. Yahoo! menyarankan Anda meng-upgrade browser ke Internet Explorer 8 baru yang dioptimalkan untuk Yahoo! Dapatkan di sini!
http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer
6a.

(rampai) i've learned by omer washington

Posted by: "Bu Catur" punya_retno@yahoo.com   punya_retno

Wed May 6, 2009 9:27 pm (PDT)



satu tulisan yg kelewat indah dan berharga utk disimpan sendiri.
enjoy :)

-retno-
=================================================================
I've Learned
by Omer Washington

I've learned that you cannot make someone love you. All you can do is be someone who can be loved. The rest is up to them. I've learned that no matter how much I care, some people just don't care back. I've learned that it takes years to build up trust and only seconds to destroy it. I've learned that it's not what you have in your live, but who you have in your life that counts. I've learned that you can get by on charm for about fifteen minutes, after that, you'd better know something.

I've learned that you shouldn't compare yourself to the best others can do, but to the best you can do. I've learned that it's not what happens to people, it's what they do about it. I've learned that no matter how thin you slice it, there are always two
sides. I've learned that you should always leave loved ones with loving words. It may be the last time you'll see them. I've learned that you can keep going long after you think you can't.

I've learned that heroes are the people who do what has to be done when it needs to be done, regardless of the consequences. I've learned that there are people, who love you dearly, but just don't know how to show it. I've learned that sometimes when I'm angry I have the right to be angry but that doesn't give me the right to be cruel. I've learned that true friendship continues to grow even over the longest distance same goes for true love.

I've learned that no matter how good a friend is, they're going to hurt you every once in a while and you must forgive them for that. I've learned that it isn't always enough to be forgive by others, sometimes you have to learn to forgive yourself. I've learned that no matter how bad your heart is broken, the world doesn't stop for your grief.
I've learned that just because two people argue, it doesn't mean they don't love each other and just because they don't argue, it doesn't mean they do.

I've learned that sometimes you have to put the individual ahead of their actions. I've learned that two people can look at the exact same thing and see something totally different. I've learned that no matter the consequences, those who are honest with themselves get farther in life. I've learned that your life can be changed in a matter of hours when a friend cries out to you, you will find the strength to help.

I've learned that writing, As well as talking, Can ease emotional pains. I've learned that the people you care most about in life are taken from you too soon. I've learned that it's hard to determine where to draw the line between being nice and not hurting people's feelings and standing up for what you believe. I've learned to love and be loved. I've learned.

New Email names for you!
Get the Email name you&#39;ve always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/
6b.

Re: (rampai) i've learned by omer washington

Posted by: "Nia Robie'" musimbunga@gmail.com

Wed May 6, 2009 9:37 pm (PDT)



karena hidup adalh sebuah pembelajaran :)

makasih retno

:)
2009/5/7 Bu Catur <punya_retno@yahoo.com>

>
>
> satu tulisan yg kelewat indah dan berharga utk disimpan sendiri.
> enjoy :)
>
> -retno-
> =================================================================
> I've Learned
> by Omer Washington
>
>
> I've learned that you cannot make someone love you. All you can do is be
> someone who can be loved. The rest is up to them. I've learned that no
> matter how much I care, some people just don't care back. I've learned that
> it takes years to build up trust and only seconds to destroy it. I've
> learned that it's not what you have in your live, but who you have in your
> life that counts. I've learned that you can get by on charm for about
> fifteen minutes, after that, you'd better know something.
>
> I've learned that you shouldn't compare yourself to the best others can do,
> but to the best you can do. I've learned that it's not what happens to
> people, it's what they do about it. I've learned that no matter how thin you
> slice it, there are always two sides. I've learned that you should always
> leave loved ones with loving words. It may be the last time you'll see them.
> I've learned that you can keep going long after you think you can't.
>
> I've learned that heroes are the people who do what has to be done when it
> needs to be done, regardless of the consequences. I've learned that there
> are people, who love you dearly, but just don't know how to show it. I've
> learned that sometimes when I'm angry I have the right to be angry but that
> doesn't give me the right to be cruel. I've learned that true friendship
> continues to grow even over the longest distance same goes for true love.
>
> I've learned that no matter how good a friend is, they're going to hurt you
> every once in a while and you must forgive them for that. I've learned that
> it isn't always enough to be forgive by others, sometimes you have to learn
> to forgive yourself. I've learned that no matter how bad your heart is
> broken, the world doesn't stop for your grief. I've learned that just
> because two people argue, it doesn't mean they don't love each other and
> just because they don't argue, it doesn't mean they do.
>
> I've learned that sometimes you have to put the individual ahead of their
> actions. I've learned that two people can look at the exact same thing and
> see something totally different. I've learned that no matter the
> consequences, those who are honest with themselves get farther in life. I've
> learned that your life can be changed in a matter of hours when a friend
> cries out to you, you will find the strength to help.
>
> I've learned that writing, As well as talking, Can ease emotional pains.
> I've learned that the people you care most about in life are taken from you
> too soon. I've learned that it's hard to determine where to draw the line
> between being nice and not hurting people's feelings and standing up for
> what you believe. I've learned to love and be loved. I've learned.
>
>
> **<http://uk.rd.yahoo.com/mail/tagline_messenger/*http://uk.messenger.yahoo.com/download/index.html>
>
>
> ------------------------------
> New Email addresses available on Yahoo!
> <http://sg.rd.yahoo.com/aa/mail/domainchoice/mail/signature/*http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/>
> Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
> Hurry before someone else does!
>
>
7.

(catcil) Cerita Cinta

Posted by: "agussyafii" agussyafii@yahoo.com   agussyafii

Wed May 6, 2009 11:09 pm (PDT)



(catcil) Cerita Cinta

By: agussyafii

Seorang ibu bertutur pada saya lewat email. Mas Agus, saya ngiri lo membaca tulisan-tulisan mas agus tentang cinta. Apalagi ada hadis yang indah yang mas agus kutip, Man Laa Yarham, Laa Yurham' Barang siapa tidak menyayangi, tidak akan disayangi.' (HR.Muslim) Hadis ini menyiratkan tentang cinta yang diajarkan Nabi. Itulah sebabnya yang mendorong saya berburu buku-buku hadis tentang cinta.

Ketika saya berada di toko buku saya bertabrakan dengan orang lain. Buku yang dipegang tangannya hampir terlepas. Spontan saya mengucapkan minta maaf, ibu itu menjawab, tidak apa-apa, maafkan saya juga. begitu katanya. kami saling berjabat tangan dan melempar senyuman, sayapun melanjutkan perburuan buku hadis yang saya cari, tuturnya.

Begitu malam tiba, sehabis sholat maghrib saya menyiapkan makan malam. ditengah badan rasanya yang sudah letih, saya ingin menyiapkan semuanya dengan secepat mungkin setelah itu rebaan dikamar tidur. Tiba-tiba saya dikejutkan putrinya saya yang berdiri disamping, hampir saja sup yang ditangan saya tumpah.

Saat makan malam menjadi terasa sunyi sebab kami terdiam seribu bahasa. Suami nampak kelelahan, anak-anak tidak begitu bernafsu makan. Setelah semua dirapikan, saya menjadi sebentar lagi bisa istirahat. begitu melewati kamar, nampak putriku yang sedang berbaring.

Suara hatiku berbisik, Adakah pelajaran cinta yang kamu petik hari ini? ketika tadi kamu bertabrakan dengan orang tak dikenal begitu lembut dan sopan namun ketika kamu bertabrakan dengan putrimu yang kamu cintai..kenapa begitu mudah membuatmu marah? Coba lihat bunga yang telah disusun rapi oleh putrimu, bunga-bunga indah diatas kulkas.

Saya duduk termangu, airmata saya menetes dipipi. saya berlari dikamar putriku, saya duduk disamping tempat tidurnya, saya pegang tangannya. Putriku terbangun dan tersenyum, senyum yang begitu indah. 'Sayang, bunga itu kamu petik untuk mamahnya?' Putriku membalas dengan senyuman. 'Saya memetiknya dibelakang rumah karena bunga itu cantik seperti mamah. Mamah pasti suka.' kata putriku.

Airmata saya mengalir begitu derasnya, tak kuasa tangisku terdengar. 'Sayang, maafkan mamah ya...seharusnya mamah tau bunga yang indah itu untuk mamah.' Sayapun dipeluk oleh putriku yang cantik, 'I Love You..putri sayang mamah..' ucapnya.

benarlah kiranya hadis yang berbunyi, 'Man Laa Yarham, Laa Yurham' Barang siapa tidak menyayangi, tidak akan disayangi.'. Kita tidak akan dicintai bila kita tidak mencintai namun Kita bisa mencintai orang yang tidak kita kenal namun seringkali kita mengabaikan cinta orang-orang ada didepan mata kita.

Wassalam,
agussyafii

--
jangan lupa program 'Amalia Cinta Bumi (ACIBU) Minggu, tanggal 17 Mei 2009, di Rumah Amalia, Jl. Subagyo Blok ii 1, no.23 Komplek Peruri, RT 001 RW 09, Sudimara Timur, Ciledug. TNG. Program 'Amalia Cinta Bumi (ACIBU)' mengajak. 'Mari, hindari penggunaan kantong plastik berlebihan, bawalah kantong belanja sendiri. Sebab Kantong plastik jenis polimer sintetik sulit terurai- Bila dibakar, menimbulkan senyawa dioksin yang membahayakan- Proses produksinya menimbulkan efek berbahaya bagi lingkungan.' Mari kirimkan dukungan anda pada program 'Amalia Cinta Bumi' (ACIBU) melalui http://agussyafii.blogspot.com atau sms 087 8777 12431



8.

(PUISI/RAMPAI) POTRET NISAN POLOS

Posted by: "Arrizki Abidin" arrizki_abidin@yahoo.com   arrizki_abidin

Wed May 6, 2009 11:38 pm (PDT)



 
POTRET NISAN POLOS
 
Yang kulihat tanpa nama
Ia bangkit merangkak
Mencari ibunya yang sengaja lupa menyusuinya
Mencari ayahnya yang sengaja lupa menafkahinya
           
            "Seberapa haramkah aku?" katanya
 
by : Riz_Q
 
 
           

9.

(catcil) Taubatku Di Rumah sakit

Posted by: "agussyafii" agussyafii@yahoo.com   agussyafii

Thu May 7, 2009 12:36 am (PDT)



(catcil) Taubatku Di Rumah sakit

By: agussyafii

dalam kehidupan sehari-hari saya seringkali berjumpa dengan orang-orang yang istimewa. Mengajarkan betapa berharga hidup dan orang-orang yang kita cintai disekeliling kita. saya tidak harus mengalami peristiwa itu namun dari tuturnya banyak hikmah yang saya petik. Ada seorang teman yang sangat menyukai kegiatan kami, kegiatan anak-anak Amalia. Disetiap moment selalu saja menyempatkan untuk menyapa sekalipun hanya lewat sms ataupun email.

Pernah suatu waktu datang ke kantor, teman ini banyak bercerita tentang dirinya dan perjalanan hidupnya. teman itu bertutur, hidup bagai sebuah perjalanan, begitu katanya. Ada saatnya naik dan ada saatnya turun. Diusianya hampir setengah abad, dirinya menikmati kesuksesan sekaligus menderita penyakit yang cukup berbahaya.penyakit lever yang dideritanya adalah penyakit pengantar maut. Namun pada saat yang mencekam itu suara adzan terdengar menusuk hatinya, membuka hatinya, sebuah kesadaran untuk menuju jalan yang selama ini diabaikannya.

Duduk terbaring dirumah sakit tidaklah menyenangkan. Hari-harinya terasa panjang dan menjenuhkan. Tiba-tiba dirinya disamperin seorang suster menanyakan apakah saya sudah sholat. saya tak pernah mengira mendapatkan pertanyaan itu. Saya terpukul, sebagai seorang muslim jangan sholat, mencium sajadahpun hampir tak pernah. agama buat saya hanyalah simbol di KTP. Saya sadar bahwa saya bukanlah orang yang beriman namun saya tidak pernah melanggar perintahNya.

Disaat suster itu meninggalkan saya, pertanyaaan itu membuatku merenung lebih dalam. Tak tahu kenapa begitu setiap kali mendengar suara adzan hatiku bergetar. Dalam hati saya berjanji, bila saya sembuh saya akan rajin sholat lima waktu.

Setelah keadaannya sembuh, saya mulai belajar sholat dengan baik. Istri dan anak-anaku mendukung bahkan terkadang kami sholat berjamaah. anak-anak suka tertawa jika saya menjadi imam sebab saya tidak biasa jadi imam sholat. Katanya bapaknya lucu kalo jadi imam.

Ditengah keluarga kami bahagia, saya sedang giat belajar sholat. keluarga kami diuji, kami dikagetkan oleh berita bahwa putra pertamaku meninggal karena kecelakaan sepulang sekolah. Ditengah kami dirundung duka, Usaha saya bangkrut dan saya memulai lagi semuanya dari nol, tuturnya.

Saya goyah, saya guncang, berpikir begitu lama. Banyak pertanyaan yang muncul dikepala saya, kenapa disaat saya ingin menjadi orang yang taat, Alloh SWT malah memberikan ujian seberat ini? Saya menjadi teringat sewaktu keluar rumah sakit, saya memohon agar diberikan kekuatan maka Alloh SWT memberikan saya kesulitan dan kesulitan itu yang membuat saya menjadi kuat untuk bisa menjalankan perintahNya.

Dulu saya gemar minum-minuman keras bahkan saya tergolong pecandu berat namun sejak saya bertaubat dirumah sakit, saya tidak pernah lagi minum-minuman keras hingga sekarang tidak pernah tergoda. iman dihati saya telah memberikan ketentraman bahkan dikeluarga saya lebih bahagia ketika kumpul bersama.

Pesan teman itu sungguh menarik diakhir pertemuan. katanya, hidup ini penuh hikmah. berbagai hikmah banyak yang kita bisa ambil menjadi pelajaran yang semua itu membuat kita semakin arif dan mengerti, apa artinya hidup dan hanya untuk Allohlah hidup kita menjadi bermakna.

Wassalam,
agussyafii

--
jangan lupa program 'Amalia Cinta Bumi (ACIBU) Minggu, tanggal 17 Mei 2009, di Rumah Amalia, Jl. Subagyo Blok ii 1, no.23 Komplek Peruri, RT 001 RW 09, Sudimara Timur, Ciledug. TNG. Program 'Amalia Cinta Bumi (ACIBU)' mengajak. 'Mari, hindari penggunaan kantong plastik berlebihan, bawalah kantong belanja sendiri. Sebab Kantong plastik jenis polimer sintetik sulit terurai- Bila dibakar, menimbulkan senyawa dioksin yang membahayakan- Proses produksinya menimbulkan efek berbahaya bagi lingkungan.' Mari kirimkan dukungan anda pada program 'Amalia Cinta Bumi' (ACIBU) melalui http://agussyafii.blogspot.com atau sms 087 8777 12431


Recent Activity
Visit Your Group
Sell Online

Start selling with

our award-winning

e-commerce tools.

Y! Messenger

All together now

Host a free online

conference on IM.

Yahoo! Groups

Everyday Wellness Zone

Check out featured

healthy living groups.

Need to Reply?

Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.

Create New Topic | Visit Your Group on the Web

Tidak ada komentar: